WORDS FLOW

just go with the flow and whatever happens, happens

Konsumsi


Dalam beberapa hari belakangan, topik tentang konsumerisme dan kapitalisme entah kenapa muncul kembali di dalam jangkauan pandangan saya, baik melalui linimasa media sosial maupun muncul kembali sebagai sebuah kesadaran. Anehnya, saya tidak lagi merasa terganggu sebagaimana yang saya rasakan sebelumnya terhadap kesadaran soal ini meskipun sungguh memusingkan memikirkan harga properti dan membayangkan akankah saya akan berhasil membeli sebidang tanah untuk hari pensiun saya nanti. Hhhhnnnnhhhhh.

Di tengah segala kemudahan yang hadir di hari ini, kita kemudian tidak lagi dihadapkan pada kesulitan untuk mencari sesuatu yang sebelumnya ‘langka’. Apapun yang kita butuhkan kini hanya berjarak sejangkauan tangan. Satu-satunya penghalang kita adalah kemampuan finansial semata.

Tapi tenang, sistem kapitalis juga berupaya untuk menghilangkan penghalang itu bagi kita sehingga apapun yang kita harapkan akan dengan mudah kita dapatkan. Sebut saja fasilitas digital finance dengan segala penawaran menariknya, kartu kredit, kebijakan pay later, dan sebagainya. Kita dipaksa mengambil hutang dan memilih hutang sebagai cara yang paling ‘benar’ karena pelayanan cenderung menolak pembayaran langsung dan lebih memilih kredit. Hampir semua perjalanan ke luar negeri membutuhkan kartu kredit. Hampir semua transaksi jual-beli ke luar negeri mewajibkan kartu kredit. Bahkan kartu kredit menawarkan diskon yang jauh lebih besar dan membuat semua orang semakin merasa terdorong untuk memiliki kartu kredit.

Padahal kita memiliki uang di rekening sendiri, tapi bahkan jaminan itu tidak cukup untuk meyakinkan bahwa kita betul-betul bisa membayar hal-hal yang kita inginkan. Kesel nggak sih?

Saya ingat pernah begitu bersemangat membuat akun di Etsy sewaktu awal masuk kuliah, tapi segala upaya selalu terhenti pada jaminan kartu kredit dan yasudah, sampai sekarang saya tidak pernah berhasil mencari alternatif lain agar bisa melakukan transaksi antar negara.

Topik mengenai konsumerisme ini sebetulnya klise sih. Tapi begitu saya mengikuti akun finansial di salah satu platform sosial media, membaca berbagai cerita tentang tantangan finansial masing-masing orang, saja jadi bertanya-tanya sebetulnya apa cita-cita finansial yang dimiliki masing-masing orang. Juga menarik sekali ketika saya ditawari untuk membuat tabungan rencana dengan iming-iming bunga tertentu, serta tambahan iming-iming dari petugasnya “Siapa tahu tahun depan bisa jalan-jalan ke luar negeri”. Oh well, demikian secara serampangan saya artikan bahwa jalan-jalan ke luar negeri adalah kegiatan yang sedang menjadi tren di kalangan masyarakat seumuran saya, apalagi yang sudah memiliki penghasilan sendiri.

Di tengah huru hara ini, kita menjadi manusia-manusia yang seolah kehilangan esensi mencari uang. Apakah betul kita bekerja sekedar untuk mampu membeli ini dan itu? Apakah hidup akhirnya hanya sebatas upaya untuk mengejar standar kehidupan yang begini atau begitu? Beberapa kelompok manusia sungguh-sungguh hidup dari paycheck to paycheck ada yang meletakkan standar kemampuan finansial di sebelah agak jauh jalur hidupnya, dan ada juga yang sungguh tidak peduli dengan finansialnya.

Lalu terminologi work-life balance tiba-tiba menjadi terma yang sering kali muncul di sekitar saya, apalagi setelah kepindahan saya ke ibukota. Antara berada di skeptisme atas jaminan keseimbangan hidup di kota dan ketahanan diri untuk memastikan bahwa gaya hidup mayoritas ibukota tidak akan pernah menggerus gaya hidup saya dan saya akan tetap bertahan menjadi manusia-manusia yang waras tanpa merasa kekurangan.

Saya sedikit merasa aneh ketika menemukan beberapa teman saya yang merasa begitu menderita hidup di kota ini. Saya akui memang Jakarta membuat seseorang bisa begitu merasa kesepian. Tapi tidak ada yang bisa menjamin bahwa dengan tinggal di kota kelahiran kita, atau kota favorit kita, kita tidak akan merasakan hal yang serupa. Sebuah kota tidak seharusnya bertanggung jawab atas apa yang sedang kita rasakan. Betul juga bahwa kehadiran atau ketidakhadiran seseorang di dalam hidup kita akan membawa perubahan, tapi menurut saya ada seribu satu substitusi yang bisa membantu kita merasa lebih ‘akrab’ pada sebuah kota.

Ada juga yang bilang bahwa saya sebetulnya punya selera metropolitan, tapi tuduhan itu juga saya pikir tidak beralasan. Saya hanya kerap mudah merasa nyaman pada suatu tempat, dan begitu merasa nyaman tidak mudah bagi saya untuk berpindah. Saya jarang pindah kos-kosan, apapun yang terjadi pada tempat itu, lebih suka memakai pakaian, tas, atau sepatu yang itu-itu saja, dan tidak merasa butuh berganti tanpa ada paksaan tertentu atau alasan tertentu. Barangkali ini juga yang membuat saya lulus lama? Hahaha. Bukan ding, kalau yang itu murni karena faktor kemalasan.

Dan betul juga sebetulnya, konsumerisme menjadi hal yang tanpa sadar diimani oleh semua orang, yang muslim konservatif, atau bahkan yang ateis, yang tidak peduli pada lingkungan atau bahkan yang mengaku sjw (akhirnya saya tahu arti singkatan ini). Setiap protes, setiap kritik, ideologi, bahkan kepercayaan menciptakan pasar baru yang bisa menghasilkan keuntungan bagi para pelaku bisnis. Saya juga menggunakan cara ini untuk mencari pembeli, yah jujur saja. Hanya satu yang membuat saya sebal karena orang-orang cenderung merasa gaya konsumsinya jauh lebih baik dibandingkan orang lain dengan membeli sesuatu atau tidak.

Misal munculnya tren sedotan besi atau sedotan bambu karena adanya protes terhadap penggunaan sedotan plastik. Jujur saja, sebetulnya klaim itu tidak berarti karena kita tidak butuh sedotan sama sekali, mau yang plastik ataupun yang besi. Pun tidak ada yang sungguh tahu apakah sedotan besi akan memberikan dampak kerusakan lingkungan yang lebih kecil atau tidak. Juga gaya berpakaian, baik yang muslim atau bahkan yang mengikuti tren MetGala, semuanya hanya memberikan keuntungan lebih banyak pada pengusaha tekstil, dan memunculkan potensi besar produksi pakaian, dan demikian juga potensi sampah dan limbah yang dihasilkan dari proses produksi itu. Belum lagi yang mengagungkan metode konmari Marie Kondo, sangat ada kemungkinan bahwa yang terjadi adalah konsumerisme gaya Marie Kondo, mengganti perkakas rumah tangga sesuai style adaptasi konmari, dan sebagainya.

Di samping kritik saya atas hal ini, saya juga menyadari bahwa saya orang yang sering membeli, meskipun saya pelit luar biasa pada persoalan harga. Lebih sering saya membeli sesuatu yang sangat murah dengan kualitas yang lumayan setelah mencari dengan super seksama di platform marketplace langganan saya, menggunakan segala promo pembelian online yang akhirnya membuat saya jauh lebih untung. Memuaskan diri sendiri tampaknya sedikit lebih sulit di hari ini karena standar yang bertebaran di luar sana. Mudah sekali merasa terintimidasi karena sesuatu dan bersikap biasa saja adalah salah satu cara yang paling mujarab.

Saya sering merasa sangat berterima kasih pada masa-masa perkuliahan saya yang memberikan sumbangsih pemikiran dan kesadaran yang tinggi atas setiap perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidup. Meskipun sederhana, gaya hidup bisa membuat orang merasa terbebani dan bahkan membawanya pada ketidakbahagiaan. Sesuatu yang saya pikir menyedihkan karena terjadi di kota yang menyediakan segalanya.

Akhir kata, akhirnya saya menorehkan tulisan lagi setelah sebulan tidak berhasil menghasilkan satu tulisan pun. Di sela satu bulan ini, saya sempat menghabiskan waktu untuk merenungi secara mendalam tentang tujuan saya untuk hidup. Barangkali kapan-kapan akan saya bagi sedikit. Tapi saya sendiri juga merasa bahwa memaknai hal seabsurd ini tidak layak untuk dibagi pada jiwa-jiwa tenang seperti pembaca sekalian. Jadi yah, kapan-kapan saja. Semoga kita selalu berada dalam kesadaran atas hal-hal yang kita lakukan.

wordsflow

I am constantly inspired by people who do musics


Hari ini kantor libur, dan karenanya saya mendaftar beberapa hal yang harus saya lakukan sebagai kompensasi atas waktu luang yang saya dapat di tengah kekacauan Jakarta yang yah, sebetulnya tidak saya rasakan nyata begitu dekat. Hanya sirine yang terdengar berseliweran di jalan belakang kosan yang tepat bersebelahan dengan Kali Ciliwung. Lalu sudah dari kemarin pagi ada pengalihan arus dan pengumuman perubahan lalin untuk jalur-jalur rawan angkutan umum. Sungguh sebuah kemudahan hidup di jaman google maps dan segala perangkat pendukung informasi yang berfungsi real time.

Eniwei, saya sudah mencontreng empat dari enam agenda hari libur ini. Berhubung agenda yang ke enam agaknya tidak akan terlaksana, maka saya berusaha merampungkan agenda ke 5 demi tercapainya persentase keberhasilan yang lebih tinggi, hehe.

Topik ini tentang Fajar Merah, dan secara luas tentang orang-orang yang bermusik.

Kemarin lalu saya menjumpai poster tentang penayangan film dokumenter Nyanyian Akar Rumput. Sempat salah sangka kalau itu akan menceritakan Wiji Thukul, ternyata film itu lebih melihat anaknya sebagai seorang musisi, juga sebagai seorang anak. To be honest, saya sungguh-sungguh tidak kenal dan tidak tahu menahu soal Wiji Thukul. Dibandingkan kawan-kawan saya baik yang mawas politik dan sejarah, juga narasi-narasi perjuangan, pembaca buku, atau bahkan pecinta film Istirahatlah Kata-Kata yang jauh lebih kenal siapa Wiji Thukul, saya hanya sebatas tahu kalau Wiji Thukul hilang sejak kerusuhan 1998. Sementara kawan-kawan saya sudah dengan fasihnya menyebut nama ini di beberapa diskusi, juga mengutip tulisan atau puisinya, saya cuma bisa mengingat cover bukunya yang berwarna kuning, kerap saya lihat di toko buku.

Maka, saya anggap upaya saya menonton film ini sebagai langkah untuk mencari tahu siapa orang ini. Barangkali dengan menontonnya empati dan kepedulian saya akan meningkat.

Saya sendiri baru dua kali menonton Fajar Merah manggung saat masih di Jogja. Saya suka gubahan musiknya. Tapi sebagaimana juga dirasakan oleh ibunya, saya merasa musik Fajar tidak menyuarakan heroisme, tapi cenderung lebih romantis. Dia cenderung sedang melakukan pencarian, dan mengekspresikan emosinya. Dari beberapa rekaman panggungnya, aksi teatrikalnya mengekspresikan emosinya sendiri, apapun itu bentuknya. Barangkali yang ia rasakan jauh lebih rumit dari yang terlihat.

Ketika menonton film ini, saya kembali tersadar kalau kita lebih sering sok tahu tentang hal-hal yang dirasakan seseorang, dipikirkan seseorang, dipahami seseorang. Meski cara saya menulis ini juga penuh dengan asumsi, tapi saya juga menyadari bahwa yang saya lihat bukan ‘penerus’ Wiji Thukul, tapi sebatas anak laki-laki yang juga sedang mencari dirinya sendiri.

Musiknya romantis, dan cenderung tidak penuh kemarahan. Ia mengingatkan lewat larik, dan mencoba menyentuh lewat nada, bukan sebaliknya. Aksi panggungnya adalah ungkapan, entah ungkapan jenis apa, tapi selalu ada yang berbeda, ada proses, ada pendalaman.

Barangkali hal-hal ini yang begitu saya sukai dari pemusik. Emosi-emosinya tersimpan, terbaca, tersampaikan lewat nada, irama, dan lirik yang mereka gubah. Aksi panggungnya adalah ekspresi ayas perasaan yang melekat saat itu di tempat itu, atau bisa juga merupakan kumpulan memori-memori yang lalu. Dan sangat menarik untuk menyadari bahwa aksi panggung cenderung menyimpan kejutan, kontekstual, dan begitu ‘sementara’.

Salah satu hal yang secara pribadi membuat Fajar Merah menarik bagi saya adalah tatapan matanya. Bukan hanya dia, semua orang di dunia ini memiliki tatapan mata yang menarik hati saya. Semua orang menggambarkan ‘ketelanjangan’ dan ‘teka-teki’ lewat tatapan matanya. Manusia selalu menarik, selalu membuat saya tertarik, sekaligus kalut dan takut pada saat yang persis sama.

Well, jenis manusia yang jauh lebih menarik adalah mereka yang bermusik. Ah bukan, yang melakukan hal-hal paling mereka sukai dengan kesungguhan. Cara mereka menatap sesuatu bisa membuat saya tertampar, sekaligus tersinggung dan iri. Somehow.

wordsflow

Menjadi Jakarta


Sekitar 12 tahun yang lalu di bulan ini, ketika teman-teman saya masih sibuk menyiapkan berkas untuk pendaftaran SMA, saya mendapat telpon entah dari siapa mengabarkan bahwa ada kemungkinan saya akan menerima beasiswa untuk masuk suatu SMA yang namanya saja belum pernah saya dengar. Jauh sebelum itu, sekitar 2 tahun sebelumnya, saya menemukan satu komik yang sampai sekarang saya anggap titik mula dari perjalanan ini. Namanya QED, saya pernah menceritakannya di sini, tapi sudah lupa entah kapan. Saya juga ingat langkah berani kedua yang saya lakukan adalah mengisi soal logika matematika di kedaulatan rakyat yang ditempel di mading SMP setiap hari Kamis. Suatu hari tetiba kedaulatan rakyat membuat rubrik itu, dan alih-alih menyajikan tts, mereka memberikan soal matematika. Soal edisi pertama itu yang mengawali banyak hal setelahnya. Setiap kali mendatangi TU untuk mengecek surat dari sahabat pena saya aka Anis, saya selalu menyempatkan menengok pojok kedaulatan rakyat dan mencatat soal yang ada di sana untuk dipecahkan kemudian.

Saya pikir kejadian-kejadian itu sangatlah natural pada masanya. Saya tidak pernah betul-betul memikirkan saya akan ke mana, dengan siapa, bagaimana caranya, karena praktis yang saya lakukan setiap hari adalah berkhayal dari semua komik dan buku bacaan yang saya baca. Saya juga ingat pernah membaca Karmila dan salah satu karya Mira W di usia 13 tahun. Ketika itu saya bahkan tidak terlalu memikirkan dua bacaan itu sampai ditanya oleh guru SMA saya.

SMA, sampailah saya pada khayalan saya untuk tinggal jauh dari Jogja masuk asrama, persis seperti sinetron Cinderella Boy yang waktu itu baru saja tamat tayang. Dari seseorang yang melihat itu sebagai orang ketiga, sudut pandang saya berubah menjadi sudut pandang orang pertama. Praktis setelah itu saya tidak lagi hanya melihat atau membayangkan saja, namun juga menjalani hal-hal yang dulu hanya saya khayalkan.

Sayangnya, banyak hal yang luput dari pandangan ketika sudut pandang kita berubah menjadi orang pertama. Percayalah orang ketiga memang selalu serba tahu, persis seperti di novel-novel atau kameramen dalam film-film yang diputar di bioskop. Setelah sebelumnya tugasnya hanya melihat dan mengamati, sesekali memberi kritik, saya berubah posisi menjadi orang yang harus menjalaninya, lantas ditonton oleh orang lain. Paling dekat, paling lekat tatapannya adalah keluarga.

Ada banyak yang berubah dari Jakarta setelah 9 tahun saya tinggalkan. Ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di kota ini, saya pikir saya tidak akan pernah bisa menikmati kota ini, karena terlalu besar, terlalu panas, terlalu ‘kasar’ untuk saya. Saya di-shock therapy oleh guru-guru saya, juga oleh teman-teman saya, pertama kali saya menyadari begitulah rasanya menjadi minoritas.

Singkat cerita, setelah memantapkan diri untuk tidak lagi merebahkan badan di kota ini, nyatanya saya kembali. Sembari menapaki tangga stasiun di pagi buta, saya bertanya-tanya soal apa yang sedang saya jalani atau saya cari di kota ini. Manakala saya juga ternyata sulit menjawabnya, saya justru merasa ingin balik badan dan pulang ke Jogja, segera. Tapi saya akhirnya tetap keluar stasiun, memesan ojek online lantas mengarungi jalanan lengang Jakarta.

Menjadi Jakarta, sebetulnya tidak jauh berbeda dengan menjadi manusia Jogja. Siapa yang bilang saya tidak shock waktu pertama kali kembali ke Jogja? Teman-teman saya tentu berbeda, lingkungan saya baru, dan ternyata bukan kota yang menentukan bentuk manusia di dalamnya. Kesimpulan ini saya dapatkan jauh setelah masa tinggal saya di Jogja. Maka saya kemudian mencoba melihat bahwa manusia di Jakarta juga tidak ditentukan oleh kota ini. Saya hanya perlu mencari simpul-simpul yang sesuai dengan benang saya, sedangkan jalur lain agaknya harus saya abaikan sama sekali.

Dan di sinilah saya saat ini, duduk mengetik dengan tenang. Saya sampai di satu warung kopi milik seorang bisu. Untuk memesan kopi kamu harus tahu cara memesan sederhana, bisa membedakan bagaimana cara menyampaikan dingin dan panas. Di samping saya ada lima orang yang sedang bercerita seru dengan bahasa isyarat. Tidak ada keributan yang tidak perlu, tidak ada keramaian yang terlalu riuh. Saya anggap diri saya sedang mengumpulkan simpul ke-Jogja-an saya.

Sama seperti kebanyakan orang, saya sangat skeptis ketika tahu bahwa Jakarta akan menjadi tempat hidup saya untuk setidaknya satu dekade ke depan. Tapi kota ini, sama seperti kebanyakan kota lainnya, dicintai sekaligus dibenci, diharapkan sekaligus dinafikkan. Skeptisme ini bukan hanya melekat pada kotanya, tapi juga pada orang-orangnya. Dengan saya menjadi bagian darinya, saya juga jadi manusia yang terlibat di dalam love-hate relationship ini.

Tapi bersama kota ini saya juga dalam proses menjadi-nya. Saya cukup beruntung karena saya merasa cukup tahu kemana saya harus pergi. Ada beberapa yang merasa bahwa ‘jebakan’ ini tidak ada obatnya, lantas membiarkan dirinya terseret oleh bagian skeptis dari kota. Saya bahkan tidak beringinan untuk turut membawa mereka serta dalam upaya saya sendiri sementara saya sendiri kadang masih sulit menangani hambatannya. Saya cukup egois soal ini, dan saya tidak akan meminta maaf untuk itu.

Akhirnya, saya begitu mencintai transportasi umum Jakarta, memberi kesempatan saya untuk terus berpikir tanpa henti. Rasanya hampir mirip dengan perasaan saat mengendarai motor di Jogja, yang barangkali, beberapa tahun mendatang saya akan mulai lupa cara mengendarainya.

wordsflow

nothing’s more important than money


I am not in a really good mood, but somehow after for days discussing about this, and analyzed something that might related to this, read some stories on social media, also attached my own problem and opinion about this thing, let’s doubt ourselves and to the bigger society nowadays.

Some of my research regarding to waste practice through waste bank movement found out some precedents about how people dealed with our current environmental problems. Everything’s good, people encourage another community to give their effort to do the same, the government, academics, people overseas give recognition to some movement but at the end we both ask the same question; does finally everything we do is all about gaining more money, at the end?

This is very interesting for me because I feel the same. Somehow, what I do, what I choose, what I’m into, it directly or indirectly because of money so that I could continue life with no doubt.

I’ll make this quick because I really need some sleep.

I cannot say that we all do, but most of us really money oriented today. Oke pakai bahasa Indonesia aja biar gampang.

Barangkali ini bukan asumsi yang asing buat kita bersama, udah sering disebut dimana-mana kalau sekarang tuh apa-apa harta, tahta, dan Raisa (kalo saya sih Velove Vexia). Dan selama bertahun-tahun, saya masih menanamkan keyakinan bahwa ada yang nggak begitu kok, yang hidupnya biasa saja dan cuma ingin hidup harmonis dengan apapun yang disediakan, atau well, ‘rejeki mah gak akan kemana’ jadi nggak perlu pelit sama orang, dan seterusnya.

Tapi kemudian saya berpetualang ke timur jauh sana, yang saya temui, orang-orang yang serupa, meskipun kadang dengan narasi yang jauh lebih panjang, dan jalan yang lebih berliku, di tempat-tempat lain juga tidak jauh berbeda meskipun dengan narasi yang jauh lebih halus dan segala yang menyelimutinya. Di waktu-waktu tertentu hal-hal ini menutupi kepercayaan saya pada niat baik orang lain dan cenderung membuat saya tetap merasa sangsi meskipun hanya sebagai pendamping dari upaya saya memahami narasi yang disampaikan lawan bicara.

Bukan tidak jarang saya dikejutkan dengan orang yang sungguh-sungguh apa adanya, tanpa basa basi dan tulus begitu saja. Tapi itu keberuntungan saja, hanya segelintir orang. Pun saya sering curiga itu dilakukan dengan asas ‘Allah akan mengembalikan rejeki kita berkali-kali lipat dengan caraNya sendiri’.

Well, again, saya berkawan cukup baik dengan rasa sangsi.

Tapi ibukota menampar saya keras sekali sampai-sampai hal yang sebelumnya hanya saya letakkan sebagai kecurigaan kini sungguh nampak terpampang di depan mata. Semua hal yang sifatnya money oriented dengan segala bentuk sindiran dan diskusinya dipaparkan gamblang dalam keseriusan atau kejenakaan. Sering merasa aneh ketika orang bangga dengan bunga hasil menanam saham, tapi sungguh bagi saya, hal itu masih tampak seperti permainan angka, tidak lebih meskipun nominalnya toh tetap bisa dipakai buat jajan.

Saya sendiri memandang uang dengan cara yang sedikit berbeda barangkali. Sistem perbankan hari ini tak ubahnya wahana permainan dimana kita semua pion-pion kroco yang menjadi garda depan permainan ini. Keuntungan yang kita dapat dari jual-beli saham atau investasi apapun hanya persoalanan itung-itungan sederhana. Tapi tetap saja orang-orang yang paling bekerja keras untuk betul-betul membuat angka itu berharga hanyalah orang-orang yang mengekstraksi hasil bumi, lalu selanjutnya yang memproduksi dan mengolah. Tanpa mereka, angka itu tidak berharga. Tengoklah Venezuela kalau belum yakin.

Jadi, dibandingkan menempatkan uang sebagai tujuan, saya kira dia harus tetap ditempatkan sebagai perantara, penengah, media, alat, untuk mendapatkan sumber daya yang akan menjamin kelangsungan hidup, mental, dan intelektual kita sebagai manusia. Karena tidak lahir dengan kekayaan sumber daya itulah kita membutuhkan uang untuk mendekatkan diri ke sumber daya itu.

Perkaranya, kini orang mengubah posisinya dan cenderung menyerahkan sumber daya untuk mendapatkan uang. Dan ini juga terkait intelektualitas dan moral. Kan bego.

Ah sudahlah, saya mau tidur dulu. Atas ketidakjelasan narasi dan kesulitan memahami maksud, saya mon maap.

wordsflow

Shoplifter


From several months ago, I remember it was at the end of the year, the first time I heard about this movie title, and sadly I didn’t get any chances to watch it after several times trying to see the movie screening. But yeah, thanks God that we have the free channel to watch good movies for free, hehe, so that I finally could have it for myself today.

You know, I need 5 minutes to recover after seeing the final scene. Every part of it was really touching and even after hours I still feel the after-effect strongly. Maybe because I feel that it was too true to be just being a film, or it touched something inside me yet making me unable to stop thinking about it.

Their simplicity of loving, and their view toward a family somehow left a big hole in my chest, too sweet yet bitter at the same time. No words could describe it better than that.

wordsflow

di sini, kini.


Sesuai janji hari-hari kemarin bahwa saya akan langsung menuliskan hal-hal yang saya dapatkan di hari ini juga sebelum saya kehilangan kesan, dan yah, after-thought tentang hal-hal yang saya dapat.

Sebuah privilege kalo boleh saya sebut demikian, karena saya dikaruniai lingkaran pertemanan yang bisa membawa saya ke hal-hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Misalnya ketika tiba-tiba saya kenal dengan crater senior di Indonesia melalui event atau sesedehana berhubungan online lewat instagram.Tanpa sadar saya sering panjat sosial, bukan untuk popularitas, tapi barangkali untuk membukakan jalan bagi saya yang gamang ke kanal-kanal yang lebih variatif dan memiliki sesuatu yang lebih besar dari yang pernah saya bayangkan.

Untuk itu, sampailah saya di hari ini, di tempat ini, mengetik untuk kamu semua (dan tentunya mengetik untuk saya sendiri juga) tentang hal-hal yang seharusnya saya salurkan kembali kepada orang-orang yang membutuhkan.

Mari mulai dengan sempalan ingatan, bahwa di dunia ini, kita adalah orang yang paling berpengalaman dalam menjalani hidup kita sendiri. Kita lah yang bersama dengan diri kita, kemarin, sekarang, atau entah kapan nanti, dan tidak ada orang lain yang memiliki garis takdir, atau jalan hidup yang persis sama. Untuk itu kita istimewa.

Tapi angan-angan indah itu harus tertampar oleh kenyataan bahwa dengannya, tidak akan ada orang lain yang cukup mampu untuk mengajarkan bagaimana cara hidup dengan benar, seperti apa hidup yang bahagia dan menyenangkan, atau seperti apakah hidup yang ideal? Kita semua sama mencari, dan pelan-pelan kita sadar bahwa kita akan ditinggalkan seorang diri, pada akhirnya.

Selama beberapa hari belakangan jadwal tidur saya terganggu secara mengejutkan. Saya mengalami lucid dream dalam 3 hari terakhir dengan ‘tokoh-tokoh’ yang sama setiap harinya. Luar biasa melelahkan karena begitu bangun saya seolah belum merasakan tidur. Belum lagi setelahnya saya ‘diganggu’ oleh kesan atas masing-masing mimpinya dan yah, dihantui kecemasan bahwa saya akan memiliki mimpi lain lagi di malam ini. Tapi mari kesampingkan itu sejenak untuk saya pikirkan nanti.

Well, saya berkesempatan ikut serta dalam diskusi mengenai hidup sehat di ibukota. Sebuah tema yang sangat menarik karena narasumber yang hadir adalah psikiater, musisi, praktisi nutrisi, praktisi mindfulness, serta dipandu seorang antropolog sekaligus tukang kebun merangkap musisi.

Ketika saya sampai di lokasi, tema sehat ini langsung disasar pada urusan mental health, sesuatu yang menghantui kita semua, sebagai konsekuensi atas segala kemajuan yang kita capai di hari ini.

Saya sendiri bukan sekali ini bersinggungan dengan hal ini sebagaimana yang juga pernah saya sebut di postingan sebelumnya, saya pernah dengan arogan mendiagnosis diri saya memiliki gangguan dan berupaya dengan cara dan berbagai hal untuk sedapat mungkin keluar dari masalah ini, seorang diri. Saya telusuri ke belakang, saya punya dua hal yang menyelamatkan saya di waktu-waktu paling buruk ketika itu. Pertama, bahwa saya memiliki cinta untuk seseorang dan sesuatu yang mana itu menumbuhkan hal kedua, bahwa saya merasa terlalu arogan untuk berani-beraninya membuang raga saya dan membuatnya tanpa guna. Pada pijakan yang tidak cukup kuat tersebut, saya mampu bertahan hingga hari ini. Syukur sekali.

Bicara tentang diskusi tadi, ada beberapa hal yang saya catat karena menurut saya itu penting, meskipun klise. Sebagai catatan, kadang kita terjebak pada persoalan berpikir positif atau bukan. Padahal yang sebetulnya penting adalah feel what we truly feel. Lalu menerima itu sebagai bagian dari proses.

(Wow, saya merasa semacam lagi ceramah. Sorry for that, dan sila lewati aja kalo merasa nggak penting, hehe.)

Ada banyak teman-teman yang memiliki permasalahan lebih rumit dari saya. Bedanya, kadang mereka aware lebih awal, sehingga ketika pertama saling bertemu kami sedang berada pada fase yang berbeda, dan menjadikan itu sulit dibandingkan.Yang paling kentara adalah soal bandelnya. Pada fase lanjut, kita telah menerima beberapa hal mendasar yang berguna sebagai pijakan untuk maju ke tahap ‘penyembuhan’ (saya nggak suka istilah ini), ya atau sebut saja penerimaan lebih lanjut. Dialog antara orang yang baru tahap aware dan orang yang sudah being akan mentok pada urusan ‘tapi’. Kadang-kadang, kita lebih takut untuk meninggalkan zona keterpurukan itu karena sudah terlalu lama, dia sudah menjadi bagian dari keseharian dimana kita sudah maklum. Akhirnya kita tidak pernah mulai menapaki jalan menuju being.

Saya melalui tahapan itu cukup lama, dan barangkali tidak tuntas begitu saja karena banyak negosiasi antara saya dan diri saya yang lain. Banyak toleransi yang saya berikan ke diri sendiri agar mampu menapaki fase being dengan lebih yakin.

Saya sendiri merasa sangat beruntung karena setelah tahun-tahun yang panjang, saya menyadari bahwa langkah-langkah yang saya ambil untuk menangani semua ini tidaklah sungguh-sungguh salah. Kepekaan saya pada perasaan (sebut saja kebaperan) membuat saya memiliki awareness yang cukup untuk membantu saya keluar dari masalah. Berdialog dengan diri sendiri, bercermin pada apa-apa yang ada di sekitar kita, mengambil jeda dalam sepenggal waktu untuk betul-betul merasakan apa yang kita rasakan, lalu pelan-pelan menghilangkan kemelekatan (meminjam istilah Rara Sekar) kita pada keinginan.

Tidak semudah itu tentunya. Ada banyak distraksi dan godaan untuk kembali bernaung di bawah kenyamanan perasaan terbuang, perasaan kalah, dan perasaan-perasaan lain yang serupa. Saya ingat, saya pernah 2 hari sekali jogging untuk membuang energi negatif sembari berpikir tentang banyak hal. Atau bacalah tulisan-tulisan soal mandi yang membuat saya merasakan how to be here at the moment. Belakangan saya baru tahu itu adalah metode-metode yang digunakan untuk menuju mindfulness.

Meskipun tujuan tulisan ini tidak jelas, saya mau ngasih satu rekomendasi buku yang menurut saya menarik. Bacalah buku Haruki Murakami tentang what I talk about when I talk about running. Buku itu tidak menjelaskan apapun soal mental health, tapi Murakami sendiri punya kecenderungan itu. Salah satu metodenya adalah dengan marathon. Pada beberapa bagian bukunya, dia membantu saya membangun pondasi soal being aware tentang diri kita sebagai kesatuan mind and soul, yang tidak berdiri secara terpisah, tapi hidup bersama saling mempengaruhi dan mengambil andil atas satu sama lain. Buku itu sangat transendental, dan reflektif sih menurut saya.

Demikian sekilas info.

wordsflow

I am constantly inspired by people who talk about dreams.


Ketika bangun di pagi hari ini, karena perut saya yang tidak bersahabat, saya tetiba teringat wawancara Mbak Nana dan Maudy Ayunda yang belum juga berhasil saya tonton meskipun sudah berkali-kali melihat, membaca, dan mendengarkan pembahasan mengenai wawancara mereka ini. Maka dengan badan masih menempel di kasur di subuh buta dan gemericik hujan di balik jendela (tsah, sok puitis najong) saya membuka youtube dan langsung menemukan videonya di jajaran rekomendasi.

Singkatnya, saya suka sih gaya mereka dalam membahas dan bertukar cerita di dalam video singkat tersebut. They were so pure that they talked from the heart, and I feel like they are trying to convince themselves (instead of others) that they really do something good for themselves, for their own existence.

Dari percakapan singkat itu, saya menggali kembali memori-memori masa lalu saya terutama yang berkisar tentang mimpi. Misalnya saya ingat kira-kira di tahun 2014 ketika saya belum lulus, kami pernah membicarakan tentang cita-cita selepas kuliah. Saya masih sering bilang dengan bercanda kalau mau masuk antro, entah dengan cara seperti apa. Sama halnya dengan teman saya yang juga bercerita bahwa selepas lulus akan langsung kuliah ke jurusan lain yang tidak linear, lalu menjadi peneliti di bidang yang paling dia suka. “Yang penting masih bisa outdoor,” begitu katanya suatu hari. Waktu itu, hal-hal semacam itu masih terasa cukup jauh sementara skripsi belum juga selesai.

Lebih awal lagi, saya pernah berkeinginan untuk sesekali merasakan menjadi penerima beasiswa, sesederhana karena selama sekolah dulu saya selalu tidak diperbolehkan mengajukan beasiswa karena profesi orang tua saya. Atau ingin sesekali menang lomba nyanyi atau lomba menggambar (yang mana akhirnya pernah juga saya peroleh). Atau contoh lainnya, sejak saya SD saya selalu berkeinginan untuk mendaki Merbabu sampai akhirnya sudah tidak terhitung lagi berapa kali saya mendaki gunung itu sampai hari ini.

Kadang mimpi muncul sekelebat saja di dalam benak tapi diam-diam hati kita meyakini dan mengamininya setiap hari. Tanpa sadar lantas menggerakkan diri kita, fisik dan pikiran hingga seolah tanpa sadar keyakinan itu membawa pada hal-hal yang dekat dengan tujuan. Seolah-olah dia bekerja tanpa mampu kita pahami.

Sering sekali hal semacam ini baru saya sadari ketika ada orang lain yang mencoba memancing kembali ingatan saya tentang sesuatu. Atau ketika saya mempertanyakan hal-hal yang saya jalani di hari ini. Lagi-lagi saya masih dibuat takjub dengan cara-cara ajaib yang menggubah diri saya menjadi pribadi yang yah, lebih baik.

Saya kadang mengingat kembali hal-hal yang saya pikir penting di waktu-waktu saya masih taman kanak-kanak atau saat duduk di bangku sekolah dasar. Setiap hari ada motivasi baru yang mendorong untuk mencapai sesuatu. Lucu juga ketika ingat bahwa mayoritas yang saya miliki adalah motivasi negatif, misalnya karena iri dengan teman sekelas, karena ingin mendapat perhatian dari orang lain, karena saya tidak suka kalah, atau hal-hal lain yang sifatnya kompetitif.

Kadang setiap ingat hal jelek di masa lalu saya masih bertanya-tanya apakah ada teman saya yang masih mengingat kejadian buruk itu. Misalnya ketika kelas 4 SD saya pernah melempar teman saya dengan penghapus kayu, efek nonton adegan yang sama di TV. Juga saat saya jatuh ke sungai sambil masih naik sepeda. Atau ketika saya marah-marah di SMA karena seorang teman menghilangkan flashdisk (ya ampun malu banget). Momen-momen cengeng setiap saya disuruh menyampaikan pendapat dalam debat. Atau ketika saya marah mutung karena diledek secara fisik.

Tapi terlalu banyak ingatan yang sudah memudar jauh di belakang sana. Hanya sekelumit saja yang masih saya ingat sebagai babak yang paling berkesan atau setidaknya masih menyisakan sesuatu sampai-sampai sering saya mimpikan di malam hari. Beberapa ingatan di saat kuliah tertoreh lebih tegas dan lebih kuat, terutama di kurun waktu 2011-2014 ketika saya sangat aktif di Satub. Setiap hal yang saya lakukan cukup jelas bahkan untuk diceritakan kembali dengan detil. Salah satu fase hidup paling penting lah kalau boleh saya sebut demikian.

Semakin ke sini, hal-hal yang dulu disebut mimpi kalau bukan sudah dicapai ya berarti sudah di depan mata. Paling terharu waktu tiba-tiba karib saya bilang dia berhasil masuk ke kampus impiannya. Atau ketika kawan saya yang lain ngasih kabar bahwa dia menikahi pasangan idamannya sejak sekolah. Semacam kemustahilan yang bisa membuat kita berpikir ulang sekali lagi bahwa ‘oh, ternyata itu mungkin untuk diwujudkan kok’. Di beberapa fase kadang memang ada pertanyaan semacam ‘kenapa orang lain bisa dan aku enggak?’ Saya dan karib saya pernah membahas ini untuk kemudian berkesimpulan bahwa selalu ada titik dimana kita ditampar dan dibukakan pada kenyataan pahit, tapi it doesn’t mean that we have to stop right away.

Dan seklise apapun tulisan ini, atau seambisius apapun subjek yang menulis ini, kadang menuliskan satu mimpi baru tidaklah sekekanak-kanakan itu. (merasa dejavu, sepertinya sebelum ini topik ini pernah saya bahas berulang kali) Dan mungkin naif. Tapi apalah arti tuduhan semacam itu di dunia yang tidak memiliki keistimewaan tertentu ini? Saat terkadang individu hanya berupa angka tanpa makna. Jadi yah, mari terus bermimpi. Klise kan? Huehe.

wordsflow

taman yang tidak pada tempatnya.


Sedikit membagi cerita tentang hari ini.

Dibandingkan hari-hari sebelumnya, hari ini sedikit berbeda. Satu hal yang saya sadari, ketika pindah domisili, setiap orang paling takut ketika tidak mampu membangun hubungan dengan manusia baru di lingkungan barunya.

Saya begitu, beberapa orang yang berbagi cerita dengan saya juga begitu, bahkan hasil amatan saya pada beberapa orang yang saya tahu mengindikasikan hal yang sama. Beberapa kali tukar cerita dengan kawan yang baru saja menikah, kesemuanya mengkhawatirkan lingkungan baru mereka. Dengan siapa misalnya, mereka nantinya akan berbagi cerita, dengan siapa keluar rumah atau pergi menonton film, atau hal-hal lain yang sebelumnya dilakukan dengan kawan dekat, praktis harus dilakukan sendiri atau yah, mulai mencari pengganti kawan lama.

Tentu tidak mudah menemukan orang yang cocok dengan diri kita. Pilihannya hanya dua, berusaha bertahan dan tetap mencari, atau pelan-pelan beradaptasi dengan apapun yang disediakan oleh lingkungan baru kita. Tentu saja itu bukan perkara mudah. Saya sendiri dianugerahi keberuntungan menemukan teman baru yang satu frekuensi dan menyenangkan, bisa diajak bekerja sama dan memiliki etos kerja positif. Kadang sifat mereka yang terlampau positif membuat saya malu dan mendorong saya untuk juga berlaku yang sama. Kadangkala hubungan itu masih terasa sangat sementara, yang sifatnya sambil lalu saja dan saya akan merasakan hal yang sangat berbeda begitu sampai di ruang privat saya.

Lalu, meski lingkungan baru ini jauh lebih baik dari yang pernah saya bayangkan sebelumnya, sore ini saya sedikit tertampar dengan ketidakramahan kota ini.

Saya pulang lebih malam dibanding biasanya karena memutuskan makan malam keluar dengan rekan kerja. Mungkin ini bisa saya anggap langkah lebih jauh yang kami ambil sebagai rekan kerja. Kami seumuran, pernah sekamar dan mulai membagi hal-hal yang sifatnya lebih privat. Saya cukup kagum karena dia sendiri sudah memiliki anak 2 tahun dan tetep berarsitektur, tetap bekerja. Kami sepakat bahwa setiap orang memiliki ceritanya masing-masing, dan saking anehnya kadang terlampau tidak terjangkau untuk orang lain yang hanya mendengarkan.

Selepas perpisahan itu kami berpisah bus. Bus kami baru setengah jalan ketika mendadak bus menabrak sesuatu. Beberapa penumpang terpental dan beruntungnya saja bisa mengendalikan diri. Ban bus kami terperosok di bagian taman–yang menurut saya tidak seharusnya ada di sana. Saya pikir bus akan mudah keluar, tapi ternyata tidak. Saking suara gesekannya mengkhawatirkan, saya menawarkan ke sopir untuk mengajak penumpang lain agar turun, takut ass busnya patah karena dipaksa. Setelah sekali penolakan, akhirnya si bapak pun mengiyakan.

Kami keluar ke pinggir jalan dan benar saja, ban bus tidak bisa keluar karena beban bus mendorong ban lebih jauh ke dalam. Karena bus mulai sepi, sopir mulai memundurkan bus perlahan. Saya masih melihat sekitar 10 bapak-bapak yang tidak mau turun dari bus. Kami memang tidak bantu mendorong, saya yah, hanya membantu menginstruksikan bus di belakangnya untuk mundur dan mengarahkan pak sopir. Untungnya bus segera bisa keluar dari kekacauan dan kami semua naik kembali ke dalam bus.

Sebetulnya kami bisa langsung jalan. Tetapi karena teranjur menghubungi mobil derek akhirnya bus harus menunggu mobil itu datang. Mulailah terjadi kerusuhan di dalam bus. Bapak-bapak yang sedari tadi tidak turun bus mulai ngata-ngatain pak sopirnya. Intinya meminta kejelasan nasib mereka. Meskipun seolah-olah ditelantarkan, bus itu nggak kenapa-napa, dan kami baru menunggu 5 menit sejak ban bus keluar dari masalah. Dalam sekejab semakin banyak yang ngomong kenceng dan ngata-ngatain bapaknya. Menit berikutnya kami dipersilakan turun dan mengambil bus di belakang yang mengantre jalur.

Kejadian tadi cukup membuat saya pribadi kesal luar biasa sih. Yang saya heran adalah bapak-bapak yang sama sekali tidak membantu ini seolah-olah yang membantu paling banyak atau punya kontribusi cukup banyak. Padahal mereka ini nggak turun dari bus, dan bukankah sama aja kayak pak sopirnya, sama-sama kerja yang barangkali seumuran pun sama-sama punya keluarga di rumahnya. Heran ih.

Dan begitulah kadang saya selalu merasa tidak memiliki pemahaman yang cukup untuk mampu memahami semua manusia yang pernah saya temui, menerka perasaan dan menganalisis jalan pikirannya. Tapi sebatas itu saja memang kemampuan saya dalam menilai dan berempati ke orang lain. Dan akan selalu ada orang-orang yang ‘menampar’ saya lantas membukakan mata saya terhadap apa-apa yang tidak mampu saya pahami di dunia ini.

Begitulah hari ini saya hanya mampu untuk mencoba menghapus kekesalan saya dengan berterima kasih ke pak sopir ketika saya turun sebagai penumpang terakhir bus.

wordsflow

Merawat waktu. (ii)


Saya hampir melupakan cerita ini karena belakangan saya merasa ada perubahan internalisasi kronologis (iki istilah opo ya tuhaan) yang saya alami karena begitu intensnya berpindah tempat dan kelompok sosial serta waktu tidak lagi dibatasi oleh siang dan malam atau hari ini dan kemarin, tapi ada sangat banyak perubahan yang membuat saya kadang tidak mampu mencerna secara sempurna hal-hal yang saya alami secara kronologis. Demikian setelah ini agaknya saya akan mencoba untuk tidak menunda penulisan apapun karena itu akan menjauhkan saya dari kesan yang saya peroleh atas peristiwa tertentu.

Mari melanjutkan cerita sebelumnya setelah saya kembali ke Jogja.

Di malam itu, saya berjumpa kembali dengan kawan lama yang notabene kami adalah mantan calon teman kkn. Kami tentu tidak sungguh akrab. Anehnya, sering sekali teman saya ini meminta berjumpa untuk sekadar menceritakan kesehariannya. Kami juga tidak pernah sungguh-sungguh bertukar kabar, hanya sesekali saja melalui media sosial. Mungkin yah, saya memang populer di kalangan rekan perempuan, huehe.

Keesokan harinya, saya berangkat pagi-pagi betul karena harus sampai di lokasi yang berjarak 1 jam dari Satub. Beruntung sekali teman saya mau ngasih pinjaman motor mengingat motor saya sudah dipulangkan bulan lalu. Dan bertemulah saya kemudian dengan temannya Lena. Mereka rombongan, sebagaimana yang dikabarkan kepada saya sebelum bertemu. Begitu datang kami langsung akrab, saling kenalan dan ngobrol. Baru belakangan saya tahu bahwa mereka pun belum pernah bertemu Lena. Hanya bertukar email dan yasudah, dibawalah mereka ke saya.

Bentukan saya di jauh sana yang seketika gosong diterpa matahari dan pliket karena air laut, heu.

Meski hari itu biasa saja, saya memahami bahwa menemukan orang yang bisa membantu di negeri seberang bukan hal yang sepele buat mereka. Bahkan dalam waktu yang sesingkat itu, dan mungkin kontribusi yang tidak seberapa terhadap perjalanan mereka, saya kira ada hal-hal manis yang tetap bisa dikenang, hehe. Di akhir hari, saya menerima sebuah kartu pos yang sengaja mereka bawa dari Landshut. It’s soo me and I love it.

Mereka menambah koleksi kartu pos yang sudah ditulisi, so love!

Meskipun masih punya keinginan untuk menemani teman-teman baru saya ini lebih lama lagi, tapi saya harus mengejar kereta ke Kutoarjo karena saya mengambil start dari sana. Yah, begitulah petualangan perkeretaan saya membuat saya punya pengetahuan soal kereta apa yang paling laku, waktu-waktu perjalanan paling efisien, rute alternatif, dan stasiun-stasiun pendukung perjalanan saya dari dan ke Jogja.

Perjalanan saya ke stasiun dibantu oleh teman satu Satub saya yang lain. Kadang begitulah ironi itu ada misalnya ketika saya sedang begitu bahagia seperti sore itu karena pernikahan teman baik saya dan hari yang menyenangkan, saya mendorong diri untuk mencari tahu hal yang terjadi pada teman saya yang lain. Sungguh saya sedih, meskipun si teman ini hanya bisa tertawa-tawa untuk mengimbangi kesedihannya tapi untuk menjalani hal-hal semacam perceraian dan rusaknya keluarga inti bukanlah hal yang mudah untuk dilalui. Kadang itu menampar saya begitu keras hingga menyadarkan kembali betapa sering saya mengeluhkan hal yang terjadi pada saya padahal banyak orang lain yang hidupnya tidak semulus ini. Tapi setidaknya saya ada sore itu untuk mendengarkan hal-hal yang ingin ia ceritakan.

Di waktu semacam ini saya sering mengingatkan diri sendiri untuk lebih banyak menerima hal-hal yang terjadi dalam hidup karena kadang memang begitu tiba-tiba. Bisa jadi kita bahagia luar biasa lalu detik berikutnya dilanda duka. Memang benar bahwa absurditas dan keputusasaan tidak akan pernah membawa kemana-mana, tapi saya juga tidak bisa serta menghilangkan perasaan itu dalam proses memahami sesuatu. If you know what I mean.

Dan sering sekali setiap saya merasa begitu tidak diterima oleh seseorang, ada orang-orang lain yang mencerahkan dan meluluhkan kekeraskepalaan saya dan memaksa saya menghapus kesedihan. Misalnya di pagi buta mendengar ibu-ibu cerita tentang upayanya berkunjung untuk melihat cucunya yang baru lahir, membantu memesankan taxi online untuk si ibu dan memastikan dia baik-baik saja. Atau tetiba menemukan panggilan berulang kali karena ada orang kebingungan mau mengembalikan dompet kartu saya yang jatuh di kereta.

Seperti itulah bahwa waktu sering kali tidak menjadi bagian yang bisa diajak kompromi. Tapi dia juga sebegitu bukan apa-apanya dia hingga tanpa menyadari pergerakannya pun kita masih bisa memaknai banyak hal. Jadi mari merawat apa yang ada dan bersiasat dengan hal-hal yang dikasih. Eaaa. Mbuh ah, teuing.

Terakhir, saya kasih bonus foto saujana karst Gombong sepulang dari Tasik ke Jogja. Saya sudah jatuh cinta dengan bentangan ini sejak pertama kali bolak-balik asrama semasa SMA. Bentukannya yang asik membuat saya menciptakan Ervas dan petualangannya, hehe.

wordsflow

tentang hari kemarin.


Manusia terpisah sepenuhnya dengan apa-apa yang tidak pernah dialami olehnya. Tapi kita punya hal-hal yang bisa membantu kita untuk memahami dan berempati, pertama adalah imajinasi, dan kedua adalah memori.

saya yang kemarin

Baiklah kita mulai tulisan ini dengan sebuah sempalan pemikiran yang tiba-tiba mampu saya sarikan dari permikiran saya yang yah, rumit. Saya katakan demikian karena selama sekian lama saya meyakini bahwa imajinasi dan kemampuan manusia untuk berkesenian merupakan hal yang amat sangat penting dalam fungsinya untuk membantu kita merencanakan, melakukan, dan memaknai hidup tapi saya selalu bingung menyarikan pemikiran itu ke dalam kalimat yang mudah dipahami. Walhasil, perbincangan mengenai hal tersebut atau diskusi-diskusi yang terbentuk sebatas pada ungkapan kegelisahan saya tanpa betul-betul mampu saya jelaskan kenapa pernyataan itu muncul, tujuan adanya diskusi tersebut, dan apa korelasinya dengan hidup.

Kebetulan sekali saya baru membaca Sapiens setelah saya anggurin selama satu tahun terakhir. Tidak jauh berbeda dengan semua buku yang membicarakan tentang evolusi makhluk hidup dengan sengaja atau tidak kemudian membahas manusia sebagai pokok perbincangannya, kesemuanya menempatkan ‘kemunculan’ manusia atau dalam bahasa lebih kerennya adalah evolusi manusia sebagai sesuatu yang menurut saya, absurd. Dengan fakta-fakta yang terkumpul bahwa pembentukan manusia murni sebagai sebuah proses evolusi yang tidak sengaja, dimana geraknya juga mana suka dan bahkan perkembangannya juga tidak terduga, saya merasa bahwa yah, kita ini biasa saja. Sebatas buah dari ketidaksengajaan semesta.

Saya tentu akan dikutuk oleh manusia beriman di hari ini jika dengan entengnya berkata demikian, tapi mari akui hal itu. Meski demikian, begitu saya mencoba untuk memasuki keyakinan bahwa manusia tercipta sebagai proses evolusi, ada bagian diri saya yang berontak dan menafikkan fakta itu. Pertama, disamping karena dengan mencoba meyakininya saya menjadi insecure, saya juga tidak suka karena dengan demikian, saya jadi menganulir proses berpikir yang saya lakukan sekarang ini, detik ini. Apa sebab? Karena jika memang evolusi berjalan begitu saja dan mana suka, artinya tidak ada hal khusus yang sebetulnya ditujukan untuk individu atau makhluk tertentu karena jelas, semua orang memiliki kesempatan berkembang yang sama sebagaimana yang lainnya. Saya hanya buah ketidaksengajaan; lalu saya ini apa?

Anehnya, pada saat yang bersamaan pernyataan barusan juga secara tidak langsung mempercayai bahwa akan ada individu atau entitas tertentu yang punya daya juang dan daya lesat jauh mengungguli entitas lainnya. Bukankah itu jadi membingungkan karena perdebatan ini akhirnya juga saya debat kembali dengan pernyataan yang berlawanan. Kadang saya berhenti membaca sesuatu karena kegelisahan saya meningkat dan tidak tertanggungkan. Seperti misalnya mencoba mendalami Sapiens dan mempertanyakan “Apa jangan-jangan pada akhirnya hidup sebegitu tidak ada gunanya? Bahwa kita betul-betul tanpa kecuali hanya sebatas satu makhluk biasa di antara 7 milyar yang lainnya”.

Beruntungnya, Harari tidak berhenti sampai di awal penjelasannya tentang manusia. Masih ada bab-bab lain yang akan bisa menjelaskan kegelisahan saya dan mungkin menjawab pertanyaan eksistensial saya yang sampai hari ini belum juga terjawab oleh diri saya sendiri. Tapi secara singkat pusat kegelisahan saya memang hanya pada tahap kemunculan dan proses pembentukan spesies kita. Jadi yah, bagian selanjutnya tidak serta-merta menenangkan pemikiran saya, pada akhirnya. Hehe.

Well, anggaplah kemudian bahwa beberapa paragraf di atas adalah permulaan dari pembahasan saya lebih lanjut tentang hal-hal yang saya pikirkan. Postingan ini hanya sebatas ingin menjelaskan tentang pernyataan di awal mengenai pentingnya imajinasi dan seni–setidaknya begitulah yang saya bayangkan.

Pertama-tama, semua ini bermula karena kegelisahan saya ketika sedang mengambil studi lintas jurusan lantas begitu sering mendapatkan pertanyaan mengenai alasan saya mengambil studi demikian. Kadang terasa begitu naif ketika menjawab bahwa saya ingin mempelajari hal yang saya suka atau setidaknya membuat saya penasaran. Toh akhirnya saya juga berakhir di bangku ini menjadi pekerja kantoran dan melakukan kerja-kerja harian yang menurut kebanyakan orang membosankan.

Tapi bukan itu persoalannya. Beberapa kali dalam perbincangan saya dengan sahabat saya sejak kecil memunculkan kesadaran bahwa inti perkembangan kita ada pada akhirnya soal imajinasi. Bahwa sebagaimana yang juga dikatakan oleh Harari, Diamond, Marx, atau banyak tokoh antropologi, sosiologi, atau bahkan tukang dongeng sekalipun, kesemuanya, secara langsung maupun tidak langsung berkata bahwa manusia berkembang dan mengembangkan kemampuannya atas dasar mitos, imajinasi, atau harapan-harapan tentang sesuatu yang tidak ada, belum mewujud, sesuatu yang baru akan ada di masa depan. Itu juga berlaku pada keinginan untuk berkreasi maupun dalam aspek apapun yang dilakukan manusia di dunia ini.

Jadi, eksistensi kita tidak berhenti sebatas pada apa yang saya lakukan sekarang. Bahwa saya menjadi pekerja kantoran dan rela duduk 8 jam dalam sehari melakukan hal monoton yang membosankan tidak serta merta menurunkan makna saya sebagai individu. Pun tidak lantas seseorang lain yang mungkin memiliki keseharian yang jauh lebih dinamis menjadi orang yang bermakna lebih dibandingkan dengan saya yang biasa saja.

Pada titik inilah kemudian saya tersadar bahwa demikian, dalam posisi apapun kita tidak lantas menjadi entitas yang sekadarnya saja, yang bukan menjalani sesuatu karena memang begitulah jalan yang harus kita lalui, bukan sebuah ketidaksengajaan yang mana suka lagi karena kita bukan organisme tanpa kesadaran. ‘Kepasrahan’ pada jalan hidup yang akhirnya kita terima bukan pada persoalan apa yang dikasih, lagi-lagi semua ini bermula dari apa yang kita imajinasikan tentang sesuatu yang ingin kita dapatkan. Bingung nggak?

Saya bayangkan misal pada kurikulum pendidikan yang menghilangkan pendidikan keterampilan dan belakangan ilmu sosial, akan secara perlahan menghilangkan kemampuan kita untuk menciptakan dan berempati karena kita pelan-pelan kehilangan imajinasi tentang itu. Pengembangan kreativitas atau ‘ekstraksi’ imajinatif kita akan sesuatu, misalnya dalam menciptakan kerajinan, bermusik, atau hal-hal non-praktikal dan keilmuan lainnya sebetulnya membantu kita mencerminkan eksistensi kita pada sesuatu di luar diri, apapun itu. Pada benda mati, pada hasil karya kita, pada entitas lain, pada manusia lain, pada maha luasnya alam semesta, atau pada fananya tubuh manusia.

Sebetulnya ini juga semacam repetisi pemikiran internal saya setiap kali kecemasan meningkat. Ada hal-hal yang tetap istimewa bagi saya sebagai sebuah entitas tunggal, bahwa misalnya, saya bisa mencintai satu orang secara khusus di hidup saya. Atau jika benar kita sebegitu tidak berguna, ada begitu saja dan tanpa tujuan, setidaknya saya masih bisa melihat ketersesatan itu dialami banyak orang secara bersama-sama. Dan oleh karenanya kita menjadi sesuatu setidaknya untuk satu sama lainnya.

Persoalan imajinasi ini menjadi sebuah pokok pemikiran saya dan juga untuk menjelaskan kenapa saya butuh media untuk mengekspresikan pemikiran saya atau hal-hal yang saya pikirkan untuk mewujud di dunia ini. Misalnya alasan-alasan kenapa saya tetap menulis, mengerjakan hal-hal kecil seperti merajut, menggambar, membuat buku, berimajinasi, mengarang cerita, atau bahkan bermimpi dan membangun cita-cita baru, pada dasarnya adalah upaya untuk menjadikan perjalanan hidup tidak sekadar soal penerimaan. Pun dengan berbagai upaya pengembangan imajinasi itu dan memperkaya pengalaman hidup apapun, saya memiliki bekal yang cukup untuk menempatkan diri pada posisi entitas lain yang ingin saya pahami.

Tapi kemudian harus saya sampaikan bahwa tulisan ini tidak bermaksud mengajak kalian untuk melakukan sesuatu atau beralih menyetujui pendapat saya. Lagi-lagi semua ini saya tuliskan untuk menenangkan keresahan eksistensial saya sebagai manusia dan sebagai individu dan karenanya, biarkan saya cukup puas dengan penjelasan ini.

Saya hanya merasa menemukan sesuatu yang sebelumnya berada pada posisi ‘sepertinya saya paham tapi sulit menjelaskan’. Barangkali rangkaian kalimat ini masih begitu membingungkan untuk pembaca sekalian, atau ternyata kalian anggap sebagai ‘oh, itu mah aku juga paham’. Untuk itu harus saya katakan bahwa saya tidak masalah dengan apapun yang kalian pikirkan. Petualangan saya untuk mempertanyakan hal-hal dan mencari jawabannya toh tidak akan berhenti hanya dengan penjelasan ini. Barangkali–siapa yang tahu?–ini hanyalah hal-hal yang saya percayai sejak saya pahami hingga saya selesai mengetikkan semuanya, hehe. Tapi begitulah, memang kita akan terus menerus dibelenggu oleh pertanyaan eksistensial. So cheers!

wordsflow