WORDS FLOW

just go with the flow and whatever happens, happens

Category: on Architecture

And she cannot breathe because of the ground coverage.


Thinking about it while having a small trip to Jogja today. I was not really thinking about it before, considering that my concern was only the increasing amount of water going into the river, but not really the earth itself.

Well, looking at the ground all around, I realized that there is only a really small space of land uncover any hardening material such as asphalt, concrete, stone, or whatever hard materials. To imagine that earth is actually alive (it moves, changes, grows, and even breathes) the consciousness of she is trapping inside the darkness and couldn’t breathe disturb me. How cruel we are.

This might be too far to think that it is ‘she’ and she could breathe and could feel the way the human does. But imagine how the soil would bring life to the microorganisms inside its body if no light could pass the solid concrete and no oxygen could pass through those things? Yes, there are microorganisms that could live without oxygen and light, but it saddens me to realize that it happened.

Later I imagine if Earth’s skin has pores just like us, then one part of our skin had been covering with something the whole time, an acne will appear. That’s what might happen on Earth, cause we never know what she thought about our treatment of her.

But to be honest, I still love to visit nice buildings, see them, or even have one of them. As an architecture graduate student, a building is a representation both knowledge and practice to be aiming last forever through the changes of people and activities inside it, or even climate. It is really ambitious, to be honest, make a building permanently while every indigenous society always makes their buildings temporary rather making it last forever. They knew that people would change through time. They would not last forever and so, the concept of the permanent building seems quite ridiculous for them.

But do you really think that they are thinking that way? Maybe it’s only me who trying to seek a justification for my opinion.

I do not really have thoughts about what’s better to be done recently. Researching in an environmental problem makes me think so much about what is good for the environment and for society in its balance. Hence, they said that environment is aimed to be created for human livelihood. Besides, in Dan Brown’s latest novel (I don’t really sure to relate this to his book or not but it still necessary) he said that later human and robots would be a partner in living this Earth. Another opinion said that it’s okay that we face the environment depletion because we are driven by the law of nature; the strongest who will survive through evolution.

What is true is not certain because we haven’t been in the future itself. But the debates were important to realize what people really think about the future of our Earth. Will human be transferred to another planet or we would certainly be trapped here facing the increasing of the heat or sea level? Or it is still too far to be thinking?

I don’t know. I don’t really have thought about it.

Once before, I was really wanting to have children, but whatever I said about it back then, I have to admit that the purpose of having children still so egoist comparing to what I’ve been saying. But this confusion about the human role in this Earth really disturbs me.

When there are people some places on this Earth trying to protect what they have, there are people another place have no interest and really ignorant about what was going on. Not because they don’t know about it, but simply because of ignorance that they have. Somehow it turns to be frustrating sometimes and I would end up doing nothing but to relax my mind.

I know that everything is way too idealist to be true. But have a kind of idealism is really necessary to keep every dream alive and last to forever, being transferred to the next generation and so on.

I realized (I really do) that the practice that I’ve done really far from ideal. That’s also somehow quite frustrating and making me feeling unsatisfied with myself. The process always full of debates while my mind trying hard to bring the connection between one matter to another one until all those things linked together as one. But before it came to the big figure of what’s-going-on-right-now image, I lost myself. Everything became so absurd in sudden.

Again, even how many times I tried to reconnect them again, the absurdism came to me and erase the belief that I have.

This isn’t something important to you and might never be understood as I also hardly to reconstruct it here by now. But I want somehow, to encourage or being encouraged instead by people to be able to do something to environment and society, yet bring the positive impact to it.

How far this road that we walk on. So far the peak ahead. So hot the air we breathe. So patient the Earth we living on.

wordsflow

Advertisements

saya dan arsitektur


Sudah lebih dari 2 tahun saya menyelesaikan studi arsitektur saya, dan hari ini sebuah pertanyaan tiba-tiba terbersit di dalam pikiran saya.

Masihkah saya layak disebut sebagai lulusan arsitektur?

Seminggu yang lalu saya bertukar cerita dengan Tamimi, rekanan saya di jurusan dulu yang hingga hari ini masih menggeluti arsitektur. Dia orang keren. Amat sangat jauh dengan saya, dia mendalami arsitektur tanpa berhenti belajar, baik dalam bidangnya maupun hal-hal lainnya. Sejak lulus, sahabat saya ini langsung masuk konsultan dan tentu saja, sudah ada beberapa karyanya yang dibangun. Bukan hanya itu, dia berani menantang diri sendiri untuk masuk ke hal-hal yang barangkali, kalo saya tidak akan mencobanya. Hahaha. Kami sempat membicarakan rencana-rencana ke depan. Dibandingkan dengan saya, dia lebih teguh untuk tetap mengambil studi magister di jurusan yang sama; arsitektur.

Lebih jauh lagi, teman-teman saya yang begitu lulus langsung melanjutkan ke studi kini bahkan mulai memperkenalkan bironya sendiri-sendiri. Beberapa dibangun secara mandiri, namun tidak jarang yang saling berkolaborasi. Ada juga teman-teman saya yang sudah mulai kembali ke kampus untuk menjadi dosen. Dan tentu saja, masih sangat banyak teman-teman saya yang lainnya yang masih ada di jalur itu dengan berbagai prestasi mereka yang luar biasa.

Apa gerangan yang menyebabkan pertanyaan itu muncul?

Adalah kerjaan saya membuat konsep dan mempersiapkan pameran selama seminggu belakangan ini. Saya ingat masa-masa kuliah saat harus begadang mengerjakan tugas. Padahal tugas itu sudah diberikan jauh-jauh hari. Jauuuuuh sekali. Dan selalu saja saya baru mulai mengerjakannya di waktu-waktu yang mepet.

Kadang-kadang saya masih bertanya-tanya kenapa saya begitu malas masuk kuliah ketika itu. Padahal banyak sekali hal menyenangkan di kampus yang bisa saya kerjakan. Lantas saya juga menggali ingatan tentang teori-teori yang selama ini saya pelajari di kampus.

Nihil. Saya lupa sekitar 70% dari kuliah yang saya peroleh. Yang tersisa hanya pengetahuan dasar terutama pada soal konstruksi dan sirkulasi; dua hal yang paling saya suka dari mendesain. Sisanya, termasuk di dalamnya kuliah tentang estetika dan sebagainya itu, sulit saya ingat kecuali masa-masa ketika saya tidak sepakat dengan dosen saya.

Saya memang ingat semua desain yang pernah saya buat selama kuliah. Namun ketika saya membuka dokumennya di laptop, tidak banyak yang saya temukan di sana. Hahaha. Sudah saya tidak punya kamera, pun semua kerjaan saya masih saya kerjakan manual. Satu-satunya desain yang saya digitasi hanyalah Tugas Akhir. Masa-masa tersulit saya dalam hidup agaknya. Bahkan saya ragu masa menulis thesis nanti akan lebih sulit dari itu.

Cita-cita saya sederhana sebetulnya, saya hanya ingin membangun rumah tinggal sendiri. Untuk itulah saya berupaya untuk menjadi arsitek. Barangkali hal itu sangat tidak masuk akal untuk hari ini. Di saat segala hal sifatnya sangat komersil, menjadi arsitek rumah tinggal sama halnya bunuh diri karena tidak akan banyak yang diperoleh, bahkan untuk hidup pun belum tentu cukup. Tapi saya masih menganggap hal itu sebagai cita-cita yang layak untuk saya kejar. Dan sangat layak untuk saya perjuangkan.

Tapi bagaimana cara mencapainya?

Sejak lulus, saya hampir tidak pernah menyentuh arsitektur. Saya tidak pernah update dengan arsitek-arsitek terkenal di hari ini, saya tidak kenal arsitek di Indonesia, saya tidak tahu karya-karya hebat, dan lebih parah lagi saya tidak memperkaya pengetahuan saya pada ranah arsitektur dan teknologi bangunannya. Dibanding membaca semua hal itu, saya cenderung lebih suka membaca novel klasik, atau menonton anime.

Di waktu-waktu seperti inilah saya menghadapkan diri pada pilihan untuk berhenti berarsitektur atau tetap memegang cita-cita saya sebagai arsitek rumah tinggal.

Pertanyaannya, bagaimana memastikan bahwa saya ‘berhenti’ atau ‘tetap bercita-cita’? Parameternya tidak ada, dan variabelnya pun tidak jelas.

Barangkali, ini bukan persoalan berhenti atau tidak, lanjut atau tidak. Saya pikir hal semacam ini lebih pada soal kecintaan. Cieeh. Maksudnya, sebagai orang yang selalu sulit menjatuhkan pilihan, ada ketidakrelaan di dalam diri untuk melepaskan arsitektur dan sepenuhnya berpindah ke antropologi. Saya terus menerus dengan jumawanya mengatakan ke diri sendiri bahwa lintas jurusan tidak pernah salah, pada dasarnya semua ilmu cocok satu sama lain. Saya mendua memang, tapi saya mencintai kedua studi itu.

Ada banyak hal di arsitektur yang belum tuntas saya pelajari dan barangkali tidak akan pernah tuntas selamanya. Demikian juga di antropologi ada begitu banyak hal yang tidak bisa saya padu-padankan dengan studi arsitektur, tapi itulah tugas yang saya petakan untuk diri sendiri.

Tidak jarang saya tersenyum senang ketika ada yang memuji kenekatan saya mengambil lintas jurusan meski tidak memiliki latar belakang yang sungguh mendukung (saya belum pernah penelitian sama sekali!). Tapi sebetulnya saya mengirikan status ‘arsitek’ yang sungguh-sungguh disandang teman-teman saya yang telah berkarya. Sedangkan saya belum berhasil menelurkan satu karya arsitektur pun. Hahaha.

Dan begitulah. Saya sering meledek diri sendiri karena pemalas luar biasa dan akhirnya hanya bisa melihat orang lain berkembang dari jauh. Saya rindu diskusi-diskusi arsitektur, hehe. Tapi saya orang yang selalu ragu memastikan partner terbaik. Jadilah saya ngobrol dengan sesiapa yang bisa saya temui.

Kabar baiknya, saya ternyata masih bersemangat membuat maket dan masih paham skala. Bahkan setelah tangan pegal dan tengkuk sedikit nyeri, saya ternyata tidak bad mood dan nggak mutung. Sementara, itu saja sudah lebih dari cukup untuk memastikan bahwa masih ada harapan untuk saya dan arsitektur.

Tabik.

wordsflow

RIP Zaha Hadid


Entah mengapa saya terpanggil untuk menulis ini, tapi mari saya perkenalkan dulu kalian pada Zaha Hadid.

Zaha Hadid, dikenal begitu luas di dunia arsitektur sebagai arsitek wanita paling berpengaruh di era modern. Belum pernah ada sebelumnya yang begitu kontroversial seperti beliau, dengan begitu banyak karya yang luar biasa (tentu bersama kritik yang luar biasa pula). Mungkin selama seharian besok, atau mungkin beberapa waktu mendatang akan ada beberapa orang yang menyebut nama beliau. Ya, sebab kini beliau sudah tak lagi mampu berkarya, masanya telah usai dan saatnya menjadi arsitek di dunia berikutnya.

Secara pribadi, saya bukan penggila karya-karya Zaha Hadid, karena bagi saya karyanya terlalu luar biasa untuk menjadi nyata. Hahaha. Neofuturistic yang dibawanya bukan selera saya. Meski demikian, orang normal pun pasti akan terkesima dengan karya-karya yang beliau. Dengan bekal studi matematika dan arsitektur, beliau bisa menggabungkannya untuk menciptakan bangunan yang memiliki perhitungan struktural begitu rupa. Hemm, bisa dibilang cuma beliau yang membangun bangunan-bangunan semacam itu sekarang-sekarang ini. Ya nggak tau sih nanti ke depannya mungkin (dan pasti) bakal ada juga.

Tapi, mengesampingkan kritik begitu banyak orang yang nggak terlalu suka beliau, saya pribadi kagum begitu rupa dengan ibunya. Beliau adalah wanita pertama di dunia arsitektur yang mampu menembus berbagai penghargaan dunia lewat karya-karyanya yang dikritik begitu banyak pihak. Beliau wanita yang bahkan bagi arsitek pria pun dianggap sangat inspiratif. Jelas sekali bahwa sebagai seorang arsitek kemampuannya tidak dapat diragukan. Duh pokoknya dia super keren lah.

Bahkan di awal saya tahu namanya, nggak terlintas di pikiran saya bahwa itu nama seorang wanita. Saya pikir dunia arsitektur hanya dikuasai kaum laki-laki. Tapi ternyata tidak juga. Setelahnya, saya begitu sering mendengar nama Zaha Hadid, dalam berbagai pembahasan, baik di kuliah maupun di media.

Yah, nggak banyak yang bisa saya katakan tentang ibu kami yang ini, tentang guru kami yang ini. Tapi saya sedih. Tak pernah sebelumnya saya merasa kagum pada sosok wanita di luar lingkungan saya seperti pada beliau. Karenanya, saya ucapkan selamat jalan. Terima kasih atas pelajaran yang berharga semasa kuliah, atas inspirasi yang begitu besar untuk dunia arsitektur, untuk karya-karya yang menggambarkan kondisi zamannya, untuk segala yang ditinggalkan. Dunia arsitektur kehilangan satu sosok berharga sekali lagi.

Rest in peace.

wordsflow

kota, saya, kamu, dan semoga kita


Kota-kita, kota-manusia, kota-dan-arsitektur, atau semua rangkaian kata tentang kota dan sesuatu selalu menyenangkan untuk didengar.

Entah bagaimana dengan orang lain, tapi saya bukan saja suka menyepi di ketinggian bumi atau di tempat terbuka, tapi saya juga suka menyepi di keramaian jalanan kota. Nah, mari kita bahas bagian kota dulu ya, karena saya terlalu sering bicara tentang alam terbuka.

Menurut Kevin Lynch, kota bisa dinilai dari pathnya, karena kita selalu datang melalui jalan, entah itu dengan berkendara atau berjalan kaki. Dengan demikian, ketika sebuah kota tidak memiliki jalan yang menarik perhatian, hampir pasti kota itu tidak menyenangkan. Hampir saya bilang.

Terkadang kita menginginkan banyak hal untuk tetap ada pada sebuah kota. Beberapa begitu memuja bangunan tua, beberapa begitu terpesona pada yang telah sirna, beberapa menggebu-gebu untuk menggantinya dengan yang baru.

Kota adalah sesuatu yang berkembang, dan seharusnya tak menjadi soal bagaimana bentuk perubahannya. Tapi banyak yang kemudian merasa bahwa perubahan kota telah begitu banyak membuat identitasnya berubah. Mungkin, di sini letak salah kaprahnya.

Pak Ikaputra (dosen saya di jurusan yang sangat keren), membuat teori tentang bagaimana cara membaca sebuah kota. Bagaimana cara menemukan identitas suatu kota secara tepat. Sesungguhnya identitas adalah kolektif memori dari setiap orang yang datang ke suatu kota atau yang tinggal di dalamnya. Kevin Lynch menyebutkan bahwa dalam sebuah kota, terdapat 5 komponen penting yang perlu diperhatikan untuk menentukan identitas suatu kota; path, district, node, landmark, dan edge. Masing-masingnya cukup kita temukan dan voila! identitas kota tersebut ditemukan. Haha.

Ya mungkin tak akan semudah itu dalam praktik lapangannya, namun sesederhana itu kok caranya menemukan identitas suatu kota.

Terkadang yang membuat kita lupa adalah bagaimana posisi kita dalam membentuk kultur yang ada di suatu wilayah. Kadang kita lupa bahwa kita bagian utama dari suatu kota. Bahwa yang menghidupi kota adalah manusia-manusia yang ada di dalamnya.

Karenanya, banyak-banyak lah bermain di luar. Banyak-banyak lah jalan kaki dan melihat bagian kecil dari sebuah kota. Bagaimana pedagang kaki lima mengemas dan menjajakan barang dagangannya. Bagaimana tukang becak mengayuh becaknya. Bagaimana seniman mencoret dinding dengan seni mural mereka. Bagaimana suara-suara yang ada di sekitar kita. Bagaimana melihat setiap hal bergerak bersama di keramaian. Dan bagaimana merasakan diri kita hanyut di dalamnya, menjadi subjek untuk diri sendiri, dan objek bagi yang lainnya.

Dulu saya begitu menggebu-gebu mempertahankan bangunan-bangunan lama yang ada di kota. Mengkritik sinis yang melakukan perubahan ini itu di bangunan-bangunan lama. Tapi ketika itu saya tidak paham esensi mempertahankan suatu benda. Tanpa kegunaan, benda bukanlah apa-apa. Ia hanya sebatas benda mati yang tidak berfungsi. Seindah apapun itu.

Maka prinsip konservasi pun harus juga dibarengi dengan kegunaan. Karenanya muncul istilah revitalisasi, dan rombongannya itu yang sering saya sebut kebalik-balik.

*

Oh well, maaf karena tulisan ini tidak selesai. Tapi sayang membiarkannya begitu saja. Jadi saya sudahi saja.

wordsflow

as a graphic designer


Sudah lama saya tidak membicarakan tentang hal-hal yang saya lakukan.

Saya sedang menikmati hari-hari menjadi graphic designer. Sebutlah saya memang lulusan arsitektur, dan saya juga punya perhatian yang besar pada dunia arsitektur. Hanya saja, saya tidak begitu tertarik bekerja di bidang arsitektur, entah kenapa.

Sejujurnya saya lebih tertarik di seni, kerja lapangan, mungkin juga kerja sosial. Tapi apa daya, sepertinya ketertarikan saya tidak pernah dibarengi dengan niat yang sama-sama baiknya, atau jaringan yang memotivasi dan mempermudah semua itu. Hem, dan sayanya juga terlalu sering menunggu diajak, dari pada mengajak atau menginisiasi sesuatu.

Ih, tulisan ini jadi negatif auranya.

Nggak sih, saya suka mengerjakan semua hal yang menyenangkan, dan graphic designer salah satu hal yang menurut saya menyenangkan. Ini juga masih tahap belajar meskipun jenis kerjaan saya sungguh-sungguh serius, tapi tetap saja itu namanya belajar. Tujuan akhirnya sederhana, karena saya tidak suka melihat papan reklame yang nggak enak dilihat, terlalu banyak warna, terlalu banyak gambar, terlalu tidak membuat nyaman lingkungan sekitarnya.

Kadang saya menyayangkan orang-orang yang tidak memperindah logo-logo jualannya atau iklan mereka dengan bantuan desainer. Padahal nilai jual sesuatu akan meningkat hanya karena hal-hal sederhana ini.

Kantor saya bergerak di bidang interior desain dan sangat mungkin jika saya juga nggak suka dengan beberapa proyek yang dikerjakan. Saya punya gol yang lebih besar ketika saya menandatangani kontrak, yaitu mencari jaringan yang lebih luas dari lingkup kampus saya. Mungkin semasa kuliah saya terlalu sibuk dengan SATU BUMI (bukan menyalahkan), tapi sedikit banyak kecenderungan saya jadi berbeda dengan teman-teman sekampus saya.

Saya pikir saya perlu menguasai hal-hal semacam ini untuk mampu bergerak sendiri. Karena banyak arsitek yang terlalu total pada bangunannya, tapi selalu salah dalam menata interiornya. Atau bisa saja segalanya telah begitu sempurna namun tak mampu membranding dirinya dengan baik. Lihatlah, berapa banyak bangunan yang berakhir demikian.

Nggak kok, saya nggak pesimis dengan dunia arsitektur, karena toh saya juga mencintai kehidupan kota dan benda-benda mati yang ada di dalamnya. Saya cuma ingin melihat segala hal berkembang bersama-sama, bukan salah satu mendominasi yang lainnya. Saya nggak terlalu tahu prosedur dan syarat CSR untuk perusahaan, namun setiap kota adalah jaringan, dan setiap kebutuhan perusahaan adalah juga dipengaruhi dan mempengaruhi elemen paling miskin dalam suatu kota.

Kenapa ya, pikiran sederhana tak pernah mampu menyelesaikan masalah. Selalu saja yang begitu dianggap kurang di negeri ini. Selalu saja yang sederhana dianggap remeh. Ada yang berpikir memperindah batu adalah dengan memahatnya, tapi yang lain menyelesaikannya hanya dengan melapisi dengan coating. Keduanya indah, namun yang satu butuh waktu lama, yang satu hanya butuh 5 menit. Saya anggap penyelesaian desain juga hampir serupa. Banyak yang ingin tampak mewah, namun melupakan kesederhanaan desain.

sederhana atau rumit itu sama bagusnya

Ini hanya masalah sudut pandang. Karena yang rumit sebenarnya melelahkan.

Maka, saya belajar mendesain untuk menyederhanakan banyak hal. Untuk belajar menempatkan yang tidak simetris tetap enak dipandang. Menyejajarkan yang tidak berhubungan agar saling berinteraksi.

Kerjakan saja semua hal, biar bisa banyak meskipun nggak mendalam.

wordsflow

Budaya Makan


Saya masih sempat mendengar kalimat ‘makan nggak makan ngumpul’ pada masa sekolah saya dulu. Kayaknya di kala itu orang bodoh amat mau makan di tempat apapun yang penting enak, cukup murah, dan bisa berkumpul dengan rekan sejawat atau kolega yang sedang ingin mempunyai urusan bisnis dengan kita.

Kemarin lalu, saya sempat ikut nimbrung obrolan tentang tempat-tempat makan baru di Jogja. Atau sebut saja Taman Kuliner yang seharusnya sukses menjadi tempat untuk menemukan bermacam jenis makanan, namun ternyata tidak demikian kenyataannya.

Singkat cerita, jika menilik kebiasaan masa kini, rasa-rasanya tak semua warung makan harus enak. Terkadang cukup dengan tempat yang foto-able, makanan yang estetis untuk difoto, dan jenis makanan yang sedang hits di kala itu. Sebagai contoh, sebut saja warung kopi yang dalam beberapa tahun belakangan ini menjamur di Jogja.

Sedih saya, waktu tahu ternyata orang-orang yang katanya menggemari jenis makanan (atau minuman) yang sama ini bahkan saling ‘bertikai’ dengan tidak sopan. Masing-masing warung kopi sayangnya juga tidak menyajikan sesuatu yang menggebrak (beberapa), hingga terkadang hanya sebatas sebagai orang yang ikut-ikutan buka warung kopi. Mungkin nggak juga sih, toh saya juga nggak tahu. Tapi sangat terasa persaingannya jika kamu orang yang juga hidup di dunia perkopian. Sedih deh.

Ah, mari kembali ke topik makanan tadi. Maaf aja sih kalau saya nulisnya rada ngalor ngidul atau diulang-ulang. Sebatas menyebutkan yang sedang saya pikirkan tentang masalah tempat-tempat makan di Jogja saat ini.

Beberapa tempat makan enak di Jogja malah tidak terlalu diminati karena tempatnya yang nggak terlalu foto-able. Lebih banyak orang yang milih tempat yang bagus buat selfie meskipun rada mahal dan nggak seberapa enak (maksudnya masih ada tempat lain yang jual jenis yang sama tapi lebih enak). Ya, eksistensi jadi barang sangat penting belakangan ini. Kalau nggak kesana nggak nge-hits, kalau nggak makan ini nggak nge-hits, kalau nggak foto disini nggak nge-hits, dsb. Lebih baik nggak punya duit daripada nggak nge-hits.

Tapi yah, nggak mau bersinis ria juga sih, toh mereka-mereka ini pasar yang menghidupi kami yang bergelut di bidang arsitektur, interior, atau desain grafis. Mereka-mereka ini yang membuat kami tetap bisa makan. Meski ya, nggak segitunya juga kali ya. Nggak usah keroyokan, santai aja. Nggak perlu buru-buru, gaya hidup nggak akan membuatmu jadi lebih baik dari orang lain. Biasa aja.

Akhir cerita, saya sebenarnya kehilangan hasrat menulis, tapi memaksakan ini untuk selesai ditulis. Yaudah sih ya, selamat malam.

wordsflow

telaah, memori


Telah lebih dari seminggu saya menelantarkan blog ini. Oh ya, sejujurnya saya sedang tidak memiliki bahan untuk dituliskan, tidak sedang mengalami sesuatu yang penting untuk dicurhatkan. Tapi coba saya tuliskan beberapa hal. Siapa tahu tetiba saya bisa menciptakan karya tulis yang layak baca di malam ini.

Oke, mungkin ada sih yang bisa saya cuhatkan. Dalam hitungan minggu, adek saya akan resmi menjadi istri orang lain, dan meski saya bilang saya baik-baik saja, tetap ada sesuatu yang berubah setiap kali saya menginjakkan kaki di rumah.

setiap detik adalah larik, setiap tempat adalah latar, setiap orang adalah tokoh utama,
setiap kita menciptakan dunia; entah yang nyata atau maya

Saya menuliskan kalimat ini di akun twitter saya beberapa jam yang lalu. Sebatas pengungkapan pendapat, bahwa sesungguhnya kita memainkan peran berbeda di setiap waktu, tempat, dan di hadapan orang yang berbeda pula. Kita tidak pernah menjadi orang yang sama, meski ia masih tetap diri kita sendiri.

Kita, ah mungkin hanya saya, tidak pernah menjadi orang yang sungguh-sungguh sama sepanjang waktu, di semua tempat, dan bahkan di hadapan banyak orang. Selalu ada bagian diri saya yang menyaring kepribadian mana yang harus dan tidak perlu saya tunjukkan. Bagian mana dari diri saya yang seharusnya menjadi dominan. Saya pikir, hanya dengan memahami perubahan dan perbedaan itu, saya akhirnya baru akan mampu memahami diri saya sepenuhnya.

Itu bukan menipu diri atau berkepribadian ganda. Bukan sama sekali. Kesemuanya tetap lah diri saya yang asli. Saya yang jutek, sinis, terkadang baik, penyayang kucing, angkuh, tak acuh, atau kepribadian yang lain, adalah saya yang sesungguhnya. Bukan pula membeda-bedakan tempat atau orang lain, namun ada kalanya menjadi diri kita yang paling nyaman lah yang akhirnya menuntut kita untuk bertindak sesuai waktu, tempat, dan situasi.

Pun begitu dengan saya di kampus, di kosan, di tempat umum, atau saya di rumah.

Kepribadian yang paling saya sukai adalah diri saya ketika di kampus. Itu semacam diri saya yang hanya bisa saya tunjukkan di kampus, sedangkan saya yang ada di kosan, tempat umum, dan rumah tidak akan pernah sepenuhnya menjadi seperti itu. Entah karena lingkungan atau karena penerimaan saya atas hal-hal yang terjadi di kampus, saya menjadi orang yang cukup terbuka terhadap diri saya sendiri dan permasalahan yang saya hadapi. Saya jarang membenci dan lebih banyak tertawa dibandingkan jika saya ada di lingkungan yang lainnya.

Kosan dan tempat umum buat saya merupakan ruang privasi saya yang paling dalam. Karena ketika itu saya banyak menenggelamkan diri di dalam pikiran dan dunia imajinasi saya yang masih berantakan. Saya selalu punya ide cerita atau sajak atau renungan di kedua tempat itu. Saya menjadi pendiam, tertutup, dan cenderung sinis terhadap sekitaran saya.

Hanya dengan merekonstruksi bagaimana itu terjadi, baru akhirnya saya paham bahwa hal itu pun merupakan mekanisme pertahanan diri saya dari ‘bahaya’ yang mungkin mengancam dari luar. Terkadang saya lari dan bersembunyi di dalam batok kepala saya, atau terkadang saya sungguh-sungguh berlari hingga lelah menghampiri. Kesemua hal itu hanyalah mekanisme pertahanan diri saya dari rasa sakit, entah yang mampu dirasakan atau yang hanya berupa renungan.

Oke, cukup lah sendu-senduannya.

Saya rindu naik gunung, amat sangat. Tapi untuk melakukannya, saya butuh beberapa pertimbangan (yang sesungguhnya hanya ada di pikiran saya tanpa pernah saya katakan), dan karenanya hingga hari ini belum juga terlaksana.

Ah, mungkin sebaiknya saya perlihatkan foto-foto pendakian saya ke Lawu suatu ketika dulu, dalam rangka merayakan ulang tahun sahabat pena saya saat SMP. Ini salah satu dari sedikit memori menyenangkan saya di kampus Arsitektur. Ketika itu kami melakukan pendakian lintas angkatan karena sering ngumpul bareng di kantin kampus. Pendakian super sembrono via Cemoro Kandang dan turun di Cemoro Sewu Gunung Lawu. Kami berangkat memulai pendakian jam 3 sore dan muncak jam 2 pagi dan bermalam di puncak. Bertahun-tahun setelahnya saya selalu merasa ini pendakian bodoh. Tapi untungnya tidak terjadi apapun pada kami.

IMG_9162

Ini foto sebelum berangkat ke lempuyangan. Ketika itu kami menggunakan kendaraan umum karena akan melalui jalur yang berbeda untuk naik dan turunnya. Foto paling saya suka di depan tulisan Teknik Arsitektur. Oiya, waktu itu sengaja banget fotonya di sebelah kiri biar tulisan ‘dan Perencanaan’nya nggak kelihatan, haha.IMG_9178

Pendakian yang super nggak safety. Saya packing paling banyak, bahkan bawa tenda segala. Untungnya ketika naik kami saling bertukar muatan, jadi tampak lebih adil.IMG_9198

Di pos 3 sempat ada kejadian mie tumpah karena saya nggak kuat mindahin dari atas kompor. Padahal kami telah amat sangat lapar dan kedinginan. Sedikit cerita, semua orang yang ikut pendakian ini adalah asdos TKAD (Teknik Komunikasi Arsitektur Dasar), orang-orang keren yang sering kami ajak diskusi masalah desain pada masanya dulu (sebelum saya malas ngampus).IMG_9244Well then, karena sudah muncak jam 2 pagi, esok harinya saya malas bangun pagi untuk sunrise-an. Saya tetap tidur sampai waktu foto-foto tiba. Saya rasa ini kali terakhir bendera Khatulistiwa berkibar atas nama Arsitektur UGM deh. Saya sudah nggak tahu lagi dimana bendera ini, dan kemana orang-orang ini.

wordsflow

(dosa) para arsitek


superman is dead facebook page's photo

superman is dead facebook page’s photo

Apa kabar dunia arsitektur Indonesia hari ini?

Sedikit saya ceritakan, bahwa saya bukan mahasiswi Teknik Arsitektur sungguhan. Saya tidak mengikuti perkembangan pembangunan di Indonesia, saya tidak tahu Arsitek-Arsitek terkenal dunia dan di Indonesia, saya memprotes pembangunan sana sini, saya tidak mengikuti perkembangan teknologi dan bahan bangunan, dan ada beberapa alasan-alasan lain yang membuat saya tidak menyebut diri saya sebagai Arsitek. Lebih dari itu, sejak dulu saya tidak pernah tertarik untuk posting hal-hal yang berhubungan dengan kuliah saya, tidak berkeinginan terlalu besar untuk ikut sayembara (yang notabene bisa menjadi wahana pembelajaran), dan tidak ikut magang sana sini.

Tulisan ini pun begitu. Saya bukan sedang mendukung perkembangan dunia arsitektural Indonesia.

Beberapa menit yang lalu, seorang teman saya share gambar tersebut di facebook. Saya pun teringat kuliah Studio Arsitektur 1 yang saya ikuti di semester 1 kuliah saya. Saya kasih tahu apa yang menjadi kekuatan arsitek di jaman sekarang:

  1. Gambar yang menarik dengan warna yang indah dan presentasi yang menawan
  2. Penjelasan yang detial dan tersusun dengan baik dan mampu mendoktrin pendengar (klien/awam)
  3. Maket yang baik untuk merepresentasikan desain secara 3 dimensi

Ketiga poin itu yang menjadi kekuatan setiap arsitek dalam memenangkan klien. Teknik presentasi itu sangat penting saudara-saudara. Pada prinsipnya, minimal diperlukan dua keahlian yang dibutuhkan oleh mahasiswa agar dapat memenangkan dosennya. Jika bukan gambarnya yang bagus, sebisa mungkin presentasinya menawan dengan maket yang representatif. Dan pun sebaliknya, minimal dua di antara tiga itu harus jago.

Nah, sampai sini, sudahkah melihat keterkaitan dengan dunia nyatanya?

Memang, ada banyak arsitek yang memang bertanggungjawab terhadap sumpah yang ia angkat. Terhadap etika insinyur yang telah mereka dapat di bangku kuliah. Tapi sungguh, tidak semua orang tumbuh menjadi orang baik.

Ketiga hal di atas dapat dimanipulasi, dan akan tampak berbeda di mata orang-orang yang tidak sering ada di dunia arsitektur dan konstruksi. Ada cara-cara membuat gambar kita menjadi bagus, ada cara-cara memilah mana yang harus disampaikan dan mana yang tidak, dan ada cara-cara membuat maket menjadi jauh lebih menarik ketimbang kenyataannya. Bukan hanya teluk Benoa, tapi banyak bangunan-bangunan yang disebut sebagai karya arsitektur namun tidak mencerminkan etika arsitektural.

Betapa mirisnya ketika di kampus kita diwajibkan untuk melakukan pengumpulan data sekunder, wawancara, analisis site, analisis kebijakan site, sintesis teori dan preseden, dan semua tahapan yang super panjang itu, pada prakteknya di dunia kerja, waktu yang dipunya tidak akan sebanyak ketika kuliah. Banyak klien yang kejar setoran baik dalam urusan desain dan konstruksi, bahkan perijinan. Banyak bangunan tinggi menyalahi aturan daerah.

Salah satu hotel di dalam film itu adalah tempat saya Kerja Praktek, dan saya tahu pasti bahwa yang sedang dibicarakan dalam film itu memang benar adanya. Toleransi dalam dunia konstruksi itu lebih mengerikan dari toleransi desain, karena akibat besarnya adalah kegagalan konstruksi yang dapat menyebabkan runtuhnya bangunan dan besarnya dampak lingkungan. Belum lagi jika membicarakan limbah (terutama hotel) yang akan ditanggung oleh lingkungan sekitar.

Sayang tidak ada mata kuliah AMDAL di kampus saya.

*

Lihat bukan, menjadi arsitek tidak sepenuhnya keren karena kita harus juga disejajarkan dengan orang-orang seprofesi, baik yang memang mengikuti etika engineer maupun yang asal bikin bangunan. Akan ada banyak kritik dari lingkungan sekitar. Dan sebagai (calon) lulusan Teknik Arsitektur, harus sejak awal saya memahami semua itu. Menjadi orang yang bertanggungjawab atau sekalian mengikuti arus kebutuhan-pembangunan-untuk-mendukung-perkembangan-perekonomian.

Ah, dosa arsitek…

Saya jadi teringat cerita seorang dosen saya di kuliah Arsitektur Bahari. Beliau pernah berulang kali mendapat tender merancang pelabuhan-pelabuhan besar di Indonesia yang beliau kerjakan dengan sangat apik. Namun pada akhirnya desain itu hanya digunakan untuk mengambil dana pembangunan yang ujung-ujungnya hanya dikorupsi oleh pejabat negeri ini. Sampai kini, tetap tidak nampak ada pelabuhan yang cukup baik di Indonesia.

Dalam perjalanan waktu yang semakin tidak bisa dikendalikan ini, tanpa sadar selalu ada pertanyaan;

Apa yang akan saya pilih jika dihadapkan pada kebutuhan hidup dan ideologi profesi?

wordsflow

setelah mencoba menulis berulang kali


Saya begitu lama melupakan bagaimana rasanya menulis dengan bahagia. Entah berapa kali saya dihadapkan pada halaman baru di blog ini, berusaha untuk menulis satu atau dua kalimat serius yang bukan tentang kamu dan tentang sajak. Tapi semuanya putus di tengah jalan, dan tanpa sengaja terlupakan.

Dan ini adalah percobaan saya yang ke enam dalam kurun satu minggu terakhir.

Ya, saya sedang tidak begitu paham dengan perubahan diri saya, entah untuk yang ke berapa. Saya masih menyukai lagu-lagu yang sama, masih melakukan banyak hal yang sama, masih memikirkan beberapa hal yang sama saja, namun semua itu tidak berdaya menghadapi berubahan hati saya yang tiba-tiba. Dan lebih menyebalkan lagi karena saya tidak dapat menjelaskan ke diri sendiri tentang perubahan itu.

But okay, just simply forget it.

*

Saya mau bercerita tentang proses skripsi saya yang kini telah memasuki tahapan studio perancangan. Itu artinya setelah berkutat dengan penelitian, konsep, dan semua diagram-diagram programatik itu, akhirnya kami melakukan hal yang lebih menyenangkan, yaitu corat-coret.

Seperti yang sebelumnya saya ceritakan, skripsi saya tentang Museum Pinisi, yang meskipun tidak menggunakan pendekatan atau penekanan secara spesifik, namun semua pembahasannya menuju ke arah critical regionalism. Dalam hal ini saya tidak ingin mengutipkan beberapa kalimat dari para pencetusnya. Namun secara pribadi saya percaya teori ini yang paling cocok untuk menangani beberapa permasalahan desain di daerah.

Terkadang bahkan hingga saat ini, saya sendiri masih belum yakin tentang materi yang saya pilih. Sebegitu penting kah sebuah Museum Pinisi dibuat? Sungguh kah harus di sana dengan konsep yang demikian? Padahal riset yang saya lakukan sudah dianggap cukup, tapi saya masih merasa ego saya yang ambil bagian paling besar di sana.

Teringat dengan pembahasan Museum Karst Indonesia yang ada di Pracimantoro, Wonogiri, yang pada akhirnya pun tidak terselesaikan dengan baik. Saya tidak tahu apa yang kurang dari tempat sekeren itu. Tapi saya pribadi suka jalan-jalan ke museum. Buat saya museum itu sangat nostalgic dengan segala bentuk penataannya, backsoundnya, suasananya, pengunjungnya, dan terutama dari materinya. Mungkin salah satunya juga karena saya menggemari sejarah meskipun nggak pernah bisa menghafal nama dan tahun. Bagi saya, olah imajinasi yang saya rasakan ketika membaca itu sudah cukup menggantikan.

Ketika pengambilan data tempo hari, saya pernah berkunjung ke Museum Bahari di hari Senin yang notabene semua museum libur. Beruntung saya bertemu dengan Kepala Bidang Koleksi dan Perawatan-nya Museum Bahari, yaitu Pak Isa. Sungguh baiknya beliau karena berkenan saya wawancarai secara illegal tanpa surat dari kampus, ngasih saya es teh di siang bulan Oktober-nya Jakarta, dan semua hal lainnya. Bapaknya bercerita bahwa menjaga museum sangat tidak mudah. Sudah begitu sangat jarang orang yang mau sungguh-sungguh meluangkan waktu lebih dari 1 jam untuk mengelilingi semua bagian museum untuk bertanya ini dan itu kepada petugasnya. Padahal tiket masuk museum tak pernah mahal di Indonesia. Museum bahari saja hanya 5.000, sama halnya dengan Museum Nasional yang ada di lingkungan Monas.

Dengan tempat yang se enak itu, lokasi yang menyenangkan, akses ke museum yang mudah, sangat jarang warga Indonesia yang menghabiskan hari liburnya dengan jalan-jalan ke museum.

*

Jika dibandingkan dengan museum yang dikelola secara swasta seperti Museum Ullen Sentalu maupun Museum Affandi, keduanya memiliki tiket yang jauh lebih mahal, namun dengan kualitas materi pameran yang tidak jauh berbeda.

Jadi bedanya di mana?

Sepertinya, yang membedakan keduanya adalah eksklusifitas museum dan pelayanan yang diberikan.

Yah, meskipun saya menulis seperti ini, tetap saja ada sangat banyak museum di Jogja yang belum sempat saya kunjungi, entah yang harga tiketnya hanya 2.000 atau yang sampai 50.000.

Saya sih lebih ingin mengajak teman-teman untuk lebih banyak melihat tempat-tempat menarik yang bukan hanya bagus untuk difoto, tapi memudahkan kita untuk mengambil pengetahuan dari Sang Berilmu.

Yah, tengok saja Museum Samudraraksa di kompleks Candi Borobudur, Museum Karst, Museum Ullen Sentalu, Museum Merapi, Museum Affandi, Museum Geologi, Museum Sonobudoyo (saya juga baru tahu kalau museumnya ada 2), dan entah berapa museum lagi yang ada di Jogja.

So then, let’s take a tour..

 

wordsflow

Jalan-Jalan Rabu


BOROBUDUR!

Ini trip hari Rabu minggu kemarin. Berarti itu tepat seminggu yang lalu saya lakukan bersama Awang.

Dibandingkan berberapa trip saya sebelumnya ke Borobudur, bisa dibilang ini trip yang paling saya nikmati. Mungkin karena saya hanya berdua, atau mungkin karena saya akhirnya telah menyimpan kekaguman baru pada Candi Bodobudur.

Bermodalkan keinginan untuk masuk ke Museum Kapal Samudraraksa yang ada di dalam kompleks candi, akhirnya saya masuk ke kompleks itu. Sebagai informasi, pintu masuk ke kompleks candi sudah lebih baik. Pintu masuk yang sebelumnya sudah tidak dipakai, dipindah ke sebelahnya dengan sistem yang lebih baru. Kemudian bangunannya juga dibuat lebih baru dengan bangunan utamanya berbentuk Joglo. Sistem tiketing yang diterapkan juga sudah lebih baik meskipun masih belum tertib sana sini.

kartu tanda masuk yang baru, sekarang udah memakai e-tiket

kartu tanda masuk yang baru, sekarang udah memakai e-tiket

Dengan sistem e-tiket yang baru diterapkan, sekarang jadi nggak bisa koleksi tiket masuk Borobudur seperti dulu lagi. Hiks…. Tapi bagian menyenangkannya, akhirnya nggak bakal seribet dulu kalau mau masuk ke kompleks candi. Karena sekarang sistem pembelian tiket untuk rombongan punya prosedurnya sendiri, punya line antriannya sendiri. Ah, ada yang menyedihkan dari penyediaan fasilitas di sana. Nggak ada parkir motor! Jadi kami harus parkir di luar candi, di warung depan kompleks. Yah, alangkah lebih baiknya jika parkiran sebegitu besar diberi satu spot parkir untuk motor dan sepeda. Saya rasa itu tidak akan banyak memakan tempat.

Setelah masuk, kami langsung melihat gajah berkeliaran di halaman. Entah sejak kapan ada, tapi saya baru lihat ada gajah saat itu. Sayang sekali karena akhirnya tidak banyak yang melirik si gajah, dan kebanyakan wisatawan langsung menuju ke bangunan candi nun jauh di sana.

Sebelum naik, ada petugas yang aktif memberitahu pengunjung untuk mampir mengambil kain batik bagi yang sudah 17 tahun ke atas. Tentu saja kami antusias untuk turut memakai. Kata bapaknya, bagi yang laki-laki maka wajib memakai di sebelah kanan, sedangkan wanita di sebelah kiri. Itu dimaksudkan untuk menghormati tata cara pemakaian kain batik.

DSCN0217

ini tulisan yang ada di relief Kamadhatu pojokan kaki candi sebelah tenggara

Kami menemukan ukiran ini di batu relief Kamadhatu. Saya lupa cara bacanya. Yang pasti, waktu itu ada kumpulan wisatawan dari Jepang, dan ada pemandu wisata yang menemani mereka. Kami berdua sedang duduk di tangga yang menuju ke lantai 2, bagian relief Rupadhatu. Sang pemandu wisata tetiba menunjuk bagian batu dan mengatakan sesuatu dalam bahasa Jepang. Sepenangkapan kami dia menceritakan tentang tanda itu dan cara bacanya. Begitu bapaknya pergi kami langsung menuju ke tempat yang ditunjuk dan menemukan ukiran itu di batu.

Mungkin nanti kalian juga akan menemukannya di sana. Dan jangan lupa bertanya atau mencari tahu apakah itu dan apa maknanya.

Setelah puas ngobrol dan nongkrong, kami memutari lantai 2 sesuai dengan arah jarum jam, mencoba mengikuti aturan Pradaksina umat Buddha. Ternyata Candi Borobudur jadi tampak begitu luas jika kita sungguh-sungguh mencoba membaca relief dan mengelilinginya secara penuh pada setiap lantai. Saya juga baru menyadari seberapa detil para pendiri Borobudur mengukir setiap relief yang mereka pasang di sana. Bagaimana cara mereka bisa membuat setiap bagiannya bercerita dan dapat dimengerti. Saya rasa sungguh sayang jika saya baru menyadarinya kala itu.

Bahkan, banyak hal yang sebelumnya tidak pernah saya perhatikan ternyata justru merupakan sesuatu yang sangat menarik. Sayangnya, dalam trip kali ini saya tidak menargetkan untuk mencapai bagian teratas candi karena lagi-lagi, tujuan saya adalah ke museum. Jadi saya hanya mengelilingi relief Kamadhatu dan Rupadhatu.

DSCN0233

ini foto narsis kami yang pertama dengan kamera baru Awang

Di bagian relief Rupadhatu, saya sengaja mencari relief kapal yang banyak dibicarakan orang. Cukup susah ternyata mencari satu bentukan relief di antara begitu banyak. Barulah di lantai dua kami menemukan relief yang dicari.

Relief yang pertama berada di sisi barat bagian kanan jika dilihat dari cara melakukan Pradaksina. Relief yang ini lebih kecil jika dibandingkan dengan relief kapal yang satunya.

DSCN0234

relief kapal di sebelah barat candi

DSCN0238

relief kapal yang di sebelah utara candi

Kedua relief tersebut lah yang kemudian mengilhami Philip Beale, seorang eks-Marinir Angkatan Laut Inggris yang terpesona pada kapal yang ada di relief Candi Borobudur. Akhirnya ia melakukan penelitian terkait kapal tersebut, dan didapat informasi bahwa sejak satu abad sebelum berdirinya candi, kapal itu telah melakukan perjalanan dari Indonesia ke Madagaskar. Jalur pelayarannya dinamakan jalur kayu manis. Maka dari itu, akhirnya Bapak Philip ini mencoba untuk mereka ulang kapal yang dianggap begitu legendaris ini. Pada tahun 2003-2004, akhirnya ekspedisi dilakukan untuk menapaki kembali jalur kayu manis yang dimaksud.

Nah, bagian mirisnya adalah, tidak banyak orang yang tahu tentang museum ini. Bisa dikatakan, saya bahkan tidak pernah tahu ada museum kapal di Borobudur jika bukan karena tugas akhir saya yang membahas tentang museum kapal. Pun, pengunjung yang datang ke museum ini tampak tidak mampu menikmati museum. Mereka hanya lewat, tengok kanan-kiri, komentar, lalu keluar.

Sayang sekali, padahal kapal ini adalah salah satu kapal yang tidak akan pernah lagi dibuat.

Bagian yang mengagumkan juga dari kapalnya, ternyata sebagian dari kapalnya dibuat dengan bambu. Itu sangat menarik, karena dengan material yang demikian, Kapal Samudraraksa akhirnya tetap bisa mengarungi laut hingga Madagaskar, lalu lanjut hingga ke Ghana.

20140604_134919

foto kapal asli yang sudah dimuseumkan

Beginilah bentuk Kapal Samudraraksa yang telah dimuseumkan. Mungkin nanti kalian harus melihat sendiri dan mencermati sendiri kapal ini. Sayangnya ketika kami masuk ke museum, tidak ada petugas yang bisa kami tanyai terkait isi dan museum secara keseluruhan. Padahal menurut saya akan sangat baik jika ada semacam guide khusus museum.

Terakhir, ayuk giatkan jalan-jalan museum dan tempat-tempat belajar lainnya yang lebih menyenangkan.

Selamat berlibur, selamat jalan-jalan… 🙂

foto narsis kami sebelum melepas kain batik :)

foto narsis kami sebelum melepas kain batik 🙂

wordsflow