WORDS FLOW

setiap pengalaman pantas untuk diingat

nothing again


Well, saya sedang bimbang. Mari saya ceritakan alasannya.

Suatu hari, ada seseorang yang bertanya kepada saya, “mendingan ditinggal atau meninggalkan?”. Pertanyaan itu tidak jauh berbeda dengan pertanyaan mengenai mencintai atau dicintai. Sekian lama saya memperdebatkan dua hal itu, saya toh memilih untuk menjadi subjek, lebih memilih untuk bertindak dibandingkan menyerahkan diri menjadi objek sehingga terus bertanya-tanya tanpa mampu melogika dan memperhitungkan.

Meninggalkan tentu saja. Dan itu saya upayakan untuk akhirnya mampu saya praktikkan. Sayang sekali, rencana itu dua kali gagal saya penuhi. Saya tidak sedih, sungguh. Saya hanya bingung ketika kembali memperdebatkan dengan diri sendiri perihal hal yang sungguh saya inginkan dan apa yang selama ini saya akui. Mungkin dua hal itu tampak sederhana, tapi pada praktiknya keduanya berada pada sisi yang cenderung berseberangan.

Ketika rencana melarikan diri itu gagal misalnya, saya pikir saya akan sedih luar biasa, atau setidaknya menyalahkan diri sendiri karena gagal. Toh pada praktiknya hal itu tidak saya rasakan. Mungkin saya mencoba mengerti dengan mengatakan ke diri sendiri bahwa bisa jadi saya sudah tidak seemosional dulu dengan bermuram durja ketika ada hal yang tidak dapat saya capai dalam hidup saya. Tapi tidak, dalam beberapa hal, saya masih bisa terus membawa kesedihan saya sepanjang hari hanya karena percakapan yang hanya berlangsung 15 menit.

Hehehe, kadang saya harus juga menertawakan kebingungan ini, dan terus saja mengaduk-aduk ingatan untuk akhirnya bisa mengatakan dengan bangga bahwa ‘it’s how this life is working’.

Ada hal yang sungguh berubah dari saya, meski saya kira pernyataan ini hanya bisa dikonfirmasikan lewat orang-orang yang berhubungan dengan saya. Tapi saya kira yang saya rasakan tidaklah salah mengenai perubahan itu. Yang saya penasaran justru bagaimana orang-orang lain memandang perubahan itu, hehe.

Yasudahlah. Sekian saja.

Saya sedang sibuk menghitung mundur kapan kiranya hal-hal mengejutkan terjadi dalam hidup. Tapi sekarang, mari merencanakan.

wordsflow

through music we build hope


Di sela keinginan saya untuk bisa melakukan segalanya di dunia ini, saya akhirnya memutuskan untuk bercerita di sini kembali. Ini soal ketertarikan saya pada musik, namun tidak pada musisi, hehehe.

Waktu kecil, ayah saya sering memutar kaset dengan lagu yang itu-itu saja. Saya bahkan hingga kini tidak bisa membedakan mana yang lagunya Ebiet, Iwan Fals, Bimbo, atau sederet nama musisi lama. Saya hanya bisa turut bernyanyi kalau ada yang sudah memainkan intronya. Begitulah saya akrab dengan lagu-lagu dan musik. Tidak lebih dari permainan gitar ayah saya yang itu-itu saja, dan lagu kaset yang itu-itu aja juga.

Saat menginjak SMP saya berkenalan dengan beberapa alat musik, tapi menyerah karena saya buta nada sama sekali, hahaha. Ketertarikan saya pada musik juga masih dalam kadar yang sama. Untung sekali waktu itu ada MTV Bujang yang jadi tontonan saya selama libur sekolah. Kalau nggak salah ingat acara itu tanyang setiap jam 10 pagi setiap hari Kamis, entah, saya sudah lupa. Berkat chanel TV yang itu, saya menjadi cukup mengenal beberapa band beken luar negeri. Hemm, sebagaimana mungkin anak SMP lainnya di masa itu, saya tergila-gila sama Avril dan Linkin Park. Tapi masa SMP saya tidak menghasilkan kemampuan musik apapun, meski ketika itu saya berkeinginan sungguh untuk main musik. Apa daya, kemampuan tidak tumbuh dari keinginan, namun dari dipraktikkan.

Mungkin memang saya terlalu kompetitif sejak kecil, sehingga untuk bisa bermain musik pun harus dengan cara di-trigger oleh orang lain. Saya harus berterima kasih pada adik saya yang berhasil membuat saya mati-matian bermain musik waktu itu. Agaknya secara alami saya menganggap adik saya adalah saingan. Sehingga ketika ia bisa bermain gitar, saya mengharuskan diri saya untuk itu juga.

Saya rasa hidup saya memang penuh persaingan. Lebih karena saya menstimulasi diri sendiri untuk demikian ketimbang karena orang lain mengatakan hal tersebut ke diri saya. Kadang saya berpikir jauh mengapa saya melakukan hal tersebut, mengapa saya melihat orang lain dengan kacamata yang demikian. Padahal ya sudah sih, terima saja kalau kemampuan masing-masing orang berbeda. Tapi ternyata saya masih terus terpengaruh oleh orang lain. Meski bertanya-tanya, saya toh mengikutinya juga, hehehe.

Semakin lama, jauh setelah keinginan egois untuk tampak keren dan bisa memamerkan kemampuan diri, saya menemukan keteduhan yang dalam melalui musik. Banyak hal yang memang tidak bisa diraih dalam sekali waktu. Ketika saya sungguh ingin bisa memainkan gitar, yang saya dapat hanya sebuah kepuasan temporal, bukan kedalaman. Tapi belakangan saya menemukan ada hal lain yang menggantikan rasa bersaing itu. Sulit tapi didefinisikan. Karena yang begitu hanya bisa dinikmati dan dirasakan.

Saya banyak terkesan oleh film atau anime karena musiknya. Saya menemukan kedalaman puisi karena musikalisasinya. Yang paling mengesankan adalah saya begitu terharu dengan Red Turtle yang notabene adalah silent anime. Maka, peranan musik terasa sangat penting untuk membangun perasaan terhadap hal yang tampak oleh mata. Musik juga menyimpan banyak hal yang tidak mampu tersampaikan lewat kata. Bahkan ia bisa menciptakan suasana yang awalnya tidak ada. Dan kekaguman saya pada musik, pada manusia-manusia yang menekuni musik, pada alat yang menghasilkan musik, dan pada suara-suara semakin besar.

Voice is not merely a voice.

Saya bayangkan kemudian masa-masa ketika saya lebih sering bersedih dan bermuram durja diiringi lagu-lagu melankolis nan mendayu-dayu. Sembari kadang meng-iya-kan liriknya atau mengumpat atasnya. Hahaha. Menengok ke masa-masa itu, saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ternyata manusia bisa berubah begitu rupa. Bisa berproses begitu panjang, penuh lika-liku dan sangat dinamis. Dan semua orang merasakan hal yang sama!

Oh ya ampun, saya ngelantur.

Lalu malam ini saya tercengang ketika membayangkan rupa masa lalu, masa kini, dan masa depan. Pikiran saya telah mendekonstruksi segala hal hingga ke titik intinya, dan rekonstruksi yang dibentuk agaknya telah terlampau jauh dari yang saya duga. Ternyata ada gunanya juga menyimpan foto-foto lama dan mengasah ingatan melaluinya.

Well then, tulisan ini tidak indah, tidak jelas, dan tidak sesuai dengan judulnya. Tapi ini cukup, untuk membuat blog ini terisi dengan ceracauan saya.

wordsflow

Anime Vibes and Everything Behind


“Kok kamu bisa gambar sih?”

Pertanyaan itu beberapa kali disampaikan teman-teman saya ketika mendapati karya saya atau melihat saya sedang menggoreskan pensil di atas kertas. Tidak bisa disangkal, kehidupan perkomikan saya di masa SMP lah yang membawa saya menjadi diri saya hari ini. Mungkin hal itu juga yang membuat saya memberikan ruang tersendiri kepada pengarang-pengarang komik kesukaan saya, cerita-cerita kesukaan saya, hingga akhirnya saya mengenal anime.

Ada komik seri yang sangat saya sukai, dan tidak banyak saya kira yang mengikuti komik ini. Judul komiknya Q.E.D., dan dibandingkan Conan yang kala itu sangat populer, dia jauh lebih sedikit penggemarnya. Sebagai komik yang juga mengangkat tema detektif, maka ia tenggelam di bawah bayang-bayang popularitas Conan. Tapi, mari saya ceritakan mengapa saya katakan itu komik yang paling mempengaruhi hidup saya.

*Date by RADWIMPS is playing*

Saya suka hitung-menghitung sejak kecil. Saya agak lupa bagaimana bisa saya bertemu Q.E.D., tapi kalau tidak salah ingat saya melihat deretan komik itu di tempat peminjaman komik di depan SMP saya. Berbeda dengan Conan, Q.E.D. tidak sekedar menawarkan cerita detektif yang sulit dipecahkan, namun juga ilmu pengetahuan, terutama matematika dan astronomi. Saya mengenal rumus Euler dari sana, mampu menghafal bilangan phi juga dari sana, tahu lubang hitam bahkan dari sana, memahami geometri, dedekind cut, menghitung bilangan prima, atau berbagai urusan lainnya yang berhubungan dengan matematika, praktis saya pelajari dari komik itu. Pun, saya pernah meletakkan impian kuliah saya di MIT karena komik itu. Menelusuri tragedi penyihir Salem juga saya ketahui dari komik itu.

Secara keseluruhan, bisa dibilang komik itulah yang menjadi penunjuk jalan saya selama jenjang SMP hingga pertengahan SMA. Hingga akhirnya Motohiro Katou ini menulis komik yang juga bertema detektif dengan tokoh yang berbeda dan dengan latar penceritaan yang berbeda, C.M.B. Sekali lagi Motohiro Katou berhasil mengubah saya dengan manawarkan komik detektif berlatar arkeologi. Saya kurang tahu seberapa besar popularitas kedua komik ini, yang jelas keduanya mengubah hidup saya dan cara pandang saya.

Saya ingat pernah bertengkar dengan ibu saya karena membaca komik menjadi hal yang menyita waktu luang saya ketika SMP. Ibu saya kala itu menganggap bahwa komik tidak membawa pengaruh apapun dalam hidup, bahkan tidak memberi manfaat dan malah memberikan kerugian. Tentu saja saya marah dengan pernyataan itu, karena sungguh, saya belajar sangat banyak karena berteman akrab dengan dunia perkomikan di kala itu.

Pun begitu dengan menggambar. Saya mempelajari geometri dari komik, dan terdorong untuk mengembangkan kemampuan saya menggambar karena berharap bisa membuat komik sendiri. Bahkan, ke-Jepang-an itu muncul dan saya pegang teguh hingga masa akhir SMA saya ketika akhirnya saya memutuskan untuk mengambil kesempatan beasiswa ke Jepang. Sayang sekali dua kali mendaftar saya tidak diterima. Pun demikian dengan cita-cita saya masuk MIT menjadi hal yang begitu jauh ketika saya menyadari bahwa kampus impian saya itu mustahil sekali saya masuki. Lebih-lebih ketika saya tahu dari film A Beautiful Mind bagaimana MIT itu sebetulnya. Tetap saja, saya masih terkagum-kagum menyadari bahwa saya pernah sungguh bermimpi bisa masuk ke kampus itu.

Lebih dari itu, hingga hari ini saya masih menikmati berbagai judul komik yang saya ikuti sejak SMP. Banyak yang masih terus saya baca meskipun saya sudah hafal betul dengan dialog yang ada di dalamnya. Kadang ketika saya ingat bahwa saya ternyata belajar banyak dari komik, saya sadar bahwa mungkin pendidikan bukan hal yang sungguh-sungguh memacu saya untuk melakukan hal-hal di hidup saya. Bisa jadi motivasi itu memang sangat sederhana. Bahkan tidak pula datang dari keinginan untuk membahagiakan keluarga.

Lalu SMA, saya bertemu dengan Ghibli, yang juga mengubah hidup saya. Mungkin memang saya cenderung lebih suka film kartun atau anime dibandingkan dengan film-film Hollywood. Entah mengapa. Saya pun menghabiskan semua film Ghibli selama masa SMA saya dengan mengobrak-abrik tempat DVD bajakan setiap hari Minggu untuk mencari film-film itu. Saya ingat pernah juga berramai-ramai menghabiskan seri Code Geass dengan kerumitan politiknya.

Lalu, di pertengahan kelas 2 SMA, seorang senior cowok saya, tiba-tiba mempopulerkan anime 5 cm per Second. Sebuah anime yang berisi 3 cerita mengenai satu orang tokoh utama. Yang luar biasa adalah, judul itu tidak hanya dibuat anime-nya saja, namun juga ada komik dan novelnya. Sebagai seorang yang doyan anime, yang saya dan teman-teman kritisi waktu itu adalah kemampuan Makoto Shinkai dalam mengolah anime yang dia buat. Kabar-kabari dari senior-senior saya, itu adalah one man project-nya Makoto Shinkai. Saya tidak pernah mencari tahu soal ini, karena saya hanya peduli betapa keren yang ia kerjakan dengan anime itu.

Hayao Miyazaki dan Makoto Shinkai kemudian menjadi dua orang yang saya kagumi di dunia per-anime-an. Sementara anime seri lain yang populer bahkan tidak pernah saya tonton, meskipun sangat ingin memahami ceritanya, misalnya saja One Piece atau Samurai X. Yah, sejauh yang bisa saya ingat, hanya Code Geass dan Death Note yang saya tonton dari episode 1 hingga episode terakhirnya dengan khidmat.

Jepang, menjadi negara impian saya sejak SMP, dan saya pikir kegagalan saya mendapat beasiswa ke negara itu adalah akhir dari impian saya bertandang ke Jepang sebagai seorang mahasiswa. Bagaimanapun waktu tidak dapat diulang, saya akan terus bertambah tua kan. Demikian, angan-angan untuk datang ke Jepang tidak lagi membawa semangat menggebu-gebu seorang pelajar seperti saat saya masih SMP atau SMA dulu.

Meskipun demikian, entah karena alasan apa, suatu hari saya mencari secara iseng di Youtube tentang ‘8 Anime yang wajib kamu tonton’. Beruntung sekali karena daftar saya yang terakhir saya selesaikan kemarin ketika film Koe no Katachi bisa ditonton secara streaming. Meski setelah itu saya menambah daftar anime wajib lagi hingga jumlahnya menjadi 100, hehe.

Inti dari cerita ini apa?

Nggak ada, saya hanya mau cerita tentang hal lain yang sangat mempengaruhi hidup saya melebihi yang saya pikirkan sebelumnya. Ternyata saya pernah berpegangan pada impian-impian besar, bukan melulu pada perasaan terhadap seseorang. Mungkin tulisan ini juga efek saya maraton anime kemarin siang, mengulang Kimi no Na Wa. dan Hotarubi no Mori e. Padahal anime, tapi saya selalu berhasil tersentil dengan sangat dalam oleh mereka, sial.

*Nan Demonai Ya is playing in background*

Dan, lagi-lagi anime tidak bisa dipisahkan dari soundtracknya. Begitulah yang kemudian membuat saya berulang kali memutar lagu-lagu Joe Hisaishi, Cecile Corbel, dan akhirnya RADWIMPS. Anime vibes ini tidak juga berakhir. Jadi, mari tenggelam semakin dalam.

wordsflow

*

Akhirnya saya menulis lagi, hahahahaha. Sudah lama saya ingin mereview hal-hal yang saya suka. Anggap saja saya sedang memberi review Q.E.D. Sungguh, komik itu sangat layak untuk dikoleksi.

Sajak-Sajak Empat Seuntai


/1/
kukirim padamu beberapa patah kata
yang sudah langka –
jika suatu hari nanti mereka mencapaimu,
rahasiakan, sia-sia saja memahamiku

/2/
ruangan yang ada dalam sepatah kata
ternyata mirip rumah kita:
ada gambar, bunyi, dan gerak-gerik di sana –
hanya saja kita diharamkan menafsirkannya

/3/
bagi yang masih percaya pada kata:
diam pusat gejolaknya, padam inti kobarnya –
tapi kapan kita pernah memahami laut?
memahami api yang tak hendak surut?

/4/
apakah yang kita dapatkan di luar kata:
taman bunga? ruang angkasa?
di taman, begitu banyak yang tak tersampaikan
di angkasa, begitu hakiki makna kehampaan

/5/
apa lagi yang bisa ditahan? beberapa kata
bersikeras menerobos batas kenyataan –
setelah mencapai seberang, masihkah bermakna,
bagimu, segala yang ingin kusampaikan?

/6/
dalam setiap kata yang kaubaca selalu ada
huruf yang hilang –
kelak kau pasti akan kembali menemukannya
di sela-sela kenangan penuh ilalang

© 1989, Sapardi Djoko Damono

***

Sudah beberapa waktu lamanya saya tidak menulis, entah mengapa. Padahal saya kira, ketika mencoba menulis sesuatu, tetap akan ada yang tersampaikan. Sayang sekali, ada yang telah hilang, ada yang telah berubah, ada yang telah mati, dan sedang menunggu sesuatu bertumbuh kembali; apapun itu.

Mungkin, saya tidak akan menulis lagi. Barangkali saya akan berhenti berlari dan membangun tempat istirahat sendiri. Menangis sampai pagi, mungkin? Atau berdiam diri hingga petang menjelang. Setiap kali kubayangkan ada hari baru yang datang, tiada yang berbeda dari apapun yang telah lalu. Rumput bertumbuh yang sama, rumah yang sama, air mengalir yang sama, pepohonan yang sama. Tiada yang berubah, mereka hanya bergerak-berpindah.

Sudahlah.

wordsflow

 

mati, itu apa?


Ada kematian yang tiba-tiba mengada dari ketiadaan–ah bukan, sebetulnya kematian itu hanya istirahat sebentar.

Dua film bertema kehilangan sedang tayang di layar lebar. Saya pikir keduanya mengangkat hal yang sama, menyoal cinta dan rela, akan orang terkasihnya, akan masa lalunya, akan hal-hal yang tidak bisa mereka terima. Hanya saja, cara penceritaan keduanya jauh berbeda, yang satu mendekati soal kematian ini melalui ziarah, sedang yang satu lagi menyoal kematian ini dengan rasa bersalah.

Saya bukan kritikus film memang, dan tulisan ini tidak akan membahas film yang sedang tayang itu sama sekali. Tapi, sekali waktu dalam pusara simbah saya, saya menyadari bahwa apa yang bisa saya petik dari kematian? Kematian tidak menawarkan apapun kecuali kematian itu sendiri, saya kira. That’s all.

dead man tells no tale

Itu kalau Pirates of Carribean. Tapi apa sesungguhnya kematian itu, tidak begitu saja dapat dijawab dengan mudah. Orang mati nggak bisa hidup lagi untuk menjelaskan rahasia-rahasia kematian itu kaan.

Dalam sebuah berita, saya menemukan nama Julia Perez yang sedang kanker stadium 4, penyakit yang jaraknya sungguh tipis dari kematian. Saya sebetulnya bertanya-tanya sungguh tentang kesadaran manusia yang berada pada kondisi kritis harapan untuk hidup. Soal apa yang ada di dalam kesadaran dan mungkin ketidaksadarannya. Ada memang rahasia-rahasia yang tetap menjadi rahasia bagaimanapun inginnya kita berupaya mengungkapnya ke permukaan. Itupun, jika kita sama-sama sepakat soal permukaan ini.

Oke, kembali ke masalah kematian ini.

Lagi-lagi, kematian memunculkan romantisme mendalam. Sebuah kesadaran tipis mengenai kehilangan yang sesungguhnya, meski masih juga bertanya-tanya soal apa itu sesungguhnya, mati itu? Dalam kebingungan saya, selama keterombang-ambingan diri saya selama beberapa waktu ini, saya toh pada akhirnya sadar bahwa pada kematian saya menemukan pegangan yang paling nyata. Tidak ada yang pasti kecuali mati. Maka ia menjadi hal yang merangkum seluruh, atau kesemua ketakutan, kekhawatiran, kegelisahan, keresahan, kesedihan, atau apapun itu.

Begitu mesranya merasakan cinta yang begitu dalam pada diri ketika menyadari akan ada kehilangan terbesar dalam kematian. Ada akhir dari setiap penantian. Keseluruhan itu akan terhenti pada mati. Semuanya pun begitu.

Kadang kala ada imajinasi liar tentang kematian yang sewaktu-waktu menyisip di sela berbagai kesibukan, atau di dalam kekacauan pikiran. Ia sering berbisik-bisik meminta perhatian. Sewaktu-waktu ia seolah berdiri mematung di pinggir jalan meminta pertanyaan. Di waktu yang lain bahkan ia menghalangi jalan tanpa basa-basi meminta kita sejenak berhenti dan menyapa. Dekat sekali. Dan lekat sekali kita dengan diri dan mati ini.

Kematian selalu memancing mesra, selalu memancing cinta, selalu memancing rasa yang mendalam tentang hidup. Atau tentang apapun yang sedari awal kita abaikan.

Sekian saja soal mati ini, nanti saya tulis surat cinta lagi. Atau surat mati?

wordsflow

menyoal politik di hari ini


Okai, mari kita singkirkan dulu perlahan urusan emosinal dalam menghadapi gejolak politik hari ini. Sudah lama sebetulnya, urusan politik menjadi begitu memuakkan untuk diikuti. Namun, tidak bisa tidak, hal itu secara langsung mempengaruhi hidup kita dalam praktik. Menyebalkan memang, mencoba tidak peduli namun toh terpengaruh juga dengan hal-hal tersebut.

Saya lama tidak menonton tv. Sungguh sudah lupa kapan terakhir kali menonton tv saya jadikan rutinitas harian. Namun saya cukup rajin mengikuti berita di koran atau media sosial untuk tetap tahu apa yang sedang terjadi di hari ini. Belakangan, Instagram menjadi platform yang saya gemari untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.

Sebelum membahas substansinya, saya mau berargumen mengenai Instagram ini.

Dalam beberapa kesempatan mungkin banyak yang menyatakan kejenuhannya akan media sosial. Tapi saya tidak begitu saja menggunakan media sosial untuk mencari dukungan atas argumen saya mengenai banyak hal. Media semacam Instagram dengan berbagai akun yang ada, entah pribadi, perusahaan, berita, bahkan akun masak, memberikan kemudahan kepada saya untuk menelusuri berbagai berita yang ada.

Lalu, apa yang menarik dari hari-hari belakangan ini?

Semakin lama, semakin ekstrim saja masyarakat kita. Kadang saya bertanya-tanya bagaimana kesadaran mereka akan berbagai hal yang ada di hari ini. Melihat berbagai adu pendapat yang ada di dalam dunia empirik dan dunia maya membuat saya bergidik ngeri. Masyarakat dengan mudahnya berdiri di dua kutub ekstrim berlabel pro dan kontra.

Oposisi biner telah menjadi dasar strukturalisme dalam melihat banyak hal. Levi Strauss bahkan menyatakan bahwa hal itu adanya bukan di tataran consciousness, namun pada tataran sub-consciousness. Ini menarik, karena hal tersebut secara tidak langsung menyatakan bahwa setiap manusia melihat berbagai hal dalam dua pertimbangan oposisi biner. Di hampir setiap hal!

Entah, saya bingung. Saya pribadi ngeri membayangkan bahwa saya bisa melakukan sesuatu secara tidak sadar, yang mana itu berarti saya tidak punya kontrol atas diri saya sendiri. Apapun yang ada di bawah sadar harus juga saya sadari bahwa ia ada di alam bawah sadar. Perkara saya akhirnya melakukannya karena sadar atau tidak bukanlah soal utamanya, namun yang menjadi penting adalah menyadari bahwa hal itu berada di dimensi mana.

Ketika saya menemukan berbagai postingan individu untuk turut bergerak bersolidaritas (dalam hal apapun), bukan perkaranya yang justru membuat saya bertanya-tanya. Melainkan perihal kesadaran masing-masing orang yang turut serta dalam gerakan tersebut. Ini soal value struggle di dalam diri seseorang.

Dari berbagai persoalan manusia, saya pikir pada perihal kesadaran ini lah yang paling membuat saya tertarik. Berkali-kali saya mempertanyakan sesuatu dan berupaya sekeras apapun untuk menemukan jawabannya. Pada akhirnya, kesemua hal tersebut adalah upaya untuk menyadari suatu perkara; apa, bagaimana, mengapa, dan segala bentuk pertanyaan tentangnya.

Maka, ketika saya menemukan bahwa masyarakat dengan mudahnya beroposisi, saya bolak-balik penasaran dengan dasar pemikiran yang membuat mereka melakukan hal tersebut. Apakah yang ada di dalam pikiran mereka, bagaimana pertimbangan mereka, apa yang mereka cari, apa yang sebetulnya mereka tuntut, dan apa yang sesungguhnya mereka pikirkan tentang manusia? Banyak orang di sekeliling saya sepakat bahwa politik hanyalah soal permainan. Politik tidak ubahnya sebuah tarik ulur kepentingan, sebuah upaya untuk berbagi jatah dalam skenario pembagian kekuasaan.

Dan kenyataan pahit yang kadang tidak disadari adalah bahwa kita, masyarakat, menjadi pihak yang paling dirugikan atas segala bentuk permainan politik!

Bayangkan, berapa kali sistem politik negara ini berganti. Berapa kali kita mengubah sistem dan jabatan di dalam pemerintahan. Berapa kali kita berdebat karena permasalahan kenegaraan. Menyisakan apa? Kita yang masih merupakan masyarakat sipil biasa. Yang menjadi orang tua tetap memiliki anak. Yang menjadi anak tetap memiliki orang tua. Yang bersaudara tidak akan bisa menghapus kesedarahannya dengan saudara lainnya. Kita masih berdebat dengan kehidupan sehari-hari pula.

Kita ini objek permainan politik. Dan terlalu sedih mendapati bahwa masyarakat dengan mudahnya (atau mungkin mereka sebenarnya tidak merasa mudah juga) beroposisi secara ekstrim pada dua kutub yang begitu jauh berlawanan. Lalu, siapa yang mau dengan susah payah menempatkan diri dan berkorban sebagai jembatan di antara keduanya?

Antara muak namun merasa harus peduli dengan perkara ini, saya pun gamang dalam melihat, apalagi menghadapi dan menanggapi. Masyarakat terbelah menuju dua kutub ekstrim. Anehnya, relasi yang tercipta di antara mereka masih saja sama. Bisa saja kedua pihak adalah rekan kerja, teman kuliah, saudara kandung, dan sebagainya. Dalam pertikaian menentukan mana yang menurut mereka patut dibela, keduanya kemudian bertemu dengan kenyataan bahwa sebeda apapun mereka dalam pendapat hubungan persahabatan mereka cukup pantas untuk dipertahankan meski beberapa ada yang memilih untuk bertikai, beberapa terpaksa berdamai karena memiliki hubungan darah yang tidak mungkin dihapuskan.

Saya prihatin sih sebenarnya melihat semua ini. Hanya saja, sejauh ini saya pun belum melakukan sesuatu kecuali berusaha mendalami lingkungan sekitar saya, sembari berkesadaran semakin tinggi mengenai hidup. Refleksi menduduki tindakan paling tinggi yang dapat membawa pada pemahaman akan kemanusiaan menurut saya. Sebagai hasilnya, kesadaran akan kemanusiaan akan datang bersama dengan kedalaman refleksi yang sudah dilakukan.

Entahlah, saya pun masih hanya sekedar menuliskan ini. Jauh di belakang pemikiran, saya mengagumi pendidik-pendidik saya yang mendorong saya untuk terus melakukan refleksi. Mungkin, barangkali mungkin, pendidikan yang berbasis refleksi akan membawa kita pada kemanusiaan dan keadilan yang lebih dari sekedar jargon saja. Semoga.

wordsflow

menghapus kebencian


Ada sebuah ketakutan yang selama ini dibawa serta oleh pemikiran dan hati yang menghidupi diri. Suatu waktu, berbagai pertimbangan rasional dan emosional pun tidak mampu menghapuskan perasaan aneh bernama kebencian yang menggelayut. Ia bukan hanya bergabung teguh dengan ketakutan menciptakan penjara yang tidak bercelah pun tanpa cahaya.

Kadang di tengah penyesalan saya akan perasaan itu, tidak ada yang mampu menolong kecuali mencurahkan segala ketidakmampuan diri dalam bentuk air mata, atau duka yang terlalu pahit nan pekat. Saya selalu percaya kala itu, bahwa tidak akan pernah ada yang bisa menolong saya dari belenggu itu kecuali dengan berjalannya waktu. Tapi, menunggu atau beradu, keduanya pun saling berseteru.

Rasa benci itu hal yang tidak pernah mampu saya urai selama ini. Kebencian yang menyengat ke masa lalu, kepada manusia-manusia yang tidak sungguh bersalah, kepada momen yang tidak pernah tepat, kepada nasib yang tidak pernah mendukung, kepada diri yang tidak pernah mau menyerah ataupun melangkah, kepada masa depan yang tidak pernah memberi kepastian. Semua hal yang mengganggu itu terangkum dalam sebuah rasa yang pahit bernama kebencian. Hal yang sungguh tidak pernah berhasil saya damaikan dengan kesenangan, pengharapan, cinta, ketenangan, maaf, atau segala bentuk rasa lainnya. Dia menjadi sebuah yang dominan dan bercokol mengangkangi segalanya.

Lalu, saya semakin terpuruk membenci.

Begitu sederhana rasa itu sebenarnya. Penolakan untuk ikhlas menerima, untuk menikmati hidup sebagaimana adanya; tanpa prasangka, tanpa tuduhan, tanpa apapun kecuali menjalani sebaik yang saya bisa. Pun, setelah memahami bukan berarti pemahaman itu akan datang bersamaan dengan perasaan yang sama.

Apa yang kau tahu soal memahami dan merasakan? Keduanya tidak pernah berkawan akrab. Keduanya adalah asing satu sama lain. Merasakan adalah yang lebih jauh saya akrabi, sedang memahami adalah hal yang baru saya kenal namun saya sukai.

Belakangan, ada harapan yang tersemai, ada celah yang telah terbelah. Pada akhirnya. Dan saya kira, seharusnya saya tidak pernah menyia-nyiakan celah itu sesegera mungkin sebelum sekali lagi terisi endapan yang semakin mengerak.

Berupaya tidak boleh setengah-setengah kata seseorang. Orang lain mengatakan bahwa berupaya tidak akan pernah salah asal dengan sepenuh jiwa.

Yang manapun yang benar, saya tak lagi cukup peduli. Pada akhirnya yang lebih saya percaya adalah suara di dalam diri. Menerima dan mempercayai tidak akan pernah ada artinya tanpa bertindak dan bergerak. Begitulah yang abstrak selalu kalah dengan yang empirik. Yang ideal selalu jatuh di bawah yang material. Kadang mungkin, yang ‘terasa’ kalah dengan yang ‘ternyatakan’. Kadang kala.

Suatu pagi saya terbangun dengan sebuah kesadaran baru. Ternyata saya menyisihkan cinta yang besar untuk diri sendiri. Selama ini saya bukannya mengabaikan diri, hanya saja kesadaran akan diri itu tersisih karena terlalu sibuk mencintai orang lain.

Pagi itu saya tersadar, cinta itu lah yang membuat saya berhenti merusak diri, berhenti membenci diri, berhenti takut akan hal yang tidak pasti, dan mengakrabi diri jauh lebih dalam dan lebih tenang. Dia juga yang membuat saya bisa bertahan dalam luka dan duka, dalam pengharapan dan bahagia, dalam ketakutan dan gelap gulita. Meski demikian, saya masih begitu mempercayai perasaan saya, dan bagaimanapun selama ini hal itulah yang mengawal saya menjalani hidup yang sudah 25 tahun ini. I do feel the intimacy with the quarter life crisis these days.

Mungkin, pada waktu tertentu saya percaya akan ada masa badai datang kembali, mungkin dengan kekuatannya yang lebih besar. Namun hari ini, kali ini, biarkan saya menikmati ketenangan air tanpa riak, langit tanpa awan, gerimis tanpa angin, harap tanpa resah, dan cinta tanpa ketakutan, pun tanpa kebencian.

wordsflow


Aku tertambat pada tiga jangkar; ruang, rindu, dan waktu.

rumah; a place where you belong


Sepertinya saya pernah membahas mengenai rumah di blog ini. Sebuah pendalaman yang ketika itu saya dapatkan karena seorang dosen mengatakan bahwa rumah adalah tempat yang selalu membuatmu mulih (yang dapat berarti pulang dan pulih). Demikian, maka rumah bisa jadi apapun yang membautmu merasakan keduanya.

rumah adalah tempat yang membuatku tidak merasa bersalah menghabiskan waktu

Kadang manusia terbangun dan mendapatkan kesadaran baru tentang sesuatu. Tentang rasa, tentang cerita, tentang manusia, tentang banyak hal. Saya rasa, menjelang tidur saya telah cukup berbesar hati untuk berdamai dengan banyak hal, untuk memutuskan berbagai hal. Nyatanya ketika bangun, kesadaran lain yang muncul. Lalu, itu alam sadar atau alam bawah sadar yang sedang mengemuka?

Semalam saya dan Anis membicarakan rumah tinggal. Saya sadar rumah saya di Bantul sana agak jauh dari standar rumah yang ngarsitektur. Secara pembagian ruang dan aksesnya tidak maksimal dan banyak ruang-ruang nanggung dan sulit dipergunakan. Beberapa waktu ini pun ramai diperbincangkan di berbagai kalangan mengenai kemungkinan anak-anak milenial tidak akan pernah mampu membeli rumahnya. Ujung-ujungnya paling hanya rumah tapak kecil, atau apartemen, atau rumah kontrakan. Ini menarik, karena rumah selalu diasosiasikan dengan sesuatu yang tetap, tidak berubah, dan diwariskan.

Rumah, bukan hanya perkara place dan space, tapi sekarang dia menjadi aset dan representasi kemapanan hidup. Simbolisasi ini agak aneh sebetulnya jika ditelusuri lebih jauh ke belakang. Bagaimanapun, di banyak masyarakat, aset tidak didasarkan pada rumah, namun kepada tanah sejak dahulu kala. Banyak contohnya, dimana-mana ada. Saya tapi lebih suka menggambarkan lewat sepenggal cerita di Ronggeng Dukuh Paruk.

Mungkin karena cara menceritakannya, saya menjadi tersentuh dengan novel itu. Pun imaji saya tentangnya belum juga hilang lantaran nilai-nilai di dalam novelnya yang saya suka. Oiya, ke intinya. Jadi, rumah orang-orang Dukuh Paruk digambarkan sebagai sebuah rumah kayu reyot. Dalam perkembangannya, ketika Srinthil akhirnya menjadi seorang ronggeng, rumahnya perlahan mengalami perubahan. Atapnya berubah, perabotannya berubah, dan bahkan material rumahnya pun berubah. Di saat yang sama, penduduk lain masih menggunakan model rumah lama yang hanya terbuat dari kayu seadanya. Ketika akhirnya terjadi kerusuhan dan rumah penduduknya dibakar, yang terjadi adalah berdirinya rumah-rumah ilalang yang baru, seolah-olah tidak terjadi apapun sebelumnya, dan mereka tetap tinggal di sana begitu saja.

Penggambaran saya memang tidak seromantis itu mengenai tanah dan rumah. Tapi yang mau saya bilang adalah, orientasi terhadap tempat tinggal kini disederhanakan dalam bentuk rumah. Padahal, tempat tinggal adalah place and space, yang mana juga menyangkut lingkungan alamnya. Ketika orang berorientasi pada rumah, terang saja menjadi sesuatu yang terlampau jauh untuk dijangkau. Padahal, sebenarnya harga tanah juga ada yang enggak semahal itu dan bisa saja terbeli dengan harga terjangkau. Kadang memang, akses menjadi pertimbangan dengan memperhitungkan jaraknya dengan tempat kerja. Tapi yaah, banyak faktor sih.

Di waktu tertentu, kadang saya merasa bahwa tinggal itu perkara yang sulit untuk didefinisikan. Beberapa orang merasa baik-baik saja terus berpindah rumah dan tidak menetap di satu wilayah, mempersimpel barang-barang mereka, dan memilih untuk terus menjadi nomad. Begitu pula selama menjadi pelajar dan mahasiswa, bahkan setelah kerja, banyak orang yang nyaman saja menjadi nomad. Bahkan lagi-lagi, saking nyamannya berada di lingkungan kerja atau kampus, tempat tinggal menjadi hanya sebatas ruang tidur dan kamar mandi saja, tidak lebih.

Ah, tapi itu mungkin saya, hehe. Toh banyak sekali contoh lain yang lebih menghidupi ruang privasi mereka dengan berbagai kegiatan.

Demikian, maka mendefinisikan rumah buat saya rasanya tidak mudah. Beberapa tempat begitu nyaman sehingga saya bisa menghabiskan waktu saya tanpa pernah merasa bersalah sama sekali. Beberapa tempat menjadi sebatas ruang yang dimana saya berada, namun tidak merasa.

Maka, perkara rumah ini menarik karena semakin berkembangnya segala hal, maka orientasi dan definisi seseorang atas rumah pun akan sangat berbeda. Sama seperti Anis yang mengharapkan bisa tinggal di Bantul, atau saya yang pengen punya rumah di daerah semacam Gunung Kidul. Bisa jadi, itu hanya angan-angan perkara kebiasaan. Siapa yang bisa meyakinkan?

Mungkin pula, definisi saya juga akan berubah besok, minggu depan, atau tahun depan, saya pun tidak tahu. Bisa jadi begitu menikah saya akan berusaha punya rumah sebagaimana yang diidam-idamkan orang-orang di masa kini. Bisa saja saya memang akan terus nyaman dengan ruangan seluas kosan saya. Tak ada yang tahu. Tidak juga diri saya, hehe.

wordsflow

pantai, dan hari panas yang lain


Sudah lama saya tidak menulis sebuah catatan perjalanan. Maka, kali ini saya mau bercerita sejenak perihal libur yang tiada habisnya. Dan waktu yang terlalui dengan begitu banyak percakapan di antara berbagai manusia.

Pantai sudah menjadi hal yang saya akrabi sejak kecil. Tapi karena ketakutan saya pada air, jarang sekali saya merasa sungguh menikmati pantai, hehe. Lebih dari itu, air pantai selalu pliket dan tidak nyaman di kulit, sehingga saya tidak sebegitu merasa tertarik kepada pantai. Tapi yah, meski begitu nyatanya saya sering bermain ke pantai, entah dengan berbagai macam tujuan, hehe.

Sekitar setahun yang lalu, Ocean of Life yang ada di Watu Kodok membuat semacam trip tracking dari Siung ke Wedi Ombo. Jalurnya sangat indah, dan karena mahal saya tidak ikut trip itu.

Hingga akhirnya, beberapa waktu yang lalu saya menemukan teman seperjalanan untuk trip ini, hehehe. Kami berlima memutuskan untuk menghabiskan waktu libur yang mepet dengan mengambil trip ke sini. Sebenarnya tripnya nggak sampai tracking ke Wedi Ombo, tapi ini sudah sangat menyenangkan.

Saya tadinya hampir memutuskan tidak jadi berangkat karena begadang, tapi akhirnya jalan juga, hehe. Setelah sarapan soto di Sagan, kami pun berangkat menuju Pantai Siung. Hari itu sangat panas, dan udara yang begitu gerah menemani kami. Beruntung sekali karena saya tidak harus menggunakan motor saya yang sudah menyedihkan itu, hahaha.

Begitu sampai kami sama sekali tidak menyentuh air laut dan langsung saja menuju tempat tujuan. Jalan di tengah terik matahari memang tidak menyenangkan. Bahkan selepas tanjakan pertama kami memutuskan nongkrong di warung dan membeli es teh. Sayang sekali si es tidak ada, jadilah kami hanya numpang berteduh di warung sembari mengumpulkan semangat menerobos terik matahari yang gila-gilaan.

Kan, tiba-tiba saya tidak bersemangat meneruskan cerita ini.

Tapi yasudah, pokoknya kami menempuh perjalanan lumayan panjang melewati ladang dan jalan setapak. Saya sangat menyukai jalan itu, suka banget. Dan beruntung sekali akhirnya saya bisa menempuh perjalanan di jalur yang sudah saya angan-angankan sejak tahun kemarin.

Setelah tanjakan pertama tadi, jalanan berubah datar. Jalan menanjak hanya sampai warung yang biasanya digunakan untuk berfoto-foto para pengunjung Siung. Tidak banyak yang meneruskan ke jalur kami, dan riuh rendah pengunjung teredam begitu kami meneruskan perjalanan. Jalan setapak yang membawa kami berbelok ke kanan, melewati ladang kacang. Kami membayar retribusi untuk kedua kalinya di bagian ini. Ada beberapa rumah yang kami lewati, dan memang orang-orang ini tampaknya tinggal di sana.

Jalanan kemudian berbelok turun ke kiri, ke arah sungai. Kami melewati jalan setapak di samping sungai. Dan, jeng-jeng-jeng, ada rumah lain yang jualan es teh. Langsung saja kami duduk di lincak bawah pohon, memesan es teh, main musik, lalu foto-foto di sungai, hehe. Pemandangan dari spot itu bagus, dan saya bisa saja betah sampai sore nongkrong di sana.

Air mengalir sampai ke laut ❤

Sampai sini saja saya sudah bahagia, padahal tujuan kami masih setikungan lagi. Hehehehe. Entah berapa banyak foto yang kami ambil, tapi cukup lama kami menghabiskan waktu di sini. Bahkan sempat membuat rekaman video kompilasi musik. Selesai membayar minuman kami meneruskan perjalanan. Sebenarnya terik matahari dan udara bercampur air laut sudah berhasil membuat saya gerah banget. Jadi saya sarankan untuk tidak memakai celana jeans kalau jalan-jalan ke sana. Gunakan juga pakaian yang outdoor yang nyaman. Intinya, lebih baik setelah outdoor gembel gitu lah yaaa, jangan kayak saya. Hahaha.

Spot favorit

Ini dia spot foto yang membuat saya mupeng banget sedari setahun yang lalu, ketika saya melihatnya di poster Ocean of Life. Menyenangkan, sungguh. Dan saya rela berlama-lama di sepanjang jalan itu untuk merekam semua yang saya lihat di dalam ingatan. Bahkan, saya pikir saya sebaiknya punya rumah yang halaman belakangnya langsung menuju jalan semacam ini. Well, that’s too over-dream sih tapi.

Jalan itu tidak panjang memang, hanya setikungan itu, kemudian menanjak sebentar, dan sampailah kami di bukit tujuan! Dari sana sebenarnya bisa dilanjutkan sampai ke Wedi Ombo. Tapi itu bukan tujuan kami, dan rasanya terlalu lapar untuk melanjutkan perjalanan. Kami akhirnya menghabiskan seharian untuk duduk termenung, mengobrol hal-hal receh hingga serius, masak-masakan, baca novel, mainan anjing, sampai bikin video rekaman. Seolah-olah tak ada pe-er yang menunggu untuk dikerjakan bersama, hehehe.

Tapi bagaimanapun, jalur itu layak untuk dilalui lagi, mungkin berkali-kali.

Si anjing jinak yang menemani main

Yang ini si anjing manis yang menjaga tempat main kami. Dia kepunyaan bapak-bapak yang buka warung di sana, sekaligus penjaga bukit kali ya. Saya sebetulnya terobsesi punya anjing dari lama. Maunya sih, kalau nggak golden retriever ya siberian husky. Tapi saya takut memelihara hewan; takut nggak sanggup ngerawat dan akhirnya mati. Dan oleh karena itu saya lebih suka gangguin piaraan orang lain, hehe. Duuh, si anjing tampan banget deh, gemas!

Grup musik dadakan

Si teman saya yang pegang gitar itu punya berbagai alat musik daerah, yang dengan suka rela ia bawakan untuk kami. Dia juga yang mengaransemen komposisi musik untuk kami jadikan video rekaman di siang yang terik itu. Jadilah jalan-jalan kami menghasilkan dua rekaman video musik yang cukup membanggakan buat saya yang memang nggak pernah punya bakat musik dari dulu. Saya tadinya mau membagikan videonya, apa daya karena filenya yang terlalu besar makanya saya tidak bisa upload, hehe.

Akhir kata, akhirnya saya selesaikan juga tulisan ini. Daan, mungkin saya akan menulis trip-trip lain. Mungkin.

 

Ceritanya sok-sok-an candid

laugh until it get hurts, yet it would never hurts your heart; only tickling your stomach instead

wordsflow