WORDS FLOW

setiap pengalaman pantas untuk diingat

Category: on Nothingness

Jauh.


Jika kamu sudah akrab dengan jarak, kadang dekat itu menjadi sesuatu yang asing dan tidak akrab.

Hari ini, WordPress baru saja ngasih saya ucapan selamat karena kami sudah jadian 8 tahun lamanya. Dengan postingan yang akhirnya mencapai 504 di hari ini. Jika dibagi delapan, maka saya menulis rata-rata 63 postingan dalam setahun, dan itu berarti sekitar 1-2 postingan setiap minggunya. Luar biasa produktif sekali. Meski begitu, saya kesulitan untuk mengakses tulisan lama saya karena jauh dan harus pencet tombol ‘next’ berkali-kali.

Jadi, ada apa dengan ‘jauh’?

Tidak ada apa-apa. Saya hanya suka menulisnya dengan cara demikian, dengan sebuah titik di belakang.

Saya sering jatuh dalam kebingungan yang tidak mampu saya identifikasi sendiri. Saya kehilangan pegangan antara yang nyata dan tidak nyata. Saya kehilangan pandangan mengenai apa itu kenyataan dan mana yang sebetulnya penting untuk dipikirkan. Mungkin itu efek karena saya tidak dapat melihat dengan jelas sekarang akibat kemampuan mata yang menurun. Tapi sungguhkah ada pengaruhnya? Barangkali iya. Atau barangkali saya hanya mencari penjelasan yang paling mudah saya terima.

Seusai membaca To Kill A Mockingbird, saya tidak mampu menahan tangis. Entah mengapa saya merasakan berbagai perasaan seusai membacanya. Mungkin saya terpesona dengan gaya bercerita Harper Lee. Atau saya mengagumi perjalanan saya sendiri ketika seumuran Scout dan Jem. Atau saya justru membayangkan ayah saya yang dalam beberapa hal mirip Atticus. Atau saya merasa marah atas kemanusiaan yang sudah begitu jauh dari kemurnian pandangan kanak-kanak. Atau saya prihatin dengan beban orang tua agar mampu sungguh bercermin di depan anaknya. Atau entah yang mana lagi yang membuat saya menangis.

Jauh sekali kedamaian di dunia ini. Jauh sekali harapan-harapan kita dari kenyataan. Jauh sekali idealisme dari realitas. Jauh sekali. Jauuuuuuh sekali.

Jarak itu menakutkan. Ada pertimbangan antara ketakutan dan keamanan karena jarak. Ada ketidakterjangkauan yang memungkinkan dua hal itu. Antara ketakutan akan kehilangan atau perasaan aman. Dan keduanya karena jarak.

Ah, tapi barangkali saya sudahi dulu tulisan ini. Ada yang tiba-tiba terlampau melankolis malam ini.

wordsflow

 

Laut


Apa yang dijanjikan laut kecuali pulang?

Suatu kali saat kulihat laut menjulang lebih tinggi dari bukit-bukit kecil, aku bertanya dalam hati, “Mengapa laut yang di bawah itu tampak begitu tinggi di atas sana?” Lalu kau bilang itu horizon namanya.

Batas.

Apakah ia sungguh batas?

Ketika membaca tentang The Flat Earth Society, banyak hal yang mungkin menjadi perdebatan. Banyak yang nyinyir mengenai hal itu. Toh tapi banyak juga yang percaya. Masalahnya, manusia punya batas. Dan demikian, panca indera menjadi batas yang paling dasar sebelum akhirnya logika mampu mengubah batas itu menuju cakrawala yang jauh lebih luas lagi.

Bagaimana pun, tidak ada sesuatu hal yang sungguh dapat dipercaya sampai seseorang mengetahui sendiri bagaimana semua itu mewujud dan ada. Toh setelah mengetahui sendiri pun, belum tentu penglihatannya benar, pendengarannya benar, penafsirannya tepat, dan seterusnya.

Kalau begitu, mana yang bisa disebut sebagai kebenaran?

Entahlah. Setiap kali semakin mengawang-awang saja.

Begitu banyak, ah lebih dari itu, amat sangat banyak hal yang tidak bisa mewujud sebagaimana hal itu terwujud sebagaimana adanya. Yah, meski Heidegger sudah berbusa membicarakan Ada, tapi siapa yang peduli? Seseorang barangkali bahkan akan selalu bingung ketika mendeskripsikan dirinya sendiri. Padahal dia hidup di dalam wujud itu seumur hidupnya! Dan itu pun ia masih ragu.

Yang begitu bicara kebenaran di luar diri??

Tapi mungkin, karena kita adalah satu-satunya subjek yang tidak bisa mengamati diri sendiri, kita selalu butuh refleksi. Tapi toh setiap manusia berbeda. Demikian, refleksi tidak bisa selalu sempurna. Kita bertemu lagi dengan batas.

Batas pun ada banyak bentuknya ternyata. Seperti laut.

Yang membatasi yang darat dan air. Laut selalu mengundang untuk dipertanyakan. Apakah binatang laut merasakan laut sebagaimana kita merasakan udara? Atau berbeda sama sekali? Bagaimana memberi tanda pada laut? Bagaimana membatasi laut sementara air selalu bergerak? Ah, barangkali sama seperti kita yang tidak bisa membatasi udara, tapi bisa membatasi daratan. Mungkin di laut selalu ada tanda alam yang bisa menyatakan. Meski dalam.

Tapi di laut kita merasakan air. Di darat belum tentu kita merasakan udara.

Semua hal menjadi seolah tidak penting untuk dibicarakan, untuk diperjuangkan, untuk dijalani, untuk diharapkan, untuk direnungkan, untuk dipikirkan, untuk diperbaiki, dan untuk-untuk yang lainnya. Tapi sekelebat kemudian rasanya semua hal sepenting itu untuk diri sendiri, orang lain, dan barangkali untuk masa depan jika itu memang menjanjikan. Masih saja banyak kebingungan setelah sekian tahun berlalu.

Tapi saat melihat laut, takutku menjadi begitu nyata. Senyata itu untuk menyadari di mana kita berpijak di hari ini.

wordsflow

(re)imagine


What I do forget the most is, the fact that people driven by their imagination about everything on Earth, and beyond Earth.

Salah besar selama ini, karena saya memahami imajinasi hanya sebagai sebuah khayal. Padahal khayal terkonstruksi dari hal-hal yang pernah dipahami melalui yang empirik. Bahkan imajinasi mengenai hewan-hewan paling imajinatif di dalam film pun merupakan gabungan, ekstensi, pengurangan, perulangan, dari benda-benda yang ada di dunia ini. Imajinasi adalah reproduksi.

Ketika mempelajari perdebatan mengenai banyak hal di dunia ini, atau membaca berita mengenai berbagai selisih paham dan berbagai konflik, saya pikir masalahnya bukan ada pada tingkat pendidikan masing-masing manusia. Kadang kita terjebak pada kata ’empati’ namun tidak sungguh memahami bagaimana implementasi praktik dari kata itu sendiri. Atau mungkin, terminologi ‘toleransi’, namun tidak mau mengiyakan bahwa ‘kita sama-sama manusia’. Kenapa? Kenapa?

Sangat lama bagi saya untuk menelusuri apa sebab ada manusia yang tidak dapat memahami manusia lainnya. Apa sebab seseorang mampu berbuat buruk pada orang lain. Apa sebab ada ketidakadilan di dunia ini. Apa sebab ada mis-komunikasi. Dan pertanyaan ‘apa sebab’ lainnya yang menghantui saya dari hari ke hari tanpa ada yang datang memberi pencerahan.

Tapi jawaban selalu bisa datang dari perjalanan.

Kemadang, Tanjungsari. Tempat itu indah sekali, dan saya bertanya-tanya mengapa saya baru menyadari sekarang. Padahal telah beberapa kali saya melewati ruas jalan itu. Saya ingat sepanjang perjalanan itu saya memikirkan kata teman saya bahwa dunia sedang sakit parah. Tapi tidak ada yang mau sungguh-sungguh menggambarkan seberapa parahkah sakitnya Bumi kita? Padahal di depan mata saya terpampang keindahan yang tidak palsu. Orang-orang yang masih bertanam, tumbuhan yang masih bertumbuh, wajah-wajah yang masih bahagia. Apakah itu yang dikatakan sakit?

Sementara saya sendiri juga menyadari bahwa perjalanan saya untuk mencapai ‘keindahan pariwisata’ itu menyumbang emisi karbon yang selama ini diupayakan untuk dikurangi. Pikiran itu mengganggu saya terus-menerus. Lagi-lagi pariwisata hanya sebuah kepalsuan yang dikemas sedemikian rupa sehingga kita teralihkan dari pengetahuan lain di belahan dunia sana.

Tapi pertanyaannya, apakah saya kemudian peduli setelah tahu bahwa masyarakat di Afrika tengah sana kekurangan makanan? Apakah saya juga membawa pengetahuan perang di Timur Tengah di keseharian saya? Apakah saya peduli makan apa tunawisma yang tadi saya temui di jalan? Apakah saya melakukan sesuatu setelah tahu berapa luasan Greenland yang mencair? Apakah saya melakukan sesuatu setelah sebegitu banyak pengetahuan baru tentang kerusakan Bumi? Tidak. Saya masih begitu-begitu saja.

Imajinasi tentang berbagai hal mungkin mengganggu saya. Tapi kontradiksinya dengan yang terlihat oleh mata lebih mengganggu lagi.

Setidaknya, saya kemudian menyadari bahwa imajinasi saya lah yang membuat saya tidak berhenti berpikir dan bertanya. Imajinasi akan sistem dunia ini yang tidak pernah sungguh saya pahami secara keseluruhan. Yang begitu, kadang membuat saya berkeinginan untuk bisa terbang, untuk bisa menyelam di dunia maya, untuk jadi astronot saja. Bahkan, kemudian saya berimajinasi bagaimana rasanya jadi Tuhan yang melihat carut marut dunia ini?

Imajinasi membuat manusia hilang arah. Imajinasi membuat seseorang terus mengingat masa lalu, membuat seseorang mengharapkan masa depan, membuat seseorang mampu berempati dan bersimpati, membuat seseorang membayangkan surga dan takut neraka, membuat seseorang ingin mati dan takut mati, dan seterusnya, dan seterusnya. Imajinasi di samping itu juga memberi harapan besar. Ada manusia-manusia yang berjuang mati-matian menjaga lingkungannya karena tidak ingin kehancuran di masa depan, ada orang yang bekerja begitu keras karena membayangkan masa depan yang baik untuk anaknya, dan berapa lagi imajinasi yang membawa kebaikan kepada manusia-manusia?

Manusia belajar dari cerita, kita berrelasi melalui komunikasi, dan kesemua itu mewajibkan imajinasi. Dan gagalnya imajinasi menciptakan mis-komunikasi, dan lebih parah lagi kesalahpahaman. Tapi pertanyaannya, apakah perasaan bisa diimajinasikan? Bisa. Dan dalam kegagalan imajinasi juga memicu kesalahpahaman yang sama.

Saya ingat seorang teman yang tidak pernah membaca novel sementara semua buku teori yang ia perlukan ia baca. Mungkin kesimpulan ini masih harus diujikan, namun yang saya temukan adalah kegagalan si teman untuk memahami candaan kami, atau cerita-cerita yang kami anggap lucu. Adanya mis-komunikasi setial kami berinteraksi dan penolakan si teman terhadap hubungan kasual. Demikian, mengembangkan imajinasi menjadi hal yang penting untuk hidup seseorang sehingga ia bisa terintegrasi dengan baik dengan lingkungannya.

Imajinasi berkembang melalui seni, cerita, film, dan berjalanan. Dan semakin seseorang mengembangkan imajinasinya, semakin mudah seseorang membayangkan dan memahami segala hal. Teringat setiap kali bercerita, kita selalu mengeluarkan kata “kebayang nggak?”, “bayangin kalo misalnya kamu,”, dan seterusnya, dan seterusnya.

Bahkan, mitos dan ritual mengharuskan ada imajinasi di dalam individu-individu yang menjalaninya. Bisa ada kesimpulan “bencana ada karena Tuhan sedang marah” pun adalah ekspresi dari imajinasi itu sendiri. Dan begitu banyak lontaran kalimat yang keluar atas imajinasi seseorang tentang sesuatu, atau suatu masa, atau suatu peristiwa.

Saya kira, hal itu yang membuat saya lebih suka menonton kartun dibandingkan film biasa, atau membaca cerita dan komik. Di dalam kartun, yang saya temukan adalah keseluruhan imajinasi, keseluruhan dunia yang diciptakan oleh individu. Sebuah ekspresi dari dunia lain yang diimpikan atau dikonstruksikan.

Begitulah.

Meski kemudian saya terbangun pagi ini dan menyadari bahwa tidak ada hal yang sungguh penting kecuali mandi. Tapi saya ingat satu hal; don’t (ever) drop your unhappy friend!

Dunia masih sama membingungkannya seperti kemarin.

wordsflow

“memperbaiki hidup”


Begitu katamu setiap kali bergegas pergi. Segalanya kau tata rapi dan kau pastikan tidak ada sesuatupun yang tertinggal. Semua yang milikmu kau bawa, yang bukan kau tinggalkan begitu saja.

1984. Buku itu hilang entah ke mana. Disusul kemudian beberapa judul yang lain. Kemudian kesadaran samar-samar mengenai buku-buku lain lagi yang jauh lebih lama yang tidak lagi ada wujudnya juga membanjir ke permukaan.

Telah banyak yang hilang, tanpa disadari.

24 jam tampak terlalu lama pada suatu waktu. Di waktu yang lainnya semua itu terlampau cepat untuk berlalu. Berapa banyak perubahan yang terjadi hanya dalam hitungan hari? Bahkan tidak butuh lebih dari satu minggu untuk menghampakan segalanya. Meniadakan hal-hal yang sebelumnya saya percaya. Waktu mempermainkan diri. Atau justru diri yang mempermainkan segalanya. Tidak lagi ada hasrat untuk memastikan di antara keduanya.

Ada perasaan yang aneh yang tidak saya akrabi setiap kali saya berada seorang diri. Perasaan yang justru tidak ingin saya pastikan apa itu. Perasaan yang justru tidak ingin saya rumuskan definisinya. Perasaan yang mengobrak-abrik kecamuk dan resah. Tidak saya pahami, dan tidak ingin saya pahami.

Dibanding “memperbaiki hidup”, istilah “memperbaiki diri” itu aneh. Saya pikir semua orang memang pas pada waktunya. Yang kita lakukan bukanlah memperbaiki diri sebenarnya, hanya memposisikannya kembali agar sesuai dengan kondisi yang ada ketika itu. Tapi ini pun bukan hal yang selamanya seperti itu. Saya kira, saya telah kehilangan kepastian mengenai segala hal. Hampa saja.

Setiap kali melihat manusia, rasanya lebih menyenangkan membayangkan bahwa semua manusia pernah menjadi makhluk yang polos dan dicintai karena kepolosannya sebagai pembawa kabar gembira. Demikian, tidak ada yang berbeda antara manusia yang ini atau yang itu, yang mencampakan atau menarik mendekatkan, menyakiti atau mencintai. Kita hanya bingung. Seperti yang mungkin sedang terjadi pada saya di hari ini. Yang tidak tahu untuk apa terus mengupayakan. Untuk apa terus berjalan. Untuk apa berusaha terus percaya bahwa manusia adalah manusia saja. Tidak lebih, dan tidak kurang.

Sering kali saya berpikir untuk berhenti pada satu titik, dan memilih untuk menghilangkan diri dari hidup orang lain. Tapi perasaan yang seharusnya mendorong saya melakukannya tidak ada di sana. Tidak ada apa-apa kecuali mata yang tetap memandang dunia. Tangan yang tak lelah mengirimkan pesan. Detak jantung yang tetap pada irama yang sama indahnya.

Segala hal memuakkan dan penuh harap pada saat yang bersamaan. Menyisakan keputusasaan atas kebingungan-kebingungan yang tidak berjalan-keluar. Sementara tidak ada yang mau menghentikan umurnya pada titik yang sama. Semua orang berkejaran menjadi yang pertama. Sedangkan menjadi yang kedua seolah takut menjadi tertuduh yang hanya bisa mengikuti tanpa autentisitas. Selalu menakutkan menjadi yang kedua. Selalu lebih melegakan menjadi yang selanjutnya, atau justru yang terakhir saja.

Padahal tanpa yang kedua, tidak akan ada yang selanjutnya.

Ada perasaan sesak yang aneh yang tidak juga ingin saya pastikan apa. Tidak ada gairah yang meneriakkan semangat berulah. Yang ada hanya–tidak ada apa-apa.

Isu-isu sosial tetap menjadi isu saja. Isu lingkungan sama saja. Isu apapun, hanya menjadi isu. Saya marah pada diri sendiri. Salah siapa? Diri sendiri.

Tapi tidak sesederhana itu untuk yakin bahwa hidup tidak berguna. Telah banyak yang bisa membuktikannya. Tapi apa. Tidak ada apa-apa di sana.

Ada yang bernama Ginan, seorang pengidap HIV yang berusaha mengenal dirinya untuk memastikan hidup seberharga itu untuk diteruskan dan diperjuangkan. Saya sepakat. Ia menulis buku tentang hidupnya yang hanya saya baca sekilas selama 10 menit. Aneh sekali ia bisa menceritakan hidupnya dengan sedetil itu. Kisahnya menginspirasi karena dia sungguh-sungguh ada, bukan imajinasi. Pun ceritanya tidak ia karang sendiri, tapi ia jalani. Tapi hebat sekali ia ingat semua hal itu. Sementara banyak yang saya lupakan di hidup saya.

Masa depan seolah tidak ada. Tapi dia dipikirkan oleh semua manusia di dunia. Mungkin saya juga, meski barangkali kamu tidak peduli. Tak mengapa. Tidak peduli adalah andalan manusia untuk menanggapi banyak hal yang mungkin tidak ia inginkan. Perasaan misalnya.

“Kamu kenal Chris Cornell nggak? Dia meninggal hari ini.” Waktu itu ada yang bertanya begitu.

Saya tidak kenal. Tapi saya sedang mendengarkan lagunya. Sama seperti kebanyakan musisi yang sok saya kenal lalu saya dengarkan musiknya. Kadang-kadang bahkan sama sekali tidak paham apa yang dinyanyikan. Kadang bahkan judul lagunya tidak saya tahu. Lahir kapan dia? Mulai main musik tahun berapa? Apa nama grup musiknya? Genrenya? Ada banyak hal yang saya paksakan. Sebagian besar cocok saja. Karena ketidakpedulian. Sisanya menjadi hal yang terlupakan setelah berusaha mengaksesnya.

Seperti file-file buku digital yang terbengkalai setelah diunduh lebih dari tiga tahun yang lalu. Terlalu banyak buku digital yang belum pernah dibuka sejak diunduh ke sistem operasi. Atau bergiga album yang belum pernah didengar sejak dimiliki. Atau bergiga foto yang tidak pernah dikenang kembali setelah disimpan. Untuk apa kenangan jika tidak menjadi kenangan bersama? Untuk apa yang lama jika kita selalu hidup di kala yang sama; saat ini, sekarang ini?

Tidak ada yang harus dirayakan. Tidak sekarang atau besok, bahkan mungkin lusa. Tidak juga. Filsafat ditinggalkan manusia, sayang sekali. Diri dibawa kabur dari jiwa. Segalanya lebih nyata di luar pikiran manusia. Memang. Tapi tidak suka, meski kadang-kadang saja.

Memperbaiki hidup. Memperbaiki diri. Apa itu?

wordsflow

This gonna be tough


Tidak ada gairah. Tidak ada gemuruh. Tidak ada gejolak. Tidak ada apapun tiba-tiba.

Meski tawa masih di sana, tangan masih terus bekerja, kaki masih terus melangkah, mata masih menyapukan pandangannya, dan masih pula ada kupu-kupu yang menggelitik di dalam perutku. Apa lagi tapi?

Menangis dan membenci, dua hal yang jauh lebih dalam dari tertawa dan mencintai. Kupikir. Pada mula-mula.

Tapi tawa dan mencinta membunuh keduanya. Kejam, meski tanpa darah dan jasad. Bahkan waktu bekerja sama untuk menciptakan suasana yang tepat agar pembunuhan itu terjadi tanpa jejak, tanpa cacat.

Di mana rasa bersemayam kala itu?

Dia tergolek pasrah, mengizinkah diri mengatur segala hal yang dia pikir ia pahami.

Ada rasa tercekat di pangkal suaraku, mendesakkan berbagai hal untuk keluar menemukan udara bebasnya.

Tapi tak ada apapun di sana.

Hanya mata yang terus menatap, kaki yang terus melangkah, dan tangan yang terus bekerja.

wordsflow

nothing again


Well, saya sedang bimbang. Mari saya ceritakan alasannya.

Suatu hari, ada seseorang yang bertanya kepada saya, “mendingan ditinggal atau meninggalkan?”. Pertanyaan itu tidak jauh berbeda dengan pertanyaan mengenai mencintai atau dicintai. Sekian lama saya memperdebatkan dua hal itu, saya toh memilih untuk menjadi subjek, lebih memilih untuk bertindak dibandingkan menyerahkan diri menjadi objek sehingga terus bertanya-tanya tanpa mampu melogika dan memperhitungkan.

Meninggalkan tentu saja. Dan itu saya upayakan untuk akhirnya mampu saya praktikkan. Sayang sekali, rencana itu dua kali gagal saya penuhi. Saya tidak sedih, sungguh. Saya hanya bingung ketika kembali memperdebatkan dengan diri sendiri perihal hal yang sungguh saya inginkan dan apa yang selama ini saya akui. Mungkin dua hal itu tampak sederhana, tapi pada praktiknya keduanya berada pada sisi yang cenderung berseberangan.

Ketika rencana melarikan diri itu gagal misalnya, saya pikir saya akan sedih luar biasa, atau setidaknya menyalahkan diri sendiri karena gagal. Toh pada praktiknya hal itu tidak saya rasakan. Mungkin saya mencoba mengerti dengan mengatakan ke diri sendiri bahwa bisa jadi saya sudah tidak seemosional dulu dengan bermuram durja ketika ada hal yang tidak dapat saya capai dalam hidup saya. Tapi tidak, dalam beberapa hal, saya masih bisa terus membawa kesedihan saya sepanjang hari hanya karena percakapan yang hanya berlangsung 15 menit.

Hehehe, kadang saya harus juga menertawakan kebingungan ini, dan terus saja mengaduk-aduk ingatan untuk akhirnya bisa mengatakan dengan bangga bahwa ‘it’s how this life is working’.

Ada hal yang sungguh berubah dari saya, meski saya kira pernyataan ini hanya bisa dikonfirmasikan lewat orang-orang yang berhubungan dengan saya. Tapi saya kira yang saya rasakan tidaklah salah mengenai perubahan itu. Yang saya penasaran justru bagaimana orang-orang lain memandang perubahan itu, hehe.

Yasudahlah. Sekian saja.

Saya sedang sibuk menghitung mundur kapan kiranya hal-hal mengejutkan terjadi dalam hidup. Tapi sekarang, mari merencanakan.

wordsflow

mati, itu apa?


Ada kematian yang tiba-tiba mengada dari ketiadaan–ah bukan, sebetulnya kematian itu hanya istirahat sebentar.

Dua film bertema kehilangan sedang tayang di layar lebar. Saya pikir keduanya mengangkat hal yang sama, menyoal cinta dan rela, akan orang terkasihnya, akan masa lalunya, akan hal-hal yang tidak bisa mereka terima. Hanya saja, cara penceritaan keduanya jauh berbeda, yang satu mendekati soal kematian ini melalui ziarah, sedang yang satu lagi menyoal kematian ini dengan rasa bersalah.

Saya bukan kritikus film memang, dan tulisan ini tidak akan membahas film yang sedang tayang itu sama sekali. Tapi, sekali waktu dalam pusara simbah saya, saya menyadari bahwa apa yang bisa saya petik dari kematian? Kematian tidak menawarkan apapun kecuali kematian itu sendiri, saya kira. That’s all.

dead man tells no tale

Itu kalau Pirates of Carribean. Tapi apa sesungguhnya kematian itu, tidak begitu saja dapat dijawab dengan mudah. Orang mati nggak bisa hidup lagi untuk menjelaskan rahasia-rahasia kematian itu kaan.

Dalam sebuah berita, saya menemukan nama Julia Perez yang sedang kanker stadium 4, penyakit yang jaraknya sungguh tipis dari kematian. Saya sebetulnya bertanya-tanya sungguh tentang kesadaran manusia yang berada pada kondisi kritis harapan untuk hidup. Soal apa yang ada di dalam kesadaran dan mungkin ketidaksadarannya. Ada memang rahasia-rahasia yang tetap menjadi rahasia bagaimanapun inginnya kita berupaya mengungkapnya ke permukaan. Itupun, jika kita sama-sama sepakat soal permukaan ini.

Oke, kembali ke masalah kematian ini.

Lagi-lagi, kematian memunculkan romantisme mendalam. Sebuah kesadaran tipis mengenai kehilangan yang sesungguhnya, meski masih juga bertanya-tanya soal apa itu sesungguhnya, mati itu? Dalam kebingungan saya, selama keterombang-ambingan diri saya selama beberapa waktu ini, saya toh pada akhirnya sadar bahwa pada kematian saya menemukan pegangan yang paling nyata. Tidak ada yang pasti kecuali mati. Maka ia menjadi hal yang merangkum seluruh, atau kesemua ketakutan, kekhawatiran, kegelisahan, keresahan, kesedihan, atau apapun itu.

Begitu mesranya merasakan cinta yang begitu dalam pada diri ketika menyadari akan ada kehilangan terbesar dalam kematian. Ada akhir dari setiap penantian. Keseluruhan itu akan terhenti pada mati. Semuanya pun begitu.

Kadang kala ada imajinasi liar tentang kematian yang sewaktu-waktu menyisip di sela berbagai kesibukan, atau di dalam kekacauan pikiran. Ia sering berbisik-bisik meminta perhatian. Sewaktu-waktu ia seolah berdiri mematung di pinggir jalan meminta pertanyaan. Di waktu yang lain bahkan ia menghalangi jalan tanpa basa-basi meminta kita sejenak berhenti dan menyapa. Dekat sekali. Dan lekat sekali kita dengan diri dan mati ini.

Kematian selalu memancing mesra, selalu memancing cinta, selalu memancing rasa yang mendalam tentang hidup. Atau tentang apapun yang sedari awal kita abaikan.

Sekian saja soal mati ini, nanti saya tulis surat cinta lagi. Atau surat mati?

wordsflow

Running Away


Ada seorang perempuan.

Aku melihatnya berlari satu putaran setiap dua hari sekali. Aku tak pernah melihatnya menyapa siapapun yang berpapasan, bahkan kuduga ia juga tidak melihat ke depan. Dunianya hanya sejauh tiga meter di depan kakinya, seolah tidak ada hal lain yang penting lagi. Tak peduli bagaimana ia orang lain melihatnya dengan penuh perhatian, atau orang lain mencibirnya dengan kesombongan. Baginya dunianya hanya berjarak tiga meter dari ujung kakinya.

Aku melihat perempuan itu berlari pada waktu-waktu tertentu. Setiap pagi dua hari sekali ia dengan wajah setengah mengantuk berlari dengan ritme lambat yang menenangkan, suara langkah kakinya bahkan begitu stabil tanpa ada perubahan. Sering pula ia berlari di sore hari selepas pukul setengah lima. Kadang secara tidak terduga ia datang di hari-hari tertentu, tapi ia memang tidak pernah berlari pada jam yang tepat sama seperti hari-hari sebelumnya.

Wajahnya penuh dengan pertanyaan, itulah hal yang paling aku suka.

Suatu hari, sekitar sebulan yang lalu, aku melihatnya menangis ketika berlari. Aku tak pernah tahu apa yang ia pikirkan, apa yang ada di kepalanya, bagaimana suasana hatinya. Yang kutahu pasti, ekspresi wajahnya tak pernah sama setiap kali ia berlari, dan aku yakin ia tidak pernah berhenti berpikir setiap kali melakukannya.

Meski demikian, ada hari yang sungguh membuatku penasaran dan berkeinginan dengan sangat untuk bertanya. Hari itu sore pukul empat, waktu yang jarang sekali ia gunakan untuk berlari. Wajahnya tidak terbaca; ekspresi yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Ia begitu teduh, teduh yang tidak aku pahami karena seolah ia menyembunyikan gemuruh yang lebih besar. Kali ini, aku memperhatikannya jauh lebih seksama, dan aku punya waktu kurang dari satu menit untuk memutuskan akan menyapanya atau sekali lagi melepasnya untuk kutatap lagi di lain hari.

Jarak kami sudah hampir sejajar, tapi tak juga ada keputusan yang aku ambil. Pada langkah ke lima dari posisiku, ia berhenti, lalu menunduk dalam. Aku terpaku di tempatku, tak mampu memutuskan untuk menyapa atau membiarkannya. Tapi justru aku menunggu. Seolah yakin aku akan menemukan jawaban tak lama lagi.

Ia menunduk dalam, punggungnya tiba-tiba bergetar pelan dan punggungnya naik turun. Ia menunduk semakin dalam, hingga akhirnya terduduk. Secara ajaib, suasana itu terasa begitu pekat untukku, seolah ada dorongan untuk mendekatinya, lantas meletakkan tanganku di pundaknya untuk mencoba merasai berat hatinya. Tapi tidak kulakukan; aku tetap terpaku di tempat, bahkan suara napasku harus kutahan sepelan mungkin agar ia tak terganggu.

Tak sampai dua menit ia berdiri kembali, mengusap ujung matanya dan berlari pada irama yang sama. Seolah tak terjadi apapun!

Maka aku berlari pula mengikutinya dari belakang. Aku begitu ingin melihat hal apa lagi yang ia lakukan. Tapi tak ada lagi yang cukup penting terjadi pada dirinya selepas tangis itu. Aku bahkan tidak melihatnya menengok ke belakang barang sejenak. Lagi-lagi dunianya hanya sejauh tiga meter ke depan dari ujung kakinya, dan terus begitu sepanjang waktu.

Benar. Tak akan ada yang bisa melihatmu selain dirimu sendiri. Tak ada yang memahami kedalaman hatimu selain dirimu sendiri.

Perempuan itu aku, dan aku adalah perempuan itu.

Pada momen berlari, aku menikmati kesendirian yang dalam, melihat tidak pada siapapun kecuali sejarak tiga meter ke depan. Tidak mendengar apapun kecuali detak jantung dan tapak kaki pada tanah yang keras. Tidak merasakan apapun kecuali panas tubuh yang meningkat. Tapi pikiranku berkelindan erat dengan perasaan, bergelayut mengikuti irama detak jantung. Kadang terlonjak pada sebongkah ingatan, kadang teredam pada sepenggal pemahaman. Tapi ritme itu tidak berubah, terus berlalu tanpa ragu.

Perkaranya hanya satu, selama apapun pelarian itu, pada akhirnya titik akhirnya tetap sebuah mula.

wordsflow

pagi sendu, siang benderang, sore temaram


Sekiranya, begitulah suasana hati saya jika dirangkum dalam satu kalimat. Luar biasa sekali pergolakan di dalam diri, seolah tak mau dikendalikan oleh nalar kewarasan manusia yang bisa berpikir!

Siang menjelang sore tadi, saya akhirnya keluar kamar dan makan di sebuah warung makan pinggir selokan mataram. Tak diduga, bapak pemilik warung makan membuka obrolan dengan temannya perihal kemacetan Monjali yang sudah begitu parah dan tidak terkendali. Menurut bapaknya, orang jaman sekarang tidak ada yang mau bersabar, bahkan ketika ada penanda lalu lintas yang mempersilakan pengendara untuk belok kiri langsung, toh akses untuk belok kiri telah tertutup untuk mereka yang tidak sabar inginĀ  berjalan lurus.

Lalu si bapak berkata pada bapak pemilik warung, “Njenengan setuju mboten nek misal maksimal umur motor 5 tahun?” tanyanya. Bapak yang satunya menjawab dengan mantap bahwa hal itu diperlukan. Ia bahkan mencontohkan bagaimana negara-negara maju bebas macet karena sedikitnya jumlah motor yang dimiliki oleh warganya. Pembatasan umur motor pun perlu agar semua orang merasa nyaman menggunakan jalan.

Saya tidak cukup banyak menguping pembicaraan mereka karena saya makan cukup cepat, dan akhirnya membayar lantas pergi begitu saja. Tapi, dari obrolan singkat mereka, saya masih mencoba untuk melihat beberapa hal yang nyatanya toh menjadi perhatian masyarakat kecil di negeri ini.

  1. Masalah sehari-hari masih menjadi topik seru di masyarakat.
  2. Preferensi masyarakat tidaklah sesempit yang mungkin pernah saya bayangkan. Pada dasarnya, mereka mudah belajar.
  3. Masih ada rasa percaya pada pemerintah sebagai pihak yang mampu mengatur.

Agak terburu-buru mungkin saya menyimpulkannya, tapi di tengah begitu banyaknya pihak yang melihat pemerintah dengan pandangan yang tidak bersahabat, ternyata masih ada harapan-harapan bahwa pemerintah akan mampu membenahi hal-hal yang tidak mampu dibenahi oleh masyarakat.

Buat saya, membicarakan pemerintah ini sangat sulit, sama sulitnya membicarakan masyarakat itu sendiri. Lagi-lagi tidak ada manusia yang sepenuhnya jahat dan sepenuhnya baik dalam kacamata saya. Setiap-tiapnya bertindak berdasar skala prioritas, pun kalau tidak bisa jadi karena adanya tekanan atau yah, siapa yang tau apa yang mendasari tindakan seseorang? Dalam urusan melihat pemerintah dan masyarakat pun sama saja demikian.

Kadang sekali waktu saya sangat ingin percaya bahwa ada manusia yang sungguh-sungguh baik dan berperi kemanusiaan, tapi yang saya temui kemudian adalah orang-orang yang juga penuh curiga. Atau hanya saya saja yang berprasangka? Atau ternyata orang-orang seperti saya lah yang membuat segala hal yang senyatanya jujur itu menjadi tampak begitu berpura-pura?

Ah sudahlah, saya nonton Howl’s Moving Castle saja.

Kadang kala, saya kira susah hati dan pikiran bisa dilerai dengan menyibukkan diri, dengan aktivitas tubuh yang teratur, dan mungkin merenung dengan begitu syahdu sembari membaca buku atau membuat buku. Tapi nyatanya toh tidak juga. Jumawa betul mengira segala hal mampu berada di bawah kendali kita. Bahkan diri pun tak pernah kita ketahui.

Lagi-lagi, saya harus mengingatkan diri sendiri untuk selalu menikmati hari, atau apapun yang kamu lalui. Mungkin di sana lah rahasia dan jawaban yang kamu cari berada. Ah, saya harus juga mengatakan satu hal soal pertemanan dan keluarga, bahwa sepertinya saya salah selama ini, hehe.

Di luar itu semua, tiba-tiba aku ingin berbincang denganmu, dan sekedar membagikan senyum yang entah telah berapa lama tidak kuberikan pada sekelilingku. Semoga kamu berbahagia.

wordsflow

Rethinking about Marriage Problem


Oh wait, why do I call it as a ‘problem’? Does marriage lead to more problems? Or I am just really not sure what and how marriage is and will be? Okay, let’s call it marriage issue.

Recently in my mind, while my age is heading to a quarter of a century, I am becoming more confused about everything around. What kind of the world that I live in? What is this and that, what will happen, what happen in the land overseas? Really so many questions that stay to be answered. Or, maybe those questions really not meant to be answered as well? It’s kind of weird, while other people at my age is about to have their first baby, I am still in the stage of questioning about marriage! Even my younger sister have already had one and I’m still questioning and not sure about anything.

Every determinism is quite non-sense today, that I think that every possibility will actually bring me to the mighty nothingness. Looks like every possibility is just kind of another hope to make us sure that life is worth to be lived, but there’s nothing better in the objective meaning of ‘better’. Ah, before, should we ask that is there really an objective meaning? Hahaha.

Sering sekali saya merasa harus semakin sadar diri akan berbagai hal yang terjadi di dalam diri saya. Sebagaimana saya percaya bahwa setiap kesulitan dan kemudahan hidup memang bersumber dari diri sendiri, maka begitu juga pertanyaan harus dikembalikan ke dalam diri kita sedalam mungkin. Persoalan memandang pernikahan ini begitu penting bagi saya, karena hingga hari ini saya belum melewati proses bertemu, berkeyakinan, berencana, bersetuju, dan akhirnya berdampingan. Dalam kamus hidup saya, belum pernah saya temui seseorang yang merelakan dirinya menjadi ‘kita’, sebuah terminologi yang tidak lekat dengan diri saya.

Sepertinya, persoalan yang menjadi beban pikiran saya erat hubungannya dengan segala hal yang menjadi impuls, entah itu dalam bentuk visual, audio, sentuhan, gerak, atau segala wujud dari impuls itu. Maka, reaksi otak juga menjadi cenderung bergantung pada impuls tersebut, meski tidak selalu demikian. Pada masanya, saya mengalami ketenangan seorang yang siap moksa, saat berikutnya saya diporak-porandakan oleh hal-hal serba duniawi, lalu hilang ditelan kesepian dan ketidakbermaknaan.

In some moments, I just want to cry so hard that finally there’s nothing left to cried. To throw away the sadness and the nothingness followed, to seek the happiness and hope once more and make sure that life goes on no matter happen.

I repeatedly assured myself, that to love is not about having him around or living together in the future. Maybe sometime we could have a journey out to nowhere together, but to be married? Yeah, marriage leaves a question about asking and answering. Is not because I didn’t want to take a chance in asking first to be together, but really because I always think that I don’t deserve to.

The more I give time to this matter, the more I weep, the more I drop to nothingness. Indeed, live’s not only about love to someone, it can be to every person we met, or everything around. But simply because you couldn’t lie to yourself that the possibility of not being together with someone that you really think you love really makes us sad. Seeing that someone laugh, or doing something he likes is just make me touched and something lead me to shed a tear. What a weak heart that I have.

Hanya buku-buku yang akhirnya menjadi tujuan akhir dari kegamangan yang begitu mencekat, seolah dengan melakukannya saya akan kembali baik-baik saja dan segalanya tampak sekali lagi menjadi indah. Melaluinya saya melakukan begitu banyak dialog, baik dengan diri sendiri atau dengan teksnya. Pada akhirnya, masih juga saya akan mencapai kesedihan yang sama, kekosongan yang sama, kesepian yang sama.

And it repeatedly happened to me. Just to make me aware that nothingness and loneliness are the final stages that I have to understand. Just after those understanding, I will see the world in the more positive perspective.

Soal pernikahan, lagi-lagi semakin saya memikirkan maka semakin jauh saya dari jawaban. Sering kali saya merasa terlalu overthinking dan overlove. Tapi apakah keduanya salah? Menjadi salah ketika seseorang yang kau pikir kau cintai merasa terganggu dengan semua perhatian-perhatian itu, semakin lalu juga kau akan merasa tidak berguna. Ya, lagi-lagi tidak ada jawaban yang dengan sendirinya tampil menyajikan diri, setiap halnya harus dicari dan ditelusuri begitu dalam sampai kita bahkan ragu apakah yang kita pikirkan sungguh berguna atau tidak.

I’m always happy seeing my friend finally getting married or find someone who loves them as much as they do. But the image of having a happy marriage slowly fade away, and the more I think, the more I believe that marriage will be awful and wonderful at the same time. The loneliness and the nothingness maybe remain the same, but finding someone who will be lived those two together sounds really wonderful in mind.

Finally, on rethinking about this marriage issue, nothing that I can do but wait and see. Nor because I don’t believe in myself, nor because I don’t want to ask someone it the first place, but simply because I once have loved someone and I couldn’t make it, so I want to see if someone would in surprise do the same to me. Maybe, at that time I will finally know the struggle of being loved by someone, so painfully wonderful.

At the end, I cried when I wanted to, I laughed if I had to, I left if I must, I came if I needed, and lived well while being honest to myself. ‘No need to be so hard to yourself’, one day someone said those sentence. But having a hard day is a must to make us understand that there are some other days that worth to remember. No need to refuse the fact that sometimes my heart is so weak that nothing so worth thinking but death because there will be days that my heart strong enough to up against the pain. A human at the end will just be a human.

Finally, the imaginary marriage life soon I put down deep in my heart and been more realistic that to marry someone, you need two persons in agreement. Here, I am still the one who could give, but not take.

wordsflow