WORDS FLOW

just go with the flow and whatever happens, happens

Category: on Opinion

Wabah


Sebetulnya saya enggan menuliskan tentang ini di blog. Bukan karena saya tidak peduli, tapi sungguh karena saya merasa terkuras habis tenaganya hanya untuk memantau, sedih, marah, prihatin, juga mencoba berpikir keras untuk membantu tapi akhirnya tidak menemukan sumber daya yang memadai di diri sendiri; miskin, bukan tenaga kesehatan, dan cenderung merupakan bagian dari masalah.

Belum ada satu minggu saya kembali dari Jogja, tapi rasanya sudah lewat dari sebulan. Saya kesulitan merasai hari dan juga menakar waktu di tengah huru hara ini. Masih sangat baik karena lingkaran terdekat saya belum bersentuhan langsung dengan wabah, yang mana saya sungguh tidak ingin itu terjadi. Saya punya privilese untuk memesan bahan makanan secara daring, masih memiliki penghasilan di tengah guncangan ekonomi, juga sehat dan bugar sebagai manusia, mendapat kebijakan bekerja dari rumah, dan masih bisa mengakses dunia lewat internet. Saya aman sentausa di dalam kamar kos berukuran 4×6 meter ini.

Tapi saya begitu lelah membacai media sosial, tapi saya butuh tetap terhubung dengan berita terbaru terkait wabah ini sehingga saya tetap membaca meskipun muak.

Saya mencoba menelaah beberapa pemikiran meskipun ini bukan opini yang populer.

Sejauh yang saya tahu, Indonesia adalah negara konsumen, bukan produsen, dimana semua barang yang sehari-hari kita konsumsi mayoritas berasal dari luar negeri. Kenapa begitu? Karena masyarakat kita cenderung lebih suka menjadi middle man, atau menjadi penjual jasa. Menjadi produsen itu melelahkan, menguras pikiran, sumber daya, dan kita harus sungguh mandiri. Karena sebelumnya saya bekerja di sektor kreatif, ada juga pergeseran selera konsumen dan produsen dari komoditas yang memiliki nilai guna ke komoditas tersier yang menjual vibes saja. Benda-benda tidak bernilai guna ini sayangnya memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi dibandingkan benda-benda bernilai guna. Pun, negara juga lebih mempermudah impor dibandingkan membangun ekosistem produksi yang mapan di dalam negeri.

Masyarakat kita latah sekali soal komoditas, cenderung enggan untuk berinovasi dan mudah berkiblat ke orang lain dalam menciptakan produk. Demikian, pasar Indonesia lebih banyak dikuasai oleh produk dari luar dan semakin jauh mereka menajamkan taringnya di Indonesia, produsen Indonesia megap-megap karena merasa tidak mampu bersaing. Sayangnya, kesadaran tidak mampu bersaing ini sering cepat sekali diasosiasikan dengan modal. Meskipun benar, kita punya masalah lain yang juga penting, kekurangan sumber daya dan kemampuan untuk mengembangkan komoditas, kurangnya regulasi pemerintah dan keberpihakan pemerintah pada industri dalam negeri, tidak ada perlindungan dan sulit sekali industri kecil untuk mendaftar HAKI, insentif juga minim, dan serangkaian masalah lain yang fasih sekali disebutkan pelaku industri.

Saya bukan ahli ekonomi, dan hanya pernah sebentar saja mempelajari ekonomi politik, pun tidak lulus sempurna. Setelah itu juga tidak banyak membaca buku atau artikel yang berhubungan dengan ekonomi. Tapi sebagai pedagang, saya sering kali merasa kesulitan untuk memasarkan produk. Produsen atau pedagang harus berjuang sendiri untuk mampu memasarkan produknya lewat pameran atau platform lintas regional. Pendataan kelompok-kelompok industri juga sering kali hanya berakhir di lembaran-lembaran laporan kajian dan tidak dilanjutkan ke eksekusi teknis. Sementara pelaku menunggu sembari harap-harap cemas. Beberapa lokakarya strategis sering kali salah sasaran dan hanya berakhir menjadi ajang buang-buang anggaran semata.

Meski awalnya enggan, saya punya satu alasan ketika memilih masuk ke instansi sebelum ini. Meski terdengar muluk-muluk, industri kreatif memiliki ekosistem yang baik karena berbasis komunitas meskipun ada yang memiliki level berjenjang dan skala yang bervariasi. Saya punya harapan sangat besar bahwa saya akan bisa menolong komunitas kreatif ini suatu hari nanti. Tapi kadang cita-cita sedikit meleset dari jalur takdir jadi saya kudu bersabar untuk mewujudkannya.

Semua orang tahu bahwa pemerintah kita bermasalah. Ada hal-hal yang tidak beres tapi alih-alih mencoba untuk benar-benar mencari tahu apa yang terjadi dan memperbaikinya sebisa mungkin, orang lebih suka menghindarinya sama sekali atau mengikuti arus saja. Tapi kita tetap protes. Dan itu melelahkan sekali, setidaknya buat saya pribadi. Lagi-lagi, ini sangat pribadi. Bisa jadi karena saya yang tidak mudah menerima hal-hal atau cenderung memaksakan diri akan sesuatu.

Di tengah wabah ini, saya menyadari bahwa saya memiliki sangat banyak privilese sebagai orang yang memiliki dualitas. Saya memiliki secuil persiapan untuk mengadapi masa sulit semacam ini. Bisnis mikro yang saya jalani tidak bergantung pada sistem tertentu sehingga ketika krisis berakhir, saya tidak akan kesulitan untuk memulai kembali karena modal utama usaha adalah keterampilan.

Tapi saya melihat teman-teman saya mulai merasakan dampaknya karena tidak memiliki perlindungan dan jaminan usaha. Beberapa usaha yang memiliki pegawai dan padat modal cenderung sulit bertahan. Jika krisis terus berlangsung, usaha yang sangat besar atau yang sangat kecil saja yang akan mampu bertahan, sementara usaha menengah cenderung tertekan karena ada beban pegawai, beban sewa, dan target produksi dan penjualan yang tidak terpenuhi. Akumulasi tekanan itu akan membuat mereka tidak mampu lagi berdiri dan akhirnya menutup cabang-cabang usahanya, atau menjual usahanya ke pemilik modal agar memiliki sedikit simpanan untuk bertahan hidup atau memulai bisnis kembali. Posisi ini yang akan membuat kesenjangan antara yang kaya dan miskin semakin besar karena yang kaya mudah saja mengambil alih usaha menengah dan menguasai pasar sementara bisnis kecil tertatih-tatih memulai kembali.

Ini bahasan yang umum ada di kelas-kelas diskusi kami tapi saya lupa buku-buku atau tulisan siapa yang bisa dirujuk untuk membahas ini. Pokoknya ada, silahkan cari sendiri.

Wabah ini juga mempengaruhi ke-Jakarta-an saya. Seringkali saya membayangkan, saya sebagai warga kota rentan sekali, dan cenderung tidak akan bertahan di masa krisis karena masyarakat kota bergantung pada distribusi komoditas. Kita tidak membuat makanan kita sendiri. Sistem ekonomi kita juga lemah. Saya sering kali menjejali pikiran dengan kemungkinan bahwa ekonomi akan kolabs suatu hari ketika krisis datang, entah karena bencana alam, terputusnya rantai distribusi, chaos politik, atau wabah seperti ini. Ternyata ketakutan saya memang beralasan karena akhirnya saya sampai di titik ini juga.

Krisis ekonomi tahun 1998 mengingatkan saya bahwa ada orang-orang paling terdampak di kota-kota besar. Cerita-cerita kawan saya yang selama berhari-hari tidak bisa keluar rumah entah bagaimana menjadi alarm untuk saya sendiri. Demikian, pikiran-pikiran nun jauh di depan sana mudah sekali mengganggu saya sewaktu-waktu sampai kadang membuat saya gentar untuk tetap berada di kondisi sekarang. Tapi itu satu hal. Saya pikir saya toh akhirnya akan bisa mengatasinya dengan satu dan lain cara.

Setelah berhari-hari memberi asupan hal-hal memilukan dan penuh dengan hal-hal negatif, hari ini saya ingin menggeser sedikit hal-hal itu dan mengerjakan hal lain yang sebetulnya lebih menyehatkan untuk mental dan pikiran saya. Tetap ingin mendoakan yang terbaik buat teman-teman, terutama yang bekerja di sektor informal karena tentu saja ini pukulan yang berat. Hang in there, hope we can survive.

wordsflow

apakah sekumpulan anak bandel bisa membubarkan satu sekolah?


Mari memulai tulisan ini dengan kesadaran bahwa ada masa ketika kita memiliki mimpi dengan kondisi ideal tertentu di masa muda yang ceria. Tapi kini sampailah kita pada masa di mana kondisi ideal itu tidak mampu kita, ah saya, gapai tetapi life must go on.

Ceritanya panjang, tapi singkatnya, 10 tahun terakhir adalah fase perubahan terbesar dalam hidup saya. Bukan hanya pada ranah internal, tapi juga kondisi-kondisi lain di luar diri yang sampai sekarang belum mampu saya tangani.

Minggu kemarin bos bilang soal tren anak muda yang sering kali berpindah tempat kerja karena atasan yang begini dan begitu. Setelah unggahan itu, bos berkomentar bahwa itu privilese yang bisa didapatkan oleh pekerja swasta. Tapi kondisinya akan sangat berbeda untuk bos, juga untuk saya. “Kalo bisa punya atasan yang enak dan sesuai sama nilai-nilai yang kita anut ya beruntung sekali kita,” begitu lanjutnya.

Begitulah. Kita bisa punya kondisi ideal yang kita impikan dan kita angankan pada titik sebelum nol. Tapi ternyata, begitu memasuki nol kita menemukan bahwa ada banyak kondisi yang tidak bisa kita kendalikan. Hal semacam ini juga berlaku untuk hidup, juga pada setiap tahap perubahan umur.

Di masa saya banyak sekali menghabiskan waktu untuk membaca buku dan membangun idealisme, umur 27 tampaknya adalah masa keemasan bagi seseorang untuk mematok lebih dalam nilai-nilai dan idelismenya, lantas menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tapi barangkali juga lupa, bahwa kurun waktu inilah yang paling sulit karena kita mengalami transisi dari pelajar ke pekerja, dari pengamat ke pelaku, dari idealis menjadi realis. Tapi tentu, bukan berarti kondisi itu harus meniadakan hal pertama.

Juga harus saya katakan, bahwa setelah penyangkalan yang panjang dan tidak kunjung usai, barangkali saya harus memantapkan kesadaran bahwa arena masing-masing orang berbeda, dan karena kita akan melawan dengan cara yang berbeda, bersaing dengan cara yang berbeda, dan menuju hasil dan keluaran yang berbeda.

Pada tahap ini, saya cukup senang menyadari bahwa banyak dari rekan-rekan saya yang tetap pada jalur idealismenya dan mengejar cita-cita masa lalunya tanpa tergerus oleh laju kencang arus utama kelompok pekerja. Sebetulnya bisa saja saya melawan keterlanjuran ini dengan putar balik dan kembali berkerajinan tangan. Tapi enggan saya lakukan karena satu dan lain hal, ada persoalan kondisi ideal yang saya idamkan, juga ada kekecewaan saya terhadap banyak hal.

Kompleksitas itu membawa saya pada kesimpulan bahwa ada hal yang tetap bisa saya lakukan dengan kondisi yang tidak ideal ini.

Ingat sekali di hari terakhir pelaksanaan program tahun lalu, bu bos menangis dan mengucapkan terima kasih ke kami. Dia menyadari bahwa kerja dengan sistem yang dia patok tidaklah mudah. Saya tapi juga barangkali lupa bahwa sebagai atasan, bu bos juga bersusah payah untuk selalu mematuhi koridor nilai-nilai yang ia patok sendiri, idealisme yang ia pegang sedari lama, dan sembari melawan, sembari memberi bukti ke banyak orang bahwa hal-hal tetap berhasil dikerjakan dan kami baik-baik saja. Di waktu ketika hal-hal masih terlihat jelas dan kondisi kerja begitu menyenangkan, saya tidak mampu melihat di mana inti utamanya.

Tapi hal-hal berubah. Ada cukup banyak hal di dalam perubahan yang membukakan saya pada fakta-fakta baru di balik kerja kami yang selama ini menyenangkan meskipun lelah, menantang, dan emosional. Ini menghancurkan harapan saya sejujurnya, dan selama beberapa hari terakhir, minggu terakhir, kami semua mengalami kekecewaan yang jauh lebih berat.

Tapi kemudian ingat dengan kalimat bu bos. Di tengah gempuran hal-hal ini, kami dan ibu membangun pertahanan bersama, pun kalo bisa disebut demikian. Kami saling menjaga koridor masing-masing agar sesuai dengan idealisme dan nilai-nilai yang sudah dipegang dan dijaga selama bertahun-tahun. Barangkali akhirnya mengerti di mana arena perlawanan saya sekarang, dan tidak perlu bersusah payah untuk menjadi sama dengan orang-orang terdekat saya di luar sana.

Meski saya sering kali dilanda rindu yang membawa pada sekelebat rasa iri, saya pikir baik sekali kiranya bahwa kita berada di jalan yang berbeda, tapi masih bisa saling memantau. Bahwa kamu dan kamu dan kamu dan semua orang yang masih melakukan hal-hal yang seringkali kita idealisasikan di bangku sekre atau di bawah pohon rindang, di bangtem, di kelas, di puncak-puncak gunung, di dalam gelap gua, di masa-masa keemasan kita, so proud of you.

Masih sesulit itu untuk memastikan semua cerita di atas saya praktikkan dalam hidup. Ada masa-masa dimana saya marah luar biasa tapi tidak mampu memuntahkannya. Struktur kekuasaan memang memuakkan. Begitulah yang bisa saya ceritakan hari ini.

Dan di tengah semua hal ini, hanya ada 3 hal yang bisa menghibur saya: pulang ke Jogja, istirahat lebih awal, dan makanan enak. Malam ini, saya mau istirahat lebih awal. Tabik.

wordsflow

pindah.


Akhirnya pindah juga, hehe. Kantor sedang kacau sekali, sudah berhari-hari banyak hal silang sengkarut tidak karuan. Ibu atasan sampai nangis, tentu saja sedih.

Sembari menunggu kami pindahan secara resmi sore ini, mau mengisi waktu dengan menulis cerita perjalanan awal minggu ini. Paling random di antara perjalanan yang pernah saya lakukan dari kota ke kota. Tapi tetap senang sekali karena akhirnya selalu berhasil mengejar moda transportasi tanpa ketinggalan. Barangkali blog ini akan mulai bercerita bagaimana cara saya mengejar satu moda transportasi ke moda transportasi yang lainnya. Hehehe.

Sudah 2 malam mencoba untuk membeli tiket mudik dan gagal. Entahlah nanti apa yang akan saya pilih untuk moda transportasi pulang. Ternyata memang sulit bahkan sekedar untuk mendapatkan tiket pulang. Jadi yasudah nanti dipikirkan belakangan, hehe.

Jadi, hari Selasa lalu saya mendapat tugas kantor untuk pemeriksaan lapangan, satu hari saja. Ini barangkali akan menjadi dinas terakhir saya ke proyek yang sejak Agustus 2019 saya tangani. Begitu senang ketika akhirnya benar-benar selesai setelah drama berkali-kali, emosi, juga hampir putus asa di tengah jalan. Sebagai dinas terakhir yang berkesan, maka akan saya ceritakan sedikit pengalaman saya ngejar-ngejar kereta dan pesawat, hehehe.

Lokasinya di Solo, dan karenanya pesawat saya akan lewat atas Ungaran dan Merapi-Merbabu akan terlihat jelas, cantik sekali di pagi hari penerbangan pertama Jakarta-Solo. Saya sampai di bandara jam 7 pagi, sudah siap menunggu tim lain yang akan menjemput dari Jogja. Nyatanya, tidak sampai 20 menit kemudian, tim yang di Jogja memberi kabar bahwa pemeriksaan dibatalkan sepihak, dan saya harus ke Jogja. Beberapa menit sebelumnya saya baru saja bercanda di twitter soal ini dan akhirnya benar-benar harus ke Jogja. Besok-besok ndak boleh sembarangan iseng. Berstrategilah saya untuk bisa pp Solo-Jogja dalam waktu singkat sebelum akhirnya harus kembali untuk mengejar pesawat jam 18.50 ke Jakarta. Ini juga sial sekali karena tidak bisa minta reroute tiket karena satu dan lain hal.

Karena sudah begitu akrabnya saya dengan orang-orang yang menangani proyek ini di Solo, alhasil saya harus bertemu mereka untuk menjelaskan duduk perkaranya, membahas hal-hal lain, juga mempertanggungjawabkan waktu yang sudah mereka luangkan untuk kegiatan ini. Dengan semua hal itu, saya baru bisa beranjak ke Jogja di jam 11.40 dengan membeli tiket tarif khusus Solo-Jogja. Penolong di saat tidak ada jadwal Prameks yang pas.

Sebetulnya, perjalanan ke Jogja itu sangat berresiko karena kemungkinan besar saya tidak akan bisa mengejar pesawat tepat waktu. Jam 13.00 saya baru berhasil sampai ke Satub. Saya meminjam motor untuk mengurus beberapa hal dan baru kembali lagi ke Satub jam 15.00. Buru-buru meminta tolong ke Yoman untuk diantar ke lokasi pemeriksaan yang lain lagi di Jogja, berkoordinasi dengan tim lain dan buru-buru ke stasiun karena kereta saya berangkat (lagi) ke Solo di jam 16.40.

Hal yang sebetulnya kadang bikin sebel tapi juga suka membuat saya mengapresiasi diri sendiri adalah dorongan personal untuk memanfaatkan waktu semaksimal mungkin sampai batas-batas yang diijinkan. Selalu berangkat ke stasiun paling lama 25 menit sebelum keberangkatan. Dan pernah sekali waktu 10 menit sebelum keberangkatan. Tapi jika dihitung dengan kondisi agak-terburu-buru-tapi-santai, waktu yang dibutuhkan dari Satub ke Lempuyangan cukup 7 menit saja. Kadang diomeli Yoman karena selalu dia yang akhirnya ikut was-was kalau saya mintai tolong mengantar ke stasiun. Syukur sekali saya berhasil sampai di stasiun 3 menit sebelum keberangkatan. Jadi tidak perlu lari-lari.

Kereta ini sampai di Solo Balapan jam 17.30. Sebetulnya ada kereta bandara dari Solo Balapan, tetapi kereta ini berangkat pukul 17.34, dan saya tidak diperbolehkan lagi untuk masuk ke peron meskipun kereta belum berangkat. Padahal sudah lari-lari naik turun sky bridge for nothing. Hahaha. Akhirnya saya beralih ke ojek online. Sebetulnya sedang gerimis agak deras, dan cukup jauh jarak dari Solo Balapan ke bandara. Setelah drama salah jalan karena Purwosari sedang renovasi untuk dibuat underpass, sempat-sempatnya beli bensin, celana basah, dan banyak hal lainnya, akhirnya saya berhasil sampai di bandara jam 18.20.

Lari-lari dari gerbang masuk karena motor ribet kalau harus masuk, sedikit basah, akhirnya sampai di ruang tunggu 5 menit kemudian. Setelahnya, saya aman saja sampai bandara Soeta, juga berhasil sampai kosan sebelum jam 10 malam karena sudah memesan kereta bandara secara daring sejak malam sebelumnya. Sayang sekali perjalanan ini memakan korban satu komik QED karena tertinggal di kereta bandara akibat ketiduran. Hahahaha.

Perjalanan panjang ini hampir-hampir membuat saya tidak percaya. Di pagi harinya bahkan saya hampir ketinggalan juga karena ban motor yang saya tumpangi bocor di tengah jalan. Harus pindah moda transportasi di pagi buta tapi ya beruntung aja. Bisa jadi itu juga pertanda kalau seharusnya saya tidak perlu berangkat ke Solo di hari itu. Hahaha.

Perjalanan ini membuat saya menyadari bahwa mindset integrated transport tidak bisa dinikmati oleh orang yang betul-betul terburu-buru atau kelelahan di jalan. Dari Solo Balapan ke kereta bandara misalnya, meskipun rel kereta dan keretanya berjajar berdampingan, saya tidak bisa langsung menaiki kereta karena tidak tersedia loket di antara dua jalur ini. Saya harus keluar dulu, naik dan menyeberang sky bridge, lalu membeli tiket dan turun ke peron. Juga ketika turun di Stasiun BNI City, kita harus berjalan jauh ke arah stasiun Sudirman untuk bisa naik bus, ojek online atau taksi. Di bandara juga kasusnya sama. Jika kamu pejalan kaki atau pengendara motor, niscaya akan butuh waktu lama untuk mencapai pintu masuk karena drop off tidak diperuntukkan untuk pengendara motor atau pejalanan kaki.

Paling suka dengan sistem krl, stasiun, dan bus trans Jakarta yang memudahkan sekali untuk dijangkau pejalan kaki. Ini juga barangkali salah satu dosa arsitek karena melestarikan perbedaan kelas untuk mengakses suatu fasilitas atau bangunan. Jarang sekali menemukan jalur pejalan kaki dengan peneduh, sementara drop off selalu indah dan estetis.

Sementara harapan untuk moda terintegrasi sering kali memusingkan pengguna karena harus memutar jauh sekali untuk berganti moda. Padahal jauh lebih baik jika mampu memberikan alternatif untuk pengguna. Misalnya di halte MRT Bundaran HI, pengguna bisa masuk langsung dari halte TJ atau dari pinggir jalan, jadi pengguna tidak perlu menyeberang jalan sekedar untuk masuk ke stasiun MRT.

Saya teringat satu bahasan tentang bandara baru Jogja, yang jaraknya jauh sekali sementara kereta bandara yang disediakan tidak sampai ke lokasi bandaranya. Seseorang di twitter pernah nyeletuk jika hal itu tidak segera diberi solusi lain selain menyediakan Damri dari Sleman, bisa jadi orang akan jauh lebih memilih untuk berangkat atau pulang dari bandara Solo. Ini juga yang jadi pemikiran saya jika saya harus naik pesawat ke Jogja. Demand ke Solo lebih sedikit, biasanya biayanya juga lebih murah dibandingkan ke Jogja. Moda transportasinya juga memadai, ada kereta bandara ke Solo Balapan setiap jam-nya, juga prameks dan kereta jarak jauh yang memudahkan karena Solo Balapan adalah stasiun besar.

Sementara itu, dari bandara baru Jogja ke tengah kota membutuhkan 2 kali pindah moda transportasi, shuttle ke Stasiun Wojo, lalu lanjut sampai Stasiun Yogyakarta. Barangkali juga bisa naik Damri tapi setelah mempelajari jadwal dan rutenya, bisa saya simpulkan bahwa itu lebih untuk mengakomodasi wisatawan dibandingkan untuk mengakomodasi masyarakat.

Ini juga dugaan karena jika saya tinggal di Kebumen, bisa saja saya senang bukan main karena bisa mengakses bandara lebih cepat. Tapi pendapat ini juga bisa saya counter dengan opini bahwa Jawa lebih mudah dijelajahi atau dijangkau dengan kereta dibandingkan dengan pesawat. Demikian, jika Maret nanti bandara pindah ke Temon, saya tetap memilih kereta, bus, atau alih-alih naik pesawat ke Jogja, saya lebih memilih Solo.

ps. anyway, belakangan saya kesulitan untuk memilih judul jadi pardon kalau judul dan isinya nggak nyambung. tapi pada sebagian besar postingan, mereka nyambung kok. hehe.

wordsflow

1 Februari 2019


An appreciation post for myself.

Setelah satu tahun, ada banyak hal berubah. Bahkan instansi tempat saya bekerja setahun belakangan dilebur dengan instansi lain dan karenanya, salah satu alasan utama mengambil pekerjaan ini hilang di tengah jalan. Bukan kejutan yang menyenangkan tentu saja, tapi pula, selama ini sudah sering betul saya mengalami hal-hal semacam ini dan barangkali menceritakannya akan membuatnya jadi lebih ringan.

Cepat sekali kejadiannya, saya hampir tidak punya waktu itu berpikir lebih lanjut. Tapi, bisa dibilang ini bukan kali pertama saya mengalaminya. Sewaktu lulus SMP, saya bahkan tidak pernah sungguh-sungguh mendaftarkan diri ke SMA saya waktu itu. Saat masuk kuliah juga tidak butuh waktu banyak untuk memutuskan. Sewaktu bekerja untuk pertama kalinya bahkan tanpa sengaja direkrut tepat setelah berkenalan. Mengambil kuliah lagi juga dengan proses yang sama. Mendaftar ekspedisi juga cara yang juga sama.

Soal pekerjaan ini, setelah mencoba menghindarinya di tahun pertama, akhirnya saya menjebakkan diri di tahun kedua.

Ingat sekali waktu itu saya beberapa kali ditelpon orang tua saya demi agar saya mau mencobanya, tapi saya mencari-cari banyak alasan. Saya menerima banyak order di bulan September 2018, pertama kali menerima 100 buku dalam sekali pemesanan. Kabur ke Surabaya-Malang tanpa rencana. Lalu di awal bulan Oktober 2018 kembali kabur ke Tasikmalaya demi menghindari pertanyaan orang tua saya. Meski akhirnya saya luluh juga karena pertama kali sejak sekian lama bapak saya yang mengambil alih telpon.

H-3 penutupan pendaftaran saya menyerah juga. Haha-hihi memutuskan mendaftar ke instansi dengan syarat pendaftaran paling mudah; ijazah, transkrip, dan surat pernyataan. No more documents.

Harus juga saya akui bahwa meskipun saya tidak sungguh punya niatan untuk mendaftar kerja karena satu dan lain hal, jiwa kompetitif saya sungguh tidak sanggup diredam. Karenanya proses selanjutnya mau tidak mau saya ikuti karena pertama, ada orang lain yang mensyukuri, yang kedua, saya penasaran betul dengan diri sendiri.

Jadi sewaktu pengumuman keluar di awal bulan November, tanpa berpikir panjang saya mengikuti proses seleksi kedua. Meski demikian, keinginan untuk membuktikan diri muncul berbarengan dengan harapan untuk gagal karena sistem, keduanya saling bergelut sengit sampai pengumuman selanjutnya beberapa hari sebelum tahun baru.

Saya berpikir keras sekali sebelum memutuskan untuk mengambil kesempatannya. Ada banyak alasan. Salah satunya karena sadar ada orang lain yang ketika itu mendorong saya untuk mencoba, tapi ia gagal di seleksi kedua. Sebetulnya bukan kewajiban saya juga untuk merasa bersalah, tapi akhirnya merasa bahwa saya sudah terlanjur nyemplung ketika mengambil kesempatan yang pertama. Toh tidak ada yang salah dengan pilihan ini karena saya juga bukan asal memutuskan. Atau bisa jadi memang saya menginginkannya karena alasan penasaran akan sistem.

But it was at the end going real quick that after some tests, I only had 2 weeks from the last test until finally I had to move out of town.

Barangkali begitulah cara takdir ‘menghukum’ saya, juga menunjukkan arah dan membantu saya melewati banyak hal. Tanpa diberikan waktu untuk mempersiapkan diri, ingat betul bahwa saya hanya punya 4 hari untuk mengambil keputusan penting dalam hidup. Hal yang sama yang saya alami ketika diminta untuk orang tua saya untuk ‘menengok’ calon SMA kala itu, atau ketika saya menimbang untuk submit dokumen pendaftaran ekspedisi, atau ketika ingin mendaftar kuliah lagi. Boleh dikatakan barangkali tidak ada tahapan hidup saya yang betul-betul pernah saya rencanakan dengan matang. Semuanya tiba-tiba dan tanpa sengaja. Diputuskan di menit-menit terakhir, dan dijalani tidak betul-betul siap dan ikhlas.

Tapi akhirnya saya pergi juga ke Jakarta. Memenuhi tuntutan pemberkasan dan semua hal termasuk menyelesaikan tambalan gigi, memindahkan faskes untuk bpjs kesehatan, mengurus npwp, mencari partner untuk SketchandPapers, mengepak barang tanpa ketahuan, mencari tempat untuk tinggal, membeli tiket kereta, mengatur strategi untuk mengembalikan motor ke rumah, memindahkan hak tinggal kosan di Jogja, dan banyak hal lainnya.

Dan akhirnya saya pindah di hari terakhir Januari 2019.

Oh ya. Meskipun saya mengagumi instansi saya bekerja, ada sangat banyak hal di dalamnya. It was hell yet paradise at the same time. Banyak sekali hal tidak menyenangkan; rapat-rapat panjang hingga tengah malam (berhenti karena sewa ruangan berakhir), ribut dengan pelaksana dan kontraktor hampir setiap kunjungan lapangan, midnight call dari kontraktor atau bos, revisi mendadak, permintaan dokumen mendadak, dan hal-hal menyebalkan seputar pekerjaan. Seperti semua orang dari kota kecil yang pindah ke Jakarta, krisis eksistensi niscaya adanya, kesepian adalah teman baiknya.

Tapi saya juga sangat beruntung karena orang-orang baik di kehidupan saya yang sebelumnya, saya masih bisa menjalankan bisnis dari jarak jauh. Juga selalu bisa pulang sering-sekali-sampai-semua-orang-di-kantor-heran-karena-saya-selalu-menolak-dinas-di-akhir-pekan, tetap menjadi pembangkang bahkan di hari kedua masuk kerja (waktu itu bolos OJT untuk melanjutkan perawatan gigi), merasa bahwa kegalakan dan kejudesan saya berguna di lapangan, begitu senang karena akhirnya kembali berarsitektur setelah murtad bertahun-tahun, dan banyak hal lainnya yang mengimbangi kesulitan di banyak waktu di antaranya.

Meski belum setahun, toh saya harus menerima kenyataan bahwa instansi saya dilebur, hal yang luput dari perkiraan saya dan teman-teman saya saat pertama kali mendaftar. Hal-hal bisa begitu tidak terduga seperti pengumuman presiden jika akan ada pemindahan ibu kota. Juga penempatan baru dan perubahan nomenklatur instansi. Juga pindah kantor, pindah unit kerja, ganti teman baru, ganti jalur naik bus. Yeah sure. Thanks Bekraf. It was a very tough year but honestly loving it.

Barangkali semakin tidak kuasa mengendalikan hal-hal, seolah-olah semua hal kini tidak bisa diatur dan di luar rencana. Seolah-olah kita bukan milik kita lagi. Hahaha.

Tapi postingan ini tidak getir. Toh saya masih bisa minum iced aren latte hampir setiap hari, sneaking around buat nonton film, teater dan pertunjukan. Kadang-kadang melipir ketemu teman lama yang lagi mampir ke Jakarta. Dan sebetulnya masih ada pintu keluar yang tidak pernah dikunci rapat, jadi sewaktu-waktu tidak mampu saya bisa langsung pulang ke Jogja.

Karena kemarin hari kasih sayang, mau mengingatkan diri sendiri untuk menyayangi keputusan-keputusan hidup yang sudah diambil, juga orang-orang di dalamnya yang sudah mewarnai sepanjang perjalanannya. Kadang setelah sekian lama berlalu, hal-hal yang dulu dibenci dan tidak disukai bisa jadi sesuatu yang mengundang senyum saja, kenyamanan, juga rindu yang pekat. Masih berusaha mengendalikan emosi untuk digunakan di waktu-waktu yang penting saja, misalnya menghalau laki-laki brengsek di transportasi umum atau menghadapi kontraktor nakal.

And yeah, maybe I got it right to say to ‘just go with the flow and whatever happens, happens.

wordsflow

soal analisis resiko


Suatu waktu, saya pernah ditugaskan untuk membantu membuat tabel analisis resiko terkait program yang dijalankan oleh unit kerja saya. Tentu saja, seperti yang selama ini terjadi, saya memiliki tingkat skeptisme tersendiri perihal penyusunan dokumen semacam ini. Sejauh yang pernah juga saya lakukan di masa-masa giat bersatubumi, saya pernah juga membuat pedoman yang pada akhirnya tidak betul-betil dijadikan acuan oleh tiap orang, apalagi dievaluasi dan dikembangkan atau diperbaiki.

Tapi disamping kepentingannya untuk akhirnya bisa dipahami oleh semua orang dan kekecewaan saya karena hasil kerja tersebut seringkali dianggap angina lalu dan tidak diperhatikan, saya merasakan ada manfaat tertentu dalam proses penyusunannya.

Saat getol sekali menyusun SOP misalnya, atau panduan pengarsipan di lingkungan satubumi, saya memasukkan idealisasi tertentu dalam penyusunannya. Walaupun akhirnya tidak digunakan oleh orang lain, tapi tata cara pengarsipan itu saya aplikasikan ke filing dokumen digital saya, juga pembagian kategorisasi koleksi buku saya di kosan. Tetap ada manfaatnya tentu saja.

Jadi akhirnya, sembari skeptis dan sumpah serapah saya kala itu, juga perihal ketidakpercayaan diri karena notabene saya tidak paham keseluruhan program di instansi, akhirnya saya melakukan analisis resiko dan menyusun dokumen mitigasi dan antisipasi. Dokumen itu pelan-pelan saya susun berdasarkan kendala dan pengendalian yang saya dan tim kami lakukan di lapangan, meski secara keseluruhan kami belum menyelesaikan tugas.

Tidak disangka, di tengah prosesnya saya memahami lebih jauh hal yang sebelumnya belum mampu saya pahami secara keseluruhan. Yang paling saya suka dari analisis resiko adalah menduga-duga hal yang akan terjadi kemudian, menganalisis antisipasi dan merencanakan mitigasinya jika sudah terlanjur terjadi. Pun memperhitungkan kapan dan di mana letak titik kritisnya sehingga suatu tindakan harus diambil.

Ini juga tidak jauh berbeda dengan postingan saya soal kereta sebelum ini. Secara praktis, analisis semacam ini juga berguna untuk menjalani hidup yang biasa saja, yang bahkan tidak membawa dampak buruk sekalipun. Tentu kadang lalai juga dengan hal-hal yang sudah direncanakan dan dianalisis, misalnya lupa menanyakan dokumen tertentu ke klien padahal berkasnya krusial, melupakan kronologis atau tanggal penting. Meleset dalam memperhitungkan progres, tapi setidaknya hal-hal semacam itu bukan mendadak muncul, tapi pernah dipikirkan.

Juga soal hidup. Setiap mengambil keputusan akan ada hal lain yang aksesnya terputus, atau setidaknya aksesnya akan terhambat oleh keputusan yang diambil. Misalnya saya memilih pindah kota, tentu saya akan kehilangan teman, tidak akan bisa menikmati biaya hidup yang murah, harus mencari komunitas baru, tidak akan sering ikut kegiatan outdoor, dst. Selanjutnya pola hidup saya juga akan berubah, rutinitas harian yang mengharuskan saya menjadi pegawai kantoran yang santun akan menghilangkan kebiasaan sebelumnya, saya jadi bisa mandi lebih cepat karena sering terburu-buru berangkat, akhirnya juga mudah menerima perubahan saking seringnya menerima kejutan. Hal-hal praktis semacam ini.

Saya kira menjalani hidup semaksimal mungkin dan menyadari soal ‘di sini kini’ tidak juga harus melepaskan semua kemampuan kita dalam menganalisis resiko. Fungsinya jelas, untuk mengendalikan. Jikapun kita tidak mampu mengendalikan hal-hal yang ada di luar diri, semisal takdir atau kejutan-kejutan hidup, setidaknya kita pernah memikirkan cara menghadapinya, dan bagaimana mengatasi dan membatasi respon terhadap hal semacam itu.

Ini saya tulis juga berkenaan dengan realitas yang saya hadapi selama 1 tahun belakangan ini. Setelah sekian banyak memikirkan kemungkinan, saya sekali waktu lalai memikirkan bahwa ibukota bisa jadi akan benar-benar pindah dan saya harus ikut pindah. Atau saya lalai bahwa di dalam sistem itu, saya bisa saja ditempatkan di unit kerja yang tidak pernah saya inginkan sebelumnya, itu juga bisa mana suka. Demikian, analisis resiko saya bukan lagi berorientasi pada tujuan atau goal, tapi lebih ke respon personal terhadap sesuatu. Yang manapun itu.

Dan yah, terima kasih sudah membaca sejauh ini. Hari ini saya cukup produktif dengan postingan membabi buta ini. Hahahaha. Semoga tetap berkenan. Tabik.

wordsflow