WORDS FLOW

just go with the flow and whatever happens, happens

Category: on Life

air


Sudah lama tidak menulis sesuatu. Barangkali sudah lebih dari satu bulan saya tidak lagi sering membuka twitter atau platform sosial media yang lain. Entahlah, mungkin saya bosan, atau barangkali saya hanya terlalu tenggelam dalam kesibukan harian mencari anime atau manga yang menarik untuk ditonton dan dibaca.

Karena satu dan lain hal, belakangan jadi suka nonton anime yang berhubungan dengan olah raga atau kompetisi, walaupun tidak semua jenis anime menarik sih. Tapi, di salah satu anime, diingatkan lagi tentang asiknya berenang. Untuk itu hari ini mau menulis soal pengalaman belajar berenang.

Mungkin sudah pernah saya ceritakan ya, tapi berhubung postingan di blog ini ada lebih dari 600 post, dan hampir 11 tahun jadi kita refresh aja ceritanya.

Suatu sore ketika saya menginjak TK, saya diperkenalkan dengan satu pemuda desa yang rumahnya depan agak jauh dari rumah saya. Ia bekerja sebagai tukang dan jarang ada di rumah di siang hari. Tapi hari itu dia ada, dan kebetulan kami bertemu di pengkolan depan rumahnya. Nenek saya memperkenalkannya sebagai penyelamat hidup lantaran di sekitar umur 2 tahun saya pernah tenggelam di empang bekas galian dengan kedalaman sekitar 3 meter. Who knows, tapi semua orang di kampung saya tahu tentang ini, haha. Jadi, saya pernah hampir mati tenggelam. Tapi karena tidak ingat saya tidak punya trauma tertentu dengan air. Hanya saja, karena sering kali diceritakan tentang ini, saya lebih sering menghindari air.

Sekitar kelas 1 atau 2 SD, saya dipaksa teman-teman saya (yang notabene seumuran abang) untuk ikut mandi di sungai. Waktu itu saya suka sekali main di sawah, dan menjelajah setiap jengkal sawah milik simbah saya dan sawah-sawah sekitarnya. Di pinggir sawah ada sungai yang lumayan besar dan arusnya lumayan, jadi saya mencobanya. Saya sempat terbawa arus tapi ketika itu merasa itu baik-baik saja.

Skip sampai saya kelas 1 SMA, saya tidak pernah lagi menyentuh air-air liar di luar kamar mandi. Tapi bersentuhan dengan air tetap sesuatu yang menyenangkan. Saya selalu mandi hujan, dan sering kali berusaha keras memenuhi bak mandi rumah yang luasnya sekitar 1,2x1x1. Itu juga bagian dari olah raga karena butuh sekitar 70 kali timbaan sampai penuh, haha. Well, karena saya kira saya akrab dengan air, saya pernah tanpa babibu terjun ke kolam kedalaman 2 meter waktu SMA. Untungnya saya berhasil selamat dengan usaha sendiri susah payah mencoba menepi. Barulah setelah itu saya trauma air, hahaha.

Saya sadar betul, menenggelamkan kepala ke dalam air bisa luar biasa membuat panik, dan karenanya saya selalu menolak diajak berenang. Sejak insiden SMA saya nggak pernah aneh-aneh dengan air, sampai akhirnya diajak renang jeram sewaktu spesialisasi divisi air. Hasilnya, saya merasa hampir mati di percobaan renang jeram pertama, hampir terbawa arus sampai harus diselamatkan senior, dan butuh lebih dari 30 menit sampai berani melakukan renang jeram kedua. Rekan saya sampai mencontohkan 3 kali renang jeram demi saya mau terjun. Alhasil saya berkesimpulan, saya takut air.

Tapi yah, entah bagaimana ceritanya saya di tahun itu ngarung berkali-kali. Seminggu bisa 2-4 trip. Selama belajar arung jeram jelas akan ada momen flip, wrap, atau sekali hampir masuk undercut di Progo, jantung saya mau copot. Tapi karena ketakutan-ketakutan semacam itu, saya barusaha dayung dengan benar, hahaha.

Dari masa bar-bar latihan arung jeram, saya menyadari tahap selanjutnya dari trauma air, saya takut kalau kepala saya terendam air secara mendadak, sisanya fine. Saya latihan flip-flop, self-rescue, atau menghadapi kemungkinan jatuh ke air. Selama ada ‘ancang-ancang’ dan tenang, semuanya beres, saya bisa berpikir normal.

Lalu sampailah saya di tahap anak Satub heboh membentuk grup renang. Dibandingkan semua perempuan di Satub, barangkali saya paling anti air pada masanya. Di kali pertama ikut berenang, badan saya kaku, tidak bisa mengapung, setiap kayuhan tidak membuahkan hasil, akhirnya masing-masing berenang sendiri ke tempat yang jauh lebih dalam.

Setelah satu kali itu, kali kedua saya berenang ke tempat lain, bareng Nourish. Waktu itu saya memang tidak minta diajari berenang karena saya tahu pasti badan saya menolak diajari, hahaha. Setelahnya saya menemukan metode belajar renang yang paling cocok, ‘mencoba mengambil batu di dasar kolam’. Ya tentunya saya mulai dari kolam dengan kedalaman 80cm-120cm saja, hehe. Tapi it turned out well! Dari belajar itu, saya menyadari satu hal, menyelam itu sulit, dan menenggelamkan diri juga sulit. Artinya, batas hidup dan mati di air sebetulnya hanya beberapa cm di bawah permukaan air. Selama punya daya yang cukup untuk selalu menarik kepala keluar air dan mengambil nafas, semua baik-baik saja.

Saya lupa persisnya tapi saya have fun sekali selama belajar berenang sendiri. Paling menarik mengamati cara berenang orang lain yang sudah baik, dan ketika akhirnya pas, ternyata berenang itu seru. Waktu itu saking sukanya saya berenang satu sampai dua kali seminggu sendirian, hahaha.

Meski begitu, saya dua kali mengalami insiden saat berenang. Keduanya karena panik. Yang satu di kedalaman 2 meter, sewaktu berenang keliling kolam, saya harus berbelok lantaran ada yang istirahat di pinggir sebelum lanjut renang. Walhasil panik dan kehilangan ritme. Yang kedua satu di kedalaman 3 meter, hampir tenggelam lantaran teman yang jagain saya di belakang malah berenang duluan, hahahaha.

Sampai sekarang, saya belum bisa mengapung dengan sengaja. Tapi ada saatnya ketika saya tenang, saya bisa mengapung di tengah-tengah sedikit di bawah permukaan, hal paling saya suka. Ketika berenang, seluruh bagian tubuh bersentuhan dengan air, semua syaraf di kulit bangun. Sensasinya juga seru, berat, tapi tidak berjarak. Sensasi waktu keluar air juga seru, karena setelah berenang sadar kalo udara itu ringan. Setelah bisa renang sedikit, jadi paham kenapa renang baik untuk jantung. Di masa saya paling rajin berenang, pace sewaktu jogging juga jadi stabil, karena saya jogging mengikuti ritme berenang, dan sebaliknya.

Heu, saya menulis ini karena tetiba ingin berenang. Juga ingin main badminton dan jogging di teknik. Yah, walaupun biasanya setelah setengah jam saya menggigil, berenang memang seru.

wordsflow

Things that actually Changed


Kadang suka merasa bersalah karena menceritakan hal-hal yang jelek saja ke orang lain, hehe. Tapi misalnya di dalam perjalanan hidup, ada hal-hal yang baru bisa saya dapatkan justru setelah beberapa waktu lamanya kehilangan arah.

Sewaktu masih kecil, sering sekali marah bukan karena memang marah, tapi karena takut atau karena tersinggung. Di waktu-waktu itu sulit sekali menelusuri kenapa bisa marah atas satu dan lain hal. Marah adalah satu-satunya cara bagi saya untuk mengekspresikan perasaan, alih-alih mencoba untuk berbicara dan mencari kejelasan akan sesuatu.

Barangkali sampai akhir kuliah saya baru mulai bisa memahami dan memetakan perasaan di diri sendiri, meski tentu saja, kebiasaan marah masih sering membuat saya kelewat batas. Tapi bagian baiknya, saya mulai menyadari bahwa marah itu melelahkan. Saya merasa mengeluarkan energi dan pikiran begitu banyak hanya untuk marah, dan seringkali respon orang akhirnya tidak memuaskan saya.

Lalu saya bertemu lebih banyak orang, dari berbagai latar belakang dan kalangan usia. Saya lupa dari mana, tapi saya mengingat satu kalimat: if you want to know people, take a look on what makes them mad. Karena itu, setiap kali berinteraksi dengan orang lain, respon itu yang saya pelajari, atau setidaknya saya amati. Menarik juga kemudian untuk menyadari bahwa ada orang-orang tertentu yang tidak pernah marah, yang saya nggak pernah tahu kapan dan bagaimana ia mengutarakan kemarahannya akan sesuatu.

Dulu saya juga takutan. Terutama sekali di waktu-waktu SMA dan awal kuliah selalu jadi yes-man karena nggak dianggap ini atau itu. Parahnya, kalau melakukan kesalahan saya enggan minta maaf tapi cenderung mendebat. Ini lawak sih, but it’s happening all the time. Salah satu alasannya barangkali, karena di masa-masa itu saya merasa superior. Ada banyak hal yang bisa saya dapatkan bahkan tanpa berusaha terlalu keras. Saking fokusnya sama diri sendiri saya sering kali mengabaikan orang lain.

Saya pernah berselisih dengan karib saya, Anis, di pertengahan perkuliahan. Tidak lama, dia pindah kosan dan saya berkesimpulan kalau saya adalah salah satu faktornya. Saya merasa bersalah sekali waktu itu. Suka sebelnya karena tiap merasa bersalah bukannya minta maaf tapi justru terus merasa bersalah dan menghindari satu sama lain. Setelah itu kami lebih banyak berkegiatan di lingkungan yang berbeda, sampai saya menyadari jarak kami menjauh karena saya satu-satunya orang yang nggak tau dia mau ambil Summer Exchange ke Jepang. Tapi terus lupa apa yang terjadi, apakah kita saling memaafkan atau tidak, di titik tertentu hubungan kami berubah. Saya lulus kuliah karena secara kebetulan kami masuk studio di waktu yang sama. Barangkali ceritanya akan lain jika kami tidak satu studio waktu itu. Sekarang kami hampir tidak bertukar kabar sehari-hari, tapi selalu ada banyak hal yang bisa dibagi ketika bertemu lagi.

Seringnya, mengubrak abrik memori masa lalu bukan karena ingin kembali ke sana seketika ini juga. Tapi lebih-lebih, karena banyak hal, yang baru bisa dipahami dengan jernih ketika sudah menjadi memori, ketika kita sudah berjarak dan tidak terdistraksi oleh hal lain untuk memahaminya. Salah satu yang paling mengubah saya, suatu hari sekitar tahun 2011-2012 saya melewati hutan biologi yang rindang berboncengan dengan seorang teman sekembalinya kami dari sebuah kegiatan. Ia menegur saya karena dari dua agenda harusnya saya ikuti, saya lebih memilih kegiatan kedua bersamanya alih-alih ijin pulang dan pindah ke kegiatan yang satu lagi yang mana lebih pas untuk saya. Saya juga ditegur karena sebelumnya tidak jadi menghadiri kegiatan lain. Waktu itu saya terdiam, tersinggung, dan merasa tertampar aja. Sensasi yang sama waktu saya berselisih dengan teman karib saya. Barangkali si teman nggak inget sih, tapi hal itu mengubah saya dalam memandang prioritas, sedikit banyak.

Sebetulnya tidak serta-merta merubah. Di waktu itu, ketika ditegur saya cenderung merasa, tersinggung pertama-tama, lalu merasa diremehkan dan satu-satu cara untuk mengatasinya adalah melawan balik. Saya gampang dendam, bukan karena orangnya tapi spesifik pada momen, kata-kata, atau perbuatan yang saya pikir merendahkan saya. Belakangan saya menyadari kalo mendendam itu cara yang saya lakukan untuk melawan atau membela diri.

Kerja juga memperkenalkan saya pada banyak hal, terutama pada hal yang sering disebut sebagai ‘kenyataan’. Saya bertemu teman-teman yang masih punya mimpi untuk dikejar. Di hari pertama penerimaan pegawai, saya diminta untuk menuliskan soal ‘mau diapakan keterlanjuran yang sudah kami putuskan’, alih-alih menanyakan hal-hal klise ketika pertama kali masuk kerja. Saya sering menertawai pertanyaan itu karena memang sarkas.

Saya kira, meskipun saya mulai banyak melupakan, saya masih ingat betul teguran-teguran atau petuah bermakna yang setelah mendengarnya saya memikirkannya selama berhari-hari dan mempertanyakan ‘kenapa’ tapi tidak pernah menemukan jawaban.

Kadang juga begitu takut dengan perubahan. Dulu selalu sulit membayangkan hidup tanpa buku bacaan. Tapi dalam setahun belakangan saya hanya berhasil membaca paling banyak 10 buku dan setiap kali membuka laptop, buku-buku di hadapan saya memanggil untuk dibaca. Dulu juga enggan menonton film tapi dua tahun belakangan bolak balik ke bioskop di setiap ada film baru tayang. Juga pernah begitu takut untuk pindah kota tapi ternyata perpindahan bisa menjernihkan pikiran dan melebarkan ruang untuk berpikir dan bertindak dengan nalar dibanding dengan perasaan.

Di tengah-tengah ketelanjangan kita atas paparan informasi dari berbagai arah dengan berbagai macam tekanan, saya kira wajar sekali jika di satu hari kita bisa begitu bersemangat akan sesuatu, lantas esok hari merasa rendah diri. Jika sudah begitu, saya biasanya tidur lebih awal, atau justru semakin bermalas-malasan, buka-buka dagangan, ngobrol random dengan customer, posting video kucing sama anjing lucu di semua platform, atau mulai buka-buka galeri dan scroll tulisan di blog ini. Lantas menertawakan diri sendiri, prihatin sama diri sendiri, tapi terus juga semakin menghargai perjalanan, sedikit banyak.

Growing up consumed so much energy.

Semakin tua barangkali—semoga saya tidak pernah lupa, perbendaharaan pengalaman kita jadi banyak sekali, terlalu banyak sampai kadang-kadang kita lupa kalau kita punya. Tapi akan lebih sedikit energi yang dihabiskan untuk memikirkan satu dan lain hal, atau setidaknya lebih mudah untuk pulih. Di sela-selanya saya sering takjub dengan orang-orang yang kontrol emosinya begitu baik dan cenderung malu sendiri tiap kali saya nggak mampu menahan diri. Tapi lagi-lagi, it’s never to late for anything, right? Jadi mungkin pelan-pelan aja deh ya.

Setelah berhari-hari kurang tidur, entah wangsit dari mana saya akhirnya berhasil menuliskan 1000 kata ini dengan baik. Semoga berkenan.

wordsflow

Kado dari Mita


Tidak ada yang terlalu baru, tapi saya mau membuat appreciation post untuk teman saya.

Tahu betul bahwa blog ini hanya dikunjungi sedikit orang, bahkan si teman yang akan saya tulis ini tidak tahu saya punya blog dan akan menulis tentangnya. Sebetulnya ada platform lain dimana saya bisa secara lebih luas mengabarkan kabar baik, lewat Instagram atau wa story. Tapi blog selalu jauh lebih menarik untuk ditulisi.

Namanya Mita. Kami pertama kali bertemu saat saya psikotest di UI tahun kemarin. Kami satu kelompok FGD. Anaknya unik, excited tapi pekewuhintrovert. Karena sama-sama berasal dari satu almamater kampus, cepat merasa akrab meskipun baru kali pertama bertemu. Saat itu bahkan dia telah diterima kerja di salah satu perusahaan konstruksi nasional. Saya penasaran betul apa tujuannya mengambil tes di hari itu. Persis sebagaimana saya, dia juga merasa instansi tempat kami akhirnya bekerja sangatlah keren dan sebuah angin segar untuk dia yang juga berkecimpung di dunia kreatif. Polos sekali. Belakang suatu ketika saat kami pulang kerja bareng, kami sama-sama menyadari bahwa alasan sangat polos itu sungguh kelewat polos. Hahaha, kami sama-sama menertawakan kepolosan-kepolosan bodoh sembari memutar otak untuk satu dan lain hal.

Mita ini anak yang menarik. Dia jarang sekali terprovokasi untuk menjadi emosional sebagaimana saya sehari-hari, dan kami sering menggunakan responnya untuk menakar kegawatan suatu keadaan, lol. Saya mempelajari beberapa hal menarik darinya, terutama perihal respon atas sesuatu. Dia seringkali menekankan bahwa mengalah pada emosi bukan tipenya. Ketika ada sesuatu yang buat saya memancing emosi, dia cenderung bersikap bodoh amat tapi dengan respon yang kalem dan positif. Saya suka iri. Haha.

Tapi lucu sekali, karena setiap kali saya melakukan pemberontakan-pemberontakan kecil seringkali dia minta diajari. Dari dia, juga dari teman-teman lain saya banyak sekali belajar dan bercermin soal satu dan lain hal. Meski kami tipe yang bertolak belakang, ada hal-hal yang bisa dipetik dari perbedaan karakter. Saya bahkan sering dibuat terkejut bahwa respon emosional saya ternyata bisa membawa dampak baik ke orang-orang, bahkan pada bagian-bagian dari kepribadian yang kadang kala saya sesali. Hehe.

makasih Mita :3

Beberapa hari lalu, Mita mengirim saya hasil gambarnya yang manis sebagai kado ulang tahun. Seumur hidup, baru kali ini ada orang yang menggambar untuk saya karena biasanya saya yang melakukannya untuk orang lain. Suka sekali. Saya gampang terharu sama sesuatu, dan itu respon alamiah. Paralel juga sih dengan gampang marah dan emosi, hahaha. Dia juga anak kantor yang pertama kali mengapresiasi SketchandPapers karena dulu pernah kepo lantaran ternyata kami sama-sama berdagang buku. Saya sering dibuat terkejut dengan cara-cara semesta mempertemukan orang, juga cara waktu mendekatkan kita ke orang lain, atau memperlihatkan karakter mereka lebih dalam.

Saya sungguh beruntung karena semua angkatan saya seumur. Kami hanya terpaut maksimal 3 tahun saja dengan masing-masingnya. Mereka juga yang menjadi alasan saya tetap bersemangat setiap pagi, juga rela pulang telat atau dinas di hari libur. Mereka juga yang menenangkan dan mengingatkan saya ketika saya hampir keluar batas, haha. Saya pikir, kalau bukan karena mereka barangkali saya akan jadi pribadi yang berbeda setelah satu tahun bekerja. Saya hampir putus asa ketika di awal tahun menerima penempatan baru meski akhirnya kami kembali bersama setelah serentetan drama. Hahaha.

Tulisan ini juga saya tulis karena rindu mereka, hehe. Tiap siang biasanya kami akan keluar kantor untuk jajan terang bulan atau cilor, sore jalan ke halte melewati gang pasar lalu menunggu bus sembari membicarakan hal-hal. Kadang-kadang menghabiskan sore hanya untuk bermain boardgame dari salah satu master boardgame di angkatan kami. Besok hari julid kontraktor sembari mengeluarkan sumpah serapah. Besok-besok mencuri waktu untuk berdagang, menggambar, mengambil video. Tapi sudahlah, hehe.

wordsflow

bye klub 27


Yeeeyyyy

Welcoming new phase of lyfe karena akhirnya kesempatan untuk bergabung dengan klub 27 berakhir di hari ini, hehehe.

Belakangan ada sesuatu yang menarik muncul di kesadaran personal saya, soal bagaimana melihat hidup dan maknanya bisa begitu berubah dalam beberapa tahun belakangan. Ada hal-hal yang mempengaruhi saya dalam memandang makna hidup ini, dari lingkungan, dari internalisasi pengetahuan, juga dari idealisasi yang terbentuk atas semua proses internalisasi itu. Di baliknya, lebih dalam lagi, ada upaya reflektif yang tidak pernah berhenti, bahkan dalam kekacauan maupun keheningan pikiran.

Agaknya menjadi Soe Hok Gie adalah sebuah romantisme tersendiri. Berpendirian, berkesadaran, romantis, kritis, dan mati muda, menjadi serangkaian formula yang memikat untuk bahkan bisa disebut sebagai hal-hal yang menarik untuk juga direplikasi oleh diri sendiri. Di masa umur saya yang masih 20 tahun, menjadi Gie adalah hal yang paling menarik yang bisa saya idamkan. Dibarengi dengan dorongan untuk selalu melawan (sesuatu yang entah karena trauma atau sudah khithahnya), profil Gie memberi saya pemahaman lebih jauh tentang hal-hal yang saya cari. Belum lagi di masa kuliah saya dipertemukan dengan orang-orang yang jauh lebih beragam dibandingkan yang pernah coba saya bayangkan di masa sekolah menengah. Selepas fase pertama mempelajari kehidupan nyata, saya belajar lebih banyak di fase berikutnya, dan akhirnya mencapai umur 27.

Tapi Gie adalah satu fase idealitas, dan saya kira mati muda atau hidup sampai tua sama baiknya. Mas Pujo sering bilang, eksistensi manusia berhenti di saat dia mati, dan manusia berguna karena tidak tidak mati. Maka tetaplah hidup.

Hal yang selalu saya syukuri, adalah adanya kesempatan bagi saya selama masa kuliah, juga setelahnya, untuk memperluas cakrawala berpikir dan memperkaya sudut pandang bukan hanya di seputaran orang-orang yang pandangannya saya sukai, tapi juga mencoba merangsek masuk di lingkaran kelompok sosial yang secara umum tidak bisa saya percaya atau bahkan saya benci. Kadang yang begitu bisa juga memunculkan rasa frustasi tersendiri, juga perasaan sia-sia yang secara spesifik muncul pada kelompok sosial tertentu. Tapi selalu berusaha juga untuk melawan (meski tidak layak disebut demikian) dan mengimplementasikan ide-ide juga standar tertentu yang dipegang sendiri.

Di satu sisi, saya sering merasa kewalahan dengan diri sendiri, lantas sering kali ingin menyudahi pertikaian internal lantas mengikuti saja arus utama yang bergerak di sekitar saya. Tapi di sisi lain, saya punya secuil keyakinan bahwa saya akan bisa menghadapi kekacauan itu, dan selalu bertahan karena ada orang-orang yang mendorong saya. I thank you from my deepest heart to always have my back with no doubt.

Bagaimanapun, tahun ini bukanlah tahun yang menyenangkan untuk semua orang. Setelah didera pukulan telak di akhir tahun kemarin karena perubahan tempat kerja, juga beberapa kekecewaan di awal tahun, saya juga harus rela berkompromi akan banyak hal untuk berhasil mengatasi wabah ini.

Sembari menghabiskan beberapa hari terakhir dengan berdiam diri, saya merasa bahwa barangkali, pada titik tertentu kita akan beradaptasi sedemikian rupa untuk kembali hidup normal di tengah pandemi. Salah satu yang tidak bisa dipungkiri, manusia adalah makhluk yang paling cepat beradaptasi dengan perubahan, dan karenanya kita juga menjadi begitu gemar untuk mengubah lingkungan kita bahkan jika perubahan itu sebenarnya tidak ramah untuk makhluk hidup lain. Se-ignorant itu memang kita. Saya sendiri meski mengambil tema penelitian yang bersentuhan dengan persoalan lingkungan, tapi malu sekali untuk menyebutkan bahkan di lingkungan terdekat. Merasa tidak cukup mendalami apa yang ditulis dan diamati oleh diri sendiri selama beberapa waktu sehingga, seolah semua upaya yang saya curahkan menjadi sia-sia belaka.

Tapi itu satu soal. Orang-orang terdekat saya, juga guru saya sering kali mengingatkan bahwa kita tidak harus merasa sangat bertanggung jawab atas apa yang kita teliti. Posisi penelitian kadang hanya sampai pada level pengingat untuk diri sendiri, dan sesiapa yang membacanya. Itu saja sudah bagus. Banyak di antara penelitian yang berakhir terhimpit di antara penelitian lain dan terbengkalai di perpustakaan, atau pojok kamar, lantas dilupakan. Tanpa itu pun, hidup manusia toh akan sia-sia belaka, hehe. Tapi itu juga satu hal. Tidak menjadi soal juga jika kita menetapkan kondisi ideal atas sesuatu yang kita lakukan.

Jika mengingat kembali ke waktu-waktu yang telah saya habiskan untuk hidup, saya seringkali dibuat terkejut karena sampai hari ini masih tetap ada hal-hal di luar nalar yang terjadi ke diri saya. Seharusnya saya banyak-banyak bersyukur dengan capaian dan keadaan saya saat ini, tapi seringkali lebih memilih untuk kecewa ke diri sendiri.

Dan jujur saja sembari menulis ini saya memikirkan banyak topik untuk dibicarakan tapi gagal karena hal-hal mandeg begitu saja di pikiran saya. Mendewasa cukup banyak mengubah cara pandang saya, terutama tentang persoalan kemapanan. Dulu sering merasa yakin dengan cara sendiri mengatur hidup, sekarang cara pandang itu sedikit banyak bergeser. Saya juga berkompromi akan satu dan lain hal dan di samping memantapkan langkah mencoba tidak pernah merugikan dan merepotkan orang lain. Memikirkan betul persoalan manajemen finansial meskipun hidup masih selebor. Seringkali tidak mampu menahan diri untuk membeli ini dan itu sebagaimana manusia pada umumnya, tapi merasa cukup beruntung tidak berada di lingkungan sosial yang menekan. (dan biasanya saya memang tidak tertekan pasar sih, hahaha)

Memiliki bisnis mikro mengajarkan saya tentang perspektif pedagang, yang berseberangan dengan status personal saya sebagai konsumen. Bekerja dihimpit oleh birokrasi, tapi bebas menjalani hobi juga memberi saya dua perspektif yang menarik. Juga tinggal di dua kota yang berbeda sekaligus, menjadi pekerja dan pelajar sekaligus, menjadi pegawai dan bos sekaligus, selalu memantapkan posisi saya di ruang antara. Ah, saya bahkan baru menyadari betapa saya sering dan suka sekali mengikatkan diri di ruang antara semacam ini, berada di situasi paradoks yang sebenarnya tidak saya sukai tapi saya juga tidak suka mantap di satu sisi. Hahaha, ya begitu kira-kira.

Dan di tengah karantina ini, semoga kita semua semakin akrab dengan diri sendiri. Semoga dunia lekas membaik, cita-citamu segera terwujud dan tergantikan dengan cita-cita baru yang lain lagi. Juga mau meneruskan pesan yang pernah saya dapat dari orang penting di hidup saya, ‘coba rayakan hal-hal kecil sambil menatap ke hal-hal yang besar’. Tidak melulu merasa positif tapi menerima hal-hal dan mencoba menakarnya untuk diri sendiri atau hal-hal yang lebih besar lagi.

Lalu buat kamu yang selalu menengok blog ini, terima kasih banyak mau mencoba mengenal saya lebih jauh dan tidak pernah bosan. Kalian juga membantu saya tetap hidup. Stay safe kalian. ((peluk jauh))

wordsflow

apakah sekumpulan anak bandel bisa membubarkan satu sekolah?


Mari memulai tulisan ini dengan kesadaran bahwa ada masa ketika kita memiliki mimpi dengan kondisi ideal tertentu di masa muda yang ceria. Tapi kini sampailah kita pada masa di mana kondisi ideal itu tidak mampu kita, ah saya, gapai tetapi life must go on.

Ceritanya panjang, tapi singkatnya, 10 tahun terakhir adalah fase perubahan terbesar dalam hidup saya. Bukan hanya pada ranah internal, tapi juga kondisi-kondisi lain di luar diri yang sampai sekarang belum mampu saya tangani.

Minggu kemarin bos bilang soal tren anak muda yang sering kali berpindah tempat kerja karena atasan yang begini dan begitu. Setelah unggahan itu, bos berkomentar bahwa itu privilese yang bisa didapatkan oleh pekerja swasta. Tapi kondisinya akan sangat berbeda untuk bos, juga untuk saya. “Kalo bisa punya atasan yang enak dan sesuai sama nilai-nilai yang kita anut ya beruntung sekali kita,” begitu lanjutnya.

Begitulah. Kita bisa punya kondisi ideal yang kita impikan dan kita angankan pada titik sebelum nol. Tapi ternyata, begitu memasuki nol kita menemukan bahwa ada banyak kondisi yang tidak bisa kita kendalikan. Hal semacam ini juga berlaku untuk hidup, juga pada setiap tahap perubahan umur.

Di masa saya banyak sekali menghabiskan waktu untuk membaca buku dan membangun idealisme, umur 27 tampaknya adalah masa keemasan bagi seseorang untuk mematok lebih dalam nilai-nilai dan idelismenya, lantas menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tapi barangkali juga lupa, bahwa kurun waktu inilah yang paling sulit karena kita mengalami transisi dari pelajar ke pekerja, dari pengamat ke pelaku, dari idealis menjadi realis. Tapi tentu, bukan berarti kondisi itu harus meniadakan hal pertama.

Juga harus saya katakan, bahwa setelah penyangkalan yang panjang dan tidak kunjung usai, barangkali saya harus memantapkan kesadaran bahwa arena masing-masing orang berbeda, dan karena kita akan melawan dengan cara yang berbeda, bersaing dengan cara yang berbeda, dan menuju hasil dan keluaran yang berbeda.

Pada tahap ini, saya cukup senang menyadari bahwa banyak dari rekan-rekan saya yang tetap pada jalur idealismenya dan mengejar cita-cita masa lalunya tanpa tergerus oleh laju kencang arus utama kelompok pekerja. Sebetulnya bisa saja saya melawan keterlanjuran ini dengan putar balik dan kembali berkerajinan tangan. Tapi enggan saya lakukan karena satu dan lain hal, ada persoalan kondisi ideal yang saya idamkan, juga ada kekecewaan saya terhadap banyak hal.

Kompleksitas itu membawa saya pada kesimpulan bahwa ada hal yang tetap bisa saya lakukan dengan kondisi yang tidak ideal ini.

Ingat sekali di hari terakhir pelaksanaan program tahun lalu, bu bos menangis dan mengucapkan terima kasih ke kami. Dia menyadari bahwa kerja dengan sistem yang dia patok tidaklah mudah. Saya tapi juga barangkali lupa bahwa sebagai atasan, bu bos juga bersusah payah untuk selalu mematuhi koridor nilai-nilai yang ia patok sendiri, idealisme yang ia pegang sedari lama, dan sembari melawan, sembari memberi bukti ke banyak orang bahwa hal-hal tetap berhasil dikerjakan dan kami baik-baik saja. Di waktu ketika hal-hal masih terlihat jelas dan kondisi kerja begitu menyenangkan, saya tidak mampu melihat di mana inti utamanya.

Tapi hal-hal berubah. Ada cukup banyak hal di dalam perubahan yang membukakan saya pada fakta-fakta baru di balik kerja kami yang selama ini menyenangkan meskipun lelah, menantang, dan emosional. Ini menghancurkan harapan saya sejujurnya, dan selama beberapa hari terakhir, minggu terakhir, kami semua mengalami kekecewaan yang jauh lebih berat.

Tapi kemudian ingat dengan kalimat bu bos. Di tengah gempuran hal-hal ini, kami dan ibu membangun pertahanan bersama, pun kalo bisa disebut demikian. Kami saling menjaga koridor masing-masing agar sesuai dengan idealisme dan nilai-nilai yang sudah dipegang dan dijaga selama bertahun-tahun. Barangkali akhirnya mengerti di mana arena perlawanan saya sekarang, dan tidak perlu bersusah payah untuk menjadi sama dengan orang-orang terdekat saya di luar sana.

Meski saya sering kali dilanda rindu yang membawa pada sekelebat rasa iri, saya pikir baik sekali kiranya bahwa kita berada di jalan yang berbeda, tapi masih bisa saling memantau. Bahwa kamu dan kamu dan kamu dan semua orang yang masih melakukan hal-hal yang seringkali kita idealisasikan di bangku sekre atau di bawah pohon rindang, di bangtem, di kelas, di puncak-puncak gunung, di dalam gelap gua, di masa-masa keemasan kita, so proud of you.

Masih sesulit itu untuk memastikan semua cerita di atas saya praktikkan dalam hidup. Ada masa-masa dimana saya marah luar biasa tapi tidak mampu memuntahkannya. Struktur kekuasaan memang memuakkan. Begitulah yang bisa saya ceritakan hari ini.

Dan di tengah semua hal ini, hanya ada 3 hal yang bisa menghibur saya: pulang ke Jogja, istirahat lebih awal, dan makanan enak. Malam ini, saya mau istirahat lebih awal. Tabik.

wordsflow