WORDS FLOW

just go with the flow and whatever happens, happens

Category: on Opinion

Menjelang 2020


Bulan terakhir di tahun ini akhirnya sampai sudah. Satu tahun yang lain sudah kita lewati dan yah, barangkali jauh berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya, saya hampir tidak memiliki memori yang berarti kecuali hal-hal yang begitu melekat terjadi di awal tahun ini, serta beberapa hal menyenangkan yang begitu saja bisa saya panggil dan putar ulang di dalam ingatan pada sela-sela minggu dan bulan yang cukup berat.

Sudah 10 tahun lebih saya memiliki blog ini untuk menuliskan apapun, merekam apapun yang ingin saya utarakan, dan di waktu-waktu tertentu tentu membantu saya untuk mereka ulang sesuatu atau mendalami sesuatu yang terjadi sebelumnya. Banyak sekali narasi yang saya ulang dan saya replikasi dengan tata bahasa atau kesadaran baru, tapi tidak jarang saya mengulang beberapa pemahaman kemudian sekali lagi menuangkannya dalam tulisan. Di samping tulisan-tulisan di sini, ada banyak tulisan-tulisan lain yang tersebar di laptop, di buku, di jurnal yang lain, terselip di buku catatan, di notes handphone, dan entah menulis random di mana lagi.

27 tahun. Dan tahun depan umur saya sudah akan bertambah satu. Di waktu-waktu ketika semua sebaya saya telah memilih ‘kepastian hidup’ tertentu, atau setidaknya memantapkan langkah untuk satu dan lain hal. Saya menyadari satu hal akan kecenderungan saya, bahwa ketika seorang sahabat saya menikah, saya cenderung mengambil jarak, atau setidaknya saya merasa jarak itu otomatis ada. Hal-hal yang sebelumnya menarik untuk dibicarakan menjadi biasa saja, atau tentunya, pembagian waktu kita menjadi berbeda.

Bukan suatu hambatan khusus sebetulnya. Saya suka sekali mengetahui bahwa teman-teman saya menikah, punya anak, atau mendapatkan pekerjaan tetap sehingga mereka harus berpindah domisili. Hanya saja mau tidak mau saya harus mengakui bahwa ada hal-hal yang tadinya begitu penuh mengisi keseharian tetiba kosong saja karena mereka terpisah dari saya. Dan sembari menuliskan ini, saya memikirkan betul di tahun depan apa kiranya yang akan terjadi pada sahabat karib saya. Tentu saja selama ini kami berjarak karena memang rutinitas dan profesi yang berbeda. Tapi lagi-lagi, akan berbeda halnya ketika suatu hari dia menikah atau berpindah ke tempat yang tidak bisa saya kunjungi sewaktu-waktu.

Oh ya saya melantur, hehe.

Baiklah, tulisan ini terinspirasi oleh sebuah postingan teman lama saya yang kini berjarak setelah belahan bumi dengan saya. Sekilas cerita, teman saya ini bisa saya sebut sebagai orang yang membelokkan jalan takdir saya di penggal SMP menuju SMA. Saya kira begitulah peran dia di dalam hidup saya. Haha, lucu juga.

Sewaktu SMP saya mengikuti sebuah pelatihan setelah diadakan seleksi di Jogja, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Bertemulah saya dengan anak ini, namanya Mona. Dia setahun lebih muda dari saya, tapi ketika saya berkenalan dia sudah menjadi bahan pembicaraan semua pengajar saya selama pelatihan dan duduk setingkat dengan saya. Baik saya dan Mona sebetulnya tidak sungguh akrab karena jarak sekolah kami yang berjauhan, juga barangkali beda grup selama pelatihan. Tapi dia supel sekali, dan setiap waktu bisa berbaur dengan semua orang dengan mudah. Setelah masa pelatihan berkali-kali kami bertemu di kompetisi, pun pada beberapa kompetisi Mona tidak ragu untuk mengajak atau memberitahukan kami. Barangkali itu masih masa Friendster?

Lewat Mona saya tahu banyak hal, banyak mimpi, juga banyak eksperimen terhadap pengembangan diri. Waktu itu saya getol sekali membeli beberapa seri komik, dan Mona satu-satunya yang tahu Motohiro Katou, pengarang favorit saya, juga MIT yang pernah menjadi kampus impian saya ketika masih muda. Begitu banyak imajinasi, kesenangan, angan-angan, juga perjuangan di beberapa kompetisi dengan teman-teman kami juga sebagai rivalnya.

Di akhir masa SMP, saya mengambil satu kompetisi yang akhirnya memisahkan kami dan menjauhkan saya dari Jogja. Perkaranya sebetulnya sederhana saja, saya ikut kompetisi atas desakan Mona, tetapi segala hal menjadi di luar perkiraan saya. Bisa dikatakan itu salah satu kejutan yang paling memukul saya pada masanya. Saya mengalami gegar budaya ketika berpindah, dan seolah peta hidup saya yang sebelumnya pernah saya susun buyar begitu saja.

Perihal mengatur hidup sebetulnya saya kacau sekali. Tapi nasib sering kali memberi saya kejutan yang kadang saya pikir terlampau keterlaluan atau yang begitulah caranya mengganjar saya yang bebal ini.

Setelah merenungkan ini beberapa hari yang lalu, juga mengingat kembali apa kira-kira yang saya harapkan kepada saya di masa kini sekitar 15 tahun yang lalu? 10 tahun yang lalu? Apa yang saya pikirkan ketika pertama kali membuat blog, memutuskan mengambil sekolah kembali ke Jogja, melepaskan cita-cita kecil untuk sekolah keluar, menerbitkan karangan yang entah sudah di mana naskahnya, melupakan riset mapala dan justru tenggelam ke dalamnya, juga keputusan-keputusan lain setelahnya yang ‘terhapus’ oleh keterlemparan diri pada tempat saya kini.

Tapi di akhir bulan menuju tahun 2020, bersyukur sekali bahwa saya masih mampu bertahan dengan segala cara selama 10 bulan terakhir, masih mampu mempertahankan jenama yang dibuat dalam proses healing atas penolakan-penolakan yang lampau (tanpa sadar sudah 5 tahun lamanya), mengambil makna di tengah rutinitas yang begini-begini saya, juga memiliki waktu untuk menulis di sini atau di tempat lain, memikirkan hidup dan memaknainya setiap hari menjelang tidur, dan seribu satu hal yang sepatutnya disyukuri.

Baik sekali kiranya, bahwa waktu memberikan banyak hal untuk direnungkan, dipikirkan, dan dimaknai. Segala hal mungkin belum berada pada tempatnya tapi kita bisa punya pilihan kedua untuk menerima saja tempatnya, hehe. Tidak mudah barangkali, tapi sewaktu menjelaskan kepada seseorang, saya tersadar bahwa barangkali, bentuk tanggung jawab paling tinggi adalah menerima hal-hal yang telah diputuskan oleh diri, apapun alasan di baliknya.

Dan yah, salah satu bentuk previlese yang harus disyukuri oleh sebagian besar dari kita adalah bahwa kita masih punya pilihan atas satu dan lain hal.

wordsflow

Tripusat Pendidikan


Ketika menulis sampai tengah saya merasa perlu membuat disclaimer, bahwa sebagai orang yang tidak terjun langsung di dunia pendidikan, atau bersentuhan langsung dengan pendidikan, suatu hari saya juga menjadi objek pendidikan itu. Jadi semoga tulisan ini cukup relevan.

Beberapa waktu yang lalu saya diajak teman kantor untuk menghadiri kegiatan klub bukunya. Sebuah oase di tengah gersangnya kota karena saya sampai hari ini belum menemukan komunitas yang menarik dan asik lantaran saya memang lebih suka kemana-mana sendiri. Klub buku ini merupakan klub yang diinisiasi oleh teman kantor dan beberapa teman kuliah mereka saat masih menempuh pendidikan, dibuat untuk menciptakan ‘crack‘ atas kehidupan kota yang monoton. Sementara hari-hari di masa kuliah mayoritas kita habiskan untuk kegiatan volunteering, praktis ketika kerja dan dihadapkan pada rutinitas yang monoton dan kerumitan birokrasi yang aduhai, ada bagian dari diri yang barangkali menjadi tidak terpuaskan lagi. Untuk itu klub itu ada.

Saya hadir di diskusi ke empat mereka. Konsepnya sederhana saja. Mereka menentukan sebuah buku untuk dibahas. Membuka forum untuk membahas buku itu dengan seorang pemantik diskusi. Semacam bedah buku, tapi nggak bedah-bedah amat.

Lewat pembicaraan yang ngalor-ngidul dan seru, dan menarik, kami membahas beberapa isu terbaru, termasuk diangkatnya menteri-menteri baru yang cukup kontroversial, mungkin juga menggembirakan, memunculkan harapan, atau bisa jadi meningkatkan skeptisme kita pada pemerintah. Salah satu peserta kemudian nyeletuk mengenai istilah tripusat pendidikan. Buat kamu yang belum pernah mendengar, yang dimaksud sebagai tripusat pendidikan adalah memberdayakan sinergitas lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk mendukung pendidikan seseorang. Saya kira baru kali itu saya mendengar istilah ini meskipun mayoritas masyarakat memahami bahwa pendidikan dipengaruhi oleh ketika hal itu.

Pembahasan ini tentu merembet ke persoalan pendidikan di Indonesia. Tentu saja isunya banyak, soal privilese masing-masing orang, sistem pendidikan keluarga, metode mengajar guru, kegiatan intra kampus, ektrakurikuler, dan banyak sekali variabel yang mempengaruhi tingkat pendidikan seseorang. Tapi suatu ketika saya pernah punya pertanyaan. Jika pendidikan di Indonesia memang seburuk itu, bagaimana mungkin dapat menciptakan siswa, atau mahasiswa yang bisa memprotes mengenai keburukan sistem pendidikan itu? Ya walaupun pertanyaan ini tentu bisa dijawab lewat seribu satu cara; forum diskusi, informasi, buku, isu sosial, dst, tapi semoga pembaca menemukan poinnya.

Pendidikan juga dimaknai secara berlainan oleh setiap orang, oleh satu keluarga ke keluarga yang lainnya. Alasan-alasan pemilihan jurusan kuliah misalnya, hampir tidak menerima jawaban ‘karena saya ingin mempelajari ini, atau itu’. Setiap mengambil studi, kita senantiasa dirundung pertanyaan lanjutan, apa yang bisa saya buat setelah studi ini, mau jadi apa saya setelah menyelesaikan studi ini, dan sebagainya. Bahkan di bulan ini misalnya, ketika pembukaan penerimaan CPNS, beberapa berita menyebutkan bahwa mayoritas pelamar memutuskan untuk mendaftar karena alasan orang tua. Pemikiran mengenai pendidikan sebagai jalan untuk menyejahterakan diri dan keluarga dianggap lempeng saja, bahwa ketika kamu mengambil studi ini, maka baik sekali jika mengambil profesi yang sejurusan. Ya ini juga masih perdebatan sih, minset soal ini dipengaruhi oleh sistem pendidikan atau memang pada akhirnya sistem politiklah yang memberi pengaruh lebih besar pada bursa profesi di Indonesia.

Loh lah, ngelantur. Oke, balik lagi ke persoalan tripusat pendidikan.

Dalam pembahasan lanjutan dengan rekan-rekan kuliah saya semalam (sesuatu yang sedikit memberi angin segar di hidup saya yang garing di ibukota), kami sampai pada memecah ketika aspek ini dalam perjalanan pendidikan seseorang.

Di kisaran awal tahun 2014, pendidikan Indonesia mengubah kurikulumnya menjadi kurikulum 13. Waktu itu saya sedang KKN sehingga ingatan ini cukup melekat. Pendapat pribadi saya, sebetulnya kurikulum 13 ini menarik. Karena pelajaran yang sebelumnya dibagi ke dalam beberapa subjek pendidikan, akhirnya digabungkan dalam satu buku yang sama dengan tema-tema tertentu. Buku itu seorang bilang, ‘oke, mari kita akomodir protes orang-orang, akan saya buat kalian mengerti kalau dalam berkehidupan kamu toh akan tetap berhubungan dengan matematika, fisika, kimia, biologi, sejarah dan sebagianya itu’. Buku dengan paket lengkap, masing-masing tema diupayakan bisa memberi penjelasan bahwa ‘hidup itu ada banyak aspeknya’.

Model ini menarik sekali, karena banyak sekali protes misalnya soal ‘ngapain belajar matematika sampai kalkulus toh waktu udah kerja nggak dipake’. Nah, kurikulum 13 mencoba menjawab tantangan itu. Namun demikian, begitu kurikulumnya keluar, baik siswa dan guru, tidak mampu menangkap dan memahami maksudnya. Ibu saya yang sudah hampir mencapai masa pensiunnya, di awal penerapan kurikulum begitu kesulitan untuk memahami maksud buku. Pun begitu juga dengan murid-murid masa KKN saya, tidak ada yang bisa memahami buku itu, baik siswa maupun orang tuanya. Akhirnya kesalahan dijatuhkan pada sesiapa yang mudah disebut. Guru-guru mengeluhkan siswa dan kurikulumnya. Orang tua siswa mengeluhkan guru-guru dan kurikulumnya. Dan pembuat kurikulum mengeluhkan guru-guru yang kesulitan beradaptasi dengan kurikulum baru.

Pertanyaan lain. Kira-kira dalam pendidikan, seberapa besar pengaruh guru ke siswa?

Saya mencoba mengingat perjalanan pendidikan saya sejak kecil hingga dewasa. Sampai kelas bawah, atau kelas 3 SD, kekaguman saya jatuhkan pada kedua orang tua saya. Waktu itu sekolah hanya sampai jam 10 pagi. Artinya lebih banyak waktu yang saya habiskan dengan orang tua dibandingkan dengan guru-guru di sekolah. Jika mengorek ingatan, lebih banyak ingatan dengan orang tua dibandingkan dengan guru. Sosok orang tua menginspirasi saya dan mendorong saya untuk mematok idealisasi tertentu soal menjadi dewasa.

Beranjak ke masa kelas atas sampai ke tingkat SMA. Lebih lagi karena selama SMA saya hidup di asrama, sekolah mengambil porsi yang sangat besar dalam membangun kerangka ideologi saya, juga membangun harapan dan mimpi-mimpi saya soal menjadi dewasa. Banyak guru yang mempengaruhi cara saya melihat sebuah materi pelajaran. Saya pernah begitu membenci akuntansi dan ekonomi karena guru saya seolah menunjukkan bahwa materi pelajaran itu sia-sia belaka. Saya bahkan merasakan ketidaksukaan ini sampai masa kuliah sebelum akhirnya saya bertemu dengan orang-orang yang mengambil jurusan ini dan hal-hal kembali menjadi tampak masuk akal.

Berbeda lagi kesan yang timbul ketika saya masuk kuliah. Praktis dengan berkurangnya jam pelajaran, manajemen yang diatur sendiri dan hal-hal baru yang mulai berkembang seiring dengan semakin besarnya lingkaran pertemanan, semakin banyak insight yang masuk, semakin bervariasi orang yang kita temui, maka lingkungan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap tumbuh kembang kita secara intelektual maupun emosional. Di masa kuliah bahkan saya merasa mengalami beberapa titik balik kehidupan dimana hal-hal perlahan menjadi lebih pasti dan semakin menunjukkan arahnya. Tentu saja dengan begitu tingginya tingkat kebebasan seseorang yang masuk ke usia kuliah, dimana kamu merasa tidak lagi sebagai anak remaja namun juga belum mau disebut sebagai orang dewasa, maka lingkungan menjadi sumber pengetahuan yang menarik. Kamu melihat lebih banyak hal, mempelajari lebih banyak hal, juga mengkritisi lebih banyak lagi.

Akhirnya kamu menjadi dewasa. Di sela merenungi tripusat Pendidikan ini, di luar perkara kamu mengiyakan atau enggak mengenai konsep ini, pada tahapan tertentu dominasi satu dan lainnya saling ganti menggantikan. Ketika masih kecil barangkali kita lebih takut kepada guru dibandingkan pada orang tua. Semakin dewasa kita merasa lebih sulit bicara dengan orang tua sehingga sasaran kita berpindah ke guru atau lingkungan sekitar, ke teman-teman sebaya atau yang lebih tua. Kita jauh lebih berjarak dengan orang (setidaknya dalam kasus saya) sehingga ada hal-hal yang cenderung kita proteksi dari orang tua karena ‘tidak mood’ atau tidak mau membicarakannya dengan mereka.

Menyoal bagaimana sebaiknya pendidikan ini dimaknai, ada begitu banyak contoh kasus yang berlainan. Misalnya, dengan menggunakan buku paket yang sama, dengan kurikulum yang sama, hasil pendidikan satu sekolah bisa sangat berlainan dengan sekolah yang lain. Pun demikian bahwa di dalam satu sekolah yang sama, belum tentu guru memiliki misi dan visi yang sama terhadap muridnya. Saya membenci betul pelajaran akuntansi namun begitu mencintai sejarah pada masa SMA. Sementara sebaliknya, ketika SMP saya menyukai ekonomi tapi membenci sejarah. Kesemuanya karena metode mengajar guru saya.

Salah satu youtuber Korea dalam sebuah videonya pernah membicarakan bagaimana sistem pendidikan di Korea dan di Indonesia dengan mengambil contoh kasus antara dirinya dan teman youtubernya. Dia yang selama ini tinggal di Indonesia menerima pendidikan Indonesia yang ‘awut-awutan’ dan santai saja tapi punya banyak seribu satu cerita masa sekolah dari mulai sepedaan ke kampung sebelah hingga jadi ketua OSIS sementara teman Koreanya mengingat masa pendidikan formalnya sebagai hari-hari tanpa putus belajar, ke sekolah-les-tempat belajar-sekolah-les-tempat belajar, dst. Satu pertanyaannya menggelitik sekaligus menampar saya, “Dari semua pelajaran, les, dan belajar yang sampai mati-matian itu, apa yang masih kamu ingat sampai sekarang?” Teman Koreanya menjawab dengan tatapan mengawang, “Saya cuma ingat dipukul guru kalau nggak bisa mengerjakan soal”.

wordsflow

Thought, thought, thought


Menyusuri jalanan Jogja sembari meriang malam ini, saya memikirkan satu hal yang sebetulnya sudah lama ada tapi lebih sering saya tepis atau anggap angin lalu saja.

Kesadaran itu menguat, bahwa betul ternyata, saya bukan orang yang sungguh analitis dan kritis. Saya melakukan cukup banyak hal dalam beberapa tahun terakhir untuk mengembangkan diri, tapi lihatlah yang terjadi. Saya tetap menjadi orang yang penuh kemalasan dan menunda pekerjaan. Sesuatu yang sulit sekali saya sembuhkan atau barangkali lebih tepat disebut enggan untuk saya sembuhkan.

Di tahun-tahun awal saya sekolah, saya selamat mengarungi pekerjaan rumah dan pelajaran tanpa pernah berusaha untuk menjadi tekun. Banyak hal saya lewati hanya sebagai sebuah kebiasaan atau pekerjaan saja tanpa menyadari apa maknanya untuk diri saya. Sekali waktu barangkali kekhawatiran ini pernah mampir ke diri saya tapi toh akhirnya saya tidak memanfaatkan rasa penasaran itu untuk berkembang menjadi seseorang yang lebih baik.

Tulisan ini sepertinya akan menjadi tulisan renungan akhir tahun yang saya ketik lebih awal dari yang seharusnya. Praktis karena euphoria hari ini bertemu dengan memori setahun yang lalu, dua tahun yang lalu, tiga tahun yang lalu, sehingga saya kembali memikirkan apa-apa yang terjadi pada kurun 3 tahun yang saling bertolak belakang.

Seolah-olah berhenti. Barangkali itu penjelasan yang paling mudah untuk menjelaskan rasa yang sedang saya rasakan soal hidup. Seolah-olah berhenti, atau barangkali jalan di tempat. Sewaktu-waktu saya mencoba berlari, tetap saya saya berlari di tempat. Tidak maju, tapi ada kemungkinan saya terseret mundur ke belakang jika kecepatannya tidak sesuai.

Ah, lihatlah bahwa saya sekali lagi tidak berhasil mengungkapkan perasaan saya lewat kata-kata yang lugas dan tanpa basa basi.

Tapi benar. Sedikit tidak bisa saya pahami, pun saya jelaskan kenapa saya merasa seolah segala hal berhenti sejak setahun yang lalu. Seolah tidak ada yang berkembang dari diri saya, malah cenderung merasa mengalami kemunduran dan segala hal yang keluar dari saya menjadi semakin tidak relevan dengan hal-hal yang terjadi.

Tentu saja saya menyampaikan ini dengan mengambil perbandingan dari orang-orang di sekeliling saya, dalam banyak hal. Saya lebih mudah terpancing bukan pada standar hidup atau pencapaian orang lain, tapi mungkin lebih pada hal-hal yang mendasar seperti pemahaman dan pemikiran kritis, juga rasa tanggung jawab dan empati orang lain. Dan semakin hari semakin banyak hal yang mengganggu pikiran.

Sedih barangkali? Iya dan tidak. Saya lebih ternganggu oleh pemikiran soal kenapa, dan apa yang sekiranya dilihat dan dipikirkan orang lain tentang saya. Bahkan di saat saya bilang ‘tidak peduli pendapat orang’, I really mean it tapi saya tetap penasaran soal bagaimana orang melihat saya dan kenapa bisa seperti itu.

Sekarang tengah malam telah bergeser ke kanan. Tiba-tiba saya malas melanjutkan tulisan ini tapi sungguh, sampai saat ini perasaan terhenti ini terasa sekali. Saya telah mencoba menduga beberapa hal, juga mencari cara mengubah perasaan itu menjadi sesuatu yang lebih dinamis, mempertanyakan, menilai, dan memperhitungkan kemungkinan, tapi semuanya berakhir sama. Saya merasa berjalan di tempat saja.

Tapi di samping kesan bahwa tulisan ini terasa negatif, memang begitulah perasaan itu. Dia mengada dengan caranya sendiri hingga bahkan ketika saya sangat bersemangat untuk melakukan sesuatu, mengubah sesuatu, menuangkan ide tertentu, perasaan itu tetap ada. Mengada begitu saja.

wordsflow

Tetiba malas kerja


Jujur saja, sudah beberapa waktu belakangan saya malas masuk kantor. Saya sempat membolos karena sakit yang sudah seminggu tidak sembuh. Di waktu-waktu secinta itu dengan pekerjaan, biasanya saya akan mengusahakan tetap berangkat dan pulang ketika segala hal sudah selesai saya kerjakan. Tapi belakangan hal-hal menjadi lebih membosankan meskipun pekerjaan masih saya bereskan.

Ah tapi baiklah. Saya sering kali mengeluhkan pekerjaan belakangan ini. Bukan. Memang sedari mula saya banyak mengeluh, hahaha.

Beberapa waktu yang lalu seorang teman crafter saya bercerita bahwa dirinya memutuskan keluar dari tempat kerjanya saat ini. Padahal tempatnya bekerja mengusung ide yang sangat menarik untuk mempertemukan crafter di Jogja. Bukan hanya itu saja, bahkan dalam beberapa minggu ke depan kami akan mengadakan kegiatan dengan tema Women Empowering. Jarang sekali ada wadah yang mengumpulkan crafter di Jogja mengingat beberapa tahun belakangan crafter dan komoditas ‘kreatif’ non pertunjukan hanya dijadikan ‘pelengkap’ dari kegiatan seni yang lebih besar. Bukan hanya itu saja, pameran maupun bazaar bahkan kalah dengan kuliner jika disejajarkan dalam satu kegiatan yang sama. Crafting, tampaknya tidak memiliki nilai jual yang lebih tinggi jika dibandingkan kegiatan seni lainnya.

Secara terpisah, saya dan teman lain sempat beberapa kali membicarakan mengenai bagaimana posisi pekerjaan dalam mindset umum dipetakan secara tidak setara oleh masyarakat, terutama juga oleh struktur yang lebih besar. Saya tidak akan membicarakan entah teori siapa karena toh saya juga sudah lupa akan banyak hal itu, tapi jelas sekali bahwa sehari-hari kita melihat ketimpangan.

Saya sering menengok linimasa instagram untuk melihat bagaimana seseorang berkembang atau mengembangkan kemampuannya dalam berkarya dalam bidang minor, misalnya keramik, seni lukis, handlettering, rajut, desain, dan sebagaimana. Masing-masing dari mereka, juga termasuk saya cukup beruntung karena memiliki hal yang bisa disebut profesi meskipun dipelajari secara otodidak dan bukan merupakan pekerjaan umum yang dikejar oleh orang lain. Pernah pula bercita-cita untuk sekolah ke Jepang lantaran negara itu menawarkan disiplin keterampilan yang saya kira sulit untuk ditemukan di Indonesia.

Stereotip tentang bekerja masih menjadi sesuatu yang hangat dibicarakan dan sering kali menuai perdebatan. Selalu saja saya temukan orang yang berkomentar buruk di postingan seseorang karena dengan pekerjaannya yang ‘ah gitu doang’ dia bisa memiliki penghasilan yang jauh di atas orang-orang yang bekerja di bidang akademis atau sejalan dengan jurusannya. Mindset soal ‘pendidikan adalah investasi’ dimana income harus dapat mengganti biaya pendidikan menjadi perdebatan dan problematika yang dihadapi lulusan-lulusan akademis, pun juga dengan saya. Di satu sisi saya menyimpan cita-cita tersendiri soal kerja seperti apa yang saya inginkan dan tekuni sementara ada bagian diri saya yang juga menekan saya untuk mempertanggungjawabkan pilihan akademis yang pernah dan sedang saya ambil.

Oh ya memang pembicaraan ini ngalor ngidul wong saya nulisnya nggak pake mikir.

Juga persoalan timpangnya pendapatkan, misalnya pada profesi akademis yang sepenuh hati menjalankan profesinya sesuai dengan kaidah-kaidah dan etika yang berlaku seringkali kalah dengan mereka yang bekerja di dunia hiburan atau profesi administratif. Ketimpangan profesi menurut saya menjadi salah satu pe-er besar dalam dunia kerja di Indonesia karena selalu ada profesi yang lebih rendah di bawah profesi yang lainnya. Kadang kita nyaman dengan profesi tertentu dan menjadi minder kemudian karena dianggap ‘yah gitu doang kerjaan lu cuma ngejilid buku sama berdagang?’. Well, berkarya tetap butuh olah pikir dan nalar, kemampuan manajemen baik finansial, emosional, psikis karena kita juga berhubungan dengan orang, memikirkan hal-hal yang belum terjadi dan memperkirakan peta perjalanan usaha yang sedang dibangun.

Beberapa waktu lalu saya begitu terpukau dengan sebuah video yang mewawancarai seorang ibu yang bekerja di restoran anaknya. Ibu ini suka sekali membuat pasta dan memaksa anaknya untuk mempekerjakannya di resto anaknya. Sesuka itu dia membuat pasta hingga semua pasta di resto itu dibuat manual dengan tangan oleh si ibu. Seolah tidak peduli tapi saking sudah membuat pasta selama puluhan tahun dia bisa menciptakan pasta dengan bentuk yang persis sama satu sama lain, dengan rasa yang persis sama dari hari ke hari. Kecintaannya untuk membuat pasta membuat saya begitu tersentuh dan teringat untuk memaknai pekerjaan sebagai sesuatu yang beyond doing.

Mengerjakan sesuatu setiap hari sebetulnya tidak lantas membuat seseorang menjadi mesin manakala dia masih mampu merasa dan menitipkan rasa itu lewat karyanya, apapun itu. Sementara pegawai-pegawai, contohlah yang bekerja di pabrik, rata-rata dibuat berjarak dengan karya yang mereka ciptakan sehingga rasa itu tidak sampai terbawa, tidak tersampaikan kepada kita melalui komoditas yang mereka ciptakan. Komoditasnya numpang lewat, sementara tangan kita digerakkan oleh kebiasaan semata, bukan oleh kesadaran.

Begitulah dalam ranah sistem kerja kapitalistik kita dibuat berjarak hingga mungkin membenci hal-hal yang kita lakukan rutin setiap hari. Ya, sepertinya begitu, atau barangkali tidak. Saya kadang bahkan tidak mengerti hal-hal yang belakangan diperdebatkan dan mencoba mendalami apa yang sebetulnya diinginkan semua orang tanpa menemukan jawaban pastinya. Tapi juga sembari berpikir, semua sarana komunikasi dan keleluasaan informasi memberikan kesempatan bagi kita seluas-luasnya untuk menjadi apapun, mengerjakan apapun dan membebaskan diri dari batasan-batasan apapun. If you know what I mean.

Dan yasudah begitu saja, saya harus pamit untuk menonton teater. Sampai jumpa di postingan random berikutnya. Semoga berkenan.

wordsflow

will there something surprising on the next monday?


Sudah beberapa postingan terakhir saya terfokus pada bahasan soal pekerjaan. Jujur saja memang sebagian besar hidup saya kini saya curahkan untuk hal tersebut karena praktis, memang di sana lah saya berkecimpung. Di tengah kota ini bisa dibilang saya tidak mencari teman, tidak juga mencari hal-hal lain semacam kekayaan atau karir. Well pertanyaannya, saya nyari apa? Hehehe.

Beberapa kali saya menemui gejolak tertentu karena mempertentangkan hal yang praktikal dan yang ideal. Kadang benturan di antaranya bisa membuat saya tak mampu mengendalikan diri dan cenderung jadi membenci hal-hal yang saya kerjakan. Tapi yah, sebagaimana hal-hal yang juga telah saya lalui selama ini, dalam prosesnya saya pun bertemu dengan hal-hal yang saya cintai. Ada proses penasaran, kecewa, marah, benci, maaf, pemakluman, cinta, dan rupa-rupa emosional lain yang saya temukan dalam interaksi saya dengan pekerjaan.

Tentu tidak terlalu menyenangkan tapi kadang di antaranya saya masih bisa memetik hikmah dan kesenangan. Sebut saja bahwa di akhir hari saya suka menghabiskan waktu seorang diri ketika ac kantor sudah mati dan orang-orang sudah bergegas pulang. Kadang di waktu lainnya saya akan memilih pulang lebih awal karena ingin menonton suatu film tertentu, atau secara random mengambil rute memutar untuk mencoba makanan yang membuat saya penasaran. Di lain waktu saya menghabiskan malam dengan memutar pertandingan badminton atau menyempatkan diri mencuci baju di tengah malam.

Yah, kembali ke persoalan judulnya. Menjelang pergantian kabinet baru, ada banyak desas-desus yang beredar di sekitaran kami. Well, tapi tentu saja saya tidak pernah terlalu memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya. Lebih karena penasaran soal ‘bagaimana jika’. Saya bahkan tidak akan heran jika di hari Senin nanti grup kantor akan riuh dengan pembahasan soal perubahan jajaran petinggi atau pindah tempat merger instansi, ya atau apalah itu.

Saya cukup apatis soal hal-hal semacam itu, lebih karena selama menjajal ‘wahana’ ini, saya dipertemukan dengan berbagai fakta menarik yang bertabrakan dengan diri saya atau bahkan yang sejalan. Tentu saja suatu tempat kerja dapat dinilai dengan berbagai cara. Lewat cara berinteraksi antar pegawai di dalamnya, kelompok-kelompok kecil yang terbentuk, interaksi atasan ke bawahannya, sistem kerja yang dibangun, model evaluasi yang dilaksanakan dan lain sebagainya.

Pendapat saya soal tempat ini juga beragam, dan begitu anehnya hingga kadang saya hanya fokus ke hal-hal yang saya lakukan dan seperti biasa, persetan dengan orang lain.

Saking randomnya hal-hal yang terjadi, semakin hari saya semakin yakin untuk trust no one but yourself. Mencari partner boleh, tapi seperlunya saja karena tidak ada yang betul-betul tahu kepentingannya. Do not pick side between two bosses, pick yourself instead. Beyond that, believe in your moral standard too.

Di luar itu semua, lingkaran sosial saya berubah, hal-hal yang sebelumnya bisa tersentuh dan berada dalam jangkauan tangan kini berpindah ke layar dengan berbagai ukuran. Terkadang saya kudu merenung sembari terpaku ke layar kecil di tangan atau layar yang lebih lebar tempat saya menulis saat ini. Yah, karena hari-hari saya diisi dengan rindu dan penantian akan akhir minggu, waktu terbagi ke dalam paruh minggu saja, sisanya sambil lalu tanpa sisa. Aneh ya.

Belakangan saya tidak mampu membagi waktu dan mencari kesenangan yang sama dengan membaca buku, seolah-olah adiksi saya terhadap buku yang sudah tumbuh sejak SD mati pelan-pelan dilanda kemalasan. Beberapa buku yang saya beli akhir bulan kemarin bahkan belum saya sentuh. Sedih betul. Juga soal menulis, yang agaknya juga mulai saya tunda-tunda sampai topik yang saya pikir sangat menarik menjadi terlampau basi dan saya lupakan begitu saja.

Beberapa hal yang kemudian bisa membantu saya untuk terus berrefleksi adalah interaksi dan nonton film. Seketika saya beralih menjadi anak visual dan pelan-pelan menomorduakan dunia tekstual. Rindu lah tentu, apa daya ternyata menjadi pekerja begitu melelahkan.

Tanpa berusaha membaca ulang apa yang saya tuliskan ini, mari saya sudahi. Saya tidak tahu apakah akhirnya saya akan berkutat pada tulisan soal pekerjaan atau saya akan menemukan hal-hal lain yang lebih menarik. Tapi sejauh ini hanya sebatas ini yang mau saya bagi. Tabik.

wordsflow

this old draft’s been posted.


belakangan, saya mulai menarik diri dari keterbukaan pendapat meskipun masih membuka beberapa diskusi di kanal-kanal tertentu. saya kira getir bagi saya karena saya masih berupaya menjaga diri dari melabeli teman-teman saya dengan sebuah penilaian tertentu karena pendapat mereka.

mungkin pecundang karena dengannya saya cari aman saja, berlindung pada ketidakberpihakan. benar, saya sepengecut itu dalam menghadapi dunia nyata.

sulit sekali untuk meyakini letak kebenaran.

seiring waktu saya semakin dibukakan pada kenyataan bahwa manusia melihat satu fenomena dengan seribu satu cara pandang yang manasuka, berreaksi seacak itu, berekspresi sevariatif itu, berprinsip sebermacam itu.

maka benar bahwa peneliti adalah sebaik-baiknya instrumen penelitian dalam antropologi, karena setiap manusia memiliki penilaian dan kemampuan sintesanya sendiri dalam melihat satu dan lain kejadian.

barangkali sepencundang itu sehingga saya memilih untuk mundur saja dan menyepi ke ruang ini. memantau dunia terasa begitu jauh dan melelahkan sementara saya masih juga belum mampu bekerja maksimal di bidang saya saat ini. terasa begitu jauh.

tapi saya ingin selalu percaya bahwa apapun yang dilakukan teman-teman saya adalah baik dan memiliki dasar yang kuat, dan sejauh yang saya tahu memang begitulah mereka selama ini. maka untuknya saya akan selalu mendukung

soal bekerja


Teringat masa-masa saya masih sekolah dan terus menerus disuntik dana oleh kedua orang tua saya untuk hidup, kadang saya meremehkan drama di tempat kerja dan bagaimana orang-orang menghadapinya. Lantas dalam hati memikirkan betul bahwa tidak akan pernah saya merelakan diri untuk menghabiskan waktu saya merasakan drama pekerjaan semacam itu.

Tapi mungkin terkadang hal-hal yang sebetulnya kita takutkan atau enggan menjalani seringkali dijatuhkan begitu saja di hadapan kita. Lantas kita mengada pada kejadian itu dan tidak lagi sekadar mengangani hal yang sebelumnya kita kira-kira. Kita dibenturkan untuk memahami atau akhirnya mengutuki. Pilihkan salah satu.

Sembari mengobrol soal kemungkinan perombakan instansi tempat saya bekerja saat ini, saya dan seorang teman kantor membicarakan tentang bagaimana kriteria seseorang yang dianggap sukses dalam bekerja. Kami mengulik mengenai parameter yang digunakan masing-masing orang dan tampakan yang muncul darinya. Beberapa orang yang dianggap sukses oleh standar dominan di masyarakat ternyata memiliki latar dan proses menjadi yang rumit dan saya kira saya pribadi tidak mau mengalaminya. Beberapa tampak begitu menyenangi pekerjaannya walaupun penampakannya biasa saja.

Sampailah kami pada pembahasan mengenai permasalahan pekerjaan yang sedang kami alami di kantor. Masing-masing kami yang awam dengan sektor tempat kami bekerja dan sistem paten yang sulit untuk dirombak tentu memiliki kekecewaan tertentu dengan apa yang ada. Kami memprotes ini dan itu, mencoba saling menyemangati satu sama lain, bahkan tidak jarang wacana untuk keluar kami perbincangkan sebagai teman makan siang atau pelipur ketika harus merelakan akhir minggu.

Ketika memikirkan ini, saya selalu mengingat bahwa ada begitu banyak orang yang sebetulnya rela mengambil tempat kami bekerja. Dari beberapa pengalaman kecil saya dalam bekerja, baik di sektor formal, informal, serabutan, tukang input data, bahkan menjadi pengusaha, niscaya semua orang menginginkan hal yang sama; kerja ringan, mudah, libur pada waktunya, dan gaji besar. Tapi kembali lagi, beberapa motivasi saya untuk bekerja sebelumnya tidak terletak pada bayaran. Beberapa justru saya ambil dalam upaya saya melarikan diri dari sesuatu, atau menambah pengalaman dan pride karena pernah melakukan ini, atau pernah menjadi bagian dari kegiatan itu. Salah satu yang selalu mengingatkan saya soal pengalaman kerja adalah kerja di startup dengan manajemen yang amburadul, bos yang selalu ribut, keuangan ambyar, pegawai tidak dibayar bahkan dihutangi, ditelponin orang karena hutang, kerja hingga larut malam bahkan pagi buta, tapi menyisakan pelajaran yang barangkali akan selalu saya ingat.

Meski demikian, ketika memikirkan sekarang saya hampir takjub dengan diri saya yang betah di pekerjaan itu pada masanya. Mengingat itu saya kembali berkaca pada kami di hari ini, mencoba melihat dimana letak pemasalahan yang menjadi motivasi munculnya gugatan.

Tapi kiranya tidak bijak bagi saya untuk mendetilkan cerita ini, hehe. Saya cukup berkaca dari pada pendahulu saya di tempat ini soal bagaimana mereka bekerja karena merasa yang kami kerjakan betul-betul membantu dan memberi manfaat untuk orang lain. Kadang sulit juga untuk mengelak bahwa kondisi internal dapat memengaruhi mood tapi seharusnya kerja menuntut kita untuk mengesampingkan hal-hal semacam itu dan alih orientasi pada kualitas kerja. Alih-alih memusingkan bahwa atasan kita A dan B, mengerjakan semaksimal yang kita bisa cukup memperbaiki mood saya sehari-hari. Hanya saja di suatu waktu saya sampai pada titik muak karena sulit sekali melakukan penetrasi ke dalam sistem dalam upaya memperbaiki skema kerja atau eksekusi pekerjaan sesuai dengan gaya yang menurut kita lebih efisien dan efektif.

Dibandingkan masa-masa saya kuliah, waktu luang menjadi lebih sedikit karena begitu selesai bekerja, jalanan membuat tubuh lelah, udara begitu tidak sehat sehingga saya merasa pernapasan saya bermasalah selama beberapa minggu belakangan. Jujur saja, saya iri dengan kebebasan saya di masa lalu dengan semua waktu luang untuk membaca buku, diskusi kritis, bermain-main, yang sayang sekali bekasnya sudah hampir hilang diterpa tuntutan sehari-hari untuk bertahan hidup. Saya bahkan tak lagi punya keberanian untuk mengutarakan pendapat di tengah memanasnya berbagai fenomena sosial dan lingkungan hari ini. Meski tetap membaca, semua hal yang saya tahu adalah hal-hal yang permukaan saja, yang tidak saya tahu sama sekali.

Juga, saya masih terus mengembangkan bisnis dengan menerapkan prinsip-prinsip dasar kapitalisme. Tapi meskipun saya menyukai konsep kapitalisme dalam ranah ekonomi, saya memilih tidak menerapkannya, tidak terlalu berorientasi pada akumulasi nilai lebih dan tidak menerapkan bisnis model kapital intensif. Kadang saya gugup meyakini sesuatu di tengah gejolak masyarakat yang ekstrim dan mudah marah. Juga kalut ketika berhadapan dengan rekan-rekan saya yang begitu siap menghadapi apapun di luar keyakinannya. Sementara itu saya terus menerus berlindung di dalam bilik perlindungan pribadi dengan semua nilai serta prinsip yang saya yakini sendiri. Meski begitu, saya yakin semua orang ingin merdeka dari opresi dan penjajahan, sebagaimana saya juga ingin merdeka dalam pekerjaan. Sebagaimana saya, bangsa yang ingin merdeka mungkin tidak membenci manusia-manusianya, tapi mengutuk sistemnya, dan memerangi praktik opresinya. Entahlah, saya juga tak mampu banyak bicara.

Sekian, mari akhiri saja tulisan ini di sini.

wordsflow

Gimmick


Baru saja saya mencoba varian sabun baru dikasih seorang teman. Agaknya jenama yang agak lebih terkenal dibandingkan jenama sabun alami yang biasa saya pakai. Wanginya persis wangi kembang temu yang merupakan bunga kesukaan saya di masa kecil. Saya jadi agak kebingungan mau menulis ini dari yang mana dulu mengingat topik soal gimmick dan kembang temu ini saya rasa-rasa sama mendesaknya.

Tapi saya ceritakan bagian yang ringan dulu saja.

Kembang temu, jikalau pembaca sekalian belum pernah tahu merupakan jenis kembang yang umum tumbuh liar di kebon-kebon. (sebentar saya googling dulu) Oke, barusan googling malah jadi bingung sendiri, hahaha. Saya sih nggak pernah tahu fungsi tanamannya apa, tapi kembang temu muncul dari umbi. Bunganya hanya muncul saat musim hujan dan batangnya akan muncul setelah hujan pertama.

Sejujurnya saya hampir melupakan bunga ini karena sudah sangat lama saya tidak tinggal bersama orang tua. Hari-hari SMA hingga sekarang saya habiskan di asrama dan di kos sehingga setiap musim hujan saya tidak lagi menantikan si kembang. Lebih-lebih karena kembang temu bukan lagi pusat dunia saya sih, hehehe.

Tapi libur lebaran kemarin nenek saya tetiba membahas itu. Menurutnya, saya kecil betul-betul anak kebon yang setiap hari selalu masuk kebon hanya untuk nungguin kembang temu saya tumbuh. Ini agak lucu sih buat saya pribadi karena meskipun saya suka kembang temu, saya tidak pernah suka kembang temu yang sudah tua. Kembang temu punya ciri spesifik, yaitu di sela-sela kelopak semi daunnya akan muncul bunga yang sesungguhnya dimana tengahnya akan menampung air dan sedikit berlendir. Menurut saya itu menjijikkan. Maka sebelum bunga sampai pada tahap tumbuh kembang yang itu, saya harus sudah memetiknya dan karenanya harus saya pantau setiap hari.

Saya kasih ilustrasi berikut. Yang sebelah kiri adalah kembang temu pada titik tercantiknya dimana setiap helai kelopaknya tampak segar, ramping, dengan semburat merah magenta yang menggoda. Sedangkan yang sebelah kanan adalah kembang temu pada masa menuju tuanya.

Sebegitu cintanya saya pada kembang temu sampai ciri-ciri kemunculannya pun bisa saya deteksi. Misalnya, gundukan tanah mana yang menandakan akan muncul kembang temu esok hari. Kangen sih kalau mengingat cerita ini karena praktis setiap hari kebon depan rumah adalah wahana main saya dan agaknya mendasari kegemaran saya masuk hutan semasa kuliah. Dipikir-pikir, agak aneh juga saya sesuka itu sama kembang temu. Tapi jika boleh mengibaratkan diri dengan bebungaan, saya akan memilih kembang temu sebagai representasi diri, hehehe.

Waktu itu kembang temu bahkan bisa menjadi pemicu pertengkaran saya dengan kakak laki-laki saya mengingat dia suka sekali mematahkan tangkai bunga sebelum sepenuhnya mekar. Ah saya jadi mellow mengingat masa kecil. Agaknya saya lantas melupakan kembang temu semenjak masuk SMP karena yah, kesibukan baru menduduki bangku sekolah yang lebih tinggi dan intensitas main di sekitaran rumah juga berkurang. Atau, karena rumah saya akhirnya dibangun baru saat saya kelas 5 SD dan pohon favorit saya buat dipanjatin dipotong untuk bikin gawang pintu. Sad.

Wow, prolog ini aja mencapai 400 kata, hahaha.

Tapi soal gimmick, kenapa menjadi topik, berawal dari pertanyaan-pertanyaan orang terdekat saya terkait pilihan sabun mandi saya yang sok ramah lingkungan. Padahal sebetulnya saya tidak pernah betul-betul ingin kampanye produk ramah lingkungan karena toh saya tidak tahu apa-apa soal dunia industri kimia. Bahkan, saya yang suka banget sama tahu sampai-sampai bisa hidup dengan makan tahu setiap hari saja nggak tau pencemaran macam apa yang bisa dihasilkan dari tahu.

Demikian, pemilihan sabun alami yang saya lakukan berawal dari alasan praktis karena saya kesulitan mencari sabun muka untuk kulit saya yang terlampau sensitif. Sudah ganti berkali-kali dan tidak pernah ada yang cocok sampai saya iseng menggunakan sabun sereh yang saya temukan di swalayan dekat kos saya. Entah bagaimana kemudian saya menemukan akun dagang sabun-sabun buatan sendiri dengan harga yang relatif terjangkau, varian banyak, baunya enak, dan yang pasti, tidak membuat kulit saya semakin buruk. Akhirnya selama 5 tahun terakhir saya betah betul menggunakan produk tersebut tanpa mau repot-repot menggantinya ke produk pabrikan mana pun.

Pun demikian untuk perawatan wajah akhirnya saya juga menggunakan sabun mandi yang sama biar nggak repot. Barangkali akhirnya saya terpaksa membeli sabun pabrikan untuk saya bawa-bawa saat sedang melakukan perjalanan jauh. Tapi belakangan ada yang super cocok meskipun produk pabrikan, tapi itu rahasia, hehe.

Jadi, bicara soal pemakaian produk, saya kadang merasa risih oleh kecenderungan orang untuk mengaitkan pilihan material kita pada prinsip ramah lingkungan yang sedang gencar. Saya pribadi menyadari bahwa pilihan-pilihan saya tidak akan mampu mengubah apa-apa yang besar. Mungkin mengubah produksi sampah personal saya, iya. Tapi selebihnya tidak ada dampak besar yang bisa saya berikan.

Demikian gaya hidup, apalagi di kota-kota yang sudah mapan seperti Jakarta, bertebaran kampanye ramah lingkungan yang sebetulnya gimmick saja. Misalnya menggunakan sedotan besi, menggunakan tumblr atau botol minum, tempat makan, naik kendaraan umum. Daripada disebut ramah lingkungan, saya cenderung lebih suka tidak disebut aja sih, hehe. Berdasarkan penelitian tipis-tipis saya soal sampah, bukan berarti tidak memakai sama sekali itu baik karena toh kita tetap akan menghasilkan sampah jenis lain. Saya termasuk yang santai saja menggunakan plastik karena merasa sedikit paham. Atau menggunakan beberapa barang dengan jenis material tertentu.

Kadang gatel juga karena tidak mampu mengkategorikan satu jenis material ke dalam kategorisasi yang sudah ada di dalam kamus pikiran saya. Tapi ya sadar diri karena saya tidak pernah suka pelajaran kimia dan mau menelan pelajarannya sekedar untuk lulus SMA dan masuk kuliah. Sama suka inget kata bapak saya kalo nggak ngerti cara ngebuangnya ya jangan dibuang, disimpan aja terus. Demikian prinsip bapak saya sampai-sampai bekas pulpen aja dikumpulin jadi satu.

Bukannya mau julid sih, saya pribadi takjub dengan beberapa orang yang saya ikuti kegiatan hariannya lewat kanal media sosial dan betul-betul menerapkan gaya hidup ramah lingkungan. Saya juga berkeinginan untuk sesadar itu atas pilihan-pilihan material dalam kehidupan sehari-hari. Tapi tentu saya tidak suka melabeli diri dengan sesuatu. Tidak mau juga menggabungkan diri pada gerakan tertentu. Sekadar karena saya merasa itu baik untuk saya aja sih. Beberapa kali saya menemukan (bahkan marak sekali) iklan produk yang diembel-embeli dengan label ramah lingkungan. Padahal kita sendiri tidak tahu spesifikasi material yang digunakan dan proses keseluruhannya. Label lebih sering hanya digunakan untuk meningkatkan value produk di mata pelanggan dan menaikkan pamornya, padahal mungkin hanya sedikit yang betul-betul ramah lingkungan.

Ya begitulah pasar. Mereka melihat, lantas mengubah komoditas sesuai dengan value yang dimiliki oleh pelanggan yang menjadi pangsa pasarnya. Seringnya setiap memikirkan ini saya ingin sekali belajar tentang material tapi kimia aja nggak pernah suka, hahaha.

Ah sudahlah. Makin ngelantur aja nih. Tampaknya saya butuh tidur tapi saya tahu kalian butuh asupan tulisan dari saya, huehehe. Satu lagi. Beberapa kali saya menemukan aktivitas kunjungan yang meningkat di jendela ini dan agaknya saya harus mengucapkan selamat datang. Terima kasih karena tidak bosan. Tabik.

wordsflow

Menyoal Cinta


Barangkali menjadi relevan kembali untuk membicarakan cinta. Terlepas dari apa yang sudah, sedang, dan akan saya alami terkait topik ini, membicarakan cinta sudah menjadi hal yang paling menarik di abad ini. Segala isu di luar itu kalah dan hampir tidak punya kekuatan untuk melawan popularitas topik percintaan di masa kini. Sebut saja isu-isu penting nasional dan internasional, misalnya soal sampah, pemanasan global, perburuan satwa, berkurangnya tutupan hutan, dst. Barangkali pesaing topik ini cuman abang-abang boyband Korea, skinker, sama perkucing-anjingan.

Okai ini lebay sih, bisa diabaikan, hahaha.

Again, membicarakan cinta menjadi relevan karena hampir setiap orang di dunia ini (saya katakan hampir karena selalu ada yang tidak), pernah mengalami pasang surut kehidupan karena percintaan. Perkembangan hidup kita, berisikan cinta di sepanjang perjalanannya, menempatkan kita menjadi objek, penonton, subjek, dan barangkali penasihat. Begitu banyak meme, percakapan virtual, and even like what the one said to me, “and other lies you can tell to yourself.”

Pembicaraan mengenai ini menjadi menarik kembali karena saya lagi-lagi masih menemukan relevansinya dengan hidup saya sendiri, dan apa yang saya pelajari dari sekitaran saya.

Seorang senior menyebutkan bahwa melalui pengamatannya,

Tentang nikah dan berprestasi: semakin banyak ketemu orang ‘berprestasi’, polanya justru kebanyakan sudah ‘menikah’/punya hubungan jangka panjang. Semacam konsekuensi alamiah dari kemampuan berkomitmen dan kedewasaan emosional, yang biasanya berkorelasi positif dengan pencapaian.

(Kausalitasnya belum konklusif tapi ya. Misal menurut satu sisi mungkin support moral partner menjaga ‘emotional hygiene’ sehingga lebih produktif dan fokus. Atau sebaliknya, prestasi leads to a certain socio-economic status that helps you find partner menurut pendapat lain.)

Sebetulnya jika dimaknai barangkali sudah tidak perlu ada penjelasan tambahan tentang pernyataan di atas. Tapi kalau saya boleh menggarisbawahi pernyataan ini, ada beberapa kata kunci yang bisa mengawali pembicaraan mengenai hal ini.

Yang paling menarik adalah penyebutan tentang kemampuan berkomitmen dan kedewasaan emosional.

Barangkali klise saja, dan tidak ada yang mengejutkan dari hal ini. Komitmen menarik dibicarakan karena sejauh yang saya lihat dari lingkungan sekitar, ada perubahan dalam diri seseorang ketika kita sudah berani mengambil komitmen tentang sesuatu. Tapi pertanyaannya, yang bagaimana yang bisa disebut sebagai komitmen. Kadang kita bias saja menyebut sesuatu sebagai sebuah komitmen karena sudah diputuskan, padahal kita semua, setidaknya sekali pernah terjebak pada salah kaprah pemahaman atas komitmen.

Kenapa komitmen dan kedewasaan emosional perlu disandingkan, karena keduanya memiliki hubungan kausalitas, atau jika boleh saya katakan bahwa kedewasaan emosional membawa kita pada hal-hal semacam komitmen, in their real meaning. Bisa jadi, itu juga yang menyebabkan komitmen tidak disebut dalam kata dasarnya namun sebagai sebuah ‘memampuan berkomitmen’. But there, butuh kedewasaan emosional agar kita mampu melakukannya.

Menilik ke kehidupan personal saya berkaitan dengan ini, ada beberapa tahapan hidup yang saya putuskan dalam kekalutan, kemarahan, atau sekelumit dendam. Gejolaknya memang tidak cukup besar, tapi pada titik tertentu mengguncang stabilitas emosional harian saya di lingkungan baru. Membuat saya mempertanyakan kembali apakah saya kurang bersungguh-sungguh dalam mengasah kedewasaan emosional saya. Komitmen saya tidak berjalan mulus karena saya mengkhianatinya dan lebih memilih mengikuti emosi saya.

Ada banyak teman-teman saya yang memiliki kedewasaan emosial sejak saya masih berada di titik paling arogan. Mereka yang kemudian membuat saya sadar ada yang salah dengan diri saya dan karenanya saya menggali-gali seorang diri (meski akhirnya meminta bantuan) untuk menemukan bongkahan-bongkahan kebebalan lantas mencoba melihatnya dari segala sudut.

Saya pikir, titik moksanya manusia dalam menjalani kefanaan ada pada kedewasaan emosionalnya. (anjay nih ngomong apa sih) Bukan berarti harus selalu menjadi positif, atau menjadi protagonis dalam setiap kesempatan. Mendewasa menurut saya mungkin lebih dekat dengan kesadaran (being aware) atas diri. Tahu kapan berbahagia, kapan menangis atau kapan menghentikannya, menyadari setiap hal yang kita rasakan. Olah rasa mereka menyebutnya. Tapi yah, saya bahkan tidak berani mengira-ira kapan saya bakal lulus dalam menjalani tahap pembelajaran ini.

Lalu korelasinya dengan mencintai apa? Karena mencintai adalah komitmen, dimana dibutuhkan kedewasaan emosional untuk membuatnya menjadi benar.

Sempat terpikir oleh saya bahwa mencintai saja ternyata tidak cukup. Manusia membutuhkan ‘imbalan’ atas cinta itu dengan dicintai dengan sama besar. Kadang tidak bersyarat, tapi saya sendiri menyadari bahwa saya menetapkan standar-standar tertentu. Apa sebab saya bisa tahu? Karena pada satu titik saya merasa tidak adil bahwa saya tidak dicintai sebesar yang saya kira saya berikan ke orang lain. Tapi pemikiran semacam ini pun perlu saya ragukan kebenarannya karena praktis selama 27 tahun hidup saya, saya tidak pernah mencintai dengan benar. Saya curiga bahwa saya hanya merasa mencintai seseorang alih-alih betul-betul melakukannya.

Dan barangkali benar bukan seperti itu. Ketika seseorang mencapai kedewasaan emosional, dia akan tahu kapan bertahan dan kapan melepaskan. Dia mengerti komitmen semacam apa yang sebaiknya diambil. Entah kenapa saya yakin bahwa kedewasaan emosional lah yang menjamin berjalannya komitmen, dan bukan sebaliknya.

Tapi yah, saya kurang tahu sampai di mana kah saya saat ini. Pun saya kadang masih terjerumus ke dalam perasaan di dalam diri dan sering sukar untuk melawannya. Saking saya harus memetakan berbagai badai emosional yang saya rasakan, kadang saya menulis buku harian dengan berderai air mata, kehilangan jam-jam istirahat karena meladeni keinginan untuk menangis saat itu juga, atau sengaja mencari film yang memancing emosi-emosi tertentu. So silly but it helped me to track back my emotions.

Sebagaimana yang saya sebutkan, tulisan ini saya buat karena terpancing dengan pernyataan di atas. Mana mungkin orang yang tidak bisa melakukan satu hal dengan benar berani-beraninya menulis hal semacam ini? Hehehe. Tapi justru dengan alasan yang sama, saya mencoba membenahi apa yang salah dari nalar dan kemampuan saya dalam merasa.

Meskipun ada beberapa prinsip yang coba saya jalani, saya juga menyadari bahwa sebebal-bebalnya manusia, kita selalu butuh orang lain untuk bergantung. Barangkali untuk memberikan dukungan emosional atau justru untuk kita sirami cinta sebanyak yang kita mau. Dengan memikirkan ini saya sering merasa tenang melihat teman-teman saya mendadak menikah karena dijodohkan atau bertemu dengan orang yang sama sekali baru.

Sebelum benar-benar mencapai akhir paragraf, saya ingin berpesan satu hal. Karena mencintai itu bagian besar, ketika cintamu berbalas, maka berbahagialah. Cintailah pasanganmu sebaik-baiknya kamu ingin dicintai. Di tengah argumen tentang cinta yang semakin banal dan ‘tidak istimewa’, mampu mencintai dengan benar saja sudah sangat baik, terlebih ketika kamu dapat menemukan frekuensi yang sama atas perasaan itu. Dan untuk Anda-Anda yang belum berpasangan, mencintailah dengan benar meski cintamu tidak berbalas. Setidaknya kamu memberi yang orang lain butuhkan, yang dunia ini butuhkan, yang kamu sendiri juga butuhkan. Percaya deh, tidak ada yang sia-sia dari cinta.

Akhir kata, sampai di sini saya masih ragu saya menulis apa, karena apalah arti tulisan ini sementara saya masih percaya zodiak dan golongan darah. Hahahaha.

Ya begitulah, antara bohong dan tidak, bergitulah saya mencoba berkamuflase dalam berkehidupan.

Semoga berkenan dengan tulisan ini. Tabik.

wordsflow

22.22


Baiklah saya mau nambah postingan untuk blog ini. Sembari memikirkan apa sekiranya yang bisa saya tuliskan, agaknya saya sekali lagi tengah mengalami perputaran emosional yang sebetulnya sudah saya rasakan beberapa kali dalam kurun 5 tahun belakangan.

Saya menyadari ternyata sulit bagi saya untuk mengingat apa yang terjadi pada saya selepas saya selesai menjalani kuliah arsitektur. Bahkan saya baru sadar bahwa sudah hampir 6 bulan saya pindah ke Jakarta tapi ingatan saya tentang kurun waktu ini ternyata samar-samar saja. Pertanyaannya kemudian, saya isi dengan apa slot memori dalam kurun waktu ini? Hehehe. Jawabnya ada, di ujung langit, kita ke sana dengan seorang anak, anak yang tangkas, dan juga pemberaniiii.

Ya begitulah, ada banyak hal yang mengganggu saya.

Tapi sadar atau tidak, meski begitu kuat saya mengatakan tidak, Jakarta memang merusak stabilitas emosional saya pada waktu-waktu tertentu. Gejolak emosional yang saya rasakan jauh lebih ekstrim ketimbang ketika saya masih ada di Jogja. Sebabnya apa? Kondisi lingkungan yang tidak seasik Jogja, deretan manusia yang tidak tampak manusiawi, sentimen orang-orang terhadap gaya hidup dan pilihan kita, dan alih fokus saya dari dunia nyata ke dunia maya.

Yang terakhir adalah rutinitas yang ternyata mempengaruhi saya jauh lebih dalam dari yang saya kira. Sudah banyak artikel dan perbincangan mengenai pengaruh media sosial terhadap kita, tapi bagaimana kiranya dia sungguh berpengaruh, kadang sering kita kesampingkan begitu saja.

Sebagai contoh, suatu ketika saat saya sedang fokus dengan pekerjaan saya hingga tengah malam, kebosanan membawa saya pada jendela-jendela linimasa yang menunjukkan kegiatan teman-teman karib saya di Jogja. Kegiatan mereka menarik ingatan dan pikiran saya untuk ‘melompati’ ruang-waktu lantas ber-ada pada ruang-waktu yang sejajar dengan mereka. Ponsel pintar kita menggantikan daya imajinasi kita dan menyediakan segala hal yang bisa ‘membawa’ kita melompati jarak ruang-waktu itu sendiri. Sehingga demikian, meski raga saya masih melekat di tempat duduk sembari rapat dengan rekan kerja, pikiran saya, daya imajinasi saya, fokus saya, semuanya telah ada di tengah-tengah hingar bingar keseruan bersama rekan-rekan saya di Jogja.

Dampaknya apa?

Tentu, itu ibarat kita naik kendaraan dengan jendela ditutup rapat sehingga apapun yang ada di luar tidak akan bisa kita rasakan dan kita pahami, segalanya berlangsung sambil lalu saja. Seluruh indra saya terpecah dan hanya menyisakan memori visual tanpa benar-benar mengendap sebagai memori yang mencakup rasa dan respon emosional.

Terkadang metode ini berhasil menyelamatkan saya dari kebosanan mengikuti kegiatan atau hal-hal yang mengganggu saya pada kondisi faktual. Tapi di saat tertentu justru pikiran saya melayang di antara yang nyata dan maya, tidak berada di salah satu sisinya. Dan alih-alih merasa terhindar dari perasaan-perasaan mengganggu di dunia nyata, atau turut merasakan euphoria dunia maya, saya justru merasa kosong belaka.

Pada titik inilah segala bentuk pertanyaan eksistensial, ketuhanan, emosional, filosofis, kritis, ya apapun lah yang abstrak-abstrak itu, atau bahkan kadang yang tidak abstrak sama sekali menyeruak ke permukaan dan memboikot pikiran saya begitu saja. Lucu ya, akhirnya saya jadi harus melawan diri saya yang lain untuk bisa kembali membumi dan berada pada tempatnya.

Kadang saya gagal dan jatuh frustasi dengan aksi boikot itu dan mau tidak mau harus mencari bala bantuan dengan metode tertentu. Tentu juga barangkali sama seperti manusia lain yang hidup di kota dengan kesibukan abstrak dan cenderung menekan, hidup normal dengan proporsi kerja-istirahat-liburan yang kurang ideal terasa luar biasa sulit di sini. Mayoritas fokus kerja terpecah ke banyak hal antara lapar atau ingin pulang ke rumah. Berbarengan dengan perasaan tertekan karena harus menyelesaikan pekerjaan dengan baik dengan resiko tertentu, kadang tidak suka tapi kamu butuh uang untuk hidup.

Tapi lagi-lagi, bukan berarti hal semacam itu mustahil untuk diraih. Pada kondisi tertentu hidup di Jogja juga terasa begitu menekan tapi dengan faktor yang sedikit berbeda. Keseharian kita diisi dengan artikel-artikel tentang upaya menjabarkan gejala dan resiko generasi milenial yang disebut sebagai generasi yang gila kerja, jaminan hari tua yang minim, angka perceraian tinggi, ketidakmampuan memiliki properti, seringnya berpindah-pindah kerja, dan lain sebagainya. Kita tergencat sana sini oleh hal-hal semacam itu yang tersebar secara tidak bertanggung jawab di kanal-kanal media sosial atau percakapan pribadi.

Di Jakarta mudah sekali menjatuhkan penghakiman pada seseorang karena penampilan atau gaya hidupnya. Kamu harus betul-betul sadar menjadi diri yang seperti apa dengan cara apa. Bersiasat begitu jeli untuk menemukan celah-celah yang akan tetap membawa diri kita ya menjadi kita apa adanya.

Klise sih sebetulnya, karena toh kita semua melakukan ini. Tapi menahan diri untuk tidak tertarik masuk pada lingkaran gaya hidup kelompok tertentu baik dalam lingkaran pertemanan nyata dan maya adalah tantangan yang sama-sama kita hadapi bersama, di manapun kita berada. Well, untuk hal ini marilah kita kutuk kanal-kanal media sosial dan mulai menyaring apa-apa yang ingin kita lihat dan kita telaah darinya.

Lagi-lagi, senang sekali saya masih memiliki ruang semacam ini untuk tetap berada pada jalur perjalanan saya tanpa harus digempur kanan kiri oleh hal-hal yang sedang naik daun. Blog ini semacam suaka dan senang sekali mengetahui bahwa masih ada orang-orang yang sering menulis panjang dan terus menghidupi dunia paralelnya tanpa penghakiman. Benar, kadang kita tidak sadar begitu lelah karena menghidupi diri kita di berbagai kanal dalam waktu yang bersamaan. Kita membentuk diri kita menjadi beberapa figure yang berbeda, atau mengulang penggambaran figure yang sama pada jendela yang berbeda. Dengannya kita—atau saya—sering melupakan bahwa di antara jendela-jendela itu ada pintu yang bukan hanya menampilkan citra tapi betul-betul membawa saya keluar ke mana pun yang saya mau.

Akhir kata, hari sudah berganti dan inilah saatnya bagi saya untuk undur diri.

Semoga esok kita masih bisa saling menyapa di salah satu jendela favorit saya ini. Tabik.

wordsflow