WORDS FLOW

setiap pengalaman pantas untuk diingat

Category: on Past


Aku tertambat pada tiga jangkar; ruang, rindu, dan waktu.

Tentang Tanah


Maafkan karena pembahasan saya yang selalu kembali ke hal-hal yang saya resahkan. Ini akan menjadi tulisan pertama saya tentang jalan-jalan kecil saya ke Paninggaran, dimana untuk pertama kalinya saya mencari info atas nama penelitian. Beban berat yang sampai sekarang saya resahkan, bahkan ketika saya yakin telah mencapai kesimpulan yang cukup beralasan.

Suatu ketika saat saya belum resmi menjadi mahasiswa, seorang teman pernah mengatakan, “setiap tindakan manusia selalu didasarkan pada kondisi sosio-ekonomi-politik mereka”. Katanya juga, “kamu nanti pasti belajar tentang agraria”. Dan betul memang, saya pun menjalankan hal-hal yang ia katakan itu, persis sebagaimana ia bercerita.

Tapi, saya harus mengakui berkali-kali, terus-menerus, bahwa saya tidak tahu tentang agraria. Meski hidup di keluarga petani, dan masih rajin nyawah setidaknya sampai saya SMP, sering diceritakan suka-duka menjadi petani oleh simbah dan saudara-saudara jauh saya, harus saya katakan bahwa saya pun belum pernah ‘menjadi’ petani. Hal tersebut menempatkan saya tidak sebagai pelaku, tapi hanya orang yang kebetulan tahu.

Saya mencoba membaca banyak buku, bertanya ke banyak tempat, dan akhirnya memaksakan diri melihat dan bertanya langsung pada petani, sebagai upaya untuk memahami. Buku-buku sosio-historis memperlihatkan begitu banyak upaya pematokan tanah, pemberian akses pada satu pihak, atas nama ideologi dan politik tertentu. Apapun itu, nyatanya semuanya memakan korban. Demikian, dinamika sosial menjadi sebuah perjalanan konflik yang tidak berhenti.

Banyak pihak yang terus menerus berada pada posisi paling dilematis di dalam masyarakat dan lingkungan sosialnya. Pihak-pihak ini yang mendapat ancaman paling besar, dan berada di posisi yang paling rawan. Konflik, demikian tidak bisa hanya dilihat sebagai urusan dua pihak yang berada pada kutub ekstrem, namun merupakan serangkaian proses yang panjang dan dialektis. Meski demikian, di dalam proses pun, ada tindakan strategis dan taktis yang mana sepertinya jarang diperhatikan. Tindakan strategis menempatkan kondisi historis sebagai basis pengambilan keputusan, sedang tindakan taktis pada kondisi darurat kala itu.

Penjelasan lebih lanjut tentang ini tidak bisa saya tuliskan sekarang, karena tulisan ini hanya saya ketik melalui ponsel pintar saya. Sementara, menulis serangkaian gagasan yang runut membutuhkan waktu dan laptop.

Konflik agraria, menempatkan tanah sebagai hal yang paling penting untuk diperdebatkan. Apakah kepemilikan atau hanya akses, apakah penggunaan atau pengambilan, dan seterusnya. Pembahasan mengenainya telah dimulai sejak pertama kali petani dijajah oleh penguasa-penguasa di tanah hidup mereka.

Saya tidak sedang berusaha untuk mengajak mendukung petani secara buta. Pun kiranya saya tampak fasis, saya tak merasa perlu meminta maaf pada siapapun.

Ketika saya membicarakan fenomenologi di postingan-postingan sebelumnya, sebenarnya saya ingin mencoba mengatakan bahwa setiap manusia memiliki sistem pengetahuannya sendiri. Perkara itu bertentangan dengan manusia lain, itu memang manusiawi, tapi kesepakatan kolektif yang akan mengatur mereka. Maka, pertanyaan ‘bilamana sebuah masyarakat tercipta’ menjadi sebuah pertanyaan yang luar biasa sulit untuk dijawab bagi saya. Jawabannya dapat digunakan untuk melihat bagaimana sebuah masyarakat berdamai dengan friksi-friksi yang tercipta.

Kadang, ketika berpikir begini, saya begitu malu. Di luar sana pasti telah ada yang menelusurinya lebih dalam, memberikan kriteria-kriteria, atau bahkan analisis historisnya. Mungkin saya memang belum banyak membaca.

Meski begitu, saya selalu tersadarkan, bahwa saya pun masih tidak mampu memahami bagaimana masyarakat SATUBUMI dapat terbentuk. Padahal kami penuh konflik, berbeda ideologi, dan sebagaimana, namun masih dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat. Bagi saya itu aneh, dan membuat saya meyakini bahwa saya harus menjawab sendiri pertanyaan tadi atas dasar amatan dan partisipasi.

Ah, saya pernah dikatakan terlalu ambisius dalam belajar. Memang, saya mengakui hal itu. Tapi adalah perlu untuk melakukannya saya kira.

Lalu Paninggaran, sebuah kecamatan luas yang asik. Segala hal dapat kita temukan di sini; kehidupan pra kapitalistik yang hampir primitif, atau bahkan geliat modernitas yang ekspansif. Di dalamnya tercampur segala konflik sosial yang mungkin ada, meminta setiap orang berdamai dengan satu konflik dan konflik lainnya, menjadikan setiap individu sungguh-sungguh tidak bisa menjadi hitam putih. ‘Masyarakat’ membuat individu harus mendefinisakan diri mereka sendiri ketika berkehidupan sosial.

Masyarakat yang relatif dan tidak tetap ini dibenturkan pada konsep ‘kepemilikan’ atas tanah yang tetap dan tidak akan berubah secara kuantitas. Mereka limbung dan secara individual menanggapi perubahan dengan cara yang berbeda-beda. Meski tugas kami adalah mencari pola, saya tidak ingin menolak fakta bahwa diferensiasi sosial itu ada, dan terus berubah.

Ah, layar kecil ini membuat saya bingung menyusun kerangka tulisannya. Intinya, saya memang belum sungguh mampu berpijak dan masih terus mencari. Memang tidak mencari kesempurnaan, bahkan membuat teori sosial yang adiluhung. Tidak. Saya juga manusia biasa. Cuma, kalau tidak dituliskan, saya merasa yang saya pikirkan menjadi tidak berguna.

Saya sudahi dulu, sembari berharap Jum’at segera tiba. Sampai jumpa.

wordsflow

Life Serenade (iii): Escaping Day


Pergi, adalah satu-satunya hal yang bisa saya lakukan ketika begitu banyak hal yang mengganggu hari-hari saya di lingkungan biasanya saya bertumbuh dan menua.

Setelah pada hari Minggunya saya pergi ke Gadjah Mungkur seorang diri, entah angin apa yang membuat saya memutuskan untuk pergi ke Semarang esok harinya, seorang diri juga. Saya suka jalan-jalan sendiri. Meskipun sesungguhnya itu bukan hal yang aman untuk dilakukan, tapi saya suka kesendirian. Dialog-dialog sepanjang jalan adalah hal yang paling saya sukai terlepas dari hal-hal yang bisa lebih saya nikmati saat pergi seorang diri.

Pagi itu jam 9 saya memutuskan untuk mengendarai motor menuju Semarang. Mengepak barang-barang seperlunya, meminjam kamera, mengambil jaket dan tas, dan akhirnya berangkatlah saya ke Semarang.

Ada hal yang begitu menarik dari Semarang, entah bagian mana saya sulit menjelaskan. Saya punya kenangan-kenangan menyenangkan di kota itu, ketika saya masih menginjak bangku SMP. Ibu saya tumbuh besar di kota itu. Dan buat saya sendiri, saya merasa tak mengenal Semarang sama sekali, jadi saya harus ke sana.

Saya paling suka ruas Jl Jogja-Semarang di penggal Secang-Ambarawa. Menurut saja bagian itu sangat memuaskan mata dan penuh dengan banyak hal. Saya bisa memikirkan begitu banyak hal ketika melewati ruas jalan itu. Berkali-kali pun saya tetap merasa ruas jalan itu sangat menarik. Sayang saya tak bisa memaksa diri untuk mampir sana sini karena waktu yang terbatas.

Dua jam kemudian saya sudah mendarat di Semarang, dan langsung menuju ke sebuah tempat karena sekalian survei lokasi. Menurut saya Semarang kotanya unik. Ada perbukitannya, tapi habis itu langsung laut. Rada ekstrem sih menurut saya, tapi jajaran rumah-rumahnya menyenangkan untuk dilihat.

Tak banyak kiranya yang bisa saya ceritakan tentang Semarang. Saya hanya jalan-jalan (naik motor), habis itu kehujanan, khawatir kena banjir, dan akhirnya makan bakso. Saya baru sampai Jogja jam 12 malamnya. Terguyur hujan sejak dari Semarang hingga perbatasan Magelang-Jogja. Hahaha. Yah, mayan lah buat iseng-iseng jalan sendiri.

Nih, hadiah foto dari saya. Sekali-kali update pake foto lah.

Toasted Eatery

Toasted Eatery

The chairs

The chairs

DSC09729 DSC09755 DSC09760 DSC09766 DSC09778 DSC09808

wordsflow

Sajak (mmm, berapa ya?): merangkum pertemuan


Hey, semalam aku bermimpi tentang keluarga kecil kita, lengkap dengan anak-anak dan binatang peliharaan.

Rumah kita tidak besar, tapi nyaman. Dengan gemericik air mengalir, angin sepoi-sepoi yang sesekali singgah dalam kamar, dan perpustakaan pribadi.

Lihatlah, banyak buku kita yang sama, aku bisa melihat polanya.

Ah, itu kucing-kucing menebar rambutnya di lantai, dan kau tahu, anjing kesayanganmu merusak selang air lagi.

Oh, oh, kau menyanyikan lagu untukku? Haha, lagu yang itu lagi. Ternyata kita tidak juga bosan mendengarnya berulang kali.

Hey lihatlah, penjaga tidur telah kembali. Sebaiknya kita bergegas pergi, karena hari telah pagi.

wordsflow


Ada dorongan kuat yang saya rasakan untuk menulis malam ini. Saya berhenti peduli pada sesiapapun yang membacanya. Saya berhenti berpikir untuk apa dan siapa semua tulisan ini.

Hujan pertama telah tumpah dari mata saya, setelah berbulan-bulan berusaha keras untuk mempertahankan diri dari semua luka. Hingga ketika menulis ini, rasa itu tak berhenti mendorong saya untuk menangis.

Ya, hati saya telah begitu lelah dengan semua kesendirian dan kepalsuan yang terjadi di sekitar saya. Hati saya begitu lelah menanggung semua keluh kesah seorang diri. Hati saya begitu inginnya berkata jujur kepada setiap orang yang ada di sekitar saya. Begitu lelah menghadapi kepalsuan semua orang. Begitu lelah berpura-pura mampu menunggu untuk sesuatu yang tak pernah ada dan tak akan ada. Begitu lelah mengadu kepada diri sendiri padahal tak mampu lagi berdiri.

Mengapa manusia terkadang tak mampu menyerah padahal begitu inginnya untuk melakukan itu? Bagaimana mungkin manusia bisa saling menyakiti tanpa rasa bersalah dan keinginan untuk meminta maaf? Bagaimana mungkin manusia bisa begitu egoisnya tanpa bisa menahan egonya untuk menang?

Saya begitu inginnya menumpahkan keluh kesah, entah pada siapa. Tapi tak pernah sepatah pun keluar ketika saya sesungguhnya begitu ingin. Tak ada hal yang bisa sungguh-sungguh tersampaikan ketika begitu banyak yang ingin saya katakan.

Saya ingin berhenti peduli pada apapun. Toh kepedulian saya selama ini tak pernah berhasil menyentuh siapapun. Saya ingin berhenti mendengar. Saya lelah karena pada akhirnya hanya menjadi satu-satunya yang tak pernah bisa menemukan seseorang untuk mendengar.

Saya tak paham mengapa saya menangis. Saya pikir kebahagiaan saya sudah cukup untuk membuat saya tak pernah menangis lagi. Tapi begitu saja semua tumpah malam ini, dan saya tak tahu cara membuatnya berhenti.

Saya begitu ingin berhenti peduli.

Benar, katakan saja saya menulis ini untuk dibaca. Agar semua orang tahu, bahwa saya berhenti percaya. Bahwa saya berhenti peduli. Bahwa saya akhirnya menutup hati untuk apapun, dengan kepalsuan sebesar-besarnya.


Rapat Umum baru saja usai dan entah mengapa, tetiba merasa ada yang begitu romantis di sana. Saya juga tidak sungguh-sungguh yakin tentang apa yang romatis dari sebuah rapat, toh itu hanya rapat saja. Hanya saja setiap menjalaninya, saya selalu merasa ada yang berbeda.

Mungkin karena tempatnya yang begitu jauh dari ‘rumah kedua’ kami. Mungkin juga karena orang-orang yang di dalamnya tiba-tiba berlaku lebih serius dari biasanya. Mungkin karena memang suasananya yang berbeda. Mungkin hanya karena sayanya saja yang terlalu terbawa perasaan. Entah alasan manapun, buat saya rapum memang romantis.

Begitu saja,

wordsflow

telaah, memori


Telah lebih dari seminggu saya menelantarkan blog ini. Oh ya, sejujurnya saya sedang tidak memiliki bahan untuk dituliskan, tidak sedang mengalami sesuatu yang penting untuk dicurhatkan. Tapi coba saya tuliskan beberapa hal. Siapa tahu tetiba saya bisa menciptakan karya tulis yang layak baca di malam ini.

Oke, mungkin ada sih yang bisa saya cuhatkan. Dalam hitungan minggu, adek saya akan resmi menjadi istri orang lain, dan meski saya bilang saya baik-baik saja, tetap ada sesuatu yang berubah setiap kali saya menginjakkan kaki di rumah.

setiap detik adalah larik, setiap tempat adalah latar, setiap orang adalah tokoh utama,
setiap kita menciptakan dunia; entah yang nyata atau maya

Saya menuliskan kalimat ini di akun twitter saya beberapa jam yang lalu. Sebatas pengungkapan pendapat, bahwa sesungguhnya kita memainkan peran berbeda di setiap waktu, tempat, dan di hadapan orang yang berbeda pula. Kita tidak pernah menjadi orang yang sama, meski ia masih tetap diri kita sendiri.

Kita, ah mungkin hanya saya, tidak pernah menjadi orang yang sungguh-sungguh sama sepanjang waktu, di semua tempat, dan bahkan di hadapan banyak orang. Selalu ada bagian diri saya yang menyaring kepribadian mana yang harus dan tidak perlu saya tunjukkan. Bagian mana dari diri saya yang seharusnya menjadi dominan. Saya pikir, hanya dengan memahami perubahan dan perbedaan itu, saya akhirnya baru akan mampu memahami diri saya sepenuhnya.

Itu bukan menipu diri atau berkepribadian ganda. Bukan sama sekali. Kesemuanya tetap lah diri saya yang asli. Saya yang jutek, sinis, terkadang baik, penyayang kucing, angkuh, tak acuh, atau kepribadian yang lain, adalah saya yang sesungguhnya. Bukan pula membeda-bedakan tempat atau orang lain, namun ada kalanya menjadi diri kita yang paling nyaman lah yang akhirnya menuntut kita untuk bertindak sesuai waktu, tempat, dan situasi.

Pun begitu dengan saya di kampus, di kosan, di tempat umum, atau saya di rumah.

Kepribadian yang paling saya sukai adalah diri saya ketika di kampus. Itu semacam diri saya yang hanya bisa saya tunjukkan di kampus, sedangkan saya yang ada di kosan, tempat umum, dan rumah tidak akan pernah sepenuhnya menjadi seperti itu. Entah karena lingkungan atau karena penerimaan saya atas hal-hal yang terjadi di kampus, saya menjadi orang yang cukup terbuka terhadap diri saya sendiri dan permasalahan yang saya hadapi. Saya jarang membenci dan lebih banyak tertawa dibandingkan jika saya ada di lingkungan yang lainnya.

Kosan dan tempat umum buat saya merupakan ruang privasi saya yang paling dalam. Karena ketika itu saya banyak menenggelamkan diri di dalam pikiran dan dunia imajinasi saya yang masih berantakan. Saya selalu punya ide cerita atau sajak atau renungan di kedua tempat itu. Saya menjadi pendiam, tertutup, dan cenderung sinis terhadap sekitaran saya.

Hanya dengan merekonstruksi bagaimana itu terjadi, baru akhirnya saya paham bahwa hal itu pun merupakan mekanisme pertahanan diri saya dari ‘bahaya’ yang mungkin mengancam dari luar. Terkadang saya lari dan bersembunyi di dalam batok kepala saya, atau terkadang saya sungguh-sungguh berlari hingga lelah menghampiri. Kesemua hal itu hanyalah mekanisme pertahanan diri saya dari rasa sakit, entah yang mampu dirasakan atau yang hanya berupa renungan.

Oke, cukup lah sendu-senduannya.

Saya rindu naik gunung, amat sangat. Tapi untuk melakukannya, saya butuh beberapa pertimbangan (yang sesungguhnya hanya ada di pikiran saya tanpa pernah saya katakan), dan karenanya hingga hari ini belum juga terlaksana.

Ah, mungkin sebaiknya saya perlihatkan foto-foto pendakian saya ke Lawu suatu ketika dulu, dalam rangka merayakan ulang tahun sahabat pena saya saat SMP. Ini salah satu dari sedikit memori menyenangkan saya di kampus Arsitektur. Ketika itu kami melakukan pendakian lintas angkatan karena sering ngumpul bareng di kantin kampus. Pendakian super sembrono via Cemoro Kandang dan turun di Cemoro Sewu Gunung Lawu. Kami berangkat memulai pendakian jam 3 sore dan muncak jam 2 pagi dan bermalam di puncak. Bertahun-tahun setelahnya saya selalu merasa ini pendakian bodoh. Tapi untungnya tidak terjadi apapun pada kami.

IMG_9162

Ini foto sebelum berangkat ke lempuyangan. Ketika itu kami menggunakan kendaraan umum karena akan melalui jalur yang berbeda untuk naik dan turunnya. Foto paling saya suka di depan tulisan Teknik Arsitektur. Oiya, waktu itu sengaja banget fotonya di sebelah kiri biar tulisan ‘dan Perencanaan’nya nggak kelihatan, haha.IMG_9178

Pendakian yang super nggak safety. Saya packing paling banyak, bahkan bawa tenda segala. Untungnya ketika naik kami saling bertukar muatan, jadi tampak lebih adil.IMG_9198

Di pos 3 sempat ada kejadian mie tumpah karena saya nggak kuat mindahin dari atas kompor. Padahal kami telah amat sangat lapar dan kedinginan. Sedikit cerita, semua orang yang ikut pendakian ini adalah asdos TKAD (Teknik Komunikasi Arsitektur Dasar), orang-orang keren yang sering kami ajak diskusi masalah desain pada masanya dulu (sebelum saya malas ngampus).IMG_9244Well then, karena sudah muncak jam 2 pagi, esok harinya saya malas bangun pagi untuk sunrise-an. Saya tetap tidur sampai waktu foto-foto tiba. Saya rasa ini kali terakhir bendera Khatulistiwa berkibar atas nama Arsitektur UGM deh. Saya sudah nggak tahu lagi dimana bendera ini, dan kemana orang-orang ini.

wordsflow

berduka


selalu tak pernah habis; kabar duka datang dan pergi

seperti manusia-manusia yang kau lihat di jalanan, atau terminal, atau stasiun, atau di kampus, dan bahkan di sepanjang kita hidup

berkali-kali kita merasa kehilangan dan tak tahu bagaimana bersikap kecuali berharap dan berdoa

telah kudengar kata itu sekali lagi;

yang datang dari Tuhan akan tetap kembali kepada-Nya

*

aku mungkin tak tahu menahu siapakah engkau

hanya terkadang kita berpapasan dalam pagi atau siang, dan terkadang dalam ketiadaan cahaya

aku mungkin tak sungguh berkawan denganmu

namun perkenalan telah cukup membuatku sadar bahwa kamu pernah berjalan di dunia ini, memperjuangkan hal yang sama dengan banyak di antara kita

seperti kawan kita yang lain yang mendahului, kamu pun akhirnya lebih dicintai Tuhan dan dibawa kembali

*

kawan, selamat berpulang

maaf aku tiada sempat mengantar, tiada sempat berkawan lebih akrab

percakapan kita dalam canda cukup membuatku yakin bahwa kau adalah tokoh penting dalam hidupku

selamat jalan Bleky, (bahkan nama aslimu pun aku tak tahu)

selamat berpetualang,

Sajak (ix): ia yang terjawab waktu


Maaf,
Aku menemukan kesalahan tulis dari surat yang kukirim tempo hari
Tapi tak perlu kau bersusah payah untuk menemukan letak salahnya, karena akan kujelaskan saat ini juga

Kemarin lalu aku mengadu padamu, tentang rindu dan ragu
Kini kuambil kembali semua itu, karena ia memang bagianku, dan tak selayaknya menjadi milikmu
Rindu hanya sembuh olehku, dan begitu pun ragu
Maka tak pantas aku mengadu kepadamu

Sayang,
Dua purnama lalu kita berjanji dalam bisu
Ketika mata kita bertemu dan jari kita beradu
Kamu membisik sesuatu yang tak kudengar apakah itu
Kamu menyampai gelombang, yang tak tercitrakan di mataku

Mari rebahlah di sisiku,
Dimana kita tak bersekat dan tak berjarak
Ketika kita berbagi udara dan jantung kita beriring irama
Ketika tak akan mampu kita berselimut curiga dan dusta
Ketika gelap menjadikan yang tampak menemukan citra nyatanya

Akan kuberikan sebuah surat padamu, yang tak butuh kau tulis kembali kepadaku
Karena bisu dan tatapku adalah sebuah surat rindu

wordsflow

Setelah Cerita Masa Kecil


Saya teringat kembali tentang masa kecil saya yang diulang-ulang secara tiba-tiba sejak kemarin. Haha, nggak jelas juga kenapa tetiba teringat masa kecil.

Ah, ini sebetulnya tulisan pelarian karena saya yang sedang jenuh menulis dan memikirkan konsep museum untuk skripsi saya. Padahal besok deadline, tapi sekali lagi, saya memang terlahir sebagai deadliner sepertinya (barusan ini kalimat pembelaan).

Mungkin lebih tepat juga dibilang, jika saya sedang banyak pikiran biasanya semua hal jadi tiba-tiba terbuka lebar. Saya menjadi teringat pada gagasan-gagasan yang pernah saya tuliskan dan saya ucapkan. Atau terkadang tetiba alur cerita novel yang telah lama saya tinggalkan kembali seperti tak pernah pergi. Makanya ketika nganggur saya justru akan sangat nganggur, dan saat seharusnya mengejar deadline saya justru mencari pelarian ke hal-hal semacam ini.

Nggak papa lah, siapa tau tulisannya jadi nggak sekedar sampah.

Jadi, mari mulai dengan mengulangi gagasan saya dulu, bahwa dunia ini adalah milik anak-anak.

Nggak sepenuhnya setuju dengan itu, tapi semakin dipikir, semakin merasa itu semua benar adanya. Mungkin karena basis manusia yang memang makhluk sosial, bergantung, dan memiliki semua sifat manusiawi lainnya.

Anak-anak, adalah subjek dunia yang tidak pernah diabaikan di banyak aspek. Bahkan hampir semua hal tujuan akhirnya adalah generasi yang ketika itu masih anak-anak. Maka ketika siang tadi saya melihat masih banyak anak kecil yang berlarian main petak umpet, saya cukup merasa lega, bahwa dunia mereka belum terenggut oleh sesuatu yang tidak secara alami ada.

Saya bukannya menentang modernisasi global, toh saya juga menggunakannya. Tapi jika membayangkan diri saya saat kecil mengalami hal-hal yang tidak sewajarnya ingin saya cari tahu sendiri, saya rasa saya akan menjadi orang yang berbeda.

Gagasan ini muncul karena hingga detik ini saya masih ingat pertama kali saya menonton Titanic berdua dengan ayah saya adalah ketika saya masih kelas 2 SD. Ketika itu saya tidur malam selama dua hari berturut-turut hanya untuk mengikuti ayah saya nonton. Sementara suatu ketika di kelas 1 SD saya pernah nonton Indiana Jones yang ke 2, dan bagian paling saya ingat adalah ketika mereka makan otak kera. Sampai sekarang masih sangat detil terekam dalam ingatan saya tentang itu semua.

Jadi, sebegitu membekasnya ingatan-ingatan tentang masa kecil hingga sampai kapanpun kita akan terus mengingatnya karena itulah yang membuka diri kita ke dunia. Ia adalah gerbang kita untuk mengenal lingkungan sekitar kita, dan mencari tahu ini-itu tanpa berhenti bertanya kenapa.

Tapi saya sedang tak ingin memberikan gagasan apapun tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pembetukan karakter pribadi masing-masing orang. Itu akan lebih mudah kalian temukan di tulisan ilmiah yang lainnya. Saya hanya merasa bahwa sebenarnya kenangan kecil itu sesuatu yang akan selalu mengganggu setiap orang, entah kondisi saat itu seperti apa. Saya pun begitu. Kehidupan masa kecil saya amat sangat membahagiakan, dan tak pernah saya melewatkan satu hari tanpa tertawa. Tapi bukan berarti tidak pernah ada bagian yang kelam di sana. Tetap selalu ada bagian-bagian yang tidak ingin saya ingat kembali, meskipun itu akhirnya tetap selalu terjadi.

Saya hanya merasa, jika akan sangat baik bagi kita untuk terus mengenang hal-hal semacam itu. Agar kita terus ingat bahwa kita datang dari kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa. Atau agar kita mengerti bahwa suatu hari nanti anak-anak kita akan mengingat masa yang sama.

*

Kan, padahal sebelum menulis saya punya banyak hal yang ingin saya keluarkan, tapi kini lupa begitu saja. Mungkin sebentar lagi ingat.

Sementara itu, saya mau bercerita tentang film Petualangan Sherina; saya sama sekali belum pernah menontonnya. Ahaha… Bahkan ketika kemarin sempat diputar di tv saya tetap tidak menontonnya. Entah lah, mungkin dia bukan bagian masa kecil saya yang saya cari-cari. Saya mudah teringat pada sesuatu, terutama yang berhubungan dengan bau dan lagu. Saya bisa teringat sesuatu yang telah saya lupakan sama sekali hanya dengan mencium bau yang saya kenal ketika itu. Dan terkadang itu mengganggu.

Ah, kebetulan saya sedang mendengarkan lagu Joan Baez yang Diamonds and Rust. Dan saya yakin tak lama lagi setiap kali saya mendengar lagunya saya akan teringat dengan suasana ini, begitu terus terjadi pada semua lagu yang saya dengar.

Saya bukan penggila lagu-lagu yang sedang hits atau pernah hits pada jamannya. Tapi sekalinya saya suka lagu, maka selalu masuk ke playlist untuk kemudian akan diganti lagi dengan yang lain nantinya. Joan Baez pun begitu. Saya baru pernah tahu namanya setelah membaca bukunya Soe Hok Gie, dan entah kapan itu terjadi. Tapi baru kemarin saya sungguh-sungguh mendengarkan dan mencari tahu siapa dia.

By the way, saya lantas merasa rugi karena bukan dari dulu saya mendengarkan lagu-lagunya.

*

Nah kan, saya tetap tak ingat mau menulis apa lagi. Ya sudahlah, mungkin saya sudahi saja karena harus kembali menulis konsep. Padahal saya sering mengkritik konsep orang lain, tapi nggak mampu membuat konsep sendiri. Haha.

Dan bagian yang tidak saya suka dari sedang-rajin-mengisi-blog adalah buku harian saya yang menjadi terlupakan. Sekian, selamat malam…

wordsflow