WORDS FLOW

setiap pengalaman pantas untuk diingat

Di Tengah Presentasi Epis


Yang paling saya suka dari mengerjakan tugas adalah saya dipaksa untuk menjebloskan diri dengan suka rela masuk merasuk bahkan ketika tubuh saya tak mampu lagi menjangkau kedalamannya. Berkali-kali selama berbulan-bulan dan mungkin bertahun-tahun ini, saya sering mengalami kesulitan untuk memahami teori, dan bisa jadi tidak berpindah halaman bahkan setelah sepuluh kali membaca bolak-balik. Menyedihkan.

Presentasi epis akan berlangsung seharian, dan saya harus sekali menulis di siang hari ini sebelum kembali pada Foucault, Marx (lagi-lagi), dan Gramsci. Tiga tokoh luar biasa yang bisa disatukan oleh Tania Li di bawah tajuk The Will to Improve (kenapa ya saya suka banget sama ibu ini?). Dan dengannya, saya terpaksa mendalami Marx lebih dalam, meskipun sembari menyimpan malu karena begitu sulit saya mendalami hal-hal itu. Why oh why.

Semalam dalam upaya saya untuk mencoba menyicil power point (yang mana adalah hal paling tidak saya suka), Tengdu malah mengajak kami (dengan pasang speaker) untuk turut menonton film dokumenter tentang “pemberontakan” di Ukraina.

Ada hal-hal yang kembali bermunculan, sebagaimana buku yang tengah saya dalami ini, bahwa kita selalu sulit untuk lepas dari konflik. Ada sebuah catatan yang dibagikan seorang teman di facebook, tulisan itu dimuat di Indoprogress. Dalam narasi panjang, ada sebuah pertanyaan yang terselip, “apakah rakyat pernah salah?” Itu pertanyaan yang ternyata juga mampir di pikiran saya sepanjang perjalanan sosial saya. Bahwa ada begitu banyak jenis manusia yang saya temukan di keseharian, di dalam ruang kelas, atau di manapun di dunia ini adalah bukti bahwa rakyat, atau masyarakat tidak bisa begitu saja disamakan. Ada proses-proses yang terjadi dalam kehidupan sosial sekecil apapun, yang darinya kita berusaha untuk mendalami dunia. Saya sudah pernah membahas ini sekilas sebelumnya.

Tidak mau berpanjang lebar karena seharian ini saya akan mendengar begitu banyak teori dipaparkan dan dijejalkan dalam diri saya, namun saya masih mengais-ngais Marxis seolah bebal untuk menerima pemikiran orang lain.

Saya ingat dalam perbincangan makan siang dengan seorang teman, saya sempat mengajukan pertanyaan mengenai “adakah kemungkinan lain selain perlawanan?”, dan pertanyaan itu juga saya perluas ke banyak hal. Saya paham bahwa perlawanan muncul bukan tanpa sebab, bahwa ada hal-hal yang begitu mendesak untuk segera membebaskan diri dari hegemoni kekuasaan. Tapi meski tidak ada jaminan apapun akan masa depan, manusia berusaha untuk terus melawan tekanan. Kawan saya mengatakan kemudian, bahwa bagi mereka yang penting adalah memperjuangkan hari ini, hari esok bisa kita songsong bersama. Begitu pula mungkin, banyak orang di dunia mendalami kehidupannya sendiri.

Relasi manusia selalu unik dan tidak sama, karena ada proses dialektis yang tidak sama, ada kebersandingan dan penolakan, dan hal itu bisa berlangsung bersamaan. Maka, penilaian atas suatu kejadian melalui penyederhanaan-penyederhanaan hanya akan membawa kita pada pengetahuan parsial, demikian kehidupan hanya terjelaskan sepotong-sepotong saja.

Saya sering malu dengan teman-teman saya, dengan diri sendiri terutama, dan dengan ilmu pengetauan. Apa sebab? Sebagai wujud yang menyimpan pemikiran-pemikiran, saya tidak pernah keluar dari zona nyaman dan menantang dunia. Tapi dalam hal ini, ada hal yang membuat saya terus merasa ragu, bahwa saya tidak cukup berkapasitas untuk menulis sesuatu yang berkualitas dan mampu dipertanggungjawabkan. Keraguan yang terus menerus saya produksi dan reproduksi ini yang kemudian membuat saya semakin ragu melangkah, menentukan arah, dan menempatkan diri.

Well, lagi-lagi saya menye-menye, hahaha.

Tapi sebagaimana alam, dan begitu pula manusia, kita terdiri dari air dan api, ada bagian teduh dan dingin, serta panas dan beringas. Manusia memiliki kadarnya sendiri sebagaimana alam mencoba memperlakukan dirinya sendiri. Bahwa pada suatu saat dia bisa memberikan rasa nyaman pada manusia, dan berikutnya memberi bencana, meski keduanya adalah hal yang sama. Relasi manusia, demikian, memiliki naik-turunnya sendiri. Siklus alam membuat manusia tidak berdaya pada beberapa hal, dan akhirnya mati menjadi finalnya.

Ah, saya lebih ngelantur di postingan ini, sudahlah. Sampai jumpa!

wordsflow

Tengah Malam Ini (ii)


Malam kedua saya posting lewat handphone.

Sebelum saya mulai, mungkin sebaiknya kalian membaca postingan seorang teman yang saya pikir it’s too true (sila klik di sini). Semoga kalian menemukan pencerahan sebelum mendengar curhat tak penting saya di malam ini.

Sering sekali saya berpikir bahwa masih ada orang-orang yang membaca blog ketika media sosial sudah begitu banyak, dan blog pribadi semacam ini sudah begitu tua dan layak untuk ditinggalkan. Tapi walau bagaimana, saya justru merasa hidup lewat tulisan-tulisan di dalam blog ini. Dan menjadi barang mewah ketika ada media online yang tidak ‘murahan’ sebagaimana media sosial yang lainnya. (oke saya kasar, maafkan)

Seharian ini saya mencoba melarikan diri dari sekret dan merenung di kosan sembari terapi dengan membuat buku. Kerajinan tangan, menjadi hal yang paling saya kuasai sejak kecil, dan dari sana saya merasa mampu mengendalikan banyak hal. Orang-orang di sekeliling saya baru-baru ini mengeluh tentang menjemukannya kuliah, atau belajar. Mungkin karena memang sedang masa ujian, sehingga semuanya terasa begitu membebani. Tapi, manusia-manusia yang tidak mampu melarikan diri dari sekolah akhirnya merasa lebih tertekan, lantas merasa dirinya yang paling gagal.

Entah kenapa bab nilai lebih dalam Das Kapital begitu terngiang-ngiang di pikiran saya. Manusia era ini (yang tidak mampu saya definisikan), kehilangan relasi dengan produsen dari komoditi yang kita konsumsi. Sebegitu teralienasinya hingga kita menerima begitu saja label yang diberikan oleh perusahaan atas makanan yang kita makan. Kemarin saya menemukan sebuah postingan dari seorang teman yang menjual roti. Dia memaparkan sumber bahan mentah dari roti yang ia buat, setiap sumbernya ia sebutkan. Di akhir catatan foto dia menambahkan “bukankah sebaiknya makanan kita traceable?”

Saya menghabiskan masa kecil dengan bermain di sawah dan kali dekat sawah. Setiap sore kami mencari kepik dan tidak pernah menemukan kegunaannya kecuali warnanya yang bagus. Ada sebuah sumur yang legendaris di tengah sawah. Lebih karena di sana ada timba dengan pemberat batu (bukan model katrol tarik) dan dekat dengan saung. Saung favorit kami dikelilingi rumput gajah, dan saat rumput belum dibabat untuk pakan ternak, tempat itu menjadi persembunyian paling nyaman.

Di waktu-waktu itu lah, bahan pokok makanan lebih banyak kami peroleh dari sawah. Kami tahu bagaimana masing-masingnya ditanam, kualitas air yang mengairinya, atau siapa-siapa saja yang merawatnya. Di hari ini, hanya sejumlah kecil orang yang masih mengetahui sumber makanan yang mereka konsumsi.

Sempat terlintas di pikiran saya, bahwa sebagaimana rekan saya yang jualan roti tadi, akan ada masa dimana orang-orang meragukan makanan yang mereka makan. Bahwa kita tidak akan makan segala sesuatu yang tidak jelas asal usulnya dan akhirnya menanam sendiri makanan yang ingin kita konsumsi. Di sudut rumah mungkin kita bisa memelihara sekandang kecil ayam petelur. Atau, setiap beberapa rumah tangga menanam jenis yang berbeda-beda untuk saling menghidupi satu sama lain.

Sebagaimana saya ceritakan semalm tentang keinginan saya menari-nari, sebenarnya itu adalah bagian dari kesadaran atas hilangnya kebudayaan. Apa itu kebudayaan untuk manusia-manusia karbitan di jaman ini? Saya mengenal kesenian sebagai sebuah hal yang eksklusif dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Mengenal budaya sebagai sebuah paket wisata yang menumbuhkan romantika semata. Mencoba menemukan nilai yang hanya sebuah reproduksi semu ala kapitalis. Tidak bermakna sama sekali.

Lalu kalut mencoba menciptakan sendiri atmosfer yang menjauhi era yang pesakitan ini. Mencoba kembali pada yang telah mati. Antara takut hanya menemukan romantika atau berharap mencapai makna. Tidak ada yang pasti.

Meski muak, tapi saya selalu membuka media sosial, mengklik berita yang ingin saya baca, mengumpat pada beberapa, bersyukur pada beberapa. Kadang, saya merasa tergugah menerima ajakan abang saya jadi pedagang angkringan dan menemukan orang-orang baru yang bisa diajak bicara setiap waktu. Atau jadi tukang loper koran sehingga bisa jalan-jalan seharian. Tapi yah, hanya seandainya. Nyatanya toh saya lebih memilih kuliah dan memastikan pada negara bahwa penganggurannya berkurang karena pendidikan. Atau membuat buku untuk memastikan kapital tetap berputar, dan saya punya daya beli untuk melanggengkan kapitalisme.

Tapi malam masih panjang. Masih saja bumi tak mau mempercepat diri. Padahal manusia sudah tak lagi mau menunggu lama untuk pagi kembali. Seolah-olah mereka ingin bekerja sampai mati. Menumpuk pundi-pundi tanpa peduli.

Dimana semboyan hidup sederhana, hidup secukupnya? Katanya filsafat sudah mati, tapi kita merindukan dan mencari-cari. Seolah lupa siapa yang melemparnya pergi. Menyisakan agama yang tak juga diterima jiwa-jiwa yang resah.

Baiklah, setidaknya nyamuk-nyamuk masih bergembira mencoba mencuri darah dari saya.


 

Tengah Malam Ini


Entah mengapa saya begitu malas membuka laptop malam ini. Padahal ada begitu banyak seruan-seruan yang harus segera diutarakan di pikiran saya. Sesekali upload dari handphone deh, biar nggak usah panjang-panjang.

Saya seakan terhenyak akan hening di lincak malam ini. Anak-anak sedang sibuk mempersiapkan diri untuk ujian akhir esok hari. Seharusnya saya pun sibuk dengan ujian akhir dengan laporan-laporan tentunya.

Saya ingat bahwa sudah lama saya tidak kembali ke rumah. Tapi apakah ia masih rumah? Rasanya harus saya akui bahwa saya mulai meragukannya. Tidakkah rindu dengan orang tua? Ya tentu saja. Tapi, jika saya katakan rindu saya berbeda, adakah yang akan percaya? Bagi saya, berpisah akan lebih membesarkan kerinduan dan cinta, meski saya tahu itu juga durhaka.

Lalu saya ingat sekret dan kamar kosan. Dua hal yang selalu bisa membahagiakan diri saya entah bagaimanapun bentuk raga dan jiwa saya. Keduanya menjadi obat. Keduanya menyediakan kemewahan yang tidak ada di tempat lain, teh tong-tji panas, sleeping bag hangat, kesibukan, kemalasan, dan privasi. Entah saya hanya mencoba melarikan diri atau sungguh keduanya menjadi hal penting di hari ini. Saya tak tahu, pun belum mampu menentukan jawaban pastinya.

Linimasa laman sosial media masih heboh dengan berbagai isu terbaru. Entah latah atau baru-baru ini itu menjadi hal yang paling penting di hidup mereka. Ribut-ribut ini memuakkan, dan tidak hilang rasa muaknya bahkan setelah berkali-kali mencoba untuk mengatakan pada diri sendiri bahwa ini bukan urusanmu. Sementara itu, ada teman-teman Papua yang terus membagikan artikel-artikel pro Papua. Sebuah upaya besar menuntut hak sebagai manusia.

Saya ketinggalan berita tentang beasiswa, penelitian, teknologi, ataupun hal-hal baru ilmu pengetahuan. Tentunya saya juga semakin jauh dengan arsitektur, meski rasa-rasanya juga masih merangkak dalam upaya mendekati antropologi. Sementara sebaya-sebaya saya sudah banyak yang menikah, beberapa menimang anak, lulus profesi, punya konsultan, menerbitkan buku, jadi pembicara sana-sini, masuk koran berkali-kali, atau minimal, mereka memiliki rekan hidup. Sementara saya masih berupaya memperbaiki diri, mencoba mempertahankan usaha, dan mencoba tidak banyak peduli. Seiring waktu, saya semakin yakin bahwa tugas saya hanya mengisi terus laman blog ini. Tanpa peduli siapa pembaca, apa yang dicari, darimana ia, dan untuk apa tulisan-tulisan ini.

Tidak ada rasa, hanya kekosongan malam tanpa musik, emosi yang teredam, wangi indomie yang menguar, dan udara dingin semilir yang baru-baru ini mewarnai Jogja. Suara ketik hape sepanjang huruf demi huruf mulai tertera dalam layar kaca. Ah, sudah berapa lama saya tidak menonton TV? Rasanya saya begitu ingin tertawa menyaksikan vampir-vampir Cina.

Lagi-lagi saya mengeluh tentang hidup, padahal saya tidak menderita sama sekali. Makanan bisa datang bagaikan dikirim dari surga. Air tinggal buka keran. Kepanasan ada tempat berteduh. Butuh tidur pun tinggal melipir ke kasur. Terlalu banyak waktu luang, hingga tidak tahu untuk apa waktu-waktu yang berlebihan. Kadang ketika hujan turun, ada dorongan untuk keluar dan menari di bawah hujan. Mengimajinasikan hidup berkejaran di bawah naungan pohon-pohon besar. Sesekali bergurau di sekeliling api sembari menyesap teh tong-tji. Tak perlu peduli apapun kecuali percakapan dan kebebasan.

Kita hidup dalam ketidaktahuan yang demikian menyesakkan. Kehilangan terlalu banyak hal menyenangkan untuk menuju pemenjaraan. Bisa jadi sekret dan kamar kosan menawarkan hal yang tidak ada itu, sehingga saya begitu mencintai keduanya. Sering saya justru merasa bangga dicap gadis serampangan atau bahkan liar dan tidak mengurus diri. Ah, peduli apa saya pada orang-orang? Kita hanya jiwa-jiwa yang terpenjara pada raga yang terpaksa harus diterima.

Lalu teringat bahwa bumi hanya satu ini. Ketika ia mati, maka tidak ada lagi kami, kita, kamu, saya, mereka, dia, dan semua isinya. Menjaganya sama seperti menjaga raga. Keduanya memiliki batas agar tidak rusak selamanya. Agar mampu istirahat sebelum kembali bekerja. Tapi saya belum melakukan apa-apa pada bumi. Menyapunya tidak pernah, menanaminya dengan pepohonan nihil, membersihkan airnya, atau apapun, tidak satupun saya lakukan. Hanya manusia yang berangan-angan, seolah peduli tapi tak mau mengolah diri.

Saya bingung. Tiba-tiba saya merasa kesepian. Sebagaimana saya memiliki 24 jam dalam sehari, hanya beberapa jam yang mampu saya ingat sebagai kenangan. Selebihnya saya tidak menemukan jejak hilangnya.

Antara saya dan banyak manusia, tentu saja bukan saya yang paling menderita. Saya toh bukan siapa-siapa, yang perannya juga belum dituliskan oleh penguasa semesta.

Entahlah, rasanya terlalu hening bahkan ketika ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Bahkan saat anggota badan bergerak, ada bagian hening yang tetap bertahan. Entah itu apa, entah dimana, entah kenapa.

Biarlah, saya ingin kembali ke dunia mimpi saja. Letak kebebasan dan bahagia berpilin menyatu tanpa ragu.

wordsflow

Epistemologi, 212, Marxis, dan Referendum Papua (iii)


Marxis

Di luar masalah apakah orang-orang terlalu nyinyir atau tidak dengan kejadian hari ini, saya masih berupaya untuk menjadi individu yang mengambang di antara keduanya. Biar saja dianggap tidak punya pendirian atau menjadi pihak yang menentang agama, karena di hari ini saya masih memiliki pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai agama. Well then, mari lanjut ke pembahasan berikutnya.

Marx, adalah tokoh yang saya pikir sangat luar biasa keren terutama atas sumbangsihnya memberikan cara pandang yang berbeda pada ilmu sosial. Harus saya katakan bahwa kuliah saya selama satu semester kemarin tidak mampu memberikan pemahaman menyeluruh dan mendalam mengenai pemikiran Marx, melalui Das Kapital. Saya pikir, seharusnya buku itu dibaca setiap orang yang mengaku berpendidikan di hari ini. Bukan karena substansinya, tapi lebih dari itu, Marx menawarkan pemikiran kritis atas fenomena sosial, dimana sebelumnya tidak banyak dijamah oleh bidang-bidang ilmu sosial, apalagi antropologi.

Lewat materialisme, dialektika, dan logika, ada begitu banyak hal yang mampu kita jamah dan kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Mengkritisi setiap hal dengan mempertanyakan ulang setiap detilnya adalah gerbang awal mencoba memahami bagaimana realitas itu berjalan. Sayang sekali, ilmu ini tidak memberikan kemampuan untuk memprediksi masa depan, dan beruntung sekali karena antropologi memang ilmu masa lalu, hahaha.

Enggak sih. Yang saya maksud adalah karena antropologi Marxian (dan paradigma lainnya juga) memfokuskan studi pada masa lampau, maka sulit sekali untuk ‘memaksa’ antropolog memberikan rekomendasi teknis mengenai bagaimana membuat masyarakat menuju ini atau itu. ‘Ketidakmampuan’ itu yang kemudian diambil alih oleh pemerintah, instansi-instansi, atau bahkan masyarakat sendiri dalam mencoba menerapkan kepengaturan yang mereka anggap paling sesuai dengan kondisi mereka saat ini.

Pun demikian dengan fenomena 212 dan isu penistaan agama ini, yang menjadi perhatian hanya pada bagaimana hal itu terjadi, dan sekiranya apa yang menjadi dasar tindakan dan sedang diajak ke mana orang-orang ini? Penilaian-penilaian terhadap hal-hal yang mungkin akan terjadi selanjutnya selalu hanya menjadi sebuah spekulasi, bukan secara pasti akan mampu menggambarkan dengan rinci. Di sini kita bertemu dengan batas manusia, bahwa yang bisa kita definisikan sebagai sebuah kebenaran hanya hal-hal yang sudah terjadi saja, sedang masa depan masih akan terus menjadi hal yang terus mencoba diraba.

Das Kapital adalah buku yang asik menurut saya, dan sejauh ini adalah buku yang detil. Saya bisa menemukan setiap bagian dibahas hingga hal-hal yang paling mendasar dan mendalam. Sebagaimana yang dikatakan Marx mengenai produksi, hilangnya relasi antar pekerja dan konsumen menjadikan hubungan dagang menjadi hanya sebatas antara konsumen dan produk semata. Kita tidak akan tahu bagaimana sebuah komoditi diproduksi, sudah melewati hal apa saja, atau bagaimana nasib orang-orang yang memproduksinya. Putusnya relasi ini kemudian digantikan dalam bentuk informasi komoditi di bagian label atau bungkus saja.

Banyak orang saya lihat memusingkan label halal dalam setiap kemasan, terutama karena hilangnya relasi yang saya jelaskan tadi, membuat konsumen merujuk pada hal yang pasti. Nah, menjadi sulit ketika kita bertemu dengan label halal, karena sejauh yang saya tahu, label halal ini banyak sekali syaratnya untuk akhirnya bisa nangkring menempel pada sebuah komoditi. Saya ingat pernah melihat video tentang produksi susu sapi di Australia yang dipaksakan pada sapi-sapi di sana. Sapi indukan dipaksa untuk hamil dan demikian produksi susunya akan semakin banyak. Begitu melahirkan, maka induk sapi dipisahkan dari anaknya, dan bahkan anaknya dibabat habis begitu saja karena tidak berguna untuk bisnis ini. Di sini, kita bertemu pada kesulitan memverifikasi masalah halal atau tidaknya suatu makanan.

Silahkan mendebat dengan dasar pemikiran yang jelas untuk contoh kasus barusan, saya tidak akan ikutan karena nggak minum susu.

Marx menjadi seorang penolong bagi saya, karena di masa paling penting perkembangan peradaban, ia menuliskan Das Kapital. Buku itu membuat dirinya tidak hanya menjadi seorang tokoh saja, tapi juga membuat namanya menjadi sebuah paham; marxisme. Wow sekali yak. Cara berpikir Marx yang menyeluruh membuat saya meyakinkan diri bahwa saya berada di jalur yang tepat. Lewat telaah terhadap Das Kapital, saya menemukan penjelasan akan perubahan ekstrim masyarakat dunia yang mulanya hidup subsisten dan seragam menjadi manusia yang ‘kehilangan diri’ di era ini.

Okai, saya mulai mengalami kebingungan karena penulisan ini seharusnya dilakukan dalam kondisi prima, dan tau-tau sudah jam 12 malam. Baiklah, baiklah. Coba sedikit lebih sehat.

Dalam perenungan saya sore tadi, saya kembali tersadar akan kebingungan saya mengkonstruksi kebudayaan. Berkali-kali saya menganggap kebudayaan hanya milih manusia yang sesungguhnya, sedang manusia-manusia kota adalah manusia-manusia robot yang jauh dari nilai dan pemaknaan. Tapi benarkah? Apakah budaya konsumsi tidak boleh menggantikan kebudayaan di masa lampau? Saya merasa bahwa banyak orang yang mulai lelah untuk hidup mengikuti rutinitas saja di kota. Demikian, maka kegiatan-kegiatan yang berbau seni, atau olah raga, atau rekreasi, adalah hal-hal yang akan terus dicari untuk mencapai keseimbangan. Manusia kota tidak butuh upaya untuk mencari makan, karena upaya itu telah ditransformasikan ke dalam bentuk kerja dalam mode produksi kapitalistik. Manusia mencari berbagai bentuk pelarian untuk menentramkan jiwanya yang haus.

Sayang kemudian, kapitalis melihat itu sebagai peluang untuk semakin memperlebar kapitalisme. Kita bisa melihat dari berkembangnya mapala sebagai sebuah lembaga berideologi menjadi hanya sekedar pihak lain yang turut meramaikan alam. Simbol perlawanan dijadikan komoditi dan hanya menjadi sebatas komoditi di mata kapitalis, meski orang dengan begitu yakinnya menganggap itu sebagai sebuah perlawanan. Kita diombang-ambingkan dalam ketidakmampuan diri menjelaskan realitas yang sedang dijalani.

Apakah saya mampu? Tidak. Menemukan diri adalah yang hal yang paling sulit, dan terus coba dilakukan oleh saya, kamu, dan 7 milyar lebih manusia di dunia ini. Kegamangan itu membuat saya selalu hanya bisa berlindung di bawah atas sekret atau di ruangan 2,5×3 m kosan saya sembari mencoba memikirkan banyak hal dalam waktu luang saya. Realitas dunia terlalu jauh untuk mampu saya anggap sebagai sesuatu yang nyata. Hal itu tentunya karena terputusnya relasi antar saya dan fenomena-fenomena itu, sehingga ia tetap menjadi hal-hal yang tidak saya pahami.

Semua manusia yang saya temui adalah objek studi bagi saya. Kalau kata pujangga-pujangga ilmu pengetahuan masa lalu (ciah), ada yang disebut sebagai makro kosmos dan mikro kosmos, bahwa hukum-hukum yang lingkupnya seluas alam semesta tercitrakan dalam unsur terkecilnya, dan vise versa. Konsep ini (bisa jadi) yang juga saya gunakan untuk memahami manusia. Saya mempelajari manusia di sekeliling saya secara mendalam bukan hanya pada kata-katanya saja, namun juga tulisan, tindakan, gestur, dan setiap detil yang ada padanya. Hal ini saya lakukan sebagai upaya untuk melihat diversitas masyarakat dunia. Tugas manusia untuk menerjemahkan realitas ke dalam pemikirannya dan sebaliknya juga, menerjemahkan pemikiran ke dalam realitas. Susah-susah sedap sih hal ini, dan luar biasa memberatkan pikiran.

Dari 3 tulisan dengan judul yang sama ini, saya sebenarnya sedang berupaya untuk menjelaskan bahwa setiap hal yang tampaknya tidak berhubungan sebenarnya saling berhubungan dan bahkan bisa jadi merupakan kerabat dekat. Ilmu pengetahuan yang sudah terbagi menjadi begitu kecil membuat setiap studi hanya menjadi sebuah studi parsial saja tanpa pernah menemukan konstruksi besar yang menyeluruh. Maka, kita sebagai manusia yang katanya terpelajar tetap tersesat karena peta hidup yang kita punya tidak mencakup keseluruhan fenomena. Tapi saya masih yakin setiap manusia masih tetap berupaya mendekati realitas dengan melakukan studi terhadap dirinya sendiri. Hal-hal semacam itu, seharusnya bisa menjadi ilmu pengetahuan sendiri, sayangnya tidak ada yang mau, hahaha.

Sudahlah, saya sudah mulai ngelantur, besok saya lanjutkan.

wordsflow

Epistemologi, 212, Marxis, dan Referendum Papua (ii)


Babak kedua. Entah bakal jadi berapa tulisan ini nanti, hahaha.

212

Sudah lama laman akun sosial media menjadi memuakkan. Setiap membuka semakin muak melihat tulisan-tulisan yang hanya modal share-click dengan topik yang sesederhana memilih warna lipstik (meski oke, buat beberapa orang ini tidak sederhana), hingga hal-hal berbau SARA. Kemuakan ini jelas tidak hanya saya rasakan seorang, banyak orang yang merasakan hal yang sama, tentu dengan respon yang berbeda-beda. Dan di sinilah saya, berupaya memberi respon atas kemuakan itu.

Tentunya sudah banyak orang yang unfriend beberapa ‘teman’ di akun Facebook-nya karena dirasa terlalu radikal. Beberapa melakukannya justru karena dianggap orang lain nggak peduli agama, dan komunis. Well, realitas palsu bernama internet tentu semakin menggila dan mengerikan dari hari ke hari, dan tentu saja, hal itu berpengaruh dan tidak berpengaruh dalam realitas kita yang sesungguhnya. Nanti coba saya ceritakan maksud saya.

Kasus berjudul penistaan agama ini sangat menarik sebenarnya, karena realitas palsu mampu mempengaruhi realitas faktual dan bahkan menciptakan berbagai konflik turunan hanya dalam waktu singkat. Dengan curangnya, saya selalu menempatkan diri di luar batas konflik itu berlangsung. Bukan karena masalah keberpihakan, ini soal keseriusan saya menempatkan diri dalam satu pijakan final. Finalitas itu mematikan, karenanya saya tidak mau.

Oke, barusan pembenaran. Sila diabaikan.

Tapi begitulah, saya lebih suka melihat peristiwa itu sebagai sebuah rangkaian yang tidak putus, kumpulan relasi yang saling singgung bersinggungan, rangkaian ideologi yang saling bersinggungan dan kadang berbenturan, rangkaian motif dan tujuan, yang pada dasarnya, tidak ada seorang pun yang tahu kecuali Tuhan dan manusia itu sendiri.

Saya ingin memulai cerita ini dari belakang, justru tidak dari mulanya, karena yang belakang ini lebih menarik untuk diperhatikan. Laman Facebook dan Instagram saya ramai dengan foto-foto jama’ah dari Ciamis yang berjalan kaki ke Jakarta. Bagi sesama muslim, tentu saja hal ini sangat menyentuh. Begitu pula begitu banyak orang dari jama’ah-jama’ah lain di seluruh negeri yang mencoba untuk turut berpartisipasi dalam memeriahkan event 212 ini. Saya pribadi tidak ambil pusing tentang siapa orang-orang ini, membawa bendera FPI, NU, atau Muhammadiyah, apakah kemudian FPI menguasai Indonesia atau sebagainya, tidak seberapa penting di pikiran saya. Yang lebih membuat saya berpikir adalah perihal bagaimana aksi kecil di laman Facebook mampu memobilisasi massa sebanyak itu di hari ini dengan lebih tertib dari setiap upaya pengaturan yang selama ini ada?

Isu agama sudah marak belakangan ini, lebih marak dari isu HAM. Apalagi jika membicarakan pelanggaran HAM yang dibarengi isu agama, maka teriakannya akan semakin seru. Saya pribadi prihatin karena arogansi umat yang mengaku Islam di negeri ini masih terus ada dan justru saya pikir semakin menguat. Hal semacam itu, dianggap beberapa orang yang sadar sebagai sebuah kekuatan, bahwa massa bisa digerakkan oleh isu HAM dan agama adalah hal yang banyak disadari oleh pihak-pihak yang menerapkan kepengaturan di negeri ini.

Tidak salah jika kemudian pembaca menganggap tulisan ini hanya bualan, tapi saya pikir, dalam aksi damai ini ada kepengaturan yang diselipkan. Pengalaman akan terjadinya genosida masa PKI memberikan gambaran yang jelas, bahwa doktrin bisa dijejalkan di dalam pikiran seseorang melalui pemaksaan atau upaya yang lebih halus lagi. Manusia memiliki prioritas dalam hidupnya, dan begitu prioritas ini diketahui, setidaknya jalan untuk menerapkan kepengaturan itu bisa ada.

Saya melihat bahwa prioritas, bersifat relatif tergantung pada bagaimana cara seseorang memandang hidup. Sebagaimana saya tulis di tulisan sebelumnya, saya pikir hampir semua manusia juga mengalami kegamangan yang sama dalam memandang apa ‘kebenaran’ itu, dan bagaimana menemukan kebenaran itu sebagaimana ia menyatakan dirinya. Filsuf sudah berupaya sedemikian rupa hingga Heidegger mencoba menyeret kita pada konsep Ada-nya yang njlimet itu, hingga hanya sedikit manusia yang mau mencoba menelaah dan menjadikannya bagian dari keresahan hidupnya. Maka, tanpa mengesampingkan fakta bahwa sejatinya semua manusia bisa berpikir dan menentukan pilihan, ada beberapa manusia yang tidak cukup mampu untuk melawan kekuatan dominan.

Saya teringat cerita dalam babak Ramayana, ketika Kumbokarno berupaya untuk tetap bertahan di Alengka demi membela negaranya. Maka begitu juga cara saya melihat umat Muslim yang berbondong-bondong di hari ini ke Monas untuk shalat Jum’at. Sebagian dari mereka, terutama saya menyoroti kisah jama’ah dari Ciamis, sebagai umat yang membela agamanya karena sebagaimana yang mereka lihat, agama Islam patut untuk dibela. Di sisi lain, ada umat Muslim yang lebih memilih bersikap sebagaimana Wibisana menyikapi Bharatayudha, bahwa kebenaran harus ditegakkan, maka orang-orang ini menyingkir ke pinggiran untuk membiarkan kasus ‘penistaan agama’ ini memunculkan kebenarannya sendiri, dan semoga saja proses hukum bisa membawa ke sana.

Ada selipan pertanyaan mungkin, mengapa saya justru menganalogikan dengan cara yang agaknya terbalik demikian?

Pertama, kasus ini mencuat ke publik karena alasan politik. Banyak teman-teman saya yang sudah bercuap-cuap untuk menjelaskan bahwa jika saja Ahok bukan calon gubernur DKI maka akan lain cerita. Urusan politik, demikian membutuhkan massa untuk menjadi sesuatu yang memiliki kekuatan, karenanya butuh publikasi dan penyebaran ke berbagai kalangan. Tapi, banyak yang tidak sadar, atau kalau bukan malah karena mereka menyadarinya, bahwa tafsir setiap orang akan beragam terhadap dipublikasikannya berita Ahok ini. Demikian, maka sejak dipublikasikan, isu ini membelah masyarakat melek internet ke dalam beberapa kelompok.

Saya pribadi mengagumi Al-Qur’an, kalaupun masih belum menjalankan dengan baik isinya. Mendengar ada orang lain yang mencoba menggunakan Al-Qur’an untuk tujuan-tujuan politik memang menyebalkan. Tapi saya lebih sedih karena saya merasa melihat kemunafikan yang lebih banyak di kehidupan sehari-hari dari sekedar urusan menyebut Al-Maidah ayat 5. Saya kurang mampu memahami cara berpikir orang-orang yang berteriak-teriak panas baik di internet, hidup sehari-hari, atau di Monas hari ini mengenai kasus ini. Hanya saja saya masih dalam pertanyaan mendasar, apakah benar perkataan Ahok masuk ke dalam kategori penistaan agama?

Seorang ulama mengatakan bahwa Tuhan tidak perlu dibela, Dia bisa melakukan segalanya tanpa butuh manusia. Lalu orang lain juga berkata, jika Islam tidak dibela, hari ini kita masih menyembah berhala.

Dua hal itu, berada pada dasar pemikiran yang berbeda, karenanya tidak bisa diperdebatkan. Kalimat pertama tentu menjadi kebenaran jika kita percaya Tuhan maha mengendalikan. Pernyataan kedua juga tidak salah, bahwa Nabi Ibrahim dengan segala daya upayanya berusaha menegakkan Ka’bah dengan perjuangannya yang begitu keras. Tapi menempatkan perdebatan tersebut ke konteks Ahok justru menjadi terlalu hiper-realis jika dibandingkan dengan kenyataannya. Lha mereka yang mengaku membela Islam saja menempatkan agama sebagai alat untuk melawan politik Ahok. Sama saja jadinya, dua-duanya menempatkan agama sebagai alat politik. Tidak ada yang spesial dari aksi hari ini, kecuali bahwa ada umat yang rela jauh-jauh berjalan kaki demi Tuhan-nya.

Suatu saat saya sempat melihat meme tentang Cak Nun yang berkata bahwa, “Siapa bilang gubernur itu pemimpin? Dia hanya petugas yang ditugasi negara untuk memastikan daerahnya sejahtera. Dia itu pelayan.” (tulisan aslinya nggak begini, nanti cari sendiri saja ya). Demikian, maka konsep pemimpin ini juga membingungkan dan tidak secara menyeluruh orang berada pada pemahaman yang sama. Maka memberikan penilaian kepada orang-orang tidak ikut aksi atau tidak peduli sebagai muslim yang membela kafir, atau justifikasi lain justru menunjukkan bahwa dirinya kurang mendalami manusia lainnya.

*

Lanjut postingan selanjutnya,

wordsflow

Epistemologi, 212, Marxis, dan Referendum Papua (i)


Berat sekali pikiran saya belakangan ini, seberat memulai mengetik tugas epis, marxis, dan merespon fenomena sosial.

Baiklah, mari memulai tulisan ini dengan mendaftar kejadian-kejadian di hidup saya, dan agaknya perlu ditambahkan kejadian-kejadian luar biasa di Indonesia. Kuliah semester satu saya menuntut saya menentukan dimana saya sedang berpijak dalam tataran filosofis dan kerangka berpikir. Hampir semua mata kuliah bahkan secara jelas memaksa saya untuk memastikan diri bahwa saya memilih salah satunya, sedangkan di semester ini, saya sudah mencemplungkan diri ke dalam pemikiran Marx meski saya tidak berani mengatakan bahwa saya sungguh seorang Marxis. Bersamaan dengan kegamangan tersebut, Indonesia dihadapkan pada dua fenomena sosial, yang menurut saya ekstrim; aksi damai 212 dan demo referendum Papua Barat. Meski agak ragu menulis ini, tapi aksi saya membuka laman facebook sungguh menggelitik saya untuk segera menulis.

Epistemologi

Sebagaimana mencari harta karun, mencari ilmu juga tidak mudah. Filsafat ilmu memberikan dasar bagi kita untuk memulai pencarian terhadap kebenaran melalui beberapa pintu masuk; positivisme, fenomenologi, hermeneutik, materialisme, strukturalisme, dan tentu saja, postmodernisme. Keenamnya menawarkan titik mula yang berbeda dan sejauh ini tidak ada yang menganggap salah baik satu atau keseluruhan titik mula tersebut. Yang ada hanya, masing-masing menuai kritik dan demikian, masing-masingnya juga menawarkan kekurangan dan kelebihannya sendiri dalam upaya mencari kebenaran itu.

Dalam proses menuju titik akhir mata kuliah ini, saya diwajibkan untuk membahas atau atau beberapa di antaranya secara mendalam hingga ke akar-akarnya, setidaknya membantu saya dalam memberikan pijakan untuk mulai menulis secara lebih bertanggungjawab dan lebih terarah. Hal itu tentu saja, membuat saya kelimpungan karena sejauh ini, saya tidak menyakini apapun sebagai sebuah kebenaran, bagi saya relativitas kebenaran itu nyata adanya. Demikian, maka saya semakin ragu untuk menancapkan kaki di antara salah satunya, hingga akhirnya saya baru memutuskan memilih judul seminggu yang lalu.

Banyaknya hal yang berseliweran membuat saya bingung memulai tulisan ini.

Saya menyukai manusia, sangat suka mempelajari manusia dan mencoba mengorek bagaimana manusia berpikir dan menentukan hal-hal dalam hidupnya. Karenanya, saya menganggap bahwa manusia adalah subjek pembelajaran paling tidak tentu, unik, dan candu. Sayangnya, psikologi terlalu paten karena mencoba untuk mengeneralisir manusia, dan baik sosiologi maupun antropologi tidak mau atau terlalu gengsi untuk mengakui bahwa setiap manusia itu berbeda, unik, dan tidak bisa begitu saja disamakan di bawah terminologi ‘masyarakat’. Meski demikian, saya tetap menjatuhkan pilihan pada antropologi, bukan hanya karena titik mula studinya yang tidak dimulai dari grand theory, tapi lebih dari itu, karena studi antropologi adalah studi dengan dasar epistemologi dan paradigma yang paling tidak tentu dan tidak dibakukan. Antropologi menjadi studi yang paling labil, mengambang-ambang, dan justru bagian itulah yang membuat saya semakin mencintai studi ini.

Hal itu pula yang membuat saya khawatir untuk memilih satu atau beberapa dasar untuk berpijak. Saya takut mati dalam pemikiran yang itu-itu saja. Padahal hal itu menyalahi keyakinan saya sendiri tentang manusia yang tidak tentu, unik, dan dinamis. Manusia (saya) dipusingkan oleh begitu banyak hal, rasa, ide, eksistensi, materi, ketidakpastian, Tuhan, dan entah berapa banyak hal lagi di dunia ini. Oleh karena itu, saya tidak bisa memilih satu epistemologi sebagai dasar, saya merasa saya harus meyakini bahwa semua epistemologi itu bisa digunakan bersama dalam sebuah kerangka pemikiran yang menyeluruh, entah siapa nanti yang mau menggagas atau menamakannya apa.

Bisa jadi, karena saya hidup di era ilmu pengetahuan mencapai era postmodern, maka saya merasa itulah satu-satunya cara untuk ‘melihat’ segala sesuatu secara menyeluruh dan ‘benar’. Di sepanjang kuliah Membaca Etnografi saya juga melihat kecenderungan saya menyukai tulisan-tulisan yang berbau Marxis, post-struktural, dan postmodern; material oriented, paradoxial, mendua, dan tidak tentu. Dinamika pemikiran saya bahkan terus menerus saya haturkan dalam setiap tulisan di blog ini; dari saya yang sok-sok-an hidup dengan bermartabat, hingga saya yang tak peduli pada penilaian orang lain. Karenanya, saya agaknya mencoba menyimpulkan sementara bahwa saya menyukai hal-hal yang mampu menyajikan realitas sebagaimana adanya, bukan bagaimana ia seharusnya.

Di tengah kegalauan itu, saya bertemu dengan buku Tania Li yang berjudul The Will to Improve. Perkenalan di tengah ketidaktahuan itu membuat saya menyadari bahwa fenomena sosial yang menarik perhatian saya adalah yang kekinian, hal-hal yang terjadi sejak saya dilahirkan, dan buku itu merangkumnya dengan baik. Sejauh yang saya ingat, saya memang menggandrungi sejarah, hanya saja kesukaan saya hanya bertujuan untuk memahami realitas masa kini, bagaimana sejarah membentuk, mengubah, atau memberikan kontribusi di masa kini, baik di dalam pemikiran maupun dalam realitas materinya.

Tidak bisa tidak, maka sejarah merupakan hal yang penting dan patut untuk dipelajari. Dalam berhubungan dengan manusia lain pun demikian, meski beberapa orang justru mencari sejarah seseorang untuk memberikan justifikasi tertentu. Bagi saya tidak, pengetahuan tentang sejarah seseorang akan mampu memberikan konteks atas pemikiran atau kecenderungan orang dalam merespon hal-hal di masa kini. Hal semacam itu mirip dengan metode berpikir penganut hermeneutik. Konteks ini bagi saya sangat penting, karena sistem internal manusia menciptakan rajutan memori di dalam pikirannya, baik yang diinginkan atau tidak, dan hal-hal itu tidak bisa disangkal bahwa ia juga mempengaruhi kita di hari ini.

Kehidupan manusia juga demikian adanya. Untuk memahami bagaimana realitas tercipta di hari ini, saya merasa harus mendalami sejarah hingga ke masa mulanya manusia mampu menyadari sesuatu. Kesadaran ini bagi saya menjadi awal mula, karena tanpa kesadaran, maka manusia tidak menjadi unik satu sama lain, hanya serupa kucing disebut kucing. Hal semacam itu tidak bisa tidak membuat saya harus menggunakan kerangka pemikiran materialisme, jika tidak ingin tersesat ke dalam berbagai mistifikasi. Sumber-sumber referensi sejarah harus juga tepat dan mampu dikonstruksi secara logis dan rasional. Hal ini sudah banyak dilakukan dan masih terus dilakukan untuk merekonstruksi sejarah dunia dan manusia. Kabar baiknya, penelusuran sejarah ini juga dilakukan melalui memetika, yang menawarkan cara pandang baru terhadap kebudayaan. Dalam antropologi lebih sering disebut diskursus. Saya pikir, penelusuran sejarah dan penggabungan dua sejarah ini akan memberikan konteks yang lebih mudah dipahami karena dua hal ini saling berdialektika dalam pikiran manusia. Proses panjang itu bisa jadi meninggalkan bekas-bekas dalam diri manusia, melalui gestur dan sub-consciousness.

Tidak lepas dari hal-hal itu, saya juga melihat bahwa tindakan manusia juga dipengaruhi oleh proses dialektis di dalam dirinya, bahwa setiap manusia bertindak didasarkan dari tafsirnya sehari-hari. Hal yang bersifat spontan dan ‘harus disegerakan’ ini yang juga akhirnya mempengaruhi jalannya sejarah hidup manusia dan peradaban. Maka proses ini tidak boleh dilewatkan untuk mampu melihat secara keseluruhan bagaimana dinamika itu berjalan. Sayangnya, kadang tafsir hanya didasarkan pada sistem komunikasi manusia melalui bahasa yang disebut sebagai satu-satunya sistem komunikasi. Bagi saya, hal itu justru menjadi terlalu sempit, karena manusia juga berkomunikasi melalui gerak tubuh, dan utamanya gestur sebagai sesuatu yang menyejarah.

Begitu banyaknya relativitas yang berkelindan di dalam pikiran saya membuat saya tidak bisa dan tidak mau menempatkan diri dalam satu pijakan ketika membicarakan manusia. Demikian, menyebut masyarakat sebagai masyarakat saya pun tidak bisa saya lakukan tanpa merujuk pada satu kelompok tertentu. Hal ini yang sebenarnya saya tahu sebagai kelemahan saya, terutama karena saya telah mencelupkan diri dalam studi antropologi. Dan dalam upaya untuk meyakinkan diri, atau mencoba merancang sebuah kerangka berpikir baru, saya menetapkan untuk menjadi seorang materialis historis, karena hanya itu yang tidak menyalahi logika saya untuk melihat manusia.

*

Hemm, ini sudah terlalu panjang, jadi saya pecah saja jadi beberapa tulisan, hehe.

wordsflow

Malam Ini


Apa yang lebih indah dari bergabung dengan teman-teman sebaya, melakukan kesenangan, berbagi keresahan, memupuk impian, memadu kebersamaan, dan melakukan banyak hal bersama?

Tak pernah ada dalam banyangan saya bahwa akan ada suatu masa dalam hidup saya, duduk di tempat ini ditemani teman-teman kuliah saya. Kaliurang selalu menyimpan banyak hal buat saya. Ada begitu banyak hal yang terjadi di Kaliurang dan setiap waktunya selalu menyimpan kenangan. Hari-hari sejak minggu kemarin hingga minggu depan yang penuh dangen presentasi dan tugas akhir, waktu tidur yang selalu terasa kurang, badan yang mulai mengurus karena diet dan kekurangan gizi, pertanyaan-pertanyaan yang semakin banyak saja, ah semuanya begitu memikat.

Sembari saya menulis ini, ada banyak orang yang sedang karaokean di depan saya, yang lain bakar sate, sebagian diskusi dengan Mas Pujo, dan sementara itu saya sejenak mojok saja melepas ketegangan seusai presentasi, dan berupaya untuk memanfaatkan wifi gratis, hehe.

Saya masih begitu menyukai dunia tulis memang. Di samping itu, wacana mengenai keberpihakan dan begitu banyak permasalahan sosial bermunculan setiap waktu. Dalam lingkup perbincangan kami para wanita, wacana mengenai pernikahan dan memiliki anak adalah obrolan yang begitu seru untuk dilewatkan sehingga harus tetap dikejar. Hampir semua wanita di angkatan saya sesuara perihal pernikahan dan memiliki anak. Quarter life syndrome mungkin memang sedang kami alami. Bagi saya, persetan dengan urusan cinta, usai sudah semuanya. Biarkan saja semua hal ini berjalan dengan segala kekurangan dan kelebihannya untuk hidup saya.

Kuliah ini membukakan banyak pandangan kepada saya dan prosesnya begitu menyenangkan. Saya teringat siang tadi membicarakan begitu banyak tugas yang kami miliki untuk akhir semester ini sementara waktu kami tidak banyak. Dengan hal itu pun, teman-teman sekret masih meminta bantuan saya untuk membantu memberikan materi ruang dan materi simulasi untuk anak-anak Pendidikan Lanjut periode ini karena sudah tidak banyak anggota Divisi Gunung Hutan yang masih bertahan di sekret.

Well, ada begitu banyak hal yang sebenarnya bisa saya update tentang hidup saya. Hanya saja, karaoke ini begitu riweuh, dan saya merasa harus menyelesaikan tugas untuk presentasi esok hari. Hehe. Jadi sampai jumpa saja yaa.

wordsflow

 

Dalam Euphoria


Tidak bisa tidak, saya harus menulis di blog sekarang juga.

Setelah semalam saya berurai air mata dan didera kesedihan mendalam (bohong) karena laptop saya totally dead, dalam kondisi setengah putus asa saya mencoba sekali lagi menghidupkan belahan jiwa saya yang lain ini. Dan ternyataaa, nyalaaaa. Wuhuhuuuu. Well, lebih menggembirakan karena tulisan saya tentang kerja dan Marind-Anim masih ada pada tempatnya, dan tersimpan. Wow sekali lah.

Demikian, maka hal ini patut dirayakan dengan menulis sebuah postingan baru di blog. Yeeee. Lalu, apa yang mau dituliskan?

Saya ingin mengupdate sedikit kehidupan saya yang tetiba sibuk di akhir kuliah, hehe.

Pagi tadi saya sesaat menyadari bahwa mungkin (hanya mungkin), keputusan saya untuk kuliah lagi adalah sebuah kesalahan. Di saat saya memiliki sebuah usaha untuk bertahan hidup, saya tidak pernah sedikit pun punya waktu bebas untuk mengembangkan usaha saya tersebut. Demikian, customers saya tidak pernah bertambah, usaha saya tidak pernah berkembang, dan saya kesulitan untuk membuat inovasi produk. Saya berusaha untuk menelusuri kembali motif sebenarnya mengapa saya memutuskan untuk sekolah lagi. Apakah sekolah adalah hal yang saya butuhkan? Saya inginkan? Dan mengapa saya justru menyisihkan hal yang sebenarnya begitu saya nikmati setipa prosesnya?

Secara singkat, saya bisa mengatakan iya, bahwa saya hidup dengan kontestasi merasa butuh untuk mengaktualisasi diri. Belajar sendiri membuat saya mengaktualisasi diri secara tidak terarah dan justru membuat saya tidak mampu menyadari apa yang sebenarnya sedang saya cari. Masuk kuliah menjadi babak baru bagi saya karena dengannya saya harus menentukan ke mana saya mau melangkah. Kuliah saya menyodorkan empat konsentrasi dan dengan berani saya mengambil konsentrasi bertajuk ‘Dialektika Negara, Kapital, dan Masyarakat Sipil’. Saya yang tidak pernah percaya dan selalu angkuh untuk rela mengutip harus dan wajib mengutip sana sini dalam review atau tugas kuliah. Sebagai bekas anak Arsi yang tidak pernah diajari menulis dengan benar, hal itu luar biasa sulit.

Saya mencoba untuk tetap menjadi normal di setiap upaya saya menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang jelas membuat saya minder. Hampir semua orang di kelas saya berasal dari Antropologi. Sebagian lain yang tidak mengambil jurusan tersebut setidaknya pernah memiliki pengalaman kerja lapangan, dan saya nol besar. Dunia saya hanya seputaran teks dan jauh dari realita. Maka seperti yang saya ungkapkan di postingan sebelum-sebelumnya, keberadaan saya di dunia teks membuat saya semakin merasa tidak berguna sebagai seorang akademisi, lebih lagi sebagai manusia.

Maka, pertanyaan sederhana seputar  melemparkan diri ke dunia Antropologi menjadi sebuah pertanyaan besar dimana sebenarnya saya sudah nyaman dan lebih bahagia di dunia saya sebelumnya; membuat buku dan menulis cerita fiksi. Pencarian atas itu masih ada hingga saya menulis ini. Saya suka akan rasionalitas, tapi hal semacam itu hanya saya gunakan untuk menentukan pilihan. Sedangkan pada hasil, saya seratus persen percaya pada kuasa the invisible hand. Demikian, saya mendua dengan mempercayai keduanya. Biar saja, saya kan orang Jawa.

Saya terpesona pada caption seorang teman tentang karyanya berjudul ‘merely an illusion’.

We realize that we’re out of energy. Everything has been sucked by something strange. Our time, our mind, both of them have been distorted. In the end, what we thought was love, perhaps was merely an illusion.

Oke, masalah hati memang urusan lain. Tapi selalu seru untuk di-update kaaan, hehe. Tidak ada yang menarik di hari ini. Saya menyimpulkan bahwa masalah hati itu selalu palsu, tapi juga tulus di saat yang sama (kan, saya selalu mendua; karena takut dinilai atau karena ingin menegaskan diri?). Dalam urusan cinta, saya lebih percaya gestur daripada kata-kata. Saya tiba-tiba berusaha menafikkan teks dan bahasa. Maka, begitu juga semua tulisan saya, semuanya bisa jadi bohong belaka, hahaha. Absurd banget deh.

Biarlah hidup berjalan begitu saja kata seorang pujangga. Pujangga lain mencoba untuk menghindari gerak hidup yang tidak memberi kebebasan. Masalah way of life ini saya yakin sudah ada seribu satu manusia yang mencoba merumuskan cara yang paling menenangkan untuk hati dan pikiran. Masalahnya, setiap manusia itu unik, dan keunikan ini berimplikasi pada setiap detil hidupnya, bahkan dari persoalan keyakinan akan way of life yang paling pas untuk dirinya.

Saya bagaimana?

Mungkin saya memang cenderung suka menyiksa diri sendiri. Seolah-olah memikirkan hal-hal buruk, perihal kecemburuan, iri hati, rendah diri, dan kawan-kawannya akan selalu membuat saya sadar tentang hidup yang saya jalani. Bahwa dengan merasakan hal-hal itu membuat saya kembali sadar bahwa saya hanya manusia biasa, yang perannya di dunia ini tak seberapa, dan tidak lebih besar dari sampah. Berkali-kali saya merasa tidak berguna, menyadarinya dalam darah dan daging, dan menanamkannya sedalam akar-akar pohon di dalam pikiran saya. Alasannya sesederhana karena pikiran saya selalu kembali ke sana meski sejuta kali saya mencoba untuk melarikan diri.

Setiap kali mendapat respon buruk dari orang-orang yang saya inginkan, pemikiran itu kembali. Setiap tidak memperoleh hal yang saya doakan, pemikiran itu kembali. Setiap kali mengalami mimpi tentang hal yang tidak didapatkan, pikiran itu kembali. Ada sangat banyak hal yang membuat pikiran itu kembali. Dan saya menyerah untuk memintanya pergi.

Kadang saya meminta diri sendiri untuk selalu ceria, ala kadarnya, polos bagai bunga-bunga yang baru mekar, atau upaya respon apapun yang positif. Berhasil di awal, gagal di hari kedua dan seterusnya. Maka ego pribadi untuk menunjukkan kompetensi di hadapan orang lain seringnya lebih ingin saya wujudkan, meski setelahnya bisa saja saya menyesalinya.

Masih terang di ingatan saya bagaimana rasa malu bertahun lalu masih bertahan hingga hari ini. Dan masih banyak rasa malu lain yang bertahan hingga hari ini, entah pelaku-pelakunya mengingatnya sebagai sebuah peristiwa penting atau tidak. Upaya menghindari perasaan yang tidak perlu selalu gagal saya wujudkan. Tapi berikutnya, saya mencoba menerima bahwa kontrol emosi hanya akan membuat saya menjadi robot dan semakin tidak berguna.

Tapi benarkah?

Manusia itu amat sangat rumit, saking rumitnya saya begitu terpesona dengan setiap manusia. Hal itu juga yang membuat saya menyayangkan metode penelusuran psikologis yang melihat karakter manusia dengan menggunakan rumus-rumus atau aturan tertentu, hati kecil saya menolaknya. Tapi melihat kumpulan manusia ‘hanya’ dari relasi sosialnya juga tidak memuaskan rasa penasaran saya tentang manusia. Selalu ada yang tidak saya temukan dari masing-masing disiplin ilmu ini. Karenanya, hidup menjadi ‘lapangan’ buat saya untuk menelaah masing-masing manusia. Demikian, jika saya mengganggu Saudara-Saudara dengan melihat tanpa tedeng aling-aling maafkan kelancangan saya. Saya tanpa sadar suka memperhatikan orang dengan keterlaluan, dan sering juga memberikan penilaian awal terhadap siapapun.

Hemm, curhat ini saya cukupkan saja, karena sudah hampir 1000 karakter. Saya masih ada pe-er untuk memahami postmodern yang saya pikir sudah saya pahami, tapi ternyata belum sama sekali. Duh deeek, kacau sekali. Hahaha.

Yaudah, tabik.

wordsflow

Selipan: ketika membaca Capital


Ada sebuah buku berjudul Capital, yang tidak pernah saya sangka akan saya baca, saja kaji, saya review, dan saya kritik sebagai bagian dari pembelajaran akademis saya. Saya tidak banyak kenal dengan Marx, tidak sungguh-sungguh paham seluk beluk kehidupannya; siapa Engels baginya, apa yang selama ini ia kerjakan, di mana dia pernah tinggal, and so forth.

Tapi, sesuai judul tulisan ini, saya merasa butuh segera menuliskan catatan ini. Setiap 3 minggu sekali saya akan kembali membaca Capital yang memang menjadi dasar pembelajaran pemikiran Marx sebelum lanjut ke artikel kritik dan pengembangannya. Dalam sela-sela membaca bab mengenai surplus value, saya menyadari betapa menakjubkannya konstruksi pikiran Marx sehingga mampu menuliskan begitu tebalnya buku, meski secara garis besar ‘hanya’ membicarakan mengenai keseluruhan mode produksi.

Setiap detil ia pertanyakan kembali, setiap detil ia ulangi hingga sebagai pembaca, saya sering kali harus mengulang-ulang kalimat yang sama untuk memahami maksud Marx. Sebenarnya saya menikmati menkaji halaman per halamannya meski dengan terbata-bata mengeja bahasa Inggris-nya, atau setiap maksud dari kalimat-kalimatnya. Seolah-olah saya membaca sebuah novel, tapi berisi tentang pemikiran logis dan dialektis dari seorang Marx.

Ketika membaca semacam ini, saya seolah ingin memberi semangat pada diri sendiri, bahwa tulisan, bagaimana pun akan tetap berguna. Pertanyaannya hanya; apakah kebergunaan itu hanya untuk menciptakan ketidakbergunaan yang lainnya atau tidak?

setiap jalan menyimpan kenangan


Saya mencapai keraguan yang sama belakangan ini. Ketika ada banyak topik untuk menulis, saya seakan-akan mengharuskan diri sendiri untuk segera mengkategorikan bakal tulisan itu ke dalam beberapa akun publikasi. Apakah ia layak untuk menjadi sebuah tulisan panjang yang masuk ketegori personal, atau bisa dianggap cukup layak menjadi tulisan serius, atau bisa dirangkum dalam satu-dua buah tweet, menjadi catatan di timeline, ditulis di sepiteng, atau cukup menjadi catatan personal tanpa publikasi saja? Semua topik di dalam pikiran saya, entah diulang atau tidak, menjadi hal yang harus segera saya tuliskan sebelum tersapu hal-hal lain. Tapi di antara semua pilihan itu, pilihan terakhir tidak lagi menjadi akhir. Bakal tulisan itu harus dibuat sedemikian rupa hingga layak menjadi publikasi. Kalau terlalu personal bisa lah dijadikan sajak, atau tulisan melankolis tanpa subjek, begitu seterusnya.

Dengan semua itu, saya semakin menyadari bahwa cap introvert dan extrovert tidak lagi menjadi hal yang penting bagi saya. Saya sudah menjadi manusia yang menyukai publisitas, melalui cerita-cerita, dan tulisan-tulisan.

Kadang saya merasakan kepalsuan setiap berusaha untuk menulis hal-hal serius yang saya pikirkan. Tentang isu-isu lingkungan, kebudayaan, masyarakat, atau seputar isu-isu terhangat belakangan ini. Saya ingat pernah secara personal melakukan kritik pedas kepada seorang teman karena ia tidak merefleksikan tulisannya dalam kehidupan sehari-harinya. Tapi saya pun jauh dari reflektif, dan bahkan sejauh yang saya sadari, saya hanya cukup terampil menulis.

Pertanyaan-pertanyaan seputar perilaku saya sehari-hari di hadapan orang lain selalu mengganggu saya. Saya menyadari bahwa saya tidak bisa menempatkan setiap orang ‘sama’ di hadapan saya, meski saya berulang kali menuliskan tentang memanusiakan manusia. Saya menyadari bahwa saya masih abai pada banyak hal, ketika saya menuliskan upaya untuk peduli. Dirasa-rasa belakangan, tulisan-tulisan saya semakin terasa terlalu hipokrit, meski saya menulis dalam kesadaran dan pemahaman.

Lari pada tulisan akademis kemudian menjadi satu-satunya pilihan yang paling masuk akal, agar tulisan tanpa realisasi itu menjadi lebih mudah diterima diri. Lantas, membiarkan diri sendiri menulisi blog ini lebih banyak dengan tulisan-tulisan yang terlalu personal. Bukan sebuah keengganan untuk menulis sebuah topik serius di sini, hanya keraguan saja. Saya berpikir untuk membuat review beberapa buku yang sudah saya baca belakangan ini, tapi ragu karena masih ada banyak topik lain yang mengganggu, hehe. Maka, saya upayakan untuk menuliskan semua topik itu sebelum membuat review beberapa buku.

*

Sepanjang jalan selama berhari-hari belakangan, atau berbulan-bulan, saya bergelut dengan begitu banyak skenario penulisan tesis. Saya dihadapkan pada egoisme pribadi untuk melakukan sesuatu yang bisa berguna untuk masyarakat. Sementara itu, dari banyak diskusi saya dengan teman-teman kampus, mereka berusaha untuk meyakinkan saya bahwa tulisan akademis hanya bertujuan untuk memberikan wacana baru dan penalaran baru terhadap suatu permasalahan. Saya masih enggan, saya masih tidak terima.

Sudah begitu banyak buku yang saya baca, banyak opini yang saya tuliskan, banyak diskusi yang saya lakukan, tidak satu pun tindakan yang saya rasa pernah saya lakukan. Ketiadaan tindakan itu menegasikan semua upaya meningkatkan pengetahuan dan sikap kritis yang saya lalui. Saya merasa percuma membaca banyak hal, menulis banyak topik, tapi hanya bisa berdiam diri di hadapan laptop semacam ini.

Mungkin memang benar bahwa dalam dunia nyata, masyarakat tidak memperdebatkan wacana, mereka memperdebatkan realita. Hanya para politikus, para akademisi, dan pelaku bisnis yang memperdebatkan wacana, sehingga tulisan-tulisan, menjadi bagian dari kehidupan mereka. Demikian, wacana-wacana baru dan kritis harus selalu diproduksi untuk mewartakan bahwa akademisi masih berupaya untuk melawan tirani.

Sebenarnya, saya sudah menjauhkan diri dari kebermanfaatan ketika saya tidak berupaya untuk kembali ke masyarakat. Menghindari waktu-waktu untuk pulang ke rumah dan bersosialisasi dengan masyarakat. Seolah-olah berada di lingkungan saya sekarang adalah tindakan yang paling tepat. Padahal, masyarakat kota adalah masyarakat yang jauh dari makna-makna, dari perhargaan atas hal-hal kecil.

Suatu ketika di jalan raya, saya tiba-tiba menyadari ada yang salah dari ‘berada di jalan raya’. Hal apa, yang membuat semua orang tumpah ruah di jalan raya, memacu kendaraannya begitu rupa tanpa berupaya untuk menikmati jalan raya saja? Apa yang menyebabkan seseorang melakukan mobilitas? Ketika itu saya menepi di jalan raya, seraya memikirkan bagaimana kiranya manusia berpindah pada awalnya. Tujuan akhirnya tetap sama, meski orang berpindah untuk berdagang, untuk sekolah, untuk bekerja, dan untuk-untuk yang lainnya, semuanya hanya demi hidup dan menciptakan relasi dengan manusia yang lainnya. Dua hal yang utama dari semua gerak manusia adalah upaya bertahan hidup dan mempertahankan relasi. Saya, kamu, dan semua orang di dunia ini melakukan semua mobilitas itu untuk dua hal itu. Meski beberapa menempatkan posisi ilmu pengetahuan lebih tinggi di atas yang lainnya.

Waktu itu hakiki dan pasti. Sebegitu pastinya, sadar-sadar saya sudah menuju tahun ke-25. Sembari mempertanyakan begitu banyak hal, saya menyadari bahwa saya masih berada pada kekosongan yang sama. Kekosongan akan rasa tidak berguna menjadi manusia, tidak berguna atas semua hal yang saya lakukan, dan merasa begitu tidak berguna dengan mengada di dunia. Jika tidak ada saya pun, tidak akan ada yang berubah dari kehidupan semua orang. Toh saya tidak pernah memberikan pengaruh kepada sesiapapun. Kesadaran akan kekosongan itu kadang begitu menyiksa hingga saya berupaya meyakini Rene Descartes bahwa cogito ergo sum. Kepadanya saya lari dari perasaan itu.

Berubahnya bumi karena eksploitasi manusia menciptakan begitu banyak evolusi, pada tumbuhan, pada virus, pada bakteri, dan semakin beragam pula penyakit yang menjangkit manusia. Berubahnya bumi menyebabkan semakin tingginya tuntutan untuk meningkatkan sekuritas, melalui begitu banyak aspek yang bahkan mencapai kemungkinan menghindarkan tabrakan dengan material angkasa lainnya. Demikian, maka kebutuhan untuk terus ‘maju’ selalu muncul dan tidak menjadikan kita puas dengan gerak hidup yang lambat sebagainya masyarakat primitif. Seakan-akan bergerak lambat menjadi hal yang paling salah di hari ini.

Demikian banyaknya dialog di pikiran saya, pertanyaan-pertanyaan di pikiran saya, lambat laun saya seolah menjauhkan diri dari realitas. Terkadang saya bertanya sendiri dan mencoba meyakinkan diri bahwa hidup jauh lebih penting dari mempertanyakan hidup itu sendiri, maka nikmati saja setiap langkahnya. Tapi momen-momen seperti di jalan raya sering menghentikan saya dan membuat saya mempertanyakan setiap detil tindakan saya. Dengan semua itu saya masih berdialektika.

wordsflow