WORDS FLOW

setiap pengalaman pantas untuk diingat

tentang laki-laki dalam hidupku


Aku memiliki beberapa laki-laki dalam hidupku, dan tentu saja kamu ada di antara mereka yang kuanggap sebagai ‘laki-laki dalam hidupku’. Pertanyaan ini akan menuju, terutama pada soal masa depan kehidupanku, tentang laki-laki yang bagaimana yang akan membuatku tidak merasa kesepian, atau yang seperti apa yang bisa menjauhkanku dari perasaan terbuang.

Aku telah melihat berbagai jenis laki-laki, dan berbagai bentuk suami. Kesemuanya tidak sama, cara berpikirnya, kesukaannya, cara mengurus anak, cara memandang istri mereka, atau bahkan cara memandang perempuan lain, dan seterusnya, dan seterusnya. Di sepanjang jalan pulang semalam, saya tetiba mengingatmu dengan berbagai cara yang bisa kuingat. Sebagai seorang kawan yang menyenangkan, pun menyebalkan. Sebagai seorang yang cara berpikirnya kusukai, pun tidak kusukai pada saat yang bersamaan. Yang hidupnya kuketahui, dan tidak kuketahui pula. Yang baik dan buruknya coba aku pahami.

Tiba-tiba aku menginginkan seorang laki-laki dalam hidupku. Yang setiap malam akan menceritakan hari-harinya, lalu bertanya tentang hari-hariku. Kita akan saling berpelukan di bawah selimut yang sama sembari bercerita tentang apapun yang mungkin saling ingin kita ketahui. Di siang-siang kita, tidak harus kita berjalan berdampingan, atau berkunjung ke tempat yang sama. Tidak perlu. Kita hanya perlu menyelinap ke selimut masing-masing, lalu berbincang dengan khidmat hingga kita tertidur pulas sembari berpelukan berdua.

Aku tidak perlu tahu apa saja yang kamu lakukan dalam hari-harimu, sebagaimana aku percaya kita akan tetap saling mengerti. Bukankah kita akan saling berbincang saat bertatap muka? Mungkin berkabar sekali dua kali akan menyenangkan, menunggu-nunggu waktu-waktu bertemu denganmu setiap waktu, lalu kita akan melepas rindu. Kita akan berdekapan bergitu saja.

Lalu kamu akan tahu dalam detak jantung yang seperti apa diriku saat berdekatan denganmu, atau aku akan tahu bagaimana dirimu saat berdekatan denganku. Suara napas kita akan beriringan membawa kita pada mimpi-mimpi ke alam bawah sadar. Dengan cara seperti itu kita akan menghabiskan malam-malam kita.

Lalu ketika pagi, aku akan mengecupmu pelan jika aku tidak bangun terlalu siang. Kadang-kadang mungkin kita akan terburu-buru berbenah untuk segera ke tempat kerja. Atau mungkin kita akan bekerja di rumah! Kadang kita juga bisa sama-sama mengambil cuti, berkemah ke tempat dingin, menonton film tentang perang, petualangan, atau bahkan film-film kartun.

Bagaimanapun, aku yakin saling mencintai tidak harus selalu bertatap muka, atau berkabar sepanjang waktu. Hanya saja, aku ingin menghabiskan waktu bersama begitu kita berjumpa, menceritakan segala hal, mengungkapkan segala perasaan, dan seterusnya. Sepertinya, memang begitulah caraku mencintai. Kadang-kadang mungkin kita akan sangat kesepian, hingga harus pula mengharapkan waktu segera berlalu lantas kita akan bertemu. Memupuk rindu, lalu menuntaskannya. Mungkin aku dan kamu akan saling bersilangan pendapat, dan aku akan selalu menjadi pihak yang keras kepala.

Ah, tapi ini hanya cerita yang kukarang tentang kita.

Seandainya iya, maka ini akan berakhir menjadi cerita yang akan kudongengkan kepada anak-anak kita. Jikapun kesemuanya berakhir sebagai harap semata, maka akan kupastikan kamu mendapatkannya dalam bentuk buku dengan nama penaku sebagai pengarangnya.

beribu kasih dan rindu, wordsflow

tentang kontemplasi di ketinggian bumi


Sesuai janji, saya menulis lagi di hari ini.

Selama persis 49 jam saya ‘membuang’ waktu untuk mendaki bumi, sekali lagi. Saya menyebutnya sebagai perjalanan kontemplasi. Di umur yang hampir 25 tahun ini, toh apalagi yang bisa begitu saya nikmati kecuali untuk kontemplasi?

Ada hal yang ingin saya singkirkan ketika perjalanan itu saya setujui, dan memang hal itu baru akan tampak dan saya pahami begitu saya menjauh dari hal-hal yang sering saya lihat sehari-hari. Dan bukankah gunung dan hutan adalah pengganti yang begitu menyenangkan? Terlebih lagi, pergi ke tempat semacam itu tentu saja tidak untuk memikirkan hal-hal yang terlampau berat dan tugas-tugas kuliah. Tentu saja tidak, waktu semacam itu adalah kebebasan yang sesungguhnya untuk memikirkan diri sendiri, dan hal-hal yang belum kita temukan jawabannya.

Pertanyaan pertama yang saya ajukan untuk diri sendiri, hal apa yang paling saya tidak suka dari diri sendiri?

Pertanyaan kedua, apakah sebetulnya saya menerima kondisi fisik saya yang, tidak cantik?

Pertanyaan ketiga, apa esensi dari gerakan feminisme, lalu apa pendapat pribadi saya?

Ketika pertanyaan itu, yang menemani hari-hari saya di gunung. Bahkan sepanjang perjalanan saya berdialog panjang dengan diri sendiri, sembari menahan pegal di kaki karena begitu jarang berolah raga, dan sesekali menggigil karena udara yang terlampau dingin.

Tentang pertanyaan pertama.

Saya sadar ada banyak orang yang secara pribadi atau secara terbuka sering mengatakan saya orang yang mutusi. Dan hal itu bukan tanpa kesadaran saya melakukannya, karena saya selalu punya cukup waktu sebelum mengatakan sesuatu atau memutuskan sesuatu. Perkara mutusi, adalah sebuah upaya pertahanan diri sebenarnya, akan hal-hal yang tidak bisa saya temukan jawabannya secara langsung atau saya konfirmasikan. Hal itu membantu saya dalam menjalani hidup saya sehari-hari, dan membuat saya semakin mudah berpikir.

Ah, saya berharap kamu akan membaca penggal pengakuan ini.

Ada masa di mana aku selalu berkata pada diri sendiri, bahwa aku tidak tahu apapun tentang siapapun. Bahkan kepada diri sendiri pun kadang aku kesulitan untuk bertindak. Aku sering sadar, bahwa aku merindukanmu, atau berharap dapat berbagi cerita denganmu. Tapi toh ketika kita bertemu, hampir-hampir aku tidak menginginkannya. Sehingga begitu sering aku bertanya sekali lagi pada diri sendiri, yang begitu aku sebut mencintai?

Kita sama kesepian kukira. Tapi aku tak pernah tahu kesepian seperti apa yang kamu rasakan, yang pasti dengan perlahan aku mencoba memahami kesepian seperti apa yang sedang kurasakan. Mungkin, dua orang yang kesepian memang tidak bisa begitu saja disandingkan, karena tidak akan ada hal-hal yang bisa saling dipertukarkan kecuali kesepian itu sendiri. Ah, aku mulai mutusi lagi. Enggak sih, aku tak tahu apa-apa tentang takdir, atau kehendak, atau nasib. Semua bersilang sengkarut dan mencoba diakui sebagai takdir kita.

Kupikir, seharusnya kamu mulai mencari seseorang yang bisa kau sebut ‘perempuanku’, agar kau tak lagi kesepian. Agar mungkin, begitu kamu memastikan diri, aku bisa memutuskan juga ke mana aku akan melangkah tanpa harus bersusah payah menerjemahkan dirimu. Bagiku, lebih mudah menerima kenyataan dari pada memutuskan jalan yang harus kuambil pada titik bifurkasi.

Aku mencoba menyiapkan diri dan memberimu kepastian bahwa aku tak akan lagi dengan mudah memutuskan segala hal seorang diri.

Tentang pertanyaan kedua.

Saya mulai jengah sebetulnya, menyangkut pertanyaan cantik-tidak cantik ini, hahaha. Harus saya akui dengan jujur, bahwa selama bertahun-tahun saya merasakan ketidakpuasan diri akan fisik yang saya miliki. Sudah sangat sering saya disalahpahami karena muka saya yang menyebalkan, dan bukan salah saya jika saya demikian. Sudah terima saja. Tapi jauh sebelum saya disalahpahami karena saya jutek, saya dulu lebih nggak terima karena saya tinggi, sehingga berkali-kali dikira anak pertama di keluarga saya. Tapi semakin saya tumbuh dewasa, persoalan kecantikan ternyata lebih mengganggu.

Tentu saja saya masuk golongan anak-anak perempuan yang ingin tampil menarik dan cantik. Tapi saya sudah sadar bahwa saya tidak cantik sejak saya masih duduk di bangku TK. Kenyataan itu saya sadari karena saya nggak pernah dimintai tolong untuk menjadi gadis-gadis kecil yang bawa kipas manten. Ya ampun, cerita memalukan apa ini. Sejak itu saya sadar, bahwa saya tidak cantik, dan dimulailah segala pertanyaan tentang diri sendiri.

Belakangan saya tahu bahwa orang bisa dibuat cantik, dengan alat rias. Tapi itu tidak memuaskan, karena ibu saya bukan tukang dandan, jadi dia tidak dapat saya jadikan preferensi yang baik. Cukup lama saya ‘menggunakan’ ibu saya sebagai subjek penelitian saya. Semakin lama saya sadar, bahwa kesan yang ditampilkan raut wajah seseorang tidaklah tetap, meski citra yang tersimpan di dalam pikiran relatif lebih tetap dan tidak berubah. Misal saya membayangkan wajah seseorang, ya begitu saja bentuknya, meski di dunia nyata seseorang itu memiliki berratus ekspresi yang berbeda.

Maka, soal cantik tidak cantik itu cuma jadi permasalahan ingatan, hahaha. Kesimpulan macam apa ini? Tapi begitulah, saya sudah lama berdamai dengan diri sendiri, bahwa tidak cantik ya akan begitu selamanya. Nggak perlu berusaha hingga babak belur untuk membuat diri sendiri secantik standar yang diciptakan orang-orang, karena itu menyulitkan diri sendiri. Saya cenderung lebih suka berkaca dan memasang tampang cemberut saya, dan mencoba membayangkan orang lain menghadapi bentuk muka saya yang begitu menyebalkan. Kasian ya orang-orang yang bertemu dengan saya. Hahaha.

Tentang pertanyaan ketiga.

Pada suatu malam yang panjang, saya dan seorang teman (yang cerita hidupnya saya jadikan cerpen tempo hari), berdiskusi singkat mengenai feminisme. Dia yang cukup perhatian dengan permasalahan itu akhirnya mengatakan pada saya, “Menurutku akhirnya gerakan feminis mengalami kemuduran, balik lagi ke awal.” Maksudnya, di hari ini banyak perempuan yang ingin kembali kepada khitohnya aja menjadi seorang ibu, menjadi pemberi kehidupan untuk keluarga kecilnya, dan menjadi ibu rumah tangga. Para lulusan-lulusan perguruan tinggi ini menolak anggapan umum bahwa sarjana harus bekerja, dan memilih hidup menjadi seorang ibu saja. Toh menjadi ibu adalah kodrat seorang perempuan yang adalah juga sebuah karunia.

Pertanyaan ini menyangkut hal yang begitu inti dari pergulatan diri saya sebenarnya. Apa yang kemudian saya anggap penting, yang saya inginkan, yang saya tuju, dan seterusnya. Bukankah urusan ini begitu mengganggu setiap perempuan juga?

Ada beberapa hal yang mencoba saya sadari melalui pertanyaan ini.

Pertama, saya adalah dassein, yang merupakan seorang individu bebas yang tunggal; terlempar seorang diri, dan akan tercerabut dari eksistensinya seorang diri pula. Maka, perihal pencarian diri bukan perkara menghindari kodrat perempuan sebagai pemberi kehidupan untuk anak-anaknya. Justru saya kira, adalah tugas kita jika memang akan memiliki anak, untuk mampu memberikan garis awal yang baik bagi mereka untuk memahami keterlemparannya di dunia. Demikian, mencari definisi tentang hidup, memahami segala hal yang terjadi, mempertanyakan diri dan lingkungannya, atau hal apapun itu, bukan perkara kamu perempuan atau laki-laki. Tapi adalah buah dari status bebas kita sebagai seorang individu.

Yang kedua, kita yang merupakan individu-individu bebas ini, terkurung di dalam berbagai struktur yang saling tumpang tindih. Saya sebagai perempuan misalnya, adalah status yang diberikan atas struktur yang ada di masyarakat, bahwa manusia terbagi menjadi laki-laki dan perempuan. Di dalamnya ada banyak sekali aturan-aturan yang mayoritas tidak tertulis, tapi disepakati bersama. Saya juga seekor makhluk biologis dan material, yang bisa bertumbuh, berkembang biak, berreaksi atau melebur, dan seterusnya. Maka, menjelaskan seorang ‘saya’ tidak bisa sembarangan saja, karena manusia menempati berbagai dimensi struktur.

Dari sana saya kira, menjadi ibu atau tidak menjadi ibu, hidup sendiri atau berkeluarga, bekerja atau tinggal di rumah saja, berlaku feminim atau maskulin, bukan soal benar tidaknya, ‘lebih perempuan’ yang mana, atau perdebatan-perdebatan panjang lainnya. Saya tidak suka generalisasi semacam itu. Kita semua diberikan pilihan sebebas itu sejak lahir, meski pertama-tama harus pula menerima keterlemparan diri dan kesejarahan kita. Jadi, perihal ‘kemunduran’ feminisme bagi saya tidak begitu saja bisa diiyakan. Kita melihatnya sebagai kemunduran, karena sebelumnya perlawanan itu hanya dilakukan pada satu dimensi struktur saja, sementara kita melihatnya dari dimensi struktur yang lainnya. Jadi nggak ketemu. Ah, tapi saya bukan penggiat feminisme, saya hanyalah penerjemah diri.

Sebagaimana sering saya katakan, tulisan di sini tidak pernah sepuitis yang saya dialogkan di dalam pikiran. Saya selalu lupa kalimat-kalimat yang saya susun di dalam kepala. Bahkan terkadang yang tertulis akhirnya juga tidak sampai pada kedalaman pemikiran saya. Tapi biarlah, pinggang saya hampir copot.

Tapi jalan-jalan kontemplasi ini begitu menyenangkan, dan saya begitu menikmatinya. Ternyata saya sudah begitu lama tidak bergelut dengan diri sendiri seintensif itu.

wordsflow

nih saya kasih foto saya yang ndembik, pose favorit eke

nih saya kasih foto saya yang ndembik, pose favorit eke

tentang apapun yang kau yakini


Apa sekiranya yang saya benci dari modernitas ini?

Adalah kebingungan di seluruh aras pembelajaran dan kehidupan, dan sungguh memuakkan untuk dipikirkan.

Memang, berpikir tidak pernah mudah, semua orang pun paham hal itu. Berpikir juga membuat kita semakin terasah pada hal apapun. Tapi lebih sering tantangan muncul untuk kemudian mewujudkan ide-ide tersebut pada tataran teknisnya. Bagaimana bisa menyeimbangkan semua keinginan orang yang terus menerus berseturu dalam lingkup masyarakat yang selalu kita banggakan sebagai masyarakat yang ‘damai’? Bahkan satu per satu kata yang saya sebut di atas pun saya masih tidak begitu yakin dapat mendekonstruksinya dengan baik dan merekonstruksikannya ulang dengan lebih baik juga.

Sungguh, saya di ambang lautan kebingunan yang semakin luas saja dari hari ke hari.

Malah belakangan saya semakin berkeinginan untuk menjadi orang yang mampu menempatkan diri dengan yakin pada suatu field tertentu tanpa perlu mempertanyakan ini itu. Tapi rasa tidak percaya saya pada banyak hal telah terlanjur tertanam, sehingga rasanya sulit sekali untuk menyemangati diri mengambil langkah ini atau itu.

Sudah berkali-kali saya selalu kembali pada kesimpulan bahwa semua orang terlalu menganggap bahwa dirinya memiliki pandangan dan pendapat yang paling benar. Mungkin saya juga punya kecenderungan yang demikian, dan kalimat-kalimat normatif ini membuktikan hal itu. Tapi, agaknya banyak yang kemudian melupakan bahwa manusia itu majemuk, dan tidak seragam, serta terus menerus berubah. Bagaimanapun hal ini tidak bisa disangkal, dan karenanya pandangan yang menyetarakan dan menyamakan buat saya menjadi terlaluuu, yah, tidak mendalam.

Saya ini produk milenial, dengan sistem pendidikan dan kehidupan di bawah rezim pembangunan. Pun terlena dengan pembangunan itu hingga saya bisa menulis dengan begitu nikmat di platform ini tanpa harus mencari daun lontar dan mengawetkannya.

Lalu, apa yang ingin saya sampaikan kemudian?

Dalam kebingungan akan begitu banyak hal, saya mencoba mencari akar permasalahan yang paling mendasar dari berbagai kemajemukan manusia yang ada. Yang saya temukan kemudian, adalah pola konsumsi masing-masing orangnya. Konsumsi yang saya maksud di sini adalah dalam berbagai konteksnya, dari kebutuhan makan hingga ke informasi. Konsumsi lah yang mendasari kerja dan akumulasi manusia akan berbagai hal yang ada.

Hemm, bisa disangkal sih, tapi coba biarkan saya percaya dulu yak.

Mari saya kaji (njir, sok analis banget saya) dari hal paling material, yaitu makan. Bagaimana transformasi budaya makan yang ada di masyarakat kita? Oiya, sekiranya agak ngelantur maaf ya, saya menulis ini tanpa berusaha mengkonfirmasi ke buku-buku atau jurnal yang pernah diterbitkan sebelumnya. Toh ini bukan tulisan akademis.

Pada mulanya, manusia makan dari alam begitu saja, hanya mengambil dan memakannya. Sesederhana itu, sehingga setiap yang masuk ke tubuh kita adalah hal-hal yang kita tahu persis dari mana asalnya, tumbuh di mana, di ambil dalam kondisi apa, musim apa, dan sebagainya. Selanjutnya, setelah manusia menemukan api, makanan menjadi lebih kompleks lagi, karena muncul proses di sana, dan dengannya ada kerja yang lebih banyak pada makanan tersebut. Sejauh ini, manusia masih tahu persis asal usul makanan dan bagaimana proses itu berjalan.

Transformasi ini terus berkembang kemudian, ketika akhirnya manusia semakin banyak menemukan bahan-bahan alam yang mampu mendukung proses pengolahan makanan, atau membuat makanan menjadi semakin mudah dicerna. Dari teknologi pertanian sederhana untuk tujuan akumulasi pada musim yang sulit, hingga bumbu-bumbu yang mampu membuat daging menjadi lebih lunak, atau mengawetkan beberapa jenis makanan yang mereka inginkan.

Kekuasaan kemudian menciptakan derajat-derajat makanan yang ada pada suatu masyarakat, dan dimulailah pemisahan secara sengaja konsumen terhadap hasil produksi alam. Maksud saya, misal raja yang memperoleh makanan dari dapur dayang-dayangnya, tidak akan mampu mengetahui bagaimana makanan tersebut dimasak, apalagi diambil dari ladang yang seperti apa, kualitas air yang bagaimana, cuaca yang bagaimana, dan seterusnya. Awal pemisahan ini, menyebabkan diri tidak mampu mengetahui apa saja yang ia konsumsi. Ia menjadi semakin sulit untuk memahami, bahan makanan mana yang membuatnya alergi, atau membuatnya sakit, dan seterusnya.

Semakin jauh seorang konsumen dari sumber daya itu, semakin banyak kerja yang ia butuhkan untuk memastikan konsumsinya terpenuhi. Marx telah menjelaskannya panjang lebar sampai berbusa di bukunya, dan memberikan istilah keterpisahan itu sebagai ‘alienasi’. Meski memang ia memberikan istilah itu bukan hanya untuk konsep keterasingan pada konteks yang saya jelaskan di atas, namun pada seluruh pemisahan yang mungkin terjadi antara buruh dan mode produksinya.

Akumulasi kerja yang banyak itu, karena jauhnya jurang pemisah antara konsumen dan produsen atau sumber daya di hari ini, membuat biaya yang harus ditebus semakin banyak. Di sana saya kira, kita bertemu dengan penyebab tingginya harga yang harus dibayarkan untuk sebuah proses konsumsi.

Dalam kebingungan yang semakin tinggi terhadap apapun, saya mencoba untuk membatasi diri pada setiap konsumsi yang bisa saya eksekusi untuk menunjang hidup saya. Konsumsi yang mencakup material, maupun mental (dalam hal ini misal jaringan sosial, atau bahkan agama). Baudrillard telah menyebutkan bahwa postmodernisme menggiring pola konsumsi masyarakat pada tataran yang berbeda, yaitu pada konsumsi simbol-simbol yang melekat pada benda-benda. Huehehe.

Katakanlah pada konteks makanan. Konsumsi makanan harian bukan pada pencarian akan kualitas makanan yang mampu ia akses, namun juga pada reputasi dan simbol-simbol yang melekat padanya. Sehingga membeli nasi rames seharga 7.000 rupiah yang sudah jelas ibu-ibu warung bisa menjelaskan asal usul semua bahan makanannya menjadi tidak lebih bergengsi dari membeli makanan di restoran di mall. Mengerikan yah proses transformasi konsumsi ini, huehehe. Dan siap nggak siap sih, menghadapi setiap perkembangan model konsumsi yang ada di hari ini.

Tapi, sebagaimana yang saya katakan di atas, agaknya membatasi diri pada konsumsi adalah jalan tengah yang bisa saya ambil untuk menghadapi kebingunan diri akan segala hal. Pola konsumsi ini saya pikir akan mampu memberikan gambaran bagaimana seseorang melihat pemenuhan kebutuhan hidupnya. Tentang bagaimana ia melihat kualitas hidupnya terhadap masyarakat yang lainnya. Dan sulit sekali untuk memahami bagaimana semua hal itu mampu ‘dikendalikan’ untuk baik melawan atau mendukung modernitas dan kemudahan globalisasi yang begitu menggoda sepanjang jaman ini.

Untuk mampu ‘mengendalikan’ pola konsumsi itu, pertama-tama manusia harus sadar. Dan mengupayakan kesadaran itu yang sebenarnya sedang diperlombakan di jagad dunia maya ini. Dunia yang serba mudah informasi ini, segala bentuk upaya ‘penyadaran’ dilakukan oleh semua pihak. Lihatlah, dari mulai iklan yang paling receh, quotes penyemangat hidup, hingga selebaran kritik terhadap pemerintah dan korporasi multinasional. Kesemuanya saudara-saudara, hanya untuk mencapai tujuan itu: kesadaran (akan suatu hal; sebagaimana kata Husserl).

Setelah kesadaran, kemudian akan muncul tindakan. Meski masih dapat disangkal pula bahwa kadang ada manusia yang bertindak tanpa adanya sebuah kesadaran, tapi hanya pada kondisi-kondisi tertentu saja saya kira. Tidak boleh diabaikan, namun juga tidak menjadi penghambat yang utama dalam dasar tindakan manusia.

Yah, dalam hal ini saya bahkan mampu mengatakan bahwa beragama pun menggunakan dasar kesadaran itu. Misal kesadaran tentang entitas tertinggi, adanya Sang Kehendak, atau yah, sesuai dengan balada-balada kematian yang baru-baru ini saya tulis, juga karena hanya agama yang mampu memberikan ‘kepastian’ akan kehidupan setelah kematian (teman saya pernah menulis ini; di sini). Atau, kalau kamu seorang fanatik Death Note, maka mungkin akan percaya bahwa semua orang mati akan masuk ke MU atau kehampaan, kan jadi nggak perlu beragama.

Demikian, maka yang manapun menjadi begitu bersifat arbitrer sesuai dengan level kesadaran masing-masing orang mengenai hidup yang sedang mereka jalani. Maka, menyadari-segala-hal bagi saya begitu penting adanya, dan tidaklah sia-sia meski memakan waktu lama, atau melelahkan pikiran kita.

Akhir kata, pada apapun yang kita yakini, semoga ada kesadaran mendalam tentang mengapa-nya. Sehingga kita tidak sedang menjadi budak hasrat semata.

Sementara itu, saya mau memberikan ucapan selamat pada diri sendiri, karena akhirnya mampu menulis tulisan mendadak yang agak terstruktur semacam ini. Selamat malam saudara-saudara.

wordsflow

 

catatan tambahan:

Setelah saya pikirkan lagi, tampaknya masih ada hal yang belum saya bahas. Biarkan menjadi pe er untuk hari Senin, hehe.

tentang kematian (v): Rasa


Ada sebuah adegan yang begitu ia ingat ketika menonton tayangan TV kala itu. Dalam filmnya yang entah apa judulnya, Nirina Zubir memperagakan bagaimana ia mencoba adegan memakan cabai tanpa merasa pedas seolah itu adalah cemilan yang telah biasa ia makan. Maka ia pun mencobanya, dan memang rasanya hambar saja.

Dalam benaknya, banyak hal yang menari-nari tak karuan, seolah mimpi yang selama ini menghantuinya muncul ke permukaan kesadarannya.

Apa yang lebih sakit dari hati yang telah dihancurkan? Apa yang lebih menyesakkan dari menemukan diri tidak mampu merasai kembali?

Segalanya telah hilang, segalanya telah dihancurkan oleh Kehendak, oleh waktu. Seolah tak ada yang ingin bekerjasama dengan dirinya, seolah semua yang ia lakukan tidak akan membawa hasil kepada apapun. Nihil. Semua kosong. Dan kematian selalu tampak begitu menggiurkan untuk ditempuh.

“Apakah mati semenggoda itu hingga kamu begitu ingin?” tanya Baik di dalam dirinya.

“Tidakkah kau lihat, betapa indah kematian itu? Itu adalah sebuah kepastian yang niscaya. Begitu dingin, begitu tenang, begitu hening, begitu anggun, begitu teduh,” jawabnya tanpa berhenti mengambil cabai dan mengunyahnya dalam bisu yang tak ia pahami sendiri.

“Apakah dunia ini begitu buruknya hingga kematian menjadi jauh lebih mudah diterima?” sekali lagi Sang Baik bertanya dengan gaduhnya.

“Dua hari lalu aku terbangun dan menyadari bahwa laki-lakiku tidak mencintaiku. Ibuku bunuh diri karena ayahku berselingkuh. Dia bahkan tidak bersedih di pemakaman ibuku, dan tidak pula ia mau mengakui perselingkuhannya. Adikku yang paling kecil gila kerena ayahku, sedang adikku yang lain kabur dari rumah ini. Kebaikan apa lagi yang bisa ditawarkan oleh dunia ini?”

Baik dirinya maupun Sang Baik terdiam memandang dinding kosong. Ruangan itu gelap, namun ada sebuah celah kecil di antara gorden yang ia biarkan sedikit terbuka. Cahaya yang masuk dari celah kecil itu begitu kontras sehingga menyakitkan mata. Tidak ada suara apapun di ruangan itu, kecuali detak jam dinding, dan suara mengunyah yang sangat pelan. Sayup-sayup suara radio juga terdengar dari pos ronda di ujung jalan, juga gelak tawa kecil dari keluarga bahagia sejauh 10 meter dari rumahnya.

Baginya sudah tidak ada lagi guna Jahat dan Baik di dalam dirinya. Telah lama ia melebur dengan Jahat itu sendiri, berharap bahwa ia akan segera mampu menghabus Baik dari dalam dirinya dan menetapkan diri untuk mati. Ia tidak peduli akan perkataan Heidegger tentang kematian, baginya, itu telah menjadi keputusan final.

“Tidak ada yang bisa menetapkan kematian seseorang,” Sang Baik mencoba sekali lagi.

“Tidak. Tapi tidak ada pula yang bisa memastikan kebahagiaan,” balasnya ketus.

Hari itu ia telah memastikan, bahwa begitu sinar terakhir hilang, maka ia akan bunuh diri. Memastikan bahwa tidak akan ada lagi yang merasa kehilangan, atau tidak akan ada rasa yang tertinggal untuknya. Biarkan saja ia mati di rumah itu seorang diri; begitu dingin, begitu tenang, begitu hening, begitu anggun, begitu teduh. Membayangkan kematian tidak lagi menakutkan untuknya, ia tampak bagaikan masa depan yang jauh lebih menjanjikan.

“Apa yang membuatmu yakin mati akan lebih baik?”

“Sebagaimana aku akan bertanya kepadamu apa yang membuatmu yakin tetap hidup akan lebih baik. Baik itu relatif dari mana kau melihatnya.”

“Justru karena itu, jangan mengambil keputusan dengan gegabah. Waktumu masih panjang. Kau bahkan belum 25 tahun.”

“Tak masalah. Aku akan hidup lagi. Lalu mati lagi. Hidup dan mati hanya perkara repetisi.”

Semburat jingga mulai terlihat, menandakan hari akan menuju penghabisannya. Matanya masih menatap kosong pada celah gorden yang sedikit terbuka.

Baginya, tidak ada lagi hal yang patut untuk diperjuangkan. Semua orang bahkan seolah bersatu untuk menghancurkan hidupnya. Ayahnya pergi dengan perempuan lain, hanya berselang beberapa minggu setelah kematian ibunya. Adiknya di rumah sakit jiwa, sementara adik yang lain memilih kabur dari rumah dan tidak ada tanda-tanda akan kembali. Laki-laki yang diharapkannya untuk mendampingi hidupnya tak pelak hanya menginginkan tubuhnya. Bagaikan terbuang sia-sia, hanya benda tanpa jiwa. Hanya objek tak bernyawa. Segalanya tampak begitu brengsek di matanya. Seolah segala sesuatu bersekongkol untuk menggilasnya.

“Seharusnya aku minta untuk tidak pernah dilahirkan di dunia ini,” gumamnya, seberkas air mata menggenang di matanya.

Ia tidak pernah ingat kapan meminta kepada Tuhan untuk dilahirkan pada suatu keluarga yang demikian. Kapan ia meminta sebuah tubuh yang demikian. Kapan ia menuliskan keinginan untuk hidup dengan cara yang demikian. Ia tidak pernah minta apapun, bahkan doa pun ia lupakan. Ia menerima begitu saja hingga semuanya begitu menyesakkannya, hingga ia merasa kehilangan segala rasa yang pernah begitu ia nikmati begitu dalam dan pekat.

Ke mana jiwa yang begitu tangguh dan teguh dalam menempuh hidup itu? Baginya ia telah mati sejak ibunya bunuh diri.

Tetes pertama air matanya tumpah begitu saja. Pandangannya kabur dalam bulir-bulir besar air mata yang begitu panas. Kala itu, ia tersedak begitu keras, merasakan bagaimana panas membakar tenggorokannya, perutnya, menggilas keseluruhan syaraf perasanya. Baru sekali itu ia merasakan hidup yang begitu hidup, seolah setiap ujung tubuhnya merespon segala yang terjadi padanya. Seolah seluruh tubuhnya bekerja sama untuk memintanya tinggal di dunia, untuk memintanya menghentikan perangnya dengan Hidup dan memilih Mati sebagai imamnya.

Sang Baik tak mampu melakukan apapun ketika gadis itu meraung-raung dalam tangis yang begitu dalam dan pekat, dalam gelap yang temaram karena secercah cahaya dari sela antara gorden yang terbuka. Menurutnya, begitu saja ia mampu memenangkan pertarungannya dengan si gadis. Celah gorden itu, seperti sebuah kesempatan kedua untuk hidup. Bahwa di antara gelap yang begitu pekat, ada cahaya yang masih harus menyala agar ia tahu ke mana harus berjalan, terduduk, atau bersimpuh.

Maka ia biarkan si gadis terus berurai air mata hingga mungkin tandas tiada bekas. Memeluknya dalam harap yang begitu besar, bahwa kehilangan dan kesedihan akan membawanya kembali pada rasa dalam segala rupa.

wordsflow

 

catatan:

Meski seolah cerita mustahil merupakan sebuah kenyataan, namun saya menyaksikan bahwa cerita-cerita ini nyata adanya. Jika tidak, saya tidak akan mampu menceritakannya, atau merenungkannya dengan cara demikian. Sebagaimana Baik dan Jahat selalu bertarung di dalam diri, Gelap dan Terang (akan hidup) juga berkelindan membentuk sesuatu yang kita sebut sebagai dinamika.

Dalam dunia yang tidak kita tahu ini, kita memilih untuk merayakannya dengan beragam cara, hingga sadar kemudian kematian hanya sejarak kedipan mata saja.

Animalia


Mari membicarakan manusia sebagai mamalia (agar saya tidak menyebutnya dengan ‘kasar’ menggunakan istilah binatang). Seringnya saya sendiri merasa geli karena pada praktik sehari-hari manusia banyak yang memanggil satu sama lain dengan sebutan nama binatang. Tapi sulit sekali untuk menerima bahwa mereka sendiri termasuk bagian dari mamalia, yang diberi nama beken ‘manusia’.

Bagaimana mendefinisikan manusia? Mari saya gunakan beberapa referensi definisi menurut KBBI online:

manusia/ma·nu·sia/ n makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain); insan; orang:

Di bawahnya ada catatan tambahannya lho,

— siap pakai tenaga terdidik yang terampil dan profesional serta siap memenuhi kebutuhan tenaga kerja;
— perahu orang-orang yang secara berbondong-bondong meninggalkan negerinya menuju negara lain dengan menggunakan perahu;

memanusiakan/me·ma·nu·si·a·kan/ v menjadikan (menganggap, memperlakukan) sebagai manusia;
pemanusiaan/pe·ma·nu·si·a·an/ n proses, cara, perbuatan menjadikan manusia agar memiliki rasa kemanusiaan;
kemanusiaan/ke·ma·nu·si·a·an/ n 1 sifat-sifat manusia; 2 secara manusia; sebagai manusia: perasaan – kita senantiasa mencegah kita melakukan tindakan terkutuk itu

Ah, akan saya biarkan teman-teman pembaca sekalian memberikan persepsi tersendiri terhadap kalimat dan definisi di atas. Tapi komentar saya sih, agaknya, perlu ada semacam dekonstruksi terhadap definisi-definisi tersebut, untuk kemudian dikonstruksikan kembali makna dan definisinya sebagai sesuatu yang memang lebih, manusiawi.

Well then, masuk ke inti tulisannya, saya kemarin sedang berkendara dari kosan saya menuju ke sekret SATU BUMI. Penggal jalan itu sudah sangat saya hafal, dan sering sekali di penggal jalan yang begitu pendek, ada banyak ide tulisan yang bermunculan, hehe.

Kali itu saya berkendara dengan selembar baju yang relatif tipis, dengan kondisi hari selepas hujan yang begitu dinginnya di jam 18.30. Saking dinginnya, saya kembali menyadari bahwa manusia begitu rapuh sebenarnya, karena tidak memiliki perlindungan lain selain kecerdasannya, dan yah, beberapa mungkin keterampilan fisiknya dalam melindungi diri. Saya nggak mau mengutip teorinya Darwin, bukan saja karena mungkin akan menimbulkan perdebatan, tapi juga karena saya belum pernah membaca isi teori evolusinya. Yang saya dengar selama ini hanya ‘katanya’ dan ‘katanya’.

Ingatan saya kemudian kembali pada waktu-waktu ketika saya sedang melaksanakan Pendidikan Dasar XII di Turgo. Ketika itu saya sedang mengisi materi zero condition, semacam simulasi kondisi nol seseorang di lapangan, dalam artian simulasi kondisi terparah yang mungkin dialami seseorang ketika sedang ada di lapangan.

Itu pertama kali saya bertugas untuk mengeksekusi bagian itu. Setiap peserta dibawa oleh satu atau dua panitia, dan kebetulan saya bersama dengan seorang adik angkatan. Malam itu hujan, dan jam menunjukkan pukul 4 pagi. Begitu dinginnya karena sepatu yang kami pakai juga telah berkali-kali kehujanan dan air masih menggenang dengan manisnya di sana. Apa boleh buat, setidaknya baju atas saya masih kering. Dan di saat-saat semacam itu dengan sederhana kita mensyukuri kenikmatan mendapatkan selembar kain kering yang selama ini tidak diperhatikan.

Saya membiarkan adik angkatan Pendidikan Dasar itu terduduk di bawah hujan, basah kuyup kedinginan, dan membiarkannya terdiam begitu lama. Saya tidak punya pengalaman memberikan wejangan pada kondisi semacam itu bertanya padanya,

“Menurutmu, kalau kamu sendirian di hutan, kehujanan sampai seperti itu, tidak menemukan tempat berteduh atau membuat peneduh apapun, apa yang akan kamu lakukan?”

Pertanyaan itu lebih saya sampaikan untuk diri sendiri, karena bahkan ketika menanyakannya saya belum memiliki jawabannya. Hampir-hampir saya tidak mampu menjawab sampai sebuah jawaban datang melintas begitu saja di dalam pikiran saya. Saya tidak akan memberikan jawaban itu di sini. Setidaknya saya ingin pembaca yang budiman juga merenungkan seandainya hilang di hutan dalam keadaan basah kuyup dan tidak memiliki apapun, ketika itu kita akan benar-benar diuji. Dalam kemungkinan semacam itulah, kami berkegiatan di alam atas dasar hobi dan kesenangan. Sungguh aneh bukan? Seolah mati adalah sebuah gurauan yang pantas untuk dibercandai sepanjang waktu.

Lantas, hubungan kenangan dan judul tulisan ini apa?

Ketika acara Diksar itu, setidaknya saya semakin paham bahwa manusia begitu lemah, dan selalu bergantung pada hal-hal yang memudahkan. Ke-telanjang-an kita di hutan sana adalah sebuah derita yang serius, sementara binatang-binatang menanggapinya dengan santai. Mereka toh selama ini bisa membuat tempat tinggal sendiri dengan mudah. Yah, meski manusia pernah melewati fase hidup di hutan dengan cara demikian, namun naluri itu semakin memudar. Kita panik jika tidak melihat rumah, atau tidak melihat api. Saya juga harus mengakui demikian adanya. Seolah alam yang melahirkan kehidupan seolah menjadi begitu menakutkan dan terlampau mengancam.

Kita memiliki mental dan perasaan, yang bahkan meski badan kita masih kuat, bisa saja membuat kita mati depresi. Sungguh menyedihkan membayangkan daya hidup manusia yang demikian. Tapi jangan lupa, di sisi yang berlawanan, banyak orang yang begitu sengsara dan kekurangan secara fisik, namun hidupnya masih mampu ditopang oleh keinginan dari jiwa yang ingin terus hidup. Lihat bagaimana para petani Kendeng berjuang, atau yang mungkin sering kita lihat adalah orang-orang tua yang bekerja begitu keras untuk hidup hariannya.

Manusia begitu kompleksnya hingga tidak akan mampu mendefinisikan manusia sebagai sebuah entitas tunggal yang seragam. Kita memakan segala hal, membuat perlindungan dengan berbagai cara, atau bahkan menguasai segalanya. Dan saya kira, memang kisah peradaban adalah sebuah kisah upaya penguasaan atas Bumi yang kita tinggali, entah dulu atau saat ini.

Perkara ini masih berada pada urusan yang sama, mencoba memperlihatkan bagaimana manusia yang begitu rapuh ini, toh mampu menakhlukkan dunia di bawah kendalinya. Tinggal tunggu saja berita akan rencana pemindahan manusia ke planet-layak-huni yang lain di luar angkasa sana, untuk meninggalkan Bumi yang telah dihancurkan olehnya juga.

wordsflow

tentang kematian (iv): Pagi


Bukan, namanya adalah Maharani.

Gadis itu tidak tinggi, namun setidaknya tangannya masih dapat menggapai kunci atas pintu rumahnya. Penampilannya selalu sederhana, dan begitu pun ia tetap cantik, menarik, dan bahkan membuat banyak laki-laki tak mampu berpaling. Itu bukan birahi, tapi sungguh kau harus melihat sendiri gadis itu untuk mampu paham bagaimana ia mampu membuat setiap laki-laki bersusah payah memperbaiki diri.

Ia punya dua nama panggilan, Hara atau Maharani. Selain dengan nama itu ia tidak akan pernah mau menoleh, karena menurutnya hanya dua panggilan itu yang identik dengannya. Bagaimanapun, sebenarnya ia punya nama kecil; Pagi.

Aku tidak pernah menjadi Maharani–ah, aku lebih suka memanggilnya Hara, maka begitu pula yang bisa aku ceritakan hanya hal-hal yang berhubungan dengan aku dan Hara. Penggal cerita ini juga, tidak lepas dari kebetulan yang ada ketika aku dan Hara sama-sama duduk di peron stasiun sembari menunggu pagi.

Ketika itu aku bermaksud melakukan perjalanan seorang diri ke Bogor, sebuah perjalanan kecil mengarungi kota yang padat. Keretaku berhenti di Stasiun Senen pukul 1 dini hari, dan dalam kesendirian itu aku bertemu dengan Hara. Wajahnya yang bening begitu saja mampu mengalihkan perhatianku. Aku berhenti sejenak sebelum akhirnya meneruskan membeli secangkir kopi dan roti di sebuah gerai waralaba. Malam itu, aku bermaksud untuk menghabiskan malam dengan membaca buku yang sengaja aku bawa untuk menemani perjalanan.

Ketika itulah aku terpaku menatap Hara, yang juga sedang melihat ke arahku. Matanya tersenyum dalam gelap itu, dan entah apa yang membuatku tergerak, aku menuju ke arahnya.

“Hai,” sapaku, memberi isyarat untuk duduk di sampingnya. Dengan gesit ia memindahkan tasnya ke bawah kakinya, dan tersenyum. Ah, andai aku seorang laki-laki kukira aku akan menulis dengan cara ini; hari ini adalah hari di mana aku menemukan tatap mata yang ingin kulihat setiap pagi sepanjang sisa hidupku. Sayang, aku masih normal untuk menyukai laki-laki saja.

“Suka kopi?” itu kalimat sapanya kepadaku. Aku tergelak kecil, tidak menyangka ia akan mengajukan pertanyaan itu.

“Iya. Aku bisa minum kopi lebih sering dari minum air putih,” jawabku menjelaskan.

“Bentukmu seolah ingin kabur dari kenyataan,” katanya lagi, lebih mengagetkanku.

“Ha?” aku celingukan mencoba menata diri, “Oh, ini aku mau jalan-jalan ke Bogor. Sengaja bawa barang seadanya aja. Besok juga udah balik ke Jogja lagi sih. Hehe. Kamu sendiri?” Tanyaku sembari duduk lebih dekat dengannya. Dari jarak itu aku bisa mencium wangi tubuhnya yang sederhana. Malam itu bahkan ia hanya mengenakan selembar kaos lengan panjang, kerudung abu-abu, dan celana jeans biru gelap.

“Hemm, istilahnya, kabur dari masa lalu,” jawabnya nyengir seolah menegaskan guraunya. “Tapi sungguh, aku kabur dari orang-orang yang mencintaiku,” lanjutnya. Kali ini serius.

Kalimat-kalimat awal ini lah yang membuatku semakin terhanyut dengan pesona Maharani. Ada keteguhan aneh yang ia simpan dalam hati, seolah seluruh hidupnya adalah rahasia, meski secara sepotong-sepotong ia mencoba menjelaskan kontradiksi-kontradiksi dalam hidupnya.

Belakangan, ketika jam telah menunjukkan pukul 2.30 dini hari, cerita kami telah memasuki bagian yang paling penting dari Hara.

“Aku terlalu lelah untuk menerima begitu banyak orang yang mendaku mencintaiku. Tidak pula mereka mau bertanya seperti apa cinta yang aku bayangkan seorang diri,” katanya menerawang.

“Apakah dicintai itu menakutkan?” Bagiku, pertanyaan itu terlampau sulit untuk aku jawab seorang diri. Seluruh pengalamanku adalah seputar mencintai, tapi aku bahkan tidak mampu merasakan bagaimanakah menjadi seorang yang dicintai.

“Lebih tidak menyenangkan karena kau tidak punya pilihan kecuali menyakiti, atau menerima.” Aku mendengarkan dengan takzim. “Aku melakukannya kepada banyak orang di hidupku yang telah lampau; menerima hanya sebuah cinta, lantas mencampakkan sisanya. Rasanya begitu menyakitkan,” lanjutnya.

“Apakah, kau memiliki cinta yang kau harapkan sendiri?” tanyaku kepadanya.

“Apa kau pernah tahu cerita tentang Putri Kaguya? Ah, Ghibli membuatnya dengan baik, dan aku terus menerus memikirkan itu. Kupikir, setiap perempuan memiliki impian yang sederhana saja, tentu punya keluarga kecil yang bahagia dan bisa hidup dengan tenang seumur hidupnya. Tapi tentu saja, manusia di hari ini tidak sekedar dihadapkan pada perkara itu, kau tahu? Setiap hal mendapat kualifikasinya sendiri-sendiri, setiap orang menerapkan standarnya sendiri, dan terutama yang paling mengerikan untuk perempuan adalah, setiap perempuan mendamba sebuah standar kecantikan yang juga diamini laki-laki di dunia ini. Aku bisa mengatakan itu karena aku adalah bagian dari generasi itu.

“Bagian yang paling aku sesalkan adalah, baik aku, kamu, atau mungkin manusia-manusia yang berusaha melawan segala hal itu, akhirnya akan harus terperangkap pula pada cara pandang manusia lain yang kita temui. Pada akhirnya, orang-orang yang kita kagumi pun, sebenarnya kita sakiti. Orang yang kita anggap sedang kita cintai pun, sebenarnya sedang kita sakiti,” lanjutnya.

Kali ini aku harus merasa kagum pada Hara. Sepertinya ada sesuatu yang begitu dalam ia pikirkan, entah tentang dirinya atau bahkan manusia-manusia di kehidupannya. Bagaimana pun, perempuan ini masih begitu misterius dan aku semakin yakin harus menjadikannya tidak sekedar sebagai seorang kenalan yang bertemu di stasiun.

“Ceritakan sedikit tentangmu,” katanya. Senyumnya begitu menawan.

“Kupikir tidak ada hal khusus yang bisa aku tukar dengan ceritamu,” jawabku nyengir.

“Dusta. Adalah sebuah hal yang luar biasa menemukan gadis yang belum juga genap 22 tahun berkelana seorang diri sejauh ini. Hanya demi sebuah kota yang tak seberapa besar,” sergahnya.

Maka aku bercerita tentang kegelisahan yang sama perihal perempuan. Ketika gadis sepertiku berkelana seorang diri, tidak berpenampilan sebagaimana masyarakat memberikan standar dan bagaimana lingkungan sosial menuntut, kita seolah sedang turut andil untuk memerangkap diri pula. Kadang begitu marah untuk mampu melawan. Toh pada kenyataannya, selalu ada Sang Kehendak yang bekerja tanpa pernah meminta kerja sama.

Cukup lama kami membicarakan perihal perempuan. Mencoba saling bertukar pikiran, antara seorang perempuan yang dikelilingi oleh manusia-manusia yang mengaku mencintainya, dan seorang perempuan sepertiku yang bahkan belum mampu paham bagaimana dicintai itu bentuknya. Dia begitu terbuka dengan setiap pendapat, terutama yang berhubungan dengan topik yang kami bicarakan.

Hingga, ketika hari menjelang subuh, Hara mendongengkan kepadaku kisah hidupnya.

“Aku membenci laki-laki yang mengganggap perempuan itu harus lemah lembut–ah bukan, maksudku harus tak berdaya. Seolah menjadi kuat adalah sebuah kesalahan. Mereka salah. Aku telah menerima kekerasan sejak aku masih kecil kukira. Di luar sana banyak orang jahat,” ucapnya tersenyum getir kepadaku. “Begitu kejamnya hingga aku berkeinginan untuk merusak diri sendiri. Agar aku tidak lagi menjadi ‘cantik’ seperti yang mereka katakan.

“Berkali-kali aku dikecewakan oleh banyak laki-laki. Mereka datang dengan senyum, dengan cinta, tapi meminta belas kasih atas rasa itu. Meminta paksa kepadaku untuk memberikan yang mereka minta. Maka kukatakan bahwa setiap cinta selalu menciptakan luka. Kadang bahkan, luka itu terlampau berat untuk diterima, hingga seseorang menjadi begitu kejam pada yang mereka cintai. Hal-hal semacam ini, meskipun tampaknya hanya gurauan, tapi nyata dirasakan banyak orang.”

“Dan kamu mengalaminya?” tanyaku secara otomatis. Tentu saja aku telah tahu jawabannya.

“Pada gilirannya, orang yang tidak mampu memahami kapasitas dirinya, akan meledak dan melukai lebih banyak orang. Yang begitu, kadang harus dihilangkan.”

“Maksudnya gimana sih? Dibunuh?”

“Hahaha, kamu kasar sekali. Tapi yah, begitu mungkin kira-kira.”

Aku terdiam sejenak, memandang jauh menerawang ke langit yang telah mulai terang. Subuh sudah semakin dekat kukira, dan sebentar lagi akan ada komuter pertama ke Bogor.

“Ah, orang yang kutunggu telah tiba. Selamat berpisah, akan kukunjungi kamu kapan-kapan,” katanya tiba-tiba.

Dan aku terbelalak melihatnya terbang, melayang ke depanku dan berubah transparan. Ia tersenyum, cantik. Bahkan aku tidak berteriak karena hal itu, seolah hal itu bukan pertama kali aku lihat dalam hidup. Tanpa mampu membalas kalimatnya, ia menghilang begitu saja di langit yang semakin terang.

Aku tersadar beberapa saat kemudian, dan mencoba meyakinkan, aku menoleh ke samping melihat tas yang sempat ia pindahkan. Tapi tidak ada apa-apa di sana, tidak ada bekas jejak apapun. Aku mencubit tanganku. Sakit. Aku ngucek mataku, menengok ke arah jam, pukul 05.12. Aku menoleh ke kanan-kiri, semua orang tampak berkegiatan normal. Meski tergagap, aku tetap tidak mencoba menyangkal bahwa aku baru saja mengobrol dengan hantu. Sejak hari itu aku lebih suka memanggilnya ‘Pagi’.

Hingga hari ini aku tidak pernah tahu siapa yang ia tunggu waktu itu, seolah yakin aku akan bertemu dengannya lagi, aku menyusun begitu banyak pertanyaan untuk ditanyakan kepada si cantik Maharani.

wordsflow

 

catatan:

Begitu absurdnya sebuah cerita dimulai dan diakhiri, seperti yang satu ini, atau yang sebelumnya, bahkan mungkin yang akan datang. Tapi terima kasih sudah membaca.

tentang kematian (iii): Senja


Sore itu hari tidak hujan, begitu berbeda dengan hari-hari di sepanjang 21 hari di bulan itu. Ada apa gerangan?

Gadis muda itu tidak menemukan ada yang berbeda dari hari-harinya. Hari itu ia tidak sedang merayakan sesuatu, atau tidak ada pula hal luar biasa yang terjadi terhadapnya. Ia telusuri kamarnya sedetil mungkin, sembari menunggu penghabisan hari untuk sekedar menikmati semburat senja yang sudah lama ia rindukan.

Kali terakhir ia menemukan senja adalah jalan-jalannya ke ujung atas bumi. Sebuah perjalanan kontemplatif dia bilang, seorang diri mendaki bumi untuk melakukan refleksi. Itu hari terakhir musim panas ia duga. Umurnya telah lepas 27 tahun, dan ia semakin lama semakin paham bagaimana segala hal bekerja.

Baginya, ketinggian membuatnya selalu merasa nyaman, lebih nyaman dari yang mampu ia duga. Dari sana, ia bisa melihat segalanya dengan lebih bebas, dan segalanya juga tampak lebih luas dan tidak berbatas. Ia semakin merasa candu merasai betapa kecil dirinya, melayang seorang diri di angkasa yang tidak jelas juntrungannya. Menyatakan diri sebagai sebuah subjek penting yang berada tanpa tahu dari masa asalnya, melebur bersama tujuh milyar manusia lainnya di bumi yang tidak seberapa luas ini. Bahkan tempat itu telah terlampau sakit untuk dinyatakan layak huni.

Kemana lagi manusia bisa lari?

Sepulang mendaki itu, badai terus berlangsung selama 3 hari tanpa putus, dan ia menemukan dirinya hanya bisa mengurung diri di kamar, dan menghabiskan hari-hari dengan tidak melakukan apapun kecuali membaca buku dan menulis fabel. Cerita tentang manusia telah begitu memuakkan untuknya. Sementara begitu banyak orang yang berkeluh kesah, baginya semuanya tidak jauh berbeda. Adalah manusia-manusia yang butuh belas kasih dan kurang kasih sayang yang bisa bercerita tentang manusia juga. Melelahkan sekali. Satu hal itu, yang kemudian juga membuatnya enggan untuk menulis cerita tentang manusia, hidupnya sendiri belum juga usai ia ceritakan.

Hanya dalam tiga hari itu, sebuah kumpulan cerita gambar telah berhasil ia susun dengan baik. Dan di hari ketujuh hari hujan itu, naskahnya sudah siap ia kirim ke editornya. Mungkin dalam beberapa bulan ia akan melihat satu buku lain lagi yang terpampang namanya di sana, Atmosfera Diana.

Ponselnya bergetar di ujung meja, dan ia tidak merasa tergugah untuk segera menelusuri gawainya itu. Pikirannya kembali mengingat hari-hari hujan itu, dan mencoba menggali semakin dalam tentang hal-hal yang telah ia lupakan selama 21 hari belakangan. Sejauh ini belum ada yang ia temukan di ingatannya. Sampai hari ke tujuh tidak ada hal yang ia lupakan, semuanya rapih ia simpan di dalam ingatan.

Di hari ke delapan, ia membuka laptop untuk mencoba menulis kumpulan sajak. Sudah lama ia merangkai beberapa saja yang terus menerus ia hafal. Lebih sering ia melakukan itu dari pada membaca kitab sucinya. Saking hafalnya, ia hampir mampu selalu bisa menyanyikannya dalam nada yang sama, emosi yang sama, dan penggal yang sama pula. Entah hal apa yang membuatnya begitu yakin kumpulan sajaknya kali ini akan terbit sebagai best seller di salah satu penerbit. Bukankah akan menjadi gebrakan penting untuk dirinya yang tidak pernah menelurkan karya sastra itu?

Maka tuts itu kembali bernyanyi selama 7 hari yang lain. Bahkan kumpulan sajak yang tidak juga membutuhkan halaman yang lebih banyak dari fabelnya, ternyata membutuhkan waktu yang terlampau panjang, jauh lebih panjang dari yang ia duga. Tapi toh ia menikmatinya. Bayangan dirinya dalam cermin sering berkata bahwa semua hal yang membutuhkan waktu lebih lama terasa lebih manis dan indah, pun lengkap. Bukankah itu kedengaran menyenangkan di telinga?

Di tengah bulan itu, hujan yang petir terjadi begitu dasyatnya. Ia tidak tahu pasti, apakah hujan itu termasuk badai atau tidak, membahayakankah atau hanya fenomena biasa? Tapi dengan pasti ia keluar rumahnya dalam hujan itu, terlalu terpesona pada petir dibandingkan dengan ukuran hujan itu di mata petugas-petugas BMKG. Matanya mungkin cukup kesulitan menangkap citra petir jauh di atas sana, tapi ia berhasil mencuri beberapa momen petir yang paling fenomenal dalam hidupnya. Dilihatnya pohon jambu di depan rumahnya yang kecil bergoyang-goyang hebat, lalu roboh menimpa ujung rumahnya.

Ia bahkan hanya terdiam menyaksikan hal itu. Lebih karena dilihatnya atap kamarnya aman saja di tengah badai itu. Tidak ada ranting apapun yang membahayakan genting-genting di atas kamarnya. Maka ia justru semakin bahagia karena pohon jambu yang menghalangi pandangannya kini telah tumbang. Menyisakan pemandangan langit berpetir tanpa halangan apapun baginya. Senyumnya semakin lebar terus termenung di bawah hujan. Entah berapa lama ia terus melakukan itu hingga tersadar olehnya kuku tangannya berubah biru. Maka ia bergegas masuk dan menjarang air, berganti pakaian dan menyelimuti dirinya dengan selimut tebal. Dihabiskannya sore itu dengan menyesap teh sedikit demi sedikit hingga tandas. Diulangnya dua kali sebelum akhirnya ia ingat kamar tamunya kini pasti telah penuh air.

Tidak salah apa yang kemudian ia duga. Didapatinya kamar tamunya telah tergenang air setinggi 1 cm, melebar secara merata memenuhi ruangan. Hanya berhenti di depan kamar tamu karena ada karpet yang keburu menyerap seluruh air yang menyentuhnya. Ia bergegas membereskan kekacauan itu. Agak menyebalkan karena hujan itu tidak juga reda, dan ini sudah hari ke 14!!

Susah payah selama sisa hari setelahnya ia membereskan seluruh kekacauan di rumahnya itu. Pertama-tama ia mengeluarkan karpet basah itu di halaman belakang, tempatnya biasa menjemur pakaian, meski di hari lain ia sering pula menggelar karpet dan piknik makan siang di sana sembari memperhatikan ikan-ikannya yang tumbuh gendut nan gesit. Kursi-kursi kayu ia angkat ke pinggir, ditumpuk dalam satu tumpukan tinggi di sana. Lalu membuat saluran air ke arah luar rumahnya, dan karena lelah menyerbunya, ia meninggalkannya begitu saja dalam keadaan basah.

Tentu saja hari-hari setelahnya ia sibuk mencari genting yang masih baik di halaman belakang. Ayahnya yang baik itu pernah berpesan bahwa beliau meninggalkan beberapa buah genting kalau-kalau ada yang bocor. Pun alat-alat pertukangan yang ia koleksi sejak masih kuliah ia simpan bersama genting itu di gudang kecil di halaman belakang. Gudang itu terbuat dari jendela-jendela bekas, dan ditutup atap seng di bagian atasnya. Membuatnya tampak seperti akuarium, tapi berisi perkakas. Ia menemukan ide kecil itu ketika berkeliling di kompleks bangunan Belanda, lantas menemukan sebuah gudang kaca yang membuatnya ingin mencongkelnya dari bangunan utama hari itu juga.

Ia menemukan tumpukan genting itu, lantas mengangkutnya ke halaman depan dan menatanya dengan rapih di samping tembok. Ia harus membersihkan ranting dan pohon jambu yang tumbang. Maka seharian itu ia bahkan tidak sempat menyentuh genting yang patah berhamburan di atap, dan malah memotong-motong kayu, lantas memasukkannya ke dapur rumah, menatanya dengan rapi di atas tungku untuk diasapi.

Maka selama 5 hari setelahnya ia disibukkan dengan kegiatan membereskan, memotong, mengangkut, memanjat, dan menata buah-buah genting yang telah ia temukan di gudang belakang. Begitu puas dirinya menemukan rumahnya kembali bersih dan rapi seolah tidak ada yang terjadi. Satu-satunya hal yang janggal adalah halamannya yang koyak bekas bersemayamnya akar pohon jambu. Kini ia bagaikan kuburan yang baru saja dibongkar.

Sudah lama tidak ada yang berkunjung ke rumahnya. Terakhir kali ia ingat ada seorang lelaki paruh baya yang mengantar sebuah undangan ke rumahnya. Memintanya untuk datang ke pelaminannya. Lantas dalam cengiran cangung menanyakan kapan dirinya menikah.

“Menikah terlalu klasik untukku. Aku butuh yang lebih dari itu, sekaligus yang tidak semewah itu,” jawab si gadis dalam ketenangan patung giok. Sementara pikirannya terus berkecamuk meminta diri untuk melupakan segala hal tentang si pria paruh baya.

“Ah, aku lupa bahwa kau tak bisa diajak berbicara hal-hal yang terlampau biasa.”

“Adalah kau yang mengajarkanku untuk melupakan hal-hal semacam itu. Kalau begitu aku ganti jawabanku, aku akan menikah di senja pertama setelah hujan selama 21 hari. Aku tidak datang ke pernikahanmu, besok akan hujan,” katanya seraya menutup pintu.

Si lelaki paruh baya berdiam lama di sana, lantas melihat langit sejenak, dan berlalu pergi. Si gadis baru ingat penggal cerita itu, awal kutukan yang menyebabkan rumahnya diguyur hujan selama 19 hari tanpa putus. Dan itu artinya ia harus menikah di senja pertama setelah hujan selama 21 hari. Bukankah itu tiga hari lagi?

Ada yang aneh menurut si gadis, karena ia lupa apa yang ia kerjakan selama 3 hari sisanya. Meski sore itu ia kemudian ingat ia harus menikah. Tapi dengan siapa ia melakukannya? Persiapan apa yang telah ia lakukan?

“Aku menemukannya!” didengarnya seseorang berteriak di dalam kepalanya. Tapi dirinya sedang berada di kamarnya, di rumahnya yang hanya ia sendiri yang tinggal. “Aku menemukannya!” sekali lagi teriakan itu didengarnya. Suara lain silih berganti memenuhi kepalanya. Pandangannya menjadi kabur dan ia semakin sulit mengenali kamarnya. Tanpa tahu mengapa, semuanya menjadi gelap gulita. Ia bahkan tidak dapat melihat ujung hidungnya sendiri.

*

Si gadis kembali hilang ingatan, ketika akhirnya ia mampu melihat ujung hidungnya sekali lagi. Di sekitarnya terdengar begitu banyak orang bergumam, entah membicarakan apa. Diangkatnya sebelah tangannya, ia menemukan namanya masih sama; Atmosfera Diana. Itu artinya ia belum juga berreinkarnasi atau pindah ke dunia lain. Serbuan ingatan itu membanjirinya tiba-tiba.

Tentang semua barang yang ia persiapkan untuk pendakian terakhir kali sebelum ia menjadi istri orang lain. Sebuah pendakian kontemplatif yang lain di hari hujan ke 20, yang ia yakin akan bertahan hingga hari ke 21. Maka ia berkemas dan menuju ke gunung terdekat untuk mendaki seorang diri. Meski ia jarang membaca kitab suci, ada keyakinan aneh bahwa memperjuangkan doa akan membuatnya terkabul dengan mudah. Ia hanya berharap satu hal dari jalan-jalannya itu, bahwa esok hari sepulang pendakian senja akan kembali tiba, dan ada seseorang yang mengajaknya menikah.

Alangkah sederhana permintaan itu, sebuah doa kecil dari gadis yang hidup seorang diri.

“Ah, kamu sudah bangun! Kupikir kamu akan mati, sudah dua hari kami mencarimu dan betapa anehnya menemukanmu berlutut di puncak gunung dalam keadaan hampir mati!” seorang laki-laki paruh baya menyerbunya dengan kalimat itu.

“Mati tidak menakutkanku. Yang kutakutkan adalah mati tetapi mayatku tidak dikremasi.”

wordsflow

sajak palsu


Rupa kata-kata,

lupa rupa-rupa.

Pura-pura lupa?

Katanya pura-pura!

Oh hei, rupanya kau hanya berpura-pura lupa,

tentang sesiapa yang berdiam di mana, untuk apa dan siapa, mengapa dan sampai kapan.

wordsflow

tentang kematian (ii): Hidup


Dan ia berdiri dengan penuh percaya diri di depan cermin kamarnya. Ia telusuri rasa lelahnya yang setiap hari menghiasi parasnya, seolah ada duka yang begitu dalam dan tidak terjelaskan, bahkan oleh dirinya sendiri. Dari mana rona lelah itu berasal? Dari mana semua kesedihan itu datang? Bagaimana bisa keduanya memilihnya untuk bersemayam?

Ia lelah dengan tubuhnya, meski ia begitu mencintai setiap lekuknya. Ia sudah sangat hafal bagian manapun dari tubuhnya. Dari benjolan kecil di kepalanya karena tertimpa kayu saat umur 5 tahun, hingga tahi lalat yang bersembunyi cantik di punggung bagian atasnya. Tubuhnya bukan lagi sebuah rahasia baginya, meski ia tentunya masih sulit memahami bagaimana sakit bermula, atau sebuah rasa tercipta. Semua terlampau sulit untuk dijelaskan.

Maka, ia terus menerus menelusuri hal-hal terlihat dari tubuhnya yang tidak seberapa indah itu, sembari mengutuki beberapa bagian jika hatinya sedang tidak nyaman, atau harinya terlampau buruk.

Setiap saat menjelang mandi, ia akan terus menerus memperhatikan setiap bagian tubuhnya, seolah dengan begitu dia akan menemukan hal baru di sana. Tapi sekonyong-konyong ia hanya menemukan paras yang semakin sendu, dan kerutan baru di wajahnya yang telah cukup tirus itu. Dahinya dihiasi oleh titik-titik keringat hasil yoganya di kamar sempit ukuran 2,5×3 meter itu. Meski kamarnya hanyalah kamar kecil tanpa ventilasi, dengan jumlah barang yang terlampau banyak, ia tetap menolak membeli sebuah kipas angin untuk kamarnya. Menurutnya kipas hanya membawa debu-debu beterbangan dengan liar, menciptakan badai mini di kamarnya.

Ia bergegas mengambil handuk, melilitkannya menutupi pinggang sementara bagian atas tubuhnya masih terbalut kaos, mengambil sabun, pasta gigi, dan sikat giginya, dan berlalu begitu saja membiarkan kamarnya tetap terbuka.

Kamar mandi selalu menjadi ruangan yang ia sukai, seolah di sanalah segalanya bermula dan terlahir kembali. Bahkan menurutnya, jika banyak orang membicarakan reinkarnasi dengan segala teorinya, mereka salah. Kamar mandilah yang menciptakan reinkarnasi bagi jiwa-jiwa yang terperangkap tubuh-tubuh kelelahan seperti dirinya. Rutinitasnya selalu sama; meletakkan peralatan mandi di bibir bak, menggantung handuk, membuka pakaian hingga tandas, dan menyalakan keran air. Suara itu sangat ia sukai, seolah dunia berhenti begitu suara keran menyergap telinganya.

Bersetubuh dengan air (begitu ia memberinya istilah), membuatnya selalu merasai hidup dengan begitu sederhana. Siapa lagi yang mampu menyetubuhi setiap lekuk tubuhmu semudah air melakukannya? Begitu ia berkata setiap kali bayangannya sendiri bertanya. Setiap guyurnya ia nikmati sebagai sensasi menelusuri diri sendiri yang kadang terlampau asing untuk dinyatakan sebagai ‘diri’. Sulit sekali menjelaskan apa itu tubuh, dan bagaimana cara merasai si tubuh sebagai bagian dan bukan bagian dari diri.

Telanjang dan sendiri, begitulah setiap orang dilemparkan ke dunia, dan berakhir pula di lubang kubur. Tidak ada yang lebih nyata dari pengalaman menyatakan diri dalam keadaan telanjang dan sendirian. Pengalaman itu membuatnya mampu berpikir dengan lebih jernih, tentang kesedihan, nasib buruk, takdir, cita-cita, keberuntungan, dan cinta kasih yang ia rasakan sepanjang perjalanan hidupnya. Seolah-olah kesemua itu menyerbunya menuju kesadaran akan hidup. Dan di sela-sela itu selalu ada air mengguyur, dan suara air yang saling beradu memcipta gemericik yang disukainya. Ah, alangkah sederhananya hidup, katanya, hanya sebatas makan, berkegiatan, tidur, dan mandi. Dan dengan mandi, begitulah manusia berreinkarnasi.

Favorit keduanya adalah memandang dirinya yang telanjang dan sendirian di hadapan cermin; menantang diri sendiri tanpa penutup, tanpa sekat, begitu saja tanpa apapun. Ia berpikir keras, bagaimana bisa tubuh itu menjadi mempesona? Bagaimana tubuh itu nantinya akan membahagiakan seorang laki-laki dalam hidupnya, menyimpan bakal bayinya, dan memberikan kehidupan untuk bayi-bayi itu, hingga nanti kematian merenggutnya dari dirinya sendiri. Aneh sekali karena memikirkan kematian sembari merasakan sentuhan jemarinya di perutnya, rasanya menggelitik, menelusur lehernya, pipinya, hidungnya, matanya. Ia berkedip, dan pantulan itu ikut berkedip. Ah, betapa sederhananya kesadaran akan hidup itu.

Ia ingat teman-teman lelakinya sering berkelakar tentang perempuan, seolah-olah perempuan adalah objek bodoh yang pantas dibicarakan begitu saja. Ia menjadi muak. Rasa muak itu dalam sekejap berubah menjadi kemarahan begitu ia mengingat rasa yang tak mampu ia tampik meski juga tak berjawab. Kenapa perempuan menjadi perempuan? Dan mengapa ia menjadi demikian? Ia lelah memandang parasnya yang selalu lelah, dan bahkan dalam raut bahagianya ada duka yang terselip dengan rapihnya.

“Kamu akan baik-baik saja,” begitu katanya pada cermin setiap kali ia bersedih hati. Bahkan meski ia tahu kalimat itu tidak akan mengubah apapun, ia tetap terus mengucapkannya bagai mantra.

Ia suka merawat dirinya. Mengoleskan cairan-cairan kental dan wangi ke lengan dan kakinya. Kadang ia ulas bibirnya dengan gincu merah muda yang menawan, sembari mengagumi bibirnya sendiri; bisa terjadi banyak hal dari tempat itu! Hanya matanya yang tak pernah mampu sungguh-sungguh ia tatap. Seolah ada yang berkata tentang betapa seringnya jiwa dan raga itu menipu dirinya sendiri, mencoba meracik harmoni namun selalu hanya menemukan diri terbelenggu tuntutan-tuntutan tak terjawab. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menyudahi. Demikian, ritual itu mengakhiri reinkarnasinya di hari itu.

Sekonyong-konyong, bagian yang ia sadari berikutnya adalah dirinya yang sedang berjalan seorang diri menenteng es kopi. Hari ini telah diputuskan olehnya untuk mencoba berbahagia. Telah lupa pula kapan ia bisa tersenyum kepada setiap orang yang ia temui di jalan. Baginya, waktu terlampau membingungkan untuk memberikan konteks pada hal-hal yang terjadi padanya.

Ia ingat ada seorang lelaki dalam hidupnya yang selalu ingin ia baca isi pikirannya. Belakangan ia sadar bahwa hal itu imajinasi belaka, karena bahkan terkadang ia tidak mampu menjelaskan dirinya sendiri. Bukankah menyedihkan sekali hal itu? Menemukan diri terus meratapi hal yang sudah ia sadari tiada berguna. Bahkan ketika bibirnya tersenyum begitu rupa pada sesiapa yang ia temui di bangku tongkrongannya siang itu, pikirannya masih melayang-layang pada laki-laki yang sama.

Satu momen itu, ia ingin terus hidup dan memastikan diri bahwa ia tidak akan terus menerus memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Bahwa dirinya yang sebenarnya telanjang dan sendiri itu mampu melangkah untuk terus menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang hidup, tentu juga tentang mati.

Satu momen itu, menjadi keinginan terakhirnya ketika dirasai jantungnya berdetak begitu kencang hingga seolah bergaung di dalam kepalanya sendiri begitu keras. Detak yang begitu hanya berlangsung sebanyak tiga hitungan yang sangat pelan.

Detak pertama ia bertanya apa yang terjadi pada dirinya? Seketika menemukan jawaban bahwa benar sekali dugaannya, raga sama sekali bukan milik kita, karena kita hanyalah jiwa.

Detak keduanya, ia mengingat reinkarnasinya yang terakhir kali, menyesali diri bahwa ternyata itu akan menjadi kali terakhir reinkarnasinya. Seketika kesedihan melanda dirinya.

Detak ketiga, ia ingat pernah begitu bertanya-tanya tentang siapa yang akan menangisinya ketika kematian datang, yang mengantarnya hingga ke pemakaman, dan terkadang menjenguknya dalam kesendirian. Pilu itu semakin dalam ia rasakan, karena bahkan pertanyaan yang paling ingin ia temukan jawabannya itu pun tidak akan pernah ia tahu lagi.

Penghabisan detak itu, ia mengguratkan pilu yang dalam di parasnya yang telah lama lelah. Rebah bagai tertidur pulas di bawah pohon dengan sebuah buku masih di genggaman.

Setidaknya, kita kemudian tahu bahwa kematian sudah tidak lagi merupakan misteri bagi si gadis.

wordsflow

tentang kematian (i): Mati


Anak kecil itu tidak tahu bahwa mati artinya tidak lagi mampu bicara, berpikir, memberikan kasih sayang, atau melakukan hal-hal yang ia lakukan. Bisa jadi mungkin memang orang mati itu masih ada di sana untuk memperhatikan dirinya yang masih belum mampu membedakan mana sikat gigi dan sikat sepatu. Singkatnya, anak kecil itu tidak paham bagaimana ‘mati’ itu, sementara si orang mati tidak dapat lagi menjelaskan apa itu mati.

Jauh beberapa jam sebelumnya, si orang mati melihat anak kecil ini sedang memancing di sungai yang penuh sampah. Saking penuhnya bahkan ia mampu berjalan di atas sampah-sampah itu tanpa tenggelam kalau ia mau, tapi ia enggan karena bahkan hidungnya yang masih kecil itu pun mampu mengatakan bahwa sungai itu terlampau bau. Tapi ia tetap mau memancing, lantaran sempat dirinya melihat poster tentang alat pancing paling mutakhir yang ditempel di jalan sejauh dua blok dari tempatnya berdiri kini.

Ia berusaha mengingat-ingat dengan baik bagaimana bentuk alat pancing itu, selama 3 hari berturut-turut sembari membawa alat pancing rancangannya dari kayu bekas sapu yang dite mukannya di tumpukan sampah, dan tali rafia yang dia kais-kais pula dari tempat sampah.

Di hari pertama, rafianya tidak mampu masuk ke dalam air, yang memang tidak tampak sama sekali dari atas! Malahan cuma tertiup angin dan selama seharian ia berusaha untuk mencelupkan si rafia masuk ke dalam air di bawah tumpukan sampah. Dia tidak berhasil. Frustasi karena siang yang terlalu terik, dan es teh yang ia temukan di tong sampah gang sebelah pun sudah habis tak bersisa. Sekali-kali ia melirik ke mobil-mobil di atas jembatan, berharap salah satunya ada yang melempar es teh yang lain ke tepi sungai tempatnya berada. Tapi nihil. Ia menyerah di hari itu.

Sepanjang sore hari itu ia mempelajari poster alat pancing yang ia lihat di jalan sejauh dua blok dari sungainya. Beberapa orang yang melihatnya tampak enggan untuk mendekat lebih dekat dari 2 meter jaraknya. Mereka seolah menganggapnya kotoran bau yang teronggok salah tempat di depan poster alat pancing itu.

Ia kembali ke sungai di hari kedua upayanya membuat alat pancing. Siang itu sama panasnya dengan hari sebelumnya. Beberapa pemulung terlihat sibuk mengambil beberapa barang yang dapat dijual. Maka, si anak kecil kembali termenung di tempatnya terdiam kemarin. Ia sangat yakin bahwa kali ini alat pancingnya akan bekerja. Ia telah mengganti talinya dengan senar yang dengan susah payah ia cari di tumpukan sampah samping sungai, setelah beberapa kali mencoba meminta pada pemulung-pemulung di sana, tapi ia tidak berhasil.

Saat itulah kali pertama ia melihat si calon-orang-mati. Pakaiannya aneh. Tingginya mendekati tinggi rumah kardusnya, dengan kulit yang begitu putih yang tidak pernah dilihatnya. Bibirnya terlalu merah di siang yang seterik itu, dan wanginya seperti wangi melati. Bedanya, melati yang ini baunya agak sangit aneh, mungkin karena bercampur dengan bau badannya sendiri. Ia tidak mengucapkan apapun kepada anak kecil, hanya melihatnya dengan tatapan aneh, lantas berlalu begitu saja.

Begitulah, si anak kecil mengingat si orang mati hanya sebatas itu saja. Esok harinya, pagi hari di hari ketiga ketika ia dengan bersemangat akan menguji coba alat pancingnya, ia melihat si orang mati itu telah tertidur di atas tumpukan sampah di atas sungai. Sekitarnya terdapat warna merah, yang diketahuinya bernama darah karena ia pernah mendapatkannya ketika tanpa sengaja terjatuh di jalan raya. Pasti sakit, pikirnya, dan hebat sekali ia tidak menangis atau menjerit-jerit.

Maka sepagian itu si anak kecil hanya menunggui si orang mati dengan tetap mencoba alat pancingnya. Ia terus memancing sampai pemulung pertama menampakkan diri dan tergopoh-gopoh mendekati si orang mati. Ia mengatakan beberapa kalimat, yang diacuhkan begitu saja oleh si anak kecil. Menurutnya hanya alat pancing itu yang paling penting untuknya.

Tapi hanya dalam waktu singkat, orang-orang mulai berdatangan dan mengganggu acaranya memancing. Beberapa bahkan mengusirnya pergi. Untung sekali baginya karena si pemulung memintanya untuk tinggal, bahkan menggandengnya di sampingnya seolah-olah ia adalah anaknya. Sementara ia tidak peduli, kecuali mempedulikan bahwa orang-orang dewasa itu menghalangi dirinya untuk memancing. Bahkan dengan semena-mena menutup lubang pancing yang susah payah ia buat di antara tumpukan sampah.

Maka ia mencoba marah, tapi tidak ada yang paham bahwa dirinya marah. Yang ia ketahui kemudian, ia dibawa jauh dari sungainya, lalu orang-orang dewasa itu menanyakan sesuatu yang tidak dia pahami, “Jam berapa kamu melihat orang mati itu?” Dengan tidak paham ia bertanya, “Mati itu apa?” Lalu orang-orang dewasa mulai berlomba menjelaskan padanya bagaimana ‘mati’ itu, apa ‘mati’ itu, dan semakin memaksanya untuk menjelaskan siapa orang mati itu.

Betapa takjubnya si anak kecil itu, menemukan bahwa si orang berpakaian aneh dan sangat wangi itu bisa begitu dipedulikan orang hanya karena dia ‘mati’. Dan ia berpikir-pikir untuk menciptakan darah sebanyak itu dengan caranya sendiri, dia akan menjadi mati agar dipedulikan orang-orang dewasa di sekitarnya.

wordsflow