WORDS FLOW

just go with the flow and whatever happens, happens

air


Sudah lama tidak menulis sesuatu. Barangkali sudah lebih dari satu bulan saya tidak lagi sering membuka twitter atau platform sosial media yang lain. Entahlah, mungkin saya bosan, atau barangkali saya hanya terlalu tenggelam dalam kesibukan harian mencari anime atau manga yang menarik untuk ditonton dan dibaca.

Karena satu dan lain hal, belakangan jadi suka nonton anime yang berhubungan dengan olah raga atau kompetisi, walaupun tidak semua jenis anime menarik sih. Tapi, di salah satu anime, diingatkan lagi tentang asiknya berenang. Untuk itu hari ini mau menulis soal pengalaman belajar berenang.

Mungkin sudah pernah saya ceritakan ya, tapi berhubung postingan di blog ini ada lebih dari 600 post, dan hampir 11 tahun jadi kita refresh aja ceritanya.

Suatu sore ketika saya menginjak TK, saya diperkenalkan dengan satu pemuda desa yang rumahnya depan agak jauh dari rumah saya. Ia bekerja sebagai tukang dan jarang ada di rumah di siang hari. Tapi hari itu dia ada, dan kebetulan kami bertemu di pengkolan depan rumahnya. Nenek saya memperkenalkannya sebagai penyelamat hidup lantaran di sekitar umur 2 tahun saya pernah tenggelam di empang bekas galian dengan kedalaman sekitar 3 meter. Who knows, tapi semua orang di kampung saya tahu tentang ini, haha. Jadi, saya pernah hampir mati tenggelam. Tapi karena tidak ingat saya tidak punya trauma tertentu dengan air. Hanya saja, karena sering kali diceritakan tentang ini, saya lebih sering menghindari air.

Sekitar kelas 1 atau 2 SD, saya dipaksa teman-teman saya (yang notabene seumuran abang) untuk ikut mandi di sungai. Waktu itu saya suka sekali main di sawah, dan menjelajah setiap jengkal sawah milik simbah saya dan sawah-sawah sekitarnya. Di pinggir sawah ada sungai yang lumayan besar dan arusnya lumayan, jadi saya mencobanya. Saya sempat terbawa arus tapi ketika itu merasa itu baik-baik saja.

Skip sampai saya kelas 1 SMA, saya tidak pernah lagi menyentuh air-air liar di luar kamar mandi. Tapi bersentuhan dengan air tetap sesuatu yang menyenangkan. Saya selalu mandi hujan, dan sering kali berusaha keras memenuhi bak mandi rumah yang luasnya sekitar 1,2x1x1. Itu juga bagian dari olah raga karena butuh sekitar 70 kali timbaan sampai penuh, haha. Well, karena saya kira saya akrab dengan air, saya pernah tanpa babibu terjun ke kolam kedalaman 2 meter waktu SMA. Untungnya saya berhasil selamat dengan usaha sendiri susah payah mencoba menepi. Barulah setelah itu saya trauma air, hahaha.

Saya sadar betul, menenggelamkan kepala ke dalam air bisa luar biasa membuat panik, dan karenanya saya selalu menolak diajak berenang. Sejak insiden SMA saya nggak pernah aneh-aneh dengan air, sampai akhirnya diajak renang jeram sewaktu spesialisasi divisi air. Hasilnya, saya merasa hampir mati di percobaan renang jeram pertama, hampir terbawa arus sampai harus diselamatkan senior, dan butuh lebih dari 30 menit sampai berani melakukan renang jeram kedua. Rekan saya sampai mencontohkan 3 kali renang jeram demi saya mau terjun. Alhasil saya berkesimpulan, saya takut air.

Tapi yah, entah bagaimana ceritanya saya di tahun itu ngarung berkali-kali. Seminggu bisa 2-4 trip. Selama belajar arung jeram jelas akan ada momen flip, wrap, atau sekali hampir masuk undercut di Progo, jantung saya mau copot. Tapi karena ketakutan-ketakutan semacam itu, saya barusaha dayung dengan benar, hahaha.

Dari masa bar-bar latihan arung jeram, saya menyadari tahap selanjutnya dari trauma air, saya takut kalau kepala saya terendam air secara mendadak, sisanya fine. Saya latihan flip-flop, self-rescue, atau menghadapi kemungkinan jatuh ke air. Selama ada ‘ancang-ancang’ dan tenang, semuanya beres, saya bisa berpikir normal.

Lalu sampailah saya di tahap anak Satub heboh membentuk grup renang. Dibandingkan semua perempuan di Satub, barangkali saya paling anti air pada masanya. Di kali pertama ikut berenang, badan saya kaku, tidak bisa mengapung, setiap kayuhan tidak membuahkan hasil, akhirnya masing-masing berenang sendiri ke tempat yang jauh lebih dalam.

Setelah satu kali itu, kali kedua saya berenang ke tempat lain, bareng Nourish. Waktu itu saya memang tidak minta diajari berenang karena saya tahu pasti badan saya menolak diajari, hahaha. Setelahnya saya menemukan metode belajar renang yang paling cocok, ‘mencoba mengambil batu di dasar kolam’. Ya tentunya saya mulai dari kolam dengan kedalaman 80cm-120cm saja, hehe. Tapi it turned out well! Dari belajar itu, saya menyadari satu hal, menyelam itu sulit, dan menenggelamkan diri juga sulit. Artinya, batas hidup dan mati di air sebetulnya hanya beberapa cm di bawah permukaan air. Selama punya daya yang cukup untuk selalu menarik kepala keluar air dan mengambil nafas, semua baik-baik saja.

Saya lupa persisnya tapi saya have fun sekali selama belajar berenang sendiri. Paling menarik mengamati cara berenang orang lain yang sudah baik, dan ketika akhirnya pas, ternyata berenang itu seru. Waktu itu saking sukanya saya berenang satu sampai dua kali seminggu sendirian, hahaha.

Meski begitu, saya dua kali mengalami insiden saat berenang. Keduanya karena panik. Yang satu di kedalaman 2 meter, sewaktu berenang keliling kolam, saya harus berbelok lantaran ada yang istirahat di pinggir sebelum lanjut renang. Walhasil panik dan kehilangan ritme. Yang kedua satu di kedalaman 3 meter, hampir tenggelam lantaran teman yang jagain saya di belakang malah berenang duluan, hahahaha.

Sampai sekarang, saya belum bisa mengapung dengan sengaja. Tapi ada saatnya ketika saya tenang, saya bisa mengapung di tengah-tengah sedikit di bawah permukaan, hal paling saya suka. Ketika berenang, seluruh bagian tubuh bersentuhan dengan air, semua syaraf di kulit bangun. Sensasinya juga seru, berat, tapi tidak berjarak. Sensasi waktu keluar air juga seru, karena setelah berenang sadar kalo udara itu ringan. Setelah bisa renang sedikit, jadi paham kenapa renang baik untuk jantung. Di masa saya paling rajin berenang, pace sewaktu jogging juga jadi stabil, karena saya jogging mengikuti ritme berenang, dan sebaliknya.

Heu, saya menulis ini karena tetiba ingin berenang. Juga ingin main badminton dan jogging di teknik. Yah, walaupun biasanya setelah setengah jam saya menggigil, berenang memang seru.

wordsflow

heading up to nowhere


Suddenly wanting to write in English but only for this opening paragraphs since I don’t write nor speak well in the language.

Knowing that probably things not gonna change for following months (I mean yeah, quarantine will just continue), and the spirit to keep up with works getting less interesting lately, I’m feeling kind of lack of adrenaline. You see, back then I was chasing over something, and at the final stage realized that I’m not good enough in the field, so I begin to doubt myself. I turn to get excited on other thing when talking about field work because it does challenging, but things wasn’t going in my favor so that I have to compromise. And to accept finally that things indeed changed and nothing I can do because I am mere a staff.

Still, fancying a bit about what might come next, I can’t help myself to feel excited although I now that I don’t have the ability to do it, probably. Been dreaming on one and other thing, also to realize that actually I’m only 28yo which means there should be long way ahead. I could learn much then. But this is the question after all, what I want to learn next?

Well, almost positive for me that I never intent to mastering anything, nor to be precise I wasn’t able to mastered anything in particular. To be a master of something means being passionate about it, never stop exploring what might hidden and keep developing the skill needed and recreate yet transform the previous finding to the new one. But besides being so, I merely satisfied after reaching the starting point. I was not even try to take one tough step and aiming to advancing.

So, this must be the core question i should ask myself during this quarantine; where am I heading to–where do I want to lead myself into.

Things that actually Changed


Kadang suka merasa bersalah karena menceritakan hal-hal yang jelek saja ke orang lain, hehe. Tapi misalnya di dalam perjalanan hidup, ada hal-hal yang baru bisa saya dapatkan justru setelah beberapa waktu lamanya kehilangan arah.

Sewaktu masih kecil, sering sekali marah bukan karena memang marah, tapi karena takut atau karena tersinggung. Di waktu-waktu itu sulit sekali menelusuri kenapa bisa marah atas satu dan lain hal. Marah adalah satu-satunya cara bagi saya untuk mengekspresikan perasaan, alih-alih mencoba untuk berbicara dan mencari kejelasan akan sesuatu.

Barangkali sampai akhir kuliah saya baru mulai bisa memahami dan memetakan perasaan di diri sendiri, meski tentu saja, kebiasaan marah masih sering membuat saya kelewat batas. Tapi bagian baiknya, saya mulai menyadari bahwa marah itu melelahkan. Saya merasa mengeluarkan energi dan pikiran begitu banyak hanya untuk marah, dan seringkali respon orang akhirnya tidak memuaskan saya.

Lalu saya bertemu lebih banyak orang, dari berbagai latar belakang dan kalangan usia. Saya lupa dari mana, tapi saya mengingat satu kalimat: if you want to know people, take a look on what makes them mad. Karena itu, setiap kali berinteraksi dengan orang lain, respon itu yang saya pelajari, atau setidaknya saya amati. Menarik juga kemudian untuk menyadari bahwa ada orang-orang tertentu yang tidak pernah marah, yang saya nggak pernah tahu kapan dan bagaimana ia mengutarakan kemarahannya akan sesuatu.

Dulu saya juga takutan. Terutama sekali di waktu-waktu SMA dan awal kuliah selalu jadi yes-man karena nggak dianggap ini atau itu. Parahnya, kalau melakukan kesalahan saya enggan minta maaf tapi cenderung mendebat. Ini lawak sih, but it’s happening all the time. Salah satu alasannya barangkali, karena di masa-masa itu saya merasa superior. Ada banyak hal yang bisa saya dapatkan bahkan tanpa berusaha terlalu keras. Saking fokusnya sama diri sendiri saya sering kali mengabaikan orang lain.

Saya pernah berselisih dengan karib saya, Anis, di pertengahan perkuliahan. Tidak lama, dia pindah kosan dan saya berkesimpulan kalau saya adalah salah satu faktornya. Saya merasa bersalah sekali waktu itu. Suka sebelnya karena tiap merasa bersalah bukannya minta maaf tapi justru terus merasa bersalah dan menghindari satu sama lain. Setelah itu kami lebih banyak berkegiatan di lingkungan yang berbeda, sampai saya menyadari jarak kami menjauh karena saya satu-satunya orang yang nggak tau dia mau ambil Summer Exchange ke Jepang. Tapi terus lupa apa yang terjadi, apakah kita saling memaafkan atau tidak, di titik tertentu hubungan kami berubah. Saya lulus kuliah karena secara kebetulan kami masuk studio di waktu yang sama. Barangkali ceritanya akan lain jika kami tidak satu studio waktu itu. Sekarang kami hampir tidak bertukar kabar sehari-hari, tapi selalu ada banyak hal yang bisa dibagi ketika bertemu lagi.

Seringnya, mengubrak abrik memori masa lalu bukan karena ingin kembali ke sana seketika ini juga. Tapi lebih-lebih, karena banyak hal, yang baru bisa dipahami dengan jernih ketika sudah menjadi memori, ketika kita sudah berjarak dan tidak terdistraksi oleh hal lain untuk memahaminya. Salah satu yang paling mengubah saya, suatu hari sekitar tahun 2011-2012 saya melewati hutan biologi yang rindang berboncengan dengan seorang teman sekembalinya kami dari sebuah kegiatan. Ia menegur saya karena dari dua agenda harusnya saya ikuti, saya lebih memilih kegiatan kedua bersamanya alih-alih ijin pulang dan pindah ke kegiatan yang satu lagi yang mana lebih pas untuk saya. Saya juga ditegur karena sebelumnya tidak jadi menghadiri kegiatan lain. Waktu itu saya terdiam, tersinggung, dan merasa tertampar aja. Sensasi yang sama waktu saya berselisih dengan teman karib saya. Barangkali si teman nggak inget sih, tapi hal itu mengubah saya dalam memandang prioritas, sedikit banyak.

Sebetulnya tidak serta-merta merubah. Di waktu itu, ketika ditegur saya cenderung merasa, tersinggung pertama-tama, lalu merasa diremehkan dan satu-satu cara untuk mengatasinya adalah melawan balik. Saya gampang dendam, bukan karena orangnya tapi spesifik pada momen, kata-kata, atau perbuatan yang saya pikir merendahkan saya. Belakangan saya menyadari kalo mendendam itu cara yang saya lakukan untuk melawan atau membela diri.

Kerja juga memperkenalkan saya pada banyak hal, terutama pada hal yang sering disebut sebagai ‘kenyataan’. Saya bertemu teman-teman yang masih punya mimpi untuk dikejar. Di hari pertama penerimaan pegawai, saya diminta untuk menuliskan soal ‘mau diapakan keterlanjuran yang sudah kami putuskan’, alih-alih menanyakan hal-hal klise ketika pertama kali masuk kerja. Saya sering menertawai pertanyaan itu karena memang sarkas.

Saya kira, meskipun saya mulai banyak melupakan, saya masih ingat betul teguran-teguran atau petuah bermakna yang setelah mendengarnya saya memikirkannya selama berhari-hari dan mempertanyakan ‘kenapa’ tapi tidak pernah menemukan jawaban.

Kadang juga begitu takut dengan perubahan. Dulu selalu sulit membayangkan hidup tanpa buku bacaan. Tapi dalam setahun belakangan saya hanya berhasil membaca paling banyak 10 buku dan setiap kali membuka laptop, buku-buku di hadapan saya memanggil untuk dibaca. Dulu juga enggan menonton film tapi dua tahun belakangan bolak balik ke bioskop di setiap ada film baru tayang. Juga pernah begitu takut untuk pindah kota tapi ternyata perpindahan bisa menjernihkan pikiran dan melebarkan ruang untuk berpikir dan bertindak dengan nalar dibanding dengan perasaan.

Di tengah-tengah ketelanjangan kita atas paparan informasi dari berbagai arah dengan berbagai macam tekanan, saya kira wajar sekali jika di satu hari kita bisa begitu bersemangat akan sesuatu, lantas esok hari merasa rendah diri. Jika sudah begitu, saya biasanya tidur lebih awal, atau justru semakin bermalas-malasan, buka-buka dagangan, ngobrol random dengan customer, posting video kucing sama anjing lucu di semua platform, atau mulai buka-buka galeri dan scroll tulisan di blog ini. Lantas menertawakan diri sendiri, prihatin sama diri sendiri, tapi terus juga semakin menghargai perjalanan, sedikit banyak.

Growing up consumed so much energy.

Semakin tua barangkali—semoga saya tidak pernah lupa, perbendaharaan pengalaman kita jadi banyak sekali, terlalu banyak sampai kadang-kadang kita lupa kalau kita punya. Tapi akan lebih sedikit energi yang dihabiskan untuk memikirkan satu dan lain hal, atau setidaknya lebih mudah untuk pulih. Di sela-selanya saya sering takjub dengan orang-orang yang kontrol emosinya begitu baik dan cenderung malu sendiri tiap kali saya nggak mampu menahan diri. Tapi lagi-lagi, it’s never to late for anything, right? Jadi mungkin pelan-pelan aja deh ya.

Setelah berhari-hari kurang tidur, entah wangsit dari mana saya akhirnya berhasil menuliskan 1000 kata ini dengan baik. Semoga berkenan.

wordsflow

Kado dari Mita


Tidak ada yang terlalu baru, tapi saya mau membuat appreciation post untuk teman saya.

Tahu betul bahwa blog ini hanya dikunjungi sedikit orang, bahkan si teman yang akan saya tulis ini tidak tahu saya punya blog dan akan menulis tentangnya. Sebetulnya ada platform lain dimana saya bisa secara lebih luas mengabarkan kabar baik, lewat Instagram atau wa story. Tapi blog selalu jauh lebih menarik untuk ditulisi.

Namanya Mita. Kami pertama kali bertemu saat saya psikotest di UI tahun kemarin. Kami satu kelompok FGD. Anaknya unik, excited tapi pekewuhintrovert. Karena sama-sama berasal dari satu almamater kampus, cepat merasa akrab meskipun baru kali pertama bertemu. Saat itu bahkan dia telah diterima kerja di salah satu perusahaan konstruksi nasional. Saya penasaran betul apa tujuannya mengambil tes di hari itu. Persis sebagaimana saya, dia juga merasa instansi tempat kami akhirnya bekerja sangatlah keren dan sebuah angin segar untuk dia yang juga berkecimpung di dunia kreatif. Polos sekali. Belakang suatu ketika saat kami pulang kerja bareng, kami sama-sama menyadari bahwa alasan sangat polos itu sungguh kelewat polos. Hahaha, kami sama-sama menertawakan kepolosan-kepolosan bodoh sembari memutar otak untuk satu dan lain hal.

Mita ini anak yang menarik. Dia jarang sekali terprovokasi untuk menjadi emosional sebagaimana saya sehari-hari, dan kami sering menggunakan responnya untuk menakar kegawatan suatu keadaan, lol. Saya mempelajari beberapa hal menarik darinya, terutama perihal respon atas sesuatu. Dia seringkali menekankan bahwa mengalah pada emosi bukan tipenya. Ketika ada sesuatu yang buat saya memancing emosi, dia cenderung bersikap bodoh amat tapi dengan respon yang kalem dan positif. Saya suka iri. Haha.

Tapi lucu sekali, karena setiap kali saya melakukan pemberontakan-pemberontakan kecil seringkali dia minta diajari. Dari dia, juga dari teman-teman lain saya banyak sekali belajar dan bercermin soal satu dan lain hal. Meski kami tipe yang bertolak belakang, ada hal-hal yang bisa dipetik dari perbedaan karakter. Saya bahkan sering dibuat terkejut bahwa respon emosional saya ternyata bisa membawa dampak baik ke orang-orang, bahkan pada bagian-bagian dari kepribadian yang kadang kala saya sesali. Hehe.

makasih Mita :3

Beberapa hari lalu, Mita mengirim saya hasil gambarnya yang manis sebagai kado ulang tahun. Seumur hidup, baru kali ini ada orang yang menggambar untuk saya karena biasanya saya yang melakukannya untuk orang lain. Suka sekali. Saya gampang terharu sama sesuatu, dan itu respon alamiah. Paralel juga sih dengan gampang marah dan emosi, hahaha. Dia juga anak kantor yang pertama kali mengapresiasi SketchandPapers karena dulu pernah kepo lantaran ternyata kami sama-sama berdagang buku. Saya sering dibuat terkejut dengan cara-cara semesta mempertemukan orang, juga cara waktu mendekatkan kita ke orang lain, atau memperlihatkan karakter mereka lebih dalam.

Saya sungguh beruntung karena semua angkatan saya seumur. Kami hanya terpaut maksimal 3 tahun saja dengan masing-masingnya. Mereka juga yang menjadi alasan saya tetap bersemangat setiap pagi, juga rela pulang telat atau dinas di hari libur. Mereka juga yang menenangkan dan mengingatkan saya ketika saya hampir keluar batas, haha. Saya pikir, kalau bukan karena mereka barangkali saya akan jadi pribadi yang berbeda setelah satu tahun bekerja. Saya hampir putus asa ketika di awal tahun menerima penempatan baru meski akhirnya kami kembali bersama setelah serentetan drama. Hahaha.

Tulisan ini juga saya tulis karena rindu mereka, hehe. Tiap siang biasanya kami akan keluar kantor untuk jajan terang bulan atau cilor, sore jalan ke halte melewati gang pasar lalu menunggu bus sembari membicarakan hal-hal. Kadang-kadang menghabiskan sore hanya untuk bermain boardgame dari salah satu master boardgame di angkatan kami. Besok hari julid kontraktor sembari mengeluarkan sumpah serapah. Besok-besok mencuri waktu untuk berdagang, menggambar, mengambil video. Tapi sudahlah, hehe.

wordsflow

Wabah


Sebetulnya saya enggan menuliskan tentang ini di blog. Bukan karena saya tidak peduli, tapi sungguh karena saya merasa terkuras habis tenaganya hanya untuk memantau, sedih, marah, prihatin, juga mencoba berpikir keras untuk membantu tapi akhirnya tidak menemukan sumber daya yang memadai di diri sendiri; miskin, bukan tenaga kesehatan, dan cenderung merupakan bagian dari masalah.

Belum ada satu minggu saya kembali dari Jogja, tapi rasanya sudah lewat dari sebulan. Saya kesulitan merasai hari dan juga menakar waktu di tengah huru hara ini. Masih sangat baik karena lingkaran terdekat saya belum bersentuhan langsung dengan wabah, yang mana saya sungguh tidak ingin itu terjadi. Saya punya privilese untuk memesan bahan makanan secara daring, masih memiliki penghasilan di tengah guncangan ekonomi, juga sehat dan bugar sebagai manusia, mendapat kebijakan bekerja dari rumah, dan masih bisa mengakses dunia lewat internet. Saya aman sentausa di dalam kamar kos berukuran 4×6 meter ini.

Tapi saya begitu lelah membacai media sosial, tapi saya butuh tetap terhubung dengan berita terbaru terkait wabah ini sehingga saya tetap membaca meskipun muak.

Saya mencoba menelaah beberapa pemikiran meskipun ini bukan opini yang populer.

Sejauh yang saya tahu, Indonesia adalah negara konsumen, bukan produsen, dimana semua barang yang sehari-hari kita konsumsi mayoritas berasal dari luar negeri. Kenapa begitu? Karena masyarakat kita cenderung lebih suka menjadi middle man, atau menjadi penjual jasa. Menjadi produsen itu melelahkan, menguras pikiran, sumber daya, dan kita harus sungguh mandiri. Karena sebelumnya saya bekerja di sektor kreatif, ada juga pergeseran selera konsumen dan produsen dari komoditas yang memiliki nilai guna ke komoditas tersier yang menjual vibes saja. Benda-benda tidak bernilai guna ini sayangnya memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi dibandingkan benda-benda bernilai guna. Pun, negara juga lebih mempermudah impor dibandingkan membangun ekosistem produksi yang mapan di dalam negeri.

Masyarakat kita latah sekali soal komoditas, cenderung enggan untuk berinovasi dan mudah berkiblat ke orang lain dalam menciptakan produk. Demikian, pasar Indonesia lebih banyak dikuasai oleh produk dari luar dan semakin jauh mereka menajamkan taringnya di Indonesia, produsen Indonesia megap-megap karena merasa tidak mampu bersaing. Sayangnya, kesadaran tidak mampu bersaing ini sering cepat sekali diasosiasikan dengan modal. Meskipun benar, kita punya masalah lain yang juga penting, kekurangan sumber daya dan kemampuan untuk mengembangkan komoditas, kurangnya regulasi pemerintah dan keberpihakan pemerintah pada industri dalam negeri, tidak ada perlindungan dan sulit sekali industri kecil untuk mendaftar HAKI, insentif juga minim, dan serangkaian masalah lain yang fasih sekali disebutkan pelaku industri.

Saya bukan ahli ekonomi, dan hanya pernah sebentar saja mempelajari ekonomi politik, pun tidak lulus sempurna. Setelah itu juga tidak banyak membaca buku atau artikel yang berhubungan dengan ekonomi. Tapi sebagai pedagang, saya sering kali merasa kesulitan untuk memasarkan produk. Produsen atau pedagang harus berjuang sendiri untuk mampu memasarkan produknya lewat pameran atau platform lintas regional. Pendataan kelompok-kelompok industri juga sering kali hanya berakhir di lembaran-lembaran laporan kajian dan tidak dilanjutkan ke eksekusi teknis. Sementara pelaku menunggu sembari harap-harap cemas. Beberapa lokakarya strategis sering kali salah sasaran dan hanya berakhir menjadi ajang buang-buang anggaran semata.

Meski awalnya enggan, saya punya satu alasan ketika memilih masuk ke instansi sebelum ini. Meski terdengar muluk-muluk, industri kreatif memiliki ekosistem yang baik karena berbasis komunitas meskipun ada yang memiliki level berjenjang dan skala yang bervariasi. Saya punya harapan sangat besar bahwa saya akan bisa menolong komunitas kreatif ini suatu hari nanti. Tapi kadang cita-cita sedikit meleset dari jalur takdir jadi saya kudu bersabar untuk mewujudkannya.

Semua orang tahu bahwa pemerintah kita bermasalah. Ada hal-hal yang tidak beres tapi alih-alih mencoba untuk benar-benar mencari tahu apa yang terjadi dan memperbaikinya sebisa mungkin, orang lebih suka menghindarinya sama sekali atau mengikuti arus saja. Tapi kita tetap protes. Dan itu melelahkan sekali, setidaknya buat saya pribadi. Lagi-lagi, ini sangat pribadi. Bisa jadi karena saya yang tidak mudah menerima hal-hal atau cenderung memaksakan diri akan sesuatu.

Di tengah wabah ini, saya menyadari bahwa saya memiliki sangat banyak privilese sebagai orang yang memiliki dualitas. Saya memiliki secuil persiapan untuk mengadapi masa sulit semacam ini. Bisnis mikro yang saya jalani tidak bergantung pada sistem tertentu sehingga ketika krisis berakhir, saya tidak akan kesulitan untuk memulai kembali karena modal utama usaha adalah keterampilan.

Tapi saya melihat teman-teman saya mulai merasakan dampaknya karena tidak memiliki perlindungan dan jaminan usaha. Beberapa usaha yang memiliki pegawai dan padat modal cenderung sulit bertahan. Jika krisis terus berlangsung, usaha yang sangat besar atau yang sangat kecil saja yang akan mampu bertahan, sementara usaha menengah cenderung tertekan karena ada beban pegawai, beban sewa, dan target produksi dan penjualan yang tidak terpenuhi. Akumulasi tekanan itu akan membuat mereka tidak mampu lagi berdiri dan akhirnya menutup cabang-cabang usahanya, atau menjual usahanya ke pemilik modal agar memiliki sedikit simpanan untuk bertahan hidup atau memulai bisnis kembali. Posisi ini yang akan membuat kesenjangan antara yang kaya dan miskin semakin besar karena yang kaya mudah saja mengambil alih usaha menengah dan menguasai pasar sementara bisnis kecil tertatih-tatih memulai kembali.

Ini bahasan yang umum ada di kelas-kelas diskusi kami tapi saya lupa buku-buku atau tulisan siapa yang bisa dirujuk untuk membahas ini. Pokoknya ada, silahkan cari sendiri.

Wabah ini juga mempengaruhi ke-Jakarta-an saya. Seringkali saya membayangkan, saya sebagai warga kota rentan sekali, dan cenderung tidak akan bertahan di masa krisis karena masyarakat kota bergantung pada distribusi komoditas. Kita tidak membuat makanan kita sendiri. Sistem ekonomi kita juga lemah. Saya sering kali menjejali pikiran dengan kemungkinan bahwa ekonomi akan kolabs suatu hari ketika krisis datang, entah karena bencana alam, terputusnya rantai distribusi, chaos politik, atau wabah seperti ini. Ternyata ketakutan saya memang beralasan karena akhirnya saya sampai di titik ini juga.

Krisis ekonomi tahun 1998 mengingatkan saya bahwa ada orang-orang paling terdampak di kota-kota besar. Cerita-cerita kawan saya yang selama berhari-hari tidak bisa keluar rumah entah bagaimana menjadi alarm untuk saya sendiri. Demikian, pikiran-pikiran nun jauh di depan sana mudah sekali mengganggu saya sewaktu-waktu sampai kadang membuat saya gentar untuk tetap berada di kondisi sekarang. Tapi itu satu hal. Saya pikir saya toh akhirnya akan bisa mengatasinya dengan satu dan lain cara.

Setelah berhari-hari memberi asupan hal-hal memilukan dan penuh dengan hal-hal negatif, hari ini saya ingin menggeser sedikit hal-hal itu dan mengerjakan hal lain yang sebetulnya lebih menyehatkan untuk mental dan pikiran saya. Tetap ingin mendoakan yang terbaik buat teman-teman, terutama yang bekerja di sektor informal karena tentu saja ini pukulan yang berat. Hang in there, hope we can survive.

wordsflow