WORDS FLOW

just go with the flow and whatever happens, happens

Category: on Opinion

selamat hari keluarga nasional,


Malam ini saya ingin menulis sesuatu, entah apa jadinya nanti. Biarlah sudah.

Mari memulai dengan sebuah premis, “what makes a family, family?”

Dalam antropologi, kita mengenal bahwa terminologi keluarga (atau fam) memiliki pergeseran makna dalam perkembangan kebudayaan manusia. Ketika masyarakat masih hidup dengan cara berburu dan meramu, serta hidup nomaden, seorang anak adalah anak dari klannya, dan tidak betul-betul melekat pada satu keluarga inti. Anak bukanlah anak-siapa melainkan generasi penerus atas suatu kelompok sosial tertentu. Anak yang lahir di dalam kelompok menjadi tanggung jawab keseluruhan kelompok untuk memastikan segala kebutuhannya tercukupi.

Barangkali kita membayangkan itu sebagai yang patut dikasihani (?) Bahwa anak ini mungkin tidak akan sungguh-sungguh mendapatkan kasih sayang orang tua kandungnya. Bahkan barangkali ia tidak memiliki kedekatan dengan ibunya karena bisa jadi disusui oleh ibu yang lain. Bisa pula ia belum pernah melihat bapaknya atau ternyata bapaknya juga dimiliki oleh anak-anak lain yang bukan anak ibunya. Dan semua ‘barangkali’ yang menyayat hati didasari atas norma etika sosial kita soal keluarga di hari ini.

Perkembangan berikutnya dari kelompok sosial berdasar kekerabatan dan berbasis darah ini kemudian berkembang ke level berikutnya, dimana keluarga adalah mereka yang memiliki garis keturunan sedarah dengan keluarga inti sebelumnya. Setelahnya, keluarga ini membangun simbiosis mutualisme dalam kaitannya untuk memastikan garis keturunan mereka tidak putus, memastikan bahwa mereka akan bisa makan setahun penuh, dan memiliki jaminan kesejahteraan untuk generasi selanjutnya dalam bentuk lahan pertanian.

Keluarga mengubah dirinya sendiri agar cocok dengan kondisi kultural mereka sebagai kelompok yang bercocok tanam. Pembagian kerja yang efisien dengan beban tenaga kerja untuk diberi makan dianggap perbandingan yang layak untuk mempertimbangkan seseorang bisa masuk ke dalam ‘keluarga’ atau tidak. Mereka yang berada di dalam garis keturunan sedarah memiliki kewajiban untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh kepala keluarga, dan karenanya memiliki hak juga untuk mendapatkan makan dari jatah kerja hariannya.

Akhirnya kita kemudian mengenal kelompok yang lebih kecil lagi, yaitu keluarga inti. Ketika jaminan hidup tidak lagi hanya bisa didapat dari bertani, maka ketergantungan orang pada lahan pertanian menjadi semakin berkurang, mutualisme dan upaya mempertahankan jumlah anggota keluarga yang cukup banyak tidak lagi diperlukan karena mereka bisa mendapatkan uang dari kerja selain bercocok tanam. Demikian, simbiosis mutualisme yang diperlukan semakin dipersempit pada kelompok yang lebih kecil dengan pembagian peran yang relatif lebih ringan dibandingkan sebelumnya.

Sampailah kita pada model keluarga yang kini kita sebut sebagai ‘keluarga’.

Tapi perkara tidak berhenti di sini. Pernah dengar istilah kekerabatan fiktif? Saya lupa teori siapa tapi bodo amat. Singkatnya, kekerabatan fiktif terbentuk karena ikatan-ikatan tidak langsung seperti  hubungan darah atau pertukaran dan pernikahan. Penjelasan soal kenapa kamu bisa begitu berkorban untuk temanmu atau kolegamu tuh ada di bagian ini penjelasannya. Dan karenanya bentuknya bisa betul-betul mana suka. Kadang kamu bahkan harus mengulik begitu dalam alasan di balik kuatnya kekerabatan fiktif yang dibangun oleh dua individu atau suatu kelompok tertentu.

Dan di era perinternetan yang menciptakan begitu banyak dunia paralel untuk kita, kita menemukan jauh lebih banyak keanehan bentuk-bentuk keluarga. Kamu bisa begitu rela mati demi junjungan politikmu, bisa gontok-gontokan tanpa lelah di twitter demi membela kelompok tertentu atas nama HAM, dan seterusnya, dan seterusnya. Kita membentuk jaringan kekeluargaan baru berdasarkan pada budaya baru yang kita miliki sebagai masyarakat modern dengan istilah ‘netizen/warganet’ sebagai bentuk integralnya. Bayangkan, bahkan jejaring warganet bisa sangat keluar dari batas-batas dan zonasi yang kita bangun selama masa modern pra internet.

Kita mengalami gegar. Gegar budaya untuk meneken pada kelompok yang mana kemelekatan kita terpaut lebih erat. Kita menjadi sulit untuk memahami sebetulnya mana yang lebih bisa diandalkan dan dijadikan prioritas dalam membantu kita menjalani kompleksitas hidup kapitalistik ini.

Saya baru menyadari belakangan, bahwa dibandingkan kebingungan dalam menentukan kelompok, saya lebih terkejut karena ternyata saya begitu terikat pada wujud paralel atas Aku yang mewujud secara imajiner. Saya dalam keseharian, buku harian, chat, sosial media A B C D sampai Z, memiliki wujud, citra, pemikiran yang sedikit banyak berlainan. Setiap kali membaca selalu ada yang dirasa mengejutkan, seolah baru kali pertama saya bertemu dengan wujud tersebut. Dan itu sangat melenakan.

Pertanyaan-pertanyaan eksistensial mulai bermunculan dan menjadi relevan kembali. Kekhawatiran lama mulai menyeruak ke permukaan, dan sialnya perasaan-perasaan yang sebelumnya juga mulai bertebaran membentuk ranjau. Ganas dan tanpa ampun.

Dalam nuansa ini saya bertanya-tanya soal relevansi keluarga di dalam hidup kita sebagai individu. Karena akhirnya begitulah budaya berinternet telah mempersempit ruang ketergantungan kita pada keluarga inti sebatas pada layar ponsel. Eksistensi mereka nyaris tidak dibutuhkan selama mereka masih muncul di layar 5 inci yang kita—ah saya—pegang.

Tentu tidak semua insan di negeri ini seterjebak ini. Jelas sekali bahwa ikatan keluarga inti masih kental sekali dalam kultur Indonesia. Contohnya bisa dilihat di pemakaman-pemakaman ketika anak, orang tua, istri, atau suami menangisi kepergiaannya. Atau orang yang depresi karena ditinggal anggota keluarga. Dan semua cerita-cerita serupa lainnya.

Tapi kembali lagi, perubahan ikatan ini mengubah ketergantungan pada keluarga menjadi bergeser ke diri sendiri. Kamu menjadi orang yang bergantung lebih kepada diri sendiri, dalam hal kepercayaan, kebahagiaan, dan lain sebagainya. Naas, karena kemudian bisa jadi, bentuk-bentuk itu akhirnya yang justru akan menguatkan egomu, menyelubungi dirimu dengan ke-Aku-an yang lebih erat, kental, dan tidak tertembus. Dan pada titik ini, tiada orang lain yang bisa menyelamatkanmu kecuali dirimu sendiri.

Jadi yah, kira-kira begitulah premis awal membawa saya pada pembahasan mengenai egoisme yang belakangan cenderung meningkat di dalam diri saya, remah-remah yang sebelumnya saya sepelekan sekarang sudah menjadi sarang yang nyaman. Sial.

Untuk itu, agaknya mengucapkan selamat hari keluarga nasional sedikit kurang relevan dengan kondisi saya kini. Tapi yah, untuk kalian nggak papa deh.

Demikian, jika ada pertanyaan silahkan menghubungi kepribadian saya yang nomor 213 melalui nomor whatsapp yang Anda sekalian ketahui. Dan semoga berkenan. Tabik.

wordsflow

Konsumsi


Dalam beberapa hari belakangan, topik tentang konsumerisme dan kapitalisme entah kenapa muncul kembali di dalam jangkauan pandangan saya, baik melalui linimasa media sosial maupun muncul kembali sebagai sebuah kesadaran. Anehnya, saya tidak lagi merasa terganggu sebagaimana yang saya rasakan sebelumnya terhadap kesadaran soal ini meskipun sungguh memusingkan memikirkan harga properti dan membayangkan akankah saya akan berhasil membeli sebidang tanah untuk hari pensiun saya nanti. Hhhhnnnnhhhhh.

Di tengah segala kemudahan yang hadir di hari ini, kita kemudian tidak lagi dihadapkan pada kesulitan untuk mencari sesuatu yang sebelumnya ‘langka’. Apapun yang kita butuhkan kini hanya berjarak sejangkauan tangan. Satu-satunya penghalang kita adalah kemampuan finansial semata.

Tapi tenang, sistem kapitalis juga berupaya untuk menghilangkan penghalang itu bagi kita sehingga apapun yang kita harapkan akan dengan mudah kita dapatkan. Sebut saja fasilitas digital finance dengan segala penawaran menariknya, kartu kredit, kebijakan pay later, dan sebagainya. Kita dipaksa mengambil hutang dan memilih hutang sebagai cara yang paling ‘benar’ karena pelayanan cenderung menolak pembayaran langsung dan lebih memilih kredit. Hampir semua perjalanan ke luar negeri membutuhkan kartu kredit. Hampir semua transaksi jual-beli ke luar negeri mewajibkan kartu kredit. Bahkan kartu kredit menawarkan diskon yang jauh lebih besar dan membuat semua orang semakin merasa terdorong untuk memiliki kartu kredit.

Padahal kita memiliki uang di rekening sendiri, tapi bahkan jaminan itu tidak cukup untuk meyakinkan bahwa kita betul-betul bisa membayar hal-hal yang kita inginkan. Kesel nggak sih?

Saya ingat pernah begitu bersemangat membuat akun di Etsy sewaktu awal masuk kuliah, tapi segala upaya selalu terhenti pada jaminan kartu kredit dan yasudah, sampai sekarang saya tidak pernah berhasil mencari alternatif lain agar bisa melakukan transaksi antar negara.

Topik mengenai konsumerisme ini sebetulnya klise sih. Tapi begitu saya mengikuti akun finansial di salah satu platform sosial media, membaca berbagai cerita tentang tantangan finansial masing-masing orang, saja jadi bertanya-tanya sebetulnya apa cita-cita finansial yang dimiliki masing-masing orang. Juga menarik sekali ketika saya ditawari untuk membuat tabungan rencana dengan iming-iming bunga tertentu, serta tambahan iming-iming dari petugasnya “Siapa tahu tahun depan bisa jalan-jalan ke luar negeri”. Oh well, demikian secara serampangan saya artikan bahwa jalan-jalan ke luar negeri adalah kegiatan yang sedang menjadi tren di kalangan masyarakat seumuran saya, apalagi yang sudah memiliki penghasilan sendiri.

Di tengah huru hara ini, kita menjadi manusia-manusia yang seolah kehilangan esensi mencari uang. Apakah betul kita bekerja sekedar untuk mampu membeli ini dan itu? Apakah hidup akhirnya hanya sebatas upaya untuk mengejar standar kehidupan yang begini atau begitu? Beberapa kelompok manusia sungguh-sungguh hidup dari paycheck to paycheck ada yang meletakkan standar kemampuan finansial di sebelah agak jauh jalur hidupnya, dan ada juga yang sungguh tidak peduli dengan finansialnya.

Lalu terminologi work-life balance tiba-tiba menjadi terma yang sering kali muncul di sekitar saya, apalagi setelah kepindahan saya ke ibukota. Antara berada di skeptisme atas jaminan keseimbangan hidup di kota dan ketahanan diri untuk memastikan bahwa gaya hidup mayoritas ibukota tidak akan pernah menggerus gaya hidup saya dan saya akan tetap bertahan menjadi manusia-manusia yang waras tanpa merasa kekurangan.

Saya sedikit merasa aneh ketika menemukan beberapa teman saya yang merasa begitu menderita hidup di kota ini. Saya akui memang Jakarta membuat seseorang bisa begitu merasa kesepian. Tapi tidak ada yang bisa menjamin bahwa dengan tinggal di kota kelahiran kita, atau kota favorit kita, kita tidak akan merasakan hal yang serupa. Sebuah kota tidak seharusnya bertanggung jawab atas apa yang sedang kita rasakan. Betul juga bahwa kehadiran atau ketidakhadiran seseorang di dalam hidup kita akan membawa perubahan, tapi menurut saya ada seribu satu substitusi yang bisa membantu kita merasa lebih ‘akrab’ pada sebuah kota.

Ada juga yang bilang bahwa saya sebetulnya punya selera metropolitan, tapi tuduhan itu juga saya pikir tidak beralasan. Saya hanya kerap mudah merasa nyaman pada suatu tempat, dan begitu merasa nyaman tidak mudah bagi saya untuk berpindah. Saya jarang pindah kos-kosan, apapun yang terjadi pada tempat itu, lebih suka memakai pakaian, tas, atau sepatu yang itu-itu saja, dan tidak merasa butuh berganti tanpa ada paksaan tertentu atau alasan tertentu. Barangkali ini juga yang membuat saya lulus lama? Hahaha. Bukan ding, kalau yang itu murni karena faktor kemalasan.

Dan betul juga sebetulnya, konsumerisme menjadi hal yang tanpa sadar diimani oleh semua orang, yang muslim konservatif, atau bahkan yang ateis, yang tidak peduli pada lingkungan atau bahkan yang mengaku sjw (akhirnya saya tahu arti singkatan ini). Setiap protes, setiap kritik, ideologi, bahkan kepercayaan menciptakan pasar baru yang bisa menghasilkan keuntungan bagi para pelaku bisnis. Saya juga menggunakan cara ini untuk mencari pembeli, yah jujur saja. Hanya satu yang membuat saya sebal karena orang-orang cenderung merasa gaya konsumsinya jauh lebih baik dibandingkan orang lain dengan membeli sesuatu atau tidak.

Misal munculnya tren sedotan besi atau sedotan bambu karena adanya protes terhadap penggunaan sedotan plastik. Jujur saja, sebetulnya klaim itu tidak berarti karena kita tidak butuh sedotan sama sekali, mau yang plastik ataupun yang besi. Pun tidak ada yang sungguh tahu apakah sedotan besi akan memberikan dampak kerusakan lingkungan yang lebih kecil atau tidak. Juga gaya berpakaian, baik yang muslim atau bahkan yang mengikuti tren MetGala, semuanya hanya memberikan keuntungan lebih banyak pada pengusaha tekstil, dan memunculkan potensi besar produksi pakaian, dan demikian juga potensi sampah dan limbah yang dihasilkan dari proses produksi itu. Belum lagi yang mengagungkan metode konmari Marie Kondo, sangat ada kemungkinan bahwa yang terjadi adalah konsumerisme gaya Marie Kondo, mengganti perkakas rumah tangga sesuai style adaptasi konmari, dan sebagainya.

Di samping kritik saya atas hal ini, saya juga menyadari bahwa saya orang yang sering membeli, meskipun saya pelit luar biasa pada persoalan harga. Lebih sering saya membeli sesuatu yang sangat murah dengan kualitas yang lumayan setelah mencari dengan super seksama di platform marketplace langganan saya, menggunakan segala promo pembelian online yang akhirnya membuat saya jauh lebih untung. Memuaskan diri sendiri tampaknya sedikit lebih sulit di hari ini karena standar yang bertebaran di luar sana. Mudah sekali merasa terintimidasi karena sesuatu dan bersikap biasa saja adalah salah satu cara yang paling mujarab.

Saya sering merasa sangat berterima kasih pada masa-masa perkuliahan saya yang memberikan sumbangsih pemikiran dan kesadaran yang tinggi atas setiap perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidup. Meskipun sederhana, gaya hidup bisa membuat orang merasa terbebani dan bahkan membawanya pada ketidakbahagiaan. Sesuatu yang saya pikir menyedihkan karena terjadi di kota yang menyediakan segalanya.

Akhir kata, akhirnya saya menorehkan tulisan lagi setelah sebulan tidak berhasil menghasilkan satu tulisan pun. Di sela satu bulan ini, saya sempat menghabiskan waktu untuk merenungi secara mendalam tentang tujuan saya untuk hidup. Barangkali kapan-kapan akan saya bagi sedikit. Tapi saya sendiri juga merasa bahwa memaknai hal seabsurd ini tidak layak untuk dibagi pada jiwa-jiwa tenang seperti pembaca sekalian. Jadi yah, kapan-kapan saja. Semoga kita selalu berada dalam kesadaran atas hal-hal yang kita lakukan.

wordsflow

I am constantly inspired by people who do musics


Hari ini kantor libur, dan karenanya saya mendaftar beberapa hal yang harus saya lakukan sebagai kompensasi atas waktu luang yang saya dapat di tengah kekacauan Jakarta yang yah, sebetulnya tidak saya rasakan nyata begitu dekat. Hanya sirine yang terdengar berseliweran di jalan belakang kosan yang tepat bersebelahan dengan Kali Ciliwung. Lalu sudah dari kemarin pagi ada pengalihan arus dan pengumuman perubahan lalin untuk jalur-jalur rawan angkutan umum. Sungguh sebuah kemudahan hidup di jaman google maps dan segala perangkat pendukung informasi yang berfungsi real time.

Eniwei, saya sudah mencontreng empat dari enam agenda hari libur ini. Berhubung agenda yang ke enam agaknya tidak akan terlaksana, maka saya berusaha merampungkan agenda ke 5 demi tercapainya persentase keberhasilan yang lebih tinggi, hehe.

Topik ini tentang Fajar Merah, dan secara luas tentang orang-orang yang bermusik.

Kemarin lalu saya menjumpai poster tentang penayangan film dokumenter Nyanyian Akar Rumput. Sempat salah sangka kalau itu akan menceritakan Wiji Thukul, ternyata film itu lebih melihat anaknya sebagai seorang musisi, juga sebagai seorang anak. To be honest, saya sungguh-sungguh tidak kenal dan tidak tahu menahu soal Wiji Thukul. Dibandingkan kawan-kawan saya baik yang mawas politik dan sejarah, juga narasi-narasi perjuangan, pembaca buku, atau bahkan pecinta film Istirahatlah Kata-Kata yang jauh lebih kenal siapa Wiji Thukul, saya hanya sebatas tahu kalau Wiji Thukul hilang sejak kerusuhan 1998. Sementara kawan-kawan saya sudah dengan fasihnya menyebut nama ini di beberapa diskusi, juga mengutip tulisan atau puisinya, saya cuma bisa mengingat cover bukunya yang berwarna kuning, kerap saya lihat di toko buku.

Maka, saya anggap upaya saya menonton film ini sebagai langkah untuk mencari tahu siapa orang ini. Barangkali dengan menontonnya empati dan kepedulian saya akan meningkat.

Saya sendiri baru dua kali menonton Fajar Merah manggung saat masih di Jogja. Saya suka gubahan musiknya. Tapi sebagaimana juga dirasakan oleh ibunya, saya merasa musik Fajar tidak menyuarakan heroisme, tapi cenderung lebih romantis. Dia cenderung sedang melakukan pencarian, dan mengekspresikan emosinya. Dari beberapa rekaman panggungnya, aksi teatrikalnya mengekspresikan emosinya sendiri, apapun itu bentuknya. Barangkali yang ia rasakan jauh lebih rumit dari yang terlihat.

Ketika menonton film ini, saya kembali tersadar kalau kita lebih sering sok tahu tentang hal-hal yang dirasakan seseorang, dipikirkan seseorang, dipahami seseorang. Meski cara saya menulis ini juga penuh dengan asumsi, tapi saya juga menyadari bahwa yang saya lihat bukan ‘penerus’ Wiji Thukul, tapi sebatas anak laki-laki yang juga sedang mencari dirinya sendiri.

Musiknya romantis, dan cenderung tidak penuh kemarahan. Ia mengingatkan lewat larik, dan mencoba menyentuh lewat nada, bukan sebaliknya. Aksi panggungnya adalah ungkapan, entah ungkapan jenis apa, tapi selalu ada yang berbeda, ada proses, ada pendalaman.

Barangkali hal-hal ini yang begitu saya sukai dari pemusik. Emosi-emosinya tersimpan, terbaca, tersampaikan lewat nada, irama, dan lirik yang mereka gubah. Aksi panggungnya adalah ekspresi ayas perasaan yang melekat saat itu di tempat itu, atau bisa juga merupakan kumpulan memori-memori yang lalu. Dan sangat menarik untuk menyadari bahwa aksi panggung cenderung menyimpan kejutan, kontekstual, dan begitu ‘sementara’.

Salah satu hal yang secara pribadi membuat Fajar Merah menarik bagi saya adalah tatapan matanya. Bukan hanya dia, semua orang di dunia ini memiliki tatapan mata yang menarik hati saya. Semua orang menggambarkan ‘ketelanjangan’ dan ‘teka-teki’ lewat tatapan matanya. Manusia selalu menarik, selalu membuat saya tertarik, sekaligus kalut dan takut pada saat yang persis sama.

Well, jenis manusia yang jauh lebih menarik adalah mereka yang bermusik. Ah bukan, yang melakukan hal-hal paling mereka sukai dengan kesungguhan. Cara mereka menatap sesuatu bisa membuat saya tertampar, sekaligus tersinggung dan iri. Somehow.

wordsflow

nothing’s more important than money


I am not in a really good mood, but somehow after for days discussing about this, and analyzed something that might related to this, read some stories on social media, also attached my own problem and opinion about this thing, let’s doubt ourselves and to the bigger society nowadays.

Some of my research regarding to waste practice through waste bank movement found out some precedents about how people dealed with our current environmental problems. Everything’s good, people encourage another community to give their effort to do the same, the government, academics, people overseas give recognition to some movement but at the end we both ask the same question; does finally everything we do is all about gaining more money, at the end?

This is very interesting for me because I feel the same. Somehow, what I do, what I choose, what I’m into, it directly or indirectly because of money so that I could continue life with no doubt.

I’ll make this quick because I really need some sleep.

I cannot say that we all do, but most of us really money oriented today. Oke pakai bahasa Indonesia aja biar gampang.

Barangkali ini bukan asumsi yang asing buat kita bersama, udah sering disebut dimana-mana kalau sekarang tuh apa-apa harta, tahta, dan Raisa (kalo saya sih Velove Vexia). Dan selama bertahun-tahun, saya masih menanamkan keyakinan bahwa ada yang nggak begitu kok, yang hidupnya biasa saja dan cuma ingin hidup harmonis dengan apapun yang disediakan, atau well, ‘rejeki mah gak akan kemana’ jadi nggak perlu pelit sama orang, dan seterusnya.

Tapi kemudian saya berpetualang ke timur jauh sana, yang saya temui, orang-orang yang serupa, meskipun kadang dengan narasi yang jauh lebih panjang, dan jalan yang lebih berliku, di tempat-tempat lain juga tidak jauh berbeda meskipun dengan narasi yang jauh lebih halus dan segala yang menyelimutinya. Di waktu-waktu tertentu hal-hal ini menutupi kepercayaan saya pada niat baik orang lain dan cenderung membuat saya tetap merasa sangsi meskipun hanya sebagai pendamping dari upaya saya memahami narasi yang disampaikan lawan bicara.

Bukan tidak jarang saya dikejutkan dengan orang yang sungguh-sungguh apa adanya, tanpa basa basi dan tulus begitu saja. Tapi itu keberuntungan saja, hanya segelintir orang. Pun saya sering curiga itu dilakukan dengan asas ‘Allah akan mengembalikan rejeki kita berkali-kali lipat dengan caraNya sendiri’.

Well, again, saya berkawan cukup baik dengan rasa sangsi.

Tapi ibukota menampar saya keras sekali sampai-sampai hal yang sebelumnya hanya saya letakkan sebagai kecurigaan kini sungguh nampak terpampang di depan mata. Semua hal yang sifatnya money oriented dengan segala bentuk sindiran dan diskusinya dipaparkan gamblang dalam keseriusan atau kejenakaan. Sering merasa aneh ketika orang bangga dengan bunga hasil menanam saham, tapi sungguh bagi saya, hal itu masih tampak seperti permainan angka, tidak lebih meskipun nominalnya toh tetap bisa dipakai buat jajan.

Saya sendiri memandang uang dengan cara yang sedikit berbeda barangkali. Sistem perbankan hari ini tak ubahnya wahana permainan dimana kita semua pion-pion kroco yang menjadi garda depan permainan ini. Keuntungan yang kita dapat dari jual-beli saham atau investasi apapun hanya persoalanan itung-itungan sederhana. Tapi tetap saja orang-orang yang paling bekerja keras untuk betul-betul membuat angka itu berharga hanyalah orang-orang yang mengekstraksi hasil bumi, lalu selanjutnya yang memproduksi dan mengolah. Tanpa mereka, angka itu tidak berharga. Tengoklah Venezuela kalau belum yakin.

Jadi, dibandingkan menempatkan uang sebagai tujuan, saya kira dia harus tetap ditempatkan sebagai perantara, penengah, media, alat, untuk mendapatkan sumber daya yang akan menjamin kelangsungan hidup, mental, dan intelektual kita sebagai manusia. Karena tidak lahir dengan kekayaan sumber daya itulah kita membutuhkan uang untuk mendekatkan diri ke sumber daya itu.

Perkaranya, kini orang mengubah posisinya dan cenderung menyerahkan sumber daya untuk mendapatkan uang. Dan ini juga terkait intelektualitas dan moral. Kan bego.

Ah sudahlah, saya mau tidur dulu. Atas ketidakjelasan narasi dan kesulitan memahami maksud, saya mon maap.

wordsflow

tentang hari kemarin.


Manusia terpisah sepenuhnya dengan apa-apa yang tidak pernah dialami olehnya. Tapi kita punya hal-hal yang bisa membantu kita untuk memahami dan berempati, pertama adalah imajinasi, dan kedua adalah memori.

saya yang kemarin

Baiklah kita mulai tulisan ini dengan sebuah sempalan pemikiran yang tiba-tiba mampu saya sarikan dari permikiran saya yang yah, rumit. Saya katakan demikian karena selama sekian lama saya meyakini bahwa imajinasi dan kemampuan manusia untuk berkesenian merupakan hal yang amat sangat penting dalam fungsinya untuk membantu kita merencanakan, melakukan, dan memaknai hidup tapi saya selalu bingung menyarikan pemikiran itu ke dalam kalimat yang mudah dipahami. Walhasil, perbincangan mengenai hal tersebut atau diskusi-diskusi yang terbentuk sebatas pada ungkapan kegelisahan saya tanpa betul-betul mampu saya jelaskan kenapa pernyataan itu muncul, tujuan adanya diskusi tersebut, dan apa korelasinya dengan hidup.

Kebetulan sekali saya baru membaca Sapiens setelah saya anggurin selama satu tahun terakhir. Tidak jauh berbeda dengan semua buku yang membicarakan tentang evolusi makhluk hidup dengan sengaja atau tidak kemudian membahas manusia sebagai pokok perbincangannya, kesemuanya menempatkan ‘kemunculan’ manusia atau dalam bahasa lebih kerennya adalah evolusi manusia sebagai sesuatu yang menurut saya, absurd. Dengan fakta-fakta yang terkumpul bahwa pembentukan manusia murni sebagai sebuah proses evolusi yang tidak sengaja, dimana geraknya juga mana suka dan bahkan perkembangannya juga tidak terduga, saya merasa bahwa yah, kita ini biasa saja. Sebatas buah dari ketidaksengajaan semesta.

Saya tentu akan dikutuk oleh manusia beriman di hari ini jika dengan entengnya berkata demikian, tapi mari akui hal itu. Meski demikian, begitu saya mencoba untuk memasuki keyakinan bahwa manusia tercipta sebagai proses evolusi, ada bagian diri saya yang berontak dan menafikkan fakta itu. Pertama, disamping karena dengan mencoba meyakininya saya menjadi insecure, saya juga tidak suka karena dengan demikian, saya jadi menganulir proses berpikir yang saya lakukan sekarang ini, detik ini. Apa sebab? Karena jika memang evolusi berjalan begitu saja dan mana suka, artinya tidak ada hal khusus yang sebetulnya ditujukan untuk individu atau makhluk tertentu karena jelas, semua orang memiliki kesempatan berkembang yang sama sebagaimana yang lainnya. Saya hanya buah ketidaksengajaan; lalu saya ini apa?

Anehnya, pada saat yang bersamaan pernyataan barusan juga secara tidak langsung mempercayai bahwa akan ada individu atau entitas tertentu yang punya daya juang dan daya lesat jauh mengungguli entitas lainnya. Bukankah itu jadi membingungkan karena perdebatan ini akhirnya juga saya debat kembali dengan pernyataan yang berlawanan. Kadang saya berhenti membaca sesuatu karena kegelisahan saya meningkat dan tidak tertanggungkan. Seperti misalnya mencoba mendalami Sapiens dan mempertanyakan “Apa jangan-jangan pada akhirnya hidup sebegitu tidak ada gunanya? Bahwa kita betul-betul tanpa kecuali hanya sebatas satu makhluk biasa di antara 7 milyar yang lainnya”.

Beruntungnya, Harari tidak berhenti sampai di awal penjelasannya tentang manusia. Masih ada bab-bab lain yang akan bisa menjelaskan kegelisahan saya dan mungkin menjawab pertanyaan eksistensial saya yang sampai hari ini belum juga terjawab oleh diri saya sendiri. Tapi secara singkat pusat kegelisahan saya memang hanya pada tahap kemunculan dan proses pembentukan spesies kita. Jadi yah, bagian selanjutnya tidak serta-merta menenangkan pemikiran saya, pada akhirnya. Hehe.

Well, anggaplah kemudian bahwa beberapa paragraf di atas adalah permulaan dari pembahasan saya lebih lanjut tentang hal-hal yang saya pikirkan. Postingan ini hanya sebatas ingin menjelaskan tentang pernyataan di awal mengenai pentingnya imajinasi dan seni–setidaknya begitulah yang saya bayangkan.

Pertama-tama, semua ini bermula karena kegelisahan saya ketika sedang mengambil studi lintas jurusan lantas begitu sering mendapatkan pertanyaan mengenai alasan saya mengambil studi demikian. Kadang terasa begitu naif ketika menjawab bahwa saya ingin mempelajari hal yang saya suka atau setidaknya membuat saya penasaran. Toh akhirnya saya juga berakhir di bangku ini menjadi pekerja kantoran dan melakukan kerja-kerja harian yang menurut kebanyakan orang membosankan.

Tapi bukan itu persoalannya. Beberapa kali dalam perbincangan saya dengan sahabat saya sejak kecil memunculkan kesadaran bahwa inti perkembangan kita ada pada akhirnya soal imajinasi. Bahwa sebagaimana yang juga dikatakan oleh Harari, Diamond, Marx, atau banyak tokoh antropologi, sosiologi, atau bahkan tukang dongeng sekalipun, kesemuanya, secara langsung maupun tidak langsung berkata bahwa manusia berkembang dan mengembangkan kemampuannya atas dasar mitos, imajinasi, atau harapan-harapan tentang sesuatu yang tidak ada, belum mewujud, sesuatu yang baru akan ada di masa depan. Itu juga berlaku pada keinginan untuk berkreasi maupun dalam aspek apapun yang dilakukan manusia di dunia ini.

Jadi, eksistensi kita tidak berhenti sebatas pada apa yang saya lakukan sekarang. Bahwa saya menjadi pekerja kantoran dan rela duduk 8 jam dalam sehari melakukan hal monoton yang membosankan tidak serta merta menurunkan makna saya sebagai individu. Pun tidak lantas seseorang lain yang mungkin memiliki keseharian yang jauh lebih dinamis menjadi orang yang bermakna lebih dibandingkan dengan saya yang biasa saja.

Pada titik inilah kemudian saya tersadar bahwa demikian, dalam posisi apapun kita tidak lantas menjadi entitas yang sekadarnya saja, yang bukan menjalani sesuatu karena memang begitulah jalan yang harus kita lalui, bukan sebuah ketidaksengajaan yang mana suka lagi karena kita bukan organisme tanpa kesadaran. ‘Kepasrahan’ pada jalan hidup yang akhirnya kita terima bukan pada persoalan apa yang dikasih, lagi-lagi semua ini bermula dari apa yang kita imajinasikan tentang sesuatu yang ingin kita dapatkan. Bingung nggak?

Saya bayangkan misal pada kurikulum pendidikan yang menghilangkan pendidikan keterampilan dan belakangan ilmu sosial, akan secara perlahan menghilangkan kemampuan kita untuk menciptakan dan berempati karena kita pelan-pelan kehilangan imajinasi tentang itu. Pengembangan kreativitas atau ‘ekstraksi’ imajinatif kita akan sesuatu, misalnya dalam menciptakan kerajinan, bermusik, atau hal-hal non-praktikal dan keilmuan lainnya sebetulnya membantu kita mencerminkan eksistensi kita pada sesuatu di luar diri, apapun itu. Pada benda mati, pada hasil karya kita, pada entitas lain, pada manusia lain, pada maha luasnya alam semesta, atau pada fananya tubuh manusia.

Sebetulnya ini juga semacam repetisi pemikiran internal saya setiap kali kecemasan meningkat. Ada hal-hal yang tetap istimewa bagi saya sebagai sebuah entitas tunggal, bahwa misalnya, saya bisa mencintai satu orang secara khusus di hidup saya. Atau jika benar kita sebegitu tidak berguna, ada begitu saja dan tanpa tujuan, setidaknya saya masih bisa melihat ketersesatan itu dialami banyak orang secara bersama-sama. Dan oleh karenanya kita menjadi sesuatu setidaknya untuk satu sama lainnya.

Persoalan imajinasi ini menjadi sebuah pokok pemikiran saya dan juga untuk menjelaskan kenapa saya butuh media untuk mengekspresikan pemikiran saya atau hal-hal yang saya pikirkan untuk mewujud di dunia ini. Misalnya alasan-alasan kenapa saya tetap menulis, mengerjakan hal-hal kecil seperti merajut, menggambar, membuat buku, berimajinasi, mengarang cerita, atau bahkan bermimpi dan membangun cita-cita baru, pada dasarnya adalah upaya untuk menjadikan perjalanan hidup tidak sekadar soal penerimaan. Pun dengan berbagai upaya pengembangan imajinasi itu dan memperkaya pengalaman hidup apapun, saya memiliki bekal yang cukup untuk menempatkan diri pada posisi entitas lain yang ingin saya pahami.

Tapi kemudian harus saya sampaikan bahwa tulisan ini tidak bermaksud mengajak kalian untuk melakukan sesuatu atau beralih menyetujui pendapat saya. Lagi-lagi semua ini saya tuliskan untuk menenangkan keresahan eksistensial saya sebagai manusia dan sebagai individu dan karenanya, biarkan saya cukup puas dengan penjelasan ini.

Saya hanya merasa menemukan sesuatu yang sebelumnya berada pada posisi ‘sepertinya saya paham tapi sulit menjelaskan’. Barangkali rangkaian kalimat ini masih begitu membingungkan untuk pembaca sekalian, atau ternyata kalian anggap sebagai ‘oh, itu mah aku juga paham’. Untuk itu harus saya katakan bahwa saya tidak masalah dengan apapun yang kalian pikirkan. Petualangan saya untuk mempertanyakan hal-hal dan mencari jawabannya toh tidak akan berhenti hanya dengan penjelasan ini. Barangkali–siapa yang tahu?–ini hanyalah hal-hal yang saya percayai sejak saya pahami hingga saya selesai mengetikkan semuanya, hehe. Tapi begitulah, memang kita akan terus menerus dibelenggu oleh pertanyaan eksistensial. So cheers!

wordsflow

sebuah utas


Barusan saya membaca satu utas di twitter tentang mental illness.

Saya sering kali takjub dengan cara orang membahas suatu hal, menanggapi, mengaitkan dengan kondisi sekitar, membandingkan satu kasus dengan kasus lainnya, menarik kesimpulan, memberi sanggahan, atau pada akhirnya mencaci-maki suatu bahasan.

Belakangan memang self-diagnose sedang populer di media sosial. Sekiranya saya juga pernah melakukannya di manapun, misal di platform ini atau platform lainnya, saya minta maaf jika itu justru mengganggu teman-teman. Tapi mari membahas itu.

Begini, sebagai orang yang pernah mengambil tes kesehatan jiwa beberapa kali, merasa punya gangguan mental, hingga akhirnya betul-betul pernah ke psikolog, harus saya katakan bahwa orang-orang dengan gejala gangguan mental sering melakukan hal-hal yang menarik perhatian. Meski harus juga saya perjelas di awal bahwa saya bukan dokter jiwa jadi hal-hal yang saya sampaikan sebatas yang pernah saya alami saja ya.

Kecemasan sudah menjadi barang umum di sekitar saya dan mendapat sambutan hangat dari teman-teman saya begitu saya menginjak jenjang magister. Orang mendewasa dengan permasalahannya masing-masing yang mengubah skala prioritas atas masing-masing permasalahan ini. Beberapa kali kami sharing masalah hingga ke pembahasan pada inti-inti masalahnya. Cukup menarik karena salah seorang teman saya betul-betul menegosiasikan permasalahannya untuk mencari jalan keluar terbaik yang ia bisa. Hasilnya, segalanya berjalan lebih baik dari yang kami harapkan.

Dari begitu banyak obrolan saya dengan orang lain, beberapa hal yang bisa saya bagi adalah begini,

  1. Kita adalah orang yang paling mengenal diri sendiri. Hal-hal yang terjadi di hari ini bukanlah hasil dari waktu yang singkat, tapi menyejarah dan memiliki alur. Maka, penelusuran mengenai ini penting untuk dilakukan agar memahami hal-hal yang membentuk kita, titik balik dari masing-masing fase hidup, untuk akhirnya sampai pada inti persoalan eksistensi kita di dunia ini.
  2. Meski saya juga kurang sependapat, psikolog saya bilang bahwa segala hal yang kita rasakan adalah ekspresi dan reaksi atas apa yang masuk dan kita proses dalam pikiran. Jadi, berhentilah memikirkan hal-hal yang rumit atau hal-hal yang pada dasarnya belum memiliki kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Kadang kita lebih mudah termakan pikiran sendiri sementara faktanya toh tidak serumit itu.
  3. Chill. Atur diri sebelum memberikan reaksi. Tidak bertindak ketika marah atau sedih. Kalaupun harus, saya pikir hal-hal semacam itu bisa diekspresikan atau ditaruh di tempat-tempat khusus biar kita bisa memetakan perjalanan emosional kita sendiri.
  4. Meditasi dan hipnotis. Ini bagian yang belum saya selesaikan dan sayangnya harus saya tinggalkan karena satu dan lain hal. Tapi sudah pernah berhasil meskipun butuh lebih dari itu.

Intinya, saya ingin bilang bahwa tidak ada orang yang bisa bebas dari rasa cemas. Yang ada kita berkompromi dengan berbagai hal itu. Saya pikir bagian ini yang paling susah karena bukan hanya harus sampai pada tahap aksi, tapi sebelumnya kita harus betul-betul menggali tanpa ampun sumber-sumber permasalahan, lantas mengakuinya dengan berani dan berkompromi dengan apapun itu.

Saya menulis ini bukan dalam rangka sok pamer dan sok keren soal permasalahan ini. Tidak ada yang suka punya mood yang jelek, gangguannya banyak dan cenderung susah menahan hal-hal. Saya cukup beruntung memiliki ruang untuk membuang uneg-uneg dan menjadi diri saya sendiri. Saya katakan demikian karena banyak juga yang berakhir membebani orang di sekitar tentang persoalan ini.

Untuk bagian terakhir ini, saya berterima kasih kepada orang-orang yang pernah menjadi tumpuan saya dengan mau mendengarkan dan menerima uneg-uneg itu, mendengarkan dan merelakan dirinya saya seret paksa ke keruwetan pikiran saya. Tapi saya suka, saya cukup puas dengan proses ini.

Dan untukmu, sesiapapun yang belum sampai pada dasar galianmu, mari kita berjalan bersama. 🙂

Tabik.

kerja


Marx pernah mengatakan bahwa manusia membedakan dirinya dari entitas hidup lain karena kerja yang kita lakukan. Kerja yang mana? Kerja yang ekstraktif dimana kita mengolah sesuatu yang berada di luar diri untuk bertahan hidup. Tapi kerja kita semakin beragam hingga suatu hari saya berpikir betapa tidak bergunanya semua kerja-kerja non-produksi karena satu-satunya yang menjamin hidup kita adalah sistem finansial yang sudah didigitasi. Di luar itu? Kemungkinan manusia-manusia kota seperti saya menjadi yang paling kelaparan dan paling mengemis pertolongan ketika bencana besar melanda.

Yah, itu angan-angan saja, bukan hal yang nyata kok.

Tapi belakangan saya didera rasa muak yang tidak bisa betul-betul saya jelaskan. Tapi ini soal profesi yang dan hal-hal busuk yang dipaksakan untuk kita telan hingga akhirnya kita dengan suka rela menelannya dengan gembira.

Pertama-tama, sampailah saya di hari ini, di mana saya bisa menemukan setidaknya satu rekan saya di setiap kementerian, institusi independen bergengsi, perusahaan swasta bergengsi, kampus, sekolah-sekolah, hingga bahkan yang memilih mengatur sendiri penghasilannya dengan membangun usaha. Saya tersadar kemudian, bahwa inilah waktu dimana generasi kami bukan lagi generasi yang dihidupi, tapi juga sebagai generasi yang menghidupi generasi setelah kami.

Saya menyadari di samping itu juga, novel-novel teenlit yang sekitar 10 tahunan yang lalu menjadi bagian toko buku yang paling sering saya datangi sekarang bahkan tidak pernah saya lirik. Baik penerbit, pengarang, atau genre buku yang saya pilih telah begitu jauh berbeda. Sinisme saya juga saya anggap semakin meningkat seiring semakin banyaknya sudut pandang baru yang terbuka di sekitar saya.

Kalian bisa menerka maksud saya, saya pikir. Suatu waktu saat saya masih kecil, satu-satunya profesi yang bisa saya pikirkan adalah menjadi guru matematika karena itu satu-satunya profesi yang paling saya akrabi di masa itu. Tapi seiring waktu, cita-cita itu tentu saja berubah-ubah sesuai perkembangan ketertarikan saya dan hobi yang saya lakukan. Banyak hal terjadi hingga akhirnya sampai pula saya pada pilihan jurusan yang saya ambil di hari ini.

Entahlah, ketika menulis ini seolah saya yakin akan menulis apa, tapi saya merasa risih sendiri dengan pikiran saya.

Sekitaran kemarin atau dua hari lalu saya membaca ribut-ribut soal pengeluaran kelas menengah di Jakarta dalam sebulan. Well, jumlah itu terlalu fantastis buat saya yang menghabiskan jumlah yang sama sudah dengan foya-foya, belanja sana belanja sini, dan jalan-jalan random. Saya sering bertanya-tanya dari mana kah standar hidup ini muncul?

Okei, saya tidak sedang berusaha tampak jadi manusia yang nggak butuh duit, yes I am. Tapi saya pernah betul-betul sakit hati diam-diam karena kerja rodi saya di suatu konsultan interior kecil beberapa tahun lalu dianggap sekadar berusaha mendapat gaji lembur. Well asal tahu saja saya toh gak dibayar atas semua kerja rodi itu. Kenapa seolah salah kalau saya ingin bekerja suka rela pada orang-orang yang menurut saya layak mendapat loyalitas? Meski memang pada akhirnya kerja itu berdarah-darah dan saya tidak mendapat keuntungan finansial apapun, tapi itu bekal yang saya butuhkan untuk membangun usaha.

Banyak pekerjaan yang terjadi tidak se-”murni” yang saya bayangkan sebelumnya. Ada orang yang menjadi guru sekadar karena dia butuh pekerjaan. Banyak yang menjadi dokter karena gajinya besar. Atau ya begitulah, orang berprofesi karena mereka sadar bahwa orang tuanya sudah menginvestasikan dana yang sangat besar untuk menuju profesi impian itu.

Seiring semakin terbukanya saya terhadap informasi mengenai perpolitikan internal perusahaan, lembaga atau instansi, saya semakin risih. Saya paham bahwa kita bukanlah sesuatu yang cukup penting di tengah lautan manusia yang terus bertambah ini. Saya juga paham toh tulisan ini tidak akan membawa dampak apapun yang cukup signifikan. Lebih lanjut, meski ketika menulis ini saya menyimpan kemuakan, saya sadar bahwa saya dan teman-teman sama-sama sedang berada di fase ini. Dan tentu bukan hanya saya yang mengalami kegamangan untuk terjun masuk ke dalam drama-drama keprofesian dan politik busuk di dalamnya.

Lantas saya betul-betul bersyukur karena saya berkesempatan untuk menjalani bisnis dengan cara yang paling saya idam-idamkan; tanpa investasi, tanpa perbudakan. Apakah saya ingin bilang itu ideal? Tidak, tentu saja. Banyak orang yang lebih hebat dari itu, yang betul-betul menjalani profesinya atas dasar dedikasi. Beberapa teman saya melakukan yang lebih baik dan saya bersyukur menjadi bagian dari petualangan mereka.

Banyak yang masih mencoba melawan dunia yang berseberangan dengan dirinya. Tapi semakin banyak orang brengsek yang menggunakan nama orang tuanya untuk mendapat keistimewaan, tanpa rasa malu.

wordsflow

The Cost of Friendship


Kadang-kadang saya sebel juga kalau sadar bahwa saya cenderung lebih suka menulis judul dalam bahasa Inggris. Atau sering kali merasa bahwa ada hal-hal yang jauh lebih jelas tersampaikan ketika menggunakan bahasa Inggris. Hemm, agaknya saya perlu memperbanyak kosakata dan belajar bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Oke, itu selingan.

Sewaktu jalan-jalan sore tadi, topik ini tetiba mampir ke pikiran saya karena beberapa latar belakang. Pertama, seorang yang sangat berjasa menghidupi diri saya selama saya melakukan pengambilan data lapangan di Makassar tetiba menghubungi saya karena akan datang ke Jogja dalam waktu dekat. Kedua, sahabat karib-tapi-sering-berantem saya akhirnya punya ponsel baru dan kami video call sore ini. Ketiga, seorang teman yang saya pikir memahami saya ternyata memiliki kepribadian tekstual yang berbeda terhadap saya. Keempat, ada orang yang baru bertemu dan bekerja sama dengan saya pertama kalinya akhirnya menjadi orang yang paling sering saya ajak main. Kelima, ada teman yang bertahan sangat lama bahkan ketika kami hanya pernah bertemu sekali saat bazaar bersama. Dan rupa-rupa pertemanan lainnya yang kadang saya pikir dekat ternyata sejauh satu detik cahaya. Kadang ada orang yang saya pikir jauh sekali ternyata memiliki komposisi pikiran dan perasaan yang serupa dengan saya dan barangkali yang paling mengerti diri saya.

Pertanyaannya, apakah berteman membutuhkan pengorbanan-perngorbanan agar pertemanan itu tetap berjalan baik?

Ada banyak rupa-rupa pertemanan memang. Terkadang justru mereka yang paling sering kita temui justru bukan orang yang paling dekat dan paling tidak memahami. Terkadang orang yang baru pertama kali kita temui menjadi orang yang paling menyenangkan untuk diceritakan keluh kesah dan bersama mereka kita merasa tidak sendirian. Seolah-olah begitu banyak orang di dunia ini yang pernah berpapasan dengan kita toh tidak membuat kita merasa memiliki teman.

Anehnya, memang anggapan ini sering membuat saya pribadi merasa terombang-ambing.

Ada anggapan bahwa karena orang yang paling dekat mengerti betul apa yang terjadi dengan kita, bagaimana kepribadian kita, bagaimana daya juang kita, bagaimana etos kerja kita, dan sebagainya, maka mereka akan berlaku sesuai pemahaman mereka tentang diri kita. Saya akhirnya berpikir bahwa bukan ketidakpedulian yang sedang ditunjukkan oleh orang-orang yang kita anggap tidak peduli ini, terkadang yang mereka berikan justru ruang bagi kita untuk berbenah dan menemukan sendiri apa yang sedang kita butuhkan.

Suatu hari seorang junior saya yang tingkat kedewasaannya dalam menghadapi berbagai masalah harus saya akui berada jauh di atas saya pernah ditanya orang anggota baru. “Apa pahitnya masuk Satub?” Dia menjawab, “Kamu tidak bisa memilih teman. Siapa yang mendaftar, siapa yang sudah ada, dan siapa yang akan datang, itulah orang-orang yang akan menjadi temanmu, bagaimanapun bentuknya”.

Ada masa ketika saya beranggapan bahwa tidak ada wujud pertemenan murni di mana kita terikat oleh rasa kebersamaan yang erat dan perasaan saling membutuhkan yang pekat. Hal itu karena saya cenderung merasa bahwa orang-orang di sekitar saya berusaha untuk mengambil keuntungan-keuntungan dari pertemenan yang kami jalin. Sekecil apapun wujud keuntungan itu.

Tapi kembali ke sisi yang berbeda. Benarkah demikian? Benarkah saya juga tidak berusaha untuk mengambil keuntungan-keuntungan dari pertemanan yang saya bangun?

Entahlah. Silahkan menilai sendiri. Tapi saya memiliki kepuasan-kepuasan tersendiri pada setiap pertemanan yang saya bangun. Kadang-kadang ada dorongan untuk menuntut hal-hal yang saya idealisasikan dalam sebuah pertemanan. Tapi di waktu yang lain saya merasa begitu antagonis posisinya dalam hubungan pertemanan ini.

Kontradiksi-kontradiksi semacam ini kerap terjadi. Bahkan sering kali terjadi bersamaan di mana bagian baik dari diri saya menimbang dengan kebijaksanaannya sebagai manusia dan seorang teman. Sedangkan sisi antagonis saya muncul sebagai sosok yang cenderung apatis, oportunis, dan sinis.

Lagi-lagi itu soal lain di balik hal-hal yang akhirnya saya lakukan dalam hidup. Barangkali ada kebaikan yang sebetulnya berpijak pada pikiran yang busuk. Bahwa di saat yang lain ada kesalahan yang sebetulnya bernaung di bawah niat yang baik. Selalu ada masa-masa semacam itu.

Tapi pertemanan tidak usai meskipun kita lupa mengucapkan ulang tahun di hari lahirnya. Tidak menghadiri wisudaannya. Tidak saling berkirim pesan tujuh hari dalam seminggu. Tidak saling tahu kemana kaki melangkah dan pikiran terbang. Tidak menghabiskan waktu berdua sekali seminggu. Tidak menjadi yang paling sempurna dan berguna. Tidak menjadi orang yang melulu enak dipandang. Tidak menjadi orang yang selalu satu pendapat. Tidak menjadi orang dalam kondisi-kondisi lain yang berseberangan.

Pertemanan berjalan tanpa dipikirkan. Bahwa ada orang yang tidak pernah menyapa setelah empat belas tahun dan bertemu lagi ternyata tidak membuat kita kekurangan bahan pembicaraan. Bahwa ada teman yang sempat berselisih paham ternyata pada pertemuan selanjutnya ada hal yang tetap dirindukan. Bahkan ketika ada rasa kebencian, toh pertemuan tidak melulu melipatgandakan.

Sejauh yang saya pahami, selama pikiran tidak mengkhianati maka pertemanan menjadi hal yang tanpa definisi. Seperti mencintai ((eaaa)). Ia akan berjalan begitu saja tanpa rencana. Seperti seorang yang sudah begitu lama tidak berjumpa dan tetiba menyapa di keramaian penumpang kereta. Seperti seorang yang tetiba menyapamu dengan nama kecil di kota yang berbeda. Seperti seorang yang kamu pikir hilang begitu saja kembali masuk ke rutinitas hidupmu.

Begitulah kadang kita tidak perlu menimbang apapun soal pertemanan. Bahwa setiap orang mengambil keuntungan dari hubungan-hubungan adalah niscaya. Tapi sejauh tidak ada pengkhianatan, akan selalu ada ruang untuk tetap bersama. Untuk tetap berada.

Tapi terserah kamu saja, soal seberapa dalam kita ingin saling menghujam di sudut hati masing-masingnya. Pada akhirnya, selalu ada kesan-kesan yang bisa kita simpan dan tidak terhapuskan. Begitu saja sudah cukup untuk menuai bibit pertemanan. Sisanya tinggal seberapa rela kita merawat dan mempercayai arus takdirnya.

wordsflow

Tentang Netijen yang Maha Benar hingga Mbak Awkarin yang jadi Relawan dan Halal Fest


Semenjak tak lagi berlangganan koran, satu-satunya cara mengakses hingar bingar dunia adalah melalui sosial media. Sosial media ini menarik berbagai lapisan masyarakat hingga kamu tidak akan dapat mendeteksi siapa berada di kelas mana. Klasifikasi yang diterapkan pada sosial media harus digeser dengan cara yang berbeda dari klasifikasi masyarakat berdasarkan kemampuan ekonomi mereka. Pun ini tidak berlaku di semua jenis media sosial karena pada masing-masingnya ada tipe yang berbeda dan pola yang berbeda.

Saya menggunakan Instagram dan twitter secara intensif karena saya menyukai platformnya dan memang menarik untuk diikuti. Ada yang berbeda dari twitter dan Instagram. Hasil pengamatan ini datang hanya dari akun pribadi saya dan hal-hal saya ikuti selama ini.

Pertama, Instagram jauh lebih kompleks dibandingkan dengan twitter sebetulnya. Secara keseluruhan, informasi mengenai seseorang dapat dianalisis dari berbagai aktivitasnya di platform ini. Tapi akan sulit untuk mengetahui secara keseluruhan. Misalnya, postingan mana yang ia komentari atau hal apa saja yang ia lihat di Instagram. Namun karena menyajikan hal-hal dalam bentuk visual, maka polanya jadi lebih mudah diamati.

Ketika berpindah ke twitter, satu-satu hal yang dapat dijual di sana adalah kalimat, kalimat, dan kalimat. Ini menjadi penting karena retorika hanya dapat dianalisis dengan akal, sehingga bentuknya menjadi lebih seperti percakapan dan bukannya penyajian sebagaimana yang dilakukan di Instagram. Orang yang sama, akan memiliki pola yang berbeda dalam menanggapi dan memanfaatkan dua platform ini.

Nah, mari masuk ke hal-hal yang belakangan saya temui di kedua akun ini.

Ada hal-hal yang sangat ramai dibicarakan di instagram namun sama sekali tidak menarik perhatian masyarakat twitter, dan sebaliknya, isu yang begitu banyak dibicarakan masyarakat twitter sama sekali tidak menjadi perhatian kalangan Instagram. Bahkan untuk orang yang sama. Tentu saja karena platformnya berbeda sehingga interaksi yang terjadi juga berbeda.

Sebelum berubah seperti sekarang ini, twitter adalah plaform ekspresi dengan hanya menyediakan 140 huruf saja setiap kali posting sesuatu. Hal itu menjadi ajang untuk berekspresi dengan lebih taktis karena ada cukup banyak hal yang mungkin ingin disampaikan namun hanya sedikit ruang. Tidak bisa pula saling menanggapi satu cuitan secara spesifik karena tidak menawarkan tautan untuk menjawab secara menerus. Dia dianggap membosankan karena sulit dan tidak praktis. Maka kemudian mulai ditinggalkan dan muncullah plaform kedua ini.

Instagram muncul juga sebagai media ekspresi yang menjual visual. Tapi belakangan hampir semua hal dapat dilakukan di sini, mengunggah foto, menceritakan sesuatu secara langsung, mengirim pesan, menelpon, dan tentu saja, berdebat di kolom komentar. Transformasi serupa juga muncul di twitter sehingga platform tersebut lebih interaktif dibanding sebelumnya.

Pertanyaannya, mengapa mengapa kini orang begitu mudah untuk mengomentari segala hal yang mereka temui di sana?

Saya menduga ada beberapa hal yang menyebabkan media sosial cenderung menjadi arena beradu argumen—meski tanpa nalar—yang digemari orang.

Kedua media sosial tersebut merupakan media yang berbasis teks dimana satu-satunya cara untuk menyampaikan pendapat adalah dengan menggunakan bahasa. Sayangnya, fitur keduanya menciptakan kondisi seolah-olah pengguna berbicara dalam bahasa oral yang diverbalkan. Demikian, hal yang keluar tidak selalu sebagai sebuah hasil penalaran dan opini, namun dapat berupa ekspresi, penyangkalan, dan segala bentuk ekspresi oral yang diverbalkan. Tidak perlu lagi memikirkan bahwa 140 huruf akan menjadi batasan untuk berekspresi karena sekarang tidak ada lagi batasan semacam itu. Kita bisa bicara dari a sampai z tanpa hambatan.

Dan melelahkan sekali mencari berita yang betul-betul realistis dan logis di antara lautan komentar tanpa logika dan penuh invaliditas. Tapi menarik juga sebetulnya menganalisis komentar-komentar ini dan menahan diri untuk tidak mengumpat, memaki, dan mengutuk netijen yang maha benar. Pada akhirnya sebagai spektator saya harus bertahan untuk tetep membaca dan memahami fenomena yang sedang terjadi.

Yang kedua, perasaan secure karena mudah menemukan keberpihakan. Akan selalu ada orang yang membela jika terjadi perdebatan, karena merasa senasib. Arena di mana lautan manusia membaur tanpa tedeng aling-aling semacam itu menciptakan banyak kesempatan di mana kamu tidak akan pernah merasa berdiri sendiri. Akan ada cukup banyak orang yang memberikan simpati, dengan syarat bahwa kamu aktif berbicara dan voila, alogaritma akan menjadi juru selamatmu.

Kalau akhirnya kalah dan salah? Mudah. Kamu tinggal kabur, blok akun, dan akhirnya menjadi anonim secepat kemunculanmu yang menyerobot perbincangan orang lain.

Terlebih dengan dasar bahwa negara kita menjamin kebebasan untuk mengemukakan pendapat, maka semua orang berbondong-bondong menggunakannya untuk menjadi dasar mereka berpendapat. Saya pun demikian. Sayang sekali kemudian, nalar berpikir logis tidak menjadi dasar yang digunakan semua orang ketika kita akan menyampaikan pendapat. Banyak sekali pendapat yang secara logika pun cacat dimana premis dan kesimpulan yang disampaikan sama sekali tidak berkaitan. Sampai-sampai saya kembali berpikir bahwa orang-orang ini tidak pernah belajar logika.

Tapi untuk menjelaskan lanjutannya, saya pikir ada banyak hal yang sudah dianalisis sosiolog atau pengamat media, bisa teman-teman searching sendiri, hehe.

Dan baru-baru ini tetiba dua platform ini dihebohkan dengan adanya berita Mbak Awkarin yang jadi relawan di Palu. Beberapa berpendapat bahwa itu hanya metode marketing karena mbaknya sudah nggak sepopuler dulu lagi. Yang lain berpendapat bahwa yang selama ini dia lakukan lah yang justru strategi marketing sementara yang kita lihat belakangan adalah dia yang sesungguhnya.

Dalam analisis etnografi, pendekatan historis itu penting untuk melihat proses transformasi. Demikian, pendapat soal ini dan itu dari Mbak Awkarin itu tidak bisa begitu saja diiyakan dan dienggakkan. Yang saya perhatikan justru warganet hari ini sepertinya tidak ambil pusing dengan tuduhan atau kenyataan yang sedang mereka bicarakan. Seolah-olah itu adalah murni ekspresi kebencian yang tidak tersalur sehingga media sosial jadi tempat penyaluran yang menyenangkan karena kita bisa bicara seenak jidat.

Nah, yang begini-begini memunculkan pernyataan soal kenapa warganet berperilaku demikian? Hal apa yang membuat mereka mengekspresikan pendapat dengan cara-cara dan tata bahasa yang seperti itu? Kalau sudah sampai sini nih, saya menyerah. Hahahaha.

Tapi mungkin teman-teman perlu tahu juga kalau baru-baru ini di Jogja ada acara yang bertajuk Halal Fest. Sayang sekali saya tidak sempat mengunjungi acaranya dan melihat-lihat. Tapi tren-tren sosial baru-baru ini semakin tampak dan cenderung merebak. Satu hal yang saya perhatikan dari semua hal ini adalah hal yang sama; selalu ada yang berdagang, ada yang dijual, ada tukang iklan, dan ada pembeli.

Komodifikasi memang selalu menarik untuk dibahas.

Tapi apa korelasi semua ini? Hehe. Bahwa semuanya menarik karena saya dapat dengan mudah mengakses informasinya dari sosial media dan media online. Berterimakasihlah kita semua dengan kemajuan teknologi komunikasi ini. Huehe.

wordsflow

Belajar Hidup (ii)


Saya menelusuri kembali postingan lama di blog ini dan mencoba mengingat latar penulisan setiap postingannya. Beberapa yang ada jauuuuh sekali di waktu-waktu pertama saya membuat blog terasa begitu jujur dan apa adanya. Bahwa saya menulis sesederhana untuk menceritakan sesuatu yang menurut saya menarik. Lalu memang banyak hal kemudian yang berubah dan saya manipulasi tidak hanya untuk menyenangkan dan mengekspresikan apa yang saya rasakan, namun juga agar mampu memberi kesan kepada orang lain. Soal ini, tulisan cenderung menjadi tidak jujur, dibuat-buat, diperindah, tapi sayangnya justru kehilangan daya pikatnya sebagai sebuah tulisan.

Saya ingat terakhir kali saya menulis sajak sebagai sebuah rangkaian yang dapat ditelusur karena berseri. Ternyata ketika saya tilik kembali, seri itu berakhir dua tahun lalu di bulan ini. Dan terakhir kali saya menulis sajak di blog adalah di tahun lalu di bulan ini juga. Saya jadi bertanya-tanya apa yang terjadi antara dua postingan itu, dan akhirnya postingan yang ini?

Saya memang masuk kuliah pertengahan tahun dua tahun yang lalu, dan menjalani kehidupan perkuliahan yang bagi saya sangat keras karena adaptasinya yang tidak mudah dan cenderung membuat saya mengalami gegar budaya. Tapi ada banyak hal yang akhirnya berhasil menyelamatkan saya di dunia baru tersebut, bahwa saya memiliki teman-teman yang menyenangkan untuk diskusi, kebiasaan membaca buku sedari kecil, dan keingintahuan saya pada banyak hal termasuk pada hal-hal yang sejatinya bukan urusan saya.

Hari ini saya diingatkan oleh Mas Pujo sebagai dosen yang menurut saya tidak pernah kehilangan relevansinya dengan dunia ini bahwa ada hal-hal yang harus terus dikritisi meskipun hal-hal tersebut terlampau tidak memunculkan harapan atau membuat kita tampak berharga. Seorang lain berkata bahwa yakinlah bahwa kita memang tidak istimewa di antara 7 milyar manusia lain yang ada di dunia ini. Tapi kenyataan bahwa Mas Pujo menikahi wanita yang menarik hatinya, dan saya memiliki perasaan yang kuat pada seseorang, entah bagaimana menentramkan hati dan pikiran saya pada waktu-waktu kritis.

Beberapa waktu yang lalu ada seorang teman yang bertanya mengenai tujuan hidup. Menariknya, setelah mendengarnya bertanya demikian, saya merasa bahwa hal itu tidak lagi menjadi beban pikiran saya seperti sebelumnya. Tidak kemudian bahwa itu hilang sepenuhnya, hanya saja saya merasa telah masuk ke tahap yang lebih baru yang saya sendiri tidak bisa mendeskripsikan apakah itu. Saya mungkin hanya bisa menjawab bahwa sejauh kita belum mati karena hal-hal di luar nalar, maka hidup masih tetap berguna dan penting untuk dijalani.

Tentu saja dalam berbagai perubahan yang kita alami, akan ada hal-hal lampau yang kita rindukan. Tapi mengapa mengingkari perubahan kita melangkah artinya adalah berpindah dan berubah? Maka dalam perubahan sesederhana gaya penulisan, seharusnya tidak membebani saya dan cenderung membuat saya menghentikan rutinitas untuk mengisi blog ini. Perkara kamu dan kamu-kamu semua merasa tidak pas dengan tulisan ini pun akhirnya bukan menjadi hal yang harus saya urusi.

Hari ini hari Kamis, tapi tadi sore masih hari Rabu. Seperti minggu-minggu sebelumnya, Rabu selalu membuat saya ingin menulis setelah mendengarkan dan membahas banyak persoalan di kelas. Ada banyak persoalan yang saya pikir tidak relevan untuk diceritakan di postingan ini. Akan saya ceritakan di postingan lain atau di tulisan lain dengan cara yang lain lagi.

Terakhir, tadi sore saya diingatkan bahwa sebaik-baiknya pekerjaan adalah yang selesai. Karena itu saya sudahi postingan ini sampai di sini dulu. Selamat malam.

wordsflow