WORDS FLOW

just go with the flow and whatever happens, happens

The Unwise Wisdom Teeth (ii)


Baiklah, saya upayakan untuk menyelesaikan cerita ini sebelum basi.

Hari ini Senin, dan pipi bengkak saya akhirnya telah kembali kempes meskipun saya mengkhawatirkan jahitannya yang lepas karena saya terlalu banyak gerak (sudah dipakai main badminton sambil teriak-teriak 2 kali sejak operasi).

Lanjut dari cerita yang kemarin ya, saya mau merevisi sedikit cerita soal Hermina. Di Hermina ini apa-apa serba tidak bisa langsung hari itu juga saudara-saudara. Jadi yang saya bilang saya langsung ke Endodonsi itu sebetulnya saya baru bisa ke sana seminggu setelah saya mendaftar. Sejauh itu cuman dibilang, “datang lagi minggu depan ya mbak” dan pengecekan nggak sampai 5 menit. Heu. Sedihnya.

Nah, lanjut di RSA UGM yak.

Waktu saya datang hari Jumat itu, saya sebetulnya sudah telat 5 menit karena pendaftaran maksimal jam 11 atau jam 12 ya, saya lupa. Tapi karena dokter bedah mulut masih belum full pasien (maksimal 10 pasien dalam satu hari), makanya saya bisa diselipkan.

Prosedurnya juga nggak susah, tinggal fotokopi surat rujukan, KTP, dan kartu BPJS. Di samping pendaftaran bahkan ada tukang fotokopi, jadi santai aja. Begitu selesai daftar langsung ke bagian Bedah Terpadu, didata dulu dan disuruh nunggu. Karena saya pasien yang daftarnya belakangan, saya menunggu lumayan lama, mungkin sejam.

Begitu ruang tunggu tinggal beberapa orang, nama saya dipanggil. Oiya, sebelum masuk ke ruang bedah mulut selalu diukur dulu tensi dan berat badannya. Dan masuklah saya.

Kesan pertama adalah, wow ruangannya dingin. Yang kedua, pak dokternya langsung berdiri dan memperkenalkan diri, lalu tanya-tanya (sok) asik gitu. Saya ditanya keluhan, dicek mulutnya, lalu dimintai hasil rontgen yang sudah saya bawa.

Hal yang bikin saya syok, bapaknya langsung bilang, “Jadi ini ada 6 gigi yang bermasalah ya Mbak”. Dalam hari, buset banyak amat, habis dong giginya.

Ternyata bapak ini langsung paham apa masalah giginya. Beliau menjelaskan rinci banget dong.

Pertama yang bermasalah semua gigi bungsu, jadi ada 4. Sebetulnya gigi bungsu 18 sudah dicabut, tapi ternyata ada gigi tambahan yang tumbuh kecil lucu gitu, kata bapaknya sekalian dikorek-korek (seriusan ini istilah beliau) aja soalnya nggak guna, sekalian satu kali operasi. Jadi tetap ada 4 gigi bungsu bermasalah. Yang lebih parah gigi bungsu bawah karena impaksi dan berhasil membuat geraham depannya rusak. Gigi bungsu kanan bawah (48) bahkan sudah berhasil nyelip ke dalam gigi geraham (ini sakit bingit setiap kali makan atau kena dingin atau nggak sengaja kesedot lidah).

Kedua, dua gigi geraham bawah yang kena impaksi dan sudah terdampak. Lega banget waktu bapaknya bilang, “Mereka bermasalah tapi nggak perlu dicabut, bisa ditambal kok.” Terdiam sejenak. “Atau mau dicabut sekalian?” Langsung bilang enggak dengan semangat.

Setelahnya, bapak itu menjelaskan prosedur operasi, alasan, teknis, dan efeknya. Saya sebagai peserta BPJS juga dikasihtau hak-haknya. Setelah penjelasan berakhir, tanpa babibu bapaknya bilang, “Jadi operasi gigi itu nanti efeknya bakal bengkak, sekitar seminggu lah. Nah ini kan yang bermasalah ada 4, mau satu-satu nanti tiap minggu sakit gigi, atau sekali aja biar sakitnya sekali aja, tapi ya bengkaknya jadi besar dan sakit”. Well, satu detik setelah pertanyaan itu saja jawab untuk ambil tindakan sekaligus.

Sayangnya hari itu saya belum siap dan sedang ada agenda. Akhirnya saya menundanya hingga 10 hari kemudian dengan catatan bahwa saya harus rawat inap untuk persiapan operasi. Setelah mengurus segala pendaftaran, saya pulang menanti hari-hari terlewati.

Yey akhirnya sampai di hari H. Tak saya sangka cerita ini akan jadi panjang.

Di hari operasi, hampir tidak ada yang tahu kecuali pelanggan saya yang saya infokan libur. Saya bergegas ke RSA karena ternyata pendaftaran terakhir maksimal jam 12 sementara jam sudah menunjuk pukul 11.30. Saya buru-buru meminta tolong diantarkan ke RSA karena waktu yang mepet. Berbekal berkas dan baju ganti sepasang, saya mendaftar untuk rawat inap.

Setelah mendaftar, lagi-lagi saya menuju ruang bedah terpadu. Kali ini banyak berkas yang harus dibawa. Saya cek tensi dan berat badan, lalu menunggu dipanggil perawat ke ruang dokter bedah mulut. Begitu masuk, saya langsung dijelaskan mengenai prosedur perawatan dan hal-hal apapun yang tertulis di berkas. Sejauh ini, saya menandatangani segala hal atas nama diri sendiri.

Setelah pemeriksaan dokter, saya ke ruang laboratorium terpadu untuk tes darah. Sebetulnya saya takut dengan segala hal berbentuk jarum karena imajinasi saya sering lebih liar dibandinkan dengan sensasi sesungguhnya. Jadi saya seringkali memalingkan muka ketika disuntik, haha.

Nah, dari sini lah beberapa kerumitan berlangsung. Sejak awal perawat menanyai saya soal siapa yang nemenin. Saya bilang saya sendirian aja. Beberapa berkas selesai diurus sendiri, sampai akhirnya sewaktu saya diantar ke ruang inap, perawatnya mengatakan kalau, “Mbak, nanti kalau sudah masuk nggak bisa keluar-keluar lagi lho. Sama nanti ini berkasnya dimasukkan ke bagian pendaftaran lagi ya.” Nah loh. Saya cuma bisa nyengir kuda sambil mempertimbangkan siapa yang akan saya mintai tolong mengurus saya. Mana lapar maksimal karena belum sarapan dari pagi—yang ternyata menguntungkan juga untuk tes darah.

Begitu masuk dan bergelang pasien, saya pun dipusingkan dengan memilih satu dari sekian banyak orang untuk dimintai tolong mengurus dan membawakan makanan. Pilihan tepat jatuh ke si adek yang rumahnya dekat. Huehe. Jadi sore itu si adek datang dan bawain saya makanan (yang hanya akan kemakan di malam itu). Langsung saya cemil mengingat jam 12 malam saya harus mulai puasa. Saya baru tahu kalau puasa untuk operasi bahkan sampai ndak boleh minum air putih. Saya pikir boleh.

Intinya sih, rawat inap bukan jenis perawatan yang bisa dilakukan sendiri meskipun semua berkasnya bisa ditandatangani sendiri. Ribet juga karena harus diinfus, saya harus punya keterampilan bisa mandi dengan satu tangan tanpa bantuan orang lain. Sepertinya itu semacam kecakapan umum deh, hahaha.

Aniwei, cerita ini nggak seru-seru amat sih, tapi masih ada satu bagian lagi untuk menyelesaikan semuanya. Nanti saya tulis lagi ya. Bye.

wordsflow

Sripah, dan Hal-hal Lain yang Tidak Berkaitan


Dalam bahasa Jawa, sripah memiliki makna berduka karena ada keluarga yang meninggal.

Tadi pagi saya mendapat kabar dari grup wa posko bahwa salah seorang relawan yang sempat bersama teman-teman kami di Palu meninggal mendadak tadi subuh di rumahnya, sepulangnya dari Palu. Awalnya saya biasa saja karena merasa tidak mengenal orang yang dimaksud. Tapi ternyata, obrolan berlanjut dan baru saya sadari bahwa saya pernah menginap di rumahnya, dan memiliki kenangan tentang orang ini di hidup saya. Namanya Mas Wawan.

Saya ingat di sekitaran pertengahan tahun yang lalu, teman-teman seorganisasi saya pernah membahas bahwa Mas Wawan baru saja punya anak pertama, perempuan. Mereka berencana sowan karena notabene Mas Wawan adalah salah satu masyarakat lokal yang sangat membantu kegiatan susur gua teman-teman organisasi.

Ketika berita itu saya dengar, saya langsung teringat istri dan anaknya yang masih kecil itu, mungkin umurnya baru menginjak 1,5 tahun sekarang, saya pun kurang tahu. Dia masih sangat muda, dan anak perempuannya kehilangan sosok ayah di usia yang begitu belia.

Saya turut berduka sedalam-dalamnya, semoga keluarga yang ditinggalkan ikhlas dan selalu diberi kemudahan.

Satu hal yang membuat saya terdiam, adalah betapa hidup tidak bisa diatur oleh sesiapapun yang hidup. Baru beberapa hari yang lalu sekilas saya membahas soal hak hidup dan mati. Persoalan ini ternyata memunculkan perasaan yang berbeda di konteks yang berbeda pula.

Memang kematian bukanlah hal yang bercanda. Sama sekali bukan. Saya juga sepakat mengenai hal itu.

Suatu waktu menonton TV tentang cave rescue di Thailand yang menewaskan salah seorang penyelamat karena kekurangan oksigen. Sementara itu anak-anak dan pelatihnya yang terjebak akhirnya selamat sepenuhnya. Di minggu kemarin mendengar bahwa seorang penyelam pencari korban Lion Air meninggal ketika sedang bertugas. Dan kabar tadi pagi, sering membuat saya merasa malu soal memaknai hidup dalam hubungannya dengan kematian ini.

Ada orang di dunia ini yang menginginkan kehidupan lebih panjang bagi orang-orang yang lebih awal berpulang. Mereka mungkin kehilangan ayah, ibu, teman hidup, anak kesayangan, rekan seperjuangan, pengasuh sejak bayi, dan bentuk-bentuk relasi penuh makna lainnya yang mungkin bisa dihasilkan oleh dua manusia atau lebih. Dan relasi semacam itu sangat menentramkan hati.

Tapi sebagai seorang individu, kadang saya cenderung percaya bahwa kita sebagai manusia memiliki hak terhadap diri sendiri. Hak hidup, hak kuasa, dan barangkali hak untuk mati.

Salah satu film yang mengangkat itu adalah Me Before You. Dia tidak membiarkan kita sebagai penonton mencapai kepuasan bahwa akhirnya tokoh utama pria tetap hidup. Tidak. Film ini membiarkan dia berhasil menggunakan haknya untuk mati atas namanya sendiri. Meskipun orang tuanya kehilangan, meskipun tokoh utama perempuan juga merasa kehilangan. Tapi itu mungkin satu-satunya pilihan yang membuatnya dirinya merasa berharga sebagai seorang individu.

Barangkali hal ini bisa menjadi perdebatan panjang juga. Tapi saya tidak akan mendebat. Kita memiliki hak untuk berbeda, untuk menetapkan mana yang pantas untuk dijalani sebagai seorang diri.

Saya tetap berduka ketika mendengar seseorang kehilangan orang yang penting dalam hidupnya. Saya juga berduka ketika kucing saya mati karena saya tidak mampu merawatnya. Duka dapat termanifestasikan dalam berbagai cara. Kadang-kadang ketika orang lain kehilangan orang tua mereka, saya menangis, justru karena mengingat keluarga saya sendiri. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Dan ya, perasaan dalam menanggapi kematian dan memahami konsep kematian bisa sangat berbeda satu sama lain, pun dengan empati dan simpati. Ini juga soal reportase Balairung kemarin yang membahas mengenai pelecehan seksual. Ada banyak reaksi, ada banyak fokus yang dibahas oleh masing-masing orang. Tentu saja karena pengalaman kita, pemahaman kita, wawasan kita, dan pemaknaan kita soal semua hal yang sudah kita telan sangat mungkin berbeda.

Bahwa manusia memiliki otoritas sepenuhnya atas tubuhnya, itu yang saya sepakati sehingga ada opini soal hak hidup dan hak mati tadi, atau soal yang mana pelecehan atau bukan, dan seterusnya dan seterusnya. Lebih dari itu, saya simpan bahasannya untuk saya dan pikiran saya sendiri ya, maafkeun.

Terakhir, sebelum saya menuliskan cerita soal gigi kemarin, saya ingin bilang kalau, if you love someone, let him/her knows. Selamat sore, selamat menunggu hujan reda.

wordsflow

The Unwise Wisdom Teeth (i)


Baiklah, demi memberikan asupan yang dibutuhkan oleh para pembaca sekalian, saya akan mengisi blog ini sembari menunggu energi saya full di Game Harry Potter. Aniwei, game ini saya unduh akibat mati bosan menunggu operasi gigi kemarin lusa. Bagian enaknya, karena saya operasi gigi di RSA UGM, saya bisa menggunakan akun UGM untuk masuk ke wifi dan bisa main game tanpa kehilangan kuota internet. Uyeey.

Well, sudah sekitar 3 hari (?, ah saya lupa) dunia maya saya penuh dengan topik tentang Mbak Agni dan Mas Harry Style. Dengan mudah saya bisa menemukan orang membicarakan ini mulai dari tetangga kamar kosan hingga ke selebgram atau selebtwit yang begitu jauh di kerajaan dunia maya sana. Ada banyak tanggapan, ada banyak kecenderungan, ada banyak bentuk keberpihakan. Karena mungkin itu too much, saya tidak akan membahasnya di sini. Lebih baik saya cerita soal operasi gigi dan pelayanan menggunakan BPJS saja ya.

Cukup lama saya menunda tulisan ini karena saya ingin menuliskannya ketika urusan pergigian saya kelar. Well, meski dengan begitu banyak penundaan, akhirnya gigi-gigi bermasalah itu berhasil teratasi dengan efek samping pembengkakan pada pipi selama seminggu ke depan. Tapi saya senang.

Jadi semua ini dimulai karena kebanggaan saya karena gigi bungsu yang berhasil tumbuh indah sejak saya duduk di bangku kelas 2 SMA. Itu sekitar 9 tahun yang lalu. Ya awal-awal saya menulis blog ini kalau tidak salah pernah ada sekilas testimoni saat saya sakit gigi. Setelah itu, empat gigi bungsu saya berhasil tumbuh meskipun gigi bungsu bawah posisinya nggak sempurna. Saya anggap itu tidak akan bermasalah.

Suatu hari, mungkin sekitar setahun yang lalu atau setengah tahun yang lalu, saya merasa bau mulut saya berubah. Tidak terlintas pikiran bahwa gigi saya berlubang, dan rasa sakit di gigi lebih karena ada makanan nyelip atau sebangsanya. Akhirnya, Juli kemarin sewaktu saya berangkat ke Flores, gigi itu menjadi-jadi dan baru saya ketahui kalau ada gigi saya yang berlubang di bagian bawah. Ini masih dengan asumsi bahwa yang berlubang adalah gigi bungsu.

Seminggu di Flores, gigi bawah saya luar biasa ngilu dan harus menahan ngilu selama di kapal dan di gunung. Sehari kemudian sembuh. Gantian gigi bungsu atas yang sakit, lalu rompal sedikit. Rasanya tuh seolah-olah saya ingin nyari tang saat itu juga dan cabut sendiri dua gigi bermasalah ini. Tapi saya mencoba mengatasi rasa sakitnya hingga tanggal kepulangan.

Awal agustus ketika saya kembali ke Jogja, saya mengurus pendaftaran perawatan gigi di RSGM. Perkaranya tentu satu saja, saya ndak mau bayar mahal. Sebetulnya waktu itu saya juga sudah punya kartu BPJS, tapi faskes 1 terdaftarnya masih di PKU Srandakan yang jauh bingit dan membuat saya malas mengurus surat rujukan. Jadilah coba alternatif terdekat saja.

Saya nekat datang ke RSGM dan mengambil dokter koas untuk cabut gigi. Ketemu satu. Dan meskipun yang saya permasalahkan waktu itu adalah gigi bawah, tapi justru gigi atas yang langsun ditangani. Bius lokal, jadi tetap ngilu dan tanpa sadar saya nangis dong sewaktu giginya tercabut. Bunyinya mirip tulang patah. Gigi 18 lancar jaya, dan saya menikmati sensasi melihat sumber ngilu saya bisa ditimang-timang di tangan.

Kerumitan dimulai ketika saya ingin mengurus gigi bawah. Dokter koas yang menangani gigi atas ini setuju untuk bantu operasi gigi. Tapi ternyata dia pindah ke bangsal lain seminggu setelah saya rontgen untuk persiapan gigi bawah. Parahnya lagi, ternyata gigi bawah impaksinya sudah parah dan gigi bungsunya nyangkut di dalam gigi geraham. Inilah yang membuat saya kesakitan suatu waktu di bulan Agustus sampai saya tidak bisa tidur selama seminggu.

Singkat cerita, setelah negosiasi dan percobaan berkali-kali, saya memang tidak bisa operasi murah di RSGM. Hemm, minggu-minggu pun berlalu.

Pertengahan menjelang akhir bulan September, saya mendapat pesan singkat dari BPJS yang katanya, “hari gini masih antri, download aplikasi JKN-KIS untuk mengubah identitas dan informasi peserta”. Segera saya unduh aplikasinya dan voila!! Semudah nge-twit ‘Hai’ untuk ganti faskes 1 dooong. Betapa bahagianyaaa. Tapi sayangnya saya baru bisa menggunakannya di bulan Oktober, jadi sekali lagi saya harus bersabar.

Begitu bulan Oktober tiba, di tanggal 1 itu pula saya membayar tagihan BPJS untuk bulan Oktober dan langsung menuju faskes 1 untuk periksa gigi. Hari itu juga saya langsung mendapat rujukan untuk ke Hermina esok harinya. Saya puas sekali karena administrasinya cepat dan mudah.

Dengan antusiasme tinggi, esok hari saya ke Hermina dan segera mendaftar. Saya dapat antrian paling belakang karena sama sekali tidak paham administrasi rumah sakit. Hampir tidak pernah ngurus orang sakit, tidak pernah ke rumah sakit, jadi masalah prosedur, pemberkasan, administrasi, dan pendaftaran saya nol besar. Selalu nanya-nanya mulu sama petugasnya. Nah, sewaktu saya masuk, ternyata ada yang salah dengan surat rujukan saya.

Saya pikir ini penting untuk dipahami sama teman-teman yang mau mengurus gigi pakai BPJS juga. Jadi masalah gigi ada yang ditangani dokter bedah mulut dan ada yang cukup di bagian endodonsi. Nah, kasus saya nih sebetulnya impaksi, yang harusnya ditangani sama dokter endodonsi. Tapi penyebabnya itu gigi bungsu yang tumbuh horizontal, itu bagiannya bedah mulut. Intinya, saya salah langkah. Saya sebetulnya kecewa dengan dokter di faskes 1 karena tidak sungguh-sungguh menjelaskan urusan prosedural ini. Karena BPJS sangat administratif, dia tidak akan menerima prosedur yang salah.

Jadilah saya harus kembali ke faskes 1 untuk minta surat rujukan lain ke bagian bedah mulut. Hal yang cukup melegakan karena perawat endodonsi mau membantu saya mendaftar ke bagian bedah mulut meski tanpa surat rujukan. Lama waktu tunggunya 2 minggu. Well, karena saya pun peserta BPJS yang harus menyesuaikan dengan sistem, saya penuhi masa tunggu tersebut sembari mengurus surat rujukan yang baru.

Setelah mencoret hari-hari dengan antusias, sampailah hari yang ditunggu. Saya datang tepat waktu, mendaftar, mengisi formulir, dan menunggu. Cukup lama. Padahal di keterangan ditulis jam praktik mulai jam 18.00, tapi sejam kemudian belum ada tanda-tanda kehidupan di ruangannya. Setengah jam kemudian ketika nama saya dipanggil, saya buru-buru masuk ruangan saking excitednya setelah menunggu selama 2 minggu.

Hasilnya? Tidak ada.

Begitu saya masuk, saya hanya dipersilakan duduk, ditanyai hasil rontgen, dan tanpa bertanya lebih lanjut langsung meminta perawat di sebelahnya untuk memberikan rujukan ke RSA UGM. Asli deh saya gedeg banget meskipun mencoba biasa saja. Apa lho maksudnya, saya sudah menunggu 2 minggu lamanya, tidak ditengok barang sedikitpun si gigi yang bermasalah, dan nggak sampai 5 menit saya sudah keluar dengan tulisan di alasan rujukannya “posisi sulit”. Ingin ku teriak “Lha iya, kalo mudah mah nggak perlu ke bedah mulut, endodonsi aja cukup!”

Hasil rontgen gigi.

Saya mencoba sabar sesabar-sabarnya meskipun dasarnya memang nggak sabaran dan emosian. Akhirnya malam itu saya pulang tanpa hasil.

Esok harinya saya dengan keyakinan tinggi berangkat ke RSA untuk melakukan pendaftaran. Prosedurnya cepat dan mudah, dan petugasnya juga sangat membantu. Tidak lama saya sudah di bagian bedah terpadu dan tinggal menunggu dipanggil. Perawat RSA sempat menanyakan alasan saya dirujuk ke sana. Menurutnya cukup banyak pasien yang mereka tangani karena rujukan-rujukan semacam itu sehingga jadwal perawatan di RSA sangatlah padat.

Ketika akhirnya masuk ke ruang dokternya, bapaknya ternyata juga cerita hal yang sama. Waktu itu langsung ingin ngaku betapa saya juga kecewa dengan dokter bedah mulut Hermina, tapi toh saya diam saja. Ajaibnya, bapak itu ramah dan menjelaskan begitu detil segala permasalahan dan kemungkinan penanganan. Di hari yang sama, beliau juga langsung menawarkan jadwal operasi gigi yang saya tanggapi dengan bingung lantaran sehari sebelumnya sudah sempat dikecewakan dan ujug-ujug mendapat jalan keluar.

Meskipun bisa di hari yang sama, akhirnya dengan satu dan lain pertimbangan saya baru memutuskan untuk mengambil jadwal satu minggu kemudian.

Well, cerita ini agak panjang dan melelahkan. Saya tidur dulu, besok saya teruskan ya.

wordsflow

The Cost of Friendship


Kadang-kadang saya sebel juga kalau sadar bahwa saya cenderung lebih suka menulis judul dalam bahasa Inggris. Atau sering kali merasa bahwa ada hal-hal yang jauh lebih jelas tersampaikan ketika menggunakan bahasa Inggris. Hemm, agaknya saya perlu memperbanyak kosakata dan belajar bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Oke, itu selingan.

Sewaktu jalan-jalan sore tadi, topik ini tetiba mampir ke pikiran saya karena beberapa latar belakang. Pertama, seorang yang sangat berjasa menghidupi diri saya selama saya melakukan pengambilan data lapangan di Makassar tetiba menghubungi saya karena akan datang ke Jogja dalam waktu dekat. Kedua, sahabat karib-tapi-sering-berantem saya akhirnya punya ponsel baru dan kami video call sore ini. Ketiga, seorang teman yang saya pikir memahami saya ternyata memiliki kepribadian tekstual yang berbeda terhadap saya. Keempat, ada orang yang baru bertemu dan bekerja sama dengan saya pertama kalinya akhirnya menjadi orang yang paling sering saya ajak main. Kelima, ada teman yang bertahan sangat lama bahkan ketika kami hanya pernah bertemu sekali saat bazaar bersama. Dan rupa-rupa pertemanan lainnya yang kadang saya pikir dekat ternyata sejauh satu detik cahaya. Kadang ada orang yang saya pikir jauh sekali ternyata memiliki komposisi pikiran dan perasaan yang serupa dengan saya dan barangkali yang paling mengerti diri saya.

Pertanyaannya, apakah berteman membutuhkan pengorbanan-perngorbanan agar pertemanan itu tetap berjalan baik?

Ada banyak rupa-rupa pertemanan memang. Terkadang justru mereka yang paling sering kita temui justru bukan orang yang paling dekat dan paling tidak memahami. Terkadang orang yang baru pertama kali kita temui menjadi orang yang paling menyenangkan untuk diceritakan keluh kesah dan bersama mereka kita merasa tidak sendirian. Seolah-olah begitu banyak orang di dunia ini yang pernah berpapasan dengan kita toh tidak membuat kita merasa memiliki teman.

Anehnya, memang anggapan ini sering membuat saya pribadi merasa terombang-ambing.

Ada anggapan bahwa karena orang yang paling dekat mengerti betul apa yang terjadi dengan kita, bagaimana kepribadian kita, bagaimana daya juang kita, bagaimana etos kerja kita, dan sebagainya, maka mereka akan berlaku sesuai pemahaman mereka tentang diri kita. Saya akhirnya berpikir bahwa bukan ketidakpedulian yang sedang ditunjukkan oleh orang-orang yang kita anggap tidak peduli ini, terkadang yang mereka berikan justru ruang bagi kita untuk berbenah dan menemukan sendiri apa yang sedang kita butuhkan.

Suatu hari seorang junior saya yang tingkat kedewasaannya dalam menghadapi berbagai masalah harus saya akui berada jauh di atas saya pernah ditanya orang anggota baru. “Apa pahitnya masuk Satub?” Dia menjawab, “Kamu tidak bisa memilih teman. Siapa yang mendaftar, siapa yang sudah ada, dan siapa yang akan datang, itulah orang-orang yang akan menjadi temanmu, bagaimanapun bentuknya”.

Ada masa ketika saya beranggapan bahwa tidak ada wujud pertemenan murni di mana kita terikat oleh rasa kebersamaan yang erat dan perasaan saling membutuhkan yang pekat. Hal itu karena saya cenderung merasa bahwa orang-orang di sekitar saya berusaha untuk mengambil keuntungan-keuntungan dari pertemenan yang kami jalin. Sekecil apapun wujud keuntungan itu.

Tapi kembali ke sisi yang berbeda. Benarkah demikian? Benarkah saya juga tidak berusaha untuk mengambil keuntungan-keuntungan dari pertemanan yang saya bangun?

Entahlah. Silahkan menilai sendiri. Tapi saya memiliki kepuasan-kepuasan tersendiri pada setiap pertemanan yang saya bangun. Kadang-kadang ada dorongan untuk menuntut hal-hal yang saya idealisasikan dalam sebuah pertemanan. Tapi di waktu yang lain saya merasa begitu antagonis posisinya dalam hubungan pertemanan ini.

Kontradiksi-kontradiksi semacam ini kerap terjadi. Bahkan sering kali terjadi bersamaan di mana bagian baik dari diri saya menimbang dengan kebijaksanaannya sebagai manusia dan seorang teman. Sedangkan sisi antagonis saya muncul sebagai sosok yang cenderung apatis, oportunis, dan sinis.

Lagi-lagi itu soal lain di balik hal-hal yang akhirnya saya lakukan dalam hidup. Barangkali ada kebaikan yang sebetulnya berpijak pada pikiran yang busuk. Bahwa di saat yang lain ada kesalahan yang sebetulnya bernaung di bawah niat yang baik. Selalu ada masa-masa semacam itu.

Tapi pertemanan tidak usai meskipun kita lupa mengucapkan ulang tahun di hari lahirnya. Tidak menghadiri wisudaannya. Tidak saling berkirim pesan tujuh hari dalam seminggu. Tidak saling tahu kemana kaki melangkah dan pikiran terbang. Tidak menghabiskan waktu berdua sekali seminggu. Tidak menjadi yang paling sempurna dan berguna. Tidak menjadi orang yang melulu enak dipandang. Tidak menjadi orang yang selalu satu pendapat. Tidak menjadi orang dalam kondisi-kondisi lain yang berseberangan.

Pertemanan berjalan tanpa dipikirkan. Bahwa ada orang yang tidak pernah menyapa setelah empat belas tahun dan bertemu lagi ternyata tidak membuat kita kekurangan bahan pembicaraan. Bahwa ada teman yang sempat berselisih paham ternyata pada pertemuan selanjutnya ada hal yang tetap dirindukan. Bahkan ketika ada rasa kebencian, toh pertemuan tidak melulu melipatgandakan.

Sejauh yang saya pahami, selama pikiran tidak mengkhianati maka pertemanan menjadi hal yang tanpa definisi. Seperti mencintai ((eaaa)). Ia akan berjalan begitu saja tanpa rencana. Seperti seorang yang sudah begitu lama tidak berjumpa dan tetiba menyapa di keramaian penumpang kereta. Seperti seorang yang tetiba menyapamu dengan nama kecil di kota yang berbeda. Seperti seorang yang kamu pikir hilang begitu saja kembali masuk ke rutinitas hidupmu.

Begitulah kadang kita tidak perlu menimbang apapun soal pertemanan. Bahwa setiap orang mengambil keuntungan dari hubungan-hubungan adalah niscaya. Tapi sejauh tidak ada pengkhianatan, akan selalu ada ruang untuk tetap bersama. Untuk tetap berada.

Tapi terserah kamu saja, soal seberapa dalam kita ingin saling menghujam di sudut hati masing-masingnya. Pada akhirnya, selalu ada kesan-kesan yang bisa kita simpan dan tidak terhapuskan. Begitu saja sudah cukup untuk menuai bibit pertemanan. Sisanya tinggal seberapa rela kita merawat dan mempercayai arus takdirnya.

wordsflow

Tentang Netijen yang Maha Benar hingga Mbak Awkarin yang jadi Relawan dan Halal Fest


Semenjak tak lagi berlangganan koran, satu-satunya cara mengakses hingar bingar dunia adalah melalui sosial media. Sosial media ini menarik berbagai lapisan masyarakat hingga kamu tidak akan dapat mendeteksi siapa berada di kelas mana. Klasifikasi yang diterapkan pada sosial media harus digeser dengan cara yang berbeda dari klasifikasi masyarakat berdasarkan kemampuan ekonomi mereka. Pun ini tidak berlaku di semua jenis media sosial karena pada masing-masingnya ada tipe yang berbeda dan pola yang berbeda.

Saya menggunakan Instagram dan twitter secara intensif karena saya menyukai platformnya dan memang menarik untuk diikuti. Ada yang berbeda dari twitter dan Instagram. Hasil pengamatan ini datang hanya dari akun pribadi saya dan hal-hal saya ikuti selama ini.

Pertama, Instagram jauh lebih kompleks dibandingkan dengan twitter sebetulnya. Secara keseluruhan, informasi mengenai seseorang dapat dianalisis dari berbagai aktivitasnya di platform ini. Tapi akan sulit untuk mengetahui secara keseluruhan. Misalnya, postingan mana yang ia komentari atau hal apa saja yang ia lihat di Instagram. Namun karena menyajikan hal-hal dalam bentuk visual, maka polanya jadi lebih mudah diamati.

Ketika berpindah ke twitter, satu-satu hal yang dapat dijual di sana adalah kalimat, kalimat, dan kalimat. Ini menjadi penting karena retorika hanya dapat dianalisis dengan akal, sehingga bentuknya menjadi lebih seperti percakapan dan bukannya penyajian sebagaimana yang dilakukan di Instagram. Orang yang sama, akan memiliki pola yang berbeda dalam menanggapi dan memanfaatkan dua platform ini.

Nah, mari masuk ke hal-hal yang belakangan saya temui di kedua akun ini.

Ada hal-hal yang sangat ramai dibicarakan di instagram namun sama sekali tidak menarik perhatian masyarakat twitter, dan sebaliknya, isu yang begitu banyak dibicarakan masyarakat twitter sama sekali tidak menjadi perhatian kalangan Instagram. Bahkan untuk orang yang sama. Tentu saja karena platformnya berbeda sehingga interaksi yang terjadi juga berbeda.

Sebelum berubah seperti sekarang ini, twitter adalah plaform ekspresi dengan hanya menyediakan 140 huruf saja setiap kali posting sesuatu. Hal itu menjadi ajang untuk berekspresi dengan lebih taktis karena ada cukup banyak hal yang mungkin ingin disampaikan namun hanya sedikit ruang. Tidak bisa pula saling menanggapi satu cuitan secara spesifik karena tidak menawarkan tautan untuk menjawab secara menerus. Dia dianggap membosankan karena sulit dan tidak praktis. Maka kemudian mulai ditinggalkan dan muncullah plaform kedua ini.

Instagram muncul juga sebagai media ekspresi yang menjual visual. Tapi belakangan hampir semua hal dapat dilakukan di sini, mengunggah foto, menceritakan sesuatu secara langsung, mengirim pesan, menelpon, dan tentu saja, berdebat di kolom komentar. Transformasi serupa juga muncul di twitter sehingga platform tersebut lebih interaktif dibanding sebelumnya.

Pertanyaannya, mengapa mengapa kini orang begitu mudah untuk mengomentari segala hal yang mereka temui di sana?

Saya menduga ada beberapa hal yang menyebabkan media sosial cenderung menjadi arena beradu argumen—meski tanpa nalar—yang digemari orang.

Kedua media sosial tersebut merupakan media yang berbasis teks dimana satu-satunya cara untuk menyampaikan pendapat adalah dengan menggunakan bahasa. Sayangnya, fitur keduanya menciptakan kondisi seolah-olah pengguna berbicara dalam bahasa oral yang diverbalkan. Demikian, hal yang keluar tidak selalu sebagai sebuah hasil penalaran dan opini, namun dapat berupa ekspresi, penyangkalan, dan segala bentuk ekspresi oral yang diverbalkan. Tidak perlu lagi memikirkan bahwa 140 huruf akan menjadi batasan untuk berekspresi karena sekarang tidak ada lagi batasan semacam itu. Kita bisa bicara dari a sampai z tanpa hambatan.

Dan melelahkan sekali mencari berita yang betul-betul realistis dan logis di antara lautan komentar tanpa logika dan penuh invaliditas. Tapi menarik juga sebetulnya menganalisis komentar-komentar ini dan menahan diri untuk tidak mengumpat, memaki, dan mengutuk netijen yang maha benar. Pada akhirnya sebagai spektator saya harus bertahan untuk tetep membaca dan memahami fenomena yang sedang terjadi.

Yang kedua, perasaan secure karena mudah menemukan keberpihakan. Akan selalu ada orang yang membela jika terjadi perdebatan, karena merasa senasib. Arena di mana lautan manusia membaur tanpa tedeng aling-aling semacam itu menciptakan banyak kesempatan di mana kamu tidak akan pernah merasa berdiri sendiri. Akan ada cukup banyak orang yang memberikan simpati, dengan syarat bahwa kamu aktif berbicara dan voila, alogaritma akan menjadi juru selamatmu.

Kalau akhirnya kalah dan salah? Mudah. Kamu tinggal kabur, blok akun, dan akhirnya menjadi anonim secepat kemunculanmu yang menyerobot perbincangan orang lain.

Terlebih dengan dasar bahwa negara kita menjamin kebebasan untuk mengemukakan pendapat, maka semua orang berbondong-bondong menggunakannya untuk menjadi dasar mereka berpendapat. Saya pun demikian. Sayang sekali kemudian, nalar berpikir logis tidak menjadi dasar yang digunakan semua orang ketika kita akan menyampaikan pendapat. Banyak sekali pendapat yang secara logika pun cacat dimana premis dan kesimpulan yang disampaikan sama sekali tidak berkaitan. Sampai-sampai saya kembali berpikir bahwa orang-orang ini tidak pernah belajar logika.

Tapi untuk menjelaskan lanjutannya, saya pikir ada banyak hal yang sudah dianalisis sosiolog atau pengamat media, bisa teman-teman searching sendiri, hehe.

Dan baru-baru ini tetiba dua platform ini dihebohkan dengan adanya berita Mbak Awkarin yang jadi relawan di Palu. Beberapa berpendapat bahwa itu hanya metode marketing karena mbaknya sudah nggak sepopuler dulu lagi. Yang lain berpendapat bahwa yang selama ini dia lakukan lah yang justru strategi marketing sementara yang kita lihat belakangan adalah dia yang sesungguhnya.

Dalam analisis etnografi, pendekatan historis itu penting untuk melihat proses transformasi. Demikian, pendapat soal ini dan itu dari Mbak Awkarin itu tidak bisa begitu saja diiyakan dan dienggakkan. Yang saya perhatikan justru warganet hari ini sepertinya tidak ambil pusing dengan tuduhan atau kenyataan yang sedang mereka bicarakan. Seolah-olah itu adalah murni ekspresi kebencian yang tidak tersalur sehingga media sosial jadi tempat penyaluran yang menyenangkan karena kita bisa bicara seenak jidat.

Nah, yang begini-begini memunculkan pernyataan soal kenapa warganet berperilaku demikian? Hal apa yang membuat mereka mengekspresikan pendapat dengan cara-cara dan tata bahasa yang seperti itu? Kalau sudah sampai sini nih, saya menyerah. Hahahaha.

Tapi mungkin teman-teman perlu tahu juga kalau baru-baru ini di Jogja ada acara yang bertajuk Halal Fest. Sayang sekali saya tidak sempat mengunjungi acaranya dan melihat-lihat. Tapi tren-tren sosial baru-baru ini semakin tampak dan cenderung merebak. Satu hal yang saya perhatikan dari semua hal ini adalah hal yang sama; selalu ada yang berdagang, ada yang dijual, ada tukang iklan, dan ada pembeli.

Komodifikasi memang selalu menarik untuk dibahas.

Tapi apa korelasi semua ini? Hehe. Bahwa semuanya menarik karena saya dapat dengan mudah mengakses informasinya dari sosial media dan media online. Berterimakasihlah kita semua dengan kemajuan teknologi komunikasi ini. Huehe.

wordsflow

Sajak (xxvi);


Titik dan koma; kamu menegaskannya dalam pura-pura, atau digdaya?

Seruang yang tergelar terbentang pada saujana, pada ujung mata yang terpejam atau nanar menantang

Bahwa tidak mempercayai yang tidak didengar dan tidak dilihat adalah hal yang ternyata tidak juga membawa pada tenteram, pada tenang menunggu malam datang, atau menanti fajar menjelang

Bahwa menahan yang terbangun dalam gejolak tak juga membawa pada gelak dan lupa, tetap di sana, tetap menantang untuk dituntaskan

Koma,

Kamu membuatnya terus berjalan, menunggu titik yang hanya menitik pada satu perjalanan linear kita

Bahwa kemudian, selesai sudah hal yang kita duga, lalu hanya tinggal menerimanya saja

Tapi belum, masih ada koma yang tersemat—bukan aku, bukan kamu—yang tergantung mematung di ujung

Mau kemana?

Tak pula aku mampu memahaminya

wordsflow

Belajar Hidup (ii)


Saya menelusuri kembali postingan lama di blog ini dan mencoba mengingat latar penulisan setiap postingannya. Beberapa yang ada jauuuuh sekali di waktu-waktu pertama saya membuat blog terasa begitu jujur dan apa adanya. Bahwa saya menulis sesederhana untuk menceritakan sesuatu yang menurut saya menarik. Lalu memang banyak hal kemudian yang berubah dan saya manipulasi tidak hanya untuk menyenangkan dan mengekspresikan apa yang saya rasakan, namun juga agar mampu memberi kesan kepada orang lain. Soal ini, tulisan cenderung menjadi tidak jujur, dibuat-buat, diperindah, tapi sayangnya justru kehilangan daya pikatnya sebagai sebuah tulisan.

Saya ingat terakhir kali saya menulis sajak sebagai sebuah rangkaian yang dapat ditelusur karena berseri. Ternyata ketika saya tilik kembali, seri itu berakhir dua tahun lalu di bulan ini. Dan terakhir kali saya menulis sajak di blog adalah di tahun lalu di bulan ini juga. Saya jadi bertanya-tanya apa yang terjadi antara dua postingan itu, dan akhirnya postingan yang ini?

Saya memang masuk kuliah pertengahan tahun dua tahun yang lalu, dan menjalani kehidupan perkuliahan yang bagi saya sangat keras karena adaptasinya yang tidak mudah dan cenderung membuat saya mengalami gegar budaya. Tapi ada banyak hal yang akhirnya berhasil menyelamatkan saya di dunia baru tersebut, bahwa saya memiliki teman-teman yang menyenangkan untuk diskusi, kebiasaan membaca buku sedari kecil, dan keingintahuan saya pada banyak hal termasuk pada hal-hal yang sejatinya bukan urusan saya.

Hari ini saya diingatkan oleh Mas Pujo sebagai dosen yang menurut saya tidak pernah kehilangan relevansinya dengan dunia ini bahwa ada hal-hal yang harus terus dikritisi meskipun hal-hal tersebut terlampau tidak memunculkan harapan atau membuat kita tampak berharga. Seorang lain berkata bahwa yakinlah bahwa kita memang tidak istimewa di antara 7 milyar manusia lain yang ada di dunia ini. Tapi kenyataan bahwa Mas Pujo menikahi wanita yang menarik hatinya, dan saya memiliki perasaan yang kuat pada seseorang, entah bagaimana menentramkan hati dan pikiran saya pada waktu-waktu kritis.

Beberapa waktu yang lalu ada seorang teman yang bertanya mengenai tujuan hidup. Menariknya, setelah mendengarnya bertanya demikian, saya merasa bahwa hal itu tidak lagi menjadi beban pikiran saya seperti sebelumnya. Tidak kemudian bahwa itu hilang sepenuhnya, hanya saja saya merasa telah masuk ke tahap yang lebih baru yang saya sendiri tidak bisa mendeskripsikan apakah itu. Saya mungkin hanya bisa menjawab bahwa sejauh kita belum mati karena hal-hal di luar nalar, maka hidup masih tetap berguna dan penting untuk dijalani.

Tentu saja dalam berbagai perubahan yang kita alami, akan ada hal-hal lampau yang kita rindukan. Tapi mengapa mengingkari perubahan kita melangkah artinya adalah berpindah dan berubah? Maka dalam perubahan sesederhana gaya penulisan, seharusnya tidak membebani saya dan cenderung membuat saya menghentikan rutinitas untuk mengisi blog ini. Perkara kamu dan kamu-kamu semua merasa tidak pas dengan tulisan ini pun akhirnya bukan menjadi hal yang harus saya urusi.

Hari ini hari Kamis, tapi tadi sore masih hari Rabu. Seperti minggu-minggu sebelumnya, Rabu selalu membuat saya ingin menulis setelah mendengarkan dan membahas banyak persoalan di kelas. Ada banyak persoalan yang saya pikir tidak relevan untuk diceritakan di postingan ini. Akan saya ceritakan di postingan lain atau di tulisan lain dengan cara yang lain lagi.

Terakhir, tadi sore saya diingatkan bahwa sebaik-baiknya pekerjaan adalah yang selesai. Karena itu saya sudahi postingan ini sampai di sini dulu. Selamat malam.

wordsflow

Belajar Hidup (i)


Mau bikin seri postingan yang membicarakan hal ini, tapi lupa udah pernah menulis judul ini atau belum. Jadi ya mari mengulang dari awal saja, hehe.

Btw, saya merasa ada perubahan gaya tulisan di blog ini sejak beberapa waktu yang lalu, dan demikian, memunculkan set kepribadian yang lain lagi di diri saya. Pada merasa begitu gak sih? Entahlah. Tapi ini sempat menjadi keresahan saya.

Baiklah, jadi begini. Sudah beberapa kali saya mengajukan diri untuk mengikuti suatu event atau mengikuti kegiatan, melamar kegiatan, atau bahkan ikut kompetisi yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan. Sebetulnya saya sudah sering mengikuti kompetisi di masa SD-SMP saya dan mengikuti sedikit ketika duduk di bangku SMA. Ditambah dengan sifat kompetitif saya, maka berkompetisi tidak menjadi sesuatu yang asing buat saya.

Tapi di masa kuliah saya hampir tidak pernah berkompetisi untuk apapun yang sifatnya resmi ya, misalnya sayembara desain atau lomba apa deh. Hanya beberapa kali ikut kompetisi panjat, pun demi alasan yang tidak seserius itu.

Harus saya akui, dalam berkompetisi, saya tidak suka kalah. Tapi saya enggan melakukan cara-cara curang untuk memenangkan sesuatu, atau memaksimalkan potensi yang ada untuk berusaha menang. Hahaha. Sama aja sebetulnya seperti mencoba peruntungan tanpa usaha. Kan pemalas banget ya. Tapi tidak selalu begitu sih.

Lantas baru-baru ini saya begitu sering submit sesuatu, entah event atau apa. Pasti pada sering denger ya kalo misal kegagalan itu yak arena belum rejekinya aja. But dude, I did feel sad at the time, and wishing to achieve the goal. Memang tidak sebegitu sedihnya, dalam artian ada hal yang jauh lebih sedih ketimbang itu. Tapi saya jelas kecewa karena sudah dinantikan beberapa waktu tapi ternyata memang bukan rejeki saya. Haha.

Anehnya, kadang ada hal-hal yang di luar dugaan yang datang begitu saja serupa yang dibilang orang sebagai ‘rejeki nggak akan ke mana’. Tapi saya kadang susah merasa begitu karena keberuntungan itu kadang saya pikir tidak layak untuk saya terima. Di waktu yang lain usaha saya yang berdarah-darah sering tidak menghasilkan apapun kecuali amarah.

Mempelajari hal-hal semacam ini menjadi hal yang tidak akan pernah berakhir. Terus merasa bersalah dan kurang, tapi kadang merasa kewalahan. Di titik tertentu sering juga merasa bahwa hidup dipenuhi dengan kekosongan yang tidak terjelaskan, dan lebih banyak waktu lain yang dipenuhi dengan kerusuhan. Ya ampuun.

Di saat yang bersamaan saya merasa khawatir akan berubah pragmatis. Anehnya, harusnya kekhawatiran ini tidak ada karena yang mengatur pemikiran dan pemaknaan adalah diri saya sendiri memang. Ketika muncul kekhawatiran, ada hal-hal yang saya pikir berubah dan harus diatasi perubahannya. Seringnya yang begini tidak semudah bilang bahwa ‘oh okei, keknya aku harus begini deh’ atau ‘wow, aku harus ke sini deh’. Heu, realita sering terlampau sulit untuk ditangani. Tapi jauh lebih mudah untuk diterima. Ya, agaknya dua hal itu saya maknai dengan cara yang berbeda.

Ada banyak perubahan di sekitar saya. Orang yang berpindah bergerak, yang datang, yang berkembang dan memisahkan diri, atau yang selalu ada di sana. Ada banyak jenis orang, ada banyak bentuk perubahan.

Ah sudahlah. Ngeluh puh hidup berjalan biasa saja. Nanti lagi saya teruskan, baterai laptop menipis.

Tapi inti tulisan ini adalah, saya mau bilang kalau jodoh nggak jodoh, rejeki atau enggak, toh kalau gagal tetap kecewa, kalo berhasil tetap bahagia. Kadang merasa naif betul untuk menutupi kekecewaan atau kebahagiaan dengan alasan semacam itu. Di lain waktu, hal yang begitu juga perlu untuk mengingatkan diri sendiri.

Hehe, sok-sok rumit gitu ya menjalani hidup.

Oiya, saya kadang ingin bercerita soal mimpi-mimpi saya yang terlalu nyata. Kadang bahkan cerita-cerita alam mimpi itu membawa jawaban atau ramalan, atau mengisi hal-hal yang tidak ada. Lantas satu per satu menjadi bagian dari memori dan realita.

Ah sudahlah. Saya makin ngelantur.

wordsflow

Middle Man


Okei, mari memulai postingan ini dengan keluhan saya soal dashboard wordpress yang berubah.

Beberapa waktu yang lalu memang ada semacam pemberitahuan kalau tampilan dashboard akan diubah oleh aplikasi ini. Saya sempat mencoba trialnya dan merasa sangat tidak puas karena kepraktisan dashboard sebelumnya digantikan dengan hal yang sama sekali tidak mempermudah pengguna dan lebih disayangkan lagi, tidak menawarkan hal baru apapun secara umum. Well, tapi saya tetap harus terima karena toh saya bukan pemilik aplikasi dan hanya pengguna. Untungnya juga, saya tipikal yang selalu mengetik di word ketimbang langsung di dashboard, jadi ya nggak terlalu bermasalah sih. Cuma nggak suka aja.

Nah, bicara soal topik ini, lagi-lagi saya harus berterima kasih dengan hari Rabu yang menginspirasi meskipun saya punya beberapa keresahan dan keluhan-keluhan setelah mengikuti jam kuliah sore. Tapi kita bicarakan itu nanti belakangan deh ya.

Okei. Saya ingat bahwa ketika saya ke Tasik, ada beberapa hal yang menarik perhatian saya dan Amel hingga akhirnya ada pembahasan sejenak mengenai fenomena ini. Dua kali kami dicurhati hal yang sama oleh bapak-bapak yang kami temui. Yaitu bahwa semenjak kepemimpinan presiden kita saat ini, pengusaha cenderung mengalami kebangkrutan, atau kalaupun tidak, mengalami kesulitan dalam berdagang.

Salah satu bapak yang kami temui ketika memesan jasa taxi online bercerita bahwa usaha itu sebetulnya hanya sampingan. Kerjaan dia sesungguhnya adalah ‘main’ kayu. Dia sudah berkecimpung di dunia perkayuan sejak 21 tahun yang lalu dan baru dua tahun terakhir mengalami kesulitan untuk menjual kayu ke luar negeri atau di dalam negeri. Ada pembatasan tertentu yang harus dia penuhi.

Kasus ini menarik karena bapak lain yang kami temui juga membicarakan hal yang sama. Bukan hanya itu saja, bahkan ia sepenuhnya mengalami kebangkrutan dan harus beralih ke jual-beli barang yang lainnya.

Topik ini memunculkan pertanyaan yang sebetulnya sederhana; benarkah yang mereka katakan soal sulitnya ber-usaha?

Meskipun saya juga tidak bisa mengatakan bahwa saya ahli dalam hal ini (karena saya juga masih sekolah), ada beberapa hal yang saya curigai setelah saya komparasikan dengan apa yang saya lihat, saya alami, saya pelajari, dan saya dengar.

Sebelum akhirnya memutuskan untuk mengkritisi pemerintah atau justru mengkritisi bapaknya, saya pikir cukup adil untuk melihat kenyataan bahwa ketika ada pihak-pihak yang dirugikan seperti mereka, tentu kemudian ada orang lain yang menggantikan kedudukan mereka terkait kesuksesan usaha. Demikian, perlu mengidentifikasi mula-mula, di manakah posisi bapak-bapak ini sebelumnya? Apakah mereka produsen? Tengkulak? Pedagang biasa? Broker? Atau siapa?

Pertanyaan ini muncul karena pengamatan saya menunjukkan hal yang berbeda dari apa yang diakui oleh kedua bapak tersebut. Misalnya dalam perkebunan kopi. Beberapa fenomena memperlihatkan bahwa ada kenaikan konsumsi kopi langsung dari petani sehingga masing-masing petani mendapatkan margin keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan menjual hasil kebunnya kepada tengkulak. Pemotongan rantai distribusi yang panjang dari produsen ke konsumen menguntungkan para petani, pun konsumen sehingga keuntungan yang selama ini masuk ke broker atau middle man dapat terdistribusikan langsung kepada mereka.

Dari kecurigaan ini, saya mencoba berdiskusi soal bisakah kedua bapak yang kami temui ini dikategorikan sebagai middle man atau broker? Barangkali kemudian menjadi lebih masuk akal untuk menjelaskan mengapa setelah puluhan tahun mereka menjalani usaha, baru dua tahun terakhir mereka mengalami kesulitan.

Salah satu yang menurut saya paling berpengaruh adalah adanya transformasi terhadap akses informasi. Ini klise sih, hampir semua artikel atau tulisan membahas mengenai perkembangan sistem informasi merubah begitu banyak hal, dari hubungan oral yang berubah menjadi hubungan tekstual, hubungan ekonomi moral menjadi transaksional, hingga kelokalan yang terdistraksi oleh globalisasi. Segala bentuk hubungan tekstual atau visual dengan kecanggihan teknologi informasi mengubah hubungan menerus menjadi hubungan langsung. Tidak perlu lagi perantara karena baik prosuden maupun konsumen sudah dapat mengakses informasi secara real time.

Ketika hal ini dihubungkan dengan apa yang dicurhatkan kedua bapak-bapak kepada kami, tampak jelas bahwa memang perkembangan teknologi sekarang sangat merugikan middle man di mana mereka tidak lagi mampu memonopoli jalur distribusi. Konsumen juga seolah menjadi jauh lebih ‘pintar’ dengan segera mencari produsennya langsung untuk mendapatkan margin harga yang lebih rendah.

Jelas bahwa perubahan semacam ini akan memutarbalikkan posisi sosial masing-masing aktor yang berperan di dalam sistem ekonomi, entah itu yang mikro maupun yang makro.

Satu-satunya hal yang tetap jelas dalam perubahan semacam ini hanyalah bahwa 1% orang paling kaya akan tetap menjadi 1% orang paling kaya, dan yang paling miskin, tetap ada di tempatnya juga.

Yah begitulah cerita malam ini. Agak-agak serius tapi permukaan banget. Haha. Sudah dulu ya, nanti malah pada demen lagi kan. Hehe.

wordsflow

Tentang Kota-kota yang Ternyata Tidak Kecil (i)


Setelah mendedikasikan diri untuk menjelajahi berbagai kota di Indonesia demi tercapainya petualangan yang tidak jelas, saya secara tidak sengaja menemukan kesempatan-kesempatan untuk mewujudkan cita-cita nomer 397 tersebut. Agaknya memang jalan-jalan tidak membutuhkan target tertentu. Beberapa cita-cita yang sengaja diwujudkan terkadang berjalan lebih buruk dari yang paling buruk. Namun beberapa lain yang hanya bermodal kesiapan ternyata berjalan jauh lebih menyenangkan.

Jadi, mari saya ceritakan beberapa hal.

Kegemaran saya mengunjungi kota sebetulnya dulunya spesifik. Lebih karena saya suka dengan dengan suasana kota, jalan-jalan menyusuri trotoar (hal yang hampir tidak pernah saya lakukan di Jogja), mengunjungi museum, menjajal transportasi umum, lalu akhirnya menikmati kerumunan yang super sibuk. Semuanya menyenangkan untuk dijelajahi. Salah satu kota favorit untuk jalan-jalan adalah Jakarta, dan hingga hari ini pun saya selalu takjub dengan kota itu; takjub sebagai wisatawan sih, bukan sebagai penduduk kota. Dan masih sangat banyak tempat yang belum berhasil saya kunjungi, jadi masih akan ada banyak kali saya berkunjung ke kota itu.

Well, mari beralih ke kota yang baru-baru ini saya datangi, Tasikmalaya. Saya sengaja menulis ini ketika masih di kotanya agar si tulisan tidak terlupakan, haha.

Okei, mari mulai dengan rencana.

Barangkali tasikmalaya adalah kota kecil yang paling awal saya tahu tapi tidak pernah sungguh-sungguh saya cari tahu dan mengecek petanya. Nama kota ini sangat menarik karena saat saya duduk di kelas 2 SD ada sebuah cerita dengan latar lokasi Tasikmalaya. Bukunya saya baca di perpustakaan SD saya yang kecil dan seolah menjadi sebuah catatan bawah sadar agar suatu hari bisa berkunjung ke Tasik.

Lalu saya berkawan dengan pacar teman, namanya Amel. Si Amel ini anak Tasik tulen dengan dunia permicinannya. Segala kuliner penuh micin saya pelajari dan kenali dari anak ini.

Suatu hari, tiada angin tiada hujan dia mengirimi saya sebuah poster acara di Tasik. Tanpa pikir panjang dan pertimbangan tertentu saya mengiyakan ajakannya. Toh tiga hari tidak akan merusak agenda saya selama sebulan, apalagi kalau direncanakan jauh-jauh hari. Jadilah acara itu terpampang di agenda bulanan saya di awal Oktober.

Tapi ternyata ada hal-hal di luar rencana yang tidak pernah terpikir sebelumnya. Di hari keberangkatan saya mengurus stand bazaar untuk kegiatan amal. Lagi-lagi saya harus berpikir taktis untuk membagi waktu seefisien mungkin demi kesuksesan dua acara sekaligus. Setelah menyakinkan jadwal keberangkatan, saya menata dan mengurus bazaar. Naasnya, Amel berselisih 5 menit memberitahu waktu keberangkatan. Kereta kami ternyata berangkat jam 14.10 WIB dan bukannya 5 menit lebih lambat dari yang saya duga.

Setelah berkali-kali memaksa Pak Gojek buat ngebut, saya berhasil sampai di stasiun jam 14.08 WIB. Lari-larian dari drop out area yang jauh bingit dari pintu masuk, nyelip-nyelip di antara kerumunan orang yang entah kenapa rame banget di hari itu, dan akhirnya menyerobot begitu saja bapak-bapak petugas checking ID card. Ya Allah, maafkan saya bapak petugas dan semua-mua orang yang saya senggol sepanjang pintu masuk sampai peron.

Well, plot twistnya adalah si kereta ndak jadi berangkat on time. Setelah lari-larian tanpa henti sampai paru-paru mau meledak dan dilihatin begitu banyak orang, si kereta akhirnya baru beranjak pergi jam 14.14 WIB. Yah begitulah sensasinya menjadi anak deadline. Sering berakhir dengan memuaskan, kadang justru merasa berlebihan dan bodoh. Hahaha.

Okei, singkat cerita kami sampai di Tasik di hari yang sama, mendekati jam 8 malam. Belum-belum langsung menuju ke lokasi permicinan nomer 1. Ini rekomendasi Amel dan gemar diceritakan selama di Jogja. Namanya baso Oding. Fyi, Amel sering sekali menegaskan bahwa ini adalah baso, tanpa ‘k’. Kuahnya sih enak, tapi begitu menyentuh si baso, ya Allah aduhai asinnya sampai bikin sakit lidah. Bahkan Amel pun menyerah dan memindahkan si baso ke mangkuk emaknya. Belakangan kami ketahui bahwa performa warung baso ini memang menurun sejak beberapa waktu yang lalu.

Lanjut, setelah kenyang kami meluncur ke Galunggung demi mandi air panas. Tapi jam 10 malem doong. Sebetulnya saya sudah lelah tapi apa daya saya kan wisatawan yang numpang. Berasa onsen gitu malem-malem berendam di alam terbuka. Sangat direkomendasikan kalau teman-teman berkunjung ke Tasik yaa. Hari itu berakhir tengah malem dengan kondisi super ngantuk yang sok-sok berusaha seger karena gak enak sama emak bapaknya Amel.

Wisata kuliner ini adalah hal yang sebetulnya tidak pernah saya rencanakan dalam semua acara jalan-jalan. Lebih karena saya enggan mencoba makanan baru di manapun karena bisa berakhir mengubah mood menjadi tidak stabil. Saya juga bukan tipikal anak yang sering penasaran dengan varian rasa baru, atau memasukkan benda asing yang tidak dikenal lidah.

Tapi belakangan, berbekal rekomendasi native setempat, atau berdasarkan rekomendasi media sosial, pelan-pelan saya mencoba kebiasaan untuk menjajal kuliner lokal. Tidak selalu berhasil, tapi lebih sering membuahkan hasil menyenangkan. Dan begitulah, Tasik ternyata tempat seru untuk menjajal makanan.

Setelah di hari pertama saya menjajal golosor (sejenis mie kuning kenyal semacam aci), esok harinya saya mencoba tutug oncom (campuran antara nasi dan remah oncom gitu), leunca (rasanya mirip ceplukan tapi pahit after taste-nya), cipe (aci tempe yang kalau di Jawa disebut mendoan, tapi agak beda), sambal ijo goreng (ini enak), yang ternyata super enak. Lagi-lagi tingkat keasinannya dua level di atas standar saya, tapi ini masih masuk akal karena enak banget.

Siang itu kami akhirnya beranjak ke lokasi kemping fancy yang memang menjadi alasan kami ke sana. Sebegitunya saya nggak peduli dengan acara itu sampai baru belakangan saya tahu kalau hostnya Eddi Brokoli, haha. Lalu ada sejumlah bintang tamu yang saya juga nggak kenal. Ini sebetulnya kemping fancy pertama saya dan mungkin nggak lagi sih, haha.

Kami sampai di lokasi siang hari tengah bolong. Berhubung acaranya di lapangan desa, panasnya luar biasa. Begitu sampai hal pertama yang kami cari adalah tempat berteduh, kemudian yang kedua adalah cilok. Tapi keduanya tidak berhasil kami temukan. Akhirnya kami mencoba euforia free flow kopi Karaha yang dikasih sama panitia. Untungnya mereka menawarkan es juga jadilah hari itu nggak sebegitu membakar.

Sore hari kami mencoba jalan-jalan ke Karaha Bodas. Lokasinya digunakan Pertamina untuk proyek geothermal dan pengembangan kopi Karaha adalah salah satu program CSR mereka. Yah begitulah, setidaknya sore itu nggak berakhir terlalu panas buat kami.

Di lokasi kempingnya kami menjajal ‘wahana’ yang disediain panitia gitu. Sponsornya sih Djarum gitu makanya bisa ada banyak hal secara mereka juga promo. Tapi hal-hal ini baru saya ketahui di lapangan sebagai peserta acara yang take it for granted dan berbekal motivasi jalan-jalan ke kota orang, haha. Semalaman itu saya belajar slackline sampai kasian mas-masnya pantatnya sakit karena ngejagain tali biar nggak goyang banget.

Malam itu melelahkan dan berangin. Pergerakan saya hanya seputar bean bag dan slackline. Setelah itu berangkat tidur deh.

Lalu kami mabok kopi Karaha. Jenis kopinya unik, saya baru pertama mencoba kopi yang rasa aslinya penuh sensani manis. Saya sebetulnya nggak suka arabika, lambungnya nggak kuat. Tapi kalau menjajal beberapa varian sih oke. Mungkin varian ini akan pas dicoba untuk yang baru-baru kepingin mencoba kopi ‘asli’. Saya sih penikmat, semua diminum, haha.

Ada satu tempat ngopi kecil yang menyenangkan menurut saya, namanya Alchemist. Tetep Amel sih yang merekomendasikan, ada menu kopi dan non kopi. Kami nongkrong sesorean menunggu teman Amel yang lain lagi, haha. Amel yang ada di dunia perkopian membuat lingkaran pertemanannya serba kopi. Jadilah saya yang ngintilin juga jadi kenal dengan teman-teman perkopiannya. Uyey, teman baru lagi.

Oiya, salah seorang temannya Amel membelikan saya es bojong. Esnya mirip es doger, tapi isinya lebih banyak dan memakai durian juga. Selama dua puluhan tahun hanya sekali saya mencoba durian waktu di Bogor. Waktu itu teman saya memperkenalkan es durian yang katanya paling enak se-Bogor. Memang sih, tapi saya nggak pernah mencicip durian buah. Terlalu menyengat.

Nah, si es bojong ini rasanya enak banget karena ada kombinasi alpukat, durian, dan nangka. Jadi duriannya nggak mendominasi sebetulnya, tapi menguatkan wangi dan rasa esnya. Aduhai lah.

Oiya, si masnya sendiri punya warung kopi DIY yang asik banget, namanya Tangkal Kopi. Buat masuk ke barnya harus lewat lorong sempit dulu, dan semua-muanya disusun sendiri gitu. Tapi nyamukan dan karena hari itu belum mandi jadi saya dirubung nyamuk deh.

Lalu hari ini, akhirnya saya mencoba jalan sendiri untuk menjajal baso enak karena merasa tidak puas dengan percobaan sebelumnya. Saya nemu baso Ahmad yang katanya enak banget. Ternyata memang enak. Lagi-lagi level micin dan keasinannya satu level di atas saya, tapi masih bisa diterima juga karena memang enak. Catatlah namanya untuk dicoba nanti ya. Warungnya di pinggir jalan, kecil saja dan hanya buka dari jam 11 sampai jam 3 sore menurut info. Kali ini saya puas karena pilihan kuliner saya tepat, hehe.

Bicara soal perkulineran, saya sih anak bawang, masih takut-takut mencoba makanan baru. Belalang goreng aja belum pernah saya makan padahal punya temen yang rumahnya ngegorengin belalang sendiri. Anaknya jireh (yang artinya penakut dalam bahasa Jawa), setengah jijikan. Kalau memang tidak masuk kriteria nggak akan pernah dicobain meskipun sejagad bilangnya enak.

Setelah ini saya pulang, esok akan kembali menikmati kulineran Jogja. Nggak ada yang terlalu dikangenin sih karena makanannya cuman angkringan, burjo, mie ayam, dan kadang-kadang warung prasmanan. Oiya, ini oleh-oleh foto kali aja ada yang kepingin coba, hehe. Tapi saya nggak demen foto makanan, jadi seadanya aja.

Ah satu lagi. Amel mengingatkan saya untuk mencatat soal Gojek di sana. Sejauh pengamaan kami, transportasi online masih larangan di sana sehingga banyak yang memakai atribut atau mengambil penumpang di samping angkot. Kami pernah sekali hampir ribut sama sopir angkot. Lucunya, setiap naik ojek mamangnya selalu nanya ‘pake helm nggak teh?’ instead of ‘teh, ini helmnya’. Yah begitulah, kota-kota selalu menawarkan hal-hal yang berbeda.

Sampai jumpa di postingan selanjutnya.

wordsflow

Si Alchemist tempat ngopi dan laptopan enak.
Baso Ahmad yang enak-tapi-agak-keasinan dengan tahu basonya yang yoi.
Bonus pemandangan untuk headermu, hehe.