WORDS FLOW

setiap pengalaman pantas untuk diingat

Category: on Nothingness

selewat tengah malam ini


Selamat malam. Apa kabar kalian?

Sudah 2 minggu saya tidak mengakses internet dan menengok blog ini. Saya merasa semakin jauh saja dari dunia. Di tempat ini, keributan yang sering muncul bukan soal kemacetan atau harga barang, tapi sumber air dan kendaraan yang ketanam di lumpur.

Suatu hari yang lampau saya sempat bercerita pada seorang teman bahwa di dalam dunia saya, setiap barang adalah benda yang hidup dan berjiwa. Jiwa siapa? Tentu saja jiwa pemiliknya. Misalnya saja kita memiliki baju seragam yang sama dengan orang lain, persis sama. Tentu saja kita nggak mau kalau sampai barang itu tertukar. Padahal bentuk dan ukurannya sama. Kenapa? Jawabannya biasanya muncul dengan sederhana “karena rasanya beda”.

Lantas karena suatu alasan, saya bertemu dengan bukunya Marcel Mauss yang berjudul The Gift. Katanya buku ini pendek saja, tapi ternyata buku aslinya 225 halaman. Memang sudah lama Prof Heddy menyebutkan buku ini berulang kali karena merupakan buku kajian antropologi. Tapi penyebutan itu tidak mendorong saya untuk membuka bukunya. Sampai akhirnya suatu hari seorang teman berkata bahwa keyakinan saya soal benda mirip orang Maori. What the hell these Maori peoples are? Alhasil, direkomendasikan juga buku The Gift itu yang sekarang baru berhasil saya baca 1/3-nya saja, hahaha.

Korelasinya sama postingan ini?

Begini, hape yang saya bangga-banggakan karena merk-nya yang nggak mainstream sama sekali ini akhirnya terinjak kaki saya sendiri. Dengan sempurna saya menginjaknya dengan tumit. Tentu saja saya yang berat ini akhirnya memecahkan layar hape yang tanpa pelindung. Saya sedih sungguh-sungguh. Saya tidak habis pikir kenapa saya bisa seceroboh itu. Demikian, setelahnya saya jutru berpikir terus kenapa hal ini bisa terjadi.

Akhirnya di perjalanan yang penuh lubang jalanan, retakan bertambah banyak karena terbentuk pembatas truk. Bagian kiri si hape semakin parah saja dan saya harus mengetik dengan posisi lansekap. Belum lagi layarnya yang memang sudah memudar sejak di Bandung. Dari hari ke hari semakin pudar saja sampai di bagian paling bawah kini tinggal samar-samar aja tulisannya. Akhirnya saya membuatkan rumah untuk si hape dan memasang pelindung layar. Setidaknya masih bisa saya pakai sampai pulang.

Lalu si headset juga mati sebelah karena ketarik. Udah buka-buka speakernya buat ngebenerin tapi nggak punya solder. Yasudah, benda itu saya terima dengan kekurangan barunya.

Diingat-ingat lagi, saya juga pernah menggunakan laptop saya dengan tidak baik. Menggunakan motor ke tempat dengan kemiringan jalan yang nggak masuk akal. Menyimpan buku-buku tanpa perawatan. Merendam pakaian sampai luntur tidak berwarna. Menelantarkan sepatu layak pakai hingga rusak lemnya. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Saya iri dengan orang-orang yang memiliki barang dengan awet. Menggunakan barang yang sama hingga betul-betul tidak lagi mampu digunakan. Sementara saya lebih sering merusakkan barang karena kecerobohan atau bahkan menghilangkan barang sekalian.

Berganti barang kepemilikan itu mirip dengan berpisah dengan kawan lama dan bertemu manusia baru. Meski sekarang rasanya menjadi agak lain, tapi keduanya masih dapat digunakan sebagai analogi. Apa yang membedakan? Kawan lama masih bisa kita hubungi atau dijumpai lagi, sedang barang lama relatif ditinggalkan untuk selamanya. Barang itu menjadi bekas. Ah, kata ‘bekas’ ini terasa menyebalkan tetiba.

Tapi tenang, ada orang-orang yang selalu mau menampung barang-barang bekas ini. Kalau beruntung mereka si ‘bekas’ ini pun akan ketemu pemilik awalnya. Bahkan barangkali ketemu penciptanya. Di sela memikirkan ini saya jadi teringat buku-buku saya yang sudah tersebar ke ujung-ujung Indonesia. Rasanya menarik membayangkan ada kesungguhan dan cinta yang saya bubuhkan ke buku-buku yang barangkali sudah menjadi buku favorit seseorang. Dan betapa sedih ketika tahu bahwa pemberian kita ke orang lain tidak menjadi barang penting untuknya. Hal semacam itu kadang membuat saya terus mengaitkannya dengan penolakan terhadap diri saya sendiri. Hahaha. Pedih.

Kata Mauss, memang begitulah gift itu bekerja. Kalian baca sendiri aja bukunya ya, biar saya nggak salah omong. Sederhananya begitu, benda itu tidak sekedar barang mati, tapi ada hal yang tertanam di dalamnya bahkan dia politis.

Lalu manusia semakin aneh di mata saya. Barangkali dibandingkan di rumah, saya menjalani hari-hari di sini dengan cara yang jauh lebih sederhana. Saya bangun pagi, memasak, mengambil air, mencuci, bersosialisasi dengan tetangga, ke kebun, ke hutan, mancing, dan semua hal biasa yang dilakukan manusia untuk bertahan hidup. Jauh sekali dari kesibukan pikiran saya sebelumnya yang berkutat di ranah kampus hingga universe atau bahkan post-mortal. Kadang di sela waktu kosong saya, saya lebih suka melamunkan hal-hal yang lampau. Tidak tertarik sama sekali untuk memikirkan hal yang akan datang. (bahkan rencana tesis saya abaikan sama sekali)

Hahaha. Lucu betul. Meski tidak jarang saya merasa downgrade di tempat ini, ada kemanusiaan yang muncul kembali setelah lama saya abaikan. Ada wujud manusia yang tidak saya sangka ada di dunia ini. Ada kepribadian manusia yang begitu teguh dipegang dan dipraktikkan. Ada jiwa yang terombang-ambing karena kebingungan (ini saya). Dan ada banyak analisis tentang hubungan interpersonal yang tidak pernah saya sangka akan ada.

Kadang kala rusuh sekali pikiran ini hingga terbawa mimpi atau emosi. Kadang begitu tenang hingga mampu bergurau sesuka hati. Kadang terlalu memaksakan diri. Tidak jarang memungkiri dan melarikan diri. Sudah sejauh ini pun, tetap ada hal-hal yang belum bisa saya selesaikan dengan diri sendiri. Ada hal-hal dari diri yang masih terus saya pertanyakan dan saya telusuri mengapa dan sampai kapannya. Masih saja ada bagian yang tidak bisa didamaikan. Masih ada keresahan dan kegelisahan yang tidak hilang.

Kadang bagus juga, karena itu mendekatkan saya dengan kemanusiaan itu sendiri. Kadang terasa sulit karena setiap hal akan terus berjalan dengan atau tanpa persetujuan setiap aktornya, nggak peduli kamu sesakit apa atau kerusuh apa di dalam diri.

Di waktu paling tenang di barak kami semacam ini, saya biasanya berakhir dengan kesimpulan bahwa barangkali saya selamanya akan menjadi manusia bingung. Atau saya katakan saja bahwa sesungguhnya manusia yang hidup adalah mereka yang selalu kebingungan. Nah, saya jadi merasa sedikit lebih keren sekarang.

Semakin lama tidak ada manusia yang terasa khusus. Semua orang cantik dan tampan pada bagiannya. Semua orang baik dan menyebalkan pada porsinya. Semua orang jujur dan munafik pada kadarnya. semua orang menyenangkan dan membosankan pada waktunya. Semua orang sama saja dan berbeda sama sekali pada wujud yang sama.

Kenapa saya tidak pernah mau berkesimpulan akhir? Karena berada di ambang itu menyenangkan, meski terlihat tidak punya prinsip sebetulnya, hehe. Tapi begitu, setiap manusia memang berbeda. Namun bagi saya perbedaan itu tidak menyebabkan satu orang lebih baik dibanding orang lainnya. Barangkali kita kurang memutar perspektif kita pada titik yang tepat sehingga tidak mampu menerima satu orang dibandingkan orang lain.

Ah, saya jadi ingat novel Go Set a Watchman juga satu kalimat dari sebuah film. Kalau kita melihat manusia itu setara, barangkali kita belum melihat kenyataan, yang melulu kita lihat adalah kebenaran. Tapi apakah kebenaran lantas tidak akan pernah sampai ke pemahaman manusia? Kasihan betul kita ini. Hidup di tempat yang sama, menghirup udara yang sama, berasal dari tanah yang sejatinya satu, tapi terus bertikai tiada akhir. Barangkali kita dikutuk.

Saya melantur. Mari sudahi.

wordsflow

Advertisements

Jarak.


Saya sempatkan menulis sebelum esok. Ini cerita sederhana tentang hidup saya belakangan ini.

Coba dengerin lagu Kaze no Machi e deh, lagunya bagus banget.

Semakin ke sini, semakin banyak hal yang saya bingungkan tentang dunia ini. Saya kehilangan perasaan saya akan semua hal agaknya, dan belum pernah saya merasa sehilang ini selama hidup saya.

Saya tidak nihilis saya kira. Tidak sejauh itu. Tapi rasa-rasanya saya semakin tidak tahu apapun. Semakin tahu semakin merasa tidak tahu. Semakin mendekati semakin merasa jauh. Semakin ingin paham malah semakin membingungkan. Tentang hal-hal di dunia ini. Tentang manusia-manusianya. Tentang permasalahan sosial dan lingkungan. Tentang hal-hal spiritual. Tentang apapun. Literally tentang apapun.

Saya tidak suka menyesali hal-hal yang saya lalui. Saya tidak suka merasa terbebani dengan banyak hal. Meski ketidaksukaan itu masih juga dibarengi dengan bayang-bayang masa lalu dan berbagai ‘seandainya’ atau ‘barangkali’. Itu menyebalkan.

Sejauh itu saya dari realitas. Seberjarak itu saya dari banyak hal.

Barangkali banyak manusia yang saya tahu cerita hidupnya, susah-senangnya, tawa-air matanya. Tapi begitu saja kali ini. Tidak ada perasaan. Tidak ada apa-apa.

Ketiadaan yang pekat. Ketiadaan yang dekat dan lekat. Ketiadaan yang meniadakan juga.

Tidak, saya sering meyakinkan diri bahwa saya hanya bingung. Amat sangat bingung hingga menyesakkan dan terasa menyebalkan. Saya tidak bisa paham bagaimana cara membiarkan semua hal berjalan tanpa prasangka. Barangkali beberapa orang berhasil, tapi saya melalui 25 tahun saya dalam kegagalan untuk menenangkan diri saya sendiri menghadapi hal-hal di masa depan yang tidak pernah saya tahu sampai saya alami.

Saya masih bersedih memang. Masih menangis dengan cara yang sama. Dan hanya perasaan itu yang bisa saya percaya karena di dalam kesedihan selalu tersimpan kedalaman dan pemahaman. Hanya menangislah hal terjujur yang bisa dirasakan manusia. Kesenangan, pengharapan, tawa, cinta, dengki, atau yang lain selain tangis, adalah hal-hal lain. Saya tak bisa menjelaskan, hanya bisa mempraktikkan hal-hal semacam itu.

Barangkali hilang adalah hal yang paling mengobati dari semua pilihan yang ada. Saya pun tidak tahu. Tidak mau berprasangka. Tidak mau memikirkan. Tidak mau menduga. Bahkan tidak mau mendoakan.

Apakah hanya menjalani hidup menjadikan hidup saya lebih rendah makna dan nilainya dibandingkan mereka yang terus optimis? Apakah hanya menjalani hidup meniadakan optimisme itu sendiri?

Tidak ada yang tahu bagaimana seseorang memikirkan suatu hal. Aku tidak tahu kamu. Saya tidak tahu mereka. Saya tidak tahu siapapun. Yang kita simpulkan hanyalah hal-hal yang kita lihat, yang tersampaikan, yang dibicarakan, yang dilalui, yang dirasakan. Tapi tidak pernah, dan tak akan pernah merangkum keseluruhan dari pikiran seseorang.

Saya paham, tidak semua hal di dunia ini harus saya pahami. Tidak semua harapan akan saya dapatkan. Tidak selamanya segala sesuatu indah dan berjalan lancar. Pun barangkali, tidak selamanya saya sehilang hari ini, atau kamu sebingung itu. Setiap orang menyatakan hal yang mungkin tidak dia pikirkan. Barangkali yang dipikirkan justru yang berkebalikan. Atau di satu pihak ada yang sejujur itu tentang pikirannya. Saya tidak tahu. Tidak akan pernah tahu.

Dan kerumitan itu semakin dipikirkan semakin memuakkan. Semakin dipahami semakin menyesakkan. Semakin dibiarkan semakin menghilangkan.

Lagi-lagi, apakah menjalani hidup saja meniadakan makna dan nilai hidup itu sendiri?

wordsflow

Jauh.


Jika kamu sudah akrab dengan jarak, kadang dekat itu menjadi sesuatu yang asing dan tidak akrab.

Hari ini, WordPress baru saja ngasih saya ucapan selamat karena kami sudah jadian 8 tahun lamanya. Dengan postingan yang akhirnya mencapai 504 di hari ini. Jika dibagi delapan, maka saya menulis rata-rata 63 postingan dalam setahun, dan itu berarti sekitar 1-2 postingan setiap minggunya. Luar biasa produktif sekali. Meski begitu, saya kesulitan untuk mengakses tulisan lama saya karena jauh dan harus pencet tombol ‘next’ berkali-kali.

Jadi, ada apa dengan ‘jauh’?

Tidak ada apa-apa. Saya hanya suka menulisnya dengan cara demikian, dengan sebuah titik di belakang.

Saya sering jatuh dalam kebingungan yang tidak mampu saya identifikasi sendiri. Saya kehilangan pegangan antara yang nyata dan tidak nyata. Saya kehilangan pandangan mengenai apa itu kenyataan dan mana yang sebetulnya penting untuk dipikirkan. Mungkin itu efek karena saya tidak dapat melihat dengan jelas sekarang akibat kemampuan mata yang menurun. Tapi sungguhkah ada pengaruhnya? Barangkali iya. Atau barangkali saya hanya mencari penjelasan yang paling mudah saya terima.

Seusai membaca To Kill A Mockingbird, saya tidak mampu menahan tangis. Entah mengapa saya merasakan berbagai perasaan seusai membacanya. Mungkin saya terpesona dengan gaya bercerita Harper Lee. Atau saya mengagumi perjalanan saya sendiri ketika seumuran Scout dan Jem. Atau saya justru membayangkan ayah saya yang dalam beberapa hal mirip Atticus. Atau saya merasa marah atas kemanusiaan yang sudah begitu jauh dari kemurnian pandangan kanak-kanak. Atau saya prihatin dengan beban orang tua agar mampu sungguh bercermin di depan anaknya. Atau entah yang mana lagi yang membuat saya menangis.

Jauh sekali kedamaian di dunia ini. Jauh sekali harapan-harapan kita dari kenyataan. Jauh sekali idealisme dari realitas. Jauh sekali. Jauuuuuuh sekali.

Jarak itu menakutkan. Ada pertimbangan antara ketakutan dan keamanan karena jarak. Ada ketidakterjangkauan yang memungkinkan dua hal itu. Antara ketakutan akan kehilangan atau perasaan aman. Dan keduanya karena jarak.

Ah, tapi barangkali saya sudahi dulu tulisan ini. Ada yang tiba-tiba terlampau melankolis malam ini.

wordsflow

 

Laut


Apa yang dijanjikan laut kecuali pulang?

Suatu kali saat kulihat laut menjulang lebih tinggi dari bukit-bukit kecil, aku bertanya dalam hati, “Mengapa laut yang di bawah itu tampak begitu tinggi di atas sana?” Lalu kau bilang itu horizon namanya.

Batas.

Apakah ia sungguh batas?

Ketika membaca tentang The Flat Earth Society, banyak hal yang mungkin menjadi perdebatan. Banyak yang nyinyir mengenai hal itu. Toh tapi banyak juga yang percaya. Masalahnya, manusia punya batas. Dan demikian, panca indera menjadi batas yang paling dasar sebelum akhirnya logika mampu mengubah batas itu menuju cakrawala yang jauh lebih luas lagi.

Bagaimana pun, tidak ada sesuatu hal yang sungguh dapat dipercaya sampai seseorang mengetahui sendiri bagaimana semua itu mewujud dan ada. Toh setelah mengetahui sendiri pun, belum tentu penglihatannya benar, pendengarannya benar, penafsirannya tepat, dan seterusnya.

Kalau begitu, mana yang bisa disebut sebagai kebenaran?

Entahlah. Setiap kali semakin mengawang-awang saja.

Begitu banyak, ah lebih dari itu, amat sangat banyak hal yang tidak bisa mewujud sebagaimana hal itu terwujud sebagaimana adanya. Yah, meski Heidegger sudah berbusa membicarakan Ada, tapi siapa yang peduli? Seseorang barangkali bahkan akan selalu bingung ketika mendeskripsikan dirinya sendiri. Padahal dia hidup di dalam wujud itu seumur hidupnya! Dan itu pun ia masih ragu.

Yang begitu bicara kebenaran di luar diri??

Tapi mungkin, karena kita adalah satu-satunya subjek yang tidak bisa mengamati diri sendiri, kita selalu butuh refleksi. Tapi toh setiap manusia berbeda. Demikian, refleksi tidak bisa selalu sempurna. Kita bertemu lagi dengan batas.

Batas pun ada banyak bentuknya ternyata. Seperti laut.

Yang membatasi yang darat dan air. Laut selalu mengundang untuk dipertanyakan. Apakah binatang laut merasakan laut sebagaimana kita merasakan udara? Atau berbeda sama sekali? Bagaimana memberi tanda pada laut? Bagaimana membatasi laut sementara air selalu bergerak? Ah, barangkali sama seperti kita yang tidak bisa membatasi udara, tapi bisa membatasi daratan. Mungkin di laut selalu ada tanda alam yang bisa menyatakan. Meski dalam.

Tapi di laut kita merasakan air. Di darat belum tentu kita merasakan udara.

Semua hal menjadi seolah tidak penting untuk dibicarakan, untuk diperjuangkan, untuk dijalani, untuk diharapkan, untuk direnungkan, untuk dipikirkan, untuk diperbaiki, dan untuk-untuk yang lainnya. Tapi sekelebat kemudian rasanya semua hal sepenting itu untuk diri sendiri, orang lain, dan barangkali untuk masa depan jika itu memang menjanjikan. Masih saja banyak kebingungan setelah sekian tahun berlalu.

Tapi saat melihat laut, takutku menjadi begitu nyata. Senyata itu untuk menyadari di mana kita berpijak di hari ini.

wordsflow

(re)imagine


What I do forget the most is, the fact that people driven by their imagination about everything on Earth, and beyond Earth.

Salah besar selama ini, karena saya memahami imajinasi hanya sebagai sebuah khayal. Padahal khayal terkonstruksi dari hal-hal yang pernah dipahami melalui yang empirik. Bahkan imajinasi mengenai hewan-hewan paling imajinatif di dalam film pun merupakan gabungan, ekstensi, pengurangan, perulangan, dari benda-benda yang ada di dunia ini. Imajinasi adalah reproduksi.

Ketika mempelajari perdebatan mengenai banyak hal di dunia ini, atau membaca berita mengenai berbagai selisih paham dan berbagai konflik, saya pikir masalahnya bukan ada pada tingkat pendidikan masing-masing manusia. Kadang kita terjebak pada kata ’empati’ namun tidak sungguh memahami bagaimana implementasi praktik dari kata itu sendiri. Atau mungkin, terminologi ‘toleransi’, namun tidak mau mengiyakan bahwa ‘kita sama-sama manusia’. Kenapa? Kenapa?

Sangat lama bagi saya untuk menelusuri apa sebab ada manusia yang tidak dapat memahami manusia lainnya. Apa sebab seseorang mampu berbuat buruk pada orang lain. Apa sebab ada ketidakadilan di dunia ini. Apa sebab ada mis-komunikasi. Dan pertanyaan ‘apa sebab’ lainnya yang menghantui saya dari hari ke hari tanpa ada yang datang memberi pencerahan.

Tapi jawaban selalu bisa datang dari perjalanan.

Kemadang, Tanjungsari. Tempat itu indah sekali, dan saya bertanya-tanya mengapa saya baru menyadari sekarang. Padahal telah beberapa kali saya melewati ruas jalan itu. Saya ingat sepanjang perjalanan itu saya memikirkan kata teman saya bahwa dunia sedang sakit parah. Tapi tidak ada yang mau sungguh-sungguh menggambarkan seberapa parahkah sakitnya Bumi kita? Padahal di depan mata saya terpampang keindahan yang tidak palsu. Orang-orang yang masih bertanam, tumbuhan yang masih bertumbuh, wajah-wajah yang masih bahagia. Apakah itu yang dikatakan sakit?

Sementara saya sendiri juga menyadari bahwa perjalanan saya untuk mencapai ‘keindahan pariwisata’ itu menyumbang emisi karbon yang selama ini diupayakan untuk dikurangi. Pikiran itu mengganggu saya terus-menerus. Lagi-lagi pariwisata hanya sebuah kepalsuan yang dikemas sedemikian rupa sehingga kita teralihkan dari pengetahuan lain di belahan dunia sana.

Tapi pertanyaannya, apakah saya kemudian peduli setelah tahu bahwa masyarakat di Afrika tengah sana kekurangan makanan? Apakah saya juga membawa pengetahuan perang di Timur Tengah di keseharian saya? Apakah saya peduli makan apa tunawisma yang tadi saya temui di jalan? Apakah saya melakukan sesuatu setelah tahu berapa luasan Greenland yang mencair? Apakah saya melakukan sesuatu setelah sebegitu banyak pengetahuan baru tentang kerusakan Bumi? Tidak. Saya masih begitu-begitu saja.

Imajinasi tentang berbagai hal mungkin mengganggu saya. Tapi kontradiksinya dengan yang terlihat oleh mata lebih mengganggu lagi.

Setidaknya, saya kemudian menyadari bahwa imajinasi saya lah yang membuat saya tidak berhenti berpikir dan bertanya. Imajinasi akan sistem dunia ini yang tidak pernah sungguh saya pahami secara keseluruhan. Yang begitu, kadang membuat saya berkeinginan untuk bisa terbang, untuk bisa menyelam di dunia maya, untuk jadi astronot saja. Bahkan, kemudian saya berimajinasi bagaimana rasanya jadi Tuhan yang melihat carut marut dunia ini?

Imajinasi membuat manusia hilang arah. Imajinasi membuat seseorang terus mengingat masa lalu, membuat seseorang mengharapkan masa depan, membuat seseorang mampu berempati dan bersimpati, membuat seseorang membayangkan surga dan takut neraka, membuat seseorang ingin mati dan takut mati, dan seterusnya, dan seterusnya. Imajinasi di samping itu juga memberi harapan besar. Ada manusia-manusia yang berjuang mati-matian menjaga lingkungannya karena tidak ingin kehancuran di masa depan, ada orang yang bekerja begitu keras karena membayangkan masa depan yang baik untuk anaknya, dan berapa lagi imajinasi yang membawa kebaikan kepada manusia-manusia?

Manusia belajar dari cerita, kita berrelasi melalui komunikasi, dan kesemua itu mewajibkan imajinasi. Dan gagalnya imajinasi menciptakan mis-komunikasi, dan lebih parah lagi kesalahpahaman. Tapi pertanyaannya, apakah perasaan bisa diimajinasikan? Bisa. Dan dalam kegagalan imajinasi juga memicu kesalahpahaman yang sama.

Saya ingat seorang teman yang tidak pernah membaca novel sementara semua buku teori yang ia perlukan ia baca. Mungkin kesimpulan ini masih harus diujikan, namun yang saya temukan adalah kegagalan si teman untuk memahami candaan kami, atau cerita-cerita yang kami anggap lucu. Adanya mis-komunikasi setial kami berinteraksi dan penolakan si teman terhadap hubungan kasual. Demikian, mengembangkan imajinasi menjadi hal yang penting untuk hidup seseorang sehingga ia bisa terintegrasi dengan baik dengan lingkungannya.

Imajinasi berkembang melalui seni, cerita, film, dan berjalanan. Dan semakin seseorang mengembangkan imajinasinya, semakin mudah seseorang membayangkan dan memahami segala hal. Teringat setiap kali bercerita, kita selalu mengeluarkan kata “kebayang nggak?”, “bayangin kalo misalnya kamu,”, dan seterusnya, dan seterusnya.

Bahkan, mitos dan ritual mengharuskan ada imajinasi di dalam individu-individu yang menjalaninya. Bisa ada kesimpulan “bencana ada karena Tuhan sedang marah” pun adalah ekspresi dari imajinasi itu sendiri. Dan begitu banyak lontaran kalimat yang keluar atas imajinasi seseorang tentang sesuatu, atau suatu masa, atau suatu peristiwa.

Saya kira, hal itu yang membuat saya lebih suka menonton kartun dibandingkan film biasa, atau membaca cerita dan komik. Di dalam kartun, yang saya temukan adalah keseluruhan imajinasi, keseluruhan dunia yang diciptakan oleh individu. Sebuah ekspresi dari dunia lain yang diimpikan atau dikonstruksikan.

Begitulah.

Meski kemudian saya terbangun pagi ini dan menyadari bahwa tidak ada hal yang sungguh penting kecuali mandi. Tapi saya ingat satu hal; don’t (ever) drop your unhappy friend!

Dunia masih sama membingungkannya seperti kemarin.

wordsflow

“memperbaiki hidup”


Begitu katamu setiap kali bergegas pergi. Segalanya kau tata rapi dan kau pastikan tidak ada sesuatupun yang tertinggal. Semua yang milikmu kau bawa, yang bukan kau tinggalkan begitu saja.

1984. Buku itu hilang entah ke mana. Disusul kemudian beberapa judul yang lain. Kemudian kesadaran samar-samar mengenai buku-buku lain lagi yang jauh lebih lama yang tidak lagi ada wujudnya juga membanjir ke permukaan.

Telah banyak yang hilang, tanpa disadari.

24 jam tampak terlalu lama pada suatu waktu. Di waktu yang lainnya semua itu terlampau cepat untuk berlalu. Berapa banyak perubahan yang terjadi hanya dalam hitungan hari? Bahkan tidak butuh lebih dari satu minggu untuk menghampakan segalanya. Meniadakan hal-hal yang sebelumnya saya percaya. Waktu mempermainkan diri. Atau justru diri yang mempermainkan segalanya. Tidak lagi ada hasrat untuk memastikan di antara keduanya.

Ada perasaan yang aneh yang tidak saya akrabi setiap kali saya berada seorang diri. Perasaan yang justru tidak ingin saya pastikan apa itu. Perasaan yang justru tidak ingin saya rumuskan definisinya. Perasaan yang mengobrak-abrik kecamuk dan resah. Tidak saya pahami, dan tidak ingin saya pahami.

Dibanding “memperbaiki hidup”, istilah “memperbaiki diri” itu aneh. Saya pikir semua orang memang pas pada waktunya. Yang kita lakukan bukanlah memperbaiki diri sebenarnya, hanya memposisikannya kembali agar sesuai dengan kondisi yang ada ketika itu. Tapi ini pun bukan hal yang selamanya seperti itu. Saya kira, saya telah kehilangan kepastian mengenai segala hal. Hampa saja.

Setiap kali melihat manusia, rasanya lebih menyenangkan membayangkan bahwa semua manusia pernah menjadi makhluk yang polos dan dicintai karena kepolosannya sebagai pembawa kabar gembira. Demikian, tidak ada yang berbeda antara manusia yang ini atau yang itu, yang mencampakan atau menarik mendekatkan, menyakiti atau mencintai. Kita hanya bingung. Seperti yang mungkin sedang terjadi pada saya di hari ini. Yang tidak tahu untuk apa terus mengupayakan. Untuk apa terus berjalan. Untuk apa berusaha terus percaya bahwa manusia adalah manusia saja. Tidak lebih, dan tidak kurang.

Sering kali saya berpikir untuk berhenti pada satu titik, dan memilih untuk menghilangkan diri dari hidup orang lain. Tapi perasaan yang seharusnya mendorong saya melakukannya tidak ada di sana. Tidak ada apa-apa kecuali mata yang tetap memandang dunia. Tangan yang tak lelah mengirimkan pesan. Detak jantung yang tetap pada irama yang sama indahnya.

Segala hal memuakkan dan penuh harap pada saat yang bersamaan. Menyisakan keputusasaan atas kebingungan-kebingungan yang tidak berjalan-keluar. Sementara tidak ada yang mau menghentikan umurnya pada titik yang sama. Semua orang berkejaran menjadi yang pertama. Sedangkan menjadi yang kedua seolah takut menjadi tertuduh yang hanya bisa mengikuti tanpa autentisitas. Selalu menakutkan menjadi yang kedua. Selalu lebih melegakan menjadi yang selanjutnya, atau justru yang terakhir saja.

Padahal tanpa yang kedua, tidak akan ada yang selanjutnya.

Ada perasaan sesak yang aneh yang tidak juga ingin saya pastikan apa. Tidak ada gairah yang meneriakkan semangat berulah. Yang ada hanya–tidak ada apa-apa.

Isu-isu sosial tetap menjadi isu saja. Isu lingkungan sama saja. Isu apapun, hanya menjadi isu. Saya marah pada diri sendiri. Salah siapa? Diri sendiri.

Tapi tidak sesederhana itu untuk yakin bahwa hidup tidak berguna. Telah banyak yang bisa membuktikannya. Tapi apa. Tidak ada apa-apa di sana.

Ada yang bernama Ginan, seorang pengidap HIV yang berusaha mengenal dirinya untuk memastikan hidup seberharga itu untuk diteruskan dan diperjuangkan. Saya sepakat. Ia menulis buku tentang hidupnya yang hanya saya baca sekilas selama 10 menit. Aneh sekali ia bisa menceritakan hidupnya dengan sedetil itu. Kisahnya menginspirasi karena dia sungguh-sungguh ada, bukan imajinasi. Pun ceritanya tidak ia karang sendiri, tapi ia jalani. Tapi hebat sekali ia ingat semua hal itu. Sementara banyak yang saya lupakan di hidup saya.

Masa depan seolah tidak ada. Tapi dia dipikirkan oleh semua manusia di dunia. Mungkin saya juga, meski barangkali kamu tidak peduli. Tak mengapa. Tidak peduli adalah andalan manusia untuk menanggapi banyak hal yang mungkin tidak ia inginkan. Perasaan misalnya.

“Kamu kenal Chris Cornell nggak? Dia meninggal hari ini.” Waktu itu ada yang bertanya begitu.

Saya tidak kenal. Tapi saya sedang mendengarkan lagunya. Sama seperti kebanyakan musisi yang sok saya kenal lalu saya dengarkan musiknya. Kadang-kadang bahkan sama sekali tidak paham apa yang dinyanyikan. Kadang bahkan judul lagunya tidak saya tahu. Lahir kapan dia? Mulai main musik tahun berapa? Apa nama grup musiknya? Genrenya? Ada banyak hal yang saya paksakan. Sebagian besar cocok saja. Karena ketidakpedulian. Sisanya menjadi hal yang terlupakan setelah berusaha mengaksesnya.

Seperti file-file buku digital yang terbengkalai setelah diunduh lebih dari tiga tahun yang lalu. Terlalu banyak buku digital yang belum pernah dibuka sejak diunduh ke sistem operasi. Atau bergiga album yang belum pernah didengar sejak dimiliki. Atau bergiga foto yang tidak pernah dikenang kembali setelah disimpan. Untuk apa kenangan jika tidak menjadi kenangan bersama? Untuk apa yang lama jika kita selalu hidup di kala yang sama; saat ini, sekarang ini?

Tidak ada yang harus dirayakan. Tidak sekarang atau besok, bahkan mungkin lusa. Tidak juga. Filsafat ditinggalkan manusia, sayang sekali. Diri dibawa kabur dari jiwa. Segalanya lebih nyata di luar pikiran manusia. Memang. Tapi tidak suka, meski kadang-kadang saja.

Memperbaiki hidup. Memperbaiki diri. Apa itu?

wordsflow

This gonna be tough


Tidak ada gairah. Tidak ada gemuruh. Tidak ada gejolak. Tidak ada apapun tiba-tiba.

Meski tawa masih di sana, tangan masih terus bekerja, kaki masih terus melangkah, mata masih menyapukan pandangannya, dan masih pula ada kupu-kupu yang menggelitik di dalam perutku. Apa lagi tapi?

Menangis dan membenci, dua hal yang jauh lebih dalam dari tertawa dan mencintai. Kupikir. Pada mula-mula.

Tapi tawa dan mencinta membunuh keduanya. Kejam, meski tanpa darah dan jasad. Bahkan waktu bekerja sama untuk menciptakan suasana yang tepat agar pembunuhan itu terjadi tanpa jejak, tanpa cacat.

Di mana rasa bersemayam kala itu?

Dia tergolek pasrah, mengizinkah diri mengatur segala hal yang dia pikir ia pahami.

Ada rasa tercekat di pangkal suaraku, mendesakkan berbagai hal untuk keluar menemukan udara bebasnya.

Tapi tak ada apapun di sana.

Hanya mata yang terus menatap, kaki yang terus melangkah, dan tangan yang terus bekerja.

wordsflow

nothing again


Well, saya sedang bimbang. Mari saya ceritakan alasannya.

Suatu hari, ada seseorang yang bertanya kepada saya, “mendingan ditinggal atau meninggalkan?”. Pertanyaan itu tidak jauh berbeda dengan pertanyaan mengenai mencintai atau dicintai. Sekian lama saya memperdebatkan dua hal itu, saya toh memilih untuk menjadi subjek, lebih memilih untuk bertindak dibandingkan menyerahkan diri menjadi objek sehingga terus bertanya-tanya tanpa mampu melogika dan memperhitungkan.

Meninggalkan tentu saja. Dan itu saya upayakan untuk akhirnya mampu saya praktikkan. Sayang sekali, rencana itu dua kali gagal saya penuhi. Saya tidak sedih, sungguh. Saya hanya bingung ketika kembali memperdebatkan dengan diri sendiri perihal hal yang sungguh saya inginkan dan apa yang selama ini saya akui. Mungkin dua hal itu tampak sederhana, tapi pada praktiknya keduanya berada pada sisi yang cenderung berseberangan.

Ketika rencana melarikan diri itu gagal misalnya, saya pikir saya akan sedih luar biasa, atau setidaknya menyalahkan diri sendiri karena gagal. Toh pada praktiknya hal itu tidak saya rasakan. Mungkin saya mencoba mengerti dengan mengatakan ke diri sendiri bahwa bisa jadi saya sudah tidak seemosional dulu dengan bermuram durja ketika ada hal yang tidak dapat saya capai dalam hidup saya. Tapi tidak, dalam beberapa hal, saya masih bisa terus membawa kesedihan saya sepanjang hari hanya karena percakapan yang hanya berlangsung 15 menit.

Hehehe, kadang saya harus juga menertawakan kebingungan ini, dan terus saja mengaduk-aduk ingatan untuk akhirnya bisa mengatakan dengan bangga bahwa ‘it’s how this life is working’.

Ada hal yang sungguh berubah dari saya, meski saya kira pernyataan ini hanya bisa dikonfirmasikan lewat orang-orang yang berhubungan dengan saya. Tapi saya kira yang saya rasakan tidaklah salah mengenai perubahan itu. Yang saya penasaran justru bagaimana orang-orang lain memandang perubahan itu, hehe.

Yasudahlah. Sekian saja.

Saya sedang sibuk menghitung mundur kapan kiranya hal-hal mengejutkan terjadi dalam hidup. Tapi sekarang, mari merencanakan.

wordsflow

mati, itu apa?


Ada kematian yang tiba-tiba mengada dari ketiadaan–ah bukan, sebetulnya kematian itu hanya istirahat sebentar.

Dua film bertema kehilangan sedang tayang di layar lebar. Saya pikir keduanya mengangkat hal yang sama, menyoal cinta dan rela, akan orang terkasihnya, akan masa lalunya, akan hal-hal yang tidak bisa mereka terima. Hanya saja, cara penceritaan keduanya jauh berbeda, yang satu mendekati soal kematian ini melalui ziarah, sedang yang satu lagi menyoal kematian ini dengan rasa bersalah.

Saya bukan kritikus film memang, dan tulisan ini tidak akan membahas film yang sedang tayang itu sama sekali. Tapi, sekali waktu dalam pusara simbah saya, saya menyadari bahwa apa yang bisa saya petik dari kematian? Kematian tidak menawarkan apapun kecuali kematian itu sendiri, saya kira. That’s all.

dead man tells no tale

Itu kalau Pirates of Carribean. Tapi apa sesungguhnya kematian itu, tidak begitu saja dapat dijawab dengan mudah. Orang mati nggak bisa hidup lagi untuk menjelaskan rahasia-rahasia kematian itu kaan.

Dalam sebuah berita, saya menemukan nama Julia Perez yang sedang kanker stadium 4, penyakit yang jaraknya sungguh tipis dari kematian. Saya sebetulnya bertanya-tanya sungguh tentang kesadaran manusia yang berada pada kondisi kritis harapan untuk hidup. Soal apa yang ada di dalam kesadaran dan mungkin ketidaksadarannya. Ada memang rahasia-rahasia yang tetap menjadi rahasia bagaimanapun inginnya kita berupaya mengungkapnya ke permukaan. Itupun, jika kita sama-sama sepakat soal permukaan ini.

Oke, kembali ke masalah kematian ini.

Lagi-lagi, kematian memunculkan romantisme mendalam. Sebuah kesadaran tipis mengenai kehilangan yang sesungguhnya, meski masih juga bertanya-tanya soal apa itu sesungguhnya, mati itu? Dalam kebingungan saya, selama keterombang-ambingan diri saya selama beberapa waktu ini, saya toh pada akhirnya sadar bahwa pada kematian saya menemukan pegangan yang paling nyata. Tidak ada yang pasti kecuali mati. Maka ia menjadi hal yang merangkum seluruh, atau kesemua ketakutan, kekhawatiran, kegelisahan, keresahan, kesedihan, atau apapun itu.

Begitu mesranya merasakan cinta yang begitu dalam pada diri ketika menyadari akan ada kehilangan terbesar dalam kematian. Ada akhir dari setiap penantian. Keseluruhan itu akan terhenti pada mati. Semuanya pun begitu.

Kadang kala ada imajinasi liar tentang kematian yang sewaktu-waktu menyisip di sela berbagai kesibukan, atau di dalam kekacauan pikiran. Ia sering berbisik-bisik meminta perhatian. Sewaktu-waktu ia seolah berdiri mematung di pinggir jalan meminta pertanyaan. Di waktu yang lain bahkan ia menghalangi jalan tanpa basa-basi meminta kita sejenak berhenti dan menyapa. Dekat sekali. Dan lekat sekali kita dengan diri dan mati ini.

Kematian selalu memancing mesra, selalu memancing cinta, selalu memancing rasa yang mendalam tentang hidup. Atau tentang apapun yang sedari awal kita abaikan.

Sekian saja soal mati ini, nanti saya tulis surat cinta lagi. Atau surat mati?

wordsflow

Running Away


Ada seorang perempuan.

Aku melihatnya berlari satu putaran setiap dua hari sekali. Aku tak pernah melihatnya menyapa siapapun yang berpapasan, bahkan kuduga ia juga tidak melihat ke depan. Dunianya hanya sejauh tiga meter di depan kakinya, seolah tidak ada hal lain yang penting lagi. Tak peduli bagaimana ia orang lain melihatnya dengan penuh perhatian, atau orang lain mencibirnya dengan kesombongan. Baginya dunianya hanya berjarak tiga meter dari ujung kakinya.

Aku melihat perempuan itu berlari pada waktu-waktu tertentu. Setiap pagi dua hari sekali ia dengan wajah setengah mengantuk berlari dengan ritme lambat yang menenangkan, suara langkah kakinya bahkan begitu stabil tanpa ada perubahan. Sering pula ia berlari di sore hari selepas pukul setengah lima. Kadang secara tidak terduga ia datang di hari-hari tertentu, tapi ia memang tidak pernah berlari pada jam yang tepat sama seperti hari-hari sebelumnya.

Wajahnya penuh dengan pertanyaan, itulah hal yang paling aku suka.

Suatu hari, sekitar sebulan yang lalu, aku melihatnya menangis ketika berlari. Aku tak pernah tahu apa yang ia pikirkan, apa yang ada di kepalanya, bagaimana suasana hatinya. Yang kutahu pasti, ekspresi wajahnya tak pernah sama setiap kali ia berlari, dan aku yakin ia tidak pernah berhenti berpikir setiap kali melakukannya.

Meski demikian, ada hari yang sungguh membuatku penasaran dan berkeinginan dengan sangat untuk bertanya. Hari itu sore pukul empat, waktu yang jarang sekali ia gunakan untuk berlari. Wajahnya tidak terbaca; ekspresi yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Ia begitu teduh, teduh yang tidak aku pahami karena seolah ia menyembunyikan gemuruh yang lebih besar. Kali ini, aku memperhatikannya jauh lebih seksama, dan aku punya waktu kurang dari satu menit untuk memutuskan akan menyapanya atau sekali lagi melepasnya untuk kutatap lagi di lain hari.

Jarak kami sudah hampir sejajar, tapi tak juga ada keputusan yang aku ambil. Pada langkah ke lima dari posisiku, ia berhenti, lalu menunduk dalam. Aku terpaku di tempatku, tak mampu memutuskan untuk menyapa atau membiarkannya. Tapi justru aku menunggu. Seolah yakin aku akan menemukan jawaban tak lama lagi.

Ia menunduk dalam, punggungnya tiba-tiba bergetar pelan dan punggungnya naik turun. Ia menunduk semakin dalam, hingga akhirnya terduduk. Secara ajaib, suasana itu terasa begitu pekat untukku, seolah ada dorongan untuk mendekatinya, lantas meletakkan tanganku di pundaknya untuk mencoba merasai berat hatinya. Tapi tidak kulakukan; aku tetap terpaku di tempat, bahkan suara napasku harus kutahan sepelan mungkin agar ia tak terganggu.

Tak sampai dua menit ia berdiri kembali, mengusap ujung matanya dan berlari pada irama yang sama. Seolah tak terjadi apapun!

Maka aku berlari pula mengikutinya dari belakang. Aku begitu ingin melihat hal apa lagi yang ia lakukan. Tapi tak ada lagi yang cukup penting terjadi pada dirinya selepas tangis itu. Aku bahkan tidak melihatnya menengok ke belakang barang sejenak. Lagi-lagi dunianya hanya sejauh tiga meter ke depan dari ujung kakinya, dan terus begitu sepanjang waktu.

Benar. Tak akan ada yang bisa melihatmu selain dirimu sendiri. Tak ada yang memahami kedalaman hatimu selain dirimu sendiri.

Perempuan itu aku, dan aku adalah perempuan itu.

Pada momen berlari, aku menikmati kesendirian yang dalam, melihat tidak pada siapapun kecuali sejarak tiga meter ke depan. Tidak mendengar apapun kecuali detak jantung dan tapak kaki pada tanah yang keras. Tidak merasakan apapun kecuali panas tubuh yang meningkat. Tapi pikiranku berkelindan erat dengan perasaan, bergelayut mengikuti irama detak jantung. Kadang terlonjak pada sebongkah ingatan, kadang teredam pada sepenggal pemahaman. Tapi ritme itu tidak berubah, terus berlalu tanpa ragu.

Perkaranya hanya satu, selama apapun pelarian itu, pada akhirnya titik akhirnya tetap sebuah mula.

wordsflow