WORDS FLOW

setiap pengalaman pantas untuk diingat

tentang cerita yang kukarang tentang kita dan kereta


Begitu aku tersadar, jam di tanganku memperlihatkan dua jarum yang telah saling berhimpit. Kupikir, memang menggunakan jam tanpa jarum detik membuatku lebih awas akan waktu, setidaknya begitu mula-mulanya. Tapi kali ini aku meleset. Aku masih saja duduk menunggu kedatanganmu bahkan ketika aku bisa merasai petugas kereta sudah mulai mengatur pintu-pintu kereta untuk menutup jauh di stasiun sana, lantas memberi tanda bahwa kereta siap diberangkatkan.

Sementara, aku tetap terpekur menunggumu datang, entah untuk apa.

Meski yakin kereta telah beranjak pergi, toh aku tetap melangkah menuju stasiun, seolah masinis sudah tahu aku akan datang terlambat, atau jadwal kereta terlambat. Ah, kereta tak punya alasan terlambat karena ban bocor, seperti alasanku saat mencoba menghindarimu, atau bahkan ketika mencoba menarik simpatimu. Tapi itu dulu, ketika aku tidak siap dengan kata dan kalimat. Atau ketika aku menduga terlalu banyak.

Kupikir, kini aku lebih tahu tentang yang salah dari cara berpikirku, atau bagaimana cara berpikirmu. Sepertimu juga, aku banyak menebak tentang hal-hal yang sebenarnya aku tidak tahu. Lebih-lebih tentangmu! Aku banyak menduga, atau bahkan berharap menghabiskan banyak waktu bertukar pikiran. Tapi aku selalu ingat kemudian, pikiran kita telah dipenuhi terlalu banyak prasangka atas satu sama lain. Menyisakan genangan kalimat yang tenang namun keruh tercemar.

Ketika ingat itu, aku selalu berhenti berharap dan mencoba, merasa yakin akan selalu gagal.

Ketika langkahku mencapai rel kereta, aku berpaling ke kiri dan kulihat stasiun telah kosong. Di barat ekor kereta bergoyang lembut semakin mengecil menuju matahari sore. Benar memang, kereta meninggalkanku begitu saja; membuyarkan imaji tentang masinis yang tahu aku akan terlambat, dan jadwal kereta yang telat. Sebagaimana juga imajiku tentangmu yang terus terurai buyar tak karuan ketika aku sadar jarum jam terus berjalan tanpa kedatanganmu menyertainya.

Aku tak putus asa, kau tahu itu. Katamu aku telah melalui banyak hal, setidaknya pikiranmu berkata demikian. Lantas aku tanpa ragu meng-iya-kan.

Bukankah kita memang selalu saling menduga? 

Kehidupan selalu tampak mudah ditebak di dalam pikiranmu dan pikiranku. Tapi aku selalu tak pernah tahu ke mana kau pergi, atau apa yang meresahkanmu. Begitu juga aku sadar bahwa di pikiranmu, aku tidak seberarti itu sebagaimana yang aku harapkan lewat kata-kata dan dongeng menjelang tidur. Kita tidak berjalan dalam kerangka pikir yang pasti benar, kebenaran realita ada pada penyelewengannya atas rencana-rencana. Begitu getir dan pahit untuk diterima.

Aku sudah lupa kapan terakhir kali berurai air mata. Kuduga di banyak tulisanku ada sekelumit emosi yang sengaja kuselipkan sebagai pertanda, meski aku tak yakin kau mampu menangkap makna sesungguhnya. Ah, sudah berapa lama aku melempar tanda tanpa pernah memahami adakah yang kembali ke genggaman?

Aku tetap berjalan ke stasiun, tanpa resah akan perjalananku yang tertunda. Sejauh ini, mengejar adalah sebuah proses yang kunikmati tanpa merasa tak berguna. Perkara jarak, biar saja. Toh yang menciptakan adalah pikiran-pikiran kita, sementara ia tidak sungguh ada. Aku akan tetap sampai, bahkan ketika kau sudah akan pergi dari sana. Nanti aku akan menyusulmu lagi, menyusuri jejakmu terus menerus. Bahkan saat aku tak menemukanmu pun, aku tak peduli. Sistem di dalam diriku telah akan tahu kapan aku akan lelah, lalu menangis dan mencoba kembali berjalan lagi. Semuanya telah kujalani meski sudah beribu-ribu kali jarum jamku berhimpit satu sama lain.

Ketika menulis ini, entah kau merasa apa. Mungkin tak peduli adalah jawabannya, aku tak tahu. Pun kamu tak akan memberitahuku jika tak kutanyakan langsung kepadamu. Tak mengapa, aku suka mendapat pelajaran dari hidupku yang sering tak berjalan sesuai rencana. Dengannya pun aku dan kamu selalu bisa terus berjalan pergi mengarungi waktu dan hidup.

Saat kutahu masih ada kereta yang mampu membawaku mengejar ketertinggalan, kuangsurkan sebanyak apapun usaha yang dibutuhkan. Aku akan tetap berangkat.

Sesudah itu aku mengenang penggal cerita ini sebagai sebuah babak yang patut diingat. Lantas menambahkan beberapa kalimat tambahan untuk membuatnya lebih filosofis. Bukankah kita sama-sama sepakat, bahwa banalitas pun mampu membawa pada yang filsafati?

Dan begitulah, aku dan kamu hanya jiwa-jiwa yang terperangkap dalam daging, darah, dan tulang. Yang mencoba mencari-cari kedalaman jiwa yang hakiki melalui pencarian dan pemikiran-pemikiran.

Seperti sekarang saat aku duduk membacai hidup. Seperti sekarang saat kamu kukenang sebagai setubuh yang tersenyum senang, namun dirundung resah tak berkesudahan.

wordsflow

Tentang Tanah


Maafkan karena pembahasan saya yang selalu kembali ke hal-hal yang saya resahkan. Ini akan menjadi tulisan pertama saya tentang jalan-jalan kecil saya ke Paninggaran, dimana untuk pertama kalinya saya mencari info atas nama penelitian. Beban berat yang sampai sekarang saya resahkan, bahkan ketika saya yakin telah mencapai kesimpulan yang cukup beralasan.

Suatu ketika saat saya belum resmi menjadi mahasiswa, seorang teman pernah mengatakan, “setiap tindakan manusia selalu didasarkan pada kondisi sosio-ekonomi-politik mereka”. Katanya juga, “kamu nanti pasti belajar tentang agraria”. Dan betul memang, saya pun menjalankan hal-hal yang ia katakan itu, persis sebagaimana ia bercerita.

Tapi, saya harus mengakui berkali-kali, terus-menerus, bahwa saya tidak tahu tentang agraria. Meski hidup di keluarga petani, dan masih rajin nyawah setidaknya sampai saya SMP, sering diceritakan suka-duka menjadi petani oleh simbah dan saudara-saudara jauh saya, harus saya katakan bahwa saya pun belum pernah ‘menjadi’ petani. Hal tersebut menempatkan saya tidak sebagai pelaku, tapi hanya orang yang kebetulan tahu.

Saya mencoba membaca banyak buku, bertanya ke banyak tempat, dan akhirnya memaksakan diri melihat dan bertanya langsung pada petani, sebagai upaya untuk memahami. Buku-buku sosio-historis memperlihatkan begitu banyak upaya pematokan tanah, pemberian akses pada satu pihak, atas nama ideologi dan politik tertentu. Apapun itu, nyatanya semuanya memakan korban. Demikian, dinamika sosial menjadi sebuah perjalanan konflik yang tidak berhenti.

Banyak pihak yang terus menerus berada pada posisi paling dilematis di dalam masyarakat dan lingkungan sosialnya. Pihak-pihak ini yang mendapat ancaman paling besar, dan berada di posisi yang paling rawan. Konflik, demikian tidak bisa hanya dilihat sebagai urusan dua pihak yang berada pada kutub ekstrem, namun merupakan serangkaian proses yang panjang dan dialektis. Meski demikian, di dalam proses pun, ada tindakan strategis dan taktis yang mana sepertinya jarang diperhatikan. Tindakan strategis menempatkan kondisi historis sebagai basis pengambilan keputusan, sedang tindakan taktis pada kondisi darurat kala itu.

Penjelasan lebih lanjut tentang ini tidak bisa saya tuliskan sekarang, karena tulisan ini hanya saya ketik melalui ponsel pintar saya. Sementara, menulis serangkaian gagasan yang runut membutuhkan waktu dan laptop.

Konflik agraria, menempatkan tanah sebagai hal yang paling penting untuk diperdebatkan. Apakah kepemilikan atau hanya akses, apakah penggunaan atau pengambilan, dan seterusnya. Pembahasan mengenainya telah dimulai sejak pertama kali petani dijajah oleh penguasa-penguasa di tanah hidup mereka.

Saya tidak sedang berusaha untuk mengajak mendukung petani secara buta. Pun kiranya saya tampak fasis, saya tak merasa perlu meminta maaf pada siapapun.

Ketika saya membicarakan fenomenologi di postingan-postingan sebelumnya, sebenarnya saya ingin mencoba mengatakan bahwa setiap manusia memiliki sistem pengetahuannya sendiri. Perkara itu bertentangan dengan manusia lain, itu memang manusiawi, tapi kesepakatan kolektif yang akan mengatur mereka. Maka, pertanyaan ‘bilamana sebuah masyarakat tercipta’ menjadi sebuah pertanyaan yang luar biasa sulit untuk dijawab bagi saya. Jawabannya dapat digunakan untuk melihat bagaimana sebuah masyarakat berdamai dengan friksi-friksi yang tercipta.

Kadang, ketika berpikir begini, saya begitu malu. Di luar sana pasti telah ada yang menelusurinya lebih dalam, memberikan kriteria-kriteria, atau bahkan analisis historisnya. Mungkin saya memang belum banyak membaca.

Meski begitu, saya selalu tersadarkan, bahwa saya pun masih tidak mampu memahami bagaimana masyarakat SATUBUMI dapat terbentuk. Padahal kami penuh konflik, berbeda ideologi, dan sebagaimana, namun masih dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat. Bagi saya itu aneh, dan membuat saya meyakini bahwa saya harus menjawab sendiri pertanyaan tadi atas dasar amatan dan partisipasi.

Ah, saya pernah dikatakan terlalu ambisius dalam belajar. Memang, saya mengakui hal itu. Tapi adalah perlu untuk melakukannya saya kira.

Lalu Paninggaran, sebuah kecamatan luas yang asik. Segala hal dapat kita temukan di sini; kehidupan pra kapitalistik yang hampir primitif, atau bahkan geliat modernitas yang ekspansif. Di dalamnya tercampur segala konflik sosial yang mungkin ada, meminta setiap orang berdamai dengan satu konflik dan konflik lainnya, menjadikan setiap individu sungguh-sungguh tidak bisa menjadi hitam putih. ‘Masyarakat’ membuat individu harus mendefinisakan diri mereka sendiri ketika berkehidupan sosial.

Masyarakat yang relatif dan tidak tetap ini dibenturkan pada konsep ‘kepemilikan’ atas tanah yang tetap dan tidak akan berubah secara kuantitas. Mereka limbung dan secara individual menanggapi perubahan dengan cara yang berbeda-beda. Meski tugas kami adalah mencari pola, saya tidak ingin menolak fakta bahwa diferensiasi sosial itu ada, dan terus berubah.

Ah, layar kecil ini membuat saya bingung menyusun kerangka tulisannya. Intinya, saya memang belum sungguh mampu berpijak dan masih terus mencari. Memang tidak mencari kesempurnaan, bahkan membuat teori sosial yang adiluhung. Tidak. Saya juga manusia biasa. Cuma, kalau tidak dituliskan, saya merasa yang saya pikirkan menjadi tidak berguna.

Saya sudahi dulu, sembari berharap Jum’at segera tiba. Sampai jumpa.

wordsflow

Biar


Biarkan rindu menjadi rindu, tanpa perlu disampaikan,

Biarkan jarak menjadi jarak, tanpa perlu didekatkan,

Biarkan harap menjadi harap, tanpa perlu dipastikan.

Ketika kesemuanya berkelindan membentuk diri, menggelayut memori, kita semakin jauh menerbangkan cita dan hidup dalam ruang yang tak berkesudahan.

Kepastian kadang menghentikan, meski ingin, meski mendoakan.

Tapi ruang tidak pejal, akan ada masa untuk menetapkan sesiapa, atau sesuatu yang terus kau pertanyakan; tentang hati dan rasa, tentang logika dan akal, tentang budi dan nurani.

Tentang kita yang sekarang atau akan datang.

Lalu biar sekarang menjadi lalu, dan esok menjadi kini, kita pun tetap menanti.

wordsflow

(tidak usah dikasih judul)


Meninggalkan Jogja dalam sebuah perjalanan panjang tampaknya adalah sebuah pilihan yang cukup tepat untuk saya lakukan dalam beberapa minggu terakhir. Memang tidak sepenuhnya saya terpisah dengan dunia tempat saya tinggal. Teknologi telah mampu memutus jarak yang ada, dan menyingkat waktu, serta menyimpankan memori yang kita butuhkan untuk mengingat kembali. Teknologi menyadarkan pada fakta bahwa di hari ini waktu tidak mengendalikan manusia seutuhnya, meskipun kita masih saya bertanya-tanya tentang kematian. Di beberapa tempat bahkan kematian sudah tidak lagi menjadi sebuah misteri secara menyeluruh, kajian tentang kematian dan dunia metafisik sudah begitu banyak dan membanjir di dunia ini.

Lalu apa lagi yang masih menjadi rahasia jika semua hal itu sudah mulai dipahami dan terus menerus coba ditelusuri?

Pertanyaan tersebut sebenarnya tidak bermula dari sana. Adalah ketika berkonfrontasi dengan masyarakat di lapangan, saya dihadapkan pada fakta bahwa selama ini saya terlalu naïf melihat begitu banyak hal yang terjadi di masyarakat, apalagi terkait fenomena dan konflik sosial. Saya ketagihan mengkaji manusia, meski masih begitu enggannya saya meyakini metode-metode psikologi untuk mempelajari manusia. Mungkin karena selama ini saya melihat ‘ilmu psikologi’ yang ‘demikian’ sehingga saya sulit untuk mempercayai ilmunya, hahaha. Enggak ding, karena sejujurnya saya belum kenal ilmu psikologi itu seperti apa.

Sebenarnya saya sedang mencoba untuk mengkaitkan beberapa teori yang sudah begitu umum digunakan terutama dalam kajian sosial kontemporer. Saya suka gaya-gaya analisis ala Marxian, meski masih belajar teori-teori turunannya yang sepertinya sudah sebegitu bercabang bagai anak sungai. Sudah begitu, kajian etnosains sedang banyak dipelajari di dunia antropologi, dengan fenomenologi sebagai dasar epistemologinya, meski etnosains tidak sungguh berakar dari fenomenologi. Lebih dari itu, psikoanalisis juga menjadi kajian yang begitu ‘nyata’ untuk mendeskripsikan individu-individu. Entah saya akan dibilang mendua, meniga, atau seterusnya, saya tidak ambil pusing, yang penting semuanya dapat saya gunakan untuk memahami manusia yang saya temui, saya lihat, atau yang berhubungan dengan saya.

Apa lagi guna semua hal kalau meniadakan manusia dalam kajiannya? Bumi saja ketika tidak ada manusianya hanya sekedar materi, tata surya kalau tidak memberi pengaruh pada keberlangsungan bumi tidak penting untuk dipelajari, dan semuanya-mua tidak akan berpindah atau menjadi penting ketika tidak berhubungan dengan manusia. Saya memang agak egosentris, tapi memang begitu dasar setiap pembelajaran. Setiap hal dipelajari ketika menjadi kebutuhan.

Saya melihat bahwa manusia adalah sesuatu yang tidak akan pernah stabil, karena stabilitas manusia berarti matinya jiwa dan hanya menyisakan manusia sebagai sebuah mesin bergerak, entitas terprediksi dan tidak lagi menarik untuk dipelajari. Maka ketika kita menjadi manusia yang labil, kita masih manusia. Berbanggalah dengan keadaanmu.

Memahami manusia menjadi babak baru dalam setiap hidup, menyisakannya menjadi pekerjaan yang tidak pernah ada usainya. Kecil bertengkar dengan saudara dan teman sebaya, remaja mengenal kedewasaan, pemuda mencari identitas, dewasa memikirkan keluarga, mendidik anak, bergumul dengan perubahan jaman, dan akhirnya menghadapi kematian. Anehnya, dari begitu banyaknya manusia, semuanya mengalami dengan cara yang berbeda, berdialog dengan cara yang berbeda dengan diri sendiri, dan menggunakan logika yang berbeda dalam menanggapi. Setiap perbedaan itu memberikan friksi, menciptakan konflik, membentuk konflik, mencoba menemui solusi atau jalan tengah, dan seterusnya-seterusnya. Aneh kemudian saya kira, ketika masuk ilmu sosial dan merasa salah jurusan, padahal telaah sosial adalah pe-er kita hingga mati.

Begitu berbedanya manusia juga membuat paradigma yang diyakini tidak kemudian bisa mendeskripsikan setiap manusia atau fenomena sosial yang kita temui. Menguasai semua paradigma memang terlalu ambisius, tapi percayalah, hal itu yang dibutuhkan karena antara manusia yang tumbuh di lingkungan dan lahir dari keluarga yang sama pun akan dapat sangat berbeda cara berpikirnya. Di sini saya yakin, logika belum mati, dan altruisme masih tetap ada dalam bentuknya yang berbeda-beda. Hal-hal yang sudah di-‘mati’-kan oleh filsuf dan para ahli sosial sebenarnya masih berkeliaran dalam kelompok-kelompok kecil manusia, berkelana dalam pikiran-pikiran manusia sebagaimana meme merajalela di dalam diri manusia-manusia. Lihatlah bagaimana cara manusia berdebat di hari ini, hehehe. Atau bagaimana diri kalian menolak ide saya mengenai hal-hal yang saya tuliskan di blog ini. Hehe, seru ya.

Agaknya, saking serunya manusia dan segala hal yang melingkupinya, saya menganggap bahwa setiap manusia adalah subjek yang butuh untuk dipahami, dan begitu pula cara menemukan diri sendiri. Sebegitu tenangnya kita nantinya ketika mampu mendefinisikan diri sendiri, dan memahami apa yang sedang terjadi dengan diri sendiri. Kadang memang akan selalu ada yang mengganggu, dan memang begitu cara perubahan menyentuh kita, terima saja, yang penting kita mampu menyadari apa yang sedang terjadi.

Ah, saya mulai mencerahami pembaca-pembaca yang budiman, maafkan.

Ini hanya sebuah upaya untuk melerai rindu saya pada catatan harian saya di blog ini. Rasanya sudah begitu lama saya bersentuhan dengan tuts laptop dan tidak mengetik dengan sebahagia ini, meskipun topik yang saya bahas tidak pernah terlalu penting. Ah, kepentingan juga relatif terhadap prioritas dan logika masing-masing orang, terkadang terhadap kondisi sosio-ekonomi-politik mereka. Setidaknya, ketika masih sulit untuk memahami manusia, kita sudah bersahabat dengan diri sendiri dan mampu melihat bagaimana diri kita di dalam lingkungan sosial. Jika belum, mari berupaya bersama-sama, semua orang melakukannya kok.

Selamat bermalam Minggu, selamat merindu.

wordsflow

Mencari Tahu


Seperti halnya mencari tahu yang enak banget itu, informasi juga nggak selalu sama enaknya. Kadang ada yang agak pahit, atau udah sedikit asam karena lupa diganti airnya, atau teksturnya terlalu keras, kadang ada yang enak nan lembut, macem-macem lah.

Dan begitu juga informasi.

Saya katakan saya sedang mendalami marxisme, karena entah bagaimana paham ini begitu berpengaruh di abad ke 20 dan melahirkan berbagai aliran kiri di masa kini. Kadang kebingungan membedakan pemikiran siapa atas apa, darimana, dan apakah dia masih sejalan dengan pemikiran dasarnya? Seberapa marxis kah dia?

Saya rasa orang-orang mulai mabok klaim, bahwa dia lah yang mampu membawa kebenaran di muka bumi ini. Padahal kebenaran itu, saya pikir tidak tetap.

Parsialisasi pengetahuan, atau sering disebut sebagai spesialisasi profesi atau akademik, menempatkan kita ahli dalam satu bidang, tapi agak kelimpungan menghadapi bidang lainnya. Saya jadi ingat artikel buluk di sepiteng tentang free thinker, dimana dia menempatkan dirinya sebagai demikian. Dia menjadi pemikir.

Parsialisasi itu, kemudian membuat kita tidak mampu menjelaskan keterkaitan hal-hal yang kita temui dalam hidup, dan menempatkan kesadaran realitas sebagai pe-er hidup semua orang, nyaris tanpa bekal yang memadahi untuk menempuh dan menjelaskannya. Hubungan interpersonal misalnya, akhirnya dianggap sebagai ranah psikologi, sementara setiap orang tua harus mampu menjadi psikolog untuk anak-anaknya. Kapasitas alami manusia dibawa keluar dirinya, menjadi hal-hal yang terspesialisasi. Akhirnya memang profesi menjadi beragam, tapi ketergantungan kita semakin tinggi.

Saya sebenarnya ingin menulis sangat panjang, bahkan kalau bisa sepanjang buku 300 halaman. Tapi saya hanya punya ponsel pintar malam ini. Dan dengan keterbatasan itu mencoba meracik beberapa baris kata untuk mengisi awal tahun ini.

Tidak ada resolusi, tidak ada euforia. Tidak ada gelisah atas diri, karena diri telah terlalu jumawa menantang dunia. Hanya gelisah tentang kehidupan yang tersisa, tentang manusia-manusia lainnya, tentang alam tinggalnya. Saya ingin menulis teori, tapi ragu untuk memulai, karena sebagaimana saya sadari, bekal bacaan saya masih jauh dari cukup. Realita yang saya temui masih jauh dari mampu dipahami. Masing-masing masih memiliki celah misteri yang harus dipilah dan coba diisi.

Materialisme gagal dalam percobaannya kepada manusia, komunisme mengalami kehancuran, dan semua paham-paham tetuanya juga mengalami hal yang sama. Lantas masih melenggang gembira kapitalisme tanpa ada yang bisa menyandungnya jatuh. Ada apa? Bagaimana bisa? Sampai kapan? Apakah yang paling baik memang demikian? Apa yang diinginkan tokoh-tokoh puncaknya? Dan bejibun pertanyaan lainnya yang bercokol di pikiran saya.

Belum lagi jika bicara negara? Perlunya apa dia ada? Bagaimana harus ada hadir? Di mana letak berdirinya? Sampai mana jangkauannya? Dan seterusnya, dan seterusnya.

Hanya dengan dituliskan maka semua menjadi sedikit lebih jelas. Hanya dengan disampaikan, semua menjadi lebih bisa diperdebatkan.

Apakah kemudian saya harus mengaku marxis hanya karena membaca buku-buku? Ha, saya saja tidak yakin bisa menjelaskan apa itu marxisme tanpa tatapan tidak yakin dari orang-orang. Percayalah, saya sama buruknya dengan anak SMA dalam belajar sosial. Kehidupan sosial saya agaknya tidak murni, sebagaimana sering saya katakan bahwa saya tidak punya teman.

Dengan semua hal itu, saya ingin mencoba mempertanyakan kembali dari hal-hal paling mendasar sebelum mensintesa segala hal. Apa itu manusia, siapa dia, darimana? Apa itu pikiran? Apa itu peradaban? Bagaimana transformasi peradaban yang paling panjang dan evolutif? Bilamana masyarakat tercipta, dan bagaimana prosesnya? Apa motifnya?

Semua campur aduk pertanyaan itu berbaur di kepala saya sepanjang waktu, demi mempertanyakan kenapa saya mengalami keterlemparan di era ini, di masa pemikiran ini, di tren ini, di waktu ini, dan seterusnya.

Tanpa tahu kapan dimulai dan akan berakhir, mari sama-sama berdoa untuk peradaban yang lebih manusiawi.

wordsflow

Menelusuri Jejak Masa Lalu


Setiap postingan, agaknya merupakan euforia keberhasilan saya menyalakan laptop. Cerita yang sudah sering saya dengungkan memang, tapi sungguh menantang sekali memiliki laptop ini, dan saya nggak tau lagi harus bagaimana memperlakukannya. Semoga liburan besok saya bisa memperbaikinya, hehe.

Apa kabar hidup?

Saya kira saya telah mencapai babak baru lagi, dengan ketenangan dan ketabahan yang baru, dengan karakter dan cara berpikir baru, meski masih dalam kadar keingintahuan dan ambisi yang sama. Kadang, di malam-malam semacam ini saya akan scroll timeline Twitter saya untuk melihat seberapa keren saya dalam menyusun kata dalam 140 karakter saja. Atau hari-hari macam apa yang saya lalui sehingga menghasilkan tulisan blog yang begitu menggebu-gebu, sedih merana, gundah gulana, atau bahagia berbunga. Saya kira, menelusuri jejak pribadi adalah bagian yang begitu menyenangkan untuk dilakukan kapanpun juga.

Saya ingat bahwa masih ada tulisan tentang Papua yang saya tunda. Tapi saya belum lagi tertarik untuk membahas hal-hal yang terlampau berat. Entahlah, ada sesuatu yang menyuruh saya untuk berdiam sejenak dan menghimpun pengetahuan. Tak harus sempurna, yang penting dasarnya kuat dan saya mampu bercerita dan bercakap dengan benar.

Lebih dari itu, saya pikir saya lebih ingin membahas pribadi saya sendiri, hehe. Mungkin cerita saja ya, biar nggak usah berat-berat.

Beberapa hari yang lalu, saya dibuat merasa entah marah, terhina, atau kesal, karena seorang kawan mengatakan “jangan mentang-mentang kamu kuliah antro dan bla bla bla” yang tidak saya ingat lanjutannya. Saya sungguh tersinggung kala itu, dan meski saya tidak paham kenapa saya tersinggung, sedikit banyak saya mencoba menelusuri alasannya.

Sepertinya, jauh di dalam diri saya, ada kekecewaan-kekecewaan yang saya simpan di balik pencapaian-pencapaian yang saya dapatkan secara bersamaan. Kalimat itu, menggungah rasa kecewa saya atas ketidakmampuan diri masuk dengan apik dan dengan sungguh-sungguh ke bidang ilmu itu. Ada hal-hal yang tetap tidak bisa saya terima, meski antro adalah ilmu yang paling membebaskan kata dosen-dosen saya. Ada banyak kesulitan yang saya alami, dan saya tidak pernah berbangga diri mengatakan bahwa saya paham antro. Siapa yang bisa mengatakan dia paham manusia lain? Itu hal mustahil yang coba dibuat-buat dan dipaksakan untuk diterima oleh publik.

Pada dasarnya, saya tidak memahami manusia lain, dan masuk ke bidang ilmu itu salah satu tantangan berat yang harus saya lalui untuk hidup dengan cara yang lebih bernilai menurut saya.

Kekeraskepalaan saya untuk mencoba menerima konsep dan teori orang lain menempatkan pemikiran saya pada hal yang itu-itu saja, berputar-putar dan tidak mampu saya konstruksikan dengan cara yang lebih baik. Hal itu menyebalkan, hingga akhirnya saya memutuskan membaca bacaan yang lebih sesuai umur, mendalami teori-teori yang saya sukai dahulu, sebelum menuju teori-teori yang saya butuhkan. Melelahkan memang, tapi harus dilalui.

Dan lagipula, siapa yang suka hidup dalam putaran yang sama? Ada tuntutan tak kasat mata dari dalam diri untuk terus mengaktualisasi.

Tak ada standar hidup manusia yang sungguh-sungguh benar, saya tahu. Kadang saya begitu iri dengan orang-orang yang bisa sepenuh hati pada pekerjaannya, apapun itu. Kadang saya iri dengan wanita-wanita yang mendidik anak-anaknya dengan bahagia dan penuh cinta. Kadang saya justru mencari-cari kelebihan dari setiap orang yang saya temui, untuk bisa merasa iri. Karena dalam pikiran saya, semua manusia bisa unggul dari manusia lain, asal kita mencari-cari dimana letak keunggulannya.

Pun dalam urusan fisik, setiap orang memiliki kadar kecantikan dan ketampanan yang berbeda. Dan mencoba menyamakan setiap orang hanya akan membuat pandanganmu sempit dan tidak kaya. Di sana, kita hanya akan menempatkan manusia dalam kelas-kelas saja, tanpa mampu melihat bahwa kelas pun ada bermacam-macam jenisnya. Saya pernah membahas ini di postingan sebelumnya, saya malas mengulangi.

Ah, saya jadi ingat apa yang ingin saya bahas di awal saya menulis ini. Ini perihal ketenangan jiwa yang sedang saya alami. Entah karena peristiwa apa, yang mana juga sedang coba saya telusuri, saya mencapai ketenangan jiwa yang aneh. Sekiranya beberapa hari yang lalu saya sempat meluapkan emosi saya dengan mengumpat dan menangis sesengukan di kosan, tapi hari berikutnya, saya merasakan hal yang aneh. Ketenangan yang tidak terjelaskan yang datang entah dari mana.

Saya senang dengan perasaan ini, karena dia begitu menggelitik untuk diselidiki dari mana asalnya. Tapi saya bingung bagaimana cara menelusuri asal muasalnya, karena saya juga tidak paham kapan ia bermula. Apa dinikmati saja? Hehe.

Oiya, saya mau berinfo saja, karena Januari nanti saya akan meninggalkan Jogja. Mungkin itu akan menjadi waktu-waktu yang menyenangkan. Lalu ada tema tesis yang sepertinya akan saya tetapkan di atas pilihan-pilihan lain yang sama menggodanya untuk dijalani. Dan, saya tidak tahu apa lagi yang akan terjadi pada saya, hehe. Sampai jumpa esok. Mari menyapa.

wordsflow

Quarter Life Crisis


Sebelum mulai, saya mau memberi chit-chat sedikit seputar hidup saya. Okai, laptop saya berhasil menyala kembali setelah percobaan selama 3 hari untuk menyalakannya. Ada paper yang harus saya kumpul besok, dan ini latihan menulis yang lain. Saya akan jalan-jalan lagi ke tempat jauh. ‘Menalar Marx’ membantu saya menemukan hal-hal tersembunyi tentang Marx. Perbincangan dengan Njum yang absurd tadi siang sekali lagi kami miliki. Orderan buku yang sudah selesai dikerjakan semuanya, dan sekali lagi kena omel pelanggan. Daaaan, bagian paling membahagiakan adalaaah, besok ada kuliah umum Tania Murray Li. Damn, saya akan bertemu ibu keren itu (sok tau abis padahal baru baca 2 bukunya).

Well, topik yang saya bahas kali ini adalah hal yang, errrr, sedang saya (dan wanita-wanita kelas saya) alami, hehe. Ah, sebelum saya melanjutkan, saya merasa berhutang karena belum meneruskan tulisan tentang referedum Papua. Nanti ya saya coba untuk memberikan argumen dan pandangan saya tentang hal itu. Nah, tentang topik ini, ada sesuatu yang rasanya begitu mendesak untuk saya utarakan sebelum saya melupakannya.

Masalah quarter life crisis, sesuatu namanya, agaknya merupakan krisis yang sudah banyak dialami oleh manusia di bumi ini. Terbukti karena fenomena ini sudah bernama men, otomatis dia sudah banyak dibicarakan. Tentu saja tulisan ini tidak akan menjadi sesuatu yang luar biasa, tapi saya mau mencoba meninggalkan perhatian pada permasalahan ini.

Tepat ketika saya sedang merancang kata-kata dan alur tulisan sembari membuat buku di kosan, saya tetiba tersadar akan sesuatu. Quarter life crisis sebenarnya sebuah upaya penjelasan mengenai kebingungan dan keresahan manusia-manusia yang menginjak umur antara, atau umur ambang, di mana perpindahan ini membutuhkan ‘aklimatisasi’ yang tidak gampang. Di sana, kemudian istilah krisis itu mengemuka. Namun, definisi saya ini tidak lengkap, karena kata ‘antara’ atau ‘ambang’ butuh penjelasan yang panjang. Ambang yang seperti apa? Antara yang mana? Apakah krisis tersebut adalah sesuatu yang sungguh menyejarah, atau tercipta karena adanya perubahan pola hidup manusia-manusia milenial?

Cerita tentang peningkatan penyakit psikis telah banyak mengemuka karena persoalan dunia modern yang semakin banyak. Dalam penelusuran singkat, dimungkinkan bahwa krisis yang sama dialami oleh manusia-manusia masa lalu ketika mereka pengalami perpindahan sebagai anak menuju remaja, dimana mereka akan menjadi insan-insan yang siap dijodohkan. Dan tadaaa, ambang itu ada bukan pada umur 25 tahun. Well, kesimpulan yang terlalu cepat, tapi biarkan saya senang dengan penjelasan itu. Mari masuk ke bagian bahasannya, huehe.

Tak lebih dari sebulan yang lalu, kami pergi camping ke Kaliurang, dan pada suatu sore yang menyenangkan, tanpa sadar kami tergabung dalam satu kelompok wanita. Pembicaraan tentang gender telah menjadi topik yang asik, karena permasalahan gender adalah perjalanan sejarah yang panjang. Tentu saja karena perbincangan di kalangan wanita tidak pernah bisa fokus, mampirlah kami ke pembahasan umum wanita-wanita di umur 25 tahun, masalah cinta dan pernikahan. Dua hal ini, adalah topik yang selalu menarik, meski ide-ide tentangnya agaknya masih sulit merubah stigma dan realitas tradisinya.

Sebagai pihak yang tidak memiliki pengalaman bercinta (eits), meski saya pun mencintai, saya akhirnya menjadi pihak yang hanya mengumpulkan data semata. Tiga dari lima orang bercerita tentang kegagalan hubungan mereka karena ‘masalah’ agama. Hal sensitif itu berbenturan dengan begitu banyak hal yang terjadi dalam keluarga, lingkungan, dan interpersonal pihak yang berhubungan. Pernikahan beda agama, dalam hal ini menjadi permasalahan yang mendalam dan berkepanjangan, karena akhirnya akan berbenturan dengan instansi pemerintah, instansi agama, keluarga, masyarakat agama, dan lingkungan sekitar. Pun, masa depan kedua pihak akan terus menerus tidak menentu karena dinamika masyarakat agama begitu fluktuatif.

Seorang teman memberikan cerita yang agak berbeda. Ia adalah anak dari keluarga yang tidak berkeyakinan sama, kedua orang tuanya berasal dari keluarga pembesar dua agama yang berlainan tapi satu hulu. Meski orang tuanya merupakan ‘produk’ pernikahan beda agama, namun ternyata hal itu tidak membuatnya mendapat legitimasi keluarga untuk melakukan tindakan yang sama. Apa sebab? Menurutnya, sejarah kelam perjalanan hidup orang tuanya membuatnya tidak mendapat dukungan untuk melakukan tindakan yang sama sebagaimana kedua orang tuanya ‘menghasilkan’ dia ke dunia ini. Dalam hal ini, saya pribadi mencoba untuk tidak terburu-buru mengambil sikap karena dibutuhkan penalaran-penalaran lebih jauh dalam menyikapi hal sensitif semacam ini.

Pernikahan, sebagaimana sudah banyak dibicarakan orang, merupakan merger dua perusahaan besar bernama keluarga. Demikian, keluarga sebagai sebuah kelompok manusia yang jamak dan beragam, harus bersatu padu dalam satu pernyataan yang sama untuk menerima sebuah keluarga baru sebagai jaringan terdekatnya. Demikian, maka ‘transaksi’ pernikahan menjadi transaksi yang rumit dengan segala persyaratan implisit dan eksplisitnya. Permasalahan pernikahan selalu berhubungan dengan ‘restu’ sebagai sebuah legitimasi sah dari pihak keluarga kepada calon menantunya.

Ini rumit menurut saya.

Keinginan terdalam saya sebagai individu, adalah menemukan partner yang mampu saya ajak bicara terus menerus seumur hidup, bersedia melalui perubahan-perubahan hidup dengan saya, dan tentunya mereproduksi gen kami ke dalam wujud baru. Dengan tujuan-tujuan yang begitu personal, maka hegemoni keluarga menjadi sesuatu yang cukup saya tentang (sebenarnya saya nggak punya masalah keluarga sih, hahaha, cuma ingin mendramatisir). Keluarga sebagai sebuah lembaga paling dasar, memiliki ikatan darah yang tidak putus terhadap anak, sebagaimana ia merupakan reproduksi gen orang tuanya, maka statusnya sebagai anak tidak akan berubah karena bukti material atas hubungan itu ada dalam darahnya. Sedang dua manusia yang bersatu dalam hubungan pernikahan, sebenarnya lebih tidak punya ikatan. Dengan logika demikian, saya pikir jika memang harus (dalam artian saya ada dalam kondisi harus menentukan pilihan berat) maka saya lebih berani menantang diri atas keluarga, hahaha. Sombong betul saya.

Agak sulit memberikan penjelasan yang tenang untuk hal ini, saya pribadi tidak selalu mau dan mampu memberi sebuah argumen. Penyebabnya sesederhana karena saya belum berada dalam kondisi untuk menentukan pilihan. Demikian, hal-hal yang saya pikirkan hanya serupa idealisme saja, dan entah pada tataran prakteknya, kita lihat saja nanti.

Tapi, saya mencoba menjadi manusia yang mengamini keterlemparan saya sebagai makhluk milenial di era Indonesia yang sedang menuju modern tetapi dalam kungkungan ilmu pengetahuan yang postmo ini. Bersikap di hari ini bisa begitu salah karena banyaknya hal yang carut-marut dan tidak tentu penjelasan dan arah geraknya. Pun demikian dengan urusan pernikahan yang begitu pelik dalam kerangka pikir saya, atau kami, meski bisa jadi, ada orang yang menikah dengan cara mudah karena kerelaannya mengikuti tata aturan. Hemm.

Dan okaaai, meski akhirnya tulisan ini tidak mencerminkan judulnya (men, topik quarter life crisis ada banyak banget padahal!), tapi sudahlah, saya mau nggarap tugas, hehe.

Sebagai sebuah catatan akhir, saya kira sudah bukan saatnya bagi saya untuk bermenye-menye menangisi dan mengasihani diri perihal cinta dan pasangan hidup, haha. Kiranya dia datang begitu saja dan mencoba menarik saya dalam hidupnya, saya kira itu hal yang ajaib. Sembari berpikir begitu, saya rasa membaca blog ini bisa menjadi syarat yang menyenangkan untuk diterapkan. Apalagi sejauh yang saya ingat, lebih dari buku diary saya di kosan, blog ini menyimpan lebih banyak pemikiran dan perkembangan mental saya selama 7 tahun giat menulis. Jadi, saya merevisi keinginan saya mewariskan diary saya nanti. Sebaliknya, justru saya sepertinya akan membakarnya saja jadi debu, toh isinya saya ingat baik. Blog ini saja lah yang menghidupi dunia ide saya, hehe.

Daaan, selamat malam. Saya kira saya sudah membuang satu lagi sampah dari bilik ide saya.

wordsflow

Di Tengah Presentasi Epis


Yang paling saya suka dari mengerjakan tugas adalah saya dipaksa untuk menjebloskan diri dengan suka rela masuk merasuk bahkan ketika tubuh saya tak mampu lagi menjangkau kedalamannya. Berkali-kali selama berbulan-bulan dan mungkin bertahun-tahun ini, saya sering mengalami kesulitan untuk memahami teori, dan bisa jadi tidak berpindah halaman bahkan setelah sepuluh kali membaca bolak-balik. Menyedihkan.

Presentasi epis akan berlangsung seharian, dan saya harus sekali menulis di siang hari ini sebelum kembali pada Foucault, Marx (lagi-lagi), dan Gramsci. Tiga tokoh luar biasa yang bisa disatukan oleh Tania Li di bawah tajuk The Will to Improve (kenapa ya saya suka banget sama ibu ini?). Dan dengannya, saya terpaksa mendalami Marx lebih dalam, meskipun sembari menyimpan malu karena begitu sulit saya mendalami hal-hal itu. Why oh why.

Semalam dalam upaya saya untuk mencoba menyicil power point (yang mana adalah hal paling tidak saya suka), Tengdu malah mengajak kami (dengan pasang speaker) untuk turut menonton film dokumenter tentang “pemberontakan” di Ukraina.

Ada hal-hal yang kembali bermunculan, sebagaimana buku yang tengah saya dalami ini, bahwa kita selalu sulit untuk lepas dari konflik. Ada sebuah catatan yang dibagikan seorang teman di facebook, tulisan itu dimuat di Indoprogress. Dalam narasi panjang, ada sebuah pertanyaan yang terselip, “apakah rakyat pernah salah?” Itu pertanyaan yang ternyata juga mampir di pikiran saya sepanjang perjalanan sosial saya. Bahwa ada begitu banyak jenis manusia yang saya temukan di keseharian, di dalam ruang kelas, atau di manapun di dunia ini adalah bukti bahwa rakyat, atau masyarakat tidak bisa begitu saja disamakan. Ada proses-proses yang terjadi dalam kehidupan sosial sekecil apapun, yang darinya kita berusaha untuk mendalami dunia. Saya sudah pernah membahas ini sekilas sebelumnya.

Tidak mau berpanjang lebar karena seharian ini saya akan mendengar begitu banyak teori dipaparkan dan dijejalkan dalam diri saya, namun saya masih mengais-ngais Marxis seolah bebal untuk menerima pemikiran orang lain.

Saya ingat dalam perbincangan makan siang dengan seorang teman, saya sempat mengajukan pertanyaan mengenai “adakah kemungkinan lain selain perlawanan?”, dan pertanyaan itu juga saya perluas ke banyak hal. Saya paham bahwa perlawanan muncul bukan tanpa sebab, bahwa ada hal-hal yang begitu mendesak untuk segera membebaskan diri dari hegemoni kekuasaan. Tapi meski tidak ada jaminan apapun akan masa depan, manusia berusaha untuk terus melawan tekanan. Kawan saya mengatakan kemudian, bahwa bagi mereka yang penting adalah memperjuangkan hari ini, hari esok bisa kita songsong bersama. Begitu pula mungkin, banyak orang di dunia mendalami kehidupannya sendiri.

Relasi manusia selalu unik dan tidak sama, karena ada proses dialektis yang tidak sama, ada kebersandingan dan penolakan, dan hal itu bisa berlangsung bersamaan. Maka, penilaian atas suatu kejadian melalui penyederhanaan-penyederhanaan hanya akan membawa kita pada pengetahuan parsial, demikian kehidupan hanya terjelaskan sepotong-sepotong saja.

Saya sering malu dengan teman-teman saya, dengan diri sendiri terutama, dan dengan ilmu pengetauan. Apa sebab? Sebagai wujud yang menyimpan pemikiran-pemikiran, saya tidak pernah keluar dari zona nyaman dan menantang dunia. Tapi dalam hal ini, ada hal yang membuat saya terus merasa ragu, bahwa saya tidak cukup berkapasitas untuk menulis sesuatu yang berkualitas dan mampu dipertanggungjawabkan. Keraguan yang terus menerus saya produksi dan reproduksi ini yang kemudian membuat saya semakin ragu melangkah, menentukan arah, dan menempatkan diri.

Well, lagi-lagi saya menye-menye, hahaha.

Tapi sebagaimana alam, dan begitu pula manusia, kita terdiri dari air dan api, ada bagian teduh dan dingin, serta panas dan beringas. Manusia memiliki kadarnya sendiri sebagaimana alam mencoba memperlakukan dirinya sendiri. Bahwa pada suatu saat dia bisa memberikan rasa nyaman pada manusia, dan berikutnya memberi bencana, meski keduanya adalah hal yang sama. Relasi manusia, demikian, memiliki naik-turunnya sendiri. Siklus alam membuat manusia tidak berdaya pada beberapa hal, dan akhirnya mati menjadi finalnya.

Ah, saya lebih ngelantur di postingan ini, sudahlah. Sampai jumpa!

wordsflow

Tengah Malam Ini (ii)


Malam kedua saya posting lewat handphone.

Sebelum saya mulai, mungkin sebaiknya kalian membaca postingan seorang teman yang saya pikir it’s too true (sila klik di sini). Semoga kalian menemukan pencerahan sebelum mendengar curhat tak penting saya di malam ini.

Sering sekali saya berpikir bahwa masih ada orang-orang yang membaca blog ketika media sosial sudah begitu banyak, dan blog pribadi semacam ini sudah begitu tua dan layak untuk ditinggalkan. Tapi walau bagaimana, saya justru merasa hidup lewat tulisan-tulisan di dalam blog ini. Dan menjadi barang mewah ketika ada media online yang tidak ‘murahan’ sebagaimana media sosial yang lainnya. (oke saya kasar, maafkan)

Seharian ini saya mencoba melarikan diri dari sekret dan merenung di kosan sembari terapi dengan membuat buku. Kerajinan tangan, menjadi hal yang paling saya kuasai sejak kecil, dan dari sana saya merasa mampu mengendalikan banyak hal. Orang-orang di sekeliling saya baru-baru ini mengeluh tentang menjemukannya kuliah, atau belajar. Mungkin karena memang sedang masa ujian, sehingga semuanya terasa begitu membebani. Tapi, manusia-manusia yang tidak mampu melarikan diri dari sekolah akhirnya merasa lebih tertekan, lantas merasa dirinya yang paling gagal.

Entah kenapa bab nilai lebih dalam Das Kapital begitu terngiang-ngiang di pikiran saya. Manusia era ini (yang tidak mampu saya definisikan), kehilangan relasi dengan produsen dari komoditi yang kita konsumsi. Sebegitu teralienasinya hingga kita menerima begitu saja label yang diberikan oleh perusahaan atas makanan yang kita makan. Kemarin saya menemukan sebuah postingan dari seorang teman yang menjual roti. Dia memaparkan sumber bahan mentah dari roti yang ia buat, setiap sumbernya ia sebutkan. Di akhir catatan foto dia menambahkan “bukankah sebaiknya makanan kita traceable?”

Saya menghabiskan masa kecil dengan bermain di sawah dan kali dekat sawah. Setiap sore kami mencari kepik dan tidak pernah menemukan kegunaannya kecuali warnanya yang bagus. Ada sebuah sumur yang legendaris di tengah sawah. Lebih karena di sana ada timba dengan pemberat batu (bukan model katrol tarik) dan dekat dengan saung. Saung favorit kami dikelilingi rumput gajah, dan saat rumput belum dibabat untuk pakan ternak, tempat itu menjadi persembunyian paling nyaman.

Di waktu-waktu itu lah, bahan pokok makanan lebih banyak kami peroleh dari sawah. Kami tahu bagaimana masing-masingnya ditanam, kualitas air yang mengairinya, atau siapa-siapa saja yang merawatnya. Di hari ini, hanya sejumlah kecil orang yang masih mengetahui sumber makanan yang mereka konsumsi.

Sempat terlintas di pikiran saya, bahwa sebagaimana rekan saya yang jualan roti tadi, akan ada masa dimana orang-orang meragukan makanan yang mereka makan. Bahwa kita tidak akan makan segala sesuatu yang tidak jelas asal usulnya dan akhirnya menanam sendiri makanan yang ingin kita konsumsi. Di sudut rumah mungkin kita bisa memelihara sekandang kecil ayam petelur. Atau, setiap beberapa rumah tangga menanam jenis yang berbeda-beda untuk saling menghidupi satu sama lain.

Sebagaimana saya ceritakan semalm tentang keinginan saya menari-nari, sebenarnya itu adalah bagian dari kesadaran atas hilangnya kebudayaan. Apa itu kebudayaan untuk manusia-manusia karbitan di jaman ini? Saya mengenal kesenian sebagai sebuah hal yang eksklusif dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Mengenal budaya sebagai sebuah paket wisata yang menumbuhkan romantika semata. Mencoba menemukan nilai yang hanya sebuah reproduksi semu ala kapitalis. Tidak bermakna sama sekali.

Lalu kalut mencoba menciptakan sendiri atmosfer yang menjauhi era yang pesakitan ini. Mencoba kembali pada yang telah mati. Antara takut hanya menemukan romantika atau berharap mencapai makna. Tidak ada yang pasti.

Meski muak, tapi saya selalu membuka media sosial, mengklik berita yang ingin saya baca, mengumpat pada beberapa, bersyukur pada beberapa. Kadang, saya merasa tergugah menerima ajakan abang saya jadi pedagang angkringan dan menemukan orang-orang baru yang bisa diajak bicara setiap waktu. Atau jadi tukang loper koran sehingga bisa jalan-jalan seharian. Tapi yah, hanya seandainya. Nyatanya toh saya lebih memilih kuliah dan memastikan pada negara bahwa penganggurannya berkurang karena pendidikan. Atau membuat buku untuk memastikan kapital tetap berputar, dan saya punya daya beli untuk melanggengkan kapitalisme.

Tapi malam masih panjang. Masih saja bumi tak mau mempercepat diri. Padahal manusia sudah tak lagi mau menunggu lama untuk pagi kembali. Seolah-olah mereka ingin bekerja sampai mati. Menumpuk pundi-pundi tanpa peduli.

Dimana semboyan hidup sederhana, hidup secukupnya? Katanya filsafat sudah mati, tapi kita merindukan dan mencari-cari. Seolah lupa siapa yang melemparnya pergi. Menyisakan agama yang tak juga diterima jiwa-jiwa yang resah.

Baiklah, setidaknya nyamuk-nyamuk masih bergembira mencoba mencuri darah dari saya.


 

Tengah Malam Ini


Entah mengapa saya begitu malas membuka laptop malam ini. Padahal ada begitu banyak seruan-seruan yang harus segera diutarakan di pikiran saya. Sesekali upload dari handphone deh, biar nggak usah panjang-panjang.

Saya seakan terhenyak akan hening di lincak malam ini. Anak-anak sedang sibuk mempersiapkan diri untuk ujian akhir esok hari. Seharusnya saya pun sibuk dengan ujian akhir dengan laporan-laporan tentunya.

Saya ingat bahwa sudah lama saya tidak kembali ke rumah. Tapi apakah ia masih rumah? Rasanya harus saya akui bahwa saya mulai meragukannya. Tidakkah rindu dengan orang tua? Ya tentu saja. Tapi, jika saya katakan rindu saya berbeda, adakah yang akan percaya? Bagi saya, berpisah akan lebih membesarkan kerinduan dan cinta, meski saya tahu itu juga durhaka.

Lalu saya ingat sekret dan kamar kosan. Dua hal yang selalu bisa membahagiakan diri saya entah bagaimanapun bentuk raga dan jiwa saya. Keduanya menjadi obat. Keduanya menyediakan kemewahan yang tidak ada di tempat lain, teh tong-tji panas, sleeping bag hangat, kesibukan, kemalasan, dan privasi. Entah saya hanya mencoba melarikan diri atau sungguh keduanya menjadi hal penting di hari ini. Saya tak tahu, pun belum mampu menentukan jawaban pastinya.

Linimasa laman sosial media masih heboh dengan berbagai isu terbaru. Entah latah atau baru-baru ini itu menjadi hal yang paling penting di hidup mereka. Ribut-ribut ini memuakkan, dan tidak hilang rasa muaknya bahkan setelah berkali-kali mencoba untuk mengatakan pada diri sendiri bahwa ini bukan urusanmu. Sementara itu, ada teman-teman Papua yang terus membagikan artikel-artikel pro Papua. Sebuah upaya besar menuntut hak sebagai manusia.

Saya ketinggalan berita tentang beasiswa, penelitian, teknologi, ataupun hal-hal baru ilmu pengetahuan. Tentunya saya juga semakin jauh dengan arsitektur, meski rasa-rasanya juga masih merangkak dalam upaya mendekati antropologi. Sementara sebaya-sebaya saya sudah banyak yang menikah, beberapa menimang anak, lulus profesi, punya konsultan, menerbitkan buku, jadi pembicara sana-sini, masuk koran berkali-kali, atau minimal, mereka memiliki rekan hidup. Sementara saya masih berupaya memperbaiki diri, mencoba mempertahankan usaha, dan mencoba tidak banyak peduli. Seiring waktu, saya semakin yakin bahwa tugas saya hanya mengisi terus laman blog ini. Tanpa peduli siapa pembaca, apa yang dicari, darimana ia, dan untuk apa tulisan-tulisan ini.

Tidak ada rasa, hanya kekosongan malam tanpa musik, emosi yang teredam, wangi indomie yang menguar, dan udara dingin semilir yang baru-baru ini mewarnai Jogja. Suara ketik hape sepanjang huruf demi huruf mulai tertera dalam layar kaca. Ah, sudah berapa lama saya tidak menonton TV? Rasanya saya begitu ingin tertawa menyaksikan vampir-vampir Cina.

Lagi-lagi saya mengeluh tentang hidup, padahal saya tidak menderita sama sekali. Makanan bisa datang bagaikan dikirim dari surga. Air tinggal buka keran. Kepanasan ada tempat berteduh. Butuh tidur pun tinggal melipir ke kasur. Terlalu banyak waktu luang, hingga tidak tahu untuk apa waktu-waktu yang berlebihan. Kadang ketika hujan turun, ada dorongan untuk keluar dan menari di bawah hujan. Mengimajinasikan hidup berkejaran di bawah naungan pohon-pohon besar. Sesekali bergurau di sekeliling api sembari menyesap teh tong-tji. Tak perlu peduli apapun kecuali percakapan dan kebebasan.

Kita hidup dalam ketidaktahuan yang demikian menyesakkan. Kehilangan terlalu banyak hal menyenangkan untuk menuju pemenjaraan. Bisa jadi sekret dan kamar kosan menawarkan hal yang tidak ada itu, sehingga saya begitu mencintai keduanya. Sering saya justru merasa bangga dicap gadis serampangan atau bahkan liar dan tidak mengurus diri. Ah, peduli apa saya pada orang-orang? Kita hanya jiwa-jiwa yang terpenjara pada raga yang terpaksa harus diterima.

Lalu teringat bahwa bumi hanya satu ini. Ketika ia mati, maka tidak ada lagi kami, kita, kamu, saya, mereka, dia, dan semua isinya. Menjaganya sama seperti menjaga raga. Keduanya memiliki batas agar tidak rusak selamanya. Agar mampu istirahat sebelum kembali bekerja. Tapi saya belum melakukan apa-apa pada bumi. Menyapunya tidak pernah, menanaminya dengan pepohonan nihil, membersihkan airnya, atau apapun, tidak satupun saya lakukan. Hanya manusia yang berangan-angan, seolah peduli tapi tak mau mengolah diri.

Saya bingung. Tiba-tiba saya merasa kesepian. Sebagaimana saya memiliki 24 jam dalam sehari, hanya beberapa jam yang mampu saya ingat sebagai kenangan. Selebihnya saya tidak menemukan jejak hilangnya.

Antara saya dan banyak manusia, tentu saja bukan saya yang paling menderita. Saya toh bukan siapa-siapa, yang perannya juga belum dituliskan oleh penguasa semesta.

Entahlah, rasanya terlalu hening bahkan ketika ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Bahkan saat anggota badan bergerak, ada bagian hening yang tetap bertahan. Entah itu apa, entah dimana, entah kenapa.

Biarlah, saya ingin kembali ke dunia mimpi saja. Letak kebebasan dan bahagia berpilin menyatu tanpa ragu.

wordsflow