WORDS FLOW

just go with the flow and whatever happens, happens

Category: on Opinion

Barang-barang


Lebaran lagi. Jadi saya kembali hidup di rumah selama beberapa hari. Benar, hanya beberapa hari saja.

Entah mengapa hal itu terjadi, barangkali bibit-bibit tetap merasa nyaman meski berada jauh dari keluarga ada sejak saya duduk di bangku SMP karena satu dan lain hal. Ternyata hal itu lestari hingga umur saya yang sudah 26 tahun ini.

Di lebaran ini tidak ada sesuatu yang cukup istimewa karena tidak seperti tahun lalu dimana ia terjadi dibarengi dengan kekhawatiran tertentu karena saya akan menginjakkan kaki hampir 5000 km jauhnya ke arah timur Indonesia. Tidak lagi. Saya rasa kecemasan saya ada di tempat lain kali ini. Sedikit hal menariknya karena tahun ini ada hal-hal yang cukup menyenangkan selama puasa dan dua ponakan saya sudah bisa diajak main dan bercanda.

Apa perbaikan yang saya lakukan di tahun ini?

Susah untuk menentukan yang mana yang harus saya katakan sebagai perbaikan. Beberapa hal nyatanya masih nyaman dengan kekacauannya meski ada dorongan untuk menyederhanakan keribetan yang diciptakan oleh diri sendiri. Ya, intensi tulisan ini bukan untuk mengabarkan bahwa hidup saya sedang kacau. Bukan. Saya lebih suka mengatakan bahwa kekacauan lebih sering membuat saya nyaman dengan satu dan lain hal yang ada bersamaan dengannya.

Karena tidak ada hal khusus dengan lebaran tahun ini, mari saya ceritakan hal yang biasa-biasa saja.

Ada beberapa hal absurd yang selalu saya rasakan begitu lebaran menjelang. Pertama, arus mudik, yang kedua, takbir keliling, dan yang ketiga adalah euphoria berbelanja. Sulit sekali untuk membiarkan diri saya menerima begitu saja tiga aktivitas itu sebagai sesuatu yang makfum terjadi di masyarakat. Ke-berbondong-an itu terasa begitu absurd karena seolah tidak ada pertanyaan akan kegiatan itu. Bayangkan, hampir semua umat muslim di negara ini melakukan aktivitas yang persis sama pada waktu yang bersamaan. Entah mengapa itu agak menakutkan untuk saya.

Well, pemikiran saya yang demikian toh tidak lantas membuat saya mengurungkan niat mengunjungi keluarga saya di Salatiga atau menahan saya untuk ke swalayan menemani ibu saya berbelanja. Pikiran itu hanya mengambang-ngambang sepanjang aktivitas itu saya lakukan sendiri. Oh lebaran.

Kedua, pulang selalu mengembalikan hal-hal lampau yang ada pada saya. Barangkali saya pernah sedikit menyinggung tentang perlakuan keluarga terhadap barang.

Saya hidup di bawah bimbingan ayah saya yang sangat jarang membuang barang. Membuang barang adalah kegiatan yang paling jarang dilakukan di keluarga saya. Entah kenapa saya pun tidak terlalu mempertanyakannya. Yang saya tahu, ayah saya selalu menyimpan barang-barang yang tidak lagi dapat dipakai atau telah habis masa pakainya. Saya pun menirukannya hingga sekarang.

Karena keengganan ayah saya untuk membuang barang-barang, barangkali jika bersedia membongkar setiap sudut rumah, saya akan menemukan sepatu jaman TK atau pulpen bekas saya jaman SD. Sampai sebegitunya ayah saya enggan membuang barang.

Implikasinya, barang di rumah saya menumpuk hingga kadar yang tidak dapat ditangani lagi. Artinya, sebesar apapun keinginan saya untuk membereskan satu dan lain barang, yang terjadi hanya mengeluarkan barang-barang itu untuk kemudian dikembalikan lagi ke tempat semula.

Belum lagi dengan banyaknya hadiah atau bingkisan yang diberikan kepada orang tau saya entah oleh jasa apa yang pernah mereka lakukan. Seperti di waktu puasa begini, biasanya bapak saya kebanjiran sarung yang niscaya tidak akan terpakai karena sarungnya udah bejibun banyaknya.

Kebiasaan ini ternyata juga saya bawa ke kehidupan pribadi saya. Yang paling terpengaruh adalah kosan saya. Ada begitu banyak barang-barang yang sebetulnya sudah patut untuk diganti tapi tetap saya gunakan sedemikian rupa hingga sampai harus susah payah menjahitnya agar tetap bisa digunakan. Kadang hal-hal yang sangat tidak penting seperti tiket acara tertentu tetap saya koleksi meskipun tintanya sudah luntur. Hell yeah. Jiwanya memang agak kolektor, atau mungkin melankolis, tapi agak nggak tau diri.

Alhasil, berapa kalipun saya berusaha untuk menyederhanakan kosan, saya akan berakhir memindahkan barang dan merapikannya saja. Hanya ada sangat sedikit hal yang cukup tega untuk saya buang. Yang paling pelit belakangan saya sadari adalah ketidaktegaan saya membuang hasil potongan jilidan buku yang ukurannya hanya 0.7×15 cm karena masih bisa saya tulisi satu kalimat per kertasnya. Kadang saya harus juga menertawakan diri sendiri untuk hal-hal semacam itu.

Sebetulnya, saya bercita-cita memiliki rumah yang sederhana dan bersih. Tidak ada barang yang berlebihan di sini atau di sana. Tidak ada keribetan karena terus menambah barang. Dicukupkan saja.

Tapi dengan kebiasaan saya yang seperti ini sekarang, saya menduga bahwa saya tidak akan bisa hidup sederhana. Barangkali di alam sadar saya ada kesenangan hidup di antara kekacauan semacam itu (atau sudah dibawa ke alam sadar ya ini namanya?).

Ada gaya hidup menarik yang ingin coba saya terapkan suatu hari nanti, yaitu hidup nomaden. Nomadenitas seseorang akan membuat dia selalu mempertimbangkan apa yang penting dan apa yang tidak penting dari waktu ke waktu. Demikian, hal-hal tertentu akan selalu menempati posisi yang berbeda pada urutan prioritasnya. Itu menarik sekali.

Well, lagi-lagi berangan-angan selalu menarik memang. Tapi tetap saja ia hanya berakhir sebagai angan-angan sampai waktu mewujudnya tiba.

Nah, jadi apa yang sebenarnya ingin saya katakan?

Hehe. Satu, jika mencoba mengkritisi ala anak kuliah, saya pikir konsumerisme sudah begitu nyamannya kita praktikan. Jual-beli menjadi hal yang menghidupi siapapun. Bisa saja dikatakan bahwa itulah yang mendasari ekonomi sejak jaman batu. Betul. Tapi sadarkah apa yang telah berubah sejak itu?

Betul lagi, sumber daya.

Masyarakat jaman dahulu keseluruhannya adalah produsen yang mengolah bahan mentah menjadi bahan jadi. Demikian, transaksi ekonomi yang terjadi merupakan bentuk keseimbangan antara ekstraksi, produksi, transaksi, dan konsumsi. Tidak demikian dengan hari ini. Ketika transaksi telah diubah menjadi demikian absurd dengan angka-angka elektronik dan berbagai promo potongan harga online dan cashback online, barang yang dikirimkan ke pembeli tetaplah barang jadi dari pengolahan sumber daya yang diekstraksi dari alam.

Hal itu menjadi sangat kontradiktif karena sementara transaksi menjadi begitu tidak terbatas, kita memperdagangkan sesuatu yang sangat terbatas jumlahnya. Begitu dorongan untuk terus membeli itu dituruti oleh manusia, kita kehilangan kendali atas produksi, yang artinya juga kehilangan kendali atas ekstraksi sumber daya alam.

Ya memang, sejauh ini kita masih bisa makan dengan nyaman dan tidak kekurangan. Tapi kecemasan ini terus berlanjut dan sebelum saya betul-betul dapat melakukan sesuatu yang berarti, kecemasan itu tetap ada di sana.

Kedua, saya pikir saya harus berpikir baik-baik jika di kemudian hari akan membeli sesuatu lagi. Lalu sementara juga harus berpikir bagaimana cara menyederhanakan barang-barang itu sebatas pada hal-hal yang saya butuhkan saja. Seolah ingin merekrut seseorang untuk menjadi juri seleksi atas barang-barang itu, heu.

Begitulah. Lebaran selalu membawa renungan yang berbeda. Belum lagi dialog-dialog yang terjadi antara saya dan bapak. Tidak selalu menyenangkan memang, tapi merasa cukup beruntung saya dapat berproses di keluarga ini. Ketidaksempurnaannya membuat saya menjadi manusia.

Terakhir, saya ucapkan selamat lebaran kepada teman-teman. Barangkali meminta maaf kepada diri sendiri akan jauh lebih bijak. Melerai hal-hal yang tidak menyenangkan dan memuaskan, atau sekedar menenangkan diri sejenak sebelum bergelut dengan hidup, sekali lagi. Lalu meminta maaf kepada keluarga sebelum kepada orang lain di lingkaran terkecil hidupmu, meskipun tak ada hal yang keluargamu ketahui tentang kesulitan-kesulitan hidupmu. Lalu minta maaflah kepada semesta atas ketidakterimaanmu pada hal-hal yang ia gariskan.

Jalan masih panjang. Ya, semoga masih panjang. Di sepanjang jalan itu, semoga juga selalu ada renungan yang berharga di hari-hari teman-teman. Selamat malam.

wordsflow

Advertisements

Back to Basic


Sudah beberapa kali saya mencoba menulis di draft blog ini, tapi akhirnya mengurungkan beberapa tulisan sebelumnya karena satu dan lain hal. Benar, ada hal-hal yang sebaiknya, dan memang lebih baik demikian, cukup disimpan sendiri atau diletakkan pada posisi yang tepat agar yasudah, biarkan saja dia ada di sana dalam keabadiannya.

Salah satu hal yang harus saya syukuri di dunia ini, adalah perkenalan saya dengan Anis, seorang teman sejak SMP yang bertahan hingga hari ini pada level pertemanan terdalam dan terbebas yang bisa saya miliki dengan insan di dunia ini. Saya cukup takjub dengan segala hal yang ada di antara kami dan pernah kami lalui, entah bersama atau dalam keterpisahan.

Jika boleh saya ceritakan, saya dan Anis bukan teman yang berbagi waktu bersama secara intensif. Belum pernah ada kegiatan jalan-jalan bersama yang secara khusus kami lakukan untuk mengakrabkan diri satu sama lain. Kami tidak pernah ke luar kota bersama, mengikuti sayembara atau suatu kegiatan spesifik bersama, atau barangkali merencanakan untuk tinggal di kosan yang sama. Hanya di awal perkuliahan kami berbagi kamar yang sama dan kesulitan yang sama dalam mengejar deadline tugas. Hanya sekali kami jalan-jalan bersama saat kuliah kerja di Bangkok, itu pun hanya terjadi di satu malam terakhir.

Tapi dia adalah satu dari begitu sedikit manusia yang tidak pernah menganggap hal-hal idealis dan per-kalau-an yang saya ungkapkan sebagai sekedar isapan jempol belaka. Yang bisa mendengarkan segala jenis bentuk curhat bahkan yang tidak masuk akal dan terlalu utopis untuk diyakini. Pada level tertentu, barangkali setiap pertemuan dan perbincangan kami di pojok angkringan pada malam-malam tertentu adalah hal-hal yang saya nantikan dan setidaknya meyakinkan saya bahwa saya tidak sendirian.

Ternyata, hidup memang menarik untuk dijalani.

Malam ini kami bertemu kembali sejak kepulangannya dari residensi di negara tetangga. Keresahan kami adalah hal yang selalu bisa dipertukarkan dengan kejernihan, pun keliaran ide soal bagaimana mengatasinya. Dan itulah yang menarik dari berbicang dengan Anis.

Ngomong-ngomong soal isi perbincangan kami, saya sebetulnya antara ingin berbagi dan tidak ingin berbagi soal itu. Tapi dunia ini meresahkan saya begitu dalam. Saya pikir, sulit menemukan apa yang sebetulnya penting untuk dilakukan di hari ini. Ada banyak pertimbangan soal mana yang menarik dan tidak menarik untuk dilakukan, dan tentu ada pertimbangan soal mana yang ingin dicapai dan yang ingin dihindari. Begitu banyak keingintahuan, begitu banyak hal, dan akan ada waktu menjelajahi segalanya, pelan-pelan.

Barangkali saya tampak selalu nyaman dengan posisi saya saat ini. Tapi pada dasarnya, ada ketidaknyamanan yang selalu sengaja saya ciptakan justru untuk menyamankan diri dan membuat segalanya tetap masuk akal. Seabsurd itu, tapi tidak absurd. Hehe. Tidak mengapa, tidak perlu paham. Tidak penting buat saya untuk membahas ini lewat filsafat atau kenyataan empirik. Sebenarnya keduanya bukan hal yang sama menenangkannya untuk saya.

Kabar baiknya jika saya boleh bercerita, setidaknya saya cukup yakin dengan hidup yang saya jalani, pada akhirnya. Ada tujuan yang meski tidak berada pada standar umum, tapi berada pada keyakinan saya.

Ketika mencoba menelusuri trajektori mengenai diri sendiri, selalu ada berbagai kekacauan pemikiran mengenai kemungkinan lain soal itu. Tapi pada akhirnya toh kita menjadi diri yang ini pada masa ini. Di titik ini, saya duga akhirnya saya menyadari bahwa tidak ada yang sungguh penting untuk disesali. Toh kalaupun ada perasaan mendalam semacam itu, sebenarnya dia hanya bumbu-bumbu yang dibutuhkan untuk tetap hidup. Kenyataan pada akhirnya begitu saja adanya.

Finally at the end, the most precious thing is that I’ve found the very reason to stay alive. And it is love by the way.

wordsflow

Menabung


Jadi saya mau menanyakan kembali makna ini untuk saya sendiri, dan barangkali sesiapapun yang juga merasakan kerasahan yang sama dengan saya.

Pertama, saya pernah menulis akan rasa tidak suka saya dengan konsep uang. Well, pada kenyataannya saya tetep senang kalau hasil kerja keras saya dibayar dan dihargai. Walaupun demikian, saya masih berusaha sepenuh hati tidak memuja uang sebagai bagian terpenting dari hidup. Toh ada banyak kemudahan hanya karena saya kenal dengan beberapa orang dan menjadi hubungan yang cukup akrab dengan mereka.

Kedua, ada kebimbangan tersendiri ketika saya memiliki uang yang cukup untuk menjamin hidup saya selama beberapa waktu, dan bahkan merencanakan untuk membeli ini itu, atau menyiapkan rencana jalan-jalan, atau justru mempersiapkan tahapan hidup selanjutnya? Tiba-tiba saya berpikir untuk menabung.

Tapi semakin dipikirkan, saya semakin merasakan adanya kebingungan yang tidak dapat saya putuskan sendiri yang manakah yang ingin saya lakukan. Mana yang sebetulnya lebih baik untuk dilakukan? Membelanjakan pendapatan untuk barang-barang yang akan membantu hidup dalam jangka waktu pendek selama beberapa tahun ke depan, atau justru mencoba merencanakan hal yang lebih jauh lagi dengan meyimpannya untuk masa depan?

Well, keresahan saya soal ini belum berakhir. Bahkan saya belum lagi memutuskan langkah mana yang harus saya ambil dan justru mengajukan satu hal penting; sebetulnya, apa sesungguhnya makna dan maksud dari menabung?

Kadang-kadang, berpikir terlalu dalam itu merepotkan.

Di suatu waktu, saya akhirnya mencoba untuk mengkomparasi jawaban atas pertanyaan itu dari berbagai contoh yang saya lihat. Baik dari artikel, rekan-rekan dekat, atau bahkan mbak-mbak nggak jelas di media sosial. Hasilnya, semua orang mempertimbangkan tujuan dan alasan menabungnya masing-masing.

Yang paling marak dan belakangan juga terjadi dengan teman dekat saya, adalah menabung untuk menikah. Kedua teman saya ini mendapatkan beasiswa untuk studi master mereka dan keduanya berencana menikah bulan depan. Well, baru saya ketahui kalau ternyata biaya pernikahan mereka adalah hasil dari menghemat pengeluaran beasiswa mereka selama ini. Tapi toh akhirnya semua tabungan ini habis untuk biaya pernikahan. Saya tidak tahu menahu soal rencana mereka setelah menikah karena toh mereka juga belum bekerja pada akhirnya.

Mengingat hal semacam ini, kadang saya berpikir, haruskah saya menghabiskan biaya yang saya tabung tahunan ‘hanya’ untuk perayaan sesaat (walaupun itu adalah pernikahan)? Saya pikir, kalaupun saya akhirnya menikah, ada cara yang jauh lebih bijak untuk melakukan prosesi dan pesta pernikahan. Saya harap begitu.

Contoh yang lain, mulai banyak orang menabung khusus untuk jalan-jalan tertentu ke suatu tempat yang mereka inginkan. Saya, demikian juga mungkin kalian, sebetulnya memiliki ketertarikan yang sama pada beberapa tempat di Indonesia atau dimanapun di dunia. Tapi menabung untuk jalan-jalan belakangan bukan sesuatu yang ikhlas untuk saya lakukan, hahaha. Tetap ada secuil idealisme di dalam diri saya bahwa saya akan ke tempat-tempat idaman saya bukan hanya karena jalan-jalan. Biarlah menunggu hingga tua, meski itu juga mempertaruhkan kondisi yang ingin saya lihat untuk berubah di kemudian hari. Tapi lagi-lagi, hal semacam itu bukan sebuah pertaruhan siapa yang lebih awal atau sudah sejauh mana kita pergi. Ada hal besar yang bisa diceritakan di balik itu agaknya lebih menggiurkan untuk dijalani.

Well, saya pelit banget yak, hahaha. Tapi mungkin tidak juga, toh saya banyak menghabiskan uang untuk melakukan hal-hal yang terlampau tidak penting dan tidak membantu hidup saya secara praktis. Misalnya membeli stok benang untuk merajut dimana hasil rajutannya hanya berakhir di gantungan tas atau dihadiahkan untuk orang lain dan tidak menghasilkan uang baru. Kadang-kadang dihabiskan untuk mencoba ide-ide kerajinan tangan yang sebetulnya juga tidak sungguh diniatkan. Atau membeli buku dan menumpuk dosa lebih banyak karena demikian semakin banyak buku yang belum terbaca di rak buku. Ya, saya pun masih jauh dari bijak, tapi masalah menabung ini menganggu saya, haha.

Di saat yang lain, saya berpikir untuk yasudahlah menabung saja toh nanti akan ada gunanya. Tapi tidak memiliki proyeksi itu belakangan agak meresahkan saya, haha (model hidup saya sudah sedikit berubah). Jika berusaha untuk memproyeksikan sesuatu yang cukup idealis, misalnya membuat komune atau membuat rumah produksi sendiri, itu masih di level utopia buat saya. Padahal saya pikir saya memiliki teman-teman yang sejalan, sudah membahas ini sampai berbusa-busa. Hanya saja saya tidak memiliki rasa percaya yang cukup bahwa saya bisa hidup bersama (literally hidup bersama) dalam sebuah komune dan hidup bersama. Heu. Banyak rencana tapi tidak pernah sungguh mau berkomitmen.

Pada akhirnya, membelanjakan pendapatan untuk sesuatu atau sekedar membiarkannya menumpuk di tabungan juga tidak membawa ketenangan karena banyak keresahan ekstrim yang saya ciptakan sendiri. Misalnya kalau nanti bisnis perbankan bangkrut karena ada sistem yang eror. Kalau si angka di buku tabungan tiba-tiba berkurang nol satu atau tiba-tiba jadi nol. Kalau ternyata setelah punya tabungan yang cukup untuk hidup ternyata tidak ada lagi tanah yang bisa dibeli untuk dibuat rumah sendiri.

Ketidakpastian masa depan itu menakutkan. Tapi juga menarik untuk diterka sewaktu-waktu tidak punya kegiatan yang cukup menguras waktu.

Tapi lagi-lagi, bahkan menabung untuk merencanakan pendidikan ke depan juga tidak sama melegakannya buat saya. Heu.

Seseorang pernah berkata, ‘semakin kuat prinsip seseorang, dia akan semakin merasa kesepian’. Korelasinya sama artikel ini? Entahlah. Haha. Saya pikir itu cukup berkaitan. Kadang saya pun berpikir, jika memang tidak ada kepastian soal masa depan, kenapa resah dengan itu? Jalani hari-hari ini dengan kesenangan dan kebanggaan menjadi seorang ‘aku’. Esok akan ada waktunya sendiri untuk direnungkan.

Dan meskipun masih ada bab lain yang sebetulnya tersisa dari tulisan ini, tapi saya mau mencukupkannya sampai di sini. Tulisan yang tidak berakhir ini akan tetap tidak berakhir karena esok masih ada. Terima kasih sudah membaca.

wordsflow

On creating lines and the thoughts behind.


Salah satu perubahan yang saya alami belakangan ini adalah berpikir lebih jauh soal kalimat, baik pertanyaan, jawaban, maupun pernyataan yang saya ciptakan untuk orang lain, atau bahkan untuk diri sendiri. Kadang kala kalimat menjadi begitu menyebalkan karena salah memilih kata atau karena kita mengubah perspektif dalam menyusunnya. Saya baru sadar belakangan ini bahwa menggunakan kata yang berbeda bisa mengubah pemahaman orang yang membacanya.

Berangkat dari alasan tersebut, saya beberapa kali mencoba membaca ulang seluruh teks yang pernah saya buat dari tahun ke tahun dan membacanya lebih dari satu kali untuk memahami setiap perubahan makna yang saya tangkap. Dan agak mengejutkan karena pada beberapa tulisan saya bahkan menjadi emosional dan kesal dengan diri saya yang menulis itu. Kadang muncul kekaguman bahwa saya pernah mengalami sepenggal masa bijaksana dan menelurkan tulisan berharga sebelum akhirnya saya melewatinya begitu saja. Berharga sekali ternyata hal-hal semacam itu, bahkan meski secara pribadi saya masih sering menganggapnya sebagai hal yang membuang waktu.

Kerumitan ini sebetulnya muncul karena saya sadar bahwa saya jauh lebih terbiasa menulis opini dengan cara berpikir yang saya banget dibandingkan menulis akademis yang lebih rumit karena saya selalu harus melakukan komparasi dan sintesis dari berbagai keruwetan pikiran orang-orang. Kalau mau dibilang, teori juga mulanya dari opini yang bisa saja, tapi saya merasa luar biasa kesulitan menulis akademis. Heu.

Back then, kadang saya tidak terlalu perhatian dengan penggunaan tanda baca, kadang-kadang sembarangan menulis dengan mendialogkan kalimat yang ditulis dengan yang ada dalam pikiran, begitu saja. Banyak sekali tulisan yang hanya bisa dipahami oleh saya sendiri dan hanya menjadi tulisan yang tidak terjelaskan jika orang lain yang membacanya.

Memang tulisan sangatlah kontekstual dan karena tafsir teks pun dikaji oleh banyak ahli dan menjadi bidang ilmu tersendiri. Tapi di dunia yang serba terkini dengan mode interaksi berupa live chat dan kawan-kawannya, saya pikir penting juga untuk bereksperimen dan memahami lebih jauh apa yang terjadi dengan dunia tekstual yang berhubungan langsung dengan saya. Sering sekali saya jatuh kesal setelah berhubungan secara tekstual dengan seseorang, entah customer, teman, kenalan, orang penting, atau sesiapapun lah. Saya membiasakan diri scroll up dan mencari tahu di titik mana semua ini mencapai kesalahpahaman, hahaha. Saya sering menemukan bahwa ternyata saya sendiri yang salah paham karena terbiasa berpikir agak rumit dan keluar jalur.

Ketika menemukan foto kecil saya karena diingatkan Facebook tempo hari, saya sadar betul ada hal-hal yang akan sangat sulit diubah dari lahirnya seorang manusia di dunia ini.

Pertama, kita tidak mungkin meminta untuk berpindah keluarga meskipun ada hal-hal yang tidak kita sukai dari keluarga itu atau tentang diri kita yang lahir dari keluarga itu. Satu hal kecil diubah, maka ada begitu banyak hal lain yang juga akan turut berubah. And why asking more if you’ve already got what you want.

Kedua, ada dua hal di dalam diri kita; hal yang tidak dapat diubah dan hal yang dapat diubah. Latar belakang, masa lalu, dan fisik adalah hal yang begitu saja ada. Tapi tentu ada hal yang bisa diubah seiring dengan pemahaman lebih jauh soal diri sendiri. Tentang hal yang menarik perhatian diri, tentang cara berpikir, berbicara, dan bertindak. Tentang banyak hal yang tidak sekadar terbatas pada masa lalu semata. Ada sangat banyak hal.

Ketiga, tidak segala hal di dunia berjalan dengan rapi, ada hal-hal yang sangat mengejutkan, dan sewaktu-waktu kita harus siap dengan itu. Karenanya mungkin baik juga untuk tidak selalu bahagia, karena semakin banyak merasakan, semakin dalam pula kadar kebahagiaan yang saya rasakan. Kadang sederhana, kadang everlasting.

Keempat, setelah lahir, kita menanggung diri sendiri dan masa depan. Tidak jarang saya masih juga sering memikirkan hal-hal lampau yang pernah saya alami dan beberapa di antaranya membawa perasaan yang lampau juga. Tapi manusia akan selalu hidup sendiri setelah dirinya sadar bahwa kita adalah individu merdeka. Hal yang justru menghalangi kemerdekaan seseorang adalah kemerdekaan orang lain dan kemerdekaan itu sendiri. Karenanya kadang kita berbenturan, entah pelan atau begitu keras dengan orang justru justru karena kita sama-sama merdeka. Telek kan. Banget.

Kelima, karena kita sudah terlahir di dunia, ada tanggung jawab aneh yang saya pikir diemban oleh setiap manusia. Barangkali jauh di dalam diri saya, saya percaya bahwa manusia adalah wahana bagi gen untuk melestarikan dirinya. Oleh karenanya, meski saya memiliki pertimbangan yang cukup untuk menunda pernikahan atau bahkan meniadakan keinginan itu sama sekali, ada dorongan besar di dalam diri saya untuk tetap memiliki anak. Entah mengapa saya begitu ingin menghancurkan diri sendiri untuk menjaga dan merawat seorang manusia baru agar ia bisa merdeka di dunia ini. Ada keinginan aneh yang membuat saya merasa sayang jika harus mati tanpa pernah berhasil mewariskan wahana yang menyenangkan ini untuk sebuah jiwa baru. Akan menyenangkan sekali jika ia adalah laki-laki, namun saya kira akan jauh lebih menarik jika ia adalah perempuan. Karena saya akan kemudian melihat bagaimana seorang saya yang lain tumbuh dan berkembang.

Keenam, tentu saja yang hidup harus kemudian mati agar segala hal tetep berjalan dengan benar. Dalam masa kapan pun, di tempat yang bagaimana pun, ada semacam kesiapan diri yang sedang saya bangun untuk saya yang akan mati nanti. Tentu saja ini bukan hal yang saya inginkan untuk segera terjadi. Setidaknya saya sekarang masih merasa nyaman melakukan berbagai kesibukan dengan berbagai kesulitan dan perdebatannya. Akan ada waktu spesifik lain saya memikirkan soal kematian.

Ya, dan begitu banyak hal yang terjadi di dunia ini, saya sering merasa senang dengan perubahan diri saya dari waktu ke waktu. Semoga saya sudah termasuk orang yang menghargai waktu, hehehe. Kengangguran ini, anggapan kesia-siaan ini, semoga memberikan kedalaman makna pada sesiapapun yang berhasil sampai dan akhirnya membaca setiap kalimat yang saya tulis.

Saya bukan satu-satunya orang yang pernah mengatakan ini, tapi kadang kalimat indah hanya menjadi bermakna begitu kamu memahami apa yang dimaksudkan olehnya. Dan memang, barangkali segala berjalan demikian menyebalkan, atau demikian menyenangkan hanya untuk memastikan bahwa segala hal akan tetap berjalan dengan atau tanpa persetujuan kita, because everything need to move on. Jika salah satu berhenti karena ingin berputar ke belakang, niscaya seluruh ketertiban pergerakan hidup agar mengalami kekacauan selama sesaat sebelum akhirnya kembali menemukan ritme baru. Begitu seterusnya sampai kita bahkan nggak bisa membayangkan dunia.

Dan saya barangkali semakin kehilangan kedalaman, bahkan bisa saya katakan saya tidak terlalu paham apa yang sedang saya lakukan. Tapi, ada beberapa keyakinan baru yang tumbuh. Semoga saya hidup dengan benar.

wordsflow

The Gift Bussiness


Selalu ada pertanyaan ketika pertama kali tahu bahwa saya meluangkan waktu untuk menjadi seorang bookbinder. Kadang pekerjaan itu tampak aneh untuk banyak orang. Dan barangkali mungkin bahkan untuk orang-orang yang mengenal saya cukup lama pun, itu masih bukan hal yang dianggap menjanjikan. Hahaha. Bukan hanya kalian saja yang berpikir begitu, kadang saya sendiri pun meragukan.

Well, saya memang menggantungkan hidup dengan melakukan pekerjaan kecil itu dengan bahagia.

Sejak masih muda, saya punya cita-cita aneh untuk menjadi seorang pengusaha. Alasannya sebetulnya sederhana saja, karena anak seorang PNS akan setengah mati susahnya untuk mendapatkan beasiswa pendidikan dari pemerintah. Mau kamu sepintar apapun dalam hal akademik, latar belakang PNSmu niscaya akan membuatmu tidak memperoleh beasiswa apapun dari pemerintah.

Begitulah. Barangkali itu juga yang membuat saya mengalihkan minat mencari beasiswa ke urusan ikut kompetisi pada masa masih di bangku sekolah. Soalnya yang begitu tidak akan pernah ditanyai apa pekerjaan bapak-ibu saya.

Singkat saja soal latar belakangnya ya, hehe.

Selain itu, semenjak SMP, mungkin karena kebiasaan saya membaca komik dengan begitu banyak cerita yang berlatar café atau toko buku, dan berbagai kerumitan latar belakang yang terpadu bercampur menjadi satu, impian memiliki toko kecil sendiri dengan berbagai pernak-pernik.

Saya ingat ada kartun Magical Doremi yang tayang di suatu stasiun TV swasta pada masanya. Itu cerita penyihir-penyihir cilik yang membuka toko pernak pernik kecil di dalam sebuah bus bekas. Imaji itu sangat menarik perhatian saya bahkan hingga sekarang. Membayangkan akan memiliki sebuah kabin kecil dari material bekas (entah bus atau kontainer bekas), dengan halaman rumput luas yang penuh dengan meja-meja dan kursi, dibatasi dinding cukup tinggi berlapis tanaman rambat, dengan sebuah rumah tingkat dua ala rumah tradisional Jepang adalah salah satu mimpi masa kecil yang masih bertahan imajinya hingga detik ini.

Suasana itu terasa seolah sangat nyata setiap kali saya membayangkannya. Oleh karenanya, tempat-tempat dengan nuansa yang sama, apapun itu jenisnya akan selalu menarik perhatian saya, hehehe.

Karena impian itu mini saja, hanya serupa tempat bernaung dan ruang penuh buku, maka usaha ini tidak perlu sampai ke tahap perusahaan atau bahkan firma yang agak besar. Saya selalu ragu untuk memperlebar usaha karena itu artinya akan ada target yang lebih besar untuk memastikan bahwa semua orang yang bekerja di dalamnya akan cukup makan. Begitu berbeda dengan membayangkan bahwa saya akan selalu bahagia dengan hasil yang cukup saya untuk hidup saya sendiri.

Lagi-lagi, pilihan yang satu dan yang lain selalu memberikan konsekuensi. Tentunya dengan menahan diri, saya hanya akan menjadi orang yang begini-begini saya, sekarang dan nanti. Barangkali akan ada beberapa perkembangan kecil, tapi tentu saja akan kecil saja, hehe.

Well, sedikit beranjak dari mode curhatan ini, beberapa waktu belakangan ada perkembangan lingkaran pertemanan di lingkungan hidup saya. Entah bagaimana mulanya, ada begitu banyak orang baru yang datang, atau bahkan orang lama yang masuk kembali ke fase hidup saya kali ini.

Terlalu banyak orang yang menginspirasi saya untuk belajar hidup dengan lebih baik. Orang-orang yang dengan keyakinannya masing-masing mau meluangkan waktu untuk menghidupi hobi mereka dan mayakini bahwa hal-hal semacam itu berguna untuk sesiapapun yang pernah bersentuhan dengan kita. Barangkali kita lupa karena terlalu terbiasa sehingga merasa bahwa hal-hal yang semacam itu biasa saja.

Betul, kita hanya kurang main dan cenderung merasa nyaman dengan lingkungan yang telah kita tempati cukup lama. Akhirnya justru tidak berkembang kemana-mana.

But to be honest, I’m still here, hehehe.

Tapi saya mencoba membuka diri dan melihat orang-orang yang juga berkegiatan sama dengan saya sebagai insan yang menginspirasi, bukan malah menjadikan mereka sebagai rival atau sejenisnya. Ternyata cukup menyenangkan. Ada perasaan senang dan bahagia yang sangat tulis ketika misalnya saya menemukan bahwa seorang teman mengajak para narapidana di lembaga pemasyarakatan wanita untuk berkolaborasi membuat karya. Di saat yang lain saya menemukan teman yang lain berinovasi dengan material lama dan menggunakannya untuk sesuatu yang sama sekali baru.

Hal-hal yang berbau material ini begitu menarik perhatian saya belakangan ini dan tampaknya, sangat menarik untuk didalami nanti. Barangkali akan ada hal yang berbeda dari rencana-rencana saya sebelumnya. Hanya saja, mengikuti arus dan panggilan hati agaknya menjadi hal yang menarik, istilah yang sangat menarik pula bahwa hal itu ternyata masih ada di dalam diri saya.

wordsflow

Perspective


And I better think twice before start talking or writing something.

Recently I thought so much about the way I talk and write. Really not a big problem though, but it somehow disturbs me a lot.

It is true that it’s all about perspective, but how it really works never been discussing too much.

I mean, whenever I bump to this page, I don’t really feel the same about the lines I’ve been written before. Yet, we already know how text and context take a role in this part; so many people talk about it. But to experience the feeling of changing and trying sometimes not really come to someone. We are not wanting to reread something in the past, yet we don’t really consider the secrets of the text, we lost the context.

Sometimes it’s getting frustrating in this writing and talking problem; which type of that thing that would satisfied people, or even more, myself? That’s the main reason I continue practicing even it getting absurd, useless, or even frustrating.

Besides, I don’t want to give up on matters I do think that it’s matter. Really need a lot of patience and courage to keep move on the track, hehe. My alter ego said that it is a matter of perspective, how I see the matter from the other side; from the opposite condition of this fight. That’s also frustrating.

First, because the way we talk is an effect of our inner condition, whether the emotions or the repression, that’s why I have this first condition. Second, because I have to try to empathize the other condition, I should feel the opposite condition at the same moment. That’s so tiring. This not really this hard to be practice. Actually, ignorance is the easiest way to choose, but that’s not really satisfying. Hahaha.

That’s why, not every conversation going well, not every negotiation being understood the same, not every joke bring a laugh, and not every sadness bring tears. There are conditions that make it possible, and there are don’t. Also the same with the fight. Some madness would lead to forgiveness, some hardness would lead to empathy, but sometimes there’s nothing.

Perspective, Yu Sing said on his account.

I learn from everything; people’s posts on their social media accounts, fictions, text, stories from friends, and of course myself. I know people who already into something so deep that they are admiring matters really serious. In coffee for example. But then, some of them would be too fanatic about this. In this condition, coffee becomes a standard they are really strict into, sometimes hardly reject another kind of coffee. Sometimes they even mock others for drinking instant coffee.

Well, that’s really unfair.

Perspective once again plays role in this case. Whatever it is, people put effort on them, and so it must be something precious to others even though we don’t care about it at all. We might not like something or someone, but just let people be happy for whatever makes them happy. We might have another belief, yet just go on with your belief because others do have theirs too.

Sometimes I’m tired of talking or writing here. But I don’t think I really understand how the feeling of tired came to practice. Yet, I continue talking and writing whatever I want, maybe never really have deeper thought about them. I don’t know.

And yeah, this going to be a short post because I’m getting tired, heu. Okay, I’ll see you soon then.

wordsflow

And she cannot breathe because of the ground coverage.


Thinking about it while having a small trip to Jogja today. I was not really thinking about it before, considering that my concern was only the increasing amount of water going into the river, but not really the earth itself.

Well, looking at the ground all around, I realized that there is only a really small space of land uncover any hardening material such as asphalt, concrete, stone, or whatever hard materials. To imagine that earth is actually alive (it moves, changes, grows, and even breathes) the consciousness of she is trapping inside the darkness and couldn’t breathe disturb me. How cruel we are.

This might be too far to think that it is ‘she’ and she could breathe and could feel the way the human does. But imagine how the soil would bring life to the microorganisms inside its body if no light could pass the solid concrete and no oxygen could pass through those things? Yes, there are microorganisms that could live without oxygen and light, but it saddens me to realize that it happened.

Later I imagine if Earth’s skin has pores just like us, then one part of our skin had been covering with something the whole time, an acne will appear. That’s what might happen on Earth, cause we never know what she thought about our treatment of her.

But to be honest, I still love to visit nice buildings, see them, or even have one of them. As an architecture graduate student, a building is a representation both knowledge and practice to be aiming last forever through the changes of people and activities inside it, or even climate. It is really ambitious, to be honest, make a building permanently while every indigenous society always makes their buildings temporary rather making it last forever. They knew that people would change through time. They would not last forever and so, the concept of the permanent building seems quite ridiculous for them.

But do you really think that they are thinking that way? Maybe it’s only me who trying to seek a justification for my opinion.

I do not really have thoughts about what’s better to be done recently. Researching in an environmental problem makes me think so much about what is good for the environment and for society in its balance. Hence, they said that environment is aimed to be created for human livelihood. Besides, in Dan Brown’s latest novel (I don’t really sure to relate this to his book or not but it still necessary) he said that later human and robots would be a partner in living this Earth. Another opinion said that it’s okay that we face the environment depletion because we are driven by the law of nature; the strongest who will survive through evolution.

What is true is not certain because we haven’t been in the future itself. But the debates were important to realize what people really think about the future of our Earth. Will human be transferred to another planet or we would certainly be trapped here facing the increasing of the heat or sea level? Or it is still too far to be thinking?

I don’t know. I don’t really have thought about it.

Once before, I was really wanting to have children, but whatever I said about it back then, I have to admit that the purpose of having children still so egoist comparing to what I’ve been saying. But this confusion about the human role in this Earth really disturbs me.

When there are people some places on this Earth trying to protect what they have, there are people another place have no interest and really ignorant about what was going on. Not because they don’t know about it, but simply because of ignorance that they have. Somehow it turns to be frustrating sometimes and I would end up doing nothing but to relax my mind.

I know that everything is way too idealist to be true. But have a kind of idealism is really necessary to keep every dream alive and last to forever, being transferred to the next generation and so on.

I realized (I really do) that the practice that I’ve done really far from ideal. That’s also somehow quite frustrating and making me feeling unsatisfied with myself. The process always full of debates while my mind trying hard to bring the connection between one matter to another one until all those things linked together as one. But before it came to the big figure of what’s-going-on-right-now image, I lost myself. Everything became so absurd in sudden.

Again, even how many times I tried to reconnect them again, the absurdism came to me and erase the belief that I have.

This isn’t something important to you and might never be understood as I also hardly to reconstruct it here by now. But I want somehow, to encourage or being encouraged instead by people to be able to do something to environment and society, yet bring the positive impact to it.

How far this road that we walk on. So far the peak ahead. So hot the air we breathe. So patient the Earth we living on.

wordsflow

It’s okay.


Hi.

Yes, I have tons of anxiety, just like you. But first, let’s just smile for seconds. This might be the first advice for you today, but surely I hope that it’s not. Hehe.

And it’s okay. That you are a woman or a man, trying to take a look randomly on this page or purposely want to know what I was thinking about you or everything else. That you are a woman or a man who is my friend or not yet, or even no more. That you are a woman or a man who had already settled in life or not yet. That you are a woman that I admire so much or I’m not even close to. That you are a man that is my friend, or whether the man that I love. It’s okay that you are reading this by now, I thank you.

It’s okay that you came from whatever the family that you have. Because they are the one who made you happen in this world, the roots that we could never change for the whole life, yet no need to do so because it’s useless. Moreover, you are an independent human being just like me or your parents or your siblings, or every other human you’ve ever met.

Yes, it’s okay that you love someone. It’s okay to tell him/her that you love him/her. It’s okay to be rejected. It’s okay to be sad and cry. It’s okay to do everything but don’t blame yourself. Don’t tell yourself that you are worthless. Don’t let yourself stop doing whatever you like just because of the feelings.

To tell them that you love is the way you manage yourself to be seen by them. But rejection not always meant that you are worthless. To be rejected is the way to improve your appreciation of yourself, how to be honestly, truly, completely, and entirely love yourself. It’s simply because you haven’t found the one who admires you the same way. There will be someone else. But to remember him/her as someone precious yet is important. To be sad and cry is a way to realize how you appreciate yourself, your feelings, and also him/her is an independent human being, just like you. Not merely an expression of depression or sadness.

It’s okay that you are single, or you are married. It’s better to get married late instead of regretting the marriage. Because you don’t walk on the same road, you don’t own what others have. You don’t live on the same time-schedule. Then it’s okay to have your own timeline about life. You weren’t born on the same date and definitely won’t die at the same age! Yet everything would never be the same for everyone.

It’s okay to be late and said sorry instead of never came and said nothing. It’s okay to keep in touch with whatever, whoever you don’t like. They might be someone important later at the moment you never imagine. It’s okay not to choose to be close to some people especially, but keep socialize with everyone you meet.

It’s okay to listen to your friends’ stories and take your time for them even you are not really close to.

It’s okay to be hated by someone. You cannot please everyone, but then you’ll learn how to appreciate the differences. You might have more than one set of personalities but it’s okay as long as you don’t hurt any. It’s okay to lie to privatize your own moments in this public exposure era.

It’s okay that you have a bad day and shout some bad words to calm you down. You’ll learn to appreciate a day of enjoyment and happiness after. Because the struggles will help you to survive in the future.

It’s okay to take a selfie and feel happy that you have a good smilling face.

It’s okay that everything on earth not going as well as what you have planned.

It’s okay to be solitude. It’s okay that one day you decide not to do anything particular yet choose to get some remedies and watching movies all day. You’ll always need time to release the worries and the tired of working and thinking.

It’s okay that you have tons of ideas but they don’t have a chance to come into practice. They certainly will. Just keep the belief. It’s okay that you don’t get the achievement that you want or any achievement that your friends get. Again, not all people have the same role on this earth.

It’s okay that you’re questioning your beliefs and your future. That’s how you’ll improve day to day. It’s okay to question the life because it’s the gate to go to another question of life. Yet, it’s the way to get deeper of the life itself. It’s okay to think it’s better to die because you’ll seek for something precious in life, to encourage you in living your life to the fullest.

Or even more, anxieties that come and should be telling that it’s okay to happen that way.

And this kind of self-note is meant to be written for me. But since there are these conditions, I realized that there will be another way opposite that might happen in life too. Yet, it’s also okay to act opposite. What happened to you was the things that might never come to me and the other way around. We didn’t even ask some, yet we still have to accept those.

But then, we somehow always meet each other in between.

Then we had quarrels; mentally, verbally, or even physically. And how many times we fight, it’s also really fine. We’ll learn how to overcome with the conflicts, how to come to alternatives and resolutions, to compromise, to let go and forgive, to accept everything bravely and continue our lives, and even more, to love ourselves as the most precious thing in our lives.

And last, I hope you are enjoying your life and you had a good day and sunset.

Love, wordflow

Apa arti kehilangan jika tidak pernah memiliki?


Ya, apa arti kehilangan jika tidak pernah sungguh memiliki hal yang kita anggap kita miliki?

Belakangan saya tidak berminat sama sekali untuk melakukan hal yang serius di dalam keseharian, pun di dalam platform ini. Beberapa hal menjadi terlampau menyebalkan justru karena saya tahu banyak hal. Kadang pengetahuan ternyata membunuh perasaan ya, hahaha. Ya nggak segitunya sih, maksudnya, ada hal-hal yang kemudian berubah setiap kali saya bangun tidur, mereka bercampuraduk menjadi semakin absurd dari hari ke hari. But well, keabsurdan ini sebetulnya juga absurd dan tidak nyata, dan saya semakin melayang-layang menjalani hari. Heu. (Btw, kalimat semacam ini tuh saya ulangi berkali-kali banget di platform ini, membosankan yak.)

Lalu cerita apa lagi sekarang?

Sesuai judul, saya mau berbagi cerita soal kehilangan. Barangkali kita sangat akrab mengenai kata ini. Tidak jarang pula mengatakannya, bahkan mungkin tanpa pikiran lebih jauh mengenai hal ini.

Saya kehilangan cinta. (cieehh) Sesuatu yang sederhana saja sebetulnya. Tentu ketika saya mengatakan ini, tidak akan ada suatu perasaan khusus yang membuat kalian merasakan maksud ceritanya. Maksud saya, reaksinya paling hanya sekedar ‘oh yasudah, syukuri saja.’ Betul, memang begitulah brengseknya cerita ke orang lain. Oleh karenanya saya lebih suka menulis karena saya bisa mengimajinasikan bahwa akan ada orang lain di luar sana nun jauh di suatu tempat yang tidak saya tahu, setidaknya memaknainya dengan cara yang saya inginkan.

Banyak quotes cantik yang mencoba menggugah semangat mengenai rasa kehilangan ini, tapi kesemua itu saya pikir hanya berfungsi untuk menenangkan, lebih jauh dari itu, urusan kita dengan diri kita sendiri.

Tentu saja semua orang mengalami hal yang serupa, maka seharusnya setiap masing-masingnya akan mampu memahami bagaimana bentuk kehilangan ini dirasakan. Hanya saja kemudian saya merasakan bahwa dalam keadaan normal dan bahagia, empati kadang tidak akan sedalam itu. Ya atau sederhananya, ada kondisi yang membatasi kita dengan apa yang sesungguhnya dirasakan oleh pihak yang kehilangan.

Seorang teman pernah menulis, mana yang lebih nyata, menderita atau merasa menderita?

Tak perlu dijawab, dipikir saja. Toh melelahkan juga membeberkan bagaimana saya menanggapi pertanyaan itu.

Mari kembali ke pertanyaan awal saja.

Bagaimana saya mengatakan bahwa saya kehilangan cinta sementara saya tidak pernah sungguh-sungguh memiliki subjeknya? Hehe, itu dua perkara yang berbeda. Subjek yang dicintai dan subjek itu sendiri kadang berjarak. Ketika mengatakan bahwa saya mencintai seseorang, saya merujuk pada dua sosok yang berbeda dalam waktu yang sama, dia secara fisik, dan dia yang ideal di dalam pikiran. Keduanya terangkum dalam kalimat ‘saya mencintai dia’.

Apakah aneh mendefinisikan perasaan cinta dengan cara ini? Menurut saya tidak. Ketika dua orang terpisah oleh jarak dan waktu, yang bisa mempertahankan diri mereka dalam rasa cinta adalah imajinasi tentang orang yang ia cintai, karenanya itu adalah ‘dia yang ideal di dalam pikiran’. Ah, saya jadi rindu.

Well, untuk tidak terlalu jauh merasa melankolis, saya mau bergeser sedikit membahas soal pernikahan, yang mana akan menjadi topik yang sangat gencar didiskusikan sejak mungkin sekitar dua tahun yang lalu hingga barangkali empat tahun ke depan jika saya tidak juga menikah.

Menarik sebetulnya ya topik pernikahan ini. Ada begitu banyak hal yang barangkali terangkum dalam topik pernikahan.

Pertama, karena kita yakin bahwa memilih orang untuk dinikahi adalah perkara sangat krusial yang  harus sungguh tepat sehingga tidak disesali kemudian. Atau pilihan lainnya, barangkali memilih ini tidak akan pernah sempurna karena toh setiap hari manusia berubah. Demikian, perkara menikah adalah perkara berdamai dengan setiap perubahan yang terjadi pada diri sendiri dan partner hidup kita. Sehingga, pernikahan menjadi murni arena ujian bagi kita dan partner yang kita pilih. Ini adalah pertaruhan dan pertarungan abadi.

Ya, barangkali kita melakukan berbagai hal di masa lalu untuk mencapai tujuan mulia ini, menemukan partner hidup yang akan menua bersama dengan kita. Ya kan? (Perasaan saya tersentuh sekali menulis ini diiringi backsound lagu Jealous-nya Labrinth. Emang brengsek si ega)

Jadi, kadang yang kita lakukan adalah menguji setangguh apa orang yang kita pikir adalah partner hidup yang tepat, dengan satu dan lain cara. Atau sesederhana memperhatikan bagaimana mereka hidup sehari-hari. Well, manis sekali.

Tapi kadang ada orang yang lantas mengatakan bahwa pernikahan adalah hal yang tidak semanis itu, dan seks adalah olah raga; pernikahan menjadi sebuah tahapan hidup yang wajib dilalui, dan seks adalah sesuatu yang terlepas dari pernikahan atau rasa cinta. Ya ada saja orang yang mengartikan hal-hal yang bagi orang lain begitu bermakna, menjadi sesuatu yang sangat biasa saja.

Mudah kita temukan keberagaman pandangan ini, misalnya dari cara saya menceritakan perasaan dan harapan-harapan saya, dari novel-novelnya Eka Kurniawan dengan banalitasnya yang menggoda, novel-novelnya Ayu Utami, atau novelnya Paulo Coelho, atau pengarang siapapun yang kita tahu. Ada begitu banyak warna dalam memandang cinta dan salah satu turunannya, pernikahan.

Dan setelah dua minggu terakhir saya dipertemukan kembali dengan berbagai jenis orang, dari teman SD yang sudah 14 tahun tidak bertemu, atau orang yang domisilinya sejauh seperempat lingkaran bumi, segalanya menjadi semakin absurd untuk bisa dikatakan biasa saja.

Barangkali kini hanya satu hal yang bisa saya yakini betul; tidur adalah obat untuk segala hal di dunia ini.

Tabik.

wordsflow

And for the compensation of missing you, here smiles I rarely realize that I have.

About the daily life.


Ada beberapa topik yang sepertinya cukup memicu saya untuk ingin menulis. Tapi belakangan rasanya begitu malas untuk merangkai kalimat yang menyenangkan, haha. Jadilah saya membuat dahulu daftar tulisan yang semoga tidak akan kehilangan daya tariknya meskipun saya menunda penulisannya, hehe.

Ketika saya berkendara tadi siang, saya menyadari ada hal yang barangkali tidak terlalu menjadi perhatian saya selama ini. Ada tanda-tanda yang mulai kita abaikan di jalan raya, atau bisa jadi penanda itu semakin kehilangan arti. Misalnya tanda garis putih dua memanjang di sepanjang jalan kaliurang. Entah berapa pengendara yang memahami bagaimana tanda seharusnya bekerja sebagai pengendali atas perilaku manusia-manusia di sekitarnya. Gagal.

Dipikir lebih jauh, barangkali yang semacam itu mengambil bentukan yang semakin bervariasi dengan tujuan yang tentu saja, menertibkan orang-orang atau memberikan pemahaman bahwa ada hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Jalanan di sekitar kampus bisa menjadi objek pengamatan yang sangat menarik. Setiap tahun selalu ada perubahan mengenai tata kelola penggunaan jalan dan infrastruktur pendukungnya.

Masih ingat dengan pelarangan pkl di depan Sardjito? Belakangan, pedestrian di depan rumah sakit ini sampai harus dipagari, entah untuk memastikan bahwa trotoar tidak akan dipakai mangkal atau parkir motor, entah untuk memastikan pengguna jalan aman, atau entah untuk memastikan bahwa praktik lapangan akan sejalan dengan perencanaannya. Atau kebijakan bundaran UGM yang akhirnya harus dipagari juga agar bundaran itu memiliki fungsi yang terbatas saja, yang menurut saya mereduksi fungsinya sebagai bundaran.

Beberapa kebijakan penggunaan jalan semakin menarik untuk diamati seiring dengan upaya privatisasi akses (bisakah saya menggunakan istilah ini?), atau karena volume kendaraan yang semakin banyak, sehingga butuh dikendalikan. Lucunya meski semua orang sepakat bahwa volume kendaraan terlalu berlebihan di Jogja, belum ada upaya kongkrit untuk memberikan pembatasan atau upaya pengurangan yang nyata. Justru belakangan, kebijakan penataan semakin gencar dicanangkan untuk memfasilitasi keruwetan jalanan sehingga lebih terkendali, namun tidak mengurangi volume itu sendiri.

Saya jadi teringat dengan foto dead lock di suatu perempatan di Jakarta tempo hari, lucu sekali. Dan hal yang sama dalam skala yang jauh lebih kecil kerap sekali terjadi di perempatan Teknik UNY semenjak akses ke selokan mataram dialihkan ke jalan itu.

Yang tidak kalah lucu adalah penempatan portal di setiap fakultas. Saya tidak bisa mengatakan hal itu buruk, namun jika akhirnya bentuk pelaksanaan kebijakan tersebut ternyata tidak pas, kenapa masih getol sekali untuk diterapkan? Volume motor yang masuk ke lembah misalnya, sangat menggila di pagi hari jam 7. Oleh karenanya mayoritas mahasiswa tidak akan mengambil si karcis, pun itu masih mengantri untuk melewati spasi selebar 1 meter antara bangunan portal dan pembatas jalan. Saya jadi bertanya-tanya, daripada memberikan kompensasi dengan membiarkan mahasiswa lewat begitu saja, apakah tidak lebih baik ditiadakan saja? Atau jika harus tetap diadakan, tidakkah ada mekanisme lain yang lebih pas untuk diterapkan.

Ya, pertanyaan ini akan diputarbalikkan dengan mudah jika saya kemudian bertanya sungguhan; apakah saya pribadi ada solusi yang tepat? Sejauh ini, alternatif yang barangkali bisa saya tawarkan masih belum saya pikirkan dengan mendalam.

Anyway, saya jadi teringat seseorang dalam seminar tempo hari. Dia seorang ahli lingkungan, dan perkerjaannya adalah menentukan standar batasan kandungan partikel (?) tertentu baik di tanah, air, atau udara. Satu hal yang barangkali tidak pernah sungguh saya pikirkan adalah pernyataannya bahwa begitu sulit menentukan standar akan suatu kondisi. Dia harus memutuskan pada angka berapa sesuatu dianggap aman atau berbahaya. Batasnya sangat tipis, hampir tidak ada karena hanya ternyatakan sebagai dalam angka semata. Dan resiko penetapan ini sangat tinggi agar jangan sampai salah dan membahayakan banyak orang. Absurd sekali ya.

Tapi di balik itu, saya pribadi bertanya-tanya apa fungsi penetapan semacam itu ya. Misal kadar suatu kandungan masih kecil, adanya pembatasan semacam itu barangkali memicu anggapan bahwa tidak masalah jika sampai harus memaksimalkan batasan itu. Bukan lantas bentuk penetapan semacam itu menjadi jelak, hanya kadang upaya baik tidak selalu berbuah baik. Ya kaan.

Dan meski masih ada beberapa topik yang barangkali ingin saya bahas, ada hal yang memaksa saya untuk tidur saja, hehe. Sampai besok.

wordsflow