WORDS FLOW

setiap pengalaman pantas untuk diingat

Category: on Opinion

talking randomly


It is quite interesting talking about life. Why does this topic suddenly come up? Like, after all these time?

Banyak ‘seandainya’ di dunia ini. Dan saya sebel betul setiap kali kata itu mulai bercokol di kepala saya, apalagi kalau hari-hari telah begitu menganggur semacam ini. Beberapa hal begitu mengganggu sampai saya sendiri bingung menghadapinya. Well, but everything looks great and times keep moving sih.

Barangkali ada begitu banyak hal yang masuk kategori well-that’s-not-your-business-at-all, tapi bersamaan dengan hal itu tetap saja ada bisikan ‘it’s always right to think about everything’. See, perdebatan itu tiada akhir dan terus aja begitu sambil tetap melakukan sesuatu, sampai mati, sampai sudah tidak peduli.

Menggelitik sekali menceritakan tentang diri sendiri. But I realize that maybe secrets are great. Jadi, mari lanjutkan ngomongin yang lain, yang agak lebih penting.

Baru saja saya memantau lini masa twitter saya dan menemukan komentar nyinyir seseorang ke akun seorang teman saya. Hal-hal berbau nyinyir sudah bukan hal yang asing di hari ini. Nyinyir sana, nyinyir sini, bahkan tidak jarang nyinyir ke diri sendiri. Saya menyimpan beberapa kalimat menarik di dalam pikiran saya, misalnya ‘love yourself before you love others’, ‘there’s always cracks in every good plan’, and so on. Kenapa penting? Untuk menghindarkan diri sendiri dari melakukan hal-hal bodoh.

Oke, kembali ke twitter.

Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah ternyata begitu rendah. Barangkali itu yang bisa saya lihat dari berbagai lini masa dan perbincangan sehari-hari. Kadang kala bingung juga kalau membicarakan hal yang berada di luar diri sendiri. Tapi sebetulnya, saya pribadi masih cukup mempercayai pemerintah. Dalam artian yang paling sederhananya saya merasa bahwa pemerintah masih dibutuhkan. Barangkali ada juga cita-cita untuk membentuk munisipal-munisipal sebagaimana kata Mbak Janet Biehl, tapi saya saja belum berhasil bercocok tanam sendiri dan punya kolam ikan. Maka, agaknya saya memilih untuk tetap realistis berusaha untuk menjadi warga negara yang baik.

Kadang ada perdebatan di dalam pikiran saya, apakah mencoba mematuhi peraturan akan membuat saya tampak terlalu penurut? Satu dari beberapa kepribadian yang digemari kan? Tapi di samping itu, saya sendiri merasa bahwa itu jalan paling awal yang bisa membuktikan dampak dari sebuah implementasi. Artinya, jika sedari awal tidak ada yang berusaha mencoba dengan maksimal suatu gagasan atau konsep, sulit sekali membuatnya berhasil atau bertahan. Bahkan untuk bisa ke tahap evaluasi aja belum tentu bisa maksimal.

Begini, saya pikir penting untuk menyimpan kritik dan protes setelah melaksanakan semua kewajiban dengan baik. Banyak contohnya, dan agaknya saya tidak perlu membicarakan panjang lebar soal contoh. Demikian, jika ada sebuah konsep atau gagasan baru yang dapat kita upayakan untuk akhirnya mampu menampung hal-hal yang akan kita kritisi, sangat baik untuk bisa mencerna terlebih dahulu bagaimana prosedurnya. Penting juga lagi-lagi, untuk selalu mengecek argumen pribadi mengenai hal yang akan dikritisi.

Semua persoalan kiranya adalah sebuah keterbelitan yang rumit atas berbagai aspek yang ada. Oleh karenanya, inti persoalan akan sulit untuk dilihat jika hanya mengandalkan satu aspek saja. Contoh yang sedang heboh; banjir Jakarta. Tapi di samping itu, karena berpikir itu membutuhkan proses, lebih-lebih sinkronisasi, maka barangkali ketika sebuah sintesa ditemukan, persoalan telah jauh meninggalkan. Demikian, hal yang praktis dan segera selalu menjadi pilihan yang menarik. Akhirnya juga, hal-hal itu sifatnya hanya menjadi sementara saja.

Beberapa persoalan lain yang mampir ke pikiran saya adalah soal proses daur ulang sampah. Sekiranya, saya harus meminta maaf terlebih dahulu karena saya masih belum menjadi orang yang cukup concern dengan permasalahan sampah ini, dan belum melakukan apapun atas semua ide di dalam pikiran. Tapi, satu hal yang saya garis bawahi soal pengelolaan sampah, saya pikir ada beberapa miskonsepsi soal mendaur-ulang.

Begini, harus kita pahami betul bahwa segala hal yang ada di dunia ini dimulai dari bumi dan segala isi perutnya. Kadang hal itu membuat saya berpikir sebaliknya, barangkali semuanya kemudian juga dapat dikembalikan lagi sebagai simpanan sumber daya ke depannya. Gagasan ini, saya yakin sekali sudah pernah dipikirkan oleh ilmuwan. Hanya saja saya belum menemukan pembahasannya.

Barang pertama yang dihasilkan dari raw material adalah barang berkegunaan yang kita gunakan sehari-hari. Ada beberapa proses daur ulang yang banyak kita jumpai. Barang>sampah>barang>sampah>dst, atau raw material>barang>sampah>raw material>barang>sampah>dst. Sampah besar, misalnya sampah kapal dikembalikan menjadi raw material dan sekali lagi dapat digunakan untuk segala jenis kebutuhan dengan bahan yang sama. Barangkali kualitasnya menurun, namun keberadaanya membuat siklus itu sekali dapat diulang dan barangkali juga, dapat mengurangi kebutuhan raw material yang harus diambil dari perut bumi.

Namun proses daur ulang yang marak diperbincangkan adalah membuat kerajinan daur ulang, beritanya marak dimana-mana loh. Namun sayang sekali, bagi saya yang begitu hanya menunda statusnya sebagai sampah, atau sekedar memindahkan sampah itu ke tempat lain (ke derajat yang lebih tinggi). Oleh karenanya, hampir tidak pernah saya membeli barang semacam itu kecuali kertas daur ulang. Hal yang demikian membuat saya yang berpikir dapat mengganti fungsi kerudung tidak terpakai saya menjadi kantong barang urung saya laksanakan. Lebih karena saya merasa bahwa potensinya menjadi sampah jauh lebih besar dibandingkan tetap saya gunakan sebagai kerudung.

Mungkin juga karena saya telah terlalu berpikir industrial, saya kira mendaur ulang di skala kerajinan tidak akan memberikan hasil yang kita idamkan. Mengurangi jelas, hal itu tidak saya ragukan. Tapi untuk membangun cita-cita yang lebih tinggi soal manajemen sampah, barangkali mulai berprinsip untuk mengurangi sampah apapun atau tidak membiarkan sampah keluar dari rumah adalah gagasan yang jauh lebih meyakinkan.

Lagi-lagi, saya memang baru sekedar membicarakan ini di sini. Saya pribadi belum lagi menghitung berapa besaran sampah yang saya hasilkan setiap harinya, atau memastikan bahwa sampah-sampah tersebut berhasil saya kelola secara mandiri. Jujur saja, sulit sekali menjadi konsisten perihal sampah ini. Kadang saya bahkan lebih yakin untuk membakarnya saja dibandingkan membuangnya ke tempat sampah umum.

Apakah energi yang dibuang dan karbon yang dihasilkan untuk membakar sampah jauh lebih besar dibandingkan energi yang dibuang dan karbon yang dihasilkan dari mesin daur ulang untuk mengolah jumlah sampah yang sama ditambah metana dari hasil pembusukannya?

Pertanyaan itu sering saya pikirkan, tapi selalu tidak saya niatkan untuk sungguh ditanyakan, dihitung, dan dipastikan sendiri, hehe. Barangkali ada yang mau membantu saya?

Bermodal pertanyaan itu, seringnya saya jauh lebih pede membakar sampah daripada membuangnya ke penampungan sampah. Ah, tapi mari merencanakan pembuktian hipotesis ini, nanti.

Hemm, cukup banyak ceracau malam ini. Jadi, saya cukupkan ya, biar ndak bosan.

wordsflow

Advertisements

Munisipalisme Libertarian


Mari membahas sebuah buku yang akhirnya mampu saya selesaikan setelah sekian lama teronggok ketika saya sedang ada di lapangan. Anehnya, saya justru merasa jauh lebih mudah memahami si buku dalam perjalanan saya dari Bandung ke Jogja dengan menggunakan kereta. Padahal di awal saya mencoba memahaminya, saya bisa beberapa kali membaca satu paragraf yang sama tanpa memahami maksudnya. Hal semacam itu sering terjadi ketika membaca buku sih, hoho.

Tidak dapat dikatakan sebagai buku yang mudah untuk dipahami. Ada beberapa bagian yang menurut saya cukup sulit untuk mampu saya bayangkan atau saya pahami lebih dalam. Beberapa bagian lainnya terlampau mudah karena merupakan narasi atas utopia yang telah banyak dipikirkan oleh manusia di hari ini.

Ah, sebelumnya barangkali saya harus menjelaskan bahwa saya tidak akan terlalu banyak memberikan pendapat pribadi mengenai si buku. Dalam artian, beberapa pendapat yang akhirnya saya utarakan di sini merupakan pendapat yang sedikit banyak berada di luar buku tersebut. Mungkin. Beberapa kutipan yang menurut saya cukup penting akan saya sajikan sebagaimana adanya tanpa adanya penambahan dan pengurangan. Pun saya akan membiarkan saudara-saudara pembaca memberikan tanggapannya masing-masing untuk diri Anda sendiri.

Bagaimanapun anehnya sebuah narasi, utopisnya sebuah gagasan, atau bentuk ketidakmungkinan lain yang mampu ada seharusnya patut kita pikirkan terlebih dahulu sebelum kita memberikan penilaian atau justifikasi terhadap hal-hal tersebut.

Sebelum melangkah ke sana, saya pikir saya perlu sekali memberikan cerita mengapa saya sampai membaca buku ini.

Ada waktu di mana saya memikirkan secara penuh mengenai kehidupan yang dijalani oleh manusia-manusia di seluruh dunia di hari ini. Dibandingkan mengganggap bahwa dunia ini telah berada di bawah rezim pasar secara menyeluruh, saya lebih suka mengganggap bahwa kita masih berada dalam posisi transisi. Artinya, tidak semua yang ada di sekitar kita merupakan produk-produk kapitalis, dan jika kita lebih suka menganggap bahwa semua yang berasal dari kapitalisme adalah hal buruk, maka harus saya katakan bahwa kemudian, semuanya menjadi tidak sepenuhnya buruk.

Kadang karena begitu dekatnya seluruh hal dengan kapitalisme, segalanya menjadi seolah-olah bersifat kapitalistik, contoh yang paling penting barangkali adalah teknologi. Bagi saya sendiri, teknologi adalah hal yang sebetulnya berdiri sendiri. Namun di hari ini teknologi begitu identik dengan modern, sementara modern identik dengan industrialisasi dan akhirnya rezim pasar. Padahal, teknologi adalah hasil dari buah pengetahuan manusia sehingga ia bukan merupakan hal yang berada sepenuhnya di bawah kapitalisme.

Di hari ini, kadang saya merasa bahwa seolah-olah, ketika membahas upaya untuk menyingkirkan kapitalisme, orang cenderung mengarah untuk kembali ke cara hidup tradisional yang selama ini dilalui oleh nenek moyang kita. Seolah-olah masih menggunakan teknologi sama halnya mendukung kapitalisme itu sendiri. Tapi tunggu dulu, teknologi ada sejak dahulu meski dalam bentuk yang masih jauh dari praktis dibandingkan hari ini.

Masyarakat hari ini telah mengembangkan begitu banyak hal mulai dari jarum hingga kapal induk misalnya. Semua penemuan adalah pengembangan teknologi dari yang lampau. Benar, teknologi adalah bagian dari kebudayaan, dan karenanya seharusnya ia merupakan hal yang terlepas dari bayang-bayang kapitalisme.

Saya pribadi sering kali merasa bersalah ketika diskusi untuk mengkritik kapitalisme namun masih menikmati dan barangkali yang juga menghidupi kapitalisme itu sendiri. Semua hal yang sebetulnya menyamankan hari-hari saya adalah hal-hal yang menghidupi kapitalisme. Namun lagi-lagi, teknologi bukanlah kapitalisme, pun ekonomi. Oleh karenanya sebetulnya mengapa saya harus merasa bersalah dengan semua hal yang saya nikmati?

Barangkali selama ini sebetulnya saya mencampuradukkan segala hal berbau modern sebagai sesuatu yang identik dengan kapitalisme. Atau, saking seringnya verba itu digunakan, saya jadi sering keliru memahami kapitalisme itu sendiri.

Ada dua hal yang tidak saya suka dari kapitalisme, pertama soal eksploitasinya, yang kedua soal ketimpangannya. Untuk masalah kepraktisan, oke lah saya memang menganggap bahwa kapitalisme itu enak banget loooh. Tapi dua hal tadi membuat saya gregetan namun susah juga kalau tiba-tiba ditodong solusi.

“Sebagai pengganti masyarakat shopping mall, kita harus menyusun masyarakat terdesentralisasi, yang di situlah ‘rumah’ kita, lokal kita, menjadi seotonom mungkin semampu kita. Kita harus membangun pabrik-pabrik lokal yang menggunakan alat-alat sederhana. Kita harus menciptakan koperasi-koperasi loka, seperti kerjasama pangan. Kita harus bercocok tanam untuk pangan kita sebanyak mungkin. Kota harus membuang uang jika kita bisa dan mengadopsi barter atau alternatif pembayaran. Komunitas-komunitas lokal yang mampu memenuhkan kebutuhannya sendiri mungkin akan bisa bertahan, di luar arus utama masyarakat. Perlahan-lahan komunitas-komunitas tersebut akan berkembang-biak menciptakan masyarakat manusiawi yang ramah lingkungan.” (hal. 152)

“… munisipalisme libertarian berupaya memperkuat kembali tingkat lokal, ia juga menilai kemandirian terisolasi sebagai sesuatu yang tidak sempurna dan menyedihkan.” (hal. 153)

“Tanpa ekonomi kapitalis, yang tuntutan ‘tumbuh dan mati’-nya merupakan kekuatan utama di balik krisis ekologi, warga akan bebas untuk membangun kembali ranah sosial mereka sepanjang batas-batas ekologis. Kota-kota besar secara fisik dan secara institusional bisa didesentralisasi. Kota kecil dan pedesaan dapat diintegrasikan ke dalam sebuah keutuhan tergabung dan konflik historis di antara mereka akan terhapuskan. Bahan bakar kotor pasti akan dihilangkan, digantikan dengan sumber-sumber daya energi yang bersih dan dapat diperbaharui, bahkan dalam produksi pabrik. Dunia non-manusia tidak akan lagi dipahami sebagai dunia yang penuh dengan kekurangan, sebagaimana kapitalisme menganggapnya seperti itu saat ini—dengan terlalu sedikitnya sumber daya yang mesti diperjuangkan demi dominasi satu terhadap lainnya—melainkan sebagai dunia produktivitas dan kemajuan evolusioner menuju keberagaman dan kompleksitas.” (hal. 212)

Kutipannya cukup segitu aja ya, sudah cukup menggambarkan sih. Kayaknya lho yak.

Janet Biehl melalui Munisipalisme Libertarian sebetulnya berupaya untuk mewujudkan demokrasi yang benar. Menurutnya, politik hari ini telah melenceng terlalu jauh dari semangat politik yang sesungguhnya. Personal is political, akhirnya saya memahami maksud dari kalimat ini. Sepanjang buku itu, Biehl mencoba memberikan gambaran bagaimana cara mewujudkan munisipal-munisipal itu sehingga kita akan hidup di dalam dunia yang lebih demokratis dan adil, tanpa adanya negara. Terdengar indah, memberi harapan, namun hal itu ia akui sebagai sesuatu yang utopis. Ya nggak jauh berbeda dari cara saya berandai-andai sih, namun ia menuliskannya dalam buku dengan struktur yang benar. Jauh berbeda dong dari saya.

Saya pribadi suka dengan gagasan itu. Namun sekali lagi, negara ini belum sepenuhnya kapitalistik atau sekronis itu. Ada banyak simpangan dan retakan di dalam elemen terkecilnya. Dan banyak desa di Indonesia yang merupakan perwujudan munisipal yang diidamkan oleh Janet Biehl. Dianya aja yang belum ke Indonesia kan.

Di balik gagasannya, saya pikir Janet Biehl melewatkan bahasan mendasar di bagian paling awal bukunya, yaitu soal manusia. Seluruh gagasannya mensyaratkan satu hal, bahwa semua orang harus dapat berpolitik dengan benar dan mampu memahami manusia lain dengan baik. Sayangnya, ia melupakan soal ketimpangan, bahwa manusia dilahirkan dengan kemampuan yang tidak sama. Dan bukankah hal itu memang sungguh nyata? Tanpa itu, segala gagasannya mudah runtuh karena toh akhirnya seluruh aktor di dalamnya akan merusak harmonisasi itu.

Kadang saya merasa bahwa masyarakat kota jauh lebih sakit dibanding masyarakat desa. Kita yang hidup di kota menjadi pihak dengan ketergantungan lebih tinggi, hal yang paling mendasar deh, logistik. Tanpa adanya jaringan di luar kota yang berproduksi sepanjang tahun, kita nggak akan bisa makan. End.

Jadi, sebaiknya bagaimana?

Just make sure that we’ve been doing the best that we could. Don’t blame others for not doing something like what you’ve done, they have their own parts. In case you don’t have the same belief with your friends, pray for their safety and health. Don’t judge, don’t blame.

Manis sekali kan kalimat saya? Tentu saja di balik semua ini ada begitu banyak pekerjaan yang belum saya selesaikan. Semua hal ini, dan semua tulisan sebelumnya, merely self-reminder notes rather than for others.

Ada penggusuran di Kulonprogo untuk pembangunan bandara baru. Ada kemuakkan karena perebutan sumber daya yang tidak pernah ada habisnya di hari ini. Dari waktu ke waktu kita tidak pernah kehabisan berita tentang hal itu. Dan berapa orang yang terluka dan menderita di luar sana? Banyak.

Seorang adik kelas saya pernah menulis, ‘Even if we say we love Earth, we would not be there when something bad happen to this Earth, we definitely could not do something to help. We all the 7 billion peoples are actually nothing. This Earth is all alone these whole time.’

Random yak? As always.

wordsflow

Amateur


Let say, saya kira cukup banyak orang yang berbangga karena berhasil mempelajari sesuatu secara otodidak dibandingkan memperoleh pengetahuan tertentu secara ‘resmi’ melalui pendidikan atau pelatihan tertentu. Well, why? Ada semacam kebanggaan tertentu (barangkali yang saya rasakan) ketika mendapati bahwa nalar dan logika saya mampu memahami suatu gagasan secara mandiri dan melalui proses berpikir tanpa ada intervensi dari orang lain. Atau katakanlah lebih bebas kali ya. Tapi, tentu saja hal itu selain membanggakan juga sama membahayakannya.

Kita sudah melihat begitu banyak orang yang seenaknya saja like and share beberapa artikel yang menurut saya memiliki cacat logika di dalamnya, penuh kontradiksi, dan standar ganda. Sebagian contoh memperlihatkan bahwa tidak semua orang mampu memahami gagasan dengan sempurna (dalam artian tidak memiliki cacat logika di dalamnya).

Baru-baru ini saya dijejali pemahaman mengenai flat earth oleh seseorang yang sebetulnya tidak saya kenal. Kami hanya tidak sengaja membicarakan ilmu pengetahuan dan voila, saya terseret arus pembicaraan itu sampai akhirnya saya menggandakan videonya bergiga-giga untuk bisa terbebas dari si bapak.

Bicara soal flat earth ini sungguh sangat menarik sebetulnya. Tentu saya pun tergelitik dengan pengetahuan mengenai tempat tinggal kita. Agak ngeri juga membayangkan bumi kita melayang-layang di ruang antara yang kalau ketabrak meteor besar, yaudah deh, bye! Jadilah, gagasan mengenai konsep bumi datar muncul sebagai sesuatu yang agaknya ‘melegakan’ manusia di hari ini sehingga kemunculannya menjadi semacam angin segar. Belum lagi bahasan mengenai bumi datar dianggap sesuai dengan bahasan mengenai bumi di dalam kitab suci.

Di sisi lain, nyatanya orang-orang yang menolak gagasan bumi datar tidak mampu menjawab beberapa pertanyaan dari para pengikut bumi datar. Dari yang saya perhatikan, mereka justru cenderung menjawab dengan jawaban yang juga tidak masuk logika. Ya nggak semua sih, cuman yang sering ribut di sosial media saja yang saya perhatikan.

Di samping seluruh perdebatan ini, sebetulnya saya pun memiliki beberapa pertanyaan baik soal gagasan bumi bulat dan bumi datar. Tapi seperti kata teman saya, bukan hanya perkara jawaban yang penting, membuat pertanyaan yang baik dan tepat pun sama pentingnya. Masalahnya, pendukung bumi datar terlalu fanatik dengan keyakinan mereka sehingga cenderung menolak segala gagasan yang berasal dari pengikut bumi bulat. Sebaliknya, pengikut bumi bulat cenderung tidak mau mendengar gagasan baru tersebut.

Bagi saya, kedua keyakinan itu memiliki perbedaan yang amat sangat jauh. Akan sangat berbeda antara meyakini bumi bulat dan bumi datar, dan implikasinya tidaklah sederhana, sangat tidak sederhana. Saya mendukung orang-orang yang berupaya untuk membuktikan keyakinan mereka, apapun itu. Tentu saja asal orang lain tidak memperoleh dampak buruk dari hal itu.

Sejarah ilmu astronomi sangatlah panjang dan berdarah-darah. Butuh puluhan tahun hingga teori relativitas umum dan mekanika kuantum muncul sebagai teori yang belum terbantahkan. Ada banyak perdebatan, pemodelan, pengamatan, dan pembuktian hingga berbagai teori itu dipercaya sebagaimana adanya di hari ini. Tentu saja untuk membalikkan seluruh teori itu, setidaknya butuh upaya yang sebanding. Dan jika ilmuwan-ilmuwan bumi datar sanggup melakukannya, akan ada begitu banyak hal yang berubah di dunia keilmuwan kita.

Fanatisme ilmu pengetahuan ketahuilah, adalah hal yang sebetulnya membuat sebuah ilmu bertahan. Ada sisi yang membuat saya pribadi yakin bahwa menjadi fanatik atas suatu ilmu itu baik. Kita membutuhkan orang semacam itu, yang tidak pernah lelah, yang selalu bersemangat, yang selalu memberikan waktunya untuk bidang ilmu tertentu sehingga si ilmu dapat terus berkembang, dan akhirnya memberi manfaat ke orang lain. Di setiap bidang ilmu selalu ada orang yang seperti itu. Maka, datangi mereka dan pelajari ilmu itu tanpa membantah. Selama tidak ada yang dirugikan dari perkembangan ilmu masing-masingnya, bagi saya semua fine aja.

Ada keirian ketika menemukan orang yang saya kenal begitu teguh pada bidang ilmunya. Mereka sungguh mengagumkan. Di sisi lain, saya pikir sungguh menarik betul cara dunia ini bekerja. Bahwa akan ada orang yang sangat baik dalam memahami satu bidang tertentu, ada lagi orang-orang praktikal yang tekun di bidangnya, ada orang yang akhirnya menyingkir untuk menemukan dirinya sebagai manusia seutuhnya, ada pemusik yang terus bermusik, atau seniman yang terus berkarya, lalu ada amatir-amatir macam saya yang berwisata di segala hal yang saya suka, dan seterusnya.

Pada titik tertentu, ketika kita telah begitu penuh mempelajari sesuatu, kita akan sampai pada pertanyaan yang lebih esensial mengenai dunia ini. Saya pikir, bidang ilmu hanya sebuah pintu masuk untuk mencapai pemahaman menyeluruh mengenai segala hal. Kemudian kita akan sama-sama menjadi bijak dalam menghadapi berbagai hal yang tampak atau yang akan datang.

Tapi tidak segala hal itu pasti. Ada ketidakpastian sejarak satu satuan waktu di depan kita. Tidak semua orang baik, tentu saja. Tapi meniadakan kemungkinan itu lain soal lagi.

Jared Diamond sempat membahas bahwa di dunia ini ada suku-suku yang lebih kolot dan tertutup dibanding suku yang lainnya, dan hal itu tersebar di seluruh dunia. Banyak contoh yang menunjukkan bahwa ada manusia yang membenci orang lain namun begitu mencintai keluarga mereka. Atau barangkali, orang-orang yang membenci semua manusia tapi mencintai diri mereka sendiri. Tapi tidak ada kepastian di dalamnya. Manusia lebih sering menciptakan sendiri negasi dari keyakinan mereka akan sesuatu kan. Lucu ya.

Ini ngebahas apa sih?!

Begini, bahkan meskipun ada keyakinan bahwa semua profesional bidang ilmu akan sampai pada kebijaksanaan tertentu mengenai dunia dan seisinya, tetap saja ada hambatan dan simpangan yang membuat hal itu tidak akan pernah seideal yang saya harapkan. Kadangkala dibandingkan menantang diri sendiri untuk terus berkembang, manusia lebih suka melakukan repetisi. Akhirnya mereka jalan di tempat. Oleh karenanya, tidak masalah menjadi amatir di banyak bidang ilmu karena lagi-lagi, belum tentu melalui satu pintu bidang ilmu kita dapat mencapai kebijaksanaan yang saya maksud tadi.

Perkaranya bukan soal menjadi ‘yang paling’ atas semua orang, tapi lebih dari itu, terlalu banyak standar ganda di dunia ini yang membuat kita merasa terluka bukan? Setiap kali ada satu kolom berita yang menceritakan penderitaan, seolah tidak tahu harus ke mana mengadu, atau bagaimana bisa berbuat sesuatu. Jika saya berdoa dan meyakini bahwa itu kehendak Tuhan, apakah itu terlalu pragmatis? Tidak ada yang paling benar lagi-lagi. Ada banyak perdebatan di dalam pikiran saya dan belum lagi saya sampai pada tahap akhir untuk menarik satu kesimpulan tertentu.

Tapi saya pikir pikiran memang harus selalu ditenangkan dengan berbagai hal. Ada kalanya saya merasa begitu kecil, tidak berguna, dan tidak berperan apapun. But ‘don’t be so hard about yourself’ they said. ‘Keep calm because you are special’. Naif sih, tapi menenangkan, hehe.

Dalam beberapa hari, saya akan menulis beberapa hal yang barangkali tidak terlalu penting. Mumpung saya masih kepikiran aja. Jadi, jangan lelah berkunjung ke blog ini. Selamat siang.

wordsflow

on tourism and traveling


It’s been a while ya sejak saya menulis hal-hal yang cukup menggelitik pikiran saya sendiri ketika menuliskannya. Beberapa postingan terakhir bisa dibilang hal-hal yang terlampau tidak berguna bagi sesiapapun yang tidak paham konteksnya. Terkadang saya terjerat labirin pemikiran saya sendiri, cieeeh.

Saya tergelitik dengan postingan saudari Dieny di instastory-nya malam ini. Ia membagikan tangkapan gambar artikel sebuah web. Temanya soal traveling, tapi saya mau mereduksinya menjadi pariwisata aja ya. Menurut tulisan itu, pariwisata menyumbang emisi karbon yang cukup besar di dunia ini.

Saya ingat di suatu kelas ekopol-nya Mbak Laksmi, kami sempat membahas mengenai pariwisata sebagai salah satu moda ekspansi kapital. Eww, tapi saya lupa itu artikelnya siapa, hehe. Nanti saya carikan kalo nemu ya. Intinya, pariwisata muncul karena adanya surplus kapital di suatu tempat sehingga ia harus didistribusikan keluar dari region tersebut. Demikian, pariwisata adalah produk sampingan dari kemapanan kapitalisme.

Barangkali dapat dikatakan pula secara sederhana kalau mereka yang berwisata tentu adalah orang-orang yang telah masuk secara sempurna dalam arus kapitalisme. Tapi tunggu, tentu saja nggak semua orang yang berwisata di hari ini dapat dikatakan telah mapan secara ekonomi atau melakukan wisata sebagai hasil dari adanya surplus kapital, hehe. Kenapa? Karena pariwisata sendiri telah menjadi sebuah siklus lain yang sama sempurnanya seperti siklus produksi-konsumsi.

Sejak saya membaca soal sejarah pariwisata itu, saya sebetulnya menyimpan skeptisme dan optimisme tersendiri soal itu. Mari kita bahas sedikiiiiit aja ya. Saya nggak jago ngomong panjang-panjang.

Ijinkan saya melompati seluruh proses transformasi pariwisata yang begitu pelik hingga akhirnya menjadi wujudnya yang sungguh beragam di hari ini. Pariwisata sebagai sebuah sektor telah menjanjikan begitu banyak hal di bawah panji-panji cita-cita menuju kemakmuran. Terma ‘sustainable’ juga menjadi sebuah kerangkeng tersendiri bagi masyarakat kita sehingga mau ngapain aja serba terbatas.

Saya ambil satu contoh. Pengelolaan taman nasional misalnya. Pariwisata menjadi salah satu alternatif paling masuk akal sebagai garis tengah perdebatan antara kebutuhan akan perlindungan dan keharusan untuk menjamin kesejahteraan masyarakat sekitar taman nasional. Tapi, apa betul ada hal yang secara signifikan terlindungi dan sejahtera? Itu pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab saya rasa. Di beberapa lokasi yang pernah saya kunjungi secara langsung, penyelundupan hewan-hewan endemik justru dilancarkan oleh pihak-pihak yang bertanggungjawab untuk memastikan perlindungan. Pun nyatanya masyarakat tidak lantas menjadi sejahtera karena banyak wisatawan yang mampir ke wilayah mereka.

Hei, wisatawan itu banyak yang kurang ajar dalam pandangan saya. Di balik semua keuntungan-keuntungan yang barangkali mereka (ah bukan; kita) janjikan, produksi sampah wisatawan jauh lebih menimbulkan masalah. Lebih dari itu, wisata tidak bisa dibayar dengan menggunakan barang. Sama halnya kita harus mengatakan bahwa wisata dalam bentuk apapun, mensukseskan kapitalisme bukan? Hoho. Tapi ya barangkali kita memang sudah tidak bisa kabur dari jeratan kapitalisme sih, heu.

Barangkali memang ada keuntungan ekologis dan ekonomis yang nyata dihasilkan dari kesuksesan pariwisata. Namun sayang sekali, kerugian sosio-kultural yang ditimbulkan juga tidak ringan. Masyarakat di sekitar tempat wisata barangkali adalah salah satu contoh masyarakat yang mengalami adverse incorporation (konsep dari Hickey dan du Toit, 2007). Mereka diinklusi untuk masuk ke sistem kapitalis, namun tersingkir secara sempurna setelah berhasil masuk ke dalamnya. Pada akhirnya masyarakat ini hanya menjadi variabel pendukung akan keberlangsungan kapitalisme itu sendiri.

Well, saya pikir nggak akan ada habisnya kalau saya harus melenceng ke topik kapitalisme. Sampai muak dan mabuk mungkin, hehe. Jadi mari melipir kembali ke topik awal.

Saya pernah menuliskan perasaan saya soal berada di jalan raya. Kadang saya merasa lucu melihat manusia berpindah seintens itu di jalan raya. Kebutuhan apa yang sebegitu mendesak hingga begitu banyak orang rela macet-macetan di jalan? Dan menjadi tidak masuk akal ketika saya menyadari bahwa saya juga turut rela macet-macetan di jalan hanya untuk berwisata.

Traveling, di bawah naungan pariwisata atau bahkan penelitian, sangat masuk akal jika dikatakan menyumbang emisi karbon yang besar. Kadang saya juga bertanya-tanya untuk apa kita saling bertukar tempat hanya untuk sekedar menikmati tempat-tempat wisata. Saya jauh-jauh ke Jakarta misalnya, lalu orang-orang Jakarta susah payah datang ke Jogja. Hemm, yang begini kalau pakai nalar aja sepertinya nggak akan kemana-mana. Barangkali psikologi bisa menjelaskan kenapa ada keinginan tinggi di dalam diri manusia untuk menjelajah dan mengeksplorasi hal-hal yang tidak ia tahu?

Tentu jika mencoba sedikit egosentris, jawabannya saya akan cenderung mengarah pada pengalaman, lantas pada pemahaman secara menyeluruh soal menjadi manusia dan menjalani hidup di dunia ini. Tapi, apakah tanpa melakukan itu, hal-hal itu juga mustahil untuk dicapai? Bisa tentu saja. Dunia ini cukup adil sehingga segala hal terkonsep sebagai mikrokosmos dan makrokosmos. Weewww, saya mulai ngelantur.

Kadang saya merasa dunia ini sudah sangat rusak karena segala jenis sampah yang kita hasilkan. Bukan hanya sampah padat, yang cair dan gas jauh lebih destruktif saya kira. Namun, ketika melintas di atas laut Aru, laut Banda, hingga laut Jawa, timbul perasaan takjub yang besar melihat betapa luas lautan dan bagian dunia yang tidak saya pahami sama sekali. Ada hal-hal yang ternyata tidak semenakutkan yang saya pikirkan selama ini.

Soal pariwisata dan traveling ini pun demikian. Saya mungkin muak karena segala hal seolah dapat diubah sebagai tempat wisata di hari ini (bahkan output kegiatan saya di sini adalah rekomendasi rute wisata, heu). Tapi bicara soal optimisme, saya sendiri merasa ada optimisme di sana. Yah, soal manajemennya, mari kita semogakan agar pemangku kepentingan dan kebijakannya cukup mampu melihat segala hal secara lebih menyeluruh dan komprehensif.

Dan bagaimanapun alur tulisan ini, senang rasanya bisa menuliskan pemikiran saya lagi di sini. Selamat malam.

wordsflow

“karena hierarki itu perlu”, katamu suatu hari


Muak juga dipikir-pikir. Setiap kali menulis atau berbincang dengan seseorang, minimal selalu ada satu keluhan yang saya lontarkan. Menjadi orang yang positif agaknya bukan takdir saya, hahaha. Sok membenarkan diri banget.

Ada banyak perbincangan di antara saya dan teman-teman dalam kegiatan saya sekarang. Di kegiatan ini, banyak orang bertemu dengan berbagai latar belakang yang sepenuhnya berbeda dan barangkali sama-sama tidak saling menyangka. Berapa lama kami bersikap tak acuh dan apatis satu sama lain karena merasa bukan satu bagian yang sama. Berapa lama kami saling menggunjing soal satu sama lain karena pandangan yang tidak bisa sejalan. Dan sepanjang waktu, ada banyak yang mulai belajar soal memandang manusia yang lain dengan cara yang sama. Tak jarang ada yang tetap teguh dan semakin keras dalam memegang prinsipnya soal orang-orang dalam tim.

Sudah barang tentu bagi kami yang mahasiswa (sipil dalam bahasa rekan-rekan kami), mengikuti serangkaian kegiatan ini adalah keinginan pribadi. Demikian, mereka menuntut kami untuk mengikuti setiap detil kegiatan sesuai dengan standar yang mereka berikan. Lha wong kami suka rela kok ikutannya, salah siapa? Begitulah logikanya kira-kira.

Jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh rekan-rekan non sipil. Mereka mendapat surat perintah dari atasan untuk bergabung dalam tim kami. Ibaratnya, mereka mengutuk penugasan yang tidak ada gunanya ini bagi mereka. Mereka mengutuk kami yang harus dikawal 24 jam dengan senjata. Mereka mengutuk setiap perintah untuk mendampingi kami. Bahkan beberapa sungguh mengutuki segala hal yang berhubungan dengan kami.

Kadang saya merasa sangat aneh dengan semua itu. Kegiatan ini ada di bawah instansi yang menaungi mereka, tapi seolah kami lah yang bertanggungjawab atas segala hal yang ada di dalamnya. Segala sesuatu sungguh-sungguh dikerjakan lebih banyak oleh kami yang warga sipil.

Tapi perkara ini tidak sesederhana itu. Saya pribadi merasa tidak ada kepuasan di antara semua orang. Banyak di antara kami yang merupakan ‘pendaftar suka rela’ toh menuntut banyak hal kepada penyelenggara, seolah pihak instansi bukanlah pihak yang paling punya kuasa. Ada pula yang karena keterpaksaan tugas nyatanya toh bersyukur bisa mengenal kami. Ada hal-hal minor yang menjadi retakan atas suara mayoritas yang ada di dalam keseluruhan peserta kegiatan.

Pada banyak percakapan, kami adalah pihak yang paling salah dalam hal apapun. Kami menjadi pihak yang selalu disalahkan akibat keterlambatan anggota. Kami menjadi pihak yang disalahkan atas pembekalan yang bagi mereka tidak ada gunanya. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Pada kenyataannya, masing-masing dari kami tetap manusia biasa. Beberapa rekan yang pernah mengenyam pendidikan perkuliahan pada akhirnya menggambarkan hal-hal yang membedakan kami dan mereka. Ada banyak hal-hal yang sangat manusiawi yang juga mereka miliki. Mereka rindu keluarga, pacar, kampung halaman, atau makanan enak. Mereka sama mata duitannya dengan warga sipil yang lain. Mereka juga sama ingin belajar, bahkan di lapangan mereka akan bertanya lebih banyak dibanding kami.

Di sisi yang lain, banyak dari kami mendamba ketegasan, ketepatan waktu, dan barangkali hierarki yang dipatuhi. Aneh memang, tapi hubungan manusia selalu terwujud sebagai love-hate relationship. Kita akan bisa bercermin pada sesiapapun yang kita temui.

Saya pikir saya bukan tipe orang yang menyukai hierarki yang terlalu ketat, dalam praktiknya ada hal-hal yang tidak selesai hanya karena mencoba terus berpatokan pada hierarki. Demikian, saya sering melompati hierarki untuk mencapai hal yang saya maksudkan dalam diskusi yang panjang. Bagi rekan-rekan kami, menolak perintah artinya membangkang. Setiap pembangkangan berarti ancaman.

Maka hierarki adalah hal pertama yang harus dipegang sebelum hal yang lainnya. Ibarat kata, ketika berada di paling bawah kamu murni tenaga kerja alias babu. Tidak ada pertanyaan, tidak ada sanggahan. Hasilnya? Perintah akan dilaksanakan dalam waktu secepatnya. Secara hasil segalanya sesuai dan sukses terlaksana. Namun secara kualitas? Hasil ditentukan oleh perintah. Tidak ada improvisasi di bawah hierarki.

Di sana lah kami sering berbenturan keras. Kami melompati hierarki sebagai upaya mencapai kualitas yang lebih baik. Kami dihadang hierarki untuk menjamin bahwa masing-masing pihak dapat mengatur anggotanya dengan baik. Berapa banyak yang saya pelajari? Tentu banyak. Tidak jarang ada beberapa percekcokan, tapi banyak pula yang berakhir dengan kesepakatan.

Di balik semua itu, tetap ada pertengkaran setiap harinya. Pembicaraan di balik punggung masing-masing orang. Keinginan untuk membahagiakan dan memuaskan diri sendiri. Keterburuan untuk segera pulang. Dan seterusnya. Di balik identitas masing-masing orang, semua adalah sama. Kita banyak menyimpan berbagai pemikiran dan persoalan di dalam diri sendiri.

Dalam suatu kesempatan, pertanyaan sederhana soal hierarki itu pernah saya tanyakan pada beberapa orang. Semua sepakat bahwa dalam hierarki ada keteraturan. Keteraturan dan kepatuhan menjamin keberlangsungan. Dan demikian, maka hal itu layak untuk dipegang. Secara prinsip hal semacam itu sangat dipegang teguh dalam profesi mereka. Di luar itu, mereka toh masih manusia biasa, dan bahkan terlampau tidak terduga.

Tanpa berusaha menjadi yang lebih baik atau justru merendahkan diri, barangkali satu-satu keinginan yang ingin saya doakan adalah kesepahaman baru di antara manusia-manusia yang bertikai.

wordsflow

DIY projects and handmade trends


Salah seorang kakak kelas (salah satu yang terbaik) saya waktu SMA kuliah di Harvard. Kampus yang pernah saya idamkan setelah MIT tentunya. Tapi toh saya yakin kampus itu tidak pernah berhubungan dengan saya selamanya. Well, berhubung senior saya berhasil masuk ke sana, maka mari kita manfaatkan hal-hal yang dia pelajari untuk diri sendiri.

Belakangan senior saya punya vlog soal pemikiran pribadinya. Sebelumnya dia sudah aktif ngeblog sejak saya masih SMA. Kami teman ngeblog kalo di lab sekolah. Karena itu saya masih terus mengikutinya. Ketika saya menonton videonya siang ini, ada frasa yang baru saya dengar sekarang; kearifan praktis. Sila ditonton dulu kalau ingin tahu.

Sebetulnya video ini membahas soal implicit bias, yang mana akhirnya menjelaskan juga ke diri sendiri mengapa sampai timbul rasa iri terhadap orang lain. Barangkali memang begitu, bahwa di dalam diri kita ada standar-standar yang kita yakini tanpa sadar lebih dari standar yang lainnya. Karena itu akhirnya kita tidak pernah puas dan menganggap sesuatu lebih baik atau lebih buruk dari yang lainnya. Kita terbiasa membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain.

Tapi bukan itu yang menarik perhatian saya. Justru ketika membahas soal ‘kearifan praktis’, saya teringat bahasan mengenai DIY Projects dan handmade trends yang dipopulerkan oleh komunitas Punk dan kini menjadi hal yang tereksklusi di kalangan masyarakat. DIY dan handmade menjadi gaya hidup yang eksklusif dan seolah-olah begitu keren dibandingkan dengan model gaya hidup yang konsumtif. Padahal hal itu sebetulnya biasa saja.

Sebagai contoh, ketika kami sedang sibuk membuat properti untuk pameran, ternyata hanya satu orang dari seluruh mahasiswa yang sungguh-sungguh memiliki keterampilan sebagai tukang kayu. Keterampilan yang dimaksud adalah kemampuan untuk memahami, menelaah, membayangkan, mendesain, dan mengeksekusi segala ide dan gagasan yang berkenaan dengan perkayuan.

Saya kembali mengingat hasil pengamatan saya di masyarakat lokal. Hampir separuh dari istri muda di hari ini tidak dapat menganyam sehingga tidak bisa membuat sendiri perlengkapan adat mereka. Banyak yang menyatakan bahwa menganyam terlampau sulit. Padahal secara prinsip anyaman itu dapat dinalar dan dipraktikkan tanpa banyak kesulitan. Orang-orang tua di sini bisa menganyam sambil ngegosip seharian tanpa lelah loh. Para lelakinya hampir semuanya bisa membuat peralatan sendiri, dan membangun rumah sendiri. Tidak ada pihak yang bernama ‘buruh’ karena semua orang bisa melakukan segala hal seorang diri.

Saya membayangkan bahwa semua orang dahulunya juga melakukan hal yang sama dalam hidup mereka. Tidak ada pertimbangan bahwa melakukan hal-hal njelimet seperti menganyam misalnya, membuang-buang waktu. Padahal waktu yang terbuang tersebut sebetulnya juga digunakan oleh masyarakat di hari ini untuk mendapatkan uang yang barangkali juga nanti akan digunakan untuk membeli barang dengan fungsi sama. Kita hanya mengubah metodenya dan barangkali, mempermudah jalan menujunya.

Tidak ada maksud untuk menyatakan mana yang lebih benar dan lebih baik di hari ini. Saya yakin masing-masing dari kita memiliki pertimbangannya masing-masing mengenai setiap persoalan dan hal-hal yang berkenaan dengan hidup mereka. Hanya saja, saya ingin mengingatkan bahwa hal yang oleh rekan senior saya ini disebut ‘kearifan praktis’, pada masanya merupakan bagian yang dimiliki hampir semua orang, dan dipraktikkan. Tidak ada hal yang sungguh eksklusif dari DIY Projects dan handmade trends karena sebetulnya semua orang bisa melakukannya.

Percayalah, setiap orang yang menyatakan dirinya tidak bisa menggambar misalnya, akan menemukan bahwa dirinya setidaknya bisa menggambar satu karakter yang selalu sama. Dan untuk menjadi komikus, satu hal itu saja sudah cukup. Setiap orang yang mengatakan tidak bisa bermain musik misalnya, akhirnya akan turut bernyanyi juga apabila mendengar lagu kesukaannya. Dan begitu pula saya yakin, setelah mencoba dengan tekun, setiap hal yang kita pikir eksklusif sebetulnya adalah hal yang terlampau biasa saja.

Sebagai penutup, saya sebetulnya lupa tujuan tulisan ini apa gara-gara sempat terputus selama beberapa hari. Tapi begitulah gambaran singkatnya. Semoga berkenan.

wordsflow

perang (ii)


Di dunia ini senjata diperjualbelikan dengan bebas, dijual dengan harga terjangkau, dibiarkan tersebar tanpa pengawasan, dipersilakan untuk dibawa ke mana saja, dijadikan istri pertama, dan seterusnya.

Bisa kah saya menyalahkan laki-laki atas hal semacam ini? Apakah menyalahkan satu jender merupakan sebuah kesalahan?

Begitu bertemu internet siang ini, saya menemukan banyak sekali berita tentang Rohingya di media sosial. Sayang sekali saya tidak mampu mendalami lebih jauh segala yang saya baca sekilas di dunia maya tersebut. Tidak banyak yang bisa saya lakukan kecuali terus membaca sambil bertanya-tanya, pun mengutuki segalanya.

Saya sedang berada di posisi yang begitu akrab dengan senjata api setiap hari. Selama 24 jam komandan kami menenteng pistol tanpa terkecuali. Melihat dan memegang amunisi seolah ia barang yang sudah sering saya lihat di hidup saya. Begitu mudah kita mengenal senjata. Tapi tidak banyak barangkali, yang berani mengokang dan mengarahkannya pada manusia lain.

Kadang saya bergidik ketika mereka bercerita mengenai kondisi perang. Pada dasarnya, siapapun yang berada dalam perang, yang kita bilang salah ataupun benar, sama-sama memiliki ketakutan di dalam hatinya, sama-sama bersedih melihat saudaranya terluka, sama-sama memikirkan keluarganya di tempat jauh sana. Aneh sekali manusia di hari ini.

Pun dari cerita orang-orang pribumi tentang moyangnya, sungguh benar barangkali bahwa perang selalu didasarkan pada upaya untuk bertahan hidup dengan merampas wilayah kekuasaan. Tapi toh mereka berhenti ketika sadar bertotem sama satu sama lain.

Kadang solidaritas semacam itu pun terasa mengerikan di hari ini. Persamaan ras, agama, suku, dan bahasa menjadi dasar solidaritas antar kelompok dan terus menguat dari hari ke hari. Antara mensyukuri dan mengutuki sebetulnya. Melalui hal semacam itu ada banyak sekali hal yang dikesampingkan dan yang akhirnya bergeserlah prioritas seseorang dalam mengambil pilihan.

Ah, meski demikian, ada semacam kepercayaan bahwa suatu hari manusia bisa menyadari betapa manusiawinya juga orang lain yang sebelumnya kita anggap buruk. Ketika sadar bahwa toh tidak semua orang sebetulnya ingin menjadi pembunuh lewat perang, saya pikir mereka barangkali hanya ingin menjalankan tugasnya sebaik mungkin.

Di antara kisah-kisah kebanggaan menenteng senjata dan berpakaian loreng, ada cerita tentang kekecewaan tidak mampu masuk ke jurusan impian sebelumnya, kesedihan karena kehilangan saudara-saudara seperjuangan, kebahagiaan saat akhirnya bisa bertemu dengan anak pertama setelah dinas, dan seterusnya. Di samping ketidaksukaan saya pada beberapa hal yang mereka lakukan, pada dasarnya mereka pun sangat manusiawi. Amat sangat manusiawi.

Saya tidak tahu mengapa. Mungkin kita sama-sama telah menutup hati pada kemanusiaan orang lain, sehingga kita pun merasa satu pihak lebih buruk dari pihak lainnya.

Pada satu bagian bukunya, Jared Diamond menceritakan soal kuman dan bagaimana mereka mampu mempertahankan diri dengan menjangkiti manusia. Jika diceritakan lewat sudut pandang kuman, penyakit manusia adalah sebuah kemenangan nyata bagi para kuman. Bagi keduanya, betul bahwa gerak laju satu hal dan hal yang lainnya selalu berbarengan, dan keduanya berdialog lewat upaya saling mengalahkan.

Apakah manusia juga demikian?

Apakah jarak satu ras dan ras lain begitu jauhnya hingga merasa begitu berbeda? Apakah jarak satu agama dan agama lain sebegitu jauhnya hingga merasa lebih benar? Apakah perbedaan bahasa menghilangkan kemampuan berkomunikasi?

Tidak.

Di dalam hubungan yang sehat, perbedaan selalu bisa dirayakan. Begitu jauhnya saya dari hingar bingar cerita di tanah Jawa, hingga tidak tahu lagi saya akan banyak hal.

Benar, satu pilihan menyingkirkan berbagai kemungkinan di antaranya. Demikian orang sering berangan-angan soal dunia paralel yang tidak nyata itu (hal itu hanya hidup di pikiran dan mimpi malam). Maka saya haturkan terima kasih kepada manusia-manusia maya sehat jiwa yang setia menulis untuk saya baca.

Hidup itu pilihan kata orang. Apakah perang juga sebuah pilihan? Atau menjadi bagian perang adalah sebuah pilihan? Atau sebegitu muaknya manusia akan hidup hingga perang menjadi hal yang lebih menarik untuk dilakukan?

Kebingungan dan kemuakan ini tidak juga berakhir setiap kali membaca propaganda dan berita. Tidakkah kita ingin hidup saja sekedarnya?

wordsflow

etos kerja dan mekanisme janji


Seorang pecundang adalah dia yang tidak mampu menepati janji, dan dia yang tidak berani berjanji.

Sebaris kalimat itu muncul entah dari mana, bahkan saya sendiri tidak dapat memahami dari mana datangnya. Mungkin memang terkadang ada hal yang muncul tiba-tiba, bahkan sejak di dalam pikiran.

Apa yang kemudian saya ingat adalah soal etos kerja saya selama ini. Saya mencoba mengingat sejak mula tentang bagaimana cara saya bekerja, dan apa yang membuat saya merasa kecewa terhadap diri sendiri, dan apa yang kemudian saya syukuri dari diri.

Etos kerja adalah istilah yang tidak saya akrabi sampai saya masuk kuliah. Itu pun tidak terjadi pada awal saya masuk kuliah, namun setelah sekian lama saya berada di lingkungan kuliah.

Etos kerja saya buruk. Amat sangat buruk. Sering kali mungkin saya menjelaskan bahwa saya anak yang bisa mengatur waktu, memastikan bahwa setiap saat saya akan tetap bisa mengejar deadline dengan hasil yang sama baiknya dengan orang lain. Pada kenyataannya, saya hanya mencoba memberi pembenaran atas hal-hal salah yang saya lakukan dalam bekerja.

Saya ingat seorang teman menegur saya dahulu kala, mungkin tahun 2011 kalau saya tidak salah ingat. Ketika itu saya sempat berkata bahwa saya akan menghadiri sebuah acara. Namun yang saya lakukan adalah menghadiri acara lain dengan teman saya. Demikian, dalam perjalanan pulang sang teman bertanya, mengapa saya tidak jadi menghadiri acara yang pertama. Tentu saja karena tidak mau disalahkan saya menjawab bahwa kawan saya yang lainnya tidak bersedia menemani.

Meski cerita itu mungkin tidak diingat oleh sang teman, sering kali setiap saya merasakan kekecewaan pada diri atas etos kerja yang buruk, yang terjadi adalah munculnya kembali memori ketika itu di dalam ingatan saya. Seolah saya menertawakan diri ketika itu, mengutuk diri bahwa meski saya sadar yang saya katakan tidaklah benar, pada akhirnya saya mengingkarinya dengan perkataan lain.

Oh, hidup ini penuh kepalsuan saya kira.

Beberapa kali saya kemudian merasa bahwa hidup saya memang penuh dengan kepalsuan. Entah tentang diri sendiri atau tentang yang lainnya.

Tapi itu soal yang lain lagi. Sedang yang ingin saya bahas adalah perihal etos kerja.

Jauh setelahnya, saya sering mengalami kekecewaan terhadap diri sendiri. Dan hal paling luar biasa adalah, tidak ada yang berubah dari diri saya kecuali terus menerus bekerja dengan etos kerja yang sama buruknya dengan sebelumnya. Berapa kali saya berakhir dengan diomeli pelanggan karena tidak memenuhi target pengerjaan barang. Berapa kali saya harus mempercepat ketikan karena deadline tugas kuliah. Atau berapa kali saya akhirnya menyerah karena tidak berhasil memenuhi deadline tertentu. Berkali-kali hal semacam itu menjadi keakraban harian saya.

Tapi saya lantas bertanya-tanya, apakah dengan demikian saya sama saja tidak bekerja dengan passion? Atau saya hanya tidak fokus saja? Atau sebetulnya memang begitulah cara kerja yang terbaik untuk saya?

Jawabannya masih belum saya temukan tentu saja. Ada banyak metode kerja yang bisa saya uji cobakan ke diri sendiri. Saya bisa meniru satu teman dan teman lainnya, saya bisa meniru berbagai manusia sukses di luar sana, atau kalau tidak ingin terlihat seperti pengikut, saya bisa mulai untuk mengevaluasi diri sendiri dan akhirnya menemukan kelemahan dan kekuatan saya sendiri.

Lagi-lagi, itu masih sebatas bisa jadi. Ada hal-hal yang tetap tidak membuat saya terdorong untuk memperbaiki etos kerja saya selama ini. Mungkin alam bawah sadar saya menyatakan bahwa ini adalah metode yang paling baik yang bisa saya adaptasi, dan tidak ada lagi yang akan lebih baik dari ini! Atau, saya hanya tidak mau memperbaiki etos kerja saja. Sesimpel itu.

Di balik etos kerja yang begitu menyebalkan itu, saya sering kali menjebakkan diri dalam janji-janji. Lagi-lagi ini soal waktu dan kualitas kerjaan.

Dalam janji, banyak sekali hal yang kita bicarakan, lantas kita sepakati. Banyak sekali kemudian yang muncul di dalam pemahaman satu sama lain, dan sangat mungkin ada perbedaan pemahaman di antara keduanya. Ekspektasi muncul di dalam janji. Demikian, maka janji menciptakan jarak antara diri dan realitas yang mungkin tercipta nantinya.

Janji menjadi sesuatu yang lain dari realitas itu sendiri.

Hemm, saya takut akan masa depan. Takut jika ada hal yang gagal saya pahami sampai tiba saatnya harus undur diri.

wordsflow

the wild


Ada judul ini di draft blog. Mari saya karang beberapa kalimat.

Tiba-tiba ada ketakutan asing yang saya rasakan. Muncul dari ketiadaan begitu saja. Tenang di permukaan, keruh di kedalaman. Aneh sekali.

Lalu saya juga ingin nonton film Into The Wild, secara saya belum pernah menontonnya, bahkan trailernya pun belum pernah nonton. Jangankan itu, spoilernya juga tidak pernah saya dengar. Hanya selalu judulnya. Dan asik sekali mengucapkannya, in-to-the-wild. Maksudnya gimana ya? Mendalami alam liar? Masuk ke alam liar? Atau, gimana?

Mungkin saya memang materialis, bisa jadi. Saya semakin tidak yakin dari hari ke hari mengenai apa yang pasti dan tidak pasti. Saya duga sayapun sering menyangkal dan mengiyakan hal-hal yang disangkakan kepada saya. Sekedar untuk memudahkan saja.

Tapi, bicara mengenai alam liar, harus dimulai dari mula-mula. Apakah yang menciptakan peradaban? Manusia, saja? Atau secara alami melalui dialog panjang antara manusia dan alamnya?

Kita bagian dari alam liar, semua sejarah menyatakan demikian. Manusia tidak muncul sebagai makhluk berbaju. Di sana kita bertemu perbedaan manusia dan binatang untuk pertama kalinya. Dibandingkan hanya menikmati, manusia memanipulasi alam untuk mendukung keinginnya, untuk membantu pekerjaan, untuk melindunginya, untuk mencapai tujuan-tujuannya, dan seterusnya, dan seterusnya. Manusia tidak menggunakan alam sebagaimana jerapah hanya akan memakan daun akasia yang tumbuh tinggi, atau wildebeest yang pasrah saja menyeberang ganasnya sungai Masai Mara. Tidak, manusia memanipulasi alam demi dirinya sendiri.

Pertanyaan selanjutnya, apakah kemudian tindakan manusia itu meniadakan kealamian dirinya dan alam lingkungannya? Sementara manusia adalah bagian dari ekosistem natural, dan demikian kemampuan dan kecerdasan manusia merupakan hal yang juga natural. Jika demikian, maka tidak ada hal yang bisa disebut sebagai peradaban, atau kebudayaan. Semua alami saja. Natural. Tidak butuh penjelasan.

Saya curiga, bahwa dengan munculnya terminologi peradaban dan kebudayaan, maka manusia ditempatkan sebagai kekuatan yang sama besarnya dengan alam itu sendiri. Terlebih, terminologi ‘adaptasi’ menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang bisa ‘mengimbangi’ gerak alam yang tidak tentu. Ah, jumawa sekali.

Kemudahan yang ada di hari ini menjauhkan kita dari keliaran. Demikian, alam menjadi hal yang mengundang namun juga mengancam. Tidak ada yang mudah di alam bebas. Tapi mengapa sampai ada kalimat itu? Mungkin karena seolah kita ditantang untuk menguji kemampuan manipulasi kita sejak mula. Sejak masih piyik, dengan modal badan doang. Hemm, menantang sekali.

Saya pernah menulis ini di blog ini, tentang seberapa rentan manusia di alam. Dibandingkan dengan makhluk lain, kekuatan manusia itu kecil, meski bisa dilatih juga sih. Tapi kecil. Kita mudah menggigil misalnya. Dan berapa banyak manusia yang meninggal karena hipotermia di gunung? Tidak sedikit saya kira.

Dih, ini mau ngomong apa sih?

Well, nyatanya saya mengalami euforia berlebihan ketika saya melihat penyu di laut lepas. Seolah luar biasa sekali melihat hewan di alam liar–atau habitat? Saya jadi bingung memilih istilah yang tepat. Tapi tampak sekali bahwa di dalam pemahaman saya, alam menjadi hal yang sangat eksklusif. Kenampakan binatang tidak jinak menjadi hal yang mengagumkan diri saya, membuat saya mau berlama-lama mengamati. Mau bersabar untuk menanti.

Peradaban adalah sebuah kolaborasi yang tidak sumbang antara manusia dan alam lingkungannya. Tidak mendominasi, namun mengiringi. Kejumawaan manusia hanya akan menghilangkan kekayaan komposisi, sedangkan ketidakmampuan manusia mengimbangi menciptakan keliaran komposisi. Apakah analogi itu benar? Barangkali begitu. Bisa jadi juga tidak. Tapi begitu. Seolah sedang berkolaborasi, manusia dan alam menciptakan keindahan baru dari keindahan-keindahan yang telah ada. Meski menurut saya, ada prasyarat yang juga harus dipenuhi oleh manusia. Bahwa kita harus mengenal alam sebelum terjun berkolaborasi dengannya.

Tentu saja, agar kolaborasi itu tidak menciptakan kesiasiaan baru dan nada sumbang baru.

Tapi di hari ini manusia terlalu mengendalikan. Ibarat main gitar, manusia mengatur ketegangan senar sesuka hati. Begitu dimainkan ambyar. Alam liar tersisa sebagai nada indah yang sesekali keluar dari kesumbangan senar-senar. Menjadi hal yang tidak biasa, di luar dugaan. Terlalu gumunan terhadap apa-apa yang disuguhkan alam begitu saja.

Hemm, percakapan mengenai manusia dan alam ini semakin panjang saja. Saya belum mau merumuskan apapun, masih banyak buku yang harus saya baca, hal yang harus saya lihat, diskusi yang harus saya ikuti. Tapi demikian, di satu pihak saya merasa manusia sudah kelewat batas. Tapi di satu pihak saya toh nyaman dengan sikap keterlaluan manusia itu, bahkan cenderung mengikutinya.

Saya mengantuk.

wordsflow

menyoal politik di hari ini


Okai, mari kita singkirkan dulu perlahan urusan emosinal dalam menghadapi gejolak politik hari ini. Sudah lama sebetulnya, urusan politik menjadi begitu memuakkan untuk diikuti. Namun, tidak bisa tidak, hal itu secara langsung mempengaruhi hidup kita dalam praktik. Menyebalkan memang, mencoba tidak peduli namun toh terpengaruh juga dengan hal-hal tersebut.

Saya lama tidak menonton tv. Sungguh sudah lupa kapan terakhir kali menonton tv saya jadikan rutinitas harian. Namun saya cukup rajin mengikuti berita di koran atau media sosial untuk tetap tahu apa yang sedang terjadi di hari ini. Belakangan, Instagram menjadi platform yang saya gemari untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.

Sebelum membahas substansinya, saya mau berargumen mengenai Instagram ini.

Dalam beberapa kesempatan mungkin banyak yang menyatakan kejenuhannya akan media sosial. Tapi saya tidak begitu saja menggunakan media sosial untuk mencari dukungan atas argumen saya mengenai banyak hal. Media semacam Instagram dengan berbagai akun yang ada, entah pribadi, perusahaan, berita, bahkan akun masak, memberikan kemudahan kepada saya untuk menelusuri berbagai berita yang ada.

Lalu, apa yang menarik dari hari-hari belakangan ini?

Semakin lama, semakin ekstrim saja masyarakat kita. Kadang saya bertanya-tanya bagaimana kesadaran mereka akan berbagai hal yang ada di hari ini. Melihat berbagai adu pendapat yang ada di dalam dunia empirik dan dunia maya membuat saya bergidik ngeri. Masyarakat dengan mudahnya berdiri di dua kutub ekstrim berlabel pro dan kontra.

Oposisi biner telah menjadi dasar strukturalisme dalam melihat banyak hal. Levi Strauss bahkan menyatakan bahwa hal itu adanya bukan di tataran consciousness, namun pada tataran sub-consciousness. Ini menarik, karena hal tersebut secara tidak langsung menyatakan bahwa setiap manusia melihat berbagai hal dalam dua pertimbangan oposisi biner. Di hampir setiap hal!

Entah, saya bingung. Saya pribadi ngeri membayangkan bahwa saya bisa melakukan sesuatu secara tidak sadar, yang mana itu berarti saya tidak punya kontrol atas diri saya sendiri. Apapun yang ada di bawah sadar harus juga saya sadari bahwa ia ada di alam bawah sadar. Perkara saya akhirnya melakukannya karena sadar atau tidak bukanlah soal utamanya, namun yang menjadi penting adalah menyadari bahwa hal itu berada di dimensi mana.

Ketika saya menemukan berbagai postingan individu untuk turut bergerak bersolidaritas (dalam hal apapun), bukan perkaranya yang justru membuat saya bertanya-tanya. Melainkan perihal kesadaran masing-masing orang yang turut serta dalam gerakan tersebut. Ini soal value struggle di dalam diri seseorang.

Dari berbagai persoalan manusia, saya pikir pada perihal kesadaran ini lah yang paling membuat saya tertarik. Berkali-kali saya mempertanyakan sesuatu dan berupaya sekeras apapun untuk menemukan jawabannya. Pada akhirnya, kesemua hal tersebut adalah upaya untuk menyadari suatu perkara; apa, bagaimana, mengapa, dan segala bentuk pertanyaan tentangnya.

Maka, ketika saya menemukan bahwa masyarakat dengan mudahnya beroposisi, saya bolak-balik penasaran dengan dasar pemikiran yang membuat mereka melakukan hal tersebut. Apakah yang ada di dalam pikiran mereka, bagaimana pertimbangan mereka, apa yang mereka cari, apa yang sebetulnya mereka tuntut, dan apa yang sesungguhnya mereka pikirkan tentang manusia? Banyak orang di sekeliling saya sepakat bahwa politik hanyalah soal permainan. Politik tidak ubahnya sebuah tarik ulur kepentingan, sebuah upaya untuk berbagi jatah dalam skenario pembagian kekuasaan.

Dan kenyataan pahit yang kadang tidak disadari adalah bahwa kita, masyarakat, menjadi pihak yang paling dirugikan atas segala bentuk permainan politik!

Bayangkan, berapa kali sistem politik negara ini berganti. Berapa kali kita mengubah sistem dan jabatan di dalam pemerintahan. Berapa kali kita berdebat karena permasalahan kenegaraan. Menyisakan apa? Kita yang masih merupakan masyarakat sipil biasa. Yang menjadi orang tua tetap memiliki anak. Yang menjadi anak tetap memiliki orang tua. Yang bersaudara tidak akan bisa menghapus kesedarahannya dengan saudara lainnya. Kita masih berdebat dengan kehidupan sehari-hari pula.

Kita ini objek permainan politik. Dan terlalu sedih mendapati bahwa masyarakat dengan mudahnya (atau mungkin mereka sebenarnya tidak merasa mudah juga) beroposisi secara ekstrim pada dua kutub yang begitu jauh berlawanan. Lalu, siapa yang mau dengan susah payah menempatkan diri dan berkorban sebagai jembatan di antara keduanya?

Antara muak namun merasa harus peduli dengan perkara ini, saya pun gamang dalam melihat, apalagi menghadapi dan menanggapi. Masyarakat terbelah menuju dua kutub ekstrim. Anehnya, relasi yang tercipta di antara mereka masih saja sama. Bisa saja kedua pihak adalah rekan kerja, teman kuliah, saudara kandung, dan sebagainya. Dalam pertikaian menentukan mana yang menurut mereka patut dibela, keduanya kemudian bertemu dengan kenyataan bahwa sebeda apapun mereka dalam pendapat hubungan persahabatan mereka cukup pantas untuk dipertahankan meski beberapa ada yang memilih untuk bertikai, beberapa terpaksa berdamai karena memiliki hubungan darah yang tidak mungkin dihapuskan.

Saya prihatin sih sebenarnya melihat semua ini. Hanya saja, sejauh ini saya pun belum melakukan sesuatu kecuali berusaha mendalami lingkungan sekitar saya, sembari berkesadaran semakin tinggi mengenai hidup. Refleksi menduduki tindakan paling tinggi yang dapat membawa pada pemahaman akan kemanusiaan menurut saya. Sebagai hasilnya, kesadaran akan kemanusiaan akan datang bersama dengan kedalaman refleksi yang sudah dilakukan.

Entahlah, saya pun masih hanya sekedar menuliskan ini. Jauh di belakang pemikiran, saya mengagumi pendidik-pendidik saya yang mendorong saya untuk terus melakukan refleksi. Mungkin, barangkali mungkin, pendidikan yang berbasis refleksi akan membawa kita pada kemanusiaan dan keadilan yang lebih dari sekedar jargon saja. Semoga.

wordsflow