WORDS FLOW

just go with the flow and whatever happens, happens

Category: on Life

soal bekerja


Teringat masa-masa saya masih sekolah dan terus menerus disuntik dana oleh kedua orang tua saya untuk hidup, kadang saya meremehkan drama di tempat kerja dan bagaimana orang-orang menghadapinya. Lantas dalam hati memikirkan betul bahwa tidak akan pernah saya merelakan diri untuk menghabiskan waktu saya merasakan drama pekerjaan semacam itu.

Tapi mungkin terkadang hal-hal yang sebetulnya kita takutkan atau enggan menjalani seringkali dijatuhkan begitu saja di hadapan kita. Lantas kita mengada pada kejadian itu dan tidak lagi sekadar mengangani hal yang sebelumnya kita kira-kira. Kita dibenturkan untuk memahami atau akhirnya mengutuki. Pilihkan salah satu.

Sembari mengobrol soal kemungkinan perombakan instansi tempat saya bekerja saat ini, saya dan seorang teman kantor membicarakan tentang bagaimana kriteria seseorang yang dianggap sukses dalam bekerja. Kami mengulik mengenai parameter yang digunakan masing-masing orang dan tampakan yang muncul darinya. Beberapa orang yang dianggap sukses oleh standar dominan di masyarakat ternyata memiliki latar dan proses menjadi yang rumit dan saya kira saya pribadi tidak mau mengalaminya. Beberapa tampak begitu menyenangi pekerjaannya walaupun penampakannya biasa saja.

Sampailah kami pada pembahasan mengenai permasalahan pekerjaan yang sedang kami alami di kantor. Masing-masing kami yang awam dengan sektor tempat kami bekerja dan sistem paten yang sulit untuk dirombak tentu memiliki kekecewaan tertentu dengan apa yang ada. Kami memprotes ini dan itu, mencoba saling menyemangati satu sama lain, bahkan tidak jarang wacana untuk keluar kami perbincangkan sebagai teman makan siang atau pelipur ketika harus merelakan akhir minggu.

Ketika memikirkan ini, saya selalu mengingat bahwa ada begitu banyak orang yang sebetulnya rela mengambil tempat kami bekerja. Dari beberapa pengalaman kecil saya dalam bekerja, baik di sektor formal, informal, serabutan, tukang input data, bahkan menjadi pengusaha, niscaya semua orang menginginkan hal yang sama; kerja ringan, mudah, libur pada waktunya, dan gaji besar. Tapi kembali lagi, beberapa motivasi saya untuk bekerja sebelumnya tidak terletak pada bayaran. Beberapa justru saya ambil dalam upaya saya melarikan diri dari sesuatu, atau menambah pengalaman dan pride karena pernah melakukan ini, atau pernah menjadi bagian dari kegiatan itu. Salah satu yang selalu mengingatkan saya soal pengalaman kerja adalah kerja di startup dengan manajemen yang amburadul, bos yang selalu ribut, keuangan ambyar, pegawai tidak dibayar bahkan dihutangi, ditelponin orang karena hutang, kerja hingga larut malam bahkan pagi buta, tapi menyisakan pelajaran yang barangkali akan selalu saya ingat.

Meski demikian, ketika memikirkan sekarang saya hampir takjub dengan diri saya yang betah di pekerjaan itu pada masanya. Mengingat itu saya kembali berkaca pada kami di hari ini, mencoba melihat dimana letak pemasalahan yang menjadi motivasi munculnya gugatan.

Tapi kiranya tidak bijak bagi saya untuk mendetilkan cerita ini, hehe. Saya cukup berkaca dari pada pendahulu saya di tempat ini soal bagaimana mereka bekerja karena merasa yang kami kerjakan betul-betul membantu dan memberi manfaat untuk orang lain. Kadang sulit juga untuk mengelak bahwa kondisi internal dapat memengaruhi mood tapi seharusnya kerja menuntut kita untuk mengesampingkan hal-hal semacam itu dan alih orientasi pada kualitas kerja. Alih-alih memusingkan bahwa atasan kita A dan B, mengerjakan semaksimal yang kita bisa cukup memperbaiki mood saya sehari-hari. Hanya saja di suatu waktu saya sampai pada titik muak karena sulit sekali melakukan penetrasi ke dalam sistem dalam upaya memperbaiki skema kerja atau eksekusi pekerjaan sesuai dengan gaya yang menurut kita lebih efisien dan efektif.

Dibandingkan masa-masa saya kuliah, waktu luang menjadi lebih sedikit karena begitu selesai bekerja, jalanan membuat tubuh lelah, udara begitu tidak sehat sehingga saya merasa pernapasan saya bermasalah selama beberapa minggu belakangan. Jujur saja, saya iri dengan kebebasan saya di masa lalu dengan semua waktu luang untuk membaca buku, diskusi kritis, bermain-main, yang sayang sekali bekasnya sudah hampir hilang diterpa tuntutan sehari-hari untuk bertahan hidup. Saya bahkan tak lagi punya keberanian untuk mengutarakan pendapat di tengah memanasnya berbagai fenomena sosial dan lingkungan hari ini. Meski tetap membaca, semua hal yang saya tahu adalah hal-hal yang permukaan saja, yang tidak saya tahu sama sekali.

Juga, saya masih terus mengembangkan bisnis dengan menerapkan prinsip-prinsip dasar kapitalisme. Tapi meskipun saya menyukai konsep kapitalisme dalam ranah ekonomi, saya memilih tidak menerapkannya, tidak terlalu berorientasi pada akumulasi nilai lebih dan tidak menerapkan bisnis model kapital intensif. Kadang saya gugup meyakini sesuatu di tengah gejolak masyarakat yang ekstrim dan mudah marah. Juga kalut ketika berhadapan dengan rekan-rekan saya yang begitu siap menghadapi apapun di luar keyakinannya. Sementara itu saya terus menerus berlindung di dalam bilik perlindungan pribadi dengan semua nilai serta prinsip yang saya yakini sendiri. Meski begitu, saya yakin semua orang ingin merdeka dari opresi dan penjajahan, sebagaimana saya juga ingin merdeka dalam pekerjaan. Sebagaimana saya, bangsa yang ingin merdeka mungkin tidak membenci manusia-manusianya, tapi mengutuk sistemnya, dan memerangi praktik opresinya. Entahlah, saya juga tak mampu banyak bicara.

Sekian, mari akhiri saja tulisan ini di sini.

wordsflow

Selasa Berkebaya


Sedari kemarin Pak Bos udah heboh nyuruh semua orang pake kebaya ke kantor. Diingetin dari pagi, siang, sore sampai akhirnya semua orang yakin buat pake kain atau kebaya ke kantor. Hahaha.

Gemes sih, tapi suka. Fun fact, saya dan Pak Bos ultahnya samaan, dan beliau orang pertama yang ngucapin selamat ke saya tahun ini, soalnya udah ngecim dari jaman penerimaan pegawai. Senang sekali karena Pak Bos karakternya mirip Pak Kumis, dan jadi terharu gitu punya bos sebaek beliau. :’

Singkat saja ya postingan ini tribut untuk hari yang hectic tapi seru.

ps. Mbak-mbak baju putih sebelah kanan itu idola saya di kantor. Tapi bentar lagi resign, :’

wordsflow

Menyoal Cinta


Barangkali menjadi relevan kembali untuk membicarakan cinta. Terlepas dari apa yang sudah, sedang, dan akan saya alami terkait topik ini, membicarakan cinta sudah menjadi hal yang paling menarik di abad ini. Segala isu di luar itu kalah dan hampir tidak punya kekuatan untuk melawan popularitas topik percintaan di masa kini. Sebut saja isu-isu penting nasional dan internasional, misalnya soal sampah, pemanasan global, perburuan satwa, berkurangnya tutupan hutan, dst. Barangkali pesaing topik ini cuman abang-abang boyband Korea, skinker, sama perkucing-anjingan.

Okai ini lebay sih, bisa diabaikan, hahaha.

Again, membicarakan cinta menjadi relevan karena hampir setiap orang di dunia ini (saya katakan hampir karena selalu ada yang tidak), pernah mengalami pasang surut kehidupan karena percintaan. Perkembangan hidup kita, berisikan cinta di sepanjang perjalanannya, menempatkan kita menjadi objek, penonton, subjek, dan barangkali penasihat. Begitu banyak meme, percakapan virtual, and even like what the one said to me, “and other lies you can tell to yourself.”

Pembicaraan mengenai ini menjadi menarik kembali karena saya lagi-lagi masih menemukan relevansinya dengan hidup saya sendiri, dan apa yang saya pelajari dari sekitaran saya.

Seorang senior menyebutkan bahwa melalui pengamatannya,

Tentang nikah dan berprestasi: semakin banyak ketemu orang ‘berprestasi’, polanya justru kebanyakan sudah ‘menikah’/punya hubungan jangka panjang. Semacam konsekuensi alamiah dari kemampuan berkomitmen dan kedewasaan emosional, yang biasanya berkorelasi positif dengan pencapaian.

(Kausalitasnya belum konklusif tapi ya. Misal menurut satu sisi mungkin support moral partner menjaga ‘emotional hygiene’ sehingga lebih produktif dan fokus. Atau sebaliknya, prestasi leads to a certain socio-economic status that helps you find partner menurut pendapat lain.)

Sebetulnya jika dimaknai barangkali sudah tidak perlu ada penjelasan tambahan tentang pernyataan di atas. Tapi kalau saya boleh menggarisbawahi pernyataan ini, ada beberapa kata kunci yang bisa mengawali pembicaraan mengenai hal ini.

Yang paling menarik adalah penyebutan tentang kemampuan berkomitmen dan kedewasaan emosional.

Barangkali klise saja, dan tidak ada yang mengejutkan dari hal ini. Komitmen menarik dibicarakan karena sejauh yang saya lihat dari lingkungan sekitar, ada perubahan dalam diri seseorang ketika kita sudah berani mengambil komitmen tentang sesuatu. Tapi pertanyaannya, yang bagaimana yang bisa disebut sebagai komitmen. Kadang kita bias saja menyebut sesuatu sebagai sebuah komitmen karena sudah diputuskan, padahal kita semua, setidaknya sekali pernah terjebak pada salah kaprah pemahaman atas komitmen.

Kenapa komitmen dan kedewasaan emosional perlu disandingkan, karena keduanya memiliki hubungan kausalitas, atau jika boleh saya katakan bahwa kedewasaan emosional membawa kita pada hal-hal semacam komitmen, in their real meaning. Bisa jadi, itu juga yang menyebabkan komitmen tidak disebut dalam kata dasarnya namun sebagai sebuah ‘memampuan berkomitmen’. But there, butuh kedewasaan emosional agar kita mampu melakukannya.

Menilik ke kehidupan personal saya berkaitan dengan ini, ada beberapa tahapan hidup yang saya putuskan dalam kekalutan, kemarahan, atau sekelumit dendam. Gejolaknya memang tidak cukup besar, tapi pada titik tertentu mengguncang stabilitas emosional harian saya di lingkungan baru. Membuat saya mempertanyakan kembali apakah saya kurang bersungguh-sungguh dalam mengasah kedewasaan emosional saya. Komitmen saya tidak berjalan mulus karena saya mengkhianatinya dan lebih memilih mengikuti emosi saya.

Ada banyak teman-teman saya yang memiliki kedewasaan emosial sejak saya masih berada di titik paling arogan. Mereka yang kemudian membuat saya sadar ada yang salah dengan diri saya dan karenanya saya menggali-gali seorang diri (meski akhirnya meminta bantuan) untuk menemukan bongkahan-bongkahan kebebalan lantas mencoba melihatnya dari segala sudut.

Saya pikir, titik moksanya manusia dalam menjalani kefanaan ada pada kedewasaan emosionalnya. (anjay nih ngomong apa sih) Bukan berarti harus selalu menjadi positif, atau menjadi protagonis dalam setiap kesempatan. Mendewasa menurut saya mungkin lebih dekat dengan kesadaran (being aware) atas diri. Tahu kapan berbahagia, kapan menangis atau kapan menghentikannya, menyadari setiap hal yang kita rasakan. Olah rasa mereka menyebutnya. Tapi yah, saya bahkan tidak berani mengira-ira kapan saya bakal lulus dalam menjalani tahap pembelajaran ini.

Lalu korelasinya dengan mencintai apa? Karena mencintai adalah komitmen, dimana dibutuhkan kedewasaan emosional untuk membuatnya menjadi benar.

Sempat terpikir oleh saya bahwa mencintai saja ternyata tidak cukup. Manusia membutuhkan ‘imbalan’ atas cinta itu dengan dicintai dengan sama besar. Kadang tidak bersyarat, tapi saya sendiri menyadari bahwa saya menetapkan standar-standar tertentu. Apa sebab saya bisa tahu? Karena pada satu titik saya merasa tidak adil bahwa saya tidak dicintai sebesar yang saya kira saya berikan ke orang lain. Tapi pemikiran semacam ini pun perlu saya ragukan kebenarannya karena praktis selama 27 tahun hidup saya, saya tidak pernah mencintai dengan benar. Saya curiga bahwa saya hanya merasa mencintai seseorang alih-alih betul-betul melakukannya.

Dan barangkali benar bukan seperti itu. Ketika seseorang mencapai kedewasaan emosional, dia akan tahu kapan bertahan dan kapan melepaskan. Dia mengerti komitmen semacam apa yang sebaiknya diambil. Entah kenapa saya yakin bahwa kedewasaan emosional lah yang menjamin berjalannya komitmen, dan bukan sebaliknya.

Tapi yah, saya kurang tahu sampai di mana kah saya saat ini. Pun saya kadang masih terjerumus ke dalam perasaan di dalam diri dan sering sukar untuk melawannya. Saking saya harus memetakan berbagai badai emosional yang saya rasakan, kadang saya menulis buku harian dengan berderai air mata, kehilangan jam-jam istirahat karena meladeni keinginan untuk menangis saat itu juga, atau sengaja mencari film yang memancing emosi-emosi tertentu. So silly but it helped me to track back my emotions.

Sebagaimana yang saya sebutkan, tulisan ini saya buat karena terpancing dengan pernyataan di atas. Mana mungkin orang yang tidak bisa melakukan satu hal dengan benar berani-beraninya menulis hal semacam ini? Hehehe. Tapi justru dengan alasan yang sama, saya mencoba membenahi apa yang salah dari nalar dan kemampuan saya dalam merasa.

Meskipun ada beberapa prinsip yang coba saya jalani, saya juga menyadari bahwa sebebal-bebalnya manusia, kita selalu butuh orang lain untuk bergantung. Barangkali untuk memberikan dukungan emosional atau justru untuk kita sirami cinta sebanyak yang kita mau. Dengan memikirkan ini saya sering merasa tenang melihat teman-teman saya mendadak menikah karena dijodohkan atau bertemu dengan orang yang sama sekali baru.

Sebelum benar-benar mencapai akhir paragraf, saya ingin berpesan satu hal. Karena mencintai itu bagian besar, ketika cintamu berbalas, maka berbahagialah. Cintailah pasanganmu sebaik-baiknya kamu ingin dicintai. Di tengah argumen tentang cinta yang semakin banal dan ‘tidak istimewa’, mampu mencintai dengan benar saja sudah sangat baik, terlebih ketika kamu dapat menemukan frekuensi yang sama atas perasaan itu. Dan untuk Anda-Anda yang belum berpasangan, mencintailah dengan benar meski cintamu tidak berbalas. Setidaknya kamu memberi yang orang lain butuhkan, yang dunia ini butuhkan, yang kamu sendiri juga butuhkan. Percaya deh, tidak ada yang sia-sia dari cinta.

Akhir kata, sampai di sini saya masih ragu saya menulis apa, karena apalah arti tulisan ini sementara saya masih percaya zodiak dan golongan darah. Hahahaha.

Ya begitulah, antara bohong dan tidak, bergitulah saya mencoba berkamuflase dalam berkehidupan.

Semoga berkenan dengan tulisan ini. Tabik.

wordsflow

Menjadi Jakarta (ii)


Tanpa disadari saya sudah memasuki bulan ke tujuh di kota asing ini, yang yah, selama seminggu-dua minggu belakangan banyak dibicarakan karena sempat menduduki peringkat pertama kota dengan polusi udara terburuk di dunia. Rasa-rasanya bahkan tanpa indikator itu pun, udara Jakarta memang tidak jelas juntrungannya. Anehnya, saya setiap malam selimutan karena kedinginan meskipun tidur tanpa ac atau kipas angin. Barangkali iklim di sekitar kosan saya memang lebih asik. Saya pribadi sebetulnya bodo amat dengan indikator ketercemaran itu. Tanpa itu pun masalah yang dihadapi Jakarta sudah sangat banyak. Dan barangkali indikator polusi udara hanya selentingan kecil dari bergitu banyak masalah yang ada di Jakarta. Itu kita belum membicarakan soal air, RTH, apalagi daya dukung lingkungan.

Kadang ketika membayangkan apakah sebuah kota betul-betul punya limit tertentu? Padahal jika dibandingkan dengan kota-kota megapolitan lain yang ada di dunia, Jakarta belum lah sepenuh itu. Manhattan misalnya, dengan gedung yang lebih tinggi, kepadatan yang lebih intens, dan seterusnya, terasa lebih apa ya, ‘ramah’ aja gitu ketimbang Jakarta. Meski demikian saya yakin ground coverage Jakarta sudah melebihi batas sih. Tidak ada ruang bagi tanah di bawah Jakarta untuk bernapas lebih bebas.

Eniwei, disamping kesemrawutan Jakarta, saya sendiri menyukai beberapa detil kecil yang mungkin luput oleh orang lain, atau tidak dirasakan orang lain karena mereka tidak berada di kondisi seperti saya. Beruntung sekali misalnya, jalur berangkat saya lewat Menteng dimana pohon-pohon besar masih tumbuh di kanan kiri. Selalu masih bisa melihat kabut-kabut tipis yang sifatnya lokal saja di Taman Suropati, agaknya ini adalah taman terbaik di Jakarta. Sementara itu untuk pulang saya selalu bisa naik trans Jakarta yang selalu penuh sepanjang waktu, semalam apapun saya pulang dari kantor.

Lagi-lagi, di tengah semrawutnya Jakarta, ada cukup banyak hal yang masih menyenangkan. Tentu saja menyebut hal-hal setelah ini sebagai sesuatu yang menyenangkan berakar dari potensi besar untuk terus merasa kesepian di kota ini. Sebuah keniscayaan ketika teman kantormu meskipun masih seumuran tapi rata-rata sudah berkeluarga dan tinggal sedikit lebih keluar kota, atau teman-temanmu yang belum menikah mayoritas sudah lama tinggal di Jakarta dan yah, sudah memiliki geng gaul sendiri dimana gaya mainnya bukan tipemu. Dan faktor yang selalu membuat saya maju-mundur, adalah kenyataan bahwa saya sering ogah basa-basi main dengan orang lain yang saya belum betul-betul paham karakternya. Masalahnya, memahami karakter rekan kerja ternyata sedikit lebih rumit dibandingkan yang saya bayangkan karena praktis tidak ada kegiatan non formal apapun yang bisa menjadi gerbang masuk analisis karakter, sehingga apa-apa jadinya ya formal aja. Begitulah, saya menyerah mencari teman karib yang baru di kota asing.

Maka pilihan yang paling tepat adalah berteman karib dengan diri sendiri. Hehehe. Bagian ini sedikit rumit karena bahkan di waktu-waktu tertentu saya sendiri juga sering kesal dengan diri sendiri. Ngerti lah ya maksudnya. Hubungannya agak love-hate relationship sih, tapi saya berusaha lebih banyak love-nya. Hahahaha.

Yak begitulah. Jakarta menawarkan tiga hal baru yang bisa saya masukkan ke dalam daftar kesibukan harian saya. Bedanya, seluruh kesibukan itu baru bisa saya lakukan selepas pulang kerja, yang artinya di atas jam 18.30 mengingat hampir tidak mungkin lagi bagi saya untuk pulang tepat waktu.

Pertama, wisata kuliner. Suatu hari di awal pindah saya, Mbak Teppy (iya betul, yang suka review film itu) mempromosikan akun @darihaltekehalte (saya curiga itu dia yang bikin sih, hampir yakin 100%) yang ngasih info tempat-tempat makan enak sekitar halte. Pas banget momennya dengan dibukanya jalur MRT secara resmi dan voila, dalam beberapa bulan mereka sudah super femes dengan ratusan rekomendasi tempat makan. Premisnya seru sih, karena Jakarta adalah kota rantau, kamu akan bisa menemukan makanan paling enak dari semua daerah di Indonesia. They tried to prove that they are right, and they did it.

Yang lumayan seru sih karena kantor saya deket jalan Sabang yang merupakan salah satu penggal jalan paling terkenal se Jakarta karena makanannya. Jadilah ketika istirahat siang hari Jumat yang lebih lama dari biasanya, kami sempatkan menjajal beberapa tempat makan bergantian setiap minggu. Salah satu favorit saya sih Claypot Popo. Tampilannya asik, makanannya enak, dan kopi tariknya enak banget. Atau kalau malam saya juga sering jalan sampai Sarinah untuk sight seeing atau mampir beli makanan di beberapa warung tendanya. Beberapa kali saya bahkan sengaja naik MRT atau KRL sekedar untuk menuju tempat makan yang membuat saya penasaran. Sesederhana itu sebetulnya, tapi wisata kuliner adalah hal yang paling bisa ditawarkan oleh kota seruwet Jakarta.

Kedua, menjadi anak nonton. Sebetulnya, Jakarta tidak betul-betulnya memaksa saya jadi anak nonton sih. Berawal dari mengenal JAFF di akhir tahun lalu dan menjadi merchant partnernya, saya merasa terbuka wawasannya akan seasik apa sih punya hobi nonton, hehehe. Alhasil setelah selesai event dan tidak berhasil nonton film apapun karena semua tiket sold out, saya mulai nonton sendiri karena jauh lebih efektif dan efisien tanpa perlu berdebat soal apa, kapan, dan dimana mau nonton film. Juga bertemu dengan akun film baru yang adminnya tengil, jadi saya terpanggil buat follow, hahahaha.

Begitulah, ya walaupun nggak ngerti-ngerti amat soal dunia perfilman, artis dan aktor embuh siapa, atau franchise film semacam Toy Story misal (yang baru saya tonton tepat sebelum nonton film ke empatnya). Apalagi banyak bioskop enak di sekitar kosan yang jaraknya nggak sampai 5 menit, banyak pilihan bioskop murah dengan layar segede gaban, jam tayang banyak, dan yang paling penting, promo diskon :’. Penyelamat kantong banget. Susah sih ya mau banyak gaya tapi hemat di ibu kota tuh butuh strategi, hehe.

Dan terakhir tentu saja, performing art dan pameran yang sebetulnya ada banyak tapi kudu check dan recheck tanggal. Salah satu yang paling saya tunggu-tunggu dari dulu adalah nonton Jakarta City Philharmonic. Sudah ngikuti dari jaman mereka baru dibentuk pertama kali berkat Mas Suta yang merupakan idola violinist sejak jaman masih sering nampil di Tembi atau di ISI ternyata gabung orchestra ini juga. Yha meskipun kadang kalo nonton suka super ngantuk karena repertoarnya yang enak, tapi pengen nonton banget.

Atau event-event lain yang diselenggarakan oleh Galeri Indonesia Kaya misalnya, atau Salihara, atau komunitas-komunitas kreatif di Jakarta yang kegiatannya juga super banyak. Banyak sih pilihannya. Cuman kadang kalo udah naik bis pengen langsung aja sampe kosan terus leyeh-leyeh. Hehe.

Okeeiii. Demikian cerita bahagia dari saya sebagai perayaan karena saya sudah menemukan foto profil yang pas untuk akun whatsapp saya. Huehehehhehehe.

Semoga kalian berkenan. Love you.

wordsflow

22.22


Baiklah saya mau nambah postingan untuk blog ini. Sembari memikirkan apa sekiranya yang bisa saya tuliskan, agaknya saya sekali lagi tengah mengalami perputaran emosional yang sebetulnya sudah saya rasakan beberapa kali dalam kurun 5 tahun belakangan.

Saya menyadari ternyata sulit bagi saya untuk mengingat apa yang terjadi pada saya selepas saya selesai menjalani kuliah arsitektur. Bahkan saya baru sadar bahwa sudah hampir 6 bulan saya pindah ke Jakarta tapi ingatan saya tentang kurun waktu ini ternyata samar-samar saja. Pertanyaannya kemudian, saya isi dengan apa slot memori dalam kurun waktu ini? Hehehe. Jawabnya ada, di ujung langit, kita ke sana dengan seorang anak, anak yang tangkas, dan juga pemberaniiii.

Ya begitulah, ada banyak hal yang mengganggu saya.

Tapi sadar atau tidak, meski begitu kuat saya mengatakan tidak, Jakarta memang merusak stabilitas emosional saya pada waktu-waktu tertentu. Gejolak emosional yang saya rasakan jauh lebih ekstrim ketimbang ketika saya masih ada di Jogja. Sebabnya apa? Kondisi lingkungan yang tidak seasik Jogja, deretan manusia yang tidak tampak manusiawi, sentimen orang-orang terhadap gaya hidup dan pilihan kita, dan alih fokus saya dari dunia nyata ke dunia maya.

Yang terakhir adalah rutinitas yang ternyata mempengaruhi saya jauh lebih dalam dari yang saya kira. Sudah banyak artikel dan perbincangan mengenai pengaruh media sosial terhadap kita, tapi bagaimana kiranya dia sungguh berpengaruh, kadang sering kita kesampingkan begitu saja.

Sebagai contoh, suatu ketika saat saya sedang fokus dengan pekerjaan saya hingga tengah malam, kebosanan membawa saya pada jendela-jendela linimasa yang menunjukkan kegiatan teman-teman karib saya di Jogja. Kegiatan mereka menarik ingatan dan pikiran saya untuk ‘melompati’ ruang-waktu lantas ber-ada pada ruang-waktu yang sejajar dengan mereka. Ponsel pintar kita menggantikan daya imajinasi kita dan menyediakan segala hal yang bisa ‘membawa’ kita melompati jarak ruang-waktu itu sendiri. Sehingga demikian, meski raga saya masih melekat di tempat duduk sembari rapat dengan rekan kerja, pikiran saya, daya imajinasi saya, fokus saya, semuanya telah ada di tengah-tengah hingar bingar keseruan bersama rekan-rekan saya di Jogja.

Dampaknya apa?

Tentu, itu ibarat kita naik kendaraan dengan jendela ditutup rapat sehingga apapun yang ada di luar tidak akan bisa kita rasakan dan kita pahami, segalanya berlangsung sambil lalu saja. Seluruh indra saya terpecah dan hanya menyisakan memori visual tanpa benar-benar mengendap sebagai memori yang mencakup rasa dan respon emosional.

Terkadang metode ini berhasil menyelamatkan saya dari kebosanan mengikuti kegiatan atau hal-hal yang mengganggu saya pada kondisi faktual. Tapi di saat tertentu justru pikiran saya melayang di antara yang nyata dan maya, tidak berada di salah satu sisinya. Dan alih-alih merasa terhindar dari perasaan-perasaan mengganggu di dunia nyata, atau turut merasakan euphoria dunia maya, saya justru merasa kosong belaka.

Pada titik inilah segala bentuk pertanyaan eksistensial, ketuhanan, emosional, filosofis, kritis, ya apapun lah yang abstrak-abstrak itu, atau bahkan kadang yang tidak abstrak sama sekali menyeruak ke permukaan dan memboikot pikiran saya begitu saja. Lucu ya, akhirnya saya jadi harus melawan diri saya yang lain untuk bisa kembali membumi dan berada pada tempatnya.

Kadang saya gagal dan jatuh frustasi dengan aksi boikot itu dan mau tidak mau harus mencari bala bantuan dengan metode tertentu. Tentu juga barangkali sama seperti manusia lain yang hidup di kota dengan kesibukan abstrak dan cenderung menekan, hidup normal dengan proporsi kerja-istirahat-liburan yang kurang ideal terasa luar biasa sulit di sini. Mayoritas fokus kerja terpecah ke banyak hal antara lapar atau ingin pulang ke rumah. Berbarengan dengan perasaan tertekan karena harus menyelesaikan pekerjaan dengan baik dengan resiko tertentu, kadang tidak suka tapi kamu butuh uang untuk hidup.

Tapi lagi-lagi, bukan berarti hal semacam itu mustahil untuk diraih. Pada kondisi tertentu hidup di Jogja juga terasa begitu menekan tapi dengan faktor yang sedikit berbeda. Keseharian kita diisi dengan artikel-artikel tentang upaya menjabarkan gejala dan resiko generasi milenial yang disebut sebagai generasi yang gila kerja, jaminan hari tua yang minim, angka perceraian tinggi, ketidakmampuan memiliki properti, seringnya berpindah-pindah kerja, dan lain sebagainya. Kita tergencat sana sini oleh hal-hal semacam itu yang tersebar secara tidak bertanggung jawab di kanal-kanal media sosial atau percakapan pribadi.

Di Jakarta mudah sekali menjatuhkan penghakiman pada seseorang karena penampilan atau gaya hidupnya. Kamu harus betul-betul sadar menjadi diri yang seperti apa dengan cara apa. Bersiasat begitu jeli untuk menemukan celah-celah yang akan tetap membawa diri kita ya menjadi kita apa adanya.

Klise sih sebetulnya, karena toh kita semua melakukan ini. Tapi menahan diri untuk tidak tertarik masuk pada lingkaran gaya hidup kelompok tertentu baik dalam lingkaran pertemanan nyata dan maya adalah tantangan yang sama-sama kita hadapi bersama, di manapun kita berada. Well, untuk hal ini marilah kita kutuk kanal-kanal media sosial dan mulai menyaring apa-apa yang ingin kita lihat dan kita telaah darinya.

Lagi-lagi, senang sekali saya masih memiliki ruang semacam ini untuk tetap berada pada jalur perjalanan saya tanpa harus digempur kanan kiri oleh hal-hal yang sedang naik daun. Blog ini semacam suaka dan senang sekali mengetahui bahwa masih ada orang-orang yang sering menulis panjang dan terus menghidupi dunia paralelnya tanpa penghakiman. Benar, kadang kita tidak sadar begitu lelah karena menghidupi diri kita di berbagai kanal dalam waktu yang bersamaan. Kita membentuk diri kita menjadi beberapa figure yang berbeda, atau mengulang penggambaran figure yang sama pada jendela yang berbeda. Dengannya kita—atau saya—sering melupakan bahwa di antara jendela-jendela itu ada pintu yang bukan hanya menampilkan citra tapi betul-betul membawa saya keluar ke mana pun yang saya mau.

Akhir kata, hari sudah berganti dan inilah saatnya bagi saya untuk undur diri.

Semoga esok kita masih bisa saling menyapa di salah satu jendela favorit saya ini. Tabik.

wordsflow

Instrumen.


Semalam RADWIMPS mengunggah music video mereka untuk Weathering With You, part orchestranya suka, juga gubahan liriknya. Lalu ternyata perjalanan blogging saya agaknya memicu saya untuk menuliskan tulisan ini.

Tapi sebelum itu, saya ingin sedikit berbagi. Belakangan saya dirundung perasaan yang tidak menyenangkan dan saya pikir saya sendiri kurang mampu pun kurang bijak dalam menanggapinya. Kadang saya ingin menunjukkan keinginan saya untuk diperhatikan atau dipedulikan oleh orang lain, meskipun barangkali beberapa saat kemudian saya akan merasa bahwa hal semacam itu terlampau kekanakan. Tapi mari sekali lagi mengakui bahwa istilah ‘mendewasa’ itu kadang membebani. Saya mulai merasa bersalah ketika mengekspresikan emosi akan sesuatu, atau menumpahkan emosi melalui media tertentu. Toh sebagai manusia kamu tidak perlu tampak bahagia sepanjang waktu. Saya suka ingin bilang dengan jumawa bahwa kita merdeka menjadi diri sendiri, tapi seringnya lupa bahwa kita hidup bersama orang lain. Jadi akhirnya lagi-lagi merasa salah karena menerima feedback yang tidak menyenangkan. I paid for my ignorance. Hahaha, kesel.

Well, memikirkan ini sering membuat saya hilang arah dan harus memaksakan diri tidur sebelum mengarah ke hal-hal yang tidak jelas. Jadi sekarang, mari kita bicara yang enteng-enteng saja.

Setiap kali mendengarkan radio hari kamis, saya sering kali merasa terpanggil untuk menulis tentang lagu-lagu yang membekas di ingatan saya. Jauh sebelum tulisan ini, saya pernah membahas beberapa, meski seadanya. Tapi barangkali, yang sedikit mengejutkan saya, ada beberapa lagu yang ketika saya dengarkan ulang kemudian menyisakan kesan yang lebih mendalam.

Minggu lalu ketika iseng mencoba memperbarui playlist saya yang lama, seorang teman bertanya, musik seperti apa yang saya sukai atau barangkali siapa yang saya anggap menarik? Saya baru menyadari bahwa musik menempati dimensi yang sedikit berjarak dari saya. Dibandingkan mendekatinya, terkadang saya lebih tertarik pada lagu yang tidak sengaja mampir, lantas memikat hati saya.

Saya tidak mendengarkan The Beatles, hal yang barangkali agak aneh mengingat mereka adalah kiblat pemusik seluruh dunia. Tapi bukan berarti saya tidak tahu satu pun lagu mereka. Di dunia dimana The Beatles ibarat imam, kamu tentu saja akan sesekali mendengarkan Yesterday, Hey Jude atau beberapa lagunya yang lain. Ketika pertama kali betul-betul berniat mendengarkan albumnya, saya cenderung menganggapnya membosankan.

Tapi ternyata kemudian saya jatuh cinta pada lagunya yang While My Guitar Gently Weeps. Suka, suka banget. Saya sering mendengarkan lagu dengan headset, dan belakangan headset saya mengalami peningkatan kualitas, yang karenanya detil-detil instrument tipis-tipis yang terkadang luput dari telinga saya akhirnya bisa tertangkap dan entah bagaimana semakin sering saya mengulang lagunya, semakin ingin saya mengenal The Beatles. Hehe.

Saya bisa dengan mudah tertarik pada sebuah lagu karena instrumen pada intro lagunya. Kita kadang merasakan hal semacam itu nggak sih sama lagu yang kita suka? Kadang kamu kecewa dengan lagu di tengah-tengahnya, atau terkejut di bagian akhir. Tapi instrumen menjadi bagian paling menarik menurut saya. Kadang semakin tertarik karena merasa liriknya saya suka, dan cenderung menimbulkan pertanyaan kenapa lirik itu bisa muncul.

Tapi satu hal juga barangkali, saya suka sekali dengan musik yang emosional, entah ekspresi sedih, depresi, mengharu biru, kemarahan, yah atau emosi-emosi sejenis. Ya bukan berarti saya nggak suka musik jenis lain yang lebih ceria. Saya suka beberapa lagu-lagu Korea loh, hahaha. Tapi barangkali lagu-lagu itu tidak akan pernah menjadi rujukan saya ketika ingin mendengarkan lagu sih.

Atau, lagu-lagu yang saya temukan dari sebuah film. Dari begitu banyak album, list teratas saya masih Kimi No Na Wa. Barangkali karena saya bukan hanya menyimpan kesan, namun juga cerita, perasaan, emosi, dan pemikiran-pemikiran tertentu atas filmnya, jadi ketika mendengarkan musiknya, segala hal jadi terbawa serta.

Oh yah, memang tulisan ini nggak jelas sih. Hahaha. Barangkali pembaca sekalian sedikit penasaran dengan hidup saya, dua video ini sering sekali bisa membangkitkan emosi saya akan hal-hal yang terjadi dalam hidup. Bukan hanya soal animenya, tapi coba deh dengerin lagunya dan perhatikan masing-masing orang yang main instrument di orchestranya. Sedikit banyak, mereka membangkitkan semangat saya untuk menjalani hari-hari.

Pekerjaan.


Baiklah, mari memulai tulisan ini dengan sebuah pertanyaan “apa yang menyebabkan seseorang bertahan pada pekerjaannya?”

Sebetulnya ini hanya sebuah cerita. Lantaran tadi siang saya baru menjalani ujian negara (dalam arti yang sesungguhnya) sementara partner kerja saya sedang setting stand untuk bazaar esok lusa, saya jadi merasa perlu menanyakan pertanyaan tersebut ke diri saya sendiri.

Begini. Selama saya hidup, tidak ada hal yang cukup membanggakan untuk saya sebut sebagai sebuah goal. Beberapa di antaranya hanyalah produk dari ambisi atau memenuhi rasa haus saya akan kompetisi. Alhasil, hal-hal tersebut tidak memiliki keterikatan yang cukup kuat dengan saya sebagai subjek pewujudnya, atau inang dari ide dan upaya yang telah saya lakukan.

Tapi siang ini ketika saya sedang memantau pekerjaan anak-anak, saya menyadari bahwa barangkali, upaya saya membangun, menghidupi dan mempertahankan SketchandPapers adalah betul-betul life goal. Saat itu pula lah saya berjanji untuk membuat dan menuntaskan tulisan ini malam ini juga.

Pertama-tama, apa yang saya maksud dengan goal?

Barangkali ini klise, tapi jawaban yang mungkin paling relevan adalah soal kepuasan personal atas usaha dan upaya apapun yang kamu curahkan ke hal spesifik ini. Apakah ini menjelaskan passion? Mungkin iya, dan mungkin tidak.

Saya pernah menceritakan sedikit tentang usaha saya membuat buku. Tapi sejujurnya, cita-cita saya sejak dulu adalah membuat brand/merk yang merepresentasikan diri saya. Saya ingin menciptakan sebuah nama baru yang mewakili wujud saya yang asli karena barangkali, saya tidak suka muncul ke permukaan.

Saya telah mengupayakan beberapa jalan untuk mewujudkan cita-cita terpendam itu. Saya memiliki nama pena ketika pertama kali menulis puisi, novel, dan cerpen di waktu SD. Nama itu berubah permanen hingga saya SMA dan saya singkirkan dari perjalanan hidup saya begitu masuk kuliah. Nama SketchandPapers sendiri sudah ingin saya gunakan untuk menjual karya sketsa saya saat di bangku terakhir masa SMA, namun baru benar-benar saya gunakan di akhir tahun 2014.

Menariknya, saya sendiri berambisi menjadi wiraswasta karena kemuakan saya secara personal ketika masih SD. Dengan profesi bapak ibu saya, hampir dipastikan saya tidak akan pernah mendapat beasiswa, dan begitu terganggu ketika orang tua semua teman sekelas adalah wiraswasta, menjadikan saya satu-satunya orang yang tidak paham topik itu. Saya sudah belajar jualan sejak TK, tapi saya bahkan baru mengingat ini kembali belum lama. Dan selama coba-coba berdagang, bahkan sekarang, ternyata hal-hal yang saya lakukan bertujuan untuk personal branding, dan tidak lebih condong pada profit usaha.

SketchandPapers mengajarkan sangat banyak hal pada saya. Mengajarkan banyak tahapan, proses, perbaikan, tantangan, kritikan tajam, dan seterusnya. Ketika memulainya akhir tahun 2014, saya bahkan tidak yakin dengan apa yang saya lakukan. Sampai akhirnya saya mendapat dukungan dari banyak orang. Semakin luas jaringan konsumen, semakin beragam keinginan mereka. Saya mencoba mewujudkan kesemuanya dengan proses yang tidak mudah.

Di samping pengembangan usaha itu, kesibukan berpikir dan mengerjakannya membantu saya menjalani hidup. Mengalihkan perhatian saya pada hal-hal selain pokok yang saya pikirkan secara mendalam. Saya punya waktu untuk berkontemplasi, melakukan perulangan, menjadi perfeksionis, kelelahan, kesal dengan deadline, dengan konsumen, marah-marah, berhenti berusaha perfeksionis, mulai membangun toleransi pada karya, menenangkan saya ketika menangis, dan banyak hal lain yang menemani proses saya bersama SketchandPapers. Saya ingat bahkan dia menyelamatkan saya pada masa-masa paling tidak masuk akal sebagai pegawai, usaha ini tetep berhasil saya jalankan.

Salah satu hal yang paling saya takutkan adalah popularitas. Saya memiliki batas tidak terlihat dalam mengupayakan popularitas usaha saya. Ketika batas itu hampir jebol, saya menariknya kembali ke dalam. Bukan karena tidak ingin berkembang, tapi saya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama dengan mantan boss saya; menghancurkan usaha sendiri karena gegabah dan salah perhitungan.

Maka ketika bulan Januari saya harus melepas keterikatan saya dengan brand ini, saya merasa sebagian pegangan hidup saya terambil. Saya pun tidak rela. Barangkali karena sejak awal saya tidak pernah ingin membagi SketchandPapers dengan orang lain. Dia adalah representasi saya, dan tidak boleh ada orang lain di sana. Pada buku-buku inilah saya melampiaskan perasaan-perasaan saya secara nyata. Senang, tenang, marah, berurai air mata, putus asa, bersemangat, kecewa, cinta, dan lain sebagainya mewujud pada interaksi yang saya bangun dengan buku-buku itu. Bagian yang tidak kalah menyenangkan adalah respon setiap orang ketika menerima barang kiriman. Senyata itu memang. Bahkan hampir-hampir dia menjadi substitusi dari lingkungan sosial saya.

Barangkali saya sedikit berlebihan karena emosional. Tapi sungguh, meskipun SketchandPapers bukanlah manusia, dia tetap subjek dengan kompleksitasnya sendiri. Dialah yang menyelamatkan ‘hidup’ saya selama 5 tahun belakangan.

Dan dalam kesadaran ini, saya menjadi semakin rindu Jogja. Begitu ingin naik kereta ke sana lantas tak kembali lagi ke kota ini.

Tapi lalu ada hal kedua.

Saya sadar saya tidak cocok bekerja dalam tim. Selama 5 bulan terakhir saya bahkan mengalami banyak kesulitan. Tapi pekerjaan ini membantu saya mengembangkan usaha. Saya yang sebelumnya tidak mampu memberi kepercayaan pada orang lain, dan was-was akan kemungkinan melakukan kesalahan seperti bos saya sebelumnya akhirnya memberanikan diri mencari partner. Lalu proses yang lain, dan yang lainnya lagi.

Maka, setelah selama 4 tahun tidak pernah berani bermimpi untuk masuk ke event sebesar FKY, akhirnya tahun ini kami berhasil mencapainya. Lagi-lagi saya tidak mau memikirkan profit karena itu melelahkan. Menghitung sana sini dan sebagainya lantas berakhir memberatkan partner dalam mengupayakan target. Saya hanya senang—kesenangan murni—karena bahkan dalam jarak sejauh ini saya tidak kehilangan usaha yang sudah susah payah saya bangun. Barangkali satu-satunya hal yang betul-betul bisa saya sebut sebagai ‘milik’ hanya si brand ini. Sisanya bukan. Bahkan kadang saya menganggap dia betul-betul subjek tunggal seperti kita, cermin saya.

Dan SketchandPapers juga yang membuat saya setiap hari bisa mengerjakan pekerjaan lebih cepat, datang lebih awal, untuk menyediakan waktu luang yang lebih banyak agar saya bisa memantau dari jauh dan membuat rencana akhir pekan untuknya.

Entah apa yang akan terjadi pada saya lewat pekerjaan baru ini. Sebagian kawan saya masih suka mengangkatnya untuk topik lawakan. Kadang saya hampir tersinggung, atau kesal karena satu dan lain hal. Setidaknya, orang-orang mendorong saya untuk mencoba memahami dan mengerti hal-hal di permukaan atau di dasar palung tentang pekerjaan ini. Saya juga mulai berpikir untuk selalu siap pada perubahan-perubahan mendadak nantinya. Saya pikir, satu-satunya yang cukup menyenangkan untuk diingat adalah SketchandPapers akan selalu menjadi tempat saya pulang dan bergantung, apapun nanti yang terjadi.

wordsflow

selamat hari keluarga nasional,


Malam ini saya ingin menulis sesuatu, entah apa jadinya nanti. Biarlah sudah.

Mari memulai dengan sebuah premis, “what makes a family, family?”

Dalam antropologi, kita mengenal bahwa terminologi keluarga (atau fam) memiliki pergeseran makna dalam perkembangan kebudayaan manusia. Ketika masyarakat masih hidup dengan cara berburu dan meramu, serta hidup nomaden, seorang anak adalah anak dari klannya, dan tidak betul-betul melekat pada satu keluarga inti. Anak bukanlah anak-siapa melainkan generasi penerus atas suatu kelompok sosial tertentu. Anak yang lahir di dalam kelompok menjadi tanggung jawab keseluruhan kelompok untuk memastikan segala kebutuhannya tercukupi.

Barangkali kita membayangkan itu sebagai yang patut dikasihani (?) Bahwa anak ini mungkin tidak akan sungguh-sungguh mendapatkan kasih sayang orang tua kandungnya. Bahkan barangkali ia tidak memiliki kedekatan dengan ibunya karena bisa jadi disusui oleh ibu yang lain. Bisa pula ia belum pernah melihat bapaknya atau ternyata bapaknya juga dimiliki oleh anak-anak lain yang bukan anak ibunya. Dan semua ‘barangkali’ yang menyayat hati didasari atas norma etika sosial kita soal keluarga di hari ini.

Perkembangan berikutnya dari kelompok sosial berdasar kekerabatan dan berbasis darah ini kemudian berkembang ke level berikutnya, dimana keluarga adalah mereka yang memiliki garis keturunan sedarah dengan keluarga inti sebelumnya. Setelahnya, keluarga ini membangun simbiosis mutualisme dalam kaitannya untuk memastikan garis keturunan mereka tidak putus, memastikan bahwa mereka akan bisa makan setahun penuh, dan memiliki jaminan kesejahteraan untuk generasi selanjutnya dalam bentuk lahan pertanian.

Keluarga mengubah dirinya sendiri agar cocok dengan kondisi kultural mereka sebagai kelompok yang bercocok tanam. Pembagian kerja yang efisien dengan beban tenaga kerja untuk diberi makan dianggap perbandingan yang layak untuk mempertimbangkan seseorang bisa masuk ke dalam ‘keluarga’ atau tidak. Mereka yang berada di dalam garis keturunan sedarah memiliki kewajiban untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh kepala keluarga, dan karenanya memiliki hak juga untuk mendapatkan makan dari jatah kerja hariannya.

Akhirnya kita kemudian mengenal kelompok yang lebih kecil lagi, yaitu keluarga inti. Ketika jaminan hidup tidak lagi hanya bisa didapat dari bertani, maka ketergantungan orang pada lahan pertanian menjadi semakin berkurang, mutualisme dan upaya mempertahankan jumlah anggota keluarga yang cukup banyak tidak lagi diperlukan karena mereka bisa mendapatkan uang dari kerja selain bercocok tanam. Demikian, simbiosis mutualisme yang diperlukan semakin dipersempit pada kelompok yang lebih kecil dengan pembagian peran yang relatif lebih ringan dibandingkan sebelumnya.

Sampailah kita pada model keluarga yang kini kita sebut sebagai ‘keluarga’.

Tapi perkara tidak berhenti di sini. Pernah dengar istilah kekerabatan fiktif? Saya lupa teori siapa tapi bodo amat. Singkatnya, kekerabatan fiktif terbentuk karena ikatan-ikatan tidak langsung seperti  hubungan darah atau pertukaran dan pernikahan. Penjelasan soal kenapa kamu bisa begitu berkorban untuk temanmu atau kolegamu tuh ada di bagian ini penjelasannya. Dan karenanya bentuknya bisa betul-betul mana suka. Kadang kamu bahkan harus mengulik begitu dalam alasan di balik kuatnya kekerabatan fiktif yang dibangun oleh dua individu atau suatu kelompok tertentu.

Dan di era perinternetan yang menciptakan begitu banyak dunia paralel untuk kita, kita menemukan jauh lebih banyak keanehan bentuk-bentuk keluarga. Kamu bisa begitu rela mati demi junjungan politikmu, bisa gontok-gontokan tanpa lelah di twitter demi membela kelompok tertentu atas nama HAM, dan seterusnya, dan seterusnya. Kita membentuk jaringan kekeluargaan baru berdasarkan pada budaya baru yang kita miliki sebagai masyarakat modern dengan istilah ‘netizen/warganet’ sebagai bentuk integralnya. Bayangkan, bahkan jejaring warganet bisa sangat keluar dari batas-batas dan zonasi yang kita bangun selama masa modern pra internet.

Kita mengalami gegar. Gegar budaya untuk meneken pada kelompok yang mana kemelekatan kita terpaut lebih erat. Kita menjadi sulit untuk memahami sebetulnya mana yang lebih bisa diandalkan dan dijadikan prioritas dalam membantu kita menjalani kompleksitas hidup kapitalistik ini.

Saya baru menyadari belakangan, bahwa dibandingkan kebingungan dalam menentukan kelompok, saya lebih terkejut karena ternyata saya begitu terikat pada wujud paralel atas Aku yang mewujud secara imajiner. Saya dalam keseharian, buku harian, chat, sosial media A B C D sampai Z, memiliki wujud, citra, pemikiran yang sedikit banyak berlainan. Setiap kali membaca selalu ada yang dirasa mengejutkan, seolah baru kali pertama saya bertemu dengan wujud tersebut. Dan itu sangat melenakan.

Pertanyaan-pertanyaan eksistensial mulai bermunculan dan menjadi relevan kembali. Kekhawatiran lama mulai menyeruak ke permukaan, dan sialnya perasaan-perasaan yang sebelumnya juga mulai bertebaran membentuk ranjau. Ganas dan tanpa ampun.

Dalam nuansa ini saya bertanya-tanya soal relevansi keluarga di dalam hidup kita sebagai individu. Karena akhirnya begitulah budaya berinternet telah mempersempit ruang ketergantungan kita pada keluarga inti sebatas pada layar ponsel. Eksistensi mereka nyaris tidak dibutuhkan selama mereka masih muncul di layar 5 inci yang kita—ah saya—pegang.

Tentu tidak semua insan di negeri ini seterjebak ini. Jelas sekali bahwa ikatan keluarga inti masih kental sekali dalam kultur Indonesia. Contohnya bisa dilihat di pemakaman-pemakaman ketika anak, orang tua, istri, atau suami menangisi kepergiaannya. Atau orang yang depresi karena ditinggal anggota keluarga. Dan semua cerita-cerita serupa lainnya.

Tapi kembali lagi, perubahan ikatan ini mengubah ketergantungan pada keluarga menjadi bergeser ke diri sendiri. Kamu menjadi orang yang bergantung lebih kepada diri sendiri, dalam hal kepercayaan, kebahagiaan, dan lain sebagainya. Naas, karena kemudian bisa jadi, bentuk-bentuk itu akhirnya yang justru akan menguatkan egomu, menyelubungi dirimu dengan ke-Aku-an yang lebih erat, kental, dan tidak tertembus. Dan pada titik ini, tiada orang lain yang bisa menyelamatkanmu kecuali dirimu sendiri.

Jadi yah, kira-kira begitulah premis awal membawa saya pada pembahasan mengenai egoisme yang belakangan cenderung meningkat di dalam diri saya, remah-remah yang sebelumnya saya sepelekan sekarang sudah menjadi sarang yang nyaman. Sial.

Untuk itu, agaknya mengucapkan selamat hari keluarga nasional sedikit kurang relevan dengan kondisi saya kini. Tapi yah, untuk kalian nggak papa deh.

Demikian, jika ada pertanyaan silahkan menghubungi kepribadian saya yang nomor 213 melalui nomor whatsapp yang Anda sekalian ketahui. Dan semoga berkenan. Tabik.

wordsflow

Konsumsi


Dalam beberapa hari belakangan, topik tentang konsumerisme dan kapitalisme entah kenapa muncul kembali di dalam jangkauan pandangan saya, baik melalui linimasa media sosial maupun muncul kembali sebagai sebuah kesadaran. Anehnya, saya tidak lagi merasa terganggu sebagaimana yang saya rasakan sebelumnya terhadap kesadaran soal ini meskipun sungguh memusingkan memikirkan harga properti dan membayangkan akankah saya akan berhasil membeli sebidang tanah untuk hari pensiun saya nanti. Hhhhnnnnhhhhh.

Di tengah segala kemudahan yang hadir di hari ini, kita kemudian tidak lagi dihadapkan pada kesulitan untuk mencari sesuatu yang sebelumnya ‘langka’. Apapun yang kita butuhkan kini hanya berjarak sejangkauan tangan. Satu-satunya penghalang kita adalah kemampuan finansial semata.

Tapi tenang, sistem kapitalis juga berupaya untuk menghilangkan penghalang itu bagi kita sehingga apapun yang kita harapkan akan dengan mudah kita dapatkan. Sebut saja fasilitas digital finance dengan segala penawaran menariknya, kartu kredit, kebijakan pay later, dan sebagainya. Kita dipaksa mengambil hutang dan memilih hutang sebagai cara yang paling ‘benar’ karena pelayanan cenderung menolak pembayaran langsung dan lebih memilih kredit. Hampir semua perjalanan ke luar negeri membutuhkan kartu kredit. Hampir semua transaksi jual-beli ke luar negeri mewajibkan kartu kredit. Bahkan kartu kredit menawarkan diskon yang jauh lebih besar dan membuat semua orang semakin merasa terdorong untuk memiliki kartu kredit.

Padahal kita memiliki uang di rekening sendiri, tapi bahkan jaminan itu tidak cukup untuk meyakinkan bahwa kita betul-betul bisa membayar hal-hal yang kita inginkan. Kesel nggak sih?

Saya ingat pernah begitu bersemangat membuat akun di Etsy sewaktu awal masuk kuliah, tapi segala upaya selalu terhenti pada jaminan kartu kredit dan yasudah, sampai sekarang saya tidak pernah berhasil mencari alternatif lain agar bisa melakukan transaksi antar negara.

Topik mengenai konsumerisme ini sebetulnya klise sih. Tapi begitu saya mengikuti akun finansial di salah satu platform sosial media, membaca berbagai cerita tentang tantangan finansial masing-masing orang, saja jadi bertanya-tanya sebetulnya apa cita-cita finansial yang dimiliki masing-masing orang. Juga menarik sekali ketika saya ditawari untuk membuat tabungan rencana dengan iming-iming bunga tertentu, serta tambahan iming-iming dari petugasnya “Siapa tahu tahun depan bisa jalan-jalan ke luar negeri”. Oh well, demikian secara serampangan saya artikan bahwa jalan-jalan ke luar negeri adalah kegiatan yang sedang menjadi tren di kalangan masyarakat seumuran saya, apalagi yang sudah memiliki penghasilan sendiri.

Di tengah huru hara ini, kita menjadi manusia-manusia yang seolah kehilangan esensi mencari uang. Apakah betul kita bekerja sekedar untuk mampu membeli ini dan itu? Apakah hidup akhirnya hanya sebatas upaya untuk mengejar standar kehidupan yang begini atau begitu? Beberapa kelompok manusia sungguh-sungguh hidup dari paycheck to paycheck ada yang meletakkan standar kemampuan finansial di sebelah agak jauh jalur hidupnya, dan ada juga yang sungguh tidak peduli dengan finansialnya.

Lalu terminologi work-life balance tiba-tiba menjadi terma yang sering kali muncul di sekitar saya, apalagi setelah kepindahan saya ke ibukota. Antara berada di skeptisme atas jaminan keseimbangan hidup di kota dan ketahanan diri untuk memastikan bahwa gaya hidup mayoritas ibukota tidak akan pernah menggerus gaya hidup saya dan saya akan tetap bertahan menjadi manusia-manusia yang waras tanpa merasa kekurangan.

Saya sedikit merasa aneh ketika menemukan beberapa teman saya yang merasa begitu menderita hidup di kota ini. Saya akui memang Jakarta membuat seseorang bisa begitu merasa kesepian. Tapi tidak ada yang bisa menjamin bahwa dengan tinggal di kota kelahiran kita, atau kota favorit kita, kita tidak akan merasakan hal yang serupa. Sebuah kota tidak seharusnya bertanggung jawab atas apa yang sedang kita rasakan. Betul juga bahwa kehadiran atau ketidakhadiran seseorang di dalam hidup kita akan membawa perubahan, tapi menurut saya ada seribu satu substitusi yang bisa membantu kita merasa lebih ‘akrab’ pada sebuah kota.

Ada juga yang bilang bahwa saya sebetulnya punya selera metropolitan, tapi tuduhan itu juga saya pikir tidak beralasan. Saya hanya kerap mudah merasa nyaman pada suatu tempat, dan begitu merasa nyaman tidak mudah bagi saya untuk berpindah. Saya jarang pindah kos-kosan, apapun yang terjadi pada tempat itu, lebih suka memakai pakaian, tas, atau sepatu yang itu-itu saja, dan tidak merasa butuh berganti tanpa ada paksaan tertentu atau alasan tertentu. Barangkali ini juga yang membuat saya lulus lama? Hahaha. Bukan ding, kalau yang itu murni karena faktor kemalasan.

Dan betul juga sebetulnya, konsumerisme menjadi hal yang tanpa sadar diimani oleh semua orang, yang muslim konservatif, atau bahkan yang ateis, yang tidak peduli pada lingkungan atau bahkan yang mengaku sjw (akhirnya saya tahu arti singkatan ini). Setiap protes, setiap kritik, ideologi, bahkan kepercayaan menciptakan pasar baru yang bisa menghasilkan keuntungan bagi para pelaku bisnis. Saya juga menggunakan cara ini untuk mencari pembeli, yah jujur saja. Hanya satu yang membuat saya sebal karena orang-orang cenderung merasa gaya konsumsinya jauh lebih baik dibandingkan orang lain dengan membeli sesuatu atau tidak.

Misal munculnya tren sedotan besi atau sedotan bambu karena adanya protes terhadap penggunaan sedotan plastik. Jujur saja, sebetulnya klaim itu tidak berarti karena kita tidak butuh sedotan sama sekali, mau yang plastik ataupun yang besi. Pun tidak ada yang sungguh tahu apakah sedotan besi akan memberikan dampak kerusakan lingkungan yang lebih kecil atau tidak. Juga gaya berpakaian, baik yang muslim atau bahkan yang mengikuti tren MetGala, semuanya hanya memberikan keuntungan lebih banyak pada pengusaha tekstil, dan memunculkan potensi besar produksi pakaian, dan demikian juga potensi sampah dan limbah yang dihasilkan dari proses produksi itu. Belum lagi yang mengagungkan metode konmari Marie Kondo, sangat ada kemungkinan bahwa yang terjadi adalah konsumerisme gaya Marie Kondo, mengganti perkakas rumah tangga sesuai style adaptasi konmari, dan sebagainya.

Di samping kritik saya atas hal ini, saya juga menyadari bahwa saya orang yang sering membeli, meskipun saya pelit luar biasa pada persoalan harga. Lebih sering saya membeli sesuatu yang sangat murah dengan kualitas yang lumayan setelah mencari dengan super seksama di platform marketplace langganan saya, menggunakan segala promo pembelian online yang akhirnya membuat saya jauh lebih untung. Memuaskan diri sendiri tampaknya sedikit lebih sulit di hari ini karena standar yang bertebaran di luar sana. Mudah sekali merasa terintimidasi karena sesuatu dan bersikap biasa saja adalah salah satu cara yang paling mujarab.

Saya sering merasa sangat berterima kasih pada masa-masa perkuliahan saya yang memberikan sumbangsih pemikiran dan kesadaran yang tinggi atas setiap perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidup. Meskipun sederhana, gaya hidup bisa membuat orang merasa terbebani dan bahkan membawanya pada ketidakbahagiaan. Sesuatu yang saya pikir menyedihkan karena terjadi di kota yang menyediakan segalanya.

Akhir kata, akhirnya saya menorehkan tulisan lagi setelah sebulan tidak berhasil menghasilkan satu tulisan pun. Di sela satu bulan ini, saya sempat menghabiskan waktu untuk merenungi secara mendalam tentang tujuan saya untuk hidup. Barangkali kapan-kapan akan saya bagi sedikit. Tapi saya sendiri juga merasa bahwa memaknai hal seabsurd ini tidak layak untuk dibagi pada jiwa-jiwa tenang seperti pembaca sekalian. Jadi yah, kapan-kapan saja. Semoga kita selalu berada dalam kesadaran atas hal-hal yang kita lakukan.

wordsflow

Menjadi Jakarta


Sekitar 12 tahun yang lalu di bulan ini, ketika teman-teman saya masih sibuk menyiapkan berkas untuk pendaftaran SMA, saya mendapat telpon entah dari siapa mengabarkan bahwa ada kemungkinan saya akan menerima beasiswa untuk masuk suatu SMA yang namanya saja belum pernah saya dengar. Jauh sebelum itu, sekitar 2 tahun sebelumnya, saya menemukan satu komik yang sampai sekarang saya anggap titik mula dari perjalanan ini. Namanya QED, saya pernah menceritakannya di sini, tapi sudah lupa entah kapan. Saya juga ingat langkah berani kedua yang saya lakukan adalah mengisi soal logika matematika di kedaulatan rakyat yang ditempel di mading SMP setiap hari Kamis. Suatu hari tetiba kedaulatan rakyat membuat rubrik itu, dan alih-alih menyajikan tts, mereka memberikan soal matematika. Soal edisi pertama itu yang mengawali banyak hal setelahnya. Setiap kali mendatangi TU untuk mengecek surat dari sahabat pena saya aka Anis, saya selalu menyempatkan menengok pojok kedaulatan rakyat dan mencatat soal yang ada di sana untuk dipecahkan kemudian.

Saya pikir kejadian-kejadian itu sangatlah natural pada masanya. Saya tidak pernah betul-betul memikirkan saya akan ke mana, dengan siapa, bagaimana caranya, karena praktis yang saya lakukan setiap hari adalah berkhayal dari semua komik dan buku bacaan yang saya baca. Saya juga ingat pernah membaca Karmila dan salah satu karya Mira W di usia 13 tahun. Ketika itu saya bahkan tidak terlalu memikirkan dua bacaan itu sampai ditanya oleh guru SMA saya.

SMA, sampailah saya pada khayalan saya untuk tinggal jauh dari Jogja masuk asrama, persis seperti sinetron Cinderella Boy yang waktu itu baru saja tamat tayang. Dari seseorang yang melihat itu sebagai orang ketiga, sudut pandang saya berubah menjadi sudut pandang orang pertama. Praktis setelah itu saya tidak lagi hanya melihat atau membayangkan saja, namun juga menjalani hal-hal yang dulu hanya saya khayalkan.

Sayangnya, banyak hal yang luput dari pandangan ketika sudut pandang kita berubah menjadi orang pertama. Percayalah orang ketiga memang selalu serba tahu, persis seperti di novel-novel atau kameramen dalam film-film yang diputar di bioskop. Setelah sebelumnya tugasnya hanya melihat dan mengamati, sesekali memberi kritik, saya berubah posisi menjadi orang yang harus menjalaninya, lantas ditonton oleh orang lain. Paling dekat, paling lekat tatapannya adalah keluarga.

Ada banyak yang berubah dari Jakarta setelah 9 tahun saya tinggalkan. Ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di kota ini, saya pikir saya tidak akan pernah bisa menikmati kota ini, karena terlalu besar, terlalu panas, terlalu ‘kasar’ untuk saya. Saya di-shock therapy oleh guru-guru saya, juga oleh teman-teman saya, pertama kali saya menyadari begitulah rasanya menjadi minoritas.

Singkat cerita, setelah memantapkan diri untuk tidak lagi merebahkan badan di kota ini, nyatanya saya kembali. Sembari menapaki tangga stasiun di pagi buta, saya bertanya-tanya soal apa yang sedang saya jalani atau saya cari di kota ini. Manakala saya juga ternyata sulit menjawabnya, saya justru merasa ingin balik badan dan pulang ke Jogja, segera. Tapi saya akhirnya tetap keluar stasiun, memesan ojek online lantas mengarungi jalanan lengang Jakarta.

Menjadi Jakarta, sebetulnya tidak jauh berbeda dengan menjadi manusia Jogja. Siapa yang bilang saya tidak shock waktu pertama kali kembali ke Jogja? Teman-teman saya tentu berbeda, lingkungan saya baru, dan ternyata bukan kota yang menentukan bentuk manusia di dalamnya. Kesimpulan ini saya dapatkan jauh setelah masa tinggal saya di Jogja. Maka saya kemudian mencoba melihat bahwa manusia di Jakarta juga tidak ditentukan oleh kota ini. Saya hanya perlu mencari simpul-simpul yang sesuai dengan benang saya, sedangkan jalur lain agaknya harus saya abaikan sama sekali.

Dan di sinilah saya saat ini, duduk mengetik dengan tenang. Saya sampai di satu warung kopi milik seorang bisu. Untuk memesan kopi kamu harus tahu cara memesan sederhana, bisa membedakan bagaimana cara menyampaikan dingin dan panas. Di samping saya ada lima orang yang sedang bercerita seru dengan bahasa isyarat. Tidak ada keributan yang tidak perlu, tidak ada keramaian yang terlalu riuh. Saya anggap diri saya sedang mengumpulkan simpul ke-Jogja-an saya.

Sama seperti kebanyakan orang, saya sangat skeptis ketika tahu bahwa Jakarta akan menjadi tempat hidup saya untuk setidaknya satu dekade ke depan. Tapi kota ini, sama seperti kebanyakan kota lainnya, dicintai sekaligus dibenci, diharapkan sekaligus dinafikkan. Skeptisme ini bukan hanya melekat pada kotanya, tapi juga pada orang-orangnya. Dengan saya menjadi bagian darinya, saya juga jadi manusia yang terlibat di dalam love-hate relationship ini.

Tapi bersama kota ini saya juga dalam proses menjadi-nya. Saya cukup beruntung karena saya merasa cukup tahu kemana saya harus pergi. Ada beberapa yang merasa bahwa ‘jebakan’ ini tidak ada obatnya, lantas membiarkan dirinya terseret oleh bagian skeptis dari kota. Saya bahkan tidak beringinan untuk turut membawa mereka serta dalam upaya saya sendiri sementara saya sendiri kadang masih sulit menangani hambatannya. Saya cukup egois soal ini, dan saya tidak akan meminta maaf untuk itu.

Akhirnya, saya begitu mencintai transportasi umum Jakarta, memberi kesempatan saya untuk terus berpikir tanpa henti. Rasanya hampir mirip dengan perasaan saat mengendarai motor di Jogja, yang barangkali, beberapa tahun mendatang saya akan mulai lupa cara mengendarainya.

wordsflow