WORDS FLOW

setiap pengalaman pantas untuk diingat

Category: on Culture

Tengah Malam Ini (ii)


Malam kedua saya posting lewat handphone.

Sebelum saya mulai, mungkin sebaiknya kalian membaca postingan seorang teman yang saya pikir it’s too true (sila klik di sini). Semoga kalian menemukan pencerahan sebelum mendengar curhat tak penting saya di malam ini.

Sering sekali saya berpikir bahwa masih ada orang-orang yang membaca blog ketika media sosial sudah begitu banyak, dan blog pribadi semacam ini sudah begitu tua dan layak untuk ditinggalkan. Tapi walau bagaimana, saya justru merasa hidup lewat tulisan-tulisan di dalam blog ini. Dan menjadi barang mewah ketika ada media online yang tidak ‘murahan’ sebagaimana media sosial yang lainnya. (oke saya kasar, maafkan)

Seharian ini saya mencoba melarikan diri dari sekret dan merenung di kosan sembari terapi dengan membuat buku. Kerajinan tangan, menjadi hal yang paling saya kuasai sejak kecil, dan dari sana saya merasa mampu mengendalikan banyak hal. Orang-orang di sekeliling saya baru-baru ini mengeluh tentang menjemukannya kuliah, atau belajar. Mungkin karena memang sedang masa ujian, sehingga semuanya terasa begitu membebani. Tapi, manusia-manusia yang tidak mampu melarikan diri dari sekolah akhirnya merasa lebih tertekan, lantas merasa dirinya yang paling gagal.

Entah kenapa bab nilai lebih dalam Das Kapital begitu terngiang-ngiang di pikiran saya. Manusia era ini (yang tidak mampu saya definisikan), kehilangan relasi dengan produsen dari komoditi yang kita konsumsi. Sebegitu teralienasinya hingga kita menerima begitu saja label yang diberikan oleh perusahaan atas makanan yang kita makan. Kemarin saya menemukan sebuah postingan dari seorang teman yang menjual roti. Dia memaparkan sumber bahan mentah dari roti yang ia buat, setiap sumbernya ia sebutkan. Di akhir catatan foto dia menambahkan “bukankah sebaiknya makanan kita traceable?”

Saya menghabiskan masa kecil dengan bermain di sawah dan kali dekat sawah. Setiap sore kami mencari kepik dan tidak pernah menemukan kegunaannya kecuali warnanya yang bagus. Ada sebuah sumur yang legendaris di tengah sawah. Lebih karena di sana ada timba dengan pemberat batu (bukan model katrol tarik) dan dekat dengan saung. Saung favorit kami dikelilingi rumput gajah, dan saat rumput belum dibabat untuk pakan ternak, tempat itu menjadi persembunyian paling nyaman.

Di waktu-waktu itu lah, bahan pokok makanan lebih banyak kami peroleh dari sawah. Kami tahu bagaimana masing-masingnya ditanam, kualitas air yang mengairinya, atau siapa-siapa saja yang merawatnya. Di hari ini, hanya sejumlah kecil orang yang masih mengetahui sumber makanan yang mereka konsumsi.

Sempat terlintas di pikiran saya, bahwa sebagaimana rekan saya yang jualan roti tadi, akan ada masa dimana orang-orang meragukan makanan yang mereka makan. Bahwa kita tidak akan makan segala sesuatu yang tidak jelas asal usulnya dan akhirnya menanam sendiri makanan yang ingin kita konsumsi. Di sudut rumah mungkin kita bisa memelihara sekandang kecil ayam petelur. Atau, setiap beberapa rumah tangga menanam jenis yang berbeda-beda untuk saling menghidupi satu sama lain.

Sebagaimana saya ceritakan semalm tentang keinginan saya menari-nari, sebenarnya itu adalah bagian dari kesadaran atas hilangnya kebudayaan. Apa itu kebudayaan untuk manusia-manusia karbitan di jaman ini? Saya mengenal kesenian sebagai sebuah hal yang eksklusif dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Mengenal budaya sebagai sebuah paket wisata yang menumbuhkan romantika semata. Mencoba menemukan nilai yang hanya sebuah reproduksi semu ala kapitalis. Tidak bermakna sama sekali.

Lalu kalut mencoba menciptakan sendiri atmosfer yang menjauhi era yang pesakitan ini. Mencoba kembali pada yang telah mati. Antara takut hanya menemukan romantika atau berharap mencapai makna. Tidak ada yang pasti.

Meski muak, tapi saya selalu membuka media sosial, mengklik berita yang ingin saya baca, mengumpat pada beberapa, bersyukur pada beberapa. Kadang, saya merasa tergugah menerima ajakan abang saya jadi pedagang angkringan dan menemukan orang-orang baru yang bisa diajak bicara setiap waktu. Atau jadi tukang loper koran sehingga bisa jalan-jalan seharian. Tapi yah, hanya seandainya. Nyatanya toh saya lebih memilih kuliah dan memastikan pada negara bahwa penganggurannya berkurang karena pendidikan. Atau membuat buku untuk memastikan kapital tetap berputar, dan saya punya daya beli untuk melanggengkan kapitalisme.

Tapi malam masih panjang. Masih saja bumi tak mau mempercepat diri. Padahal manusia sudah tak lagi mau menunggu lama untuk pagi kembali. Seolah-olah mereka ingin bekerja sampai mati. Menumpuk pundi-pundi tanpa peduli.

Dimana semboyan hidup sederhana, hidup secukupnya? Katanya filsafat sudah mati, tapi kita merindukan dan mencari-cari. Seolah lupa siapa yang melemparnya pergi. Menyisakan agama yang tak juga diterima jiwa-jiwa yang resah.

Baiklah, setidaknya nyamuk-nyamuk masih bergembira mencoba mencuri darah dari saya.


 

sudah lupa atau memang tidak tahu


Kita lupa banyak hal sejak dilahirkan. Katanya karena manusia mengalami amnesia atas pengetahuan asal yang sedari mula sudah kita miliki. Mungkin benar, mungki juga hanya karena manusia hanya tidak mau belajar.

Kita lupa belajar ilmu sosial, karena mengira hubungan sosial bisa dipahami lewat relasi faktual realitas, padahal banyak yang tersesat atas munculnya kesalahpahaman menanggapi fenomena.

Kita lupa belajar filsafat, sehingga kehilangan diri dan tidak mengkritisi keterlemparan kita di dunia sebagai sebuah ‘takdir’ yang tidak diinginkan. Hingga begitu saja menerima nasib sebagai jalan takdir.

Kita lupa belajar hukum, bahwa selain hukuman ada keadilan yang meletakkan dirinya lebih tinggi darinya. Semua bukan perkara kesamaan, tapi kontekstualitas.

Kita lupa belajar politik, bahwa setiap tindakan manusia memiliki maksud dan tujuan yang mungkin tidak sama, mungkin merugikan atau setara, mungkin berlangsung lama atau sementara.

Kita lupa belajar ekonomi, bahwa di atas resionalisasi selalu ada sesejahteraan yang menghantui. Apa guna akumulasi tanpa kesejahteraan mampu dipahami?

Lupa juga belajar tentang ilmu alam, bahwa alam bukan sebuah objek semata, ia bergerak seperti halnya manusia. Melakukan perjalanan panjang, berubah, bersenang-senang, dan mampu menyampaikan amarah.

Kita lupa pula bahwa ilmu pasti hanyalah alat dan model untuk menjelaskan yang tidak dipahami. Ia bukan sesuatu yang harus selalu diamini. Bahwa di antara yang pasti dan nol, selalu ada ruang antara yang bisa diisi.

Kita lupa banyak hal, bahwa ilmu hanya pelengkap kehidupan, kehidupan manusia dan seisinya. Yang bukan sebuah keharusan dan kewajiban berkehidupan, tapi alat pembantu dan selalu hanya bisa membantu.

Ya, kita selalu lupa akan banyak hal, entah siapa yang mampu mengingatkan.

Tapi, lupa saja atau sengaja melupakan?

wordsflow

Sedikit tentang Pasar


Tadinya saya mau memberikan judul ‘Pasar’ untuk artikel ini. Namun tampaknya kata itu semakin memiliki bobot di dalam pikiran saya sehingga tak mungkin lagi saya bisa menggunakan istilah itu secara ‘kasar’.

Saya tidak akan bicara yang berat-berat, sungguh. Sekali lagi saya hanya akan curhat seperti tulisan saya sebelum-sebelumnya karena jujur saja, saya tak pernah mau repot-repot mengambil rujukan kemana pun. Hal ini karena secara anarki saya menganggap bahwa meski gagasan itu diawali oleh sebuah grand theory, pada akhirnya gagasan itu diolah kembali oleh pola pikir individu sehingga, setiap yang keluar kemudian sebenarnya bersifat otentik. Tentu saja ini berkaitan juga dengan retorika penulisnya, memang. Well, tapi gagasan saya barusan bukan dalam tataran untuk didebat. Saya tahu bagaimana cara menyangkal pendapat saya pribadi. Hanya saja saya ingin memberikan pemahaman ke pembaca alasan-alasan saya tidak pernah mengambil kutipan secara sengaja atau mencantumkan tokoh penggagas dalam tulisan-tulisan saya. Toh ini bukan tulisan ilmiah.

Saya luar biasa lelah karena banjir informasi yang tiada henti tanpa jeda dan kategorisasi, sehingga tiba-tiba segala hal terhubung dengan tak terkendali. Jelas bahwa beragamnya informasi membantu kita untuk memahami konsep dan fenomena lebih baik lagi. Namun tidak bisa tidak bahwa tumpang tindih informasi menuntut kita untuk memihak salah satu agar tetap waras. Atau kalaupun memihak lebih dari satu pihak, kita harus punya kontrol pemikiran untuk memilah ‘mana yang lebih sesuai untuk digunakan’.

Suatu ketika saya pernah menuliskan tentang Modernisasi dan Toko Kelontong di buletin Lembah Code edisi 1 (bisa diunduh di http://lembahcode.com) tanpa sungguh-sungguh memahami masing-masing yang sedang saya bicarakan di sana. Entahlah, pemikiran saya saja dalam tulisan itu sudah kabur dan saya untungnya hanya ingin menjadikan tulisan itu sebagai pembanding saja.

Saya refleksi saja ya tentang konsep pasar, dengan bagian yang ingin saya ambil adalah exchange cost.

Menarik saya kira untuk membedah konsep keterjangkauan di masyarakat kita saat ini. Saya pernah sungguh stress mencoba merasionalisasi fakta sosial di masyarakat bahwa ada masyarakat yang sebegitu miskinnya hingga penghasilan mingguannya hanya 5000 rupiah misal, dibandingkan dengan bos-bos perusahaan kapitalis yang penghasilan hariannya mencapai milyaran. Terlalu tidak masuk akal buat saya.

Teringat kemudian pada suatu kuliah KKA, pemerintah Thailand mengatakan bahwa pada dasarnya, rakyat kecil, atau kaum-kaum yang termarjinalkan itu memiliki peran yang tidak kecil dalam masyarakat perkotaan. Kenapa? Karena manusia sejauh ini masih memiliki kualifikasi yang tidak mampu digantikan oleh mesin. Bisa jadi yang dimaksud adalah fleksibilitas individu baik dalam bergerak maupun berpikir. Saking fleksibelnya, manusia bahkan dijadikan komoditas oleh kapital. Karenanya, keberadaan kelas-kelas di bawah ini menjadi penting untuk menjaga keseimbangan pasar, agar barang produksi tetap terbeli, dan kapital tetap menguasai nilai lebih.

Menjaga keseimbangan dengan cara apa?

Inflasi itu menurunkan daya beli masyarakat karena harga yang ada menjadi lebih tinggi. Nah, jika daya beli menurun, maka barang-barang industri tidak akan terbeli dan walhasil, perusahaan pun merugi. Nah, untuk mencegah hal itu, maka inflasi itu diakali dengan perbaikan kesejahteraan buruh, paling mudahnya menaikkan gaji buruh. Di sini ada permainan yang sangat cerdik di dunia pasar. Karena manusia adalah komoditas, maka sulit sekali untuk bisa mendominasi transaksi, sehingga buruh ujung-ujungnya hanya akan manut. Untuk melawan? Punya apa buruh-buruh ini untuk melawan?

Tanpa bertele-tele singkatnya, sistem dominasi pasar itu masuk ke masyarakat sebagai sebuah hubungan sirkular, yang akhirnya saling berkaitan satu sama lain. Mengerikan sekali kalau harus dipikirkan dengan detil.

Kembali ke masalah modernisasi dan toko kelontong. Saya mau memberikan contoh kasus dalam pola pemilihan lokasi belanja saya untuk bisa menggambarkan konsep keterjangkauan di masa kini.

Saya pikir, masyarakat tradisional tidak memusingkan keterjangkauan lebih dari urusan finansial. Sehingga yang kemudian dianggap terjangkau adalah yang murah. Sudah. Begitu juga kelas atas jauh lebih mudah dibaca persepsinya tentang keterjangkauan pasar.

Jauh lebih rumit ketika membicarakan tentang kelas menengah, apalagi kelas menengah itu memiliki range dari yang mendekati miskin sampai mendekati kaya. Saya kira saya sama-sama sepaham bahwa kelas menengah adalah kelas yang sudah mampu memiliki surplus finansial di atas kebutuhan pokoknya. Di dalam kelas menengah ini, sebenarnya harapan-harapan keseimbangan disampirkan. Maka kecenderungan kelas menengah menjadi kunci penting menurut saya.

Dalam persepsi keterjangkauan ini, akan sangat berlainan dengan persepsi kelas bawah dan kelas atas. Sangat kentara karena level kelas menengah ini memiliki sejuta pertimbangan untuk mengalokasikan surplus pendapatannya. Pun demikian arah investasinya juga sangat beragam. Bahkan, dalam ukuran yang paling sederhana saja, misal berbelanja cemilan pun kelas menengah akan sangat selektif.

Nah, di sini dimulai skenario itu. Belanja berarti memilih tempat belanja. Maka pertimbangan pasar, toko kelontong, waralaba, atau supermarket menjadi 4 hal yang dipertimbangkan. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan yang menjadi pertimbangan si pembeli. Di sini lah kemudian exchange cost mengambil perannya yang brilian. Pertimbangan masyarakat kelas menengah jauh lebih kompleks ketimbang masyarakat kelas bawah. Kelas menengah mendasarkan aktivitasnya pada keinginan untuk membeli, sehingga faktor-faktor kepastian, keamanan, kebersihan, kenyamanan, eksistensi, dan hal-hal semacamnya juga menjadi pertimbangan dan masuk ke dalam pertimbangan harga.

Demikian, tidak mengherankan ketika selisih harga toko kelontong dan waralaba yang bahkan mencapai 500 rupiah, masih akan tetap banyak yang memilih waralaba. Mereka menjual hal-hal yang mendikte kelas menengah untuk mempertimbangkan pemilihan lokasi transaksi. Hal-hal absurd semacam itu disebut sebagai exchange cost. Besarnya exchange cost ditentukan sendiri oleh pembeli, sehingga bisa jadi ada kelas menengah yang menganggap tidak setimpal dan ada yang menganggap lebih menguntungkan.

Nah, orang-orang yang berperilaku demikian, menurut saya sudah bisa dimasukkan ke dalam kelas menengah (saya pun masuk ke dalamnya). Tapi justru orang-orang ini yang sebenarnya bisa membawa perubahan karena kami lah yang memiliki pola perilaku tidak teratur dan cenderung mudah berubah. Hebatnya, kapitalis pun cerdas dalam membaca perilaku aneh kelas menengah, mungkin karena analis mereks dulu juga kelas menengah kali ya, sehingga tetap saja ‘kemenangan’ terhadap kapitalis selalu hanya menjadi semu semata.

Ngomong-omong, saya masih ingin meneruskan tapi sangat melelahkan hari ini. Jadi saya tunda sampai Senin, semoga masih berkesempatan.

wordsflow

Wacana (ii): RUU Kebudayaan


Pagi ini saat membaca KOMPAS, saya menemukan wacana untuk merancang RUU Kebudayaan oleh pemerintah. Komentar pertama saya? Seperlu itukah untuk membuat UU Kebudayaan?

Saya kira, ada hal-hal yang sebenarnya justru luput dari perhatian. Judul RUU itu saya bagi saya sudah menimbulkan perdebatan. Jika kita membicarakan kebudayaan, lantas yang mana yang akan menjadi fokus perhatian di dalam isi undang-undangnya? Dalam berita yang hanya dituliskan tiga kolom tersebut, disebutkan bahwa yang menjadi fokus utama dalam pembahasan RUU adalah tentang produk budaya dan pemajuan budaya.

Mari kita bahas satu per satu mulai dari kebudayaan, produk budaya, dan pemajuan budaya.

Saya pikir, sangat perlu memahami bahwa kebudayaan itu sangat dinamis dan berkembang dari waktu ke waktu. Pengertian terhadap kebudayaan bahkan mengalami perkembangan. Agaknya pemberian nama Undang-Undang Kebudayaan menjadi sangat penting di sini. Kebudayaan memiliki unsur-unsur yang harus diuraikan dan dijelaskan. Kebudayaan yang mana kah yang dimaksud oleh pemerintah? Apakah kebudayaan secara umum atau hanya unsur-unsur tertentu saja.

Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa yang akan diatur bukan tentang nilai-nilai budaya, sehingga kemudian saya pikir menjadi tidak cocok untuk menamakannya sebagai Undang-Undang Kebudayaan. Berat men menamakan sesuatu dengan konsep besarnya sementara yang dibahas hanya seputaran produk budaya.

Yang kedua terkait produk budaya.

Saya pikir negara dan masyarakat kita latah dengan produk kebudayaan. Setahu saya, produk kebudayaan adalah buah intelektualitas masyarakat setempat, yang sebenarnya bukan cuma urusan fisik saja yang menjadi pokok perhatian. Tapi juga nilai dan proses.

Teringat pada suatu malam saya pernah berdiskusi dengan seorang desainer kebaya di Jogja yang sudah melanglang buwana di dunia kebaya sejak masih muda. Bu Ninis sempat menceritakan bahwa kadang kita terlalu meributkan masalah hak paten atau hilangnya produk budaya, tapi lupa untuk mendefinisikan. Ibunya yang memiliki fokus perhatian ke kebaya Jawa berkali-kali mengatakan bahwa kita sendiri selalu lupa untuk mendeskripsikan budaya dan atau produk budaya kita sehingga kita kehilangan arah karena hanya bermodal menggebu-gebu saja tapi tidak paham dengan hal yang ingin dibela. Deskripsi terhadap produk budaya ini juga tidak bisa dilakukan hanya satu kali dan sudah. Setiap produk akan selalu juga berkembang setiap waktu. Misal dalam kasus kebaya ini, ibunya sempat berkata bahwa yang menjadikan suatu produk budaya itu memiliki nilai adalah proses, filosofi, dan bentuk. Nggak masalah kebaya kita atau batik kita diklaim oleh negara lain, pada dasarnya yang membuat produk budaya itu berbeda adalah pada nilai yang terkandung di dalamnya.

Ketiga, pemajuan budaya.

Saya masih belum paham dengan maksud pemajuan budaya di sini. Mungkin karena ini masih merupakan artikel pertama yang muncul di media publik, sehingga butuh penjelasan lebih lanjut tentang hal ini. Tapi saya pikir, agak aneh untuk meng-undang-undang-kan pemajuan budaya. Saya masih meyakini bahwa kebudayaan harus berkembang sesuai dengan kemampuan masyarakat yang menggunakannya, entah akhirnya mereka memutuskan untuk mengikuti campur tangan masyarakat luar atau tidak.

Sebenarnya, saya pribadi turut menyayangkan jika kearifan lokal turut hilang dan bahwa produk budaya sudah tidak lagi ada. Tapi saya pikir caranya bukanlah dengan membuat Undang-Undang Kebudayaan. Ada cara-cara lain yang harusnya lebih sesuai. Toh kebudayaan nasional itu apa sih? Saya tahunya kebudayaan itu ya masing-masing di daerahnya dengan kekayaan budaya yang kadarnya juga berbeda-beda.

Nah, perkara melestarikan atau apa itu, saya pikir lebih cocok dengan menggunakan jalur akademis atau penelitian. Ya sudah kalau kebudayaan itu berkembang dan menghilangkan kebudayaan sebelumnya lantas kenapa? Manusia pun butuh berkembang untuk bisa bertahan sesuai dengan jamannya. Yang menjadi masalah adalah jika jejak sejarah itu tidak dikenali oleh setiap pelakunya, semacam saya dan Anda sekalian. Tapi apa kemudian caranya adalah dengan membuat Undang-Undang Kebudayaan? Saya pikir memperkaya studi tentang bangsa sendiri jauh lebih penting. Justru kemudian yang harus dikaji adalah masalah metode pembelajarannya.

Salah-salah, Undang-Undang Kebudayaan bisa jadi malah akan mematok suatu bentuk kebudayaan ke bentuk yang konstan untuk kemudian menjadi benda mati saja, tak bernilai, hanya rekaan semata.

Hemm, singkat sih tulisan ini. Nanti saya perkaya lagi kalau saya sudah belajar lebih banyak dan sudah lebih banyak artikel di koran yang bermunculan. Sebenernya pengen nulis tentang tax amnesty, tapi belum paham-paham banget, hahaha. Jadi nanti saja.

wordsflow

menyambut keramaian


Seperti layaknya Jogja pada musim liburan, selalu saja ada hal yang dikeluhkan setiap orang yang akrab dengan jalanan Jogja. Entah libur kenaikan kelas, libur lebaran, libur tahun baru, atau libur aja, jalanan tiba-tiba semacam jadi lautan kendaraan.

Terkadang saya heran melihat begitu banyak orang bergerak menuju satu arah yang sama. Hal itu memunculkan pertanyaan akan apa yang sedang mereka cari. Lebih anehnya, saya pun menjadi rombongan yang juga sedang bergerak menuju satu tempat yang sama dengan mereka. Bagian lebih baiknya, sedikit banyak saya tahu gang-gang kecil di Jogja yang bisa menjadi jalan alternatif menuju lokasi tujuan saya, sementara banyak orang mengantri dengan tidak sabar dan suara klakson yang menyebalkan.

Baru saja saya mencoba untuk mengetahui jumlah peningkatan kendaraan pribadi di Jogja melalui web Badan Pusat Statistik. Sayang sekali pembaharuan data terakhir dilakukan pada tahun 2012, jadi yah, selama 3 tahun belakangan saya jadi nggak tahu berapa peningkatannya. Hadeh.

Jadi saya coba cari-cari data lagi, dan saya temukan berita di sini tentang jumlah peningkatan kendaraan pribadi baik motor maupun mobil di wilayah Bantul. Disebutkan bahwa kurang lebih sekitar 20.000 kendaraan bertambah setiap 6 bulan sekali, dan itu pun disebut mengalami penurunan. Hemm, belum-belum saya sudah ngeri sendiri membacanya.

Bukan lantaran ingin melarang orang untuk memiliki kendaraan pribadi, karena tak ada yang salah dengan hal itu. Setiap orang toh merasa butuh mobil untuk bisa mengajak jalan-jalan seluruh keluarganya entah kemana. Sistem simpan pinjam di bank juga menyebabkan kestabilan ekonomi yang membuat semua orang merasa tetap sejahtera dan kaya meski secara fisik uang mereka tidak ada. Belum lagi kemudahan kredit kendaraan yang semakin membuat orang tak pernah ragu untuk mengambil kendaraan baru.

Tapi, lagi-lagi kita harus juga punya kesadaran spasial, terutama menyangkut jalanan kota. Percuma saja kita memiliki mobil jika itu justru mempersulit diri sendiri dan laju kendaraan di sepanjang jalan yang kita lewati. Bukankah setiap hal harus disesuaikan sesuai konteksnya? Bagi saya, Jogja bukan kota yang ramah mobil, karena jalannya yang masih begitu sempit dan bahkan di setiap simpangan terjadi penyempitan bahu jalan. Dengan hanya melihat itu saja, kita bisa berkesimpulan bahwa manuver di setiap tikungan di jalanan Jogja menjadi lebih sulit dibandingkan dengan kota-kota yang memiliki jalan lebih lebar.

Ini bukan perkara karena saya adalah pengguna sepeda motor. Tapi karena kekesalan saya akibat merasa ruas jalan pengendara motor semakin dimanipulasi oleh mobil. Jl Solo misalnya. Jalan tersebut hanya memiliki dua jalur mobil, sehingga jika dipaksa, maka yang terjadi justru kemacetan yang tidak terhindarkan akibat mobil mengunci jalur motor. Bukan kah wajar jika motor dapat melewati sela antar mobil karena ukuran dan modenya yang sesuai dengan medan demikian? Lantas mengapa harus kesal dengan motor yang nyelip sana sini?

Etika berkendara yang tidak dibarengi dengan kesadaran spasial menjadikan segalanya menjadi lebih rumit.

Lihatlah bagaimana orang-orang bermobil yang berusaha melewati daerah Seturan karena ingin mencapai lokasi tujuan dengan cepat. Padahal setiap jalan di Seturan memiliki ukuran tidak lebih dari 5 meter, yang membuat dua mobil yang berpapasan menjadi terlalu sulit.

Jujur saja, saya memang pendukung pengendara motor dan sepeda, apalagi kendaraan umum. Mungkin lebih karena saya tidak pernah terpuaskan dengan tindakan-tindakan pengendara mobil di Jogja pada tahun belakangan ini.

Ya gitu deh, saya hanya ingin berkeluh kesah. Karena saya lelah ngedumel di jalan raya padahal tak ada hasilnya. Setiap pagi dan sore justru saya yang harus ekstra hati-hati di jalur lambat Ring Road karena mobil bisa seenaknya saja masuk ke jalur motor tanpa mendahulukan kami. Atau terkadang bahu jalan yang diperuntukkan untuk motor disambar begitu saja oleh pengendara mobil.

Jika hal ini terus menerus berlanjut, entah kapan jalanan Jogja akan begitu penuh dengan kendaraan hingga tak ada yang mampu bergerak maju maupun mundur. Mungkin ketika itu terjadi, harga sepeda sudah begitu melambung tinggi.

Hemm, apa saya jadi pengusaha sepeda aja yak? Hahaha.

wordsflow

dilematika sosial


Pernah nggak sih merasa iba dan empati sama peminta-minta di perempatan atau simpangan semacam itu? Secara naluriah kita akan merasakan perasaan semacam itu, meski entah kemudian kita justru tak acuh karena tidak tega, atau justru merelakan beberapa receh untuk mereka, yang pasti, perasaan kasihan akan ada.

Dan tak terkecuali saya.

Saya pribadi tak pernah punya sikap yang jelas pada orang-orang ini. Saya nggak suka melihat orang meminta-minta, karena menurut saya mereka merendahkan diri mereka sendiri, dan jika saya memberi sereceh dua receh artinya saya pun merendahkan mereka. Karenanya, saya jauh lebih menghargai orang yang berjualan di perempatan, misal jualan koran atau menjajakan makanan.

Tapi ya tapi, suatu pagi sepulang saya dari kantor, lewat lah saya di perempatan MM, tempat yang nggak pernah absen dari sejumlah orang yang meminta-minta dan menjajakan koran belakangan ini. Selama mereka meminta-minta, saya hanya sekali dua kali memberi sejumlah receh yang kebetulan ada, tapi selebihnya tak pernah saya niatkan. Jujur saja, karena menurut saya mereka mengganggap itu sebagai sebuah pekerjaan. Berbeda kasusnya ketika dalam beberapa bulan belakangan mereka akhirnya menjajakan koran, yang membuat saya merasa ‘nah, begini kan mendingan’. Ya meski harganya dua kali lipat, tapi tu amat jauh lebih baik dari sekedar meminta-minta.

Nah, kembali ke suatu pagi itu. Biasanya yang ada di perempatan itu adalah dua orang anak dan seorang ibu. Yang seorang anak mungkin kisaran sudah SD, sedang anaknya yang kecil mungkin 3 atau 4 tahun lah. Saya pribadi sering bertanya-tanya dari mana mereka datang, dan kemana mereka kembali pulang. Dan begitu lah, di pagi itu saya mendapatkan jawabannya.

Tersebutlah seorang bapak dengan motornya mengantar mereka ke TKP, memberi bekal makan siang dan tas berisi kebutuhan mereka selama seharian di perempatan. Tak lupa juga dengan setumpuk koran yang akan dijual. Begitu saja pertanyaan saya seputar mereka terjawab.

Mungkin ini prasangka, tapi hal itu secara tak sadar menghapus perasaan-perasaan yang saya rasakan sebelumnya. Ah, tapi saya hanya memaparkan sikap. Ya tapi kan sikap masing-masing orang kan berbeda, jadi sila bersikap sesuai hati nurani saja.

*

Atau suatu sore yang lain ketika saya dalam perjalanan dari KM 0 ke kantor saya. Ketika itu saya punya waktu 50 detik untuk menunggu lampu merah di pertigaan (entah saya lupa pertigaan yang mana). Kala itu hujan sedang bermain-main denga rintiknya.

Ketika saya menengok ke kiri, ada seorang bapak yang sedang merambat pelan di atas pagar setinggi 2,5 meter. Saya bertanya-tanya bapaknya sedang melakukan apa.

Beberapa detik kemudian bapaknya mengambil barang-barang yang digantung di luar pagar lantas memindahkannya ke bagian dalam pagar. Saya masih belum paham. Terus menerus sampai ketiga kali bapaknya melakukannya saya baru mengerti, jika bapaknya sedang ‘pulang’ ke rumahnya di dalam pagar.

Jadi, ada sepetak tanah kosong berpagar di sana. Karena si bapak seorang diri, maka dia membuat kait-kait gantungan di luar dan di dalam tembok untuk menaruh barang-barangnya. Begitu kemudian bapaknya akan memanjat pagar dan memindahkan barang di gantungan luar ke gantungan di dalam. Lantas ketika akhirnya bapaknya selesai, ia tinggal turun ke dalam pagar dan mengambil barang-barang di gantungan. Dan begitu lah prosesi pulang itu berakhir.

*

Banyak ya, terlalu banyak dilematika sosial yang ada di sekitar kita, hingga rasa-rasanya mau apapun sikap yang saya ambil terasa kurang tepat juga. Tapi saya mencoba untuk tidak ambil pusing. Karena selama saya cukup mengikuti hati nurani, sepertinya semua akan baik-baik saja.

Ah, habis ini deh saya menulis tentang pendapat saya mengenai uang. Biarkan saya rehat sejenak.

wordsflow

Ponsel Pintar


Ah, saya mau menulis dengan gaya yang biasa aja lah. Tapi maaf ya kalau nanti ujung-ujungnya tulisan ini juga berakhir dengan menggebu-gebu nggak jelas maksud dan tujuannya. Atau hanya bisa menimbulkan komentar ‘iki opo seh?’. Nah, mari saya mulai.

Sedianya saya habis chatting sama begitu banyak orang dengan ponsel pintar saya, padahal tadinya mau ngerjain gawean.

Ya gimana ya, di jaman begini siapa sih yang nggak bisa menghindar dari kebutuhan akan ponsel pintar? Sekarang, segalanya berhubungan dengan ponsel pintar. Bangun tidur update, berhenti di lampu merah buka ponsel, boker bawa ponsel, makan lebih mentingin update di instagram (bodoh amat makannya nggak seberapa enak), dan semua hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ada ujug-ujug menjadi kebutuhan pokok. Nggak mau menghakimi semua orang, karena saya menulis ini juga karena sadar kalau saya telah begitu bergantung kepada ponsel pintar untuk segala kebutuhan. Bahkan sekedar mengingatkan kalau seharusnya saya sudah datang bulan atau saya harus jogging sore.

Masih ingat saya dengan ponsel pertama yang masuk di keluarga saya, ketika itu saya masih duduk di kelas 5 SD. Ceritanya ayah saya dikasih sama temennya yang entah baik hati atau memang punya banyak ponsel, seri nokia yang bentuknya mirip telepon rumah tapi ponsel. Itu ponsel yang keyboardnya paling saya suka dibanding semua ponsel yang pernah saya pegang. Lantas nggak berapa lama bergantilah menjadi Siemens (ya bukan sih tulisannya gini?), yang bentuknya aneh itu, ukurannya kecil, dan layarnya cuma 1,5×2 cm2. Betapa, di jaman segitu kita asik aja menggunakan ponsel.

Saya nggak tahu persis perkembangan ponsel, tapi hingga akhir masa sekolah menengah pertama, model Siemens adalah jenis yang paling sering saya lihat, karena bapak saya cuma punya itu. Ya terkadang teman-teman saya sedikit pamer ponsel mereka yang layarnya sudah mulai besar-besar dan mulai banyak ada fitur asiknya. Ya kayak kayak fitur radio, yang membuat semua orang keranjingan memakai headset. Di kala itu saya cuma bisa mengintip-intip kegiatan asik mereka. Lantas muncul juga pemutar lagu dan video, yang juga ujug-ujug membuat semua orang asik mantengin layar ponsel.

Menjelang SMA saya akhirnya berhasil punya ponsel sendiri, ketika itu tahun 2007, seri Motorola entah yang mana. Pokoknya saya suka aja. Masih belum bisa untuk internetan, dan saya masih sangat buta teknologi di jaman itu. Mulailah saya ikutan sok asik dengan benda itu. Seingat saya ukurannya udah lumayan besar, dan saya semacam bangga banget punya benda itu. Padahal di jaman itu teman-teman saya sudah berpindah ke Nokia seri N (saya nggak pernah hafal seri ponsel).

Setelahnya, saya berganti-ganti ponsel hingga lebih dari lima kali dengan berbagai alasan, hilang, jatuh, dilindas mobil, dan banyak alasan lainnya. Mungkin karena bukan anak gadget juga (yang istilahnya bahkan baru saya tahu di tahun kedua kuliah), saya jadi nggak seberapa perhatian dengan perkembangan benda-benda ini. Justru malah setelah nggak seberapa populer saya baru mencari-cari si benda kemana-mana. Rada ketinggalan jaman emang sih, tapi apa daya, saya nggak sanggup mengikuti orang-orang yang terlalu gesit sama benda elektronik.

Bahkan, 2 tahun belakangan setelah saya menggunakan ponsel pintar dengan segala kemudahan aksesnya ke seluruh sudut dunia, sedikit banyak merasa lelah. Saya lelah memperingatkan diri sendiri untuk tidak memegang si ponsel setiap sepuluh menit sekali. Atau membiarkan pulsa internetnya habis tanpa terisi, atau membiarkan mati saja barang sejenak. Selalu merasa khawatir kalau-kalau saya ketinggalan informasi.

Bagian yang lebih membuat saya sedih adalah obrolan di dalam ponsel-pintar-dengan-segala-kemudahan-akses ini. Setiap rindu yang tertera, atau tawa yang tercipta nggak semuanya nyata adanya. Ya nyata sih, tapi ia semakin memberikan alasan untuk kita tak bertemu dengan seseorang, entah teman atau saudara. Saya juga sih, semacam ‘yaudahlah’ toh udah ngechat atau sms ke orang yang bersangkutan.

Semua dunia teks itu membuat kita (ah, saya) menghindari bertemu muka dengan seseorang. Hem, kenapa ya? Kenapa ya?

Padahal seharusnya mudah saja mengatakan rindu atau terima kasih atau selamat atau maaf. Semua hubungan-sederhana-namun-rumit yang dialami manusia harusnya dipaparkan dengan bertatap muka.

Lha kalau ternyata tatap muka saya nggak sanggup, dan lebih memilih berhubungan secara tekstual, ya apa iya setelahnya juga bakal begitu? Sedikit banyak nggak mau terlalu larut sih dengan si ponsel pintar ini. Tapi sungguh, saya akui saya sangat berterimakasih karena keberadaannya. Berapa banyak waktu yang dihemat untuk melakukan hal ini dan itu? Yang dulunya harus disampaikan kurir berhari-hari atau berbulan-bulan langsung bisa sampai dalam hitungan detik. Betapa perkembangan teknologi itu memiliki kecepatan mengerikan.

Ada kalanya saya berharap jika komunikasi jarak jauh tetap dilakukan dengan pos atau telegram. Sesuatu yang cepat namun tetap lambat. Ah tapi lupakan, ini hanya utopia semata. Tak terlalu penting untuk dipikirkan.

Ya ya ya, saya sudah terlalu termanjakan dengan si ponsel. Lagu-lagu enak, akses ke semua hal, kemudahan berkirim kabar. Nikmat duniawi banget nggak sih? Hubungan sosial yang tadinya harus selalu dimulai dengan basa-basi dan observasi kini bisa langsung dianalisis dari status di media sosialnya atau cara ngetik pesannya. Nggak salah memang, karena saya juga menilai seseorang terkadang dari isi statusnya atau cara menulis pesan di akun sosial media.

Pergeseran budaya semacam ini sungguh nyata adanya. Unggah-ungguh yang ada di bumi Jawa juga sedikit banyak terpengaruh karena adanya teknologi semacam ini.

Tapi ya, nggak mau menjelekkan atau apa, karena teknologi seyogyanya kan membantu manusia. Selama memang kita merasa terbantu, ya dipakai aja kan ya, nggak perlu ditolak. Sama mungkin kayak hubungan manusia. Selama masih saling menguntungkan ya diterima aja kan ya? #loh

wordsflow

Kultur dan Penanda


Saya pernah suatu ketika melihat postingan teman, tentang penanda peringatan di suatu tempat. Ia menyimpulkan bahwa penanda (peringatan) pada suatu tempat adalah representasi dari kebiasaan orang-orang yang ada di dalam area tersebut.

Sederhananya, penanda diletakkan di suatu tempat agar siapapun yang melihatnya menyadari hal tersebut. Sayang, jika kita sadar dengan sekitar kita, selalu saja penanda yang ada adalah

‘Dilarang membuang sampah sembarangan’

‘Dilarang kencing di sini’

‘Tolong antri’

‘Bukan jalan umum’

Dan sebagainya.

Bukankah kita sedikit banyak harus malu dengan penanda itu? Seharusnya emosi kita terpancing karena ‘tuduhan’ itu. Disaat kita menjadi orang yang membuang sampah dengan benar, antri, dan tertib peraturan, penanda itu harusnya menjadi motivasi kita untuk turut mengingatkan orang lain. Atau, ketika kita memang membuang sampah sembarangan dan sebagainya, seharusnya ia menjadi tamparan tentang bagaimana buruknya kelakuan kita di masyarakat.

Begitulah, terkadang kita melupakan bagaimana perilaku keseharian kita terpancar dari setiap hal yang ada di sekeliling kita; pada diri kita, barang yang kita gunakan, wewangian yang tersebar, dan sebagainya.

Sederhana saja, hanya kadang kita lupa.

wordsflow

; urban, rural


Kemarin lusa, saya berkesempatan untuk jalan-jalan asik di Desa Bedoyo, Gunung Kidul, menemani teman curhat saya untuk survey pola konsumsi di desa itu. Sesungguhnya saya nggak terlalu tahu menahu latar belakang dan outputnya meski pernah dengar juga sih, tapi saya sedang mencoba membiasakan diri untuk bertamu ke orang-orang desa, terutama orang tua. Saya pribadi resah atas keterbatasan saya dalam berhubungan dengan orang yang lebih tua, dan saya rasa itu cara yang cukup tepat untuk melatih diri sendiri.

Di hari itu kami melakukan wawancara non formal ke tiga tempat yang berbeda, dengan lingkungan yang berbeda dan umur narasumber yang juga berbeda. Sangat bersyukur karena keacakan pemilihan narasumber di hari itu mengantarkan kami ke orang-orang yang sangat baik dan mampu menerima outsider macam kami dengan baik.

Saya tidak akan menceritakan banyak karena proses wawancara ini bukan milik saya, dan bahkan saya pun bukan siapa-siapa di rombongan itu, hanya wisatawan semata, haha. Tapi sebagai sesama warga desa, saya jadi kepikiran tentang keresahan yang mereka rasakan juga.

Ada perbedaan yang sangat besar antara warga kota dan warga desa. Orang desa memiliki keterbatasan yang sama satu sama lain, saling berbagi penderitaan ketika musim berganti, dan rata-rata masing-masingnya memiliki profesi yang sama sebagai petani (atau dalam kasus Bedoyo sebagai penambang juga). Meski narasumber kami mengatakan semangat gotong royong (misal untuk bersih-bersih dusun atau bangun rumah) sudah mulai pudar, namun rukun tetangga antar mereka masih sangat ada.

Hampir saja saya melupakan kata ‘rukun tetangga’ yang sebenarnya menyatakan tingkat kedekatan antar warga yang ada di sana. Sebenarnya, untuk warga desa yang memiliki ladang, sawah, tegalan, atau media cocok tanam sejenis, saya rasa mereka tidak punya kesulitan yang sangat tinggi untuk bertahan hidup. Jauh berbeda dengan orang di kota, karena uang menjadi parameter kesejahteraan yang paling nyata. Nggak ada uang nggak makan. Sedang warga desa di sana rata-rata memiliki tanah luas untuk bercocok tanam, bahkan beberapa ada yang punya gunung (conical hills). Jadi bisa dibilang sebenarnya pengeluaran mereka untuk makan tidak lah mahal. Lebih menyulitkan untuk memenuhi pengeluaran untuk kepentingan rukun tetangga.

Saya jadi teringat ibu saya, yang selalu ngomel sana sini karena banyak hajatan, hahaha. Tapi yah, urusan ini memang sangat penting di desa. Salah-salah, kita bisa jadi bahan omongan orang se dusun, bahkan bisa saja merembet ke lingkup desa. Orang desa punya tipikal yang berbeda memang, tapi bergosip adalah hal yang sering dilakukan. Karenanya, untuk mendapatkan informasi yang banyak, jadi lah tukang gosip bareng ibu-ibu PKK atau sama warga di warung makan, haha.

Terlalu lama hidup jauh dari desa membuat saya lupa bagian rukun ini. Bagaimana cara bersikap dan berlaku selayaknya tetangga. Bagaimana caranya berunggah-ungguh yang tepat.

Dan meski judul tulisan ini ‘urban, rural’, tapi sesungguhnya saya nggak tahu kehidupan orang di kota (yang benar-benar tumbuh besar di kota). Jadi saya sudahi saja ya, males bersotoy ria. Selamat siang…

wordsflow

Growing


Let’s talk about what’s going on today. I was really disappointed with some people which recently really concerned about the approval on equal marriage in the USA. Here I didn’t want to give my own opinion, but I don’t know, maybe I will. Just let’s take a look.

I know this issue from my senior at high school which is I do admire a lot. She posted about her speech on her Youtube account about gay marriage (you can take a look here). Not really because I’ve known the issue, but because of her, I automatically clicked the link and watched the video. She started with a posting from Sherina on her twitter account @sherinasinna;

Banzai! Same sex marriage is now legal across the US. The dream: next, world! Wherever you are, be proud of who you are. #LGBTRights

In her opinion, marriage is really a sacred thing. Why would you think that people want to be stuck to one person on the rest of their life if this one person means nothing to them? Maybe people thought that this gay person have been desperate over something, they just haven’t tried harder to get someone which was opposite gender. But the problem is not that.

These gay people, she said, just if they could choose to be a normal person, they would definitely chose that, because be a gay person in this country means that you’ll be hated by your family, bullied by your friends, and rejected by the society. The case is that our society (Indonesian) is not ready to accept this kind of thing, so that people going crazy and spread their hatred to these people. Hey, these people deserve to be happy in their own way, just like us.

The second opinion is come from my junior at high school. She posted these words on her facebook account today;

The approval of gay marriage is in the US, not here. Stop complaining, it’s their life, their rights and their decision to find same sex partners. I don’t understand the tendency of religious Indonesians trying to push their religious beliefs above civil liberties. When a muslim girl is abused because she wears hijab, by someone dislike the idea of hijab, you’ll be like “oh that’s rude. Against the human rights!” Double standards, double standards everywhere.
And those comments about “oh I hope it won’t be legalize here! Masya Allah!”. (Correct me if I’m wrong) but there is no way in Indonesia such law can be enacted, because our fundamental norm is based on religious belief (believe in one Almighty God), since no laws can be made against the fundamental norms, then no laws shall be against any religious belief. So, chill.

Yes, I just want to copy her opinion about it, because mostly I have the same opinion with her. For me, it’s just not right here in Indonesia, I know, but to be over act about this one is really doesn’t make any sense.

One of my senior at my organization said to us, “There is something that most of these (gay) people doesn’t understand. Marriage is something that came from religion. It recently became government business because of political needs.”

Yes, marriage is a sacred thing, once you get married, it means forever. Just if you think you are not sure over someone, just don’t do that. Hence, it became government business because when people get divorce, they have problem with the money they’ve made. Also, to make sure on what nationality is the son belongs.

I don’t know maybe marriage is not an appropriate name for the equal couples. Maybe it’s enough to be accepted by the society (and government), because I don’t see the urgency to get married on these people. I think people getting married to have child, to get along with the families, or to avoid free sex (or something alike). But, in the country of freedom like USA, it seems weird maybe, to say that they need this kind of approval. Sex is something common there, right? Even we can see it almost on their films, or TV series, or magazines, or maybe on their daily.

Or maybe they just want to live together in peace? What a sweet purpose.

But, I don’t really know about that, haha. Just want to give some opinions about this. And yes, this country is not ready to this kind of thing, or simply we are not capable to handle this here. It’s because the first point of our Pancasila said; Ketuhanan Yang Maha Esa, which means every action we take have to refer to that point. If you say that getting married is human right, that’s true, but to get married with the same gender person is not compatible here. We need to change a lot if you want that to be happening. And it’s almost impossible to make the change.

**

By the way, seems too far to explain why this post titled with ‘growing’. I was like, oh I want to tell a story about my life recently, and maybe my opinion is needed to give a preface. I thought that someone’s opinions are really explaining their personalities. It’s like I didn’t need to tell myself too much because you could see me from my opinion, ehehe.

Yes, I’ve been growing older, and older, and older. Every second I spend make some changes to myself. Some things became not important, and some others came up in urgent to be thinking. But, I’ve made some deal with myself about something which I couldn’t accept before. Mochtar Lubis said in his novel ‘Jalan Tak Ada Ujung’ that we have to make deal with our biggest fear, so that we can live in peace. Problem need to be fixed in the same way. Sometime, the reality is not as big as your expectation, and maybe it’s not that bad.

I remember the first time I left home; I was at 4th grade at the time. I was being sent to a camping event which always held on Scouts Day, it’s 15th of August if I’m not wrong. We stayed for 2 days and 1 night, get along with the other elementary students over the sub district area, every year until I was in my 6th grade.

I often left home after that, joined my school events or just played over night and stayed at my friend’s house. At my 8th grade, I was lucky to be sent to a quarantine of Olympiad students over Yogyakarta. I met some great friends there, and even committed with one of them to be my pen friend. We exchanged letter until my 2nd grade of senior high school, and we intuitively chose the same major in UGM. Once again we became friends and about to graduate together on next August. Sweet enough, isn’t it? 😀

The quarantine felt like a big turning point to me, because after that, I was being able to join National Olympiad of Mathematics (2 times), got a medal, and even got scholarship in an international school. It did look like a big dream came true, didn’t it?

Those all things make me learned a lot about how dreams worked on my life. Why I could get this or that one, why suddenly a fortune came and changed my life, or why some dreams didn’t work like the other one.

Now, I am remembering those things which once happened in my life. Just to make me realize that some dreams really work one day, and maybe some others really are not destined to be mine. Or else, when we can make deal with our fear, or when we can let someone go from our life, there is a time when we realize that we are growing, isn’t it true?

**

Dear love,

I’ve been growing once again. I’ve let you go since—I forgot when I could make it. But here to be known by you; the love will never change, even I’ve let you go or we even been separated thousands meters away, even I can talk to you like I didn’t feel something special over you before, or even I can perfectly be your friend. I still can feel it deep in my heart; when I see you first time in the day, or when I suddenly hear your voice.

Those all, make me believe that the love is still the same, as big as before (maybe even bigger). But yeah, just forget it. You won’t be disturbed by these sentences, right?

And so, keep growing folks! May fortune come to you and me, and the turning point feels great and doesn’t frighten all of us!

wordsflow