WORDS FLOW

setiap pengalaman pantas untuk diingat

sajak kosong


kita menebar rindu; ya, aku dan kamu

seperti menebar bunga di pemakaman, atau serupa taburan bunga di pernikahan

kadang burung elang yang kulihat berputar-putar, barangkali ada ular di bawahnya

di waktu yang lain hanya seekor cekakak sungai yang melenggang anggun di atas tepian rawa

lagu-lagu terputar pada piringannya, tirai dipasang begitu matahari hilang

rindu kita telah terserak di halaman, menanti untuk dituntaskan

barangkali esok beberapa akan mekar sehingga menarik perhatian

sisanya layu atau tersimpan di tanah tak berbatu

rebah mataku menahan lelah untuk menantimu

di sela waktu ada denyut yang mengingatkanku, di kala lain segalanya sama tak berartinya seperti yang telah lalu

lalu sajak ini?

tak ada perasaan yang butuh diterjemahkan, ia hanya wajib dirasakan

lalu sayang, jangan lupakan setiap verba yang terrekam

barangkali aku melupakan maknanya dalam kita

atau pada akhirnya

kala malam hilang

pagi menghamburkan yang tertera, mengabarkan kekosongan antara aku dan rindu

wordsflow

Advertisements

“karena hierarki itu perlu”, katamu suatu hari


Muak juga dipikir-pikir. Setiap kali menulis atau berbincang dengan seseorang, minimal selalu ada satu keluhan yang saya lontarkan. Menjadi orang yang positif agaknya bukan takdir saya, hahaha. Sok membenarkan diri banget.

Ada banyak perbincangan di antara saya dan teman-teman dalam kegiatan saya sekarang. Di kegiatan ini, banyak orang bertemu dengan berbagai latar belakang yang sepenuhnya berbeda dan barangkali sama-sama tidak saling menyangka. Berapa lama kami bersikap tak acuh dan apatis satu sama lain karena merasa bukan satu bagian yang sama. Berapa lama kami saling menggunjing soal satu sama lain karena pandangan yang tidak bisa sejalan. Dan sepanjang waktu, ada banyak yang mulai belajar soal memandang manusia yang lain dengan cara yang sama. Tak jarang ada yang tetap teguh dan semakin keras dalam memegang prinsipnya soal orang-orang dalam tim.

Sudah barang tentu bagi kami yang mahasiswa (sipil dalam bahasa rekan-rekan kami), mengikuti serangkaian kegiatan ini adalah keinginan pribadi. Demikian, mereka menuntut kami untuk mengikuti setiap detil kegiatan sesuai dengan standar yang mereka berikan. Lha wong kami suka rela kok ikutannya, salah siapa? Begitulah logikanya kira-kira.

Jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh rekan-rekan non sipil. Mereka mendapat surat perintah dari atasan untuk bergabung dalam tim kami. Ibaratnya, mereka mengutuk penugasan yang tidak ada gunanya ini bagi mereka. Mereka mengutuk kami yang harus dikawal 24 jam dengan senjata. Mereka mengutuk setiap perintah untuk mendampingi kami. Bahkan beberapa sungguh mengutuki segala hal yang berhubungan dengan kami.

Kadang saya merasa sangat aneh dengan semua itu. Kegiatan ini ada di bawah instansi yang menaungi mereka, tapi seolah kami lah yang bertanggungjawab atas segala hal yang ada di dalamnya. Segala sesuatu sungguh-sungguh dikerjakan lebih banyak oleh kami yang warga sipil.

Tapi perkara ini tidak sesederhana itu. Saya pribadi merasa tidak ada kepuasan di antara semua orang. Banyak di antara kami yang merupakan ‘pendaftar suka rela’ toh menuntut banyak hal kepada penyelenggara, seolah pihak instansi bukanlah pihak yang paling punya kuasa. Ada pula yang karena keterpaksaan tugas nyatanya toh bersyukur bisa mengenal kami. Ada hal-hal minor yang menjadi retakan atas suara mayoritas yang ada di dalam keseluruhan peserta kegiatan.

Pada banyak percakapan, kami adalah pihak yang paling salah dalam hal apapun. Kami menjadi pihak yang selalu disalahkan akibat keterlambatan anggota. Kami menjadi pihak yang disalahkan atas pembekalan yang bagi mereka tidak ada gunanya. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Pada kenyataannya, masing-masing dari kami tetap manusia biasa. Beberapa rekan yang pernah mengenyam pendidikan perkuliahan pada akhirnya menggambarkan hal-hal yang membedakan kami dan mereka. Ada banyak hal-hal yang sangat manusiawi yang juga mereka miliki. Mereka rindu keluarga, pacar, kampung halaman, atau makanan enak. Mereka sama mata duitannya dengan warga sipil yang lain. Mereka juga sama ingin belajar, bahkan di lapangan mereka akan bertanya lebih banyak dibanding kami.

Di sisi yang lain, banyak dari kami mendamba ketegasan, ketepatan waktu, dan barangkali hierarki yang dipatuhi. Aneh memang, tapi hubungan manusia selalu terwujud sebagai love-hate relationship. Kita akan bisa bercermin pada sesiapapun yang kita temui.

Saya pikir saya bukan tipe orang yang menyukai hierarki yang terlalu ketat, dalam praktiknya ada hal-hal yang tidak selesai hanya karena mencoba terus berpatokan pada hierarki. Demikian, saya sering melompati hierarki untuk mencapai hal yang saya maksudkan dalam diskusi yang panjang. Bagi rekan-rekan kami, menolak perintah artinya membangkang. Setiap pembangkangan berarti ancaman.

Maka hierarki adalah hal pertama yang harus dipegang sebelum hal yang lainnya. Ibarat kata, ketika berada di paling bawah kamu murni tenaga kerja alias babu. Tidak ada pertanyaan, tidak ada sanggahan. Hasilnya? Perintah akan dilaksanakan dalam waktu secepatnya. Secara hasil segalanya sesuai dan sukses terlaksana. Namun secara kualitas? Hasil ditentukan oleh perintah. Tidak ada improvisasi di bawah hierarki.

Di sana lah kami sering berbenturan keras. Kami melompati hierarki sebagai upaya mencapai kualitas yang lebih baik. Kami dihadang hierarki untuk menjamin bahwa masing-masing pihak dapat mengatur anggotanya dengan baik. Berapa banyak yang saya pelajari? Tentu banyak. Tidak jarang ada beberapa percekcokan, tapi banyak pula yang berakhir dengan kesepakatan.

Di balik semua itu, tetap ada pertengkaran setiap harinya. Pembicaraan di balik punggung masing-masing orang. Keinginan untuk membahagiakan dan memuaskan diri sendiri. Keterburuan untuk segera pulang. Dan seterusnya. Di balik identitas masing-masing orang, semua adalah sama. Kita banyak menyimpan berbagai pemikiran dan persoalan di dalam diri sendiri.

Dalam suatu kesempatan, pertanyaan sederhana soal hierarki itu pernah saya tanyakan pada beberapa orang. Semua sepakat bahwa dalam hierarki ada keteraturan. Keteraturan dan kepatuhan menjamin keberlangsungan. Dan demikian, maka hal itu layak untuk dipegang. Secara prinsip hal semacam itu sangat dipegang teguh dalam profesi mereka. Di luar itu, mereka toh masih manusia biasa, dan bahkan terlampau tidak terduga.

Tanpa berusaha menjadi yang lebih baik atau justru merendahkan diri, barangkali satu-satu keinginan yang ingin saya doakan adalah kesepahaman baru di antara manusia-manusia yang bertikai.

wordsflow

sajak dan perpisahan


Mari bercerita tentang apa yaaa.

Saya sedang tidak merasa bersemangat, pun tidak sedih. Kadang saya suka ragu mengakui sesuatu di blog ini. Biasanya hari esoknya saya akan dengan sendirinya tidak lagi mengalami hal yang saya ceritakan. Misal saya cerita sedang bahagia, esok hari yang terjadi justru sebaliknya. Dan bilamana saya bercerita sedang marah, esok harinya semua menjadi begitu biasa saja. Cerah luar biasa.

Jadi, mari tidak mengakui apapun yang saya rasakan. Setidaknya saya masih sehat dan baik-baik saja saat ini.

Setelah berminggu-minggu tak ada yang menanyakan kabar saya, entah angin apa yang berhembus, banyak nama muncul di ruang bincang elektronik saya. Dan agak aneh sebetulnya menemukan banyak nama di sana. Hanya saja, hal-hal mengejutkan selalu menyenangkan.

Saya kira tidak terlalu banyak yang bisa saya harapkan dari hal-hal yang terjadi. Kegagalan, keberhasilan, pencapaian, dan lain sebagainya selalu mengorbankan banyak hal. Semua orang berjuang dengan segala kemelut yang mereka rasakan di dalam dirinya masing-masing, dan saya pikir satu-satunya hal yang bisa saya lakukan hanya menghargai setiap kemelut itu. Saya rindu bersajak, tapi tidak ada hal yang memicu saya untuk bersajak.

Saya telah banyak bertemu dan berpisah dengan orang di tahun ini. Seolah tiba-tiba segala hal yang sebelumnya saya kira sangat rumit dan membingungkan menjadi cukup sederhana untuk dipahami. Bahwa berpisah hanyalah sebuah penegasan atas jarak dua manusia atau manusia dan lingkungannya. Toh pada dasarnya tidak pernah ada dua hal yang sungguh-sungguh menyatu. Karenanya perpisahan hanyalah sebuah penegasan bahwa jarak antara dua hal bisa menjadi begitu jauhnya. Demikian, maka pertemuan atasnya juga hanya sekedar penegasan bahwa jarak selalu relatif dan terus berubah, ia bisa menjadi begitu mampat. Bukankah pertemuan setelah perpisahan selalu menyimpan emosi berlebih dan dinantikan?

Tidak ada hal yang barangkali terlalu saya inginkan di saat ini. Tidak ada rindu yang terlalu berat untuk dipikul. Tidak ada harap yang terlalu digantung. Tidak ada sesal yang perlu ditanggung. Semua menjadi terserah saja sepertinya. Terkadang ada orang-orang yang paham bahwa tidak selamanya saya demikian. Tapi segala kemelut hanya butuh direnungkan sejenak, ditinggalkan barang 10 menit dan semuanya kembali menjadi hal yang biasa.

Setiap orang memilih yang terbaik untuk dirinya sendiri atau setidaknya hal yang menurut kita paling baik. Pilihan yang manapun memhasilkan konsekuensi yang barangkali sama bobotnya. Toh setelah pilihan diambil, adanya konsekuensi itu tidak lantas membuat pilihannya dapat diubah begitu saja. Maka menjalani tanpa terlalu banyak berekspektasi sepertinya menarik.

Esok hari saya akan bertolak sejenak. Entah mengapa perjalanan esok rasanya sedikit berbeda dengan perjalanan ke lapangan sebelum-sebelumnya. Rasanya sama seperti ketika saya membayangkan bagaimana bentuk tempat ini untuk pertama kali. Saya grogi.

Dan begitu saja. Selamat malam dan mimpilah semau kalian.

wordsflow

DIY projects and handmade trends


Salah seorang kakak kelas (salah satu yang terbaik) saya waktu SMA kuliah di Harvard. Kampus yang pernah saya idamkan setelah MIT tentunya. Tapi toh saya yakin kampus itu tidak pernah berhubungan dengan saya selamanya. Well, berhubung senior saya berhasil masuk ke sana, maka mari kita manfaatkan hal-hal yang dia pelajari untuk diri sendiri.

Belakangan senior saya punya vlog soal pemikiran pribadinya. Sebelumnya dia sudah aktif ngeblog sejak saya masih SMA. Kami teman ngeblog kalo di lab sekolah. Karena itu saya masih terus mengikutinya. Ketika saya menonton videonya siang ini, ada frasa yang baru saya dengar sekarang; kearifan praktis. Sila ditonton dulu kalau ingin tahu.

Sebetulnya video ini membahas soal implicit bias, yang mana akhirnya menjelaskan juga ke diri sendiri mengapa sampai timbul rasa iri terhadap orang lain. Barangkali memang begitu, bahwa di dalam diri kita ada standar-standar yang kita yakini tanpa sadar lebih dari standar yang lainnya. Karena itu akhirnya kita tidak pernah puas dan menganggap sesuatu lebih baik atau lebih buruk dari yang lainnya. Kita terbiasa membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain.

Tapi bukan itu yang menarik perhatian saya. Justru ketika membahas soal ‘kearifan praktis’, saya teringat bahasan mengenai DIY Projects dan handmade trends yang dipopulerkan oleh komunitas Punk dan kini menjadi hal yang tereksklusi di kalangan masyarakat. DIY dan handmade menjadi gaya hidup yang eksklusif dan seolah-olah begitu keren dibandingkan dengan model gaya hidup yang konsumtif. Padahal hal itu sebetulnya biasa saja.

Sebagai contoh, ketika kami sedang sibuk membuat properti untuk pameran, ternyata hanya satu orang dari seluruh mahasiswa yang sungguh-sungguh memiliki keterampilan sebagai tukang kayu. Keterampilan yang dimaksud adalah kemampuan untuk memahami, menelaah, membayangkan, mendesain, dan mengeksekusi segala ide dan gagasan yang berkenaan dengan perkayuan.

Saya kembali mengingat hasil pengamatan saya di masyarakat lokal. Hampir separuh dari istri muda di hari ini tidak dapat menganyam sehingga tidak bisa membuat sendiri perlengkapan adat mereka. Banyak yang menyatakan bahwa menganyam terlampau sulit. Padahal secara prinsip anyaman itu dapat dinalar dan dipraktikkan tanpa banyak kesulitan. Orang-orang tua di sini bisa menganyam sambil ngegosip seharian tanpa lelah loh. Para lelakinya hampir semuanya bisa membuat peralatan sendiri, dan membangun rumah sendiri. Tidak ada pihak yang bernama ‘buruh’ karena semua orang bisa melakukan segala hal seorang diri.

Saya membayangkan bahwa semua orang dahulunya juga melakukan hal yang sama dalam hidup mereka. Tidak ada pertimbangan bahwa melakukan hal-hal njelimet seperti menganyam misalnya, membuang-buang waktu. Padahal waktu yang terbuang tersebut sebetulnya juga digunakan oleh masyarakat di hari ini untuk mendapatkan uang yang barangkali juga nanti akan digunakan untuk membeli barang dengan fungsi sama. Kita hanya mengubah metodenya dan barangkali, mempermudah jalan menujunya.

Tidak ada maksud untuk menyatakan mana yang lebih benar dan lebih baik di hari ini. Saya yakin masing-masing dari kita memiliki pertimbangannya masing-masing mengenai setiap persoalan dan hal-hal yang berkenaan dengan hidup mereka. Hanya saja, saya ingin mengingatkan bahwa hal yang oleh rekan senior saya ini disebut ‘kearifan praktis’, pada masanya merupakan bagian yang dimiliki hampir semua orang, dan dipraktikkan. Tidak ada hal yang sungguh eksklusif dari DIY Projects dan handmade trends karena sebetulnya semua orang bisa melakukannya.

Percayalah, setiap orang yang menyatakan dirinya tidak bisa menggambar misalnya, akan menemukan bahwa dirinya setidaknya bisa menggambar satu karakter yang selalu sama. Dan untuk menjadi komikus, satu hal itu saja sudah cukup. Setiap orang yang mengatakan tidak bisa bermain musik misalnya, akhirnya akan turut bernyanyi juga apabila mendengar lagu kesukaannya. Dan begitu pula saya yakin, setelah mencoba dengan tekun, setiap hal yang kita pikir eksklusif sebetulnya adalah hal yang terlampau biasa saja.

Sebagai penutup, saya sebetulnya lupa tujuan tulisan ini apa gara-gara sempat terputus selama beberapa hari. Tapi begitulah gambaran singkatnya. Semoga berkenan.

wordsflow

saya dan arsitektur


Sudah lebih dari 2 tahun saya menyelesaikan studi arsitektur saya, dan hari ini sebuah pertanyaan tiba-tiba terbersit di dalam pikiran saya.

Masihkah saya layak disebut sebagai lulusan arsitektur?

Seminggu yang lalu saya bertukar cerita dengan Tamimi, rekanan saya di jurusan dulu yang hingga hari ini masih menggeluti arsitektur. Dia orang keren. Amat sangat jauh dengan saya, dia mendalami arsitektur tanpa berhenti belajar, baik dalam bidangnya maupun hal-hal lainnya. Sejak lulus, sahabat saya ini langsung masuk konsultan dan tentu saja, sudah ada beberapa karyanya yang dibangun. Bukan hanya itu, dia berani menantang diri sendiri untuk masuk ke hal-hal yang barangkali, kalo saya tidak akan mencobanya. Hahaha. Kami sempat membicarakan rencana-rencana ke depan. Dibandingkan dengan saya, dia lebih teguh untuk tetap mengambil studi magister di jurusan yang sama; arsitektur.

Lebih jauh lagi, teman-teman saya yang begitu lulus langsung melanjutkan ke studi kini bahkan mulai memperkenalkan bironya sendiri-sendiri. Beberapa dibangun secara mandiri, namun tidak jarang yang saling berkolaborasi. Ada juga teman-teman saya yang sudah mulai kembali ke kampus untuk menjadi dosen. Dan tentu saja, masih sangat banyak teman-teman saya yang lainnya yang masih ada di jalur itu dengan berbagai prestasi mereka yang luar biasa.

Apa gerangan yang menyebabkan pertanyaan itu muncul?

Adalah kerjaan saya membuat konsep dan mempersiapkan pameran selama seminggu belakangan ini. Saya ingat masa-masa kuliah saat harus begadang mengerjakan tugas. Padahal tugas itu sudah diberikan jauh-jauh hari. Jauuuuuh sekali. Dan selalu saja saya baru mulai mengerjakannya di waktu-waktu yang mepet.

Kadang-kadang saya masih bertanya-tanya kenapa saya begitu malas masuk kuliah ketika itu. Padahal banyak sekali hal menyenangkan di kampus yang bisa saya kerjakan. Lantas saya juga menggali ingatan tentang teori-teori yang selama ini saya pelajari di kampus.

Nihil. Saya lupa sekitar 70% dari kuliah yang saya peroleh. Yang tersisa hanya pengetahuan dasar terutama pada soal konstruksi dan sirkulasi; dua hal yang paling saya suka dari mendesain. Sisanya, termasuk di dalamnya kuliah tentang estetika dan sebagainya itu, sulit saya ingat kecuali masa-masa ketika saya tidak sepakat dengan dosen saya.

Saya memang ingat semua desain yang pernah saya buat selama kuliah. Namun ketika saya membuka dokumennya di laptop, tidak banyak yang saya temukan di sana. Hahaha. Sudah saya tidak punya kamera, pun semua kerjaan saya masih saya kerjakan manual. Satu-satunya desain yang saya digitasi hanyalah Tugas Akhir. Masa-masa tersulit saya dalam hidup agaknya. Bahkan saya ragu masa menulis thesis nanti akan lebih sulit dari itu.

Cita-cita saya sederhana sebetulnya, saya hanya ingin membangun rumah tinggal sendiri. Untuk itulah saya berupaya untuk menjadi arsitek. Barangkali hal itu sangat tidak masuk akal untuk hari ini. Di saat segala hal sifatnya sangat komersil, menjadi arsitek rumah tinggal sama halnya bunuh diri karena tidak akan banyak yang diperoleh, bahkan untuk hidup pun belum tentu cukup. Tapi saya masih menganggap hal itu sebagai cita-cita yang layak untuk saya kejar. Dan sangat layak untuk saya perjuangkan.

Tapi bagaimana cara mencapainya?

Sejak lulus, saya hampir tidak pernah menyentuh arsitektur. Saya tidak pernah update dengan arsitek-arsitek terkenal di hari ini, saya tidak kenal arsitek di Indonesia, saya tidak tahu karya-karya hebat, dan lebih parah lagi saya tidak memperkaya pengetahuan saya pada ranah arsitektur dan teknologi bangunannya. Dibanding membaca semua hal itu, saya cenderung lebih suka membaca novel klasik, atau menonton anime.

Di waktu-waktu seperti inilah saya menghadapkan diri pada pilihan untuk berhenti berarsitektur atau tetap memegang cita-cita saya sebagai arsitek rumah tinggal.

Pertanyaannya, bagaimana memastikan bahwa saya ‘berhenti’ atau ‘tetap bercita-cita’? Parameternya tidak ada, dan variabelnya pun tidak jelas.

Barangkali, ini bukan persoalan berhenti atau tidak, lanjut atau tidak. Saya pikir hal semacam ini lebih pada soal kecintaan. Cieeh. Maksudnya, sebagai orang yang selalu sulit menjatuhkan pilihan, ada ketidakrelaan di dalam diri untuk melepaskan arsitektur dan sepenuhnya berpindah ke antropologi. Saya terus menerus dengan jumawanya mengatakan ke diri sendiri bahwa lintas jurusan tidak pernah salah, pada dasarnya semua ilmu cocok satu sama lain. Saya mendua memang, tapi saya mencintai kedua studi itu.

Ada banyak hal di arsitektur yang belum tuntas saya pelajari dan barangkali tidak akan pernah tuntas selamanya. Demikian juga di antropologi ada begitu banyak hal yang tidak bisa saya padu-padankan dengan studi arsitektur, tapi itulah tugas yang saya petakan untuk diri sendiri.

Tidak jarang saya tersenyum senang ketika ada yang memuji kenekatan saya mengambil lintas jurusan meski tidak memiliki latar belakang yang sungguh mendukung (saya belum pernah penelitian sama sekali!). Tapi sebetulnya saya mengirikan status ‘arsitek’ yang sungguh-sungguh disandang teman-teman saya yang telah berkarya. Sedangkan saya belum berhasil menelurkan satu karya arsitektur pun. Hahaha.

Dan begitulah. Saya sering meledek diri sendiri karena pemalas luar biasa dan akhirnya hanya bisa melihat orang lain berkembang dari jauh. Saya rindu diskusi-diskusi arsitektur, hehe. Tapi saya orang yang selalu ragu memastikan partner terbaik. Jadilah saya ngobrol dengan sesiapa yang bisa saya temui.

Kabar baiknya, saya ternyata masih bersemangat membuat maket dan masih paham skala. Bahkan setelah tangan pegal dan tengkuk sedikit nyeri, saya ternyata tidak bad mood dan nggak mutung. Sementara, itu saja sudah lebih dari cukup untuk memastikan bahwa masih ada harapan untuk saya dan arsitektur.

Tabik.

wordsflow

titik


Sudah lebih dari cukup saya merenung dan memikirkan banyak hal. Tetap saja saya tak pernah mampu menjatuhkan pilihan. Saya cemas dan ragu pada banyak hal. Saya bingung dan linglung pada berbagai pilihan. Dan sayang sekali saya tak pernah bisa menyembunyikan isi hati. Barangkali saya terlalu ekspresif seperti sekarang ini.

Saya tidak jenuh tentu saja. Tapi saya berubah. Sangat banyak hanya dalam waktu beberapa bulan. Selama 2 minggu tidak ke lapangan, bayangan pemikiran lampau sering datang kembali. Saya kebanyakan duduk.

Barangkali itu yang mendasari kecintaan saya pada perjalanan; ia membuat saya melepas kesedihan dan penyesalan lewat keindahan visual. Alhasil yang muncul adalah lamunan menyenangkan dan penuh ide. Saya khawatir telah terlalu lama mengasihani diri sendiri. Lantas mencoba memberitahu dunia saya membutuhkan perhatian. Namun kemudian menampiknya.

Saya resah pada banyak hal yang pernah terlontar dari diri sendiri; kalimat buruk, janji yang tak sengaja terucap, umpatan tak termaafkan, gunjingan akan orang yang mengasihi, dan seterusnya. Tak ada yang tidak dirasa perlu untuk dicemaskan. Tapi toh tak ada yang mau menunggu untuk membiarkan saya sadar akan hal-hal buruk itu.

Ah, intensi tulisan ini tidak untuk membuat saya semakin terombang-ambing. Saya sadar saya telah terlalu lama menikmati kebimbangan diri. Berpikir penuh mengapa, berjalan tanpa bagaimana, menjalani tanpa tapi, melalui tanpa seandainya, lalu hanya mengenang dalam bahagia, dan tertawa sepuasnya. Hal-hal itu yang coba saya capai dari hari ke hari, menit ke menit.

Sekali waktu saya mencoba menampar diri melalui beberapa cara. Toh saya masih tak mampu menahan diri untuk menaruh harap dan andai. Setelahnya menampik untuk kemudian mengaisnya suatu hari. Keresahan itu tidak berakhir, hanya semakin disadari.

Di setiap waktu menjelang tidur, semakin banyal hal melayang dalam pikiran. Hanya dengan menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang selalu cemas, saya merasa tak pernah sendirian. Ada banyak manusia yang juga berpikir menjelang tidurnya.

Lalu, barangkali ucapan selamat tidur terlalu sederhana. Tapi saya tahu itu menenangkan. Jadi, selamat malam, semoga lelap tidurmu untuk bersua dengan sesiapa di pagi mendatang.

wordsflow

curhat (yang ke berapa ya?)


Sebetulnya sebelum ini juga curhatan semua isinya. Cuma yang kali ini sungguh curhat.

Kenapa yaa? Saya pun tidak terlalu paham. Tapi yang pasti saya memimpikan hal-hal yang tidak seharusnya akibat berkabar dengan terlalu banyak orang. Bukan kemudian saya tidak suka berkabar dengan orang-orang juga. Tentu saja saya merindukan mereka, merindukan kalian, merindukan rumah. Hanya saja ada beberapa hal yang membuat saya tergelitik sebagai hasil dari obrolan-obrolan panjang.

Kata teman saya, “sayang itu baik, karenanya harus berdampak baik”. Bagaimana mengartikannya? Lagi-lagi saya mencoba mengingat banyak hal yang telah lewat, dan barangkali hal-hal yang mungkin akan saya lewati kemudian. Menyadari kembali bahwa ada bayangan-bayangan meresahkan yang kadang masih tersimpan di belakang jauh pikiran saya. Berdiam tenang tanpa mencoba menampakkan diri. Tapi saya tahu pasti, hal-hal semacam itu masih ada di sana.

Kenyataan memang lebih sering menjadi terlalu pilu. Tampaknya terlalu bercanda, dan memang begitu. Tapi ia tetap sesuatu yang nyata. Ia tetap sesuatu yang menimbulkan rasa. Membercandai nasib itulah yang kemudian menjadi jalan tengah untuk menerima yang terberi.

Pada sebuah obrolan random dengan seorang teman yang lain, saya mencoba memaparkan bagaimana saya memahami karakternya sebagai seorang individu. Pada suatu titik saya katakan bahwa dia cukup brengsek dalam melihat perempuan. Hanya pada perempuan tertentu ia tidak menjadi begitu brengsek.

Jawabannya sungguh mengejutkan. Katanya, “semua laki-laki begitu”. Saya jadi bertanya-tanya apakah saya juga melakukan hal yang persis sama dengan orang-orang di sekitar saya? Entah pada perempuan atau laki-laki? Ternyata saya tidak jauh berbeda dari yang saya tuduhkan dengan kasar padanya. Saya sama saja brengseknya. Barangkali hanya tindakan dan cara melakukannya saja yang berbeda.

Ada yang tidak akan pernah bisa disamakan antara satu orang dengan orang lainnya. Itu kenyataan. Salah satu yang cukup pahit untuk diterima barangkali. Ada saja cara untuk menampik motivasi yang susah payah kita berikan untuk seorang adik yang sedang berada dalam keterpurukan. Ada saja cara seseorang untuk menampik tuduhan baik dan buruk dari orang lain.

Berita baiknya, di antara hal-hal mengejutkan itu saya sering menemukan kejujuran yang tidak pernah saya lihat dalam hidup mereka yang sesungguhnya. Kadang bahasa teks menjadi sangat menarik di satu sisi. Dan menyebalkan pula di sisi yang lainnya. Hehe.

Dalam jarak (kenapa harus saya tekankan mulu yak?), komunikasi tekstual menjadi pilihan yang paling nyaman buat saya. Biarpun saya sering grogi dalam bercakap dengan orang yang tidak sungguh saya akrabi, tidak jarang juga saya menantikan chat dari orang yang merindukan saya. Hahaha. Norak abis.

Biasa saja. Segala hal menjadi biasa saja kadang-kadang. Terlalui apa adanya. Terlampaui dengan bersahaja. Ternantikan tanpa ekspektasi. Tersimpan tanpa penyesalan. Sedih barangkali iya. Dan tentu saja. Misalnya ketika saya tidak bisa bertemu teman-teman saya yang berkunjung ke Jogja. Ketika saya tidak bisa menghadiri pernikahan teman-teman saya. Ketika saya harus melewatkan kesempatan-kesempatan yang sebelumnya telah terpetakan. Namun sedih pun hanya menjadi sesuatu yang diucapkan, dan disimpan di belakang pikiran saya. Yang begitu, sudah menjadi keahlian saya sebagai hasil pembelajaran bertahun-tahun.

Padahal saya rindu menangis sambil mendengar lagu sendirian. Tapi tidak berhasil juga. Dan tidak bisa pun tidak mengapa.

Lalu, soal maksud setiap tulisan setelah ini, saya tak mau repot-repot menegaskan maksud tersirat dan tersuratnya. Saya cukup yakin pembaca blog pribadi ini kenal saya luar dalam.

Terakhir, saya hanya ingin bilang satu hal. Saya rindu.

wordsflow

delusi


Ada alasan yang menyebabkan saya tidak terlalu menyukai berhubungan melalui jaringan telepon atau menggunakan ruang bincang. Saya amat sangat grogi ketika menemukan orang yang saya ajak mengobrol di telepon tidak dapat saya lihat wujudnya. Seolah saya tidak tahu hal apa yang harus saya ucapkan. Pun demikian ketika menemukan kawan bincang saya di ruang bincang sedang online, ada rasa grogi di dalam diri saya.

Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat mengubah cukup banyak hal di dunia ini. Memang, saya juga salah satu partisipan dan pelanggan setia teknologi ini. Namun demikian, ada hal-hal yang jauh lebih saya sukai; adalah bertemu langsung dengan manusia lain. Melalui teknologi, ada sangat banyak hal yang sebelumnya menjadi sebuah hambatan menjadi sesuatu yang tidak perlu diperhitungkan lagi. Jarak terreduksi, waktu terlampaui, dan kenangan menampakkan diri. Melaluinya, kita tidak lagi harus bersusah payah untuk mengenang sesuatu lagi. Cukup membuka ruang bincang dan membaca kembali apa yang telah lewat. Atau membuka album dan mengenang momentum yang pernah ada.

Tentu saja hal semacam itu membantu saya dalam menjalani hidup. Saya tidak lagi harus khawatir melupakan satu janji, atau salah memahami kalimat karena bisa dibaca berulang-ulang. Pun saya juga salah satu penikmat teknologi yang akan senyum-senyum sendiri ketika membaca perbincangan saya di ruang bincang.

Tapi kemudian, ada waktu-waktu ketika saya tersadar sedang sendirian di tempat berbeda dengan lawan bicara saya, atau ketika saya akhirnya tidak berada bersama mereka. Betul, kehadiran itu jauh lebih penting dibandingkan apapun, di luar ‘kegunaan’ seseorang dalam hidup orang lain. Hanya ‘hadir’ pun, akan ada cukup banyak hal yang berubah.

Teman baik saya menikah hari Minggu besok. Hehe. Padahal pernikahannya adalah salah satu agenda yang sangat saya nantikan sejak ia berkabar telah bertunangan. Apa daya, saya hanya bisa meraihnya melalui ruang bincang yang tidak menampilkan apapun kecuali sederetan kata. Hanya karena saya sangat mengenal lawan bincang saya, teks itu menjadi sehidup ketika saya berhadapan dengannya. Kadang ada sekelebat rasa sedih ketika sadar teknologi sebetulnya tidak pernah mampu menghapus ketidakhadiran.

Saya paling menghargai bentuk interaksi interpersonal; yaitu ketika dua orang sedang bersama. Di situ terletak segala hal yang mampu diinteraksikan atau disembunyikan manusia. Ada banyak contoh kontra-kondisi hubungan manusia. Ada manusia yang bisa dengan lancar berbincang di ruang imajiner, namun bahkan tidak pernah mampu menyapa manusia lain. Ada manusia yang hanya mampu berinteraksi di forum besar, namun terus menghindari konfrontasi interpersonal. Hehe, lucu ya.

Tentu saja saya sendiri masih belum mampu menjadi manusia seideal yang saya pikirkan sendiri. Kadang di waktu tertentu saya merasa jauh lebih berisik dari yang saya inginkan. Atau di waktu yang lain saya mengutuki diri sendiri karena masih saja menjadi orang yang penuh prasangka ketika berhubungan dengan lawan bicara.

Melalui teknologi informasi yang berkembang, hal-hal yang saya takutkan pelan-pelan saya tangani melalui berbagai cara. Tidak selalu berhasil, tapi setidaknya ada percobaan. Kadang masih ada orang-orang tertentu yang membuat saya terus berprasangka setiap kali berbincang. Dan tidak hilang juga meski saya berkata ‘semua akan baik-baik saja, segalanya adalah hal yang biasa’. Masih juga terus berulang meski berkali-kali saya meyakinkan diri sendiri.

Oke baiklah, karena malam telah larut, mari berkemas tidur.

wordsflow

Mencukupkan Diri


Pada kala waktu tertentu, tentu saja saya orang yang sering merasa rendah diri di hadapan orang lain. Banyak pula waktu-waktu yang menempatkan saya pada kondisi ingin mencapai sesuatu yang lebih dari hari ini. Lalu berhenti karena merasa tidak mampu.

Saya ingat pernah mendaftar sebuah program pengembangan bisnis akhir bulan Juni kemarin, tepat sebelum lebaran. Sejak itu saya tidak lagi memikirkannya hingga akhirnya undangan lanjutan program tersebut saya terima sebulan yang lalu. Sayang sekali setelah berusaha mencari orang yang dapat menggantikan saya untuk mengikuti si program, saya harus rela melepaskan kesempatan itu.

Barangkali saya memang sering bercerita tentang bisnis saya. Yang kadang membuat saya heran adalah bisnis itu tidak pernah berkembang sejak saya memulainya. Padahal di waktu yang sama dengan peluncuran brand saya, seorang teman juga memulai usahanya. Dan sekarang? Dia bahkan telah membuka cabang di Jakarta. Oke sip.

Di situ saya berhenti sejenak untuk mengevaluasi diri. Apakah memang saya tidak cocok terjun di dunia bisnis, sama sekali tidak mampu mengembangkan bisnis menjadi sebuah usaha yang lebih dari sekedar usaha main-main semata. Beberapa kali saya mencoba merancang agenda untuk mengembangkan bisnis tersebut menjadi sebuah bisnis yang lebih besar. Pada akhirnya semua agenda itu berakhir menjadi sebuah upaya saja tanpa adanya realisasi.

Hehehe. Memang saya pada dasarnya tidak sedang berupaya untuk menjadi kaya barangkali. Lebih pada upaya untuk memuaskan diri sendiri bahwa tidak selamanya harus menjadi orang yang tertata dan berpenghasilan tetap. Sungguhkah?

Atau, saya memang sulit percaya dengan orang lain. Saya sulit membagi diri meski sering merasa terlalu terbuka di hadapan orang lain. Oleh karenanya saya tidak pernah rela untuk membagi pengetahuan tentang usaha ini dengan orang lain. Keegoisan saya memiliki porsi besar di dalam diri saya.

Tapi tentu saja hal tersebut tidak kemudian membuat saya tidak ingin mengembangkan bisnis. Harapan memiliki bisnis yang akhirnya bisa terus-terusan dijalankan dalam kesenangan sangatlah membahagiakan. Namun menjalani hal semacam itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan dan dicapai.

Kadang di sela-sela saya berusaha merasa baik-baik saja dan menerima bahwa bisnis saya belum bisa berkembang sebagaimana orang lain, muncul rasa ingin yang lebih. Barangkali memang itulah yang disebut sebagai rasa iri. Hal semacam itu berkembang dengan pupuk-pupuk lainnya yang bernama media sosial. Di sinilah saya menemukan bahwa manusia dibatasi oleh banyak hal hingga akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti atau lanjut. Banyak orang yang sering berkata untuk tidak pernah menyerah. Banyak juga yang mencoba berpasrah untuk mengikuti keberuntungan.

Bagi saya pada akhirnya, tidak masalah pilihan mana yang akhirnya kita ambil. Semakin banyak saya bertemu orang lain, semakin banyak saya melihat hidup orang lain, semakin sering saya berpindah keadaan, kesadaran saya akan rasa pasrah semakin besar. Tidak seharusnya untuk berhenti berusaha memang, semua pun berkata demikian. Namun dari begitu banyaknya manusia di dunia ini, tidak ada orang yang akan memiliki nasib yang sama. Oleh karenanya, tidak benar jika saya harus membandingkan hidup saya dengan orang lain. Kan?

Saya sering merasa yang paling baik di antara orang lain di sekitar saya. Entah apa sebab, saya hanya merasa bahwa saya selalu keren ketika melakukan apapun. Berkata begini, saya bahkan sekarang dapat julukan si sombong di lapangan. Dan justru dengan berpikir demikian saya semakin mudah menerima kekurangan saya dalam melakukan banyak hal. Saya bertemu orang-orang jujur yang bisa berkata kapan saya menyebalkan atau tampak jelek, kapan saya menyenangkan dan terlihat lebih cantik, kapan mereka terinspirasi, atau kapan saya menjadi orang yang paling ingin mereka pukul. Hahaha, lucu sekali hidup ini. Di sepanjang sejarah hidup saya yang serba menyembunyikan hal-hal semacam itu atau berlaku palsu, menerima kalimat jujur semakin menjadi hal yang saya sukai. Bahkan kekurangajaran teman-teman saya dalam mengevaluasi saya bisa memicu saya untuk merenungkan hidup lebih dalam.

Well, sekedar info saja, saya punya masalah besar dengan rasa malu. Malu memulai percakapan, malu meminta sesuatu, malu menolak sesuatu, malu ketika mengingat hal yang menurut saya memalukan (bahkan pada hal yang sudah dilupakan orang), malu akan penampilan, malu akan cara berkata-kata, malu saat orang lain tahu isi hati saya, dan entah berapa jenis malu lagi yang saya punya. Di saat yang sama saya sombong dan selalu merasa keren. Ah, saya pun alay. Parah.

Saya sering memikirkan masa lalu saya, mengenang banyak hal. Semakin saya pikirkan hal yang sudah berlalu, saya semakin merasa segala hal lebih mudah (meski tidak selalu demikian). Kadang saya tertawa menahan malu atas kelakuan saya di masa lalu. Kadang saya termenung karena sadar ada hal-hal yang selamanya tidak bisa terulang. Kadang saya begitu sedih karena sepanjang perjalanan hidup toh ada hal-hal yang belum mampu saya selesaikan.

Hei, di atas langit masih ada langit, dan di bawah tanah selalu masih ada tanah. Maka tanpa mencukupkan diri, pengetahuan akan keunggulan dan kelemahan itu hanya akan berakhir menjadi sebuah rasa iri dan kegelisahan. Tepat di sisi lain, dengan mencukupkan diri, kesempatan untuk menjadi semakin baik dari hari kemarin biasanya datang lebih cepat dari yang kita duga.

Seperti hari ini. Entah kapanpun kalian membaca ini, yakin saja bahwa hidup kita semakin baik dari hari ke hari. Bilamana di antara kita masih ada yang percaya takdir, saya pikir takdir selalu datang di saat yang tepat. Tidak ada yang salah dari setiap pengalaman, karena begitulah dia memainkan perannya dalam hidup seseorang. What doesn’t kill you make you stronger, kan?

**

Mengenai postingan sebelum-sebelumnya, tentu saja itu adalah isi hati saya. Tapi saya tidak seputus asa itu atau semarah itu. Saya sudah lupa merasakan marah yang sesungguhnya. Marah itu biasanya mewujud menjadi tangis atau diam. Ah, biasanya juga selalu memakan korban karena saya harus memilih satu teman curhat.

Di tempat sejauh ini dari rumah, berpindah setiap 5 hari sekali membuat saya semakin yakin bahwa saya barangkali bisa hidup di manapun di dunia ini (sombong betul!). Tapi benar, bahwa yang membuat sebuah tempat menjadi rumah adalah hal-hal yang kita ciptakan dan kita simpan di dalamnya. Ruang dapat dipindahkan melalui penyatuan hal yang materiil (manusia dan benda) dan yang imateriil (kesan dan kenangan). Ya, rumah dapat berpindah. Dan hal semacam itu tidak akan menjadi masalah. Setiap detik yang kita lalui kemudian adalah upaya untuk membentuk kenangan-kenangan baru di dalam diri sendiri sehingga selalu ada rumah di dalam diri untuk pulang kembali, di manapun kita merasa tersesat nanti.

Sesepi apapun hari-hari saya, sejauh apapun saya dari orang yang saya cintai, saya kasihi, dan saya rindukan, sejarang apapun saya menghubungi mereka, ada bagian dari diri saya yang tidak pernah terpisahkan dari mereka. Bukankah yang mati selalu hidup di dalam kenangan? Begitu juga yang jauh akan selalu dekat di dalam kenangan.

Begitulah harga kenangan, dan karenanya menghapus satu saja bagi saya adalah pelanggaran. Kadang yang menyakitkan bisa terkenang membahagiakan, dan sebaliknya, yang menyenangkan bisa terkenang begitu menyakitkan.

Eww, romantisme malam ini akan berlanjut dengan mendengarkan lagu.

wordsflow

selewat tengah malam ini


Selamat malam. Apa kabar kalian?

Sudah 2 minggu saya tidak mengakses internet dan menengok blog ini. Saya merasa semakin jauh saja dari dunia. Di tempat ini, keributan yang sering muncul bukan soal kemacetan atau harga barang, tapi sumber air dan kendaraan yang ketanam di lumpur.

Suatu hari yang lampau saya sempat bercerita pada seorang teman bahwa di dalam dunia saya, setiap barang adalah benda yang hidup dan berjiwa. Jiwa siapa? Tentu saja jiwa pemiliknya. Misalnya saja kita memiliki baju seragam yang sama dengan orang lain, persis sama. Tentu saja kita nggak mau kalau sampai barang itu tertukar. Padahal bentuk dan ukurannya sama. Kenapa? Jawabannya biasanya muncul dengan sederhana “karena rasanya beda”.

Lantas karena suatu alasan, saya bertemu dengan bukunya Marcel Mauss yang berjudul The Gift. Katanya buku ini pendek saja, tapi ternyata buku aslinya 225 halaman. Memang sudah lama Prof Heddy menyebutkan buku ini berulang kali karena merupakan buku kajian antropologi. Tapi penyebutan itu tidak mendorong saya untuk membuka bukunya. Sampai akhirnya suatu hari seorang teman berkata bahwa keyakinan saya soal benda mirip orang Maori. What the hell these Maori peoples are? Alhasil, direkomendasikan juga buku The Gift itu yang sekarang baru berhasil saya baca 1/3-nya saja, hahaha.

Korelasinya sama postingan ini?

Begini, hape yang saya bangga-banggakan karena merk-nya yang nggak mainstream sama sekali ini akhirnya terinjak kaki saya sendiri. Dengan sempurna saya menginjaknya dengan tumit. Tentu saja saya yang berat ini akhirnya memecahkan layar hape yang tanpa pelindung. Saya sedih sungguh-sungguh. Saya tidak habis pikir kenapa saya bisa seceroboh itu. Demikian, setelahnya saya jutru berpikir terus kenapa hal ini bisa terjadi.

Akhirnya di perjalanan yang penuh lubang jalanan, retakan bertambah banyak karena terbentuk pembatas truk. Bagian kiri si hape semakin parah saja dan saya harus mengetik dengan posisi lansekap. Belum lagi layarnya yang memang sudah memudar sejak di Bandung. Dari hari ke hari semakin pudar saja sampai di bagian paling bawah kini tinggal samar-samar aja tulisannya. Akhirnya saya membuatkan rumah untuk si hape dan memasang pelindung layar. Setidaknya masih bisa saya pakai sampai pulang.

Lalu si headset juga mati sebelah karena ketarik. Udah buka-buka speakernya buat ngebenerin tapi nggak punya solder. Yasudah, benda itu saya terima dengan kekurangan barunya.

Diingat-ingat lagi, saya juga pernah menggunakan laptop saya dengan tidak baik. Menggunakan motor ke tempat dengan kemiringan jalan yang nggak masuk akal. Menyimpan buku-buku tanpa perawatan. Merendam pakaian sampai luntur tidak berwarna. Menelantarkan sepatu layak pakai hingga rusak lemnya. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Saya iri dengan orang-orang yang memiliki barang dengan awet. Menggunakan barang yang sama hingga betul-betul tidak lagi mampu digunakan. Sementara saya lebih sering merusakkan barang karena kecerobohan atau bahkan menghilangkan barang sekalian.

Berganti barang kepemilikan itu mirip dengan berpisah dengan kawan lama dan bertemu manusia baru. Meski sekarang rasanya menjadi agak lain, tapi keduanya masih dapat digunakan sebagai analogi. Apa yang membedakan? Kawan lama masih bisa kita hubungi atau dijumpai lagi, sedang barang lama relatif ditinggalkan untuk selamanya. Barang itu menjadi bekas. Ah, kata ‘bekas’ ini terasa menyebalkan tetiba.

Tapi tenang, ada orang-orang yang selalu mau menampung barang-barang bekas ini. Kalau beruntung mereka si ‘bekas’ ini pun akan ketemu pemilik awalnya. Bahkan barangkali ketemu penciptanya. Di sela memikirkan ini saya jadi teringat buku-buku saya yang sudah tersebar ke ujung-ujung Indonesia. Rasanya menarik membayangkan ada kesungguhan dan cinta yang saya bubuhkan ke buku-buku yang barangkali sudah menjadi buku favorit seseorang. Dan betapa sedih ketika tahu bahwa pemberian kita ke orang lain tidak menjadi barang penting untuknya. Hal semacam itu kadang membuat saya terus mengaitkannya dengan penolakan terhadap diri saya sendiri. Hahaha. Pedih.

Kata Mauss, memang begitulah gift itu bekerja. Kalian baca sendiri aja bukunya ya, biar saya nggak salah omong. Sederhananya begitu, benda itu tidak sekedar barang mati, tapi ada hal yang tertanam di dalamnya bahkan dia politis.

Lalu manusia semakin aneh di mata saya. Barangkali dibandingkan di rumah, saya menjalani hari-hari di sini dengan cara yang jauh lebih sederhana. Saya bangun pagi, memasak, mengambil air, mencuci, bersosialisasi dengan tetangga, ke kebun, ke hutan, mancing, dan semua hal biasa yang dilakukan manusia untuk bertahan hidup. Jauh sekali dari kesibukan pikiran saya sebelumnya yang berkutat di ranah kampus hingga universe atau bahkan post-mortal. Kadang di sela waktu kosong saya, saya lebih suka melamunkan hal-hal yang lampau. Tidak tertarik sama sekali untuk memikirkan hal yang akan datang. (bahkan rencana tesis saya abaikan sama sekali)

Hahaha. Lucu betul. Meski tidak jarang saya merasa downgrade di tempat ini, ada kemanusiaan yang muncul kembali setelah lama saya abaikan. Ada wujud manusia yang tidak saya sangka ada di dunia ini. Ada kepribadian manusia yang begitu teguh dipegang dan dipraktikkan. Ada jiwa yang terombang-ambing karena kebingungan (ini saya). Dan ada banyak analisis tentang hubungan interpersonal yang tidak pernah saya sangka akan ada.

Kadang kala rusuh sekali pikiran ini hingga terbawa mimpi atau emosi. Kadang begitu tenang hingga mampu bergurau sesuka hati. Kadang terlalu memaksakan diri. Tidak jarang memungkiri dan melarikan diri. Sudah sejauh ini pun, tetap ada hal-hal yang belum bisa saya selesaikan dengan diri sendiri. Ada hal-hal dari diri yang masih terus saya pertanyakan dan saya telusuri mengapa dan sampai kapannya. Masih saja ada bagian yang tidak bisa didamaikan. Masih ada keresahan dan kegelisahan yang tidak hilang.

Kadang bagus juga, karena itu mendekatkan saya dengan kemanusiaan itu sendiri. Kadang terasa sulit karena setiap hal akan terus berjalan dengan atau tanpa persetujuan setiap aktornya, nggak peduli kamu sesakit apa atau kerusuh apa di dalam diri.

Di waktu paling tenang di barak kami semacam ini, saya biasanya berakhir dengan kesimpulan bahwa barangkali saya selamanya akan menjadi manusia bingung. Atau saya katakan saja bahwa sesungguhnya manusia yang hidup adalah mereka yang selalu kebingungan. Nah, saya jadi merasa sedikit lebih keren sekarang.

Semakin lama tidak ada manusia yang terasa khusus. Semua orang cantik dan tampan pada bagiannya. Semua orang baik dan menyebalkan pada porsinya. Semua orang jujur dan munafik pada kadarnya. semua orang menyenangkan dan membosankan pada waktunya. Semua orang sama saja dan berbeda sama sekali pada wujud yang sama.

Kenapa saya tidak pernah mau berkesimpulan akhir? Karena berada di ambang itu menyenangkan, meski terlihat tidak punya prinsip sebetulnya, hehe. Tapi begitu, setiap manusia memang berbeda. Namun bagi saya perbedaan itu tidak menyebabkan satu orang lebih baik dibanding orang lainnya. Barangkali kita kurang memutar perspektif kita pada titik yang tepat sehingga tidak mampu menerima satu orang dibandingkan orang lain.

Ah, saya jadi ingat novel Go Set a Watchman juga satu kalimat dari sebuah film. Kalau kita melihat manusia itu setara, barangkali kita belum melihat kenyataan, yang melulu kita lihat adalah kebenaran. Tapi apakah kebenaran lantas tidak akan pernah sampai ke pemahaman manusia? Kasihan betul kita ini. Hidup di tempat yang sama, menghirup udara yang sama, berasal dari tanah yang sejatinya satu, tapi terus bertikai tiada akhir. Barangkali kita dikutuk.

Saya melantur. Mari sudahi.

wordsflow