WORDS FLOW

setiap pengalaman pantas untuk diingat

*sedang berkeinginan menulis*


Tapi saya tak punya sesuatu untuk dituliskan. Sepertinya hampir semua hal yang menganggu saya sudah saya tuliskan, sementara tentu saja, waktu tidak berhenti begitu saja karena saya tidak memiliki bahan untuk dituliskan.

Well then, mari mengubrek beberapa yang sepertinya cukup mengganggu pikiran.

Soal teman-teman.

Dulu saya kira menjadi sendirian itu hal yang sungguh paling pas untuk diri saya. Sampai akhirnya saya kembali terpuruk karena memikirkan hal-hal buruk mengenai diri sendiri; perasaan yang tak terjelasan, mood swing yang mengganggu banyak orang, masa depan yang selalu mengkhawatirkan, kegelisahan ditinggal teman-teman, atau ketidakmampuan diri menyelesaikan perasaan pada seseorang.

Tidak begitu sayangku, hidup sendirian bukanlah hal yang bisa dihadapi manusia, maka bertemanlah sebanyak mungkin yang kamu bisa.

*The Sea Is Calling is now playing*

Beberapa pertemanan terasa jauh lebih nyata dari yang pernah saya pikirkan. Bagaimanapun, saya semakin memahami bahwa saya lebih siap menerima pertemanan baru daripada bergelut dengan perasaan yang lebih dalam pada seseorang. Yang begitu, butuh lebih banyak waktu dari yang bisa saya bayangkan. Dan sungguh, sepertinya untuk mengulanginya sekali lagi tidaklah mudah. Maka teman-teman adalah hal paling luar biasa yang bisa saya syukuri di hari ini.

Ah, saya harus mengucapkan selamat kepada Deugalih atas album barunya, hehe. Senang sekali bisa punya teman-teman baru lewat teman-teman baru yang lain. Jaringan itu menarik, sungguh sangat menarik karena kita bisa hilang berkeliaran di dalamnya, lalu akhirnya menyadari dengan sendirinya bahwa kita manusia-manusia nomad yang sama-sama sedang mencari rumah.

Soal diri sendiri.

Soal ini tidak pernah berakhir untuk diperbincangkan dengan diri sendiri pula, hehe. Sulit sekali kadang memahami diri sendiri. Ketika pikiran berusaha untuk serasional mungkin memahami segala sesuatu, seringkali tak ada tatapan bersahabat tampak di mata, tak ada sapaan keluar dari mulut, tak ada apapun yang bisa mengimbangi rasionalitas itu. Tak paham betul dengan semua itu, hingga sadar-sadar waktu telah berlalu.

Saya sedang merencanakan sebuah pelarian, entah bagaimana teknisnya nanti. Hanya mungkin, dalam beberapa bulan ke depan semuanya masih sebatas rencana pelarian. Menyebalkan sekali menyadari ada perkara yang tidak bisa saya bereskan, dan tak mampu mengakui bahwa saya merasa lebih baik melarikan diri daripada menyelesaikannya hingga tuntas. Apa lagi yang kau cari? Sering kali saya ingin berbalik dan menantang kepahitan diri, tapi toh tak pernah berani bertaruh dengan diri sendiri. Dan benar, melarikan diri selalu lebih mudah. Tapi tak menyelesaikan apapun.

It takes time, but there will be a day when I could encourage myself to tell you the whole story, to ask you the things that I wanted to.

And all words in this page is about dreaming of you! Damn.

Ah, tak ada yang salah dengan struggle, kita semua begitu. Saya suka melihat wajah-wajah manusia, sembari menduga ada berapa masalah yang mereka punya? Ada berapa perkara yang menganggu mereka? Sambil memastikan, apa yang penting dan tidak penting di hari ini?

Saya ingat, saya sangat suka berjalan di temaram lampu jalan teknik di malam hari. Selepas tutup gerbang, tidak ada lagi lalu lalang manusia. Cahaya lampu kekuningan sepanjang jalan menuju tugu teknik adalah penggal jalan yang teduh, seolah selalu berkata ‘semua akan baik-baik saja’. Lalu cahaya lampu berubah temaram, sepi, dan bentukan jalan membuat angin selalu berhembus perlahan dari belakang. Sepi yang aneh, yang nyata tapi tiada. Sepi yang sementara namun selamanya pula. Aneh sekali karena yang mati yang lebih bisa mencipta rasa, sedang yang hidup lebih suka menampiknya.

Lalu tulisan ini telah 548 kata saja, dan saya teringat berbagai kabar pernikahan teman-teman saya. Selalu begitu, berteman, bermain, lalu berganti. Siklus hidup kita bertautan dengan yang lainnya, tapi mungkin terpisah karena kepadatannya yang berubah.

Ah manusia, banyak sekali keinginannya.

*dan playlist saya berganti ke soundtracknya 5 Centimeters per Second*

Dan langit memerah perlahan, menaikkan suhu udara sekitar. Mungkin langit akan hujan, mungkin pula hanya bergurau saja. Seperti kita yang sering kali berusaha sungguh, namun sebetulnya tak begitu.

Lagi-lagi soal kamu, yang merisaukanku.

wordsflow

‘in between’ momento


It’s been a plenty of time not having fun with water and sweat. But the rain kept coming while I was busy with things around. Look like they know when was my time gone, or left on.

Tetiba kesadaran akan waktu menghampiriku siang ini. Benar, telah sungguh lama ada ‘kita’, mungkin sepanjang perjalanan waktuku mencari rindu. Dua? Empat? Lima tahun? Atau bahkan jauh lebih awal dari yang mampu kuduga tentang waktu. Nyatanya, dugaanku tentang rasa bertahan lebih lama dari yang kukira, sayang sekali aku pernah salah ketika bertutur padamu tentang perkara rasa.

Tapi aku ingin keluar dari mimpi; yang selalu saja bercerita tentang kamu, lalu kita, lalu masa yang entah kapan mewujudnya.

Oh hey, hari ini Hari Bumi!

Aku ingin membiarkan diriku berkelana tanpa tujuan. Sesekali aku ingin mencatatkan rindu yang kutahu selalu tentang kamu. Di lain waktu kukira berkesadaran akan kesendirian selalu memberi ruang yang cukup untuk bertanya dan menjawab sekedarnya. Rumit memang. Tak ada yang pernah bilang hidup cukup mudah untuk dijalani. Tapi toh kita tetap memilih untuk tetap menempuh hidup.

Kadang datang kesadaran lain untuk berhenti dan bergurau saja dengan hidup. Tak terbendung bantahan untuk mengalah, mempertahankan yang maya atau yang tampak mata. Kataku, biarkan saja. Semua toh jika tidak berhenti pada raga, akan berhenti pula pada perkara.

At the end, everything is about keeping a smile on my face on, yet not letting it dried out. Let’s celebrate!

wordsflow

the very idea of cracking


Jenuh sudah katanya dengan kapitalisme. Tapi tidak. Suara ketikan laptop masih terdengar, internet masih berjalan, bank masih beroperasi mengatur transaksi dagang saya, motor masih membutuhkan bensin, sesekali pergi ke toko waralaba ternama, kadang-kadang pergi ke mall dan menikmati udara berpendingin, sering pula menengok harga barang-barang, pun tidak jarang berkeinginan untuk membeli barang keluaran baru, daftar tempat wisata tujuan masih terpampang, atau segudang ‘tapi’, ‘kadang’, ‘sering’ atau lain-lain itu.

Hidup di bawah kapitalisme itu enak. Kamu tak butuh memikirkan sawah yang terkena hama, atau tanah yang terlalu kering karena air tidak mengalir. Tidak perlu nyeblak damen setelah lelah memanen. Tak perlu ke luar rumah di hari yang panas dan terik untuk menjemur gabah yang belum mengering. Tidak perlu membaliknya secara rutin biar kering menyeluruh. Tak perlu memilih gabah yang bagus untuk bibit musim tanam berikutnya. Tidak perlu napeni atau nggiling lagi. Tak perlu lah semua kerumitan-kerumitan itu. Tinggal datang ke warung dan membeli berapa kilo pun yang bisa kamu beli dengan uangmu. Atau kalau yang begitu saja malas, pergi lah sudah ke warung makan dan pesan apapun yang kamu mau.

Hidup di bawah kapitalisme itu enak. Sungguh.

Kapan lagi kamu bisa menikmati apel washington kalau bukan karena kapitalisme? Kapan lagi kamu bisa naik roller coaster kalau bukan karena kapitalisme? Kapan lagi kamu bisa nonton film kalau bukan karena kapitalisme? Kapan lagi kamu bisa enak saja pagi ini di Jogja dan sejam lagi di Jakarta kalau bukan karena kapitalisme? Dan semua ‘kapan lagi’ yang lainnya yang mungkin nggak akan bisa dirasakan sampai mati; misalnya kapan lagi kamu bisa wisata ke bulan kalau bukan karena kapitalisme?

Sekali lagi, hidup di bawah kapitalisme itu enak. Nggak usah repot, segala hal bukan hanya dekat dengan kita, tapi menghampiri tanpa diminta. Bahkan terkadang membabi-buta hingga kita tidak tahu kemana seharusnya uang kita dibelanjakan. Hingga seringnya terus merasa kurang, terus merasa salah gaya, merasa kurang sejahtera, kurang segalanya.

Apa lagi yang kau minta? Kapitalisme menyediakan semua hal yang bahkan tidak bisa kamu bayangkan. Tak lagi ada yang mustahil di dunia ini. Lihat saja, donor kepala pun sudah menjadi hal yang mungkin, rekayasa genetika ada di mana-mana, pengembangan nuklir pun bukan lagi perkara, bahkan manipulasi pemikiran sudah lama menjadi hal biasa. Sebentar lagi mungkin kamu bisa imortal atau siapa tahu bisa hidup tanpa oksigen.

Bagi yang peduli, rusaknya kawasan karst adalah perkara, hilangnya pulau adalah bencana, berkurangnya hutan adalah kerusakan, matinya paus adalah ancaman, pencemaran lingkungan adalah keresahan, dan seterusnya yang bisa kamu sebutkan. Tapi bagi yang tidak peduli, persetan dengan segala hal itu! Hidup di bawah kapitalisme itu enak! Untuk apa kamu melawan semua kepraktisan?!

Tapi kamu masih menangis karena keluargamu meninggal. Tapi kamu masih sakit hati putus cinta. Tapi kamu masih resah dengan kemarahan orang tuamu. Tapi kamu masih terharu melihat keponakanmu. Tapi kamu masih marah melihat kemacetan. Tapi kamu masih suka melamun di pojokan. Tapi kamu masih berkeinginan untuk bolos kerja. Tapi kamu masih berkeinginan untuk mengambil libur panjang. Tapi kamu masih sesekali ingin tidur saja dan melupakan dunia. Tapi kamu masih jatuh cinta.

Sungguh, kamu masih manusia.

Terkadang memikirkan begitu banyak hal yang tidak kamu tahu setelah begitu banyak hal lain yang kamu tahu terasa jauh lebih menyesakkan. Setelah begitu banyak pengetahuan itu kamu berharap apa lagi? Membunuh kapitalisme yang memberikan semua kemudahan ini? Merusak sumber penghasilan teman-teman kampusmu yang juga manusia biasa itu? Kampanye untuk membentuk negara sosialis baru yang mungkin akan lebih gagal dari Rusia jaman dulu? Atau, seberapa mampu sih kamu menciptakan dunia yang lebih baik lagi dari ini?

Lalu pagi ini saya masih terbangun di ruangan 3×5 tanpa cahaya, dikelilingi teman-teman yang mungkin tidak menyenangkan tapi mereka ada saja sudah cukup. Keluar ruangan dan mendengar gemericik air kolam, langit masih mendung, dan semburat jingga samar-samar tampak di timur. Halaman depan selalu adalah kekacauan, ruang dalam selalu berantakan, kerusakan ada di sana sini, debu ada di setiap telapak kaki, genangan masih mengambang tak mau mengering. Dunia di hadapan saya masih jauh dari iming-iming jumawa kapitalisme. Tentang kita yang akan sejahtera semuanya. Tentang kita yang akan hidup mudah seterusnya.

Tapi kamu masih jatuh cinta, berbahagia, bersedih, atau bertanya-tanya untuk apa kita hidup di dunia, di mana Tuhan selama ini, mengapa aku perempuan dan kamu laki-laki. Kamu masih berseteru dengan dirimu sendiri. Kamu masih bertanya tanpa henti. Kamu masih putus asa tapi berusaha bangkit lagi. Kamu mungkin memaki tapi kamu percaya hidup tidak harus selalu seperti ini atau seperti itu. Kamu mungkin bersedih, tapi berbesar hati karena seorang teman lama mengirimkan undangan pernikahannya. Kamu tergelitik untuk membeli baju baru, lantas sadar pakaian hanya penutup badan. Kamu struggle untuk meyakinkan diri sendiri bahwa segala hal cukup dilalui dengan sederhana, dan segalanya akan baik-baik saja.

Lalu kamu ingat suatu hari bertemu seorang teman baru, kalian membicarakan barang yang layak dipertukarkan. Kalian saling menyusun rencana jalan-jalan, memasak bersama, bermain gitar, dan membaca buku di bawah teduh cemara. Di lain waktu kamu mendoakan keselamatan teman-temanmu yang demo turun ke jalan. Di hari lain kamu mendatangi acara penggalangan dana dan turut bercengkerama. Atau bahkan, ada hari di mana kamu diam saja dan menonton semua kartun yang bisa kamu temukan.

Kamu adalah patahan, kata John Holloway. Kamu adalah harapan yang muncul di kegelapan. Kamu lah yang harus memantik jalan keluar; menumbuhkan, mengkreasikan, dan mempertahankan kemungkinan. Kamu mungkin sangat partikular. Tapi semua hal penting dimulai dari partikel; rekayasa genetika, nuklir, memetika. Jadi tak mengapa, resah itu selalu adalah titik mula.

wordsflow

Running Away


Ada seorang perempuan.

Aku melihatnya berlari satu putaran setiap dua hari sekali. Aku tak pernah melihatnya menyapa siapapun yang berpapasan, bahkan kuduga ia juga tidak melihat ke depan. Dunianya hanya sejauh tiga meter di depan kakinya, seolah tidak ada hal lain yang penting lagi. Tak peduli bagaimana ia orang lain melihatnya dengan penuh perhatian, atau orang lain mencibirnya dengan kesombongan. Baginya dunianya hanya berjarak tiga meter dari ujung kakinya.

Aku melihat perempuan itu berlari pada waktu-waktu tertentu. Setiap pagi dua hari sekali ia dengan wajah setengah mengantuk berlari dengan ritme lambat yang menenangkan, suara langkah kakinya bahkan begitu stabil tanpa ada perubahan. Sering pula ia berlari di sore hari selepas pukul setengah lima. Kadang secara tidak terduga ia datang di hari-hari tertentu, tapi ia memang tidak pernah berlari pada jam yang tepat sama seperti hari-hari sebelumnya.

Wajahnya penuh dengan pertanyaan, itulah hal yang paling aku suka.

Suatu hari, sekitar sebulan yang lalu, aku melihatnya menangis ketika berlari. Aku tak pernah tahu apa yang ia pikirkan, apa yang ada di kepalanya, bagaimana suasana hatinya. Yang kutahu pasti, ekspresi wajahnya tak pernah sama setiap kali ia berlari, dan aku yakin ia tidak pernah berhenti berpikir setiap kali melakukannya.

Meski demikian, ada hari yang sungguh membuatku penasaran dan berkeinginan dengan sangat untuk bertanya. Hari itu sore pukul empat, waktu yang jarang sekali ia gunakan untuk berlari. Wajahnya tidak terbaca; ekspresi yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Ia begitu teduh, teduh yang tidak aku pahami karena seolah ia menyembunyikan gemuruh yang lebih besar. Kali ini, aku memperhatikannya jauh lebih seksama, dan aku punya waktu kurang dari satu menit untuk memutuskan akan menyapanya atau sekali lagi melepasnya untuk kutatap lagi di lain hari.

Jarak kami sudah hampir sejajar, tapi tak juga ada keputusan yang aku ambil. Pada langkah ke lima dari posisiku, ia berhenti, lalu menunduk dalam. Aku terpaku di tempatku, tak mampu memutuskan untuk menyapa atau membiarkannya. Tapi justru aku menunggu. Seolah yakin aku akan menemukan jawaban tak lama lagi.

Ia menunduk dalam, punggungnya tiba-tiba bergetar pelan dan punggungnya naik turun. Ia menunduk semakin dalam, hingga akhirnya terduduk. Secara ajaib, suasana itu terasa begitu pekat untukku, seolah ada dorongan untuk mendekatinya, lantas meletakkan tanganku di pundaknya untuk mencoba merasai berat hatinya. Tapi tidak kulakukan; aku tetap terpaku di tempat, bahkan suara napasku harus kutahan sepelan mungkin agar ia tak terganggu.

Tak sampai dua menit ia berdiri kembali, mengusap ujung matanya dan berlari pada irama yang sama. Seolah tak terjadi apapun!

Maka aku berlari pula mengikutinya dari belakang. Aku begitu ingin melihat hal apa lagi yang ia lakukan. Tapi tak ada lagi yang cukup penting terjadi pada dirinya selepas tangis itu. Aku bahkan tidak melihatnya menengok ke belakang barang sejenak. Lagi-lagi dunianya hanya sejauh tiga meter ke depan dari ujung kakinya, dan terus begitu sepanjang waktu.

Benar. Tak akan ada yang bisa melihatmu selain dirimu sendiri. Tak ada yang memahami kedalaman hatimu selain dirimu sendiri.

Perempuan itu aku, dan aku adalah perempuan itu.

Pada momen berlari, aku menikmati kesendirian yang dalam, melihat tidak pada siapapun kecuali sejarak tiga meter ke depan. Tidak mendengar apapun kecuali detak jantung dan tapak kaki pada tanah yang keras. Tidak merasakan apapun kecuali panas tubuh yang meningkat. Tapi pikiranku berkelindan erat dengan perasaan, bergelayut mengikuti irama detak jantung. Kadang terlonjak pada sebongkah ingatan, kadang teredam pada sepenggal pemahaman. Tapi ritme itu tidak berubah, terus berlalu tanpa ragu.

Perkaranya hanya satu, selama apapun pelarian itu, pada akhirnya titik akhirnya tetap sebuah mula.

wordsflow

growing


It’s only by aging that we can be more in touch with our inner power

__Yazeemimah Rossi

So, growing is a journey of diving to the deepest part of our heart. Sometimes we heard a quote that “age just a number!”, but you couldn’t put away the fact that you are getting older and older. After day by day looking at how this world is moving, how people’s moving, how everything’s moving, I found out that every person has their own disappointment. Thinking more about that, I realize that it was really non-sense! How could every people disappointed to themselves but jealous with other which was disappointed to themselves too?

Day by day, hour by hour, minute by minute, we are changing; our soul sings in its own way, our body moves in its own rhythm, and even our consciousness has its own moves. We dance in our self with those things being linked in together, moving without rules, knowing nothing but keep moving. We met everything that made us confuse, mad, happy, sad, or every kind of feeling that you ever felt. Hence, the person is still you! That so wonderful to think.

Maybe I am really proud to say that my age stopped at 23, but in fact, I do enjoy the feeling of surprise everytime I found something new within me. The change in my voice, the new line on my face, the changing part of my body, the new opinion that came up in sudden, the moment of stillness, the will to seek more things, to deal with the growing, to deal with the 24-hours-a-day trap, the time I have a conversation with someone I never knew before, or everything that I’ve been thinking once or something truly new. We have those wonder every time we finish with one questioning thing.

Life is a trap, but the trap could lead us to a wonderful journey.

Those words really sound so cliche, but what else that we asked for? Those words only meant when we really mean it. And well, there are maybe something worth to be left behind or keeping it as a memory rather than keeping it as a question. And there is maybe a new chance of growing better in a more challenging way. There, we grow up, we dive deeper than ever.

leave it all behind,

wordsflow

the needs to redefine the meaning of love


So, tonight I was intended to think about the more philosophical view of feeling, more intensely to the love matter. It’s quite more interested in me to seek the definition of it from the new point of view. What kind of conditions that could refer to it? That is maybe the start point of these paragraphs.

I was questioning myself, about why did I describe the feeling that I felt as a kind of ‘love’? Actually, I’m not sure about it, because neither the definition is steady enough to be generally agreed by people, nor the feeling itself is not the love, they differ in some ways that I would like to describe latter.

Feelings, we know that it is the effects and impacts of some conditions to self. You could feel happy, sad, worry, unsure, confident, etc, because of something. This something may be an action, a visual, a thought, a will, a dream, or many other forms. But love, in my opinion, is not one of that because of some people more likely to refer to all of those feelings when they refer to love matter. So, does the love could be defined as a feeling too, or is it something else?

It is maybe could be defined as a condition of determining the core of continuity of relation, or condition of continuous-relating self to others in intense interpersonal relation, or in contrast a condition of admiring someone without having any deep relations instead.

**

Here I find out that the draft hasn’t been posting days ago. And since I was intended to write in English, I think this would need more effort to continue, hehe. Jadi, saya lanjutkan dalam bahasa Indonesia aja yaa.

Perkara ini sepertinya memang cukup sering saya bahas, dan hingga sekarang masih pula belum selesai. Dalam refleksi saya terakhir mengenai pernikahan, saya pikir saya akhirnya berkesimpulan bahwa saya salah besar. Perkara menikah tidak mungkin saya lakukan secara random dengan siapapun. Beruntung sekali banyak peristiwa reflektif yang terjadi pada saya akhir-akhir ini, sehingga saya bisa memiliki lebih banyak waktu untuk memikirkan banyak hal. Tidak mudah menerima orang lain lagi ketika urusan kita belum selesai benar dengan seseorang.

Sebagaimana pertanyaan mengenai bagaimana rasa bermula, begitu juga ada pertanyaan mengenai kenapa rasa bisa bertahan? Jika jawabannya ada pada harapan, pada utopia, atau pada masokisme, pun saya rasa tidak demikian keadaannya.

Saya kadang berharap mendapatkan pernyataan jujur atas rasa itu dari orang-orang yang menjadi teman-teman diskusi saya. Banyak yang akhirnya mentok pada dua perkara itu, seolah sulit sekali mengidentifikasinya. Mungkin, sebenarnya mudah saja jawaban itu keluar, tapi bisa jadi ada semacam penolakan pengungkapan agar rasa itu dipandang jauh lebih tinggi daripada sekedar karena ‘kenyamanan’, ‘kecocokan’, atau alasan sejenisnya. Atau, bisa jadi memang alasan itu tidak mampu teridentifikasi karena kompleksitasnya yang semakin tinggi.

Kadang saya berpikir, kenapa mencintai orang lain serumit ini, atau sesakit ini. Padahal ada orang lain yang mudah saja berpindah orang, mudah saja berhubungan dengan orang lain, mudah saja menerima orang baru, dan seterusnya. Tapi sekalipun muncul orang baru yang saya kagumi, tentu saja tidak serta merta saya bisa berkata saya mencintainya, atau menyukainya. Tidak begitu.

Di samping itu, ketika rasa yang saya pikir sudah terlalu dalam dan menyakitkan tak juga mampu saya selesaikan, kadang muncul hal-hal yang merusak diri sendiri. Bisikan-bisikan semacam “ternyata saya tak berguna untukmu”, “ternyata saya bukan siapa-siapa”, “toh aku pergi juga tak jadi soal”, dan sebagainya menjadi hal-hal yang saya upayakan untuk menghapus perasaan itu. Toh tidak berhasil benar. Membicarakan ini memang tampak begitu banal, tapi justru di sini lah letak salah satu bentuk kemanusiaan kita.

So, instead of a feeling, love is a certain condition. And beside of being disturbed by the love, I think someone has to be grateful of being loved by others. The case is how you tell him/her about yours. Maybe in some cases, being loved by others is rather uncomfortable (especially in my case), but at the end, you’ll realize that just like you, there is someone who’s struggling with his/herself too. So, instead of making him/her takes more struggles, just tell about yours, whether you love him/her back or not. Chasing on someone is not fun, but raising the love over someone is really fun.

One day, there will be a time when my leaving is a must. Maybe my reflective part of this matter is something deep, but in praxis, I’m a person who couldn’t do what I really wanted do. Oh, what a shame of me. Being honest with self is the hardest part of life I think, there we struggling on our problems and thoughts, determining the best action that we could do without any regrets. Finally, a person is really a human, after all. They are just like us, like you, like her, like everyone in this world.

wordsflow

what makes a human, human


Ada pernyataan yang sangat sering dikutip oleh akademisi mengenai bagaimana manusia terdiferensiasi secara alami dari primata. Hal tersebut berkaitan dengan ‘kerja’ yang dilakukan manusia, yang mana tidak terjadi pada binatang lainnya di bumi ini. Mungkin beberapa orang akan dengan mudah mendebat mengenai pernyataan itu, misalnya dengan menyatakan bahwa ‘toh binatang juga bekerja’, ‘toh mereka juga mengorganisir diri mereka untuk memaksimalkan potensi berburu’, atau berbagai pernyataan tandingan lainnya untuk menolak pernyataan tersebut. Pada pihak yang berseberangan, berbagai jenis orang akan juga mendefinisikan sendiri-sendiri mengenai apa yang bisa membedakan manusia dengan makhluk lainnya yang ada di dunia ini.

Dalam pendalaman saya terhadap berbagai persoalan yang pernah saya dengarkan, saya lihat, dan mungkin saya kaji dengan sederhana, tidak banyak yang bisa saja ajukan mengenai hal ini. Hanya saja, ada sebuah pernyataan yang tiba-tiba saya pikir cukup relevan untuk menjadi sebuah pernyataan tandingan terkait apa yang bisa membedakan manusia dengan begitu banyaknya hal yang ada di dunia ini.

Struggles.

Hal itu lah yang saya kira ada di setiap manusia yang saya temui di dunia ini, dan bahkan saya alami sendiri sepanjang hidup saya sebagai sebuah bagian yang menyejarah, dan bahkan melekat pada setiap keseharian kita sebagai manusia. Beberapa orang mengira bahwa manusia memiliki kebebasan mutlak dalam menentukan pilihan-pilihan dalam hidupnya. Benar mungkin, pada tataran tertentu. Tapi tentu saja kebebasan ini berbenturan dengan berbagai kepentingan lain yang muncul dari manusia lain sebagai sebentuk ekspresi kebebasan mereka juga. Tersingkirlah kemudian kebebasan mutlak itu sebagai bagian dari manusia. Tidak demikian.

Perdebatan di dalam manusia itu abadi. Dia seabadi manusia itu sendiri, dan berhenti bersamaan dengan berhentinya kehidupan itu sendiri. Perdebatan sebagai sebuah bentuk paling awal dari berpikir, bermula pada urusan menentukan, memilih, mempertimbangkan, mendialogkan, mendialektikakan, dan seterusnya, dan seterusnya. Hanya manusia yang mengalami perdebatan di dalam dirinya terkait dengan segala hal yang ia lakukan di dunia ini. Hanya manusia yang mempertimbangkan dengan dalam mengenai segala hal. Bisa saja semua makhluk hidup memiliki refleks, namun hanya manusia yang berdebat dengan sengit, bahkan dengan dirinya sendiri.

Perdebatan atau struggle ini yang mengendalikan manusia di hadapan manusia lainnya, dalam kaitannya dengan alamnya, Tuhannya, makhluk lainnya, diri sendiri, masa lalu, masa kini, masa depan, atau apapun itu. Dan dia tidak sesederhana istilahnya. Bagi saya, struggle merupakan inti dari aktualisasi diri manusia, dan proses itulah yang membentuk manusia hingga akhir hidupnya.

Perkara yang tidak sederhana ini akan tidak hanya mendewasakan manusia, namun juga membuat seseorang mampu kehilangan dirinya. Struggle tidak pernah menjadi perkara yang sederhana, karena di sana letak kesadaran berperan, telak dialektika berperan, letak nalar berperan, ah apapun.

Sebenarnya saya mau menjelaskan lebih lanjut mengenai apa yang saya pikirkan tentang ini. Tapi sudahlah, nanti saya lanjutkan lagi lain waktu.

wordsflow

tengah malam ini


Tetiba aku berhenti di turunan kedua jalan utama menuju rumah sementara. Seorang diri, malam ini rasanya lain. Aku meminta diri untuk berhenti sejenak, lalu memperhatikan sekeliling dengan cermat.

Tetes gerimis terus menitik di wajahku, tetesnya terasa menekan, lalu sirna. Udara dingin sepoi berhembus dari belakang. Jauh di depan bendera berkibar perlahan. Lampu jalan yang selalu pendar, banyak, bulat, nan tenang. Lalu sebuah layang-layang tersangkut di sebuah pohon. Gemerisik terdengar di kejauhan, dan angin menggoyang dedaunan dengan sangat pelan. Aku sendirian. Rasa yang akrab berkembang, lalu meski sepi dan agak menakutkan, ada tenang yang terselip dengan pasti; rumahku tak jauh lagi.

Kurasai bagaimana orang-orang berduka di sekelilingku. Seorang yang putus asa. Seorang yang patah arang. Seorang yang bimbang. Seorang yang ragu. Seorang yang terluka. Seorang yang sengaja mencari luka. Lalu seorang demi seorang lain bermunculan. Berapa banyak yang ditanggung sebuah jiwa sebelum akhirnya ia kalah berjuang?

Lalu air mata lain jatuh di ujung lain percakapan. Di layar yang sama berita gembira menyebar begitu saja. Bercanda sekali kita semua. Tidak lelah, tidak juga ingin berbenah.

Tuhan punya cara bercanda yang sangat lucu. Kadang terlampau cerdas hingga kurasai tak mampu kutemukan di mana titik kelucuannya. Tapi benar, dia sungguh lucu.

Maka aku harus juga menangis hari ini, seperti juga seminggu yang lalu kukatakan, esok akan begitu berat untuk dihadapi. Entah kenapa, aku selalu bisa meramalkannya, itu sungguh aneh. Tapi berkali-kali kupikir, berpikir saja ternyata tidak cukup. Berkata juga tidak cukup. Hanya aku begitu ragu, karena tatap mata yang menuduhku, kalimat yang mencurigaiku, logika yang memfalsifikasiku. Ah, lagi-lagi harus ada korban dan tersangka dalam setiap perkara.

Kupikir, sudah tepat jika aku ingin undur diri secepat mungkin. Mungkin secepat nasib membawaku ke umur 25, atau secepat mimpiku dihapus oleh pukul 5.

wordsflow

ingatan


Siang ini pemutar musik di ponsel pintarku memutar sebuah rekaman gitar yang beriringan dengan berisik suara lain. Tentu saja rekamannya tidak mulus, tidak indah, dan hanya mampu menangkap samar-samar permainan gitarmu kala itu. Aku tidak yakin ada orang selain aku yang mengingat malam itu. Kamu bermain tak kurang tujuh lagu, dan tiga gubahan instrumen yang hanya kamu yang tahu nadanya; aku tentu buta nada. Aku merekam tiga gubahan itu tanpa kamu tahu, diam-diam seperti pencuri yang tak mau diketahui.

Malam telah cukup larut, tak ada sesiapa yang lain di sana, hanya aku dan kamu, dalam hening suara manusia, namun riuh gemuruh hatiku; tak terdengar bagaimana denganmu. Tak sepatah kata pun keluar di antara kita, tidak bercanda, tidak sapa, tidak ada apa-apa. Tapi aneh sekali, jarak kita tidak lebih jauh dari satu jengkal, dan aku bahkan mampu merasakan panas tubuhmu terradiasi tertangkap syaraf kulitku. Aku lekat memandang punggungmu, agak lebih bawah karena aku bersandar, sementara kamu membelakangiku, entah apa yang sedang kamu pikirkan ketika itu. Tak pernah sedikitpun aku tahu.

Mungkin, jika kau tanyakan perasaanku kala itu, aku akan tergagap gugup dan mungkin tidak akan ada hal penting yang mampu kuutarakan kecuali penolakan. Tapi kamu tidak berkata apapun, dan dalam hening aku bersyukur karena aku tak harus berurusan dengan kerusuhan hatiku sendiri. Hanya petikan gitarmu dan suara jangkrik dan kodok yang jauh yang mengiringi kita malam itu. Sementara aku tenggelam dalam buku bacaan yang telah kulupa judulnya. Tenang sekali meski gemuruh di hatiku tak juga mereda.

Lucu sekali, rekaman itu tetap kusisakan meski berkali-kali aku berharap mampu menghapusnya. Toh tetap tak tega juga. Hening yang itu pantas aku kenang.

Kita telah lama berjarak. Sangat lama, dan bahkan tidak mampu lagi kubayangkan hingga berapa lama lagi jarak itu akan ada. Tapi sesuatu menyadarkanku, bahwa hanya karena jarak maka setiap suara mampu terdengar, setiap mata mampu bertatap, setiap hati mampu berharap, dan seterusnya, dan seterusnya. Mungkin tidak rasional sudah semua ini, kuduga pada tahap ini aku telah kehilangan kontrol diri. Tapi tidak, aku masih memiliki diriku sendiri, dan kamu masih memiliki dirimu sendiri.

Setiap mengingat satu momen, maka momen lain akan juga berkelebat keluar memamerkan episode lainnya, hening lainnya, atau mungkin tawa lainnya. Beberapa di antaranya kuingat sebagai momen hening paling berharga dalam perjalanan kontemplatifku, dan kamu selalu yang ada di sana.

Tapi, kuduga kamu tidak begitu. Tentu saja momenku dan momenmu berbeda, tidak segala hal harus sama, tidak segala hal harus serupa. Aku bertemu dengan orang lain yang juga jatuh cinta, sama sepertiku, atau sepertimu. Aku bertemu orang lain yang berharap juga. Atau orang lain yang patah hati, yang bertanya-tanya, yang merasa paling menderita, yang mencoba memperjuangkan seseorang, yang mencoba melarikan diri dari luka, yang mencoba menerima segala hal, yang terus berjalan tanpa peduli sesiapa, yang kehilangan percaya, yang terkecewakan hingga menderita, atau apapun itu. Segala hal ada juga pada setiap manusia.

Tidak ingin kukatakan kepadamu seberapa besar luka atau harap yang kutanggung, kupikir kita tidak jauh berbeda. Jika kamu bicara gembira, aku pun sama. Jika aku bicara mungkin, kamu juga begitu. Kita tidak jauh berbeda. Kita hanya berjarak, lalu terpisah jurang yang meski tak seberapa dalam, namun tak mampu kutantang diri untuk melompatinya.

Ada banyak babak kuduga, yang bisa juga kita bagi-bagi ke dalam beberapa perkara. Seorang perempuan tidak akan mampu menerima jika belum ada penolakan kamu bilang, bisa jadi benar. Leluhurku mengajarkan untuk nrimo ing pandum dan selalu rumangsa. Merasa dan menerima, dua inti utama pemurnian jiwa. Jawa yang menjiwai, bukan Jawa yang mewakili. Sedikit berfilsafat tidak akan membuat kita hilang dari realita, keduanya tetap pada tempatnya. Kita hanya pelesir sebentar agar bisa saling mengingatkan.

Bukan menghantarkan duka atau luka, tidak begitu kejadiannya. Tapi ‘merasa’ itu bukan sesuatu yang terlampau mudah sehingga dapat menjadi sebuah perintah atau titah.

Lalu, antara aku belum lagi berminat dengan isi hatimu atau aku telah tidak lagi membutuhkan penjelasan lagi. Bisa jadi, dengan merasakannya dengan lebih tenang, pekat, dan dalam, perkaranya tidak lagi menjadi sama. Itu masih hanya dugaan, toh masih juga aku tak mampu menjawab pertanyaan paling sederhana dari ‘mengapa’. Kadang ada badai yang tidak pernah selesai. Kadang ada yang luput melihat bagaimana segala sesuatu bekerja. Kadang ada yang lupa bagaimana menemukan dan pulang. Kadang-kadang saja begitu. Di lain waktu kamu berlalu tanpa ragu. Atau aku memimpikanmu tanpa malu.

Lagu di ponsel pintarku memang tak lagi mendengungkan suara petikan gitarmu. Memang. Tapi beberapa lagu bergaung-gaung indah, deretan lagu-lagu yang rajin kuperdengarkan kala gegar pertama kuterima darimu. Sudah lama ternyata. Mungkin aku bahkan tidak terlalu ingat bagaimana suasana kala itu. Tak mengapa, bekasnya masih terasa setiap sebuah lagu diputar. Kadang sebuah lagu lain menghantarkan ingatan ketika aku berlari tak tahu arah hanya untuk menghindari luka yang kutebar sendiri, meski kutuduh kau yang menorehkannya. Aneh, kadang ingatan tidak membawa luka yang sama besarnya, namun memberi pemahaman yang jauh dari tuduhan.

Akhirnya, perasaan itu tidak untuk dibela atau dicari dimana letak kebenaran atau nalarnya. Tidak akan kita temui apapun kecuali penimpaan kesalahan pada nasib dan rasa itu sendiri. Kamu sudah pernah menjawabnya ketika itu “rasakan saja”, dan baru sekarang aku memahaminya.

Dan ingatan itu semakin jauh. Semoga kita bermimpi malam ini.

wordsflow

tentang seseorang di dalam dirimu


Malam ini saya ingin bersedih sejenak, karena telah begitu lama saya tertawa-tawa dengan begitu sungguh.

Cerita ini dimulai dari orang-orang di dalam hidup saya, sebuah kesamaan yang juga dimiliki semua orang di dunia; kita membagi waktu, gagasan, tempat bersinggungan dengan orang lain sepanjang waktu. Luar biasa sekali intensitas bersinggungan itu jika mau susah payah dihitung dalam logika matematis, tapi itu kan tidak perlu. Beberapa lebih mementingkan relasi apa yang terbentuk antar manusia, atau konteks yang memungkinkan munculnya relasi itu. Atau barangkali, sebenarnya tidak ada alasan apapun di balik persinggungan itu.

Saya pernah menuliskan rasa tidak percaya saya pada semua orang yang ada di sekeliling saya. Suatu hari terbukti bahwa tidak ada seorang pun yang sepeduli itu dengan hidup orang lain, dan tentu saja saya dapat menyebutkan begitu banyak contoh dari argumen itu. Lalu saya pun tumbuh, mungkin mendekati hari-hari yang lebih kontemplatif dari yang saya kira akan saya alami. Bertemu jugalah saya dengan banyak anak manusia yang juga sama kebingungannya dengan saya.

Tidak jauh berbeda, semua orang pernah ada di titik persimpangan yang sama. Hanya saja, barangkali mereka mengambil jalur yang berbeda, menjalani daur hidup yang tak sama.

Tapi pertanyaan mengenai ketaksamaan itu kemudian menjebak kita pada pertanyaan-pertanyaan lainnya yang jauh lebih luas. Dan muncullah tuntutan terhadap diri untuk menjadi lapang, selapang yang tidak pernah saya bayangkan. Atau menjadi bijak, meski kata bijak sendiri masih sulit didefinisikan.

Saya pernah sangat ingin menjauh dari ruang hidup saya di hari ini, menemui orang-orang baru, mengurus diri sendiri, dan mungkin, saya akan menemukan kedamaian yang selama ini terbayang sambil lalu di dalam pikiran. Tapi pikiran tidak lantas berdampak pada tindakan orang-orang di sekitar kita, meskipun psikokinesis berkata itu memungkinkan. Pikiran tidak lantas menghilangkan ritme yang telah terlanjur terbentuk, atau tanggung jawab yang terlanjur diemban. Apakah sungguh terlanjur? Tidak. Itu pun pilihan.

Bagian terberat dari berteman dengan diri sendiri adalah menemukan kenyataan bahwa terkadang diri sendiri pun tidak mudah untuk dikendalikan. Simpangan itu yang seharusnya saya identifikasi dan temukan mengapanya, lalu mungkin menyingkir dari hal-hal yang mengawalinya. Karena itu, keinginan untuk menyingkir sejauh-jauhnya dari ruang hidup ini masih begitu besar meski secara paksa saya mencoba merepresinya jauh ke bagian paling dalam. Supaya bisa jadi, saya toh akhirnya mengakui bahwa keinginan itu terlalu emosional daripada yang sesungguhnya terjadi.

Ah, saya masih tetap ingin bersedih, dan menebar aura negatif malam ini.

Ada waktu-waktu ketika raga dan pikiran tidak sejalan, ah bukan, itu adalah simpangan yang tidak bisa diputuskan, karenanya memicu kekacauan. Jarak yang tercipta antara dua pikiran itu yang mengacaukan hal-hal yang terrencana di bagian pikiran yang lainnya. Kadang saya sungguh kesal karena hal-hal yang tidak ingin saya ketahui toh saya tahu juga. Atau di waktu yang lain, saya mengutuki kestabilan diri yang tergores oleh visualisasi. Lalu sedih itu tercipta.

Bagi saya, kesedihan itu bagian yang menyenangkan. Kehilangan perasaan itu agaknya menakutkan untuk dipikirkan. Dan saya tidak ingin melulu bahagia begitu saja. Kesedihan memicu introspeksi mendalam, lalu pemahaman yang lebih bijak mengenai dunia yang sedang berputar ini.

Apakah kata-kata barusan adalah bentuk lain dari pelarian? Bisa jadi iya. Atau saya lebih suka menjawabnya semoga tidak pernah menjadi demikian.

Di suatu penggal cerita, Neti pernah mengutuk nasibnya, bahwa orang yang dikatakan cantik, pandai, atau segala bentuk pujian itu pun nyatanya tidak mampu mewujudkan cita-cita terdalamnya. Jadi apa gunanya semua pujian itu kalau toh cita-citanya tak pernah mampu diwujudkannya? Begitu banyak keputusasaan yang menguar di udara, mungkin tertangkap lewat mata orang lain, sentuhan orang lain, atau pikiran orang lain, tak ada yang tahu. Yang pasti, setiap keputusasaan itu coba disembunyikan seorang diri, dan seolah dirinya mampu melalui kesemuanya sendirian.

Ketunggalan insan ini sangat menarik, karena meski upaya untuk melalui itu begitu sulit, tapi nyatanya setiap manusia memang adalah ketunggalan itu sendiri. Dan hal itu membuat setiap-tiapnya seharusnya begitu akrab dengan kesepian, kesendirian, keterpencilan, ketersisihan, atau bentuk ke-an yang lainnya. Berapa kali setiap-tiap kita mencoba untuk memupuk semangat dan memberikan kata-kata motivasi untuk diri sendiri? Pada akhirnya kembali juga kita pada titik kesepian yang sama.

Manusia itu seperti planet-planet. Kita mungkin kembali pada musim yang sama; pada kesepian yang sama. Tapi perputaran itu tidak pernah membawa pada posisi yang sama di jagad semesta, tapi selalu berputar juga pada pusat yang lebih besar, yang bisa jadi pusat itu juga bergerak atas pusat yang lainnya, dan seterusnya, dan seterusnya. Bukankah kita semua memahami konsep mikro dan makro ini?

Lalu malam ini, saya ingin memeluk diri sendiri lebih erat. Mencoba mengakrabi setiap jeda antara rasa percaya dan putus asa. Agar esok, saya akan lebih siap ketika menemukan hal-hal yang terpercik menyakitkan, atau menyengat terlalu tajam.

Seandainya, seandainya saya bisa menghapus eksistensi diri dan merumuskan diri yang baru, seandainya saya melepas semua relasi yang telah tercipta untuk mencari bentuk relasi baru, seandainya saya memutuskan untuk mempercayai diri sendiri lebih tinggi, seandainya semua hal berjalan sesuai harapan saya, seandainya, dan seandainya semua itu terjadi, apakah saya tidak akan sampai pada keputusasaan yang saya rasakan sekarang?

Tak ada jaminan akan apapun, mengenai siapapun, pada waktu kapanpun.

wordsflow