WORDS FLOW

just go with the flow and whatever happens, happens

Category: on Nothingness

Greeneries.


Resuming Anna Tsing’s book made me thought about the cosmopolitanism concept that she brought in her book.

Ah, too tired using English but, let see.

Hari ini cuaca sangat menyenangkan wuhuhu. Mungkin sedikit menyengat di tengah hari karena bahkan di lampu merah yang hanya 30 detik saja kaki saya sudah berasa terbakar, heu. Well, mari saya lewati bagian itu, hehe.

Tapi cuaca yang menyenangkan hari ini berdampak pada pemandangan keemasan sangat menawan sepanjang perjalanan pulang saya dari tempat penelitian. Sepanjang jalan saya hanya bisa tersenyum karena kombinasi hijau menguningnya sawah yang baru bertumbuh, pucuk rimbunnya pohon jati, refleksi matahari di permukaan air, duuuh, terlalu indah untuk bisa saya ceritakan dengan kata-kata.

Well, justru saya kemudian teringat tulisan Anna Tsing yang mengatakan bahwa mapala mengalienasikan dirinya dengan kehidupan pedesaan. Meredefinisi romantisme terhadap keindahan alam, namun tidak mau melakukan apa yang dilakukan orang-orang desa ini.

Sedikit banyak saya tersinggung dengan pernyataan Anna Tsing karena bagaimanapun saya bermula dari pedesaan. Tapi, ada hal yang saya pikir tidak dimengerti oleh Anna Tsing karena meskipun ia menyampaikan kritik mengenai perilaku mapala yang sangat urban, namun persoalan memandang alam ini saya pahami indah sejak saya masih piyik.

Saya ingat saya tidak pernah absen keluar rumah ketika masih kecil; mencari ikan, kepik, buah-buahan, ciplukan, belut, nyoba ngisep sari bunga, atau kegiatan kelayapan apapun yang bisa dilakukan oleh anak kecil. Dalam masa semacam itu, kami kadang duduk di jalan yang membelah sawah, merebahkan diri di rerumputan sembari mengatur agar layang-layang tetap melayang tanpa nyangkut sambil mengagumi sore hari yang menyenangkan.

Salah satu kenangan saya tentang itu adalah sore yang seindah sore ini, saya dan adik saya duduk-duduk berdua di jalan tengah sawah sambil memandangi matahari terbenam. Bercerita apapun soal keseharian dan beberapa penggal ceritanya bahkan masih saya ingat karena ketika itu saya sudah sedikit lebih besar, kelas 5 SD kalau tidak salah. Kami membantu kakek-nenek kami di sawah sepanjang kehidupan kecil saya hingga SD, turut membantu menanam dan panen, menyusun damen (daun dan batang padi) yang ternyata ultra gatal, bahkan sering makan makanan untuk syukuran panen dan masuknya masa tanam (saya lupa istilahnya).

Kami melakukan, tapi baik saya maupun adik saya, atau teman-teman saya memiliki kekaguman yang tinggi pada alam yang menjadi tempat main kami sejak kecil. Tempat itu seperti wahana yang menyediakan segala kesenangan dan seluruh harta karun yang kami butuhkan di masa itu.

Ah, atau pernyataan ini sekedar glorifikasi atas hal-hal yang sebenarnya biasa, namun kini saya lihat sebagai sesuatu yang tidak lagi biasa? Entahlah. Perkara menilai alam ini menjadi sesuatu yang tetiba penting ketika saya melakukan perjalanan pulang tadi sore.

Barangkali, tanpa sadar saya merasa bahwa sudah begitu lama saya jauh dari lingkungan tempat tinggal pedesaan saya yang menyenangkan. Hutan di depan rumah sudah tidak lagi selebat ketika saya masih kecil, namun saya ingat betul petualangan seru yang setiap hari kami lakukan di sana. Bagian mana yang kami anggap paling menantang dan di mana titik aman untuk membawa adik saya turut serta ke dalam.

Penalaran semacam itu yang menjadi pemandu saya dan pengingat saya ketika akhirnya masuk mapala dan membawa adik-adik saya ke gunung. Ada lokasi-lokasi yang saya petakan dalam pikiran saya dalam berbagai kriteria. Ada titik-titik yang saya anggap aman untuk dijelajahi, dan ada lokasi yang menurut saya, ‘ajak aku dong kalau mau ke sana’.

Oh ya jadi ngelantur.

Well, barangkali bisa juga tanpa sadar saya sebetulnya telah menjadi anak yang urban di sejak masih ada di desa, hahaha. Etapi enggak juga sih. Saya toh nggak kenal Sherina di masa itu, haha. Atau entahlah, tiba-tiba saya merasa tulisan ini bodoh. Ah, tapi mari lanjutkan.

Tapi sore ini, ketika saya melalui jalan dengan pemandangan sawah yang menyenangkan di kanan kiri, saya sadar satu hal (di luar perkara Anna Tsing ini sih) kalau saya sudah lama tidak memanjakan diri sendiri dengan hijauan-hijauan ini. Demikian, melihat sekelumit petak sawah yang hijau indah saja sudah luar biasa senang. Bahkan yang paling sederhana, menjilid buku bercover forest green saja saya senang.

Warna hijau seolah memperlihatkan bahwa di antara kehidupan yang mati itu (apa coba?) ada hal-hal kecil yang bertumbuh. Di tengah ketidakjelasan cuaca di hari ini, tanaman masih saja tumbuh subur. (Dan saya sangat sadar cara saya menulis ini saja sudah amat romantis dan nostajik sebagaimana tuduhan Anna Tsing, sial)

Lalu, melihat bentang alam Indonesia yang demikian, tempat di mana semua hal dapat tumbuh subur, spasi di trotoar jalan yang hanya 20 cm saja bisa dipakai buat panen tomat, rasanya jauh dari nyata untuk mengatakan bahwa bumi sedang sekarat karena pemanasan global. Kadang kita bahkan tidak mampu membayangkan hal-hal remeh sejauh beberapa kilometer di atas kepala kita, atau mungkin menjawab pertanyaan mengapa handphone bisa mengeluarkan suara, dan masih disuruh membayangkan bahwa ada peningkatan karbon di atmosfer bumi, atau ada pulau sebesar Sumatra yang isinya sampah doang. Hemm, bubar kepala saya Pak.

Well, betul juga jika saya mencoba melihatnya dengan cara itu. Tidak ada tanda-tanda yang sangat nyata memperlihatkan bahwa terjadi sesuatu yang fatal dengan bumi tempat kita tinggal. Hanya mereka yang tinggal di kota (saya salah satunya) yang mengalami depresi nyata soal permasalahan lingkungan. Nun jauh di Taman Nasional Bantul Raya di selatan sana, segalanya aman sejahtera, laksana suaka dan surga. Yuhuuuiii.

Dan kerandoman tulisan ini terjadi karena saya sudah menyusunnya dengan cantik sambil berdialog dengan diri sendiri sepanjang jalan, tapi bubar jalan begitu saya menginjakkan kaki di SATUBUMI. Heu. Yasudahlah.

wordsflow

a bonus for you

Advertisements

About the daily life. #2


Saya pikir saya seharusnya melantur di postingan sebelumnya, yah tapi akhirnya memutuskan untuk menulis postingan baru. Sewaktu-waktu kalian bisa begitu saja mengabaikan postingan ini karena as you can see from the beginning, this is about my daily life.

Lucu sekali karena belakangan saya merasakan diri saya memasuki dimensi absurd yang lain dari hidup yang, semoga cukup panjang hingga menyenangkan untuk dijalani. Ada beberapa hal yang belakangan justru saya pahami jauh setelah teks itu tercipta atau tersusun. Bukan hanya teks yang datang dari saya di masa lalu, namun juga orang-orang lain. Mungkin kamu juga salah satunya.

Sebetulnya pemikiran ini mampir karena belakangan saya membahas hal-hal absurd soal alam semesta dan dunia. Singkatnya, saya kemudian sadar bahwa kegagalan manusia di dunia ini adalah membawa keseimbangan atas upaya pemanfaatan dan perlindungan terhadap ruang hidup kita, lingkungan dalam skala kecil, dan dunia sebagai sebuah sistem tunggal.

Dan kesadaran itu ternyata menampar diri keras sekali karena kemudian saya sadari bahwa hal semacam itu tidak pula saya lakukan bahkan kepada diri sendiri.

Hidup, saking membosankannya seolah-olah menjadi cukup layak untuk ditinggalkan. Lantas datang berbagai cerita manusia menolong sesama hingga entah mengapa saya merasa itu menyentuh perasaan saya. Barangkali masih jauh dari tindakan, namun saya menyadari bahwa, tentu masih ada hal-hal berharga yang patut untuk dijalani di luar keputusasaan diri soal apapun.

Paradoks atas kebimbangan soal mana yang penting dan tidak penting, rasional dan irasional, baik atau jahat, atau bentuk kontra apapun yang muncul di dalam kehidupan saya, adalah akibat dari ketidakmampuan saya untuk menyeimbangkan kebutuhan diri dan kemampuan diri dalam memberi. Kadang saya terlalu fokus untuk memberikan apa yang barangkali tidak diminta, sehingga lupa bahwa saya pribadi toh harus disuapi dengan berbagai hal untuk mencapai keseimbangan sehingga hidup menjadi layak untuk diperjuangkan.

There would be no one who helps, we merely live alone and be a partner with self to survive the life.

Dan tentu saja ada hal-hal yang terlampau absurd untuk dimasukkan ke dalam ruang nyata. Misalnya soal hal-hal yang ada di dalam platform ini, atau platform yang lain lagi, atau yang ada di dalam layar 5 inci yang sama-sama kita banggakan dapat berguna untuk berbagi begitu banyak hal. Tapi kenyataan yang lain kadang membawa pada kesedihan yang lebih nyata, sesekali termanifestasi dalam air mata, terkadang tawa dan sentuhan, atau beberapa dekapan. Kita tetap tersenyum dalam pertemuan, tetap tak ingin melepaskan, tetap tak mampu membayangkan hal-hal sejauh lima sentimeter di depan. Mencampuradukkan berbagai hal itu membawa absurditas yang lebih dalam. Barangkali kemudian menjadi keinginan untuk menihilkan esensi kehidupan. Wuu, berat sekali.

Well, tidak ada hal yang terlampau sempurna atau biasa saja. Perasaan juga begitu. Ada waktunya saya membenci dan mencintai dalam waktu yang tepat sama. Ada waktunya saya tertawa tapi merasakan denyut menyakitkan dari cerita-cerita. Barangkali memang tugas terberat manusia menuntaskan keraguan dalam dirinya. Dan bukan soal jika saya terlambat menyadari berbagai hal itu, toh setiap titik adalah mula, dan setiap titik barangkali adalah akhirnya juga.

Saya membacai (dalam makna yang sesungguhnya) berbagai hal di masa lampau yang ternyata saya lupakan begitu saja. Ada banyak pemahaman yang tidak mengendap, hanya mungkin kala itu menenangkan saya sehingga pikiran saya menganggap hal tersebut tidak cukup layak untuk disimpan karena fungsinya cukup untuk meredakan.

Take a look closer at ourselves, darkness and silence are frightening, and unrecognition is the greatest fear.

Ya, ketidakmampuan untuk menyeimbangkan hal yang pribadi, dan yang sosial ternyata menggerogoti keseimbangan diri. Hence, maybe I haven’t been growing yet, I’m just getting older.

As I know that people are different when night, I tried to keep practicing at noon or night, with or without you, in desperate or in happiness, in emotional or in rational. Human is weak. But you know together could change the weakness and strengthen each other instead. Either being dramatical or boring is not which one is better, but which one would really express ourselves or bring peaceful mind after. There were many fakes and lies. There were disclaimers. There were many other things.

And there is you.

I don’t know who you are, or what happens to you. Really absurd to tell you through this platform, but everything always feel unreal whenever it was. Never felt so real until I wept and felt the pain in my chest, or until I felt the deep hole in my heart.

Tulisan ini barangkali bukan tulisan yang menggambarkan apa yang sedang saya pikirkan, atau saya rasakan. Begitu juga berbagai tulisan yang telah dan akan saya bagikan kelak. Ada perubahan-perubahan kecil dalam hidup, perlahan-lahan, namun ada perulangan yang pasti dan berpola. Beberapa di antaranya mudah dikenali karena berdampak pada fisik dan metabolisme tubuh, beberapa yang lain hanya menjadi nyata jika ditelusuri lebih dalam.

Yang manapun, ada proses yang harus tetap dijalani meskipun tidak suka dan ingin begitu saja dilompati, ada harapan-harapan yang harus diperjuangkan agar dapat diperoleh atau sebaliknya, dapat dilepaskan dengan lapang dada. Ada rindu yang harus dibayar dan diberi pemahaman.

Ada orang yang mungkin hanya datang untuk memberi pelajaran. Di antaranya akan tetap membersamai kita meski kita terpisah dan lupa. Ada yang hanya datang untuk menciptakan kekacauan agar kita berbenah dan memperhatikan kehidupan. Lalu ada yang kita pikir akan menemani perjalanan panjang tapi ternyata tidak bermaksud untuk menua bersama. Life is a joke, yet a game. Then, laugh for it and prepare your strategy.

Lalu lima sentimeter di depan ada waktu yang masih cukup panjang untuk saya hidupi. Setidaknya jika bukan untukmu, untuk saya sendiri, mungkin ditemani seekor kucing dan anjing nantinya.

wordsflow

That Competition Doesn’t Exist


Okey, honestly I don’t have any topic to write, ya tapi mari saya tuliskan sesuatu.

Hari ini hujan, dan tiga hari lagi valentine. Cieh. And nothing to do with me sih, hehe.

Ada dua blog yang menginspirasi saya hari ini, tapi ternyata tidak cukup kuat untuk mendorong saya menuliskan sesuatu yang bermanfaat. Jadi marilah melantur bersama hujan yang nggak reda-reda ini.

Beberapa waktu yang lalu saya diberikan penjelasan yang cukup masuk akal soal being in a rush dalam beberapa dekade terakhir ini. Mengapa kita begitu tergoda dengan kemajuan dan kecepatan. Seolah-olah ada sesuatu yang akan berubah begitu rupa begitu kita menjadi cepat, atau bahkan yang pertama.

Saya tidak akan melakukan reproduksi tulisan orang lain. Semoga tidak. Tapi sekedar menuliskan kekhawatiran dan keganjilan yang terjadi belakangan ini. Dan akhirnya mencoba membangun diri untuk dapat menerima berbagai ‘ketertinggalan’ yang terpaksa harus saya hadapi lantaran ya memang saya lambat. Oh, dan harus saya peringatkan bahwa mungkin sekali tulisan ini sangat amburadul.

Ketika membicarakan kecepatan, saya menjadi begitu terbawa untuk mempertanyakan berbagai hal esensial tentang hidup. Hal-hal yang sebetulnya begitu mendasar, yaitu persoalan bertahan hidup di tengah pergeseran nilai-nilai.

Ada hal-hal yang sempat mengganggu dalam hidup saya, dan masih ada beberapa sisanya juga sih, hehe. After being so long in competition (sama idealisasi tertentu dalam pikiran), saya menyadari bahwa semua hal itu tidak memiliki implikasi praktis apapun untuk hidup. Segala hal itu berlapis-lapis. Relasi itu ada berbagai macam bentuknya, dan pasti pula berlainan antar satu orang dengan orang lainnya. Apa yang tampak tidak juga dapat dikatakan demikian adanya. Kita memiliki relasi formal dan informal, yang di dalamnya juga menyinggung hal-hal yang barangkali tidak dapat dikatakan rasional, misalnya solidaritas, atau cinta. Dan si kompetisi menjadi tidak rasional juga kemudian, karena pada dasarnya tidak berimplikasi apapun secara praktis.

Saya sampai tertawa sendiri setiap kali mengingat hal-hal yang telah saya lalui memperdebatkan soal perfeksionisme dan kompetisi ini. Saya amat percaya bahwa menjadi sempurna itu dapat diperjuangkan hingga nantinya dapat saya gunakan untuk membantu mendapatkan hal-hal yang saya harapkan. Tapi toh ternyata tidak juga, hehe. Dan akhirnya sebagian berakhir sekedar menjadi sesuatu yang mengganggu hari-hari baik.

Well, sudah pernah saya ceritakan juga pada suatu momen tertentu ternyata saya tidak sesakit hati itu ketika nggak mendapatkan hal yang saya inginkan. Lebih menyenangkan kemudian ketika sadar bahwa ternyata dampaknya nggak seburuk itu untuk hidup saya. Dampak praktisnya sungguh tidak ada. Saya hanya kembali ke keadaan awal saja, kondisi mula yang posisinya agak lebih belakang dibanding saat harapan itu masih ada. Seperti bermain game, hanya kembali ke titik start tapi setidaknya saya sudah mempelajari taktik dan strategi permainan. (Jadi pengen ngutip Bourdieu tapi oh buat apaan)

Jadi, ini hanya perkara mencintai diri sendiri kok. Urusannya cuman itu doang. Barangkali tidak perlu ada penjelasan panjang lebar soal apa dan bagaimananya. Saya cukup lega dengan meyakini bahwa ‘that competition doesn’t exist’. Dan nggak masalah soal apa-apa yang sudah atau tidak diperoleh, atau kapannya. Biasa saja.

Nah, jadi hubungannya apa dengan kecepatan berbagai hal di hari ini?

Saya pikir, akhirnya ada pemahaman soal di mana sebaiknya segala hal yang baru-dan-mutakhir-hampir-mustahil-untuk-dipercaya ini diposisikan. Dibandingkan melihat-lihat orang lain atau sesiapapun sebagai pembanding, lagi-lagi jauh lebih menyenangkan buat mengambil posisi sendiri entah di mana bebas deh. Dan lama sekali saya mempelajari hal ini hingga nggak sekedar mampir di dalam pemahaman tapi juga ke ranah praktikal.

This is life vroh. As long as you still alive, yasudah begitu saja.

Kadang ada dorongan untuk menyelami dunia maya jauh lebih dalam dari yang mungkin mampu saya tanggung, lalu merasa semakin absurd dan kerdil. Justru munculnya dorongan untuk mengikuti arus dan menjadi seperti orang-orang ini membuat kita menjadi orang yang terjerat di dalam arus kapitalisme itu sendiri. Akhirnya nggak pernah merasa puas dengan segala hal, dan hilanglah dia di antara kerumunan. Absurd sekali.

Sangat sulit untuk merasa spesial di antara begitu banyak orang yang memang ‘merasa’ spesial. Misalnya saja sudah begitu bersemangat memilih baju yang paling ciamik buat pergi ke kondangan. Toh akhirnya tampilan itu tidak akan menjadi sesuatu yang menarik di tengah kerumunan orang yang juga mengeluarkan usaha yang sama untuk tampil menarik. Di antara kerumunan, kita hanya sebatas manusia lain aja. Ya tapi kalo urusannya buat diri sendiri sih soal lain lagi.

Akhirnya, saya bosan juga menulis hal yang tidak jelas ini. Pengen ngobrol sama manusia aja tapi bingung milih topik. Sangat nggak layak untuk diposting; nirfaedah sekali. Mungkin nanti bakal saya hapus, hahaha. Tapi ya biarlah dia nangkring dulu untuk sementara ya.

wordsflow

a brief: listener


I found out something interesting yesterday, hehe. Not a new one I guess, but after thought about it for a while, I smiled like a child.

I have a close friend (let us call as it is) who always be my listener. She is like a sister for me considering I don’t have any older sister. So, I talk about anything to her every time I got in trouble or I had something bothering my mind. She always had something to say, really wise compared to me.

In the other side, I always be a little sister in front of her. Always feel shame, low self-esteem, and really not mature.

When I got back to my secretariat, I acted totally different. Some juniors came and asked me some questions which were actually the same matter that I asked to my friend earlier. The damn part was, I answered like I am a master. Like I didn’t have any particular problems like they did.

Other time, I realised that I was too pampered to someone, but other time I acted like an older sister to anyone around.

Not only me, finally I knew the truth. Even my friend,  she always had that one person in her life to complain about everything happen to her life, just like I was doing to her. She merely played her roll on others lives. She may become a normal human being who had problems too, to one person, but acted totally different in front of others.

So, I concluded that, people has more than one package of personalities. Sometimes you become a mature person like acting calm, positive, wise, etc., but other time you are a little child in front of someone. Sometimes we seek for others attention by texting them or try to talk privately.

And there, made us looked cool in front of some people, normal in front of another, and merely ‘someone else’ for the rest.

Aaaand, in line with that, I think I know how does our social media take part in this matter. I observed that if someone talked too much in their social media, maybe they don’t have ‘that someone’ in their lives. Opposite with that, the person which never complain in their social media possibly already have a forever listener in their lives. It could be their family member, a lover, a friend, a relative, maybe a diary, or even a pet.

But I like to have more than a package of personalities. It is really useful in some occasions.

worsdflow

Mind


Akhirnya saya melakukan perjalanan siang hari dari Jakarta ke Bandung dengan menggunakan kereta. Saya selalu membayangkan pemandangan yang menyenangkan, menenangkan, dan romantis sepanjang perjalanan itu. Dan bersyukur sekali karena hal itu memang sungguh demikian sebagaimana yang selama ini saya bayangkan.

Saya tidak dapat mengesampingkan berita-berita terhangat soal kota kelahiran saya. Di luar yang saya harapkan, saya merasa tidak ada hal yang ingin saya lakukan kecuali berkabar dengan keluarga saya dan mendoakan mereka. Semoga semua diberikan keselamatan.

Dua hal itu, adalah contoh ekstraksi pemikiran saya yang terkungkung dalam ruang dan waktu. Dan tidak bisa tidak, pemikiran dipengaruhi sungguh-sungguh oleh dua hal tersebut.

Katakanlah ketika saya sedang berada di dalam kereta menuju Bandung, saya dapat menikmati keseluruhan hal yang saya lihat di luar jendela. Saya pikir romantis sekali menikmati laju kereta melewati halaman rumah orang lain atau membelah sawah orang lain, sementara hujan mengetuk jendela. Sementara itu, di luar sana ada warga desa yang tetap mengerjakan sawah dan kebunnya tanpa menoleh ke kereta yang lewat. Ya, bagi saya segala hal yang saya lihat adalah citra yang menggugah romantisme. Bagi warga desa, hal yang saya lihat adalah kehidupan mereka dimana kerja keras terwujud menjadi hasil bumi untuk mereka makan. Barangkali, salah satu di antara mereka tidak pernah menaiki benda yang saya anggap menyenangkan itu. Pun demikian bisa jadi mereka sama sekali tidak tertarik untuk menaikinya karena tidak tahu bagaimana caranya atau, hidup mereka telah terlalu sibuk dengan kehidupan harian mereka.

Ada jarak yang begitu jauh yang terbentuk antara dua pemikiran manusia, bahkan yang berdekatan sekalipun.

Saya begitu tertarik dengan detil. Ada hal-hal yang tidak dapat terlihat kecuali kita betul-betul memahami detilnya. Bangunan, makhluk hidup, tempat, suasana, manusia, atau apapun, bagi saya menyenangkan untuk dipandangi dan diamati dalam waktu lama. Hanya saja, saya menyadari bahwa ingatan saya tidaklah baik untuk hal-hal yang menurut saya tidak berkesan atau tercerai dari konstruksi besar pemahaman hidup di dalam pikiran saya.

Begitu banyak kosakata yang saya lupakan atau tidak saya gunakan ketika menulis semacam ini, berbagai pengetahuan praktis dan teoritis yang pernah berulang kali coba saya pahami tapi tidak membekas sama sekali, bahasa-bahasa asing yang pernah saya kuasai ternyata tidak bersisa sama sekali.

Saya sering merenungkan diri sendiri. Dibandingkan apa yang saya amati dari orang lain, saya selalu menganggap bahwa empati saya rendah. Pernah di awal saya masuk kuliah, saya berusaha ikut dalam beberapa grup peduli bencana Merapi dan turut melakukan program-program bantuan masyarakat. Barangkali saya memang melakukan kegiatan itu sebaik yang saya bisa. Tapi hati dan pikiran saya tidak di sana. Ke mana dia? Saya pun sulit menggambarkannya.

Ada perasaan melayang-layang yang tidak dapat saya jelaskan. Isi pikiran saya sibuk mencipta narasi yang dimulai dengan kata ‘seandainya’, ‘barangkali’, ‘mungkin’, dan seterusnya. Setelahnya semua akan berkembang entah ke mana. Bisa jadi saya memaki beberapa orang di sekitar saya, bisa jadi saya mengutuk orang-orang, tak jarang merasa menipu diri, tapi akhirnya toh memaafkan diri sendiri juga.

Ada kerumitan yang hingga hari ini masih ada di dalam pikiran. Barangkali ia tidak sungguh mengganggu, namun keberadaannya mengingatkan saya bahwa ada hal yang belum selesai saya urai.

Ada dorongan untuk menjadi berguna bagi orang lain, dan di saat yang sama ada dorongan untuk mengasingkan diri. Ada banyak hal yang menyediakan dirinya sebagai pilihan hidup. Dan begitu saja mereka menampakkan dirinya.

Tulisan ini sebetulnya tidak saya maksudkan untuk memaparkan diri saya. Sebagaimana yang telah saya katakan soal ruang dan waktu, tulisan ini menjadi penting untuk saat ini. Perkara simpulan, tidak ada yang tau bagaimana hal itu akhirnya. Narasi yang saya bangun di dalam pikiran soal perjalanan Jakarta-Bandung akhirnya menguap seiring penundaan penulisannya di laman ini. Empati terhadap kondisi Jogja juga sama pudarnya karena begitu berjaraknya saya dengan tempat itu.

Tapi bagaimana saya menjelaskan cinta kasih yang tak terbatas ruang dan waktu? Well, saya kira di situlah pe-ernya. Yaitu untuk meng-upgrade hubungan manusia dan alam serta hubungan manusia dan kemanusian ke taraf hubungan interpersonal yang intens dan intim. Ikatan yang belum terbentuk itu selama ini telah menegaskan perbedaan ruang dan waktu antara dua hal yang saling berhubungan. Namun, jika mempercayai bahwa segala sesuatu bergerak bersama, saya pikir keintiman itu sungguh akan ada.

Bisa dibilang saya menyimpan ambisi untuk memahami satu sistem tunggal yang utuh mengenai dunia ini, mencoba menyempurnakan diri melalui otokritik dan menyingkirkan pemakluman tanpa upaya. Ambisius memang.

Hemmm, meski ini bukan tulisan yang saya rencanakan, saya anggap saya telah mengekstraksi pemikiran kacau saya keluar dari wadahnya. Saya doakan rekan-rekan saya selalu diberi kesehatan dan keselamatan selama berkegiatan sosial di Jogja sana. Semoga kita segera bertemu.

wordsflow

sajak kosong


kita menebar rindu; ya, aku dan kamu

seperti menebar bunga di pemakaman, atau serupa taburan bunga di pernikahan

kadang burung elang yang kulihat berputar-putar, barangkali ada ular di bawahnya

di waktu yang lain hanya seekor cekakak sungai yang melenggang anggun di atas tepian rawa

lagu-lagu terputar pada piringannya, tirai dipasang begitu matahari hilang

rindu kita telah terserak di halaman, menanti untuk dituntaskan

barangkali esok beberapa akan mekar sehingga menarik perhatian

sisanya layu atau tersimpan di tanah tak berbatu

rebah mataku menahan lelah untuk menantimu

di sela waktu ada denyut yang mengingatkanku, di kala lain segalanya sama tak berartinya seperti yang telah lalu

lalu sajak ini?

tak ada perasaan yang butuh diterjemahkan, ia hanya wajib dirasakan

lalu sayang, jangan lupakan setiap verba yang terrekam

barangkali aku melupakan maknanya dalam kita

atau pada akhirnya

kala malam hilang

pagi menghamburkan yang tertera, mengabarkan kekosongan antara aku dan rindu

wordsflow

selewat tengah malam ini


Selamat malam. Apa kabar kalian?

Sudah 2 minggu saya tidak mengakses internet dan menengok blog ini. Saya merasa semakin jauh saja dari dunia. Di tempat ini, keributan yang sering muncul bukan soal kemacetan atau harga barang, tapi sumber air dan kendaraan yang ketanam di lumpur.

Suatu hari yang lampau saya sempat bercerita pada seorang teman bahwa di dalam dunia saya, setiap barang adalah benda yang hidup dan berjiwa. Jiwa siapa? Tentu saja jiwa pemiliknya. Misalnya saja kita memiliki baju seragam yang sama dengan orang lain, persis sama. Tentu saja kita nggak mau kalau sampai barang itu tertukar. Padahal bentuk dan ukurannya sama. Kenapa? Jawabannya biasanya muncul dengan sederhana “karena rasanya beda”.

Lantas karena suatu alasan, saya bertemu dengan bukunya Marcel Mauss yang berjudul The Gift. Katanya buku ini pendek saja, tapi ternyata buku aslinya 225 halaman. Memang sudah lama Prof Heddy menyebutkan buku ini berulang kali karena merupakan buku kajian antropologi. Tapi penyebutan itu tidak mendorong saya untuk membuka bukunya. Sampai akhirnya suatu hari seorang teman berkata bahwa keyakinan saya soal benda mirip orang Maori. What the hell these Maori peoples are? Alhasil, direkomendasikan juga buku The Gift itu yang sekarang baru berhasil saya baca 1/3-nya saja, hahaha.

Korelasinya sama postingan ini?

Begini, hape yang saya bangga-banggakan karena merk-nya yang nggak mainstream sama sekali ini akhirnya terinjak kaki saya sendiri. Dengan sempurna saya menginjaknya dengan tumit. Tentu saja saya yang berat ini akhirnya memecahkan layar hape yang tanpa pelindung. Saya sedih sungguh-sungguh. Saya tidak habis pikir kenapa saya bisa seceroboh itu. Demikian, setelahnya saya jutru berpikir terus kenapa hal ini bisa terjadi.

Akhirnya di perjalanan yang penuh lubang jalanan, retakan bertambah banyak karena terbentuk pembatas truk. Bagian kiri si hape semakin parah saja dan saya harus mengetik dengan posisi lansekap. Belum lagi layarnya yang memang sudah memudar sejak di Bandung. Dari hari ke hari semakin pudar saja sampai di bagian paling bawah kini tinggal samar-samar aja tulisannya. Akhirnya saya membuatkan rumah untuk si hape dan memasang pelindung layar. Setidaknya masih bisa saya pakai sampai pulang.

Lalu si headset juga mati sebelah karena ketarik. Udah buka-buka speakernya buat ngebenerin tapi nggak punya solder. Yasudah, benda itu saya terima dengan kekurangan barunya.

Diingat-ingat lagi, saya juga pernah menggunakan laptop saya dengan tidak baik. Menggunakan motor ke tempat dengan kemiringan jalan yang nggak masuk akal. Menyimpan buku-buku tanpa perawatan. Merendam pakaian sampai luntur tidak berwarna. Menelantarkan sepatu layak pakai hingga rusak lemnya. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Saya iri dengan orang-orang yang memiliki barang dengan awet. Menggunakan barang yang sama hingga betul-betul tidak lagi mampu digunakan. Sementara saya lebih sering merusakkan barang karena kecerobohan atau bahkan menghilangkan barang sekalian.

Berganti barang kepemilikan itu mirip dengan berpisah dengan kawan lama dan bertemu manusia baru. Meski sekarang rasanya menjadi agak lain, tapi keduanya masih dapat digunakan sebagai analogi. Apa yang membedakan? Kawan lama masih bisa kita hubungi atau dijumpai lagi, sedang barang lama relatif ditinggalkan untuk selamanya. Barang itu menjadi bekas. Ah, kata ‘bekas’ ini terasa menyebalkan tetiba.

Tapi tenang, ada orang-orang yang selalu mau menampung barang-barang bekas ini. Kalau beruntung mereka si ‘bekas’ ini pun akan ketemu pemilik awalnya. Bahkan barangkali ketemu penciptanya. Di sela memikirkan ini saya jadi teringat buku-buku saya yang sudah tersebar ke ujung-ujung Indonesia. Rasanya menarik membayangkan ada kesungguhan dan cinta yang saya bubuhkan ke buku-buku yang barangkali sudah menjadi buku favorit seseorang. Dan betapa sedih ketika tahu bahwa pemberian kita ke orang lain tidak menjadi barang penting untuknya. Hal semacam itu kadang membuat saya terus mengaitkannya dengan penolakan terhadap diri saya sendiri. Hahaha. Pedih.

Kata Mauss, memang begitulah gift itu bekerja. Kalian baca sendiri aja bukunya ya, biar saya nggak salah omong. Sederhananya begitu, benda itu tidak sekedar barang mati, tapi ada hal yang tertanam di dalamnya bahkan dia politis.

Lalu manusia semakin aneh di mata saya. Barangkali dibandingkan di rumah, saya menjalani hari-hari di sini dengan cara yang jauh lebih sederhana. Saya bangun pagi, memasak, mengambil air, mencuci, bersosialisasi dengan tetangga, ke kebun, ke hutan, mancing, dan semua hal biasa yang dilakukan manusia untuk bertahan hidup. Jauh sekali dari kesibukan pikiran saya sebelumnya yang berkutat di ranah kampus hingga universe atau bahkan post-mortal. Kadang di sela waktu kosong saya, saya lebih suka melamunkan hal-hal yang lampau. Tidak tertarik sama sekali untuk memikirkan hal yang akan datang. (bahkan rencana tesis saya abaikan sama sekali)

Hahaha. Lucu betul. Meski tidak jarang saya merasa downgrade di tempat ini, ada kemanusiaan yang muncul kembali setelah lama saya abaikan. Ada wujud manusia yang tidak saya sangka ada di dunia ini. Ada kepribadian manusia yang begitu teguh dipegang dan dipraktikkan. Ada jiwa yang terombang-ambing karena kebingungan (ini saya). Dan ada banyak analisis tentang hubungan interpersonal yang tidak pernah saya sangka akan ada.

Kadang kala rusuh sekali pikiran ini hingga terbawa mimpi atau emosi. Kadang begitu tenang hingga mampu bergurau sesuka hati. Kadang terlalu memaksakan diri. Tidak jarang memungkiri dan melarikan diri. Sudah sejauh ini pun, tetap ada hal-hal yang belum bisa saya selesaikan dengan diri sendiri. Ada hal-hal dari diri yang masih terus saya pertanyakan dan saya telusuri mengapa dan sampai kapannya. Masih saja ada bagian yang tidak bisa didamaikan. Masih ada keresahan dan kegelisahan yang tidak hilang.

Kadang bagus juga, karena itu mendekatkan saya dengan kemanusiaan itu sendiri. Kadang terasa sulit karena setiap hal akan terus berjalan dengan atau tanpa persetujuan setiap aktornya, nggak peduli kamu sesakit apa atau kerusuh apa di dalam diri.

Di waktu paling tenang di barak kami semacam ini, saya biasanya berakhir dengan kesimpulan bahwa barangkali saya selamanya akan menjadi manusia bingung. Atau saya katakan saja bahwa sesungguhnya manusia yang hidup adalah mereka yang selalu kebingungan. Nah, saya jadi merasa sedikit lebih keren sekarang.

Semakin lama tidak ada manusia yang terasa khusus. Semua orang cantik dan tampan pada bagiannya. Semua orang baik dan menyebalkan pada porsinya. Semua orang jujur dan munafik pada kadarnya. semua orang menyenangkan dan membosankan pada waktunya. Semua orang sama saja dan berbeda sama sekali pada wujud yang sama.

Kenapa saya tidak pernah mau berkesimpulan akhir? Karena berada di ambang itu menyenangkan, meski terlihat tidak punya prinsip sebetulnya, hehe. Tapi begitu, setiap manusia memang berbeda. Namun bagi saya perbedaan itu tidak menyebabkan satu orang lebih baik dibanding orang lainnya. Barangkali kita kurang memutar perspektif kita pada titik yang tepat sehingga tidak mampu menerima satu orang dibandingkan orang lain.

Ah, saya jadi ingat novel Go Set a Watchman juga satu kalimat dari sebuah film. Kalau kita melihat manusia itu setara, barangkali kita belum melihat kenyataan, yang melulu kita lihat adalah kebenaran. Tapi apakah kebenaran lantas tidak akan pernah sampai ke pemahaman manusia? Kasihan betul kita ini. Hidup di tempat yang sama, menghirup udara yang sama, berasal dari tanah yang sejatinya satu, tapi terus bertikai tiada akhir. Barangkali kita dikutuk.

Saya melantur. Mari sudahi.

wordsflow

Jarak.


Saya sempatkan menulis sebelum esok. Ini cerita sederhana tentang hidup saya belakangan ini.

Coba dengerin lagu Kaze no Machi e deh, lagunya bagus banget.

Semakin ke sini, semakin banyak hal yang saya bingungkan tentang dunia ini. Saya kehilangan perasaan saya akan semua hal agaknya, dan belum pernah saya merasa sehilang ini selama hidup saya.

Saya tidak nihilis saya kira. Tidak sejauh itu. Tapi rasa-rasanya saya semakin tidak tahu apapun. Semakin tahu semakin merasa tidak tahu. Semakin mendekati semakin merasa jauh. Semakin ingin paham malah semakin membingungkan. Tentang hal-hal di dunia ini. Tentang manusia-manusianya. Tentang permasalahan sosial dan lingkungan. Tentang hal-hal spiritual. Tentang apapun. Literally tentang apapun.

Saya tidak suka menyesali hal-hal yang saya lalui. Saya tidak suka merasa terbebani dengan banyak hal. Meski ketidaksukaan itu masih juga dibarengi dengan bayang-bayang masa lalu dan berbagai ‘seandainya’ atau ‘barangkali’. Itu menyebalkan.

Sejauh itu saya dari realitas. Seberjarak itu saya dari banyak hal.

Barangkali banyak manusia yang saya tahu cerita hidupnya, susah-senangnya, tawa-air matanya. Tapi begitu saja kali ini. Tidak ada perasaan. Tidak ada apa-apa.

Ketiadaan yang pekat. Ketiadaan yang dekat dan lekat. Ketiadaan yang meniadakan juga.

Tidak, saya sering meyakinkan diri bahwa saya hanya bingung. Amat sangat bingung hingga menyesakkan dan terasa menyebalkan. Saya tidak bisa paham bagaimana cara membiarkan semua hal berjalan tanpa prasangka. Barangkali beberapa orang berhasil, tapi saya melalui 25 tahun saya dalam kegagalan untuk menenangkan diri saya sendiri menghadapi hal-hal di masa depan yang tidak pernah saya tahu sampai saya alami.

Saya masih bersedih memang. Masih menangis dengan cara yang sama. Dan hanya perasaan itu yang bisa saya percaya karena di dalam kesedihan selalu tersimpan kedalaman dan pemahaman. Hanya menangislah hal terjujur yang bisa dirasakan manusia. Kesenangan, pengharapan, tawa, cinta, dengki, atau yang lain selain tangis, adalah hal-hal lain. Saya tak bisa menjelaskan, hanya bisa mempraktikkan hal-hal semacam itu.

Barangkali hilang adalah hal yang paling mengobati dari semua pilihan yang ada. Saya pun tidak tahu. Tidak mau berprasangka. Tidak mau memikirkan. Tidak mau menduga. Bahkan tidak mau mendoakan.

Apakah hanya menjalani hidup menjadikan hidup saya lebih rendah makna dan nilainya dibandingkan mereka yang terus optimis? Apakah hanya menjalani hidup meniadakan optimisme itu sendiri?

Tidak ada yang tahu bagaimana seseorang memikirkan suatu hal. Aku tidak tahu kamu. Saya tidak tahu mereka. Saya tidak tahu siapapun. Yang kita simpulkan hanyalah hal-hal yang kita lihat, yang tersampaikan, yang dibicarakan, yang dilalui, yang dirasakan. Tapi tidak pernah, dan tak akan pernah merangkum keseluruhan dari pikiran seseorang.

Saya paham, tidak semua hal di dunia ini harus saya pahami. Tidak semua harapan akan saya dapatkan. Tidak selamanya segala sesuatu indah dan berjalan lancar. Pun barangkali, tidak selamanya saya sehilang hari ini, atau kamu sebingung itu. Setiap orang menyatakan hal yang mungkin tidak dia pikirkan. Barangkali yang dipikirkan justru yang berkebalikan. Atau di satu pihak ada yang sejujur itu tentang pikirannya. Saya tidak tahu. Tidak akan pernah tahu.

Dan kerumitan itu semakin dipikirkan semakin memuakkan. Semakin dipahami semakin menyesakkan. Semakin dibiarkan semakin menghilangkan.

Lagi-lagi, apakah menjalani hidup saja meniadakan makna dan nilai hidup itu sendiri?

wordsflow

Jauh.


Jika kamu sudah akrab dengan jarak, kadang dekat itu menjadi sesuatu yang asing dan tidak akrab.

Hari ini, WordPress baru saja ngasih saya ucapan selamat karena kami sudah jadian 8 tahun lamanya. Dengan postingan yang akhirnya mencapai 504 di hari ini. Jika dibagi delapan, maka saya menulis rata-rata 63 postingan dalam setahun, dan itu berarti sekitar 1-2 postingan setiap minggunya. Luar biasa produktif sekali. Meski begitu, saya kesulitan untuk mengakses tulisan lama saya karena jauh dan harus pencet tombol ‘next’ berkali-kali.

Jadi, ada apa dengan ‘jauh’?

Tidak ada apa-apa. Saya hanya suka menulisnya dengan cara demikian, dengan sebuah titik di belakang.

Saya sering jatuh dalam kebingungan yang tidak mampu saya identifikasi sendiri. Saya kehilangan pegangan antara yang nyata dan tidak nyata. Saya kehilangan pandangan mengenai apa itu kenyataan dan mana yang sebetulnya penting untuk dipikirkan. Mungkin itu efek karena saya tidak dapat melihat dengan jelas sekarang akibat kemampuan mata yang menurun. Tapi sungguhkah ada pengaruhnya? Barangkali iya. Atau barangkali saya hanya mencari penjelasan yang paling mudah saya terima.

Seusai membaca To Kill A Mockingbird, saya tidak mampu menahan tangis. Entah mengapa saya merasakan berbagai perasaan seusai membacanya. Mungkin saya terpesona dengan gaya bercerita Harper Lee. Atau saya mengagumi perjalanan saya sendiri ketika seumuran Scout dan Jem. Atau saya justru membayangkan ayah saya yang dalam beberapa hal mirip Atticus. Atau saya merasa marah atas kemanusiaan yang sudah begitu jauh dari kemurnian pandangan kanak-kanak. Atau saya prihatin dengan beban orang tua agar mampu sungguh bercermin di depan anaknya. Atau entah yang mana lagi yang membuat saya menangis.

Jauh sekali kedamaian di dunia ini. Jauh sekali harapan-harapan kita dari kenyataan. Jauh sekali idealisme dari realitas. Jauh sekali. Jauuuuuuh sekali.

Jarak itu menakutkan. Ada pertimbangan antara ketakutan dan keamanan karena jarak. Ada ketidakterjangkauan yang memungkinkan dua hal itu. Antara ketakutan akan kehilangan atau perasaan aman. Dan keduanya karena jarak.

Ah, tapi barangkali saya sudahi dulu tulisan ini. Ada yang tiba-tiba terlampau melankolis malam ini.

wordsflow

 

Laut


Apa yang dijanjikan laut kecuali pulang?

Suatu kali saat kulihat laut menjulang lebih tinggi dari bukit-bukit kecil, aku bertanya dalam hati, “Mengapa laut yang di bawah itu tampak begitu tinggi di atas sana?” Lalu kau bilang itu horizon namanya.

Batas.

Apakah ia sungguh batas?

Ketika membaca tentang The Flat Earth Society, banyak hal yang mungkin menjadi perdebatan. Banyak yang nyinyir mengenai hal itu. Toh tapi banyak juga yang percaya. Masalahnya, manusia punya batas. Dan demikian, panca indera menjadi batas yang paling dasar sebelum akhirnya logika mampu mengubah batas itu menuju cakrawala yang jauh lebih luas lagi.

Bagaimana pun, tidak ada sesuatu hal yang sungguh dapat dipercaya sampai seseorang mengetahui sendiri bagaimana semua itu mewujud dan ada. Toh setelah mengetahui sendiri pun, belum tentu penglihatannya benar, pendengarannya benar, penafsirannya tepat, dan seterusnya.

Kalau begitu, mana yang bisa disebut sebagai kebenaran?

Entahlah. Setiap kali semakin mengawang-awang saja.

Begitu banyak, ah lebih dari itu, amat sangat banyak hal yang tidak bisa mewujud sebagaimana hal itu terwujud sebagaimana adanya. Yah, meski Heidegger sudah berbusa membicarakan Ada, tapi siapa yang peduli? Seseorang barangkali bahkan akan selalu bingung ketika mendeskripsikan dirinya sendiri. Padahal dia hidup di dalam wujud itu seumur hidupnya! Dan itu pun ia masih ragu.

Yang begitu bicara kebenaran di luar diri??

Tapi mungkin, karena kita adalah satu-satunya subjek yang tidak bisa mengamati diri sendiri, kita selalu butuh refleksi. Tapi toh setiap manusia berbeda. Demikian, refleksi tidak bisa selalu sempurna. Kita bertemu lagi dengan batas.

Batas pun ada banyak bentuknya ternyata. Seperti laut.

Yang membatasi yang darat dan air. Laut selalu mengundang untuk dipertanyakan. Apakah binatang laut merasakan laut sebagaimana kita merasakan udara? Atau berbeda sama sekali? Bagaimana memberi tanda pada laut? Bagaimana membatasi laut sementara air selalu bergerak? Ah, barangkali sama seperti kita yang tidak bisa membatasi udara, tapi bisa membatasi daratan. Mungkin di laut selalu ada tanda alam yang bisa menyatakan. Meski dalam.

Tapi di laut kita merasakan air. Di darat belum tentu kita merasakan udara.

Semua hal menjadi seolah tidak penting untuk dibicarakan, untuk diperjuangkan, untuk dijalani, untuk diharapkan, untuk direnungkan, untuk dipikirkan, untuk diperbaiki, dan untuk-untuk yang lainnya. Tapi sekelebat kemudian rasanya semua hal sepenting itu untuk diri sendiri, orang lain, dan barangkali untuk masa depan jika itu memang menjanjikan. Masih saja banyak kebingungan setelah sekian tahun berlalu.

Tapi saat melihat laut, takutku menjadi begitu nyata. Senyata itu untuk menyadari di mana kita berpijak di hari ini.

wordsflow