WORDS FLOW

setiap pengalaman pantas untuk diingat

Category: on Life

(re)imagine


What I do forget the most is, the fact that people driven by their imagination about everything on Earth, and beyond Earth.

Salah besar selama ini, karena saya memahami imajinasi hanya sebagai sebuah khayal. Padahal khayal terkonstruksi dari hal-hal yang pernah dipahami melalui yang empirik. Bahkan imajinasi mengenai hewan-hewan paling imajinatif di dalam film pun merupakan gabungan, ekstensi, pengurangan, perulangan, dari benda-benda yang ada di dunia ini. Imajinasi adalah reproduksi.

Ketika mempelajari perdebatan mengenai banyak hal di dunia ini, atau membaca berita mengenai berbagai selisih paham dan berbagai konflik, saya pikir masalahnya bukan ada pada tingkat pendidikan masing-masing manusia. Kadang kita terjebak pada kata ’empati’ namun tidak sungguh memahami bagaimana implementasi praktik dari kata itu sendiri. Atau mungkin, terminologi ‘toleransi’, namun tidak mau mengiyakan bahwa ‘kita sama-sama manusia’. Kenapa? Kenapa?

Sangat lama bagi saya untuk menelusuri apa sebab ada manusia yang tidak dapat memahami manusia lainnya. Apa sebab seseorang mampu berbuat buruk pada orang lain. Apa sebab ada ketidakadilan di dunia ini. Apa sebab ada mis-komunikasi. Dan pertanyaan ‘apa sebab’ lainnya yang menghantui saya dari hari ke hari tanpa ada yang datang memberi pencerahan.

Tapi jawaban selalu bisa datang dari perjalanan.

Kemadang, Tanjungsari. Tempat itu indah sekali, dan saya bertanya-tanya mengapa saya baru menyadari sekarang. Padahal telah beberapa kali saya melewati ruas jalan itu. Saya ingat sepanjang perjalanan itu saya memikirkan kata teman saya bahwa dunia sedang sakit parah. Tapi tidak ada yang mau sungguh-sungguh menggambarkan seberapa parahkah sakitnya Bumi kita? Padahal di depan mata saya terpampang keindahan yang tidak palsu. Orang-orang yang masih bertanam, tumbuhan yang masih bertumbuh, wajah-wajah yang masih bahagia. Apakah itu yang dikatakan sakit?

Sementara saya sendiri juga menyadari bahwa perjalanan saya untuk mencapai ‘keindahan pariwisata’ itu menyumbang emisi karbon yang selama ini diupayakan untuk dikurangi. Pikiran itu mengganggu saya terus-menerus. Lagi-lagi pariwisata hanya sebuah kepalsuan yang dikemas sedemikian rupa sehingga kita teralihkan dari pengetahuan lain di belahan dunia sana.

Tapi pertanyaannya, apakah saya kemudian peduli setelah tahu bahwa masyarakat di Afrika tengah sana kekurangan makanan? Apakah saya juga membawa pengetahuan perang di Timur Tengah di keseharian saya? Apakah saya peduli makan apa tunawisma yang tadi saya temui di jalan? Apakah saya melakukan sesuatu setelah tahu berapa luasan Greenland yang mencair? Apakah saya melakukan sesuatu setelah sebegitu banyak pengetahuan baru tentang kerusakan Bumi? Tidak. Saya masih begitu-begitu saja.

Imajinasi tentang berbagai hal mungkin mengganggu saya. Tapi kontradiksinya dengan yang terlihat oleh mata lebih mengganggu lagi.

Setidaknya, saya kemudian menyadari bahwa imajinasi saya lah yang membuat saya tidak berhenti berpikir dan bertanya. Imajinasi akan sistem dunia ini yang tidak pernah sungguh saya pahami secara keseluruhan. Yang begitu, kadang membuat saya berkeinginan untuk bisa terbang, untuk bisa menyelam di dunia maya, untuk jadi astronot saja. Bahkan, kemudian saya berimajinasi bagaimana rasanya jadi Tuhan yang melihat carut marut dunia ini?

Imajinasi membuat manusia hilang arah. Imajinasi membuat seseorang terus mengingat masa lalu, membuat seseorang mengharapkan masa depan, membuat seseorang mampu berempati dan bersimpati, membuat seseorang membayangkan surga dan takut neraka, membuat seseorang ingin mati dan takut mati, dan seterusnya, dan seterusnya. Imajinasi di samping itu juga memberi harapan besar. Ada manusia-manusia yang berjuang mati-matian menjaga lingkungannya karena tidak ingin kehancuran di masa depan, ada orang yang bekerja begitu keras karena membayangkan masa depan yang baik untuk anaknya, dan berapa lagi imajinasi yang membawa kebaikan kepada manusia-manusia?

Manusia belajar dari cerita, kita berrelasi melalui komunikasi, dan kesemua itu mewajibkan imajinasi. Dan gagalnya imajinasi menciptakan mis-komunikasi, dan lebih parah lagi kesalahpahaman. Tapi pertanyaannya, apakah perasaan bisa diimajinasikan? Bisa. Dan dalam kegagalan imajinasi juga memicu kesalahpahaman yang sama.

Saya ingat seorang teman yang tidak pernah membaca novel sementara semua buku teori yang ia perlukan ia baca. Mungkin kesimpulan ini masih harus diujikan, namun yang saya temukan adalah kegagalan si teman untuk memahami candaan kami, atau cerita-cerita yang kami anggap lucu. Adanya mis-komunikasi setial kami berinteraksi dan penolakan si teman terhadap hubungan kasual. Demikian, mengembangkan imajinasi menjadi hal yang penting untuk hidup seseorang sehingga ia bisa terintegrasi dengan baik dengan lingkungannya.

Imajinasi berkembang melalui seni, cerita, film, dan berjalanan. Dan semakin seseorang mengembangkan imajinasinya, semakin mudah seseorang membayangkan dan memahami segala hal. Teringat setiap kali bercerita, kita selalu mengeluarkan kata “kebayang nggak?”, “bayangin kalo misalnya kamu,”, dan seterusnya, dan seterusnya.

Bahkan, mitos dan ritual mengharuskan ada imajinasi di dalam individu-individu yang menjalaninya. Bisa ada kesimpulan “bencana ada karena Tuhan sedang marah” pun adalah ekspresi dari imajinasi itu sendiri. Dan begitu banyak lontaran kalimat yang keluar atas imajinasi seseorang tentang sesuatu, atau suatu masa, atau suatu peristiwa.

Saya kira, hal itu yang membuat saya lebih suka menonton kartun dibandingkan film biasa, atau membaca cerita dan komik. Di dalam kartun, yang saya temukan adalah keseluruhan imajinasi, keseluruhan dunia yang diciptakan oleh individu. Sebuah ekspresi dari dunia lain yang diimpikan atau dikonstruksikan.

Begitulah.

Meski kemudian saya terbangun pagi ini dan menyadari bahwa tidak ada hal yang sungguh penting kecuali mandi. Tapi saya ingat satu hal; don’t (ever) drop your unhappy friend!

Dunia masih sama membingungkannya seperti kemarin.

wordsflow

Temple Grandin


Saya ragu ketika pertama kali membuka file mengenai film tersebut mula-mula. Namun mengingat saya membuka film itu atas rekomendasi seorang teman, maka saya melanjutkan menonton tanpa berekspektasi terlebih dahulu di awal.

Temple sangat menarik sebagai perempuan di mata saya. Dia sangat membahagiakan untuk dilihat, demikian saya lebih suka menyebutnya dibanding mengistilahkannya dengan kata ‘ceria’. Ah sebelumnya, jika ada pembaca yang belum menonton filmnya, silakan menonton dulu kalau tidak ingin saya ganggu dengan review singkat ini, hehehe.

Ketika film baru dimulai, saya menduga-duga cerita macam apa yang akan dibawakan oleh film itu. Lalu apa yang membuatnya istimewa untuk menjadi sebuah film?

Saya jarang menonton film yang dibintangi manusia sungguhan dan lebih suka menghabiskan waktu menyelami dunia-dunia anime yang buat saya jauh lebih dalam dibandingkan film-film yang ada. Temple berbeda, film ini adalah sebuah biografi. Dan sejauh yang saya ingat pula, film yang berdasar pada kisah nyata selalu dan akan selalu memukau saya. A Beautiful Mind, The Theory of Everything, Silent of the Lamb, Snowden, ah dan banyak lainnya selalu bisa membuat saya terpukau. Kisah itu adalah kenyataan yang dinyatakan tanpa pernyataan. Hanya sebuah tampilan sebagaimana kita melihat manusia-manusia lain di keseharian kita. Mewujudkan kemanusiaan mereka sebagai manusia biasa yang berjuang dan melawan hidup.

Manusia-manusia seperti Temple hampir tidak pernah saya temui di dalam hidup. Semua orang yang saya kenal adalah mereka yang berada pada kondisi paling sempurnanya. Hanya dua orang yang seingat saya memiliki kekhususan dalam dirinya, dua-duanya saya kenal ketika masih sekolah dasar. Hingga sekarang saya tidak pernah tahu apa yang membedakan mereka dari kami semua yang menyatakan diri normal saja.

Temple Grandin sangat mengagumkan. Ia memahami bahwa dirinya autistic dan terus berproses sedemikian rupa untuk berdamai dengan kondisinya, tanpa kehilangan masa depannya. Hal semacam itu, adalah sesuatu yang sayangnya tidak saya akrabi selama ini.

Banyak kondisi-kondisi di masa lalu saya yang tidak saya gunakan dengan baik. Waktu yang saya buang untuk hal yang tidak seberapa berguna. Salah menentukan prioritas. Tidak tepat dalam menentukan pilihan-pilihan. Terlalu memikirkan banyak hal yang tidak sungguh layak dipikirkan. Dan akhirnya kehilangan mimpi-mimpi dan tidak mampu memilih di antara begitu banyak pilihan.

Seorang Temple tidak memiliki kekhawatiran semacam itu dalam hidupnya. Ia hanya berusaha terus melakukan hal-hal yang ia sukai, melakukan hal-hal yang menyenangkan, bersungguh-sungguh, dan terus memperjuangkan hal-hal itu sepenuh hati. Dibandingkan dengan begitu banyak manusia yang mengumbar pendapat mengenai hidup yang ideal, saya pikir idealitas mereka tidak sejujur apa yang terjadi pada Temple. Tipu daya saja semuanya. Palsu saja semuanya. Ketidakyakinan saja semuanya.

Tapi tentu saja, ada manusia-manusia yang hidup dengan kemanusiaan yang tulus, dengan keyakinan yang besar, dengan kesenangan yang utuh. Dan ada manusia lain yang tidak mempercayai bahwa ada hal-hal semacam itu di dunia ini. Lalu sebagian lain memilih berada di irisan keduanya, atau menyingkir sama sekali untuk tidak akan bersentuhan dengan kutub ekstrem itu.

Mungkin tulisan ini masih palsu saja. Mungkin saya sebenarnya tidak sungguh mengagumi hal-hal itu. Mungkin saya juga masih begitu ambisiusnya seperti sebelumnya. Mungkin saya hanya berpura-pura. Sering kali orang lebih merasa nyaman meyakini bahwa orang lain berpura-pura bersikap baik, atau sesungguhnya mereka memiliki maksud lain. Entahlah.

Ada banyak hal yang sederhana saja, sesederhana kehidupan Ernest dan Ethel yang ceria, kadang berlinang air mata, kadang penuh kekhawatiran, kadang penuh rasa syukur. Biasa saja.

Apakah hal yang biasa saja itu lantas tidak dalam dan tanpa makna? Saya kira berpikir demikian sama halnya menyatakan kesombongan. Anehnya, tidak ada determinasi tertentu yang dapat digunakan untuk menstandarisasi sebuah kehidupan. Proseslah yang paling nyata dibandingkan semuanya. Karena ia niscaya dan abadi keberadaannya. Terangkum kesemuanya dalam tiga hal saja; lahir, berproses, lalu mati. Sudah begitu saja mungkin.

Beberapa mencapai kemanusiaannya, beberapa bertahan menjadi pecundang, beberapa menolak untuk sekedar menjadi manusia, beberapa yang lain dibutakan hal-hal yang seharusnya hanya sebatas sarana, beberapa tidak tahu apa-apa, beberapa menerima saja segalanya, dan terus beberapa-beberapa yang lainnya. Dan sudahlah, malam telah semakin larut saja.

Untuk yang belum menonton, ini saya kasih linknya.

https://indoxxi.net/movie/temple-grandin-2010-subtitle-indonesia-pxe

wordsflow

Detachment


Semester ini berat, sungguh.

Tidak saya bayangkan sebelumnya bahwa saya akan melalui berbagai hal berat di semester ini. Jangankan urusan pribadi, urusan lain pun sama beratnya. Ada banyak guncangan, ada banyak tangis, ada banyak tawa, ada banyak cerita, ada banyak pemahaman, ada banyak sekali tugas kuliah, ada berbagai campuran perasaan yang berubah menjadi kemuakan, dan ada begitu banyak hal yang tidak bisa saya rangkumkan di sini. Tapi tentu saja, masih ada kabar gembira karena ada semakin banyak teman dalam hidup saya.

Dalam enam bulan ke depan, akan banyak orang yang pergi. Sebagian untuk sementara, mungkin sebagian lain memutuskan untuk selamanya. Siapa yang tahu akan masa depan, hehe. This isn’t easy for sure. But realizing that people should never trap because of something, it’s getting easier to accept those things. People come and go, as I am once also.

Ada beban sebesar gunung? ah saya berlebihan, tidak, beban itu tidak sungguh seberat gunung saya kira. Hanya kadang kemunculannya membuat saya kesal luar biasa. Demikian, saya ceritakan beberapa hal sembari mencari sela atas tugas yang belum berakhir juga.

Saya mau membahas sebuah film yang saya tonton semalam, judulnya Detachment. Saya pikir saya orang yang sangat telat tertarik menonton film. Saya tidak mengenal nama-nama aktris atau aktor, saya tidak tahu judul film, saya tidak mengikuti Oscar, ah apapun lah tentang film, saya tidak paham. Tapi saya bertemu dengan orang-orang yang sangat peduli dengan film. Mereka membahas film lebih dalam dibandingkan semua orang yang pernah saya tahu. Pun demikian dua dosen saya membahas film dengan cara yang jauh berbeda dari cara orang lain membicarakan film.

Yang saya sadari ketika itu adalah, oke, saya ternyata melewatkan banyak hal dari film.

Dalam beberapa waktu belakangan, dan saya kira saya juga sempat merasakan hal yang sama, anak-anak milenial terjebak dalam kebingungan luar biasa, ketidakmengertian, keputusasaan, kecemasan, keterasingan, dan segala bentuk perasaan lain yang merusak jiwa dan psikis kita. Koe no Katachi misalnya, menceritakan pula kegamangan yang sama akan hidup, ketidakpercayaan terhadap manusia lain, penolakan terhadap pertemanan, dan seterusnya. Rasanya menyakitkan melihat hal-hal yang kita khawatirnya nyatanya merupakan sebuah kenyataan juga di dalam hidup orang lain.

Dua orang teman saya didiagnosa schizophrenia. Yang satu saya kenal setelah sembuh, yang seorang lagi saya kenal sebelum terdiagnosa. Hal yang mula-mula begitu jauh itu, ada begitu dekat dengan saya, tanpa saya pahami bagaimana ia sebenarnya.

Detachment mungkin tidak sepenuhnya memberikan pelajaran kepada saya, namun film itu mengingatkan saya untuk sekali lagi lebih peka. Pada dasarnya seorang manusia tidak bisa menghilangkan kemanusiaan di dalam dirinya kan. Bahkan sejauh-jauhnya kita memisahkan logika dan rasa, pada satu titik kita akan pula jatuh pada ketersesatan yang begitu mencekat, mungkin bahkan memporak-porandakan dan menghancurkan.

Ada banyak bentuk sakit di dunia ini. Baik saya atau Anda merasakannya, entah sebagian atau semuanya, entah sebentar atau selamanya. Tanpa cerita, yang semacam itu hanya akan merusak diri, saya kira. Demikian, setiap orang akan juga berusaha mencari seorang pelengkap. Bisa jadi orang itu selalu figur yang sama, bisa jadi kamu butuh lebih dari satu untuk melengkapi yang tidak kamu pahami.

Ketidakpedulian, keteracuhan, atau kelogisan kita bisa jadi menjadi begitu salah ketika berhubungan dengan orang yang tidak berpikir dengan cara yang sama. Dan hubungan interpersonal itu bisa begitu membahayakannya hingga membuat orang lain begitu sakit, begitu merasa terbuang, bahkan menemukan keberanian untuk mengakhiri hidup. Seolah-olah keinginan untuk memandang dunia dengan cara yang sederhana dan gembira terfalsifikasi oleh reaksi yang tidak saya duga. Keteracuhan yang menimbulkan perasaan terbuang, kegembirakan yang memicu kesedihan, semangat yang memicu rasa putus asa, logika yang menimbulkan rasa.

Kita tidak hidup seorang diri.

Dan begitu menyebalkan membayangkan begitu banyak hal bersilang sengkarut menjadi hal yang semakin rumit. Setiap hari ketika berada di jalan raya atau kerumunan manusia, saya selalu kembali pada pikiran lama. Sebegitu banyak manusia di dunia ini, mengapa saya hanya bisa terpaku pada satu wujud yang tak pernah berganti, memenjara diri dalam pikiran yang semakin tidak saya pahami dari waktu ke waktu. Sebegitu banyak manusia, mengapa tidak banyak yang saya pedulikan. Dan sungguh, manusia ada begitu banyaknya! Satu menjadi tidak sungguh bermakna, namun satu yang kita khususkan mampu merubah banyak hal dalam hidup kita.

Seorang teman tiba-tiba berkata bahwa playlist lagu saya sangat sedih, dan entah karena saya telah begitu terbiasa atau justru saya tidak sungguh mendengarkan, saya menganggap itu pertanyaan yang aneh.

Waktu pun tetap berjalan. Malam ini atau esok hari adalah hal yang sama misteriusnya seperti yang sungguh terjadi kemarin lalu. Yah, saya tidak mereview film juga akhirnya, biarkan saja, hehe. Diam-diam, saya masih berharap pada banyak hal, membagi diri menjadi banyak bagian, yang tidak pula dapat saya ceritakan karena hanya bisa dipraktikkan. Seolah tidak juga lelah, berusaha berpasrah namun tak mau berhenti mengupayakan. Paradoks sekali hidup ini. Dan semakin pecundang saja diri ini, dari hari ke hari.

Ini bukan cerita sedih, ini hanya cerita tentang hidup.

wordsflow

menghapus kebencian


Ada sebuah ketakutan yang selama ini dibawa serta oleh pemikiran dan hati yang menghidupi diri. Suatu waktu, berbagai pertimbangan rasional dan emosional pun tidak mampu menghapuskan perasaan aneh bernama kebencian yang menggelayut. Ia bukan hanya bergabung teguh dengan ketakutan menciptakan penjara yang tidak bercelah pun tanpa cahaya.

Kadang di tengah penyesalan saya akan perasaan itu, tidak ada yang mampu menolong kecuali mencurahkan segala ketidakmampuan diri dalam bentuk air mata, atau duka yang terlalu pahit nan pekat. Saya selalu percaya kala itu, bahwa tidak akan pernah ada yang bisa menolong saya dari belenggu itu kecuali dengan berjalannya waktu. Tapi, menunggu atau beradu, keduanya pun saling berseteru.

Rasa benci itu hal yang tidak pernah mampu saya urai selama ini. Kebencian yang menyengat ke masa lalu, kepada manusia-manusia yang tidak sungguh bersalah, kepada momen yang tidak pernah tepat, kepada nasib yang tidak pernah mendukung, kepada diri yang tidak pernah mau menyerah ataupun melangkah, kepada masa depan yang tidak pernah memberi kepastian. Semua hal yang mengganggu itu terangkum dalam sebuah rasa yang pahit bernama kebencian. Hal yang sungguh tidak pernah berhasil saya damaikan dengan kesenangan, pengharapan, cinta, ketenangan, maaf, atau segala bentuk rasa lainnya. Dia menjadi sebuah yang dominan dan bercokol mengangkangi segalanya.

Lalu, saya semakin terpuruk membenci.

Begitu sederhana rasa itu sebenarnya. Penolakan untuk ikhlas menerima, untuk menikmati hidup sebagaimana adanya; tanpa prasangka, tanpa tuduhan, tanpa apapun kecuali menjalani sebaik yang saya bisa. Pun, setelah memahami bukan berarti pemahaman itu akan datang bersamaan dengan perasaan yang sama.

Apa yang kau tahu soal memahami dan merasakan? Keduanya tidak pernah berkawan akrab. Keduanya adalah asing satu sama lain. Merasakan adalah yang lebih jauh saya akrabi, sedang memahami adalah hal yang baru saya kenal namun saya sukai.

Belakangan, ada harapan yang tersemai, ada celah yang telah terbelah. Pada akhirnya. Dan saya kira, seharusnya saya tidak pernah menyia-nyiakan celah itu sesegera mungkin sebelum sekali lagi terisi endapan yang semakin mengerak.

Berupaya tidak boleh setengah-setengah kata seseorang. Orang lain mengatakan bahwa berupaya tidak akan pernah salah asal dengan sepenuh jiwa.

Yang manapun yang benar, saya tak lagi cukup peduli. Pada akhirnya yang lebih saya percaya adalah suara di dalam diri. Menerima dan mempercayai tidak akan pernah ada artinya tanpa bertindak dan bergerak. Begitulah yang abstrak selalu kalah dengan yang empirik. Yang ideal selalu jatuh di bawah yang material. Kadang mungkin, yang ‘terasa’ kalah dengan yang ‘ternyatakan’. Kadang kala.

Suatu pagi saya terbangun dengan sebuah kesadaran baru. Ternyata saya menyisihkan cinta yang besar untuk diri sendiri. Selama ini saya bukannya mengabaikan diri, hanya saja kesadaran akan diri itu tersisih karena terlalu sibuk mencintai orang lain.

Pagi itu saya tersadar, cinta itu lah yang membuat saya berhenti merusak diri, berhenti membenci diri, berhenti takut akan hal yang tidak pasti, dan mengakrabi diri jauh lebih dalam dan lebih tenang. Dia juga yang membuat saya bisa bertahan dalam luka dan duka, dalam pengharapan dan bahagia, dalam ketakutan dan gelap gulita. Meski demikian, saya masih begitu mempercayai perasaan saya, dan bagaimanapun selama ini hal itulah yang mengawal saya menjalani hidup yang sudah 25 tahun ini. I do feel the intimacy with the quarter life crisis these days.

Mungkin, pada waktu tertentu saya percaya akan ada masa badai datang kembali, mungkin dengan kekuatannya yang lebih besar. Namun hari ini, kali ini, biarkan saya menikmati ketenangan air tanpa riak, langit tanpa awan, gerimis tanpa angin, harap tanpa resah, dan cinta tanpa ketakutan, pun tanpa kebencian.

wordsflow

rumah; a place where you belong


Sepertinya saya pernah membahas mengenai rumah di blog ini. Sebuah pendalaman yang ketika itu saya dapatkan karena seorang dosen mengatakan bahwa rumah adalah tempat yang selalu membuatmu mulih (yang dapat berarti pulang dan pulih). Demikian, maka rumah bisa jadi apapun yang membautmu merasakan keduanya.

rumah adalah tempat yang membuatku tidak merasa bersalah menghabiskan waktu

Kadang manusia terbangun dan mendapatkan kesadaran baru tentang sesuatu. Tentang rasa, tentang cerita, tentang manusia, tentang banyak hal. Saya rasa, menjelang tidur saya telah cukup berbesar hati untuk berdamai dengan banyak hal, untuk memutuskan berbagai hal. Nyatanya ketika bangun, kesadaran lain yang muncul. Lalu, itu alam sadar atau alam bawah sadar yang sedang mengemuka?

Semalam saya dan Anis membicarakan rumah tinggal. Saya sadar rumah saya di Bantul sana agak jauh dari standar rumah yang ngarsitektur. Secara pembagian ruang dan aksesnya tidak maksimal dan banyak ruang-ruang nanggung dan sulit dipergunakan. Beberapa waktu ini pun ramai diperbincangkan di berbagai kalangan mengenai kemungkinan anak-anak milenial tidak akan pernah mampu membeli rumahnya. Ujung-ujungnya paling hanya rumah tapak kecil, atau apartemen, atau rumah kontrakan. Ini menarik, karena rumah selalu diasosiasikan dengan sesuatu yang tetap, tidak berubah, dan diwariskan.

Rumah, bukan hanya perkara place dan space, tapi sekarang dia menjadi aset dan representasi kemapanan hidup. Simbolisasi ini agak aneh sebetulnya jika ditelusuri lebih jauh ke belakang. Bagaimanapun, di banyak masyarakat, aset tidak didasarkan pada rumah, namun kepada tanah sejak dahulu kala. Banyak contohnya, dimana-mana ada. Saya tapi lebih suka menggambarkan lewat sepenggal cerita di Ronggeng Dukuh Paruk.

Mungkin karena cara menceritakannya, saya menjadi tersentuh dengan novel itu. Pun imaji saya tentangnya belum juga hilang lantaran nilai-nilai di dalam novelnya yang saya suka. Oiya, ke intinya. Jadi, rumah orang-orang Dukuh Paruk digambarkan sebagai sebuah rumah kayu reyot. Dalam perkembangannya, ketika Srinthil akhirnya menjadi seorang ronggeng, rumahnya perlahan mengalami perubahan. Atapnya berubah, perabotannya berubah, dan bahkan material rumahnya pun berubah. Di saat yang sama, penduduk lain masih menggunakan model rumah lama yang hanya terbuat dari kayu seadanya. Ketika akhirnya terjadi kerusuhan dan rumah penduduknya dibakar, yang terjadi adalah berdirinya rumah-rumah ilalang yang baru, seolah-olah tidak terjadi apapun sebelumnya, dan mereka tetap tinggal di sana begitu saja.

Penggambaran saya memang tidak seromantis itu mengenai tanah dan rumah. Tapi yang mau saya bilang adalah, orientasi terhadap tempat tinggal kini disederhanakan dalam bentuk rumah. Padahal, tempat tinggal adalah place and space, yang mana juga menyangkut lingkungan alamnya. Ketika orang berorientasi pada rumah, terang saja menjadi sesuatu yang terlampau jauh untuk dijangkau. Padahal, sebenarnya harga tanah juga ada yang enggak semahal itu dan bisa saja terbeli dengan harga terjangkau. Kadang memang, akses menjadi pertimbangan dengan memperhitungkan jaraknya dengan tempat kerja. Tapi yaah, banyak faktor sih.

Di waktu tertentu, kadang saya merasa bahwa tinggal itu perkara yang sulit untuk didefinisikan. Beberapa orang merasa baik-baik saja terus berpindah rumah dan tidak menetap di satu wilayah, mempersimpel barang-barang mereka, dan memilih untuk terus menjadi nomad. Begitu pula selama menjadi pelajar dan mahasiswa, bahkan setelah kerja, banyak orang yang nyaman saja menjadi nomad. Bahkan lagi-lagi, saking nyamannya berada di lingkungan kerja atau kampus, tempat tinggal menjadi hanya sebatas ruang tidur dan kamar mandi saja, tidak lebih.

Ah, tapi itu mungkin saya, hehe. Toh banyak sekali contoh lain yang lebih menghidupi ruang privasi mereka dengan berbagai kegiatan.

Demikian, maka mendefinisikan rumah buat saya rasanya tidak mudah. Beberapa tempat begitu nyaman sehingga saya bisa menghabiskan waktu saya tanpa pernah merasa bersalah sama sekali. Beberapa tempat menjadi sebatas ruang yang dimana saya berada, namun tidak merasa.

Maka, perkara rumah ini menarik karena semakin berkembangnya segala hal, maka orientasi dan definisi seseorang atas rumah pun akan sangat berbeda. Sama seperti Anis yang mengharapkan bisa tinggal di Bantul, atau saya yang pengen punya rumah di daerah semacam Gunung Kidul. Bisa jadi, itu hanya angan-angan perkara kebiasaan. Siapa yang bisa meyakinkan?

Mungkin pula, definisi saya juga akan berubah besok, minggu depan, atau tahun depan, saya pun tidak tahu. Bisa jadi begitu menikah saya akan berusaha punya rumah sebagaimana yang diidam-idamkan orang-orang di masa kini. Bisa saja saya memang akan terus nyaman dengan ruangan seluas kosan saya. Tak ada yang tahu. Tidak juga diri saya, hehe.

wordsflow

Cita


Bicara soal cita-cita atau mimpi, kadang seolah setidak-relevan mengharapkan masa kecil kembali lagi. Tapi pada suatu pagi saya terbangun dan meyakini bahwa saya harus sekali lagi membangun cita-cita dan merumuskan maknanya sekali lagi. Menjadi dewasa itu bukan perkara tidak lagi memiliki cita-cita, atau memandang cita-cita terlalu kekanakan, justru masa itu lah ketika cita-cita harus dipahami ulang sebagai sesuatu yang tidak melulu untuk dicapai begitu saja. Bisa jadi, cita-cita adalah upaya untuk menularkan sesuatu kepada orang lain, yang mana tidak akan pernah selamanya kita tahu bahkan hingga mati.

Topik mengenai memetika menjadi sebuah pembahasan yang sangat menarik karena begitu banyak hal yang mungkin tidak mampu dipahami selama ini menjadi lebih terjelaskan karena kita mempelajari meme, mempelajari bagaimana habitus itu terbentuk, dan seterusnya, dan seterusnya. Ah, tapi hubungan keduanya menjadi tidak cukup mampu saya jelaskan di tulisan ini, pun belum masanya saya mampu menjelaskan.

Lagi-lagi, mari kembali ke pembahasan mengenai cita-cita tadi.

Dibandingkan karena faktor material, manusia lebih bisa hidup karena masih ada harapan di dalam hidupnya. Masih ada angan-angan yang membuatnya merasa bahwa hari esok mungkin penantiannya akan bersambut, harapannya akan terwujud, jalannya akan terbuka, cita-cita akan sampai jua, atau skenario apapun yang mungkin paling ideal menurutnya.

Tapi toh, bahkan di keluarga mana kita dilahirkan pun tidak pernah ada yang bisa memilih. Jalan macam apa yang akan kita lalui pun bukan sesuatu yang bisa begitu saja dipetakan dengan bebas.

Ah, cita-cita. Saya lupa passion apa yang membuat saya bisa begitu gila mencurahkan segalanya. Ia menjadi sesuatu yang tercecer penuh tanda tanya. Semakin banyak kita melihat, semakin lapang pandangan. Semakin lama kita mendengar, semakin peka terhadap setiap keluhan. Semakin iklas meluangkan, semakin banyak yang tertuang. Dan semakin dalam pula mencapai pemahaman bahwa hidup saya terlalu indah untuk dikeluhkan sepanjang perjalanan.

Setiap duka yang tersampai, adalah ketukan untuk berjuang. Seperti setiap orang yang saya dengarkan ceritanya, saya perhatikan raut mukanya, saya lihat tertawanya, saya rasakan pedihnya, tak lain hanyalah cermin besar atas kemanusiaan kita.

Selamat hari pendidikan untuk kita. Didiklah diri untuk memanusiakan, untuk mencerdaskan, untuk menghidupi kehidupan.

wordsflow

*sedang berkeinginan menulis*


Tapi saya tak punya sesuatu untuk dituliskan. Sepertinya hampir semua hal yang menganggu saya sudah saya tuliskan, sementara tentu saja, waktu tidak berhenti begitu saja karena saya tidak memiliki bahan untuk dituliskan.

Well then, mari mengubrek beberapa yang sepertinya cukup mengganggu pikiran.

Soal teman-teman.

Dulu saya kira menjadi sendirian itu hal yang sungguh paling pas untuk diri saya. Sampai akhirnya saya kembali terpuruk karena memikirkan hal-hal buruk mengenai diri sendiri; perasaan yang tak terjelasan, mood swing yang mengganggu banyak orang, masa depan yang selalu mengkhawatirkan, kegelisahan ditinggal teman-teman, atau ketidakmampuan diri menyelesaikan perasaan pada seseorang.

Tidak begitu sayangku, hidup sendirian bukanlah hal yang bisa dihadapi manusia, maka bertemanlah sebanyak mungkin yang kamu bisa.

*The Sea Is Calling is now playing*

Beberapa pertemanan terasa jauh lebih nyata dari yang pernah saya pikirkan. Bagaimanapun, saya semakin memahami bahwa saya lebih siap menerima pertemanan baru daripada bergelut dengan perasaan yang lebih dalam pada seseorang. Yang begitu, butuh lebih banyak waktu dari yang bisa saya bayangkan. Dan sungguh, sepertinya untuk mengulanginya sekali lagi tidaklah mudah. Maka teman-teman adalah hal paling luar biasa yang bisa saya syukuri di hari ini.

Ah, saya harus mengucapkan selamat kepada Deugalih atas album barunya, hehe. Senang sekali bisa punya teman-teman baru lewat teman-teman baru yang lain. Jaringan itu menarik, sungguh sangat menarik karena kita bisa hilang berkeliaran di dalamnya, lalu akhirnya menyadari dengan sendirinya bahwa kita manusia-manusia nomad yang sama-sama sedang mencari rumah.

Soal diri sendiri.

Soal ini tidak pernah berakhir untuk diperbincangkan dengan diri sendiri pula, hehe. Sulit sekali kadang memahami diri sendiri. Ketika pikiran berusaha untuk serasional mungkin memahami segala sesuatu, seringkali tak ada tatapan bersahabat tampak di mata, tak ada sapaan keluar dari mulut, tak ada apapun yang bisa mengimbangi rasionalitas itu. Tak paham betul dengan semua itu, hingga sadar-sadar waktu telah berlalu.

Saya sedang merencanakan sebuah pelarian, entah bagaimana teknisnya nanti. Hanya mungkin, dalam beberapa bulan ke depan semuanya masih sebatas rencana pelarian. Menyebalkan sekali menyadari ada perkara yang tidak bisa saya bereskan, dan tak mampu mengakui bahwa saya merasa lebih baik melarikan diri daripada menyelesaikannya hingga tuntas. Apa lagi yang kau cari? Sering kali saya ingin berbalik dan menantang kepahitan diri, tapi toh tak pernah berani bertaruh dengan diri sendiri. Dan benar, melarikan diri selalu lebih mudah. Tapi tak menyelesaikan apapun.

It takes time, but there will be a day when I could encourage myself to tell you the whole story, to ask you the things that I wanted to.

And all words in this page is about dreaming of you! Damn.

Ah, tak ada yang salah dengan struggle, kita semua begitu. Saya suka melihat wajah-wajah manusia, sembari menduga ada berapa masalah yang mereka punya? Ada berapa perkara yang menganggu mereka? Sambil memastikan, apa yang penting dan tidak penting di hari ini?

Saya ingat, saya sangat suka berjalan di temaram lampu jalan teknik di malam hari. Selepas tutup gerbang, tidak ada lagi lalu lalang manusia. Cahaya lampu kekuningan sepanjang jalan menuju tugu teknik adalah penggal jalan yang teduh, seolah selalu berkata ‘semua akan baik-baik saja’. Lalu cahaya lampu berubah temaram, sepi, dan bentukan jalan membuat angin selalu berhembus perlahan dari belakang. Sepi yang aneh, yang nyata tapi tiada. Sepi yang sementara namun selamanya pula. Aneh sekali karena yang mati yang lebih bisa mencipta rasa, sedang yang hidup lebih suka menampiknya.

Lalu tulisan ini telah 548 kata saja, dan saya teringat berbagai kabar pernikahan teman-teman saya. Selalu begitu, berteman, bermain, lalu berganti. Siklus hidup kita bertautan dengan yang lainnya, tapi mungkin terpisah karena kepadatannya yang berubah.

Ah manusia, banyak sekali keinginannya.

*dan playlist saya berganti ke soundtracknya 5 Centimeters per Second*

Dan langit memerah perlahan, menaikkan suhu udara sekitar. Mungkin langit akan hujan, mungkin pula hanya bergurau saja. Seperti kita yang sering kali berusaha sungguh, namun sebetulnya tak begitu.

Lagi-lagi soal kamu, yang merisaukanku.

wordsflow

‘in between’ momento


It’s been a plenty of time not having fun with water and sweat. But the rain kept coming while I was busy with things around. Look like they know when was my time gone, or left on.

Tetiba kesadaran akan waktu menghampiriku siang ini. Benar, telah sungguh lama ada ‘kita’, mungkin sepanjang perjalanan waktuku mencari rindu. Dua? Empat? Lima tahun? Atau bahkan jauh lebih awal dari yang mampu kuduga tentang waktu. Nyatanya, dugaanku tentang rasa bertahan lebih lama dari yang kukira, sayang sekali aku pernah salah ketika bertutur padamu tentang perkara rasa.

Tapi aku ingin keluar dari mimpi; yang selalu saja bercerita tentang kamu, lalu kita, lalu masa yang entah kapan mewujudnya.

Oh hey, hari ini Hari Bumi!

Aku ingin membiarkan diriku berkelana tanpa tujuan. Sesekali aku ingin mencatatkan rindu yang kutahu selalu tentang kamu. Di lain waktu kukira berkesadaran akan kesendirian selalu memberi ruang yang cukup untuk bertanya dan menjawab sekedarnya. Rumit memang. Tak ada yang pernah bilang hidup cukup mudah untuk dijalani. Tapi toh kita tetap memilih untuk tetap menempuh hidup.

Kadang datang kesadaran lain untuk berhenti dan bergurau saja dengan hidup. Tak terbendung bantahan untuk mengalah, mempertahankan yang maya atau yang tampak mata. Kataku, biarkan saja. Semua toh jika tidak berhenti pada raga, akan berhenti pula pada perkara.

At the end, everything is about keeping a smile on my face on, yet not letting it dried out. Let’s celebrate!

wordsflow

Running Away


Ada seorang perempuan.

Aku melihatnya berlari satu putaran setiap dua hari sekali. Aku tak pernah melihatnya menyapa siapapun yang berpapasan, bahkan kuduga ia juga tidak melihat ke depan. Dunianya hanya sejauh tiga meter di depan kakinya, seolah tidak ada hal lain yang penting lagi. Tak peduli bagaimana ia orang lain melihatnya dengan penuh perhatian, atau orang lain mencibirnya dengan kesombongan. Baginya dunianya hanya berjarak tiga meter dari ujung kakinya.

Aku melihat perempuan itu berlari pada waktu-waktu tertentu. Setiap pagi dua hari sekali ia dengan wajah setengah mengantuk berlari dengan ritme lambat yang menenangkan, suara langkah kakinya bahkan begitu stabil tanpa ada perubahan. Sering pula ia berlari di sore hari selepas pukul setengah lima. Kadang secara tidak terduga ia datang di hari-hari tertentu, tapi ia memang tidak pernah berlari pada jam yang tepat sama seperti hari-hari sebelumnya.

Wajahnya penuh dengan pertanyaan, itulah hal yang paling aku suka.

Suatu hari, sekitar sebulan yang lalu, aku melihatnya menangis ketika berlari. Aku tak pernah tahu apa yang ia pikirkan, apa yang ada di kepalanya, bagaimana suasana hatinya. Yang kutahu pasti, ekspresi wajahnya tak pernah sama setiap kali ia berlari, dan aku yakin ia tidak pernah berhenti berpikir setiap kali melakukannya.

Meski demikian, ada hari yang sungguh membuatku penasaran dan berkeinginan dengan sangat untuk bertanya. Hari itu sore pukul empat, waktu yang jarang sekali ia gunakan untuk berlari. Wajahnya tidak terbaca; ekspresi yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Ia begitu teduh, teduh yang tidak aku pahami karena seolah ia menyembunyikan gemuruh yang lebih besar. Kali ini, aku memperhatikannya jauh lebih seksama, dan aku punya waktu kurang dari satu menit untuk memutuskan akan menyapanya atau sekali lagi melepasnya untuk kutatap lagi di lain hari.

Jarak kami sudah hampir sejajar, tapi tak juga ada keputusan yang aku ambil. Pada langkah ke lima dari posisiku, ia berhenti, lalu menunduk dalam. Aku terpaku di tempatku, tak mampu memutuskan untuk menyapa atau membiarkannya. Tapi justru aku menunggu. Seolah yakin aku akan menemukan jawaban tak lama lagi.

Ia menunduk dalam, punggungnya tiba-tiba bergetar pelan dan punggungnya naik turun. Ia menunduk semakin dalam, hingga akhirnya terduduk. Secara ajaib, suasana itu terasa begitu pekat untukku, seolah ada dorongan untuk mendekatinya, lantas meletakkan tanganku di pundaknya untuk mencoba merasai berat hatinya. Tapi tidak kulakukan; aku tetap terpaku di tempat, bahkan suara napasku harus kutahan sepelan mungkin agar ia tak terganggu.

Tak sampai dua menit ia berdiri kembali, mengusap ujung matanya dan berlari pada irama yang sama. Seolah tak terjadi apapun!

Maka aku berlari pula mengikutinya dari belakang. Aku begitu ingin melihat hal apa lagi yang ia lakukan. Tapi tak ada lagi yang cukup penting terjadi pada dirinya selepas tangis itu. Aku bahkan tidak melihatnya menengok ke belakang barang sejenak. Lagi-lagi dunianya hanya sejauh tiga meter ke depan dari ujung kakinya, dan terus begitu sepanjang waktu.

Benar. Tak akan ada yang bisa melihatmu selain dirimu sendiri. Tak ada yang memahami kedalaman hatimu selain dirimu sendiri.

Perempuan itu aku, dan aku adalah perempuan itu.

Pada momen berlari, aku menikmati kesendirian yang dalam, melihat tidak pada siapapun kecuali sejarak tiga meter ke depan. Tidak mendengar apapun kecuali detak jantung dan tapak kaki pada tanah yang keras. Tidak merasakan apapun kecuali panas tubuh yang meningkat. Tapi pikiranku berkelindan erat dengan perasaan, bergelayut mengikuti irama detak jantung. Kadang terlonjak pada sebongkah ingatan, kadang teredam pada sepenggal pemahaman. Tapi ritme itu tidak berubah, terus berlalu tanpa ragu.

Perkaranya hanya satu, selama apapun pelarian itu, pada akhirnya titik akhirnya tetap sebuah mula.

wordsflow

growing


It’s only by aging that we can be more in touch with our inner power

__Yazeemimah Rossi

So, growing is a journey of diving to the deepest part of our heart. Sometimes we heard a quote that “age just a number!”, but you couldn’t put away the fact that you are getting older and older. After day by day looking at how this world is moving, how people’s moving, how everything’s moving, I found out that every person has their own disappointment. Thinking more about that, I realize that it was really non-sense! How could every people disappointed to themselves but jealous with other which was disappointed to themselves too?

Day by day, hour by hour, minute by minute, we are changing; our soul sings in its own way, our body moves in its own rhythm, and even our consciousness has its own moves. We dance in our self with those things being linked in together, moving without rules, knowing nothing but keep moving. We met everything that made us confuse, mad, happy, sad, or every kind of feeling that you ever felt. Hence, the person is still you! That so wonderful to think.

Maybe I am really proud to say that my age stopped at 23, but in fact, I do enjoy the feeling of surprise everytime I found something new within me. The change in my voice, the new line on my face, the changing part of my body, the new opinion that came up in sudden, the moment of stillness, the will to seek more things, to deal with the growing, to deal with the 24-hours-a-day trap, the time I have a conversation with someone I never knew before, or everything that I’ve been thinking once or something truly new. We have those wonder every time we finish with one questioning thing.

Life is a trap, but the trap could lead us to a wonderful journey.

Those words really sound so cliche, but what else that we asked for? Those words only meant when we really mean it. And well, there are maybe something worth to be left behind or keeping it as a memory rather than keeping it as a question. And there is maybe a new chance of growing better in a more challenging way. There, we grow up, we dive deeper than ever.

leave it all behind,

wordsflow