WORDS FLOW

just go with the flow and whatever happens, happens

Category: on Life

Pekerjaan.


Baiklah, mari memulai tulisan ini dengan sebuah pertanyaan “apa yang menyebabkan seseorang bertahan pada pekerjaannya?”

Sebetulnya ini hanya sebuah cerita. Lantaran tadi siang saya baru menjalani ujian negara (dalam arti yang sesungguhnya) sementara partner kerja saya sedang setting stand untuk bazaar esok lusa, saya jadi merasa perlu menanyakan pertanyaan tersebut ke diri saya sendiri.

Begini. Selama saya hidup, tidak ada hal yang cukup membanggakan untuk saya sebut sebagai sebuah goal. Beberapa di antaranya hanyalah produk dari ambisi atau memenuhi rasa haus saya akan kompetisi. Alhasil, hal-hal tersebut tidak memiliki keterikatan yang cukup kuat dengan saya sebagai subjek pewujudnya, atau inang dari ide dan upaya yang telah saya lakukan.

Tapi siang ini ketika saya sedang memantau pekerjaan anak-anak, saya menyadari bahwa barangkali, upaya saya membangun, menghidupi dan mempertahankan SketchandPapers adalah betul-betul life goal. Saat itu pula lah saya berjanji untuk membuat dan menuntaskan tulisan ini malam ini juga.

Pertama-tama, apa yang saya maksud dengan goal?

Barangkali ini klise, tapi jawaban yang mungkin paling relevan adalah soal kepuasan personal atas usaha dan upaya apapun yang kamu curahkan ke hal spesifik ini. Apakah ini menjelaskan passion? Mungkin iya, dan mungkin tidak.

Saya pernah menceritakan sedikit tentang usaha saya membuat buku. Tapi sejujurnya, cita-cita saya sejak dulu adalah membuat brand/merk yang merepresentasikan diri saya. Saya ingin menciptakan sebuah nama baru yang mewakili wujud saya yang asli karena barangkali, saya tidak suka muncul ke permukaan.

Saya telah mengupayakan beberapa jalan untuk mewujudkan cita-cita terpendam itu. Saya memiliki nama pena ketika pertama kali menulis puisi, novel, dan cerpen di waktu SD. Nama itu berubah permanen hingga saya SMA dan saya singkirkan dari perjalanan hidup saya begitu masuk kuliah. Nama SketchandPapers sendiri sudah ingin saya gunakan untuk menjual karya sketsa saya saat di bangku terakhir masa SMA, namun baru benar-benar saya gunakan di akhir tahun 2014.

Menariknya, saya sendiri berambisi menjadi wiraswasta karena kemuakan saya secara personal ketika masih SD. Dengan profesi bapak ibu saya, hampir dipastikan saya tidak akan pernah mendapat beasiswa, dan begitu terganggu ketika orang tua semua teman sekelas adalah wiraswasta, menjadikan saya satu-satunya orang yang tidak paham topik itu. Saya sudah belajar jualan sejak TK, tapi saya bahkan baru mengingat ini kembali belum lama. Dan selama coba-coba berdagang, bahkan sekarang, ternyata hal-hal yang saya lakukan bertujuan untuk personal branding, dan tidak lebih condong pada profit usaha.

SketchandPapers mengajarkan sangat banyak hal pada saya. Mengajarkan banyak tahapan, proses, perbaikan, tantangan, kritikan tajam, dan seterusnya. Ketika memulainya akhir tahun 2014, saya bahkan tidak yakin dengan apa yang saya lakukan. Sampai akhirnya saya mendapat dukungan dari banyak orang. Semakin luas jaringan konsumen, semakin beragam keinginan mereka. Saya mencoba mewujudkan kesemuanya dengan proses yang tidak mudah.

Di samping pengembangan usaha itu, kesibukan berpikir dan mengerjakannya membantu saya menjalani hidup. Mengalihkan perhatian saya pada hal-hal selain pokok yang saya pikirkan secara mendalam. Saya punya waktu untuk berkontemplasi, melakukan perulangan, menjadi perfeksionis, kelelahan, kesal dengan deadline, dengan konsumen, marah-marah, berhenti berusaha perfeksionis, mulai membangun toleransi pada karya, menenangkan saya ketika menangis, dan banyak hal lain yang menemani proses saya bersama SketchandPapers. Saya ingat bahkan dia menyelamatkan saya pada masa-masa paling tidak masuk akal sebagai pegawai, usaha ini tetep berhasil saya jalankan.

Salah satu hal yang paling saya takutkan adalah popularitas. Saya memiliki batas tidak terlihat dalam mengupayakan popularitas usaha saya. Ketika batas itu hampir jebol, saya menariknya kembali ke dalam. Bukan karena tidak ingin berkembang, tapi saya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama dengan mantan boss saya; menghancurkan usaha sendiri karena gegabah dan salah perhitungan.

Maka ketika bulan Januari saya harus melepas keterikatan saya dengan brand ini, saya merasa sebagian pegangan hidup saya terambil. Saya pun tidak rela. Barangkali karena sejak awal saya tidak pernah ingin membagi SketchandPapers dengan orang lain. Dia adalah representasi saya, dan tidak boleh ada orang lain di sana. Pada buku-buku inilah saya melampiaskan perasaan-perasaan saya secara nyata. Senang, tenang, marah, berurai air mata, putus asa, bersemangat, kecewa, cinta, dan lain sebagainya mewujud pada interaksi yang saya bangun dengan buku-buku itu. Bagian yang tidak kalah menyenangkan adalah respon setiap orang ketika menerima barang kiriman. Senyata itu memang. Bahkan hampir-hampir dia menjadi substitusi dari lingkungan sosial saya.

Barangkali saya sedikit berlebihan karena emosional. Tapi sungguh, meskipun SketchandPapers bukanlah manusia, dia tetap subjek dengan kompleksitasnya sendiri. Dialah yang menyelamatkan ‘hidup’ saya selama 5 tahun belakangan.

Dan dalam kesadaran ini, saya menjadi semakin rindu Jogja. Begitu ingin naik kereta ke sana lantas tak kembali lagi ke kota ini.

Tapi lalu ada hal kedua.

Saya sadar saya tidak cocok bekerja dalam tim. Selama 5 bulan terakhir saya bahkan mengalami banyak kesulitan. Tapi pekerjaan ini membantu saya mengembangkan usaha. Saya yang sebelumnya tidak mampu memberi kepercayaan pada orang lain, dan was-was akan kemungkinan melakukan kesalahan seperti bos saya sebelumnya akhirnya memberanikan diri mencari partner. Lalu proses yang lain, dan yang lainnya lagi.

Maka, setelah selama 4 tahun tidak pernah berani bermimpi untuk masuk ke event sebesar FKY, akhirnya tahun ini kami berhasil mencapainya. Lagi-lagi saya tidak mau memikirkan profit karena itu melelahkan. Menghitung sana sini dan sebagainya lantas berakhir memberatkan partner dalam mengupayakan target. Saya hanya senang—kesenangan murni—karena bahkan dalam jarak sejauh ini saya tidak kehilangan usaha yang sudah susah payah saya bangun. Barangkali satu-satunya hal yang betul-betul bisa saya sebut sebagai ‘milik’ hanya si brand ini. Sisanya bukan. Bahkan kadang saya menganggap dia betul-betul subjek tunggal seperti kita, cermin saya.

Dan SketchandPapers juga yang membuat saya setiap hari bisa mengerjakan pekerjaan lebih cepat, datang lebih awal, untuk menyediakan waktu luang yang lebih banyak agar saya bisa memantau dari jauh dan membuat rencana akhir pekan untuknya.

Entah apa yang akan terjadi pada saya lewat pekerjaan baru ini. Sebagian kawan saya masih suka mengangkatnya untuk topik lawakan. Kadang saya hampir tersinggung, atau kesal karena satu dan lain hal. Setidaknya, orang-orang mendorong saya untuk mencoba memahami dan mengerti hal-hal di permukaan atau di dasar palung tentang pekerjaan ini. Saya juga mulai berpikir untuk selalu siap pada perubahan-perubahan mendadak nantinya. Saya pikir, satu-satunya yang cukup menyenangkan untuk diingat adalah SketchandPapers akan selalu menjadi tempat saya pulang dan bergantung, apapun nanti yang terjadi.

wordsflow

selamat hari keluarga nasional,


Malam ini saya ingin menulis sesuatu, entah apa jadinya nanti. Biarlah sudah.

Mari memulai dengan sebuah premis, “what makes a family, family?”

Dalam antropologi, kita mengenal bahwa terminologi keluarga (atau fam) memiliki pergeseran makna dalam perkembangan kebudayaan manusia. Ketika masyarakat masih hidup dengan cara berburu dan meramu, serta hidup nomaden, seorang anak adalah anak dari klannya, dan tidak betul-betul melekat pada satu keluarga inti. Anak bukanlah anak-siapa melainkan generasi penerus atas suatu kelompok sosial tertentu. Anak yang lahir di dalam kelompok menjadi tanggung jawab keseluruhan kelompok untuk memastikan segala kebutuhannya tercukupi.

Barangkali kita membayangkan itu sebagai yang patut dikasihani (?) Bahwa anak ini mungkin tidak akan sungguh-sungguh mendapatkan kasih sayang orang tua kandungnya. Bahkan barangkali ia tidak memiliki kedekatan dengan ibunya karena bisa jadi disusui oleh ibu yang lain. Bisa pula ia belum pernah melihat bapaknya atau ternyata bapaknya juga dimiliki oleh anak-anak lain yang bukan anak ibunya. Dan semua ‘barangkali’ yang menyayat hati didasari atas norma etika sosial kita soal keluarga di hari ini.

Perkembangan berikutnya dari kelompok sosial berdasar kekerabatan dan berbasis darah ini kemudian berkembang ke level berikutnya, dimana keluarga adalah mereka yang memiliki garis keturunan sedarah dengan keluarga inti sebelumnya. Setelahnya, keluarga ini membangun simbiosis mutualisme dalam kaitannya untuk memastikan garis keturunan mereka tidak putus, memastikan bahwa mereka akan bisa makan setahun penuh, dan memiliki jaminan kesejahteraan untuk generasi selanjutnya dalam bentuk lahan pertanian.

Keluarga mengubah dirinya sendiri agar cocok dengan kondisi kultural mereka sebagai kelompok yang bercocok tanam. Pembagian kerja yang efisien dengan beban tenaga kerja untuk diberi makan dianggap perbandingan yang layak untuk mempertimbangkan seseorang bisa masuk ke dalam ‘keluarga’ atau tidak. Mereka yang berada di dalam garis keturunan sedarah memiliki kewajiban untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh kepala keluarga, dan karenanya memiliki hak juga untuk mendapatkan makan dari jatah kerja hariannya.

Akhirnya kita kemudian mengenal kelompok yang lebih kecil lagi, yaitu keluarga inti. Ketika jaminan hidup tidak lagi hanya bisa didapat dari bertani, maka ketergantungan orang pada lahan pertanian menjadi semakin berkurang, mutualisme dan upaya mempertahankan jumlah anggota keluarga yang cukup banyak tidak lagi diperlukan karena mereka bisa mendapatkan uang dari kerja selain bercocok tanam. Demikian, simbiosis mutualisme yang diperlukan semakin dipersempit pada kelompok yang lebih kecil dengan pembagian peran yang relatif lebih ringan dibandingkan sebelumnya.

Sampailah kita pada model keluarga yang kini kita sebut sebagai ‘keluarga’.

Tapi perkara tidak berhenti di sini. Pernah dengar istilah kekerabatan fiktif? Saya lupa teori siapa tapi bodo amat. Singkatnya, kekerabatan fiktif terbentuk karena ikatan-ikatan tidak langsung seperti  hubungan darah atau pertukaran dan pernikahan. Penjelasan soal kenapa kamu bisa begitu berkorban untuk temanmu atau kolegamu tuh ada di bagian ini penjelasannya. Dan karenanya bentuknya bisa betul-betul mana suka. Kadang kamu bahkan harus mengulik begitu dalam alasan di balik kuatnya kekerabatan fiktif yang dibangun oleh dua individu atau suatu kelompok tertentu.

Dan di era perinternetan yang menciptakan begitu banyak dunia paralel untuk kita, kita menemukan jauh lebih banyak keanehan bentuk-bentuk keluarga. Kamu bisa begitu rela mati demi junjungan politikmu, bisa gontok-gontokan tanpa lelah di twitter demi membela kelompok tertentu atas nama HAM, dan seterusnya, dan seterusnya. Kita membentuk jaringan kekeluargaan baru berdasarkan pada budaya baru yang kita miliki sebagai masyarakat modern dengan istilah ‘netizen/warganet’ sebagai bentuk integralnya. Bayangkan, bahkan jejaring warganet bisa sangat keluar dari batas-batas dan zonasi yang kita bangun selama masa modern pra internet.

Kita mengalami gegar. Gegar budaya untuk meneken pada kelompok yang mana kemelekatan kita terpaut lebih erat. Kita menjadi sulit untuk memahami sebetulnya mana yang lebih bisa diandalkan dan dijadikan prioritas dalam membantu kita menjalani kompleksitas hidup kapitalistik ini.

Saya baru menyadari belakangan, bahwa dibandingkan kebingungan dalam menentukan kelompok, saya lebih terkejut karena ternyata saya begitu terikat pada wujud paralel atas Aku yang mewujud secara imajiner. Saya dalam keseharian, buku harian, chat, sosial media A B C D sampai Z, memiliki wujud, citra, pemikiran yang sedikit banyak berlainan. Setiap kali membaca selalu ada yang dirasa mengejutkan, seolah baru kali pertama saya bertemu dengan wujud tersebut. Dan itu sangat melenakan.

Pertanyaan-pertanyaan eksistensial mulai bermunculan dan menjadi relevan kembali. Kekhawatiran lama mulai menyeruak ke permukaan, dan sialnya perasaan-perasaan yang sebelumnya juga mulai bertebaran membentuk ranjau. Ganas dan tanpa ampun.

Dalam nuansa ini saya bertanya-tanya soal relevansi keluarga di dalam hidup kita sebagai individu. Karena akhirnya begitulah budaya berinternet telah mempersempit ruang ketergantungan kita pada keluarga inti sebatas pada layar ponsel. Eksistensi mereka nyaris tidak dibutuhkan selama mereka masih muncul di layar 5 inci yang kita—ah saya—pegang.

Tentu tidak semua insan di negeri ini seterjebak ini. Jelas sekali bahwa ikatan keluarga inti masih kental sekali dalam kultur Indonesia. Contohnya bisa dilihat di pemakaman-pemakaman ketika anak, orang tua, istri, atau suami menangisi kepergiaannya. Atau orang yang depresi karena ditinggal anggota keluarga. Dan semua cerita-cerita serupa lainnya.

Tapi kembali lagi, perubahan ikatan ini mengubah ketergantungan pada keluarga menjadi bergeser ke diri sendiri. Kamu menjadi orang yang bergantung lebih kepada diri sendiri, dalam hal kepercayaan, kebahagiaan, dan lain sebagainya. Naas, karena kemudian bisa jadi, bentuk-bentuk itu akhirnya yang justru akan menguatkan egomu, menyelubungi dirimu dengan ke-Aku-an yang lebih erat, kental, dan tidak tertembus. Dan pada titik ini, tiada orang lain yang bisa menyelamatkanmu kecuali dirimu sendiri.

Jadi yah, kira-kira begitulah premis awal membawa saya pada pembahasan mengenai egoisme yang belakangan cenderung meningkat di dalam diri saya, remah-remah yang sebelumnya saya sepelekan sekarang sudah menjadi sarang yang nyaman. Sial.

Untuk itu, agaknya mengucapkan selamat hari keluarga nasional sedikit kurang relevan dengan kondisi saya kini. Tapi yah, untuk kalian nggak papa deh.

Demikian, jika ada pertanyaan silahkan menghubungi kepribadian saya yang nomor 213 melalui nomor whatsapp yang Anda sekalian ketahui. Dan semoga berkenan. Tabik.

wordsflow

Konsumsi


Dalam beberapa hari belakangan, topik tentang konsumerisme dan kapitalisme entah kenapa muncul kembali di dalam jangkauan pandangan saya, baik melalui linimasa media sosial maupun muncul kembali sebagai sebuah kesadaran. Anehnya, saya tidak lagi merasa terganggu sebagaimana yang saya rasakan sebelumnya terhadap kesadaran soal ini meskipun sungguh memusingkan memikirkan harga properti dan membayangkan akankah saya akan berhasil membeli sebidang tanah untuk hari pensiun saya nanti. Hhhhnnnnhhhhh.

Di tengah segala kemudahan yang hadir di hari ini, kita kemudian tidak lagi dihadapkan pada kesulitan untuk mencari sesuatu yang sebelumnya ‘langka’. Apapun yang kita butuhkan kini hanya berjarak sejangkauan tangan. Satu-satunya penghalang kita adalah kemampuan finansial semata.

Tapi tenang, sistem kapitalis juga berupaya untuk menghilangkan penghalang itu bagi kita sehingga apapun yang kita harapkan akan dengan mudah kita dapatkan. Sebut saja fasilitas digital finance dengan segala penawaran menariknya, kartu kredit, kebijakan pay later, dan sebagainya. Kita dipaksa mengambil hutang dan memilih hutang sebagai cara yang paling ‘benar’ karena pelayanan cenderung menolak pembayaran langsung dan lebih memilih kredit. Hampir semua perjalanan ke luar negeri membutuhkan kartu kredit. Hampir semua transaksi jual-beli ke luar negeri mewajibkan kartu kredit. Bahkan kartu kredit menawarkan diskon yang jauh lebih besar dan membuat semua orang semakin merasa terdorong untuk memiliki kartu kredit.

Padahal kita memiliki uang di rekening sendiri, tapi bahkan jaminan itu tidak cukup untuk meyakinkan bahwa kita betul-betul bisa membayar hal-hal yang kita inginkan. Kesel nggak sih?

Saya ingat pernah begitu bersemangat membuat akun di Etsy sewaktu awal masuk kuliah, tapi segala upaya selalu terhenti pada jaminan kartu kredit dan yasudah, sampai sekarang saya tidak pernah berhasil mencari alternatif lain agar bisa melakukan transaksi antar negara.

Topik mengenai konsumerisme ini sebetulnya klise sih. Tapi begitu saya mengikuti akun finansial di salah satu platform sosial media, membaca berbagai cerita tentang tantangan finansial masing-masing orang, saja jadi bertanya-tanya sebetulnya apa cita-cita finansial yang dimiliki masing-masing orang. Juga menarik sekali ketika saya ditawari untuk membuat tabungan rencana dengan iming-iming bunga tertentu, serta tambahan iming-iming dari petugasnya “Siapa tahu tahun depan bisa jalan-jalan ke luar negeri”. Oh well, demikian secara serampangan saya artikan bahwa jalan-jalan ke luar negeri adalah kegiatan yang sedang menjadi tren di kalangan masyarakat seumuran saya, apalagi yang sudah memiliki penghasilan sendiri.

Di tengah huru hara ini, kita menjadi manusia-manusia yang seolah kehilangan esensi mencari uang. Apakah betul kita bekerja sekedar untuk mampu membeli ini dan itu? Apakah hidup akhirnya hanya sebatas upaya untuk mengejar standar kehidupan yang begini atau begitu? Beberapa kelompok manusia sungguh-sungguh hidup dari paycheck to paycheck ada yang meletakkan standar kemampuan finansial di sebelah agak jauh jalur hidupnya, dan ada juga yang sungguh tidak peduli dengan finansialnya.

Lalu terminologi work-life balance tiba-tiba menjadi terma yang sering kali muncul di sekitar saya, apalagi setelah kepindahan saya ke ibukota. Antara berada di skeptisme atas jaminan keseimbangan hidup di kota dan ketahanan diri untuk memastikan bahwa gaya hidup mayoritas ibukota tidak akan pernah menggerus gaya hidup saya dan saya akan tetap bertahan menjadi manusia-manusia yang waras tanpa merasa kekurangan.

Saya sedikit merasa aneh ketika menemukan beberapa teman saya yang merasa begitu menderita hidup di kota ini. Saya akui memang Jakarta membuat seseorang bisa begitu merasa kesepian. Tapi tidak ada yang bisa menjamin bahwa dengan tinggal di kota kelahiran kita, atau kota favorit kita, kita tidak akan merasakan hal yang serupa. Sebuah kota tidak seharusnya bertanggung jawab atas apa yang sedang kita rasakan. Betul juga bahwa kehadiran atau ketidakhadiran seseorang di dalam hidup kita akan membawa perubahan, tapi menurut saya ada seribu satu substitusi yang bisa membantu kita merasa lebih ‘akrab’ pada sebuah kota.

Ada juga yang bilang bahwa saya sebetulnya punya selera metropolitan, tapi tuduhan itu juga saya pikir tidak beralasan. Saya hanya kerap mudah merasa nyaman pada suatu tempat, dan begitu merasa nyaman tidak mudah bagi saya untuk berpindah. Saya jarang pindah kos-kosan, apapun yang terjadi pada tempat itu, lebih suka memakai pakaian, tas, atau sepatu yang itu-itu saja, dan tidak merasa butuh berganti tanpa ada paksaan tertentu atau alasan tertentu. Barangkali ini juga yang membuat saya lulus lama? Hahaha. Bukan ding, kalau yang itu murni karena faktor kemalasan.

Dan betul juga sebetulnya, konsumerisme menjadi hal yang tanpa sadar diimani oleh semua orang, yang muslim konservatif, atau bahkan yang ateis, yang tidak peduli pada lingkungan atau bahkan yang mengaku sjw (akhirnya saya tahu arti singkatan ini). Setiap protes, setiap kritik, ideologi, bahkan kepercayaan menciptakan pasar baru yang bisa menghasilkan keuntungan bagi para pelaku bisnis. Saya juga menggunakan cara ini untuk mencari pembeli, yah jujur saja. Hanya satu yang membuat saya sebal karena orang-orang cenderung merasa gaya konsumsinya jauh lebih baik dibandingkan orang lain dengan membeli sesuatu atau tidak.

Misal munculnya tren sedotan besi atau sedotan bambu karena adanya protes terhadap penggunaan sedotan plastik. Jujur saja, sebetulnya klaim itu tidak berarti karena kita tidak butuh sedotan sama sekali, mau yang plastik ataupun yang besi. Pun tidak ada yang sungguh tahu apakah sedotan besi akan memberikan dampak kerusakan lingkungan yang lebih kecil atau tidak. Juga gaya berpakaian, baik yang muslim atau bahkan yang mengikuti tren MetGala, semuanya hanya memberikan keuntungan lebih banyak pada pengusaha tekstil, dan memunculkan potensi besar produksi pakaian, dan demikian juga potensi sampah dan limbah yang dihasilkan dari proses produksi itu. Belum lagi yang mengagungkan metode konmari Marie Kondo, sangat ada kemungkinan bahwa yang terjadi adalah konsumerisme gaya Marie Kondo, mengganti perkakas rumah tangga sesuai style adaptasi konmari, dan sebagainya.

Di samping kritik saya atas hal ini, saya juga menyadari bahwa saya orang yang sering membeli, meskipun saya pelit luar biasa pada persoalan harga. Lebih sering saya membeli sesuatu yang sangat murah dengan kualitas yang lumayan setelah mencari dengan super seksama di platform marketplace langganan saya, menggunakan segala promo pembelian online yang akhirnya membuat saya jauh lebih untung. Memuaskan diri sendiri tampaknya sedikit lebih sulit di hari ini karena standar yang bertebaran di luar sana. Mudah sekali merasa terintimidasi karena sesuatu dan bersikap biasa saja adalah salah satu cara yang paling mujarab.

Saya sering merasa sangat berterima kasih pada masa-masa perkuliahan saya yang memberikan sumbangsih pemikiran dan kesadaran yang tinggi atas setiap perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidup. Meskipun sederhana, gaya hidup bisa membuat orang merasa terbebani dan bahkan membawanya pada ketidakbahagiaan. Sesuatu yang saya pikir menyedihkan karena terjadi di kota yang menyediakan segalanya.

Akhir kata, akhirnya saya menorehkan tulisan lagi setelah sebulan tidak berhasil menghasilkan satu tulisan pun. Di sela satu bulan ini, saya sempat menghabiskan waktu untuk merenungi secara mendalam tentang tujuan saya untuk hidup. Barangkali kapan-kapan akan saya bagi sedikit. Tapi saya sendiri juga merasa bahwa memaknai hal seabsurd ini tidak layak untuk dibagi pada jiwa-jiwa tenang seperti pembaca sekalian. Jadi yah, kapan-kapan saja. Semoga kita selalu berada dalam kesadaran atas hal-hal yang kita lakukan.

wordsflow

Menjadi Jakarta


Sekitar 12 tahun yang lalu di bulan ini, ketika teman-teman saya masih sibuk menyiapkan berkas untuk pendaftaran SMA, saya mendapat telpon entah dari siapa mengabarkan bahwa ada kemungkinan saya akan menerima beasiswa untuk masuk suatu SMA yang namanya saja belum pernah saya dengar. Jauh sebelum itu, sekitar 2 tahun sebelumnya, saya menemukan satu komik yang sampai sekarang saya anggap titik mula dari perjalanan ini. Namanya QED, saya pernah menceritakannya di sini, tapi sudah lupa entah kapan. Saya juga ingat langkah berani kedua yang saya lakukan adalah mengisi soal logika matematika di kedaulatan rakyat yang ditempel di mading SMP setiap hari Kamis. Suatu hari tetiba kedaulatan rakyat membuat rubrik itu, dan alih-alih menyajikan tts, mereka memberikan soal matematika. Soal edisi pertama itu yang mengawali banyak hal setelahnya. Setiap kali mendatangi TU untuk mengecek surat dari sahabat pena saya aka Anis, saya selalu menyempatkan menengok pojok kedaulatan rakyat dan mencatat soal yang ada di sana untuk dipecahkan kemudian.

Saya pikir kejadian-kejadian itu sangatlah natural pada masanya. Saya tidak pernah betul-betul memikirkan saya akan ke mana, dengan siapa, bagaimana caranya, karena praktis yang saya lakukan setiap hari adalah berkhayal dari semua komik dan buku bacaan yang saya baca. Saya juga ingat pernah membaca Karmila dan salah satu karya Mira W di usia 13 tahun. Ketika itu saya bahkan tidak terlalu memikirkan dua bacaan itu sampai ditanya oleh guru SMA saya.

SMA, sampailah saya pada khayalan saya untuk tinggal jauh dari Jogja masuk asrama, persis seperti sinetron Cinderella Boy yang waktu itu baru saja tamat tayang. Dari seseorang yang melihat itu sebagai orang ketiga, sudut pandang saya berubah menjadi sudut pandang orang pertama. Praktis setelah itu saya tidak lagi hanya melihat atau membayangkan saja, namun juga menjalani hal-hal yang dulu hanya saya khayalkan.

Sayangnya, banyak hal yang luput dari pandangan ketika sudut pandang kita berubah menjadi orang pertama. Percayalah orang ketiga memang selalu serba tahu, persis seperti di novel-novel atau kameramen dalam film-film yang diputar di bioskop. Setelah sebelumnya tugasnya hanya melihat dan mengamati, sesekali memberi kritik, saya berubah posisi menjadi orang yang harus menjalaninya, lantas ditonton oleh orang lain. Paling dekat, paling lekat tatapannya adalah keluarga.

Ada banyak yang berubah dari Jakarta setelah 9 tahun saya tinggalkan. Ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di kota ini, saya pikir saya tidak akan pernah bisa menikmati kota ini, karena terlalu besar, terlalu panas, terlalu ‘kasar’ untuk saya. Saya di-shock therapy oleh guru-guru saya, juga oleh teman-teman saya, pertama kali saya menyadari begitulah rasanya menjadi minoritas.

Singkat cerita, setelah memantapkan diri untuk tidak lagi merebahkan badan di kota ini, nyatanya saya kembali. Sembari menapaki tangga stasiun di pagi buta, saya bertanya-tanya soal apa yang sedang saya jalani atau saya cari di kota ini. Manakala saya juga ternyata sulit menjawabnya, saya justru merasa ingin balik badan dan pulang ke Jogja, segera. Tapi saya akhirnya tetap keluar stasiun, memesan ojek online lantas mengarungi jalanan lengang Jakarta.

Menjadi Jakarta, sebetulnya tidak jauh berbeda dengan menjadi manusia Jogja. Siapa yang bilang saya tidak shock waktu pertama kali kembali ke Jogja? Teman-teman saya tentu berbeda, lingkungan saya baru, dan ternyata bukan kota yang menentukan bentuk manusia di dalamnya. Kesimpulan ini saya dapatkan jauh setelah masa tinggal saya di Jogja. Maka saya kemudian mencoba melihat bahwa manusia di Jakarta juga tidak ditentukan oleh kota ini. Saya hanya perlu mencari simpul-simpul yang sesuai dengan benang saya, sedangkan jalur lain agaknya harus saya abaikan sama sekali.

Dan di sinilah saya saat ini, duduk mengetik dengan tenang. Saya sampai di satu warung kopi milik seorang bisu. Untuk memesan kopi kamu harus tahu cara memesan sederhana, bisa membedakan bagaimana cara menyampaikan dingin dan panas. Di samping saya ada lima orang yang sedang bercerita seru dengan bahasa isyarat. Tidak ada keributan yang tidak perlu, tidak ada keramaian yang terlalu riuh. Saya anggap diri saya sedang mengumpulkan simpul ke-Jogja-an saya.

Sama seperti kebanyakan orang, saya sangat skeptis ketika tahu bahwa Jakarta akan menjadi tempat hidup saya untuk setidaknya satu dekade ke depan. Tapi kota ini, sama seperti kebanyakan kota lainnya, dicintai sekaligus dibenci, diharapkan sekaligus dinafikkan. Skeptisme ini bukan hanya melekat pada kotanya, tapi juga pada orang-orangnya. Dengan saya menjadi bagian darinya, saya juga jadi manusia yang terlibat di dalam love-hate relationship ini.

Tapi bersama kota ini saya juga dalam proses menjadi-nya. Saya cukup beruntung karena saya merasa cukup tahu kemana saya harus pergi. Ada beberapa yang merasa bahwa ‘jebakan’ ini tidak ada obatnya, lantas membiarkan dirinya terseret oleh bagian skeptis dari kota. Saya bahkan tidak beringinan untuk turut membawa mereka serta dalam upaya saya sendiri sementara saya sendiri kadang masih sulit menangani hambatannya. Saya cukup egois soal ini, dan saya tidak akan meminta maaf untuk itu.

Akhirnya, saya begitu mencintai transportasi umum Jakarta, memberi kesempatan saya untuk terus berpikir tanpa henti. Rasanya hampir mirip dengan perasaan saat mengendarai motor di Jogja, yang barangkali, beberapa tahun mendatang saya akan mulai lupa cara mengendarainya.

wordsflow

di sini, kini.


Sesuai janji hari-hari kemarin bahwa saya akan langsung menuliskan hal-hal yang saya dapatkan di hari ini juga sebelum saya kehilangan kesan, dan yah, after-thought tentang hal-hal yang saya dapat.

Sebuah privilege kalo boleh saya sebut demikian, karena saya dikaruniai lingkaran pertemanan yang bisa membawa saya ke hal-hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Misalnya ketika tiba-tiba saya kenal dengan crater senior di Indonesia melalui event atau sesedehana berhubungan online lewat instagram.Tanpa sadar saya sering panjat sosial, bukan untuk popularitas, tapi barangkali untuk membukakan jalan bagi saya yang gamang ke kanal-kanal yang lebih variatif dan memiliki sesuatu yang lebih besar dari yang pernah saya bayangkan.

Untuk itu, sampailah saya di hari ini, di tempat ini, mengetik untuk kamu semua (dan tentunya mengetik untuk saya sendiri juga) tentang hal-hal yang seharusnya saya salurkan kembali kepada orang-orang yang membutuhkan.

Mari mulai dengan sempalan ingatan, bahwa di dunia ini, kita adalah orang yang paling berpengalaman dalam menjalani hidup kita sendiri. Kita lah yang bersama dengan diri kita, kemarin, sekarang, atau entah kapan nanti, dan tidak ada orang lain yang memiliki garis takdir, atau jalan hidup yang persis sama. Untuk itu kita istimewa.

Tapi angan-angan indah itu harus tertampar oleh kenyataan bahwa dengannya, tidak akan ada orang lain yang cukup mampu untuk mengajarkan bagaimana cara hidup dengan benar, seperti apa hidup yang bahagia dan menyenangkan, atau seperti apakah hidup yang ideal? Kita semua sama mencari, dan pelan-pelan kita sadar bahwa kita akan ditinggalkan seorang diri, pada akhirnya.

Selama beberapa hari belakangan jadwal tidur saya terganggu secara mengejutkan. Saya mengalami lucid dream dalam 3 hari terakhir dengan ‘tokoh-tokoh’ yang sama setiap harinya. Luar biasa melelahkan karena begitu bangun saya seolah belum merasakan tidur. Belum lagi setelahnya saya ‘diganggu’ oleh kesan atas masing-masing mimpinya dan yah, dihantui kecemasan bahwa saya akan memiliki mimpi lain lagi di malam ini. Tapi mari kesampingkan itu sejenak untuk saya pikirkan nanti.

Well, saya berkesempatan ikut serta dalam diskusi mengenai hidup sehat di ibukota. Sebuah tema yang sangat menarik karena narasumber yang hadir adalah psikiater, musisi, praktisi nutrisi, praktisi mindfulness, serta dipandu seorang antropolog sekaligus tukang kebun merangkap musisi.

Ketika saya sampai di lokasi, tema sehat ini langsung disasar pada urusan mental health, sesuatu yang menghantui kita semua, sebagai konsekuensi atas segala kemajuan yang kita capai di hari ini.

Saya sendiri bukan sekali ini bersinggungan dengan hal ini sebagaimana yang juga pernah saya sebut di postingan sebelumnya, saya pernah dengan arogan mendiagnosis diri saya memiliki gangguan dan berupaya dengan cara dan berbagai hal untuk sedapat mungkin keluar dari masalah ini, seorang diri. Saya telusuri ke belakang, saya punya dua hal yang menyelamatkan saya di waktu-waktu paling buruk ketika itu. Pertama, bahwa saya memiliki cinta untuk seseorang dan sesuatu yang mana itu menumbuhkan hal kedua, bahwa saya merasa terlalu arogan untuk berani-beraninya membuang raga saya dan membuatnya tanpa guna. Pada pijakan yang tidak cukup kuat tersebut, saya mampu bertahan hingga hari ini. Syukur sekali.

Bicara tentang diskusi tadi, ada beberapa hal yang saya catat karena menurut saya itu penting, meskipun klise. Sebagai catatan, kadang kita terjebak pada persoalan berpikir positif atau bukan. Padahal yang sebetulnya penting adalah feel what we truly feel. Lalu menerima itu sebagai bagian dari proses.

(Wow, saya merasa semacam lagi ceramah. Sorry for that, dan sila lewati aja kalo merasa nggak penting, hehe.)

Ada banyak teman-teman yang memiliki permasalahan lebih rumit dari saya. Bedanya, kadang mereka aware lebih awal, sehingga ketika pertama saling bertemu kami sedang berada pada fase yang berbeda, dan menjadikan itu sulit dibandingkan.Yang paling kentara adalah soal bandelnya. Pada fase lanjut, kita telah menerima beberapa hal mendasar yang berguna sebagai pijakan untuk maju ke tahap ‘penyembuhan’ (saya nggak suka istilah ini), ya atau sebut saja penerimaan lebih lanjut. Dialog antara orang yang baru tahap aware dan orang yang sudah being akan mentok pada urusan ‘tapi’. Kadang-kadang, kita lebih takut untuk meninggalkan zona keterpurukan itu karena sudah terlalu lama, dia sudah menjadi bagian dari keseharian dimana kita sudah maklum. Akhirnya kita tidak pernah mulai menapaki jalan menuju being.

Saya melalui tahapan itu cukup lama, dan barangkali tidak tuntas begitu saja karena banyak negosiasi antara saya dan diri saya yang lain. Banyak toleransi yang saya berikan ke diri sendiri agar mampu menapaki fase being dengan lebih yakin.

Saya sendiri merasa sangat beruntung karena setelah tahun-tahun yang panjang, saya menyadari bahwa langkah-langkah yang saya ambil untuk menangani semua ini tidaklah sungguh-sungguh salah. Kepekaan saya pada perasaan (sebut saja kebaperan) membuat saya memiliki awareness yang cukup untuk membantu saya keluar dari masalah. Berdialog dengan diri sendiri, bercermin pada apa-apa yang ada di sekitar kita, mengambil jeda dalam sepenggal waktu untuk betul-betul merasakan apa yang kita rasakan, lalu pelan-pelan menghilangkan kemelekatan (meminjam istilah Rara Sekar) kita pada keinginan.

Tidak semudah itu tentunya. Ada banyak distraksi dan godaan untuk kembali bernaung di bawah kenyamanan perasaan terbuang, perasaan kalah, dan perasaan-perasaan lain yang serupa. Saya ingat, saya pernah 2 hari sekali jogging untuk membuang energi negatif sembari berpikir tentang banyak hal. Atau bacalah tulisan-tulisan soal mandi yang membuat saya merasakan how to be here at the moment. Belakangan saya baru tahu itu adalah metode-metode yang digunakan untuk menuju mindfulness.

Meskipun tujuan tulisan ini tidak jelas, saya mau ngasih satu rekomendasi buku yang menurut saya menarik. Bacalah buku Haruki Murakami tentang what I talk about when I talk about running. Buku itu tidak menjelaskan apapun soal mental health, tapi Murakami sendiri punya kecenderungan itu. Salah satu metodenya adalah dengan marathon. Pada beberapa bagian bukunya, dia membantu saya membangun pondasi soal being aware tentang diri kita sebagai kesatuan mind and soul, yang tidak berdiri secara terpisah, tapi hidup bersama saling mempengaruhi dan mengambil andil atas satu sama lain. Buku itu sangat transendental, dan reflektif sih menurut saya.

Demikian sekilas info.

wordsflow

I am constantly inspired by people who talk about dreams.


Ketika bangun di pagi hari ini, karena perut saya yang tidak bersahabat, saya tetiba teringat wawancara Mbak Nana dan Maudy Ayunda yang belum juga berhasil saya tonton meskipun sudah berkali-kali melihat, membaca, dan mendengarkan pembahasan mengenai wawancara mereka ini. Maka dengan badan masih menempel di kasur di subuh buta dan gemericik hujan di balik jendela (tsah, sok puitis najong) saya membuka youtube dan langsung menemukan videonya di jajaran rekomendasi.

Singkatnya, saya suka sih gaya mereka dalam membahas dan bertukar cerita di dalam video singkat tersebut. They were so pure that they talked from the heart, and I feel like they are trying to convince themselves (instead of others) that they really do something good for themselves, for their own existence.

Dari percakapan singkat itu, saya menggali kembali memori-memori masa lalu saya terutama yang berkisar tentang mimpi. Misalnya saya ingat kira-kira di tahun 2014 ketika saya belum lulus, kami pernah membicarakan tentang cita-cita selepas kuliah. Saya masih sering bilang dengan bercanda kalau mau masuk antro, entah dengan cara seperti apa. Sama halnya dengan teman saya yang juga bercerita bahwa selepas lulus akan langsung kuliah ke jurusan lain yang tidak linear, lalu menjadi peneliti di bidang yang paling dia suka. “Yang penting masih bisa outdoor,” begitu katanya suatu hari. Waktu itu, hal-hal semacam itu masih terasa cukup jauh sementara skripsi belum juga selesai.

Lebih awal lagi, saya pernah berkeinginan untuk sesekali merasakan menjadi penerima beasiswa, sesederhana karena selama sekolah dulu saya selalu tidak diperbolehkan mengajukan beasiswa karena profesi orang tua saya. Atau ingin sesekali menang lomba nyanyi atau lomba menggambar (yang mana akhirnya pernah juga saya peroleh). Atau contoh lainnya, sejak saya SD saya selalu berkeinginan untuk mendaki Merbabu sampai akhirnya sudah tidak terhitung lagi berapa kali saya mendaki gunung itu sampai hari ini.

Kadang mimpi muncul sekelebat saja di dalam benak tapi diam-diam hati kita meyakini dan mengamininya setiap hari. Tanpa sadar lantas menggerakkan diri kita, fisik dan pikiran hingga seolah tanpa sadar keyakinan itu membawa pada hal-hal yang dekat dengan tujuan. Seolah-olah dia bekerja tanpa mampu kita pahami.

Sering sekali hal semacam ini baru saya sadari ketika ada orang lain yang mencoba memancing kembali ingatan saya tentang sesuatu. Atau ketika saya mempertanyakan hal-hal yang saya jalani di hari ini. Lagi-lagi saya masih dibuat takjub dengan cara-cara ajaib yang menggubah diri saya menjadi pribadi yang yah, lebih baik.

Saya kadang mengingat kembali hal-hal yang saya pikir penting di waktu-waktu saya masih taman kanak-kanak atau saat duduk di bangku sekolah dasar. Setiap hari ada motivasi baru yang mendorong untuk mencapai sesuatu. Lucu juga ketika ingat bahwa mayoritas yang saya miliki adalah motivasi negatif, misalnya karena iri dengan teman sekelas, karena ingin mendapat perhatian dari orang lain, karena saya tidak suka kalah, atau hal-hal lain yang sifatnya kompetitif.

Kadang setiap ingat hal jelek di masa lalu saya masih bertanya-tanya apakah ada teman saya yang masih mengingat kejadian buruk itu. Misalnya ketika kelas 4 SD saya pernah melempar teman saya dengan penghapus kayu, efek nonton adegan yang sama di TV. Juga saat saya jatuh ke sungai sambil masih naik sepeda. Atau ketika saya marah-marah di SMA karena seorang teman menghilangkan flashdisk (ya ampun malu banget). Momen-momen cengeng setiap saya disuruh menyampaikan pendapat dalam debat. Atau ketika saya marah mutung karena diledek secara fisik.

Tapi terlalu banyak ingatan yang sudah memudar jauh di belakang sana. Hanya sekelumit saja yang masih saya ingat sebagai babak yang paling berkesan atau setidaknya masih menyisakan sesuatu sampai-sampai sering saya mimpikan di malam hari. Beberapa ingatan di saat kuliah tertoreh lebih tegas dan lebih kuat, terutama di kurun waktu 2011-2014 ketika saya sangat aktif di Satub. Setiap hal yang saya lakukan cukup jelas bahkan untuk diceritakan kembali dengan detil. Salah satu fase hidup paling penting lah kalau boleh saya sebut demikian.

Semakin ke sini, hal-hal yang dulu disebut mimpi kalau bukan sudah dicapai ya berarti sudah di depan mata. Paling terharu waktu tiba-tiba karib saya bilang dia berhasil masuk ke kampus impiannya. Atau ketika kawan saya yang lain ngasih kabar bahwa dia menikahi pasangan idamannya sejak sekolah. Semacam kemustahilan yang bisa membuat kita berpikir ulang sekali lagi bahwa ‘oh, ternyata itu mungkin untuk diwujudkan kok’. Di beberapa fase kadang memang ada pertanyaan semacam ‘kenapa orang lain bisa dan aku enggak?’ Saya dan karib saya pernah membahas ini untuk kemudian berkesimpulan bahwa selalu ada titik dimana kita ditampar dan dibukakan pada kenyataan pahit, tapi it doesn’t mean that we have to stop right away.

Dan seklise apapun tulisan ini, atau seambisius apapun subjek yang menulis ini, kadang menuliskan satu mimpi baru tidaklah sekekanak-kanakan itu. (merasa dejavu, sepertinya sebelum ini topik ini pernah saya bahas berulang kali) Dan mungkin naif. Tapi apalah arti tuduhan semacam itu di dunia yang tidak memiliki keistimewaan tertentu ini? Saat terkadang individu hanya berupa angka tanpa makna. Jadi yah, mari terus bermimpi. Klise kan? Huehe.

wordsflow

taman yang tidak pada tempatnya.


Sedikit membagi cerita tentang hari ini.

Dibandingkan hari-hari sebelumnya, hari ini sedikit berbeda. Satu hal yang saya sadari, ketika pindah domisili, setiap orang paling takut ketika tidak mampu membangun hubungan dengan manusia baru di lingkungan barunya.

Saya begitu, beberapa orang yang berbagi cerita dengan saya juga begitu, bahkan hasil amatan saya pada beberapa orang yang saya tahu mengindikasikan hal yang sama. Beberapa kali tukar cerita dengan kawan yang baru saja menikah, kesemuanya mengkhawatirkan lingkungan baru mereka. Dengan siapa misalnya, mereka nantinya akan berbagi cerita, dengan siapa keluar rumah atau pergi menonton film, atau hal-hal lain yang sebelumnya dilakukan dengan kawan dekat, praktis harus dilakukan sendiri atau yah, mulai mencari pengganti kawan lama.

Tentu tidak mudah menemukan orang yang cocok dengan diri kita. Pilihannya hanya dua, berusaha bertahan dan tetap mencari, atau pelan-pelan beradaptasi dengan apapun yang disediakan oleh lingkungan baru kita. Tentu saja itu bukan perkara mudah. Saya sendiri dianugerahi keberuntungan menemukan teman baru yang satu frekuensi dan menyenangkan, bisa diajak bekerja sama dan memiliki etos kerja positif. Kadang sifat mereka yang terlampau positif membuat saya malu dan mendorong saya untuk juga berlaku yang sama. Kadangkala hubungan itu masih terasa sangat sementara, yang sifatnya sambil lalu saja dan saya akan merasakan hal yang sangat berbeda begitu sampai di ruang privat saya.

Lalu, meski lingkungan baru ini jauh lebih baik dari yang pernah saya bayangkan sebelumnya, sore ini saya sedikit tertampar dengan ketidakramahan kota ini.

Saya pulang lebih malam dibanding biasanya karena memutuskan makan malam keluar dengan rekan kerja. Mungkin ini bisa saya anggap langkah lebih jauh yang kami ambil sebagai rekan kerja. Kami seumuran, pernah sekamar dan mulai membagi hal-hal yang sifatnya lebih privat. Saya cukup kagum karena dia sendiri sudah memiliki anak 2 tahun dan tetep berarsitektur, tetap bekerja. Kami sepakat bahwa setiap orang memiliki ceritanya masing-masing, dan saking anehnya kadang terlampau tidak terjangkau untuk orang lain yang hanya mendengarkan.

Selepas perpisahan itu kami berpisah bus. Bus kami baru setengah jalan ketika mendadak bus menabrak sesuatu. Beberapa penumpang terpental dan beruntungnya saja bisa mengendalikan diri. Ban bus kami terperosok di bagian taman–yang menurut saya tidak seharusnya ada di sana. Saya pikir bus akan mudah keluar, tapi ternyata tidak. Saking suara gesekannya mengkhawatirkan, saya menawarkan ke sopir untuk mengajak penumpang lain agar turun, takut ass busnya patah karena dipaksa. Setelah sekali penolakan, akhirnya si bapak pun mengiyakan.

Kami keluar ke pinggir jalan dan benar saja, ban bus tidak bisa keluar karena beban bus mendorong ban lebih jauh ke dalam. Karena bus mulai sepi, sopir mulai memundurkan bus perlahan. Saya masih melihat sekitar 10 bapak-bapak yang tidak mau turun dari bus. Kami memang tidak bantu mendorong, saya yah, hanya membantu menginstruksikan bus di belakangnya untuk mundur dan mengarahkan pak sopir. Untungnya bus segera bisa keluar dari kekacauan dan kami semua naik kembali ke dalam bus.

Sebetulnya kami bisa langsung jalan. Tetapi karena teranjur menghubungi mobil derek akhirnya bus harus menunggu mobil itu datang. Mulailah terjadi kerusuhan di dalam bus. Bapak-bapak yang sedari tadi tidak turun bus mulai ngata-ngatain pak sopirnya. Intinya meminta kejelasan nasib mereka. Meskipun seolah-olah ditelantarkan, bus itu nggak kenapa-napa, dan kami baru menunggu 5 menit sejak ban bus keluar dari masalah. Dalam sekejab semakin banyak yang ngomong kenceng dan ngata-ngatain bapaknya. Menit berikutnya kami dipersilakan turun dan mengambil bus di belakang yang mengantre jalur.

Kejadian tadi cukup membuat saya pribadi kesal luar biasa sih. Yang saya heran adalah bapak-bapak yang sama sekali tidak membantu ini seolah-olah yang membantu paling banyak atau punya kontribusi cukup banyak. Padahal mereka ini nggak turun dari bus, dan bukankah sama aja kayak pak sopirnya, sama-sama kerja yang barangkali seumuran pun sama-sama punya keluarga di rumahnya. Heran ih.

Dan begitulah kadang saya selalu merasa tidak memiliki pemahaman yang cukup untuk mampu memahami semua manusia yang pernah saya temui, menerka perasaan dan menganalisis jalan pikirannya. Tapi sebatas itu saja memang kemampuan saya dalam menilai dan berempati ke orang lain. Dan akan selalu ada orang-orang yang ‘menampar’ saya lantas membukakan mata saya terhadap apa-apa yang tidak mampu saya pahami di dunia ini.

Begitulah hari ini saya hanya mampu untuk mencoba menghapus kekesalan saya dengan berterima kasih ke pak sopir ketika saya turun sebagai penumpang terakhir bus.

wordsflow

Merawat waktu. (ii)


Saya hampir melupakan cerita ini karena belakangan saya merasa ada perubahan internalisasi kronologis (iki istilah opo ya tuhaan) yang saya alami karena begitu intensnya berpindah tempat dan kelompok sosial serta waktu tidak lagi dibatasi oleh siang dan malam atau hari ini dan kemarin, tapi ada sangat banyak perubahan yang membuat saya kadang tidak mampu mencerna secara sempurna hal-hal yang saya alami secara kronologis. Demikian setelah ini agaknya saya akan mencoba untuk tidak menunda penulisan apapun karena itu akan menjauhkan saya dari kesan yang saya peroleh atas peristiwa tertentu.

Mari melanjutkan cerita sebelumnya setelah saya kembali ke Jogja.

Di malam itu, saya berjumpa kembali dengan kawan lama yang notabene kami adalah mantan calon teman kkn. Kami tentu tidak sungguh akrab. Anehnya, sering sekali teman saya ini meminta berjumpa untuk sekadar menceritakan kesehariannya. Kami juga tidak pernah sungguh-sungguh bertukar kabar, hanya sesekali saja melalui media sosial. Mungkin yah, saya memang populer di kalangan rekan perempuan, huehe.

Keesokan harinya, saya berangkat pagi-pagi betul karena harus sampai di lokasi yang berjarak 1 jam dari Satub. Beruntung sekali teman saya mau ngasih pinjaman motor mengingat motor saya sudah dipulangkan bulan lalu. Dan bertemulah saya kemudian dengan temannya Lena. Mereka rombongan, sebagaimana yang dikabarkan kepada saya sebelum bertemu. Begitu datang kami langsung akrab, saling kenalan dan ngobrol. Baru belakangan saya tahu bahwa mereka pun belum pernah bertemu Lena. Hanya bertukar email dan yasudah, dibawalah mereka ke saya.

Bentukan saya di jauh sana yang seketika gosong diterpa matahari dan pliket karena air laut, heu.

Meski hari itu biasa saja, saya memahami bahwa menemukan orang yang bisa membantu di negeri seberang bukan hal yang sepele buat mereka. Bahkan dalam waktu yang sesingkat itu, dan mungkin kontribusi yang tidak seberapa terhadap perjalanan mereka, saya kira ada hal-hal manis yang tetap bisa dikenang, hehe. Di akhir hari, saya menerima sebuah kartu pos yang sengaja mereka bawa dari Landshut. It’s soo me and I love it.

Mereka menambah koleksi kartu pos yang sudah ditulisi, so love!

Meskipun masih punya keinginan untuk menemani teman-teman baru saya ini lebih lama lagi, tapi saya harus mengejar kereta ke Kutoarjo karena saya mengambil start dari sana. Yah, begitulah petualangan perkeretaan saya membuat saya punya pengetahuan soal kereta apa yang paling laku, waktu-waktu perjalanan paling efisien, rute alternatif, dan stasiun-stasiun pendukung perjalanan saya dari dan ke Jogja.

Perjalanan saya ke stasiun dibantu oleh teman satu Satub saya yang lain. Kadang begitulah ironi itu ada misalnya ketika saya sedang begitu bahagia seperti sore itu karena pernikahan teman baik saya dan hari yang menyenangkan, saya mendorong diri untuk mencari tahu hal yang terjadi pada teman saya yang lain. Sungguh saya sedih, meskipun si teman ini hanya bisa tertawa-tawa untuk mengimbangi kesedihannya tapi untuk menjalani hal-hal semacam perceraian dan rusaknya keluarga inti bukanlah hal yang mudah untuk dilalui. Kadang itu menampar saya begitu keras hingga menyadarkan kembali betapa sering saya mengeluhkan hal yang terjadi pada saya padahal banyak orang lain yang hidupnya tidak semulus ini. Tapi setidaknya saya ada sore itu untuk mendengarkan hal-hal yang ingin ia ceritakan.

Di waktu semacam ini saya sering mengingatkan diri sendiri untuk lebih banyak menerima hal-hal yang terjadi dalam hidup karena kadang memang begitu tiba-tiba. Bisa jadi kita bahagia luar biasa lalu detik berikutnya dilanda duka. Memang benar bahwa absurditas dan keputusasaan tidak akan pernah membawa kemana-mana, tapi saya juga tidak bisa serta menghilangkan perasaan itu dalam proses memahami sesuatu. If you know what I mean.

Dan sering sekali setiap saya merasa begitu tidak diterima oleh seseorang, ada orang-orang lain yang mencerahkan dan meluluhkan kekeraskepalaan saya dan memaksa saya menghapus kesedihan. Misalnya di pagi buta mendengar ibu-ibu cerita tentang upayanya berkunjung untuk melihat cucunya yang baru lahir, membantu memesankan taxi online untuk si ibu dan memastikan dia baik-baik saja. Atau tetiba menemukan panggilan berulang kali karena ada orang kebingungan mau mengembalikan dompet kartu saya yang jatuh di kereta.

Seperti itulah bahwa waktu sering kali tidak menjadi bagian yang bisa diajak kompromi. Tapi dia juga sebegitu bukan apa-apanya dia hingga tanpa menyadari pergerakannya pun kita masih bisa memaknai banyak hal. Jadi mari merawat apa yang ada dan bersiasat dengan hal-hal yang dikasih. Eaaa. Mbuh ah, teuing.

Terakhir, saya kasih bonus foto saujana karst Gombong sepulang dari Tasik ke Jogja. Saya sudah jatuh cinta dengan bentangan ini sejak pertama kali bolak-balik asrama semasa SMA. Bentukannya yang asik membuat saya menciptakan Ervas dan petualangannya, hehe.

wordsflow

Merawat waktu. (i)


Baik, ijinkan saya menulis judul yang sok-sok puitis semenjak saya kehilangan diksi yang apik untuk merangkai cerita serta agaknya mulai kehilangan ketajaman naratif yang sebelumnya saya pikir saya punyai. Hehe.

Sebetulnya saya semakin merasa bahwa tidak ada hal yang cukup menarik untuk dibicarakan. Perkara kenapa saya tetap menulis, mungkin didorong oleh keinginan saya untuk bercerita tentang hal-hal menarik yang saya temui sehari-hari. Sayang karena hal-hal tersebut tidak bisa saya ceitakan melulu pada orang yang sama, baiknya saya gunakan tempat ini saja. Pun sedikit banyak saya merasa diberikan keberuntungan yang tumpah ruah hingga sering kali merasa tidak layak mendapatkan hal-hal semacam itu. But yes, karena saya kadung menerimanya, maka saya bagikan saja ke orang lain, barangkali bisa menjadi bacaan yang baik.

Hemmm, saya cukup terkesan dengan minggu sangat padat yang saya jalani beberapa hari belakangan. Harus saya katakan bahwa kepindahan saya—yang harus saya terima bahwa ini akan berlangsung lama—membuat saya harus memberikan tawaran baru dan kesepakatan baru dengan diri sendiri. Dengan dimulainya hal-hal ini, sedikit banyak saya menjadi nomaden dan tidak sungguh-sungguh tinggal di suatu kota. Yah, begitulah sehingga, saya juga semakin akrab dengan perjalanan dan waktu tidur yang tidak nyaman selama di perjalanan.

Hari menyenangkan saya dimulai dengan bertemu kembali dengan Mbak Yaya, sejawat kelas marxis yang berdarah-darah lantas menjelma sebagai kakak, adik, teman sepantaran, mentor, dan temen maen, dan segala jenis bentuk kebutuhan saya akan sosok perempuan, di mbak-mbak ini saya menemukan banyak. Demikian, pertemuan itu mengobati kerinduan saya akan masa-masa duduk di bonbin sambil ngopi, makan siomay, dan diskusi sampai mabok.

Kami menghabiskan cukup banyak waktu hingga secara impulsi saya ikut Mbak Yay main ke rumahnya di Bekasi yang jauh itu. Sungguh impulsif tapi anggaplah saya mengambil kesempatan yang mungkin di waktu berikutnya akan ada lain cerita.

Sebetulnya kunjungan itu begitu dipaksakan mengingat selama dua hari berturut-turut saya mengikuti pleno cukup ketat—yang menurut saya sih mirip-mirip rapum Satub tapi versi lebih berat tanggung jawabnya—yang menyebabkan kurangnya waktu tidur. Tapi yah, setelah tahun-tahun yang panjang penggemblengan di Satub, saya sering merasa bahwa untuk hal-hal inilah saya dipersiapkan lewat Satub, hehehe. (nanti saya kasih bonus foto di belakang)

Ah, satu hal lain yang juga harus mulai saya tekuni di kota ini adalah wisata kuliner. Ini agaknya menjadi hal baru karena saya sebetulnya bukan tipikal yang suka mencoba-coba makanan baru. Dampaknya bisa membuat mood jelek tapi yah, kondisi ini mendorong saya memulai hal semacam itu. Eniwei, entah kenapa makanan-makanan berkuah di sini dua kali lebih niat dibandingkan di Jogja. Saya bahkan menemukan mie ayam enak—yang pedagangnya ngomong Jawa kalau sama saya—dengan harga 12.000 rupiah. Soto tangkar juga wow sekali terutama dengan potongan cabai (sayangnya untuk yang satu ini harus dibatasi karena lemaknya wow). Soto ayam, sop ayam, bubur, semuanya enak.

Di hari Jumat-nya, sebetulnya saya luar biasa iri dengan teman-teman yang bisa mendatangi acara akad dan resepsi-ala-punk rekan sejawat saya di Satub. Trip ke Tasik ini sudah menjadi agenda yang sangat saya nantikan sejak akhir tahun kemarin dan sayang sekali karena saya harus melewatkannya dan memaksakan diri untuk ikhlas. Tapi berhubung saya cukup baik mengenal perjalan duo sejoli ini melewati drama, prahara, lawakan, darah, dan air mata, saya pikir saya tetap harus mencuri waktu untuk bisa bertemu dengan keduanya. Maka dengan sedikit memaksa saya mencoba mengatur jadwal saya.

Selama 2 bulan terakhir sebetulnya saya memikirkan kemungkinan-kemungkinan untuk bolos, membeli tiket pesawat, pura-pura sakit, atau bahkan datang kamis dan kembali jumat tengah malam, atau berbagai alternatif transportasi lainnya. Sayangnya saya harus puas dengan satu-satunya kereta jurusan Tasik. Walhasil, saya seolah jadi tamu sok penting yang ingin diistimewakan dengan jemputan di pagi buta.

Intinya, akhirnya saya melewatkan pesta sangat asik yang saya pantau di story teman-teman sambil ketawa-ketawa sendiri melihat tingkah anak-anak. Di sisi lain saya harus menahan iri hati karena tidak bisa hadir. Di sisi paling dominan, saya begitu terharu mengingat proses begitu panjang yang dilalui dua teman baik saya ini. Jadi saya anggap perjalanan ini sebagai sebuah apresiasi atas keberanian dan keteguhan mereka untuk berkompromi menjalani hidup.

Sebetulnya saya mengalami kendala yang cukup bikin mood jelek meskipun akhirnya saya berkompromi dengan situasi dan memutuskan mencoba cara nekat; pesan grab ke Danau Lemona yang jaraknya 1 jam dari stasiun. Padahal tadinya saya mau menyerah aja. Taunya order itu langsung diterima dan dalam dingin pagi berkabut Tasik, saya menuju lokasi camping pasca resepsi-ala-punk. Belakangan saya tahu bahwa mas-mas yang mengantar saya baru 1 minggu jadi driver dan ini order terjauhnya, apalagi di pagi buta.

Singkat cerita, kerusuhan mis-koordinasi akhirnya berakhir damai. Saya bertemu dengan pasangan hipster Amel dan Agus yang mewajibkan tagar #AmalyaAgusDiakuiNegara meskipun cuma 2 jam saja. Sempat menertawakan banyak hal dan jujur saja saya hampir menangis haru sewaktu di ujung jembatan disambut si Agus. Yah maklumlah, kami pernah melewati tahun-tahun emosional di Satub sebagai rekan sejawat yang merasa tertekan oleh organisasi kami.

Bagian paling saya syukuri karena saya bisa bertemu dengan orang tua keduanya yang walaupun baru bertemu dua kali—kemarin adalah kali ketiga—saya udah dianggap saudara jauh mentang-mentang sering disebut di cerita-cerita Amel-Agus ke ortu masing-masing. Yah, janji saya terpenuhi sudah.

Sekembalinya dari Tasik saya pikir sedikit lebih liar dari rencananya, tapi syukur sekali saya bisa kembali sebelum tengah malam dan punya waktu istirahat yang cukup. Bagian surprise-nya, saya tiba-tiba diajak ketemuan sama teman lama persis ketika saya sampai di Jogja. Yah begitulah, saya sering kali tersentuh dengan kejutan-kejutan kecil semacam itu, hehe.

Hemmm, ini sedikit lebih panjang dari yang saya duga. Jadi cukup sekian dulu karena saya butuh rehat. Ditunggu ya bagian berikutnya.

wordsflow

((bonus foto))

gak usah nyari muka saya, lagi ngumpet di belakang
setelah berpisah kami baru sadar kalo nggak foto bareng, jadi sembari mengirim ini amel berpesan buat sotosop muka saya di situ, heu

I am constantly inspired by the women around me.


We move and move forward in this world, leave everything behind yet actually still walking in pain and love that remain inside. I saw and met people in depress and anxiety, knowing how hard they’ve dealt with everything, find someone who help them survived but then they also left them behind and once again, one more time trying to walk the world all alone.

I admire people who fight for themselves and still loving, not losing any love and begin to hate others. I admire people who always want to share their hard and good days, and be someone who can tell their past as something good to learn from.

.

Jadi begitu mula-mula, saya ingin bercerita bagaimana cara saya memandang mayoritas manusia di dunia ini. Hehe.

Sebetulnya saya hanya merasa terpancing dengan obrolan saya dengan seorang teman baru. Setelah cukup lama tahu satu sama lain, beberapa waktu lalu kami menyempatkan untuk pillow talk sembari menunggu waktu booking tiket dibuka. Saya tersadar kemudian, agak secara seketika soal bagaimana cara saya memandang manusia lain di dunia ini.

Akan saya sederhanakan saja. Bisa dibilang, saya membagi manusia di dunia ini menjadi dua jenis saja, dan saya kira perbedaan gender mengambil bagian yang sangat dominan di penilaian saya tentang manusia. Kenapa? Sesederhana karena menurut saya apapun yang saya lakukan, saya rasakan, saya terima dan saya jalani sebagai perempuan, akan selalu mendapatkan respon, empati, penerimaan, dan cara pandang yang berbeda dengan laki-laki manapun di dunia ini. Tidak kemudian saya juga menyepakati bahwa perempuan juga satu tipe saja, bukan. Namun pada prinsipnya, gender ini mempengaruhi cara saya memperlakukan, menilai, dan melihat seseorang.

Sedikit pernah saya ceritakan bagaimana saya dibesarkan agak terlalu dekat dengan kakak laki-laki dan ayah saya, yang mana cenderung membentuk saya untuk melihat bahwa semua laki-laki adalah pihak yang harus diajak bersaing. Jarang sekali saya merasa iri pada seorang perempuan dan cenderung menyasar laki-laki sebagai sasaran keirian. Why oh whyy.

Hampir tidak pernah sekalipun saya terpancing untuk melakukan sesuatu karena teman perempuan saya mendapatkan suatu kesempatan tertentu. Justru motivasi saya melakukan sesuatu karena misalnya, ingin mengalahkan kakak saya, ingin mengalahkan laki-laki A atau ingin lebih pintar dibanding laki-laki B.

Sebagai gantinya, saya melihat perempuan sebagai sumber inspirasi yang lain, yaitu soal pembelajaran berkehidupan menjadi perempuan. Bagi saya ini sedikit rumit karena sebagian besar hidup saya dihabiskan bersama teman laki-laki. Jarang sekali saya memiliki sosok kakak perempuan atau teman perempuan yang sebaya sampai akhirnya saya tinggal di asrama. Itu juga hanya bertahan sebentar karena di tahun berikutnya sayalah yang harus menjadi kakak.

Ketika akhirnya media online menjadi begitu memudahkan, saya mulai banyak mengakses sosok perempuan yang saya kagumi lantas mempelajari bagaimana mereka menjalani hidup. Pada titik ini saya sadar bahwa bukan prestasi mereka yang saya kejar, tapi kematangan emosionalnya sebagai seorang perempuan yang lebih ingin saya pelajari.

Teman Papua saya misalnya, Nona Nourish dengan segala masalah dan ‘perang’ internalnya sendiri toh akhirnya mampu menyelesaikan studi dan mengambil langkah berarti dari kekurangan yang dia miliki. Atau sobat pena saya jaman SMP dengan keruwetan prinsipnya akhirnya toh menjalani hari-hari yang selalu penuh tantangan sebagai sebuah kesenangan tersendiri. Teman-teman perempuan lain di Satub, teman-teman kuliah, teman-teman kerja, teman bikin usaha, atau berbagai idola virtual saya yang toh mampu meraih hal-hal yang mereka wujudkan meski hidupnya tidak baik-baik saja, pernah mengalami trauma hidup, atau menyimpan luka dan penderitaan. Mereka, dengan satu dan lain cara, mengesampingkan namun menggenggam erat hal-hal yang bisa kita anggap sebagai beban dan luka masa lalu. Meletakkannya begitu dekat untuk selalu mengingatkan bahwa tidak ada hal yang bisa menghentikan kita pada akhirnya.

Kampanye self-love juga salah satu yang paling gencar dilakukan oleh para perempuan. Menggerakkan kami untuk bisa menjadi perempuan dalam definisinya sendiri, menjadi ibu dengan caranya sendiri, dan menjalani kehidupan dengan standar kami sendiri. Kadang jika dipandang sekilas saja, hal semacam ini terkesan desperate tapi serius deh, hubungan antar perempuan barangkali terkesan rumit tapi merupakan salah satu bentuk hubungan yang paling lama bertahan karena banyaknya konflik dan negosiasi antar aktornya. Yang kandas jelas lebih banyak. Tapi yang bertahan lama niscaya memiliki kerumitan yang sulit dilihat orang luar.

Beberapa mengatakan bahwa hubungan antar-perempuan lebih cenderung palsu. Well, we define it ourselves kok at the end. Palsu atau tidak menjadi koridor yang diamini dua pihak dalam sebuah hubungan. Kalo saling memahami  dan jujur keduanya akan nyaman pada akhirnya.

And if you ever wonder about girl power, saya pikir itu salah satu yang sulit untuk disanggah.

Lalu sedikit demi sedikit saya juga mulai memahami bahwa dunia perempuan memiliki dimensi yang cukup berbeda dengan laki-laki. Bahwa ada hal-hal keperempuanan yang hanya dipahami oleh mereka yang ada di gender ini saja. Bukan kamudian saya mendiskreditkan kemampuan laki-laki  untuk juga memahami perempuan, tapi lebih kepada pendekatan tertentu terkadang hanya rasional di mata perempuan.

Berhubung saya lelah, segini saya cerita saya hari ini ya, hehe.

Terakhir, saya mau berpesan pada diri sendiri sebagai manusia yang paling setia membaca blog ini, hehehe. Jadilah baik agar kamu tidak membuat malu dirimu sendiri. Barangkali hidup bersama orang lain masih sesuatu yang terlampau jauh, tapi mari menjaga hati dan menyiapkannya untuk hal apapun yang akan terjadi dalam hidup nanti.

Okesip, tabik.

wordsflow