WORDS FLOW

setiap pengalaman pantas untuk diingat

Category: on Poetry

Lalu,


Lalu kita berpisah satu per satu tanpa ragu; tiada beban, tiada sesal, tiada air mata. Seolah yakin semesta akan selalu punya rahasia untuk menyatukan yang pernah tercerai atau terurai.

Barangkali benar, tiada aku padamu, tiada kita dan memoria. Hanya kadang gelitik waktu mencipta kenang bahwa pernah ada tawa dan gema canda.

Ada rindu yang selalu menemani detik waktu. Sejenak barang beberapa ketuk menggedor ingatan dan perasaan. Barangkali rindulah yang paling memanusiakan. Sisanya berlaku meramaikan.

Ada yang pergi esok, lalu hari selanjutnya. Sisanya penantian untuk pulang atau penantian untuk menyusul mengejar tualang. Antara kita, entah siapa yang mana.

Terkadang hanya melihat namamu atau sepatah kata telah melegakan pertanyaan dan pencarian. Kadang yang begitu hanya butuh ditenangkan. Ah, di lain waktu butuh segenap kesibukan untuk mengalihkan. Tak jarang harus dipaksa melupakan.

Lalu, ada tubuh-tubuh yang tetap pergi meski kita melarang. Ada raga yang tak mau tinggal meski memohon. Ada raga yang terbatas jarak meski begitu ingin. Terlalu banyak batas yang mengerdilkan ingin menjadi angan.

Kadang doa tak seberapa panjangnya. Tapi begitu yakin akan sampai pada tempatnya. Apa masih percaya doa?

Di dalam sepi yang terlalu sepi, atau ramai yang terlalu ramai, ada pertanyaan seputar yang terlihat mata dan yang pernah tertangkap olehnya. Sesibuk itu aku mengingat yang telah lewat. Tiada guna mungkin. Hanya saja tetap suka.

Lalu tetap ada tubuh yang pergi. Sembari berharap ada jiwa yang tersisa tinggal. Agar begitu pulang ada hal yang dapat kupungut dan kusimpan dalam tenang.

Nanti di dalam sepi yang terlalu sepi, yang begitu bisa kupanggil menemani.

wordsflow

days with no interests


Seorang perempuan berjalan cepat di trotoar. Tangannya menutup mulut menghalau debu dari kendaraan yang berlalu lalang.

Seorang tukang gojek berjongkok di samping motornya yang terparkir di luar gerbang yang terkunci. Jaket hijaunya tersampir lunglai di atas jeruji. Kepalanya tertunduk. Kedua tangan memegang tengkuk. Tidak bergerak. Layar ponsel berkedip di bawah motor yang diam.

Seorang pria dengan pakaian lusuh berdiri mematung di pinggir jalan.

Seorang lelaki muda sedang sibuk dengan ponselnya. Helm lekat di kepalanya. Motornya kaku tanpa suara mesin. Tak dipedulikannya sesiapa yang memenuhi jalan raya.

Seorang lainnya terburu-buru menyeberang jalan. Menggenggam erat perempuan kecil yang mungkin adalah darah dagingnya. Tas kresek hitamnya bergoyang-goyang oleh hentakan kaki terburu-buru.

Di dalam mobil seorang perempuan menginjak rem. Matanya tak lepas dari dua penyeberang jalan. Entah apa yang ada di balik bola mata itu. Kiranya.

Sejengkal jalan di dalam jeda. Menyediakan rupa manusia. Seperti aku di mata yang lainnya. Atau kita di mata sesiapa.

Still, there are days with no interests.

Sajak-Sajak Empat Seuntai


/1/
kukirim padamu beberapa patah kata
yang sudah langka –
jika suatu hari nanti mereka mencapaimu,
rahasiakan, sia-sia saja memahamiku

/2/
ruangan yang ada dalam sepatah kata
ternyata mirip rumah kita:
ada gambar, bunyi, dan gerak-gerik di sana –
hanya saja kita diharamkan menafsirkannya

/3/
bagi yang masih percaya pada kata:
diam pusat gejolaknya, padam inti kobarnya –
tapi kapan kita pernah memahami laut?
memahami api yang tak hendak surut?

/4/
apakah yang kita dapatkan di luar kata:
taman bunga? ruang angkasa?
di taman, begitu banyak yang tak tersampaikan
di angkasa, begitu hakiki makna kehampaan

/5/
apa lagi yang bisa ditahan? beberapa kata
bersikeras menerobos batas kenyataan –
setelah mencapai seberang, masihkah bermakna,
bagimu, segala yang ingin kusampaikan?

/6/
dalam setiap kata yang kaubaca selalu ada
huruf yang hilang –
kelak kau pasti akan kembali menemukannya
di sela-sela kenangan penuh ilalang

© 1989, Sapardi Djoko Damono

***

Sudah beberapa waktu lamanya saya tidak menulis, entah mengapa. Padahal saya kira, ketika mencoba menulis sesuatu, tetap akan ada yang tersampaikan. Sayang sekali, ada yang telah hilang, ada yang telah berubah, ada yang telah mati, dan sedang menunggu sesuatu bertumbuh kembali; apapun itu.

Mungkin, saya tidak akan menulis lagi. Barangkali saya akan berhenti berlari dan membangun tempat istirahat sendiri. Menangis sampai pagi, mungkin? Atau berdiam diri hingga petang menjelang. Setiap kali kubayangkan ada hari baru yang datang, tiada yang berbeda dari apapun yang telah lalu. Rumput bertumbuh yang sama, rumah yang sama, air mengalir yang sama, pepohonan yang sama. Tiada yang berubah, mereka hanya bergerak-berpindah.

Sudahlah.

wordsflow

 

‘in between’ momento


It’s been a plenty of time not having fun with water and sweat. But the rain kept coming while I was busy with things around. Look like they know when was my time gone, or left on.

Tetiba kesadaran akan waktu menghampiriku siang ini. Benar, telah sungguh lama ada ‘kita’, mungkin sepanjang perjalanan waktuku mencari rindu. Dua? Empat? Lima tahun? Atau bahkan jauh lebih awal dari yang mampu kuduga tentang waktu. Nyatanya, dugaanku tentang rasa bertahan lebih lama dari yang kukira, sayang sekali aku pernah salah ketika bertutur padamu tentang perkara rasa.

Tapi aku ingin keluar dari mimpi; yang selalu saja bercerita tentang kamu, lalu kita, lalu masa yang entah kapan mewujudnya.

Oh hey, hari ini Hari Bumi!

Aku ingin membiarkan diriku berkelana tanpa tujuan. Sesekali aku ingin mencatatkan rindu yang kutahu selalu tentang kamu. Di lain waktu kukira berkesadaran akan kesendirian selalu memberi ruang yang cukup untuk bertanya dan menjawab sekedarnya. Rumit memang. Tak ada yang pernah bilang hidup cukup mudah untuk dijalani. Tapi toh kita tetap memilih untuk tetap menempuh hidup.

Kadang datang kesadaran lain untuk berhenti dan bergurau saja dengan hidup. Tak terbendung bantahan untuk mengalah, mempertahankan yang maya atau yang tampak mata. Kataku, biarkan saja. Semua toh jika tidak berhenti pada raga, akan berhenti pula pada perkara.

At the end, everything is about keeping a smile on my face on, yet not letting it dried out. Let’s celebrate!

wordsflow

Rentang


Yang terhampar antara subjek materiil dan imateriil, sebuah ruang antara. Kita menyebutnya dengan banyak nama: jarak, keterpisahan, jeda, tapi aku lebih suka menyebutnya sebagai rentang.

Kata itu, membuat semua pengharapan dan keputusasaan atas ruang antara itu menjadi tak lagi kentara. Tak ada yang positif dan negatif dari ‘rentang’, yang ada hanya sebuah terminologi untuk menjelaskan yang ada di antara kita; aku dan kamu.

Pada rentang itu, aku mengisinya dengan banyak hal; pengharapan, suka, cerita, duka, tangis, tawa, kenangan, marah, ah, bahkan cinta. Semua yang mungkin bisa saling kita sebutkan satu demi satu, ada di dalam rentang jiwa kita. Tidak ada yang terlalu indah dalam hidup, atau yang terlalu rendah, semuanya menggambil porsinya sebagaimana meracik ramuan hidup yang dibutuhkan. Tak dijanjikan nasib yang mudah kepada setiap orang, baik kamu maupun aku saling memperjuangkan yang kita inginkan.

Rentang; ruang itu kau isi pula dengan berbagai hal, yang tidak pernah mampu aku telusuri satu per satu. Seperti bertanya pada ruang kosong, apa yang kau letakkan di sana, hingga aku tak mampu melihatnya. Mengurainya, harus pula menghilangkan rentang antara aku dan kamu. Serumit itu.

Ah, tidak rumit juga kamu bilang. Hanya butuh dikatakan, atau ditanyakan?

wordsflow

sajak palsu


Rupa kata-kata,

lupa rupa-rupa.

Pura-pura lupa?

Katanya pura-pura!

Oh hei, rupanya kau hanya berpura-pura lupa,

tentang sesiapa yang berdiam di mana, untuk apa dan siapa, mengapa dan sampai kapan.

wordsflow

Karma


Ah, andai saja kau tahu berapa hati yang patah oleh lelaki yang sama, atau berapa hati yang patah oleh perempuan yang sama.

Hanya karena kalian telah saling mematahkan pada mulanya, lantas berharap untuk merangkai kembali hati yang telah terlanjur tercerai-berai itu.

Tapi kalian tak punya kuasa.

Ah, andai saja kau tahu ada berapa hati yang berharap pada hati yang sama, lalu terluka karena keacuhan yang begitu sombongnya.

Lalu hati itu menjadi kering, dan hancur juga begitu saja.

Banyak hati yang berserak remuk itu, tidak satu pun berusaha untuk dibenahi, berusaha untuk ditata kembali.

Sekali lagi, mereka berduyun-duyun meminta belas kasih atas nasib buruk, tapi tak pernah mau kembali dan memperbaiki hati yang terserak remuk.

Ah, andai saja kau tahu berapa hati yang sudah musnah karena nasib buruk yang terlanjur mencandu, mematikan kesadaran akan nasib baik.

Dan tetap tak ada yang mau pergi, atau memaksa diri untuk kembali.

Begitu saja, hati yang telah mati menjadi sepi, semakin sepi, dan terlupakan oleh jiwa-jiwa.

Jangan.

Hanya itu yang bisa kukatakan.

wordsflow

*dalam rangka menghibur sebuah hati, tenang kamu nggak sendirian, sungguh

Biar


Biarkan rindu menjadi rindu, tanpa perlu disampaikan,

Biarkan jarak menjadi jarak, tanpa perlu didekatkan,

Biarkan harap menjadi harap, tanpa perlu dipastikan.

Ketika kesemuanya berkelindan membentuk diri, menggelayut memori, kita semakin jauh menerbangkan cita dan hidup dalam ruang yang tak berkesudahan.

Kepastian kadang menghentikan, meski ingin, meski mendoakan.

Tapi ruang tidak pejal, akan ada masa untuk menetapkan sesiapa, atau sesuatu yang terus kau pertanyakan; tentang hati dan rasa, tentang logika dan akal, tentang budi dan nurani.

Tentang kita yang sekarang atau akan datang.

Lalu biar sekarang menjadi lalu, dan esok menjadi kini, kita pun tetap menanti.

wordsflow

sudah lupa atau memang tidak tahu


Kita lupa banyak hal sejak dilahirkan. Katanya karena manusia mengalami amnesia atas pengetahuan asal yang sedari mula sudah kita miliki. Mungkin benar, mungki juga hanya karena manusia hanya tidak mau belajar.

Kita lupa belajar ilmu sosial, karena mengira hubungan sosial bisa dipahami lewat relasi faktual realitas, padahal banyak yang tersesat atas munculnya kesalahpahaman menanggapi fenomena.

Kita lupa belajar filsafat, sehingga kehilangan diri dan tidak mengkritisi keterlemparan kita di dunia sebagai sebuah ‘takdir’ yang tidak diinginkan. Hingga begitu saja menerima nasib sebagai jalan takdir.

Kita lupa belajar hukum, bahwa selain hukuman ada keadilan yang meletakkan dirinya lebih tinggi darinya. Semua bukan perkara kesamaan, tapi kontekstualitas.

Kita lupa belajar politik, bahwa setiap tindakan manusia memiliki maksud dan tujuan yang mungkin tidak sama, mungkin merugikan atau setara, mungkin berlangsung lama atau sementara.

Kita lupa belajar ekonomi, bahwa di atas resionalisasi selalu ada sesejahteraan yang menghantui. Apa guna akumulasi tanpa kesejahteraan mampu dipahami?

Lupa juga belajar tentang ilmu alam, bahwa alam bukan sebuah objek semata, ia bergerak seperti halnya manusia. Melakukan perjalanan panjang, berubah, bersenang-senang, dan mampu menyampaikan amarah.

Kita lupa pula bahwa ilmu pasti hanyalah alat dan model untuk menjelaskan yang tidak dipahami. Ia bukan sesuatu yang harus selalu diamini. Bahwa di antara yang pasti dan nol, selalu ada ruang antara yang bisa diisi.

Kita lupa banyak hal, bahwa ilmu hanya pelengkap kehidupan, kehidupan manusia dan seisinya. Yang bukan sebuah keharusan dan kewajiban berkehidupan, tapi alat pembantu dan selalu hanya bisa membantu.

Ya, kita selalu lupa akan banyak hal, entah siapa yang mampu mengingatkan.

Tapi, lupa saja atau sengaja melupakan?

wordsflow

Sajak (xxv): hening


Lirih pada suara yang terekam antara mata dan jiwa, bergetar di antara gemerisik gersang dan temaram.

Kapan terakhir kau dengar tonggeret berceracau pada pokok pinus?

Sabtu yang lalu aku mendengar rapal mantra lirih teredam. Kukira itu engkau, tapi kutemukan kau di sudut mata tengah kukuh bergeming–entah pada apa.

Kupikir, tak ada yang lebih sunyi dari sunyi itu sendiri, hingga aku menghalusinasikan percakapan, lalu gelak tawa, tangis teredam, pertanyaan, dan pernyataan-pernyataan.

Di mana kau sembunyikan waktu? Yang memaksaku untuk berlalu, atau memaksamu untuk bertemu bifurkasimu.

Rasanya begitu lama cengkerama dalam sebuah demi sebuah kata kudengar darimu. Sunyi mengutuk bunyi agar terbang saja ke ketiadaan.

Sial, aku terpaksa terpana pada kelancangannya mengatur kita–kita yang mana? kita yang kapan?

Diam-diam waktu menapak pada lantai rindu, tapi tatapku terpaku pada kaki yang lelah meragu.

Tak ada yang berubah pada jarak, yang ada hanya aku yang berselingkuh dengan tali gerak.

Tak ada yang berubah pada riuh, yang ada hanya sunyi yang semakin merengkuh gaduh

Hening. Dan ternyata aku pun bergeming.

wordsflow