WORDS FLOW

setiap pengalaman pantas untuk diingat

Jauh.


Jika kamu sudah akrab dengan jarak, kadang dekat itu menjadi sesuatu yang asing dan tidak akrab.

Hari ini, WordPress baru saja ngasih saya ucapan selamat karena kami sudah jadian 8 tahun lamanya. Dengan postingan yang akhirnya mencapai 504 di hari ini. Jika dibagi delapan, maka saya menulis rata-rata 63 postingan dalam setahun, dan itu berarti sekitar 1-2 postingan setiap minggunya. Luar biasa produktif sekali. Meski begitu, saya kesulitan untuk mengakses tulisan lama saya karena jauh dan harus pencet tombol ‘next’ berkali-kali.

Jadi, ada apa dengan ‘jauh’?

Tidak ada apa-apa. Saya hanya suka menulisnya dengan cara demikian, dengan sebuah titik di belakang.

Saya sering jatuh dalam kebingungan yang tidak mampu saya identifikasi sendiri. Saya kehilangan pegangan antara yang nyata dan tidak nyata. Saya kehilangan pandangan mengenai apa itu kenyataan dan mana yang sebetulnya penting untuk dipikirkan. Mungkin itu efek karena saya tidak dapat melihat dengan jelas sekarang akibat kemampuan mata yang menurun. Tapi sungguhkah ada pengaruhnya? Barangkali iya. Atau barangkali saya hanya mencari penjelasan yang paling mudah saya terima.

Seusai membaca To Kill A Mockingbird, saya tidak mampu menahan tangis. Entah mengapa saya merasakan berbagai perasaan seusai membacanya. Mungkin saya terpesona dengan gaya bercerita Harper Lee. Atau saya mengagumi perjalanan saya sendiri ketika seumuran Scout dan Jem. Atau saya justru membayangkan ayah saya yang dalam beberapa hal mirip Atticus. Atau saya merasa marah atas kemanusiaan yang sudah begitu jauh dari kemurnian pandangan kanak-kanak. Atau saya prihatin dengan beban orang tua agar mampu sungguh bercermin di depan anaknya. Atau entah yang mana lagi yang membuat saya menangis.

Jauh sekali kedamaian di dunia ini. Jauh sekali harapan-harapan kita dari kenyataan. Jauh sekali idealisme dari realitas. Jauh sekali. Jauuuuuuh sekali.

Jarak itu menakutkan. Ada pertimbangan antara ketakutan dan keamanan karena jarak. Ada ketidakterjangkauan yang memungkinkan dua hal itu. Antara ketakutan akan kehilangan atau perasaan aman. Dan keduanya karena jarak.

Ah, tapi barangkali saya sudahi dulu tulisan ini. Ada yang tiba-tiba terlampau melankolis malam ini.

wordsflow

 

Laut


Apa yang dijanjikan laut kecuali pulang?

Suatu kali saat kulihat laut menjulang lebih tinggi dari bukit-bukit kecil, aku bertanya dalam hati, “Mengapa laut yang di bawah itu tampak begitu tinggi di atas sana?” Lalu kau bilang itu horizon namanya.

Batas.

Apakah ia sungguh batas?

Ketika membaca tentang The Flat Earth Society, banyak hal yang mungkin menjadi perdebatan. Banyak yang nyinyir mengenai hal itu. Toh tapi banyak juga yang percaya. Masalahnya, manusia punya batas. Dan demikian, panca indera menjadi batas yang paling dasar sebelum akhirnya logika mampu mengubah batas itu menuju cakrawala yang jauh lebih luas lagi.

Bagaimana pun, tidak ada sesuatu hal yang sungguh dapat dipercaya sampai seseorang mengetahui sendiri bagaimana semua itu mewujud dan ada. Toh setelah mengetahui sendiri pun, belum tentu penglihatannya benar, pendengarannya benar, penafsirannya tepat, dan seterusnya.

Kalau begitu, mana yang bisa disebut sebagai kebenaran?

Entahlah. Setiap kali semakin mengawang-awang saja.

Begitu banyak, ah lebih dari itu, amat sangat banyak hal yang tidak bisa mewujud sebagaimana hal itu terwujud sebagaimana adanya. Yah, meski Heidegger sudah berbusa membicarakan Ada, tapi siapa yang peduli? Seseorang barangkali bahkan akan selalu bingung ketika mendeskripsikan dirinya sendiri. Padahal dia hidup di dalam wujud itu seumur hidupnya! Dan itu pun ia masih ragu.

Yang begitu bicara kebenaran di luar diri??

Tapi mungkin, karena kita adalah satu-satunya subjek yang tidak bisa mengamati diri sendiri, kita selalu butuh refleksi. Tapi toh setiap manusia berbeda. Demikian, refleksi tidak bisa selalu sempurna. Kita bertemu lagi dengan batas.

Batas pun ada banyak bentuknya ternyata. Seperti laut.

Yang membatasi yang darat dan air. Laut selalu mengundang untuk dipertanyakan. Apakah binatang laut merasakan laut sebagaimana kita merasakan udara? Atau berbeda sama sekali? Bagaimana memberi tanda pada laut? Bagaimana membatasi laut sementara air selalu bergerak? Ah, barangkali sama seperti kita yang tidak bisa membatasi udara, tapi bisa membatasi daratan. Mungkin di laut selalu ada tanda alam yang bisa menyatakan. Meski dalam.

Tapi di laut kita merasakan air. Di darat belum tentu kita merasakan udara.

Semua hal menjadi seolah tidak penting untuk dibicarakan, untuk diperjuangkan, untuk dijalani, untuk diharapkan, untuk direnungkan, untuk dipikirkan, untuk diperbaiki, dan untuk-untuk yang lainnya. Tapi sekelebat kemudian rasanya semua hal sepenting itu untuk diri sendiri, orang lain, dan barangkali untuk masa depan jika itu memang menjanjikan. Masih saja banyak kebingungan setelah sekian tahun berlalu.

Tapi saat melihat laut, takutku menjadi begitu nyata. Senyata itu untuk menyadari di mana kita berpijak di hari ini.

wordsflow

etos kerja dan mekanisme janji


Seorang pecundang adalah dia yang tidak mampu menepati janji, dan dia yang tidak berani berjanji.

Sebaris kalimat itu muncul entah dari mana, bahkan saya sendiri tidak dapat memahami dari mana datangnya. Mungkin memang terkadang ada hal yang muncul tiba-tiba, bahkan sejak di dalam pikiran.

Apa yang kemudian saya ingat adalah soal etos kerja saya selama ini. Saya mencoba mengingat sejak mula tentang bagaimana cara saya bekerja, dan apa yang membuat saya merasa kecewa terhadap diri sendiri, dan apa yang kemudian saya syukuri dari diri.

Etos kerja adalah istilah yang tidak saya akrabi sampai saya masuk kuliah. Itu pun tidak terjadi pada awal saya masuk kuliah, namun setelah sekian lama saya berada di lingkungan kuliah.

Etos kerja saya buruk. Amat sangat buruk. Sering kali mungkin saya menjelaskan bahwa saya anak yang bisa mengatur waktu, memastikan bahwa setiap saat saya akan tetap bisa mengejar deadline dengan hasil yang sama baiknya dengan orang lain. Pada kenyataannya, saya hanya mencoba memberi pembenaran atas hal-hal salah yang saya lakukan dalam bekerja.

Saya ingat seorang teman menegur saya dahulu kala, mungkin tahun 2011 kalau saya tidak salah ingat. Ketika itu saya sempat berkata bahwa saya akan menghadiri sebuah acara. Namun yang saya lakukan adalah menghadiri acara lain dengan teman saya. Demikian, dalam perjalanan pulang sang teman bertanya, mengapa saya tidak jadi menghadiri acara yang pertama. Tentu saja karena tidak mau disalahkan saya menjawab bahwa kawan saya yang lainnya tidak bersedia menemani.

Meski cerita itu mungkin tidak diingat oleh sang teman, sering kali setiap saya merasakan kekecewaan pada diri atas etos kerja yang buruk, yang terjadi adalah munculnya kembali memori ketika itu di dalam ingatan saya. Seolah saya menertawakan diri ketika itu, mengutuk diri bahwa meski saya sadar yang saya katakan tidaklah benar, pada akhirnya saya mengingkarinya dengan perkataan lain.

Oh, hidup ini penuh kepalsuan saya kira.

Beberapa kali saya kemudian merasa bahwa hidup saya memang penuh dengan kepalsuan. Entah tentang diri sendiri atau tentang yang lainnya.

Tapi itu soal yang lain lagi. Sedang yang ingin saya bahas adalah perihal etos kerja.

Jauh setelahnya, saya sering mengalami kekecewaan terhadap diri sendiri. Dan hal paling luar biasa adalah, tidak ada yang berubah dari diri saya kecuali terus menerus bekerja dengan etos kerja yang sama buruknya dengan sebelumnya. Berapa kali saya berakhir dengan diomeli pelanggan karena tidak memenuhi target pengerjaan barang. Berapa kali saya harus mempercepat ketikan karena deadline tugas kuliah. Atau berapa kali saya akhirnya menyerah karena tidak berhasil memenuhi deadline tertentu. Berkali-kali hal semacam itu menjadi keakraban harian saya.

Tapi saya lantas bertanya-tanya, apakah dengan demikian saya sama saja tidak bekerja dengan passion? Atau saya hanya tidak fokus saja? Atau sebetulnya memang begitulah cara kerja yang terbaik untuk saya?

Jawabannya masih belum saya temukan tentu saja. Ada banyak metode kerja yang bisa saya uji cobakan ke diri sendiri. Saya bisa meniru satu teman dan teman lainnya, saya bisa meniru berbagai manusia sukses di luar sana, atau kalau tidak ingin terlihat seperti pengikut, saya bisa mulai untuk mengevaluasi diri sendiri dan akhirnya menemukan kelemahan dan kekuatan saya sendiri.

Lagi-lagi, itu masih sebatas bisa jadi. Ada hal-hal yang tetap tidak membuat saya terdorong untuk memperbaiki etos kerja saya selama ini. Mungkin alam bawah sadar saya menyatakan bahwa ini adalah metode yang paling baik yang bisa saya adaptasi, dan tidak ada lagi yang akan lebih baik dari ini! Atau, saya hanya tidak mau memperbaiki etos kerja saja. Sesimpel itu.

Di balik etos kerja yang begitu menyebalkan itu, saya sering kali menjebakkan diri dalam janji-janji. Lagi-lagi ini soal waktu dan kualitas kerjaan.

Dalam janji, banyak sekali hal yang kita bicarakan, lantas kita sepakati. Banyak sekali kemudian yang muncul di dalam pemahaman satu sama lain, dan sangat mungkin ada perbedaan pemahaman di antara keduanya. Ekspektasi muncul di dalam janji. Demikian, maka janji menciptakan jarak antara diri dan realitas yang mungkin tercipta nantinya.

Janji menjadi sesuatu yang lain dari realitas itu sendiri.

Hemm, saya takut akan masa depan. Takut jika ada hal yang gagal saya pahami sampai tiba saatnya harus undur diri.

wordsflow

the wild


Ada judul ini di draft blog. Mari saya karang beberapa kalimat.

Tiba-tiba ada ketakutan asing yang saya rasakan. Muncul dari ketiadaan begitu saja. Tenang di permukaan, keruh di kedalaman. Aneh sekali.

Lalu saya juga ingin nonton film Into The Wild, secara saya belum pernah menontonnya, bahkan trailernya pun belum pernah nonton. Jangankan itu, spoilernya juga tidak pernah saya dengar. Hanya selalu judulnya. Dan asik sekali mengucapkannya, in-to-the-wild. Maksudnya gimana ya? Mendalami alam liar? Masuk ke alam liar? Atau, gimana?

Mungkin saya memang materialis, bisa jadi. Saya semakin tidak yakin dari hari ke hari mengenai apa yang pasti dan tidak pasti. Saya duga sayapun sering menyangkal dan mengiyakan hal-hal yang disangkakan kepada saya. Sekedar untuk memudahkan saja.

Tapi, bicara mengenai alam liar, harus dimulai dari mula-mula. Apakah yang menciptakan peradaban? Manusia, saja? Atau secara alami melalui dialog panjang antara manusia dan alamnya?

Kita bagian dari alam liar, semua sejarah menyatakan demikian. Manusia tidak muncul sebagai makhluk berbaju. Di sana kita bertemu perbedaan manusia dan binatang untuk pertama kalinya. Dibandingkan hanya menikmati, manusia memanipulasi alam untuk mendukung keinginnya, untuk membantu pekerjaan, untuk melindunginya, untuk mencapai tujuan-tujuannya, dan seterusnya, dan seterusnya. Manusia tidak menggunakan alam sebagaimana jerapah hanya akan memakan daun akasia yang tumbuh tinggi, atau wildebeest yang pasrah saja menyeberang ganasnya sungai Masai Mara. Tidak, manusia memanipulasi alam demi dirinya sendiri.

Pertanyaan selanjutnya, apakah kemudian tindakan manusia itu meniadakan kealamian dirinya dan alam lingkungannya? Sementara manusia adalah bagian dari ekosistem natural, dan demikian kemampuan dan kecerdasan manusia merupakan hal yang juga natural. Jika demikian, maka tidak ada hal yang bisa disebut sebagai peradaban, atau kebudayaan. Semua alami saja. Natural. Tidak butuh penjelasan.

Saya curiga, bahwa dengan munculnya terminologi peradaban dan kebudayaan, maka manusia ditempatkan sebagai kekuatan yang sama besarnya dengan alam itu sendiri. Terlebih, terminologi ‘adaptasi’ menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang bisa ‘mengimbangi’ gerak alam yang tidak tentu. Ah, jumawa sekali.

Kemudahan yang ada di hari ini menjauhkan kita dari keliaran. Demikian, alam menjadi hal yang mengundang namun juga mengancam. Tidak ada yang mudah di alam bebas. Tapi mengapa sampai ada kalimat itu? Mungkin karena seolah kita ditantang untuk menguji kemampuan manipulasi kita sejak mula. Sejak masih piyik, dengan modal badan doang. Hemm, menantang sekali.

Saya pernah menulis ini di blog ini, tentang seberapa rentan manusia di alam. Dibandingkan dengan makhluk lain, kekuatan manusia itu kecil, meski bisa dilatih juga sih. Tapi kecil. Kita mudah menggigil misalnya. Dan berapa banyak manusia yang meninggal karena hipotermia di gunung? Tidak sedikit saya kira.

Dih, ini mau ngomong apa sih?

Well, nyatanya saya mengalami euforia berlebihan ketika saya melihat penyu di laut lepas. Seolah luar biasa sekali melihat hewan di alam liar–atau habitat? Saya jadi bingung memilih istilah yang tepat. Tapi tampak sekali bahwa di dalam pemahaman saya, alam menjadi hal yang sangat eksklusif. Kenampakan binatang tidak jinak menjadi hal yang mengagumkan diri saya, membuat saya mau berlama-lama mengamati. Mau bersabar untuk menanti.

Peradaban adalah sebuah kolaborasi yang tidak sumbang antara manusia dan alam lingkungannya. Tidak mendominasi, namun mengiringi. Kejumawaan manusia hanya akan menghilangkan kekayaan komposisi, sedangkan ketidakmampuan manusia mengimbangi menciptakan keliaran komposisi. Apakah analogi itu benar? Barangkali begitu. Bisa jadi juga tidak. Tapi begitu. Seolah sedang berkolaborasi, manusia dan alam menciptakan keindahan baru dari keindahan-keindahan yang telah ada. Meski menurut saya, ada prasyarat yang juga harus dipenuhi oleh manusia. Bahwa kita harus mengenal alam sebelum terjun berkolaborasi dengannya.

Tentu saja, agar kolaborasi itu tidak menciptakan kesiasiaan baru dan nada sumbang baru.

Tapi di hari ini manusia terlalu mengendalikan. Ibarat main gitar, manusia mengatur ketegangan senar sesuka hati. Begitu dimainkan ambyar. Alam liar tersisa sebagai nada indah yang sesekali keluar dari kesumbangan senar-senar. Menjadi hal yang tidak biasa, di luar dugaan. Terlalu gumunan terhadap apa-apa yang disuguhkan alam begitu saja.

Hemm, percakapan mengenai manusia dan alam ini semakin panjang saja. Saya belum mau merumuskan apapun, masih banyak buku yang harus saya baca, hal yang harus saya lihat, diskusi yang harus saya ikuti. Tapi demikian, di satu pihak saya merasa manusia sudah kelewat batas. Tapi di satu pihak saya toh nyaman dengan sikap keterlaluan manusia itu, bahkan cenderung mengikutinya.

Saya mengantuk.

wordsflow

(re)imagine


What I do forget the most is, the fact that people driven by their imagination about everything on Earth, and beyond Earth.

Salah besar selama ini, karena saya memahami imajinasi hanya sebagai sebuah khayal. Padahal khayal terkonstruksi dari hal-hal yang pernah dipahami melalui yang empirik. Bahkan imajinasi mengenai hewan-hewan paling imajinatif di dalam film pun merupakan gabungan, ekstensi, pengurangan, perulangan, dari benda-benda yang ada di dunia ini. Imajinasi adalah reproduksi.

Ketika mempelajari perdebatan mengenai banyak hal di dunia ini, atau membaca berita mengenai berbagai selisih paham dan berbagai konflik, saya pikir masalahnya bukan ada pada tingkat pendidikan masing-masing manusia. Kadang kita terjebak pada kata ’empati’ namun tidak sungguh memahami bagaimana implementasi praktik dari kata itu sendiri. Atau mungkin, terminologi ‘toleransi’, namun tidak mau mengiyakan bahwa ‘kita sama-sama manusia’. Kenapa? Kenapa?

Sangat lama bagi saya untuk menelusuri apa sebab ada manusia yang tidak dapat memahami manusia lainnya. Apa sebab seseorang mampu berbuat buruk pada orang lain. Apa sebab ada ketidakadilan di dunia ini. Apa sebab ada mis-komunikasi. Dan pertanyaan ‘apa sebab’ lainnya yang menghantui saya dari hari ke hari tanpa ada yang datang memberi pencerahan.

Tapi jawaban selalu bisa datang dari perjalanan.

Kemadang, Tanjungsari. Tempat itu indah sekali, dan saya bertanya-tanya mengapa saya baru menyadari sekarang. Padahal telah beberapa kali saya melewati ruas jalan itu. Saya ingat sepanjang perjalanan itu saya memikirkan kata teman saya bahwa dunia sedang sakit parah. Tapi tidak ada yang mau sungguh-sungguh menggambarkan seberapa parahkah sakitnya Bumi kita? Padahal di depan mata saya terpampang keindahan yang tidak palsu. Orang-orang yang masih bertanam, tumbuhan yang masih bertumbuh, wajah-wajah yang masih bahagia. Apakah itu yang dikatakan sakit?

Sementara saya sendiri juga menyadari bahwa perjalanan saya untuk mencapai ‘keindahan pariwisata’ itu menyumbang emisi karbon yang selama ini diupayakan untuk dikurangi. Pikiran itu mengganggu saya terus-menerus. Lagi-lagi pariwisata hanya sebuah kepalsuan yang dikemas sedemikian rupa sehingga kita teralihkan dari pengetahuan lain di belahan dunia sana.

Tapi pertanyaannya, apakah saya kemudian peduli setelah tahu bahwa masyarakat di Afrika tengah sana kekurangan makanan? Apakah saya juga membawa pengetahuan perang di Timur Tengah di keseharian saya? Apakah saya peduli makan apa tunawisma yang tadi saya temui di jalan? Apakah saya melakukan sesuatu setelah tahu berapa luasan Greenland yang mencair? Apakah saya melakukan sesuatu setelah sebegitu banyak pengetahuan baru tentang kerusakan Bumi? Tidak. Saya masih begitu-begitu saja.

Imajinasi tentang berbagai hal mungkin mengganggu saya. Tapi kontradiksinya dengan yang terlihat oleh mata lebih mengganggu lagi.

Setidaknya, saya kemudian menyadari bahwa imajinasi saya lah yang membuat saya tidak berhenti berpikir dan bertanya. Imajinasi akan sistem dunia ini yang tidak pernah sungguh saya pahami secara keseluruhan. Yang begitu, kadang membuat saya berkeinginan untuk bisa terbang, untuk bisa menyelam di dunia maya, untuk jadi astronot saja. Bahkan, kemudian saya berimajinasi bagaimana rasanya jadi Tuhan yang melihat carut marut dunia ini?

Imajinasi membuat manusia hilang arah. Imajinasi membuat seseorang terus mengingat masa lalu, membuat seseorang mengharapkan masa depan, membuat seseorang mampu berempati dan bersimpati, membuat seseorang membayangkan surga dan takut neraka, membuat seseorang ingin mati dan takut mati, dan seterusnya, dan seterusnya. Imajinasi di samping itu juga memberi harapan besar. Ada manusia-manusia yang berjuang mati-matian menjaga lingkungannya karena tidak ingin kehancuran di masa depan, ada orang yang bekerja begitu keras karena membayangkan masa depan yang baik untuk anaknya, dan berapa lagi imajinasi yang membawa kebaikan kepada manusia-manusia?

Manusia belajar dari cerita, kita berrelasi melalui komunikasi, dan kesemua itu mewajibkan imajinasi. Dan gagalnya imajinasi menciptakan mis-komunikasi, dan lebih parah lagi kesalahpahaman. Tapi pertanyaannya, apakah perasaan bisa diimajinasikan? Bisa. Dan dalam kegagalan imajinasi juga memicu kesalahpahaman yang sama.

Saya ingat seorang teman yang tidak pernah membaca novel sementara semua buku teori yang ia perlukan ia baca. Mungkin kesimpulan ini masih harus diujikan, namun yang saya temukan adalah kegagalan si teman untuk memahami candaan kami, atau cerita-cerita yang kami anggap lucu. Adanya mis-komunikasi setial kami berinteraksi dan penolakan si teman terhadap hubungan kasual. Demikian, mengembangkan imajinasi menjadi hal yang penting untuk hidup seseorang sehingga ia bisa terintegrasi dengan baik dengan lingkungannya.

Imajinasi berkembang melalui seni, cerita, film, dan berjalanan. Dan semakin seseorang mengembangkan imajinasinya, semakin mudah seseorang membayangkan dan memahami segala hal. Teringat setiap kali bercerita, kita selalu mengeluarkan kata “kebayang nggak?”, “bayangin kalo misalnya kamu,”, dan seterusnya, dan seterusnya.

Bahkan, mitos dan ritual mengharuskan ada imajinasi di dalam individu-individu yang menjalaninya. Bisa ada kesimpulan “bencana ada karena Tuhan sedang marah” pun adalah ekspresi dari imajinasi itu sendiri. Dan begitu banyak lontaran kalimat yang keluar atas imajinasi seseorang tentang sesuatu, atau suatu masa, atau suatu peristiwa.

Saya kira, hal itu yang membuat saya lebih suka menonton kartun dibandingkan film biasa, atau membaca cerita dan komik. Di dalam kartun, yang saya temukan adalah keseluruhan imajinasi, keseluruhan dunia yang diciptakan oleh individu. Sebuah ekspresi dari dunia lain yang diimpikan atau dikonstruksikan.

Begitulah.

Meski kemudian saya terbangun pagi ini dan menyadari bahwa tidak ada hal yang sungguh penting kecuali mandi. Tapi saya ingat satu hal; don’t (ever) drop your unhappy friend!

Dunia masih sama membingungkannya seperti kemarin.

wordsflow

“memperbaiki hidup”


Begitu katamu setiap kali bergegas pergi. Segalanya kau tata rapi dan kau pastikan tidak ada sesuatupun yang tertinggal. Semua yang milikmu kau bawa, yang bukan kau tinggalkan begitu saja.

1984. Buku itu hilang entah ke mana. Disusul kemudian beberapa judul yang lain. Kemudian kesadaran samar-samar mengenai buku-buku lain lagi yang jauh lebih lama yang tidak lagi ada wujudnya juga membanjir ke permukaan.

Telah banyak yang hilang, tanpa disadari.

24 jam tampak terlalu lama pada suatu waktu. Di waktu yang lainnya semua itu terlampau cepat untuk berlalu. Berapa banyak perubahan yang terjadi hanya dalam hitungan hari? Bahkan tidak butuh lebih dari satu minggu untuk menghampakan segalanya. Meniadakan hal-hal yang sebelumnya saya percaya. Waktu mempermainkan diri. Atau justru diri yang mempermainkan segalanya. Tidak lagi ada hasrat untuk memastikan di antara keduanya.

Ada perasaan yang aneh yang tidak saya akrabi setiap kali saya berada seorang diri. Perasaan yang justru tidak ingin saya pastikan apa itu. Perasaan yang justru tidak ingin saya rumuskan definisinya. Perasaan yang mengobrak-abrik kecamuk dan resah. Tidak saya pahami, dan tidak ingin saya pahami.

Dibanding “memperbaiki hidup”, istilah “memperbaiki diri” itu aneh. Saya pikir semua orang memang pas pada waktunya. Yang kita lakukan bukanlah memperbaiki diri sebenarnya, hanya memposisikannya kembali agar sesuai dengan kondisi yang ada ketika itu. Tapi ini pun bukan hal yang selamanya seperti itu. Saya kira, saya telah kehilangan kepastian mengenai segala hal. Hampa saja.

Setiap kali melihat manusia, rasanya lebih menyenangkan membayangkan bahwa semua manusia pernah menjadi makhluk yang polos dan dicintai karena kepolosannya sebagai pembawa kabar gembira. Demikian, tidak ada yang berbeda antara manusia yang ini atau yang itu, yang mencampakan atau menarik mendekatkan, menyakiti atau mencintai. Kita hanya bingung. Seperti yang mungkin sedang terjadi pada saya di hari ini. Yang tidak tahu untuk apa terus mengupayakan. Untuk apa terus berjalan. Untuk apa berusaha terus percaya bahwa manusia adalah manusia saja. Tidak lebih, dan tidak kurang.

Sering kali saya berpikir untuk berhenti pada satu titik, dan memilih untuk menghilangkan diri dari hidup orang lain. Tapi perasaan yang seharusnya mendorong saya melakukannya tidak ada di sana. Tidak ada apa-apa kecuali mata yang tetap memandang dunia. Tangan yang tak lelah mengirimkan pesan. Detak jantung yang tetap pada irama yang sama indahnya.

Segala hal memuakkan dan penuh harap pada saat yang bersamaan. Menyisakan keputusasaan atas kebingungan-kebingungan yang tidak berjalan-keluar. Sementara tidak ada yang mau menghentikan umurnya pada titik yang sama. Semua orang berkejaran menjadi yang pertama. Sedangkan menjadi yang kedua seolah takut menjadi tertuduh yang hanya bisa mengikuti tanpa autentisitas. Selalu menakutkan menjadi yang kedua. Selalu lebih melegakan menjadi yang selanjutnya, atau justru yang terakhir saja.

Padahal tanpa yang kedua, tidak akan ada yang selanjutnya.

Ada perasaan sesak yang aneh yang tidak juga ingin saya pastikan apa. Tidak ada gairah yang meneriakkan semangat berulah. Yang ada hanya–tidak ada apa-apa.

Isu-isu sosial tetap menjadi isu saja. Isu lingkungan sama saja. Isu apapun, hanya menjadi isu. Saya marah pada diri sendiri. Salah siapa? Diri sendiri.

Tapi tidak sesederhana itu untuk yakin bahwa hidup tidak berguna. Telah banyak yang bisa membuktikannya. Tapi apa. Tidak ada apa-apa di sana.

Ada yang bernama Ginan, seorang pengidap HIV yang berusaha mengenal dirinya untuk memastikan hidup seberharga itu untuk diteruskan dan diperjuangkan. Saya sepakat. Ia menulis buku tentang hidupnya yang hanya saya baca sekilas selama 10 menit. Aneh sekali ia bisa menceritakan hidupnya dengan sedetil itu. Kisahnya menginspirasi karena dia sungguh-sungguh ada, bukan imajinasi. Pun ceritanya tidak ia karang sendiri, tapi ia jalani. Tapi hebat sekali ia ingat semua hal itu. Sementara banyak yang saya lupakan di hidup saya.

Masa depan seolah tidak ada. Tapi dia dipikirkan oleh semua manusia di dunia. Mungkin saya juga, meski barangkali kamu tidak peduli. Tak mengapa. Tidak peduli adalah andalan manusia untuk menanggapi banyak hal yang mungkin tidak ia inginkan. Perasaan misalnya.

“Kamu kenal Chris Cornell nggak? Dia meninggal hari ini.” Waktu itu ada yang bertanya begitu.

Saya tidak kenal. Tapi saya sedang mendengarkan lagunya. Sama seperti kebanyakan musisi yang sok saya kenal lalu saya dengarkan musiknya. Kadang-kadang bahkan sama sekali tidak paham apa yang dinyanyikan. Kadang bahkan judul lagunya tidak saya tahu. Lahir kapan dia? Mulai main musik tahun berapa? Apa nama grup musiknya? Genrenya? Ada banyak hal yang saya paksakan. Sebagian besar cocok saja. Karena ketidakpedulian. Sisanya menjadi hal yang terlupakan setelah berusaha mengaksesnya.

Seperti file-file buku digital yang terbengkalai setelah diunduh lebih dari tiga tahun yang lalu. Terlalu banyak buku digital yang belum pernah dibuka sejak diunduh ke sistem operasi. Atau bergiga album yang belum pernah didengar sejak dimiliki. Atau bergiga foto yang tidak pernah dikenang kembali setelah disimpan. Untuk apa kenangan jika tidak menjadi kenangan bersama? Untuk apa yang lama jika kita selalu hidup di kala yang sama; saat ini, sekarang ini?

Tidak ada yang harus dirayakan. Tidak sekarang atau besok, bahkan mungkin lusa. Tidak juga. Filsafat ditinggalkan manusia, sayang sekali. Diri dibawa kabur dari jiwa. Segalanya lebih nyata di luar pikiran manusia. Memang. Tapi tidak suka, meski kadang-kadang saja.

Memperbaiki hidup. Memperbaiki diri. Apa itu?

wordsflow

Temple Grandin


Saya ragu ketika pertama kali membuka file mengenai film tersebut mula-mula. Namun mengingat saya membuka film itu atas rekomendasi seorang teman, maka saya melanjutkan menonton tanpa berekspektasi terlebih dahulu di awal.

Temple sangat menarik sebagai perempuan di mata saya. Dia sangat membahagiakan untuk dilihat, demikian saya lebih suka menyebutnya dibanding mengistilahkannya dengan kata ‘ceria’. Ah sebelumnya, jika ada pembaca yang belum menonton filmnya, silakan menonton dulu kalau tidak ingin saya ganggu dengan review singkat ini, hehehe.

Ketika film baru dimulai, saya menduga-duga cerita macam apa yang akan dibawakan oleh film itu. Lalu apa yang membuatnya istimewa untuk menjadi sebuah film?

Saya jarang menonton film yang dibintangi manusia sungguhan dan lebih suka menghabiskan waktu menyelami dunia-dunia anime yang buat saya jauh lebih dalam dibandingkan film-film yang ada. Temple berbeda, film ini adalah sebuah biografi. Dan sejauh yang saya ingat pula, film yang berdasar pada kisah nyata selalu dan akan selalu memukau saya. A Beautiful Mind, The Theory of Everything, Silent of the Lamb, Snowden, ah dan banyak lainnya selalu bisa membuat saya terpukau. Kisah itu adalah kenyataan yang dinyatakan tanpa pernyataan. Hanya sebuah tampilan sebagaimana kita melihat manusia-manusia lain di keseharian kita. Mewujudkan kemanusiaan mereka sebagai manusia biasa yang berjuang dan melawan hidup.

Manusia-manusia seperti Temple hampir tidak pernah saya temui di dalam hidup. Semua orang yang saya kenal adalah mereka yang berada pada kondisi paling sempurnanya. Hanya dua orang yang seingat saya memiliki kekhususan dalam dirinya, dua-duanya saya kenal ketika masih sekolah dasar. Hingga sekarang saya tidak pernah tahu apa yang membedakan mereka dari kami semua yang menyatakan diri normal saja.

Temple Grandin sangat mengagumkan. Ia memahami bahwa dirinya autistic dan terus berproses sedemikian rupa untuk berdamai dengan kondisinya, tanpa kehilangan masa depannya. Hal semacam itu, adalah sesuatu yang sayangnya tidak saya akrabi selama ini.

Banyak kondisi-kondisi di masa lalu saya yang tidak saya gunakan dengan baik. Waktu yang saya buang untuk hal yang tidak seberapa berguna. Salah menentukan prioritas. Tidak tepat dalam menentukan pilihan-pilihan. Terlalu memikirkan banyak hal yang tidak sungguh layak dipikirkan. Dan akhirnya kehilangan mimpi-mimpi dan tidak mampu memilih di antara begitu banyak pilihan.

Seorang Temple tidak memiliki kekhawatiran semacam itu dalam hidupnya. Ia hanya berusaha terus melakukan hal-hal yang ia sukai, melakukan hal-hal yang menyenangkan, bersungguh-sungguh, dan terus memperjuangkan hal-hal itu sepenuh hati. Dibandingkan dengan begitu banyak manusia yang mengumbar pendapat mengenai hidup yang ideal, saya pikir idealitas mereka tidak sejujur apa yang terjadi pada Temple. Tipu daya saja semuanya. Palsu saja semuanya. Ketidakyakinan saja semuanya.

Tapi tentu saja, ada manusia-manusia yang hidup dengan kemanusiaan yang tulus, dengan keyakinan yang besar, dengan kesenangan yang utuh. Dan ada manusia lain yang tidak mempercayai bahwa ada hal-hal semacam itu di dunia ini. Lalu sebagian lain memilih berada di irisan keduanya, atau menyingkir sama sekali untuk tidak akan bersentuhan dengan kutub ekstrem itu.

Mungkin tulisan ini masih palsu saja. Mungkin saya sebenarnya tidak sungguh mengagumi hal-hal itu. Mungkin saya juga masih begitu ambisiusnya seperti sebelumnya. Mungkin saya hanya berpura-pura. Sering kali orang lebih merasa nyaman meyakini bahwa orang lain berpura-pura bersikap baik, atau sesungguhnya mereka memiliki maksud lain. Entahlah.

Ada banyak hal yang sederhana saja, sesederhana kehidupan Ernest dan Ethel yang ceria, kadang berlinang air mata, kadang penuh kekhawatiran, kadang penuh rasa syukur. Biasa saja.

Apakah hal yang biasa saja itu lantas tidak dalam dan tanpa makna? Saya kira berpikir demikian sama halnya menyatakan kesombongan. Anehnya, tidak ada determinasi tertentu yang dapat digunakan untuk menstandarisasi sebuah kehidupan. Proseslah yang paling nyata dibandingkan semuanya. Karena ia niscaya dan abadi keberadaannya. Terangkum kesemuanya dalam tiga hal saja; lahir, berproses, lalu mati. Sudah begitu saja mungkin.

Beberapa mencapai kemanusiaannya, beberapa bertahan menjadi pecundang, beberapa menolak untuk sekedar menjadi manusia, beberapa yang lain dibutakan hal-hal yang seharusnya hanya sebatas sarana, beberapa tidak tahu apa-apa, beberapa menerima saja segalanya, dan terus beberapa-beberapa yang lainnya. Dan sudahlah, malam telah semakin larut saja.

Untuk yang belum menonton, ini saya kasih linknya.

https://indoxxi.net/movie/temple-grandin-2010-subtitle-indonesia-pxe

wordsflow

days with no interests


Seorang perempuan berjalan cepat di trotoar. Tangannya menutup mulut menghalau debu dari kendaraan yang berlalu lalang.

Seorang tukang gojek berjongkok di samping motornya yang terparkir di luar gerbang yang terkunci. Jaket hijaunya tersampir lunglai di atas jeruji. Kepalanya tertunduk. Kedua tangan memegang tengkuk. Tidak bergerak. Layar ponsel berkedip di bawah motor yang diam.

Seorang pria dengan pakaian lusuh berdiri mematung di pinggir jalan.

Seorang lelaki muda sedang sibuk dengan ponselnya. Helm lekat di kepalanya. Motornya kaku tanpa suara mesin. Tak dipedulikannya sesiapa yang memenuhi jalan raya.

Seorang lainnya terburu-buru menyeberang jalan. Menggenggam erat perempuan kecil yang mungkin adalah darah dagingnya. Tas kresek hitamnya bergoyang-goyang oleh hentakan kaki terburu-buru.

Di dalam mobil seorang perempuan menginjak rem. Matanya tak lepas dari dua penyeberang jalan. Entah apa yang ada di balik bola mata itu. Kiranya.

Sejengkal jalan di dalam jeda. Menyediakan rupa manusia. Seperti aku di mata yang lainnya. Atau kita di mata sesiapa.

Still, there are days with no interests.

Detachment


Semester ini berat, sungguh.

Tidak saya bayangkan sebelumnya bahwa saya akan melalui berbagai hal berat di semester ini. Jangankan urusan pribadi, urusan lain pun sama beratnya. Ada banyak guncangan, ada banyak tangis, ada banyak tawa, ada banyak cerita, ada banyak pemahaman, ada banyak sekali tugas kuliah, ada berbagai campuran perasaan yang berubah menjadi kemuakan, dan ada begitu banyak hal yang tidak bisa saya rangkumkan di sini. Tapi tentu saja, masih ada kabar gembira karena ada semakin banyak teman dalam hidup saya.

Dalam enam bulan ke depan, akan banyak orang yang pergi. Sebagian untuk sementara, mungkin sebagian lain memutuskan untuk selamanya. Siapa yang tahu akan masa depan, hehe. This isn’t easy for sure. But realizing that people should never trap because of something, it’s getting easier to accept those things. People come and go, as I am once also.

Ada beban sebesar gunung? ah saya berlebihan, tidak, beban itu tidak sungguh seberat gunung saya kira. Hanya kadang kemunculannya membuat saya kesal luar biasa. Demikian, saya ceritakan beberapa hal sembari mencari sela atas tugas yang belum berakhir juga.

Saya mau membahas sebuah film yang saya tonton semalam, judulnya Detachment. Saya pikir saya orang yang sangat telat tertarik menonton film. Saya tidak mengenal nama-nama aktris atau aktor, saya tidak tahu judul film, saya tidak mengikuti Oscar, ah apapun lah tentang film, saya tidak paham. Tapi saya bertemu dengan orang-orang yang sangat peduli dengan film. Mereka membahas film lebih dalam dibandingkan semua orang yang pernah saya tahu. Pun demikian dua dosen saya membahas film dengan cara yang jauh berbeda dari cara orang lain membicarakan film.

Yang saya sadari ketika itu adalah, oke, saya ternyata melewatkan banyak hal dari film.

Dalam beberapa waktu belakangan, dan saya kira saya juga sempat merasakan hal yang sama, anak-anak milenial terjebak dalam kebingungan luar biasa, ketidakmengertian, keputusasaan, kecemasan, keterasingan, dan segala bentuk perasaan lain yang merusak jiwa dan psikis kita. Koe no Katachi misalnya, menceritakan pula kegamangan yang sama akan hidup, ketidakpercayaan terhadap manusia lain, penolakan terhadap pertemanan, dan seterusnya. Rasanya menyakitkan melihat hal-hal yang kita khawatirnya nyatanya merupakan sebuah kenyataan juga di dalam hidup orang lain.

Dua orang teman saya didiagnosa schizophrenia. Yang satu saya kenal setelah sembuh, yang seorang lagi saya kenal sebelum terdiagnosa. Hal yang mula-mula begitu jauh itu, ada begitu dekat dengan saya, tanpa saya pahami bagaimana ia sebenarnya.

Detachment mungkin tidak sepenuhnya memberikan pelajaran kepada saya, namun film itu mengingatkan saya untuk sekali lagi lebih peka. Pada dasarnya seorang manusia tidak bisa menghilangkan kemanusiaan di dalam dirinya kan. Bahkan sejauh-jauhnya kita memisahkan logika dan rasa, pada satu titik kita akan pula jatuh pada ketersesatan yang begitu mencekat, mungkin bahkan memporak-porandakan dan menghancurkan.

Ada banyak bentuk sakit di dunia ini. Baik saya atau Anda merasakannya, entah sebagian atau semuanya, entah sebentar atau selamanya. Tanpa cerita, yang semacam itu hanya akan merusak diri, saya kira. Demikian, setiap orang akan juga berusaha mencari seorang pelengkap. Bisa jadi orang itu selalu figur yang sama, bisa jadi kamu butuh lebih dari satu untuk melengkapi yang tidak kamu pahami.

Ketidakpedulian, keteracuhan, atau kelogisan kita bisa jadi menjadi begitu salah ketika berhubungan dengan orang yang tidak berpikir dengan cara yang sama. Dan hubungan interpersonal itu bisa begitu membahayakannya hingga membuat orang lain begitu sakit, begitu merasa terbuang, bahkan menemukan keberanian untuk mengakhiri hidup. Seolah-olah keinginan untuk memandang dunia dengan cara yang sederhana dan gembira terfalsifikasi oleh reaksi yang tidak saya duga. Keteracuhan yang menimbulkan perasaan terbuang, kegembirakan yang memicu kesedihan, semangat yang memicu rasa putus asa, logika yang menimbulkan rasa.

Kita tidak hidup seorang diri.

Dan begitu menyebalkan membayangkan begitu banyak hal bersilang sengkarut menjadi hal yang semakin rumit. Setiap hari ketika berada di jalan raya atau kerumunan manusia, saya selalu kembali pada pikiran lama. Sebegitu banyak manusia di dunia ini, mengapa saya hanya bisa terpaku pada satu wujud yang tak pernah berganti, memenjara diri dalam pikiran yang semakin tidak saya pahami dari waktu ke waktu. Sebegitu banyak manusia, mengapa tidak banyak yang saya pedulikan. Dan sungguh, manusia ada begitu banyaknya! Satu menjadi tidak sungguh bermakna, namun satu yang kita khususkan mampu merubah banyak hal dalam hidup kita.

Seorang teman tiba-tiba berkata bahwa playlist lagu saya sangat sedih, dan entah karena saya telah begitu terbiasa atau justru saya tidak sungguh mendengarkan, saya menganggap itu pertanyaan yang aneh.

Waktu pun tetap berjalan. Malam ini atau esok hari adalah hal yang sama misteriusnya seperti yang sungguh terjadi kemarin lalu. Yah, saya tidak mereview film juga akhirnya, biarkan saja, hehe. Diam-diam, saya masih berharap pada banyak hal, membagi diri menjadi banyak bagian, yang tidak pula dapat saya ceritakan karena hanya bisa dipraktikkan. Seolah tidak juga lelah, berusaha berpasrah namun tak mau berhenti mengupayakan. Paradoks sekali hidup ini. Dan semakin pecundang saja diri ini, dari hari ke hari.

Ini bukan cerita sedih, ini hanya cerita tentang hidup.

wordsflow

This gonna be tough


Tidak ada gairah. Tidak ada gemuruh. Tidak ada gejolak. Tidak ada apapun tiba-tiba.

Meski tawa masih di sana, tangan masih terus bekerja, kaki masih terus melangkah, mata masih menyapukan pandangannya, dan masih pula ada kupu-kupu yang menggelitik di dalam perutku. Apa lagi tapi?

Menangis dan membenci, dua hal yang jauh lebih dalam dari tertawa dan mencintai. Kupikir. Pada mula-mula.

Tapi tawa dan mencinta membunuh keduanya. Kejam, meski tanpa darah dan jasad. Bahkan waktu bekerja sama untuk menciptakan suasana yang tepat agar pembunuhan itu terjadi tanpa jejak, tanpa cacat.

Di mana rasa bersemayam kala itu?

Dia tergolek pasrah, mengizinkah diri mengatur segala hal yang dia pikir ia pahami.

Ada rasa tercekat di pangkal suaraku, mendesakkan berbagai hal untuk keluar menemukan udara bebasnya.

Tapi tak ada apapun di sana.

Hanya mata yang terus menatap, kaki yang terus melangkah, dan tangan yang terus bekerja.

wordsflow