WORDS FLOW

just go with the flow and whatever happens, happens

Category: on Life

Menjelang 2020


Bulan terakhir di tahun ini akhirnya sampai sudah. Satu tahun yang lain sudah kita lewati dan yah, barangkali jauh berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya, saya hampir tidak memiliki memori yang berarti kecuali hal-hal yang begitu melekat terjadi di awal tahun ini, serta beberapa hal menyenangkan yang begitu saja bisa saya panggil dan putar ulang di dalam ingatan pada sela-sela minggu dan bulan yang cukup berat.

Sudah 10 tahun lebih saya memiliki blog ini untuk menuliskan apapun, merekam apapun yang ingin saya utarakan, dan di waktu-waktu tertentu tentu membantu saya untuk mereka ulang sesuatu atau mendalami sesuatu yang terjadi sebelumnya. Banyak sekali narasi yang saya ulang dan saya replikasi dengan tata bahasa atau kesadaran baru, tapi tidak jarang saya mengulang beberapa pemahaman kemudian sekali lagi menuangkannya dalam tulisan. Di samping tulisan-tulisan di sini, ada banyak tulisan-tulisan lain yang tersebar di laptop, di buku, di jurnal yang lain, terselip di buku catatan, di notes handphone, dan entah menulis random di mana lagi.

27 tahun. Dan tahun depan umur saya sudah akan bertambah satu. Di waktu-waktu ketika semua sebaya saya telah memilih ‘kepastian hidup’ tertentu, atau setidaknya memantapkan langkah untuk satu dan lain hal. Saya menyadari satu hal akan kecenderungan saya, bahwa ketika seorang sahabat saya menikah, saya cenderung mengambil jarak, atau setidaknya saya merasa jarak itu otomatis ada. Hal-hal yang sebelumnya menarik untuk dibicarakan menjadi biasa saja, atau tentunya, pembagian waktu kita menjadi berbeda.

Bukan suatu hambatan khusus sebetulnya. Saya suka sekali mengetahui bahwa teman-teman saya menikah, punya anak, atau mendapatkan pekerjaan tetap sehingga mereka harus berpindah domisili. Hanya saja mau tidak mau saya harus mengakui bahwa ada hal-hal yang tadinya begitu penuh mengisi keseharian tetiba kosong saja karena mereka terpisah dari saya. Dan sembari menuliskan ini, saya memikirkan betul di tahun depan apa kiranya yang akan terjadi pada sahabat karib saya. Tentu saja selama ini kami berjarak karena memang rutinitas dan profesi yang berbeda. Tapi lagi-lagi, akan berbeda halnya ketika suatu hari dia menikah atau berpindah ke tempat yang tidak bisa saya kunjungi sewaktu-waktu.

Oh ya saya melantur, hehe.

Baiklah, tulisan ini terinspirasi oleh sebuah postingan teman lama saya yang kini berjarak setelah belahan bumi dengan saya. Sekilas cerita, teman saya ini bisa saya sebut sebagai orang yang membelokkan jalan takdir saya di penggal SMP menuju SMA. Saya kira begitulah peran dia di dalam hidup saya. Haha, lucu juga.

Sewaktu SMP saya mengikuti sebuah pelatihan setelah diadakan seleksi di Jogja, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Bertemulah saya dengan anak ini, namanya Mona. Dia setahun lebih muda dari saya, tapi ketika saya berkenalan dia sudah menjadi bahan pembicaraan semua pengajar saya selama pelatihan dan duduk setingkat dengan saya. Baik saya dan Mona sebetulnya tidak sungguh akrab karena jarak sekolah kami yang berjauhan, juga barangkali beda grup selama pelatihan. Tapi dia supel sekali, dan setiap waktu bisa berbaur dengan semua orang dengan mudah. Setelah masa pelatihan berkali-kali kami bertemu di kompetisi, pun pada beberapa kompetisi Mona tidak ragu untuk mengajak atau memberitahukan kami. Barangkali itu masih masa Friendster?

Lewat Mona saya tahu banyak hal, banyak mimpi, juga banyak eksperimen terhadap pengembangan diri. Waktu itu saya getol sekali membeli beberapa seri komik, dan Mona satu-satunya yang tahu Motohiro Katou, pengarang favorit saya, juga MIT yang pernah menjadi kampus impian saya ketika masih muda. Begitu banyak imajinasi, kesenangan, angan-angan, juga perjuangan di beberapa kompetisi dengan teman-teman kami juga sebagai rivalnya.

Di akhir masa SMP, saya mengambil satu kompetisi yang akhirnya memisahkan kami dan menjauhkan saya dari Jogja. Perkaranya sebetulnya sederhana saja, saya ikut kompetisi atas desakan Mona, tetapi segala hal menjadi di luar perkiraan saya. Bisa dikatakan itu salah satu kejutan yang paling memukul saya pada masanya. Saya mengalami gegar budaya ketika berpindah, dan seolah peta hidup saya yang sebelumnya pernah saya susun buyar begitu saja.

Perihal mengatur hidup sebetulnya saya kacau sekali. Tapi nasib sering kali memberi saya kejutan yang kadang saya pikir terlampau keterlaluan atau yang begitulah caranya mengganjar saya yang bebal ini.

Setelah merenungkan ini beberapa hari yang lalu, juga mengingat kembali apa kira-kira yang saya harapkan kepada saya di masa kini sekitar 15 tahun yang lalu? 10 tahun yang lalu? Apa yang saya pikirkan ketika pertama kali membuat blog, memutuskan mengambil sekolah kembali ke Jogja, melepaskan cita-cita kecil untuk sekolah keluar, menerbitkan karangan yang entah sudah di mana naskahnya, melupakan riset mapala dan justru tenggelam ke dalamnya, juga keputusan-keputusan lain setelahnya yang ‘terhapus’ oleh keterlemparan diri pada tempat saya kini.

Tapi di akhir bulan menuju tahun 2020, bersyukur sekali bahwa saya masih mampu bertahan dengan segala cara selama 10 bulan terakhir, masih mampu mempertahankan jenama yang dibuat dalam proses healing atas penolakan-penolakan yang lampau (tanpa sadar sudah 5 tahun lamanya), mengambil makna di tengah rutinitas yang begini-begini saya, juga memiliki waktu untuk menulis di sini atau di tempat lain, memikirkan hidup dan memaknainya setiap hari menjelang tidur, dan seribu satu hal yang sepatutnya disyukuri.

Baik sekali kiranya, bahwa waktu memberikan banyak hal untuk direnungkan, dipikirkan, dan dimaknai. Segala hal mungkin belum berada pada tempatnya tapi kita bisa punya pilihan kedua untuk menerima saja tempatnya, hehe. Tidak mudah barangkali, tapi sewaktu menjelaskan kepada seseorang, saya tersadar bahwa barangkali, bentuk tanggung jawab paling tinggi adalah menerima hal-hal yang telah diputuskan oleh diri, apapun alasan di baliknya.

Dan yah, salah satu bentuk previlese yang harus disyukuri oleh sebagian besar dari kita adalah bahwa kita masih punya pilihan atas satu dan lain hal.

wordsflow

Tetiba malas kerja


Jujur saja, sudah beberapa waktu belakangan saya malas masuk kantor. Saya sempat membolos karena sakit yang sudah seminggu tidak sembuh. Di waktu-waktu secinta itu dengan pekerjaan, biasanya saya akan mengusahakan tetap berangkat dan pulang ketika segala hal sudah selesai saya kerjakan. Tapi belakangan hal-hal menjadi lebih membosankan meskipun pekerjaan masih saya bereskan.

Ah tapi baiklah. Saya sering kali mengeluhkan pekerjaan belakangan ini. Bukan. Memang sedari mula saya banyak mengeluh, hahaha.

Beberapa waktu yang lalu seorang teman crafter saya bercerita bahwa dirinya memutuskan keluar dari tempat kerjanya saat ini. Padahal tempatnya bekerja mengusung ide yang sangat menarik untuk mempertemukan crafter di Jogja. Bukan hanya itu saja, bahkan dalam beberapa minggu ke depan kami akan mengadakan kegiatan dengan tema Women Empowering. Jarang sekali ada wadah yang mengumpulkan crafter di Jogja mengingat beberapa tahun belakangan crafter dan komoditas ‘kreatif’ non pertunjukan hanya dijadikan ‘pelengkap’ dari kegiatan seni yang lebih besar. Bukan hanya itu saja, pameran maupun bazaar bahkan kalah dengan kuliner jika disejajarkan dalam satu kegiatan yang sama. Crafting, tampaknya tidak memiliki nilai jual yang lebih tinggi jika dibandingkan kegiatan seni lainnya.

Secara terpisah, saya dan teman lain sempat beberapa kali membicarakan mengenai bagaimana posisi pekerjaan dalam mindset umum dipetakan secara tidak setara oleh masyarakat, terutama juga oleh struktur yang lebih besar. Saya tidak akan membicarakan entah teori siapa karena toh saya juga sudah lupa akan banyak hal itu, tapi jelas sekali bahwa sehari-hari kita melihat ketimpangan.

Saya sering menengok linimasa instagram untuk melihat bagaimana seseorang berkembang atau mengembangkan kemampuannya dalam berkarya dalam bidang minor, misalnya keramik, seni lukis, handlettering, rajut, desain, dan sebagaimana. Masing-masing dari mereka, juga termasuk saya cukup beruntung karena memiliki hal yang bisa disebut profesi meskipun dipelajari secara otodidak dan bukan merupakan pekerjaan umum yang dikejar oleh orang lain. Pernah pula bercita-cita untuk sekolah ke Jepang lantaran negara itu menawarkan disiplin keterampilan yang saya kira sulit untuk ditemukan di Indonesia.

Stereotip tentang bekerja masih menjadi sesuatu yang hangat dibicarakan dan sering kali menuai perdebatan. Selalu saja saya temukan orang yang berkomentar buruk di postingan seseorang karena dengan pekerjaannya yang ‘ah gitu doang’ dia bisa memiliki penghasilan yang jauh di atas orang-orang yang bekerja di bidang akademis atau sejalan dengan jurusannya. Mindset soal ‘pendidikan adalah investasi’ dimana income harus dapat mengganti biaya pendidikan menjadi perdebatan dan problematika yang dihadapi lulusan-lulusan akademis, pun juga dengan saya. Di satu sisi saya menyimpan cita-cita tersendiri soal kerja seperti apa yang saya inginkan dan tekuni sementara ada bagian diri saya yang juga menekan saya untuk mempertanggungjawabkan pilihan akademis yang pernah dan sedang saya ambil.

Oh ya memang pembicaraan ini ngalor ngidul wong saya nulisnya nggak pake mikir.

Juga persoalan timpangnya pendapatkan, misalnya pada profesi akademis yang sepenuh hati menjalankan profesinya sesuai dengan kaidah-kaidah dan etika yang berlaku seringkali kalah dengan mereka yang bekerja di dunia hiburan atau profesi administratif. Ketimpangan profesi menurut saya menjadi salah satu pe-er besar dalam dunia kerja di Indonesia karena selalu ada profesi yang lebih rendah di bawah profesi yang lainnya. Kadang kita nyaman dengan profesi tertentu dan menjadi minder kemudian karena dianggap ‘yah gitu doang kerjaan lu cuma ngejilid buku sama berdagang?’. Well, berkarya tetap butuh olah pikir dan nalar, kemampuan manajemen baik finansial, emosional, psikis karena kita juga berhubungan dengan orang, memikirkan hal-hal yang belum terjadi dan memperkirakan peta perjalanan usaha yang sedang dibangun.

Beberapa waktu lalu saya begitu terpukau dengan sebuah video yang mewawancarai seorang ibu yang bekerja di restoran anaknya. Ibu ini suka sekali membuat pasta dan memaksa anaknya untuk mempekerjakannya di resto anaknya. Sesuka itu dia membuat pasta hingga semua pasta di resto itu dibuat manual dengan tangan oleh si ibu. Seolah tidak peduli tapi saking sudah membuat pasta selama puluhan tahun dia bisa menciptakan pasta dengan bentuk yang persis sama satu sama lain, dengan rasa yang persis sama dari hari ke hari. Kecintaannya untuk membuat pasta membuat saya begitu tersentuh dan teringat untuk memaknai pekerjaan sebagai sesuatu yang beyond doing.

Mengerjakan sesuatu setiap hari sebetulnya tidak lantas membuat seseorang menjadi mesin manakala dia masih mampu merasa dan menitipkan rasa itu lewat karyanya, apapun itu. Sementara pegawai-pegawai, contohlah yang bekerja di pabrik, rata-rata dibuat berjarak dengan karya yang mereka ciptakan sehingga rasa itu tidak sampai terbawa, tidak tersampaikan kepada kita melalui komoditas yang mereka ciptakan. Komoditasnya numpang lewat, sementara tangan kita digerakkan oleh kebiasaan semata, bukan oleh kesadaran.

Begitulah dalam ranah sistem kerja kapitalistik kita dibuat berjarak hingga mungkin membenci hal-hal yang kita lakukan rutin setiap hari. Ya, sepertinya begitu, atau barangkali tidak. Saya kadang bahkan tidak mengerti hal-hal yang belakangan diperdebatkan dan mencoba mendalami apa yang sebetulnya diinginkan semua orang tanpa menemukan jawaban pastinya. Tapi juga sembari berpikir, semua sarana komunikasi dan keleluasaan informasi memberikan kesempatan bagi kita seluas-luasnya untuk menjadi apapun, mengerjakan apapun dan membebaskan diri dari batasan-batasan apapun. If you know what I mean.

Dan yasudah begitu saja, saya harus pamit untuk menonton teater. Sampai jumpa di postingan random berikutnya. Semoga berkenan.

wordsflow

Healing


Hari ini karena tweet Sentot saya membuka youtube dan mencari sebuah video clip dari Kunto Aji dari album terbarunya yang bertajuk Mantra-Mantra. Ya padahal sudah diupdate Mas Adjie semalam tapi saya skip apapun sedari sore karena tidak enak badan. Belum ada satu menit menonton, saya menutup videonya.

Sedikit cerita, sekitar awal tahun ini setelah kepindahan saya ke Jakarta, seorang teman membagikan poster acara dengan tema finding balance of doing and being. Datang karena ada Rara Sekar yang pemikiran, tindakan, dan kegiatannya menarik perhatian saya dari lama. Dalam acara itu, saya pertama kali saya menaruh perhatian pada Mas Kunto Aji, dan satu orang lagi yang merupakan seorang emotional healer, namanya Mas Adjie.

Dalam sesi singkat itu, hal-hal yang sebelumnya saya pikir hanya eksis di diri saya (atau setidaknya tidak pernah betul-betul saya percayai ada di orang lain) ternyata juga eksis pada mereka dalam berbagai bentuknya. Pada salah satu sesi, Kunto Aji menceritakan tentang masa lalunya, dan bagaimana proses yang ia hadapi lantas bagaimana pula ia memasukkan unsur-unsur itu ke dalam sebuah album. It grew my respect over him.

Sesi itu juga membawa saya pada pemahaman lebih dalam mengenai healing dan meski baru beberapa bulan setelahnya saya menemukan akun sosial media Mas Adjie, pertemuan pertama saya adalah salah satu hal yang paling berkesan dari kepindahan saya ke sini.

Saya punya seorang kenalan yang membantu saya saat pertama kali saya memutuskan untuk berpindah kota. Namanya Venus, seorang psikolog. Kami ketemu beberapa kali sebelum keberangkatan saya, sesi yang menarik, singkat, dan berkesan. Ada banyak hal yang belum terselesaikan memang, ada yang saya kesampingkan, ada yang tetap dipikirkan.

Tapi saya baik-baik saja kok misal ada yang penasaran soal ‘apakah saya oke’. Tetap saja proses healing bukan hal yang dilakukan sekali terus sudah. Sebagaimana hidup dia harus terus diasah dari hari ke hari karena tidak ada yang betul-betul master dalam menjalani kita, patternnya tentu berbeda dengan orang lain jadi baik saya maupun kamu harus jadi yang paling master dalam menjalaninya.

Tentu saja ini hanya omong kosong karena saya toh tidak tahu apapun tentang kamu dan semua orang di sekitar saya. Pun saya barangkali tidak sungguh mengenal diri sendiri, juga menerimanya sepenuh hati.

Ah, saya sedikit melantur. Tapi di bulan ini tahun lalu ada hal yang rasanya bahkan masih bersisa. Sembari memikirkan itu, saya kira berterima kasih sepenuh hati sama sulitnya dengan meminta maaf sepenuh hati. If you know what I mean.

Kembali ke soal video Pilu Membiru-nya Mas Aji, saya kira saya akan menonton video kolaborasi Mas Aji dan Mas Adjie malam nanti selepas ke TIM untuk menghadiri Festival Teater Jakarta. Mungkin akan saya ceritakan beberapa hal selama di TIM setelah 2 hari skip karena kram perut. Sampai jumpa di postingan selanjutnya.

wordsflow

will there something surprising on the next monday?


Sudah beberapa postingan terakhir saya terfokus pada bahasan soal pekerjaan. Jujur saja memang sebagian besar hidup saya kini saya curahkan untuk hal tersebut karena praktis, memang di sana lah saya berkecimpung. Di tengah kota ini bisa dibilang saya tidak mencari teman, tidak juga mencari hal-hal lain semacam kekayaan atau karir. Well pertanyaannya, saya nyari apa? Hehehe.

Beberapa kali saya menemui gejolak tertentu karena mempertentangkan hal yang praktikal dan yang ideal. Kadang benturan di antaranya bisa membuat saya tak mampu mengendalikan diri dan cenderung jadi membenci hal-hal yang saya kerjakan. Tapi yah, sebagaimana hal-hal yang juga telah saya lalui selama ini, dalam prosesnya saya pun bertemu dengan hal-hal yang saya cintai. Ada proses penasaran, kecewa, marah, benci, maaf, pemakluman, cinta, dan rupa-rupa emosional lain yang saya temukan dalam interaksi saya dengan pekerjaan.

Tentu tidak terlalu menyenangkan tapi kadang di antaranya saya masih bisa memetik hikmah dan kesenangan. Sebut saja bahwa di akhir hari saya suka menghabiskan waktu seorang diri ketika ac kantor sudah mati dan orang-orang sudah bergegas pulang. Kadang di waktu lainnya saya akan memilih pulang lebih awal karena ingin menonton suatu film tertentu, atau secara random mengambil rute memutar untuk mencoba makanan yang membuat saya penasaran. Di lain waktu saya menghabiskan malam dengan memutar pertandingan badminton atau menyempatkan diri mencuci baju di tengah malam.

Yah, kembali ke persoalan judulnya. Menjelang pergantian kabinet baru, ada banyak desas-desus yang beredar di sekitaran kami. Well, tapi tentu saja saya tidak pernah terlalu memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya. Lebih karena penasaran soal ‘bagaimana jika’. Saya bahkan tidak akan heran jika di hari Senin nanti grup kantor akan riuh dengan pembahasan soal perubahan jajaran petinggi atau pindah tempat merger instansi, ya atau apalah itu.

Saya cukup apatis soal hal-hal semacam itu, lebih karena selama menjajal ‘wahana’ ini, saya dipertemukan dengan berbagai fakta menarik yang bertabrakan dengan diri saya atau bahkan yang sejalan. Tentu saja suatu tempat kerja dapat dinilai dengan berbagai cara. Lewat cara berinteraksi antar pegawai di dalamnya, kelompok-kelompok kecil yang terbentuk, interaksi atasan ke bawahannya, sistem kerja yang dibangun, model evaluasi yang dilaksanakan dan lain sebagainya.

Pendapat saya soal tempat ini juga beragam, dan begitu anehnya hingga kadang saya hanya fokus ke hal-hal yang saya lakukan dan seperti biasa, persetan dengan orang lain.

Saking randomnya hal-hal yang terjadi, semakin hari saya semakin yakin untuk trust no one but yourself. Mencari partner boleh, tapi seperlunya saja karena tidak ada yang betul-betul tahu kepentingannya. Do not pick side between two bosses, pick yourself instead. Beyond that, believe in your moral standard too.

Di luar itu semua, lingkaran sosial saya berubah, hal-hal yang sebelumnya bisa tersentuh dan berada dalam jangkauan tangan kini berpindah ke layar dengan berbagai ukuran. Terkadang saya kudu merenung sembari terpaku ke layar kecil di tangan atau layar yang lebih lebar tempat saya menulis saat ini. Yah, karena hari-hari saya diisi dengan rindu dan penantian akan akhir minggu, waktu terbagi ke dalam paruh minggu saja, sisanya sambil lalu tanpa sisa. Aneh ya.

Belakangan saya tidak mampu membagi waktu dan mencari kesenangan yang sama dengan membaca buku, seolah-olah adiksi saya terhadap buku yang sudah tumbuh sejak SD mati pelan-pelan dilanda kemalasan. Beberapa buku yang saya beli akhir bulan kemarin bahkan belum saya sentuh. Sedih betul. Juga soal menulis, yang agaknya juga mulai saya tunda-tunda sampai topik yang saya pikir sangat menarik menjadi terlampau basi dan saya lupakan begitu saja.

Beberapa hal yang kemudian bisa membantu saya untuk terus berrefleksi adalah interaksi dan nonton film. Seketika saya beralih menjadi anak visual dan pelan-pelan menomorduakan dunia tekstual. Rindu lah tentu, apa daya ternyata menjadi pekerja begitu melelahkan.

Tanpa berusaha membaca ulang apa yang saya tuliskan ini, mari saya sudahi. Saya tidak tahu apakah akhirnya saya akan berkutat pada tulisan soal pekerjaan atau saya akan menemukan hal-hal lain yang lebih menarik. Tapi sejauh ini hanya sebatas ini yang mau saya bagi. Tabik.

wordsflow

soal bekerja


Teringat masa-masa saya masih sekolah dan terus menerus disuntik dana oleh kedua orang tua saya untuk hidup, kadang saya meremehkan drama di tempat kerja dan bagaimana orang-orang menghadapinya. Lantas dalam hati memikirkan betul bahwa tidak akan pernah saya merelakan diri untuk menghabiskan waktu saya merasakan drama pekerjaan semacam itu.

Tapi mungkin terkadang hal-hal yang sebetulnya kita takutkan atau enggan menjalani seringkali dijatuhkan begitu saja di hadapan kita. Lantas kita mengada pada kejadian itu dan tidak lagi sekadar mengangani hal yang sebelumnya kita kira-kira. Kita dibenturkan untuk memahami atau akhirnya mengutuki. Pilihkan salah satu.

Sembari mengobrol soal kemungkinan perombakan instansi tempat saya bekerja saat ini, saya dan seorang teman kantor membicarakan tentang bagaimana kriteria seseorang yang dianggap sukses dalam bekerja. Kami mengulik mengenai parameter yang digunakan masing-masing orang dan tampakan yang muncul darinya. Beberapa orang yang dianggap sukses oleh standar dominan di masyarakat ternyata memiliki latar dan proses menjadi yang rumit dan saya kira saya pribadi tidak mau mengalaminya. Beberapa tampak begitu menyenangi pekerjaannya walaupun penampakannya biasa saja.

Sampailah kami pada pembahasan mengenai permasalahan pekerjaan yang sedang kami alami di kantor. Masing-masing kami yang awam dengan sektor tempat kami bekerja dan sistem paten yang sulit untuk dirombak tentu memiliki kekecewaan tertentu dengan apa yang ada. Kami memprotes ini dan itu, mencoba saling menyemangati satu sama lain, bahkan tidak jarang wacana untuk keluar kami perbincangkan sebagai teman makan siang atau pelipur ketika harus merelakan akhir minggu.

Ketika memikirkan ini, saya selalu mengingat bahwa ada begitu banyak orang yang sebetulnya rela mengambil tempat kami bekerja. Dari beberapa pengalaman kecil saya dalam bekerja, baik di sektor formal, informal, serabutan, tukang input data, bahkan menjadi pengusaha, niscaya semua orang menginginkan hal yang sama; kerja ringan, mudah, libur pada waktunya, dan gaji besar. Tapi kembali lagi, beberapa motivasi saya untuk bekerja sebelumnya tidak terletak pada bayaran. Beberapa justru saya ambil dalam upaya saya melarikan diri dari sesuatu, atau menambah pengalaman dan pride karena pernah melakukan ini, atau pernah menjadi bagian dari kegiatan itu. Salah satu yang selalu mengingatkan saya soal pengalaman kerja adalah kerja di startup dengan manajemen yang amburadul, bos yang selalu ribut, keuangan ambyar, pegawai tidak dibayar bahkan dihutangi, ditelponin orang karena hutang, kerja hingga larut malam bahkan pagi buta, tapi menyisakan pelajaran yang barangkali akan selalu saya ingat.

Meski demikian, ketika memikirkan sekarang saya hampir takjub dengan diri saya yang betah di pekerjaan itu pada masanya. Mengingat itu saya kembali berkaca pada kami di hari ini, mencoba melihat dimana letak pemasalahan yang menjadi motivasi munculnya gugatan.

Tapi kiranya tidak bijak bagi saya untuk mendetilkan cerita ini, hehe. Saya cukup berkaca dari pada pendahulu saya di tempat ini soal bagaimana mereka bekerja karena merasa yang kami kerjakan betul-betul membantu dan memberi manfaat untuk orang lain. Kadang sulit juga untuk mengelak bahwa kondisi internal dapat memengaruhi mood tapi seharusnya kerja menuntut kita untuk mengesampingkan hal-hal semacam itu dan alih orientasi pada kualitas kerja. Alih-alih memusingkan bahwa atasan kita A dan B, mengerjakan semaksimal yang kita bisa cukup memperbaiki mood saya sehari-hari. Hanya saja di suatu waktu saya sampai pada titik muak karena sulit sekali melakukan penetrasi ke dalam sistem dalam upaya memperbaiki skema kerja atau eksekusi pekerjaan sesuai dengan gaya yang menurut kita lebih efisien dan efektif.

Dibandingkan masa-masa saya kuliah, waktu luang menjadi lebih sedikit karena begitu selesai bekerja, jalanan membuat tubuh lelah, udara begitu tidak sehat sehingga saya merasa pernapasan saya bermasalah selama beberapa minggu belakangan. Jujur saja, saya iri dengan kebebasan saya di masa lalu dengan semua waktu luang untuk membaca buku, diskusi kritis, bermain-main, yang sayang sekali bekasnya sudah hampir hilang diterpa tuntutan sehari-hari untuk bertahan hidup. Saya bahkan tak lagi punya keberanian untuk mengutarakan pendapat di tengah memanasnya berbagai fenomena sosial dan lingkungan hari ini. Meski tetap membaca, semua hal yang saya tahu adalah hal-hal yang permukaan saja, yang tidak saya tahu sama sekali.

Juga, saya masih terus mengembangkan bisnis dengan menerapkan prinsip-prinsip dasar kapitalisme. Tapi meskipun saya menyukai konsep kapitalisme dalam ranah ekonomi, saya memilih tidak menerapkannya, tidak terlalu berorientasi pada akumulasi nilai lebih dan tidak menerapkan bisnis model kapital intensif. Kadang saya gugup meyakini sesuatu di tengah gejolak masyarakat yang ekstrim dan mudah marah. Juga kalut ketika berhadapan dengan rekan-rekan saya yang begitu siap menghadapi apapun di luar keyakinannya. Sementara itu saya terus menerus berlindung di dalam bilik perlindungan pribadi dengan semua nilai serta prinsip yang saya yakini sendiri. Meski begitu, saya yakin semua orang ingin merdeka dari opresi dan penjajahan, sebagaimana saya juga ingin merdeka dalam pekerjaan. Sebagaimana saya, bangsa yang ingin merdeka mungkin tidak membenci manusia-manusianya, tapi mengutuk sistemnya, dan memerangi praktik opresinya. Entahlah, saya juga tak mampu banyak bicara.

Sekian, mari akhiri saja tulisan ini di sini.

wordsflow

Selasa Berkebaya


Sedari kemarin Pak Bos udah heboh nyuruh semua orang pake kebaya ke kantor. Diingetin dari pagi, siang, sore sampai akhirnya semua orang yakin buat pake kain atau kebaya ke kantor. Hahaha.

Gemes sih, tapi suka. Fun fact, saya dan Pak Bos ultahnya samaan, dan beliau orang pertama yang ngucapin selamat ke saya tahun ini, soalnya udah ngecim dari jaman penerimaan pegawai. Senang sekali karena Pak Bos karakternya mirip Pak Kumis, dan jadi terharu gitu punya bos sebaek beliau. :’

Singkat saja ya postingan ini tribut untuk hari yang hectic tapi seru.

ps. Mbak-mbak baju putih sebelah kanan itu idola saya di kantor. Tapi bentar lagi resign, :’

wordsflow

Menyoal Cinta


Barangkali menjadi relevan kembali untuk membicarakan cinta. Terlepas dari apa yang sudah, sedang, dan akan saya alami terkait topik ini, membicarakan cinta sudah menjadi hal yang paling menarik di abad ini. Segala isu di luar itu kalah dan hampir tidak punya kekuatan untuk melawan popularitas topik percintaan di masa kini. Sebut saja isu-isu penting nasional dan internasional, misalnya soal sampah, pemanasan global, perburuan satwa, berkurangnya tutupan hutan, dst. Barangkali pesaing topik ini cuman abang-abang boyband Korea, skinker, sama perkucing-anjingan.

Okai ini lebay sih, bisa diabaikan, hahaha.

Again, membicarakan cinta menjadi relevan karena hampir setiap orang di dunia ini (saya katakan hampir karena selalu ada yang tidak), pernah mengalami pasang surut kehidupan karena percintaan. Perkembangan hidup kita, berisikan cinta di sepanjang perjalanannya, menempatkan kita menjadi objek, penonton, subjek, dan barangkali penasihat. Begitu banyak meme, percakapan virtual, and even like what the one said to me, “and other lies you can tell to yourself.”

Pembicaraan mengenai ini menjadi menarik kembali karena saya lagi-lagi masih menemukan relevansinya dengan hidup saya sendiri, dan apa yang saya pelajari dari sekitaran saya.

Seorang senior menyebutkan bahwa melalui pengamatannya,

Tentang nikah dan berprestasi: semakin banyak ketemu orang ‘berprestasi’, polanya justru kebanyakan sudah ‘menikah’/punya hubungan jangka panjang. Semacam konsekuensi alamiah dari kemampuan berkomitmen dan kedewasaan emosional, yang biasanya berkorelasi positif dengan pencapaian.

(Kausalitasnya belum konklusif tapi ya. Misal menurut satu sisi mungkin support moral partner menjaga ‘emotional hygiene’ sehingga lebih produktif dan fokus. Atau sebaliknya, prestasi leads to a certain socio-economic status that helps you find partner menurut pendapat lain.)

Sebetulnya jika dimaknai barangkali sudah tidak perlu ada penjelasan tambahan tentang pernyataan di atas. Tapi kalau saya boleh menggarisbawahi pernyataan ini, ada beberapa kata kunci yang bisa mengawali pembicaraan mengenai hal ini.

Yang paling menarik adalah penyebutan tentang kemampuan berkomitmen dan kedewasaan emosional.

Barangkali klise saja, dan tidak ada yang mengejutkan dari hal ini. Komitmen menarik dibicarakan karena sejauh yang saya lihat dari lingkungan sekitar, ada perubahan dalam diri seseorang ketika kita sudah berani mengambil komitmen tentang sesuatu. Tapi pertanyaannya, yang bagaimana yang bisa disebut sebagai komitmen. Kadang kita bias saja menyebut sesuatu sebagai sebuah komitmen karena sudah diputuskan, padahal kita semua, setidaknya sekali pernah terjebak pada salah kaprah pemahaman atas komitmen.

Kenapa komitmen dan kedewasaan emosional perlu disandingkan, karena keduanya memiliki hubungan kausalitas, atau jika boleh saya katakan bahwa kedewasaan emosional membawa kita pada hal-hal semacam komitmen, in their real meaning. Bisa jadi, itu juga yang menyebabkan komitmen tidak disebut dalam kata dasarnya namun sebagai sebuah ‘memampuan berkomitmen’. But there, butuh kedewasaan emosional agar kita mampu melakukannya.

Menilik ke kehidupan personal saya berkaitan dengan ini, ada beberapa tahapan hidup yang saya putuskan dalam kekalutan, kemarahan, atau sekelumit dendam. Gejolaknya memang tidak cukup besar, tapi pada titik tertentu mengguncang stabilitas emosional harian saya di lingkungan baru. Membuat saya mempertanyakan kembali apakah saya kurang bersungguh-sungguh dalam mengasah kedewasaan emosional saya. Komitmen saya tidak berjalan mulus karena saya mengkhianatinya dan lebih memilih mengikuti emosi saya.

Ada banyak teman-teman saya yang memiliki kedewasaan emosial sejak saya masih berada di titik paling arogan. Mereka yang kemudian membuat saya sadar ada yang salah dengan diri saya dan karenanya saya menggali-gali seorang diri (meski akhirnya meminta bantuan) untuk menemukan bongkahan-bongkahan kebebalan lantas mencoba melihatnya dari segala sudut.

Saya pikir, titik moksanya manusia dalam menjalani kefanaan ada pada kedewasaan emosionalnya. (anjay nih ngomong apa sih) Bukan berarti harus selalu menjadi positif, atau menjadi protagonis dalam setiap kesempatan. Mendewasa menurut saya mungkin lebih dekat dengan kesadaran (being aware) atas diri. Tahu kapan berbahagia, kapan menangis atau kapan menghentikannya, menyadari setiap hal yang kita rasakan. Olah rasa mereka menyebutnya. Tapi yah, saya bahkan tidak berani mengira-ira kapan saya bakal lulus dalam menjalani tahap pembelajaran ini.

Lalu korelasinya dengan mencintai apa? Karena mencintai adalah komitmen, dimana dibutuhkan kedewasaan emosional untuk membuatnya menjadi benar.

Sempat terpikir oleh saya bahwa mencintai saja ternyata tidak cukup. Manusia membutuhkan ‘imbalan’ atas cinta itu dengan dicintai dengan sama besar. Kadang tidak bersyarat, tapi saya sendiri menyadari bahwa saya menetapkan standar-standar tertentu. Apa sebab saya bisa tahu? Karena pada satu titik saya merasa tidak adil bahwa saya tidak dicintai sebesar yang saya kira saya berikan ke orang lain. Tapi pemikiran semacam ini pun perlu saya ragukan kebenarannya karena praktis selama 27 tahun hidup saya, saya tidak pernah mencintai dengan benar. Saya curiga bahwa saya hanya merasa mencintai seseorang alih-alih betul-betul melakukannya.

Dan barangkali benar bukan seperti itu. Ketika seseorang mencapai kedewasaan emosional, dia akan tahu kapan bertahan dan kapan melepaskan. Dia mengerti komitmen semacam apa yang sebaiknya diambil. Entah kenapa saya yakin bahwa kedewasaan emosional lah yang menjamin berjalannya komitmen, dan bukan sebaliknya.

Tapi yah, saya kurang tahu sampai di mana kah saya saat ini. Pun saya kadang masih terjerumus ke dalam perasaan di dalam diri dan sering sukar untuk melawannya. Saking saya harus memetakan berbagai badai emosional yang saya rasakan, kadang saya menulis buku harian dengan berderai air mata, kehilangan jam-jam istirahat karena meladeni keinginan untuk menangis saat itu juga, atau sengaja mencari film yang memancing emosi-emosi tertentu. So silly but it helped me to track back my emotions.

Sebagaimana yang saya sebutkan, tulisan ini saya buat karena terpancing dengan pernyataan di atas. Mana mungkin orang yang tidak bisa melakukan satu hal dengan benar berani-beraninya menulis hal semacam ini? Hehehe. Tapi justru dengan alasan yang sama, saya mencoba membenahi apa yang salah dari nalar dan kemampuan saya dalam merasa.

Meskipun ada beberapa prinsip yang coba saya jalani, saya juga menyadari bahwa sebebal-bebalnya manusia, kita selalu butuh orang lain untuk bergantung. Barangkali untuk memberikan dukungan emosional atau justru untuk kita sirami cinta sebanyak yang kita mau. Dengan memikirkan ini saya sering merasa tenang melihat teman-teman saya mendadak menikah karena dijodohkan atau bertemu dengan orang yang sama sekali baru.

Sebelum benar-benar mencapai akhir paragraf, saya ingin berpesan satu hal. Karena mencintai itu bagian besar, ketika cintamu berbalas, maka berbahagialah. Cintailah pasanganmu sebaik-baiknya kamu ingin dicintai. Di tengah argumen tentang cinta yang semakin banal dan ‘tidak istimewa’, mampu mencintai dengan benar saja sudah sangat baik, terlebih ketika kamu dapat menemukan frekuensi yang sama atas perasaan itu. Dan untuk Anda-Anda yang belum berpasangan, mencintailah dengan benar meski cintamu tidak berbalas. Setidaknya kamu memberi yang orang lain butuhkan, yang dunia ini butuhkan, yang kamu sendiri juga butuhkan. Percaya deh, tidak ada yang sia-sia dari cinta.

Akhir kata, sampai di sini saya masih ragu saya menulis apa, karena apalah arti tulisan ini sementara saya masih percaya zodiak dan golongan darah. Hahahaha.

Ya begitulah, antara bohong dan tidak, bergitulah saya mencoba berkamuflase dalam berkehidupan.

Semoga berkenan dengan tulisan ini. Tabik.

wordsflow

Menjadi Jakarta (ii)


Tanpa disadari saya sudah memasuki bulan ke tujuh di kota asing ini, yang yah, selama seminggu-dua minggu belakangan banyak dibicarakan karena sempat menduduki peringkat pertama kota dengan polusi udara terburuk di dunia. Rasa-rasanya bahkan tanpa indikator itu pun, udara Jakarta memang tidak jelas juntrungannya. Anehnya, saya setiap malam selimutan karena kedinginan meskipun tidur tanpa ac atau kipas angin. Barangkali iklim di sekitar kosan saya memang lebih asik. Saya pribadi sebetulnya bodo amat dengan indikator ketercemaran itu. Tanpa itu pun masalah yang dihadapi Jakarta sudah sangat banyak. Dan barangkali indikator polusi udara hanya selentingan kecil dari bergitu banyak masalah yang ada di Jakarta. Itu kita belum membicarakan soal air, RTH, apalagi daya dukung lingkungan.

Kadang ketika membayangkan apakah sebuah kota betul-betul punya limit tertentu? Padahal jika dibandingkan dengan kota-kota megapolitan lain yang ada di dunia, Jakarta belum lah sepenuh itu. Manhattan misalnya, dengan gedung yang lebih tinggi, kepadatan yang lebih intens, dan seterusnya, terasa lebih apa ya, ‘ramah’ aja gitu ketimbang Jakarta. Meski demikian saya yakin ground coverage Jakarta sudah melebihi batas sih. Tidak ada ruang bagi tanah di bawah Jakarta untuk bernapas lebih bebas.

Eniwei, disamping kesemrawutan Jakarta, saya sendiri menyukai beberapa detil kecil yang mungkin luput oleh orang lain, atau tidak dirasakan orang lain karena mereka tidak berada di kondisi seperti saya. Beruntung sekali misalnya, jalur berangkat saya lewat Menteng dimana pohon-pohon besar masih tumbuh di kanan kiri. Selalu masih bisa melihat kabut-kabut tipis yang sifatnya lokal saja di Taman Suropati, agaknya ini adalah taman terbaik di Jakarta. Sementara itu untuk pulang saya selalu bisa naik trans Jakarta yang selalu penuh sepanjang waktu, semalam apapun saya pulang dari kantor.

Lagi-lagi, di tengah semrawutnya Jakarta, ada cukup banyak hal yang masih menyenangkan. Tentu saja menyebut hal-hal setelah ini sebagai sesuatu yang menyenangkan berakar dari potensi besar untuk terus merasa kesepian di kota ini. Sebuah keniscayaan ketika teman kantormu meskipun masih seumuran tapi rata-rata sudah berkeluarga dan tinggal sedikit lebih keluar kota, atau teman-temanmu yang belum menikah mayoritas sudah lama tinggal di Jakarta dan yah, sudah memiliki geng gaul sendiri dimana gaya mainnya bukan tipemu. Dan faktor yang selalu membuat saya maju-mundur, adalah kenyataan bahwa saya sering ogah basa-basi main dengan orang lain yang saya belum betul-betul paham karakternya. Masalahnya, memahami karakter rekan kerja ternyata sedikit lebih rumit dibandingkan yang saya bayangkan karena praktis tidak ada kegiatan non formal apapun yang bisa menjadi gerbang masuk analisis karakter, sehingga apa-apa jadinya ya formal aja. Begitulah, saya menyerah mencari teman karib yang baru di kota asing.

Maka pilihan yang paling tepat adalah berteman karib dengan diri sendiri. Hehehe. Bagian ini sedikit rumit karena bahkan di waktu-waktu tertentu saya sendiri juga sering kesal dengan diri sendiri. Ngerti lah ya maksudnya. Hubungannya agak love-hate relationship sih, tapi saya berusaha lebih banyak love-nya. Hahahaha.

Yak begitulah. Jakarta menawarkan tiga hal baru yang bisa saya masukkan ke dalam daftar kesibukan harian saya. Bedanya, seluruh kesibukan itu baru bisa saya lakukan selepas pulang kerja, yang artinya di atas jam 18.30 mengingat hampir tidak mungkin lagi bagi saya untuk pulang tepat waktu.

Pertama, wisata kuliner. Suatu hari di awal pindah saya, Mbak Teppy (iya betul, yang suka review film itu) mempromosikan akun @darihaltekehalte (saya curiga itu dia yang bikin sih, hampir yakin 100%) yang ngasih info tempat-tempat makan enak sekitar halte. Pas banget momennya dengan dibukanya jalur MRT secara resmi dan voila, dalam beberapa bulan mereka sudah super femes dengan ratusan rekomendasi tempat makan. Premisnya seru sih, karena Jakarta adalah kota rantau, kamu akan bisa menemukan makanan paling enak dari semua daerah di Indonesia. They tried to prove that they are right, and they did it.

Yang lumayan seru sih karena kantor saya deket jalan Sabang yang merupakan salah satu penggal jalan paling terkenal se Jakarta karena makanannya. Jadilah ketika istirahat siang hari Jumat yang lebih lama dari biasanya, kami sempatkan menjajal beberapa tempat makan bergantian setiap minggu. Salah satu favorit saya sih Claypot Popo. Tampilannya asik, makanannya enak, dan kopi tariknya enak banget. Atau kalau malam saya juga sering jalan sampai Sarinah untuk sight seeing atau mampir beli makanan di beberapa warung tendanya. Beberapa kali saya bahkan sengaja naik MRT atau KRL sekedar untuk menuju tempat makan yang membuat saya penasaran. Sesederhana itu sebetulnya, tapi wisata kuliner adalah hal yang paling bisa ditawarkan oleh kota seruwet Jakarta.

Kedua, menjadi anak nonton. Sebetulnya, Jakarta tidak betul-betulnya memaksa saya jadi anak nonton sih. Berawal dari mengenal JAFF di akhir tahun lalu dan menjadi merchant partnernya, saya merasa terbuka wawasannya akan seasik apa sih punya hobi nonton, hehehe. Alhasil setelah selesai event dan tidak berhasil nonton film apapun karena semua tiket sold out, saya mulai nonton sendiri karena jauh lebih efektif dan efisien tanpa perlu berdebat soal apa, kapan, dan dimana mau nonton film. Juga bertemu dengan akun film baru yang adminnya tengil, jadi saya terpanggil buat follow, hahahaha.

Begitulah, ya walaupun nggak ngerti-ngerti amat soal dunia perfilman, artis dan aktor embuh siapa, atau franchise film semacam Toy Story misal (yang baru saya tonton tepat sebelum nonton film ke empatnya). Apalagi banyak bioskop enak di sekitar kosan yang jaraknya nggak sampai 5 menit, banyak pilihan bioskop murah dengan layar segede gaban, jam tayang banyak, dan yang paling penting, promo diskon :’. Penyelamat kantong banget. Susah sih ya mau banyak gaya tapi hemat di ibu kota tuh butuh strategi, hehe.

Dan terakhir tentu saja, performing art dan pameran yang sebetulnya ada banyak tapi kudu check dan recheck tanggal. Salah satu yang paling saya tunggu-tunggu dari dulu adalah nonton Jakarta City Philharmonic. Sudah ngikuti dari jaman mereka baru dibentuk pertama kali berkat Mas Suta yang merupakan idola violinist sejak jaman masih sering nampil di Tembi atau di ISI ternyata gabung orchestra ini juga. Yha meskipun kadang kalo nonton suka super ngantuk karena repertoarnya yang enak, tapi pengen nonton banget.

Atau event-event lain yang diselenggarakan oleh Galeri Indonesia Kaya misalnya, atau Salihara, atau komunitas-komunitas kreatif di Jakarta yang kegiatannya juga super banyak. Banyak sih pilihannya. Cuman kadang kalo udah naik bis pengen langsung aja sampe kosan terus leyeh-leyeh. Hehe.

Okeeiii. Demikian cerita bahagia dari saya sebagai perayaan karena saya sudah menemukan foto profil yang pas untuk akun whatsapp saya. Huehehehhehehe.

Semoga kalian berkenan. Love you.

wordsflow

22.22


Baiklah saya mau nambah postingan untuk blog ini. Sembari memikirkan apa sekiranya yang bisa saya tuliskan, agaknya saya sekali lagi tengah mengalami perputaran emosional yang sebetulnya sudah saya rasakan beberapa kali dalam kurun 5 tahun belakangan.

Saya menyadari ternyata sulit bagi saya untuk mengingat apa yang terjadi pada saya selepas saya selesai menjalani kuliah arsitektur. Bahkan saya baru sadar bahwa sudah hampir 6 bulan saya pindah ke Jakarta tapi ingatan saya tentang kurun waktu ini ternyata samar-samar saja. Pertanyaannya kemudian, saya isi dengan apa slot memori dalam kurun waktu ini? Hehehe. Jawabnya ada, di ujung langit, kita ke sana dengan seorang anak, anak yang tangkas, dan juga pemberaniiii.

Ya begitulah, ada banyak hal yang mengganggu saya.

Tapi sadar atau tidak, meski begitu kuat saya mengatakan tidak, Jakarta memang merusak stabilitas emosional saya pada waktu-waktu tertentu. Gejolak emosional yang saya rasakan jauh lebih ekstrim ketimbang ketika saya masih ada di Jogja. Sebabnya apa? Kondisi lingkungan yang tidak seasik Jogja, deretan manusia yang tidak tampak manusiawi, sentimen orang-orang terhadap gaya hidup dan pilihan kita, dan alih fokus saya dari dunia nyata ke dunia maya.

Yang terakhir adalah rutinitas yang ternyata mempengaruhi saya jauh lebih dalam dari yang saya kira. Sudah banyak artikel dan perbincangan mengenai pengaruh media sosial terhadap kita, tapi bagaimana kiranya dia sungguh berpengaruh, kadang sering kita kesampingkan begitu saja.

Sebagai contoh, suatu ketika saat saya sedang fokus dengan pekerjaan saya hingga tengah malam, kebosanan membawa saya pada jendela-jendela linimasa yang menunjukkan kegiatan teman-teman karib saya di Jogja. Kegiatan mereka menarik ingatan dan pikiran saya untuk ‘melompati’ ruang-waktu lantas ber-ada pada ruang-waktu yang sejajar dengan mereka. Ponsel pintar kita menggantikan daya imajinasi kita dan menyediakan segala hal yang bisa ‘membawa’ kita melompati jarak ruang-waktu itu sendiri. Sehingga demikian, meski raga saya masih melekat di tempat duduk sembari rapat dengan rekan kerja, pikiran saya, daya imajinasi saya, fokus saya, semuanya telah ada di tengah-tengah hingar bingar keseruan bersama rekan-rekan saya di Jogja.

Dampaknya apa?

Tentu, itu ibarat kita naik kendaraan dengan jendela ditutup rapat sehingga apapun yang ada di luar tidak akan bisa kita rasakan dan kita pahami, segalanya berlangsung sambil lalu saja. Seluruh indra saya terpecah dan hanya menyisakan memori visual tanpa benar-benar mengendap sebagai memori yang mencakup rasa dan respon emosional.

Terkadang metode ini berhasil menyelamatkan saya dari kebosanan mengikuti kegiatan atau hal-hal yang mengganggu saya pada kondisi faktual. Tapi di saat tertentu justru pikiran saya melayang di antara yang nyata dan maya, tidak berada di salah satu sisinya. Dan alih-alih merasa terhindar dari perasaan-perasaan mengganggu di dunia nyata, atau turut merasakan euphoria dunia maya, saya justru merasa kosong belaka.

Pada titik inilah segala bentuk pertanyaan eksistensial, ketuhanan, emosional, filosofis, kritis, ya apapun lah yang abstrak-abstrak itu, atau bahkan kadang yang tidak abstrak sama sekali menyeruak ke permukaan dan memboikot pikiran saya begitu saja. Lucu ya, akhirnya saya jadi harus melawan diri saya yang lain untuk bisa kembali membumi dan berada pada tempatnya.

Kadang saya gagal dan jatuh frustasi dengan aksi boikot itu dan mau tidak mau harus mencari bala bantuan dengan metode tertentu. Tentu juga barangkali sama seperti manusia lain yang hidup di kota dengan kesibukan abstrak dan cenderung menekan, hidup normal dengan proporsi kerja-istirahat-liburan yang kurang ideal terasa luar biasa sulit di sini. Mayoritas fokus kerja terpecah ke banyak hal antara lapar atau ingin pulang ke rumah. Berbarengan dengan perasaan tertekan karena harus menyelesaikan pekerjaan dengan baik dengan resiko tertentu, kadang tidak suka tapi kamu butuh uang untuk hidup.

Tapi lagi-lagi, bukan berarti hal semacam itu mustahil untuk diraih. Pada kondisi tertentu hidup di Jogja juga terasa begitu menekan tapi dengan faktor yang sedikit berbeda. Keseharian kita diisi dengan artikel-artikel tentang upaya menjabarkan gejala dan resiko generasi milenial yang disebut sebagai generasi yang gila kerja, jaminan hari tua yang minim, angka perceraian tinggi, ketidakmampuan memiliki properti, seringnya berpindah-pindah kerja, dan lain sebagainya. Kita tergencat sana sini oleh hal-hal semacam itu yang tersebar secara tidak bertanggung jawab di kanal-kanal media sosial atau percakapan pribadi.

Di Jakarta mudah sekali menjatuhkan penghakiman pada seseorang karena penampilan atau gaya hidupnya. Kamu harus betul-betul sadar menjadi diri yang seperti apa dengan cara apa. Bersiasat begitu jeli untuk menemukan celah-celah yang akan tetap membawa diri kita ya menjadi kita apa adanya.

Klise sih sebetulnya, karena toh kita semua melakukan ini. Tapi menahan diri untuk tidak tertarik masuk pada lingkaran gaya hidup kelompok tertentu baik dalam lingkaran pertemanan nyata dan maya adalah tantangan yang sama-sama kita hadapi bersama, di manapun kita berada. Well, untuk hal ini marilah kita kutuk kanal-kanal media sosial dan mulai menyaring apa-apa yang ingin kita lihat dan kita telaah darinya.

Lagi-lagi, senang sekali saya masih memiliki ruang semacam ini untuk tetap berada pada jalur perjalanan saya tanpa harus digempur kanan kiri oleh hal-hal yang sedang naik daun. Blog ini semacam suaka dan senang sekali mengetahui bahwa masih ada orang-orang yang sering menulis panjang dan terus menghidupi dunia paralelnya tanpa penghakiman. Benar, kadang kita tidak sadar begitu lelah karena menghidupi diri kita di berbagai kanal dalam waktu yang bersamaan. Kita membentuk diri kita menjadi beberapa figure yang berbeda, atau mengulang penggambaran figure yang sama pada jendela yang berbeda. Dengannya kita—atau saya—sering melupakan bahwa di antara jendela-jendela itu ada pintu yang bukan hanya menampilkan citra tapi betul-betul membawa saya keluar ke mana pun yang saya mau.

Akhir kata, hari sudah berganti dan inilah saatnya bagi saya untuk undur diri.

Semoga esok kita masih bisa saling menyapa di salah satu jendela favorit saya ini. Tabik.

wordsflow

Instrumen.


Semalam RADWIMPS mengunggah music video mereka untuk Weathering With You, part orchestranya suka, juga gubahan liriknya. Lalu ternyata perjalanan blogging saya agaknya memicu saya untuk menuliskan tulisan ini.

Tapi sebelum itu, saya ingin sedikit berbagi. Belakangan saya dirundung perasaan yang tidak menyenangkan dan saya pikir saya sendiri kurang mampu pun kurang bijak dalam menanggapinya. Kadang saya ingin menunjukkan keinginan saya untuk diperhatikan atau dipedulikan oleh orang lain, meskipun barangkali beberapa saat kemudian saya akan merasa bahwa hal semacam itu terlampau kekanakan. Tapi mari sekali lagi mengakui bahwa istilah ‘mendewasa’ itu kadang membebani. Saya mulai merasa bersalah ketika mengekspresikan emosi akan sesuatu, atau menumpahkan emosi melalui media tertentu. Toh sebagai manusia kamu tidak perlu tampak bahagia sepanjang waktu. Saya suka ingin bilang dengan jumawa bahwa kita merdeka menjadi diri sendiri, tapi seringnya lupa bahwa kita hidup bersama orang lain. Jadi akhirnya lagi-lagi merasa salah karena menerima feedback yang tidak menyenangkan. I paid for my ignorance. Hahaha, kesel.

Well, memikirkan ini sering membuat saya hilang arah dan harus memaksakan diri tidur sebelum mengarah ke hal-hal yang tidak jelas. Jadi sekarang, mari kita bicara yang enteng-enteng saja.

Setiap kali mendengarkan radio hari kamis, saya sering kali merasa terpanggil untuk menulis tentang lagu-lagu yang membekas di ingatan saya. Jauh sebelum tulisan ini, saya pernah membahas beberapa, meski seadanya. Tapi barangkali, yang sedikit mengejutkan saya, ada beberapa lagu yang ketika saya dengarkan ulang kemudian menyisakan kesan yang lebih mendalam.

Minggu lalu ketika iseng mencoba memperbarui playlist saya yang lama, seorang teman bertanya, musik seperti apa yang saya sukai atau barangkali siapa yang saya anggap menarik? Saya baru menyadari bahwa musik menempati dimensi yang sedikit berjarak dari saya. Dibandingkan mendekatinya, terkadang saya lebih tertarik pada lagu yang tidak sengaja mampir, lantas memikat hati saya.

Saya tidak mendengarkan The Beatles, hal yang barangkali agak aneh mengingat mereka adalah kiblat pemusik seluruh dunia. Tapi bukan berarti saya tidak tahu satu pun lagu mereka. Di dunia dimana The Beatles ibarat imam, kamu tentu saja akan sesekali mendengarkan Yesterday, Hey Jude atau beberapa lagunya yang lain. Ketika pertama kali betul-betul berniat mendengarkan albumnya, saya cenderung menganggapnya membosankan.

Tapi ternyata kemudian saya jatuh cinta pada lagunya yang While My Guitar Gently Weeps. Suka, suka banget. Saya sering mendengarkan lagu dengan headset, dan belakangan headset saya mengalami peningkatan kualitas, yang karenanya detil-detil instrument tipis-tipis yang terkadang luput dari telinga saya akhirnya bisa tertangkap dan entah bagaimana semakin sering saya mengulang lagunya, semakin ingin saya mengenal The Beatles. Hehe.

Saya bisa dengan mudah tertarik pada sebuah lagu karena instrumen pada intro lagunya. Kita kadang merasakan hal semacam itu nggak sih sama lagu yang kita suka? Kadang kamu kecewa dengan lagu di tengah-tengahnya, atau terkejut di bagian akhir. Tapi instrumen menjadi bagian paling menarik menurut saya. Kadang semakin tertarik karena merasa liriknya saya suka, dan cenderung menimbulkan pertanyaan kenapa lirik itu bisa muncul.

Tapi satu hal juga barangkali, saya suka sekali dengan musik yang emosional, entah ekspresi sedih, depresi, mengharu biru, kemarahan, yah atau emosi-emosi sejenis. Ya bukan berarti saya nggak suka musik jenis lain yang lebih ceria. Saya suka beberapa lagu-lagu Korea loh, hahaha. Tapi barangkali lagu-lagu itu tidak akan pernah menjadi rujukan saya ketika ingin mendengarkan lagu sih.

Atau, lagu-lagu yang saya temukan dari sebuah film. Dari begitu banyak album, list teratas saya masih Kimi No Na Wa. Barangkali karena saya bukan hanya menyimpan kesan, namun juga cerita, perasaan, emosi, dan pemikiran-pemikiran tertentu atas filmnya, jadi ketika mendengarkan musiknya, segala hal jadi terbawa serta.

Oh yah, memang tulisan ini nggak jelas sih. Hahaha. Barangkali pembaca sekalian sedikit penasaran dengan hidup saya, dua video ini sering sekali bisa membangkitkan emosi saya akan hal-hal yang terjadi dalam hidup. Bukan hanya soal animenya, tapi coba deh dengerin lagunya dan perhatikan masing-masing orang yang main instrument di orchestranya. Sedikit banyak, mereka membangkitkan semangat saya untuk menjalani hari-hari.