WORDS FLOW

setiap pengalaman pantas untuk diingat

Finance


Huft. Maafkan saya menghela napas sebentar.

Barangkali urusan kerumahtanggaan personal saya menjadi hal yang cukup mendominasi sejak lulus kuliah dan memutuskan untuk mencoba bertahan hidup seorang diri. Tentu saja saya belum sepenuhnya terpisah dari orang tua. Lha mereka aja jaraknya cuma 30 km dari domisili saya selama ini. Akses komunikasi atau apapun lancar jaya. Jadi yah, saya masih dalam tahap mencoba untuk bertahan hidup sendiri. Well, to begin is the most difficult part of doing. Hahaha.

Being rich and financially secure are two different things.

Mari mulai dengan premis itu. Manakala ketika tahu saya melanjutkan studi master, barangkali tidak sedikit yang bertanya dari mana biaya kuliah saya? Hemm, semua pendanaan itu datang dari emak dan bapak saya yang penyayang. Bukan tidak pernah saya bermaksud untuk mencari sumber dana lain. Namun mencari orang yang mau memberi beasiswa lintas jurusan itu sulit, dan apa juga untungnya untuk mereka.

But that’s not the pledoi. There are many who put much effort to get those scholarships to continue their study. I also one of them, yet I tried and failed.

Sisanya, cukup banyak hal yang saya lakukan untuk mencoba bertahan hidup. Saya pernah dua kali bekerja. Keduanya bukan jenis pekerjaan yang bisa membuat saya kaya dalam waktu singkat. Jika diingat kembali, cukup banyak momen saat saya bertanya ke diri sendiri untuk apa mengambil pekerjaan tidak berduit itu? Tapi dua pekerjaan itu menyenangkan ketika dijalani, ya di samping drama-drama yang tidak masuk akal itu sih. Dan meskipun pada akhirnya lebih banyak ruginya, saya pikir life lessonnya sangat berguna untuk membantu hidup saya setelah itu dan di waktu yang akan datang.

Lalu akhirnya sampailah saya pada masa akhir studi master saya. Ya belum akhir banget sih, menjelang laah. Saya mengajukan dua pertanyaan penting untuk menghadapi masa depan yang tidak tentu. Pertama; do I meant to become rich or financially secure?

I looked up into my bank account. Quite amazed with the transaction record. Barangkali karena saya juga berbisnis, jadi hal-hal yang semu semacam pembayaran transit juga jadi masuk riwayat transaksi. Padahal itu semu belaka, hahaha. I tried to set a goal and manage more detail about every transaction. Tapi lagi-lagi ada cukup banyak pertimbangan soal bagaimana cara saya memperlakukan uang atau mengalokasikannya untuk berbagai kebutuhan.

Jumlahnya sendiri kadang begitu semu, sehingga ketika melihat bahwa riwayat transaksi begitu banyak, akhirnya berpikir ulang soal bagaimana cara saya membelanjakan uang-uang itu. Atau sebaliknya, ketika saya harus menyimpannya, bagaimana saya berstrategi dengan perubahan nilai uang?

Pada akhirnya kemampuan financial saya pikir agak berjarak dengan kemampuan bertahan hidup seseorang.

Saya berpikir kembali mengapa pekerjaan sebagai pegawai negeri begitu menarik untuk orang tua yang hidup pada periode Orba. Bahkan bercita-cita sebagai pegawai negeri diupayakan untuk diturunkan ke para anak yang mana adalah generasi saya dan kawan-kawan. Tentu saja di samping pekerjaannya yang mungkin membosankan dan monoton, mereka memiliki jaminan hidup hingga akhir hayat, bahkan jaminan agar anak-anak mereka dapat sekolah pun sudah di tangan. Pekerjaan yang menawarkan sekuritas semacam itu menjadi hal yang begitu melegakan di tengah ketidakpastian masa depan.

Hal-hal serupa sebetulnya juga terjadi ke generasi manapun setelahnya. Polanya saja yang berbeda. Memilih pekerjaan bukan hanya perkara hal-hal yang sesuai dengan passion, memilih satu di antara begitu banyak pekerjaan juga lantas berurusan dengan persoalan masa depan. Tidak banyak pekerjaan yang berani menjamin keberlangsungan hidup sebagaimana yang bisa ditawarkan oleh pekerjaan dari negara. Oleh karenanya, pekerjaan itu tetap menjadi barang populer meskipun ada sedikit pergeseran pola kerja saat ini.

Demikian, antara memilih untuk menjadi kaya, orang cenderung lebih memilih untuk memastikan bahwa masa depannya aman. Jikalau ada keberuntungan untuk menjadi kaya pada suatu waktu, akan ada upaya-upaya persiapan yang dilakukan untuk memastikan bahwa masa depan menjadi lebih ‘cerah’. Boleh jadi membeli tanah atau membuat usaha menjadi pilihan yang baik dibandingkan pilihan lain.

Tapi saya tidak akan mengeneralisir. Saya paham bahwa setiap orang, atau setiap keluarga memiliki preferensi yang berbeda soal bagaimana cara terbaik dalam menjalani hidupnya. Dan hal-hal yang saya utarakan adalah satu di antara banyak, atau satu di antara beberapa hal yang disarankan orang-orang untuk saya jalani.

Kedua, what do I want for my future?

Ini pertanyaan ultra klasik yang berulang kali saya tanyakan, dan sering kali pula saya tuliskan di blog ini. Tapi mari mengaitkannya dengan urusan finansial ini karena mau tidak mau, suka tidak suka, what I want to do imply to something I’ll gain. Memilih pekerjaan (dalam arti luas; segala hal yang dikerjakan) dapat begitu problematik untuk orang macam saya. Cukup banyak hobi yang masih saya tekuni, tapi ada beberapa hal besar yang sedang coba untuk diupayakan.

Perkaranya, kadang dengan porsi waktu yang cukup layak untuk dialokasikan ke kedua hal itu, saya masih mempertanyakan haruskah saya memilih satu di antara keduanya? Di satu sisi si hobi dan kawan-kawannya membantu saya menjalani hari-hari dengan lebih menyenangkan dan ceria. Di satu sisi, hal-hal besar yang saya inginkan membutuhkan konsentrasi yang sebaiknya tidak dibagi dengan urusan orderan, bikin buku, ngirim paket, dst.

Ya, mungkin teman-teman akan bilang kalau bisa saja waktu itu dibagi dengan cara lain, misalnya dengan penjadwalan harian atau sejenisnya. Lagi-lagi, mood lebih sering tidak berhasil disetting dengan cara demikian. Ada masanya saya segar bugar hingga segala hal dalam sehari rampung dengan apik. Tapia da waktu saya tidak mengeluarkan upaya apapun untuk melawan rasa malas. Akhirnya hanya berkubang dengan pikiran ‘oh, aku harus melakukan sesuatu, tapi kasur ini enak banget’.

But after thinking those ways. I am not really think about it. I like surprises, and really looking forward to find one that could lead me to the joys I’m looking for. Kedua pertanyaan itu tentu masih berjalan beriringan seiring dengan semakin tuanya saya. Beberapa kawan lama yang tiba-tiba datang kembali, atau beberapa kawan tidak terlalu lama yang ternyata berpisah lebih awal memberi cukup banyak gambaran soal how’s the rule of living, or what kind of strategy that fits well with my life pattern.

Urusan finansial ini juga masih menjadi lahan peperangan yang asik because I haven’t come to the secure line, hehe. But I learnt something from the struggle to achieve the financial security goal. Sometime I ask myself; do I made a wrong decision? But there is no wrong turn in life. Only a path which really fits us, hehe.

And so, enjoy the days, which once come and gone away, which turn into misery ahead.

wordsflow

Advertisements

When we are mapping the future separation,


Are you confident enough that you will live for a long time to meet your old friends once again?

I got a kind of life lesson today. Please visit my friend’s blog here. She was one of my adorable seniors when I was majoring architecture before. One of many who really into architecture and you should proud of her too because of her work and she will probably be the next brilliant architect in the future. It works for you too, in any kind of major that you are focused on today.

Okai.

She wrote a really nice yet simple article about every person that might have left our life before. It explains something inside me and brings a peaceful mind instead. Yes, maybe there were some people that only had a temporary mission in our lives.

I remember I didn’t have so many friends back then. I’ve told before on this platform about my previous schools and stories about that. Many of them really became so far away that I don’t have any idea where they are now. Some of them suddenly bump in front of me without any announcement before. Some stay for a really long time beside me and feels like we will getting old together as friends forever.

But I agree with her about this one. People have their own mission in somebody’s life. Pretty sure that my previous friends have finished their mission in my life, and they moved away to another mission for another friend.

Life is a forever alone journey. You are creating your own path, following your heart, mind, body, and soul; creating an intuition to choose one from some. We might collide with someone’s path, together with, open up the obstacle ahead. But we would be separated again because there is not enough space for two of us.

Life is really funny then. For sure.

Some path might collide once again, crossing each other to exchange territory of living, hahaha. We might saw our friend from the past. We would have that chatter about our memories and telling each other how’s life been doing to both of these time. Really so many information to exchange. But that’s all. Once we don’t destine to be together, then there we go.

Sometimes I remember my best friend in junior high. We used to travel together, experienced every road we found. But in one case, we separated and never met again until today. Maybe, her mission was to accompany me through my junior’s life. I didn’t really think about this before, but sometimes I’m questioning her. But just it. Nothing more.

Again, there are so many people in my life recently. I get acquainted with new people. I talked to more people. I get into some groups that I never know before. I developed my own boundary through people around me. They are now part of my path.

But as she said, some people might only mean to stay temporary in my life, some other staying durable there. I don’t know which one is whom. I wish for some to stay longer or forever, but they might not because they have another mission in others’ lives. I never know. We never know. That is why we call it as a future; the total uncertainty.

I remember Njum, one of my best friend ever. We often had a disagreement, but we never mad at each other for too long. The last time I saw her, it was my farewell before leaving to Merauke. She cried quietly. But I could feel her back up and down. I shed in tears too. But that wasn’t the saddest feeling. I wept over her two days after we separated. I understood at the time that we would really hard to meet again even though we would be on the same island. That was really sad.

But it’s okay now. We often have a chatting moment together about everything we are worrying.

And then, I remember my other friends. Some of them really the closest one, some others not really but they are always there, presenting themselves to everyone who needs them. I dear those people so much. Really not ready to be separated from them, but when the time comes, nothing I can do. They’ve finished their mission in my life, they have another one to do or they are heading to their own life guides.

Ah, I remember another one in my life. He made a specific ampersand for his photo series; #foreveralonejourney. I like that one, made me realized that we might be together with people, but sometimes the struggles really only exist in our own. At first, I only understood the meaning, but not really feel it. I knew through time, yes we are. But I realized that I’m no more awkward with people from my past. Memories not really implied the current feeling; it might, but not always. Maybe I had been angry at my friend when we separated, but when I met them later on, I realized that I missed them more. The feeling replaced, creating a new dominating one.

Ya, we are not always meant to stay forever in others’ lives. Some people stay, some others walk away. It is so common in everyone’s life. You have your experiences, I have mine. We might not be together forever, we all know about it. But please, since the time does limited, enjoy the friendship which exists at this recent time.

wordsflow

Methodological Dilemma.


Mari saya tuliskan kegamangan saya dalam menjalani semester baru ini.

Siang tadi saya mengikuti kuliah umum dengan presenternya seorang geografer. Temanya sangat menarik, yaitu soal komparasi praktik pertanian di Jawa dan Hawaii. Dua wilayah yang sungguh sangat berseberangan lokasinya di bumi namun dengan kondisi iklim yang mirip.

Tema yang diangkat sebetulnya bukan sebuah tema yang jarang didengar. Pertanian menjadi bahan pembelajaran di berbagai bidang ilmu. Banyak yang melakukan pendekatan berbeda dengan praktik pertanian. Saya katakan praktik karena tidak dapat langsung disebut sebagai permasalahan. Agaknya saya mulai suka menggunakan kata ini untuk menggantikan kata ‘permasalahan’ yang sebelumnya lebih sering saya gunakan. Alasannya tentunya sangat sederhana, segala hal itu relatif, dan sesuatu menjadi masalah ketika menimbulkan kerugian pada suatu pihak. Dan selama masih ada yang diuntungkan, sesuatu menjadi lebih layak disebut sebagai praktik.

Ada beberapa yang saya pikir menjadi agak berbeda ketika sesuatu dianalisis oleh para geografer atau antropolog. Mungkin ini akan sangat personal, namun saya mencoba untuk memberikan pandangan dari hasil belajar dan membaca buku yang selama ini saya lakukan.

Hal yang mungkin paling sulit dilakukan seorang geografer adalah mengubah sesuatu yang sifatnya 3 dimensi dan sangat kompleks ke dalam proyeksi dua dimensi yang, anggaplah lebih sederhana. Pemetaan membutuhkan bukan hanya kejelian dalam melakukan analisis, namun juga upaya untuk merepresentasikan sesuatu ke dalam gambar. Hal ini sebetulnya juga dilakukan oleh para arsitek sebagaimana yang juga saya pelajari selama kuliah.

Ide yang merupakan sinkronisasi dari penelitian yang holistik mengenai ruang dan perilaku, harus diwujudkan ke dalam sesuatu yang rigid dan harus saya katakan everlasting. Merancang seharusnya bukan sesuatu yang mudah. Ada banyak hal yang disintesakan ke dalam satu bentuk yang dianggap paling sesuai, bukan hanya dengan manusia dan kebutuhan ruangnya, namun juga dengan lingkungan alamnya. Bagaimana sebuah bangunan dapat terhindar dari ancaman lingkungannya? Bagaimana sebuah bangunan dapat juga selalu mewadahi perubahan yang terjadi pada manusia-manusia yang memakainya? We never really answer that question.

Sama halnya demikian, saya rasa geografer juga merasakan kesulitan yang sama ketika merangkum keseluruhan informasi tersebut sehingga dapat disajikan kepada khalayak dengan cara yang sangat representatif; peta.

Di sisi yang lain, antropolog sejauh ini merupakan bidang yang paling fluid dalam melakukan analisis terhadap sebuah fenomena atau praktik tertentu. Saya memahami bahwa ada kebanggaan yang sangat besar di dalam bidang ini bahwa metode etnografi yang kami lakukan begitu ‘dekat’ dengan masyarakat sehingga melaluinya kami dapat memberikan pandangan yang sungguh mendekati fakta di lapangan. Metode ini menjadikan sesuatu yang kami tulis sangatlah deskriptif; sebagaimana adanya di lapangan.

Lalu pertanyaannya, bagaimana etika memberikan penilaian terhadap hasil penelitian yang dilakukan seorang antropolog? Dapatkah kami menambahkan opini ke dalam hasil penelitian lapangan?

Menarik sekali ketika dosen siang tadi menyebutkan bahwa ‘tugas peneliti bukan memberikan rekomendasi atas sesuatu, namun memaparkan bagaimana sesuatu itu terjadi; bagaimana proses dan perubahanannya, agar kemudian dapat digunakan sebagai bahan analisis selanjutnya’.

Yang harus kita sadari, ada begitu banyak kesalahan masa lalu yang membuat segala bentuk kebijakan atau praktik volunteer misalnya, justru menimbulkan kerugian ketika dipraktikkan di lapangan. Tania Li dalam The Will to Improve menjelaskan dengan cukup menyeluruh bagaimana sebuah niat baik pada praktiknya belum tentu berimplikasi baik pada sasaran program, atau masyarakat secara keseluruhan. Lagi-lagi, ada entropi yang seharusnya tidak diabaikan di masyarakat.

Saya cenderung memiliki keyakinan bahwa pada suatu lokasi dengan konsentrasi kapital yang jauh lebih intens, dengan relasi ekonomi yang lebih intens pula, masyarakatnya akan berkembang jauh lebih cepat dibandingkan masyarakat yang miskin kapital dan relasi ekonomi. Anggaplah terdapat dua balon udara yang berbeda dengan tekanan yang berbeda. Balon yang lebih besar memiliki tekanan yang jauh lebih besar, memunculkan pergerakan molekul yang lebih cepat dan lebih intens dibandingkan balon yang kecil. Demikian juga masyarakat. Sehingga masyarakat dengan konsentrasi kapital dan relasi ekonomi yang lebih padat akan berkembang jauh lebih cepat meninggalkan kelompok masyarakat yang lain lagi. Lihat bagaimana perkembangan Jakarta dalam 1 tahun dibandingkan dengan Yogyakarta dalam kurun waktu yang sama.

Sulit kemudian untuk mengejar ketertinggalan tersebut karena perbedaannya bukan lagi aritmatik namun integratik. Jarak sejauh itu menimbulkan persoalan yang jauh lebih kompleks ketika tidak lagi ada regional yang terisolasi secara khusus sebagaimana yang selama ini dipercaya para antropolog di masa awal berkembangnya antropologi.

Tidak lagi relevan untuk hanya menggunakan pendekatan atau metode penelitian yang selama ini digunakan dalam antropologi klasik. Positivistik, fungstruk, strukturalisme, atau yang lain-lain itu telah hampir ditinggalkan sepenuhnya oleh para peneliti. Banyak yang begitu tertarik dengan post-mo yang cukup menjawab kegamangan metodologis atas fakta di lapangan. Teknologi dan perkembangan informasi menjadi buffer yang luar biasa mengganggu kemapanan para peneliti dalam melihat sebuah fenomena.

Lalu, apakah masih relevan memisahkan diri sebagai insinyur, geografer, atau antropolog misalnya, ketika metodologi yang digunakan semakin berkembang dan menyerupai satu sama lain?

Our practical dimension has leapt those disciplinary boundaries.

Sulit untuk mengatakan bahwa masih ada masyarakat atau bahkan keluarga (elemen terkecil dalam masyarakat) yang terisolir sepenuhnya dari masyarakat lain. Tidak ada lain identitas murni sebuah suku bangsa misalnya. Sulit saya rasa menemukan masyarakat yang masih sangat mandiri dalam mengelola masyarakatnya meskipun memang tidak mustahil untuk menemukan salah satunya.

Perkaranya saya pikir bukan pada metodologi penelitian, namun pada representasi hasil penelitian tersebut. Itulah yang barangkali membuat pemisahan disiplin itu masih tampak relevan di hari ini.

Seorang antropolog menjadi begitu menarik ketika mereka mulai menuliskan hasil penelitiannya dalam narasi tertentu yang membuat kita seolah-olah sungguh memahami bagaimana segala sesuatu itu terjadi. Tren penelitian mereka yang turun langsung ke lapangan, hidup bersama, dan bahkan tidak jarang yang mencoba ‘menjadi’ masyarakat itu sendiri membuat tulisan seorang antropolog begitu meyakinkan.

Tapi itu dulu. Antropolog kini dihadapkan pada fakta bahwa eksotisme masyarakat ternyata sudah tidak seindah yang digambarkan The Nuer, dan belum lagi tuntutan studi yang lebih pendek. Tapi bukan hanya itu. Masyarakat berkembang sedemikian rupa sehingga perkembangan metodologi tidak lagi dapat mengimbangi perkembangan masyarakat itu sendiri. Saya pikir itulah alasan yang paling krusial mengapa akhirnya antropolog tidak lagi semeyakinkan itu dibanding mereka yang hidup di masanya Koentjoroningrat atau Geertz.

Kita kehilangan jejak ketika ternyata relasi tidak lagi hanya dapat diamati secara empiris melalui perilaku, namun tersembunyi di balik ponsel pintar para pelakunya. Antropolog kehilangan pegangan ketika ditantang para insinyur soal bagaimana menangani demand pasar yang tinggi kalau bukan dengan pembukaan lahan tambang baru misalnya. Segala permasalahan penelitian bermunculan; permasalahan yang sebetulnya jauh lebih mendasar dibandingkan dengan permasalahan yang coba diteliti dan ditelusuri.

Lagi-lagi, masalah metodologi ini begitu menarik karena hampir semua disiplin ilmu menggunakan metode yang sama dan cara analisis yang sebetulnya tidak berlainan. Saya mempelajari bagaimana rekan-rekan saya yang begitu kritis di arsitektur dan ilmu lingkungan misalnya, juga membicarakan hal-hal yang praktis sama persis. Mereka membaca buku yang juga sama, dan memberikan penilaian dan kritik yang sejalan. Lalu apa yang membedakan mereka?

Ya itu tadi, representasi.

Saya sangat menyukai karya-karya Yu Sing karena mensintesiskan persoalan spasial dengan cara yang tidak mengabaikan lingkungan sama sekali. Atau rekan-rekan geografi yang kritis terhadap kultur masyarakat lokal meski mewujudkan hasil penelitiannya dalam bentuk yang sama sekali lain dengan para antropolog.

Jadi tidak masalah antropolog menggunakan data kuantitatif untuk mendukung analisisnya, sama tidak masalahnya dengan insinyur yang menggunakan data kualitatif untuk mendukung analisisnya. Hanya dengan itu maka peneliti akan mendekati penelitian yang holistik itu, atau akhirnya hanya akan menjadi omong kosong belaka.

Dan yah, barangkali seperti itu saja yang ingin saya katakan malam ini. Harus saya sampaikan bahwa ini tulisan paling lancar yang bisa saya buat sejauh ini. Barangkali memang saya sudah menyimpan pemikiran ini sejak lama, meski saya tidak tahu hal apa yang mencegahnya untuk tertuang.

Lalu, semoga kita bisa berkembang bersama dan menjadi kritis tanpa tertinggal oleh penemuan ilmiah apapun yang akan merubah kita. Selamat malam.

wordsflow

That Competition Doesn’t Exist


Okey, honestly I don’t have any topic to write, ya tapi mari saya tuliskan sesuatu.

Hari ini hujan, dan tiga hari lagi valentine. Cieh. And nothing to do with me sih, hehe.

Ada dua blog yang menginspirasi saya hari ini, tapi ternyata tidak cukup kuat untuk mendorong saya menuliskan sesuatu yang bermanfaat. Jadi marilah melantur bersama hujan yang nggak reda-reda ini.

Beberapa waktu yang lalu saya diberikan penjelasan yang cukup masuk akal soal being in a rush dalam beberapa dekade terakhir ini. Mengapa kita begitu tergoda dengan kemajuan dan kecepatan. Seolah-olah ada sesuatu yang akan berubah begitu rupa begitu kita menjadi cepat, atau bahkan yang pertama.

Saya tidak akan melakukan reproduksi tulisan orang lain. Semoga tidak. Tapi sekedar menuliskan kekhawatiran dan keganjilan yang terjadi belakangan ini. Dan akhirnya mencoba membangun diri untuk dapat menerima berbagai ‘ketertinggalan’ yang terpaksa harus saya hadapi lantaran ya memang saya lambat. Oh, dan harus saya peringatkan bahwa mungkin sekali tulisan ini sangat amburadul.

Ketika membicarakan kecepatan, saya menjadi begitu terbawa untuk mempertanyakan berbagai hal esensial tentang hidup. Hal-hal yang sebetulnya begitu mendasar, yaitu persoalan bertahan hidup di tengah pergeseran nilai-nilai.

Ada hal-hal yang sempat mengganggu dalam hidup saya, dan masih ada beberapa sisanya juga sih, hehe. After being so long in competition (sama idealisasi tertentu dalam pikiran), saya menyadari bahwa semua hal itu tidak memiliki implikasi praktis apapun untuk hidup. Segala hal itu berlapis-lapis. Relasi itu ada berbagai macam bentuknya, dan pasti pula berlainan antar satu orang dengan orang lainnya. Apa yang tampak tidak juga dapat dikatakan demikian adanya. Kita memiliki relasi formal dan informal, yang di dalamnya juga menyinggung hal-hal yang barangkali tidak dapat dikatakan rasional, misalnya solidaritas, atau cinta. Dan si kompetisi menjadi tidak rasional juga kemudian, karena pada dasarnya tidak berimplikasi apapun secara praktis.

Saya sampai tertawa sendiri setiap kali mengingat hal-hal yang telah saya lalui memperdebatkan soal perfeksionisme dan kompetisi ini. Saya amat percaya bahwa menjadi sempurna itu dapat diperjuangkan hingga nantinya dapat saya gunakan untuk membantu mendapatkan hal-hal yang saya harapkan. Tapi toh ternyata tidak juga, hehe. Dan akhirnya sebagian berakhir sekedar menjadi sesuatu yang mengganggu hari-hari baik.

Well, sudah pernah saya ceritakan juga pada suatu momen tertentu ternyata saya tidak sesakit hati itu ketika nggak mendapatkan hal yang saya inginkan. Lebih menyenangkan kemudian ketika sadar bahwa ternyata dampaknya nggak seburuk itu untuk hidup saya. Dampak praktisnya sungguh tidak ada. Saya hanya kembali ke keadaan awal saja, kondisi mula yang posisinya agak lebih belakang dibanding saat harapan itu masih ada. Seperti bermain game, hanya kembali ke titik start tapi setidaknya saya sudah mempelajari taktik dan strategi permainan. (Jadi pengen ngutip Bourdieu tapi oh buat apaan)

Jadi, ini hanya perkara mencintai diri sendiri kok. Urusannya cuman itu doang. Barangkali tidak perlu ada penjelasan panjang lebar soal apa dan bagaimananya. Saya cukup lega dengan meyakini bahwa ‘that competition doesn’t exist’. Dan nggak masalah soal apa-apa yang sudah atau tidak diperoleh, atau kapannya. Biasa saja.

Nah, jadi hubungannya apa dengan kecepatan berbagai hal di hari ini?

Saya pikir, akhirnya ada pemahaman soal di mana sebaiknya segala hal yang baru-dan-mutakhir-hampir-mustahil-untuk-dipercaya ini diposisikan. Dibandingkan melihat-lihat orang lain atau sesiapapun sebagai pembanding, lagi-lagi jauh lebih menyenangkan buat mengambil posisi sendiri entah di mana bebas deh. Dan lama sekali saya mempelajari hal ini hingga nggak sekedar mampir di dalam pemahaman tapi juga ke ranah praktikal.

This is life vroh. As long as you still alive, yasudah begitu saja.

Kadang ada dorongan untuk menyelami dunia maya jauh lebih dalam dari yang mungkin mampu saya tanggung, lalu merasa semakin absurd dan kerdil. Justru munculnya dorongan untuk mengikuti arus dan menjadi seperti orang-orang ini membuat kita menjadi orang yang terjerat di dalam arus kapitalisme itu sendiri. Akhirnya nggak pernah merasa puas dengan segala hal, dan hilanglah dia di antara kerumunan. Absurd sekali.

Sangat sulit untuk merasa spesial di antara begitu banyak orang yang memang ‘merasa’ spesial. Misalnya saja sudah begitu bersemangat memilih baju yang paling ciamik buat pergi ke kondangan. Toh akhirnya tampilan itu tidak akan menjadi sesuatu yang menarik di tengah kerumunan orang yang juga mengeluarkan usaha yang sama untuk tampil menarik. Di antara kerumunan, kita hanya sebatas manusia lain aja. Ya tapi kalo urusannya buat diri sendiri sih soal lain lagi.

Akhirnya, saya bosan juga menulis hal yang tidak jelas ini. Pengen ngobrol sama manusia aja tapi bingung milih topik. Sangat nggak layak untuk diposting; nirfaedah sekali. Mungkin nanti bakal saya hapus, hahaha. Tapi ya biarlah dia nangkring dulu untuk sementara ya.

wordsflow

That Perfection Never Existed


Someday not long ago, I read something about life actions. It said that people wanted this thing or that thing and became really concern about being perfect. But at the end, it said that “that perfection doesn’t exist, the thing is let’s just getting something done, whatever it is”.

I’ve been in a kind of perfectionist since the first time I understood about competing with someone. I understood later on, that perfection was actually something we set. We had those standards which would verify that something was perfect or merely it was.

I’ve been for maybe all the times setting standards to be a perfect girl, being the perfect person in front of anyone, being that perfect student, and so on. I set a perfect future for some occasions, but at the end, I never really put the efforts to be the perfect one.

It happened every time, every moment, and finally to everyone.

Now, I have to admit that I really appreciated myself for being interested in the study of self-trajectory. Analyzed cases which had happened to me, and finally trying to understand why am I here today and doing this kind of things.

Let me tell you about how do I understand the life that I’ve been through. I knew from quite long how did I behave in my surrounding. I had a kind of intention to be a perfect person. I didn’t really know the reasons, until today, but somehow I thought that it was because I used to compete with my brother since I was a kid. Being in that competitive atmosphere like all the time making me setting some standards which later on became the standards of perfection.

That was really fun at first, being in the first place for something you really meant to. I got the first place in every single lesson I took at school. But that was the old me. At my senior and lectures, I never became the girl I really dreamt of, and once again, never really put the efforts to be. The stupidest thing then was that I didn’t satisfied with the results I got. What kind of stupidity, playing victims, and blamed others for something they didn’t do.

That was me not long ago.

I haven’t understood myself at all, not yet. But I feel like I’ve changed a bit.

There were times when I don’t have self-esteem at all. I’ve been writing here for almost 9 years, but I never made any kind of scientific writing since then. I had hard times doing reviews for lectures and structuring ideas which never been well-constructed in my mind. I envied people for being able to understand someone else’s concepts and telling us about it. Besides, I don’t have any idea where the hell those things came from.

Really not easy to make people understand what I meant by saying these or those. I wrote some letters to people and after really prepared the sentences, they still said that they hardly understood what I meant in the letters. There, I realized that I always thought that people would easily read what was in my mind, which actually only existed in my delusive opinion. The opinion and the data are two things meant to complete each other. Without putting them together in the right structure, the true purpose would never be understood by people. That’s hard, and trying is tiring.

But I tried to keep moving and through the hard times. The challenges that I took changing me within time and process.

To tell you now, I’m not asking a pity from you. No. Surely not. I’ve passed every challenge and actually, those things would never be easier as the time goes by. Somehow I just realized that it is me who is getting a bit stronger to face those challenges ahead.

My lecturer said that there are two things on earth that would never change; that we are not immortal, and that time has a limit. Maybe just because I finally thought that it wasn’t merely rhetoric anymore, I could say to myself, “that perfection never existed in me”. So, don’t be too hard pushing myself to reach out the standards I know I would never make.

Instead of chasing after something too high, there are things which would suit me best. Instead of chasing after you and try to be on the same path or parallel with, there is a path which would really fun to be through. And I could still be your complement.

I never experienced being in the backstage. Most of the time I tried to keep being in the spotlight, but never succeed. Ah, life is always interesting.

This one is not meant to be negative at all. I know I wrote some bad sentences, pledoi, but still trying to look positive. No. There were bad days too. But there were happier days.

Getting rid of the standards which lingered in my mind was not as easy as I thought. Sometimes it is hard to handle it, but at times, the hopes will come to practice.

Still, so many things to do. At least I’ve said what I wanted to say to some people. I’ve been telling everything I wanted them to know. Beyond that,  there are still stuffs I keep for myself, some cases which only have meaning when we don’t talk about it. The unanswered questions never bothered me yet giving hope instead that there will be an explanation for everything on earth.

And because we are not an immortal, our job is merely to survive through days. As I’ve been successful for today, maybe taking a nap would suit me best so I could prepare for tomorrow.

So, see you again. You know who you are for me, hehe. Nite!

wordsflow

The People Who Wrote and Published


Finally got something to write.

Lately, I turn being busier than before, hehe. But no, there were moments too which made me felt and behaved differently. I’ve been so much in love, it’s not changing tho, but the thoughts replaced.

And here I am, a drama-queen who trying to stop being dramatic. Yess, I have a more serious thing to share with. Hehe.

(Always with pledoi)

Begin with a kind of new year resolution beginning of this year, I made a movement for myself, a #onebookoneweek project. Actually, I meant nothing about this. This was all because after sorting my books, I realized that I have so many unread books and don’t have any idea when will all of those books finished reading unless I put them all in a kind of resolution. So there I was, began a new year being consistent reading at least one book in a week.

Not really worked at all, because there were times I had to put away the book (the books I mean here are popular books such as novels or kinds of literature, not school books such as politics and socials) and turned to read my school handbooks.

A friend once asked me what was I rush in to? No need to really read a book in a week maybe, but I just thought that in a year, we only have 52 weeks and if the resolution succeeds, maybe I’ll only read those 52 books. Remembering that, I know that my a-hundred-and-more unread-books will never be finished being read unless I do my resolution.

But finally, it was all being through in supple, hehe. I still bought some new books; novels, short-stories compilation, and other popular books. Really couldn’t get enough of books although sometimes hard to remember the whole story in the books.

Okay, enough about me. Let’s turn to the good news.

The last book I bought was from my friend’s indie publisher. She and her man committed to publish Indian literature which actually never being heard by me (except Rabindranath Tagore whom the books I never read before). I didn’t know anything about Indian literature. There were some journals I reviewed in my political-economy study last year, but nothing more than that. Not so many Indian books out there in public bookstores, and they were really unpopular I thought.

TELAH TERBIT! Paria (Untouchable) adalah novel debut dari Mulk Raj Anand, sastrawan besar yang dijuluki sebagai Charles Dickens-nya India, yang terbit tahun 1935. Fokus utama dalam tulisannya ditujukan kepada golongan yang, meskipun pada awalnya adalah manusia, ditolak kemanusiaannya oleh masyarakat. Novel ini sendiri mengisahkan pengalaman dalam 1 hari tertentu (yang mirip dengan Ulysses-nya James Joyce) dari hidup seorang tukang bersih kakus yang termasuk ke dalam kaum paria – kaum yang berada di luar sistem kasta, yang terendah di antara kaum rendahan. Nestapa dan caci-maki yang diterima sang tokoh utama dari masyarakat, tidak bisa dipungkiri, adalah serangan frontal Anand terhadap struktur sosial India yang timpang. Penulis: Mulk Raj Anand Penerbit: Mimamsa Penerjemah: Stanley Khu Tahun terbit: 2018 vii+168 halaman/48626 kata HARGA BUKU ADALAH DONASI ANDA (min. donasi Rp 43.700 = harga cetak satu eksemplar) Silakan hubungi kontak whatsapp kami untuk pemesanan #mulkrajanand #untouchable #sastraindia #novelindia #mimamsa

A post shared by Mimamsa (@tokomimamsa) on

Her man once was a master student in India, majoring anthropology and apparently knew much about the country and the society. He translated the original version and published it independently. So I bought one.

Had been reviewing Indian journals thought me some about their culture and society. And because of that, I did really interest in the book above. It is about one of the caste in India which actually out of the caste system. The Indian caste which implies not only in the society but entirely in the politics and believes, make them really hard-to-death to get out of the system, and finally out of the poverty. It was acute and helpless. They couldn’t get a job unless being a feces-pit cleaner.

I haven’t read any of part of the book, but after I finished my last book-list, Monsoon Tigers and Other Stories by Rain Chudori (this one really nice, and yeah I really into the book but I’m not that ‘galau’ girl anymore yaaa), I decided to read this one, more than other options like 1Q84 or Demian. Still, there are many books left to be finished in my room. Really looking forward to being able to read faster but still being steep to the substance.

As I once told you here, maybe I read books from my elementary year, but there are much (not many) books that I never know which actually I should have been reading. Feeling guilty for not using my time reading more books before. But yeah, there is still so much time ahead, don’t worry. I spent reading in a library when I was in senior high school and elementary. It was the only two libraries that I ever loved, hehe. Ah, Bantul region library too. One of a few.

Finally, at last, I wrote something on this blog. Being wanted to write some but the poetic words had gone unknowingly where. The dramatic words too, being eliminated to another world. So maybe this one would make a difference in your day. I hope you are being inspired to read them too, hehe.

Last, I know reading will be much more fun if we have a companion, hehe. And I have this too from the indie bookstore.

The left one is mine.

Good night fellas. I hope you dream nice, and get up early to experience a morning pleasure.

wordsflow

Not the first post in this year


Hello again. For quite a while, I haven’t written anything here. Merely because I really didn’t have motivation to do it, but actually I have some topics to be discuss. But let this one be a kind of a daily update. Hehe.

Bukan postingan pertama saya di tahun ini memang. Tapi pertama-tama, saya pikir ucapan terima kasih dan permohonan maaf bukan sesuatu yang terlalu muluk di awal tahun. Ada banyak hal yang akan terjadi di tahun ini, yang saya semogakan akan berjalan lancar tanpa halangan apapun. Ini soal perkuliahan. Meski sebetulnya saya gugup luar biasa, jelas ini nggak akan mudah mengingat betapa saya sangat karbitan di bidang ini.

Ada banyak orang di hidup saya belakangan ini. Saya bertemu orang baru, diperkenalkan dengan temannya teman dan akhirnya bisa membahas banyak hal penting bersama. Atau barangkali dengan acak berbincang soal segala urusan dengan pelanggan yang baru pertama kali bertemu. Beberapa kali mengunjungi teman lama dan ternyata kami dapat berbincang tanpa adanya kekhawatiran soal rasa canggung. Tiba-tiba saya merasa dicintai banyak orang. Untuk itu, saya pikir amat tidak berlebihan jika saya berterima kasih untuk apapun yang saya peroleh, meski ucapan ini simbolis saja saya lakukan di sini.

Lalu, beberapa angan-angan tampaknya harus rela saya postpone sampai waktu yang tidak ditentukan. Misalnya untuk belajar nyetir mobil (while actually I’ve tried once in Kimaam), belajar tari tradisional, bikin CV yang bagus, ikut bazaar lagi, atau bahkan membuat kebun sendiri. Berangkali menentukan prioritas jangka pendek untuk hal-hal yang jauh lebih krusial untuk saat ini.

But I have a lot of funs beginning of this year. Got some trips to my friends’ places, and really had a quality time together. I did small production sessions to make my little shop back to life again. Doing some treatment to release my anxiety. Visited some tourism places which been popular these days. Chats some friends and gave them support on whatever they are doing. Appreciated small things like a congratulation or a ‘how are you’. And so many other good things.

Of course there are some antagonists in my life, but they weren’t really meant to be. Kadang yang begitu hanya persoalan perspektif.

Ada banyak berita tentang negara ini dan dunia di luar sana. Soal perang, politik, lingkungan, ekonomi, atau apapun itu, tidak berhenti berseliweran di dunia maya. Setidaknya mendistraksi ketenangan empiris lingkungan sekitar kita.

Dan meski di hadapan saya hujan menguyur tanpa tanda-tanda akan berhenti, ada keyakinan yang tidak luntur bahwa life is getting better. Barangkali ada waktu ketika terbangun dalam keadaan sedih seperti yang telah lalu, memimpikan kekhawatiran yang sama, atau bahkan kembali ke pikiran-pikiran yang merusak diri. Tapi akan selalu menjadi biasa aja begitu bernapas dengan normal. People only lives in a present time, ya kan?

So, once we survive the present, we will live forever.

Here some photos:

 

the bookbinding project

the tourism visits

the contempation moment

Not representative, but enough.

wordsflow

Konsep


Oke. Jadi kenapa? Ada apa?

Hari ini saya mengajukan beberapa pertanyaan ke beberapa orang yang menurut saya mungkin bisa menjawab hal-hal yang mengganggu pikiran saya. Tapi hampir semua orang menganggap pertanyaan ini lelucon atau sekedar retorika doang. Jadi bodo amat, saya ngomong-ngomong aja di sini. Barangkali setelah ini saya malah dapat pencerahan.

Kesel aing.

Seorang teman baru saja sidang pendadaran siang ini. Belakangan saya tahu bahwa dia menggunakan Bourdieu agar dapat menjawab pertanyaan risetnya dengan baik. Teman lain tiba-tiba juga tertarik karena ternyata dia juga menggunakan Bourdieu untuk membantu menjawab pertanyaan risetnya. Dan saya pun jadi pertanya-tanya, ada apa gerangan dengan si Bourdieu ini?

Harus saya katakan saya belum tamat membaca, memahami, apalagi menelaah Bourdieu. Jadi jangan tanya kritik tentang dia, saya tidak paham sama sekali. Tapi ada semacam harapan ketika saya pertama kali membaca Bourdieu, jangan-jangan pertanyaan-pertanyaan saya akan bisa dijawab dengan meminjam konsepnya. Jadi saya mulai belajar.

Beberapa buku kemudian, saya sampai pada pertanyaan esensial lain. Kenapa seolah-olah semua permasalahan compatible dijawab lewat konsepnya Bourdieu? Oke memang ada beberapa kritik, tapi di luar itu, pertanyaan lanjutannya kemudian muncul.

Apakah teori Bourdieu yang memang compatible untuk menjawab pertanyaan seputar permasalahan sosial, atau karena notabene permasalahan sosial hari ini yang justru sedang dalam masanya berkaitan pada pokok-pokok yang dibahas Bourdieu? Atau bahkan, bisa jadi cara berpikir kita yang cenderung menganggap teori Bourdieu dapat membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi. Padahal ya belum tentu kaan.

Lalu, saya pun jadi mempermasalahkan persoalan penulisan thesis. Pada dasarnya apa yang membuat thesis itu menjadi thesis dan bukan hanya sekedar skripsi doang? Hemm, akademis tuh sering bikin muak yak.

Saya suka sekolah sih, tapi setiap sampai di bagian ujian, tugas akhir, skripsi, dan sekarang thesis, saya suka merasa ada hal yang direduksi oleh praktik-praktik itu. Jadi kesannya agak menyebalkan.

Dan, karena amat mengantuk, saya sudahi saja grundelan ini. Sepertinya saya mau belajar koding aja, biar bisa bikin artifisial program kayak Winston. Bhay.

5 Centimeters per Second (ii)


Mari melipir dari topik penting sejenak ya, saya sedang sungguh malas berpikir.

Berdasarkan hasil survey stats blog, saya menemukan beberapa postingan yang paling sering dibuka. (Ini bagian favorit saya, saya selalu bisa memantau feed blog saya yang agak padat, hehe) Salah satu yang cukup mengejutkan adalah review alay saya soal film 5 Centimeters per Second yang saya buat tahun 2011, weeww (link here). Padahal postingannya sendiri sangat tidak substansial menurut saya. Tapi yah, ada beberapa kalimat yang saya pikir lebih bijak dibanding cara pikir saya hari ini. Postingan ini cukup ramai loh, bahkan menuai banyak komen nggak penting ala anak ABG. Hehe.

Oh, time passed by.

Lalu, kenapa saya berkeinginan untuk membahasnya lagi? Karena ternyata oh ternyata, saya rasa saya salah memahami cerita di dalamnya.

5 Centimeters per Second itu bukan cuman ada animenya saja, tapi dibuat komik dan novelnya. Si novel tidak pernah saya baca tapi saya pernah menghabiskan komiknya secara online. Alasan sebenarnya karena saya sejujurnya nggak terima dengan cerita yang ngambang gitu. Yha padahal semua animenya Makoto Shinkai begitu sih, apa boleh buat. Setidaknya anime ini ada penjelasannya di komiknya.

Topik yang mau diangkat sebetulnya itu soal rasa penasaran (sepertinya). Saya ingat hampir mati bosan ketika menonton bagian pertamanya. Tapi berhubung saya anak yang melankolis, akhirnya saya bertahan hingga bagian satu selesai. Ada teman saya yang menyerah loh, saya sampai sedih karena bahkan dia nggak tertarik dengan grafisnya. Oke lanjut. Cerita kedua sebetulnya yang paling seru dan paling berwarna dibandingkan yang lain. Agak aneh karena judulnya Cosmonaut. Saya hanya menduga kalau Makoto Shinkai ini terobsesi banget sama kereta, astronomi (di semua filmnya begitu, Voices of a Distant Stars salah satunya), dan nuansa langit gitu lah, makanya hampir semua anime besutannya punya nuansa yang sama.

Nah, dari ketiga bagian 5 Centimeters per Second itu, semuanya memiliki satu kesamaan, yaitu menunggu. Acara menunggu ini sudah jadi hal paling melankolis untuk orang-orang yang punya masalah perasaan. Why it took you so long? Jawabannya cuman satu sih, penasaran. Yaa barangkali begitu mungkin, sampai-sampai Makoto menggambarkan si tokoh utamanya jadi nggak berperasaan gitu di ending.

Curcol dikit. Saya pikir saya agak mirip sih. Orangnya penasaran sampai-sampai nggak berani mencoba sesuatu karena masih memikirkan hal yang, bahkan nyata pun belum tentu. Padahal ya mungkin cukup potensial untuk melangkah lebih jauh atau lebih tinggi. Tapi akhirnya terperangkap di situ-situ aja karena dikungkung oleh pikiran sendiri. Ciehh. Damn.

Yang begitu ya, dilihat tampak nggak rasional, tapi memang sering kali begitulah adanya. Ah, saya jadi ingat mau ngobrolin rasio.

Kemarin kapan saya membaca postingan teman saya soal rasionalitas ini (buka sini). Saya juga punya pertanyaan yang sama dan juga mengira-ngira sih. Tapi saya terganggu dengan istilah itu. Memperdebatkan rasionalitas itu mungkin lebih masuk kalau membahas juga soal akar katanya. (Padahal saya belum pernah baca Webber, Habermas, dkk itu) Dan maafkan karena sebetulnya saya juga nggak paham-paham amat soal tulisan rekan saya.

Kata rasio kan sederhananya adalah perbandingan dua hal yang merujuk pada nilai-nilai tertentu yang dapat digunakan sebagai alasan atas pilihan yang diambil nggak sih? Berarti ada setidaknya dua perkara yang coba diperbandingkan untuk membahas apakah sesuatu itu rasional atau tidak. Dalam konteks yang dibahas rekan saya, yaitu soal efisiensi, variabel pembandingnya menjadi banyak dan bisa jadi tidak terhingga. Agaknya, nalar rasional ini menjadi tampak irasional karena individu yang mencoba merasionalisasi tindakannya mereduksi atau membatasi variabel masing-masing hingga ke pokok yang paling sederhana. Mencoba merasionalisasi nonton film sebagai sesuatu yang terkait dengan efisiensi menjadi agak sulit dibahas kalau hal yang dicoba diperbandingkan nggak jelas. (Hemm, gini nggak sih maksudnya?)

Kalau yang dibahas soal efisiensi ini berhubungan dengan sumber daya secara keseluruhan, barangkali cara membahasnya menjadi terlalu sederhana jika harus mengaitkan antara hal-hal segala hal itu. (Oh, saya nggak paham tapi sok ingin membahas)

Herbert Marcuse menyatakan bahwa dalam memenuhi rasionalitas yang berbasis efisiensi tersebut, manusia pada akhirnya berubah menjadi makhluk irasional. Seluruh upaya rasional manusia akhirnya justru berujung pada hasil-hasil irasional.

Itu yang dicatat si teman. Kalau mencari contoh efisiensi yang menuju irasionalitas, lha bukannya teknologi tuh contoh paling mudah ya? Segala pembagian kerja dan pengembangan teknologi kan untuk mencari waktu luang dan kemudahan. Tapi nyatanya begitu manusia memiliki waktu luang, mereka justru tidak berhenti bekerja dan malah menambah jam kerja. Melompati dimensi ruang dan waktu, akhirnya kita sampai pada era konsumerisme yang gegap gempita ini. Hidup kita kek balapan, sumber daya minim, tapi segalanya diproduksi berlebihan. (Yang begitu bukan sih contoh yang dimaksud?)

Walhasil, muncul manusia-manusia bingung yang mencoba mendedah kembali makna rasionalitas dan efisiensi karena kok kayaknya sudah jauh dari pengertian yang kita pahami. Atau, barangkali yang perlu dibreakdown tuh konsep subsistensi itu tadi. Hehe.

Hemm, kita bahas lebih lanjut nanti saja lah yaaa. Mari kembali ke urusan rasionalitas yang lain tadi.

Yah, begitulah kira-kira manusia. Sukaa aja memilih hal yang barangkali tidak lebih menguntungkan secara keseluruhan. Itu tadi, soalnya yang diambil sebagia variabel pembanding adalah hal-hal yang sudah difilter dengan ketat oleh subjeknya. Makanya dilihat dari luar tampak membingungkan dan irasional, padahal ya kalo dari perspektif pelaku barangkali itu bisa sangat rasional.

Akhirnya kerandoman postingan ini berakhir di sini. Hehe. Selamat tengah malam lah yaa. Besok saya kasih topik yang lebih menarik, hehe.

wordsflow

Origin


Sebetulnya saya sudah menyusun brief di kepala saya untuk tulisan saya malam ini, hehe. Sekali waktu saya ingin mereview sebuah buku dengan benar dan sungguh.

Tetapi alangkah tergodanya saya untuk menjelaskan beberapa latar yang semoga akan cukup mendukung cerita saya ke belakang, hehe.

Saya pernah menceritakan awal mula saya mulai membaca buku di blog ini. Beberapa mungkin ingat atau bahkan ada juga yang bodo amat, hehe. Tapi saya menyadari bahwa sejak saya duduk di bangku SMP kelas 1, saya sudah punya kartu peminjaman di perpustakaan kabupaten Bantul (di saat semacam ini saya sering bangga dengan saya yang dulu, hahaha). Koleksi Sherlock Homes adalah buku yang paling saya incar ketika itu. Saya menemukan empat kumpulan ceritanya dan berusaha mencari 4 novel terpisahnya hingga suatu waktu saya nekat ke Shopping Center sendiri.

Dan begitulah, koleksi Sherlock, Agatha Christie, Conan, Kindaichi, Q.E.D, bahkan Detective Q (kalau kalian pernah dengar) menjadi bacaan favorit saya. Saya begitu tergila-gila dengan semua cerita detektif dengan semua rekayasanya. Sangat adiktif, dan dapat saya katakan bahwa itu yang agaknya membentuk saya. Hemm, atau saya yang justru mencondongkan diri ke sana? Entahlah.

Intinya, barangkali saya mengasah kemampuan kepo saya dari hal-hal semacam itu, huehehe. Saya berusaha menahan diri untuk nggak pamer kalau saya berhasil kepo luar biasa cerdas baru-baru ini (sombong parah, maafkeun).

Ada dua hal penting yang saya pikir membuat saya menjadi demikian. Yang pertama adalah imajinasi, yang kedua adalah kemampuan analitis. Tanpa imajinasi, kepo tidak akan terjadi karena tidak ada dorongan yang mengendalikan si tukang kepo ini untuk melaksanakan perkepoan. (Ya ini ngomong apa toooh). Dan tentu saja tanpa kemampuan analitis, kepo tidak akan mencapai pembuktian yang memadai. Luar biasa kan.

Kepo semacam bermain detektif-detektifan buat saya, hehe. Obsesi yang tidak pernah sampai kejadian itu membuat saya mengalokasikannya ke hal-hal lain. Mari saya ceritakan sebuah upaya pencarian saya suatu hari.

Jadi saya pernah menemukan sebuah jam tangan nike di Ungaran. Waktu itu saya sedang buka jalur dan entah bagaimana menemukan si jam tangan di bawah pohon. Itu bukan sebuah jam tangan biasa, melainkan running tracker gitu lah yang biasa digunakan oleh pelari. Nah, si nike watch ini berhubungan dengan akun nike+, maka saya carilah di webnya. Saya menemukan sebuah nama panggilan di sana. Entah bagaimana saya cari ke sana kemari, akhirnya saya menemukan satu akun di facebook dengan nama yang mirip. Saya buka profilnya dan menemukan bahwa anak ini tinggal di Semarang dan adik kelas temen kuliah saya. Hemm, jadi saya mencoba mengecek ke teman kuliah saya untuk konfirmasi dan minta nomer hape.

Iseng, saya hubungi orangnya dan ternyata memang benar dia yang punya. Agaknya itu prestasi kepo paling gemilang saya, hehe. Dan suatu kebetulan karena kesibukan survey diksar, saya bisa bertemu dengan pemilik aslinya di Ungaran. Jam tangan itu pun kembali, hehe.

Well, lalu bagaimana dengan sekarang? Meski hal semacam ini tidak berguna juga untuk hidup saya, setidaknya saya mengobati rasa penasaran dan ketidakpuasan saya akan banyak hal. Cukup membantu dan menghibur loh.

Oke, jadi, mari langsung saja ke topik utama malam hari ini.

Setelah cukup lama bergelut dengan novel detektif yang sarat kriminalitas, belakangan ketika sudah SMA saya cenderung beralih ke novel yang lebih substansial, maksudnya yang tidak hanya menceritakan kejahatan semata tapi juga hal-hal yang membuat saya ingin googling semua istilah di dalamnya. Dan Brown dengan sangat sukses membuat saya rela menyisihkan setengah uang jajan saya untuk bisa membeli bukunya.

Saya ingat beberapa buku Dan Brown sudah saya kenal semejak saya SMP, namun tidak ada yang saya beli karena tidak sanggup, hehe. Akhirnya saya baru membeli buku Dan Brown yang The Lost Symbol (eh apa itu dapet dari temen saya ya? Entahlah). Baru setelahnya dua buku terakhir Dan Brown juga saya embat, Inferno dan Origin. Saya suka sekali membaca bukunya. Isinya membuat saya selalu mempertanyakan bagian mana yang fiksi dan mana yang fakta. Beberapa kali saya harus membuka laman pencari demi memuaskan hasrat saya mengkonfirmasi hal-hal yang ada di dalamnya. Bahkan ketika membaca The Lost Symbol saya sampai terobsesi dengan noetic science.

Lalu Origin. Buku ini sedikit lebih tipis dibandingkan dengan buku Dan Brown sebelumnya. Topik ceritanya masih sama; ada isu yang dibawa, ada konspirasi, ada kontradiksi, ada seni, ada sejarah, ada prediksi, ada banyak hall ah pokokmen. Serunya, Dan Brown selalu ngasih teman perempuan buat Langdon di buku-bukunya, hehe.

Berlokasi di Spanyol, buku Dan Brown mengajak pembacanya untuk menyelami sedikit arsitektur di sana. Tapi saya suka cara membahasnya karena Dan Brown mengambil dua arsitek yang gaya rancangannya sangat bertolak belakang, Frank Gehry dengan Guggenheim Museum, Bilbao dan Antoni Gaudi dengan Sagrada Familia. Dua arsitek ini sama-sama keren sih buat saya, namun mereka berbeda. Topik yang diambil lagi-lagi soal perdebatan antara agama dan sains yang saya pikir menjadi hal yang juga nyata kita perdebatkan sehari-hari (ingat flat earth kaaan).

Dengan mengangkat isu perkembangan ilmu fisika (yang menurut saya paling progresif di antara semuanya, terutama fisika kuantum) (maaf sok tau), novel ini mengangkat topik yang paling fundamental untuk umat manusia; dari mana kita berasal? ke mana kita akan menuju? Tidak sedikit barangkali yang juga menanyakan pertanyaan yang sama namun tidak pernah sampai pada imajinasi atau penalaran menuju ke sana. Saya pun tidak, hahaha.

Dan meski saya bilang mau mereview, saya tidak mungkin menceritakan isinya. Kalau mau boleh pinjam ke saya sih, hehe.

Over all, Dan Brown masih punya ciri khasnya dalam buku ini. Hanya saja saya merasa alur ceritanya ya begitu-begitu saja. Dan Brown selalu menyimpan plot twist di belakang, ketika pembaca merasa seolah semua sudah selesai, dia memberikan penjelasan akhir yang membuat kemapanan sebelumnya menjadi buyar. Tapi saya suka caranya menjelaskan entropi sih, sangat menarik. Demikian, sepanjang membaca ceritanya saya jadi berpikir, “Hemm, keknya nggak gini deh. Kok? Lah si ini siapa? Eh aneh.” dan seterusnya. Memang benar pada akhirnya dugaan saya tepat. Tapi saya masih mendapatkan kejutan-kejutan di tengah ceritanya.

Well, sejauh ini saya paling terngiang-ngiang dengan The Lost Symbol justru. Mungkin karena itu buku yang pertama saya miliki, atau karena saya masih tergila-gila dengan neotic science, saya tidak tahu. Agaknya akan jauh lebih menarik lagi jika membaca buku ini sambil membuka google street view biar berasa jalan-jalan beneran ke sana. Sagrada Familia adalah salah satu dari sedikit karya arsitektur yang saya kagumi. Bangunannya saja dibuat hingga 144 tahun dari peletakan batu pertamanya, dan sudah masuk World Heritagenya UNESCO. Kan woww banget nggak sih.

Yah, begitulah review singkat tidak berfaedah saya malam ini. Anggap saja ini semacam pengumuman kalau saya tukang kepo yang adiktif novel fiksi dan berniat masuk BIN suatu hari nanti.

wordsflow