WORDS FLOW

setiap pengalaman pantas untuk diingat

Category: on Opinion

etos kerja dan mekanisme janji


Seorang pecundang adalah dia yang tidak mampu menepati janji, dan dia yang tidak berani berjanji.

Sebaris kalimat itu muncul entah dari mana, bahkan saya sendiri tidak dapat memahami dari mana datangnya. Mungkin memang terkadang ada hal yang muncul tiba-tiba, bahkan sejak di dalam pikiran.

Apa yang kemudian saya ingat adalah soal etos kerja saya selama ini. Saya mencoba mengingat sejak mula tentang bagaimana cara saya bekerja, dan apa yang membuat saya merasa kecewa terhadap diri sendiri, dan apa yang kemudian saya syukuri dari diri.

Etos kerja adalah istilah yang tidak saya akrabi sampai saya masuk kuliah. Itu pun tidak terjadi pada awal saya masuk kuliah, namun setelah sekian lama saya berada di lingkungan kuliah.

Etos kerja saya buruk. Amat sangat buruk. Sering kali mungkin saya menjelaskan bahwa saya anak yang bisa mengatur waktu, memastikan bahwa setiap saat saya akan tetap bisa mengejar deadline dengan hasil yang sama baiknya dengan orang lain. Pada kenyataannya, saya hanya mencoba memberi pembenaran atas hal-hal salah yang saya lakukan dalam bekerja.

Saya ingat seorang teman menegur saya dahulu kala, mungkin tahun 2011 kalau saya tidak salah ingat. Ketika itu saya sempat berkata bahwa saya akan menghadiri sebuah acara. Namun yang saya lakukan adalah menghadiri acara lain dengan teman saya. Demikian, dalam perjalanan pulang sang teman bertanya, mengapa saya tidak jadi menghadiri acara yang pertama. Tentu saja karena tidak mau disalahkan saya menjawab bahwa kawan saya yang lainnya tidak bersedia menemani.

Meski cerita itu mungkin tidak diingat oleh sang teman, sering kali setiap saya merasakan kekecewaan pada diri atas etos kerja yang buruk, yang terjadi adalah munculnya kembali memori ketika itu di dalam ingatan saya. Seolah saya menertawakan diri ketika itu, mengutuk diri bahwa meski saya sadar yang saya katakan tidaklah benar, pada akhirnya saya mengingkarinya dengan perkataan lain.

Oh, hidup ini penuh kepalsuan saya kira.

Beberapa kali saya kemudian merasa bahwa hidup saya memang penuh dengan kepalsuan. Entah tentang diri sendiri atau tentang yang lainnya.

Tapi itu soal yang lain lagi. Sedang yang ingin saya bahas adalah perihal etos kerja.

Jauh setelahnya, saya sering mengalami kekecewaan terhadap diri sendiri. Dan hal paling luar biasa adalah, tidak ada yang berubah dari diri saya kecuali terus menerus bekerja dengan etos kerja yang sama buruknya dengan sebelumnya. Berapa kali saya berakhir dengan diomeli pelanggan karena tidak memenuhi target pengerjaan barang. Berapa kali saya harus mempercepat ketikan karena deadline tugas kuliah. Atau berapa kali saya akhirnya menyerah karena tidak berhasil memenuhi deadline tertentu. Berkali-kali hal semacam itu menjadi keakraban harian saya.

Tapi saya lantas bertanya-tanya, apakah dengan demikian saya sama saja tidak bekerja dengan passion? Atau saya hanya tidak fokus saja? Atau sebetulnya memang begitulah cara kerja yang terbaik untuk saya?

Jawabannya masih belum saya temukan tentu saja. Ada banyak metode kerja yang bisa saya uji cobakan ke diri sendiri. Saya bisa meniru satu teman dan teman lainnya, saya bisa meniru berbagai manusia sukses di luar sana, atau kalau tidak ingin terlihat seperti pengikut, saya bisa mulai untuk mengevaluasi diri sendiri dan akhirnya menemukan kelemahan dan kekuatan saya sendiri.

Lagi-lagi, itu masih sebatas bisa jadi. Ada hal-hal yang tetap tidak membuat saya terdorong untuk memperbaiki etos kerja saya selama ini. Mungkin alam bawah sadar saya menyatakan bahwa ini adalah metode yang paling baik yang bisa saya adaptasi, dan tidak ada lagi yang akan lebih baik dari ini! Atau, saya hanya tidak mau memperbaiki etos kerja saja. Sesimpel itu.

Di balik etos kerja yang begitu menyebalkan itu, saya sering kali menjebakkan diri dalam janji-janji. Lagi-lagi ini soal waktu dan kualitas kerjaan.

Dalam janji, banyak sekali hal yang kita bicarakan, lantas kita sepakati. Banyak sekali kemudian yang muncul di dalam pemahaman satu sama lain, dan sangat mungkin ada perbedaan pemahaman di antara keduanya. Ekspektasi muncul di dalam janji. Demikian, maka janji menciptakan jarak antara diri dan realitas yang mungkin tercipta nantinya.

Janji menjadi sesuatu yang lain dari realitas itu sendiri.

Hemm, saya takut akan masa depan. Takut jika ada hal yang gagal saya pahami sampai tiba saatnya harus undur diri.

wordsflow

the wild


Ada judul ini di draft blog. Mari saya karang beberapa kalimat.

Tiba-tiba ada ketakutan asing yang saya rasakan. Muncul dari ketiadaan begitu saja. Tenang di permukaan, keruh di kedalaman. Aneh sekali.

Lalu saya juga ingin nonton film Into The Wild, secara saya belum pernah menontonnya, bahkan trailernya pun belum pernah nonton. Jangankan itu, spoilernya juga tidak pernah saya dengar. Hanya selalu judulnya. Dan asik sekali mengucapkannya, in-to-the-wild. Maksudnya gimana ya? Mendalami alam liar? Masuk ke alam liar? Atau, gimana?

Mungkin saya memang materialis, bisa jadi. Saya semakin tidak yakin dari hari ke hari mengenai apa yang pasti dan tidak pasti. Saya duga sayapun sering menyangkal dan mengiyakan hal-hal yang disangkakan kepada saya. Sekedar untuk memudahkan saja.

Tapi, bicara mengenai alam liar, harus dimulai dari mula-mula. Apakah yang menciptakan peradaban? Manusia, saja? Atau secara alami melalui dialog panjang antara manusia dan alamnya?

Kita bagian dari alam liar, semua sejarah menyatakan demikian. Manusia tidak muncul sebagai makhluk berbaju. Di sana kita bertemu perbedaan manusia dan binatang untuk pertama kalinya. Dibandingkan hanya menikmati, manusia memanipulasi alam untuk mendukung keinginnya, untuk membantu pekerjaan, untuk melindunginya, untuk mencapai tujuan-tujuannya, dan seterusnya, dan seterusnya. Manusia tidak menggunakan alam sebagaimana jerapah hanya akan memakan daun akasia yang tumbuh tinggi, atau wildebeest yang pasrah saja menyeberang ganasnya sungai Masai Mara. Tidak, manusia memanipulasi alam demi dirinya sendiri.

Pertanyaan selanjutnya, apakah kemudian tindakan manusia itu meniadakan kealamian dirinya dan alam lingkungannya? Sementara manusia adalah bagian dari ekosistem natural, dan demikian kemampuan dan kecerdasan manusia merupakan hal yang juga natural. Jika demikian, maka tidak ada hal yang bisa disebut sebagai peradaban, atau kebudayaan. Semua alami saja. Natural. Tidak butuh penjelasan.

Saya curiga, bahwa dengan munculnya terminologi peradaban dan kebudayaan, maka manusia ditempatkan sebagai kekuatan yang sama besarnya dengan alam itu sendiri. Terlebih, terminologi ‘adaptasi’ menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang bisa ‘mengimbangi’ gerak alam yang tidak tentu. Ah, jumawa sekali.

Kemudahan yang ada di hari ini menjauhkan kita dari keliaran. Demikian, alam menjadi hal yang mengundang namun juga mengancam. Tidak ada yang mudah di alam bebas. Tapi mengapa sampai ada kalimat itu? Mungkin karena seolah kita ditantang untuk menguji kemampuan manipulasi kita sejak mula. Sejak masih piyik, dengan modal badan doang. Hemm, menantang sekali.

Saya pernah menulis ini di blog ini, tentang seberapa rentan manusia di alam. Dibandingkan dengan makhluk lain, kekuatan manusia itu kecil, meski bisa dilatih juga sih. Tapi kecil. Kita mudah menggigil misalnya. Dan berapa banyak manusia yang meninggal karena hipotermia di gunung? Tidak sedikit saya kira.

Dih, ini mau ngomong apa sih?

Well, nyatanya saya mengalami euforia berlebihan ketika saya melihat penyu di laut lepas. Seolah luar biasa sekali melihat hewan di alam liar–atau habitat? Saya jadi bingung memilih istilah yang tepat. Tapi tampak sekali bahwa di dalam pemahaman saya, alam menjadi hal yang sangat eksklusif. Kenampakan binatang tidak jinak menjadi hal yang mengagumkan diri saya, membuat saya mau berlama-lama mengamati. Mau bersabar untuk menanti.

Peradaban adalah sebuah kolaborasi yang tidak sumbang antara manusia dan alam lingkungannya. Tidak mendominasi, namun mengiringi. Kejumawaan manusia hanya akan menghilangkan kekayaan komposisi, sedangkan ketidakmampuan manusia mengimbangi menciptakan keliaran komposisi. Apakah analogi itu benar? Barangkali begitu. Bisa jadi juga tidak. Tapi begitu. Seolah sedang berkolaborasi, manusia dan alam menciptakan keindahan baru dari keindahan-keindahan yang telah ada. Meski menurut saya, ada prasyarat yang juga harus dipenuhi oleh manusia. Bahwa kita harus mengenal alam sebelum terjun berkolaborasi dengannya.

Tentu saja, agar kolaborasi itu tidak menciptakan kesiasiaan baru dan nada sumbang baru.

Tapi di hari ini manusia terlalu mengendalikan. Ibarat main gitar, manusia mengatur ketegangan senar sesuka hati. Begitu dimainkan ambyar. Alam liar tersisa sebagai nada indah yang sesekali keluar dari kesumbangan senar-senar. Menjadi hal yang tidak biasa, di luar dugaan. Terlalu gumunan terhadap apa-apa yang disuguhkan alam begitu saja.

Hemm, percakapan mengenai manusia dan alam ini semakin panjang saja. Saya belum mau merumuskan apapun, masih banyak buku yang harus saya baca, hal yang harus saya lihat, diskusi yang harus saya ikuti. Tapi demikian, di satu pihak saya merasa manusia sudah kelewat batas. Tapi di satu pihak saya toh nyaman dengan sikap keterlaluan manusia itu, bahkan cenderung mengikutinya.

Saya mengantuk.

wordsflow

menyoal politik di hari ini


Okai, mari kita singkirkan dulu perlahan urusan emosinal dalam menghadapi gejolak politik hari ini. Sudah lama sebetulnya, urusan politik menjadi begitu memuakkan untuk diikuti. Namun, tidak bisa tidak, hal itu secara langsung mempengaruhi hidup kita dalam praktik. Menyebalkan memang, mencoba tidak peduli namun toh terpengaruh juga dengan hal-hal tersebut.

Saya lama tidak menonton tv. Sungguh sudah lupa kapan terakhir kali menonton tv saya jadikan rutinitas harian. Namun saya cukup rajin mengikuti berita di koran atau media sosial untuk tetap tahu apa yang sedang terjadi di hari ini. Belakangan, Instagram menjadi platform yang saya gemari untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.

Sebelum membahas substansinya, saya mau berargumen mengenai Instagram ini.

Dalam beberapa kesempatan mungkin banyak yang menyatakan kejenuhannya akan media sosial. Tapi saya tidak begitu saja menggunakan media sosial untuk mencari dukungan atas argumen saya mengenai banyak hal. Media semacam Instagram dengan berbagai akun yang ada, entah pribadi, perusahaan, berita, bahkan akun masak, memberikan kemudahan kepada saya untuk menelusuri berbagai berita yang ada.

Lalu, apa yang menarik dari hari-hari belakangan ini?

Semakin lama, semakin ekstrim saja masyarakat kita. Kadang saya bertanya-tanya bagaimana kesadaran mereka akan berbagai hal yang ada di hari ini. Melihat berbagai adu pendapat yang ada di dalam dunia empirik dan dunia maya membuat saya bergidik ngeri. Masyarakat dengan mudahnya berdiri di dua kutub ekstrim berlabel pro dan kontra.

Oposisi biner telah menjadi dasar strukturalisme dalam melihat banyak hal. Levi Strauss bahkan menyatakan bahwa hal itu adanya bukan di tataran consciousness, namun pada tataran sub-consciousness. Ini menarik, karena hal tersebut secara tidak langsung menyatakan bahwa setiap manusia melihat berbagai hal dalam dua pertimbangan oposisi biner. Di hampir setiap hal!

Entah, saya bingung. Saya pribadi ngeri membayangkan bahwa saya bisa melakukan sesuatu secara tidak sadar, yang mana itu berarti saya tidak punya kontrol atas diri saya sendiri. Apapun yang ada di bawah sadar harus juga saya sadari bahwa ia ada di alam bawah sadar. Perkara saya akhirnya melakukannya karena sadar atau tidak bukanlah soal utamanya, namun yang menjadi penting adalah menyadari bahwa hal itu berada di dimensi mana.

Ketika saya menemukan berbagai postingan individu untuk turut bergerak bersolidaritas (dalam hal apapun), bukan perkaranya yang justru membuat saya bertanya-tanya. Melainkan perihal kesadaran masing-masing orang yang turut serta dalam gerakan tersebut. Ini soal value struggle di dalam diri seseorang.

Dari berbagai persoalan manusia, saya pikir pada perihal kesadaran ini lah yang paling membuat saya tertarik. Berkali-kali saya mempertanyakan sesuatu dan berupaya sekeras apapun untuk menemukan jawabannya. Pada akhirnya, kesemua hal tersebut adalah upaya untuk menyadari suatu perkara; apa, bagaimana, mengapa, dan segala bentuk pertanyaan tentangnya.

Maka, ketika saya menemukan bahwa masyarakat dengan mudahnya beroposisi, saya bolak-balik penasaran dengan dasar pemikiran yang membuat mereka melakukan hal tersebut. Apakah yang ada di dalam pikiran mereka, bagaimana pertimbangan mereka, apa yang mereka cari, apa yang sebetulnya mereka tuntut, dan apa yang sesungguhnya mereka pikirkan tentang manusia? Banyak orang di sekeliling saya sepakat bahwa politik hanyalah soal permainan. Politik tidak ubahnya sebuah tarik ulur kepentingan, sebuah upaya untuk berbagi jatah dalam skenario pembagian kekuasaan.

Dan kenyataan pahit yang kadang tidak disadari adalah bahwa kita, masyarakat, menjadi pihak yang paling dirugikan atas segala bentuk permainan politik!

Bayangkan, berapa kali sistem politik negara ini berganti. Berapa kali kita mengubah sistem dan jabatan di dalam pemerintahan. Berapa kali kita berdebat karena permasalahan kenegaraan. Menyisakan apa? Kita yang masih merupakan masyarakat sipil biasa. Yang menjadi orang tua tetap memiliki anak. Yang menjadi anak tetap memiliki orang tua. Yang bersaudara tidak akan bisa menghapus kesedarahannya dengan saudara lainnya. Kita masih berdebat dengan kehidupan sehari-hari pula.

Kita ini objek permainan politik. Dan terlalu sedih mendapati bahwa masyarakat dengan mudahnya (atau mungkin mereka sebenarnya tidak merasa mudah juga) beroposisi secara ekstrim pada dua kutub yang begitu jauh berlawanan. Lalu, siapa yang mau dengan susah payah menempatkan diri dan berkorban sebagai jembatan di antara keduanya?

Antara muak namun merasa harus peduli dengan perkara ini, saya pun gamang dalam melihat, apalagi menghadapi dan menanggapi. Masyarakat terbelah menuju dua kutub ekstrim. Anehnya, relasi yang tercipta di antara mereka masih saja sama. Bisa saja kedua pihak adalah rekan kerja, teman kuliah, saudara kandung, dan sebagainya. Dalam pertikaian menentukan mana yang menurut mereka patut dibela, keduanya kemudian bertemu dengan kenyataan bahwa sebeda apapun mereka dalam pendapat hubungan persahabatan mereka cukup pantas untuk dipertahankan meski beberapa ada yang memilih untuk bertikai, beberapa terpaksa berdamai karena memiliki hubungan darah yang tidak mungkin dihapuskan.

Saya prihatin sih sebenarnya melihat semua ini. Hanya saja, sejauh ini saya pun belum melakukan sesuatu kecuali berusaha mendalami lingkungan sekitar saya, sembari berkesadaran semakin tinggi mengenai hidup. Refleksi menduduki tindakan paling tinggi yang dapat membawa pada pemahaman akan kemanusiaan menurut saya. Sebagai hasilnya, kesadaran akan kemanusiaan akan datang bersama dengan kedalaman refleksi yang sudah dilakukan.

Entahlah, saya pun masih hanya sekedar menuliskan ini. Jauh di belakang pemikiran, saya mengagumi pendidik-pendidik saya yang mendorong saya untuk terus melakukan refleksi. Mungkin, barangkali mungkin, pendidikan yang berbasis refleksi akan membawa kita pada kemanusiaan dan keadilan yang lebih dari sekedar jargon saja. Semoga.

wordsflow

rumah; a place where you belong


Sepertinya saya pernah membahas mengenai rumah di blog ini. Sebuah pendalaman yang ketika itu saya dapatkan karena seorang dosen mengatakan bahwa rumah adalah tempat yang selalu membuatmu mulih (yang dapat berarti pulang dan pulih). Demikian, maka rumah bisa jadi apapun yang membautmu merasakan keduanya.

rumah adalah tempat yang membuatku tidak merasa bersalah menghabiskan waktu

Kadang manusia terbangun dan mendapatkan kesadaran baru tentang sesuatu. Tentang rasa, tentang cerita, tentang manusia, tentang banyak hal. Saya rasa, menjelang tidur saya telah cukup berbesar hati untuk berdamai dengan banyak hal, untuk memutuskan berbagai hal. Nyatanya ketika bangun, kesadaran lain yang muncul. Lalu, itu alam sadar atau alam bawah sadar yang sedang mengemuka?

Semalam saya dan Anis membicarakan rumah tinggal. Saya sadar rumah saya di Bantul sana agak jauh dari standar rumah yang ngarsitektur. Secara pembagian ruang dan aksesnya tidak maksimal dan banyak ruang-ruang nanggung dan sulit dipergunakan. Beberapa waktu ini pun ramai diperbincangkan di berbagai kalangan mengenai kemungkinan anak-anak milenial tidak akan pernah mampu membeli rumahnya. Ujung-ujungnya paling hanya rumah tapak kecil, atau apartemen, atau rumah kontrakan. Ini menarik, karena rumah selalu diasosiasikan dengan sesuatu yang tetap, tidak berubah, dan diwariskan.

Rumah, bukan hanya perkara place dan space, tapi sekarang dia menjadi aset dan representasi kemapanan hidup. Simbolisasi ini agak aneh sebetulnya jika ditelusuri lebih jauh ke belakang. Bagaimanapun, di banyak masyarakat, aset tidak didasarkan pada rumah, namun kepada tanah sejak dahulu kala. Banyak contohnya, dimana-mana ada. Saya tapi lebih suka menggambarkan lewat sepenggal cerita di Ronggeng Dukuh Paruk.

Mungkin karena cara menceritakannya, saya menjadi tersentuh dengan novel itu. Pun imaji saya tentangnya belum juga hilang lantaran nilai-nilai di dalam novelnya yang saya suka. Oiya, ke intinya. Jadi, rumah orang-orang Dukuh Paruk digambarkan sebagai sebuah rumah kayu reyot. Dalam perkembangannya, ketika Srinthil akhirnya menjadi seorang ronggeng, rumahnya perlahan mengalami perubahan. Atapnya berubah, perabotannya berubah, dan bahkan material rumahnya pun berubah. Di saat yang sama, penduduk lain masih menggunakan model rumah lama yang hanya terbuat dari kayu seadanya. Ketika akhirnya terjadi kerusuhan dan rumah penduduknya dibakar, yang terjadi adalah berdirinya rumah-rumah ilalang yang baru, seolah-olah tidak terjadi apapun sebelumnya, dan mereka tetap tinggal di sana begitu saja.

Penggambaran saya memang tidak seromantis itu mengenai tanah dan rumah. Tapi yang mau saya bilang adalah, orientasi terhadap tempat tinggal kini disederhanakan dalam bentuk rumah. Padahal, tempat tinggal adalah place and space, yang mana juga menyangkut lingkungan alamnya. Ketika orang berorientasi pada rumah, terang saja menjadi sesuatu yang terlampau jauh untuk dijangkau. Padahal, sebenarnya harga tanah juga ada yang enggak semahal itu dan bisa saja terbeli dengan harga terjangkau. Kadang memang, akses menjadi pertimbangan dengan memperhitungkan jaraknya dengan tempat kerja. Tapi yaah, banyak faktor sih.

Di waktu tertentu, kadang saya merasa bahwa tinggal itu perkara yang sulit untuk didefinisikan. Beberapa orang merasa baik-baik saja terus berpindah rumah dan tidak menetap di satu wilayah, mempersimpel barang-barang mereka, dan memilih untuk terus menjadi nomad. Begitu pula selama menjadi pelajar dan mahasiswa, bahkan setelah kerja, banyak orang yang nyaman saja menjadi nomad. Bahkan lagi-lagi, saking nyamannya berada di lingkungan kerja atau kampus, tempat tinggal menjadi hanya sebatas ruang tidur dan kamar mandi saja, tidak lebih.

Ah, tapi itu mungkin saya, hehe. Toh banyak sekali contoh lain yang lebih menghidupi ruang privasi mereka dengan berbagai kegiatan.

Demikian, maka mendefinisikan rumah buat saya rasanya tidak mudah. Beberapa tempat begitu nyaman sehingga saya bisa menghabiskan waktu saya tanpa pernah merasa bersalah sama sekali. Beberapa tempat menjadi sebatas ruang yang dimana saya berada, namun tidak merasa.

Maka, perkara rumah ini menarik karena semakin berkembangnya segala hal, maka orientasi dan definisi seseorang atas rumah pun akan sangat berbeda. Sama seperti Anis yang mengharapkan bisa tinggal di Bantul, atau saya yang pengen punya rumah di daerah semacam Gunung Kidul. Bisa jadi, itu hanya angan-angan perkara kebiasaan. Siapa yang bisa meyakinkan?

Mungkin pula, definisi saya juga akan berubah besok, minggu depan, atau tahun depan, saya pun tidak tahu. Bisa jadi begitu menikah saya akan berusaha punya rumah sebagaimana yang diidam-idamkan orang-orang di masa kini. Bisa saja saya memang akan terus nyaman dengan ruangan seluas kosan saya. Tak ada yang tahu. Tidak juga diri saya, hehe.

wordsflow

the very idea of cracking


Jenuh sudah katanya dengan kapitalisme. Tapi tidak. Suara ketikan laptop masih terdengar, internet masih berjalan, bank masih beroperasi mengatur transaksi dagang saya, motor masih membutuhkan bensin, sesekali pergi ke toko waralaba ternama, kadang-kadang pergi ke mall dan menikmati udara berpendingin, sering pula menengok harga barang-barang, pun tidak jarang berkeinginan untuk membeli barang keluaran baru, daftar tempat wisata tujuan masih terpampang, atau segudang ‘tapi’, ‘kadang’, ‘sering’ atau lain-lain itu.

Hidup di bawah kapitalisme itu enak. Kamu tak butuh memikirkan sawah yang terkena hama, atau tanah yang terlalu kering karena air tidak mengalir. Tidak perlu nyeblak damen setelah lelah memanen. Tak perlu ke luar rumah di hari yang panas dan terik untuk menjemur gabah yang belum mengering. Tidak perlu membaliknya secara rutin biar kering menyeluruh. Tak perlu memilih gabah yang bagus untuk bibit musim tanam berikutnya. Tidak perlu napeni atau nggiling lagi. Tak perlu lah semua kerumitan-kerumitan itu. Tinggal datang ke warung dan membeli berapa kilo pun yang bisa kamu beli dengan uangmu. Atau kalau yang begitu saja malas, pergi lah sudah ke warung makan dan pesan apapun yang kamu mau.

Hidup di bawah kapitalisme itu enak. Sungguh.

Kapan lagi kamu bisa menikmati apel washington kalau bukan karena kapitalisme? Kapan lagi kamu bisa naik roller coaster kalau bukan karena kapitalisme? Kapan lagi kamu bisa nonton film kalau bukan karena kapitalisme? Kapan lagi kamu bisa enak saja pagi ini di Jogja dan sejam lagi di Jakarta kalau bukan karena kapitalisme? Dan semua ‘kapan lagi’ yang lainnya yang mungkin nggak akan bisa dirasakan sampai mati; misalnya kapan lagi kamu bisa wisata ke bulan kalau bukan karena kapitalisme?

Sekali lagi, hidup di bawah kapitalisme itu enak. Nggak usah repot, segala hal bukan hanya dekat dengan kita, tapi menghampiri tanpa diminta. Bahkan terkadang membabi-buta hingga kita tidak tahu kemana seharusnya uang kita dibelanjakan. Hingga seringnya terus merasa kurang, terus merasa salah gaya, merasa kurang sejahtera, kurang segalanya.

Apa lagi yang kau minta? Kapitalisme menyediakan semua hal yang bahkan tidak bisa kamu bayangkan. Tak lagi ada yang mustahil di dunia ini. Lihat saja, donor kepala pun sudah menjadi hal yang mungkin, rekayasa genetika ada di mana-mana, pengembangan nuklir pun bukan lagi perkara, bahkan manipulasi pemikiran sudah lama menjadi hal biasa. Sebentar lagi mungkin kamu bisa imortal atau siapa tahu bisa hidup tanpa oksigen.

Bagi yang peduli, rusaknya kawasan karst adalah perkara, hilangnya pulau adalah bencana, berkurangnya hutan adalah kerusakan, matinya paus adalah ancaman, pencemaran lingkungan adalah keresahan, dan seterusnya yang bisa kamu sebutkan. Tapi bagi yang tidak peduli, persetan dengan segala hal itu! Hidup di bawah kapitalisme itu enak! Untuk apa kamu melawan semua kepraktisan?!

Tapi kamu masih menangis karena keluargamu meninggal. Tapi kamu masih sakit hati putus cinta. Tapi kamu masih resah dengan kemarahan orang tuamu. Tapi kamu masih terharu melihat keponakanmu. Tapi kamu masih marah melihat kemacetan. Tapi kamu masih suka melamun di pojokan. Tapi kamu masih berkeinginan untuk bolos kerja. Tapi kamu masih berkeinginan untuk mengambil libur panjang. Tapi kamu masih sesekali ingin tidur saja dan melupakan dunia. Tapi kamu masih jatuh cinta.

Sungguh, kamu masih manusia.

Terkadang memikirkan begitu banyak hal yang tidak kamu tahu setelah begitu banyak hal lain yang kamu tahu terasa jauh lebih menyesakkan. Setelah begitu banyak pengetahuan itu kamu berharap apa lagi? Membunuh kapitalisme yang memberikan semua kemudahan ini? Merusak sumber penghasilan teman-teman kampusmu yang juga manusia biasa itu? Kampanye untuk membentuk negara sosialis baru yang mungkin akan lebih gagal dari Rusia jaman dulu? Atau, seberapa mampu sih kamu menciptakan dunia yang lebih baik lagi dari ini?

Lalu pagi ini saya masih terbangun di ruangan 3×5 tanpa cahaya, dikelilingi teman-teman yang mungkin tidak menyenangkan tapi mereka ada saja sudah cukup. Keluar ruangan dan mendengar gemericik air kolam, langit masih mendung, dan semburat jingga samar-samar tampak di timur. Halaman depan selalu adalah kekacauan, ruang dalam selalu berantakan, kerusakan ada di sana sini, debu ada di setiap telapak kaki, genangan masih mengambang tak mau mengering. Dunia di hadapan saya masih jauh dari iming-iming jumawa kapitalisme. Tentang kita yang akan sejahtera semuanya. Tentang kita yang akan hidup mudah seterusnya.

Tapi kamu masih jatuh cinta, berbahagia, bersedih, atau bertanya-tanya untuk apa kita hidup di dunia, di mana Tuhan selama ini, mengapa aku perempuan dan kamu laki-laki. Kamu masih berseteru dengan dirimu sendiri. Kamu masih bertanya tanpa henti. Kamu masih putus asa tapi berusaha bangkit lagi. Kamu mungkin memaki tapi kamu percaya hidup tidak harus selalu seperti ini atau seperti itu. Kamu mungkin bersedih, tapi berbesar hati karena seorang teman lama mengirimkan undangan pernikahannya. Kamu tergelitik untuk membeli baju baru, lantas sadar pakaian hanya penutup badan. Kamu struggle untuk meyakinkan diri sendiri bahwa segala hal cukup dilalui dengan sederhana, dan segalanya akan baik-baik saja.

Lalu kamu ingat suatu hari bertemu seorang teman baru, kalian membicarakan barang yang layak dipertukarkan. Kalian saling menyusun rencana jalan-jalan, memasak bersama, bermain gitar, dan membaca buku di bawah teduh cemara. Di lain waktu kamu mendoakan keselamatan teman-temanmu yang demo turun ke jalan. Di hari lain kamu mendatangi acara penggalangan dana dan turut bercengkerama. Atau bahkan, ada hari di mana kamu diam saja dan menonton semua kartun yang bisa kamu temukan.

Kamu adalah patahan, kata John Holloway. Kamu adalah harapan yang muncul di kegelapan. Kamu lah yang harus memantik jalan keluar; menumbuhkan, mengkreasikan, dan mempertahankan kemungkinan. Kamu mungkin sangat partikular. Tapi semua hal penting dimulai dari partikel; rekayasa genetika, nuklir, memetika. Jadi tak mengapa, resah itu selalu adalah titik mula.

wordsflow

put your problems away


Jadi sudah seminggu saya tidak menulis di sini, dan saya merasa seminggu ini begitu lama, dan terlalu banyak hal terjadi dan saya pikirkan hingga saya sendiri mengalami kebingungan. Saya pikir, kadang dunia ini terasa begitu asing untuk menjadi sebuah kenyataan yang berimplikasi pada diri, tapi terkadang ia begitu lekat. Pikiran pun demikian, hingga seolah segala hal menjadi begitu meragukan.

Di tulisan terakhir saya mencoba berdamai dengan diri sendiri terkait penolakan bertahun-tahun atas otokritik saya pada keimanan terhadap Tuhan. Pada akhirnya saya tidak bisa untuk tidak mengakui bahwa saya masih sangat percaya adanya entitas seagung Tuhan. Dan itu adalah bekal yang sangat cukup untuk memilih ritual agama yang mana yang ingin saya patuhi untuk mendekati Tuhan.

Telah banyak pula yang sering mengatakan bahwa cinta yang hakiki adalah kepada Tuhan, namun tak pernah ada yang mau bersusah payah untuk menjelaskan sepenting apa kemudian cinta kepada sesama itu dalam posisinya terhadap cinta kepada Tuhan. Bagi saya, hanya yang pernah mencintai dengan benar yang akan mampu membawa pada cinta yang lainnya. Dalam artian, bahwa hanya mereka yang mampu mencintai Tuhan dengan sungguh-sungguh yang akan mampu memberikan cinta yang sama besarnya kepada manusia lainnya, pun sebaliknya. Ini hanya perkara mau dari mana kamu memulainya? Sayangnya, untuk bisa melakukan keduanya dengan benar, mula-mula kesadaran akan cinta itu harus pula ada. Bersamaan dengan segenap penyimpangannya: rasa benci, cemburu, iri, sakit, luka, sedih, bahagia, dan segala rasa sampingan akibat cinta itu sendiri.

Mencinta tidak melulu indah, maka berketuhanan juga tidak melulu indah. Bahwa Tuhan memilih satu atas yang lain memang begitulah cara Tuhan membalas cinta manusia. Mungkin ada yang dipanggil lebih awal, karena memang Tuhan lebih mencintai mereka. Tunggu saja, nanti juga kamu dipanggil untuk dibalas cintanya sama Tuhan.

Maka, saya anggap cerita saya mengenai perdebatan perihal ketuhanan ini saya cukupkan dahulu, karena kehidupan fana menyediakan lebih banyak pertanyaan yang belum selesai saya cari jawabannya.

Belakangan, saya disibukkan oleh tugas-tugas kuliah yang bertumpuk akibat tiga minggu berturut-turut jadwal kuliah yang amburadul. Alhasil saya banyak menghabiskan hari-hari dengan buku-buku dan artikel. Sayang sekali karena dengan keterpaksaan di bawah kepentingan tugas ini, beberapa buku tidak saya baca dengan sungguh-sungguh. Beruntung sekali karena beberapa perkuliahan lebih mementingkan diskusi, dan ekopol berhasil menarik segala perhatian saya sebagaimana Marxisme di semester kemarin.

Saya sedang mencoba mendalami Burawoy yang mengulas konsep society-nya Gramsci dan Polanyi, di mana Gramsci menekankan pada civil society dalam hubungannya dengan state, sementara Polanyi membicarakan active society dalam kaitannya dengan market. Keduanya meski berangkat dari dua kritik yang berbeda dari pendahulunya, Gramsci dari Lenin dan Polanyi dari Lukacs, namun keduanya komplementer dalam merumuskan konsep mengenai society di bawah naungan kapitalisme. Ternyata oh ternyata, pertanyaan yang selama ini saya persoalkan mengenai konsep society akan saya temukan di sini. Sudah benar betul saya masuk kelas ini, huehehe.

Pembahasan Burawoy ini sangat menarik dan membuat saya ingin berlama-lama dengan artikel ini sebelum mereviewnya untuk esok hari.

Semakin lama membaca hal-hal semacam itu, saya merasa bahwa ada begitu banyak hal yang berkelindan begitu rupa, centang perenang, silang sengkarut, bukan hanya pada tataran empiris, namun juga idea. Dan saya kira, sebenarnya sangat mengerikan membayangkan begitu banyak hal yang paradoksal dan kontradiksi di dunia ini. Lalu kita masih ingin menuju pada ‘world as a single society’?

Curhat sedikit.

Dua hari yang lalu saya membuka laman facebook dan menemukan video sederhana tentang cara kita melihat masalah. Jadi si bapak bercerita di depan muridnya tentang segelas air yang dia pegang. Katanya, “Ini adalah segelas air, berapa kah beratnya?”, setelah beberapa lama ia bertanya hal yang sama. Intinya, masalah itu sama kayak si gelas tadi, beratnya tetap sepanjang waktu. Tapi semakin kamu memegangnya dan nggak mau meletakkannya saja, maka ia akan semakin berat dan konsentrasi kita akan terkuras pada si gelas.

Anggap saja saya sepakat dengan bapak itu terkait masalah pribadi. Tapi pertanyaannya, bisakah kita melihat permasalahan sosial dengan cara yang sama?

Kompleksitas realitas sosial kita di hari ini membuat segala hal menjadi tidak lagi sederhana, dan saya sulit juga untuk melihat dari perspektif naturalis. Ah ngomong apa sih, hahaha. Maksudnya, dunia ini nggak sesimpel baik dan buruk, atau benar salah, atau segala hal berjalan alamiah dan sesuai takdir masing-masing orang. Maka, soal mencintai Tuhan sebagaimana pembuka tulisan ini tidak harus menjadi begitu, suka-suka kalian aja. Toh segala hal telah terlanjur bercabang sebegitu rupa hingga mungkin inti ajaran yang sesungguhnya adalah apa yang selama ini kita usahakan untuk didekati.

Yak, sama pula seperti Marxisme, dimana segitu banyak orang yang mencoba untuk mengikuti tradisi Marxis dalam melihat kapitalisme. Tapi lihat apa yang terjadi, begitu banyak percabangan yang tidak ada kata sepakat di dalamnya. Marx toh juga tidak mampu menyelesaikan tulisannya, dan bahkan belum memulai rencana tulisan lanjutan setelah Capital sebelum akhirnya ia meninggal. Menyisakan begitu banyak pekerjaan rumah bagi mereka yang ingin menjadi pengikut Marx setelahnya. Burawoy mencatat bahwa, beruntung sekali kita punya Marxisme yang mengimbangi gerak kapitalisme dan terus memberikan kritik paling komprehensif terhadap kapitalisme.

Ah, tiba-tiba saya merasa iri dengan orang-orang ini, Marx, Lenin, Lukacs, Gramsci, Polanyi, Rosa, Kautsky, Trotsky, atau berapa banyak lagi nama-nama yang mampu memberikan kontribusi intelektual pada kita hari ini. Mereka memang juga mengakar pada orang-orang sebelumnya, tapi bukankah setiap ide muncul dengan cara itu? Kita terus mempelajari hal di masa lalu untuk memberikan kritik dan pengembangan. Atau kita berusaha untuk berkaca pada orang lain untuk memahami diri sendiri. Kita berusaha untuk memahami lawan untuk mampu melawan. Dan demikian kerelaan itu hadir sebagai upaya untuk menyambut hal yang lebih besar lagi.

Lalu, simpulan dari segala hal ini apa?

Mencintai, berketuhanan, atau belajar, semuanya membutuhkan kerelaan dan pengorbanan untuk mau memberi sebelum akhirnya mencapai pemahaman dan mampu menerima lebih banyak. Saya masih percaya pada setiap usaha selalu ada reaksi yang mungkin setara sebagaimana kata Newton. Tapi dalam hubungan sosial terutama, apalagi hubungan ketuhanan, siapa yang tahu, hehehe. Maka, mencintailah lebih banyak, berketuhananlah lebih ikhlas, dan belajarlah lebih giat.

Apakah saya menjadi menyebalkan dengan berkata demikian? Hehe, saya ganti saja kalau begitu. Berproseslah, karena kedewasaan itu achieved dan bukannya ascribed.

Demikian, semoga berkenan dengan tulisan ini. Saya hanya ingin mengisi blog ini karena terlalu lama saya tinggalkan.

Selamat malam.

wordsflow

mempertanyakan untuk mempercayai Tuhan


Harus saya katakan sejak awal, bahwa yang saya tuliskan tidak bertujuan untuk menghasut, atau memberi pembenaran. Tidak demikian. Adalah naluri manusia (dalam kacamata saya) bahwa segala sesuatu harus dipertanyakan sebelum dipercayai sebagai kebenaran. Semoga saya tidak keliru.

Untuk itu, bagi yang tidak berkenan atau merasa tidak nyaman, silakan berhenti sampai di sini. Tapi saya akan tetap melanjutkan.

Saya ingat seorang guru agama di masa SD saya, pernah menjelaskan bahwa mempertanyakan “Apakah Allah itu perempuan atau laki-laki?”, “Bagaimana bentuk Tuhan?”, “Di mana Dia tinggal”, dan seterusnya, adalah pertanyaan-pertanyaan yang akan membuat seseorang berdosa. Sebagai anak kecil yang telah hafal cerita mengerikan perihal siksa kubur dan siksa akhirat yang tidak akan pernah berakhir, maka hal itu menjadi begitu tabu dan mau tidak mau setiap anak akan berusaha melupakan pertanyaan-pertanyaan khas anak kecil itu.

Belakangan, jauh setelahnya ketika saya duduk di bangku kuliah (saya pernah membahas ini), dunia anak-anak kemudian harus saya akui sebagai dunia paling jujur dan paling filosofis dari seorang manusia. Pertanyaan-pertanyaan yang sering dikategorikan polos itu, jika ditanyakan oleh seorang mahasiswa, maka akan menjadi pertanyaan berkenaan dengan filsafat ketuhanan. Padahal, heei, anak kecil juga bisa kelez. Dan pada akhirnya, tanpa penelusuran yang cukup mendalam, semua hal itu hanya akan menjadi sebuah dogma saja, yang juga ditelurkan dari mitos-mitos tanpa bukti.

Sekalipun selama ini saya percaya, meski beberapa masih ada di bawah landasan rasa takut akan hukum karma, siksa kubur, atau siksa neraka, namun pertanyaan-pertanyaan seputar ke-Tuhan-an itu tidak bisa saya anggap angin lalu, karena setiap kali berritual, saya toh masih memikirkan hal ini.

Maka, dengan dasar keraguan tersebut, sering kali saya merasa malu ketika melakukan ibadah. Rasa malu ini berdasar pada suara dalam pikiran saya, “untuk apa saya ibadah kalo toh saya masih belum mampu percaya betul?” Dan begitulah, setiap datang waktu untuk bersujud, berserah, atau apapun istilah yang digunakan untuk menyebut hal tersebut, pertanyaan itu kembali hadir dan membuat saya merasa terganggu dengan diri sendiri.

Jika hal-hal semacam ini sudah muncul, saya menjadi begitu dekat dengan perasaan “hilang” sebagai manusia. Bahwa jika memang benar ada Tuhan yang menurunkan manusia dengan tujuan-tujuan tertentu di dunia ini, toh pada akhirnya saya masih juga belum mampu menemukan untuk apa saya ada, hadir, berproses, dan akhirnya nanti mati? Apakah sungguh hanya untuk menjaga Bumi saja; menjadi khalifah? Lantas kalau Bumi sudah dijaga nanti akan diberikan kepada siapa? Agar ketika tertelan lubang hitam di pusat Bima Sakti, Bumi masih tetap utuh? Atau apa? Apakah Tuhan sungguh-sungguh butuh disembah oleh manusia? Atau sebenarnya penyembahan itu adalah sebuah bentuk kepasrahan akan rahasia-rahasia kehidupan?

Memang benar, penjelasan semacam itu (dalam Islam) telah banyak dipaparkan oleh imam-imam yang cukup liberal, yang mencoba untuk tidak sekedar memberikan dogma kepada umat Islam, namun saya butuh dialog. Demikian, tidak banyak yang bisa memberikan saya jawaban yang cukup memuaskan tentang hal semacam itu.

Lantaran alasan itu, tidak salah saya kira, ketika akhirnya secara pribadi saya mencoba merombak segala pemahaman saya mengenai konsep ke-Tuhan-an, dan mempertanyakan secara pribadi masalah agama dan kepercayaan ini. Agama-agama tetangga, yang mungkin juga kalian pahami, cukup banyak yang menguraikan masalah ini dan mencoba membahasnya secara terbuka. Dan untuk alasan sederhana itu, berkali-kali akhirnya saya justru merujuk pada agama-agama lain untuk mencari apa yang tidak bisa saya dapatkan dari agama saya. Dasar tindakan itu saya rasa cukup beralasan, dengan mempertanyakan, kepercayaan kita justru akan semakin kuat.

Di hari ini, yang saya lihat adalah kecenderungan manusia yang lebih suka mengkonsumsi dogma dan mitos, karena hal itu lebih mudah. Urusan agama juga demikian, beberapa hal memang dogmatis. Tapi, untuk percaya akan Tuhan, kita harus lebih dahulu mendefinisikan apa, siapa, bagaimana Tuhan itu. Lalu, bagaimana ke-Tuhan-an itu? Lebih awal, bahkan saya merasa harus bisa menjawab pertanyaan mengenai bilamana entitas yang disebut Tuhan itu ada? Agaknya, akhirnya kita tersudut pada kenyataan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kita pahami asal-usul-proses-nya sehingga lebih mudah mengatakan bahwa itu adalah hasil kerja Tuhan.

Saya memang pernah membaca juga buku tentang Sejarah Agama-Agama yang ditulis oleh Allan Menzies, dan saya kira cukup lengkap. Tapi, bahkan penjelasan itu tidak bisa menjawab rasa penasaran saya perihal ke-Tuhan-an ini, dan masih saja ada hal yang tidak bisa saya akui di dalam pikiran saya. Atau, jangan-jangan memang perkara ini tidak perlu penalaran? Atau memang benar bahwa agama “hanyalah” jalan hidup? Atau agama adalah panduan hidup? Atau justru itu takdir?

Kerumitan itu masih belum menemukan titik terang hingga hari ini. Namun, di banyak perkara yang berhubungan dengan hidup dan kematian, serta kejadian-kejadian yang terjadi di realitas kehidupan, mengatakan bahwa segala sesuatu merupakan kehendak Tuhan rasanya terlalu “polos” dan tidak menjelaskan apapun. Apakah bisa saya katakan bahwa masyarakat yang begitu taat dan bekerja keras akan selalu mencapai kesejahteraan? Apakah semua orang sungguh-sungguh (dalam artian sesungguhnya) selalu diberikan cobaan sesuai dengan kemampuannya? Bagaimana menjelaskan hal-hal yang terjadi pada masyarakat Timur Tengah yang dilanda peperangan selama bertahun-tahun? Bagimana menjelaskan nasib masyarakat kalangan bawah yang saya lihat begitu patuh beribadah namun tidak pula keluar dari kemiskinannya? Atau bagaimana menjelaskan masyarakat yang hidupnya begitu mudah padahal dalam definisi masyarakat “beragama” mereka itu munafik?

Penjelasan-penjelasan sederhana itu tidak mampu memberikan gambaran yang komprehensif mengenai nasib seseorang di hari ini. Dan sekiranya, tidak salah bagi seorang manusia untuk mempertanyaan perkara ke-Tuhan-an ini. Demikian, maka justifikasi soal ke-Tuhan-an ini menjadi begitu sulit untuk disamaratakan, bahwa sulit sekali untuk melihat siapa yang apa, siapa yang bagaimana, siapa yang seperti apa.

Seorang dosen saya, yang gaya pengajarannya saya sukai selalu memperingatkan kami untuk terus merefleksikan segala persoalan kepada hal-hal yang sangat pribadi dari kita. Menurutnya (yang juga saya iyakan) memahami perkara liyan seperti menelusuri diri sendiri. Maka untuk memahami liyan kamu harus memahami diri sendiri, dan untuk mampu memahami diri sendiri kita juga harus mendalami liyan. Saya rasa, hal itu juga berlaku dalam mempelajari Tuhan. Ah, tapi Tuhan tidak sama dengan manusia kan? Atau jangan-jangan Tuhan hanya sebuah hasil dari psikokinesis?

Di luar pertanyaan-pertanyaan saya tadi, sebenarnya saya memiliki kekaguman yang mendalam perihal agama saya, dan meski mungkin banyak orang yang tidak sepakat, tapi Al-Qur’an itu mengagumkan. Saya kurang tahu dengan kitab suci lain, karena saya belum pernah membaca. Tapi saya bisa mengatakan, bahwa saya yang tidak taat ini pun selalu merasa tersentuh setiap kali mendengar seseorang membaca Al-Qur’an.

Well, agaknya saya harus mengakhiri tulisan ini sebelum ngelantur. Jika kemudian pembaca yang budiman kecewa karena saya tidak memberikan konklusi apapun, maafkan saya, karena tulisan ini tidak bermaksud mencapai kesimpulan. Saya pikir, saya yang juga masih berproses ini tidak layak memberi konklusi.

Tapi, sebagai penutup, saya akhirnya mencoba menjawab diri sendiri, bahwa berketuhanan itu sama seperti mencintai. Kamu ragu, kamu bertanya-tanya, kamu tidak tahu ke mana akhirnya, tapi toh tetap mencintai. Maka begitu juga berketuhanan. Karena di ujungnya mungkin kita mengharapkan kepastian, entah datang atau tidak. Mungkin, pembaca yang budiman tidak akan cukup paham bagaimana proses panjang saya akhirnya mencapai kesimpulan itu. Tapi berketuhanan berdasar dogma, dan berdasar pencarian, buat saya tidaklah sama. Dan semoga saya tidak keliru.

Pada akhirnya, satu pelajaran dari guru SD saya yang juga selalu saya ingat, iman itu diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan lewat perbuatan. Tanpa yang terakhir, kamu tidak akan mencapai keimanan, maka saya mencoba. Tabik.

wordsflow

tentang memahami teks dan eksistensi


Kemampuan verbal saya tidak kuat, saya paham itu sejak lama. Bahkan tes potensi akademik saya menunjukkan nilai yang begitu mengenaskan hingga saya mengelus dada dan harus meyakinkan diri bahwa akan tetap baik-baik saja selama kuliah di jurusan saya.

Sudah berulang kali saya mencoba untuk membaca berbagai buku ‘berat’ mengenai berbagai hal, sekiranya memang hal itu akan membantu saya memahami realitas yang saya alami dengan lebih baik. Semakin banyak yang dibaca, semakin banyak dialog antara saya-buku-realita yang akhirnya menciptakan kesadaran baru di dalam pikiran saya mengenai bagaimana segala sesuatu berjalan. Namun, dialog tidak akan berjalan lancar jika saya tidak mampu mendefinisikan setiap terminologi yang digunakan dalam teks oleh penulisnya, atau mendedah setiap inci teks itu secara lebih terperinci.

Ah, saya berasa lagi ngomongin hermeneutika. Tapi bodo amat, saya mau nulis suka-suka.

Saya pengikut Pram dalam hal “seorang terpelajar harus adil sejak dalam pikiran”, dan hal itu berlaku untuk banyak bentuk pembelajaran, dan begitu pula dalam mempelajari teks. Asumsi-asumsi mengenai pengetahuan dasar terkait isi buku harus disingkirkan begitu membuka halaman pertama buku, dan segala simpulan yang kita peroleh dari sumber-sumber non buku tersebut harus kita singkirkan dulu pula. Demikian maka setiap membuka sebuah buku baru, lebih-lebih buku teori, hal-hal terkait harus kita singkirkan.

Lantas apa? Selayaknya seseorang yang sedang mencoba untuk mendedah isi pikiran orang lain, maka orang itu harus kita hidupkan kembali sebagai sebuah subjek yang menulis, yang mengekstraksi pemikirannya ke dalam teks. Si penulis adalah sebuah subjek yang menyejarah, artinya ada pengalaman-pengalaman yang bisa jadi (saya katakan bisa jadi karena mungkin ada yang tidak) mempengaruhi isi teks yang ia tulis. Pun, kondisi lingkungan sosial di sekelilingnya bisa juga memberi andil dalam tulisannya. Nah, kita bertemu dengan konteks.

Dengan segala hal itu, maka saya kadang merasa bahwa membaca sebuah buku tidak kemudian akan membuat saya mampu menyarikan isi pemikiran penulisnya. Karena toh pada kenyataannya, hanya hal-hal yang saya butuhkan yang sering kali saya ambil sebagai bagian penting dari tulisan itu. Dialog antara saya-buku-realitas, akhirnya menelurkan sebuah pemahaman parsial saja, yaitu tentang fenomena yang ingin saya kaji.

Kadang di titik itu saya merasa frustasi benar dengan daya pikir saya sendiri. Beberapa tulisan saya yang telah lampau bahkan mengeluarkan beberapa pemikiran yang agaknya telah saya abaikan di hari ini. Atau ada beberapa hal yang saya pusingkan di hari ini, sebetulnya suatu waktu pernah saya temukan solusinya (solusinya?).

Lantas apa maknanya?

Demikian, maka saya pikir, saya pribadi mengalami repetisi kondisi psikis dan emosi yang berulang, dan ini tidak sehat saya kira. Di satu saat, saya yakin bahwa faktualitas saya adalah hal yang paling penting. Sejarah ‘hanyalah’ sebuah pembelajaran hidup, dan dipikir bagaimanapun ia akan tetap demikian adanya. Sedangkan masa depan selalu menjadi sebuah misteri yang tak terprediksi, dan sekali ia terprediksi, maka irasionalitas pengharapan bubar sudah, dan hilanglah sumber kebahagiaan itu. Justru keragu-raguan akan masa depan yang menuntut manusia untuk memaksimalkan kemampuan yang ia bisa di hari ini, untuk menjalani hidup dengan lebih baik di hari ini.

Menulis, sebagaimana saya katakan di postingan sebelumnya, adalah upaya untuk menyimpan pemikiran saya. Tapi bahkan saya kadang sulit menelaah tulisan saya sendiri di masa lampau, dan harus menggali memori untuk melihat konteks penulisan itu. Atau pengharapan dan imajinasi macam apa yang berseliweran di pikiran saya ketika saya menulis artikel atau terlebih sajak. Fakta itu membuat saya merasa bahwa dalam membaca novel, yang saya gadang-gadang mampu membantu saya melihat realitas dan bahkan mampu mendekatkan saya pada pandangan pribadi penulisnya, harus juga menggali begitu dalam sebenarnya apa yang dipikirkan penulis ketika bercerita?

Maka saya meyakini secara pribadi bahwa setiap cerita, menyimpan sejarah hidup penulisnya, meski hanya sebuah adegan parsial, atau pemikiran saja, atau kondisi kejiwaan, emosi, kenangan, intinya dalam cerita itu ada hal-hal yang memang menjadi bagian hidupnya. Demikian, saya jarang melihat buku sebagai sebuah buku, tapi sebuah perdebatan internal dalam diri seseorang yang ia tularkan pada manusia lainnya. Teks, kemudian menjadi media untuk mewujudkan konteks dan memberi pemahaman akan konteks.

Apa hubungan itu semua dengan eksistensi?

Sartre bilang, tidak ada esensi yang mendahului eksistensi manusia, eksistensi manusia ada justru untuk menemukan esensi itu. Manusia itu adalah kebebasan, katanya. Maka adanya esensi yang mendahului eksistensi itu membuat kebebasan itu menjadi tidak ada. Saya belum memahami Sartre, atau mungkin tidak akan bisa, hehe. Tapi, saya sendiri berdebat secara pribadi, bahwa kebebasan manusia itu terbatas pada raga dan jiwanya. Konstruksi keduanya memberikan manusia batasan tertentu, meski saya juga tidak menyangkal bahwa manusia akan mampu melampaui batas itu melalui teknologi yang terekstraksi dari ide dan gagasannya. Menarik sekali ya manusia. Sejarah kehidupan, kemudian katakanlah dapat saya rangkum menjadi “sebuah upaya melampaui batas menuju kebebasan”.

Ada berapa agenda ilmiah yang mencoba mewujudkan teknologi kloning, immortality, atau bahkan mungkin upaya untuk menciptakan dunia sendiri (silakan searching pemodelan rekayasa atmosfer Mars sampai bisa ditinggali manusia). Semuanya, adalah upaya melampaui keterbatasan dan mendekati kebebasan yang sesungguhnya. Banyak sekali bahkan di lingkungan sosial kita, upaya untuk mewujudkan kebebasan diri itu, mungkin saya ambil contoh gerakan feminisme yang menuntut banyak hal terkait perempuan. Saya katakan banyak hal karena tuntutan setiap gerakan feminis tidaklah sama. Bagi saya, itu adalah sebuah upaya mendekati kebebasan diri, yang kemudian termanifestasikan dalam gerakan sosial semacam itu.

Hingga hari ini, saya kira saya tidak mencoba menuju ke arah membebaskan diri sepenuhnya. Saya kira, kebebasan itu menakutkan, hahaha. Cupu sekali. Ah, bagaimana pun, seorang Sartre yang mengatakan demikian pun tidak mewujudkan “kebebasan”nya dalam hidupnya sendiri. Jadi, saya anggap saja bahwa baik jiwa maupun raga saling membatasi diri.

Eh tapi tunggu, apa yang saya maksud dengan jiwa? Pikiran? Emosi? Soul? Nah kan, saya jadi ragu sendiri lagi. Mendendah mereka semua sampai pada tataran ontologisnya akan makan tulisan yang juga lebih panjang, dan saya tidak berniat untuk itu sekarang.

Maka, kebebasan yang disebut Sartre tadi, membuat manusia bisa menjadi apa saja sesuai dengan pencarian esensi yang ia inginkan. Kita memang kemudian menjadi bingung, meski kemudian dalam Islam juga disebutkan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di Bumi, atau untuk menyembah Allah, atau bahkan yang lain-lain, saya menemukan bahwa pada titik tertentu manusia berhenti sejenak dan menanyakan “untuk apa aku hidup?” Kita berlomba mengaktualisasi diri, meningkatkan eksistensi, untuk akhirnya mendekati esensi dan bisa dengan yakin “oh, peran saya ini toh”. Yah, meski kemudian setelah rasa yakin itu muncul, toh frustasi kadang-kadang juga menghampiri.

Ah, teks di mana-mana, tapi saya tak menemukan yang saya cari jua.

Atau, pernyataan itu seharusnya diganti menjadi: saya tak tahu apa yang saya cari, padahal teks ada di mana-mana untuk mampu menjelaskan itu semua.

wordsflow

tentang hal-hal biasa yang kau bicarakan


Ada banyak hal yang saya pikir menarik untuk disampaikan di laman ini. Saya merasa sudah cukup lama tidak bercerita model buku harian seperti yang kadang-kadang saya lakukan. Jadi, mari saya bocorkan kehidupan saya selama beberapa hari. Sehingga mungkin, saya akan memberikan hal-hal yang saya anggap omong kosong ini sebagai sebuah gagasan yang bisa menyebar selayaknya meme.

Selama 4 hari terakhir, saya mengikuti 3 seminar yang berbeda. Yang pertama membahas tentang industri tambang dan bagaimana antropologi memberikan perannya pada sektor tersebut, yang kedua soal refugees yang menjadi ‘problem’ tiada akhir hubungan bilateral Indonesia-Australia, dan terakhir tentang aktivisme dan asketisme. Ketiganya jika didiskusikan secara mendalam, bisa lah menciptakan badai otak (yang bukan brainstorm pada makna umum maksud saya) yang bisa mengganggu stabilitas mental. Mari saya ajak membahas sedikit pergolakan macam apa yang ada di dalam diri saya menyangkut ketiganya.

Topik pertambangan adalah paradoks yang tiada habisnya. Masing-masing pihak yang berkonfrontasi, yaitu perusahaan yang menambang dan masyarakat yang terdampak, berada posisi yang sama sulitnya. Dalam artian, saya kira sudah tidak banyak (sok tahu abis) daerah yang memang ‘bebas manusia’ secara keseluruhan (kalaupun ada memang adalah merupakan wilayah konservasi), sementara tuntutan untuk memenuhi kebutuhan material tambang begitu pesat meningkat. Di sisi lain, masyarakat yang banyak hidup di wilayah-wilayah perawan sasaran tambang, masih berada dalam kondisi hidup primitif (dalam artian masih berburu dan meramu) akhirnya harus menerima pertama-tama pemaksaan menuju masyarakat kapitalistik. Tentu saja gegar budaya mengiringi setiap perjalanan resettlement yang diakui perusahaan telah sesuai dengan prosedur internasional.

Ah, saya harus menyampaikan sebelumnya, bahwa saya tidak akan berusaha memberikan gagasan tentang seminar tersebut. Saya kira, membiarkan tulisan ini tetap menjadi pertanyaan justru akan menciptakan dialektika di dalam diri pembacanya. Hehe. Jadi langsung saya lanjutkan saja ya.

 

Secara tidak sengaja baru saja saya menemukan video ini di laman Facebook saya. Dilema pengungsi di banyak wilayah di seluruh dunia telah juga melanda Indonesia sejak era Habibie. Menurut data yang saya peroleh dari seminar kemarin, pengungsi ‘mampir’ ke Indonesia karena disepakati sebagai negara transit sebelum pengungsi tersebut mendapatkan resettlement atau visa perlindungan dari Australia. Namun, sejak masa itu pula Australia melakukan berbagai bentuk penolakan kapal-kapal yang masuk ke perairan Australia sebagai pencari suaka. Saya kurang mendalami dalil apa yang digunakan oleh pemerintah mereka, namun yang pasti manusia-manusia ini dianggap sebagai ‘problem’ dan akhirnya terombang-ambing di antara dua negara. Beberapa pelaut Indonesia bahkan dibayar kembali oleh pemerintah Australia untuk membawa pencari suaka itu kembali ke Pulau Rote.

Apa kemudian, yang kamu pikirkan? Bagaimana menempatkan diri dalam dilematika semacam itu? Apakah manusia adalah sebuah objek kebijakan? Apa yang kemudian kita maknai sebagai kemanusiaan? Apakah kemanusiaan tanpa syarat adalah sebuah hal yang utopis saja? Apakah sungguh kemanusiaan akan pernah bebas dari prasangka? Sementara masih sering berpikir ulang memberikan sedekah dan bantuan kepada siapapun, betapa jumawa untuk merasa mampu memikirkan hal-hal semacam ini. Di mana kita letakkan kemanusiaan?

Sakit sekali, dan begitu pahit menemukan diri penuh dengan omong kosong semacam ini. Terus menerus diulang dalam meja-meja diskusi, dalam relung pemikiran pribadi, dalam tulisan-tulisan, dalam pelajaran dan seterusnya. Sementara saya merasa bahwa saya harus telah selesai dengan diri sendiri sebelum mulai bertindak, saya sama artinya menjebakkan diri di dalam ketergemingan itu.

Pada seminar semalam, kemudian saya bertemu pada sebuah gagasan mengenai asketisme. Saya kira saya telah menuliskan gagasan yang serupa, meski saya mengistilahkannya sebagai pola konsumsi. Seminar tersebut mempertanyakan sebuah pertanyaan yang begitu mendasar tentang perlawanan terhadap sistem raksasa kapitalisme. Pertanyaannya sederhana; apakah kita telah meninjau kembali aktivisme yang kita lakukan? jangan-jangan kita termasuk manusia-manusia yang justru menghidupi kapitalisme itu sendiri. Begitulah kira-kira intisarinya. Saya tidak hadir secara keseluruhan pada bincang sore itu, meski setelahnya kami membuka diskusi panjang untuk membahas dua kata kunci penting bincang sore itu; aktivisme dan asketisme. Ah, lagi-lagi saya menemukan sebuah tautan tentang perlawanan, yang begitu dekat dengan bidang ilmu saya (silahkan klik di sini), Yah meskipun saya kira mungkin persoalan kompensasi merupakan motif umumnya, namun perlu diperhatikan saya kira.

Diskusi panjang kami, meski juga membahas pula tentang pendidikan sampai Gafatar, akhirnya seorang teman mengungkapkan pergolakan terdalamnya. “Aku ngerasa ini omong kosong doang,” begitu ujarnya. Sekali lagi, yang merasakan sakit, getir, dan pahit yang sama tidak hanya segelintir orang. Bisa jadi begitu banyak orang. Tapi lagi-lagi saya tak mampu menjawabnya meski dalam hati meyakinkan diri bahwa tetap menulis seperti ini, tetap berdiskusi, tetap menyederhanakan hidup, akan membawa pada sebuah perubahan yang sama kita dambakan; dunia yang lebih baik dan manusiawi.

Hal-hal seberat gunung itu, tidak juga bisa saya katakan lebih penting dari hidup saya sendiri. Prinsip rescue di mana pun sama; pastikan diri sendiri aman sebelum menyelamatkan orang lain agar tidak semakin banyak korban. Saya menempatkan diri saya dalam berbagai hal dengan menggunakan prinsip yang sama. Dalam artian, saya sendiri masih meyakini bahwa melakukan pembelajaran yang mendalam, pencarian data yang ketat, refleksi mendalam, dan membebaskan diri dari ketergantungan dasar wajib khatam sebelum mampu menyerahkan diri pada perlawanan. Maaf saya agak idealis soal ini.

Maka, menyadari bahwa kematian bisa selalu begitu dekat (karena tiba-tiba tenggelam) juga merupakan bagian dari pembelajaran mendalam tersebut. Ketika menyadari bahwa kematian adalah sebuah peristiwa yang manasuka dengan hidup kita, maka dalam kondisi apapun kita harus bersiap. Karena itu saya menulis.

Saya mencoba memaknai hidup sedalam mungkin yang mampu saya lakukan. Berbincang secara personal dengan seseorang adalah salah satu hal yang paling saya sukai untuk melakukan refleksi. Diskusikan apapun yang kalian inginkan, akan saya layani sepenuh hati. Persoalan realitas hidup, kesepian, perasaan, atau apapun, saya suka.

Ah, seorang teman baru saja menanyakan soal perasaan, bilamana saya menyukai seseorang, atau bilamana rasa itu hilang. Sayangnya saya tidak mampu menjelaskan persoalan yang saya sebut belakangan karena hal itu belum terjadi. Satu-satunya, dan saya kira memang hanya itu caranya, adalah soal pengendalian diri. Kadang ada rasa yang tidak dapat dipahami alasannya meski saya secara menyeluruh mampu memahami prosesnya. Rasa suka sama anehnya dengan rasa tidak suka, atau perasaan cinta sama anehnya dengan perasaan benci atau canggung dengan seseorang. Bisa saja itu datang tiba-tiba dan sulit menghilangkannya. Kadang bahwa saya berdoa (karena terkadang saya masih percaya) bahwa perasaan itu akan hilang. Tapi toh tidak juga.

Hemm, saya lupa menceritakan keseharian saya kan, hehe. Jum’at lalu saya mendatangi resital piano di Tembi, sebuah agenda yang saya gemari. Kadang bagian anehnya adalah tingkat ngantuk saya yang meningkat ketika menonton itu, namun saya tetap suka untuk menontonnya. Rechmaninoff selalu memenangkan hati saya seolah ada emosi mendalam yang ia terjemahkan dalam musiknya (saya selalu merinding mendengar karyanya). Sayang saya melewatkan Debussy. Nama-nama ini membuat saya harus mencari dengan seksama siapakah mereka, sejarahnya, karyanya, dan seterusnya.

Saya teringat anime-anime yang saya dalami juga sepanjang hari Minggu kemarin, baik dari penata musiknya, sutradaranya, grafisnya, atau bahkan hal-hal di balik itu. Ada sebuah short anime yang menggelitik saya, judulnya A Voice from Distant Stars. Ia bercerita tentang dua orang yang berbagi perasaan yang sama, namun mereka berjarak begitu jauhnya hingga untuk berkirim email akan membutuhkan waktu 8 tahun 4 bulan. Dalam sebuah surat, si perempuan mengakhiri pesannya dengan kalimat “dari Makoto 15 tahun yang mencintai Noboru 24 tahun”. Seolah ada banyak hal-hal ganjil yang tidak terjelaskan di dunia ini.

Hampir setiap orang merasa kesepian, meski begitu riuh suasana sekitarnya. Hal-hal yang begitu paradoks hadir setiap harinya. Seperti kematian itu sendiri, kesepian juga meminta dipastikan, agar kita berdamai dengan hal-hal itu. Saya kira, pekerjaan kita yang tak akan selesai adalah berdamai itu.

Panjang dan tidak jelas arahnya ya tulisan ini, biar saja. Toh hidup juga begitu. Sebagaimana sore ini saya membicarakan persoalan-persoalan dari bakal bubarnya Mojok bulan depan, Melanie Trump, Jokowi, kapitalisme, seni, perlawanan, hubungan interpersonal, seks, dan rasa. Begitu kompleks isi pikiran kita hingga untuk menciptakan peta pemikiran yang begitu komprehensif pun tampaknya akan menguras sebagian waktu hidup kita. Tapi berpikir tidak pernah sia-sia, sebagaimana mencintai pun demikian.

Terakhir, saya ucapkan selamat kepada manusia-manusia yang mampu merasa kesepian, yang menyadari kematian, yang merindukan, yang mencintai, dan yang mencari. Selamat malam.

wordsflow

kenapa akhirnya semua manusia berseteru?


Kemarin pagi, ada sebuah kebijakan baru yang diterapkan oleh kampus saya mengenai akses. Jalan utama menuju Lembah tiba-tiba dipasang portal dan tanpa pemberitahuan pagi kemarin diberlakukan wajib karcis untuk masuk ke areal kampus. Tentu saja hal itu menjadi perbincangan hangat. Bukan hanya karena implementasinya yang tiba-tiba, namun juga karena hal itu membuat antrian panjang dan kemacetan di simpang Jl. Agro.

Secara pribadi, saya yakin hal tersebut bertujuan baik, sebagaimana semua kebijakan kampus tampaknya adalah untuk meningkatkan citra kampus di manapun; di hadapan mahasiswa, calon mahasiswa, sesama akademisi, pemerintah pusat, khalayak internasional. Yah apapun lah, yang saya lihat, setiap kebijakan bertujuan untuk mencapai pujian. Tak lama setelah merasakan si portal untuk pertama kalinya, saya membaca sebuah postingan di laman Facebook, yang mempertanyakan kebijakan kampus yang katanya penuh dengan mahasiswa pemenang kompetisi internasional dengan dosen-dosen yang handal pada akhirnya tidak mampu menangani urusan parkir kampus.

Tertamparlah diri ini.

Bukan hanya soal itu. Kita melihat banyak sekali contoh lewat begitu banyak cerita nyata atau fiksi, tentang orang-orang tua yang sukses mengerjakan berbagai hal, menyelesaikan berbagai persoalan, namun gagal mendidik anak-anaknya, membiarkan anak mereka ‘terjerumus’ dalam seks bebas atau penggunaan narkoba, dst. Tidak heran bagi saya, institusi sebesar kampus, yang dipenuhi oleh orang-orang yang kritis dan tentu saja intelek, akan sulit untuk menata dirinya. Ada berapa kubu yang berbeda ideologi di sana, ada berapa kubu yang berbeda paradigma, dan seterusnya.

Saya kira, perihal keberagaman paradigma dan opini telah begitu banyak dipelajari melalui metode-metode analisis perilaku manusia, dan itu ada di berbagai bidang ilmu! Tapi toh kita tidak pernah lepas dari satu fakta: kita masih bertikai setiap harinya.

Maka, menjadi begitu menggelitik pikiran saya sendiri akhirnya, terutama tentang konsep ‘harmoni’. Apakah harmoni itu? Bilamana harmoni tercipta? Apakah harmoni memang mampu dicapai oleh manusia? Apakah harmoni merupakan sebuah cita-cita? Ataukah ia dipaksakan menjadi realita?

Sekiranya memang, saya sendiri pun meyakini meski mungkin karena adanya berbagai faktor yang menyebabkan perubahan tubuh manusia, setiap manusia tercipta berbeda. Hal ini bukan hanya urusan fisik, namun juga cara berjalan, suara, perilaku, dan pemikirannya. Tentu saja perbedaan itu pula yang akhirnya membuat setiap manusia itu unik begitu saja, dan kesejarahan mereka juga unik satu sama lain. Buat saya pribadi, sungguh aneh ketika setiap orang yang begitu berbeda itu, mampu menciptakan sebuah komunitas yang kini kita sebut sebagai ‘masyarakat’. Anehnya, setiap kita juga sama sepakat bahwa ada yang disebut sebagai kesepakatan bersama, yang mungkin kita kenal sebagai etika, moral, tata krama, aturan-aturan, dan seabreg istilahnya itu.

Kemudian saya bertanya-tanya, siapa yang akhirnya mampu menciptakan kesepakatan-kesepakatan itu? Jika pada akhirnya kita percaya pada cerita-cerita masa lalu, kematian pertama diciptakan oleh Qabil terhadap Habil saudaranya. Hal itu saya anggap sebagai upaya penguasaan terhadap orang lain, sebuah dorongan untuk menguasai dan mengatur tentu saja. Yang dilakukannya? Power. Ia menggunakan ketangkasan fisiknya untuk mampu menguasai orang lain. Hewan-hewan yang (katanya) mendahului manusia juga mencoba menerapkan penguasaan melalui kekuatan fisik. Kita kemudian mengenal istilah ‘yang berkuasa yang bisa mengatur’.

Maka, saya tidak bisa mempercayai bahwa ada masyarakat yang tidak memiliki struktur sosial yang hierarkis. Saya menduga (tanpa berusaha mencari tahu lebih dalam), setiap manusia yang akhirnya tunduk di bawah naungan masyarakat, adalah mereka yang tidak mampu mempercayai dirinya sendiri bahwa mereka mampu mencari penghidupan dan perlindungan seorang diri. Saya, anda, dan orang-orang ini, akhirnya membutuhkan sebuah naungan yang mampu menjamin penghidupan dan perlindungan itu.

Smith sempat menyebutkan, bahwa masyarakat menciptakan kodifikasi-kodifikasi tertentu yang kemudian kita sebut sebagai kesepakatan umum, misal dalam urusan fashion, hukum, atau apapun, yang kemudian menciptakan selera pasar yang sama. Tanpa adanya kodifikasi tersebut, maka setiap orang akan tetap unik pada simbol dan kode masing-masingnya sendiri. Bahasa juga merupakan salah satu keluaran kodifikasi tersebut. Maka, jangan merasa berbeda dengan orang lain jika kita nyaman berada di bawah masyarakat kita, karena itu artinya kita telah terkodifikasi oleh masyarakat itu.

(Maaf saya nyomot teori Smith untuk berbagai hal, karena saya anggap masih cukup relevan. Kerjaan ilmuwan kan begitu, mengembangan teori, coba ini itu, siapa tau lebih bisa menjelaskan).

Ini bukan soal ingin menjadi berbeda atau ikuti arus saja. Saya masih yakin manusia yang juga muncul dari manusia lain, yang mana juga mensyaratkan secara mutlak adanya persetubuhan dua manusia, menjadikan manusia setidaknya pada suatu waktu harus berhubungan dengan manusia lain. Seorang perempuan yang padanya dibiarkan mampu mengandung selama 9 bulan dan menghidupi seorang bayi selama 2 tahun, menempatkan manusia sebagai entitas yang harus hidup bersama dengan manusia lain. Meski secara biologis mamalia juga mengalami hal yang sama, pada akhirnya ke-berakal-an manusia menjadikan manusia memiliki sifat-sifat yang tidak dimiliki mamalia lainnya. mampu menciptakan kode-kode yang tidak mampu diciptakan mamalia lainnya, atau jika mau mengutip Marx, manusia melakukan ‘kerja’, yang mana tidak dilakukan oleh mamalia lain. Lebih jauh, Heidegger mengatakan bahwa hanya manusia (yang dia sebut das sein) saja yang mampu mendekati Ada-nya, sedangkan makhluk lainnya hanya menjalani saja.

Demikian, berbagai jenis manusia melalui berbagai disiplin ilmu mencoba menguraikan 5W1H-nya tentang manusia, tentang diri mereka sendiri, tentang kelompok kecil manusia, tentang masyarakat, dan bahkan seluruh orang di Bumi. Bagaimanapun, semua itu mengangumkan dan membingungkan di saat yang bersamaan. Seolah saya tetap yakin bahwa itu utopis saja, untuk berupaya memahami manusia di luar diri kita sendiri. Antropologi keluar sebagai disiplin ilmu yang tidak lagi sekedar ngurusin etnografi, tetapi juga mewujudkan cita-cita ‘memahami liyan untuk merefleksikan eksistensi diri’. Artinya, manusia yang tidak mampu memahami orang lain, akan sulit melakukan refleksi dan akhirnya akan sulit pula memahami dirinya sendiri.

Mengapa?

Pada suatu waktu, ketika kesadaran eksistensi pertama kali menyerempet saya, saya bertanya-tanya mengapa hanya saya yang tidak mampu melihat diri saya sendiri? Mengapa harus orang lain (melalui sepasang mata mereka) yang akhirnya bisa menelaah diri saya secara keseluruhan dan malah bukan saya sendiri yang bisa melakukannya? Saat itu saya menyadari mengapa penting sekali memiliki sebuah cermin besar seukuran badan.

Apa garis merah dari tulisan saya yang berantakan dan tidak jelas juntrungannya ini? Ada saudara-saudara, hehe. Jawabannya adalah imajinasi.

Sudah sangat lama saya mencoba mengkaitkan berbagai banyak hal di pikiran saya. Saya tidak menyukai parsialisasi ilmu pengetahuan, yang akhirnya hanya mampu menyingkap sebagian fakta saja. Ibarat orang-orang yang sering mencontohkan bagaimana seekor gajah didefinisikan oleh beberapa orang buta, tapi toh akhirnya kita mampu menjelaskan bagaimana gajah itu secara keseluruhan. Demikian saya yakin seyakin-yakinnya, bahwa sebuah realitas, atau masalah, atau apapun, mampu dijelaskan secara menyeluruh dan komprehensif, melalui penalaran dan kajian berbagai disiplin ilmu. Toh pada mulanya ilmu tidak tercerai berai begitu.

Di situ, saya mencoba mencari-cari di mana seni dibutuhkan, dan kenapa harus ada? Melalui seni, manusia menyehatkan imajinasinya, sehingga mereka mampu membayangkan kemudian, bagaimana liyan itu, lantas dapat mengkontekstualisasikannya ke diri sendiri. Imajinasi yang kering akan merusak diri, dan karenanya butuh dipupuk melalui konsumsi berbagai seni yang mewujud dalam produk-produk kebudayaan, atau mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Saya mencoba menelusuri bagaimana seseorang bisa meyakini sebuah ideologi dengan begitu yakin, karena bahkan hari ini pun saya masih begitu takut untuk menjatuhkan pilihan saya pada sebuah ideologi tertentu. Sejarah-sejarah dunia telah mengabarkan kepada kita dengan cerita lukanya, Mesir yang maju, Roma yang menguasai Eropa dan sekitarnya, Islam dan masa-masa kejayaannya, Mongol, Yahudi, Nazi, Uni Soviet, dan seterusnya hingga hari ini, ideologi apapun yang dijunjung orang-orang ini, toh tetap ada yang mati. Tetap saja ada manusia yang dikorbankan. Lantas apa yang membuat kita begitu yakin ideologi yang kita yakini tidak lantas membuat orang lain menderita juga?

Saya sangat suka dengan cara berpikir Gie. Dari buku hariannya, saya mencoba membaca perdebatan internal yang ada pada dirinya. Dari surat-suratnya dengan kawan-kawannya, saya bisa membayangkan apa yang sedang dia pikirkan. Dan bagaimanapun, dia adalah orang yang memandang manusia sebagaimana ia melihat dirinya sendiri. Seorang tentara juga mungkin seorang ayah untuk anaknya, seorang miskin juga adalah bagian dari keluarga kecilnya, dan bahkan dirinya adalah seorang anak pada sebuah keluarga.

Ah, saya mulai ngelantur, dan meski masih ingin meneruskan cerita, saya sudah mengantuk. Jadi saya sudahi dulu.

wordsflow