WORDS FLOW

setiap pengalaman pantas untuk diingat

Category: on Life

sajak dan perpisahan


Mari bercerita tentang apa yaaa.

Saya sedang tidak merasa bersemangat, pun tidak sedih. Kadang saya suka ragu mengakui sesuatu di blog ini. Biasanya hari esoknya saya akan dengan sendirinya tidak lagi mengalami hal yang saya ceritakan. Misal saya cerita sedang bahagia, esok hari yang terjadi justru sebaliknya. Dan bilamana saya bercerita sedang marah, esok harinya semua menjadi begitu biasa saja. Cerah luar biasa.

Jadi, mari tidak mengakui apapun yang saya rasakan. Setidaknya saya masih sehat dan baik-baik saja saat ini.

Setelah berminggu-minggu tak ada yang menanyakan kabar saya, entah angin apa yang berhembus, banyak nama muncul di ruang bincang elektronik saya. Dan agak aneh sebetulnya menemukan banyak nama di sana. Hanya saja, hal-hal mengejutkan selalu menyenangkan.

Saya kira tidak terlalu banyak yang bisa saya harapkan dari hal-hal yang terjadi. Kegagalan, keberhasilan, pencapaian, dan lain sebagainya selalu mengorbankan banyak hal. Semua orang berjuang dengan segala kemelut yang mereka rasakan di dalam dirinya masing-masing, dan saya pikir satu-satunya hal yang bisa saya lakukan hanya menghargai setiap kemelut itu. Saya rindu bersajak, tapi tidak ada hal yang memicu saya untuk bersajak.

Saya telah banyak bertemu dan berpisah dengan orang di tahun ini. Seolah tiba-tiba segala hal yang sebelumnya saya kira sangat rumit dan membingungkan menjadi cukup sederhana untuk dipahami. Bahwa berpisah hanyalah sebuah penegasan atas jarak dua manusia atau manusia dan lingkungannya. Toh pada dasarnya tidak pernah ada dua hal yang sungguh-sungguh menyatu. Karenanya perpisahan hanyalah sebuah penegasan bahwa jarak antara dua hal bisa menjadi begitu jauhnya. Demikian, maka pertemuan atasnya juga hanya sekedar penegasan bahwa jarak selalu relatif dan terus berubah, ia bisa menjadi begitu mampat. Bukankah pertemuan setelah perpisahan selalu menyimpan emosi berlebih dan dinantikan?

Tidak ada hal yang barangkali terlalu saya inginkan di saat ini. Tidak ada rindu yang terlalu berat untuk dipikul. Tidak ada harap yang terlalu digantung. Tidak ada sesal yang perlu ditanggung. Semua menjadi terserah saja sepertinya. Terkadang ada orang-orang yang paham bahwa tidak selamanya saya demikian. Tapi segala kemelut hanya butuh direnungkan sejenak, ditinggalkan barang 10 menit dan semuanya kembali menjadi hal yang biasa.

Setiap orang memilih yang terbaik untuk dirinya sendiri atau setidaknya hal yang menurut kita paling baik. Pilihan yang manapun memhasilkan konsekuensi yang barangkali sama bobotnya. Toh setelah pilihan diambil, adanya konsekuensi itu tidak lantas membuat pilihannya dapat diubah begitu saja. Maka menjalani tanpa terlalu banyak berekspektasi sepertinya menarik.

Esok hari saya akan bertolak sejenak. Entah mengapa perjalanan esok rasanya sedikit berbeda dengan perjalanan ke lapangan sebelum-sebelumnya. Rasanya sama seperti ketika saya membayangkan bagaimana bentuk tempat ini untuk pertama kali. Saya grogi.

Dan begitu saja. Selamat malam dan mimpilah semau kalian.

wordsflow

Advertisements

curhat (yang ke berapa ya?)


Sebetulnya sebelum ini juga curhatan semua isinya. Cuma yang kali ini sungguh curhat.

Kenapa yaa? Saya pun tidak terlalu paham. Tapi yang pasti saya memimpikan hal-hal yang tidak seharusnya akibat berkabar dengan terlalu banyak orang. Bukan kemudian saya tidak suka berkabar dengan orang-orang juga. Tentu saja saya merindukan mereka, merindukan kalian, merindukan rumah. Hanya saja ada beberapa hal yang membuat saya tergelitik sebagai hasil dari obrolan-obrolan panjang.

Kata teman saya, “sayang itu baik, karenanya harus berdampak baik”. Bagaimana mengartikannya? Lagi-lagi saya mencoba mengingat banyak hal yang telah lewat, dan barangkali hal-hal yang mungkin akan saya lewati kemudian. Menyadari kembali bahwa ada bayangan-bayangan meresahkan yang kadang masih tersimpan di belakang jauh pikiran saya. Berdiam tenang tanpa mencoba menampakkan diri. Tapi saya tahu pasti, hal-hal semacam itu masih ada di sana.

Kenyataan memang lebih sering menjadi terlalu pilu. Tampaknya terlalu bercanda, dan memang begitu. Tapi ia tetap sesuatu yang nyata. Ia tetap sesuatu yang menimbulkan rasa. Membercandai nasib itulah yang kemudian menjadi jalan tengah untuk menerima yang terberi.

Pada sebuah obrolan random dengan seorang teman yang lain, saya mencoba memaparkan bagaimana saya memahami karakternya sebagai seorang individu. Pada suatu titik saya katakan bahwa dia cukup brengsek dalam melihat perempuan. Hanya pada perempuan tertentu ia tidak menjadi begitu brengsek.

Jawabannya sungguh mengejutkan. Katanya, “semua laki-laki begitu”. Saya jadi bertanya-tanya apakah saya juga melakukan hal yang persis sama dengan orang-orang di sekitar saya? Entah pada perempuan atau laki-laki? Ternyata saya tidak jauh berbeda dari yang saya tuduhkan dengan kasar padanya. Saya sama saja brengseknya. Barangkali hanya tindakan dan cara melakukannya saja yang berbeda.

Ada yang tidak akan pernah bisa disamakan antara satu orang dengan orang lainnya. Itu kenyataan. Salah satu yang cukup pahit untuk diterima barangkali. Ada saja cara untuk menampik motivasi yang susah payah kita berikan untuk seorang adik yang sedang berada dalam keterpurukan. Ada saja cara seseorang untuk menampik tuduhan baik dan buruk dari orang lain.

Berita baiknya, di antara hal-hal mengejutkan itu saya sering menemukan kejujuran yang tidak pernah saya lihat dalam hidup mereka yang sesungguhnya. Kadang bahasa teks menjadi sangat menarik di satu sisi. Dan menyebalkan pula di sisi yang lainnya. Hehe.

Dalam jarak (kenapa harus saya tekankan mulu yak?), komunikasi tekstual menjadi pilihan yang paling nyaman buat saya. Biarpun saya sering grogi dalam bercakap dengan orang yang tidak sungguh saya akrabi, tidak jarang juga saya menantikan chat dari orang yang merindukan saya. Hahaha. Norak abis.

Biasa saja. Segala hal menjadi biasa saja kadang-kadang. Terlalui apa adanya. Terlampaui dengan bersahaja. Ternantikan tanpa ekspektasi. Tersimpan tanpa penyesalan. Sedih barangkali iya. Dan tentu saja. Misalnya ketika saya tidak bisa bertemu teman-teman saya yang berkunjung ke Jogja. Ketika saya tidak bisa menghadiri pernikahan teman-teman saya. Ketika saya harus melewatkan kesempatan-kesempatan yang sebelumnya telah terpetakan. Namun sedih pun hanya menjadi sesuatu yang diucapkan, dan disimpan di belakang pikiran saya. Yang begitu, sudah menjadi keahlian saya sebagai hasil pembelajaran bertahun-tahun.

Padahal saya rindu menangis sambil mendengar lagu sendirian. Tapi tidak berhasil juga. Dan tidak bisa pun tidak mengapa.

Lalu, soal maksud setiap tulisan setelah ini, saya tak mau repot-repot menegaskan maksud tersirat dan tersuratnya. Saya cukup yakin pembaca blog pribadi ini kenal saya luar dalam.

Terakhir, saya hanya ingin bilang satu hal. Saya rindu.

wordsflow

delusi


Ada alasan yang menyebabkan saya tidak terlalu menyukai berhubungan melalui jaringan telepon atau menggunakan ruang bincang. Saya amat sangat grogi ketika menemukan orang yang saya ajak mengobrol di telepon tidak dapat saya lihat wujudnya. Seolah saya tidak tahu hal apa yang harus saya ucapkan. Pun demikian ketika menemukan kawan bincang saya di ruang bincang sedang online, ada rasa grogi di dalam diri saya.

Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat mengubah cukup banyak hal di dunia ini. Memang, saya juga salah satu partisipan dan pelanggan setia teknologi ini. Namun demikian, ada hal-hal yang jauh lebih saya sukai; adalah bertemu langsung dengan manusia lain. Melalui teknologi, ada sangat banyak hal yang sebelumnya menjadi sebuah hambatan menjadi sesuatu yang tidak perlu diperhitungkan lagi. Jarak terreduksi, waktu terlampaui, dan kenangan menampakkan diri. Melaluinya, kita tidak lagi harus bersusah payah untuk mengenang sesuatu lagi. Cukup membuka ruang bincang dan membaca kembali apa yang telah lewat. Atau membuka album dan mengenang momentum yang pernah ada.

Tentu saja hal semacam itu membantu saya dalam menjalani hidup. Saya tidak lagi harus khawatir melupakan satu janji, atau salah memahami kalimat karena bisa dibaca berulang-ulang. Pun saya juga salah satu penikmat teknologi yang akan senyum-senyum sendiri ketika membaca perbincangan saya di ruang bincang.

Tapi kemudian, ada waktu-waktu ketika saya tersadar sedang sendirian di tempat berbeda dengan lawan bicara saya, atau ketika saya akhirnya tidak berada bersama mereka. Betul, kehadiran itu jauh lebih penting dibandingkan apapun, di luar ‘kegunaan’ seseorang dalam hidup orang lain. Hanya ‘hadir’ pun, akan ada cukup banyak hal yang berubah.

Teman baik saya menikah hari Minggu besok. Hehe. Padahal pernikahannya adalah salah satu agenda yang sangat saya nantikan sejak ia berkabar telah bertunangan. Apa daya, saya hanya bisa meraihnya melalui ruang bincang yang tidak menampilkan apapun kecuali sederetan kata. Hanya karena saya sangat mengenal lawan bincang saya, teks itu menjadi sehidup ketika saya berhadapan dengannya. Kadang ada sekelebat rasa sedih ketika sadar teknologi sebetulnya tidak pernah mampu menghapus ketidakhadiran.

Saya paling menghargai bentuk interaksi interpersonal; yaitu ketika dua orang sedang bersama. Di situ terletak segala hal yang mampu diinteraksikan atau disembunyikan manusia. Ada banyak contoh kontra-kondisi hubungan manusia. Ada manusia yang bisa dengan lancar berbincang di ruang imajiner, namun bahkan tidak pernah mampu menyapa manusia lain. Ada manusia yang hanya mampu berinteraksi di forum besar, namun terus menghindari konfrontasi interpersonal. Hehe, lucu ya.

Tentu saja saya sendiri masih belum mampu menjadi manusia seideal yang saya pikirkan sendiri. Kadang di waktu tertentu saya merasa jauh lebih berisik dari yang saya inginkan. Atau di waktu yang lain saya mengutuki diri sendiri karena masih saja menjadi orang yang penuh prasangka ketika berhubungan dengan lawan bicara.

Melalui teknologi informasi yang berkembang, hal-hal yang saya takutkan pelan-pelan saya tangani melalui berbagai cara. Tidak selalu berhasil, tapi setidaknya ada percobaan. Kadang masih ada orang-orang tertentu yang membuat saya terus berprasangka setiap kali berbincang. Dan tidak hilang juga meski saya berkata ‘semua akan baik-baik saja, segalanya adalah hal yang biasa’. Masih juga terus berulang meski berkali-kali saya meyakinkan diri sendiri.

Oke baiklah, karena malam telah larut, mari berkemas tidur.

wordsflow

Mencukupkan Diri


Pada kala waktu tertentu, tentu saja saya orang yang sering merasa rendah diri di hadapan orang lain. Banyak pula waktu-waktu yang menempatkan saya pada kondisi ingin mencapai sesuatu yang lebih dari hari ini. Lalu berhenti karena merasa tidak mampu.

Saya ingat pernah mendaftar sebuah program pengembangan bisnis akhir bulan Juni kemarin, tepat sebelum lebaran. Sejak itu saya tidak lagi memikirkannya hingga akhirnya undangan lanjutan program tersebut saya terima sebulan yang lalu. Sayang sekali setelah berusaha mencari orang yang dapat menggantikan saya untuk mengikuti si program, saya harus rela melepaskan kesempatan itu.

Barangkali saya memang sering bercerita tentang bisnis saya. Yang kadang membuat saya heran adalah bisnis itu tidak pernah berkembang sejak saya memulainya. Padahal di waktu yang sama dengan peluncuran brand saya, seorang teman juga memulai usahanya. Dan sekarang? Dia bahkan telah membuka cabang di Jakarta. Oke sip.

Di situ saya berhenti sejenak untuk mengevaluasi diri. Apakah memang saya tidak cocok terjun di dunia bisnis, sama sekali tidak mampu mengembangkan bisnis menjadi sebuah usaha yang lebih dari sekedar usaha main-main semata. Beberapa kali saya mencoba merancang agenda untuk mengembangkan bisnis tersebut menjadi sebuah bisnis yang lebih besar. Pada akhirnya semua agenda itu berakhir menjadi sebuah upaya saja tanpa adanya realisasi.

Hehehe. Memang saya pada dasarnya tidak sedang berupaya untuk menjadi kaya barangkali. Lebih pada upaya untuk memuaskan diri sendiri bahwa tidak selamanya harus menjadi orang yang tertata dan berpenghasilan tetap. Sungguhkah?

Atau, saya memang sulit percaya dengan orang lain. Saya sulit membagi diri meski sering merasa terlalu terbuka di hadapan orang lain. Oleh karenanya saya tidak pernah rela untuk membagi pengetahuan tentang usaha ini dengan orang lain. Keegoisan saya memiliki porsi besar di dalam diri saya.

Tapi tentu saja hal tersebut tidak kemudian membuat saya tidak ingin mengembangkan bisnis. Harapan memiliki bisnis yang akhirnya bisa terus-terusan dijalankan dalam kesenangan sangatlah membahagiakan. Namun menjalani hal semacam itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan dan dicapai.

Kadang di sela-sela saya berusaha merasa baik-baik saja dan menerima bahwa bisnis saya belum bisa berkembang sebagaimana orang lain, muncul rasa ingin yang lebih. Barangkali memang itulah yang disebut sebagai rasa iri. Hal semacam itu berkembang dengan pupuk-pupuk lainnya yang bernama media sosial. Di sinilah saya menemukan bahwa manusia dibatasi oleh banyak hal hingga akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti atau lanjut. Banyak orang yang sering berkata untuk tidak pernah menyerah. Banyak juga yang mencoba berpasrah untuk mengikuti keberuntungan.

Bagi saya pada akhirnya, tidak masalah pilihan mana yang akhirnya kita ambil. Semakin banyak saya bertemu orang lain, semakin banyak saya melihat hidup orang lain, semakin sering saya berpindah keadaan, kesadaran saya akan rasa pasrah semakin besar. Tidak seharusnya untuk berhenti berusaha memang, semua pun berkata demikian. Namun dari begitu banyaknya manusia di dunia ini, tidak ada orang yang akan memiliki nasib yang sama. Oleh karenanya, tidak benar jika saya harus membandingkan hidup saya dengan orang lain. Kan?

Saya sering merasa yang paling baik di antara orang lain di sekitar saya. Entah apa sebab, saya hanya merasa bahwa saya selalu keren ketika melakukan apapun. Berkata begini, saya bahkan sekarang dapat julukan si sombong di lapangan. Dan justru dengan berpikir demikian saya semakin mudah menerima kekurangan saya dalam melakukan banyak hal. Saya bertemu orang-orang jujur yang bisa berkata kapan saya menyebalkan atau tampak jelek, kapan saya menyenangkan dan terlihat lebih cantik, kapan mereka terinspirasi, atau kapan saya menjadi orang yang paling ingin mereka pukul. Hahaha, lucu sekali hidup ini. Di sepanjang sejarah hidup saya yang serba menyembunyikan hal-hal semacam itu atau berlaku palsu, menerima kalimat jujur semakin menjadi hal yang saya sukai. Bahkan kekurangajaran teman-teman saya dalam mengevaluasi saya bisa memicu saya untuk merenungkan hidup lebih dalam.

Well, sekedar info saja, saya punya masalah besar dengan rasa malu. Malu memulai percakapan, malu meminta sesuatu, malu menolak sesuatu, malu ketika mengingat hal yang menurut saya memalukan (bahkan pada hal yang sudah dilupakan orang), malu akan penampilan, malu akan cara berkata-kata, malu saat orang lain tahu isi hati saya, dan entah berapa jenis malu lagi yang saya punya. Di saat yang sama saya sombong dan selalu merasa keren. Ah, saya pun alay. Parah.

Saya sering memikirkan masa lalu saya, mengenang banyak hal. Semakin saya pikirkan hal yang sudah berlalu, saya semakin merasa segala hal lebih mudah (meski tidak selalu demikian). Kadang saya tertawa menahan malu atas kelakuan saya di masa lalu. Kadang saya termenung karena sadar ada hal-hal yang selamanya tidak bisa terulang. Kadang saya begitu sedih karena sepanjang perjalanan hidup toh ada hal-hal yang belum mampu saya selesaikan.

Hei, di atas langit masih ada langit, dan di bawah tanah selalu masih ada tanah. Maka tanpa mencukupkan diri, pengetahuan akan keunggulan dan kelemahan itu hanya akan berakhir menjadi sebuah rasa iri dan kegelisahan. Tepat di sisi lain, dengan mencukupkan diri, kesempatan untuk menjadi semakin baik dari hari kemarin biasanya datang lebih cepat dari yang kita duga.

Seperti hari ini. Entah kapanpun kalian membaca ini, yakin saja bahwa hidup kita semakin baik dari hari ke hari. Bilamana di antara kita masih ada yang percaya takdir, saya pikir takdir selalu datang di saat yang tepat. Tidak ada yang salah dari setiap pengalaman, karena begitulah dia memainkan perannya dalam hidup seseorang. What doesn’t kill you make you stronger, kan?

**

Mengenai postingan sebelum-sebelumnya, tentu saja itu adalah isi hati saya. Tapi saya tidak seputus asa itu atau semarah itu. Saya sudah lupa merasakan marah yang sesungguhnya. Marah itu biasanya mewujud menjadi tangis atau diam. Ah, biasanya juga selalu memakan korban karena saya harus memilih satu teman curhat.

Di tempat sejauh ini dari rumah, berpindah setiap 5 hari sekali membuat saya semakin yakin bahwa saya barangkali bisa hidup di manapun di dunia ini (sombong betul!). Tapi benar, bahwa yang membuat sebuah tempat menjadi rumah adalah hal-hal yang kita ciptakan dan kita simpan di dalamnya. Ruang dapat dipindahkan melalui penyatuan hal yang materiil (manusia dan benda) dan yang imateriil (kesan dan kenangan). Ya, rumah dapat berpindah. Dan hal semacam itu tidak akan menjadi masalah. Setiap detik yang kita lalui kemudian adalah upaya untuk membentuk kenangan-kenangan baru di dalam diri sendiri sehingga selalu ada rumah di dalam diri untuk pulang kembali, di manapun kita merasa tersesat nanti.

Sesepi apapun hari-hari saya, sejauh apapun saya dari orang yang saya cintai, saya kasihi, dan saya rindukan, sejarang apapun saya menghubungi mereka, ada bagian dari diri saya yang tidak pernah terpisahkan dari mereka. Bukankah yang mati selalu hidup di dalam kenangan? Begitu juga yang jauh akan selalu dekat di dalam kenangan.

Begitulah harga kenangan, dan karenanya menghapus satu saja bagi saya adalah pelanggaran. Kadang yang menyakitkan bisa terkenang membahagiakan, dan sebaliknya, yang menyenangkan bisa terkenang begitu menyakitkan.

Eww, romantisme malam ini akan berlanjut dengan mendengarkan lagu.

wordsflow

terlanjur


Sore itu selepas mewawancarai Bang Salfius, seorang pengrajin tifa di sebuah kampung perbatasan, kami lanjut mengobrol di bawah pohon nangka di belakang rumah. Sembari mengobrol anaknya yang masih berusia 3 tahun dengan telaten mengupas batang pisang dan menghilangkan serabut dari kulitnya dengan pisau. Saya tergerak untuk meninggalkan bale-bale dan mendekati si anak.

Saya perhatikan apa yang ia lakukan. Batang pisang adalah hal yang saya akrabi sejak kecil. Dari benda itu saya berkarya layaknya anak-anak (barangkali di seluruh tempat berpohon pisang) dengan membuat prakarya-prakarya sederhana.

Rupanya ia sedang membuat tali dari serat batang pisang. Abangnya yang lebih dewasa dengan sabar memilin setiap lembar kulit batang pisang kering yang telah dibelah tipis-tipis. Pilinan itu semakin panjang dengan ketebalan yang cukup untuk membuat tali gelang.

Saya pun terpikat.

Saya ambil dua lembar kulit dengan panjang yang sama dan mulai memilinnya menjadi empat bagian. Pilinan itu tertatih-tatih namun semakin panjang. Rupanya cukup juga untuk membuat gelang. Maka saya lingkarkan ke tangan kiri saya dan saya ikat mati dengan bangga memamerkannya pada Bang Salfius.

“Kalau sudah diikat tidak boleh pulang”

Sontak saya menoleh padanya. Gelang itu saya ikat mati dengan pilinan yang membuat si gelang seolah mustahil putus dengan tangan kosong. Yang ada malah tangan saya yang terluka kalau terpaksa.

“Serius Bang?” saya tanya dengan muka tidak percaya. Antara takjub bahwa saya akan punya alasan untuk tetep tinggal dan perasaan kecamuk karena bilamana itu benar, mungkin orang-orang terkasih saya tidak akan sering saya temui. Bahkan barangkali tidak akan lagi.

Tapi Bang Salfius tertawa singkat, dia setengah bercanda. Hanya apabila yang mengikatkan adalah masyarakat Marind, maka hal itu sungguh akan terjadi. Bukan dalam artian saya tidak akan pernah boleh pulang, tidak demikian maksudnya. Bang Salfius bercerita bahwa secara otomatis saya tidak akan merasa nyaman tinggal di manapun kecuali kembali ke tanah Marind.

*

Imaji mengenai hidup jauh dari hal-hal yang saya akrabi adalah imaji yang sangat saya gemari. Berkali-kali setiap ada kesempatan untuk membuang waktu dengan merenung, untuk memperhatikan manusia, semua bayangan tentang ‘apabila saya adalah mereka’ selalu membuat saya tenggelam dan terpesona dengan sendirinya.

Ada hal yang sesungguhnya mulai membuat saya bangga dengan diri sendiri. Bukan lantaran apa yang saya lakukan sekarang ini, bukan lantaran karena peran saya di lingkungan saya di manapun, bukan itu. Saya ingat pada suatu tes psikologi awal bulan lalu, saya menulis sebuah keinginan;

Saya ingin berteman dengan siapapun tanpa prasangka.

Adalah hal yang setengah mati saya upayakan selama ini. Menjadi manusia tanpa prasangka terhadap sesiapa yang ditemui. Menjadi manusia yang melihat manusia sebagaimana melihat diri sendiri. Dan pelan-pelan, tertatih, saya menjauh dan melakukannya sebaik mungkin.

Sejauh yang saya ingat, belum pernah saya melakukan penelitian. Belum pernah mewawancarai orang lain, bahkan cenderung selalu gagal mewawancarai pun diwawancara. Beberapa kali berbincang dengan orang lain saya mudah disalahpahami. Barangkali saya memang kurang banyak mengenal diri sendiri.

Tapi saya menyadari bahwa perlahan saya bisa bertemu dengan orang baru tanpa muka jutek, bisa berbincang segala topik dengan siapapun, tertawa-tawa tanpa mengenal malu, dan bercerita jujur tentang hidup, bahkan bersedih ketika berpisah dengan mereka.

Saya sadar masih sangat jauh panggang dari api. Masih banyak pekerjaan hati yang harus saya selesaikan dan coba saya pahami dalam kesungguhan. Barangkali waktu menjadi demikian karena kita butuh sesuatu untuk memandu kita berjalan dan merasa. Waktu memiliki panduan itu agar manusia mau memikirkan banyak hal. Waktu memandu kita memisahkan hal-hal yang harus dipikirkan menjadi masa lalu, saat ini, dan masa depan. Dan begitulah.

Terkadang saya tenggelam dalam romantisme dan kesenduan saya mengingat banyak hal yang lampau. Tapi saya selalu berpaling begitu melihat betapa jernih mata masyarakat Marind di sini, sesuatu yang sangat saya kagumi dari mereka; mata mereka yang jernih dan indah.

wordsflow

bermimpi dan merindu


Saya punya kecenderungan untuk memimpikan hal yang saya pikirkan dengan jalan cerita sebagaimana yang barangkali saya inginkan di alam bawah sadar. Sudah dua hari saya memimpikan teman-teman yang saya tinggal di Jogja dalam berbagai ceritanya. Beberapa saya mimpikan dalam cerita perjalanan yang menyenangkan. Beberapa saya mimpikan dalam kondisi yang tidak baik.

Sering kali begitu bangun saya merasa berdosa sampai memimpikan teman saya dengan cerita yang begitu menyebalkan (detilnya tidak perlu saya ceritakan). Saya merasa bahwa sudah begitu buruk isi pikiran saya sampai saya bisa memimpikan teman-teman saya dalam cerita yang tidak menyenangkan.

Saya dan mimpi semacam memiliki love-hate relationship. Saya sangat suka bermimpi. Terutama ketika ceritanya begitu panjang, penuh petualangan, dan mampu menjawab hal-hal yang saya resahkan di dalam alam sadar saya. Sering kali begitu bangun saya menyisihkan barang 10 menit untuk mengingat mimpi saya, lantas menuliskan di dalam jurnal harian.

Namun saya selalu membenci waktu dimana saya memimpikan teman-teman saya dengan cerita buruk. Misalnya ketika saya memimpikan teman saya gagal melakukan sesuatu. Atau bahkan ketika saya mimpi marah pada seorang teman. Oh yeah, mimpi semacam itu selalu mengganggu keseharian saya berikutnya.

Lalu muncul pertanyaan, mimpi selalu merupakan wujud dari hal-hal yang saya pikirkan pada waktu siangnya. Dengannya saya mencoba untuk menelusuri bagaimana cara berpikir saya hingga mimpi semacam itu bisa mampir ke malam-malam saya yang sebetulnya butuh tidur nyenyak.

Pada akhirnya saya sadar bahwa ada hal-hal yang tetap tidak bisa saya terima di kehidupan saya. Bahkan setelah saya terpisah sejauh 4500 km dari lingkungan saya, ada hal-hal yang tetap saya pikirkan. Yang begitu kemudian membuat saya berpikir lebih lanjut mengenai apa yang sebetulnya saya anggap penting di dunia ini. Apa yang hanya sebatas saya jalani saja. Atau kini semua menjadi demikian saja adanya?

Barangkali benar kata teman saya, saya adalah makhluk yang terlalu sosial. Saya terlalu memikirkan orang lain, terlalu sering ngobrol dengan banyak orang, tidak merasa perlu membagi hal khusus pada satu orang saja. Barangkali karena saya semakin mudah saja membagi cerita dengan orang lain. Terlalu mudah membagi diri ke dalam masing-masing cerita itu.

Lagi-lagi, kemudian muncul pertanyaan baru. Pada titik terdalam, ada diri yang tidak pernah dibagi dengan sesiapapun. Ada keseluruhan ‘aku’ yang tidak pernah diketahui siapapun. Lagi-lagi saya masih saja dianggap manusia yang terlalu sosialis. Hahaha, kadang melelahkan meluruskan pandangan orang lain tentang diri sendiri. Ah tapi yang begitu toh tidak perlu dilakukan. Terlalu melelahkan untuk menjelaskan maksud dan tujuan, untuk menjelaskan tindakan dan perkataan. Kadang semakin dijelaskan segala sesuatu semakin jauh dari niat yang barangkali pernah ada.

Jadi biarkan saja semuanya berjalan begitu saja. Meski di sela-selanya kadang saya masih mengutuki setiap mimpi buruk. Kadang masih mengutuki denyut setiap kali menengok ke sosial media. Oke, itu memang penyakit. Dan oleh karenanya harus disembuhkan.

Barangkali nanti. Ya, barangkali ketika kembali ada jiwa baru yang bisa saya banggakan untuk diri sendiri. Sementara mari bergelut dengan ketidaksempurnaan diri dan penyakit hati.

Satu hal lagi. Memang di sini saya jauh dari teori-teori yang sebelumnya dengan getol saya pelajari selama hari-hari menempuh kuliah di jurusan nekat itu. Beberapa hal yang saya pelajari hampir saya lupakan. Pada kenyataannya, realita kadang lebih baik dan lebih buruk dari apa yang kita pelajari di buku, pada waktu yang bersamaan. Di situ kita bertemu dengan batas. Manusia sama-sama bisa melihat, namun selalu berakhir dengan kesimpulan yang berbeda. Dan begitu selalu kekurangan kita, kelemahan kita, ketidaksempurnaan kita.

Hemm, jika boleh saya ingin bilang juga bahwa saya rindu kuliah, rindu mengerjakan tugas, rindu diskusi dengan teman-teman kampus; duduk di bangku magistra, minum milky Americano, makan mie ayam, ngerumpi di Kebon Radja. Pun saya merindukan lincak, ruang busuk, gitar butut di Satub, koneksi internet kampus, rindu manusia-manusia hebat Satub, rindu kosan saya, rindu sabun saya yang wangi. Saya nggak mau sok-sok rindu keluarga, saya tahu saya terlalu sering jauh dari mereka. Tapi saya rindu keponakan saya yang baru bisa jalan.

Oke sip. Rindu harus dipupuk yang baik biar menyenangkan untuk dirasakan, didoakan, dan diharapkan. Seperti rindu yang sudah-sudah, semoga yang ini patut untuk dirasakan setiap harinya.

wordsflow

saujana


Ada sebuah lagu yang selalu saya putar setiap kali menulis. Namun bahkan lagu ini tidak pernah saya hafalkan liriknya, saya hanya suka aransemen musiknya, yang dalam, yang tidak juga membosankan untuk diputar. Tidak ada judul, karena saya merekamnya dari penampilan salah satu seniman Jagongan Wagen.

So far.

Tapi sejauh apa?

Sore ini ketika berlari di landasan pesawat, saya menyadari betapa lurus jalan itu. Jalan paling lurus yang pernah saya lihat dan saya gunakan untuk berlari. Namun yang aneh, jalan itu memiliki ujung. Satu-satunya jalan lurus yang memiliki ujung, sementara semua jalan di dunia ini bersambungan membentuk sebuah jaringan.

Kenyataan hanya sejauh mata memandang. Saujana mereka bilang.

Sementara yang sangat jauh di sana adalah imajinasi tidak terkatakan dan tidak mampu diduga tanpa diberitakan melalui cerita. Tidak jauh berbeda dengan mimpi malam tadi, atau kemarin, atau mungkin malam nanti.

Jalan selurus landasan sangat mudah untuk dilalui, begitu mulus, begitu jauh, begitu lurus. Tapi sesaat saja yang saya butuhkan untuk mengawali, menduga-duga, lalu membuang napas di akhir kilometernya. Sementara semua jalan lain memiliki lebih banyak pilihan. Untuk memilih satu dari perempatan, untuk memilih berbelok di pertigaan, atau lurus saja di setiap simpangan. Kadang pula harus turut saja berputar, atau berbelok menghindar.

Waktu terasa cukup lambat. Namun demikian, ada lebih banyak napas yang bisa dirasakan di setiap tarikannya. Ada lebih banyak hentak yang bisa dirasakan di setiap langkahnya. Ada lebih banyak tetes yang bisa dirasakan jatuhnya. Lebih banyak detik yang terhitung setiap harinya. Lebih banyak kita di setiap pembaringan dan istirahatnya.

Dibanding malam-malam sebelumnya, hanya malam ini saya bisa menyisihkan waktu untuk mengetik kembali. Seolah begitu lama saya terpisah dari dunia tulisan ini. Atau seolah begitu jauh saya dari hal-hal yang terbentang sebagai saujana sebelumnya.

Indah sekali ketika menyadari keberadaan dunia sekali lagi. Ketika lelah dan mata menemukan bahwa ada sesuatu yang tidak pernah sungguh saya nikmati sebelumnya.

Terkadang ada denyut yang mampir barang dua atau tiga detik, menggetarkan jiwa atau bahkan menggenangi mata. Sekejab saja. Saya akhirnya paham, yang begitu jujur itu memang menyakitkan. Barangkali karena hal itulah Voltaire lebih suka menulis satire ketimbang dongeng Putri Tidur atau Cinderella. Barangkali, memang begitu manusia tersistem dalam dirinya.

Ada hal yang menarik dari mimpi. Kadang ada hal-hal yang coba ditentang oleh kesadaran. Tapi saya selalu percaya bahwa mimpi mampu menyatakan perasaan diri. Darinya saya belajar untuk menghargai diri, untuk memahami diri, untuk memeluk diri lebih erat, untuk mengenal diri lebih dalam.

Seimajinatif itu saya menjalani hari-hari. Senyata itu saya merasakan diri. Sejauh itu hal-hal berkecamuk tiada henti.

Barangkali esok, yang saya tahu hanyalah waktu dan jarak. Berbeda mungkin, namun keduanya dapat dideskripsikan dengan satu kata yang sama; so far.

Seperti saujana. Indah.

wordsflow

Mata.


Ada tangis yang tetap tidak bisa dibendung, meski diam-diam disembunyikan oleh senyum. Ada tangis yang tidak butuh alasan untuk menitik, hanya butuh hati yang sungguh untuk merasa. Ada tangis yang tetap tidak akan mewujud meski begitu ingin menyelesaikannya.

Atau bahkan, ada tangis yang selalu tertunda hingga waktunya tiba.

Di dalam hari-hari yang panjang dan tidak pernah selesai, terselip segudang pertanyaan yang samar-samar menggaung di dalam hati. Tentang masa lalu yang jauh, masa depan yang sama jauhnya, tentang pikiran yang juga begitu jauh dari saat ini.

Ada ketidakmengertian yang selalu bertumbuh di samping harapan yang sama tingginya. Ada hasrat yang masih menggumam lembut di samping ketidakpedulian. Selalu ada hal-hal kontradiktif yang mengiringi setiap langkah dan pikiran, membuat segalanya tidak sekedar demikian.

Sayang, di suatu waktu ada hati yang tidak siap dan goyah atas pendirian. Tiada lain, yang ada di dalam diri adalah hati yang tidak sekeras batu cadas. Ia bersifat sebagaimana semua sifat yang kita lihat di dunia. Begitulah cara diri merangkum kosmos di dalam hatinya masing-masing.

Demikian, di antara sela kalimat yang tak pernah selesai itu, kubiarkan ada tangis yang mengalir tenang dan pelan.

(antara nyata dan metafora, mana yang kau yakin benar adanya?)

wordsflow

(re)imagine


What I do forget the most is, the fact that people driven by their imagination about everything on Earth, and beyond Earth.

Salah besar selama ini, karena saya memahami imajinasi hanya sebagai sebuah khayal. Padahal khayal terkonstruksi dari hal-hal yang pernah dipahami melalui yang empirik. Bahkan imajinasi mengenai hewan-hewan paling imajinatif di dalam film pun merupakan gabungan, ekstensi, pengurangan, perulangan, dari benda-benda yang ada di dunia ini. Imajinasi adalah reproduksi.

Ketika mempelajari perdebatan mengenai banyak hal di dunia ini, atau membaca berita mengenai berbagai selisih paham dan berbagai konflik, saya pikir masalahnya bukan ada pada tingkat pendidikan masing-masing manusia. Kadang kita terjebak pada kata ’empati’ namun tidak sungguh memahami bagaimana implementasi praktik dari kata itu sendiri. Atau mungkin, terminologi ‘toleransi’, namun tidak mau mengiyakan bahwa ‘kita sama-sama manusia’. Kenapa? Kenapa?

Sangat lama bagi saya untuk menelusuri apa sebab ada manusia yang tidak dapat memahami manusia lainnya. Apa sebab seseorang mampu berbuat buruk pada orang lain. Apa sebab ada ketidakadilan di dunia ini. Apa sebab ada mis-komunikasi. Dan pertanyaan ‘apa sebab’ lainnya yang menghantui saya dari hari ke hari tanpa ada yang datang memberi pencerahan.

Tapi jawaban selalu bisa datang dari perjalanan.

Kemadang, Tanjungsari. Tempat itu indah sekali, dan saya bertanya-tanya mengapa saya baru menyadari sekarang. Padahal telah beberapa kali saya melewati ruas jalan itu. Saya ingat sepanjang perjalanan itu saya memikirkan kata teman saya bahwa dunia sedang sakit parah. Tapi tidak ada yang mau sungguh-sungguh menggambarkan seberapa parahkah sakitnya Bumi kita? Padahal di depan mata saya terpampang keindahan yang tidak palsu. Orang-orang yang masih bertanam, tumbuhan yang masih bertumbuh, wajah-wajah yang masih bahagia. Apakah itu yang dikatakan sakit?

Sementara saya sendiri juga menyadari bahwa perjalanan saya untuk mencapai ‘keindahan pariwisata’ itu menyumbang emisi karbon yang selama ini diupayakan untuk dikurangi. Pikiran itu mengganggu saya terus-menerus. Lagi-lagi pariwisata hanya sebuah kepalsuan yang dikemas sedemikian rupa sehingga kita teralihkan dari pengetahuan lain di belahan dunia sana.

Tapi pertanyaannya, apakah saya kemudian peduli setelah tahu bahwa masyarakat di Afrika tengah sana kekurangan makanan? Apakah saya juga membawa pengetahuan perang di Timur Tengah di keseharian saya? Apakah saya peduli makan apa tunawisma yang tadi saya temui di jalan? Apakah saya melakukan sesuatu setelah tahu berapa luasan Greenland yang mencair? Apakah saya melakukan sesuatu setelah sebegitu banyak pengetahuan baru tentang kerusakan Bumi? Tidak. Saya masih begitu-begitu saja.

Imajinasi tentang berbagai hal mungkin mengganggu saya. Tapi kontradiksinya dengan yang terlihat oleh mata lebih mengganggu lagi.

Setidaknya, saya kemudian menyadari bahwa imajinasi saya lah yang membuat saya tidak berhenti berpikir dan bertanya. Imajinasi akan sistem dunia ini yang tidak pernah sungguh saya pahami secara keseluruhan. Yang begitu, kadang membuat saya berkeinginan untuk bisa terbang, untuk bisa menyelam di dunia maya, untuk jadi astronot saja. Bahkan, kemudian saya berimajinasi bagaimana rasanya jadi Tuhan yang melihat carut marut dunia ini?

Imajinasi membuat manusia hilang arah. Imajinasi membuat seseorang terus mengingat masa lalu, membuat seseorang mengharapkan masa depan, membuat seseorang mampu berempati dan bersimpati, membuat seseorang membayangkan surga dan takut neraka, membuat seseorang ingin mati dan takut mati, dan seterusnya, dan seterusnya. Imajinasi di samping itu juga memberi harapan besar. Ada manusia-manusia yang berjuang mati-matian menjaga lingkungannya karena tidak ingin kehancuran di masa depan, ada orang yang bekerja begitu keras karena membayangkan masa depan yang baik untuk anaknya, dan berapa lagi imajinasi yang membawa kebaikan kepada manusia-manusia?

Manusia belajar dari cerita, kita berrelasi melalui komunikasi, dan kesemua itu mewajibkan imajinasi. Dan gagalnya imajinasi menciptakan mis-komunikasi, dan lebih parah lagi kesalahpahaman. Tapi pertanyaannya, apakah perasaan bisa diimajinasikan? Bisa. Dan dalam kegagalan imajinasi juga memicu kesalahpahaman yang sama.

Saya ingat seorang teman yang tidak pernah membaca novel sementara semua buku teori yang ia perlukan ia baca. Mungkin kesimpulan ini masih harus diujikan, namun yang saya temukan adalah kegagalan si teman untuk memahami candaan kami, atau cerita-cerita yang kami anggap lucu. Adanya mis-komunikasi setial kami berinteraksi dan penolakan si teman terhadap hubungan kasual. Demikian, mengembangkan imajinasi menjadi hal yang penting untuk hidup seseorang sehingga ia bisa terintegrasi dengan baik dengan lingkungannya.

Imajinasi berkembang melalui seni, cerita, film, dan berjalanan. Dan semakin seseorang mengembangkan imajinasinya, semakin mudah seseorang membayangkan dan memahami segala hal. Teringat setiap kali bercerita, kita selalu mengeluarkan kata “kebayang nggak?”, “bayangin kalo misalnya kamu,”, dan seterusnya, dan seterusnya.

Bahkan, mitos dan ritual mengharuskan ada imajinasi di dalam individu-individu yang menjalaninya. Bisa ada kesimpulan “bencana ada karena Tuhan sedang marah” pun adalah ekspresi dari imajinasi itu sendiri. Dan begitu banyak lontaran kalimat yang keluar atas imajinasi seseorang tentang sesuatu, atau suatu masa, atau suatu peristiwa.

Saya kira, hal itu yang membuat saya lebih suka menonton kartun dibandingkan film biasa, atau membaca cerita dan komik. Di dalam kartun, yang saya temukan adalah keseluruhan imajinasi, keseluruhan dunia yang diciptakan oleh individu. Sebuah ekspresi dari dunia lain yang diimpikan atau dikonstruksikan.

Begitulah.

Meski kemudian saya terbangun pagi ini dan menyadari bahwa tidak ada hal yang sungguh penting kecuali mandi. Tapi saya ingat satu hal; don’t (ever) drop your unhappy friend!

Dunia masih sama membingungkannya seperti kemarin.

wordsflow

Temple Grandin


Saya ragu ketika pertama kali membuka file mengenai film tersebut mula-mula. Namun mengingat saya membuka film itu atas rekomendasi seorang teman, maka saya melanjutkan menonton tanpa berekspektasi terlebih dahulu di awal.

Temple sangat menarik sebagai perempuan di mata saya. Dia sangat membahagiakan untuk dilihat, demikian saya lebih suka menyebutnya dibanding mengistilahkannya dengan kata ‘ceria’. Ah sebelumnya, jika ada pembaca yang belum menonton filmnya, silakan menonton dulu kalau tidak ingin saya ganggu dengan review singkat ini, hehehe.

Ketika film baru dimulai, saya menduga-duga cerita macam apa yang akan dibawakan oleh film itu. Lalu apa yang membuatnya istimewa untuk menjadi sebuah film?

Saya jarang menonton film yang dibintangi manusia sungguhan dan lebih suka menghabiskan waktu menyelami dunia-dunia anime yang buat saya jauh lebih dalam dibandingkan film-film yang ada. Temple berbeda, film ini adalah sebuah biografi. Dan sejauh yang saya ingat pula, film yang berdasar pada kisah nyata selalu dan akan selalu memukau saya. A Beautiful Mind, The Theory of Everything, Silent of the Lamb, Snowden, ah dan banyak lainnya selalu bisa membuat saya terpukau. Kisah itu adalah kenyataan yang dinyatakan tanpa pernyataan. Hanya sebuah tampilan sebagaimana kita melihat manusia-manusia lain di keseharian kita. Mewujudkan kemanusiaan mereka sebagai manusia biasa yang berjuang dan melawan hidup.

Manusia-manusia seperti Temple hampir tidak pernah saya temui di dalam hidup. Semua orang yang saya kenal adalah mereka yang berada pada kondisi paling sempurnanya. Hanya dua orang yang seingat saya memiliki kekhususan dalam dirinya, dua-duanya saya kenal ketika masih sekolah dasar. Hingga sekarang saya tidak pernah tahu apa yang membedakan mereka dari kami semua yang menyatakan diri normal saja.

Temple Grandin sangat mengagumkan. Ia memahami bahwa dirinya autistic dan terus berproses sedemikian rupa untuk berdamai dengan kondisinya, tanpa kehilangan masa depannya. Hal semacam itu, adalah sesuatu yang sayangnya tidak saya akrabi selama ini.

Banyak kondisi-kondisi di masa lalu saya yang tidak saya gunakan dengan baik. Waktu yang saya buang untuk hal yang tidak seberapa berguna. Salah menentukan prioritas. Tidak tepat dalam menentukan pilihan-pilihan. Terlalu memikirkan banyak hal yang tidak sungguh layak dipikirkan. Dan akhirnya kehilangan mimpi-mimpi dan tidak mampu memilih di antara begitu banyak pilihan.

Seorang Temple tidak memiliki kekhawatiran semacam itu dalam hidupnya. Ia hanya berusaha terus melakukan hal-hal yang ia sukai, melakukan hal-hal yang menyenangkan, bersungguh-sungguh, dan terus memperjuangkan hal-hal itu sepenuh hati. Dibandingkan dengan begitu banyak manusia yang mengumbar pendapat mengenai hidup yang ideal, saya pikir idealitas mereka tidak sejujur apa yang terjadi pada Temple. Tipu daya saja semuanya. Palsu saja semuanya. Ketidakyakinan saja semuanya.

Tapi tentu saja, ada manusia-manusia yang hidup dengan kemanusiaan yang tulus, dengan keyakinan yang besar, dengan kesenangan yang utuh. Dan ada manusia lain yang tidak mempercayai bahwa ada hal-hal semacam itu di dunia ini. Lalu sebagian lain memilih berada di irisan keduanya, atau menyingkir sama sekali untuk tidak akan bersentuhan dengan kutub ekstrem itu.

Mungkin tulisan ini masih palsu saja. Mungkin saya sebenarnya tidak sungguh mengagumi hal-hal itu. Mungkin saya juga masih begitu ambisiusnya seperti sebelumnya. Mungkin saya hanya berpura-pura. Sering kali orang lebih merasa nyaman meyakini bahwa orang lain berpura-pura bersikap baik, atau sesungguhnya mereka memiliki maksud lain. Entahlah.

Ada banyak hal yang sederhana saja, sesederhana kehidupan Ernest dan Ethel yang ceria, kadang berlinang air mata, kadang penuh kekhawatiran, kadang penuh rasa syukur. Biasa saja.

Apakah hal yang biasa saja itu lantas tidak dalam dan tanpa makna? Saya kira berpikir demikian sama halnya menyatakan kesombongan. Anehnya, tidak ada determinasi tertentu yang dapat digunakan untuk menstandarisasi sebuah kehidupan. Proseslah yang paling nyata dibandingkan semuanya. Karena ia niscaya dan abadi keberadaannya. Terangkum kesemuanya dalam tiga hal saja; lahir, berproses, lalu mati. Sudah begitu saja mungkin.

Beberapa mencapai kemanusiaannya, beberapa bertahan menjadi pecundang, beberapa menolak untuk sekedar menjadi manusia, beberapa yang lain dibutakan hal-hal yang seharusnya hanya sebatas sarana, beberapa tidak tahu apa-apa, beberapa menerima saja segalanya, dan terus beberapa-beberapa yang lainnya. Dan sudahlah, malam telah semakin larut saja.

Untuk yang belum menonton, ini saya kasih linknya.

https://indoxxi.net/movie/temple-grandin-2010-subtitle-indonesia-pxe

wordsflow