WORDS FLOW

just go with the flow and whatever happens, happens

Category: on Life

Tajuk, 2018


Hello Instagram Era, here I try to write again with or without audiences, hehe.

So, we are so tired that my parents decide to take some rest. Moreover, we don’t have any other family members to visit or who wants to visit us, then, let me write a story for you.

Tadinya saya mau menuliskan dengan bahasa Inggris, tapi dipikir kembali, barangkali lebih menarik untuk dibaca dalam bahasa Indonesia, haha. So, here we go.

Jadi, Tajuk adalah nama sebuah dusun kecil di bawah kaki gunung Merbabu. Itu kampung keluarga besar ibu saya. Seluruh saudaranya ada di kampung tersebut dan tersebar hanya di beberapa kampung tetangga. Alhasil, kami adalah satu-satunya orang asing yang berkunjung ke sana setiap Lebaran, pada masanya.

Ya, saya katakan demikian karena ibu saya adalah satu-satunya anak Tajuk yang menikah dengan orang yang bukan dari dusun tersebut pada waktu itu (awal 90-an). Selain itu, kami terlampau jauh di era itu sehingga kedatangan kami adalah sesuatu yang dinantikan. Bagaikan keluarga semua orang, tak ada yang tidak mengenal keluarga kami dan di masa itu saya bisa berkunjung ke hampir semua rumah. Kadang-kadang kami memetik hasil kebun begitu saja dan tidak pernah kena marah. Ah, nanti saya lanjutkan cerita ini di bagian belakang.

Saya sudah pernah bercerita beberapa hal tentang orang-orang di sana dan dusun itu juga yang melatarbelakangi kegemaran saya mendaki gunung. Barangkali beberapa dari pembaca sudah pernah membaca cerita itu. Yha kalau belum maafkan karena saya tak sanggup mengorek kembali ke belakang untuk mencari kapan saya menuliskan cerita itu.

Well, to begin, kalau teman-teman bermaksud untuk menulis novel sastra, datanglah ke Tajuk, pilih satu tokoh dan silahkan wawancara biografinya. Niscaya kalian akan punya cukup bahan untuk membuat sebuah novel apik. Jika butuh cerita yang lain, datangilah rumah yang lain, dan akan ada cerita yang jauh berbeda tapi tipikal. Mereka semacam laboratorium hidup untuk belajar tentang kehidupan.

Belakangan sepanjang perjalanan pulang saya baru menyadari bahwa barangkali kunjungan rutin saya ke sana setiap tahun menjadi salah satu alasan dan hal yang melatari kenyamanan saya belajar antropologi. Selama ini tanpa saya sadari, saya telah menjadi spectator setiap kali saya berkunjung ke sana dan mendengarkan cerita. Dan bukankah memang kerja penelitian antropologi hanya mendengar cerita dan menganalisa?

Maka, menjadi pihak ketiga membuat saya dapat membayangkan perubahan apa yang terjadi setiap tahun di tempat itu. (Bahkan dalam novel kita terbiasa diposisikan menjadi orang ketika, karena itu memang sudut yang pas agar memahami banyak hal). Itu juga barangkali, yang membuat saya selalu tertarik untuk berkunjung meskipun hanya untuk satu hari saja. Ya, manusia memang homo narrans.

Ketika saya kecil, dalam artian masih di gendongan, kami harus menempuh waktu sekitar 1-2 jam berjalan kaki melewati kebun dan sawah untuk mencapai rumah simbah buyut saya dari pemberhentian bus terakhir. Itu ditambah dengan perjuangan mendapatkan bus jurusan Magelang-Salatiga tanpa berdesakan. Kami bisa bertarung dengan berkarung-karung kobis dan segala jenis hasil kebun yang lain.

Menariknya, selalu ada orang yang bisa kami ajak barengan ketika berjalan kaki. Hampir semua orang di sepanjang jalan setapak mengenal masing-masingnya karena terbiasa ke pasar bersama, berjalan bersama, dan menunggu bus bersama.

Perubahan terjadi begitu ada orang yang dapat mengkredit motor. Ojek mulai menjadi alternatif kami untuk mencapai rumah simbah. Tapi ketika itu jalan masih berbatu berupa jalan makadam. Well, susunan batu ini sangat menakjubkan bahkan masih bertahan apik hingga sekarang. Saya selalu penasaran bagaimana cara mereka menyusun batu sekeren itu, tapi itu bukan fokus cerita saya kali ini, hahaha.

Alternatif ojek menjadi pilihan kami hingga saya masuk tahun ke dua kuliah (atau tahun ke tiga yak, saya lupa). Intinya, karena bapak saya merasa saya sudah jago naik motor, saya dipaksa mengambil SIM demikian sehingga keluarga kami akan punya tiga pengendara motor handal; saya, bapak, dan mas. Akhirnya pilihan itu terbukti ampuh selama beberapa tahun terakhir. Ya meskipun pada akhirnya kami tercerai berai karena keluarga ini sudah punya keluarga-keluarga lain, hahaha.

Tapi begitulah, sejak jalan makadam itu menjadi aspal, perubahan sangat cepat terjadi. Orang-orang mulai dapat mengkredit motor dan memiliki kendaraan di rumah. Karena akses yang mudah, beberapa mulai berani bekerja di luar dusun dengan menjadi buruh atau merantau ke kota jauh. Yang terjadi selama lima tahun terakhir adalah perubahan model rumah dan alat transportasi di seluruh rumah di sepanjang jalan yang saya lalui menuju Tajuk.

Demikian, saya tidak akan meromantisasi hal ini menjadi soal mana yang lebih baik dari apa. Tidak. Silahkan memutuskan sendiri. Tapi ini perkara perubahan. Karena akses yang mudah, banyak hal yang juga menjadi mudah berubah di dusun-dusun tersebut meski salah satu hal yang barangkali abadi di sana adalah suhu musim kemaraunya yang tidak mampu saya tangani. Bahkan saking dinginnya saya tidak dapat terlelap, heu.

Yap, sekolah adalah salah satu hal yang merubah masyarakat Tajuk. Seorang kakek di depan rumah simbah buyut saya sudah berusia hampir 100 tahun (saya baru seperempat umurnya woy). Beliau berpesan ke saya tadi siang, sekolahlah yang baik selama mampu. Beliau juga bercerita bagaimana masyarakat dusun Tajuk setiap hari bersama-sama berjualan kubis (beliau menyebutnya lobis) hingga ke pasar Magelang atau pasar Boyolali (yang saya lupa nama pasarnya). Berangkat sebelum ayam berkokok dan pulang begitu hari sudah gelap. Beliau berani menyekolahkan anaknya setinggi apapun selama mereka mampu sekolah. Sekarang, beliau masih bertani, anaknya menjadi polisi.

Sungguh sangat novelis sekali kan hidup mereka.

Ya, karena saya terbiasa membaca cerita yang semacam itu di novel-novel. Padahal begitu ditelisik lebih dalam, sebenarnya saya telah lama terbiasa dengan hal semacam ini, hahaha. Duh, saya merasa tertohok dan di saat yang bersamaan merasa tak berdaya.

Tapi hal itu yang barangkali membuat orang-orang di Tajuk tetap sehat, beranak banyak sekali (hingga 18 anak) dan selalu bahagia. Agak ajaib karena apapun yang terjadi kepada masyarakat Tajuk sepanjang tahun, di hari lebaran mereka selalu bisa memberikan kami makanan enak yang dimasak sendiri dari hasil kebun. Saya selalu kewalahan menolak tawaran makan di rumah-rumah. Rekor makan saya delapan kali dalam sehari dan minum teh tak terhitung banyaknya.

Akhirnya sekarang, begitu saya duduk di bangku antropologi, saya merasa seolah memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri untuk menerapkan ilmu yang sudah saya pelajari. Salah satunya adalah doing ethnomethodology, mencari tahu what lies beneath every question. Ada sangat banyak percakapan yang membuat saya akhirnya merasa bahwa masyarakat pada umumnya sungguh berpikir sederhana saja. (Sayanya saja yang barangkali terlalu overthinking selama ini, pfft).

Salah satu hal yang sudah jarang adalah diversifikasi cemilan. Dulu saya sangat bahagia setiap ke rumah simbah saya karena mereka memiliki bayam goreng buatan sendiri karena tanamannya tumbuh liar dan subur, wajik, jadah, dan lauk pauk khas sana lah pokoknya. Ada banyak hasil kebun yang akan dibawakan untuk kami ke Jogja. Demikian, bertukar oleh-oleh menjadi menarik karena hal berbeda yang dipertukarkan.

Sekarang sudah tidak banyak yang berkebun (ngalas istilah mereka, yang maknanya adalah ‘ke hutan’) karena generasi di bawah mereka lebih tinggi sekolahnya, mereka lebih memilih bekerja di pabrik atau ke luar kota. Barangkali semakin mudah akses masyarakat terhadap hal-hal, namun ladang menjadi tidak terlalu terurus. Bahkan mulai ada tukang sayur yang jualan keliling karena sudah tidak banyak masyarakat yang punya hasil kebun dan ke pasar secara rutin.

Ya, hidup memang berubah. Saya pun lahir dan tumbuh di dalam modernitas yang mulai merangsek ke hidup masyarakat Tajuk. Saya dan keluarga saya pula yang barangkali pertama-tama memperkenalkan model hidup yang lain dibanding dengan masyarakat di Tajuk. Beberapa hal menjadi mudah digantikan dengan uang karena toh mereka sudah mudah untuk mengakses barang-barang yang dapat ditukar dengan uang.

Tapi dari begitu banyak perubahan yang terjadi dengan masyarakat Tajuk, banyak dari mereka yang hidup dengan mencoba, gagal, dan rugi. Berapa banyak buruh pabrik yang mengeluh karena kesehatan dan jam kerja (saya pernah menulis cerita tentang ini di blog ini juga), berapa banyak petani yang mengeluhkan harga pupuk, berapa banyak orang yang termakan tren pedagang keliling setiap tahunnya.

Dan mereka tetap bisa memaksa kami makan setiap lebaran saat kami bertamu ke rumah-rumah itu. Sering kali itu membuat saya malu.

Demikian cerita saya di lebaran ini. Barangkali itu salah satu hal yang mampu mendorong saya menerobos absurditas mudik setiap tahunnya.

wordsflow

Advertisements

Barang-barang


Lebaran lagi. Jadi saya kembali hidup di rumah selama beberapa hari. Benar, hanya beberapa hari saja.

Entah mengapa hal itu terjadi, barangkali bibit-bibit tetap merasa nyaman meski berada jauh dari keluarga ada sejak saya duduk di bangku SMP karena satu dan lain hal. Ternyata hal itu lestari hingga umur saya yang sudah 26 tahun ini.

Di lebaran ini tidak ada sesuatu yang cukup istimewa karena tidak seperti tahun lalu dimana ia terjadi dibarengi dengan kekhawatiran tertentu karena saya akan menginjakkan kaki hampir 5000 km jauhnya ke arah timur Indonesia. Tidak lagi. Saya rasa kecemasan saya ada di tempat lain kali ini. Sedikit hal menariknya karena tahun ini ada hal-hal yang cukup menyenangkan selama puasa dan dua ponakan saya sudah bisa diajak main dan bercanda.

Apa perbaikan yang saya lakukan di tahun ini?

Susah untuk menentukan yang mana yang harus saya katakan sebagai perbaikan. Beberapa hal nyatanya masih nyaman dengan kekacauannya meski ada dorongan untuk menyederhanakan keribetan yang diciptakan oleh diri sendiri. Ya, intensi tulisan ini bukan untuk mengabarkan bahwa hidup saya sedang kacau. Bukan. Saya lebih suka mengatakan bahwa kekacauan lebih sering membuat saya nyaman dengan satu dan lain hal yang ada bersamaan dengannya.

Karena tidak ada hal khusus dengan lebaran tahun ini, mari saya ceritakan hal yang biasa-biasa saja.

Ada beberapa hal absurd yang selalu saya rasakan begitu lebaran menjelang. Pertama, arus mudik, yang kedua, takbir keliling, dan yang ketiga adalah euphoria berbelanja. Sulit sekali untuk membiarkan diri saya menerima begitu saja tiga aktivitas itu sebagai sesuatu yang makfum terjadi di masyarakat. Ke-berbondong-an itu terasa begitu absurd karena seolah tidak ada pertanyaan akan kegiatan itu. Bayangkan, hampir semua umat muslim di negara ini melakukan aktivitas yang persis sama pada waktu yang bersamaan. Entah mengapa itu agak menakutkan untuk saya.

Well, pemikiran saya yang demikian toh tidak lantas membuat saya mengurungkan niat mengunjungi keluarga saya di Salatiga atau menahan saya untuk ke swalayan menemani ibu saya berbelanja. Pikiran itu hanya mengambang-ngambang sepanjang aktivitas itu saya lakukan sendiri. Oh lebaran.

Kedua, pulang selalu mengembalikan hal-hal lampau yang ada pada saya. Barangkali saya pernah sedikit menyinggung tentang perlakuan keluarga terhadap barang.

Saya hidup di bawah bimbingan ayah saya yang sangat jarang membuang barang. Membuang barang adalah kegiatan yang paling jarang dilakukan di keluarga saya. Entah kenapa saya pun tidak terlalu mempertanyakannya. Yang saya tahu, ayah saya selalu menyimpan barang-barang yang tidak lagi dapat dipakai atau telah habis masa pakainya. Saya pun menirukannya hingga sekarang.

Karena keengganan ayah saya untuk membuang barang-barang, barangkali jika bersedia membongkar setiap sudut rumah, saya akan menemukan sepatu jaman TK atau pulpen bekas saya jaman SD. Sampai sebegitunya ayah saya enggan membuang barang.

Implikasinya, barang di rumah saya menumpuk hingga kadar yang tidak dapat ditangani lagi. Artinya, sebesar apapun keinginan saya untuk membereskan satu dan lain barang, yang terjadi hanya mengeluarkan barang-barang itu untuk kemudian dikembalikan lagi ke tempat semula.

Belum lagi dengan banyaknya hadiah atau bingkisan yang diberikan kepada orang tau saya entah oleh jasa apa yang pernah mereka lakukan. Seperti di waktu puasa begini, biasanya bapak saya kebanjiran sarung yang niscaya tidak akan terpakai karena sarungnya udah bejibun banyaknya.

Kebiasaan ini ternyata juga saya bawa ke kehidupan pribadi saya. Yang paling terpengaruh adalah kosan saya. Ada begitu banyak barang-barang yang sebetulnya sudah patut untuk diganti tapi tetap saya gunakan sedemikian rupa hingga sampai harus susah payah menjahitnya agar tetap bisa digunakan. Kadang hal-hal yang sangat tidak penting seperti tiket acara tertentu tetap saya koleksi meskipun tintanya sudah luntur. Hell yeah. Jiwanya memang agak kolektor, atau mungkin melankolis, tapi agak nggak tau diri.

Alhasil, berapa kalipun saya berusaha untuk menyederhanakan kosan, saya akan berakhir memindahkan barang dan merapikannya saja. Hanya ada sangat sedikit hal yang cukup tega untuk saya buang. Yang paling pelit belakangan saya sadari adalah ketidaktegaan saya membuang hasil potongan jilidan buku yang ukurannya hanya 0.7×15 cm karena masih bisa saya tulisi satu kalimat per kertasnya. Kadang saya harus juga menertawakan diri sendiri untuk hal-hal semacam itu.

Sebetulnya, saya bercita-cita memiliki rumah yang sederhana dan bersih. Tidak ada barang yang berlebihan di sini atau di sana. Tidak ada keribetan karena terus menambah barang. Dicukupkan saja.

Tapi dengan kebiasaan saya yang seperti ini sekarang, saya menduga bahwa saya tidak akan bisa hidup sederhana. Barangkali di alam sadar saya ada kesenangan hidup di antara kekacauan semacam itu (atau sudah dibawa ke alam sadar ya ini namanya?).

Ada gaya hidup menarik yang ingin coba saya terapkan suatu hari nanti, yaitu hidup nomaden. Nomadenitas seseorang akan membuat dia selalu mempertimbangkan apa yang penting dan apa yang tidak penting dari waktu ke waktu. Demikian, hal-hal tertentu akan selalu menempati posisi yang berbeda pada urutan prioritasnya. Itu menarik sekali.

Well, lagi-lagi berangan-angan selalu menarik memang. Tapi tetap saja ia hanya berakhir sebagai angan-angan sampai waktu mewujudnya tiba.

Nah, jadi apa yang sebenarnya ingin saya katakan?

Hehe. Satu, jika mencoba mengkritisi ala anak kuliah, saya pikir konsumerisme sudah begitu nyamannya kita praktikan. Jual-beli menjadi hal yang menghidupi siapapun. Bisa saja dikatakan bahwa itulah yang mendasari ekonomi sejak jaman batu. Betul. Tapi sadarkah apa yang telah berubah sejak itu?

Betul lagi, sumber daya.

Masyarakat jaman dahulu keseluruhannya adalah produsen yang mengolah bahan mentah menjadi bahan jadi. Demikian, transaksi ekonomi yang terjadi merupakan bentuk keseimbangan antara ekstraksi, produksi, transaksi, dan konsumsi. Tidak demikian dengan hari ini. Ketika transaksi telah diubah menjadi demikian absurd dengan angka-angka elektronik dan berbagai promo potongan harga online dan cashback online, barang yang dikirimkan ke pembeli tetaplah barang jadi dari pengolahan sumber daya yang diekstraksi dari alam.

Hal itu menjadi sangat kontradiktif karena sementara transaksi menjadi begitu tidak terbatas, kita memperdagangkan sesuatu yang sangat terbatas jumlahnya. Begitu dorongan untuk terus membeli itu dituruti oleh manusia, kita kehilangan kendali atas produksi, yang artinya juga kehilangan kendali atas ekstraksi sumber daya alam.

Ya memang, sejauh ini kita masih bisa makan dengan nyaman dan tidak kekurangan. Tapi kecemasan ini terus berlanjut dan sebelum saya betul-betul dapat melakukan sesuatu yang berarti, kecemasan itu tetap ada di sana.

Kedua, saya pikir saya harus berpikir baik-baik jika di kemudian hari akan membeli sesuatu lagi. Lalu sementara juga harus berpikir bagaimana cara menyederhanakan barang-barang itu sebatas pada hal-hal yang saya butuhkan saja. Seolah ingin merekrut seseorang untuk menjadi juri seleksi atas barang-barang itu, heu.

Begitulah. Lebaran selalu membawa renungan yang berbeda. Belum lagi dialog-dialog yang terjadi antara saya dan bapak. Tidak selalu menyenangkan memang, tapi merasa cukup beruntung saya dapat berproses di keluarga ini. Ketidaksempurnaannya membuat saya menjadi manusia.

Terakhir, saya ucapkan selamat lebaran kepada teman-teman. Barangkali meminta maaf kepada diri sendiri akan jauh lebih bijak. Melerai hal-hal yang tidak menyenangkan dan memuaskan, atau sekedar menenangkan diri sejenak sebelum bergelut dengan hidup, sekali lagi. Lalu meminta maaf kepada keluarga sebelum kepada orang lain di lingkaran terkecil hidupmu, meskipun tak ada hal yang keluargamu ketahui tentang kesulitan-kesulitan hidupmu. Lalu minta maaflah kepada semesta atas ketidakterimaanmu pada hal-hal yang ia gariskan.

Jalan masih panjang. Ya, semoga masih panjang. Di sepanjang jalan itu, semoga juga selalu ada renungan yang berharga di hari-hari teman-teman. Selamat malam.

wordsflow

Back to Basic


Sudah beberapa kali saya mencoba menulis di draft blog ini, tapi akhirnya mengurungkan beberapa tulisan sebelumnya karena satu dan lain hal. Benar, ada hal-hal yang sebaiknya, dan memang lebih baik demikian, cukup disimpan sendiri atau diletakkan pada posisi yang tepat agar yasudah, biarkan saja dia ada di sana dalam keabadiannya.

Salah satu hal yang harus saya syukuri di dunia ini, adalah perkenalan saya dengan Anis, seorang teman sejak SMP yang bertahan hingga hari ini pada level pertemanan terdalam dan terbebas yang bisa saya miliki dengan insan di dunia ini. Saya cukup takjub dengan segala hal yang ada di antara kami dan pernah kami lalui, entah bersama atau dalam keterpisahan.

Jika boleh saya ceritakan, saya dan Anis bukan teman yang berbagi waktu bersama secara intensif. Belum pernah ada kegiatan jalan-jalan bersama yang secara khusus kami lakukan untuk mengakrabkan diri satu sama lain. Kami tidak pernah ke luar kota bersama, mengikuti sayembara atau suatu kegiatan spesifik bersama, atau barangkali merencanakan untuk tinggal di kosan yang sama. Hanya di awal perkuliahan kami berbagi kamar yang sama dan kesulitan yang sama dalam mengejar deadline tugas. Hanya sekali kami jalan-jalan bersama saat kuliah kerja di Bangkok, itu pun hanya terjadi di satu malam terakhir.

Tapi dia adalah satu dari begitu sedikit manusia yang tidak pernah menganggap hal-hal idealis dan per-kalau-an yang saya ungkapkan sebagai sekedar isapan jempol belaka. Yang bisa mendengarkan segala jenis bentuk curhat bahkan yang tidak masuk akal dan terlalu utopis untuk diyakini. Pada level tertentu, barangkali setiap pertemuan dan perbincangan kami di pojok angkringan pada malam-malam tertentu adalah hal-hal yang saya nantikan dan setidaknya meyakinkan saya bahwa saya tidak sendirian.

Ternyata, hidup memang menarik untuk dijalani.

Malam ini kami bertemu kembali sejak kepulangannya dari residensi di negara tetangga. Keresahan kami adalah hal yang selalu bisa dipertukarkan dengan kejernihan, pun keliaran ide soal bagaimana mengatasinya. Dan itulah yang menarik dari berbicang dengan Anis.

Ngomong-ngomong soal isi perbincangan kami, saya sebetulnya antara ingin berbagi dan tidak ingin berbagi soal itu. Tapi dunia ini meresahkan saya begitu dalam. Saya pikir, sulit menemukan apa yang sebetulnya penting untuk dilakukan di hari ini. Ada banyak pertimbangan soal mana yang menarik dan tidak menarik untuk dilakukan, dan tentu ada pertimbangan soal mana yang ingin dicapai dan yang ingin dihindari. Begitu banyak keingintahuan, begitu banyak hal, dan akan ada waktu menjelajahi segalanya, pelan-pelan.

Barangkali saya tampak selalu nyaman dengan posisi saya saat ini. Tapi pada dasarnya, ada ketidaknyamanan yang selalu sengaja saya ciptakan justru untuk menyamankan diri dan membuat segalanya tetap masuk akal. Seabsurd itu, tapi tidak absurd. Hehe. Tidak mengapa, tidak perlu paham. Tidak penting buat saya untuk membahas ini lewat filsafat atau kenyataan empirik. Sebenarnya keduanya bukan hal yang sama menenangkannya untuk saya.

Kabar baiknya jika saya boleh bercerita, setidaknya saya cukup yakin dengan hidup yang saya jalani, pada akhirnya. Ada tujuan yang meski tidak berada pada standar umum, tapi berada pada keyakinan saya.

Ketika mencoba menelusuri trajektori mengenai diri sendiri, selalu ada berbagai kekacauan pemikiran mengenai kemungkinan lain soal itu. Tapi pada akhirnya toh kita menjadi diri yang ini pada masa ini. Di titik ini, saya duga akhirnya saya menyadari bahwa tidak ada yang sungguh penting untuk disesali. Toh kalaupun ada perasaan mendalam semacam itu, sebenarnya dia hanya bumbu-bumbu yang dibutuhkan untuk tetap hidup. Kenyataan pada akhirnya begitu saja adanya.

Finally at the end, the most precious thing is that I’ve found the very reason to stay alive. And it is love by the way.

wordsflow

Membaca


Sudah cukup lama saya mengabaikan beberapa buku yang sebetulnya penting untuk hidup. Oiya, saya pikir saya harus minta maaf karena beberapa tulisan yang saya janjikan agaknya tidak akan pernah saya tuliskan, hehe. Belakangan, saya hampir sungguh-sungguh berniat untuk tidak menuliskan apapun di blog ini karena saya pikir, toh tidak ada gunanya juga.

Tapi kemudian harus saya akui bahwa saya masih punya cukup motivasi untuk menulis. Entah karena saya ingin membagikan sesuatu dengan tujuan yang jelas atau sekedar mengeluarkan hal-hal yang saya pikir sayang jika hanya disimpan untuk diri sendiri. Jangan kira sifat altruis saya cukup besar, saya hampir tidak pernah yakin bahwa saya termasuk kategori manusia baik di dunia ini. Saya ini egois. Haha.

Jadi cerita ini tentang budaya membaca.

Baru satu bulan ini saya mengalihkan perhatian pada dunia crafting dan seni. Saya berkali-kali mendatangi acara seni dan turut andil di dalamnya. Selain itu beberapa project kolaborasi juga saya garap, dan saya sangat bersemangat soal itu.

Lalu dua hari yang lalu saya sadar, saya kehilangan kepekaan saya soal permasalahan sosial yang di semester dua kemarin menjadi hal yang saya perhatikan sepenuh hati, jiwa, dan raga. Saya berlangganan koran tapi hampir tidak pernah menyisihkan waktu untuk membacanya. Dunia saya tersedot sepenuhnya untuk project kolaborasi dan inovasi produk baru.

Sebetulnya, saya semacam muak dan frustasi dengan berbagai persoalan sosial. Lebih karena saya merasa tak berdaya di tengah berbagai persoalan itu. Setelah kritik, atau upaya untuk meneliti secara mendalam, tidak ada hal nyata yang ternyata berdampak pada hal-hal yang menjadi perhatian ini. Pembicaraan saya soal persoalan itu akhirnya hanya mengendap di dalam pikiran, bahkan meskipun beberapa berhasil ditulis dan dibagikan. Beberapa menjadi bahan perbincangan saya dan teman-teman dengan kedalaman yang cukup layak untuk dipercaya dan diteruskan.

Tapi betul, pada satu titik saya merasa tidak mampu menyumbangkan apapun terhadap orang-orang yang tersentuh persoalan itu. Saya tidak memberi manfaat apapun untuk mereka.

Kemudian saya ingat, saya sudah tidak lagi membaca sejak satu bulan lalu. Saya pun kehilangan kedalaman berpikir dan kemampuan dalam memandang persoalan dari berbagai sisi. Saya mulai kehilangan kedalaman yang saya pikir saya miliki sebelumnya.

Memang benar kemudian, tidak jadi soal bahwa akhirnya saya membaca novel atau esai, keduanya akan memberikan asupan yang dibutuhkan oleh jiwa dan pikiran saya. Keduanya memberikan pengayaan yang cukup untuk membuat pikiran dan perasaan saya tidak tumpul. Maka, saya harus tetap membaca. Saya harus tetap menulis dan persetan siapapun yang akan membaca ini, saya tidak peduli. Bahkan jika tidak ada lagi yang membaca tulisan ini toh saya masih bisa berkunjung dan membaca pemikiran saya yang lampau. Begitu pun baik untuk saya. Maka, saya berusaha untuk adil terhadap kegiatan-kegiatan saya, membaca, menelaah, menulis, dan berkarya. Semoga itu bukan hanya ide semata.

Saya berusaha untuk membuat bisnis kecil saya tidak sekedar menjadi bisnis untuk mencari keuntungan semata. Ada harapan yang saya sematkan bahwa suatu hari saya bisa membawa manfaat untuk orang lain, syukur-syukur saya bisa menjangkau komunitas. Tapi ternyata itu tidak mudah.

Saya begitu tersanjung dan tergerak oleh Mbak Russel yang bisa mengajak ibu-ibu di lembaga pemasyarakatan dan beberapa komunitas lain, mengajari mereka, dan akhirnya membuat mereka mampu berkeyakinan kembali bahwa ada hal baik yang bisa mereka lakukan (silahkan cek di sini). Ada hal yang berguna yang bisa mereka lakukan.

Sebetulnya, saya tidak kenal sesiapapun di dunia ini. Semakin lama saya berinteraksi, semakin dalam saya berhubungan, semakin sadar saya bahwa setiap orang adalah asing untuk satu sama lain. Seberapa sering kamu datang ke platform ini, atau saya mengunjungi platform kalian, atau hubungan nyata apapun yang ada di antara kita, akan ada hal disimpan semakin dalam. Maka, semakin kenal, semakin jauh pula kita dari rahasia terdalam masing-masing orang. Dinding penghalang itu akan semakin tinggi tanpa kita sadari.

Tapi kita akan tetap semakin merasa dekat, justru karena kesadaran akan keasingan itu. Begitu pula cara saya melihat kamu. Dan saya berusaha menghargai jarak apapun di antara kita. Dengannya, kita menjadi lebih mudah untuk menghargai orang lain, dan menghargai keterpisahan, dan menghargai apapun pilihan yang akhirnya kita ambil. Saya pikir, satu-satunya hal yang bisa dilakukan untuk menghargai keterasingan setiap orang adalah mendukung mereka sepenuh hati selama kita yakin itu baik.

Dan begitu saja postingan malam hari ini. Saya lelah berpanjang ria tanpa isi. Semoga yang ini cukup menentramkan, setidaknya untuk diri saya sendiri. Terima kasih selalu karena masih berusaha memahami saya hingga hari ini.

wordsflow

Me (i)


So, bookbinding session always brings a kind of contemplative moment for me. Also happening this time that I decide to walk out of my room and go to Satub to grab my laptop and start writing.

To remember once again, I’ve already been here for almost 9 years. That’s really a long time to be honest. But to read once again everything that I’ve been writing down here, I somehow think that there’s no improvement from time to time.

But, there’s a surprising thing; the fact that people still opening my private website and start reading my lines. I don’t know, what kind of thing that makes you all keep coming and updating my writing from time to time. I know that one of my wordpress followers keep opening my new post; I know because there is a stat counter in wordpress with the referrer site which says come from wordpress reader means that they opened my post from their account.

For that, I thank you from my deepest heart that you are still thinking of me even for minutes by checking this platform.

Again, I don’t feel like I made any improvement in this blog from time to time. I just really like to tell what happen to me, what I am thinking about, and mostly my post becomes a total mess all of a sudden and I lost the script. I’m so self centered yhaa, haha.

Another thing, I do script the lines that I want to write, hehe. Just by reading what I wrote maybe would not really bring you to the information of me, and of course not. Only a little part that might really happen. But yeah, realizing that by now make me questioning about personality and character.

I’ve turned 26 years old by this year. When I looked back to my writing on 2010, I feel like it’s no different at all. I am just repeating what I wrote at the time and then, that’s all. Shame on me. Haha. But let’s just consider it as my confession. So, you don’t have to believe everything I write here (including this one, lol), because yes, people playing trick all the time. Really, sorry about that. I just trying to have fun with myself.

Okay, let’s move to another topic.

This is about personal character. Hemm, how to begin yhaa. Researching ourselves is way so frustrating, haha.

I have admiration for people who have positive vibes, good humor, calm face, and yeah, they are way so attractive. Through my own admiration for them, I reflect myself about how people would see me the same way. What part of me that being loved by people? What part of me that makes them hate? What part of me that makes them feel uncomfortable? And so on. And after all, about the question that appears in sudden; would I love me if I were another person? Would I want a friend of me?

And personal character. The thing that I’m far from and not really notice what kind of person I am, at the very honest.

I do admire Clark character in Me Before You. I watched the film because it’s her, haha. To say to like her, I mean not trying to be just like her, but when she said ‘I love my life’, automatically I asked myself; do I? What really means when we say we love our life? We love someone?

Not long ago I wrote that ‘we cannot please everyone’, right? But the truth is, I want to please everyone, so bad. I mean, I want to satisfy people around me. I hate being hated, I hate being considered that I’m not exist around people, I don’t like being ignored, I’m afraid being left behind, I don’t want to be forgotten, and so on. I wish too much I know. But even if I hate it to be happen, it’s still okay when it happened. I’m not compelling people to do what I want, but yes I’m trying to be someone lovable by being honest with myself, and being me (but the hell how to be me when I’ve already been me for 26 years?), and finally analyze interaction between me and everyone else like every time the interaction happen. And people’s eyes never lie. I feel like I always know what lies in there, what lies behind.

I learn so much from people around me. Maybe I changed a bit. I know I’m still playing trick with my mind, with my heart, but I feel glad that I now could do more than I’ve ever expected that I could.

At the next post, I’ll tell you the bucket list I have in mind but never really be planned. Yet, they still come into reality at the moment universe gave it to me.

So, maybe all the thoughts should be once again keeping inside so that it would never contaminate by trick and script. Later, maybe I’ll private mode some personal post about me. Really annoying to have them be read by others after all this time.

Thank you for reading this far.

wordsflow

Embak-embak,


Ada beberapa mbak-mbak yang sangat menarik perhatian di hidup saya. Setiap kali saya memikirkan mereka, mood saya selalu kembali bahagia, dan kadang bahkan merasa ultra terinspirasi dan bersemangat. Saya hanya akan menceritakan sedikit bagian tentang mereka, hehe. Terlalu banyak hal lucu yang terjadi pada mereka, tapi beberapa di antaranya sangat menyenangkan untuk diingat-ingat.

Beberapa cerita di antaranya sudah saya monologkan sejak lama karena sangat membahagiakan diri sendiri, dan karenanya saya tidak mengalami kesulitan apapun untuk menuliskan ini. Uwuwuwu.

Yara

Nama aslinya Tiara. Nama panggilannya Yaya, tanpa ‘k’. Kadang saya memanggilnya Yayak. Nama bekennya belakangan adalah Yara.

Mbak-mbak ini menarik perhatian saya sejak pertama kali anak-anak angkatan membuat grup. Mbak-mbak kecil, kacamataan, potongan rambut pendek lurus. Katanya dia nggak akademis sama sekali, tapi ujug-ujug dapet beasiswa riset ke Jerman padahal orang yang paling panik bahkan ketika baru mau apply.

Suatu hari sekitaran tengah malam saat saya memutuskan untuk hampir tidur, ada pesan masuk di whatsapp saya; “Uli aku betee, kasurku lembab dan aku nggak bisa tiduur”. Inti pesannya begitu sih, tapi omelannya panjang dan beruntun. Tentu saja yang hampir tidur di atas kasur kosan yang nyaman cuma bisa ngasih advice untuk bersabar dan mungkin ganti selimut dkk. Si embak terus ngomel karena saya dengan santainya ngasih advice yang nggak mutu sementara dianya beneran bete karena capek banget 24 jam di perjalanan dan menemukan kosannya lembab dan berjamur.

Entah hal apa yang menginspirasi dirinya, tetiba dia beride untuk menyetrika si kasur. Alhasil, di tengah malam Yara berhasil menghilangkan kelembaban kasur karena setrika. Pengetahuan yang sangat layak untuk disimpan tuh. Oke, itu Yara.

Lena

Namanya Lena. Seorang mahasiswa biasa saja dari Freiburg bermaksud menyelesaikan studinya dengan penelitian di Jogja. Karena anak ini, saya mendapat akses mudah ke banyak hal melalui dia. Secara mbaknya orang asing, cantik, gaya bicaranya lembut, pintar, dan wow laah.

Dia jago bahasa Indonesia. Setiap kali ditanya orang, “Udah berapa lama di Indonesia?” Secara jujur dia bakal menjawab sesuai dengan lama waktu kunjungannya, rentang satu minggu hingga dua bulan karena hanya dua bulan waktu risetnya. Orang-orang akan terkagum-kagum dan bertanya gimana cara dia belajar bahasa Indonesia secepat itu. Setelahnya akan menjadi percakapan panjang soal sejarah dia bisa berhubungan dengan Indonesia. Dan dalam sehari Lena bisa ditanya dua sampai tiga orang.

Sebetulnya pertanyaannya yang salah. Orang ingin tahu berapa lama dia belajar bahasa Indonesia tapi justru menanyakan sudah berapa lama di Indonesia.

Suatu hari dia menginap di rumah saya. Anaknya enjoy aja tinggal di pedalaman Bantul meskipun setiap setengah jam sekali semprot lotion nyamuk. Di rumah saya ada Danish, ponakan saya yang lucu dan kecil. Setiap hari setiap kali kami mencoba untuk belajar atau menulis hasil penelitian, kami akan berakhir main dengan bocah ini karena saking gemasnya. Dan Lena akan selalu bilang, “Baby always make us crazy and even if we want to focus, we finally end up doing nothing”.

Itu Lena. Dia akhirnya pulang dua minggu yang lalu.

Mbak Sheila

Namanya Sheila. Dulu dia mbak-mbak yang saya kenal sebagai mbak cantik dan lucu yang selalu main biola keren setiap ada perpisahan di kampus arsi. Mbak-mbak ini angkatan 2006. Beberapa tahun yang lalu (sudah agak lama) saya akhirnya tahu bahwa dia bekerja di Tembi dan mengurus cukup banyak acara di sana. Dia femes, tapi sering nggak sadar kalau orang lain nge-notice dia.

Minggu kemarin saya kenalan resmi, berharap akhirnya bakal ada orang yang bisa saya sapa setiap kali ke Tembi. Kami bertukar nomor. Setiap ada chat masuk dari Mbak Sheila, saya tidak pernah melihat foto profilnya. Bertanyalah saya, “Mbak kok di wa-mu nggak ada foto profilnya sih?”

“Masa? Di aku ada nih” Utak-atik setting-nya, akhirnya kami menemukan bahwa Mbak Sheila selama ini ngeprivate foto profil tanpa sadar. Di akhir penemuan itu dia bilang, “Pantesan budhe-ku sampe nanya, Sheila tuh kenapa ya kok kayaknya jadi tertutup. Bahkan ada yang nanya, Mbak kamu ngeblock aku yha”.

Itu Mbak Sheila. Mbak-mbak cantik dan keren dengan satu anak cewek umur 3 tahun.

Salfia

Namanya Salfia. Dia terkenal banget di kalangan para lelaki antro angkatan saya, angkatan di atas saya, angkatan bawah saya, bahkan di jurusan-jurusan tetangga. Setiap kali datang ke acara seni selalu ada orang yang dikenal sama anak ini. Bisa main segala jenis alat musik dan terakhir kali kami wisata pantai dia bawa 4 jenis alat musik dalam satu tasnya yang mungil.

Anak ini ceroboh luar biasa. Bisa-bisanya di kelas Prof Heddy yang ‘skip satu tugas berarti drop matkul’ dia nggak tahu ada deadline tugas satu. Akhirnya review yang dikerjakan sekelas selama seminggu dikebut sesorean sama anak ini. Selalu hampir ketinggalan moda transportasi apapun dan rentan hilang di jalanan.

Tapi risetnya untuk tugas akhir nggak main-main, soal bestialitas di Belanda. Dan untuk anak yang tampaknya sepolos itu, tema tugas akhirnya bukan hal yang biasa aja, bahkan cenderung berresiko.

Suatu hari, Salfia posting di story-nya kalau dia lagi naik sepeda ke Kaliurang di hari Jum’at yang cukup terik. Kami semua berpikir bahwa anak ini memang berniat untuk bersenang-senang. Ternyata maksudnya adalah mendatangi perkuliahan kami yang memang akan dilaksanakan di sana, tapi acaranya hari Sabtu. Dia salah hari.

Kecerobohan Salfia adalah hal yang membuat semua orang akhirnya menjadi perhatian dengan segala hal yang dilakukan sama anak ini. Semua-muanya jadi lebih melegakan kalau kami juga tahu lebih dahulu.

Masih ada mbak-mbak lain yang mungkin menarik juga untuk diceritakan. Tapi sementara ini dulu yhaa.

Ini baru soal hidup mereka satu per satu. Pada beberapa kesempatan mereka pernah bergabung menjadi satu dan itu jauh lebih menarik untuk diceritakan. Tapi yha lain kali aja. Kalaupun enggak nanti saya kenalkan dengan mereka deh ya.

Sampai jumpa!

wordsflow

On creating lines and the thoughts behind.


Salah satu perubahan yang saya alami belakangan ini adalah berpikir lebih jauh soal kalimat, baik pertanyaan, jawaban, maupun pernyataan yang saya ciptakan untuk orang lain, atau bahkan untuk diri sendiri. Kadang kala kalimat menjadi begitu menyebalkan karena salah memilih kata atau karena kita mengubah perspektif dalam menyusunnya. Saya baru sadar belakangan ini bahwa menggunakan kata yang berbeda bisa mengubah pemahaman orang yang membacanya.

Berangkat dari alasan tersebut, saya beberapa kali mencoba membaca ulang seluruh teks yang pernah saya buat dari tahun ke tahun dan membacanya lebih dari satu kali untuk memahami setiap perubahan makna yang saya tangkap. Dan agak mengejutkan karena pada beberapa tulisan saya bahkan menjadi emosional dan kesal dengan diri saya yang menulis itu. Kadang muncul kekaguman bahwa saya pernah mengalami sepenggal masa bijaksana dan menelurkan tulisan berharga sebelum akhirnya saya melewatinya begitu saja. Berharga sekali ternyata hal-hal semacam itu, bahkan meski secara pribadi saya masih sering menganggapnya sebagai hal yang membuang waktu.

Kerumitan ini sebetulnya muncul karena saya sadar bahwa saya jauh lebih terbiasa menulis opini dengan cara berpikir yang saya banget dibandingkan menulis akademis yang lebih rumit karena saya selalu harus melakukan komparasi dan sintesis dari berbagai keruwetan pikiran orang-orang. Kalau mau dibilang, teori juga mulanya dari opini yang bisa saja, tapi saya merasa luar biasa kesulitan menulis akademis. Heu.

Back then, kadang saya tidak terlalu perhatian dengan penggunaan tanda baca, kadang-kadang sembarangan menulis dengan mendialogkan kalimat yang ditulis dengan yang ada dalam pikiran, begitu saja. Banyak sekali tulisan yang hanya bisa dipahami oleh saya sendiri dan hanya menjadi tulisan yang tidak terjelaskan jika orang lain yang membacanya.

Memang tulisan sangatlah kontekstual dan karena tafsir teks pun dikaji oleh banyak ahli dan menjadi bidang ilmu tersendiri. Tapi di dunia yang serba terkini dengan mode interaksi berupa live chat dan kawan-kawannya, saya pikir penting juga untuk bereksperimen dan memahami lebih jauh apa yang terjadi dengan dunia tekstual yang berhubungan langsung dengan saya. Sering sekali saya jatuh kesal setelah berhubungan secara tekstual dengan seseorang, entah customer, teman, kenalan, orang penting, atau sesiapapun lah. Saya membiasakan diri scroll up dan mencari tahu di titik mana semua ini mencapai kesalahpahaman, hahaha. Saya sering menemukan bahwa ternyata saya sendiri yang salah paham karena terbiasa berpikir agak rumit dan keluar jalur.

Ketika menemukan foto kecil saya karena diingatkan Facebook tempo hari, saya sadar betul ada hal-hal yang akan sangat sulit diubah dari lahirnya seorang manusia di dunia ini.

Pertama, kita tidak mungkin meminta untuk berpindah keluarga meskipun ada hal-hal yang tidak kita sukai dari keluarga itu atau tentang diri kita yang lahir dari keluarga itu. Satu hal kecil diubah, maka ada begitu banyak hal lain yang juga akan turut berubah. And why asking more if you’ve already got what you want.

Kedua, ada dua hal di dalam diri kita; hal yang tidak dapat diubah dan hal yang dapat diubah. Latar belakang, masa lalu, dan fisik adalah hal yang begitu saja ada. Tapi tentu ada hal yang bisa diubah seiring dengan pemahaman lebih jauh soal diri sendiri. Tentang hal yang menarik perhatian diri, tentang cara berpikir, berbicara, dan bertindak. Tentang banyak hal yang tidak sekadar terbatas pada masa lalu semata. Ada sangat banyak hal.

Ketiga, tidak segala hal di dunia berjalan dengan rapi, ada hal-hal yang sangat mengejutkan, dan sewaktu-waktu kita harus siap dengan itu. Karenanya mungkin baik juga untuk tidak selalu bahagia, karena semakin banyak merasakan, semakin dalam pula kadar kebahagiaan yang saya rasakan. Kadang sederhana, kadang everlasting.

Keempat, setelah lahir, kita menanggung diri sendiri dan masa depan. Tidak jarang saya masih juga sering memikirkan hal-hal lampau yang pernah saya alami dan beberapa di antaranya membawa perasaan yang lampau juga. Tapi manusia akan selalu hidup sendiri setelah dirinya sadar bahwa kita adalah individu merdeka. Hal yang justru menghalangi kemerdekaan seseorang adalah kemerdekaan orang lain dan kemerdekaan itu sendiri. Karenanya kadang kita berbenturan, entah pelan atau begitu keras dengan orang justru justru karena kita sama-sama merdeka. Telek kan. Banget.

Kelima, karena kita sudah terlahir di dunia, ada tanggung jawab aneh yang saya pikir diemban oleh setiap manusia. Barangkali jauh di dalam diri saya, saya percaya bahwa manusia adalah wahana bagi gen untuk melestarikan dirinya. Oleh karenanya, meski saya memiliki pertimbangan yang cukup untuk menunda pernikahan atau bahkan meniadakan keinginan itu sama sekali, ada dorongan besar di dalam diri saya untuk tetap memiliki anak. Entah mengapa saya begitu ingin menghancurkan diri sendiri untuk menjaga dan merawat seorang manusia baru agar ia bisa merdeka di dunia ini. Ada keinginan aneh yang membuat saya merasa sayang jika harus mati tanpa pernah berhasil mewariskan wahana yang menyenangkan ini untuk sebuah jiwa baru. Akan menyenangkan sekali jika ia adalah laki-laki, namun saya kira akan jauh lebih menarik jika ia adalah perempuan. Karena saya akan kemudian melihat bagaimana seorang saya yang lain tumbuh dan berkembang.

Keenam, tentu saja yang hidup harus kemudian mati agar segala hal tetep berjalan dengan benar. Dalam masa kapan pun, di tempat yang bagaimana pun, ada semacam kesiapan diri yang sedang saya bangun untuk saya yang akan mati nanti. Tentu saja ini bukan hal yang saya inginkan untuk segera terjadi. Setidaknya saya sekarang masih merasa nyaman melakukan berbagai kesibukan dengan berbagai kesulitan dan perdebatannya. Akan ada waktu spesifik lain saya memikirkan soal kematian.

Ya, dan begitu banyak hal yang terjadi di dunia ini, saya sering merasa senang dengan perubahan diri saya dari waktu ke waktu. Semoga saya sudah termasuk orang yang menghargai waktu, hehehe. Kengangguran ini, anggapan kesia-siaan ini, semoga memberikan kedalaman makna pada sesiapapun yang berhasil sampai dan akhirnya membaca setiap kalimat yang saya tulis.

Saya bukan satu-satunya orang yang pernah mengatakan ini, tapi kadang kalimat indah hanya menjadi bermakna begitu kamu memahami apa yang dimaksudkan olehnya. Dan memang, barangkali segala berjalan demikian menyebalkan, atau demikian menyenangkan hanya untuk memastikan bahwa segala hal akan tetap berjalan dengan atau tanpa persetujuan kita, because everything need to move on. Jika salah satu berhenti karena ingin berputar ke belakang, niscaya seluruh ketertiban pergerakan hidup agar mengalami kekacauan selama sesaat sebelum akhirnya kembali menemukan ritme baru. Begitu seterusnya sampai kita bahkan nggak bisa membayangkan dunia.

Dan saya barangkali semakin kehilangan kedalaman, bahkan bisa saya katakan saya tidak terlalu paham apa yang sedang saya lakukan. Tapi, ada beberapa keyakinan baru yang tumbuh. Semoga saya hidup dengan benar.

wordsflow

Posesif


Ada kesadaran penuh ketika saya menulis ini, dalam artian mari mengakui bahwa saya memang posesif.

Tapi pada apa? Pada siapa?

Menelusur jauh ke belakang, saya menyadari bahwa saya memiliki kecenderungan yang barangkali akan mengganggu orang di sekitar saya ketika saya melakukannya. Misalnya, saya bisa saja tersinggung dan menjadi kesal hanya karena makanan yang saya miliki dimakan orang lain tanpa ijin. Kadang-kadang hal semacam ini bahkan mengganggu saya secara pribadi, meski tak lama setelah saya melakukannya saya merasa malu luar biasa. Tapi hal itu tidak lantas menghilangkan kekesalan saya. Harus saya akui, saya tetap kesal meskipun logika saya mengatakan bahwa itu memalukan.

Ada hal-hal yang membuat saya bisa mengalami emosi yang berlebihan meskipun sebetulnya hal itu tidak melukai saya sama sekali. Dan tidak jarang hal semacam itu terjadi.

Di suatu ketika misalnya, saya bisa dengan sukarela meminjamkan barang apapun yang saya miliki (bahkan hal-hal yang paling saya cintai) bahkan kepada orang yang belum lama saya kenal. Bisa saja saya memberikan kunci kosan kepada temannya teman, simply karena dia adalah teman dari teman. Tapi, reaksi saya akan berubah drastis begitu barang-barang itu tidak segera dikembalikan atau cacat ketika dikembalikan tapi saya tidak pernah dijelaskan kenapanya sampai saya bertanya sendiri.

Ya, saya posesif terhadap segala hal yang saya pikir saya miliki.

Tentu saja mencoba meningkatkan kesadaran saya soal itu dan mengumpulkan berbagai data mengenai diri sendiri untuk kemudian dianalisis. Saya pribadi kadang susah sekali untuk mengingat bagaimana segala hal tersebut bermula karena bisa saja emosi tersebut tidak ditemukan penyebabnya atau urutan terjadinya. Kadang yang begitu agak memusingkan.

Saya pikir saya membenci sikap pengkhianat sih, dan saya pikir pula hal ini pun sama untuk setiap orang. Jauh lebih melegakan ketika sedari mula seseorang mengatakan kelemahan atau hal yang menurut mereka sebuah kekurangan agar saya pun dapat menempatkan diri saya untuk melihat bagaimana sikap itu seharusnya ditanggapi. Mungkin akan sulit pada mulanya, tapi lebih menyebalkan menemukan sendiri fakta yang tidak saya sukai itu.

Kadang saya bisa begitu saja tahu bagaimana seseorang berbuat curang terhadap saya dan hidup saya. Curang yang bagaimana ya? Hemm, mungkin lebih tepat dikatakan membohongi kali ya. Apa yaa, yang begitu seringnya memunculkan sikap meremehkan di diri saya, seolah saya ingin mengatakan, “helloow, I’m here watching and paying attention.”

Anehnya, saya juga tipikal yang mudah percaya pada orang lain. Ah bukan, saya orang yang mulai dengan mempercayai orang yang menurut saya memiliki kesan dapat dipercaya, atau yang masuk ke ruang hidup saya dengan sengaja, akan masuk ke rombongan orang yang saya percaya. Begitu ada orang yang mencurigakan, sedari mula dia akan saya singkirkan jauh-jauh dari hidup saya, sebisa mungkin menghindari berinteraksi agar tidak saling menyakiti satu sama lain. Seminimal mungkin, senormal mungkin.

Tapi kepercayaan saya bukanlah kepercayaan yang buta, yang mau begitu saja menerima penjelasan tanpa melogika dan mengira-ira. Barangkali bisa saja sesiapapun mengatakan apa yang ingin mereka maksudkan kepada saya, tapi saya pikir pikiran orang tidaklah sederhana, dan yang keluar dari mulut biasanya hanya sebagian kecil atau cenderung mengalami pembelokan sedemikian rupa. Kadang-kadang terselip indikasi tertentu yang bisa saja kita bawa ke berbagai pemikiran. And it was addicting, interesting, yet bringing kind of frustration.

Saya menjadi lebih terbiasa untuk menyeleksi mana yang seharusnya saya singkirkan, dan mana yang sebaiknya saya pikirkan lebih jauh. Dari begitu banyak pertimbangan, pengalaman, rasa (entah terhadap orang lain atau diri sendiri), dan berbagai rupa perasaan lainnya, saya belajar untuk sejujur mungkin dengan diri sendiri. Selanjutnya menjadi lebih dedikatif terhadap apapun yang dipercayakan kepada saya, baik dari orang lain, atau bahkan menyelesaikan target yang dibuat sendiri.

Di masa yang harus saya akui sebagai masa yang agak dewasa ini, saya menyadari bahwa perilaku saya barangkali tidak menyenangkan pula untuk orang lain. Entah saya berubah menjadi orang yang seperti apa, saya tidak pernah sungguh tahu. Spectator selalu lebih bisa memahami dibanding subjek itu sendiri. Tapi saya merasa jauh lebih menyukai diri saya di hari ini, hehe. Bahkan di waktu-waktu ketika orang lain merasa saya memiliki perasaan yang tidak pada tempatnya, atau melakukan hal yang terlampau bodoh dan tidak memiliki harapan, saya pikir itu tidak mengubah perasaan itu sendiri. Dan karenanya tidak salah untuk menikmati rasa masing-masingnya.

Oh ya, dan saya memang posesif. Terhadap perasaan saya, terhadap subjek-subjek yang saya cintai, terhadap benda yang saya miliki, terhadap suasana yang saya nikmati, terhadap harapan yang saya buat, terhadap apapun yang saya anggap cukup berharga untuk disimpan dalam keabadiannya. Termasuk posesif terhadap isi percakapan yang mungkin pernah ada. Mungkin juga terhadapmu.

Terakhir, saya ingin bilang, saya terharu sekali setiap mendengar ending Everglow-nya Coldplay:

So if you love someone, you should let them know
Oh, the light that you left me will everglow

Dia selalu berhasil membuat saya tersenyum di setiap waktu suntuk. That’s how you always stay in my playlist. Dan bahagia sekali di ujung hari ini ada cukup banyak hal yang terselesaikan. Selamat malam. Sampai besok.

wordsflow

The Gift Bussiness


Selalu ada pertanyaan ketika pertama kali tahu bahwa saya meluangkan waktu untuk menjadi seorang bookbinder. Kadang pekerjaan itu tampak aneh untuk banyak orang. Dan barangkali mungkin bahkan untuk orang-orang yang mengenal saya cukup lama pun, itu masih bukan hal yang dianggap menjanjikan. Hahaha. Bukan hanya kalian saja yang berpikir begitu, kadang saya sendiri pun meragukan.

Well, saya memang menggantungkan hidup dengan melakukan pekerjaan kecil itu dengan bahagia.

Sejak masih muda, saya punya cita-cita aneh untuk menjadi seorang pengusaha. Alasannya sebetulnya sederhana saja, karena anak seorang PNS akan setengah mati susahnya untuk mendapatkan beasiswa pendidikan dari pemerintah. Mau kamu sepintar apapun dalam hal akademik, latar belakang PNSmu niscaya akan membuatmu tidak memperoleh beasiswa apapun dari pemerintah.

Begitulah. Barangkali itu juga yang membuat saya mengalihkan minat mencari beasiswa ke urusan ikut kompetisi pada masa masih di bangku sekolah. Soalnya yang begitu tidak akan pernah ditanyai apa pekerjaan bapak-ibu saya.

Singkat saja soal latar belakangnya ya, hehe.

Selain itu, semenjak SMP, mungkin karena kebiasaan saya membaca komik dengan begitu banyak cerita yang berlatar café atau toko buku, dan berbagai kerumitan latar belakang yang terpadu bercampur menjadi satu, impian memiliki toko kecil sendiri dengan berbagai pernak-pernik.

Saya ingat ada kartun Magical Doremi yang tayang di suatu stasiun TV swasta pada masanya. Itu cerita penyihir-penyihir cilik yang membuka toko pernak pernik kecil di dalam sebuah bus bekas. Imaji itu sangat menarik perhatian saya bahkan hingga sekarang. Membayangkan akan memiliki sebuah kabin kecil dari material bekas (entah bus atau kontainer bekas), dengan halaman rumput luas yang penuh dengan meja-meja dan kursi, dibatasi dinding cukup tinggi berlapis tanaman rambat, dengan sebuah rumah tingkat dua ala rumah tradisional Jepang adalah salah satu mimpi masa kecil yang masih bertahan imajinya hingga detik ini.

Suasana itu terasa seolah sangat nyata setiap kali saya membayangkannya. Oleh karenanya, tempat-tempat dengan nuansa yang sama, apapun itu jenisnya akan selalu menarik perhatian saya, hehehe.

Karena impian itu mini saja, hanya serupa tempat bernaung dan ruang penuh buku, maka usaha ini tidak perlu sampai ke tahap perusahaan atau bahkan firma yang agak besar. Saya selalu ragu untuk memperlebar usaha karena itu artinya akan ada target yang lebih besar untuk memastikan bahwa semua orang yang bekerja di dalamnya akan cukup makan. Begitu berbeda dengan membayangkan bahwa saya akan selalu bahagia dengan hasil yang cukup saya untuk hidup saya sendiri.

Lagi-lagi, pilihan yang satu dan yang lain selalu memberikan konsekuensi. Tentunya dengan menahan diri, saya hanya akan menjadi orang yang begini-begini saya, sekarang dan nanti. Barangkali akan ada beberapa perkembangan kecil, tapi tentu saja akan kecil saja, hehe.

Well, sedikit beranjak dari mode curhatan ini, beberapa waktu belakangan ada perkembangan lingkaran pertemanan di lingkungan hidup saya. Entah bagaimana mulanya, ada begitu banyak orang baru yang datang, atau bahkan orang lama yang masuk kembali ke fase hidup saya kali ini.

Terlalu banyak orang yang menginspirasi saya untuk belajar hidup dengan lebih baik. Orang-orang yang dengan keyakinannya masing-masing mau meluangkan waktu untuk menghidupi hobi mereka dan mayakini bahwa hal-hal semacam itu berguna untuk sesiapapun yang pernah bersentuhan dengan kita. Barangkali kita lupa karena terlalu terbiasa sehingga merasa bahwa hal-hal yang semacam itu biasa saja.

Betul, kita hanya kurang main dan cenderung merasa nyaman dengan lingkungan yang telah kita tempati cukup lama. Akhirnya justru tidak berkembang kemana-mana.

But to be honest, I’m still here, hehehe.

Tapi saya mencoba membuka diri dan melihat orang-orang yang juga berkegiatan sama dengan saya sebagai insan yang menginspirasi, bukan malah menjadikan mereka sebagai rival atau sejenisnya. Ternyata cukup menyenangkan. Ada perasaan senang dan bahagia yang sangat tulis ketika misalnya saya menemukan bahwa seorang teman mengajak para narapidana di lembaga pemasyarakatan wanita untuk berkolaborasi membuat karya. Di saat yang lain saya menemukan teman yang lain berinovasi dengan material lama dan menggunakannya untuk sesuatu yang sama sekali baru.

Hal-hal yang berbau material ini begitu menarik perhatian saya belakangan ini dan tampaknya, sangat menarik untuk didalami nanti. Barangkali akan ada hal yang berbeda dari rencana-rencana saya sebelumnya. Hanya saja, mengikuti arus dan panggilan hati agaknya menjadi hal yang menarik, istilah yang sangat menarik pula bahwa hal itu ternyata masih ada di dalam diri saya.

wordsflow

Turning 26 yo


Recently, I no longer shared a link to every post I made. I forgot why I made it automatic before, but maybe because I wanted my writings to be read by people, but yeah, it’s not really interesting that way anymore, hehe.

Yet, I share this post automatically consider it as my late-birthday celebration, hehe.

Birthday was not a really friendly moment for me. These last two years, I got sick when the date’s coming and I didn’t feel it’s necessary to celebrate it. Really none of the people at this age had a kind of birthday party, right?

But remembering that I’m turning 26 years old is another thing.

Still, I don’t have goals for the following years of life. Just really don’t have any particular plans. But I want to give presents for myself this year. Maybe fulfilling documents which would be important and useful for life is, of course, one of them, and I so excited to have those all documents for life. Another thing, I’m projecting a more serious plan for my ultra-micro business, but still not doing anything to make it happen, hehe.

What really surprising are the moments when my old friends contacted me for the first time, even one of them came from my elementary that we haven’t been meeting for more than 14 years, also getting along with friends overseas, and friends where I didn’t have any idea they would be my friends.

For 3 months, I’ve finished 10 books, most of them are the books that I bought but left unread. I have more unread books on my book shelves and still trying to finish all those books by the end of this year. Yet, I also borrowed some books but not yet finished, heu.

Some plans sound too ambitious yet ridiculous that I’m not sure I would make it. Hence, I’d like to consider it’s not as plans, only something aside, hehe.

I got some favorite activities to do on my social media. I left Facebook but cannot delete the account because I think it still has a function for myself. Surprisingly, I posted so many writings here beginning of this year and even became more productive lately. Still, I haven’t made any money from this platform just like how Mbak Yaya mocked me before, haha. I couldn’t get rid of Instagram’s vibe because I need it to live and even more reaching my big dream to have my own brand and craft shop. I’m using Twitter a lot to explore news to let me know what’s going on Earth. And some other apps that help me a lot in living this life, hehe.

I have a very ambitious goal for my writing. Still struggling with the process but I think I see some light ahead that I won’t lost in the darkness of ignorance. Also, there are people which had been helping me and would help me in the future. There’s still hope yhaa.

Yeah, that’s all I have for you, hehe. I don’t have any other thing to write for tonight. Really tired installing so many software on my laptop. Hope it would help my life, hehe.

Okay, see you again. And although I’m turning 26 yo, I think my mind and soul stop at 22 yo. Lol.

wordsflow