WORDS FLOW

setiap pengalaman pantas untuk diingat

bermimpi dan merindu


Saya punya kecenderungan untuk memimpikan hal yang saya pikirkan dengan jalan cerita sebagaimana yang barangkali saya inginkan di alam bawah sadar. Sudah dua hari saya memimpikan teman-teman yang saya tinggal di Jogja dalam berbagai ceritanya. Beberapa saya mimpikan dalam cerita perjalanan yang menyenangkan. Beberapa saya mimpikan dalam kondisi yang tidak baik.

Sering kali begitu bangun saya merasa berdosa sampai memimpikan teman saya dengan cerita yang begitu menyebalkan (detilnya tidak perlu saya ceritakan). Saya merasa bahwa sudah begitu buruk isi pikiran saya sampai saya bisa memimpikan teman-teman saya dalam cerita yang tidak menyenangkan.

Saya dan mimpi semacam memiliki love-hate relationship. Saya sangat suka bermimpi. Terutama ketika ceritanya begitu panjang, penuh petualangan, dan mampu menjawab hal-hal yang saya resahkan di dalam alam sadar saya. Sering kali begitu bangun saya menyisihkan barang 10 menit untuk mengingat mimpi saya, lantas menuliskan di dalam jurnal harian.

Namun saya selalu membenci waktu dimana saya memimpikan teman-teman saya dengan cerita buruk. Misalnya ketika saya memimpikan teman saya gagal melakukan sesuatu. Atau bahkan ketika saya mimpi marah pada seorang teman. Oh yeah, mimpi semacam itu selalu mengganggu keseharian saya berikutnya.

Lalu muncul pertanyaan, mimpi selalu merupakan wujud dari hal-hal yang saya pikirkan pada waktu siangnya. Dengannya saya mencoba untuk menelusuri bagaimana cara berpikir saya hingga mimpi semacam itu bisa mampir ke malam-malam saya yang sebetulnya butuh tidur nyenyak.

Pada akhirnya saya sadar bahwa ada hal-hal yang tetap tidak bisa saya terima di kehidupan saya. Bahkan setelah saya terpisah sejauh 4500 km dari lingkungan saya, ada hal-hal yang tetap saya pikirkan. Yang begitu kemudian membuat saya berpikir lebih lanjut mengenai apa yang sebetulnya saya anggap penting di dunia ini. Apa yang hanya sebatas saya jalani saja. Atau kini semua menjadi demikian saja adanya?

Barangkali benar kata teman saya, saya adalah makhluk yang terlalu sosial. Saya terlalu memikirkan orang lain, terlalu sering ngobrol dengan banyak orang, tidak merasa perlu membagi hal khusus pada satu orang saja. Barangkali karena saya semakin mudah saja membagi cerita dengan orang lain. Terlalu mudah membagi diri ke dalam masing-masing cerita itu.

Lagi-lagi, kemudian muncul pertanyaan baru. Pada titik terdalam, ada diri yang tidak pernah dibagi dengan sesiapapun. Ada keseluruhan ‘aku’ yang tidak pernah diketahui siapapun. Lagi-lagi saya masih saja dianggap manusia yang terlalu sosialis. Hahaha, kadang melelahkan meluruskan pandangan orang lain tentang diri sendiri. Ah tapi yang begitu toh tidak perlu dilakukan. Terlalu melelahkan untuk menjelaskan maksud dan tujuan, untuk menjelaskan tindakan dan perkataan. Kadang semakin dijelaskan segala sesuatu semakin jauh dari niat yang barangkali pernah ada.

Jadi biarkan saja semuanya berjalan begitu saja. Meski di sela-selanya kadang saya masih mengutuki setiap mimpi buruk. Kadang masih mengutuki denyut setiap kali menengok ke sosial media. Oke, itu memang penyakit. Dan oleh karenanya harus disembuhkan.

Barangkali nanti. Ya, barangkali ketika kembali ada jiwa baru yang bisa saya banggakan untuk diri sendiri. Sementara mari bergelut dengan ketidaksempurnaan diri dan penyakit hati.

Satu hal lagi. Memang di sini saya jauh dari teori-teori yang sebelumnya dengan getol saya pelajari selama hari-hari menempuh kuliah di jurusan nekat itu. Beberapa hal yang saya pelajari hampir saya lupakan. Pada kenyataannya, realita kadang lebih baik dan lebih buruk dari apa yang kita pelajari di buku, pada waktu yang bersamaan. Di situ kita bertemu dengan batas. Manusia sama-sama bisa melihat, namun selalu berakhir dengan kesimpulan yang berbeda. Dan begitu selalu kekurangan kita, kelemahan kita, ketidaksempurnaan kita.

Hemm, jika boleh saya ingin bilang juga bahwa saya rindu kuliah, rindu mengerjakan tugas, rindu diskusi dengan teman-teman kampus; duduk di bangku magistra, minum milky Americano, makan mie ayam, ngerumpi di Kebon Radja. Pun saya merindukan lincak, ruang busuk, gitar butut di Satub, koneksi internet kampus, rindu manusia-manusia hebat Satub, rindu kosan saya, rindu sabun saya yang wangi. Saya nggak mau sok-sok rindu keluarga, saya tahu saya terlalu sering jauh dari mereka. Tapi saya rindu keponakan saya yang baru bisa jalan.

Oke sip. Rindu harus dipupuk yang baik biar menyenangkan untuk dirasakan, didoakan, dan diharapkan. Seperti rindu yang sudah-sudah, semoga yang ini patut untuk dirasakan setiap harinya.

wordsflow

Lalu,


Lalu kita berpisah satu per satu tanpa ragu; tiada beban, tiada sesal, tiada air mata. Seolah yakin semesta akan selalu punya rahasia untuk menyatukan yang pernah tercerai atau terurai.

Barangkali benar, tiada aku padamu, tiada kita dan memoria. Hanya kadang gelitik waktu mencipta kenang bahwa pernah ada tawa dan gema canda.

Ada rindu yang selalu menemani detik waktu. Sejenak barang beberapa ketuk menggedor ingatan dan perasaan. Barangkali rindulah yang paling memanusiakan. Sisanya berlaku meramaikan.

Ada yang pergi esok, lalu hari selanjutnya. Sisanya penantian untuk pulang atau penantian untuk menyusul mengejar tualang. Antara kita, entah siapa yang mana.

Terkadang hanya melihat namamu atau sepatah kata telah melegakan pertanyaan dan pencarian. Kadang yang begitu hanya butuh ditenangkan. Ah, di lain waktu butuh segenap kesibukan untuk mengalihkan. Tak jarang harus dipaksa melupakan.

Lalu, ada tubuh-tubuh yang tetap pergi meski kita melarang. Ada raga yang tak mau tinggal meski memohon. Ada raga yang terbatas jarak meski begitu ingin. Terlalu banyak batas yang mengerdilkan ingin menjadi angan.

Kadang doa tak seberapa panjangnya. Tapi begitu yakin akan sampai pada tempatnya. Apa masih percaya doa?

Di dalam sepi yang terlalu sepi, atau ramai yang terlalu ramai, ada pertanyaan seputar yang terlihat mata dan yang pernah tertangkap olehnya. Sesibuk itu aku mengingat yang telah lewat. Tiada guna mungkin. Hanya saja tetap suka.

Lalu tetap ada tubuh yang pergi. Sembari berharap ada jiwa yang tersisa tinggal. Agar begitu pulang ada hal yang dapat kupungut dan kusimpan dalam tenang.

Nanti di dalam sepi yang terlalu sepi, yang begitu bisa kupanggil menemani.

wordsflow

saujana


Ada sebuah lagu yang selalu saya putar setiap kali menulis. Namun bahkan lagu ini tidak pernah saya hafalkan liriknya, saya hanya suka aransemen musiknya, yang dalam, yang tidak juga membosankan untuk diputar. Tidak ada judul, karena saya merekamnya dari penampilan salah satu seniman Jagongan Wagen.

So far.

Tapi sejauh apa?

Sore ini ketika berlari di landasan pesawat, saya menyadari betapa lurus jalan itu. Jalan paling lurus yang pernah saya lihat dan saya gunakan untuk berlari. Namun yang aneh, jalan itu memiliki ujung. Satu-satunya jalan lurus yang memiliki ujung, sementara semua jalan di dunia ini bersambungan membentuk sebuah jaringan.

Kenyataan hanya sejauh mata memandang. Saujana mereka bilang.

Sementara yang sangat jauh di sana adalah imajinasi tidak terkatakan dan tidak mampu diduga tanpa diberitakan melalui cerita. Tidak jauh berbeda dengan mimpi malam tadi, atau kemarin, atau mungkin malam nanti.

Jalan selurus landasan sangat mudah untuk dilalui, begitu mulus, begitu jauh, begitu lurus. Tapi sesaat saja yang saya butuhkan untuk mengawali, menduga-duga, lalu membuang napas di akhir kilometernya. Sementara semua jalan lain memiliki lebih banyak pilihan. Untuk memilih satu dari perempatan, untuk memilih berbelok di pertigaan, atau lurus saja di setiap simpangan. Kadang pula harus turut saja berputar, atau berbelok menghindar.

Waktu terasa cukup lambat. Namun demikian, ada lebih banyak napas yang bisa dirasakan di setiap tarikannya. Ada lebih banyak hentak yang bisa dirasakan di setiap langkahnya. Ada lebih banyak tetes yang bisa dirasakan jatuhnya. Lebih banyak detik yang terhitung setiap harinya. Lebih banyak kita di setiap pembaringan dan istirahatnya.

Dibanding malam-malam sebelumnya, hanya malam ini saya bisa menyisihkan waktu untuk mengetik kembali. Seolah begitu lama saya terpisah dari dunia tulisan ini. Atau seolah begitu jauh saya dari hal-hal yang terbentang sebagai saujana sebelumnya.

Indah sekali ketika menyadari keberadaan dunia sekali lagi. Ketika lelah dan mata menemukan bahwa ada sesuatu yang tidak pernah sungguh saya nikmati sebelumnya.

Terkadang ada denyut yang mampir barang dua atau tiga detik, menggetarkan jiwa atau bahkan menggenangi mata. Sekejab saja. Saya akhirnya paham, yang begitu jujur itu memang menyakitkan. Barangkali karena hal itulah Voltaire lebih suka menulis satire ketimbang dongeng Putri Tidur atau Cinderella. Barangkali, memang begitu manusia tersistem dalam dirinya.

Ada hal yang menarik dari mimpi. Kadang ada hal-hal yang coba ditentang oleh kesadaran. Tapi saya selalu percaya bahwa mimpi mampu menyatakan perasaan diri. Darinya saya belajar untuk menghargai diri, untuk memahami diri, untuk memeluk diri lebih erat, untuk mengenal diri lebih dalam.

Seimajinatif itu saya menjalani hari-hari. Senyata itu saya merasakan diri. Sejauh itu hal-hal berkecamuk tiada henti.

Barangkali esok, yang saya tahu hanyalah waktu dan jarak. Berbeda mungkin, namun keduanya dapat dideskripsikan dengan satu kata yang sama; so far.

Seperti saujana. Indah.

wordsflow

Mata.


Ada tangis yang tetap tidak bisa dibendung, meski diam-diam disembunyikan oleh senyum. Ada tangis yang tidak butuh alasan untuk menitik, hanya butuh hati yang sungguh untuk merasa. Ada tangis yang tetap tidak akan mewujud meski begitu ingin menyelesaikannya.

Atau bahkan, ada tangis yang selalu tertunda hingga waktunya tiba.

Di dalam hari-hari yang panjang dan tidak pernah selesai, terselip segudang pertanyaan yang samar-samar menggaung di dalam hati. Tentang masa lalu yang jauh, masa depan yang sama jauhnya, tentang pikiran yang juga begitu jauh dari saat ini.

Ada ketidakmengertian yang selalu bertumbuh di samping harapan yang sama tingginya. Ada hasrat yang masih menggumam lembut di samping ketidakpedulian. Selalu ada hal-hal kontradiktif yang mengiringi setiap langkah dan pikiran, membuat segalanya tidak sekedar demikian.

Sayang, di suatu waktu ada hati yang tidak siap dan goyah atas pendirian. Tiada lain, yang ada di dalam diri adalah hati yang tidak sekeras batu cadas. Ia bersifat sebagaimana semua sifat yang kita lihat di dunia. Begitulah cara diri merangkum kosmos di dalam hatinya masing-masing.

Demikian, di antara sela kalimat yang tak pernah selesai itu, kubiarkan ada tangis yang mengalir tenang dan pelan.

(antara nyata dan metafora, mana yang kau yakin benar adanya?)

wordsflow

Jarak.


Saya sempatkan menulis sebelum esok. Ini cerita sederhana tentang hidup saya belakangan ini.

Coba dengerin lagu Kaze no Machi e deh, lagunya bagus banget.

Semakin ke sini, semakin banyak hal yang saya bingungkan tentang dunia ini. Saya kehilangan perasaan saya akan semua hal agaknya, dan belum pernah saya merasa sehilang ini selama hidup saya.

Saya tidak nihilis saya kira. Tidak sejauh itu. Tapi rasa-rasanya saya semakin tidak tahu apapun. Semakin tahu semakin merasa tidak tahu. Semakin mendekati semakin merasa jauh. Semakin ingin paham malah semakin membingungkan. Tentang hal-hal di dunia ini. Tentang manusia-manusianya. Tentang permasalahan sosial dan lingkungan. Tentang hal-hal spiritual. Tentang apapun. Literally tentang apapun.

Saya tidak suka menyesali hal-hal yang saya lalui. Saya tidak suka merasa terbebani dengan banyak hal. Meski ketidaksukaan itu masih juga dibarengi dengan bayang-bayang masa lalu dan berbagai ‘seandainya’ atau ‘barangkali’. Itu menyebalkan.

Sejauh itu saya dari realitas. Seberjarak itu saya dari banyak hal.

Barangkali banyak manusia yang saya tahu cerita hidupnya, susah-senangnya, tawa-air matanya. Tapi begitu saja kali ini. Tidak ada perasaan. Tidak ada apa-apa.

Ketiadaan yang pekat. Ketiadaan yang dekat dan lekat. Ketiadaan yang meniadakan juga.

Tidak, saya sering meyakinkan diri bahwa saya hanya bingung. Amat sangat bingung hingga menyesakkan dan terasa menyebalkan. Saya tidak bisa paham bagaimana cara membiarkan semua hal berjalan tanpa prasangka. Barangkali beberapa orang berhasil, tapi saya melalui 25 tahun saya dalam kegagalan untuk menenangkan diri saya sendiri menghadapi hal-hal di masa depan yang tidak pernah saya tahu sampai saya alami.

Saya masih bersedih memang. Masih menangis dengan cara yang sama. Dan hanya perasaan itu yang bisa saya percaya karena di dalam kesedihan selalu tersimpan kedalaman dan pemahaman. Hanya menangislah hal terjujur yang bisa dirasakan manusia. Kesenangan, pengharapan, tawa, cinta, dengki, atau yang lain selain tangis, adalah hal-hal lain. Saya tak bisa menjelaskan, hanya bisa mempraktikkan hal-hal semacam itu.

Barangkali hilang adalah hal yang paling mengobati dari semua pilihan yang ada. Saya pun tidak tahu. Tidak mau berprasangka. Tidak mau memikirkan. Tidak mau menduga. Bahkan tidak mau mendoakan.

Apakah hanya menjalani hidup menjadikan hidup saya lebih rendah makna dan nilainya dibandingkan mereka yang terus optimis? Apakah hanya menjalani hidup meniadakan optimisme itu sendiri?

Tidak ada yang tahu bagaimana seseorang memikirkan suatu hal. Aku tidak tahu kamu. Saya tidak tahu mereka. Saya tidak tahu siapapun. Yang kita simpulkan hanyalah hal-hal yang kita lihat, yang tersampaikan, yang dibicarakan, yang dilalui, yang dirasakan. Tapi tidak pernah, dan tak akan pernah merangkum keseluruhan dari pikiran seseorang.

Saya paham, tidak semua hal di dunia ini harus saya pahami. Tidak semua harapan akan saya dapatkan. Tidak selamanya segala sesuatu indah dan berjalan lancar. Pun barangkali, tidak selamanya saya sehilang hari ini, atau kamu sebingung itu. Setiap orang menyatakan hal yang mungkin tidak dia pikirkan. Barangkali yang dipikirkan justru yang berkebalikan. Atau di satu pihak ada yang sejujur itu tentang pikirannya. Saya tidak tahu. Tidak akan pernah tahu.

Dan kerumitan itu semakin dipikirkan semakin memuakkan. Semakin dipahami semakin menyesakkan. Semakin dibiarkan semakin menghilangkan.

Lagi-lagi, apakah menjalani hidup saja meniadakan makna dan nilai hidup itu sendiri?

wordsflow

Jauh.


Jika kamu sudah akrab dengan jarak, kadang dekat itu menjadi sesuatu yang asing dan tidak akrab.

Hari ini, WordPress baru saja ngasih saya ucapan selamat karena kami sudah jadian 8 tahun lamanya. Dengan postingan yang akhirnya mencapai 504 di hari ini. Jika dibagi delapan, maka saya menulis rata-rata 63 postingan dalam setahun, dan itu berarti sekitar 1-2 postingan setiap minggunya. Luar biasa produktif sekali. Meski begitu, saya kesulitan untuk mengakses tulisan lama saya karena jauh dan harus pencet tombol ‘next’ berkali-kali.

Jadi, ada apa dengan ‘jauh’?

Tidak ada apa-apa. Saya hanya suka menulisnya dengan cara demikian, dengan sebuah titik di belakang.

Saya sering jatuh dalam kebingungan yang tidak mampu saya identifikasi sendiri. Saya kehilangan pegangan antara yang nyata dan tidak nyata. Saya kehilangan pandangan mengenai apa itu kenyataan dan mana yang sebetulnya penting untuk dipikirkan. Mungkin itu efek karena saya tidak dapat melihat dengan jelas sekarang akibat kemampuan mata yang menurun. Tapi sungguhkah ada pengaruhnya? Barangkali iya. Atau barangkali saya hanya mencari penjelasan yang paling mudah saya terima.

Seusai membaca To Kill A Mockingbird, saya tidak mampu menahan tangis. Entah mengapa saya merasakan berbagai perasaan seusai membacanya. Mungkin saya terpesona dengan gaya bercerita Harper Lee. Atau saya mengagumi perjalanan saya sendiri ketika seumuran Scout dan Jem. Atau saya justru membayangkan ayah saya yang dalam beberapa hal mirip Atticus. Atau saya merasa marah atas kemanusiaan yang sudah begitu jauh dari kemurnian pandangan kanak-kanak. Atau saya prihatin dengan beban orang tua agar mampu sungguh bercermin di depan anaknya. Atau entah yang mana lagi yang membuat saya menangis.

Jauh sekali kedamaian di dunia ini. Jauh sekali harapan-harapan kita dari kenyataan. Jauh sekali idealisme dari realitas. Jauh sekali. Jauuuuuuh sekali.

Jarak itu menakutkan. Ada pertimbangan antara ketakutan dan keamanan karena jarak. Ada ketidakterjangkauan yang memungkinkan dua hal itu. Antara ketakutan akan kehilangan atau perasaan aman. Dan keduanya karena jarak.

Ah, tapi barangkali saya sudahi dulu tulisan ini. Ada yang tiba-tiba terlampau melankolis malam ini.

wordsflow

 

Laut


Apa yang dijanjikan laut kecuali pulang?

Suatu kali saat kulihat laut menjulang lebih tinggi dari bukit-bukit kecil, aku bertanya dalam hati, “Mengapa laut yang di bawah itu tampak begitu tinggi di atas sana?” Lalu kau bilang itu horizon namanya.

Batas.

Apakah ia sungguh batas?

Ketika membaca tentang The Flat Earth Society, banyak hal yang mungkin menjadi perdebatan. Banyak yang nyinyir mengenai hal itu. Toh tapi banyak juga yang percaya. Masalahnya, manusia punya batas. Dan demikian, panca indera menjadi batas yang paling dasar sebelum akhirnya logika mampu mengubah batas itu menuju cakrawala yang jauh lebih luas lagi.

Bagaimana pun, tidak ada sesuatu hal yang sungguh dapat dipercaya sampai seseorang mengetahui sendiri bagaimana semua itu mewujud dan ada. Toh setelah mengetahui sendiri pun, belum tentu penglihatannya benar, pendengarannya benar, penafsirannya tepat, dan seterusnya.

Kalau begitu, mana yang bisa disebut sebagai kebenaran?

Entahlah. Setiap kali semakin mengawang-awang saja.

Begitu banyak, ah lebih dari itu, amat sangat banyak hal yang tidak bisa mewujud sebagaimana hal itu terwujud sebagaimana adanya. Yah, meski Heidegger sudah berbusa membicarakan Ada, tapi siapa yang peduli? Seseorang barangkali bahkan akan selalu bingung ketika mendeskripsikan dirinya sendiri. Padahal dia hidup di dalam wujud itu seumur hidupnya! Dan itu pun ia masih ragu.

Yang begitu bicara kebenaran di luar diri??

Tapi mungkin, karena kita adalah satu-satunya subjek yang tidak bisa mengamati diri sendiri, kita selalu butuh refleksi. Tapi toh setiap manusia berbeda. Demikian, refleksi tidak bisa selalu sempurna. Kita bertemu lagi dengan batas.

Batas pun ada banyak bentuknya ternyata. Seperti laut.

Yang membatasi yang darat dan air. Laut selalu mengundang untuk dipertanyakan. Apakah binatang laut merasakan laut sebagaimana kita merasakan udara? Atau berbeda sama sekali? Bagaimana memberi tanda pada laut? Bagaimana membatasi laut sementara air selalu bergerak? Ah, barangkali sama seperti kita yang tidak bisa membatasi udara, tapi bisa membatasi daratan. Mungkin di laut selalu ada tanda alam yang bisa menyatakan. Meski dalam.

Tapi di laut kita merasakan air. Di darat belum tentu kita merasakan udara.

Semua hal menjadi seolah tidak penting untuk dibicarakan, untuk diperjuangkan, untuk dijalani, untuk diharapkan, untuk direnungkan, untuk dipikirkan, untuk diperbaiki, dan untuk-untuk yang lainnya. Tapi sekelebat kemudian rasanya semua hal sepenting itu untuk diri sendiri, orang lain, dan barangkali untuk masa depan jika itu memang menjanjikan. Masih saja banyak kebingungan setelah sekian tahun berlalu.

Tapi saat melihat laut, takutku menjadi begitu nyata. Senyata itu untuk menyadari di mana kita berpijak di hari ini.

wordsflow

etos kerja dan mekanisme janji


Seorang pecundang adalah dia yang tidak mampu menepati janji, dan dia yang tidak berani berjanji.

Sebaris kalimat itu muncul entah dari mana, bahkan saya sendiri tidak dapat memahami dari mana datangnya. Mungkin memang terkadang ada hal yang muncul tiba-tiba, bahkan sejak di dalam pikiran.

Apa yang kemudian saya ingat adalah soal etos kerja saya selama ini. Saya mencoba mengingat sejak mula tentang bagaimana cara saya bekerja, dan apa yang membuat saya merasa kecewa terhadap diri sendiri, dan apa yang kemudian saya syukuri dari diri.

Etos kerja adalah istilah yang tidak saya akrabi sampai saya masuk kuliah. Itu pun tidak terjadi pada awal saya masuk kuliah, namun setelah sekian lama saya berada di lingkungan kuliah.

Etos kerja saya buruk. Amat sangat buruk. Sering kali mungkin saya menjelaskan bahwa saya anak yang bisa mengatur waktu, memastikan bahwa setiap saat saya akan tetap bisa mengejar deadline dengan hasil yang sama baiknya dengan orang lain. Pada kenyataannya, saya hanya mencoba memberi pembenaran atas hal-hal salah yang saya lakukan dalam bekerja.

Saya ingat seorang teman menegur saya dahulu kala, mungkin tahun 2011 kalau saya tidak salah ingat. Ketika itu saya sempat berkata bahwa saya akan menghadiri sebuah acara. Namun yang saya lakukan adalah menghadiri acara lain dengan teman saya. Demikian, dalam perjalanan pulang sang teman bertanya, mengapa saya tidak jadi menghadiri acara yang pertama. Tentu saja karena tidak mau disalahkan saya menjawab bahwa kawan saya yang lainnya tidak bersedia menemani.

Meski cerita itu mungkin tidak diingat oleh sang teman, sering kali setiap saya merasakan kekecewaan pada diri atas etos kerja yang buruk, yang terjadi adalah munculnya kembali memori ketika itu di dalam ingatan saya. Seolah saya menertawakan diri ketika itu, mengutuk diri bahwa meski saya sadar yang saya katakan tidaklah benar, pada akhirnya saya mengingkarinya dengan perkataan lain.

Oh, hidup ini penuh kepalsuan saya kira.

Beberapa kali saya kemudian merasa bahwa hidup saya memang penuh dengan kepalsuan. Entah tentang diri sendiri atau tentang yang lainnya.

Tapi itu soal yang lain lagi. Sedang yang ingin saya bahas adalah perihal etos kerja.

Jauh setelahnya, saya sering mengalami kekecewaan terhadap diri sendiri. Dan hal paling luar biasa adalah, tidak ada yang berubah dari diri saya kecuali terus menerus bekerja dengan etos kerja yang sama buruknya dengan sebelumnya. Berapa kali saya berakhir dengan diomeli pelanggan karena tidak memenuhi target pengerjaan barang. Berapa kali saya harus mempercepat ketikan karena deadline tugas kuliah. Atau berapa kali saya akhirnya menyerah karena tidak berhasil memenuhi deadline tertentu. Berkali-kali hal semacam itu menjadi keakraban harian saya.

Tapi saya lantas bertanya-tanya, apakah dengan demikian saya sama saja tidak bekerja dengan passion? Atau saya hanya tidak fokus saja? Atau sebetulnya memang begitulah cara kerja yang terbaik untuk saya?

Jawabannya masih belum saya temukan tentu saja. Ada banyak metode kerja yang bisa saya uji cobakan ke diri sendiri. Saya bisa meniru satu teman dan teman lainnya, saya bisa meniru berbagai manusia sukses di luar sana, atau kalau tidak ingin terlihat seperti pengikut, saya bisa mulai untuk mengevaluasi diri sendiri dan akhirnya menemukan kelemahan dan kekuatan saya sendiri.

Lagi-lagi, itu masih sebatas bisa jadi. Ada hal-hal yang tetap tidak membuat saya terdorong untuk memperbaiki etos kerja saya selama ini. Mungkin alam bawah sadar saya menyatakan bahwa ini adalah metode yang paling baik yang bisa saya adaptasi, dan tidak ada lagi yang akan lebih baik dari ini! Atau, saya hanya tidak mau memperbaiki etos kerja saja. Sesimpel itu.

Di balik etos kerja yang begitu menyebalkan itu, saya sering kali menjebakkan diri dalam janji-janji. Lagi-lagi ini soal waktu dan kualitas kerjaan.

Dalam janji, banyak sekali hal yang kita bicarakan, lantas kita sepakati. Banyak sekali kemudian yang muncul di dalam pemahaman satu sama lain, dan sangat mungkin ada perbedaan pemahaman di antara keduanya. Ekspektasi muncul di dalam janji. Demikian, maka janji menciptakan jarak antara diri dan realitas yang mungkin tercipta nantinya.

Janji menjadi sesuatu yang lain dari realitas itu sendiri.

Hemm, saya takut akan masa depan. Takut jika ada hal yang gagal saya pahami sampai tiba saatnya harus undur diri.

wordsflow

the wild


Ada judul ini di draft blog. Mari saya karang beberapa kalimat.

Tiba-tiba ada ketakutan asing yang saya rasakan. Muncul dari ketiadaan begitu saja. Tenang di permukaan, keruh di kedalaman. Aneh sekali.

Lalu saya juga ingin nonton film Into The Wild, secara saya belum pernah menontonnya, bahkan trailernya pun belum pernah nonton. Jangankan itu, spoilernya juga tidak pernah saya dengar. Hanya selalu judulnya. Dan asik sekali mengucapkannya, in-to-the-wild. Maksudnya gimana ya? Mendalami alam liar? Masuk ke alam liar? Atau, gimana?

Mungkin saya memang materialis, bisa jadi. Saya semakin tidak yakin dari hari ke hari mengenai apa yang pasti dan tidak pasti. Saya duga sayapun sering menyangkal dan mengiyakan hal-hal yang disangkakan kepada saya. Sekedar untuk memudahkan saja.

Tapi, bicara mengenai alam liar, harus dimulai dari mula-mula. Apakah yang menciptakan peradaban? Manusia, saja? Atau secara alami melalui dialog panjang antara manusia dan alamnya?

Kita bagian dari alam liar, semua sejarah menyatakan demikian. Manusia tidak muncul sebagai makhluk berbaju. Di sana kita bertemu perbedaan manusia dan binatang untuk pertama kalinya. Dibandingkan hanya menikmati, manusia memanipulasi alam untuk mendukung keinginnya, untuk membantu pekerjaan, untuk melindunginya, untuk mencapai tujuan-tujuannya, dan seterusnya, dan seterusnya. Manusia tidak menggunakan alam sebagaimana jerapah hanya akan memakan daun akasia yang tumbuh tinggi, atau wildebeest yang pasrah saja menyeberang ganasnya sungai Masai Mara. Tidak, manusia memanipulasi alam demi dirinya sendiri.

Pertanyaan selanjutnya, apakah kemudian tindakan manusia itu meniadakan kealamian dirinya dan alam lingkungannya? Sementara manusia adalah bagian dari ekosistem natural, dan demikian kemampuan dan kecerdasan manusia merupakan hal yang juga natural. Jika demikian, maka tidak ada hal yang bisa disebut sebagai peradaban, atau kebudayaan. Semua alami saja. Natural. Tidak butuh penjelasan.

Saya curiga, bahwa dengan munculnya terminologi peradaban dan kebudayaan, maka manusia ditempatkan sebagai kekuatan yang sama besarnya dengan alam itu sendiri. Terlebih, terminologi ‘adaptasi’ menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang bisa ‘mengimbangi’ gerak alam yang tidak tentu. Ah, jumawa sekali.

Kemudahan yang ada di hari ini menjauhkan kita dari keliaran. Demikian, alam menjadi hal yang mengundang namun juga mengancam. Tidak ada yang mudah di alam bebas. Tapi mengapa sampai ada kalimat itu? Mungkin karena seolah kita ditantang untuk menguji kemampuan manipulasi kita sejak mula. Sejak masih piyik, dengan modal badan doang. Hemm, menantang sekali.

Saya pernah menulis ini di blog ini, tentang seberapa rentan manusia di alam. Dibandingkan dengan makhluk lain, kekuatan manusia itu kecil, meski bisa dilatih juga sih. Tapi kecil. Kita mudah menggigil misalnya. Dan berapa banyak manusia yang meninggal karena hipotermia di gunung? Tidak sedikit saya kira.

Dih, ini mau ngomong apa sih?

Well, nyatanya saya mengalami euforia berlebihan ketika saya melihat penyu di laut lepas. Seolah luar biasa sekali melihat hewan di alam liar–atau habitat? Saya jadi bingung memilih istilah yang tepat. Tapi tampak sekali bahwa di dalam pemahaman saya, alam menjadi hal yang sangat eksklusif. Kenampakan binatang tidak jinak menjadi hal yang mengagumkan diri saya, membuat saya mau berlama-lama mengamati. Mau bersabar untuk menanti.

Peradaban adalah sebuah kolaborasi yang tidak sumbang antara manusia dan alam lingkungannya. Tidak mendominasi, namun mengiringi. Kejumawaan manusia hanya akan menghilangkan kekayaan komposisi, sedangkan ketidakmampuan manusia mengimbangi menciptakan keliaran komposisi. Apakah analogi itu benar? Barangkali begitu. Bisa jadi juga tidak. Tapi begitu. Seolah sedang berkolaborasi, manusia dan alam menciptakan keindahan baru dari keindahan-keindahan yang telah ada. Meski menurut saya, ada prasyarat yang juga harus dipenuhi oleh manusia. Bahwa kita harus mengenal alam sebelum terjun berkolaborasi dengannya.

Tentu saja, agar kolaborasi itu tidak menciptakan kesiasiaan baru dan nada sumbang baru.

Tapi di hari ini manusia terlalu mengendalikan. Ibarat main gitar, manusia mengatur ketegangan senar sesuka hati. Begitu dimainkan ambyar. Alam liar tersisa sebagai nada indah yang sesekali keluar dari kesumbangan senar-senar. Menjadi hal yang tidak biasa, di luar dugaan. Terlalu gumunan terhadap apa-apa yang disuguhkan alam begitu saja.

Hemm, percakapan mengenai manusia dan alam ini semakin panjang saja. Saya belum mau merumuskan apapun, masih banyak buku yang harus saya baca, hal yang harus saya lihat, diskusi yang harus saya ikuti. Tapi demikian, di satu pihak saya merasa manusia sudah kelewat batas. Tapi di satu pihak saya toh nyaman dengan sikap keterlaluan manusia itu, bahkan cenderung mengikutinya.

Saya mengantuk.

wordsflow

(re)imagine


What I do forget the most is, the fact that people driven by their imagination about everything on Earth, and beyond Earth.

Salah besar selama ini, karena saya memahami imajinasi hanya sebagai sebuah khayal. Padahal khayal terkonstruksi dari hal-hal yang pernah dipahami melalui yang empirik. Bahkan imajinasi mengenai hewan-hewan paling imajinatif di dalam film pun merupakan gabungan, ekstensi, pengurangan, perulangan, dari benda-benda yang ada di dunia ini. Imajinasi adalah reproduksi.

Ketika mempelajari perdebatan mengenai banyak hal di dunia ini, atau membaca berita mengenai berbagai selisih paham dan berbagai konflik, saya pikir masalahnya bukan ada pada tingkat pendidikan masing-masing manusia. Kadang kita terjebak pada kata ’empati’ namun tidak sungguh memahami bagaimana implementasi praktik dari kata itu sendiri. Atau mungkin, terminologi ‘toleransi’, namun tidak mau mengiyakan bahwa ‘kita sama-sama manusia’. Kenapa? Kenapa?

Sangat lama bagi saya untuk menelusuri apa sebab ada manusia yang tidak dapat memahami manusia lainnya. Apa sebab seseorang mampu berbuat buruk pada orang lain. Apa sebab ada ketidakadilan di dunia ini. Apa sebab ada mis-komunikasi. Dan pertanyaan ‘apa sebab’ lainnya yang menghantui saya dari hari ke hari tanpa ada yang datang memberi pencerahan.

Tapi jawaban selalu bisa datang dari perjalanan.

Kemadang, Tanjungsari. Tempat itu indah sekali, dan saya bertanya-tanya mengapa saya baru menyadari sekarang. Padahal telah beberapa kali saya melewati ruas jalan itu. Saya ingat sepanjang perjalanan itu saya memikirkan kata teman saya bahwa dunia sedang sakit parah. Tapi tidak ada yang mau sungguh-sungguh menggambarkan seberapa parahkah sakitnya Bumi kita? Padahal di depan mata saya terpampang keindahan yang tidak palsu. Orang-orang yang masih bertanam, tumbuhan yang masih bertumbuh, wajah-wajah yang masih bahagia. Apakah itu yang dikatakan sakit?

Sementara saya sendiri juga menyadari bahwa perjalanan saya untuk mencapai ‘keindahan pariwisata’ itu menyumbang emisi karbon yang selama ini diupayakan untuk dikurangi. Pikiran itu mengganggu saya terus-menerus. Lagi-lagi pariwisata hanya sebuah kepalsuan yang dikemas sedemikian rupa sehingga kita teralihkan dari pengetahuan lain di belahan dunia sana.

Tapi pertanyaannya, apakah saya kemudian peduli setelah tahu bahwa masyarakat di Afrika tengah sana kekurangan makanan? Apakah saya juga membawa pengetahuan perang di Timur Tengah di keseharian saya? Apakah saya peduli makan apa tunawisma yang tadi saya temui di jalan? Apakah saya melakukan sesuatu setelah tahu berapa luasan Greenland yang mencair? Apakah saya melakukan sesuatu setelah sebegitu banyak pengetahuan baru tentang kerusakan Bumi? Tidak. Saya masih begitu-begitu saja.

Imajinasi tentang berbagai hal mungkin mengganggu saya. Tapi kontradiksinya dengan yang terlihat oleh mata lebih mengganggu lagi.

Setidaknya, saya kemudian menyadari bahwa imajinasi saya lah yang membuat saya tidak berhenti berpikir dan bertanya. Imajinasi akan sistem dunia ini yang tidak pernah sungguh saya pahami secara keseluruhan. Yang begitu, kadang membuat saya berkeinginan untuk bisa terbang, untuk bisa menyelam di dunia maya, untuk jadi astronot saja. Bahkan, kemudian saya berimajinasi bagaimana rasanya jadi Tuhan yang melihat carut marut dunia ini?

Imajinasi membuat manusia hilang arah. Imajinasi membuat seseorang terus mengingat masa lalu, membuat seseorang mengharapkan masa depan, membuat seseorang mampu berempati dan bersimpati, membuat seseorang membayangkan surga dan takut neraka, membuat seseorang ingin mati dan takut mati, dan seterusnya, dan seterusnya. Imajinasi di samping itu juga memberi harapan besar. Ada manusia-manusia yang berjuang mati-matian menjaga lingkungannya karena tidak ingin kehancuran di masa depan, ada orang yang bekerja begitu keras karena membayangkan masa depan yang baik untuk anaknya, dan berapa lagi imajinasi yang membawa kebaikan kepada manusia-manusia?

Manusia belajar dari cerita, kita berrelasi melalui komunikasi, dan kesemua itu mewajibkan imajinasi. Dan gagalnya imajinasi menciptakan mis-komunikasi, dan lebih parah lagi kesalahpahaman. Tapi pertanyaannya, apakah perasaan bisa diimajinasikan? Bisa. Dan dalam kegagalan imajinasi juga memicu kesalahpahaman yang sama.

Saya ingat seorang teman yang tidak pernah membaca novel sementara semua buku teori yang ia perlukan ia baca. Mungkin kesimpulan ini masih harus diujikan, namun yang saya temukan adalah kegagalan si teman untuk memahami candaan kami, atau cerita-cerita yang kami anggap lucu. Adanya mis-komunikasi setial kami berinteraksi dan penolakan si teman terhadap hubungan kasual. Demikian, mengembangkan imajinasi menjadi hal yang penting untuk hidup seseorang sehingga ia bisa terintegrasi dengan baik dengan lingkungannya.

Imajinasi berkembang melalui seni, cerita, film, dan berjalanan. Dan semakin seseorang mengembangkan imajinasinya, semakin mudah seseorang membayangkan dan memahami segala hal. Teringat setiap kali bercerita, kita selalu mengeluarkan kata “kebayang nggak?”, “bayangin kalo misalnya kamu,”, dan seterusnya, dan seterusnya.

Bahkan, mitos dan ritual mengharuskan ada imajinasi di dalam individu-individu yang menjalaninya. Bisa ada kesimpulan “bencana ada karena Tuhan sedang marah” pun adalah ekspresi dari imajinasi itu sendiri. Dan begitu banyak lontaran kalimat yang keluar atas imajinasi seseorang tentang sesuatu, atau suatu masa, atau suatu peristiwa.

Saya kira, hal itu yang membuat saya lebih suka menonton kartun dibandingkan film biasa, atau membaca cerita dan komik. Di dalam kartun, yang saya temukan adalah keseluruhan imajinasi, keseluruhan dunia yang diciptakan oleh individu. Sebuah ekspresi dari dunia lain yang diimpikan atau dikonstruksikan.

Begitulah.

Meski kemudian saya terbangun pagi ini dan menyadari bahwa tidak ada hal yang sungguh penting kecuali mandi. Tapi saya ingat satu hal; don’t (ever) drop your unhappy friend!

Dunia masih sama membingungkannya seperti kemarin.

wordsflow