WORDS FLOW

just go with the flow and whatever happens, happens

Category: on Poetry

Sajak di bawah atap kelabu.


Bulan hujan sedang mekar-mekarnya, membawa kelabu awan dan petir membelah melaluinya. Suara deras yang memeluk tanah tiada lupa menghibur kita.

Jajar hijau padi ini tak kunjung habis. Kubayangkan kita duduk di tengah gubuk di bawah hujan, di lindungan atap tanah liatnya yang merah terpanggang, terlatih menghalau terik dan tangis langit.

Kita tenang bersisian. Mendengar hujan tak lekas usai, menyusur mimpi yang tak kunjung sampai. Wangi kita yang satu, yang menakar waktu menuju sampainya.

Sajak ini tak panjang, tapi kamu tahu hal-hal yang melayang di sebalik baris-barisnya. Kata ini tak seberapa, tapi kamu bisa menerka rentang waktu yang habis untuk mencapainya.

Ada wujudmu yang semakin sempurna terlukis di dalam ingatan, dalam ruang tempat mengenang. Yang aku surati setiap pagi, kutawarkan cerita-cerita, keresahan dan komedi. Kudekap kuat ketika aku jatuh tersungkur, ku genggam erat ketika ragu menghambur. Yang padanya tak ada canggung yang menipu mengaburkan.

Katakanlah, apakah usai jalan kita bersisian?

Oh semesta, aku jatuh cinta lagi kepadanya.

wordsflow

Sekelebat Bunyi


Aku memanen kekalahan demi kekalahan dari bibit yang salah kutanam.

Hampir jatuh tak mampu menolong diri setiap petikan demi petikannya.

Tapi aku tertegun, takjub dan haru menemukanku masih sanggup membereskan kekacauan.

Di antara dedaunan yang kering, buah yang kopong, bunga yang rontok, kakiku masih menopang daging yang bersedih.

Terpanggang terik, esok tersiram hujan badai.

Sayang, mari tinggal sejenak merayakan kekalahan, melawan panas dengan upaya keras, melawan badai dengan tarian gemulai.

Tinggallah sejenak, sampai kaki-kaki tak mampu berpijak, dan raga tenggelam dalam pekat lumpurnya.

Tinggallah sejenak, agar dapat kupastikan tanah ini kembali subur sebelum aku tanggal.

Mari sayangku, rengkuhlah kebebasan dunia, biar kusiapkan tempat pulang untukmu.

wordsflow

Sajak (xxvi);


Titik dan koma; kamu menegaskannya dalam pura-pura, atau digdaya?

Seruang yang tergelar terbentang pada saujana, pada ujung mata yang terpejam atau nanar menantang

Bahwa tidak mempercayai yang tidak didengar dan tidak dilihat adalah hal yang ternyata tidak juga membawa pada tenteram, pada tenang menunggu malam datang, atau menanti fajar menjelang

Bahwa menahan yang terbangun dalam gejolak tak juga membawa pada gelak dan lupa, tetap di sana, tetap menantang untuk dituntaskan

Koma,

Kamu membuatnya terus berjalan, menunggu titik yang hanya menitik pada satu perjalanan linear kita

Bahwa kemudian, selesai sudah hal yang kita duga, lalu hanya tinggal menerimanya saja

Tapi belum, masih ada koma yang tersemat—bukan aku, bukan kamu—yang tergantung mematung di ujung

Mau kemana?

Tak pula aku mampu memahaminya

wordsflow

Tentang Kesempatan-Kesempatan yang Hilang


Salah satu bagian dari kegiatan jalan-jalan yang paling saya senangi adalah bercerita. Entah kepada diri sendiri, atau sesiapa yang bersedia mendengarkan.

Namun demikian, agaknya cerita itu akan saya tunda sejenak, karena ada hal-hal lain yang ingin pula saya sampaikan.

Benar, ini soal kesempatan-kesempatan yang hilang dalam suatu rentang waktu.

Sebuah pepatah pernah mengatakan bahwa setiap orang adalah pencipta takdirnya sendiri, tanpa kecuali. Betul kemudian jika kita tidak meminta untuk dilahirkan. Barangkali sama betul dengan yang disampaikan Dodit di salah satu show­­nya kalau kita lahir secara otodidak. Kita lahir dan memilih sendiri timeline yang sesuai dengan diri kita. Kita mempelajari kesemua hal seorang diri.

Itulah kemudian yang barangkali membuat kita tidak pernah sungguh terlambat untuk memulai sesuatu, atau mengambil kesempatan di waktu apapun untuk diri sendiri.

Bicara soal kesempatan, belakangan ada sangat banyak keran-keran kesempatan yang terbuka lebar di hadapan saya. Amat sangat banyak hingga saya sering dibuat bingung dalam memilih mana yang paling saya inginkan, paling pas, atau paling membuka peluang ke depannya. Seperti bermain catur barangkali. Langkah pertama bisa menentukan meskipun tidak sepenuhnya menjadi patokan.

Beberapa dari kesempatan itu ternyata berada di posisi prioritas meskipun saya cukup terseok mengikutinya. Beberapa bahkan saya paksakan dalam kemendesakkannya dan menjadi sesuatu yang sesungguhnya sambil lalu saja pada akhirnya.

Kadang-kadang saya masih mengecewakan diri sendiri, terkadang mengejutkan diri sendiri pula. Rasanya bahkan seolah orang yang ini bukan orang yang saya hidupi selama 26 tahun lamanya. Sungguh menarik. Pun melelahkan.

Tentu kejutan-kejutan dari diri sendiri menyenangkan untuk dirasakan. Di sela-selanya, banyak juga (bahkan lebih banyak) harapan yang tidak mewujud menjadi kenyataan. Bohong sekali jika mengatakan bahwa sepenuhnya baik-baik saja. Setidaknya ada sekelebat rasa kecewa karena harapan-harapan yang akhirnya mulai mengeliminasi diri dengan sendirinya dari daftar panjang itu.

Di lapis kedua atas kesempatan-kesempatan itu, ada bentuk kesempatan-kesempatan lain yang jauh lebih tidak dapat diprediksi karena bukan hanya persoalan diri sendiri. Ada banyak sekali titik yang sulit dipahami dan dilihat di mana letak keterhubungannya. Dan selalu saja saya salah membaca dan mengartikan masing-masing dan bentuk hubungannya. Cukup melelahkan.

Lalu lapis kesempatan-kesempatan lain yang jauh lebih abstrak. Hingga pada satu titik hilang pada garis tipis kematian.

Beberapa kesempatan besar harus saya hentikan jalannya karena hal yang jauh lebih prioritas butuh disegerakan. Kadang lucu juga rasanya. Untuk apa kecewa atas hal-hal yang sebetulnya telah saya pilih sendiri timelinenya. Jika dengan pilihan-pilihan itu kemudian saya tidak berjodoh dengan satu dan lain hal, semata-mata karena hal itu yang paling sesuai dengan pilihan atas variasi lintasan yang saya ambil.

Sedih? Kecewa? Masih. Masih semanusiawi itu saya menjalani hari-hari. Di beberapa kesempatan saya mendorong diri untuk menjadi lebih bijak dan kejam terhadap diri. Demi kebaikan. Di waktu yang lain saya bahkan kesulitan mencari tahu mengapa ada emosi dan mengapa ada kondisi tanpa emosi.

Tapi di antara itu pula, saya sering menemukan bahwa saya mendapat kebahagiaan tertentu yang tidak sedikit karena ide-ide di dalam diri saya yang berpotensi untuk diwujudkan. Entah bagaimana kemudian, saya menemukan alasan-alasan cukup masuk akal pula untuk bertahan hidup. Paradoksnya selalu ada tentu saja. Membenturkan diri dengan perasaan dan emosi yang sama sekali lain dari reaksi yang seharusnya termanifestasi.

Seperti mencoba mendorong diri lebih keras ketika kecewa. Atau menenangkan diri ketika terlalu bahagia. Mungkin juga mencoba tetap menyemangati dengan bijak meski kehilangan selera dan putus asa. Seperti paragraf-paragraf ini. Yang tertera hanya untuk disia-siakan. Lalu dilupakan dan dicampakkan.

Mengetahui tidak selalu menyenangkan. Beberapa harus secara sengaja dilupakan agar tidak melukai terlalu dalam, atau meracuni pemahaman, ketenangan, dan rasa percaya. Kadang memang membingungkan. Sebingung aku membacai dirimu dari jarak maupun lekat.

Dan soal kesempatan-kesempatan yang hilang itu, tentu akan ada lebih banyak lagi di waktu mendatang. Tapi itu bukan salah waktu dalam menyediakan, itu perkara diri dalam memilih jalan.

wordsflow

sajak kosong


kita menebar rindu; ya, aku dan kamu

seperti menebar bunga di pemakaman, atau serupa taburan bunga di pernikahan

kadang burung elang yang kulihat berputar-putar, barangkali ada ular di bawahnya

di waktu yang lain hanya seekor cekakak sungai yang melenggang anggun di atas tepian rawa

lagu-lagu terputar pada piringannya, tirai dipasang begitu matahari hilang

rindu kita telah terserak di halaman, menanti untuk dituntaskan

barangkali esok beberapa akan mekar sehingga menarik perhatian

sisanya layu atau tersimpan di tanah tak berbatu

rebah mataku menahan lelah untuk menantimu

di sela waktu ada denyut yang mengingatkanku, di kala lain segalanya sama tak berartinya seperti yang telah lalu

lalu sajak ini?

tak ada perasaan yang butuh diterjemahkan, ia hanya wajib dirasakan

lalu sayang, jangan lupakan setiap verba yang terrekam

barangkali aku melupakan maknanya dalam kita

atau pada akhirnya

kala malam hilang

pagi menghamburkan yang tertera, mengabarkan kekosongan antara aku dan rindu

wordsflow

Lalu,


Lalu kita berpisah satu per satu tanpa ragu; tiada beban, tiada sesal, tiada air mata. Seolah yakin semesta akan selalu punya rahasia untuk menyatukan yang pernah tercerai atau terurai.

Barangkali benar, tiada aku padamu, tiada kita dan memoria. Hanya kadang gelitik waktu mencipta kenang bahwa pernah ada tawa dan gema canda.

Ada rindu yang selalu menemani detik waktu. Sejenak barang beberapa ketuk menggedor ingatan dan perasaan. Barangkali rindulah yang paling memanusiakan. Sisanya berlaku meramaikan.

Ada yang pergi esok, lalu hari selanjutnya. Sisanya penantian untuk pulang atau penantian untuk menyusul mengejar tualang. Antara kita, entah siapa yang mana.

Terkadang hanya melihat namamu atau sepatah kata telah melegakan pertanyaan dan pencarian. Kadang yang begitu hanya butuh ditenangkan. Ah, di lain waktu butuh segenap kesibukan untuk mengalihkan. Tak jarang harus dipaksa melupakan.

Lalu, ada tubuh-tubuh yang tetap pergi meski kita melarang. Ada raga yang tak mau tinggal meski memohon. Ada raga yang terbatas jarak meski begitu ingin. Terlalu banyak batas yang mengerdilkan ingin menjadi angan.

Kadang doa tak seberapa panjangnya. Tapi begitu yakin akan sampai pada tempatnya. Apa masih percaya doa?

Di dalam sepi yang terlalu sepi, atau ramai yang terlalu ramai, ada pertanyaan seputar yang terlihat mata dan yang pernah tertangkap olehnya. Sesibuk itu aku mengingat yang telah lewat. Tiada guna mungkin. Hanya saja tetap suka.

Lalu tetap ada tubuh yang pergi. Sembari berharap ada jiwa yang tersisa tinggal. Agar begitu pulang ada hal yang dapat kupungut dan kusimpan dalam tenang.

Nanti di dalam sepi yang terlalu sepi, yang begitu bisa kupanggil menemani.

wordsflow

days with no interests


Seorang perempuan berjalan cepat di trotoar. Tangannya menutup mulut menghalau debu dari kendaraan yang berlalu lalang.

Seorang tukang gojek berjongkok di samping motornya yang terparkir di luar gerbang yang terkunci. Jaket hijaunya tersampir lunglai di atas jeruji. Kepalanya tertunduk. Kedua tangan memegang tengkuk. Tidak bergerak. Layar ponsel berkedip di bawah motor yang diam.

Seorang pria dengan pakaian lusuh berdiri mematung di pinggir jalan.

Seorang lelaki muda sedang sibuk dengan ponselnya. Helm lekat di kepalanya. Motornya kaku tanpa suara mesin. Tak dipedulikannya sesiapa yang memenuhi jalan raya.

Seorang lainnya terburu-buru menyeberang jalan. Menggenggam erat perempuan kecil yang mungkin adalah darah dagingnya. Tas kresek hitamnya bergoyang-goyang oleh hentakan kaki terburu-buru.

Di dalam mobil seorang perempuan menginjak rem. Matanya tak lepas dari dua penyeberang jalan. Entah apa yang ada di balik bola mata itu. Kiranya.

Sejengkal jalan di dalam jeda. Menyediakan rupa manusia. Seperti aku di mata yang lainnya. Atau kita di mata sesiapa.

Still, there are days with no interests.

Sajak-Sajak Empat Seuntai


/1/
kukirim padamu beberapa patah kata
yang sudah langka –
jika suatu hari nanti mereka mencapaimu,
rahasiakan, sia-sia saja memahamiku

/2/
ruangan yang ada dalam sepatah kata
ternyata mirip rumah kita:
ada gambar, bunyi, dan gerak-gerik di sana –
hanya saja kita diharamkan menafsirkannya

/3/
bagi yang masih percaya pada kata:
diam pusat gejolaknya, padam inti kobarnya –
tapi kapan kita pernah memahami laut?
memahami api yang tak hendak surut?

/4/
apakah yang kita dapatkan di luar kata:
taman bunga? ruang angkasa?
di taman, begitu banyak yang tak tersampaikan
di angkasa, begitu hakiki makna kehampaan

/5/
apa lagi yang bisa ditahan? beberapa kata
bersikeras menerobos batas kenyataan –
setelah mencapai seberang, masihkah bermakna,
bagimu, segala yang ingin kusampaikan?

/6/
dalam setiap kata yang kaubaca selalu ada
huruf yang hilang –
kelak kau pasti akan kembali menemukannya
di sela-sela kenangan penuh ilalang

© 1989, Sapardi Djoko Damono

***

Sudah beberapa waktu lamanya saya tidak menulis, entah mengapa. Padahal saya kira, ketika mencoba menulis sesuatu, tetap akan ada yang tersampaikan. Sayang sekali, ada yang telah hilang, ada yang telah berubah, ada yang telah mati, dan sedang menunggu sesuatu bertumbuh kembali; apapun itu.

Mungkin, saya tidak akan menulis lagi. Barangkali saya akan berhenti berlari dan membangun tempat istirahat sendiri. Menangis sampai pagi, mungkin? Atau berdiam diri hingga petang menjelang. Setiap kali kubayangkan ada hari baru yang datang, tiada yang berbeda dari apapun yang telah lalu. Rumput bertumbuh yang sama, rumah yang sama, air mengalir yang sama, pepohonan yang sama. Tiada yang berubah, mereka hanya bergerak-berpindah.

Sudahlah.

wordsflow

 

‘in between’ momento


It’s been a plenty of time not having fun with water and sweat. But the rain kept coming while I was busy with things around. Look like they know when was my time gone, or left on.

Tetiba kesadaran akan waktu menghampiriku siang ini. Benar, telah sungguh lama ada ‘kita’, mungkin sepanjang perjalanan waktuku mencari rindu. Dua? Empat? Lima tahun? Atau bahkan jauh lebih awal dari yang mampu kuduga tentang waktu. Nyatanya, dugaanku tentang rasa bertahan lebih lama dari yang kukira, sayang sekali aku pernah salah ketika bertutur padamu tentang perkara rasa.

Tapi aku ingin keluar dari mimpi; yang selalu saja bercerita tentang kamu, lalu kita, lalu masa yang entah kapan mewujudnya.

Oh hey, hari ini Hari Bumi!

Aku ingin membiarkan diriku berkelana tanpa tujuan. Sesekali aku ingin mencatatkan rindu yang kutahu selalu tentang kamu. Di lain waktu kukira berkesadaran akan kesendirian selalu memberi ruang yang cukup untuk bertanya dan menjawab sekedarnya. Rumit memang. Tak ada yang pernah bilang hidup cukup mudah untuk dijalani. Tapi toh kita tetap memilih untuk tetap menempuh hidup.

Kadang datang kesadaran lain untuk berhenti dan bergurau saja dengan hidup. Tak terbendung bantahan untuk mengalah, mempertahankan yang maya atau yang tampak mata. Kataku, biarkan saja. Semua toh jika tidak berhenti pada raga, akan berhenti pula pada perkara.

At the end, everything is about keeping a smile on my face on, yet not letting it dried out. Let’s celebrate!

wordsflow

Rentang


Yang terhampar antara subjek materiil dan imateriil, sebuah ruang antara. Kita menyebutnya dengan banyak nama: jarak, keterpisahan, jeda, tapi aku lebih suka menyebutnya sebagai rentang.

Kata itu, membuat semua pengharapan dan keputusasaan atas ruang antara itu menjadi tak lagi kentara. Tak ada yang positif dan negatif dari ‘rentang’, yang ada hanya sebuah terminologi untuk menjelaskan yang ada di antara kita; aku dan kamu.

Pada rentang itu, aku mengisinya dengan banyak hal; pengharapan, suka, cerita, duka, tangis, tawa, kenangan, marah, ah, bahkan cinta. Semua yang mungkin bisa saling kita sebutkan satu demi satu, ada di dalam rentang jiwa kita. Tidak ada yang terlalu indah dalam hidup, atau yang terlalu rendah, semuanya menggambil porsinya sebagaimana meracik ramuan hidup yang dibutuhkan. Tak dijanjikan nasib yang mudah kepada setiap orang, baik kamu maupun aku saling memperjuangkan yang kita inginkan.

Rentang; ruang itu kau isi pula dengan berbagai hal, yang tidak pernah mampu aku telusuri satu per satu. Seperti bertanya pada ruang kosong, apa yang kau letakkan di sana, hingga aku tak mampu melihatnya. Mengurainya, harus pula menghilangkan rentang antara aku dan kamu. Serumit itu.

Ah, tidak rumit juga kamu bilang. Hanya butuh dikatakan, atau ditanyakan?

wordsflow