WORDS FLOW

just go with the flow and whatever happens, happens

Category: on Nothingness

Menjadi Jakarta (iii)


Sudah sejak hari Senin lalu saya memendam satu topik untuk saya tuliskan di blog ini. Saya hampir menuliskan perjalanan perkeretaapian saya setelah sejak Februari tidak pernah sungguh saya bahas meskipun perjalanan sudah menjadi rutinitas mingguan atau dua mingguan saya. Kadang malas sekali menuliskan apa-apa atau karena laptop saya yang sudah tidak lagi bisa kooperatif untuk mendukung kebutuhan saya belakangan. She’s been working so hard all this time and I thought I need to move on from her.

Karena lawakan minggu lalu agaknya sudah basi untuk saya tertawakan, jadi cerita perkeretaapiannya saya anulir dulu, menunggu saya dapat topik lain yang menarik. Hehe.

Nah, melanjutkan series tulisan soal ‘menjadi Jakarta’ ini, saya kira Jakarta adalah surganya geliat kesenian sebagaimana Jogja. Betul kata teman saya, barangkali saya hanya belum menemukan komunitas yang menarik perhatian saya atau tempat yang dapat memuaskan saya akan kebutuhan-kebutuhan non fisik semacam berkesenian. Maka dengan semangat seminggu lalu saya iseng menjadi acara di salah satu platform langganan. Tentu yang saya cari adalah event gratisan secara bulan ini saya sedanf mencoba mengubah gaya hidup dan menjadi lebih bijak ((not sure it will works tho)).

Salah satu tempat yang menarik perhatian saya adalah IFI. Sepanjang bulan dia punya acara pemutaran film yang sebetulnya digratiskan untuk orang yang les di sana. Sementara untuk umum berbayar atau, bisa aja ngambil yang gratis di IFI Wijaya. Saya menyempatkan diri beberapa kali mengunjungi tempat itu meski agak sedikit grogi di kunjungan pertama. Usut punya usut, bangunan IFI Thamrin sebelumnya adalah kedutaan sehingga penjagaannya ketat dan harus x-ray. Tapi bapaknya baik dan dia terheran-heran saya mau ke sana ‘hanya’ untuk nonton film. Sendirian pula. Haha.

lobby IFI Thamrin, berharap kapan-kapan bisa nongkrong di sini sebelum gelap

IFI Thamrin sejalanan kaki aja dari Sarinah yang biasa saya pakai untuk transit antara bus GR1 dan TJ untuk menghemat tenaga jalan kaki. Kadang saking sudah setiap hari suka aja mampir Sarinah meskipun cuma beli odol atau atau ambil duit di atm. IFI Thamrin lantas menjadi opsi lain kenapa turun Sarinah selalu menyenangkan.

Pilihan utama saya jatuh ke Taman Ismail Marzuki. Saking seringnya ke sana saya sampai melihat perubahan bertahap dari belum diapain dan sempet nonton di bioskopnya sampai kompleksnya direvitalisasi. Dari jaman jalanannya masih baik-baik saja sampai pohonnya ditebang jadi trotoar dan jalan makin sempit-karena-tetep-buat-parkiran-jadi-tetep-macet.

Surprise sekali karena minggu ini ada serentetan acara Pekan Komponis Indonesia. Bulan kemarin saya skip nonton Jakarta Philharmonic karena harus pulang larut malam dari kantor, padahal saya sudah ada tiketnya (lagi-lagi untung gratis), sehingga yang satu ini semacam ‘pengganti’ buat saya.

Acaranya menarik meskipun saya nggak ngerti-ngerti amat. Tapi lagi-lagi saya terkesan karena ternyata teatrikal sekali yang ditampilkan. Saya juga baru tahu ketika profil masing-masing orang dibacakan, ternyata ISI tersebar di banyak tempat di Indonesia dan karenanya lulusannya punya rasa setempat yang menarik sekali. Salah satu performance yang menurut saya wah sekali adalah pertunjukan berjudul Mangatok oleh Hamidun Syaputra. Ia menampilkan dua orang yang menggubah musik dari suara alami dan instrumen tambahan dari pakaian yang mereka pakai. Saya sangat terhipnotis oleh penampilan keduanya.

babak akhir dari performance

Selepas performance ini, saya teringat Mawang yang sempat viral sekitar sebulan yang lalu. Saya sendiri ngakak nggak ketulungan sewaktu menonton videonya dan benar-benar tertawa setiap teringat Mawang. Tapi setelah melihat ini, yang mana secara konsep tidak jauh berbeda dengan cara Mawang mengekspresikan emosinya, saya jadi mikir barangkali memang poinnya di emosi. Yang sebetulnya membuat Mawang ‘nyebelin’ itu tuh speech di awal sebelum nyanyi. Hahaha.

Well, dengan tulisan ini, saya merasa sedikit terbuka dalam membicarakan kehidupan saya dan upaya menikmati proses untuk ‘menjadi Jakarta’. Tentu saja banyak hal lainnya. Tapi kenapa memilih yang lain jika ada yang semenarik ini, hehe.

Minggu depan sampai akhir bulan ada Festival Teater Jakarta full selama 3 minggu (so much fun!), dan akan jadi hiburan saya yang lain selain badmintonan. Sambil scroll update dari DKJ saya sering mikir sebentulnya beruntung sekali orang-orang Jakarta ini karena punya lembaga dan organisasi seni yang super aktif selama setahun nonstop. Ini belum membicarakan hal-hal yang lain, konser-konser populer atau tempat pameran yang lokasi sedikit-agak-di-luar-Jakarta-jadi-saya-suka-males-ngedatengin.

Terakhir, saya kasih bonus beberapa foto lain dari acara Pekan Komponis Indonesia 2019.

Jaluna oleh Gempur Sentosa
pameran alat musik baru

wordsflow

routines.


Saya selalu menorehkan beberapa kalimat yang paling membekas di ingatan saya. Salah satunya bahwa kebudayaan berkembang karena adanya waktu luang, yang karenanya manusia bisa mengistirahatkan fisiknya dan mengasah kemampuan berpikirnya untuk berinovasi atau menciptakan sebuah pemikiran baru. Saya kira itu benar adanya mengingat sekarang saya cenderung merasa tengah mengalami penumpulan ketajaman berpikir akibat rutinitas harian yang begitu padat hingga tidak menyisakan ruang untuk mengistirahatkan pikiran.

Ada hal-hal yang ternyata tidak sejalan dengan harapan-harapan saya di bulan yang sama di tahun lalu. Jika boleh mengutarakan apa yang sebetulnya saya rasakan, banyak pilihan-pilihan saya yang akhirnya justru menempatkan saya pada keterpurukan yang tidak dapat saya terima dengan lapang dada. Barangkali benar bahwa saya telah cukup berhasil memetakan fluktuasi emosional dan mental saya, namun ternyata di waktu-waktu tertentu saya juga gagal untuk mengontrol kedua hal tersebut pada level yang saya inginkan. Akibatnya, saya terkadang menghabiskan waktu luang bukan untuk mengembangkan cara berpikir saya guna menghadapi perubahan yang tengah terjadi tetapi justru meratapi apa yang tidak saya dapat dan saya lewatkan dalam hidup saya pribadi.

Sebuah kemunduran yang mengecewakan pribadi saya di masa lalu. Saya kira di waktu sebelum ini saya cenderung lebih bersemangat dan berapi-api dalam menjalani sesuatu, tidak pernah berpikir dua kali untuk mengorbankan apapun untuk orang lain (setidaknya seseorang pernah mengatakan ini pada saya) dan mungkin jauh lebih berpengharapan bahwa meski hidup tidak selalu berjalan baik, saya akan selalu mampu melaluinya.

Namun lagi-lagi di tempat seasing ini saya dihadapkan pada kenyataan bahwa saya tidak memiliki sesiapapun untuk mengadukan hal-hal yang mungkin menimpa saya sehari-hari. Saya tidak memiliki tempat bernaung seasik Satub untuk dijadikan tempat perlindungan dan obat segala penyakit hidup yang menimpa saya. Akhirnya saya harus berkali-kali menerima kekalahan dalam menghadapi egoisme diri soal betapa mampunya saya dalam mengalahkan banyak hal.

Dalam perseteruan batin dengan diri sendiri, saya juga lagi-lagi harus menerima bahwa kini saya merupakan bagian dari sebuah kesatuan besar yang sedang diprotes oleh manusia satu negara ini. Posisi ini begitu sulitnya saya rasakan sampai kadang saya merasa begitu tidak berguna. Haha. Getir.

Tentu bukan tanpa hal baik bahwa terkadang saya bersyukur memiliki partner yang memiliki pemikiran yang sejalan dan selalu bisa diajak bekerja sama. Tapi dia tidak akan lama tinggal karena tidak memiliki kontrak yang sama dengan saya; sesuatu yang saya sayangkan dan pada saat yang bersamaan juga saya syukuri bahwa seterusnya dia tidak akan mengutuki diri sendiri sebagaimana yang saya lakukan.

Dan saya kira persoalan benar dan salah tetap menjadi perkara yang terus membebani pikiran saya. Hidup bukan hanya soal konsekuensi, bahwa di waktu tertentu ada hal-hal moralis yang lebih sering mengganggu pikiran dibandingkan apa-apa yang mampu dianalisis dan diperkirakan. Entahlah, saya semakin tidak punya keyakinan dengan pikiran saya sendiri.

Tapi buat sesiapapun yang tetap menjadi pembaca halaman ini, saya kira menakar hal-hal yang bertebaran di kanal-kanal media sosial membuat sesiapapun turut frustasi. Tentu apa-apa yang disajikan di sana tidak sejalan dengan apa yang kita inginkan atau kita ekspektasikan sebagai sesuatu yang seharusnya terjadi. Terus menerus dikecewakan dan merasa dikelabui oleh kata-kata dan harapan-harapan. Begitu memiliki kesempatan untuk mengutarakan pendapat atau menanggapi fenomena lebih merasa frustasi oleh komentar-komentar yang terlontar. Semakin tidak memiliki tempat.

Dan baiklah agaknya saya cukup mampu mencuri 20 menit ini untuk menulis di sini. Sembari pelan-pelan menyadari bahwa tiap-tiap orang tidak menakar sesuatu dengan cara yang sama, bahwa cara saya membebani pikiran tidak memiliki tempat di pikiran orang lain dan sebaliknya, bahwa permasalahan saya dengan pekerjaan tidak otomatis menjadi permasalahan bersama, dan seterusnya. Tidak juga mengeluh dan bermuram durja akan selamanya menolong saya mempertahankan prinsip-prinsip hidup saya yang mulai kehilangan pegangannya.

Betul barangkali, saya pikir rutinitas memang membunuh.

wordsflow

Shoplifter


From several months ago, I remember it was at the end of the year, the first time I heard about this movie title, and sadly I didn’t get any chances to watch it after several times trying to see the movie screening. But yeah, thanks God that we have the free channel to watch good movies for free, hehe, so that I finally could have it for myself today.

You know, I need 5 minutes to recover after seeing the final scene. Every part of it was really touching and even after hours I still feel the after-effect strongly. Maybe because I feel that it was too true to be just being a film, or it touched something inside me yet making me unable to stop thinking about it.

Their simplicity of loving, and their view toward a family somehow left a big hole in my chest, too sweet yet bitter at the same time. No words could describe it better than that.

wordsflow

selingan


Soal Kemuning, mari kita lewati dulu sampai yah, beberapa waktu ke depan. Saya kira saya butuh lebih dari sekedar imajinasi untuk meneruskan cerita itu dengan asik.

Well, saya baru saja membeli kuota internet 50gb yang muncul sebagai promo dan tanpa ragu membelinya. Karenanya internet saya tidak akan putus selama di kosan. Yeeyyy.

Saya mau bercerita tentang moda transportasi saja ya malam ini.

Belakangan saya suka sekali bepergian dengan angkutan umum, terutama sekali kereta. Selama 4 bulan terakhir misalnya, saya sudah mengunjungi begitu banyak stasiun, dari Tasik, Kroya, Purwokerto, Pekalongan, Semarang, Solo Jebres, Bandung, Jakarta, Bogor, dan beberapa stasiun transit lainnya. Cukup takjub dengan pilihan-pilihan stasiun dan kelas kereta yang saya gunakan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dan lebih menarik lagi ketika harus berebut tiket murah, memantau tanggal dan hari, memilih kursi, bersiasat untuk mencari waktu terbaik, rute terbaik, dan harga paling murah di saat semua orang lain juga menginginkan hal yang sama. Ritme ini lebih menyenangkan dari yang saya bayangkan sebelumnya.

Belakangan saya juga memaksa diri untuk lebih menyukai hal-hal yang meresahkan atau bahkan yang cenderung tidak saya sukai sebelumnya. Bagaimanapun perasaan itu tidak akan mengubah keadaan faktualnya. Jadi mari mencari kesenangan di sela-sela kemuraman.

Salah satu kabar baiknya, saya menemukan klub badminton baru dengan jarak tempuh yang tidak begitu jauh. Lalu keinginan-keinginan baru mulai muncul, dan melalui satu dan lain cara mencoba menghidupkan ritme lama yang terlanjur begitu melenakan. Saya memaksakan diri untuk mengadopsinya ke ruang saya yang baru tapi tidak boleh terlalu nyaman hingga membuat saya lupa jalan pulang.

Dan saya sudah mengantuk. Kita sambung lain waktu.

menjaga rasionalitas


Okei, hari ini tanggal 27. Di awal tahun kemarin, saya membalas ajakan seorang kenalan untuk rutin mengisi blog setiap tanggal ini. Tidak ada hal khusus, bahkan saya pun tidak kenal sama sekali dengan orang ini. Hanya saja, karena saya sudah mencemplungkan diri dalam ajakan itu, maka mari saya tuliskan sesuatu.

Well, sebagai awalan, sayang sekali karena rutinitas tanggal 27 ini tidak bisa saya bagi sembarangan karena akses blog yang saya upayakan tetap terbatas saja. Sedangkan di sisi lain, saya teringat bahwa di sekre kami selalu ada acara 27-an yang mana kami habiskan dengan ngobrol ngalor-ngidul di lincak dengan setumpuk gorengan, tak lupa teh dan kopi. Sayang sekali tapi, acara itu semakin kehilangan kesenangannya dan akhirnya hanya ada di kenangan orang-orang seperti saya, dan mungkin sedikit orang di luar sana.

Jadi, ada apa dengan angka 27?

Dalam masa menjelang seperempat abad, saya mengenal klub 27, sebuah ‘klub’ yang dibentuk bukan oleh anggotanya dan hanya mereka yang terpilih yang bisa masuk ke klub ini, hehehe. Bohong ding, sebetulnya itu sebutan untuk kelompok pemusik yang mati muda, saya tidak hapal, hanya saja istilah ini begitu keren di telinga pemuda pemudi menjelang 25 yang mana memunculkan sekelebat ide ‘mungkin saya akan masuk ke klub itu’.

Well, siapa yang tahu umur seseorang?

Tapi begitulah angka ini sedang agak melekat begitu erat di diri saya mengingat tahun ini saya juga akan berada di umur ini, yeeyy.

Yah tulisan ini akan sekedar saja. Singkat cerita, saya sedang mencoba untuk menjaga rasionalitas untuk beberapa waktu ke depan karena satu dan lain hal. Jika kamu dan kamu-kamu sekalian tidak berada di dalam lingkaran orang-orang yang paling tahu tentang hidup saya, bukan berarti kalian tidak berarti. Pada dasarnya, saya hanya berusaha untuk melindungi diri, dan mencoba memastikan bahwa hal-hal tertentu tidak mengganggu orang-orang tertentu.

Dan begitulah, tahun ini ada banyak perubahan dan saya harus dengan perlahan, penuh lapang dada, meenerima setiap perubahan dan mengubahnya pelan-pelan, dengan lemah lembut untuk membuatnya menjadi hal-hal yang menyenangkan dan pas untuk saya. Saya juga tidak bisa bilang bahwa hal-hal akan cukup membahagiakan, namun ketahuilah, kebahagiaan sudah menempati bagian paling absurd di dalam diri saya. Segalanya bertaut kusut meski saya juga berusaha mengurainya.

Ah, apalah maksud tulisan yang tidak bisa dipahami ini. Demikian, saya sudahi saja ya.

Subuh ini hujan datang lebih awal.


Sudah berhari-hari saya diliputi perasaan mengambang, seolah-olah pikiran saya menyuruh saya menunda perasaan atas satu dan lain hal. Di samping itu, entah bagaimana, saya merasakan kelelahan luar biasa baik secara fisik dan pikiran, yang membuat saya tidak terlalu mampu menanggapi hal-hal apapun di luar diri kecuali sekedar memberi celetukan, ‘oh, okei’. Seolah saya merasa diputus paksa dari berbagai hal yang begitu menarik dan menyenangkan lalu didorong untuk mencari sesuatu yang kesemuanya baru bagi saya.

Lagi-lagi, saya diliputi keinginan untuk mencintai lebih besar walau rasionalitas saya mengatakan untuk berhenti melakukannya. Saya didorong oleh bagian lain dari diri saya untuk meninggalkan hal-hal yang saya pikir sangat berharga. Dan pertemuan antara dorongan dan pemberontakan itu begitu mengganggu, begitu melelahkan untuk ditanggapi secara sadar hingga yang terjadi adalah mereka saling meniadakan satu sama lain. Sejenak saya menjadi begitu tidak berperasaan.

Saya sering mengajukan pertanyaan ke diri sendiri, soal apakah saya terlampau ambisius sehingga hal itu begitu mengganggu banyak orang dan terutama, diri saya sendiri? Anehnya, saya hampir tidak pernah mengupayakan satu dan lain hal, dan hanya terhadap diri sendiri lah saya melawan begitu kuat. Barangkali tampak seolah saya ingin mencapai capaian-capaian hidup tertentu yang setara dengan orang lain, atau orang yang lainnya lagi. Tapi sesungguhnya, saya sedang melawan diri saya sendiri yang berontak untuk bebas, sebebas-bebasnya.

Hal-hal lain yang saya upayakan begitu keras justru selalu menjadi penganggu banyak orang, menghambat mereka dan pun tidak pernah tercapai sehingga demikian, saya sering kali mempertanyakan untuk apa semua hal itu dilalui jika jalan yang dipilihkan sama sekali berlainan?

Dan di sinilah saya, di masa ketika satu dan lain hal berubah begitu cepat tanpa butuh persetujuan, saat satu-satunya hal yang dibutuhkan adalah menyiapkan diri atas segala hal yang berubah di segala arah dan memaksa kita untuk melalui satu tahapan yang barangkali tidak terlalu kita inginkan.

Barangkali sebetulnya, saya bukannya tidak mengerti, tapi saya menghindari pengertian, menafikkan penerimaan. Apalagi yang harus dipertanyakan jika semua pertanyaan berhenti pada kemampuan diri untuk menerima jawabannya?

Tentang Kesempatan-Kesempatan yang Hilang


Salah satu bagian dari kegiatan jalan-jalan yang paling saya senangi adalah bercerita. Entah kepada diri sendiri, atau sesiapa yang bersedia mendengarkan.

Namun demikian, agaknya cerita itu akan saya tunda sejenak, karena ada hal-hal lain yang ingin pula saya sampaikan.

Benar, ini soal kesempatan-kesempatan yang hilang dalam suatu rentang waktu.

Sebuah pepatah pernah mengatakan bahwa setiap orang adalah pencipta takdirnya sendiri, tanpa kecuali. Betul kemudian jika kita tidak meminta untuk dilahirkan. Barangkali sama betul dengan yang disampaikan Dodit di salah satu show­­nya kalau kita lahir secara otodidak. Kita lahir dan memilih sendiri timeline yang sesuai dengan diri kita. Kita mempelajari kesemua hal seorang diri.

Itulah kemudian yang barangkali membuat kita tidak pernah sungguh terlambat untuk memulai sesuatu, atau mengambil kesempatan di waktu apapun untuk diri sendiri.

Bicara soal kesempatan, belakangan ada sangat banyak keran-keran kesempatan yang terbuka lebar di hadapan saya. Amat sangat banyak hingga saya sering dibuat bingung dalam memilih mana yang paling saya inginkan, paling pas, atau paling membuka peluang ke depannya. Seperti bermain catur barangkali. Langkah pertama bisa menentukan meskipun tidak sepenuhnya menjadi patokan.

Beberapa dari kesempatan itu ternyata berada di posisi prioritas meskipun saya cukup terseok mengikutinya. Beberapa bahkan saya paksakan dalam kemendesakkannya dan menjadi sesuatu yang sesungguhnya sambil lalu saja pada akhirnya.

Kadang-kadang saya masih mengecewakan diri sendiri, terkadang mengejutkan diri sendiri pula. Rasanya bahkan seolah orang yang ini bukan orang yang saya hidupi selama 26 tahun lamanya. Sungguh menarik. Pun melelahkan.

Tentu kejutan-kejutan dari diri sendiri menyenangkan untuk dirasakan. Di sela-selanya, banyak juga (bahkan lebih banyak) harapan yang tidak mewujud menjadi kenyataan. Bohong sekali jika mengatakan bahwa sepenuhnya baik-baik saja. Setidaknya ada sekelebat rasa kecewa karena harapan-harapan yang akhirnya mulai mengeliminasi diri dengan sendirinya dari daftar panjang itu.

Di lapis kedua atas kesempatan-kesempatan itu, ada bentuk kesempatan-kesempatan lain yang jauh lebih tidak dapat diprediksi karena bukan hanya persoalan diri sendiri. Ada banyak sekali titik yang sulit dipahami dan dilihat di mana letak keterhubungannya. Dan selalu saja saya salah membaca dan mengartikan masing-masing dan bentuk hubungannya. Cukup melelahkan.

Lalu lapis kesempatan-kesempatan lain yang jauh lebih abstrak. Hingga pada satu titik hilang pada garis tipis kematian.

Beberapa kesempatan besar harus saya hentikan jalannya karena hal yang jauh lebih prioritas butuh disegerakan. Kadang lucu juga rasanya. Untuk apa kecewa atas hal-hal yang sebetulnya telah saya pilih sendiri timelinenya. Jika dengan pilihan-pilihan itu kemudian saya tidak berjodoh dengan satu dan lain hal, semata-mata karena hal itu yang paling sesuai dengan pilihan atas variasi lintasan yang saya ambil.

Sedih? Kecewa? Masih. Masih semanusiawi itu saya menjalani hari-hari. Di beberapa kesempatan saya mendorong diri untuk menjadi lebih bijak dan kejam terhadap diri. Demi kebaikan. Di waktu yang lain saya bahkan kesulitan mencari tahu mengapa ada emosi dan mengapa ada kondisi tanpa emosi.

Tapi di antara itu pula, saya sering menemukan bahwa saya mendapat kebahagiaan tertentu yang tidak sedikit karena ide-ide di dalam diri saya yang berpotensi untuk diwujudkan. Entah bagaimana kemudian, saya menemukan alasan-alasan cukup masuk akal pula untuk bertahan hidup. Paradoksnya selalu ada tentu saja. Membenturkan diri dengan perasaan dan emosi yang sama sekali lain dari reaksi yang seharusnya termanifestasi.

Seperti mencoba mendorong diri lebih keras ketika kecewa. Atau menenangkan diri ketika terlalu bahagia. Mungkin juga mencoba tetap menyemangati dengan bijak meski kehilangan selera dan putus asa. Seperti paragraf-paragraf ini. Yang tertera hanya untuk disia-siakan. Lalu dilupakan dan dicampakkan.

Mengetahui tidak selalu menyenangkan. Beberapa harus secara sengaja dilupakan agar tidak melukai terlalu dalam, atau meracuni pemahaman, ketenangan, dan rasa percaya. Kadang memang membingungkan. Sebingung aku membacai dirimu dari jarak maupun lekat.

Dan soal kesempatan-kesempatan yang hilang itu, tentu akan ada lebih banyak lagi di waktu mendatang. Tapi itu bukan salah waktu dalam menyediakan, itu perkara diri dalam memilih jalan.

wordsflow

Greeneries.


Resuming Anna Tsing’s book made me thought about the cosmopolitanism concept that she brought in her book.

Ah, too tired using English but, let see.

Hari ini cuaca sangat menyenangkan wuhuhu. Mungkin sedikit menyengat di tengah hari karena bahkan di lampu merah yang hanya 30 detik saja kaki saya sudah berasa terbakar, heu. Well, mari saya lewati bagian itu, hehe.

Tapi cuaca yang menyenangkan hari ini berdampak pada pemandangan keemasan sangat menawan sepanjang perjalanan pulang saya dari tempat penelitian. Sepanjang jalan saya hanya bisa tersenyum karena kombinasi hijau menguningnya sawah yang baru bertumbuh, pucuk rimbunnya pohon jati, refleksi matahari di permukaan air, duuuh, terlalu indah untuk bisa saya ceritakan dengan kata-kata.

Well, justru saya kemudian teringat tulisan Anna Tsing yang mengatakan bahwa mapala mengalienasikan dirinya dengan kehidupan pedesaan. Meredefinisi romantisme terhadap keindahan alam, namun tidak mau melakukan apa yang dilakukan orang-orang desa ini.

Sedikit banyak saya tersinggung dengan pernyataan Anna Tsing karena bagaimanapun saya bermula dari pedesaan. Tapi, ada hal yang saya pikir tidak dimengerti oleh Anna Tsing karena meskipun ia menyampaikan kritik mengenai perilaku mapala yang sangat urban, namun persoalan memandang alam ini saya pahami indah sejak saya masih piyik.

Saya ingat saya tidak pernah absen keluar rumah ketika masih kecil; mencari ikan, kepik, buah-buahan, ciplukan, belut, nyoba ngisep sari bunga, atau kegiatan kelayapan apapun yang bisa dilakukan oleh anak kecil. Dalam masa semacam itu, kami kadang duduk di jalan yang membelah sawah, merebahkan diri di rerumputan sembari mengatur agar layang-layang tetap melayang tanpa nyangkut sambil mengagumi sore hari yang menyenangkan.

Salah satu kenangan saya tentang itu adalah sore yang seindah sore ini, saya dan adik saya duduk-duduk berdua di jalan tengah sawah sambil memandangi matahari terbenam. Bercerita apapun soal keseharian dan beberapa penggal ceritanya bahkan masih saya ingat karena ketika itu saya sudah sedikit lebih besar, kelas 5 SD kalau tidak salah. Kami membantu kakek-nenek kami di sawah sepanjang kehidupan kecil saya hingga SD, turut membantu menanam dan panen, menyusun damen (daun dan batang padi) yang ternyata ultra gatal, bahkan sering makan makanan untuk syukuran panen dan masuknya masa tanam (saya lupa istilahnya).

Kami melakukan, tapi baik saya maupun adik saya, atau teman-teman saya memiliki kekaguman yang tinggi pada alam yang menjadi tempat main kami sejak kecil. Tempat itu seperti wahana yang menyediakan segala kesenangan dan seluruh harta karun yang kami butuhkan di masa itu.

Ah, atau pernyataan ini sekedar glorifikasi atas hal-hal yang sebenarnya biasa, namun kini saya lihat sebagai sesuatu yang tidak lagi biasa? Entahlah. Perkara menilai alam ini menjadi sesuatu yang tetiba penting ketika saya melakukan perjalanan pulang tadi sore.

Barangkali, tanpa sadar saya merasa bahwa sudah begitu lama saya jauh dari lingkungan tempat tinggal pedesaan saya yang menyenangkan. Hutan di depan rumah sudah tidak lagi selebat ketika saya masih kecil, namun saya ingat betul petualangan seru yang setiap hari kami lakukan di sana. Bagian mana yang kami anggap paling menantang dan di mana titik aman untuk membawa adik saya turut serta ke dalam.

Penalaran semacam itu yang menjadi pemandu saya dan pengingat saya ketika akhirnya masuk mapala dan membawa adik-adik saya ke gunung. Ada lokasi-lokasi yang saya petakan dalam pikiran saya dalam berbagai kriteria. Ada titik-titik yang saya anggap aman untuk dijelajahi, dan ada lokasi yang menurut saya, ‘ajak aku dong kalau mau ke sana’.

Oh ya jadi ngelantur.

Well, barangkali bisa juga tanpa sadar saya sebetulnya telah menjadi anak yang urban di sejak masih ada di desa, hahaha. Etapi enggak juga sih. Saya toh nggak kenal Sherina di masa itu, haha. Atau entahlah, tiba-tiba saya merasa tulisan ini bodoh. Ah, tapi mari lanjutkan.

Tapi sore ini, ketika saya melalui jalan dengan pemandangan sawah yang menyenangkan di kanan kiri, saya sadar satu hal (di luar perkara Anna Tsing ini sih) kalau saya sudah lama tidak memanjakan diri sendiri dengan hijauan-hijauan ini. Demikian, melihat sekelumit petak sawah yang hijau indah saja sudah luar biasa senang. Bahkan yang paling sederhana, menjilid buku bercover forest green saja saya senang.

Warna hijau seolah memperlihatkan bahwa di antara kehidupan yang mati itu (apa coba?) ada hal-hal kecil yang bertumbuh. Di tengah ketidakjelasan cuaca di hari ini, tanaman masih saja tumbuh subur. (Dan saya sangat sadar cara saya menulis ini saja sudah amat romantis dan nostajik sebagaimana tuduhan Anna Tsing, sial)

Lalu, melihat bentang alam Indonesia yang demikian, tempat di mana semua hal dapat tumbuh subur, spasi di trotoar jalan yang hanya 20 cm saja bisa dipakai buat panen tomat, rasanya jauh dari nyata untuk mengatakan bahwa bumi sedang sekarat karena pemanasan global. Kadang kita bahkan tidak mampu membayangkan hal-hal remeh sejauh beberapa kilometer di atas kepala kita, atau mungkin menjawab pertanyaan mengapa handphone bisa mengeluarkan suara, dan masih disuruh membayangkan bahwa ada peningkatan karbon di atmosfer bumi, atau ada pulau sebesar Sumatra yang isinya sampah doang. Hemm, bubar kepala saya Pak.

Well, betul juga jika saya mencoba melihatnya dengan cara itu. Tidak ada tanda-tanda yang sangat nyata memperlihatkan bahwa terjadi sesuatu yang fatal dengan bumi tempat kita tinggal. Hanya mereka yang tinggal di kota (saya salah satunya) yang mengalami depresi nyata soal permasalahan lingkungan. Nun jauh di Taman Nasional Bantul Raya di selatan sana, segalanya aman sejahtera, laksana suaka dan surga. Yuhuuuiii.

Dan kerandoman tulisan ini terjadi karena saya sudah menyusunnya dengan cantik sambil berdialog dengan diri sendiri sepanjang jalan, tapi bubar jalan begitu saya menginjakkan kaki di SATUBUMI. Heu. Yasudahlah.

wordsflow

a bonus for you

About the daily life. #2


Saya pikir saya seharusnya melantur di postingan sebelumnya, yah tapi akhirnya memutuskan untuk menulis postingan baru. Sewaktu-waktu kalian bisa begitu saja mengabaikan postingan ini karena as you can see from the beginning, this is about my daily life.

Lucu sekali karena belakangan saya merasakan diri saya memasuki dimensi absurd yang lain dari hidup yang, semoga cukup panjang hingga menyenangkan untuk dijalani. Ada beberapa hal yang belakangan justru saya pahami jauh setelah teks itu tercipta atau tersusun. Bukan hanya teks yang datang dari saya di masa lalu, namun juga orang-orang lain. Mungkin kamu juga salah satunya.

Sebetulnya pemikiran ini mampir karena belakangan saya membahas hal-hal absurd soal alam semesta dan dunia. Singkatnya, saya kemudian sadar bahwa kegagalan manusia di dunia ini adalah membawa keseimbangan atas upaya pemanfaatan dan perlindungan terhadap ruang hidup kita, lingkungan dalam skala kecil, dan dunia sebagai sebuah sistem tunggal.

Dan kesadaran itu ternyata menampar diri keras sekali karena kemudian saya sadari bahwa hal semacam itu tidak pula saya lakukan bahkan kepada diri sendiri.

Hidup, saking membosankannya seolah-olah menjadi cukup layak untuk ditinggalkan. Lantas datang berbagai cerita manusia menolong sesama hingga entah mengapa saya merasa itu menyentuh perasaan saya. Barangkali masih jauh dari tindakan, namun saya menyadari bahwa, tentu masih ada hal-hal berharga yang patut untuk dijalani di luar keputusasaan diri soal apapun.

Paradoks atas kebimbangan soal mana yang penting dan tidak penting, rasional dan irasional, baik atau jahat, atau bentuk kontra apapun yang muncul di dalam kehidupan saya, adalah akibat dari ketidakmampuan saya untuk menyeimbangkan kebutuhan diri dan kemampuan diri dalam memberi. Kadang saya terlalu fokus untuk memberikan apa yang barangkali tidak diminta, sehingga lupa bahwa saya pribadi toh harus disuapi dengan berbagai hal untuk mencapai keseimbangan sehingga hidup menjadi layak untuk diperjuangkan.

There would be no one who helps, we merely live alone and be a partner with self to survive the life.

Dan tentu saja ada hal-hal yang terlampau absurd untuk dimasukkan ke dalam ruang nyata. Misalnya soal hal-hal yang ada di dalam platform ini, atau platform yang lain lagi, atau yang ada di dalam layar 5 inci yang sama-sama kita banggakan dapat berguna untuk berbagi begitu banyak hal. Tapi kenyataan yang lain kadang membawa pada kesedihan yang lebih nyata, sesekali termanifestasi dalam air mata, terkadang tawa dan sentuhan, atau beberapa dekapan. Kita tetap tersenyum dalam pertemuan, tetap tak ingin melepaskan, tetap tak mampu membayangkan hal-hal sejauh lima sentimeter di depan. Mencampuradukkan berbagai hal itu membawa absurditas yang lebih dalam. Barangkali kemudian menjadi keinginan untuk menihilkan esensi kehidupan. Wuu, berat sekali.

Well, tidak ada hal yang terlampau sempurna atau biasa saja. Perasaan juga begitu. Ada waktunya saya membenci dan mencintai dalam waktu yang tepat sama. Ada waktunya saya tertawa tapi merasakan denyut menyakitkan dari cerita-cerita. Barangkali memang tugas terberat manusia menuntaskan keraguan dalam dirinya. Dan bukan soal jika saya terlambat menyadari berbagai hal itu, toh setiap titik adalah mula, dan setiap titik barangkali adalah akhirnya juga.

Saya membacai (dalam makna yang sesungguhnya) berbagai hal di masa lampau yang ternyata saya lupakan begitu saja. Ada banyak pemahaman yang tidak mengendap, hanya mungkin kala itu menenangkan saya sehingga pikiran saya menganggap hal tersebut tidak cukup layak untuk disimpan karena fungsinya cukup untuk meredakan.

Take a look closer at ourselves, darkness and silence are frightening, and unrecognition is the greatest fear.

Ya, ketidakmampuan untuk menyeimbangkan hal yang pribadi, dan yang sosial ternyata menggerogoti keseimbangan diri. Hence, maybe I haven’t been growing yet, I’m just getting older.

As I know that people are different when night, I tried to keep practicing at noon or night, with or without you, in desperate or in happiness, in emotional or in rational. Human is weak. But you know together could change the weakness and strengthen each other instead. Either being dramatical or boring is not which one is better, but which one would really express ourselves or bring peaceful mind after. There were many fakes and lies. There were disclaimers. There were many other things.

And there is you.

I don’t know who you are, or what happens to you. Really absurd to tell you through this platform, but everything always feel unreal whenever it was. Never felt so real until I wept and felt the pain in my chest, or until I felt the deep hole in my heart.

Tulisan ini barangkali bukan tulisan yang menggambarkan apa yang sedang saya pikirkan, atau saya rasakan. Begitu juga berbagai tulisan yang telah dan akan saya bagikan kelak. Ada perubahan-perubahan kecil dalam hidup, perlahan-lahan, namun ada perulangan yang pasti dan berpola. Beberapa di antaranya mudah dikenali karena berdampak pada fisik dan metabolisme tubuh, beberapa yang lain hanya menjadi nyata jika ditelusuri lebih dalam.

Yang manapun, ada proses yang harus tetap dijalani meskipun tidak suka dan ingin begitu saja dilompati, ada harapan-harapan yang harus diperjuangkan agar dapat diperoleh atau sebaliknya, dapat dilepaskan dengan lapang dada. Ada rindu yang harus dibayar dan diberi pemahaman.

Ada orang yang mungkin hanya datang untuk memberi pelajaran. Di antaranya akan tetap membersamai kita meski kita terpisah dan lupa. Ada yang hanya datang untuk menciptakan kekacauan agar kita berbenah dan memperhatikan kehidupan. Lalu ada yang kita pikir akan menemani perjalanan panjang tapi ternyata tidak bermaksud untuk menua bersama. Life is a joke, yet a game. Then, laugh for it and prepare your strategy.

Lalu lima sentimeter di depan ada waktu yang masih cukup panjang untuk saya hidupi. Setidaknya jika bukan untukmu, untuk saya sendiri, mungkin ditemani seekor kucing dan anjing nantinya.

wordsflow

That Competition Doesn’t Exist


Okey, honestly I don’t have any topic to write, ya tapi mari saya tuliskan sesuatu.

Hari ini hujan, dan tiga hari lagi valentine. Cieh. And nothing to do with me sih, hehe.

Ada dua blog yang menginspirasi saya hari ini, tapi ternyata tidak cukup kuat untuk mendorong saya menuliskan sesuatu yang bermanfaat. Jadi marilah melantur bersama hujan yang nggak reda-reda ini.

Beberapa waktu yang lalu saya diberikan penjelasan yang cukup masuk akal soal being in a rush dalam beberapa dekade terakhir ini. Mengapa kita begitu tergoda dengan kemajuan dan kecepatan. Seolah-olah ada sesuatu yang akan berubah begitu rupa begitu kita menjadi cepat, atau bahkan yang pertama.

Saya tidak akan melakukan reproduksi tulisan orang lain. Semoga tidak. Tapi sekedar menuliskan kekhawatiran dan keganjilan yang terjadi belakangan ini. Dan akhirnya mencoba membangun diri untuk dapat menerima berbagai ‘ketertinggalan’ yang terpaksa harus saya hadapi lantaran ya memang saya lambat. Oh, dan harus saya peringatkan bahwa mungkin sekali tulisan ini sangat amburadul.

Ketika membicarakan kecepatan, saya menjadi begitu terbawa untuk mempertanyakan berbagai hal esensial tentang hidup. Hal-hal yang sebetulnya begitu mendasar, yaitu persoalan bertahan hidup di tengah pergeseran nilai-nilai.

Ada hal-hal yang sempat mengganggu dalam hidup saya, dan masih ada beberapa sisanya juga sih, hehe. After being so long in competition (sama idealisasi tertentu dalam pikiran), saya menyadari bahwa semua hal itu tidak memiliki implikasi praktis apapun untuk hidup. Segala hal itu berlapis-lapis. Relasi itu ada berbagai macam bentuknya, dan pasti pula berlainan antar satu orang dengan orang lainnya. Apa yang tampak tidak juga dapat dikatakan demikian adanya. Kita memiliki relasi formal dan informal, yang di dalamnya juga menyinggung hal-hal yang barangkali tidak dapat dikatakan rasional, misalnya solidaritas, atau cinta. Dan si kompetisi menjadi tidak rasional juga kemudian, karena pada dasarnya tidak berimplikasi apapun secara praktis.

Saya sampai tertawa sendiri setiap kali mengingat hal-hal yang telah saya lalui memperdebatkan soal perfeksionisme dan kompetisi ini. Saya amat percaya bahwa menjadi sempurna itu dapat diperjuangkan hingga nantinya dapat saya gunakan untuk membantu mendapatkan hal-hal yang saya harapkan. Tapi toh ternyata tidak juga, hehe. Dan akhirnya sebagian berakhir sekedar menjadi sesuatu yang mengganggu hari-hari baik.

Well, sudah pernah saya ceritakan juga pada suatu momen tertentu ternyata saya tidak sesakit hati itu ketika nggak mendapatkan hal yang saya inginkan. Lebih menyenangkan kemudian ketika sadar bahwa ternyata dampaknya nggak seburuk itu untuk hidup saya. Dampak praktisnya sungguh tidak ada. Saya hanya kembali ke keadaan awal saja, kondisi mula yang posisinya agak lebih belakang dibanding saat harapan itu masih ada. Seperti bermain game, hanya kembali ke titik start tapi setidaknya saya sudah mempelajari taktik dan strategi permainan. (Jadi pengen ngutip Bourdieu tapi oh buat apaan)

Jadi, ini hanya perkara mencintai diri sendiri kok. Urusannya cuman itu doang. Barangkali tidak perlu ada penjelasan panjang lebar soal apa dan bagaimananya. Saya cukup lega dengan meyakini bahwa ‘that competition doesn’t exist’. Dan nggak masalah soal apa-apa yang sudah atau tidak diperoleh, atau kapannya. Biasa saja.

Nah, jadi hubungannya apa dengan kecepatan berbagai hal di hari ini?

Saya pikir, akhirnya ada pemahaman soal di mana sebaiknya segala hal yang baru-dan-mutakhir-hampir-mustahil-untuk-dipercaya ini diposisikan. Dibandingkan melihat-lihat orang lain atau sesiapapun sebagai pembanding, lagi-lagi jauh lebih menyenangkan buat mengambil posisi sendiri entah di mana bebas deh. Dan lama sekali saya mempelajari hal ini hingga nggak sekedar mampir di dalam pemahaman tapi juga ke ranah praktikal.

This is life vroh. As long as you still alive, yasudah begitu saja.

Kadang ada dorongan untuk menyelami dunia maya jauh lebih dalam dari yang mungkin mampu saya tanggung, lalu merasa semakin absurd dan kerdil. Justru munculnya dorongan untuk mengikuti arus dan menjadi seperti orang-orang ini membuat kita menjadi orang yang terjerat di dalam arus kapitalisme itu sendiri. Akhirnya nggak pernah merasa puas dengan segala hal, dan hilanglah dia di antara kerumunan. Absurd sekali.

Sangat sulit untuk merasa spesial di antara begitu banyak orang yang memang ‘merasa’ spesial. Misalnya saja sudah begitu bersemangat memilih baju yang paling ciamik buat pergi ke kondangan. Toh akhirnya tampilan itu tidak akan menjadi sesuatu yang menarik di tengah kerumunan orang yang juga mengeluarkan usaha yang sama untuk tampil menarik. Di antara kerumunan, kita hanya sebatas manusia lain aja. Ya tapi kalo urusannya buat diri sendiri sih soal lain lagi.

Akhirnya, saya bosan juga menulis hal yang tidak jelas ini. Pengen ngobrol sama manusia aja tapi bingung milih topik. Sangat nggak layak untuk diposting; nirfaedah sekali. Mungkin nanti bakal saya hapus, hahaha. Tapi ya biarlah dia nangkring dulu untuk sementara ya.

wordsflow