WORDS FLOW

just go with the flow and whatever happens, happens

Category: on Opinion

this old draft’s been posted.


belakangan, saya mulai menarik diri dari keterbukaan pendapat meskipun masih membuka beberapa diskusi di kanal-kanal tertentu. saya kira getir bagi saya karena saya masih berupaya menjaga diri dari melabeli teman-teman saya dengan sebuah penilaian tertentu karena pendapat mereka.

mungkin pecundang karena dengannya saya cari aman saja, berlindung pada ketidakberpihakan. benar, saya sepengecut itu dalam menghadapi dunia nyata.

sulit sekali untuk meyakini letak kebenaran.

seiring waktu saya semakin dibukakan pada kenyataan bahwa manusia melihat satu fenomena dengan seribu satu cara pandang yang manasuka, berreaksi seacak itu, berekspresi sevariatif itu, berprinsip sebermacam itu.

maka benar bahwa peneliti adalah sebaik-baiknya instrumen penelitian dalam antropologi, karena setiap manusia memiliki penilaian dan kemampuan sintesanya sendiri dalam melihat satu dan lain kejadian.

barangkali sepencundang itu sehingga saya memilih untuk mundur saja dan menyepi ke ruang ini. memantau dunia terasa begitu jauh dan melelahkan sementara saya masih juga belum mampu bekerja maksimal di bidang saya saat ini. terasa begitu jauh.

tapi saya ingin selalu percaya bahwa apapun yang dilakukan teman-teman saya adalah baik dan memiliki dasar yang kuat, dan sejauh yang saya tahu memang begitulah mereka selama ini. maka untuknya saya akan selalu mendukung

soal bekerja


Teringat masa-masa saya masih sekolah dan terus menerus disuntik dana oleh kedua orang tua saya untuk hidup, kadang saya meremehkan drama di tempat kerja dan bagaimana orang-orang menghadapinya. Lantas dalam hati memikirkan betul bahwa tidak akan pernah saya merelakan diri untuk menghabiskan waktu saya merasakan drama pekerjaan semacam itu.

Tapi mungkin terkadang hal-hal yang sebetulnya kita takutkan atau enggan menjalani seringkali dijatuhkan begitu saja di hadapan kita. Lantas kita mengada pada kejadian itu dan tidak lagi sekadar mengangani hal yang sebelumnya kita kira-kira. Kita dibenturkan untuk memahami atau akhirnya mengutuki. Pilihkan salah satu.

Sembari mengobrol soal kemungkinan perombakan instansi tempat saya bekerja saat ini, saya dan seorang teman kantor membicarakan tentang bagaimana kriteria seseorang yang dianggap sukses dalam bekerja. Kami mengulik mengenai parameter yang digunakan masing-masing orang dan tampakan yang muncul darinya. Beberapa orang yang dianggap sukses oleh standar dominan di masyarakat ternyata memiliki latar dan proses menjadi yang rumit dan saya kira saya pribadi tidak mau mengalaminya. Beberapa tampak begitu menyenangi pekerjaannya walaupun penampakannya biasa saja.

Sampailah kami pada pembahasan mengenai permasalahan pekerjaan yang sedang kami alami di kantor. Masing-masing kami yang awam dengan sektor tempat kami bekerja dan sistem paten yang sulit untuk dirombak tentu memiliki kekecewaan tertentu dengan apa yang ada. Kami memprotes ini dan itu, mencoba saling menyemangati satu sama lain, bahkan tidak jarang wacana untuk keluar kami perbincangkan sebagai teman makan siang atau pelipur ketika harus merelakan akhir minggu.

Ketika memikirkan ini, saya selalu mengingat bahwa ada begitu banyak orang yang sebetulnya rela mengambil tempat kami bekerja. Dari beberapa pengalaman kecil saya dalam bekerja, baik di sektor formal, informal, serabutan, tukang input data, bahkan menjadi pengusaha, niscaya semua orang menginginkan hal yang sama; kerja ringan, mudah, libur pada waktunya, dan gaji besar. Tapi kembali lagi, beberapa motivasi saya untuk bekerja sebelumnya tidak terletak pada bayaran. Beberapa justru saya ambil dalam upaya saya melarikan diri dari sesuatu, atau menambah pengalaman dan pride karena pernah melakukan ini, atau pernah menjadi bagian dari kegiatan itu. Salah satu yang selalu mengingatkan saya soal pengalaman kerja adalah kerja di startup dengan manajemen yang amburadul, bos yang selalu ribut, keuangan ambyar, pegawai tidak dibayar bahkan dihutangi, ditelponin orang karena hutang, kerja hingga larut malam bahkan pagi buta, tapi menyisakan pelajaran yang barangkali akan selalu saya ingat.

Meski demikian, ketika memikirkan sekarang saya hampir takjub dengan diri saya yang betah di pekerjaan itu pada masanya. Mengingat itu saya kembali berkaca pada kami di hari ini, mencoba melihat dimana letak pemasalahan yang menjadi motivasi munculnya gugatan.

Tapi kiranya tidak bijak bagi saya untuk mendetilkan cerita ini, hehe. Saya cukup berkaca dari pada pendahulu saya di tempat ini soal bagaimana mereka bekerja karena merasa yang kami kerjakan betul-betul membantu dan memberi manfaat untuk orang lain. Kadang sulit juga untuk mengelak bahwa kondisi internal dapat memengaruhi mood tapi seharusnya kerja menuntut kita untuk mengesampingkan hal-hal semacam itu dan alih orientasi pada kualitas kerja. Alih-alih memusingkan bahwa atasan kita A dan B, mengerjakan semaksimal yang kita bisa cukup memperbaiki mood saya sehari-hari. Hanya saja di suatu waktu saya sampai pada titik muak karena sulit sekali melakukan penetrasi ke dalam sistem dalam upaya memperbaiki skema kerja atau eksekusi pekerjaan sesuai dengan gaya yang menurut kita lebih efisien dan efektif.

Dibandingkan masa-masa saya kuliah, waktu luang menjadi lebih sedikit karena begitu selesai bekerja, jalanan membuat tubuh lelah, udara begitu tidak sehat sehingga saya merasa pernapasan saya bermasalah selama beberapa minggu belakangan. Jujur saja, saya iri dengan kebebasan saya di masa lalu dengan semua waktu luang untuk membaca buku, diskusi kritis, bermain-main, yang sayang sekali bekasnya sudah hampir hilang diterpa tuntutan sehari-hari untuk bertahan hidup. Saya bahkan tak lagi punya keberanian untuk mengutarakan pendapat di tengah memanasnya berbagai fenomena sosial dan lingkungan hari ini. Meski tetap membaca, semua hal yang saya tahu adalah hal-hal yang permukaan saja, yang tidak saya tahu sama sekali.

Juga, saya masih terus mengembangkan bisnis dengan menerapkan prinsip-prinsip dasar kapitalisme. Tapi meskipun saya menyukai konsep kapitalisme dalam ranah ekonomi, saya memilih tidak menerapkannya, tidak terlalu berorientasi pada akumulasi nilai lebih dan tidak menerapkan bisnis model kapital intensif. Kadang saya gugup meyakini sesuatu di tengah gejolak masyarakat yang ekstrim dan mudah marah. Juga kalut ketika berhadapan dengan rekan-rekan saya yang begitu siap menghadapi apapun di luar keyakinannya. Sementara itu saya terus menerus berlindung di dalam bilik perlindungan pribadi dengan semua nilai serta prinsip yang saya yakini sendiri. Meski begitu, saya yakin semua orang ingin merdeka dari opresi dan penjajahan, sebagaimana saya juga ingin merdeka dalam pekerjaan. Sebagaimana saya, bangsa yang ingin merdeka mungkin tidak membenci manusia-manusianya, tapi mengutuk sistemnya, dan memerangi praktik opresinya. Entahlah, saya juga tak mampu banyak bicara.

Sekian, mari akhiri saja tulisan ini di sini.

wordsflow

Gimmick


Baru saja saya mencoba varian sabun baru dikasih seorang teman. Agaknya jenama yang agak lebih terkenal dibandingkan jenama sabun alami yang biasa saya pakai. Wanginya persis wangi kembang temu yang merupakan bunga kesukaan saya di masa kecil. Saya jadi agak kebingungan mau menulis ini dari yang mana dulu mengingat topik soal gimmick dan kembang temu ini saya rasa-rasa sama mendesaknya.

Tapi saya ceritakan bagian yang ringan dulu saja.

Kembang temu, jikalau pembaca sekalian belum pernah tahu merupakan jenis kembang yang umum tumbuh liar di kebon-kebon. (sebentar saya googling dulu) Oke, barusan googling malah jadi bingung sendiri, hahaha. Saya sih nggak pernah tahu fungsi tanamannya apa, tapi kembang temu muncul dari umbi. Bunganya hanya muncul saat musim hujan dan batangnya akan muncul setelah hujan pertama.

Sejujurnya saya hampir melupakan bunga ini karena sudah sangat lama saya tidak tinggal bersama orang tua. Hari-hari SMA hingga sekarang saya habiskan di asrama dan di kos sehingga setiap musim hujan saya tidak lagi menantikan si kembang. Lebih-lebih karena kembang temu bukan lagi pusat dunia saya sih, hehehe.

Tapi libur lebaran kemarin nenek saya tetiba membahas itu. Menurutnya, saya kecil betul-betul anak kebon yang setiap hari selalu masuk kebon hanya untuk nungguin kembang temu saya tumbuh. Ini agak lucu sih buat saya pribadi karena meskipun saya suka kembang temu, saya tidak pernah suka kembang temu yang sudah tua. Kembang temu punya ciri spesifik, yaitu di sela-sela kelopak semi daunnya akan muncul bunga yang sesungguhnya dimana tengahnya akan menampung air dan sedikit berlendir. Menurut saya itu menjijikkan. Maka sebelum bunga sampai pada tahap tumbuh kembang yang itu, saya harus sudah memetiknya dan karenanya harus saya pantau setiap hari.

Saya kasih ilustrasi berikut. Yang sebelah kiri adalah kembang temu pada titik tercantiknya dimana setiap helai kelopaknya tampak segar, ramping, dengan semburat merah magenta yang menggoda. Sedangkan yang sebelah kanan adalah kembang temu pada masa menuju tuanya.

Sebegitu cintanya saya pada kembang temu sampai ciri-ciri kemunculannya pun bisa saya deteksi. Misalnya, gundukan tanah mana yang menandakan akan muncul kembang temu esok hari. Kangen sih kalau mengingat cerita ini karena praktis setiap hari kebon depan rumah adalah wahana main saya dan agaknya mendasari kegemaran saya masuk hutan semasa kuliah. Dipikir-pikir, agak aneh juga saya sesuka itu sama kembang temu. Tapi jika boleh mengibaratkan diri dengan bebungaan, saya akan memilih kembang temu sebagai representasi diri, hehehe.

Waktu itu kembang temu bahkan bisa menjadi pemicu pertengkaran saya dengan kakak laki-laki saya mengingat dia suka sekali mematahkan tangkai bunga sebelum sepenuhnya mekar. Ah saya jadi mellow mengingat masa kecil. Agaknya saya lantas melupakan kembang temu semenjak masuk SMP karena yah, kesibukan baru menduduki bangku sekolah yang lebih tinggi dan intensitas main di sekitaran rumah juga berkurang. Atau, karena rumah saya akhirnya dibangun baru saat saya kelas 5 SD dan pohon favorit saya buat dipanjatin dipotong untuk bikin gawang pintu. Sad.

Wow, prolog ini aja mencapai 400 kata, hahaha.

Tapi soal gimmick, kenapa menjadi topik, berawal dari pertanyaan-pertanyaan orang terdekat saya terkait pilihan sabun mandi saya yang sok ramah lingkungan. Padahal sebetulnya saya tidak pernah betul-betul ingin kampanye produk ramah lingkungan karena toh saya tidak tahu apa-apa soal dunia industri kimia. Bahkan, saya yang suka banget sama tahu sampai-sampai bisa hidup dengan makan tahu setiap hari saja nggak tau pencemaran macam apa yang bisa dihasilkan dari tahu.

Demikian, pemilihan sabun alami yang saya lakukan berawal dari alasan praktis karena saya kesulitan mencari sabun muka untuk kulit saya yang terlampau sensitif. Sudah ganti berkali-kali dan tidak pernah ada yang cocok sampai saya iseng menggunakan sabun sereh yang saya temukan di swalayan dekat kos saya. Entah bagaimana kemudian saya menemukan akun dagang sabun-sabun buatan sendiri dengan harga yang relatif terjangkau, varian banyak, baunya enak, dan yang pasti, tidak membuat kulit saya semakin buruk. Akhirnya selama 5 tahun terakhir saya betah betul menggunakan produk tersebut tanpa mau repot-repot menggantinya ke produk pabrikan mana pun.

Pun demikian untuk perawatan wajah akhirnya saya juga menggunakan sabun mandi yang sama biar nggak repot. Barangkali akhirnya saya terpaksa membeli sabun pabrikan untuk saya bawa-bawa saat sedang melakukan perjalanan jauh. Tapi belakangan ada yang super cocok meskipun produk pabrikan, tapi itu rahasia, hehe.

Jadi, bicara soal pemakaian produk, saya kadang merasa risih oleh kecenderungan orang untuk mengaitkan pilihan material kita pada prinsip ramah lingkungan yang sedang gencar. Saya pribadi menyadari bahwa pilihan-pilihan saya tidak akan mampu mengubah apa-apa yang besar. Mungkin mengubah produksi sampah personal saya, iya. Tapi selebihnya tidak ada dampak besar yang bisa saya berikan.

Demikian gaya hidup, apalagi di kota-kota yang sudah mapan seperti Jakarta, bertebaran kampanye ramah lingkungan yang sebetulnya gimmick saja. Misalnya menggunakan sedotan besi, menggunakan tumblr atau botol minum, tempat makan, naik kendaraan umum. Daripada disebut ramah lingkungan, saya cenderung lebih suka tidak disebut aja sih, hehe. Berdasarkan penelitian tipis-tipis saya soal sampah, bukan berarti tidak memakai sama sekali itu baik karena toh kita tetap akan menghasilkan sampah jenis lain. Saya termasuk yang santai saja menggunakan plastik karena merasa sedikit paham. Atau menggunakan beberapa barang dengan jenis material tertentu.

Kadang gatel juga karena tidak mampu mengkategorikan satu jenis material ke dalam kategorisasi yang sudah ada di dalam kamus pikiran saya. Tapi ya sadar diri karena saya tidak pernah suka pelajaran kimia dan mau menelan pelajarannya sekedar untuk lulus SMA dan masuk kuliah. Sama suka inget kata bapak saya kalo nggak ngerti cara ngebuangnya ya jangan dibuang, disimpan aja terus. Demikian prinsip bapak saya sampai-sampai bekas pulpen aja dikumpulin jadi satu.

Bukannya mau julid sih, saya pribadi takjub dengan beberapa orang yang saya ikuti kegiatan hariannya lewat kanal media sosial dan betul-betul menerapkan gaya hidup ramah lingkungan. Saya juga berkeinginan untuk sesadar itu atas pilihan-pilihan material dalam kehidupan sehari-hari. Tapi tentu saya tidak suka melabeli diri dengan sesuatu. Tidak mau juga menggabungkan diri pada gerakan tertentu. Sekadar karena saya merasa itu baik untuk saya aja sih. Beberapa kali saya menemukan (bahkan marak sekali) iklan produk yang diembel-embeli dengan label ramah lingkungan. Padahal kita sendiri tidak tahu spesifikasi material yang digunakan dan proses keseluruhannya. Label lebih sering hanya digunakan untuk meningkatkan value produk di mata pelanggan dan menaikkan pamornya, padahal mungkin hanya sedikit yang betul-betul ramah lingkungan.

Ya begitulah pasar. Mereka melihat, lantas mengubah komoditas sesuai dengan value yang dimiliki oleh pelanggan yang menjadi pangsa pasarnya. Seringnya setiap memikirkan ini saya ingin sekali belajar tentang material tapi kimia aja nggak pernah suka, hahaha.

Ah sudahlah. Makin ngelantur aja nih. Tampaknya saya butuh tidur tapi saya tahu kalian butuh asupan tulisan dari saya, huehehe. Satu lagi. Beberapa kali saya menemukan aktivitas kunjungan yang meningkat di jendela ini dan agaknya saya harus mengucapkan selamat datang. Terima kasih karena tidak bosan. Tabik.

wordsflow

Menyoal Cinta


Barangkali menjadi relevan kembali untuk membicarakan cinta. Terlepas dari apa yang sudah, sedang, dan akan saya alami terkait topik ini, membicarakan cinta sudah menjadi hal yang paling menarik di abad ini. Segala isu di luar itu kalah dan hampir tidak punya kekuatan untuk melawan popularitas topik percintaan di masa kini. Sebut saja isu-isu penting nasional dan internasional, misalnya soal sampah, pemanasan global, perburuan satwa, berkurangnya tutupan hutan, dst. Barangkali pesaing topik ini cuman abang-abang boyband Korea, skinker, sama perkucing-anjingan.

Okai ini lebay sih, bisa diabaikan, hahaha.

Again, membicarakan cinta menjadi relevan karena hampir setiap orang di dunia ini (saya katakan hampir karena selalu ada yang tidak), pernah mengalami pasang surut kehidupan karena percintaan. Perkembangan hidup kita, berisikan cinta di sepanjang perjalanannya, menempatkan kita menjadi objek, penonton, subjek, dan barangkali penasihat. Begitu banyak meme, percakapan virtual, and even like what the one said to me, “and other lies you can tell to yourself.”

Pembicaraan mengenai ini menjadi menarik kembali karena saya lagi-lagi masih menemukan relevansinya dengan hidup saya sendiri, dan apa yang saya pelajari dari sekitaran saya.

Seorang senior menyebutkan bahwa melalui pengamatannya,

Tentang nikah dan berprestasi: semakin banyak ketemu orang ‘berprestasi’, polanya justru kebanyakan sudah ‘menikah’/punya hubungan jangka panjang. Semacam konsekuensi alamiah dari kemampuan berkomitmen dan kedewasaan emosional, yang biasanya berkorelasi positif dengan pencapaian.

(Kausalitasnya belum konklusif tapi ya. Misal menurut satu sisi mungkin support moral partner menjaga ‘emotional hygiene’ sehingga lebih produktif dan fokus. Atau sebaliknya, prestasi leads to a certain socio-economic status that helps you find partner menurut pendapat lain.)

Sebetulnya jika dimaknai barangkali sudah tidak perlu ada penjelasan tambahan tentang pernyataan di atas. Tapi kalau saya boleh menggarisbawahi pernyataan ini, ada beberapa kata kunci yang bisa mengawali pembicaraan mengenai hal ini.

Yang paling menarik adalah penyebutan tentang kemampuan berkomitmen dan kedewasaan emosional.

Barangkali klise saja, dan tidak ada yang mengejutkan dari hal ini. Komitmen menarik dibicarakan karena sejauh yang saya lihat dari lingkungan sekitar, ada perubahan dalam diri seseorang ketika kita sudah berani mengambil komitmen tentang sesuatu. Tapi pertanyaannya, yang bagaimana yang bisa disebut sebagai komitmen. Kadang kita bias saja menyebut sesuatu sebagai sebuah komitmen karena sudah diputuskan, padahal kita semua, setidaknya sekali pernah terjebak pada salah kaprah pemahaman atas komitmen.

Kenapa komitmen dan kedewasaan emosional perlu disandingkan, karena keduanya memiliki hubungan kausalitas, atau jika boleh saya katakan bahwa kedewasaan emosional membawa kita pada hal-hal semacam komitmen, in their real meaning. Bisa jadi, itu juga yang menyebabkan komitmen tidak disebut dalam kata dasarnya namun sebagai sebuah ‘memampuan berkomitmen’. But there, butuh kedewasaan emosional agar kita mampu melakukannya.

Menilik ke kehidupan personal saya berkaitan dengan ini, ada beberapa tahapan hidup yang saya putuskan dalam kekalutan, kemarahan, atau sekelumit dendam. Gejolaknya memang tidak cukup besar, tapi pada titik tertentu mengguncang stabilitas emosional harian saya di lingkungan baru. Membuat saya mempertanyakan kembali apakah saya kurang bersungguh-sungguh dalam mengasah kedewasaan emosional saya. Komitmen saya tidak berjalan mulus karena saya mengkhianatinya dan lebih memilih mengikuti emosi saya.

Ada banyak teman-teman saya yang memiliki kedewasaan emosial sejak saya masih berada di titik paling arogan. Mereka yang kemudian membuat saya sadar ada yang salah dengan diri saya dan karenanya saya menggali-gali seorang diri (meski akhirnya meminta bantuan) untuk menemukan bongkahan-bongkahan kebebalan lantas mencoba melihatnya dari segala sudut.

Saya pikir, titik moksanya manusia dalam menjalani kefanaan ada pada kedewasaan emosionalnya. (anjay nih ngomong apa sih) Bukan berarti harus selalu menjadi positif, atau menjadi protagonis dalam setiap kesempatan. Mendewasa menurut saya mungkin lebih dekat dengan kesadaran (being aware) atas diri. Tahu kapan berbahagia, kapan menangis atau kapan menghentikannya, menyadari setiap hal yang kita rasakan. Olah rasa mereka menyebutnya. Tapi yah, saya bahkan tidak berani mengira-ira kapan saya bakal lulus dalam menjalani tahap pembelajaran ini.

Lalu korelasinya dengan mencintai apa? Karena mencintai adalah komitmen, dimana dibutuhkan kedewasaan emosional untuk membuatnya menjadi benar.

Sempat terpikir oleh saya bahwa mencintai saja ternyata tidak cukup. Manusia membutuhkan ‘imbalan’ atas cinta itu dengan dicintai dengan sama besar. Kadang tidak bersyarat, tapi saya sendiri menyadari bahwa saya menetapkan standar-standar tertentu. Apa sebab saya bisa tahu? Karena pada satu titik saya merasa tidak adil bahwa saya tidak dicintai sebesar yang saya kira saya berikan ke orang lain. Tapi pemikiran semacam ini pun perlu saya ragukan kebenarannya karena praktis selama 27 tahun hidup saya, saya tidak pernah mencintai dengan benar. Saya curiga bahwa saya hanya merasa mencintai seseorang alih-alih betul-betul melakukannya.

Dan barangkali benar bukan seperti itu. Ketika seseorang mencapai kedewasaan emosional, dia akan tahu kapan bertahan dan kapan melepaskan. Dia mengerti komitmen semacam apa yang sebaiknya diambil. Entah kenapa saya yakin bahwa kedewasaan emosional lah yang menjamin berjalannya komitmen, dan bukan sebaliknya.

Tapi yah, saya kurang tahu sampai di mana kah saya saat ini. Pun saya kadang masih terjerumus ke dalam perasaan di dalam diri dan sering sukar untuk melawannya. Saking saya harus memetakan berbagai badai emosional yang saya rasakan, kadang saya menulis buku harian dengan berderai air mata, kehilangan jam-jam istirahat karena meladeni keinginan untuk menangis saat itu juga, atau sengaja mencari film yang memancing emosi-emosi tertentu. So silly but it helped me to track back my emotions.

Sebagaimana yang saya sebutkan, tulisan ini saya buat karena terpancing dengan pernyataan di atas. Mana mungkin orang yang tidak bisa melakukan satu hal dengan benar berani-beraninya menulis hal semacam ini? Hehehe. Tapi justru dengan alasan yang sama, saya mencoba membenahi apa yang salah dari nalar dan kemampuan saya dalam merasa.

Meskipun ada beberapa prinsip yang coba saya jalani, saya juga menyadari bahwa sebebal-bebalnya manusia, kita selalu butuh orang lain untuk bergantung. Barangkali untuk memberikan dukungan emosional atau justru untuk kita sirami cinta sebanyak yang kita mau. Dengan memikirkan ini saya sering merasa tenang melihat teman-teman saya mendadak menikah karena dijodohkan atau bertemu dengan orang yang sama sekali baru.

Sebelum benar-benar mencapai akhir paragraf, saya ingin berpesan satu hal. Karena mencintai itu bagian besar, ketika cintamu berbalas, maka berbahagialah. Cintailah pasanganmu sebaik-baiknya kamu ingin dicintai. Di tengah argumen tentang cinta yang semakin banal dan ‘tidak istimewa’, mampu mencintai dengan benar saja sudah sangat baik, terlebih ketika kamu dapat menemukan frekuensi yang sama atas perasaan itu. Dan untuk Anda-Anda yang belum berpasangan, mencintailah dengan benar meski cintamu tidak berbalas. Setidaknya kamu memberi yang orang lain butuhkan, yang dunia ini butuhkan, yang kamu sendiri juga butuhkan. Percaya deh, tidak ada yang sia-sia dari cinta.

Akhir kata, sampai di sini saya masih ragu saya menulis apa, karena apalah arti tulisan ini sementara saya masih percaya zodiak dan golongan darah. Hahahaha.

Ya begitulah, antara bohong dan tidak, bergitulah saya mencoba berkamuflase dalam berkehidupan.

Semoga berkenan dengan tulisan ini. Tabik.

wordsflow

22.22


Baiklah saya mau nambah postingan untuk blog ini. Sembari memikirkan apa sekiranya yang bisa saya tuliskan, agaknya saya sekali lagi tengah mengalami perputaran emosional yang sebetulnya sudah saya rasakan beberapa kali dalam kurun 5 tahun belakangan.

Saya menyadari ternyata sulit bagi saya untuk mengingat apa yang terjadi pada saya selepas saya selesai menjalani kuliah arsitektur. Bahkan saya baru sadar bahwa sudah hampir 6 bulan saya pindah ke Jakarta tapi ingatan saya tentang kurun waktu ini ternyata samar-samar saja. Pertanyaannya kemudian, saya isi dengan apa slot memori dalam kurun waktu ini? Hehehe. Jawabnya ada, di ujung langit, kita ke sana dengan seorang anak, anak yang tangkas, dan juga pemberaniiii.

Ya begitulah, ada banyak hal yang mengganggu saya.

Tapi sadar atau tidak, meski begitu kuat saya mengatakan tidak, Jakarta memang merusak stabilitas emosional saya pada waktu-waktu tertentu. Gejolak emosional yang saya rasakan jauh lebih ekstrim ketimbang ketika saya masih ada di Jogja. Sebabnya apa? Kondisi lingkungan yang tidak seasik Jogja, deretan manusia yang tidak tampak manusiawi, sentimen orang-orang terhadap gaya hidup dan pilihan kita, dan alih fokus saya dari dunia nyata ke dunia maya.

Yang terakhir adalah rutinitas yang ternyata mempengaruhi saya jauh lebih dalam dari yang saya kira. Sudah banyak artikel dan perbincangan mengenai pengaruh media sosial terhadap kita, tapi bagaimana kiranya dia sungguh berpengaruh, kadang sering kita kesampingkan begitu saja.

Sebagai contoh, suatu ketika saat saya sedang fokus dengan pekerjaan saya hingga tengah malam, kebosanan membawa saya pada jendela-jendela linimasa yang menunjukkan kegiatan teman-teman karib saya di Jogja. Kegiatan mereka menarik ingatan dan pikiran saya untuk ‘melompati’ ruang-waktu lantas ber-ada pada ruang-waktu yang sejajar dengan mereka. Ponsel pintar kita menggantikan daya imajinasi kita dan menyediakan segala hal yang bisa ‘membawa’ kita melompati jarak ruang-waktu itu sendiri. Sehingga demikian, meski raga saya masih melekat di tempat duduk sembari rapat dengan rekan kerja, pikiran saya, daya imajinasi saya, fokus saya, semuanya telah ada di tengah-tengah hingar bingar keseruan bersama rekan-rekan saya di Jogja.

Dampaknya apa?

Tentu, itu ibarat kita naik kendaraan dengan jendela ditutup rapat sehingga apapun yang ada di luar tidak akan bisa kita rasakan dan kita pahami, segalanya berlangsung sambil lalu saja. Seluruh indra saya terpecah dan hanya menyisakan memori visual tanpa benar-benar mengendap sebagai memori yang mencakup rasa dan respon emosional.

Terkadang metode ini berhasil menyelamatkan saya dari kebosanan mengikuti kegiatan atau hal-hal yang mengganggu saya pada kondisi faktual. Tapi di saat tertentu justru pikiran saya melayang di antara yang nyata dan maya, tidak berada di salah satu sisinya. Dan alih-alih merasa terhindar dari perasaan-perasaan mengganggu di dunia nyata, atau turut merasakan euphoria dunia maya, saya justru merasa kosong belaka.

Pada titik inilah segala bentuk pertanyaan eksistensial, ketuhanan, emosional, filosofis, kritis, ya apapun lah yang abstrak-abstrak itu, atau bahkan kadang yang tidak abstrak sama sekali menyeruak ke permukaan dan memboikot pikiran saya begitu saja. Lucu ya, akhirnya saya jadi harus melawan diri saya yang lain untuk bisa kembali membumi dan berada pada tempatnya.

Kadang saya gagal dan jatuh frustasi dengan aksi boikot itu dan mau tidak mau harus mencari bala bantuan dengan metode tertentu. Tentu juga barangkali sama seperti manusia lain yang hidup di kota dengan kesibukan abstrak dan cenderung menekan, hidup normal dengan proporsi kerja-istirahat-liburan yang kurang ideal terasa luar biasa sulit di sini. Mayoritas fokus kerja terpecah ke banyak hal antara lapar atau ingin pulang ke rumah. Berbarengan dengan perasaan tertekan karena harus menyelesaikan pekerjaan dengan baik dengan resiko tertentu, kadang tidak suka tapi kamu butuh uang untuk hidup.

Tapi lagi-lagi, bukan berarti hal semacam itu mustahil untuk diraih. Pada kondisi tertentu hidup di Jogja juga terasa begitu menekan tapi dengan faktor yang sedikit berbeda. Keseharian kita diisi dengan artikel-artikel tentang upaya menjabarkan gejala dan resiko generasi milenial yang disebut sebagai generasi yang gila kerja, jaminan hari tua yang minim, angka perceraian tinggi, ketidakmampuan memiliki properti, seringnya berpindah-pindah kerja, dan lain sebagainya. Kita tergencat sana sini oleh hal-hal semacam itu yang tersebar secara tidak bertanggung jawab di kanal-kanal media sosial atau percakapan pribadi.

Di Jakarta mudah sekali menjatuhkan penghakiman pada seseorang karena penampilan atau gaya hidupnya. Kamu harus betul-betul sadar menjadi diri yang seperti apa dengan cara apa. Bersiasat begitu jeli untuk menemukan celah-celah yang akan tetap membawa diri kita ya menjadi kita apa adanya.

Klise sih sebetulnya, karena toh kita semua melakukan ini. Tapi menahan diri untuk tidak tertarik masuk pada lingkaran gaya hidup kelompok tertentu baik dalam lingkaran pertemanan nyata dan maya adalah tantangan yang sama-sama kita hadapi bersama, di manapun kita berada. Well, untuk hal ini marilah kita kutuk kanal-kanal media sosial dan mulai menyaring apa-apa yang ingin kita lihat dan kita telaah darinya.

Lagi-lagi, senang sekali saya masih memiliki ruang semacam ini untuk tetap berada pada jalur perjalanan saya tanpa harus digempur kanan kiri oleh hal-hal yang sedang naik daun. Blog ini semacam suaka dan senang sekali mengetahui bahwa masih ada orang-orang yang sering menulis panjang dan terus menghidupi dunia paralelnya tanpa penghakiman. Benar, kadang kita tidak sadar begitu lelah karena menghidupi diri kita di berbagai kanal dalam waktu yang bersamaan. Kita membentuk diri kita menjadi beberapa figure yang berbeda, atau mengulang penggambaran figure yang sama pada jendela yang berbeda. Dengannya kita—atau saya—sering melupakan bahwa di antara jendela-jendela itu ada pintu yang bukan hanya menampilkan citra tapi betul-betul membawa saya keluar ke mana pun yang saya mau.

Akhir kata, hari sudah berganti dan inilah saatnya bagi saya untuk undur diri.

Semoga esok kita masih bisa saling menyapa di salah satu jendela favorit saya ini. Tabik.

wordsflow

selamat hari keluarga nasional,


Malam ini saya ingin menulis sesuatu, entah apa jadinya nanti. Biarlah sudah.

Mari memulai dengan sebuah premis, “what makes a family, family?”

Dalam antropologi, kita mengenal bahwa terminologi keluarga (atau fam) memiliki pergeseran makna dalam perkembangan kebudayaan manusia. Ketika masyarakat masih hidup dengan cara berburu dan meramu, serta hidup nomaden, seorang anak adalah anak dari klannya, dan tidak betul-betul melekat pada satu keluarga inti. Anak bukanlah anak-siapa melainkan generasi penerus atas suatu kelompok sosial tertentu. Anak yang lahir di dalam kelompok menjadi tanggung jawab keseluruhan kelompok untuk memastikan segala kebutuhannya tercukupi.

Barangkali kita membayangkan itu sebagai yang patut dikasihani (?) Bahwa anak ini mungkin tidak akan sungguh-sungguh mendapatkan kasih sayang orang tua kandungnya. Bahkan barangkali ia tidak memiliki kedekatan dengan ibunya karena bisa jadi disusui oleh ibu yang lain. Bisa pula ia belum pernah melihat bapaknya atau ternyata bapaknya juga dimiliki oleh anak-anak lain yang bukan anak ibunya. Dan semua ‘barangkali’ yang menyayat hati didasari atas norma etika sosial kita soal keluarga di hari ini.

Perkembangan berikutnya dari kelompok sosial berdasar kekerabatan dan berbasis darah ini kemudian berkembang ke level berikutnya, dimana keluarga adalah mereka yang memiliki garis keturunan sedarah dengan keluarga inti sebelumnya. Setelahnya, keluarga ini membangun simbiosis mutualisme dalam kaitannya untuk memastikan garis keturunan mereka tidak putus, memastikan bahwa mereka akan bisa makan setahun penuh, dan memiliki jaminan kesejahteraan untuk generasi selanjutnya dalam bentuk lahan pertanian.

Keluarga mengubah dirinya sendiri agar cocok dengan kondisi kultural mereka sebagai kelompok yang bercocok tanam. Pembagian kerja yang efisien dengan beban tenaga kerja untuk diberi makan dianggap perbandingan yang layak untuk mempertimbangkan seseorang bisa masuk ke dalam ‘keluarga’ atau tidak. Mereka yang berada di dalam garis keturunan sedarah memiliki kewajiban untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh kepala keluarga, dan karenanya memiliki hak juga untuk mendapatkan makan dari jatah kerja hariannya.

Akhirnya kita kemudian mengenal kelompok yang lebih kecil lagi, yaitu keluarga inti. Ketika jaminan hidup tidak lagi hanya bisa didapat dari bertani, maka ketergantungan orang pada lahan pertanian menjadi semakin berkurang, mutualisme dan upaya mempertahankan jumlah anggota keluarga yang cukup banyak tidak lagi diperlukan karena mereka bisa mendapatkan uang dari kerja selain bercocok tanam. Demikian, simbiosis mutualisme yang diperlukan semakin dipersempit pada kelompok yang lebih kecil dengan pembagian peran yang relatif lebih ringan dibandingkan sebelumnya.

Sampailah kita pada model keluarga yang kini kita sebut sebagai ‘keluarga’.

Tapi perkara tidak berhenti di sini. Pernah dengar istilah kekerabatan fiktif? Saya lupa teori siapa tapi bodo amat. Singkatnya, kekerabatan fiktif terbentuk karena ikatan-ikatan tidak langsung seperti  hubungan darah atau pertukaran dan pernikahan. Penjelasan soal kenapa kamu bisa begitu berkorban untuk temanmu atau kolegamu tuh ada di bagian ini penjelasannya. Dan karenanya bentuknya bisa betul-betul mana suka. Kadang kamu bahkan harus mengulik begitu dalam alasan di balik kuatnya kekerabatan fiktif yang dibangun oleh dua individu atau suatu kelompok tertentu.

Dan di era perinternetan yang menciptakan begitu banyak dunia paralel untuk kita, kita menemukan jauh lebih banyak keanehan bentuk-bentuk keluarga. Kamu bisa begitu rela mati demi junjungan politikmu, bisa gontok-gontokan tanpa lelah di twitter demi membela kelompok tertentu atas nama HAM, dan seterusnya, dan seterusnya. Kita membentuk jaringan kekeluargaan baru berdasarkan pada budaya baru yang kita miliki sebagai masyarakat modern dengan istilah ‘netizen/warganet’ sebagai bentuk integralnya. Bayangkan, bahkan jejaring warganet bisa sangat keluar dari batas-batas dan zonasi yang kita bangun selama masa modern pra internet.

Kita mengalami gegar. Gegar budaya untuk meneken pada kelompok yang mana kemelekatan kita terpaut lebih erat. Kita menjadi sulit untuk memahami sebetulnya mana yang lebih bisa diandalkan dan dijadikan prioritas dalam membantu kita menjalani kompleksitas hidup kapitalistik ini.

Saya baru menyadari belakangan, bahwa dibandingkan kebingungan dalam menentukan kelompok, saya lebih terkejut karena ternyata saya begitu terikat pada wujud paralel atas Aku yang mewujud secara imajiner. Saya dalam keseharian, buku harian, chat, sosial media A B C D sampai Z, memiliki wujud, citra, pemikiran yang sedikit banyak berlainan. Setiap kali membaca selalu ada yang dirasa mengejutkan, seolah baru kali pertama saya bertemu dengan wujud tersebut. Dan itu sangat melenakan.

Pertanyaan-pertanyaan eksistensial mulai bermunculan dan menjadi relevan kembali. Kekhawatiran lama mulai menyeruak ke permukaan, dan sialnya perasaan-perasaan yang sebelumnya juga mulai bertebaran membentuk ranjau. Ganas dan tanpa ampun.

Dalam nuansa ini saya bertanya-tanya soal relevansi keluarga di dalam hidup kita sebagai individu. Karena akhirnya begitulah budaya berinternet telah mempersempit ruang ketergantungan kita pada keluarga inti sebatas pada layar ponsel. Eksistensi mereka nyaris tidak dibutuhkan selama mereka masih muncul di layar 5 inci yang kita—ah saya—pegang.

Tentu tidak semua insan di negeri ini seterjebak ini. Jelas sekali bahwa ikatan keluarga inti masih kental sekali dalam kultur Indonesia. Contohnya bisa dilihat di pemakaman-pemakaman ketika anak, orang tua, istri, atau suami menangisi kepergiaannya. Atau orang yang depresi karena ditinggal anggota keluarga. Dan semua cerita-cerita serupa lainnya.

Tapi kembali lagi, perubahan ikatan ini mengubah ketergantungan pada keluarga menjadi bergeser ke diri sendiri. Kamu menjadi orang yang bergantung lebih kepada diri sendiri, dalam hal kepercayaan, kebahagiaan, dan lain sebagainya. Naas, karena kemudian bisa jadi, bentuk-bentuk itu akhirnya yang justru akan menguatkan egomu, menyelubungi dirimu dengan ke-Aku-an yang lebih erat, kental, dan tidak tertembus. Dan pada titik ini, tiada orang lain yang bisa menyelamatkanmu kecuali dirimu sendiri.

Jadi yah, kira-kira begitulah premis awal membawa saya pada pembahasan mengenai egoisme yang belakangan cenderung meningkat di dalam diri saya, remah-remah yang sebelumnya saya sepelekan sekarang sudah menjadi sarang yang nyaman. Sial.

Untuk itu, agaknya mengucapkan selamat hari keluarga nasional sedikit kurang relevan dengan kondisi saya kini. Tapi yah, untuk kalian nggak papa deh.

Demikian, jika ada pertanyaan silahkan menghubungi kepribadian saya yang nomor 213 melalui nomor whatsapp yang Anda sekalian ketahui. Dan semoga berkenan. Tabik.

wordsflow

Konsumsi


Dalam beberapa hari belakangan, topik tentang konsumerisme dan kapitalisme entah kenapa muncul kembali di dalam jangkauan pandangan saya, baik melalui linimasa media sosial maupun muncul kembali sebagai sebuah kesadaran. Anehnya, saya tidak lagi merasa terganggu sebagaimana yang saya rasakan sebelumnya terhadap kesadaran soal ini meskipun sungguh memusingkan memikirkan harga properti dan membayangkan akankah saya akan berhasil membeli sebidang tanah untuk hari pensiun saya nanti. Hhhhnnnnhhhhh.

Di tengah segala kemudahan yang hadir di hari ini, kita kemudian tidak lagi dihadapkan pada kesulitan untuk mencari sesuatu yang sebelumnya ‘langka’. Apapun yang kita butuhkan kini hanya berjarak sejangkauan tangan. Satu-satunya penghalang kita adalah kemampuan finansial semata.

Tapi tenang, sistem kapitalis juga berupaya untuk menghilangkan penghalang itu bagi kita sehingga apapun yang kita harapkan akan dengan mudah kita dapatkan. Sebut saja fasilitas digital finance dengan segala penawaran menariknya, kartu kredit, kebijakan pay later, dan sebagainya. Kita dipaksa mengambil hutang dan memilih hutang sebagai cara yang paling ‘benar’ karena pelayanan cenderung menolak pembayaran langsung dan lebih memilih kredit. Hampir semua perjalanan ke luar negeri membutuhkan kartu kredit. Hampir semua transaksi jual-beli ke luar negeri mewajibkan kartu kredit. Bahkan kartu kredit menawarkan diskon yang jauh lebih besar dan membuat semua orang semakin merasa terdorong untuk memiliki kartu kredit.

Padahal kita memiliki uang di rekening sendiri, tapi bahkan jaminan itu tidak cukup untuk meyakinkan bahwa kita betul-betul bisa membayar hal-hal yang kita inginkan. Kesel nggak sih?

Saya ingat pernah begitu bersemangat membuat akun di Etsy sewaktu awal masuk kuliah, tapi segala upaya selalu terhenti pada jaminan kartu kredit dan yasudah, sampai sekarang saya tidak pernah berhasil mencari alternatif lain agar bisa melakukan transaksi antar negara.

Topik mengenai konsumerisme ini sebetulnya klise sih. Tapi begitu saya mengikuti akun finansial di salah satu platform sosial media, membaca berbagai cerita tentang tantangan finansial masing-masing orang, saja jadi bertanya-tanya sebetulnya apa cita-cita finansial yang dimiliki masing-masing orang. Juga menarik sekali ketika saya ditawari untuk membuat tabungan rencana dengan iming-iming bunga tertentu, serta tambahan iming-iming dari petugasnya “Siapa tahu tahun depan bisa jalan-jalan ke luar negeri”. Oh well, demikian secara serampangan saya artikan bahwa jalan-jalan ke luar negeri adalah kegiatan yang sedang menjadi tren di kalangan masyarakat seumuran saya, apalagi yang sudah memiliki penghasilan sendiri.

Di tengah huru hara ini, kita menjadi manusia-manusia yang seolah kehilangan esensi mencari uang. Apakah betul kita bekerja sekedar untuk mampu membeli ini dan itu? Apakah hidup akhirnya hanya sebatas upaya untuk mengejar standar kehidupan yang begini atau begitu? Beberapa kelompok manusia sungguh-sungguh hidup dari paycheck to paycheck ada yang meletakkan standar kemampuan finansial di sebelah agak jauh jalur hidupnya, dan ada juga yang sungguh tidak peduli dengan finansialnya.

Lalu terminologi work-life balance tiba-tiba menjadi terma yang sering kali muncul di sekitar saya, apalagi setelah kepindahan saya ke ibukota. Antara berada di skeptisme atas jaminan keseimbangan hidup di kota dan ketahanan diri untuk memastikan bahwa gaya hidup mayoritas ibukota tidak akan pernah menggerus gaya hidup saya dan saya akan tetap bertahan menjadi manusia-manusia yang waras tanpa merasa kekurangan.

Saya sedikit merasa aneh ketika menemukan beberapa teman saya yang merasa begitu menderita hidup di kota ini. Saya akui memang Jakarta membuat seseorang bisa begitu merasa kesepian. Tapi tidak ada yang bisa menjamin bahwa dengan tinggal di kota kelahiran kita, atau kota favorit kita, kita tidak akan merasakan hal yang serupa. Sebuah kota tidak seharusnya bertanggung jawab atas apa yang sedang kita rasakan. Betul juga bahwa kehadiran atau ketidakhadiran seseorang di dalam hidup kita akan membawa perubahan, tapi menurut saya ada seribu satu substitusi yang bisa membantu kita merasa lebih ‘akrab’ pada sebuah kota.

Ada juga yang bilang bahwa saya sebetulnya punya selera metropolitan, tapi tuduhan itu juga saya pikir tidak beralasan. Saya hanya kerap mudah merasa nyaman pada suatu tempat, dan begitu merasa nyaman tidak mudah bagi saya untuk berpindah. Saya jarang pindah kos-kosan, apapun yang terjadi pada tempat itu, lebih suka memakai pakaian, tas, atau sepatu yang itu-itu saja, dan tidak merasa butuh berganti tanpa ada paksaan tertentu atau alasan tertentu. Barangkali ini juga yang membuat saya lulus lama? Hahaha. Bukan ding, kalau yang itu murni karena faktor kemalasan.

Dan betul juga sebetulnya, konsumerisme menjadi hal yang tanpa sadar diimani oleh semua orang, yang muslim konservatif, atau bahkan yang ateis, yang tidak peduli pada lingkungan atau bahkan yang mengaku sjw (akhirnya saya tahu arti singkatan ini). Setiap protes, setiap kritik, ideologi, bahkan kepercayaan menciptakan pasar baru yang bisa menghasilkan keuntungan bagi para pelaku bisnis. Saya juga menggunakan cara ini untuk mencari pembeli, yah jujur saja. Hanya satu yang membuat saya sebal karena orang-orang cenderung merasa gaya konsumsinya jauh lebih baik dibandingkan orang lain dengan membeli sesuatu atau tidak.

Misal munculnya tren sedotan besi atau sedotan bambu karena adanya protes terhadap penggunaan sedotan plastik. Jujur saja, sebetulnya klaim itu tidak berarti karena kita tidak butuh sedotan sama sekali, mau yang plastik ataupun yang besi. Pun tidak ada yang sungguh tahu apakah sedotan besi akan memberikan dampak kerusakan lingkungan yang lebih kecil atau tidak. Juga gaya berpakaian, baik yang muslim atau bahkan yang mengikuti tren MetGala, semuanya hanya memberikan keuntungan lebih banyak pada pengusaha tekstil, dan memunculkan potensi besar produksi pakaian, dan demikian juga potensi sampah dan limbah yang dihasilkan dari proses produksi itu. Belum lagi yang mengagungkan metode konmari Marie Kondo, sangat ada kemungkinan bahwa yang terjadi adalah konsumerisme gaya Marie Kondo, mengganti perkakas rumah tangga sesuai style adaptasi konmari, dan sebagainya.

Di samping kritik saya atas hal ini, saya juga menyadari bahwa saya orang yang sering membeli, meskipun saya pelit luar biasa pada persoalan harga. Lebih sering saya membeli sesuatu yang sangat murah dengan kualitas yang lumayan setelah mencari dengan super seksama di platform marketplace langganan saya, menggunakan segala promo pembelian online yang akhirnya membuat saya jauh lebih untung. Memuaskan diri sendiri tampaknya sedikit lebih sulit di hari ini karena standar yang bertebaran di luar sana. Mudah sekali merasa terintimidasi karena sesuatu dan bersikap biasa saja adalah salah satu cara yang paling mujarab.

Saya sering merasa sangat berterima kasih pada masa-masa perkuliahan saya yang memberikan sumbangsih pemikiran dan kesadaran yang tinggi atas setiap perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidup. Meskipun sederhana, gaya hidup bisa membuat orang merasa terbebani dan bahkan membawanya pada ketidakbahagiaan. Sesuatu yang saya pikir menyedihkan karena terjadi di kota yang menyediakan segalanya.

Akhir kata, akhirnya saya menorehkan tulisan lagi setelah sebulan tidak berhasil menghasilkan satu tulisan pun. Di sela satu bulan ini, saya sempat menghabiskan waktu untuk merenungi secara mendalam tentang tujuan saya untuk hidup. Barangkali kapan-kapan akan saya bagi sedikit. Tapi saya sendiri juga merasa bahwa memaknai hal seabsurd ini tidak layak untuk dibagi pada jiwa-jiwa tenang seperti pembaca sekalian. Jadi yah, kapan-kapan saja. Semoga kita selalu berada dalam kesadaran atas hal-hal yang kita lakukan.

wordsflow

I am constantly inspired by people who do musics


Hari ini kantor libur, dan karenanya saya mendaftar beberapa hal yang harus saya lakukan sebagai kompensasi atas waktu luang yang saya dapat di tengah kekacauan Jakarta yang yah, sebetulnya tidak saya rasakan nyata begitu dekat. Hanya sirine yang terdengar berseliweran di jalan belakang kosan yang tepat bersebelahan dengan Kali Ciliwung. Lalu sudah dari kemarin pagi ada pengalihan arus dan pengumuman perubahan lalin untuk jalur-jalur rawan angkutan umum. Sungguh sebuah kemudahan hidup di jaman google maps dan segala perangkat pendukung informasi yang berfungsi real time.

Eniwei, saya sudah mencontreng empat dari enam agenda hari libur ini. Berhubung agenda yang ke enam agaknya tidak akan terlaksana, maka saya berusaha merampungkan agenda ke 5 demi tercapainya persentase keberhasilan yang lebih tinggi, hehe.

Topik ini tentang Fajar Merah, dan secara luas tentang orang-orang yang bermusik.

Kemarin lalu saya menjumpai poster tentang penayangan film dokumenter Nyanyian Akar Rumput. Sempat salah sangka kalau itu akan menceritakan Wiji Thukul, ternyata film itu lebih melihat anaknya sebagai seorang musisi, juga sebagai seorang anak. To be honest, saya sungguh-sungguh tidak kenal dan tidak tahu menahu soal Wiji Thukul. Dibandingkan kawan-kawan saya baik yang mawas politik dan sejarah, juga narasi-narasi perjuangan, pembaca buku, atau bahkan pecinta film Istirahatlah Kata-Kata yang jauh lebih kenal siapa Wiji Thukul, saya hanya sebatas tahu kalau Wiji Thukul hilang sejak kerusuhan 1998. Sementara kawan-kawan saya sudah dengan fasihnya menyebut nama ini di beberapa diskusi, juga mengutip tulisan atau puisinya, saya cuma bisa mengingat cover bukunya yang berwarna kuning, kerap saya lihat di toko buku.

Maka, saya anggap upaya saya menonton film ini sebagai langkah untuk mencari tahu siapa orang ini. Barangkali dengan menontonnya empati dan kepedulian saya akan meningkat.

Saya sendiri baru dua kali menonton Fajar Merah manggung saat masih di Jogja. Saya suka gubahan musiknya. Tapi sebagaimana juga dirasakan oleh ibunya, saya merasa musik Fajar tidak menyuarakan heroisme, tapi cenderung lebih romantis. Dia cenderung sedang melakukan pencarian, dan mengekspresikan emosinya. Dari beberapa rekaman panggungnya, aksi teatrikalnya mengekspresikan emosinya sendiri, apapun itu bentuknya. Barangkali yang ia rasakan jauh lebih rumit dari yang terlihat.

Ketika menonton film ini, saya kembali tersadar kalau kita lebih sering sok tahu tentang hal-hal yang dirasakan seseorang, dipikirkan seseorang, dipahami seseorang. Meski cara saya menulis ini juga penuh dengan asumsi, tapi saya juga menyadari bahwa yang saya lihat bukan ‘penerus’ Wiji Thukul, tapi sebatas anak laki-laki yang juga sedang mencari dirinya sendiri.

Musiknya romantis, dan cenderung tidak penuh kemarahan. Ia mengingatkan lewat larik, dan mencoba menyentuh lewat nada, bukan sebaliknya. Aksi panggungnya adalah ungkapan, entah ungkapan jenis apa, tapi selalu ada yang berbeda, ada proses, ada pendalaman.

Barangkali hal-hal ini yang begitu saya sukai dari pemusik. Emosi-emosinya tersimpan, terbaca, tersampaikan lewat nada, irama, dan lirik yang mereka gubah. Aksi panggungnya adalah ekspresi ayas perasaan yang melekat saat itu di tempat itu, atau bisa juga merupakan kumpulan memori-memori yang lalu. Dan sangat menarik untuk menyadari bahwa aksi panggung cenderung menyimpan kejutan, kontekstual, dan begitu ‘sementara’.

Salah satu hal yang secara pribadi membuat Fajar Merah menarik bagi saya adalah tatapan matanya. Bukan hanya dia, semua orang di dunia ini memiliki tatapan mata yang menarik hati saya. Semua orang menggambarkan ‘ketelanjangan’ dan ‘teka-teki’ lewat tatapan matanya. Manusia selalu menarik, selalu membuat saya tertarik, sekaligus kalut dan takut pada saat yang persis sama.

Well, jenis manusia yang jauh lebih menarik adalah mereka yang bermusik. Ah bukan, yang melakukan hal-hal paling mereka sukai dengan kesungguhan. Cara mereka menatap sesuatu bisa membuat saya tertampar, sekaligus tersinggung dan iri. Somehow.

wordsflow

nothing’s more important than money


I am not in a really good mood, but somehow after for days discussing about this, and analyzed something that might related to this, read some stories on social media, also attached my own problem and opinion about this thing, let’s doubt ourselves and to the bigger society nowadays.

Some of my research regarding to waste practice through waste bank movement found out some precedents about how people dealed with our current environmental problems. Everything’s good, people encourage another community to give their effort to do the same, the government, academics, people overseas give recognition to some movement but at the end we both ask the same question; does finally everything we do is all about gaining more money, at the end?

This is very interesting for me because I feel the same. Somehow, what I do, what I choose, what I’m into, it directly or indirectly because of money so that I could continue life with no doubt.

I’ll make this quick because I really need some sleep.

I cannot say that we all do, but most of us really money oriented today. Oke pakai bahasa Indonesia aja biar gampang.

Barangkali ini bukan asumsi yang asing buat kita bersama, udah sering disebut dimana-mana kalau sekarang tuh apa-apa harta, tahta, dan Raisa (kalo saya sih Velove Vexia). Dan selama bertahun-tahun, saya masih menanamkan keyakinan bahwa ada yang nggak begitu kok, yang hidupnya biasa saja dan cuma ingin hidup harmonis dengan apapun yang disediakan, atau well, ‘rejeki mah gak akan kemana’ jadi nggak perlu pelit sama orang, dan seterusnya.

Tapi kemudian saya berpetualang ke timur jauh sana, yang saya temui, orang-orang yang serupa, meskipun kadang dengan narasi yang jauh lebih panjang, dan jalan yang lebih berliku, di tempat-tempat lain juga tidak jauh berbeda meskipun dengan narasi yang jauh lebih halus dan segala yang menyelimutinya. Di waktu-waktu tertentu hal-hal ini menutupi kepercayaan saya pada niat baik orang lain dan cenderung membuat saya tetap merasa sangsi meskipun hanya sebagai pendamping dari upaya saya memahami narasi yang disampaikan lawan bicara.

Bukan tidak jarang saya dikejutkan dengan orang yang sungguh-sungguh apa adanya, tanpa basa basi dan tulus begitu saja. Tapi itu keberuntungan saja, hanya segelintir orang. Pun saya sering curiga itu dilakukan dengan asas ‘Allah akan mengembalikan rejeki kita berkali-kali lipat dengan caraNya sendiri’.

Well, again, saya berkawan cukup baik dengan rasa sangsi.

Tapi ibukota menampar saya keras sekali sampai-sampai hal yang sebelumnya hanya saya letakkan sebagai kecurigaan kini sungguh nampak terpampang di depan mata. Semua hal yang sifatnya money oriented dengan segala bentuk sindiran dan diskusinya dipaparkan gamblang dalam keseriusan atau kejenakaan. Sering merasa aneh ketika orang bangga dengan bunga hasil menanam saham, tapi sungguh bagi saya, hal itu masih tampak seperti permainan angka, tidak lebih meskipun nominalnya toh tetap bisa dipakai buat jajan.

Saya sendiri memandang uang dengan cara yang sedikit berbeda barangkali. Sistem perbankan hari ini tak ubahnya wahana permainan dimana kita semua pion-pion kroco yang menjadi garda depan permainan ini. Keuntungan yang kita dapat dari jual-beli saham atau investasi apapun hanya persoalanan itung-itungan sederhana. Tapi tetap saja orang-orang yang paling bekerja keras untuk betul-betul membuat angka itu berharga hanyalah orang-orang yang mengekstraksi hasil bumi, lalu selanjutnya yang memproduksi dan mengolah. Tanpa mereka, angka itu tidak berharga. Tengoklah Venezuela kalau belum yakin.

Jadi, dibandingkan menempatkan uang sebagai tujuan, saya kira dia harus tetap ditempatkan sebagai perantara, penengah, media, alat, untuk mendapatkan sumber daya yang akan menjamin kelangsungan hidup, mental, dan intelektual kita sebagai manusia. Karena tidak lahir dengan kekayaan sumber daya itulah kita membutuhkan uang untuk mendekatkan diri ke sumber daya itu.

Perkaranya, kini orang mengubah posisinya dan cenderung menyerahkan sumber daya untuk mendapatkan uang. Dan ini juga terkait intelektualitas dan moral. Kan bego.

Ah sudahlah, saya mau tidur dulu. Atas ketidakjelasan narasi dan kesulitan memahami maksud, saya mon maap.

wordsflow

tentang hari kemarin.


Manusia terpisah sepenuhnya dengan apa-apa yang tidak pernah dialami olehnya. Tapi kita punya hal-hal yang bisa membantu kita untuk memahami dan berempati, pertama adalah imajinasi, dan kedua adalah memori.

saya yang kemarin

Baiklah kita mulai tulisan ini dengan sebuah sempalan pemikiran yang tiba-tiba mampu saya sarikan dari permikiran saya yang yah, rumit. Saya katakan demikian karena selama sekian lama saya meyakini bahwa imajinasi dan kemampuan manusia untuk berkesenian merupakan hal yang amat sangat penting dalam fungsinya untuk membantu kita merencanakan, melakukan, dan memaknai hidup tapi saya selalu bingung menyarikan pemikiran itu ke dalam kalimat yang mudah dipahami. Walhasil, perbincangan mengenai hal tersebut atau diskusi-diskusi yang terbentuk sebatas pada ungkapan kegelisahan saya tanpa betul-betul mampu saya jelaskan kenapa pernyataan itu muncul, tujuan adanya diskusi tersebut, dan apa korelasinya dengan hidup.

Kebetulan sekali saya baru membaca Sapiens setelah saya anggurin selama satu tahun terakhir. Tidak jauh berbeda dengan semua buku yang membicarakan tentang evolusi makhluk hidup dengan sengaja atau tidak kemudian membahas manusia sebagai pokok perbincangannya, kesemuanya menempatkan ‘kemunculan’ manusia atau dalam bahasa lebih kerennya adalah evolusi manusia sebagai sesuatu yang menurut saya, absurd. Dengan fakta-fakta yang terkumpul bahwa pembentukan manusia murni sebagai sebuah proses evolusi yang tidak sengaja, dimana geraknya juga mana suka dan bahkan perkembangannya juga tidak terduga, saya merasa bahwa yah, kita ini biasa saja. Sebatas buah dari ketidaksengajaan semesta.

Saya tentu akan dikutuk oleh manusia beriman di hari ini jika dengan entengnya berkata demikian, tapi mari akui hal itu. Meski demikian, begitu saya mencoba untuk memasuki keyakinan bahwa manusia tercipta sebagai proses evolusi, ada bagian diri saya yang berontak dan menafikkan fakta itu. Pertama, disamping karena dengan mencoba meyakininya saya menjadi insecure, saya juga tidak suka karena dengan demikian, saya jadi menganulir proses berpikir yang saya lakukan sekarang ini, detik ini. Apa sebab? Karena jika memang evolusi berjalan begitu saja dan mana suka, artinya tidak ada hal khusus yang sebetulnya ditujukan untuk individu atau makhluk tertentu karena jelas, semua orang memiliki kesempatan berkembang yang sama sebagaimana yang lainnya. Saya hanya buah ketidaksengajaan; lalu saya ini apa?

Anehnya, pada saat yang bersamaan pernyataan barusan juga secara tidak langsung mempercayai bahwa akan ada individu atau entitas tertentu yang punya daya juang dan daya lesat jauh mengungguli entitas lainnya. Bukankah itu jadi membingungkan karena perdebatan ini akhirnya juga saya debat kembali dengan pernyataan yang berlawanan. Kadang saya berhenti membaca sesuatu karena kegelisahan saya meningkat dan tidak tertanggungkan. Seperti misalnya mencoba mendalami Sapiens dan mempertanyakan “Apa jangan-jangan pada akhirnya hidup sebegitu tidak ada gunanya? Bahwa kita betul-betul tanpa kecuali hanya sebatas satu makhluk biasa di antara 7 milyar yang lainnya”.

Beruntungnya, Harari tidak berhenti sampai di awal penjelasannya tentang manusia. Masih ada bab-bab lain yang akan bisa menjelaskan kegelisahan saya dan mungkin menjawab pertanyaan eksistensial saya yang sampai hari ini belum juga terjawab oleh diri saya sendiri. Tapi secara singkat pusat kegelisahan saya memang hanya pada tahap kemunculan dan proses pembentukan spesies kita. Jadi yah, bagian selanjutnya tidak serta-merta menenangkan pemikiran saya, pada akhirnya. Hehe.

Well, anggaplah kemudian bahwa beberapa paragraf di atas adalah permulaan dari pembahasan saya lebih lanjut tentang hal-hal yang saya pikirkan. Postingan ini hanya sebatas ingin menjelaskan tentang pernyataan di awal mengenai pentingnya imajinasi dan seni–setidaknya begitulah yang saya bayangkan.

Pertama-tama, semua ini bermula karena kegelisahan saya ketika sedang mengambil studi lintas jurusan lantas begitu sering mendapatkan pertanyaan mengenai alasan saya mengambil studi demikian. Kadang terasa begitu naif ketika menjawab bahwa saya ingin mempelajari hal yang saya suka atau setidaknya membuat saya penasaran. Toh akhirnya saya juga berakhir di bangku ini menjadi pekerja kantoran dan melakukan kerja-kerja harian yang menurut kebanyakan orang membosankan.

Tapi bukan itu persoalannya. Beberapa kali dalam perbincangan saya dengan sahabat saya sejak kecil memunculkan kesadaran bahwa inti perkembangan kita ada pada akhirnya soal imajinasi. Bahwa sebagaimana yang juga dikatakan oleh Harari, Diamond, Marx, atau banyak tokoh antropologi, sosiologi, atau bahkan tukang dongeng sekalipun, kesemuanya, secara langsung maupun tidak langsung berkata bahwa manusia berkembang dan mengembangkan kemampuannya atas dasar mitos, imajinasi, atau harapan-harapan tentang sesuatu yang tidak ada, belum mewujud, sesuatu yang baru akan ada di masa depan. Itu juga berlaku pada keinginan untuk berkreasi maupun dalam aspek apapun yang dilakukan manusia di dunia ini.

Jadi, eksistensi kita tidak berhenti sebatas pada apa yang saya lakukan sekarang. Bahwa saya menjadi pekerja kantoran dan rela duduk 8 jam dalam sehari melakukan hal monoton yang membosankan tidak serta merta menurunkan makna saya sebagai individu. Pun tidak lantas seseorang lain yang mungkin memiliki keseharian yang jauh lebih dinamis menjadi orang yang bermakna lebih dibandingkan dengan saya yang biasa saja.

Pada titik inilah kemudian saya tersadar bahwa demikian, dalam posisi apapun kita tidak lantas menjadi entitas yang sekadarnya saja, yang bukan menjalani sesuatu karena memang begitulah jalan yang harus kita lalui, bukan sebuah ketidaksengajaan yang mana suka lagi karena kita bukan organisme tanpa kesadaran. ‘Kepasrahan’ pada jalan hidup yang akhirnya kita terima bukan pada persoalan apa yang dikasih, lagi-lagi semua ini bermula dari apa yang kita imajinasikan tentang sesuatu yang ingin kita dapatkan. Bingung nggak?

Saya bayangkan misal pada kurikulum pendidikan yang menghilangkan pendidikan keterampilan dan belakangan ilmu sosial, akan secara perlahan menghilangkan kemampuan kita untuk menciptakan dan berempati karena kita pelan-pelan kehilangan imajinasi tentang itu. Pengembangan kreativitas atau ‘ekstraksi’ imajinatif kita akan sesuatu, misalnya dalam menciptakan kerajinan, bermusik, atau hal-hal non-praktikal dan keilmuan lainnya sebetulnya membantu kita mencerminkan eksistensi kita pada sesuatu di luar diri, apapun itu. Pada benda mati, pada hasil karya kita, pada entitas lain, pada manusia lain, pada maha luasnya alam semesta, atau pada fananya tubuh manusia.

Sebetulnya ini juga semacam repetisi pemikiran internal saya setiap kali kecemasan meningkat. Ada hal-hal yang tetap istimewa bagi saya sebagai sebuah entitas tunggal, bahwa misalnya, saya bisa mencintai satu orang secara khusus di hidup saya. Atau jika benar kita sebegitu tidak berguna, ada begitu saja dan tanpa tujuan, setidaknya saya masih bisa melihat ketersesatan itu dialami banyak orang secara bersama-sama. Dan oleh karenanya kita menjadi sesuatu setidaknya untuk satu sama lainnya.

Persoalan imajinasi ini menjadi sebuah pokok pemikiran saya dan juga untuk menjelaskan kenapa saya butuh media untuk mengekspresikan pemikiran saya atau hal-hal yang saya pikirkan untuk mewujud di dunia ini. Misalnya alasan-alasan kenapa saya tetap menulis, mengerjakan hal-hal kecil seperti merajut, menggambar, membuat buku, berimajinasi, mengarang cerita, atau bahkan bermimpi dan membangun cita-cita baru, pada dasarnya adalah upaya untuk menjadikan perjalanan hidup tidak sekadar soal penerimaan. Pun dengan berbagai upaya pengembangan imajinasi itu dan memperkaya pengalaman hidup apapun, saya memiliki bekal yang cukup untuk menempatkan diri pada posisi entitas lain yang ingin saya pahami.

Tapi kemudian harus saya sampaikan bahwa tulisan ini tidak bermaksud mengajak kalian untuk melakukan sesuatu atau beralih menyetujui pendapat saya. Lagi-lagi semua ini saya tuliskan untuk menenangkan keresahan eksistensial saya sebagai manusia dan sebagai individu dan karenanya, biarkan saya cukup puas dengan penjelasan ini.

Saya hanya merasa menemukan sesuatu yang sebelumnya berada pada posisi ‘sepertinya saya paham tapi sulit menjelaskan’. Barangkali rangkaian kalimat ini masih begitu membingungkan untuk pembaca sekalian, atau ternyata kalian anggap sebagai ‘oh, itu mah aku juga paham’. Untuk itu harus saya katakan bahwa saya tidak masalah dengan apapun yang kalian pikirkan. Petualangan saya untuk mempertanyakan hal-hal dan mencari jawabannya toh tidak akan berhenti hanya dengan penjelasan ini. Barangkali–siapa yang tahu?–ini hanyalah hal-hal yang saya percayai sejak saya pahami hingga saya selesai mengetikkan semuanya, hehe. Tapi begitulah, memang kita akan terus menerus dibelenggu oleh pertanyaan eksistensial. So cheers!

wordsflow