WORDS FLOW

setiap pengalaman pantas untuk diingat

Category: on Films

Temple Grandin


Saya ragu ketika pertama kali membuka file mengenai film tersebut mula-mula. Namun mengingat saya membuka film itu atas rekomendasi seorang teman, maka saya melanjutkan menonton tanpa berekspektasi terlebih dahulu di awal.

Temple sangat menarik sebagai perempuan di mata saya. Dia sangat membahagiakan untuk dilihat, demikian saya lebih suka menyebutnya dibanding mengistilahkannya dengan kata ‘ceria’. Ah sebelumnya, jika ada pembaca yang belum menonton filmnya, silakan menonton dulu kalau tidak ingin saya ganggu dengan review singkat ini, hehehe.

Ketika film baru dimulai, saya menduga-duga cerita macam apa yang akan dibawakan oleh film itu. Lalu apa yang membuatnya istimewa untuk menjadi sebuah film?

Saya jarang menonton film yang dibintangi manusia sungguhan dan lebih suka menghabiskan waktu menyelami dunia-dunia anime yang buat saya jauh lebih dalam dibandingkan film-film yang ada. Temple berbeda, film ini adalah sebuah biografi. Dan sejauh yang saya ingat pula, film yang berdasar pada kisah nyata selalu dan akan selalu memukau saya. A Beautiful Mind, The Theory of Everything, Silent of the Lamb, Snowden, ah dan banyak lainnya selalu bisa membuat saya terpukau. Kisah itu adalah kenyataan yang dinyatakan tanpa pernyataan. Hanya sebuah tampilan sebagaimana kita melihat manusia-manusia lain di keseharian kita. Mewujudkan kemanusiaan mereka sebagai manusia biasa yang berjuang dan melawan hidup.

Manusia-manusia seperti Temple hampir tidak pernah saya temui di dalam hidup. Semua orang yang saya kenal adalah mereka yang berada pada kondisi paling sempurnanya. Hanya dua orang yang seingat saya memiliki kekhususan dalam dirinya, dua-duanya saya kenal ketika masih sekolah dasar. Hingga sekarang saya tidak pernah tahu apa yang membedakan mereka dari kami semua yang menyatakan diri normal saja.

Temple Grandin sangat mengagumkan. Ia memahami bahwa dirinya autistic dan terus berproses sedemikian rupa untuk berdamai dengan kondisinya, tanpa kehilangan masa depannya. Hal semacam itu, adalah sesuatu yang sayangnya tidak saya akrabi selama ini.

Banyak kondisi-kondisi di masa lalu saya yang tidak saya gunakan dengan baik. Waktu yang saya buang untuk hal yang tidak seberapa berguna. Salah menentukan prioritas. Tidak tepat dalam menentukan pilihan-pilihan. Terlalu memikirkan banyak hal yang tidak sungguh layak dipikirkan. Dan akhirnya kehilangan mimpi-mimpi dan tidak mampu memilih di antara begitu banyak pilihan.

Seorang Temple tidak memiliki kekhawatiran semacam itu dalam hidupnya. Ia hanya berusaha terus melakukan hal-hal yang ia sukai, melakukan hal-hal yang menyenangkan, bersungguh-sungguh, dan terus memperjuangkan hal-hal itu sepenuh hati. Dibandingkan dengan begitu banyak manusia yang mengumbar pendapat mengenai hidup yang ideal, saya pikir idealitas mereka tidak sejujur apa yang terjadi pada Temple. Tipu daya saja semuanya. Palsu saja semuanya. Ketidakyakinan saja semuanya.

Tapi tentu saja, ada manusia-manusia yang hidup dengan kemanusiaan yang tulus, dengan keyakinan yang besar, dengan kesenangan yang utuh. Dan ada manusia lain yang tidak mempercayai bahwa ada hal-hal semacam itu di dunia ini. Lalu sebagian lain memilih berada di irisan keduanya, atau menyingkir sama sekali untuk tidak akan bersentuhan dengan kutub ekstrem itu.

Mungkin tulisan ini masih palsu saja. Mungkin saya sebenarnya tidak sungguh mengagumi hal-hal itu. Mungkin saya juga masih begitu ambisiusnya seperti sebelumnya. Mungkin saya hanya berpura-pura. Sering kali orang lebih merasa nyaman meyakini bahwa orang lain berpura-pura bersikap baik, atau sesungguhnya mereka memiliki maksud lain. Entahlah.

Ada banyak hal yang sederhana saja, sesederhana kehidupan Ernest dan Ethel yang ceria, kadang berlinang air mata, kadang penuh kekhawatiran, kadang penuh rasa syukur. Biasa saja.

Apakah hal yang biasa saja itu lantas tidak dalam dan tanpa makna? Saya kira berpikir demikian sama halnya menyatakan kesombongan. Anehnya, tidak ada determinasi tertentu yang dapat digunakan untuk menstandarisasi sebuah kehidupan. Proseslah yang paling nyata dibandingkan semuanya. Karena ia niscaya dan abadi keberadaannya. Terangkum kesemuanya dalam tiga hal saja; lahir, berproses, lalu mati. Sudah begitu saja mungkin.

Beberapa mencapai kemanusiaannya, beberapa bertahan menjadi pecundang, beberapa menolak untuk sekedar menjadi manusia, beberapa yang lain dibutakan hal-hal yang seharusnya hanya sebatas sarana, beberapa tidak tahu apa-apa, beberapa menerima saja segalanya, dan terus beberapa-beberapa yang lainnya. Dan sudahlah, malam telah semakin larut saja.

Untuk yang belum menonton, ini saya kasih linknya.

https://indoxxi.net/movie/temple-grandin-2010-subtitle-indonesia-pxe

wordsflow

Anime Vibes and Everything Behind


“Kok kamu bisa gambar sih?”

Pertanyaan itu beberapa kali disampaikan teman-teman saya ketika mendapati karya saya atau melihat saya sedang menggoreskan pensil di atas kertas. Tidak bisa disangkal, kehidupan perkomikan saya di masa SMP lah yang membawa saya menjadi diri saya hari ini. Mungkin hal itu juga yang membuat saya memberikan ruang tersendiri kepada pengarang-pengarang komik kesukaan saya, cerita-cerita kesukaan saya, hingga akhirnya saya mengenal anime.

Ada komik seri yang sangat saya sukai, dan tidak banyak saya kira yang mengikuti komik ini. Judul komiknya Q.E.D., dan dibandingkan Conan yang kala itu sangat populer, dia jauh lebih sedikit penggemarnya. Sebagai komik yang juga mengangkat tema detektif, maka ia tenggelam di bawah bayang-bayang popularitas Conan. Tapi, mari saya ceritakan mengapa saya katakan itu komik yang paling mempengaruhi hidup saya.

*Date by RADWIMPS is playing*

Saya suka hitung-menghitung sejak kecil. Saya agak lupa bagaimana bisa saya bertemu Q.E.D., tapi kalau tidak salah ingat saya melihat deretan komik itu di tempat peminjaman komik di depan SMP saya. Berbeda dengan Conan, Q.E.D. tidak sekedar menawarkan cerita detektif yang sulit dipecahkan, namun juga ilmu pengetahuan, terutama matematika dan astronomi. Saya mengenal rumus Euler dari sana, mampu menghafal bilangan phi juga dari sana, tahu lubang hitam bahkan dari sana, memahami geometri, dedekind cut, menghitung bilangan prima, atau berbagai urusan lainnya yang berhubungan dengan matematika, praktis saya pelajari dari komik itu. Pun, saya pernah meletakkan impian kuliah saya di MIT karena komik itu. Menelusuri tragedi penyihir Salem juga saya ketahui dari komik itu.

Secara keseluruhan, bisa dibilang komik itulah yang menjadi penunjuk jalan saya selama jenjang SMP hingga pertengahan SMA. Hingga akhirnya Motohiro Katou ini menulis komik yang juga bertema detektif dengan tokoh yang berbeda dan dengan latar penceritaan yang berbeda, C.M.B. Sekali lagi Motohiro Katou berhasil mengubah saya dengan manawarkan komik detektif berlatar arkeologi. Saya kurang tahu seberapa besar popularitas kedua komik ini, yang jelas keduanya mengubah hidup saya dan cara pandang saya.

Saya ingat pernah bertengkar dengan ibu saya karena membaca komik menjadi hal yang menyita waktu luang saya ketika SMP. Ibu saya kala itu menganggap bahwa komik tidak membawa pengaruh apapun dalam hidup, bahkan tidak memberi manfaat dan malah memberikan kerugian. Tentu saja saya marah dengan pernyataan itu, karena sungguh, saya belajar sangat banyak karena berteman akrab dengan dunia perkomikan di kala itu.

Pun begitu dengan menggambar. Saya mempelajari geometri dari komik, dan terdorong untuk mengembangkan kemampuan saya menggambar karena berharap bisa membuat komik sendiri. Bahkan, ke-Jepang-an itu muncul dan saya pegang teguh hingga masa akhir SMA saya ketika akhirnya saya memutuskan untuk mengambil kesempatan beasiswa ke Jepang. Sayang sekali dua kali mendaftar saya tidak diterima. Pun demikian dengan cita-cita saya masuk MIT menjadi hal yang begitu jauh ketika saya menyadari bahwa kampus impian saya itu mustahil sekali saya masuki. Lebih-lebih ketika saya tahu dari film A Beautiful Mind bagaimana MIT itu sebetulnya. Tetap saja, saya masih terkagum-kagum menyadari bahwa saya pernah sungguh bermimpi bisa masuk ke kampus itu.

Lebih dari itu, hingga hari ini saya masih menikmati berbagai judul komik yang saya ikuti sejak SMP. Banyak yang masih terus saya baca meskipun saya sudah hafal betul dengan dialog yang ada di dalamnya. Kadang ketika saya ingat bahwa saya ternyata belajar banyak dari komik, saya sadar bahwa mungkin pendidikan bukan hal yang sungguh-sungguh memacu saya untuk melakukan hal-hal di hidup saya. Bisa jadi motivasi itu memang sangat sederhana. Bahkan tidak pula datang dari keinginan untuk membahagiakan keluarga.

Lalu SMA, saya bertemu dengan Ghibli, yang juga mengubah hidup saya. Mungkin memang saya cenderung lebih suka film kartun atau anime dibandingkan dengan film-film Hollywood. Entah mengapa. Saya pun menghabiskan semua film Ghibli selama masa SMA saya dengan mengobrak-abrik tempat DVD bajakan setiap hari Minggu untuk mencari film-film itu. Saya ingat pernah juga berramai-ramai menghabiskan seri Code Geass dengan kerumitan politiknya.

Lalu, di pertengahan kelas 2 SMA, seorang senior cowok saya, tiba-tiba mempopulerkan anime 5 cm per Second. Sebuah anime yang berisi 3 cerita mengenai satu orang tokoh utama. Yang luar biasa adalah, judul itu tidak hanya dibuat anime-nya saja, namun juga ada komik dan novelnya. Sebagai seorang yang doyan anime, yang saya dan teman-teman kritisi waktu itu adalah kemampuan Makoto Shinkai dalam mengolah anime yang dia buat. Kabar-kabari dari senior-senior saya, itu adalah one man project-nya Makoto Shinkai. Saya tidak pernah mencari tahu soal ini, karena saya hanya peduli betapa keren yang ia kerjakan dengan anime itu.

Hayao Miyazaki dan Makoto Shinkai kemudian menjadi dua orang yang saya kagumi di dunia per-anime-an. Sementara anime seri lain yang populer bahkan tidak pernah saya tonton, meskipun sangat ingin memahami ceritanya, misalnya saja One Piece atau Samurai X. Yah, sejauh yang bisa saya ingat, hanya Code Geass dan Death Note yang saya tonton dari episode 1 hingga episode terakhirnya dengan khidmat.

Jepang, menjadi negara impian saya sejak SMP, dan saya pikir kegagalan saya mendapat beasiswa ke negara itu adalah akhir dari impian saya bertandang ke Jepang sebagai seorang mahasiswa. Bagaimanapun waktu tidak dapat diulang, saya akan terus bertambah tua kan. Demikian, angan-angan untuk datang ke Jepang tidak lagi membawa semangat menggebu-gebu seorang pelajar seperti saat saya masih SMP atau SMA dulu.

Meskipun demikian, entah karena alasan apa, suatu hari saya mencari secara iseng di Youtube tentang ‘8 Anime yang wajib kamu tonton’. Beruntung sekali karena daftar saya yang terakhir saya selesaikan kemarin ketika film Koe no Katachi bisa ditonton secara streaming. Meski setelah itu saya menambah daftar anime wajib lagi hingga jumlahnya menjadi 100, hehe.

Inti dari cerita ini apa?

Nggak ada, saya hanya mau cerita tentang hal lain yang sangat mempengaruhi hidup saya melebihi yang saya pikirkan sebelumnya. Ternyata saya pernah berpegangan pada impian-impian besar, bukan melulu pada perasaan terhadap seseorang. Mungkin tulisan ini juga efek saya maraton anime kemarin siang, mengulang Kimi no Na Wa. dan Hotarubi no Mori e. Padahal anime, tapi saya selalu berhasil tersentil dengan sangat dalam oleh mereka, sial.

*Nan Demonai Ya is playing in background*

Dan, lagi-lagi anime tidak bisa dipisahkan dari soundtracknya. Begitulah yang kemudian membuat saya berulang kali memutar lagu-lagu Joe Hisaishi, Cecile Corbel, dan akhirnya RADWIMPS. Anime vibes ini tidak juga berakhir. Jadi, mari tenggelam semakin dalam.

wordsflow

*

Akhirnya saya menulis lagi, hahahahaha. Sudah lama saya ingin mereview hal-hal yang saya suka. Anggap saja saya sedang memberi review Q.E.D. Sungguh, komik itu sangat layak untuk dikoleksi.

(Tetap) Senyap


Sudah seminggu lebih orang-orang heboh dengan kehadiran film Senyap; sebuah film dokumenter karya Joshua Oppenheimer yang berhubungan erat dengan film sebelumnya, The Act of Killing (Jagal). Tersadar kemarin, ternyata dulu saya belum pernah selesai menonton film yang pertama, akhirnya saya menuntaskan film pertama agar lebih paham tentang film yang selanjutnya.

Bisa dibilang saya bukan maniak PKI, teori konspirasi, politik, dan sejarah kelam suatu bangsa, tapi tentu saja saya merasa harus tahu tentang kejadian-kejadian sebelum saya lahir, terutama karena kebanyakan orang yang terlibat hingga kini masih hidup.

1965, setahun setelah ayah saya lahir. Jika dibayangkan, pada masa itu jelas yang sangat berperan penting dalam masyarakat adalah mereka-mereka yang memiliki umur berkisar antara 20-35 tahun. Jika dikaitkan, di umur itulah kebanyak korban pemberantasan PKI dan para pelakunya ketika itu. Sementara, teror terhadap kekelaman masa lalu masih berlaku hingga ke pelajar-pelajar di masa Order Baru, dan karenanya saya menjadi yang termasuk di dalamnya (saya lahir tahun 1992). Sejak saya mulai paham, orang-orang di sekeliling saya masih membicarakan kebengisan PKI. Bahkan ketika salah satu tetangga saya yang pernah masuk Gerwani meninggal dunia, tak banyak yang mau membantu prosesi penguburan mayatnya, dan tentu saja hampir semua warga bergunjing kembali tentang PKI.

Kesimpulan sederhana saya sampai paragraf ini adalah, hampir semua orang di Indonesia adalah generasi yang masih menyimpan pemahaman yang salah tentang sejarah PKI tahun 1965.

Saya sesungguhnya tak sepenuhnya paham dengan komunisme, dan bahkan terkadang saya tidak dapat secara yakin membedakannya dengan paham sosialis. Tapi sedikit banyak, kedua paham itu adalah bentuk protes atas ketidaksetaraan yang terjadi di lingkungan masyarakat tempat mereka tinggal. Cita-cita kemenangan paham komunisme di Indonesia juga didasarkan atas hal itu.

Lantas mengapa PKI dianggap kejam dan bengis?

Karena mereka adalah pihak yang kalah, pihak yang tidak ‘memiliki’ sejarah.

Seperti yang saya katakan dalam tulisan saya sebelumnya, sesungguhnya masing-masing orang di dunia ini memiliki perjalanannya masing-masing. Sehingga semua yang ditulis oleh individu adalah semua yang menurut mereka terjadi pada mereka, apa yang mereka tangkap atas kejadian-kejadian. Dan karenanya, untuk menungkap sejarah, satu-satunya cara adalah melihat dari banyak perspektif, lantas kita menyimpulkan dari luar itu semua.

Ah, kembali ke filmnya…

Di film yang pertama, saya sangat terbawa dengan suasana yang diciptakan dari film. Saya jadi turut berpikir tentang banyak hal. Dan jika film ini ditonton seorang diri, maka pada akhirnya kita akan lebih paham tentang cara pandang orang-orang di dalamnya; mengapa mereka membunuh, mengapa mereka menganggap diri sendiri seorang pahlawan, dan sebagainya.

Sedangkan di film Senyap (entah mungkin karena mengambil filmnya berlatar desa), saya menganggap bahwa penolakan itu masih sangat keras pada masing-masing individu. Bahkan hanya untuk sekedar mengakui bahwa suatu ketika terbersit dalam diri mereka bahwa benar mereka membunuh, atau bahwa benar mereka adalah anak keluarga pembunuh. Pandangan tentang komunisme masih terasa jijik di mata mereka, dan bahkan sepenangkapan saya, hingga hari ini mereka bahkan tidak pernah mencoba mencari tahu tentang komunisme dalam artian yang sesungguhnya.

Saya yang lahir jauh setelah teror itu masih mengingat dengan jelas pelajaran sejarah tentang PKI hingga di bangku SMP, persis sama dalam film. Cerita yang tersebar di sekitar lingkungan saya juga masih tidak berubah. Hanya ketika memasuki bangku SMA yang lebih kompleks, saya akhirnya bisa mengakses lebih banyak buku, saya semakin memiliki akses ke perspektif lain tentang peristiwa itu. Semakin sering pula saya mencoba membayangkan berada di posisi Angkatan 65 yang menjadi tokoh utama di masa itu.

Semakin di renungkan, semakin saya mencapai kesimpulan bahwa negara ini masih dihantui makhluk gaib bernama komunisme, tanpa ingin lebih banyak tahu apakah makhluk itu malaikat atau setan. Masih banyak yang menjunjung tinggi premanisme dan kekerasan. Terkadang saya berpikir, tak pernah kah mereka membayangkan jika keadaan itu berbalik? Jika saja masing-masing kita lahir di keluarga yang sama sekali berbeda?

Budaya waris masih sangat ada di Indonesia, terutama yang berhubungan dengan kekuasaan. Akan semakin terasa jika kita hidup di desa, dimana informasi berjalan lambat dan diulang-ulang.

Maka hingga hari ini, banyak orang tetap tidak suka membuka bahasan tentang PKI dan korban kekerasan 1965. Buat saya pribadi, saya tak pernah merasa sedih dengan peristiwa itu, toh sesungguhnya saya tidak pernah terlibat secara langsung. Tapi sejak kecil saya terganggu dengan ketakutan yang ditebarkan atas nama komunisme yang tidak saya pahami. Rasa iba itu baru datang ketika saya melihat dan membaca perspektif para pelaku sejarah itu, mencoba mencerna apa yang ingin mereka sampaikan atas tindakan mereka, yang mana pun itu.

Seharusnya, kita sudah tak lagi dihantui ketakutan itu. Kita wajib melepas dendam dan murni mencari kebenaran. Kita wajib memisahkan diri dan melepas keberpihakan kita agar kita dapat menangkap semuanya. Kita wajib mempelajari semuanya, bukan untuk menyimpulkan kesalahan siapa, tetapi untuk mengikhlaskan peristiwa itu sebagai sejarah kelam negeri kita.

Jika tak juga kita memisahkan diri sebagai individu merdeka, maka kebenaran itu akan tetap senyap entah sampai kapan.

wordsflow