WORDS FLOW

setiap pengalaman pantas untuk diingat

talking randomly


It is quite interesting talking about life. Why does this topic suddenly come up? Like, after all these time?

Banyak ‘seandainya’ di dunia ini. Dan saya sebel betul setiap kali kata itu mulai bercokol di kepala saya, apalagi kalau hari-hari telah begitu menganggur semacam ini. Beberapa hal begitu mengganggu sampai saya sendiri bingung menghadapinya. Well, but everything looks great and times keep moving sih.

Barangkali ada begitu banyak hal yang masuk kategori well-that’s-not-your-business-at-all, tapi bersamaan dengan hal itu tetap saja ada bisikan ‘it’s always right to think about everything’. See, perdebatan itu tiada akhir dan terus aja begitu sambil tetap melakukan sesuatu, sampai mati, sampai sudah tidak peduli.

Menggelitik sekali menceritakan tentang diri sendiri. But I realize that maybe secrets are great. Jadi, mari lanjutkan ngomongin yang lain, yang agak lebih penting.

Baru saja saya memantau lini masa twitter saya dan menemukan komentar nyinyir seseorang ke akun seorang teman saya. Hal-hal berbau nyinyir sudah bukan hal yang asing di hari ini. Nyinyir sana, nyinyir sini, bahkan tidak jarang nyinyir ke diri sendiri. Saya menyimpan beberapa kalimat menarik di dalam pikiran saya, misalnya ‘love yourself before you love others’, ‘there’s always cracks in every good plan’, and so on. Kenapa penting? Untuk menghindarkan diri sendiri dari melakukan hal-hal bodoh.

Oke, kembali ke twitter.

Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah ternyata begitu rendah. Barangkali itu yang bisa saya lihat dari berbagai lini masa dan perbincangan sehari-hari. Kadang kala bingung juga kalau membicarakan hal yang berada di luar diri sendiri. Tapi sebetulnya, saya pribadi masih cukup mempercayai pemerintah. Dalam artian yang paling sederhananya saya merasa bahwa pemerintah masih dibutuhkan. Barangkali ada juga cita-cita untuk membentuk munisipal-munisipal sebagaimana kata Mbak Janet Biehl, tapi saya saja belum berhasil bercocok tanam sendiri dan punya kolam ikan. Maka, agaknya saya memilih untuk tetap realistis berusaha untuk menjadi warga negara yang baik.

Kadang ada perdebatan di dalam pikiran saya, apakah mencoba mematuhi peraturan akan membuat saya tampak terlalu penurut? Satu dari beberapa kepribadian yang digemari kan? Tapi di samping itu, saya sendiri merasa bahwa itu jalan paling awal yang bisa membuktikan dampak dari sebuah implementasi. Artinya, jika sedari awal tidak ada yang berusaha mencoba dengan maksimal suatu gagasan atau konsep, sulit sekali membuatnya berhasil atau bertahan. Bahkan untuk bisa ke tahap evaluasi aja belum tentu bisa maksimal.

Begini, saya pikir penting untuk menyimpan kritik dan protes setelah melaksanakan semua kewajiban dengan baik. Banyak contohnya, dan agaknya saya tidak perlu membicarakan panjang lebar soal contoh. Demikian, jika ada sebuah konsep atau gagasan baru yang dapat kita upayakan untuk akhirnya mampu menampung hal-hal yang akan kita kritisi, sangat baik untuk bisa mencerna terlebih dahulu bagaimana prosedurnya. Penting juga lagi-lagi, untuk selalu mengecek argumen pribadi mengenai hal yang akan dikritisi.

Semua persoalan kiranya adalah sebuah keterbelitan yang rumit atas berbagai aspek yang ada. Oleh karenanya, inti persoalan akan sulit untuk dilihat jika hanya mengandalkan satu aspek saja. Contoh yang sedang heboh; banjir Jakarta. Tapi di samping itu, karena berpikir itu membutuhkan proses, lebih-lebih sinkronisasi, maka barangkali ketika sebuah sintesa ditemukan, persoalan telah jauh meninggalkan. Demikian, hal yang praktis dan segera selalu menjadi pilihan yang menarik. Akhirnya juga, hal-hal itu sifatnya hanya menjadi sementara saja.

Beberapa persoalan lain yang mampir ke pikiran saya adalah soal proses daur ulang sampah. Sekiranya, saya harus meminta maaf terlebih dahulu karena saya masih belum menjadi orang yang cukup concern dengan permasalahan sampah ini, dan belum melakukan apapun atas semua ide di dalam pikiran. Tapi, satu hal yang saya garis bawahi soal pengelolaan sampah, saya pikir ada beberapa miskonsepsi soal mendaur-ulang.

Begini, harus kita pahami betul bahwa segala hal yang ada di dunia ini dimulai dari bumi dan segala isi perutnya. Kadang hal itu membuat saya berpikir sebaliknya, barangkali semuanya kemudian juga dapat dikembalikan lagi sebagai simpanan sumber daya ke depannya. Gagasan ini, saya yakin sekali sudah pernah dipikirkan oleh ilmuwan. Hanya saja saya belum menemukan pembahasannya.

Barang pertama yang dihasilkan dari raw material adalah barang berkegunaan yang kita gunakan sehari-hari. Ada beberapa proses daur ulang yang banyak kita jumpai. Barang>sampah>barang>sampah>dst, atau raw material>barang>sampah>raw material>barang>sampah>dst. Sampah besar, misalnya sampah kapal dikembalikan menjadi raw material dan sekali lagi dapat digunakan untuk segala jenis kebutuhan dengan bahan yang sama. Barangkali kualitasnya menurun, namun keberadaanya membuat siklus itu sekali dapat diulang dan barangkali juga, dapat mengurangi kebutuhan raw material yang harus diambil dari perut bumi.

Namun proses daur ulang yang marak diperbincangkan adalah membuat kerajinan daur ulang, beritanya marak dimana-mana loh. Namun sayang sekali, bagi saya yang begitu hanya menunda statusnya sebagai sampah, atau sekedar memindahkan sampah itu ke tempat lain (ke derajat yang lebih tinggi). Oleh karenanya, hampir tidak pernah saya membeli barang semacam itu kecuali kertas daur ulang. Hal yang demikian membuat saya yang berpikir dapat mengganti fungsi kerudung tidak terpakai saya menjadi kantong barang urung saya laksanakan. Lebih karena saya merasa bahwa potensinya menjadi sampah jauh lebih besar dibandingkan tetap saya gunakan sebagai kerudung.

Mungkin juga karena saya telah terlalu berpikir industrial, saya kira mendaur ulang di skala kerajinan tidak akan memberikan hasil yang kita idamkan. Mengurangi jelas, hal itu tidak saya ragukan. Tapi untuk membangun cita-cita yang lebih tinggi soal manajemen sampah, barangkali mulai berprinsip untuk mengurangi sampah apapun atau tidak membiarkan sampah keluar dari rumah adalah gagasan yang jauh lebih meyakinkan.

Lagi-lagi, saya memang baru sekedar membicarakan ini di sini. Saya pribadi belum lagi menghitung berapa besaran sampah yang saya hasilkan setiap harinya, atau memastikan bahwa sampah-sampah tersebut berhasil saya kelola secara mandiri. Jujur saja, sulit sekali menjadi konsisten perihal sampah ini. Kadang saya bahkan lebih yakin untuk membakarnya saja dibandingkan membuangnya ke tempat sampah umum.

Apakah energi yang dibuang dan karbon yang dihasilkan untuk membakar sampah jauh lebih besar dibandingkan energi yang dibuang dan karbon yang dihasilkan dari mesin daur ulang untuk mengolah jumlah sampah yang sama ditambah metana dari hasil pembusukannya?

Pertanyaan itu sering saya pikirkan, tapi selalu tidak saya niatkan untuk sungguh ditanyakan, dihitung, dan dipastikan sendiri, hehe. Barangkali ada yang mau membantu saya?

Bermodal pertanyaan itu, seringnya saya jauh lebih pede membakar sampah daripada membuangnya ke penampungan sampah. Ah, tapi mari merencanakan pembuktian hipotesis ini, nanti.

Hemm, cukup banyak ceracau malam ini. Jadi, saya cukupkan ya, biar ndak bosan.

wordsflow

Advertisements

words, feelings


Sitting here in the middle of the night, I suddenly miss you.

I sometimes think that people’s hearts are like deep wells. Nobody knows what’s at the bottom. All you can do is imagine by what comes floating to the surface every once in a while. (Haruki Murakami)

Sometimes words felt so real that I thought everybody on this Earth had been ever felt the feeling I  felt. But then I realized that words merely words, and not more than that. Other time, I knew that through words, we tried to make the world understandable from time to time, we learned to exchange information between people.

I want to see what will happen next. I want to feel more about myself and everything around. I want to learn how to be a human by keeping contact with another human. I want to make sure that life always worth to be through.

So, instead of being worried about everything, I try to be sure that heart will be fine no matter happens. The traps of ‘what-if’ stuff, the dreams of unidentified scenario, the fears of unexpected surprise, and so on, were like dark clouds above the sea of feelings.

Heu, sometimes the human heart is so fragile that needs a warm hug to get rid of the storm inside.

wordsflow

Mother and her ID card


This is a story about my mom on her last flight to Jakarta. I did not know about her activities actually, but making jokes about our stupidity is so common in my family. Just like when you and your friends joking around about life, that’s how we did it too.

I visited my sister last night, we have some chatters about what was happening in our life recently. My sister suddenly remembered about the story because my mom needs to go to Jakarta again by tomorrow.

Oke, mari cerita dalam bahasa campur-campur aja deh ya.

Jadi perlu saya ceritakan personality background masing-masing tokohnya. Yang pertama adalah ayah saya yang anti hand phone. I’ve got no idea about this anti-hand phone behavior that my dad has. Pokoknya ayah saya tidak dapat dihubungi kecuali melalui ibu saya. Segala urusan jarak jauh dengan ayah saya hanya bisa dikomunikasikan melalui ibu saya atau, silahkan berkunjung langsung ke rumah kami. Intinya begitu lah ya. Saking ribetnya urusan ini, ibu saya sampai harus masuk ke semua grup ayah saya, pun ibu saya hafal semua rekan ayah saya dan urusan-urusan yang berhubungan dengan ayah saya.

Ibu saya tipikal orang yang entah bagaimana adalah orang yang selalu berusaha well-prepared. Somehow I just realized that I do copy her so much about these personality stuffs. She is quite ambitious about everything (just like me, right? Hehe), and so she had several things to do about her job. Karena ibu saya orang yang well-prepared, beliau cukup sukses menjalani karirnya menjadi guru. Ya begitulah singkatnya.

Kakak saya sementara itu, adalah orang yang cukup ceroboh dalam berbagai hal. Namun demikian, orang ini yang saya kira paling progresif di antara kami yang tiga bersaudara. Kakak saya tidak pernah menjadi anak yang terlalu menonjol, but he did something, quite big to be remembered by people around him. Tapi kecerobohannya menjadi hal yang selalu ditandai oleh ibu saya.

Di hari itu, ibu saya sudah diantarakan pagi-pagi sekali oleh kakak saya ke bandara. Ketika mau check-in, ibu saya baru tahu kalau ia membutuhkan KTP dan ibu tidak membawanya! Tidak ada kartu identitas yang dibawa oleh ibu saya.

Asal tahu saja, jarak rumah kami ke bandara sejauh 30 km, dan jarak itu dapat ditempuh paling cepat 45 menit tanpa macet berlebih.

Ibu saya dalam kepanikannya sebetulnya berusaha menelepon ayah saya. But sadly my dad got no cellphone. Jadi, ibu menghubungi teman-teman ayah saya melalui grup whatssapp dan begitulah kabar itu sampai ke ayah saya. Sementara ibu saya tidak yakin dengan pesannya ke ayah saya, ibu meminta kakak saya yang juga sedang mengajar untuk pulang ke rumah. Dua orang ini harus menempuh minimal 15 menit ke rumah saya. Anehnya kedua orang ini tanpa koordinasi sama-sama kembali ke rumah untuk mencari si ktp dan berusaha membawakannya untuk ibu saya.

My dad win the battle, demikian kakak saya kena zonk waktu sampai rumah. Menurutnya itu kesia-siaan yang konyol. Dengan heroik ayah saya mengantarkan si ktp ke bandara dengan kecepatan tinggi. Intinya ayah sampai tempat waktu di bandara dan berhasil mengantarkan ktp ibu saya.

The funny part is that my mom accepted the ID card and said nothing to my dad. Literally not a word. She took the ID card and rushed to the check-in counter.

My sister busted out of laugh the first time she heard the story, just like I did a while ago. My dad had been that nice guy since I knew him. Of course, there is another time he wasn’t like that, but most of the time my dad became so lovely guy.

Ada waktu-waktu semacam ini yang membuat saya sering memikirkan how is it, to have my own family? Bukan hal yang sungguh-sungguh touchable buat saya, ada jarak yang entah sejauh apa antara realita, pikiran, dan imajinasi semacam itu.

But then, I was questioning (like again and again, it was never ending) about ‘what is love’. The more I think about it, the more I couldn’t understand the answer I seek, or what do I actually want.

People said that love and marriage are different, like something distinct to each other. But somehow I believe that we have to define it in the way we believe in ourselves. I mean, if I do believe that love needs to take part in the marriage stuff or else, why not? There are thousands of people who got married yet they all didn’t have same stories. So why bother to have one that is mine?

But yeah, I thought I’ve left it without any expectation. So, cheers!

wordsflow

Munisipalisme Libertarian


Mari membahas sebuah buku yang akhirnya mampu saya selesaikan setelah sekian lama teronggok ketika saya sedang ada di lapangan. Anehnya, saya justru merasa jauh lebih mudah memahami si buku dalam perjalanan saya dari Bandung ke Jogja dengan menggunakan kereta. Padahal di awal saya mencoba memahaminya, saya bisa beberapa kali membaca satu paragraf yang sama tanpa memahami maksudnya. Hal semacam itu sering terjadi ketika membaca buku sih, hoho.

Tidak dapat dikatakan sebagai buku yang mudah untuk dipahami. Ada beberapa bagian yang menurut saya cukup sulit untuk mampu saya bayangkan atau saya pahami lebih dalam. Beberapa bagian lainnya terlampau mudah karena merupakan narasi atas utopia yang telah banyak dipikirkan oleh manusia di hari ini.

Ah, sebelumnya barangkali saya harus menjelaskan bahwa saya tidak akan terlalu banyak memberikan pendapat pribadi mengenai si buku. Dalam artian, beberapa pendapat yang akhirnya saya utarakan di sini merupakan pendapat yang sedikit banyak berada di luar buku tersebut. Mungkin. Beberapa kutipan yang menurut saya cukup penting akan saya sajikan sebagaimana adanya tanpa adanya penambahan dan pengurangan. Pun saya akan membiarkan saudara-saudara pembaca memberikan tanggapannya masing-masing untuk diri Anda sendiri.

Bagaimanapun anehnya sebuah narasi, utopisnya sebuah gagasan, atau bentuk ketidakmungkinan lain yang mampu ada seharusnya patut kita pikirkan terlebih dahulu sebelum kita memberikan penilaian atau justifikasi terhadap hal-hal tersebut.

Sebelum melangkah ke sana, saya pikir saya perlu sekali memberikan cerita mengapa saya sampai membaca buku ini.

Ada waktu di mana saya memikirkan secara penuh mengenai kehidupan yang dijalani oleh manusia-manusia di seluruh dunia di hari ini. Dibandingkan mengganggap bahwa dunia ini telah berada di bawah rezim pasar secara menyeluruh, saya lebih suka mengganggap bahwa kita masih berada dalam posisi transisi. Artinya, tidak semua yang ada di sekitar kita merupakan produk-produk kapitalis, dan jika kita lebih suka menganggap bahwa semua yang berasal dari kapitalisme adalah hal buruk, maka harus saya katakan bahwa kemudian, semuanya menjadi tidak sepenuhnya buruk.

Kadang karena begitu dekatnya seluruh hal dengan kapitalisme, segalanya menjadi seolah-olah bersifat kapitalistik, contoh yang paling penting barangkali adalah teknologi. Bagi saya sendiri, teknologi adalah hal yang sebetulnya berdiri sendiri. Namun di hari ini teknologi begitu identik dengan modern, sementara modern identik dengan industrialisasi dan akhirnya rezim pasar. Padahal, teknologi adalah hasil dari buah pengetahuan manusia sehingga ia bukan merupakan hal yang berada sepenuhnya di bawah kapitalisme.

Di hari ini, kadang saya merasa bahwa seolah-olah, ketika membahas upaya untuk menyingkirkan kapitalisme, orang cenderung mengarah untuk kembali ke cara hidup tradisional yang selama ini dilalui oleh nenek moyang kita. Seolah-olah masih menggunakan teknologi sama halnya mendukung kapitalisme itu sendiri. Tapi tunggu dulu, teknologi ada sejak dahulu meski dalam bentuk yang masih jauh dari praktis dibandingkan hari ini.

Masyarakat hari ini telah mengembangkan begitu banyak hal mulai dari jarum hingga kapal induk misalnya. Semua penemuan adalah pengembangan teknologi dari yang lampau. Benar, teknologi adalah bagian dari kebudayaan, dan karenanya seharusnya ia merupakan hal yang terlepas dari bayang-bayang kapitalisme.

Saya pribadi sering kali merasa bersalah ketika diskusi untuk mengkritik kapitalisme namun masih menikmati dan barangkali yang juga menghidupi kapitalisme itu sendiri. Semua hal yang sebetulnya menyamankan hari-hari saya adalah hal-hal yang menghidupi kapitalisme. Namun lagi-lagi, teknologi bukanlah kapitalisme, pun ekonomi. Oleh karenanya sebetulnya mengapa saya harus merasa bersalah dengan semua hal yang saya nikmati?

Barangkali selama ini sebetulnya saya mencampuradukkan segala hal berbau modern sebagai sesuatu yang identik dengan kapitalisme. Atau, saking seringnya verba itu digunakan, saya jadi sering keliru memahami kapitalisme itu sendiri.

Ada dua hal yang tidak saya suka dari kapitalisme, pertama soal eksploitasinya, yang kedua soal ketimpangannya. Untuk masalah kepraktisan, oke lah saya memang menganggap bahwa kapitalisme itu enak banget loooh. Tapi dua hal tadi membuat saya gregetan namun susah juga kalau tiba-tiba ditodong solusi.

“Sebagai pengganti masyarakat shopping mall, kita harus menyusun masyarakat terdesentralisasi, yang di situlah ‘rumah’ kita, lokal kita, menjadi seotonom mungkin semampu kita. Kita harus membangun pabrik-pabrik lokal yang menggunakan alat-alat sederhana. Kita harus menciptakan koperasi-koperasi loka, seperti kerjasama pangan. Kita harus bercocok tanam untuk pangan kita sebanyak mungkin. Kota harus membuang uang jika kita bisa dan mengadopsi barter atau alternatif pembayaran. Komunitas-komunitas lokal yang mampu memenuhkan kebutuhannya sendiri mungkin akan bisa bertahan, di luar arus utama masyarakat. Perlahan-lahan komunitas-komunitas tersebut akan berkembang-biak menciptakan masyarakat manusiawi yang ramah lingkungan.” (hal. 152)

“… munisipalisme libertarian berupaya memperkuat kembali tingkat lokal, ia juga menilai kemandirian terisolasi sebagai sesuatu yang tidak sempurna dan menyedihkan.” (hal. 153)

“Tanpa ekonomi kapitalis, yang tuntutan ‘tumbuh dan mati’-nya merupakan kekuatan utama di balik krisis ekologi, warga akan bebas untuk membangun kembali ranah sosial mereka sepanjang batas-batas ekologis. Kota-kota besar secara fisik dan secara institusional bisa didesentralisasi. Kota kecil dan pedesaan dapat diintegrasikan ke dalam sebuah keutuhan tergabung dan konflik historis di antara mereka akan terhapuskan. Bahan bakar kotor pasti akan dihilangkan, digantikan dengan sumber-sumber daya energi yang bersih dan dapat diperbaharui, bahkan dalam produksi pabrik. Dunia non-manusia tidak akan lagi dipahami sebagai dunia yang penuh dengan kekurangan, sebagaimana kapitalisme menganggapnya seperti itu saat ini—dengan terlalu sedikitnya sumber daya yang mesti diperjuangkan demi dominasi satu terhadap lainnya—melainkan sebagai dunia produktivitas dan kemajuan evolusioner menuju keberagaman dan kompleksitas.” (hal. 212)

Kutipannya cukup segitu aja ya, sudah cukup menggambarkan sih. Kayaknya lho yak.

Janet Biehl melalui Munisipalisme Libertarian sebetulnya berupaya untuk mewujudkan demokrasi yang benar. Menurutnya, politik hari ini telah melenceng terlalu jauh dari semangat politik yang sesungguhnya. Personal is political, akhirnya saya memahami maksud dari kalimat ini. Sepanjang buku itu, Biehl mencoba memberikan gambaran bagaimana cara mewujudkan munisipal-munisipal itu sehingga kita akan hidup di dalam dunia yang lebih demokratis dan adil, tanpa adanya negara. Terdengar indah, memberi harapan, namun hal itu ia akui sebagai sesuatu yang utopis. Ya nggak jauh berbeda dari cara saya berandai-andai sih, namun ia menuliskannya dalam buku dengan struktur yang benar. Jauh berbeda dong dari saya.

Saya pribadi suka dengan gagasan itu. Namun sekali lagi, negara ini belum sepenuhnya kapitalistik atau sekronis itu. Ada banyak simpangan dan retakan di dalam elemen terkecilnya. Dan banyak desa di Indonesia yang merupakan perwujudan munisipal yang diidamkan oleh Janet Biehl. Dianya aja yang belum ke Indonesia kan.

Di balik gagasannya, saya pikir Janet Biehl melewatkan bahasan mendasar di bagian paling awal bukunya, yaitu soal manusia. Seluruh gagasannya mensyaratkan satu hal, bahwa semua orang harus dapat berpolitik dengan benar dan mampu memahami manusia lain dengan baik. Sayangnya, ia melupakan soal ketimpangan, bahwa manusia dilahirkan dengan kemampuan yang tidak sama. Dan bukankah hal itu memang sungguh nyata? Tanpa itu, segala gagasannya mudah runtuh karena toh akhirnya seluruh aktor di dalamnya akan merusak harmonisasi itu.

Kadang saya merasa bahwa masyarakat kota jauh lebih sakit dibanding masyarakat desa. Kita yang hidup di kota menjadi pihak dengan ketergantungan lebih tinggi, hal yang paling mendasar deh, logistik. Tanpa adanya jaringan di luar kota yang berproduksi sepanjang tahun, kita nggak akan bisa makan. End.

Jadi, sebaiknya bagaimana?

Just make sure that we’ve been doing the best that we could. Don’t blame others for not doing something like what you’ve done, they have their own parts. In case you don’t have the same belief with your friends, pray for their safety and health. Don’t judge, don’t blame.

Manis sekali kan kalimat saya? Tentu saja di balik semua ini ada begitu banyak pekerjaan yang belum saya selesaikan. Semua hal ini, dan semua tulisan sebelumnya, merely self-reminder notes rather than for others.

Ada penggusuran di Kulonprogo untuk pembangunan bandara baru. Ada kemuakkan karena perebutan sumber daya yang tidak pernah ada habisnya di hari ini. Dari waktu ke waktu kita tidak pernah kehabisan berita tentang hal itu. Dan berapa orang yang terluka dan menderita di luar sana? Banyak.

Seorang adik kelas saya pernah menulis, ‘Even if we say we love Earth, we would not be there when something bad happen to this Earth, we definitely could not do something to help. We all the 7 billion peoples are actually nothing. This Earth is all alone these whole time.’

Random yak? As always.

wordsflow

The Handmaid’s Tale


Saya jarang sekali membahas mengenai film. Boleh jadi saya masuk golongan yang tidak terlalu peduli dengan film, dan cenderung memilih kartun atau animasi untuk ditonton. That’s how I missed the fun part, hehe.

Tapi belakangan saya menonton film. Beberapa film. Terakhir saya menyempatkan diri menerima ajakan nonton Murder on The Orient Express, salah satu cerita karangan Agatha Christie yang paling saya suka. Btw, saya baru tahu kalau suami Agatha Christie seorang arkeolog, dan dia sering ikut si suami penelitian. There she got enough data for her story, right? Ketika saya membacanya, alih-alih menontonnya, saya begitu terpesona dengan ceritanya. Tapi ada hal yang berbeda antara membaca dan menonton film.

Dalam buku, sulit membuat ekspresi terceritakan karena proses bercerita membutuhkan waktu, sehingga ada jarak antara kemunculan ekspresi dan munculnya imaji di dalam pikiran pembaca. Readers need more imagination than how it seems. Apalagi penulisnya. Film dapat mengekspresikan citra, suara, dan momen dalam satu waktu yang sama. Buku harus melakukannya secara berurutan. Jadi, bukankan sebetulnya novel itu sangat menawan jika mengingat segala kesulitan itu?

Cerita itu mengajarkan hal yang cukup gamblang (disebut juga berulang kali dalam film) bahwa satu kejadian bisa menghancurkan banyak jiwa, dan akhirnya menimbulkan dendam. Not only happen in the film. We have that thing every day in our life. Hanya tarafnya saja yang berbeda. Hurting and being hurt is like a natural thing, but it shouldn’t be like that for God sake.

So, am I the good person here? No, I am hurting some people around me too, I have to accept. I just never heard they talked about it directly in front of my eyes.

Lalu, bagaimana si Handmaid’s Tale ini?

Jika saya masih dalam tahap ribut-ribut mendefinisikan perasaan dan sekitarnya, film ini sudah jauh beranjak ke hal yang barangkali tidak terpikirkan. Berlatar di Amerika, ketika itu bayi sudah tidak dapat lahir dengan mudah di seluruh dunia, populasi menurun karena angka kelahiran yang kecil. Beberapa bayi yang lahir tidak dapat bertahan karena kondisi yang buruk. Demi ‘menyelamatkan’ dunia, beberapa orang penting (saya lupa sebutannya apa) mengubah cara hidup mereka.

Para perempuan yang subur dan mampu melahirkan diambil sebagai orang yang akan melahirkan generasi selanjutnya. Mereka dikirim ke rumah-rumah para majikan untuk melahirkan anak-anak mereka. Sangat menarik karena mereka menggunakan kitab suci sebagai dasar berubahnya cara hidup. And they totally thought they did something good.

Tidak ada nama asli bagi para handmaid, mereka mendapat nama dari majikannya. Misal majikannya bernama Fred, mereka akan dipanggil Of-Fred (Offred). Tugas mereka sulit, ditinggikan namun bukan pemilik kekuasaan. Dan target utama mereka hanya satu, menghasilkan anak untuk majikan mereka.

Terlepas dari apapun yang terjadi di dalam film ini, saya menikmati menjadi orang ketiga serba tahu. Sama seperti membaca buku, feels like I know everything, and I can relate to anything I want. But then I realize that I am not the author either. Seperti itu juga hidup. Barangkali saya merasa paling tahu apa yang terjadi di sekitar saya, lagi-lagi, I’m not the author, I’m just a reader.

Seeing film was like learning to change our perspective. Life is not an exact phase, there are something else ahead. Something we never know unless it happen. Again, it made me thought that every time, I’m not the main actress of this life. We are the actor and actress in our own, but beyond that, we are merely someone else in anyone’s life.

“How to make somebody live forever?”

“When they are being remembered by the peoples who love them. As simple as that.”

wordsflow

Amateur


Let say, saya kira cukup banyak orang yang berbangga karena berhasil mempelajari sesuatu secara otodidak dibandingkan memperoleh pengetahuan tertentu secara ‘resmi’ melalui pendidikan atau pelatihan tertentu. Well, why? Ada semacam kebanggaan tertentu (barangkali yang saya rasakan) ketika mendapati bahwa nalar dan logika saya mampu memahami suatu gagasan secara mandiri dan melalui proses berpikir tanpa ada intervensi dari orang lain. Atau katakanlah lebih bebas kali ya. Tapi, tentu saja hal itu selain membanggakan juga sama membahayakannya.

Kita sudah melihat begitu banyak orang yang seenaknya saja like and share beberapa artikel yang menurut saya memiliki cacat logika di dalamnya, penuh kontradiksi, dan standar ganda. Sebagian contoh memperlihatkan bahwa tidak semua orang mampu memahami gagasan dengan sempurna (dalam artian tidak memiliki cacat logika di dalamnya).

Baru-baru ini saya dijejali pemahaman mengenai flat earth oleh seseorang yang sebetulnya tidak saya kenal. Kami hanya tidak sengaja membicarakan ilmu pengetahuan dan voila, saya terseret arus pembicaraan itu sampai akhirnya saya menggandakan videonya bergiga-giga untuk bisa terbebas dari si bapak.

Bicara soal flat earth ini sungguh sangat menarik sebetulnya. Tentu saya pun tergelitik dengan pengetahuan mengenai tempat tinggal kita. Agak ngeri juga membayangkan bumi kita melayang-layang di ruang antara yang kalau ketabrak meteor besar, yaudah deh, bye! Jadilah, gagasan mengenai konsep bumi datar muncul sebagai sesuatu yang agaknya ‘melegakan’ manusia di hari ini sehingga kemunculannya menjadi semacam angin segar. Belum lagi bahasan mengenai bumi datar dianggap sesuai dengan bahasan mengenai bumi di dalam kitab suci.

Di sisi lain, nyatanya orang-orang yang menolak gagasan bumi datar tidak mampu menjawab beberapa pertanyaan dari para pengikut bumi datar. Dari yang saya perhatikan, mereka justru cenderung menjawab dengan jawaban yang juga tidak masuk logika. Ya nggak semua sih, cuman yang sering ribut di sosial media saja yang saya perhatikan.

Di samping seluruh perdebatan ini, sebetulnya saya pun memiliki beberapa pertanyaan baik soal gagasan bumi bulat dan bumi datar. Tapi seperti kata teman saya, bukan hanya perkara jawaban yang penting, membuat pertanyaan yang baik dan tepat pun sama pentingnya. Masalahnya, pendukung bumi datar terlalu fanatik dengan keyakinan mereka sehingga cenderung menolak segala gagasan yang berasal dari pengikut bumi bulat. Sebaliknya, pengikut bumi bulat cenderung tidak mau mendengar gagasan baru tersebut.

Bagi saya, kedua keyakinan itu memiliki perbedaan yang amat sangat jauh. Akan sangat berbeda antara meyakini bumi bulat dan bumi datar, dan implikasinya tidaklah sederhana, sangat tidak sederhana. Saya mendukung orang-orang yang berupaya untuk membuktikan keyakinan mereka, apapun itu. Tentu saja asal orang lain tidak memperoleh dampak buruk dari hal itu.

Sejarah ilmu astronomi sangatlah panjang dan berdarah-darah. Butuh puluhan tahun hingga teori relativitas umum dan mekanika kuantum muncul sebagai teori yang belum terbantahkan. Ada banyak perdebatan, pemodelan, pengamatan, dan pembuktian hingga berbagai teori itu dipercaya sebagaimana adanya di hari ini. Tentu saja untuk membalikkan seluruh teori itu, setidaknya butuh upaya yang sebanding. Dan jika ilmuwan-ilmuwan bumi datar sanggup melakukannya, akan ada begitu banyak hal yang berubah di dunia keilmuwan kita.

Fanatisme ilmu pengetahuan ketahuilah, adalah hal yang sebetulnya membuat sebuah ilmu bertahan. Ada sisi yang membuat saya pribadi yakin bahwa menjadi fanatik atas suatu ilmu itu baik. Kita membutuhkan orang semacam itu, yang tidak pernah lelah, yang selalu bersemangat, yang selalu memberikan waktunya untuk bidang ilmu tertentu sehingga si ilmu dapat terus berkembang, dan akhirnya memberi manfaat ke orang lain. Di setiap bidang ilmu selalu ada orang yang seperti itu. Maka, datangi mereka dan pelajari ilmu itu tanpa membantah. Selama tidak ada yang dirugikan dari perkembangan ilmu masing-masingnya, bagi saya semua fine aja.

Ada keirian ketika menemukan orang yang saya kenal begitu teguh pada bidang ilmunya. Mereka sungguh mengagumkan. Di sisi lain, saya pikir sungguh menarik betul cara dunia ini bekerja. Bahwa akan ada orang yang sangat baik dalam memahami satu bidang tertentu, ada lagi orang-orang praktikal yang tekun di bidangnya, ada orang yang akhirnya menyingkir untuk menemukan dirinya sebagai manusia seutuhnya, ada pemusik yang terus bermusik, atau seniman yang terus berkarya, lalu ada amatir-amatir macam saya yang berwisata di segala hal yang saya suka, dan seterusnya.

Pada titik tertentu, ketika kita telah begitu penuh mempelajari sesuatu, kita akan sampai pada pertanyaan yang lebih esensial mengenai dunia ini. Saya pikir, bidang ilmu hanya sebuah pintu masuk untuk mencapai pemahaman menyeluruh mengenai segala hal. Kemudian kita akan sama-sama menjadi bijak dalam menghadapi berbagai hal yang tampak atau yang akan datang.

Tapi tidak segala hal itu pasti. Ada ketidakpastian sejarak satu satuan waktu di depan kita. Tidak semua orang baik, tentu saja. Tapi meniadakan kemungkinan itu lain soal lagi.

Jared Diamond sempat membahas bahwa di dunia ini ada suku-suku yang lebih kolot dan tertutup dibanding suku yang lainnya, dan hal itu tersebar di seluruh dunia. Banyak contoh yang menunjukkan bahwa ada manusia yang membenci orang lain namun begitu mencintai keluarga mereka. Atau barangkali, orang-orang yang membenci semua manusia tapi mencintai diri mereka sendiri. Tapi tidak ada kepastian di dalamnya. Manusia lebih sering menciptakan sendiri negasi dari keyakinan mereka akan sesuatu kan. Lucu ya.

Ini ngebahas apa sih?!

Begini, bahkan meskipun ada keyakinan bahwa semua profesional bidang ilmu akan sampai pada kebijaksanaan tertentu mengenai dunia dan seisinya, tetap saja ada hambatan dan simpangan yang membuat hal itu tidak akan pernah seideal yang saya harapkan. Kadangkala dibandingkan menantang diri sendiri untuk terus berkembang, manusia lebih suka melakukan repetisi. Akhirnya mereka jalan di tempat. Oleh karenanya, tidak masalah menjadi amatir di banyak bidang ilmu karena lagi-lagi, belum tentu melalui satu pintu bidang ilmu kita dapat mencapai kebijaksanaan yang saya maksud tadi.

Perkaranya bukan soal menjadi ‘yang paling’ atas semua orang, tapi lebih dari itu, terlalu banyak standar ganda di dunia ini yang membuat kita merasa terluka bukan? Setiap kali ada satu kolom berita yang menceritakan penderitaan, seolah tidak tahu harus ke mana mengadu, atau bagaimana bisa berbuat sesuatu. Jika saya berdoa dan meyakini bahwa itu kehendak Tuhan, apakah itu terlalu pragmatis? Tidak ada yang paling benar lagi-lagi. Ada banyak perdebatan di dalam pikiran saya dan belum lagi saya sampai pada tahap akhir untuk menarik satu kesimpulan tertentu.

Tapi saya pikir pikiran memang harus selalu ditenangkan dengan berbagai hal. Ada kalanya saya merasa begitu kecil, tidak berguna, dan tidak berperan apapun. But ‘don’t be so hard about yourself’ they said. ‘Keep calm because you are special’. Naif sih, tapi menenangkan, hehe.

Dalam beberapa hari, saya akan menulis beberapa hal yang barangkali tidak terlalu penting. Mumpung saya masih kepikiran aja. Jadi, jangan lelah berkunjung ke blog ini. Selamat siang.

wordsflow

Mind


Akhirnya saya melakukan perjalanan siang hari dari Jakarta ke Bandung dengan menggunakan kereta. Saya selalu membayangkan pemandangan yang menyenangkan, menenangkan, dan romantis sepanjang perjalanan itu. Dan bersyukur sekali karena hal itu memang sungguh demikian sebagaimana yang selama ini saya bayangkan.

Saya tidak dapat mengesampingkan berita-berita terhangat soal kota kelahiran saya. Di luar yang saya harapkan, saya merasa tidak ada hal yang ingin saya lakukan kecuali berkabar dengan keluarga saya dan mendoakan mereka. Semoga semua diberikan keselamatan.

Dua hal itu, adalah contoh ekstraksi pemikiran saya yang terkungkung dalam ruang dan waktu. Dan tidak bisa tidak, pemikiran dipengaruhi sungguh-sungguh oleh dua hal tersebut.

Katakanlah ketika saya sedang berada di dalam kereta menuju Bandung, saya dapat menikmati keseluruhan hal yang saya lihat di luar jendela. Saya pikir romantis sekali menikmati laju kereta melewati halaman rumah orang lain atau membelah sawah orang lain, sementara hujan mengetuk jendela. Sementara itu, di luar sana ada warga desa yang tetap mengerjakan sawah dan kebunnya tanpa menoleh ke kereta yang lewat. Ya, bagi saya segala hal yang saya lihat adalah citra yang menggugah romantisme. Bagi warga desa, hal yang saya lihat adalah kehidupan mereka dimana kerja keras terwujud menjadi hasil bumi untuk mereka makan. Barangkali, salah satu di antara mereka tidak pernah menaiki benda yang saya anggap menyenangkan itu. Pun demikian bisa jadi mereka sama sekali tidak tertarik untuk menaikinya karena tidak tahu bagaimana caranya atau, hidup mereka telah terlalu sibuk dengan kehidupan harian mereka.

Ada jarak yang begitu jauh yang terbentuk antara dua pemikiran manusia, bahkan yang berdekatan sekalipun.

Saya begitu tertarik dengan detil. Ada hal-hal yang tidak dapat terlihat kecuali kita betul-betul memahami detilnya. Bangunan, makhluk hidup, tempat, suasana, manusia, atau apapun, bagi saya menyenangkan untuk dipandangi dan diamati dalam waktu lama. Hanya saja, saya menyadari bahwa ingatan saya tidaklah baik untuk hal-hal yang menurut saya tidak berkesan atau tercerai dari konstruksi besar pemahaman hidup di dalam pikiran saya.

Begitu banyak kosakata yang saya lupakan atau tidak saya gunakan ketika menulis semacam ini, berbagai pengetahuan praktis dan teoritis yang pernah berulang kali coba saya pahami tapi tidak membekas sama sekali, bahasa-bahasa asing yang pernah saya kuasai ternyata tidak bersisa sama sekali.

Saya sering merenungkan diri sendiri. Dibandingkan apa yang saya amati dari orang lain, saya selalu menganggap bahwa empati saya rendah. Pernah di awal saya masuk kuliah, saya berusaha ikut dalam beberapa grup peduli bencana Merapi dan turut melakukan program-program bantuan masyarakat. Barangkali saya memang melakukan kegiatan itu sebaik yang saya bisa. Tapi hati dan pikiran saya tidak di sana. Ke mana dia? Saya pun sulit menggambarkannya.

Ada perasaan melayang-layang yang tidak dapat saya jelaskan. Isi pikiran saya sibuk mencipta narasi yang dimulai dengan kata ‘seandainya’, ‘barangkali’, ‘mungkin’, dan seterusnya. Setelahnya semua akan berkembang entah ke mana. Bisa jadi saya memaki beberapa orang di sekitar saya, bisa jadi saya mengutuk orang-orang, tak jarang merasa menipu diri, tapi akhirnya toh memaafkan diri sendiri juga.

Ada kerumitan yang hingga hari ini masih ada di dalam pikiran. Barangkali ia tidak sungguh mengganggu, namun keberadaannya mengingatkan saya bahwa ada hal yang belum selesai saya urai.

Ada dorongan untuk menjadi berguna bagi orang lain, dan di saat yang sama ada dorongan untuk mengasingkan diri. Ada banyak hal yang menyediakan dirinya sebagai pilihan hidup. Dan begitu saja mereka menampakkan dirinya.

Tulisan ini sebetulnya tidak saya maksudkan untuk memaparkan diri saya. Sebagaimana yang telah saya katakan soal ruang dan waktu, tulisan ini menjadi penting untuk saat ini. Perkara simpulan, tidak ada yang tau bagaimana hal itu akhirnya. Narasi yang saya bangun di dalam pikiran soal perjalanan Jakarta-Bandung akhirnya menguap seiring penundaan penulisannya di laman ini. Empati terhadap kondisi Jogja juga sama pudarnya karena begitu berjaraknya saya dengan tempat itu.

Tapi bagaimana saya menjelaskan cinta kasih yang tak terbatas ruang dan waktu? Well, saya kira di situlah pe-ernya. Yaitu untuk meng-upgrade hubungan manusia dan alam serta hubungan manusia dan kemanusian ke taraf hubungan interpersonal yang intens dan intim. Ikatan yang belum terbentuk itu selama ini telah menegaskan perbedaan ruang dan waktu antara dua hal yang saling berhubungan. Namun, jika mempercayai bahwa segala sesuatu bergerak bersama, saya pikir keintiman itu sungguh akan ada.

Bisa dibilang saya menyimpan ambisi untuk memahami satu sistem tunggal yang utuh mengenai dunia ini, mencoba menyempurnakan diri melalui otokritik dan menyingkirkan pemakluman tanpa upaya. Ambisius memang.

Hemmm, meski ini bukan tulisan yang saya rencanakan, saya anggap saya telah mengekstraksi pemikiran kacau saya keluar dari wadahnya. Saya doakan rekan-rekan saya selalu diberi kesehatan dan keselamatan selama berkegiatan sosial di Jogja sana. Semoga kita segera bertemu.

wordsflow

Makassar suatu hari,


Mari sedikit bercerita hal biasa.

Benar, Jakarta tampak romantis hari ini, sebagaimana yang sering pula saya ucapkan lirih dalam hati betapa Jakarta tak pernah nggak romantis untuk saya. Beberapa kali saya menghabiskan waktu seorang diri di Jakarta sebagai wisatawan. Beberapa kali juga saya terpaksa dan dipaksa untuk ditemani seseorang, hingga akhirnya saya dengan sukarela mau menjadi guide untuk beberapa kawan.

Well, some moments recalled another memories kan. Dan tentu saja ada hal-hal yang selalu muncul bersamaan dengan bangkitnya romantisme di dalam diri.

Namun perjalanan yang dilakukan bersama teman selalu terasa jauh lebih cepat dibandingkan hanya dilakukan seorang diri. Tidak ada cukup waktu untuk merenungi perjalanan, untuk berbaper ria dengan kenangan, untuk mengagumi hal-hal biasa, untuk terkesima dengan berbagai hal luar biasa. Waktu terlampaui karena obrolan.

Yah, begitu saja cerita malam ini. Hari ini hari terakhir pertunjukan Teater KOMA, besok TIM sudah akan digunakan oleh Jakarta City Philharmonic. Dua-duanya tidak ada yang saya hadiri. Pun konser teman saya di tanggal 2 Desember nanti tidak akan saya hadiri juga. Bagaimanapun, hidup memang pilihan dan satu hal berimplikasi terhadap hal lainnya, langsung ataupun tidak, suka ataupun tidak. Jadi, let’s get use to it, let’s enjoy!

Ini saya kasih bonus foto-foto selama jalan-jalan kota di Makassar.

di komplek Cina; ruko-ruko model lama, lampion, klenteng, everything looks good

lampion-lampion cantik depan klenteng

bukan spot foto, tapi dinding samping klenteng

langit mendung itu gerah tapi teduh

bonus foto saya yang ciamik yhaaaa

on tourism and traveling


It’s been a while ya sejak saya menulis hal-hal yang cukup menggelitik pikiran saya sendiri ketika menuliskannya. Beberapa postingan terakhir bisa dibilang hal-hal yang terlampau tidak berguna bagi sesiapapun yang tidak paham konteksnya. Terkadang saya terjerat labirin pemikiran saya sendiri, cieeeh.

Saya tergelitik dengan postingan saudari Dieny di instastory-nya malam ini. Ia membagikan tangkapan gambar artikel sebuah web. Temanya soal traveling, tapi saya mau mereduksinya menjadi pariwisata aja ya. Menurut tulisan itu, pariwisata menyumbang emisi karbon yang cukup besar di dunia ini.

Saya ingat di suatu kelas ekopol-nya Mbak Laksmi, kami sempat membahas mengenai pariwisata sebagai salah satu moda ekspansi kapital. Eww, tapi saya lupa itu artikelnya siapa, hehe. Nanti saya carikan kalo nemu ya. Intinya, pariwisata muncul karena adanya surplus kapital di suatu tempat sehingga ia harus didistribusikan keluar dari region tersebut. Demikian, pariwisata adalah produk sampingan dari kemapanan kapitalisme.

Barangkali dapat dikatakan pula secara sederhana kalau mereka yang berwisata tentu adalah orang-orang yang telah masuk secara sempurna dalam arus kapitalisme. Tapi tunggu, tentu saja nggak semua orang yang berwisata di hari ini dapat dikatakan telah mapan secara ekonomi atau melakukan wisata sebagai hasil dari adanya surplus kapital, hehe. Kenapa? Karena pariwisata sendiri telah menjadi sebuah siklus lain yang sama sempurnanya seperti siklus produksi-konsumsi.

Sejak saya membaca soal sejarah pariwisata itu, saya sebetulnya menyimpan skeptisme dan optimisme tersendiri soal itu. Mari kita bahas sedikiiiiit aja ya. Saya nggak jago ngomong panjang-panjang.

Ijinkan saya melompati seluruh proses transformasi pariwisata yang begitu pelik hingga akhirnya menjadi wujudnya yang sungguh beragam di hari ini. Pariwisata sebagai sebuah sektor telah menjanjikan begitu banyak hal di bawah panji-panji cita-cita menuju kemakmuran. Terma ‘sustainable’ juga menjadi sebuah kerangkeng tersendiri bagi masyarakat kita sehingga mau ngapain aja serba terbatas.

Saya ambil satu contoh. Pengelolaan taman nasional misalnya. Pariwisata menjadi salah satu alternatif paling masuk akal sebagai garis tengah perdebatan antara kebutuhan akan perlindungan dan keharusan untuk menjamin kesejahteraan masyarakat sekitar taman nasional. Tapi, apa betul ada hal yang secara signifikan terlindungi dan sejahtera? Itu pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab saya rasa. Di beberapa lokasi yang pernah saya kunjungi secara langsung, penyelundupan hewan-hewan endemik justru dilancarkan oleh pihak-pihak yang bertanggungjawab untuk memastikan perlindungan. Pun nyatanya masyarakat tidak lantas menjadi sejahtera karena banyak wisatawan yang mampir ke wilayah mereka.

Hei, wisatawan itu banyak yang kurang ajar dalam pandangan saya. Di balik semua keuntungan-keuntungan yang barangkali mereka (ah bukan; kita) janjikan, produksi sampah wisatawan jauh lebih menimbulkan masalah. Lebih dari itu, wisata tidak bisa dibayar dengan menggunakan barang. Sama halnya kita harus mengatakan bahwa wisata dalam bentuk apapun, mensukseskan kapitalisme bukan? Hoho. Tapi ya barangkali kita memang sudah tidak bisa kabur dari jeratan kapitalisme sih, heu.

Barangkali memang ada keuntungan ekologis dan ekonomis yang nyata dihasilkan dari kesuksesan pariwisata. Namun sayang sekali, kerugian sosio-kultural yang ditimbulkan juga tidak ringan. Masyarakat di sekitar tempat wisata barangkali adalah salah satu contoh masyarakat yang mengalami adverse incorporation (konsep dari Hickey dan du Toit, 2007). Mereka diinklusi untuk masuk ke sistem kapitalis, namun tersingkir secara sempurna setelah berhasil masuk ke dalamnya. Pada akhirnya masyarakat ini hanya menjadi variabel pendukung akan keberlangsungan kapitalisme itu sendiri.

Well, saya pikir nggak akan ada habisnya kalau saya harus melenceng ke topik kapitalisme. Sampai muak dan mabuk mungkin, hehe. Jadi mari melipir kembali ke topik awal.

Saya pernah menuliskan perasaan saya soal berada di jalan raya. Kadang saya merasa lucu melihat manusia berpindah seintens itu di jalan raya. Kebutuhan apa yang sebegitu mendesak hingga begitu banyak orang rela macet-macetan di jalan? Dan menjadi tidak masuk akal ketika saya menyadari bahwa saya juga turut rela macet-macetan di jalan hanya untuk berwisata.

Traveling, di bawah naungan pariwisata atau bahkan penelitian, sangat masuk akal jika dikatakan menyumbang emisi karbon yang besar. Kadang saya juga bertanya-tanya untuk apa kita saling bertukar tempat hanya untuk sekedar menikmati tempat-tempat wisata. Saya jauh-jauh ke Jakarta misalnya, lalu orang-orang Jakarta susah payah datang ke Jogja. Hemm, yang begini kalau pakai nalar aja sepertinya nggak akan kemana-mana. Barangkali psikologi bisa menjelaskan kenapa ada keinginan tinggi di dalam diri manusia untuk menjelajah dan mengeksplorasi hal-hal yang tidak ia tahu?

Tentu jika mencoba sedikit egosentris, jawabannya saya akan cenderung mengarah pada pengalaman, lantas pada pemahaman secara menyeluruh soal menjadi manusia dan menjalani hidup di dunia ini. Tapi, apakah tanpa melakukan itu, hal-hal itu juga mustahil untuk dicapai? Bisa tentu saja. Dunia ini cukup adil sehingga segala hal terkonsep sebagai mikrokosmos dan makrokosmos. Weewww, saya mulai ngelantur.

Kadang saya merasa dunia ini sudah sangat rusak karena segala jenis sampah yang kita hasilkan. Bukan hanya sampah padat, yang cair dan gas jauh lebih destruktif saya kira. Namun, ketika melintas di atas laut Aru, laut Banda, hingga laut Jawa, timbul perasaan takjub yang besar melihat betapa luas lautan dan bagian dunia yang tidak saya pahami sama sekali. Ada hal-hal yang ternyata tidak semenakutkan yang saya pikirkan selama ini.

Soal pariwisata dan traveling ini pun demikian. Saya mungkin muak karena segala hal seolah dapat diubah sebagai tempat wisata di hari ini (bahkan output kegiatan saya di sini adalah rekomendasi rute wisata, heu). Tapi bicara soal optimisme, saya sendiri merasa ada optimisme di sana. Yah, soal manajemennya, mari kita semogakan agar pemangku kepentingan dan kebijakannya cukup mampu melihat segala hal secara lebih menyeluruh dan komprehensif.

Dan bagaimanapun alur tulisan ini, senang rasanya bisa menuliskan pemikiran saya lagi di sini. Selamat malam.

wordsflow

Setelah ini,


Ada banyak hal yang membuat saya tiba-tiba kesulitan untuk mengingat berbagai hal yang saya tempuh selama meninggalkan Jogja. Di saat yang bersamaan bayangan tentang kosan saya, jalan Kaliurang, suasana sekret, dan bahkan wajah orang-orangnya dengan mudah saya ingat. Barangkali kemampuan ingatan sejalan dengan prioritas hidup yang secara sadar atau tidak tengah kita pilih dan jalani.

Saya tidak jadi pulang lebih awal, hehe. Bukan kabar yang perlu diterjemahkan lebih jauh sebetulnya. Bagian menggembirakannya, barangkali saya akan berkesempatan melintas di dekat kepulauan Banda, pulau impian saya. Kawan-kawan telah berkemas sejak beberapa hari yang lalu, mengepak segala jenis oleh-oleh mereka dalam kardus-kardus besar. Sembari itu, saya menyadari bahwa saya masih cukup sok idealis dengan meyakinkan diri bahwa segala hal yang lampau cukup diingat dan dikenang.

Ada sebuah artikel yang tengah saya garap sebagai tulisan akhir kegiatan saya di sini. Bukan topik yang sungguh-sungguh ingin saya tulis karena saya hanya mengikuti ketertarikan para mentor saya di sini. Beberapa hal yang jauh lebih menarik menyangkut soal lingkungan dan kondisi sosial menjadi hal yang harus saya simpan hingga saya cukup memiliki referensi dan kemampuan menulis yang lebih baik dibanding hari ini. Semakin lama, kesadaran untuk terus mengaktualisasi diri terutama dalam kemampuan verbal membuat saya cukup grogi menghadapi semester baru. Terlalu saya meninggalkan buku-buku dan teori. Heu.

Cukup sering saya membayangkan hal-hal di luar skala prioritas sembari tetap mengerjakan hal yang ada di hadapan saya. Ada cara-cara yang saya pelajari untuk menghindari kebaperan menghadapi segala sesuatu. Pada titik tertentu saya sering merasa menjadi batu atau patung karena bertindak demikian. Tapi fine, saya menikmati kemelut di dalam diri saya sendiri sembari menunggu waktu berlalu, hehe.

Di sisi jauh sana, saya dapat membayangkan bagaimana teman-teman saya berjuang untuk menyelesaikan studinya, menjalani diskusi-diskusi panjang di dalam kelas, duduk-duduk di bawah pohon membaca buku-buku, atau bahkan turun ke lapangan untuk mencari data. Saya tidak sendirian dan bukan satu-satunya orang yang mengalami kondisi psikis semacam ini. Barangkali ada orang-orang yang jauh lebih matang dari saya dan mampu mengatur hidupnya lebih baik. Beberapa yang lain sama terseoknya seperti saya untuk menetapkan satu dan lain hal.

Setelah semua ini berakhir, I have no particular plan for sure. Bahkan saya belum menentukan tanggal untuk kembali ke Jogja. Tidak ada hal yang pasti karena toh tidak ada yang menawarkan kepastian. Beberapa perkara sering kali menjadi begitu jauh ketika direncanakan dan cenderung menjadi dekat ketika dilupakan. Ada beberapa kegiatan seni yang akhirnya juga tidak dapat saya datangi karena tanggalnya yang tidak pas. Yah, banyak yang lain juga yang tidak dapat saya hadiri.

Saya belajar banyak soal kehidupan di tempat ini. Melalui orang-orangnya, alamnya, airnya, panas mataharinya, musimnya, dan segala hal yang ada di dalamnya. Tidak semua pertanyaan terjawab juga barangkali, tapi setidaknya ada pertanyaan-pertanyaan baru yang bermunculan. Dan kesimpulan saya belum juga berubah, bahwa kehidupan itu terlampau aneh untuk dinalar dan diterjemahkan.

Sudah beberapa malam Orion muncul di langit, Scorpio tidak lagi setia menemani malam-malam saya sebagaimana sebelumnya. Bulan depan akan ada beberapa hujan meteor dan satu gerhana bulan di Januari depan. Saya masih saja mengikuti hal-hal yang terlalu jauh untuk saya pahami, hehe. Saya membayangkan suatu hari bakal ada begitu banyak hal yang saya pahami sebelum saya mati. Tapi membayangkannya saja membuat saya merasa kesulitan untuk membagi waktu. Ah, sebetulnya konsep membagi waktu itu sendiri yang justru membuat saya kesulitan karena justru mempergunakan waktu sebaik mungkin yang barangkali jauh lebih tepat.

Emm, tapi saya orang yang sadar tapi tidak mempraktikkan sih, memang menyebalkan, hehe. Tipu banget yak.

Lusa saya sudah berlayar, dan sebaiknya saya tidak menghabiskan setengah perjalanan di ruang kesehatan lagi, hehe. Sayang sekali kalau saya sampai melewatkan melihat paus melintas, lumba-lumba,  pulau-pulau kecil, yah atau apapun. Jikalau beruntung, akan ada beberapa kota yang saya singgahi di perjalanan pulang ini. Saya sangat menantikan perjalanan itu.

Tentu, ada kesedihan yang terselip karena akan meninggalkan tempat ini. Kawan-kawan kami yang berasal dari Jayapura harus juga kembali lebih awal, artinya kami akan berpisah lebih awal juga. Ah, saya rindu Njum. Saya akan sangat rindu Kali Maro—salah satu pemandangan paling cantik di Merauke adalah jembatan Kali Maro. Saya akan rindu kedataran tempat ini, langitnya yang selalu cerah meski panasnya gerah, mataharinya yang selalu cantik di pagi atau sore harinya. Merauke terasa jauh lebih dekat dari yang saya kira. Sebagaimana saya membayangkan Mbak Yaya di Jerman sana, barangkali rasanya sedikit mirip Bandung atas dengan udara Gunung Lawu bulan Juli, hehe. Hemm, rindu Mbak Yaya juga. Ya, jarak menjadi tidak semenakutkan yang saya duga sebelumnya.

wordsflow