WORDS FLOW

just go with the flow and whatever happens, happens

Menjelang 2020


Bulan terakhir di tahun ini akhirnya sampai sudah. Satu tahun yang lain sudah kita lewati dan yah, barangkali jauh berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya, saya hampir tidak memiliki memori yang berarti kecuali hal-hal yang begitu melekat terjadi di awal tahun ini, serta beberapa hal menyenangkan yang begitu saja bisa saya panggil dan putar ulang di dalam ingatan pada sela-sela minggu dan bulan yang cukup berat.

Sudah 10 tahun lebih saya memiliki blog ini untuk menuliskan apapun, merekam apapun yang ingin saya utarakan, dan di waktu-waktu tertentu tentu membantu saya untuk mereka ulang sesuatu atau mendalami sesuatu yang terjadi sebelumnya. Banyak sekali narasi yang saya ulang dan saya replikasi dengan tata bahasa atau kesadaran baru, tapi tidak jarang saya mengulang beberapa pemahaman kemudian sekali lagi menuangkannya dalam tulisan. Di samping tulisan-tulisan di sini, ada banyak tulisan-tulisan lain yang tersebar di laptop, di buku, di jurnal yang lain, terselip di buku catatan, di notes handphone, dan entah menulis random di mana lagi.

27 tahun. Dan tahun depan umur saya sudah akan bertambah satu. Di waktu-waktu ketika semua sebaya saya telah memilih ‘kepastian hidup’ tertentu, atau setidaknya memantapkan langkah untuk satu dan lain hal. Saya menyadari satu hal akan kecenderungan saya, bahwa ketika seorang sahabat saya menikah, saya cenderung mengambil jarak, atau setidaknya saya merasa jarak itu otomatis ada. Hal-hal yang sebelumnya menarik untuk dibicarakan menjadi biasa saja, atau tentunya, pembagian waktu kita menjadi berbeda.

Bukan suatu hambatan khusus sebetulnya. Saya suka sekali mengetahui bahwa teman-teman saya menikah, punya anak, atau mendapatkan pekerjaan tetap sehingga mereka harus berpindah domisili. Hanya saja mau tidak mau saya harus mengakui bahwa ada hal-hal yang tadinya begitu penuh mengisi keseharian tetiba kosong saja karena mereka terpisah dari saya. Dan sembari menuliskan ini, saya memikirkan betul di tahun depan apa kiranya yang akan terjadi pada sahabat karib saya. Tentu saja selama ini kami berjarak karena memang rutinitas dan profesi yang berbeda. Tapi lagi-lagi, akan berbeda halnya ketika suatu hari dia menikah atau berpindah ke tempat yang tidak bisa saya kunjungi sewaktu-waktu.

Oh ya saya melantur, hehe.

Baiklah, tulisan ini terinspirasi oleh sebuah postingan teman lama saya yang kini berjarak setelah belahan bumi dengan saya. Sekilas cerita, teman saya ini bisa saya sebut sebagai orang yang membelokkan jalan takdir saya di penggal SMP menuju SMA. Saya kira begitulah peran dia di dalam hidup saya. Haha, lucu juga.

Sewaktu SMP saya mengikuti sebuah pelatihan setelah diadakan seleksi di Jogja, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Bertemulah saya dengan anak ini, namanya Mona. Dia setahun lebih muda dari saya, tapi ketika saya berkenalan dia sudah menjadi bahan pembicaraan semua pengajar saya selama pelatihan dan duduk setingkat dengan saya. Baik saya dan Mona sebetulnya tidak sungguh akrab karena jarak sekolah kami yang berjauhan, juga barangkali beda grup selama pelatihan. Tapi dia supel sekali, dan setiap waktu bisa berbaur dengan semua orang dengan mudah. Setelah masa pelatihan berkali-kali kami bertemu di kompetisi, pun pada beberapa kompetisi Mona tidak ragu untuk mengajak atau memberitahukan kami. Barangkali itu masih masa Friendster?

Lewat Mona saya tahu banyak hal, banyak mimpi, juga banyak eksperimen terhadap pengembangan diri. Waktu itu saya getol sekali membeli beberapa seri komik, dan Mona satu-satunya yang tahu Motohiro Katou, pengarang favorit saya, juga MIT yang pernah menjadi kampus impian saya ketika masih muda. Begitu banyak imajinasi, kesenangan, angan-angan, juga perjuangan di beberapa kompetisi dengan teman-teman kami juga sebagai rivalnya.

Di akhir masa SMP, saya mengambil satu kompetisi yang akhirnya memisahkan kami dan menjauhkan saya dari Jogja. Perkaranya sebetulnya sederhana saja, saya ikut kompetisi atas desakan Mona, tetapi segala hal menjadi di luar perkiraan saya. Bisa dikatakan itu salah satu kejutan yang paling memukul saya pada masanya. Saya mengalami gegar budaya ketika berpindah, dan seolah peta hidup saya yang sebelumnya pernah saya susun buyar begitu saja.

Perihal mengatur hidup sebetulnya saya kacau sekali. Tapi nasib sering kali memberi saya kejutan yang kadang saya pikir terlampau keterlaluan atau yang begitulah caranya mengganjar saya yang bebal ini.

Setelah merenungkan ini beberapa hari yang lalu, juga mengingat kembali apa kira-kira yang saya harapkan kepada saya di masa kini sekitar 15 tahun yang lalu? 10 tahun yang lalu? Apa yang saya pikirkan ketika pertama kali membuat blog, memutuskan mengambil sekolah kembali ke Jogja, melepaskan cita-cita kecil untuk sekolah keluar, menerbitkan karangan yang entah sudah di mana naskahnya, melupakan riset mapala dan justru tenggelam ke dalamnya, juga keputusan-keputusan lain setelahnya yang ‘terhapus’ oleh keterlemparan diri pada tempat saya kini.

Tapi di akhir bulan menuju tahun 2020, bersyukur sekali bahwa saya masih mampu bertahan dengan segala cara selama 10 bulan terakhir, masih mampu mempertahankan jenama yang dibuat dalam proses healing atas penolakan-penolakan yang lampau (tanpa sadar sudah 5 tahun lamanya), mengambil makna di tengah rutinitas yang begini-begini saya, juga memiliki waktu untuk menulis di sini atau di tempat lain, memikirkan hidup dan memaknainya setiap hari menjelang tidur, dan seribu satu hal yang sepatutnya disyukuri.

Baik sekali kiranya, bahwa waktu memberikan banyak hal untuk direnungkan, dipikirkan, dan dimaknai. Segala hal mungkin belum berada pada tempatnya tapi kita bisa punya pilihan kedua untuk menerima saja tempatnya, hehe. Tidak mudah barangkali, tapi sewaktu menjelaskan kepada seseorang, saya tersadar bahwa barangkali, bentuk tanggung jawab paling tinggi adalah menerima hal-hal yang telah diputuskan oleh diri, apapun alasan di baliknya.

Dan yah, salah satu bentuk previlese yang harus disyukuri oleh sebagian besar dari kita adalah bahwa kita masih punya pilihan atas satu dan lain hal.

wordsflow

Tripusat Pendidikan


Ketika menulis sampai tengah saya merasa perlu membuat disclaimer, bahwa sebagai orang yang tidak terjun langsung di dunia pendidikan, atau bersentuhan langsung dengan pendidikan, suatu hari saya juga menjadi objek pendidikan itu. Jadi semoga tulisan ini cukup relevan.

Beberapa waktu yang lalu saya diajak teman kantor untuk menghadiri kegiatan klub bukunya. Sebuah oase di tengah gersangnya kota karena saya sampai hari ini belum menemukan komunitas yang menarik dan asik lantaran saya memang lebih suka kemana-mana sendiri. Klub buku ini merupakan klub yang diinisiasi oleh teman kantor dan beberapa teman kuliah mereka saat masih menempuh pendidikan, dibuat untuk menciptakan ‘crack‘ atas kehidupan kota yang monoton. Sementara hari-hari di masa kuliah mayoritas kita habiskan untuk kegiatan volunteering, praktis ketika kerja dan dihadapkan pada rutinitas yang monoton dan kerumitan birokrasi yang aduhai, ada bagian dari diri yang barangkali menjadi tidak terpuaskan lagi. Untuk itu klub itu ada.

Saya hadir di diskusi ke empat mereka. Konsepnya sederhana saja. Mereka menentukan sebuah buku untuk dibahas. Membuka forum untuk membahas buku itu dengan seorang pemantik diskusi. Semacam bedah buku, tapi nggak bedah-bedah amat.

Lewat pembicaraan yang ngalor-ngidul dan seru, dan menarik, kami membahas beberapa isu terbaru, termasuk diangkatnya menteri-menteri baru yang cukup kontroversial, mungkin juga menggembirakan, memunculkan harapan, atau bisa jadi meningkatkan skeptisme kita pada pemerintah. Salah satu peserta kemudian nyeletuk mengenai istilah tripusat pendidikan. Buat kamu yang belum pernah mendengar, yang dimaksud sebagai tripusat pendidikan adalah memberdayakan sinergitas lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk mendukung pendidikan seseorang. Saya kira baru kali itu saya mendengar istilah ini meskipun mayoritas masyarakat memahami bahwa pendidikan dipengaruhi oleh ketika hal itu.

Pembahasan ini tentu merembet ke persoalan pendidikan di Indonesia. Tentu saja isunya banyak, soal privilese masing-masing orang, sistem pendidikan keluarga, metode mengajar guru, kegiatan intra kampus, ektrakurikuler, dan banyak sekali variabel yang mempengaruhi tingkat pendidikan seseorang. Tapi suatu ketika saya pernah punya pertanyaan. Jika pendidikan di Indonesia memang seburuk itu, bagaimana mungkin dapat menciptakan siswa, atau mahasiswa yang bisa memprotes mengenai keburukan sistem pendidikan itu? Ya walaupun pertanyaan ini tentu bisa dijawab lewat seribu satu cara; forum diskusi, informasi, buku, isu sosial, dst, tapi semoga pembaca menemukan poinnya.

Pendidikan juga dimaknai secara berlainan oleh setiap orang, oleh satu keluarga ke keluarga yang lainnya. Alasan-alasan pemilihan jurusan kuliah misalnya, hampir tidak menerima jawaban ‘karena saya ingin mempelajari ini, atau itu’. Setiap mengambil studi, kita senantiasa dirundung pertanyaan lanjutan, apa yang bisa saya buat setelah studi ini, mau jadi apa saya setelah menyelesaikan studi ini, dan sebagainya. Bahkan di bulan ini misalnya, ketika pembukaan penerimaan CPNS, beberapa berita menyebutkan bahwa mayoritas pelamar memutuskan untuk mendaftar karena alasan orang tua. Pemikiran mengenai pendidikan sebagai jalan untuk menyejahterakan diri dan keluarga dianggap lempeng saja, bahwa ketika kamu mengambil studi ini, maka baik sekali jika mengambil profesi yang sejurusan. Ya ini juga masih perdebatan sih, minset soal ini dipengaruhi oleh sistem pendidikan atau memang pada akhirnya sistem politiklah yang memberi pengaruh lebih besar pada bursa profesi di Indonesia.

Loh lah, ngelantur. Oke, balik lagi ke persoalan tripusat pendidikan.

Dalam pembahasan lanjutan dengan rekan-rekan kuliah saya semalam (sesuatu yang sedikit memberi angin segar di hidup saya yang garing di ibukota), kami sampai pada memecah ketika aspek ini dalam perjalanan pendidikan seseorang.

Di kisaran awal tahun 2014, pendidikan Indonesia mengubah kurikulumnya menjadi kurikulum 13. Waktu itu saya sedang KKN sehingga ingatan ini cukup melekat. Pendapat pribadi saya, sebetulnya kurikulum 13 ini menarik. Karena pelajaran yang sebelumnya dibagi ke dalam beberapa subjek pendidikan, akhirnya digabungkan dalam satu buku yang sama dengan tema-tema tertentu. Buku itu seorang bilang, ‘oke, mari kita akomodir protes orang-orang, akan saya buat kalian mengerti kalau dalam berkehidupan kamu toh akan tetap berhubungan dengan matematika, fisika, kimia, biologi, sejarah dan sebagianya itu’. Buku dengan paket lengkap, masing-masing tema diupayakan bisa memberi penjelasan bahwa ‘hidup itu ada banyak aspeknya’.

Model ini menarik sekali, karena banyak sekali protes misalnya soal ‘ngapain belajar matematika sampai kalkulus toh waktu udah kerja nggak dipake’. Nah, kurikulum 13 mencoba menjawab tantangan itu. Namun demikian, begitu kurikulumnya keluar, baik siswa dan guru, tidak mampu menangkap dan memahami maksudnya. Ibu saya yang sudah hampir mencapai masa pensiunnya, di awal penerapan kurikulum begitu kesulitan untuk memahami maksud buku. Pun begitu juga dengan murid-murid masa KKN saya, tidak ada yang bisa memahami buku itu, baik siswa maupun orang tuanya. Akhirnya kesalahan dijatuhkan pada sesiapa yang mudah disebut. Guru-guru mengeluhkan siswa dan kurikulumnya. Orang tua siswa mengeluhkan guru-guru dan kurikulumnya. Dan pembuat kurikulum mengeluhkan guru-guru yang kesulitan beradaptasi dengan kurikulum baru.

Pertanyaan lain. Kira-kira dalam pendidikan, seberapa besar pengaruh guru ke siswa?

Saya mencoba mengingat perjalanan pendidikan saya sejak kecil hingga dewasa. Sampai kelas bawah, atau kelas 3 SD, kekaguman saya jatuhkan pada kedua orang tua saya. Waktu itu sekolah hanya sampai jam 10 pagi. Artinya lebih banyak waktu yang saya habiskan dengan orang tua dibandingkan dengan guru-guru di sekolah. Jika mengorek ingatan, lebih banyak ingatan dengan orang tua dibandingkan dengan guru. Sosok orang tua menginspirasi saya dan mendorong saya untuk mematok idealisasi tertentu soal menjadi dewasa.

Beranjak ke masa kelas atas sampai ke tingkat SMA. Lebih lagi karena selama SMA saya hidup di asrama, sekolah mengambil porsi yang sangat besar dalam membangun kerangka ideologi saya, juga membangun harapan dan mimpi-mimpi saya soal menjadi dewasa. Banyak guru yang mempengaruhi cara saya melihat sebuah materi pelajaran. Saya pernah begitu membenci akuntansi dan ekonomi karena guru saya seolah menunjukkan bahwa materi pelajaran itu sia-sia belaka. Saya bahkan merasakan ketidaksukaan ini sampai masa kuliah sebelum akhirnya saya bertemu dengan orang-orang yang mengambil jurusan ini dan hal-hal kembali menjadi tampak masuk akal.

Berbeda lagi kesan yang timbul ketika saya masuk kuliah. Praktis dengan berkurangnya jam pelajaran, manajemen yang diatur sendiri dan hal-hal baru yang mulai berkembang seiring dengan semakin besarnya lingkaran pertemanan, semakin banyak insight yang masuk, semakin bervariasi orang yang kita temui, maka lingkungan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap tumbuh kembang kita secara intelektual maupun emosional. Di masa kuliah bahkan saya merasa mengalami beberapa titik balik kehidupan dimana hal-hal perlahan menjadi lebih pasti dan semakin menunjukkan arahnya. Tentu saja dengan begitu tingginya tingkat kebebasan seseorang yang masuk ke usia kuliah, dimana kamu merasa tidak lagi sebagai anak remaja namun juga belum mau disebut sebagai orang dewasa, maka lingkungan menjadi sumber pengetahuan yang menarik. Kamu melihat lebih banyak hal, mempelajari lebih banyak hal, juga mengkritisi lebih banyak lagi.

Akhirnya kamu menjadi dewasa. Di sela merenungi tripusat Pendidikan ini, di luar perkara kamu mengiyakan atau enggak mengenai konsep ini, pada tahapan tertentu dominasi satu dan lainnya saling ganti menggantikan. Ketika masih kecil barangkali kita lebih takut kepada guru dibandingkan pada orang tua. Semakin dewasa kita merasa lebih sulit bicara dengan orang tua sehingga sasaran kita berpindah ke guru atau lingkungan sekitar, ke teman-teman sebaya atau yang lebih tua. Kita jauh lebih berjarak dengan orang (setidaknya dalam kasus saya) sehingga ada hal-hal yang cenderung kita proteksi dari orang tua karena ‘tidak mood’ atau tidak mau membicarakannya dengan mereka.

Menyoal bagaimana sebaiknya pendidikan ini dimaknai, ada begitu banyak contoh kasus yang berlainan. Misalnya, dengan menggunakan buku paket yang sama, dengan kurikulum yang sama, hasil pendidikan satu sekolah bisa sangat berlainan dengan sekolah yang lain. Pun demikian bahwa di dalam satu sekolah yang sama, belum tentu guru memiliki misi dan visi yang sama terhadap muridnya. Saya membenci betul pelajaran akuntansi namun begitu mencintai sejarah pada masa SMA. Sementara sebaliknya, ketika SMP saya menyukai ekonomi tapi membenci sejarah. Kesemuanya karena metode mengajar guru saya.

Salah satu youtuber Korea dalam sebuah videonya pernah membicarakan bagaimana sistem pendidikan di Korea dan di Indonesia dengan mengambil contoh kasus antara dirinya dan teman youtubernya. Dia yang selama ini tinggal di Indonesia menerima pendidikan Indonesia yang ‘awut-awutan’ dan santai saja tapi punya banyak seribu satu cerita masa sekolah dari mulai sepedaan ke kampung sebelah hingga jadi ketua OSIS sementara teman Koreanya mengingat masa pendidikan formalnya sebagai hari-hari tanpa putus belajar, ke sekolah-les-tempat belajar-sekolah-les-tempat belajar, dst. Satu pertanyaannya menggelitik sekaligus menampar saya, “Dari semua pelajaran, les, dan belajar yang sampai mati-matian itu, apa yang masih kamu ingat sampai sekarang?” Teman Koreanya menjawab dengan tatapan mengawang, “Saya cuma ingat dipukul guru kalau nggak bisa mengerjakan soal”.

wordsflow

Thought, thought, thought


Menyusuri jalanan Jogja sembari meriang malam ini, saya memikirkan satu hal yang sebetulnya sudah lama ada tapi lebih sering saya tepis atau anggap angin lalu saja.

Kesadaran itu menguat, bahwa betul ternyata, saya bukan orang yang sungguh analitis dan kritis. Saya melakukan cukup banyak hal dalam beberapa tahun terakhir untuk mengembangkan diri, tapi lihatlah yang terjadi. Saya tetap menjadi orang yang penuh kemalasan dan menunda pekerjaan. Sesuatu yang sulit sekali saya sembuhkan atau barangkali lebih tepat disebut enggan untuk saya sembuhkan.

Di tahun-tahun awal saya sekolah, saya selamat mengarungi pekerjaan rumah dan pelajaran tanpa pernah berusaha untuk menjadi tekun. Banyak hal saya lewati hanya sebagai sebuah kebiasaan atau pekerjaan saja tanpa menyadari apa maknanya untuk diri saya. Sekali waktu barangkali kekhawatiran ini pernah mampir ke diri saya tapi toh akhirnya saya tidak memanfaatkan rasa penasaran itu untuk berkembang menjadi seseorang yang lebih baik.

Tulisan ini sepertinya akan menjadi tulisan renungan akhir tahun yang saya ketik lebih awal dari yang seharusnya. Praktis karena euphoria hari ini bertemu dengan memori setahun yang lalu, dua tahun yang lalu, tiga tahun yang lalu, sehingga saya kembali memikirkan apa-apa yang terjadi pada kurun 3 tahun yang saling bertolak belakang.

Seolah-olah berhenti. Barangkali itu penjelasan yang paling mudah untuk menjelaskan rasa yang sedang saya rasakan soal hidup. Seolah-olah berhenti, atau barangkali jalan di tempat. Sewaktu-waktu saya mencoba berlari, tetap saya saya berlari di tempat. Tidak maju, tapi ada kemungkinan saya terseret mundur ke belakang jika kecepatannya tidak sesuai.

Ah, lihatlah bahwa saya sekali lagi tidak berhasil mengungkapkan perasaan saya lewat kata-kata yang lugas dan tanpa basa basi.

Tapi benar. Sedikit tidak bisa saya pahami, pun saya jelaskan kenapa saya merasa seolah segala hal berhenti sejak setahun yang lalu. Seolah tidak ada yang berkembang dari diri saya, malah cenderung merasa mengalami kemunduran dan segala hal yang keluar dari saya menjadi semakin tidak relevan dengan hal-hal yang terjadi.

Tentu saja saya menyampaikan ini dengan mengambil perbandingan dari orang-orang di sekeliling saya, dalam banyak hal. Saya lebih mudah terpancing bukan pada standar hidup atau pencapaian orang lain, tapi mungkin lebih pada hal-hal yang mendasar seperti pemahaman dan pemikiran kritis, juga rasa tanggung jawab dan empati orang lain. Dan semakin hari semakin banyak hal yang mengganggu pikiran.

Sedih barangkali? Iya dan tidak. Saya lebih ternganggu oleh pemikiran soal kenapa, dan apa yang sekiranya dilihat dan dipikirkan orang lain tentang saya. Bahkan di saat saya bilang ‘tidak peduli pendapat orang’, I really mean it tapi saya tetap penasaran soal bagaimana orang melihat saya dan kenapa bisa seperti itu.

Sekarang tengah malam telah bergeser ke kanan. Tiba-tiba saya malas melanjutkan tulisan ini tapi sungguh, sampai saat ini perasaan terhenti ini terasa sekali. Saya telah mencoba menduga beberapa hal, juga mencari cara mengubah perasaan itu menjadi sesuatu yang lebih dinamis, mempertanyakan, menilai, dan memperhitungkan kemungkinan, tapi semuanya berakhir sama. Saya merasa berjalan di tempat saja.

Tapi di samping kesan bahwa tulisan ini terasa negatif, memang begitulah perasaan itu. Dia mengada dengan caranya sendiri hingga bahkan ketika saya sangat bersemangat untuk melakukan sesuatu, mengubah sesuatu, menuangkan ide tertentu, perasaan itu tetap ada. Mengada begitu saja.

wordsflow

Kim Ji-Young, Born 1982


Masih segar di ingatan saya, baru semalam kami menontonnya. Sejak sebulan yang lalu praktis saya tidak menyentuh bioskop, antara bingung memilih tontonan hingga alasan tidak ingin mengeluarkan uang atau sekedar ingin segera rebahan. Meski demikian setiap hari saya membuka tutup aplikasi pembelian tiket nonton, juga memantau update film terbaru, juga review orang-orang.

Lalu film ini. Poster film ini muncul beberapa saat yang lalu. Di waktu saya sedang asik-asiknya mengulik kegiatan di sekitaran Jakarta yang bisa saya kunjungi.

Di antara kami bertiga, saya dan dua rekan sekantor saya, hanya saya yang belum menikah. Saya tetap anak tengah di antara mereka berdua. Dan sementara mereka sudah menikah selama 2-3 tahun lamanya, hanya saya yang barangkali belum bisa relate dengan kehidupan rumah tangga. Meski demikian, di atas obrolan mengenai rumah tangga, selalu lebih asik membicarakan mengenai perempuan di tengah memanasnya perdebatan mengenai feminisme, poligami, dan privilege kelas menengah.

Maka ketika film ini muncul pertama kali, baik saya maupun kedua teman kantor sama-sama tertarik sekali untuk menontonnya di bioskop. Sehingga kemarin, kami bergegas pulang untuk mengejar penayangan film ini sebelum hari semakin larut.

Membicarakan perempuan selalu relevan dari masa ke masa. Saya selalu menemukan sesuatu yang baru dari pembicaraan mengenai perempuan. Barangkali lebih karena pada faktanya, banyak perempuan yang akhirnya saling mencaci dan meributkan perjuangan sesama perempuan lain. Pada kasus ini, antara prihatin dan bodoh amat dengan semua hal itu.

Saya menangis deras di beberapa scene film dan secara keseluruhan saya berkaca-kaca saat menontonnya. Ada banyak hal yang menyentil saya sebagai seorang perempuan, anak, calon ibu, atau bahkan entitas bernama manusia. Barangkali intensi yang ditawarkan oleh film tidak sejauh itu, tapi penerimaan seseorang atas film selalu manasuka. Kita barangkali sulit didikte soal kesan, karena kita ‘merasakan’ film itu, ‘mengalaminya’, seolah film itu adalah penjelasan dari suatu bagian hidup yang tidak terjelaskan sebelumnya. Ya, kira-kira begitulah saya melihat deretan film yang saya tonton.

Pengalaman memang sebaik-baiknya guru. Tapi jika saya lebih bijak, pemahaman adalah juga guru terbaik.

Ketika keluar bioskop, banyak hal yang saya semogakan. Tidak ingin terlalu khawatir, tidak ingin terlalu bingung, atau bahkan tidak ingin terlalu erat menggenggam harap. Sangat menyenangkan bahwa perlahan cara saya ‘merasa’ menjadi sedikit berubah. Seolah seperti melihat matahari terbit di puncak gunung untuk pertama kalinya, atau hal-hal sederhana tetapi membuatmu berbunga. Ya begitulah kira-kira, sejauh ini.

Hal semacam itu menjadi bukti bahwa saya bertumbuh, meski sedikit saja.

wordsflow

Tetiba malas kerja


Jujur saja, sudah beberapa waktu belakangan saya malas masuk kantor. Saya sempat membolos karena sakit yang sudah seminggu tidak sembuh. Di waktu-waktu secinta itu dengan pekerjaan, biasanya saya akan mengusahakan tetap berangkat dan pulang ketika segala hal sudah selesai saya kerjakan. Tapi belakangan hal-hal menjadi lebih membosankan meskipun pekerjaan masih saya bereskan.

Ah tapi baiklah. Saya sering kali mengeluhkan pekerjaan belakangan ini. Bukan. Memang sedari mula saya banyak mengeluh, hahaha.

Beberapa waktu yang lalu seorang teman crafter saya bercerita bahwa dirinya memutuskan keluar dari tempat kerjanya saat ini. Padahal tempatnya bekerja mengusung ide yang sangat menarik untuk mempertemukan crafter di Jogja. Bukan hanya itu saja, bahkan dalam beberapa minggu ke depan kami akan mengadakan kegiatan dengan tema Women Empowering. Jarang sekali ada wadah yang mengumpulkan crafter di Jogja mengingat beberapa tahun belakangan crafter dan komoditas ‘kreatif’ non pertunjukan hanya dijadikan ‘pelengkap’ dari kegiatan seni yang lebih besar. Bukan hanya itu saja, pameran maupun bazaar bahkan kalah dengan kuliner jika disejajarkan dalam satu kegiatan yang sama. Crafting, tampaknya tidak memiliki nilai jual yang lebih tinggi jika dibandingkan kegiatan seni lainnya.

Secara terpisah, saya dan teman lain sempat beberapa kali membicarakan mengenai bagaimana posisi pekerjaan dalam mindset umum dipetakan secara tidak setara oleh masyarakat, terutama juga oleh struktur yang lebih besar. Saya tidak akan membicarakan entah teori siapa karena toh saya juga sudah lupa akan banyak hal itu, tapi jelas sekali bahwa sehari-hari kita melihat ketimpangan.

Saya sering menengok linimasa instagram untuk melihat bagaimana seseorang berkembang atau mengembangkan kemampuannya dalam berkarya dalam bidang minor, misalnya keramik, seni lukis, handlettering, rajut, desain, dan sebagaimana. Masing-masing dari mereka, juga termasuk saya cukup beruntung karena memiliki hal yang bisa disebut profesi meskipun dipelajari secara otodidak dan bukan merupakan pekerjaan umum yang dikejar oleh orang lain. Pernah pula bercita-cita untuk sekolah ke Jepang lantaran negara itu menawarkan disiplin keterampilan yang saya kira sulit untuk ditemukan di Indonesia.

Stereotip tentang bekerja masih menjadi sesuatu yang hangat dibicarakan dan sering kali menuai perdebatan. Selalu saja saya temukan orang yang berkomentar buruk di postingan seseorang karena dengan pekerjaannya yang ‘ah gitu doang’ dia bisa memiliki penghasilan yang jauh di atas orang-orang yang bekerja di bidang akademis atau sejalan dengan jurusannya. Mindset soal ‘pendidikan adalah investasi’ dimana income harus dapat mengganti biaya pendidikan menjadi perdebatan dan problematika yang dihadapi lulusan-lulusan akademis, pun juga dengan saya. Di satu sisi saya menyimpan cita-cita tersendiri soal kerja seperti apa yang saya inginkan dan tekuni sementara ada bagian diri saya yang juga menekan saya untuk mempertanggungjawabkan pilihan akademis yang pernah dan sedang saya ambil.

Oh ya memang pembicaraan ini ngalor ngidul wong saya nulisnya nggak pake mikir.

Juga persoalan timpangnya pendapatkan, misalnya pada profesi akademis yang sepenuh hati menjalankan profesinya sesuai dengan kaidah-kaidah dan etika yang berlaku seringkali kalah dengan mereka yang bekerja di dunia hiburan atau profesi administratif. Ketimpangan profesi menurut saya menjadi salah satu pe-er besar dalam dunia kerja di Indonesia karena selalu ada profesi yang lebih rendah di bawah profesi yang lainnya. Kadang kita nyaman dengan profesi tertentu dan menjadi minder kemudian karena dianggap ‘yah gitu doang kerjaan lu cuma ngejilid buku sama berdagang?’. Well, berkarya tetap butuh olah pikir dan nalar, kemampuan manajemen baik finansial, emosional, psikis karena kita juga berhubungan dengan orang, memikirkan hal-hal yang belum terjadi dan memperkirakan peta perjalanan usaha yang sedang dibangun.

Beberapa waktu lalu saya begitu terpukau dengan sebuah video yang mewawancarai seorang ibu yang bekerja di restoran anaknya. Ibu ini suka sekali membuat pasta dan memaksa anaknya untuk mempekerjakannya di resto anaknya. Sesuka itu dia membuat pasta hingga semua pasta di resto itu dibuat manual dengan tangan oleh si ibu. Seolah tidak peduli tapi saking sudah membuat pasta selama puluhan tahun dia bisa menciptakan pasta dengan bentuk yang persis sama satu sama lain, dengan rasa yang persis sama dari hari ke hari. Kecintaannya untuk membuat pasta membuat saya begitu tersentuh dan teringat untuk memaknai pekerjaan sebagai sesuatu yang beyond doing.

Mengerjakan sesuatu setiap hari sebetulnya tidak lantas membuat seseorang menjadi mesin manakala dia masih mampu merasa dan menitipkan rasa itu lewat karyanya, apapun itu. Sementara pegawai-pegawai, contohlah yang bekerja di pabrik, rata-rata dibuat berjarak dengan karya yang mereka ciptakan sehingga rasa itu tidak sampai terbawa, tidak tersampaikan kepada kita melalui komoditas yang mereka ciptakan. Komoditasnya numpang lewat, sementara tangan kita digerakkan oleh kebiasaan semata, bukan oleh kesadaran.

Begitulah dalam ranah sistem kerja kapitalistik kita dibuat berjarak hingga mungkin membenci hal-hal yang kita lakukan rutin setiap hari. Ya, sepertinya begitu, atau barangkali tidak. Saya kadang bahkan tidak mengerti hal-hal yang belakangan diperdebatkan dan mencoba mendalami apa yang sebetulnya diinginkan semua orang tanpa menemukan jawaban pastinya. Tapi juga sembari berpikir, semua sarana komunikasi dan keleluasaan informasi memberikan kesempatan bagi kita seluas-luasnya untuk menjadi apapun, mengerjakan apapun dan membebaskan diri dari batasan-batasan apapun. If you know what I mean.

Dan yasudah begitu saja, saya harus pamit untuk menonton teater. Sampai jumpa di postingan random berikutnya. Semoga berkenan.

wordsflow

Healing


Hari ini karena tweet Sentot saya membuka youtube dan mencari sebuah video clip dari Kunto Aji dari album terbarunya yang bertajuk Mantra-Mantra. Ya padahal sudah diupdate Mas Adjie semalam tapi saya skip apapun sedari sore karena tidak enak badan. Belum ada satu menit menonton, saya menutup videonya.

Sedikit cerita, sekitar awal tahun ini setelah kepindahan saya ke Jakarta, seorang teman membagikan poster acara dengan tema finding balance of doing and being. Datang karena ada Rara Sekar yang pemikiran, tindakan, dan kegiatannya menarik perhatian saya dari lama. Dalam acara itu, saya pertama kali saya menaruh perhatian pada Mas Kunto Aji, dan satu orang lagi yang merupakan seorang emotional healer, namanya Mas Adjie.

Dalam sesi singkat itu, hal-hal yang sebelumnya saya pikir hanya eksis di diri saya (atau setidaknya tidak pernah betul-betul saya percayai ada di orang lain) ternyata juga eksis pada mereka dalam berbagai bentuknya. Pada salah satu sesi, Kunto Aji menceritakan tentang masa lalunya, dan bagaimana proses yang ia hadapi lantas bagaimana pula ia memasukkan unsur-unsur itu ke dalam sebuah album. It grew my respect over him.

Sesi itu juga membawa saya pada pemahaman lebih dalam mengenai healing dan meski baru beberapa bulan setelahnya saya menemukan akun sosial media Mas Adjie, pertemuan pertama saya adalah salah satu hal yang paling berkesan dari kepindahan saya ke sini.

Saya punya seorang kenalan yang membantu saya saat pertama kali saya memutuskan untuk berpindah kota. Namanya Venus, seorang psikolog. Kami ketemu beberapa kali sebelum keberangkatan saya, sesi yang menarik, singkat, dan berkesan. Ada banyak hal yang belum terselesaikan memang, ada yang saya kesampingkan, ada yang tetap dipikirkan.

Tapi saya baik-baik saja kok misal ada yang penasaran soal ‘apakah saya oke’. Tetap saja proses healing bukan hal yang dilakukan sekali terus sudah. Sebagaimana hidup dia harus terus diasah dari hari ke hari karena tidak ada yang betul-betul master dalam menjalani kita, patternnya tentu berbeda dengan orang lain jadi baik saya maupun kamu harus jadi yang paling master dalam menjalaninya.

Tentu saja ini hanya omong kosong karena saya toh tidak tahu apapun tentang kamu dan semua orang di sekitar saya. Pun saya barangkali tidak sungguh mengenal diri sendiri, juga menerimanya sepenuh hati.

Ah, saya sedikit melantur. Tapi di bulan ini tahun lalu ada hal yang rasanya bahkan masih bersisa. Sembari memikirkan itu, saya kira berterima kasih sepenuh hati sama sulitnya dengan meminta maaf sepenuh hati. If you know what I mean.

Kembali ke soal video Pilu Membiru-nya Mas Aji, saya kira saya akan menonton video kolaborasi Mas Aji dan Mas Adjie malam nanti selepas ke TIM untuk menghadiri Festival Teater Jakarta. Mungkin akan saya ceritakan beberapa hal selama di TIM setelah 2 hari skip karena kram perut. Sampai jumpa di postingan selanjutnya.

wordsflow

Menjadi Jakarta (iii)


Sudah sejak hari Senin lalu saya memendam satu topik untuk saya tuliskan di blog ini. Saya hampir menuliskan perjalanan perkeretaapian saya setelah sejak Februari tidak pernah sungguh saya bahas meskipun perjalanan sudah menjadi rutinitas mingguan atau dua mingguan saya. Kadang malas sekali menuliskan apa-apa atau karena laptop saya yang sudah tidak lagi bisa kooperatif untuk mendukung kebutuhan saya belakangan. She’s been working so hard all this time and I thought I need to move on from her.

Karena lawakan minggu lalu agaknya sudah basi untuk saya tertawakan, jadi cerita perkeretaapiannya saya anulir dulu, menunggu saya dapat topik lain yang menarik. Hehe.

Nah, melanjutkan series tulisan soal ‘menjadi Jakarta’ ini, saya kira Jakarta adalah surganya geliat kesenian sebagaimana Jogja. Betul kata teman saya, barangkali saya hanya belum menemukan komunitas yang menarik perhatian saya atau tempat yang dapat memuaskan saya akan kebutuhan-kebutuhan non fisik semacam berkesenian. Maka dengan semangat seminggu lalu saya iseng menjadi acara di salah satu platform langganan. Tentu yang saya cari adalah event gratisan secara bulan ini saya sedanf mencoba mengubah gaya hidup dan menjadi lebih bijak ((not sure it will works tho)).

Salah satu tempat yang menarik perhatian saya adalah IFI. Sepanjang bulan dia punya acara pemutaran film yang sebetulnya digratiskan untuk orang yang les di sana. Sementara untuk umum berbayar atau, bisa aja ngambil yang gratis di IFI Wijaya. Saya menyempatkan diri beberapa kali mengunjungi tempat itu meski agak sedikit grogi di kunjungan pertama. Usut punya usut, bangunan IFI Thamrin sebelumnya adalah kedutaan sehingga penjagaannya ketat dan harus x-ray. Tapi bapaknya baik dan dia terheran-heran saya mau ke sana ‘hanya’ untuk nonton film. Sendirian pula. Haha.

lobby IFI Thamrin, berharap kapan-kapan bisa nongkrong di sini sebelum gelap

IFI Thamrin sejalanan kaki aja dari Sarinah yang biasa saya pakai untuk transit antara bus GR1 dan TJ untuk menghemat tenaga jalan kaki. Kadang saking sudah setiap hari suka aja mampir Sarinah meskipun cuma beli odol atau atau ambil duit di atm. IFI Thamrin lantas menjadi opsi lain kenapa turun Sarinah selalu menyenangkan.

Pilihan utama saya jatuh ke Taman Ismail Marzuki. Saking seringnya ke sana saya sampai melihat perubahan bertahap dari belum diapain dan sempet nonton di bioskopnya sampai kompleksnya direvitalisasi. Dari jaman jalanannya masih baik-baik saja sampai pohonnya ditebang jadi trotoar dan jalan makin sempit-karena-tetep-buat-parkiran-jadi-tetep-macet.

Surprise sekali karena minggu ini ada serentetan acara Pekan Komponis Indonesia. Bulan kemarin saya skip nonton Jakarta Philharmonic karena harus pulang larut malam dari kantor, padahal saya sudah ada tiketnya (lagi-lagi untung gratis), sehingga yang satu ini semacam ‘pengganti’ buat saya.

Acaranya menarik meskipun saya nggak ngerti-ngerti amat. Tapi lagi-lagi saya terkesan karena ternyata teatrikal sekali yang ditampilkan. Saya juga baru tahu ketika profil masing-masing orang dibacakan, ternyata ISI tersebar di banyak tempat di Indonesia dan karenanya lulusannya punya rasa setempat yang menarik sekali. Salah satu performance yang menurut saya wah sekali adalah pertunjukan berjudul Mangatok oleh Hamidun Syaputra. Ia menampilkan dua orang yang menggubah musik dari suara alami dan instrumen tambahan dari pakaian yang mereka pakai. Saya sangat terhipnotis oleh penampilan keduanya.

babak akhir dari performance

Selepas performance ini, saya teringat Mawang yang sempat viral sekitar sebulan yang lalu. Saya sendiri ngakak nggak ketulungan sewaktu menonton videonya dan benar-benar tertawa setiap teringat Mawang. Tapi setelah melihat ini, yang mana secara konsep tidak jauh berbeda dengan cara Mawang mengekspresikan emosinya, saya jadi mikir barangkali memang poinnya di emosi. Yang sebetulnya membuat Mawang ‘nyebelin’ itu tuh speech di awal sebelum nyanyi. Hahaha.

Well, dengan tulisan ini, saya merasa sedikit terbuka dalam membicarakan kehidupan saya dan upaya menikmati proses untuk ‘menjadi Jakarta’. Tentu saja banyak hal lainnya. Tapi kenapa memilih yang lain jika ada yang semenarik ini, hehe.

Minggu depan sampai akhir bulan ada Festival Teater Jakarta full selama 3 minggu (so much fun!), dan akan jadi hiburan saya yang lain selain badmintonan. Sambil scroll update dari DKJ saya sering mikir sebentulnya beruntung sekali orang-orang Jakarta ini karena punya lembaga dan organisasi seni yang super aktif selama setahun nonstop. Ini belum membicarakan hal-hal yang lain, konser-konser populer atau tempat pameran yang lokasi sedikit-agak-di-luar-Jakarta-jadi-saya-suka-males-ngedatengin.

Terakhir, saya kasih bonus beberapa foto lain dari acara Pekan Komponis Indonesia 2019.

Jaluna oleh Gempur Sentosa
pameran alat musik baru

wordsflow

will there something surprising on the next monday?


Sudah beberapa postingan terakhir saya terfokus pada bahasan soal pekerjaan. Jujur saja memang sebagian besar hidup saya kini saya curahkan untuk hal tersebut karena praktis, memang di sana lah saya berkecimpung. Di tengah kota ini bisa dibilang saya tidak mencari teman, tidak juga mencari hal-hal lain semacam kekayaan atau karir. Well pertanyaannya, saya nyari apa? Hehehe.

Beberapa kali saya menemui gejolak tertentu karena mempertentangkan hal yang praktikal dan yang ideal. Kadang benturan di antaranya bisa membuat saya tak mampu mengendalikan diri dan cenderung jadi membenci hal-hal yang saya kerjakan. Tapi yah, sebagaimana hal-hal yang juga telah saya lalui selama ini, dalam prosesnya saya pun bertemu dengan hal-hal yang saya cintai. Ada proses penasaran, kecewa, marah, benci, maaf, pemakluman, cinta, dan rupa-rupa emosional lain yang saya temukan dalam interaksi saya dengan pekerjaan.

Tentu tidak terlalu menyenangkan tapi kadang di antaranya saya masih bisa memetik hikmah dan kesenangan. Sebut saja bahwa di akhir hari saya suka menghabiskan waktu seorang diri ketika ac kantor sudah mati dan orang-orang sudah bergegas pulang. Kadang di waktu lainnya saya akan memilih pulang lebih awal karena ingin menonton suatu film tertentu, atau secara random mengambil rute memutar untuk mencoba makanan yang membuat saya penasaran. Di lain waktu saya menghabiskan malam dengan memutar pertandingan badminton atau menyempatkan diri mencuci baju di tengah malam.

Yah, kembali ke persoalan judulnya. Menjelang pergantian kabinet baru, ada banyak desas-desus yang beredar di sekitaran kami. Well, tapi tentu saja saya tidak pernah terlalu memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya. Lebih karena penasaran soal ‘bagaimana jika’. Saya bahkan tidak akan heran jika di hari Senin nanti grup kantor akan riuh dengan pembahasan soal perubahan jajaran petinggi atau pindah tempat merger instansi, ya atau apalah itu.

Saya cukup apatis soal hal-hal semacam itu, lebih karena selama menjajal ‘wahana’ ini, saya dipertemukan dengan berbagai fakta menarik yang bertabrakan dengan diri saya atau bahkan yang sejalan. Tentu saja suatu tempat kerja dapat dinilai dengan berbagai cara. Lewat cara berinteraksi antar pegawai di dalamnya, kelompok-kelompok kecil yang terbentuk, interaksi atasan ke bawahannya, sistem kerja yang dibangun, model evaluasi yang dilaksanakan dan lain sebagainya.

Pendapat saya soal tempat ini juga beragam, dan begitu anehnya hingga kadang saya hanya fokus ke hal-hal yang saya lakukan dan seperti biasa, persetan dengan orang lain.

Saking randomnya hal-hal yang terjadi, semakin hari saya semakin yakin untuk trust no one but yourself. Mencari partner boleh, tapi seperlunya saja karena tidak ada yang betul-betul tahu kepentingannya. Do not pick side between two bosses, pick yourself instead. Beyond that, believe in your moral standard too.

Di luar itu semua, lingkaran sosial saya berubah, hal-hal yang sebelumnya bisa tersentuh dan berada dalam jangkauan tangan kini berpindah ke layar dengan berbagai ukuran. Terkadang saya kudu merenung sembari terpaku ke layar kecil di tangan atau layar yang lebih lebar tempat saya menulis saat ini. Yah, karena hari-hari saya diisi dengan rindu dan penantian akan akhir minggu, waktu terbagi ke dalam paruh minggu saja, sisanya sambil lalu tanpa sisa. Aneh ya.

Belakangan saya tidak mampu membagi waktu dan mencari kesenangan yang sama dengan membaca buku, seolah-olah adiksi saya terhadap buku yang sudah tumbuh sejak SD mati pelan-pelan dilanda kemalasan. Beberapa buku yang saya beli akhir bulan kemarin bahkan belum saya sentuh. Sedih betul. Juga soal menulis, yang agaknya juga mulai saya tunda-tunda sampai topik yang saya pikir sangat menarik menjadi terlampau basi dan saya lupakan begitu saja.

Beberapa hal yang kemudian bisa membantu saya untuk terus berrefleksi adalah interaksi dan nonton film. Seketika saya beralih menjadi anak visual dan pelan-pelan menomorduakan dunia tekstual. Rindu lah tentu, apa daya ternyata menjadi pekerja begitu melelahkan.

Tanpa berusaha membaca ulang apa yang saya tuliskan ini, mari saya sudahi. Saya tidak tahu apakah akhirnya saya akan berkutat pada tulisan soal pekerjaan atau saya akan menemukan hal-hal lain yang lebih menarik. Tapi sejauh ini hanya sebatas ini yang mau saya bagi. Tabik.

wordsflow

this old draft’s been posted.


belakangan, saya mulai menarik diri dari keterbukaan pendapat meskipun masih membuka beberapa diskusi di kanal-kanal tertentu. saya kira getir bagi saya karena saya masih berupaya menjaga diri dari melabeli teman-teman saya dengan sebuah penilaian tertentu karena pendapat mereka.

mungkin pecundang karena dengannya saya cari aman saja, berlindung pada ketidakberpihakan. benar, saya sepengecut itu dalam menghadapi dunia nyata.

sulit sekali untuk meyakini letak kebenaran.

seiring waktu saya semakin dibukakan pada kenyataan bahwa manusia melihat satu fenomena dengan seribu satu cara pandang yang manasuka, berreaksi seacak itu, berekspresi sevariatif itu, berprinsip sebermacam itu.

maka benar bahwa peneliti adalah sebaik-baiknya instrumen penelitian dalam antropologi, karena setiap manusia memiliki penilaian dan kemampuan sintesanya sendiri dalam melihat satu dan lain kejadian.

barangkali sepencundang itu sehingga saya memilih untuk mundur saja dan menyepi ke ruang ini. memantau dunia terasa begitu jauh dan melelahkan sementara saya masih juga belum mampu bekerja maksimal di bidang saya saat ini. terasa begitu jauh.

tapi saya ingin selalu percaya bahwa apapun yang dilakukan teman-teman saya adalah baik dan memiliki dasar yang kuat, dan sejauh yang saya tahu memang begitulah mereka selama ini. maka untuknya saya akan selalu mendukung

routines.


Saya selalu menorehkan beberapa kalimat yang paling membekas di ingatan saya. Salah satunya bahwa kebudayaan berkembang karena adanya waktu luang, yang karenanya manusia bisa mengistirahatkan fisiknya dan mengasah kemampuan berpikirnya untuk berinovasi atau menciptakan sebuah pemikiran baru. Saya kira itu benar adanya mengingat sekarang saya cenderung merasa tengah mengalami penumpulan ketajaman berpikir akibat rutinitas harian yang begitu padat hingga tidak menyisakan ruang untuk mengistirahatkan pikiran.

Ada hal-hal yang ternyata tidak sejalan dengan harapan-harapan saya di bulan yang sama di tahun lalu. Jika boleh mengutarakan apa yang sebetulnya saya rasakan, banyak pilihan-pilihan saya yang akhirnya justru menempatkan saya pada keterpurukan yang tidak dapat saya terima dengan lapang dada. Barangkali benar bahwa saya telah cukup berhasil memetakan fluktuasi emosional dan mental saya, namun ternyata di waktu-waktu tertentu saya juga gagal untuk mengontrol kedua hal tersebut pada level yang saya inginkan. Akibatnya, saya terkadang menghabiskan waktu luang bukan untuk mengembangkan cara berpikir saya guna menghadapi perubahan yang tengah terjadi tetapi justru meratapi apa yang tidak saya dapat dan saya lewatkan dalam hidup saya pribadi.

Sebuah kemunduran yang mengecewakan pribadi saya di masa lalu. Saya kira di waktu sebelum ini saya cenderung lebih bersemangat dan berapi-api dalam menjalani sesuatu, tidak pernah berpikir dua kali untuk mengorbankan apapun untuk orang lain (setidaknya seseorang pernah mengatakan ini pada saya) dan mungkin jauh lebih berpengharapan bahwa meski hidup tidak selalu berjalan baik, saya akan selalu mampu melaluinya.

Namun lagi-lagi di tempat seasing ini saya dihadapkan pada kenyataan bahwa saya tidak memiliki sesiapapun untuk mengadukan hal-hal yang mungkin menimpa saya sehari-hari. Saya tidak memiliki tempat bernaung seasik Satub untuk dijadikan tempat perlindungan dan obat segala penyakit hidup yang menimpa saya. Akhirnya saya harus berkali-kali menerima kekalahan dalam menghadapi egoisme diri soal betapa mampunya saya dalam mengalahkan banyak hal.

Dalam perseteruan batin dengan diri sendiri, saya juga lagi-lagi harus menerima bahwa kini saya merupakan bagian dari sebuah kesatuan besar yang sedang diprotes oleh manusia satu negara ini. Posisi ini begitu sulitnya saya rasakan sampai kadang saya merasa begitu tidak berguna. Haha. Getir.

Tentu bukan tanpa hal baik bahwa terkadang saya bersyukur memiliki partner yang memiliki pemikiran yang sejalan dan selalu bisa diajak bekerja sama. Tapi dia tidak akan lama tinggal karena tidak memiliki kontrak yang sama dengan saya; sesuatu yang saya sayangkan dan pada saat yang bersamaan juga saya syukuri bahwa seterusnya dia tidak akan mengutuki diri sendiri sebagaimana yang saya lakukan.

Dan saya kira persoalan benar dan salah tetap menjadi perkara yang terus membebani pikiran saya. Hidup bukan hanya soal konsekuensi, bahwa di waktu tertentu ada hal-hal moralis yang lebih sering mengganggu pikiran dibandingkan apa-apa yang mampu dianalisis dan diperkirakan. Entahlah, saya semakin tidak punya keyakinan dengan pikiran saya sendiri.

Tapi buat sesiapapun yang tetap menjadi pembaca halaman ini, saya kira menakar hal-hal yang bertebaran di kanal-kanal media sosial membuat sesiapapun turut frustasi. Tentu apa-apa yang disajikan di sana tidak sejalan dengan apa yang kita inginkan atau kita ekspektasikan sebagai sesuatu yang seharusnya terjadi. Terus menerus dikecewakan dan merasa dikelabui oleh kata-kata dan harapan-harapan. Begitu memiliki kesempatan untuk mengutarakan pendapat atau menanggapi fenomena lebih merasa frustasi oleh komentar-komentar yang terlontar. Semakin tidak memiliki tempat.

Dan baiklah agaknya saya cukup mampu mencuri 20 menit ini untuk menulis di sini. Sembari pelan-pelan menyadari bahwa tiap-tiap orang tidak menakar sesuatu dengan cara yang sama, bahwa cara saya membebani pikiran tidak memiliki tempat di pikiran orang lain dan sebaliknya, bahwa permasalahan saya dengan pekerjaan tidak otomatis menjadi permasalahan bersama, dan seterusnya. Tidak juga mengeluh dan bermuram durja akan selamanya menolong saya mempertahankan prinsip-prinsip hidup saya yang mulai kehilangan pegangannya.

Betul barangkali, saya pikir rutinitas memang membunuh.

wordsflow