WORDS FLOW

setiap pengalaman pantas untuk diingat

pagi sendu, siang benderang, sore temaram


Sekiranya, begitulah suasana hati saya jika dirangkum dalam satu kalimat. Luar biasa sekali pergolakan di dalam diri, seolah tak mau dikendalikan oleh nalar kewarasan manusia yang bisa berpikir!

Siang menjelang sore tadi, saya akhirnya keluar kamar dan makan di sebuah warung makan pinggir selokan mataram. Tak diduga, bapak pemilik warung makan membuka obrolan dengan temannya perihal kemacetan Monjali yang sudah begitu parah dan tidak terkendali. Menurut bapaknya, orang jaman sekarang tidak ada yang mau bersabar, bahkan ketika ada penanda lalu lintas yang mempersilakan pengendara untuk belok kiri langsung, toh akses untuk belok kiri telah tertutup untuk mereka yang tidak sabar ingin  berjalan lurus.

Lalu si bapak berkata pada bapak pemilik warung, “Njenengan setuju mboten nek misal maksimal umur motor 5 tahun?” tanyanya. Bapak yang satunya menjawab dengan mantap bahwa hal itu diperlukan. Ia bahkan mencontohkan bagaimana negara-negara maju bebas macet karena sedikitnya jumlah motor yang dimiliki oleh warganya. Pembatasan umur motor pun perlu agar semua orang merasa nyaman menggunakan jalan.

Saya tidak cukup banyak menguping pembicaraan mereka karena saya makan cukup cepat, dan akhirnya membayar lantas pergi begitu saja. Tapi, dari obrolan singkat mereka, saya masih mencoba untuk melihat beberapa hal yang nyatanya toh menjadi perhatian masyarakat kecil di negeri ini.

  1. Masalah sehari-hari masih menjadi topik seru di masyarakat.
  2. Preferensi masyarakat tidaklah sesempit yang mungkin pernah saya bayangkan. Pada dasarnya, mereka mudah belajar.
  3. Masih ada rasa percaya pada pemerintah sebagai pihak yang mampu mengatur.

Agak terburu-buru mungkin saya menyimpulkannya, tapi di tengah begitu banyaknya pihak yang melihat pemerintah dengan pandangan yang tidak bersahabat, ternyata masih ada harapan-harapan bahwa pemerintah akan mampu membenahi hal-hal yang tidak mampu dibenahi oleh masyarakat.

Buat saya, membicarakan pemerintah ini sangat sulit, sama sulitnya membicarakan masyarakat itu sendiri. Lagi-lagi tidak ada manusia yang sepenuhnya jahat dan sepenuhnya baik dalam kacamata saya. Setiap-tiapnya bertindak berdasar skala prioritas, pun kalau tidak bisa jadi karena adanya tekanan atau yah, siapa yang tau apa yang mendasari tindakan seseorang? Dalam urusan melihat pemerintah dan masyarakat pun sama saja demikian.

Kadang sekali waktu saya sangat ingin percaya bahwa ada manusia yang sungguh-sungguh baik dan berperi kemanusiaan, tapi yang saya temui kemudian adalah orang-orang yang juga penuh curiga. Atau hanya saya saja yang berprasangka? Atau ternyata orang-orang seperti saya lah yang membuat segala hal yang senyatanya jujur itu menjadi tampak begitu berpura-pura?

Ah sudahlah, saya nonton Howl’s Moving Castle saja.

Kadang kala, saya kira susah hati dan pikiran bisa dilerai dengan menyibukkan diri, dengan aktivitas tubuh yang teratur, dan mungkin merenung dengan begitu syahdu sembari membaca buku atau membuat buku. Tapi nyatanya toh tidak juga. Jumawa betul mengira segala hal mampu berada di bawah kendali kita. Bahkan diri pun tak pernah kita ketahui.

Lagi-lagi, saya harus mengingatkan diri sendiri untuk selalu menikmati hari, atau apapun yang kamu lalui. Mungkin di sana lah rahasia dan jawaban yang kamu cari berada. Ah, saya harus juga mengatakan satu hal soal pertemanan dan keluarga, bahwa sepertinya saya salah selama ini, hehe.

Di luar itu semua, tiba-tiba aku ingin berbincang denganmu, dan sekedar membagikan senyum yang entah telah berapa lama tidak kuberikan pada sekelilingku. Semoga kamu berbahagia.

wordsflow

Rethinking about Marriage Problem


Oh wait, why do I call it as a ‘problem’? Does marriage lead to more problems? Or I am just really not sure what and how marriage is and will be? Okay, let’s call it marriage issue.

Recently in my mind, while my age is heading to a quarter of a century, I am becoming more confused about everything around. What kind of the world that I live in? What is this and that, what will happen, what happen in the land overseas? Really so many questions that stay to be answered. Or, maybe those questions really not meant to be answered as well? It’s kind of weird, while other people at my age is about to have their first baby, I am still in the stage of questioning about marriage! Even my younger sister have already had one and I’m still questioning and not sure about anything.

Every determinism is quite non-sense today, that I think that every possibility will actually bring me to the mighty nothingness. Looks like every possibility is just kind of another hope to make us sure that life is worth to be lived, but there’s nothing better in the objective meaning of ‘better’. Ah, before, should we ask that is there really an objective meaning? Hahaha.

Sering sekali saya merasa harus semakin sadar diri akan berbagai hal yang terjadi di dalam diri saya. Sebagaimana saya percaya bahwa setiap kesulitan dan kemudahan hidup memang bersumber dari diri sendiri, maka begitu juga pertanyaan harus dikembalikan ke dalam diri kita sedalam mungkin. Persoalan memandang pernikahan ini begitu penting bagi saya, karena hingga hari ini saya belum melewati proses bertemu, berkeyakinan, berencana, bersetuju, dan akhirnya berdampingan. Dalam kamus hidup saya, belum pernah saya temui seseorang yang merelakan dirinya menjadi ‘kita’, sebuah terminologi yang tidak lekat dengan diri saya.

Sepertinya, persoalan yang menjadi beban pikiran saya erat hubungannya dengan segala hal yang menjadi impuls, entah itu dalam bentuk visual, audio, sentuhan, gerak, atau segala wujud dari impuls itu. Maka, reaksi otak juga menjadi cenderung bergantung pada impuls tersebut, meski tidak selalu demikian. Pada masanya, saya mengalami ketenangan seorang yang siap moksa, saat berikutnya saya diporak-porandakan oleh hal-hal serba duniawi, lalu hilang ditelan kesepian dan ketidakbermaknaan.

In some moments, I just want to cry so hard that finally there’s nothing left to cried. To throw away the sadness and the nothingness followed, to seek the happiness and hope once more and make sure that life goes on no matter happen.

I repeatedly assured myself, that to love is not about having him around or living together in the future. Maybe sometime we could have a journey out to nowhere together, but to be married? Yeah, marriage leaves a question about asking and answering. Is not because I didn’t want to take a chance in asking first to be together, but really because I always think that I don’t deserve to.

The more I give time to this matter, the more I weep, the more I drop to nothingness. Indeed, live’s not only about love to someone, it can be to every person we met, or everything around. But simply because you couldn’t lie to yourself that the possibility of not being together with someone that you really think you love really makes us sad. Seeing that someone laugh, or doing something he likes is just make me touched and something lead me to shed a tear. What a weak heart that I have.

Hanya buku-buku yang akhirnya menjadi tujuan akhir dari kegamangan yang begitu mencekat, seolah dengan melakukannya saya akan kembali baik-baik saja dan segalanya tampak sekali lagi menjadi indah. Melaluinya saya melakukan begitu banyak dialog, baik dengan diri sendiri atau dengan teksnya. Pada akhirnya, masih juga saya akan mencapai kesedihan yang sama, kekosongan yang sama, kesepian yang sama.

And it repeatedly happened to me. Just to make me aware that nothingness and loneliness are the final stages that I have to understand. Just after those understanding, I will see the world in the more positive perspective.

Soal pernikahan, lagi-lagi semakin saya memikirkan maka semakin jauh saya dari jawaban. Sering kali saya merasa terlalu overthinking dan overlove. Tapi apakah keduanya salah? Menjadi salah ketika seseorang yang kau pikir kau cintai merasa terganggu dengan semua perhatian-perhatian itu, semakin lalu juga kau akan merasa tidak berguna. Ya, lagi-lagi tidak ada jawaban yang dengan sendirinya tampil menyajikan diri, setiap halnya harus dicari dan ditelusuri begitu dalam sampai kita bahkan ragu apakah yang kita pikirkan sungguh berguna atau tidak.

I’m always happy seeing my friend finally getting married or find someone who loves them as much as they do. But the image of having a happy marriage slowly fade away, and the more I think, the more I believe that marriage will be awful and wonderful at the same time. The loneliness and the nothingness maybe remain the same, but finding someone who will be lived those two together sounds really wonderful in mind.

Finally, on rethinking about this marriage issue, nothing that I can do but wait and see. Nor because I don’t believe in myself, nor because I don’t want to ask someone it the first place, but simply because I once have loved someone and I couldn’t make it, so I want to see if someone would in surprise do the same to me. Maybe, at that time I will finally know the struggle of being loved by someone, so painfully wonderful.

At the end, I cried when I wanted to, I laughed if I had to, I left if I must, I came if I needed, and lived well while being honest to myself. ‘No need to be so hard to yourself’, one day someone said those sentence. But having a hard day is a must to make us understand that there are some other days that worth to remember. No need to refuse the fact that sometimes my heart is so weak that nothing so worth thinking but death because there will be days that my heart strong enough to up against the pain. A human at the end will just be a human.

Finally, the imaginary marriage life soon I put down deep in my heart and been more realistic that to marry someone, you need two persons in agreement. Here, I am still the one who could give, but not take.

wordsflow

put your problems away


Jadi sudah seminggu saya tidak menulis di sini, dan saya merasa seminggu ini begitu lama, dan terlalu banyak hal terjadi dan saya pikirkan hingga saya sendiri mengalami kebingungan. Saya pikir, kadang dunia ini terasa begitu asing untuk menjadi sebuah kenyataan yang berimplikasi pada diri, tapi terkadang ia begitu lekat. Pikiran pun demikian, hingga seolah segala hal menjadi begitu meragukan.

Di tulisan terakhir saya mencoba berdamai dengan diri sendiri terkait penolakan bertahun-tahun atas otokritik saya pada keimanan terhadap Tuhan. Pada akhirnya saya tidak bisa untuk tidak mengakui bahwa saya masih sangat percaya adanya entitas seagung Tuhan. Dan itu adalah bekal yang sangat cukup untuk memilih ritual agama yang mana yang ingin saya patuhi untuk mendekati Tuhan.

Telah banyak pula yang sering mengatakan bahwa cinta yang hakiki adalah kepada Tuhan, namun tak pernah ada yang mau bersusah payah untuk menjelaskan sepenting apa kemudian cinta kepada sesama itu dalam posisinya terhadap cinta kepada Tuhan. Bagi saya, hanya yang pernah mencintai dengan benar yang akan mampu membawa pada cinta yang lainnya. Dalam artian, bahwa hanya mereka yang mampu mencintai Tuhan dengan sungguh-sungguh yang akan mampu memberikan cinta yang sama besarnya kepada manusia lainnya, pun sebaliknya. Ini hanya perkara mau dari mana kamu memulainya? Sayangnya, untuk bisa melakukan keduanya dengan benar, mula-mula kesadaran akan cinta itu harus pula ada. Bersamaan dengan segenap penyimpangannya: rasa benci, cemburu, iri, sakit, luka, sedih, bahagia, dan segala rasa sampingan akibat cinta itu sendiri.

Mencinta tidak melulu indah, maka berketuhanan juga tidak melulu indah. Bahwa Tuhan memilih satu atas yang lain memang begitulah cara Tuhan membalas cinta manusia. Mungkin ada yang dipanggil lebih awal, karena memang Tuhan lebih mencintai mereka. Tunggu saja, nanti juga kamu dipanggil untuk dibalas cintanya sama Tuhan.

Maka, saya anggap cerita saya mengenai perdebatan perihal ketuhanan ini saya cukupkan dahulu, karena kehidupan fana menyediakan lebih banyak pertanyaan yang belum selesai saya cari jawabannya.

Belakangan, saya disibukkan oleh tugas-tugas kuliah yang bertumpuk akibat tiga minggu berturut-turut jadwal kuliah yang amburadul. Alhasil saya banyak menghabiskan hari-hari dengan buku-buku dan artikel. Sayang sekali karena dengan keterpaksaan di bawah kepentingan tugas ini, beberapa buku tidak saya baca dengan sungguh-sungguh. Beruntung sekali karena beberapa perkuliahan lebih mementingkan diskusi, dan ekopol berhasil menarik segala perhatian saya sebagaimana Marxisme di semester kemarin.

Saya sedang mencoba mendalami Burawoy yang mengulas konsep society-nya Gramsci dan Polanyi, di mana Gramsci menekankan pada civil society dalam hubungannya dengan state, sementara Polanyi membicarakan active society dalam kaitannya dengan market. Keduanya meski berangkat dari dua kritik yang berbeda dari pendahulunya, Gramsci dari Lenin dan Polanyi dari Lukacs, namun keduanya komplementer dalam merumuskan konsep mengenai society di bawah naungan kapitalisme. Ternyata oh ternyata, pertanyaan yang selama ini saya persoalkan mengenai konsep society akan saya temukan di sini. Sudah benar betul saya masuk kelas ini, huehehe.

Pembahasan Burawoy ini sangat menarik dan membuat saya ingin berlama-lama dengan artikel ini sebelum mereviewnya untuk esok hari.

Semakin lama membaca hal-hal semacam itu, saya merasa bahwa ada begitu banyak hal yang berkelindan begitu rupa, centang perenang, silang sengkarut, bukan hanya pada tataran empiris, namun juga idea. Dan saya kira, sebenarnya sangat mengerikan membayangkan begitu banyak hal yang paradoksal dan kontradiksi di dunia ini. Lalu kita masih ingin menuju pada ‘world as a single society’?

Curhat sedikit.

Dua hari yang lalu saya membuka laman facebook dan menemukan video sederhana tentang cara kita melihat masalah. Jadi si bapak bercerita di depan muridnya tentang segelas air yang dia pegang. Katanya, “Ini adalah segelas air, berapa kah beratnya?”, setelah beberapa lama ia bertanya hal yang sama. Intinya, masalah itu sama kayak si gelas tadi, beratnya tetap sepanjang waktu. Tapi semakin kamu memegangnya dan nggak mau meletakkannya saja, maka ia akan semakin berat dan konsentrasi kita akan terkuras pada si gelas.

Anggap saja saya sepakat dengan bapak itu terkait masalah pribadi. Tapi pertanyaannya, bisakah kita melihat permasalahan sosial dengan cara yang sama?

Kompleksitas realitas sosial kita di hari ini membuat segala hal menjadi tidak lagi sederhana, dan saya sulit juga untuk melihat dari perspektif naturalis. Ah ngomong apa sih, hahaha. Maksudnya, dunia ini nggak sesimpel baik dan buruk, atau benar salah, atau segala hal berjalan alamiah dan sesuai takdir masing-masing orang. Maka, soal mencintai Tuhan sebagaimana pembuka tulisan ini tidak harus menjadi begitu, suka-suka kalian aja. Toh segala hal telah terlanjur bercabang sebegitu rupa hingga mungkin inti ajaran yang sesungguhnya adalah apa yang selama ini kita usahakan untuk didekati.

Yak, sama pula seperti Marxisme, dimana segitu banyak orang yang mencoba untuk mengikuti tradisi Marxis dalam melihat kapitalisme. Tapi lihat apa yang terjadi, begitu banyak percabangan yang tidak ada kata sepakat di dalamnya. Marx toh juga tidak mampu menyelesaikan tulisannya, dan bahkan belum memulai rencana tulisan lanjutan setelah Capital sebelum akhirnya ia meninggal. Menyisakan begitu banyak pekerjaan rumah bagi mereka yang ingin menjadi pengikut Marx setelahnya. Burawoy mencatat bahwa, beruntung sekali kita punya Marxisme yang mengimbangi gerak kapitalisme dan terus memberikan kritik paling komprehensif terhadap kapitalisme.

Ah, tiba-tiba saya merasa iri dengan orang-orang ini, Marx, Lenin, Lukacs, Gramsci, Polanyi, Rosa, Kautsky, Trotsky, atau berapa banyak lagi nama-nama yang mampu memberikan kontribusi intelektual pada kita hari ini. Mereka memang juga mengakar pada orang-orang sebelumnya, tapi bukankah setiap ide muncul dengan cara itu? Kita terus mempelajari hal di masa lalu untuk memberikan kritik dan pengembangan. Atau kita berusaha untuk berkaca pada orang lain untuk memahami diri sendiri. Kita berusaha untuk memahami lawan untuk mampu melawan. Dan demikian kerelaan itu hadir sebagai upaya untuk menyambut hal yang lebih besar lagi.

Lalu, simpulan dari segala hal ini apa?

Mencintai, berketuhanan, atau belajar, semuanya membutuhkan kerelaan dan pengorbanan untuk mau memberi sebelum akhirnya mencapai pemahaman dan mampu menerima lebih banyak. Saya masih percaya pada setiap usaha selalu ada reaksi yang mungkin setara sebagaimana kata Newton. Tapi dalam hubungan sosial terutama, apalagi hubungan ketuhanan, siapa yang tahu, hehehe. Maka, mencintailah lebih banyak, berketuhananlah lebih ikhlas, dan belajarlah lebih giat.

Apakah saya menjadi menyebalkan dengan berkata demikian? Hehe, saya ganti saja kalau begitu. Berproseslah, karena kedewasaan itu achieved dan bukannya ascribed.

Demikian, semoga berkenan dengan tulisan ini. Saya hanya ingin mengisi blog ini karena terlalu lama saya tinggalkan.

Selamat malam.

wordsflow

mempertanyakan untuk mempercayai Tuhan


Harus saya katakan sejak awal, bahwa yang saya tuliskan tidak bertujuan untuk menghasut, atau memberi pembenaran. Tidak demikian. Adalah naluri manusia (dalam kacamata saya) bahwa segala sesuatu harus dipertanyakan sebelum dipercayai sebagai kebenaran. Semoga saya tidak keliru.

Untuk itu, bagi yang tidak berkenan atau merasa tidak nyaman, silakan berhenti sampai di sini. Tapi saya akan tetap melanjutkan.

Saya ingat seorang guru agama di masa SD saya, pernah menjelaskan bahwa mempertanyakan “Apakah Allah itu perempuan atau laki-laki?”, “Bagaimana bentuk Tuhan?”, “Di mana Dia tinggal”, dan seterusnya, adalah pertanyaan-pertanyaan yang akan membuat seseorang berdosa. Sebagai anak kecil yang telah hafal cerita mengerikan perihal siksa kubur dan siksa akhirat yang tidak akan pernah berakhir, maka hal itu menjadi begitu tabu dan mau tidak mau setiap anak akan berusaha melupakan pertanyaan-pertanyaan khas anak kecil itu.

Belakangan, jauh setelahnya ketika saya duduk di bangku kuliah (saya pernah membahas ini), dunia anak-anak kemudian harus saya akui sebagai dunia paling jujur dan paling filosofis dari seorang manusia. Pertanyaan-pertanyaan yang sering dikategorikan polos itu, jika ditanyakan oleh seorang mahasiswa, maka akan menjadi pertanyaan berkenaan dengan filsafat ketuhanan. Padahal, heei, anak kecil juga bisa kelez. Dan pada akhirnya, tanpa penelusuran yang cukup mendalam, semua hal itu hanya akan menjadi sebuah dogma saja, yang juga ditelurkan dari mitos-mitos tanpa bukti.

Sekalipun selama ini saya percaya, meski beberapa masih ada di bawah landasan rasa takut akan hukum karma, siksa kubur, atau siksa neraka, namun pertanyaan-pertanyaan seputar ke-Tuhan-an itu tidak bisa saya anggap angin lalu, karena setiap kali berritual, saya toh masih memikirkan hal ini.

Maka, dengan dasar keraguan tersebut, sering kali saya merasa malu ketika melakukan ibadah. Rasa malu ini berdasar pada suara dalam pikiran saya, “untuk apa saya ibadah kalo toh saya masih belum mampu percaya betul?” Dan begitulah, setiap datang waktu untuk bersujud, berserah, atau apapun istilah yang digunakan untuk menyebut hal tersebut, pertanyaan itu kembali hadir dan membuat saya merasa terganggu dengan diri sendiri.

Jika hal-hal semacam ini sudah muncul, saya menjadi begitu dekat dengan perasaan “hilang” sebagai manusia. Bahwa jika memang benar ada Tuhan yang menurunkan manusia dengan tujuan-tujuan tertentu di dunia ini, toh pada akhirnya saya masih juga belum mampu menemukan untuk apa saya ada, hadir, berproses, dan akhirnya nanti mati? Apakah sungguh hanya untuk menjaga Bumi saja; menjadi khalifah? Lantas kalau Bumi sudah dijaga nanti akan diberikan kepada siapa? Agar ketika tertelan lubang hitam di pusat Bima Sakti, Bumi masih tetap utuh? Atau apa? Apakah Tuhan sungguh-sungguh butuh disembah oleh manusia? Atau sebenarnya penyembahan itu adalah sebuah bentuk kepasrahan akan rahasia-rahasia kehidupan?

Memang benar, penjelasan semacam itu (dalam Islam) telah banyak dipaparkan oleh imam-imam yang cukup liberal, yang mencoba untuk tidak sekedar memberikan dogma kepada umat Islam, namun saya butuh dialog. Demikian, tidak banyak yang bisa memberikan saya jawaban yang cukup memuaskan tentang hal semacam itu.

Lantaran alasan itu, tidak salah saya kira, ketika akhirnya secara pribadi saya mencoba merombak segala pemahaman saya mengenai konsep ke-Tuhan-an, dan mempertanyakan secara pribadi masalah agama dan kepercayaan ini. Agama-agama tetangga, yang mungkin juga kalian pahami, cukup banyak yang menguraikan masalah ini dan mencoba membahasnya secara terbuka. Dan untuk alasan sederhana itu, berkali-kali akhirnya saya justru merujuk pada agama-agama lain untuk mencari apa yang tidak bisa saya dapatkan dari agama saya. Dasar tindakan itu saya rasa cukup beralasan, dengan mempertanyakan, kepercayaan kita justru akan semakin kuat.

Di hari ini, yang saya lihat adalah kecenderungan manusia yang lebih suka mengkonsumsi dogma dan mitos, karena hal itu lebih mudah. Urusan agama juga demikian, beberapa hal memang dogmatis. Tapi, untuk percaya akan Tuhan, kita harus lebih dahulu mendefinisikan apa, siapa, bagaimana Tuhan itu. Lalu, bagaimana ke-Tuhan-an itu? Lebih awal, bahkan saya merasa harus bisa menjawab pertanyaan mengenai bilamana entitas yang disebut Tuhan itu ada? Agaknya, akhirnya kita tersudut pada kenyataan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kita pahami asal-usul-proses-nya sehingga lebih mudah mengatakan bahwa itu adalah hasil kerja Tuhan.

Saya memang pernah membaca juga buku tentang Sejarah Agama-Agama yang ditulis oleh Allan Menzies, dan saya kira cukup lengkap. Tapi, bahkan penjelasan itu tidak bisa menjawab rasa penasaran saya perihal ke-Tuhan-an ini, dan masih saja ada hal yang tidak bisa saya akui di dalam pikiran saya. Atau, jangan-jangan memang perkara ini tidak perlu penalaran? Atau memang benar bahwa agama “hanyalah” jalan hidup? Atau agama adalah panduan hidup? Atau justru itu takdir?

Kerumitan itu masih belum menemukan titik terang hingga hari ini. Namun, di banyak perkara yang berhubungan dengan hidup dan kematian, serta kejadian-kejadian yang terjadi di realitas kehidupan, mengatakan bahwa segala sesuatu merupakan kehendak Tuhan rasanya terlalu “polos” dan tidak menjelaskan apapun. Apakah bisa saya katakan bahwa masyarakat yang begitu taat dan bekerja keras akan selalu mencapai kesejahteraan? Apakah semua orang sungguh-sungguh (dalam artian sesungguhnya) selalu diberikan cobaan sesuai dengan kemampuannya? Bagaimana menjelaskan hal-hal yang terjadi pada masyarakat Timur Tengah yang dilanda peperangan selama bertahun-tahun? Bagimana menjelaskan nasib masyarakat kalangan bawah yang saya lihat begitu patuh beribadah namun tidak pula keluar dari kemiskinannya? Atau bagaimana menjelaskan masyarakat yang hidupnya begitu mudah padahal dalam definisi masyarakat “beragama” mereka itu munafik?

Penjelasan-penjelasan sederhana itu tidak mampu memberikan gambaran yang komprehensif mengenai nasib seseorang di hari ini. Dan sekiranya, tidak salah bagi seorang manusia untuk mempertanyaan perkara ke-Tuhan-an ini. Demikian, maka justifikasi soal ke-Tuhan-an ini menjadi begitu sulit untuk disamaratakan, bahwa sulit sekali untuk melihat siapa yang apa, siapa yang bagaimana, siapa yang seperti apa.

Seorang dosen saya, yang gaya pengajarannya saya sukai selalu memperingatkan kami untuk terus merefleksikan segala persoalan kepada hal-hal yang sangat pribadi dari kita. Menurutnya (yang juga saya iyakan) memahami perkara liyan seperti menelusuri diri sendiri. Maka untuk memahami liyan kamu harus memahami diri sendiri, dan untuk mampu memahami diri sendiri kita juga harus mendalami liyan. Saya rasa, hal itu juga berlaku dalam mempelajari Tuhan. Ah, tapi Tuhan tidak sama dengan manusia kan? Atau jangan-jangan Tuhan hanya sebuah hasil dari psikokinesis?

Di luar pertanyaan-pertanyaan saya tadi, sebenarnya saya memiliki kekaguman yang mendalam perihal agama saya, dan meski mungkin banyak orang yang tidak sepakat, tapi Al-Qur’an itu mengagumkan. Saya kurang tahu dengan kitab suci lain, karena saya belum pernah membaca. Tapi saya bisa mengatakan, bahwa saya yang tidak taat ini pun selalu merasa tersentuh setiap kali mendengar seseorang membaca Al-Qur’an.

Well, agaknya saya harus mengakhiri tulisan ini sebelum ngelantur. Jika kemudian pembaca yang budiman kecewa karena saya tidak memberikan konklusi apapun, maafkan saya, karena tulisan ini tidak bermaksud mencapai kesimpulan. Saya pikir, saya yang juga masih berproses ini tidak layak memberi konklusi.

Tapi, sebagai penutup, saya akhirnya mencoba menjawab diri sendiri, bahwa berketuhanan itu sama seperti mencintai. Kamu ragu, kamu bertanya-tanya, kamu tidak tahu ke mana akhirnya, tapi toh tetap mencintai. Maka begitu juga berketuhanan. Karena di ujungnya mungkin kita mengharapkan kepastian, entah datang atau tidak. Mungkin, pembaca yang budiman tidak akan cukup paham bagaimana proses panjang saya akhirnya mencapai kesimpulan itu. Tapi berketuhanan berdasar dogma, dan berdasar pencarian, buat saya tidaklah sama. Dan semoga saya tidak keliru.

Pada akhirnya, satu pelajaran dari guru SD saya yang juga selalu saya ingat, iman itu diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan lewat perbuatan. Tanpa yang terakhir, kamu tidak akan mencapai keimanan, maka saya mencoba. Tabik.

wordsflow

Rentang


Yang terhampar antara subjek materiil dan imateriil, sebuah ruang antara. Kita menyebutnya dengan banyak nama: jarak, keterpisahan, jeda, tapi aku lebih suka menyebutnya sebagai rentang.

Kata itu, membuat semua pengharapan dan keputusasaan atas ruang antara itu menjadi tak lagi kentara. Tak ada yang positif dan negatif dari ‘rentang’, yang ada hanya sebuah terminologi untuk menjelaskan yang ada di antara kita; aku dan kamu.

Pada rentang itu, aku mengisinya dengan banyak hal; pengharapan, suka, cerita, duka, tangis, tawa, kenangan, marah, ah, bahkan cinta. Semua yang mungkin bisa saling kita sebutkan satu demi satu, ada di dalam rentang jiwa kita. Tidak ada yang terlalu indah dalam hidup, atau yang terlalu rendah, semuanya menggambil porsinya sebagaimana meracik ramuan hidup yang dibutuhkan. Tak dijanjikan nasib yang mudah kepada setiap orang, baik kamu maupun aku saling memperjuangkan yang kita inginkan.

Rentang; ruang itu kau isi pula dengan berbagai hal, yang tidak pernah mampu aku telusuri satu per satu. Seperti bertanya pada ruang kosong, apa yang kau letakkan di sana, hingga aku tak mampu melihatnya. Mengurainya, harus pula menghilangkan rentang antara aku dan kamu. Serumit itu.

Ah, tidak rumit juga kamu bilang. Hanya butuh dikatakan, atau ditanyakan?

wordsflow

tentang memahami teks dan eksistensi


Kemampuan verbal saya tidak kuat, saya paham itu sejak lama. Bahkan tes potensi akademik saya menunjukkan nilai yang begitu mengenaskan hingga saya mengelus dada dan harus meyakinkan diri bahwa akan tetap baik-baik saja selama kuliah di jurusan saya.

Sudah berulang kali saya mencoba untuk membaca berbagai buku ‘berat’ mengenai berbagai hal, sekiranya memang hal itu akan membantu saya memahami realitas yang saya alami dengan lebih baik. Semakin banyak yang dibaca, semakin banyak dialog antara saya-buku-realita yang akhirnya menciptakan kesadaran baru di dalam pikiran saya mengenai bagaimana segala sesuatu berjalan. Namun, dialog tidak akan berjalan lancar jika saya tidak mampu mendefinisikan setiap terminologi yang digunakan dalam teks oleh penulisnya, atau mendedah setiap inci teks itu secara lebih terperinci.

Ah, saya berasa lagi ngomongin hermeneutika. Tapi bodo amat, saya mau nulis suka-suka.

Saya pengikut Pram dalam hal “seorang terpelajar harus adil sejak dalam pikiran”, dan hal itu berlaku untuk banyak bentuk pembelajaran, dan begitu pula dalam mempelajari teks. Asumsi-asumsi mengenai pengetahuan dasar terkait isi buku harus disingkirkan begitu membuka halaman pertama buku, dan segala simpulan yang kita peroleh dari sumber-sumber non buku tersebut harus kita singkirkan dulu pula. Demikian maka setiap membuka sebuah buku baru, lebih-lebih buku teori, hal-hal terkait harus kita singkirkan.

Lantas apa? Selayaknya seseorang yang sedang mencoba untuk mendedah isi pikiran orang lain, maka orang itu harus kita hidupkan kembali sebagai sebuah subjek yang menulis, yang mengekstraksi pemikirannya ke dalam teks. Si penulis adalah sebuah subjek yang menyejarah, artinya ada pengalaman-pengalaman yang bisa jadi (saya katakan bisa jadi karena mungkin ada yang tidak) mempengaruhi isi teks yang ia tulis. Pun, kondisi lingkungan sosial di sekelilingnya bisa juga memberi andil dalam tulisannya. Nah, kita bertemu dengan konteks.

Dengan segala hal itu, maka saya kadang merasa bahwa membaca sebuah buku tidak kemudian akan membuat saya mampu menyarikan isi pemikiran penulisnya. Karena toh pada kenyataannya, hanya hal-hal yang saya butuhkan yang sering kali saya ambil sebagai bagian penting dari tulisan itu. Dialog antara saya-buku-realitas, akhirnya menelurkan sebuah pemahaman parsial saja, yaitu tentang fenomena yang ingin saya kaji.

Kadang di titik itu saya merasa frustasi benar dengan daya pikir saya sendiri. Beberapa tulisan saya yang telah lampau bahkan mengeluarkan beberapa pemikiran yang agaknya telah saya abaikan di hari ini. Atau ada beberapa hal yang saya pusingkan di hari ini, sebetulnya suatu waktu pernah saya temukan solusinya (solusinya?).

Lantas apa maknanya?

Demikian, maka saya pikir, saya pribadi mengalami repetisi kondisi psikis dan emosi yang berulang, dan ini tidak sehat saya kira. Di satu saat, saya yakin bahwa faktualitas saya adalah hal yang paling penting. Sejarah ‘hanyalah’ sebuah pembelajaran hidup, dan dipikir bagaimanapun ia akan tetap demikian adanya. Sedangkan masa depan selalu menjadi sebuah misteri yang tak terprediksi, dan sekali ia terprediksi, maka irasionalitas pengharapan bubar sudah, dan hilanglah sumber kebahagiaan itu. Justru keragu-raguan akan masa depan yang menuntut manusia untuk memaksimalkan kemampuan yang ia bisa di hari ini, untuk menjalani hidup dengan lebih baik di hari ini.

Menulis, sebagaimana saya katakan di postingan sebelumnya, adalah upaya untuk menyimpan pemikiran saya. Tapi bahkan saya kadang sulit menelaah tulisan saya sendiri di masa lampau, dan harus menggali memori untuk melihat konteks penulisan itu. Atau pengharapan dan imajinasi macam apa yang berseliweran di pikiran saya ketika saya menulis artikel atau terlebih sajak. Fakta itu membuat saya merasa bahwa dalam membaca novel, yang saya gadang-gadang mampu membantu saya melihat realitas dan bahkan mampu mendekatkan saya pada pandangan pribadi penulisnya, harus juga menggali begitu dalam sebenarnya apa yang dipikirkan penulis ketika bercerita?

Maka saya meyakini secara pribadi bahwa setiap cerita, menyimpan sejarah hidup penulisnya, meski hanya sebuah adegan parsial, atau pemikiran saja, atau kondisi kejiwaan, emosi, kenangan, intinya dalam cerita itu ada hal-hal yang memang menjadi bagian hidupnya. Demikian, saya jarang melihat buku sebagai sebuah buku, tapi sebuah perdebatan internal dalam diri seseorang yang ia tularkan pada manusia lainnya. Teks, kemudian menjadi media untuk mewujudkan konteks dan memberi pemahaman akan konteks.

Apa hubungan itu semua dengan eksistensi?

Sartre bilang, tidak ada esensi yang mendahului eksistensi manusia, eksistensi manusia ada justru untuk menemukan esensi itu. Manusia itu adalah kebebasan, katanya. Maka adanya esensi yang mendahului eksistensi itu membuat kebebasan itu menjadi tidak ada. Saya belum memahami Sartre, atau mungkin tidak akan bisa, hehe. Tapi, saya sendiri berdebat secara pribadi, bahwa kebebasan manusia itu terbatas pada raga dan jiwanya. Konstruksi keduanya memberikan manusia batasan tertentu, meski saya juga tidak menyangkal bahwa manusia akan mampu melampaui batas itu melalui teknologi yang terekstraksi dari ide dan gagasannya. Menarik sekali ya manusia. Sejarah kehidupan, kemudian katakanlah dapat saya rangkum menjadi “sebuah upaya melampaui batas menuju kebebasan”.

Ada berapa agenda ilmiah yang mencoba mewujudkan teknologi kloning, immortality, atau bahkan mungkin upaya untuk menciptakan dunia sendiri (silakan searching pemodelan rekayasa atmosfer Mars sampai bisa ditinggali manusia). Semuanya, adalah upaya melampaui keterbatasan dan mendekati kebebasan yang sesungguhnya. Banyak sekali bahkan di lingkungan sosial kita, upaya untuk mewujudkan kebebasan diri itu, mungkin saya ambil contoh gerakan feminisme yang menuntut banyak hal terkait perempuan. Saya katakan banyak hal karena tuntutan setiap gerakan feminis tidaklah sama. Bagi saya, itu adalah sebuah upaya mendekati kebebasan diri, yang kemudian termanifestasikan dalam gerakan sosial semacam itu.

Hingga hari ini, saya kira saya tidak mencoba menuju ke arah membebaskan diri sepenuhnya. Saya kira, kebebasan itu menakutkan, hahaha. Cupu sekali. Ah, bagaimana pun, seorang Sartre yang mengatakan demikian pun tidak mewujudkan “kebebasan”nya dalam hidupnya sendiri. Jadi, saya anggap saja bahwa baik jiwa maupun raga saling membatasi diri.

Eh tapi tunggu, apa yang saya maksud dengan jiwa? Pikiran? Emosi? Soul? Nah kan, saya jadi ragu sendiri lagi. Mendendah mereka semua sampai pada tataran ontologisnya akan makan tulisan yang juga lebih panjang, dan saya tidak berniat untuk itu sekarang.

Maka, kebebasan yang disebut Sartre tadi, membuat manusia bisa menjadi apa saja sesuai dengan pencarian esensi yang ia inginkan. Kita memang kemudian menjadi bingung, meski kemudian dalam Islam juga disebutkan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di Bumi, atau untuk menyembah Allah, atau bahkan yang lain-lain, saya menemukan bahwa pada titik tertentu manusia berhenti sejenak dan menanyakan “untuk apa aku hidup?” Kita berlomba mengaktualisasi diri, meningkatkan eksistensi, untuk akhirnya mendekati esensi dan bisa dengan yakin “oh, peran saya ini toh”. Yah, meski kemudian setelah rasa yakin itu muncul, toh frustasi kadang-kadang juga menghampiri.

Ah, teks di mana-mana, tapi saya tak menemukan yang saya cari jua.

Atau, pernyataan itu seharusnya diganti menjadi: saya tak tahu apa yang saya cari, padahal teks ada di mana-mana untuk mampu menjelaskan itu semua.

wordsflow

tentang hal-hal biasa yang kau bicarakan


Ada banyak hal yang saya pikir menarik untuk disampaikan di laman ini. Saya merasa sudah cukup lama tidak bercerita model buku harian seperti yang kadang-kadang saya lakukan. Jadi, mari saya bocorkan kehidupan saya selama beberapa hari. Sehingga mungkin, saya akan memberikan hal-hal yang saya anggap omong kosong ini sebagai sebuah gagasan yang bisa menyebar selayaknya meme.

Selama 4 hari terakhir, saya mengikuti 3 seminar yang berbeda. Yang pertama membahas tentang industri tambang dan bagaimana antropologi memberikan perannya pada sektor tersebut, yang kedua soal refugees yang menjadi ‘problem’ tiada akhir hubungan bilateral Indonesia-Australia, dan terakhir tentang aktivisme dan asketisme. Ketiganya jika didiskusikan secara mendalam, bisa lah menciptakan badai otak (yang bukan brainstorm pada makna umum maksud saya) yang bisa mengganggu stabilitas mental. Mari saya ajak membahas sedikit pergolakan macam apa yang ada di dalam diri saya menyangkut ketiganya.

Topik pertambangan adalah paradoks yang tiada habisnya. Masing-masing pihak yang berkonfrontasi, yaitu perusahaan yang menambang dan masyarakat yang terdampak, berada posisi yang sama sulitnya. Dalam artian, saya kira sudah tidak banyak (sok tahu abis) daerah yang memang ‘bebas manusia’ secara keseluruhan (kalaupun ada memang adalah merupakan wilayah konservasi), sementara tuntutan untuk memenuhi kebutuhan material tambang begitu pesat meningkat. Di sisi lain, masyarakat yang banyak hidup di wilayah-wilayah perawan sasaran tambang, masih berada dalam kondisi hidup primitif (dalam artian masih berburu dan meramu) akhirnya harus menerima pertama-tama pemaksaan menuju masyarakat kapitalistik. Tentu saja gegar budaya mengiringi setiap perjalanan resettlement yang diakui perusahaan telah sesuai dengan prosedur internasional.

Ah, saya harus menyampaikan sebelumnya, bahwa saya tidak akan berusaha memberikan gagasan tentang seminar tersebut. Saya kira, membiarkan tulisan ini tetap menjadi pertanyaan justru akan menciptakan dialektika di dalam diri pembacanya. Hehe. Jadi langsung saya lanjutkan saja ya.

 

Secara tidak sengaja baru saja saya menemukan video ini di laman Facebook saya. Dilema pengungsi di banyak wilayah di seluruh dunia telah juga melanda Indonesia sejak era Habibie. Menurut data yang saya peroleh dari seminar kemarin, pengungsi ‘mampir’ ke Indonesia karena disepakati sebagai negara transit sebelum pengungsi tersebut mendapatkan resettlement atau visa perlindungan dari Australia. Namun, sejak masa itu pula Australia melakukan berbagai bentuk penolakan kapal-kapal yang masuk ke perairan Australia sebagai pencari suaka. Saya kurang mendalami dalil apa yang digunakan oleh pemerintah mereka, namun yang pasti manusia-manusia ini dianggap sebagai ‘problem’ dan akhirnya terombang-ambing di antara dua negara. Beberapa pelaut Indonesia bahkan dibayar kembali oleh pemerintah Australia untuk membawa pencari suaka itu kembali ke Pulau Rote.

Apa kemudian, yang kamu pikirkan? Bagaimana menempatkan diri dalam dilematika semacam itu? Apakah manusia adalah sebuah objek kebijakan? Apa yang kemudian kita maknai sebagai kemanusiaan? Apakah kemanusiaan tanpa syarat adalah sebuah hal yang utopis saja? Apakah sungguh kemanusiaan akan pernah bebas dari prasangka? Sementara masih sering berpikir ulang memberikan sedekah dan bantuan kepada siapapun, betapa jumawa untuk merasa mampu memikirkan hal-hal semacam ini. Di mana kita letakkan kemanusiaan?

Sakit sekali, dan begitu pahit menemukan diri penuh dengan omong kosong semacam ini. Terus menerus diulang dalam meja-meja diskusi, dalam relung pemikiran pribadi, dalam tulisan-tulisan, dalam pelajaran dan seterusnya. Sementara saya merasa bahwa saya harus telah selesai dengan diri sendiri sebelum mulai bertindak, saya sama artinya menjebakkan diri di dalam ketergemingan itu.

Pada seminar semalam, kemudian saya bertemu pada sebuah gagasan mengenai asketisme. Saya kira saya telah menuliskan gagasan yang serupa, meski saya mengistilahkannya sebagai pola konsumsi. Seminar tersebut mempertanyakan sebuah pertanyaan yang begitu mendasar tentang perlawanan terhadap sistem raksasa kapitalisme. Pertanyaannya sederhana; apakah kita telah meninjau kembali aktivisme yang kita lakukan? jangan-jangan kita termasuk manusia-manusia yang justru menghidupi kapitalisme itu sendiri. Begitulah kira-kira intisarinya. Saya tidak hadir secara keseluruhan pada bincang sore itu, meski setelahnya kami membuka diskusi panjang untuk membahas dua kata kunci penting bincang sore itu; aktivisme dan asketisme. Ah, lagi-lagi saya menemukan sebuah tautan tentang perlawanan, yang begitu dekat dengan bidang ilmu saya (silahkan klik di sini), Yah meskipun saya kira mungkin persoalan kompensasi merupakan motif umumnya, namun perlu diperhatikan saya kira.

Diskusi panjang kami, meski juga membahas pula tentang pendidikan sampai Gafatar, akhirnya seorang teman mengungkapkan pergolakan terdalamnya. “Aku ngerasa ini omong kosong doang,” begitu ujarnya. Sekali lagi, yang merasakan sakit, getir, dan pahit yang sama tidak hanya segelintir orang. Bisa jadi begitu banyak orang. Tapi lagi-lagi saya tak mampu menjawabnya meski dalam hati meyakinkan diri bahwa tetap menulis seperti ini, tetap berdiskusi, tetap menyederhanakan hidup, akan membawa pada sebuah perubahan yang sama kita dambakan; dunia yang lebih baik dan manusiawi.

Hal-hal seberat gunung itu, tidak juga bisa saya katakan lebih penting dari hidup saya sendiri. Prinsip rescue di mana pun sama; pastikan diri sendiri aman sebelum menyelamatkan orang lain agar tidak semakin banyak korban. Saya menempatkan diri saya dalam berbagai hal dengan menggunakan prinsip yang sama. Dalam artian, saya sendiri masih meyakini bahwa melakukan pembelajaran yang mendalam, pencarian data yang ketat, refleksi mendalam, dan membebaskan diri dari ketergantungan dasar wajib khatam sebelum mampu menyerahkan diri pada perlawanan. Maaf saya agak idealis soal ini.

Maka, menyadari bahwa kematian bisa selalu begitu dekat (karena tiba-tiba tenggelam) juga merupakan bagian dari pembelajaran mendalam tersebut. Ketika menyadari bahwa kematian adalah sebuah peristiwa yang manasuka dengan hidup kita, maka dalam kondisi apapun kita harus bersiap. Karena itu saya menulis.

Saya mencoba memaknai hidup sedalam mungkin yang mampu saya lakukan. Berbincang secara personal dengan seseorang adalah salah satu hal yang paling saya sukai untuk melakukan refleksi. Diskusikan apapun yang kalian inginkan, akan saya layani sepenuh hati. Persoalan realitas hidup, kesepian, perasaan, atau apapun, saya suka.

Ah, seorang teman baru saja menanyakan soal perasaan, bilamana saya menyukai seseorang, atau bilamana rasa itu hilang. Sayangnya saya tidak mampu menjelaskan persoalan yang saya sebut belakangan karena hal itu belum terjadi. Satu-satunya, dan saya kira memang hanya itu caranya, adalah soal pengendalian diri. Kadang ada rasa yang tidak dapat dipahami alasannya meski saya secara menyeluruh mampu memahami prosesnya. Rasa suka sama anehnya dengan rasa tidak suka, atau perasaan cinta sama anehnya dengan perasaan benci atau canggung dengan seseorang. Bisa saja itu datang tiba-tiba dan sulit menghilangkannya. Kadang bahwa saya berdoa (karena terkadang saya masih percaya) bahwa perasaan itu akan hilang. Tapi toh tidak juga.

Hemm, saya lupa menceritakan keseharian saya kan, hehe. Jum’at lalu saya mendatangi resital piano di Tembi, sebuah agenda yang saya gemari. Kadang bagian anehnya adalah tingkat ngantuk saya yang meningkat ketika menonton itu, namun saya tetap suka untuk menontonnya. Rechmaninoff selalu memenangkan hati saya seolah ada emosi mendalam yang ia terjemahkan dalam musiknya (saya selalu merinding mendengar karyanya). Sayang saya melewatkan Debussy. Nama-nama ini membuat saya harus mencari dengan seksama siapakah mereka, sejarahnya, karyanya, dan seterusnya.

Saya teringat anime-anime yang saya dalami juga sepanjang hari Minggu kemarin, baik dari penata musiknya, sutradaranya, grafisnya, atau bahkan hal-hal di balik itu. Ada sebuah short anime yang menggelitik saya, judulnya A Voice from Distant Stars. Ia bercerita tentang dua orang yang berbagi perasaan yang sama, namun mereka berjarak begitu jauhnya hingga untuk berkirim email akan membutuhkan waktu 8 tahun 4 bulan. Dalam sebuah surat, si perempuan mengakhiri pesannya dengan kalimat “dari Makoto 15 tahun yang mencintai Noboru 24 tahun”. Seolah ada banyak hal-hal ganjil yang tidak terjelaskan di dunia ini.

Hampir setiap orang merasa kesepian, meski begitu riuh suasana sekitarnya. Hal-hal yang begitu paradoks hadir setiap harinya. Seperti kematian itu sendiri, kesepian juga meminta dipastikan, agar kita berdamai dengan hal-hal itu. Saya kira, pekerjaan kita yang tak akan selesai adalah berdamai itu.

Panjang dan tidak jelas arahnya ya tulisan ini, biar saja. Toh hidup juga begitu. Sebagaimana sore ini saya membicarakan persoalan-persoalan dari bakal bubarnya Mojok bulan depan, Melanie Trump, Jokowi, kapitalisme, seni, perlawanan, hubungan interpersonal, seks, dan rasa. Begitu kompleks isi pikiran kita hingga untuk menciptakan peta pemikiran yang begitu komprehensif pun tampaknya akan menguras sebagian waktu hidup kita. Tapi berpikir tidak pernah sia-sia, sebagaimana mencintai pun demikian.

Terakhir, saya ucapkan selamat kepada manusia-manusia yang mampu merasa kesepian, yang menyadari kematian, yang merindukan, yang mencintai, dan yang mencari. Selamat malam.

wordsflow

kenapa akhirnya semua manusia berseteru?


Kemarin pagi, ada sebuah kebijakan baru yang diterapkan oleh kampus saya mengenai akses. Jalan utama menuju Lembah tiba-tiba dipasang portal dan tanpa pemberitahuan pagi kemarin diberlakukan wajib karcis untuk masuk ke areal kampus. Tentu saja hal itu menjadi perbincangan hangat. Bukan hanya karena implementasinya yang tiba-tiba, namun juga karena hal itu membuat antrian panjang dan kemacetan di simpang Jl. Agro.

Secara pribadi, saya yakin hal tersebut bertujuan baik, sebagaimana semua kebijakan kampus tampaknya adalah untuk meningkatkan citra kampus di manapun; di hadapan mahasiswa, calon mahasiswa, sesama akademisi, pemerintah pusat, khalayak internasional. Yah apapun lah, yang saya lihat, setiap kebijakan bertujuan untuk mencapai pujian. Tak lama setelah merasakan si portal untuk pertama kalinya, saya membaca sebuah postingan di laman Facebook, yang mempertanyakan kebijakan kampus yang katanya penuh dengan mahasiswa pemenang kompetisi internasional dengan dosen-dosen yang handal pada akhirnya tidak mampu menangani urusan parkir kampus.

Tertamparlah diri ini.

Bukan hanya soal itu. Kita melihat banyak sekali contoh lewat begitu banyak cerita nyata atau fiksi, tentang orang-orang tua yang sukses mengerjakan berbagai hal, menyelesaikan berbagai persoalan, namun gagal mendidik anak-anaknya, membiarkan anak mereka ‘terjerumus’ dalam seks bebas atau penggunaan narkoba, dst. Tidak heran bagi saya, institusi sebesar kampus, yang dipenuhi oleh orang-orang yang kritis dan tentu saja intelek, akan sulit untuk menata dirinya. Ada berapa kubu yang berbeda ideologi di sana, ada berapa kubu yang berbeda paradigma, dan seterusnya.

Saya kira, perihal keberagaman paradigma dan opini telah begitu banyak dipelajari melalui metode-metode analisis perilaku manusia, dan itu ada di berbagai bidang ilmu! Tapi toh kita tidak pernah lepas dari satu fakta: kita masih bertikai setiap harinya.

Maka, menjadi begitu menggelitik pikiran saya sendiri akhirnya, terutama tentang konsep ‘harmoni’. Apakah harmoni itu? Bilamana harmoni tercipta? Apakah harmoni memang mampu dicapai oleh manusia? Apakah harmoni merupakan sebuah cita-cita? Ataukah ia dipaksakan menjadi realita?

Sekiranya memang, saya sendiri pun meyakini meski mungkin karena adanya berbagai faktor yang menyebabkan perubahan tubuh manusia, setiap manusia tercipta berbeda. Hal ini bukan hanya urusan fisik, namun juga cara berjalan, suara, perilaku, dan pemikirannya. Tentu saja perbedaan itu pula yang akhirnya membuat setiap manusia itu unik begitu saja, dan kesejarahan mereka juga unik satu sama lain. Buat saya pribadi, sungguh aneh ketika setiap orang yang begitu berbeda itu, mampu menciptakan sebuah komunitas yang kini kita sebut sebagai ‘masyarakat’. Anehnya, setiap kita juga sama sepakat bahwa ada yang disebut sebagai kesepakatan bersama, yang mungkin kita kenal sebagai etika, moral, tata krama, aturan-aturan, dan seabreg istilahnya itu.

Kemudian saya bertanya-tanya, siapa yang akhirnya mampu menciptakan kesepakatan-kesepakatan itu? Jika pada akhirnya kita percaya pada cerita-cerita masa lalu, kematian pertama diciptakan oleh Qabil terhadap Habil saudaranya. Hal itu saya anggap sebagai upaya penguasaan terhadap orang lain, sebuah dorongan untuk menguasai dan mengatur tentu saja. Yang dilakukannya? Power. Ia menggunakan ketangkasan fisiknya untuk mampu menguasai orang lain. Hewan-hewan yang (katanya) mendahului manusia juga mencoba menerapkan penguasaan melalui kekuatan fisik. Kita kemudian mengenal istilah ‘yang berkuasa yang bisa mengatur’.

Maka, saya tidak bisa mempercayai bahwa ada masyarakat yang tidak memiliki struktur sosial yang hierarkis. Saya menduga (tanpa berusaha mencari tahu lebih dalam), setiap manusia yang akhirnya tunduk di bawah naungan masyarakat, adalah mereka yang tidak mampu mempercayai dirinya sendiri bahwa mereka mampu mencari penghidupan dan perlindungan seorang diri. Saya, anda, dan orang-orang ini, akhirnya membutuhkan sebuah naungan yang mampu menjamin penghidupan dan perlindungan itu.

Smith sempat menyebutkan, bahwa masyarakat menciptakan kodifikasi-kodifikasi tertentu yang kemudian kita sebut sebagai kesepakatan umum, misal dalam urusan fashion, hukum, atau apapun, yang kemudian menciptakan selera pasar yang sama. Tanpa adanya kodifikasi tersebut, maka setiap orang akan tetap unik pada simbol dan kode masing-masingnya sendiri. Bahasa juga merupakan salah satu keluaran kodifikasi tersebut. Maka, jangan merasa berbeda dengan orang lain jika kita nyaman berada di bawah masyarakat kita, karena itu artinya kita telah terkodifikasi oleh masyarakat itu.

(Maaf saya nyomot teori Smith untuk berbagai hal, karena saya anggap masih cukup relevan. Kerjaan ilmuwan kan begitu, mengembangan teori, coba ini itu, siapa tau lebih bisa menjelaskan).

Ini bukan soal ingin menjadi berbeda atau ikuti arus saja. Saya masih yakin manusia yang juga muncul dari manusia lain, yang mana juga mensyaratkan secara mutlak adanya persetubuhan dua manusia, menjadikan manusia setidaknya pada suatu waktu harus berhubungan dengan manusia lain. Seorang perempuan yang padanya dibiarkan mampu mengandung selama 9 bulan dan menghidupi seorang bayi selama 2 tahun, menempatkan manusia sebagai entitas yang harus hidup bersama dengan manusia lain. Meski secara biologis mamalia juga mengalami hal yang sama, pada akhirnya ke-berakal-an manusia menjadikan manusia memiliki sifat-sifat yang tidak dimiliki mamalia lainnya. mampu menciptakan kode-kode yang tidak mampu diciptakan mamalia lainnya, atau jika mau mengutip Marx, manusia melakukan ‘kerja’, yang mana tidak dilakukan oleh mamalia lain. Lebih jauh, Heidegger mengatakan bahwa hanya manusia (yang dia sebut das sein) saja yang mampu mendekati Ada-nya, sedangkan makhluk lainnya hanya menjalani saja.

Demikian, berbagai jenis manusia melalui berbagai disiplin ilmu mencoba menguraikan 5W1H-nya tentang manusia, tentang diri mereka sendiri, tentang kelompok kecil manusia, tentang masyarakat, dan bahkan seluruh orang di Bumi. Bagaimanapun, semua itu mengangumkan dan membingungkan di saat yang bersamaan. Seolah saya tetap yakin bahwa itu utopis saja, untuk berupaya memahami manusia di luar diri kita sendiri. Antropologi keluar sebagai disiplin ilmu yang tidak lagi sekedar ngurusin etnografi, tetapi juga mewujudkan cita-cita ‘memahami liyan untuk merefleksikan eksistensi diri’. Artinya, manusia yang tidak mampu memahami orang lain, akan sulit melakukan refleksi dan akhirnya akan sulit pula memahami dirinya sendiri.

Mengapa?

Pada suatu waktu, ketika kesadaran eksistensi pertama kali menyerempet saya, saya bertanya-tanya mengapa hanya saya yang tidak mampu melihat diri saya sendiri? Mengapa harus orang lain (melalui sepasang mata mereka) yang akhirnya bisa menelaah diri saya secara keseluruhan dan malah bukan saya sendiri yang bisa melakukannya? Saat itu saya menyadari mengapa penting sekali memiliki sebuah cermin besar seukuran badan.

Apa garis merah dari tulisan saya yang berantakan dan tidak jelas juntrungannya ini? Ada saudara-saudara, hehe. Jawabannya adalah imajinasi.

Sudah sangat lama saya mencoba mengkaitkan berbagai banyak hal di pikiran saya. Saya tidak menyukai parsialisasi ilmu pengetahuan, yang akhirnya hanya mampu menyingkap sebagian fakta saja. Ibarat orang-orang yang sering mencontohkan bagaimana seekor gajah didefinisikan oleh beberapa orang buta, tapi toh akhirnya kita mampu menjelaskan bagaimana gajah itu secara keseluruhan. Demikian saya yakin seyakin-yakinnya, bahwa sebuah realitas, atau masalah, atau apapun, mampu dijelaskan secara menyeluruh dan komprehensif, melalui penalaran dan kajian berbagai disiplin ilmu. Toh pada mulanya ilmu tidak tercerai berai begitu.

Di situ, saya mencoba mencari-cari di mana seni dibutuhkan, dan kenapa harus ada? Melalui seni, manusia menyehatkan imajinasinya, sehingga mereka mampu membayangkan kemudian, bagaimana liyan itu, lantas dapat mengkontekstualisasikannya ke diri sendiri. Imajinasi yang kering akan merusak diri, dan karenanya butuh dipupuk melalui konsumsi berbagai seni yang mewujud dalam produk-produk kebudayaan, atau mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Saya mencoba menelusuri bagaimana seseorang bisa meyakini sebuah ideologi dengan begitu yakin, karena bahkan hari ini pun saya masih begitu takut untuk menjatuhkan pilihan saya pada sebuah ideologi tertentu. Sejarah-sejarah dunia telah mengabarkan kepada kita dengan cerita lukanya, Mesir yang maju, Roma yang menguasai Eropa dan sekitarnya, Islam dan masa-masa kejayaannya, Mongol, Yahudi, Nazi, Uni Soviet, dan seterusnya hingga hari ini, ideologi apapun yang dijunjung orang-orang ini, toh tetap ada yang mati. Tetap saja ada manusia yang dikorbankan. Lantas apa yang membuat kita begitu yakin ideologi yang kita yakini tidak lantas membuat orang lain menderita juga?

Saya sangat suka dengan cara berpikir Gie. Dari buku hariannya, saya mencoba membaca perdebatan internal yang ada pada dirinya. Dari surat-suratnya dengan kawan-kawannya, saya bisa membayangkan apa yang sedang dia pikirkan. Dan bagaimanapun, dia adalah orang yang memandang manusia sebagaimana ia melihat dirinya sendiri. Seorang tentara juga mungkin seorang ayah untuk anaknya, seorang miskin juga adalah bagian dari keluarga kecilnya, dan bahkan dirinya adalah seorang anak pada sebuah keluarga.

Ah, saya mulai ngelantur, dan meski masih ingin meneruskan cerita, saya sudah mengantuk. Jadi saya sudahi dulu.

wordsflow

tentang apapun yang kau yakini (ii)


Seperti biasa, ketika akan mengerjakan tugas saya pasti justru memilih kembali ke laman ini, lantas menuliskan sesuatu. Sial.

Okai, mari kita lanjutkan.

Sudah lama saya nggak mendengarkan Balmorhea, teduh sekali seperti gerimis malam ini. Huehehe. Di saat-saat hati saya sedang tenang begini, saya sering bertanya-tanya tentang hal-hal yang saya inginkan. Tapi ternyata tidak saya temukan keinginan apapun kecuali samar-samar saja akhirnya. Ya sudah, jadi nikmati saya ketenangan ini hingga badai sekali lagi datang menerjang.

Tentang bahasan yang saya katakan belum selesai, belakangan setelah membaca kritik Keppler terhadap The Theory of Moral Sentiments-nya Adam Smith, saya jadi merasa opini saya sebenarnya telah dijelaskan dengan baik oleh Smith. Perkaranya, saya belum pernah membaca buku Smith sama sekali, dan sejauh yang saya tahu tentang dia, hanyalah perihal teori ekonomi klasiknya. Jadi, tetap saja saya akan menjelaskan dengan cara saya memahami pola konsumsi yang sempat saya bicarakan tempo hari. Jika ternyata kemudian saya akhirnya membaca bukunya Smith dan telah memahami lebih banyak, mungkin akan saya tulis juga di sini.

Soal kesadaran, saya kira terlalu dini untuk menyatakannya demikian. Urusan kesadaran bukan hanya perkara ‘sekarang’ tetapi juga masa depan, dan karenanya juga pasti akan melibatkan masa lalu. Maka, untuk mencapai tahap sadar-akan-sesuatu, seseorang melalui proses yang begitu panjang, hingga akhirnya menentukan pilihan pada hal yang ingin dikonsumsi. Jika kalian sepakat untuk meletakkan definisi konsumsi ini pada setiap aspek, maka hal ini juga berlaku umum, baik pada urusan materi maupun non materi.

Menjadi tidak mudah karena dengan demikian, maka ‘menyadari’ ini menjadi proses yang panjang, sebagai sebuah proses yang terus berlangsung dan tentu saja dialektis. Manusia juga kemudian bertemu dengan kebaruan, berkaca pada pengalaman, dan begitu banyak faktor yang akhirnya berhubungan dengan proses ‘menyadari’ itu.

Agaknya saya menuju pada ujung awal pertanyaan saya, hahaha.

Yah, harus saya katakan bahwa mungkin demikian memang yang membuat kita mengalami kebingungan dalam menghadapi segala hal di hari ini. Nah kan jadi mbulet dan nggak kelar-kelar kan ceritanya. Hell yeah, hadapi saja sudah. Minimal sadar.

**

Mengingat saya nggak suka postingan yang terlalu pendek, saya mau cerita saja tentang diskusi-diskusi kecil saya dengan beberapa orang. Sudah lama saya tertarik dengan pemikiran orang lain, atau minimal logika berpikirnya deh.

Seorang ahli astronomi yang saya ikuti akunnya di Twitter sempat membagikan tulisannya tentang penjelasan mengenai Bumi itu bulat. Mungkin ia jengah dengan fanboy flat Earth. Yang membuat saya kesengsem dengan tulisan itu adalah kutipan awalnya;

“Seorang pemburu berjalan meninggalkan tendanya ke Selatan sejauh 10 km, lalu berbelok dan berjalan ke arah Timur sejauh 10 km. Pada titik ini ia melihat seekor beruang dan hendak menembaknya, tapi si beruang melawan dan dengan cakarnya ia mampu menjatuhkan senapan si pemburu. Si pemburu kabur terkencing-kencing ke Utara sejauh 10 km, dan ia menemukan kembali tendanya. Ia lalu ganti kolor dan istirahat. Apakah warna beruang tersebut?”

—Sebuah cerita lama dari buku teka-teki Matematika

Silahkan baca artikel ini untuk tahu jawabannya. Kalau malas bisa menjawab sendiri juga sih, hehehe.

Dahulu kala di masa SMP saya, saya suka sekali dengan jenis-jenis pertanyaan semacam ini. Bahkan saya dan teman-teman saya sering saling bertukar soal logika untuk mencari kesenangan (sungguh dalam artian sesungguhnya). Saya telah hampir lupa seberapa menyenangkannya hari-hari lampau itu dengan matematika, hahaha.

Sering kali saya menyadari bahwa begitu banyak pengetahuan di dunia ini yang berseliweran dan hanya beberapa orang saja yang ingin mengaksesnya. Saya jarang bicara tentang jurnalisme, sastra, teknologi, astronomi, kuliner, ekologi, pariwisata, dan seterusnya, dan seterusnya. Kadang kala justru merasa tidak peduli dengan segala hal di televisi atau di koran, padahal penting! Pengetahuan umum sudah tidak cukup lagi masuk ke RPUL, sehingga tentu saja kita harus rajin-rajin memahami berbagai hal yang ada.

Di luar fenomena-fenomena sosial yang begitu memusingkan, banyak hal material yang sesungguhnya lebih mudah dipahami. Misalnya saja, ketika mencoba memahami bagaimana konflik sosial terjadi akibat dibangunnya infrastruktur, tidak bisa kita membicarakannya tanpa mengetahui bagaimana si infrastruktur itu diciptakan, dibangun, ditempatkan, dioperasikan, dan seterusnya (menurut saya loh ya). Hal ini saya kira penting karena pengetahuan parsial hanya akan membawa pada kesimpulan yang sama terbatasnya juga. Bukan lantas kemudian semua hal itu menjadi salah, tidak demikian. Lebih pada upaya untuk mengurangi pertanyaan lanjutan yang timbul. Bukankah semakin banyak pertanyaan yang mampu kita jawab, maka semakin terbuka juga realitas itu?

Yah, meski awal dan akhirnya nggak terlalu nyambung, saya harap kalian tetap berkenan.

wordsflow

tentang laki-laki dalam hidupku


Aku memiliki beberapa laki-laki dalam hidupku, dan tentu saja kamu ada di antara mereka yang kuanggap sebagai ‘laki-laki dalam hidupku’. Pertanyaan ini akan menuju, terutama pada soal masa depan kehidupanku, tentang laki-laki yang bagaimana yang akan membuatku tidak merasa kesepian, atau yang seperti apa yang bisa menjauhkanku dari perasaan terbuang.

Aku telah melihat berbagai jenis laki-laki, dan berbagai bentuk suami. Kesemuanya tidak sama, cara berpikirnya, kesukaannya, cara mengurus anak, cara memandang istri mereka, atau bahkan cara memandang perempuan lain, dan seterusnya, dan seterusnya. Di sepanjang jalan pulang semalam, saya tetiba mengingatmu dengan berbagai cara yang bisa kuingat. Sebagai seorang kawan yang menyenangkan, pun menyebalkan. Sebagai seorang yang cara berpikirnya kusukai, pun tidak kusukai pada saat yang bersamaan. Yang hidupnya kuketahui, dan tidak kuketahui pula. Yang baik dan buruknya coba aku pahami.

Tiba-tiba aku menginginkan seorang laki-laki dalam hidupku. Yang setiap malam akan menceritakan hari-harinya, lalu bertanya tentang hari-hariku. Kita akan saling berpelukan di bawah selimut yang sama sembari bercerita tentang apapun yang mungkin saling ingin kita ketahui. Di siang-siang kita, tidak harus kita berjalan berdampingan, atau berkunjung ke tempat yang sama. Tidak perlu. Kita hanya perlu menyelinap ke selimut masing-masing, lalu berbincang dengan khidmat hingga kita tertidur pulas sembari berpelukan berdua.

Aku tidak perlu tahu apa saja yang kamu lakukan dalam hari-harimu, sebagaimana aku percaya kita akan tetap saling mengerti. Bukankah kita akan saling berbincang saat bertatap muka? Mungkin berkabar sekali dua kali akan menyenangkan, menunggu-nunggu waktu-waktu bertemu denganmu setiap waktu, lalu kita akan melepas rindu. Kita akan berdekapan bergitu saja.

Lalu kamu akan tahu dalam detak jantung yang seperti apa diriku saat berdekatan denganmu, atau aku akan tahu bagaimana dirimu saat berdekatan denganku. Suara napas kita akan beriringan membawa kita pada mimpi-mimpi ke alam bawah sadar. Dengan cara seperti itu kita akan menghabiskan malam-malam kita.

Lalu ketika pagi, aku akan mengecupmu pelan jika aku tidak bangun terlalu siang. Kadang-kadang mungkin kita akan terburu-buru berbenah untuk segera ke tempat kerja. Atau mungkin kita akan bekerja di rumah! Kadang kita juga bisa sama-sama mengambil cuti, berkemah ke tempat dingin, menonton film tentang perang, petualangan, atau bahkan film-film kartun.

Bagaimanapun, aku yakin saling mencintai tidak harus selalu bertatap muka, atau berkabar sepanjang waktu. Hanya saja, aku ingin menghabiskan waktu bersama begitu kita berjumpa, menceritakan segala hal, mengungkapkan segala perasaan, dan seterusnya. Sepertinya, memang begitulah caraku mencintai. Kadang-kadang mungkin kita akan sangat kesepian, hingga harus pula mengharapkan waktu segera berlalu lantas kita akan bertemu. Memupuk rindu, lalu menuntaskannya. Mungkin aku dan kamu akan saling bersilangan pendapat, dan aku akan selalu menjadi pihak yang keras kepala.

Ah, tapi ini hanya cerita yang kukarang tentang kita.

Seandainya iya, maka ini akan berakhir menjadi cerita yang akan kudongengkan kepada anak-anak kita. Jikapun kesemuanya berakhir sebagai harap semata, maka akan kupastikan kamu mendapatkannya dalam bentuk buku dengan nama penaku sebagai pengarangnya.

beribu kasih dan rindu, wordsflow