WORDS FLOW

setiap pengalaman pantas untuk diingat

“memperbaiki hidup”


Begitu katamu setiap kali bergegas pergi. Segalanya kau tata rapi dan kau pastikan tidak ada sesuatupun yang tertinggal. Semua yang milikmu kau bawa, yang bukan kau tinggalkan begitu saja.

1984. Buku itu hilang entah ke mana. Disusul kemudian beberapa judul yang lain. Kemudian kesadaran samar-samar mengenai buku-buku lain lagi yang jauh lebih lama yang tidak lagi ada wujudnya juga membanjir ke permukaan.

Telah banyak yang hilang, tanpa disadari.

24 jam tampak terlalu lama pada suatu waktu. Di waktu yang lainnya semua itu terlampau cepat untuk berlalu. Berapa banyak perubahan yang terjadi hanya dalam hitungan hari? Bahkan tidak butuh lebih dari satu minggu untuk menghampakan segalanya. Meniadakan hal-hal yang sebelumnya saya percaya. Waktu mempermainkan diri. Atau justru diri yang mempermainkan segalanya. Tidak lagi ada hasrat untuk memastikan di antara keduanya.

Ada perasaan yang aneh yang tidak saya akrabi setiap kali saya berada seorang diri. Perasaan yang justru tidak ingin saya pastikan apa itu. Perasaan yang justru tidak ingin saya rumuskan definisinya. Perasaan yang mengobrak-abrik kecamuk dan resah. Tidak saya pahami, dan tidak ingin saya pahami.

Dibanding “memperbaiki hidup”, istilah “memperbaiki diri” itu aneh. Saya pikir semua orang memang pas pada waktunya. Yang kita lakukan bukanlah memperbaiki diri sebenarnya, hanya memposisikannya kembali agar sesuai dengan kondisi yang ada ketika itu. Tapi ini pun bukan hal yang selamanya seperti itu. Saya kira, saya telah kehilangan kepastian mengenai segala hal. Hampa saja.

Setiap kali melihat manusia, rasanya lebih menyenangkan membayangkan bahwa semua manusia pernah menjadi makhluk yang polos dan dicintai karena kepolosannya sebagai pembawa kabar gembira. Demikian, tidak ada yang berbeda antara manusia yang ini atau yang itu, yang mencampakan atau menarik mendekatkan, menyakiti atau mencintai. Kita hanya bingung. Seperti yang mungkin sedang terjadi pada saya di hari ini. Yang tidak tahu untuk apa terus mengupayakan. Untuk apa terus berjalan. Untuk apa berusaha terus percaya bahwa manusia adalah manusia saja. Tidak lebih, dan tidak kurang.

Sering kali saya berpikir untuk berhenti pada satu titik, dan memilih untuk menghilangkan diri dari hidup orang lain. Tapi perasaan yang seharusnya mendorong saya melakukannya tidak ada di sana. Tidak ada apa-apa kecuali mata yang tetap memandang dunia. Tangan yang tak lelah mengirimkan pesan. Detak jantung yang tetap pada irama yang sama indahnya.

Segala hal memuakkan dan penuh harap pada saat yang bersamaan. Menyisakan keputusasaan atas kebingungan-kebingungan yang tidak berjalan-keluar. Sementara tidak ada yang mau menghentikan umurnya pada titik yang sama. Semua orang berkejaran menjadi yang pertama. Sedangkan menjadi yang kedua seolah takut menjadi tertuduh yang hanya bisa mengikuti tanpa autentisitas. Selalu menakutkan menjadi yang kedua. Selalu lebih melegakan menjadi yang selanjutnya, atau justru yang terakhir saja.

Padahal tanpa yang kedua, tidak akan ada yang selanjutnya.

Ada perasaan sesak yang aneh yang tidak juga ingin saya pastikan apa. Tidak ada gairah yang meneriakkan semangat berulah. Yang ada hanya–tidak ada apa-apa.

Isu-isu sosial tetap menjadi isu saja. Isu lingkungan sama saja. Isu apapun, hanya menjadi isu. Saya marah pada diri sendiri. Salah siapa? Diri sendiri.

Tapi tidak sesederhana itu untuk yakin bahwa hidup tidak berguna. Telah banyak yang bisa membuktikannya. Tapi apa. Tidak ada apa-apa di sana.

Ada yang bernama Ginan, seorang pengidap HIV yang berusaha mengenal dirinya untuk memastikan hidup seberharga itu untuk diteruskan dan diperjuangkan. Saya sepakat. Ia menulis buku tentang hidupnya yang hanya saya baca sekilas selama 10 menit. Aneh sekali ia bisa menceritakan hidupnya dengan sedetil itu. Kisahnya menginspirasi karena dia sungguh-sungguh ada, bukan imajinasi. Pun ceritanya tidak ia karang sendiri, tapi ia jalani. Tapi hebat sekali ia ingat semua hal itu. Sementara banyak yang saya lupakan di hidup saya.

Masa depan seolah tidak ada. Tapi dia dipikirkan oleh semua manusia di dunia. Mungkin saya juga, meski barangkali kamu tidak peduli. Tak mengapa. Tidak peduli adalah andalan manusia untuk menanggapi banyak hal yang mungkin tidak ia inginkan. Perasaan misalnya.

“Kamu kenal Chris Cornell nggak? Dia meninggal hari ini.” Waktu itu ada yang bertanya begitu.

Saya tidak kenal. Tapi saya sedang mendengarkan lagunya. Sama seperti kebanyakan musisi yang sok saya kenal lalu saya dengarkan musiknya. Kadang-kadang bahkan sama sekali tidak paham apa yang dinyanyikan. Kadang bahkan judul lagunya tidak saya tahu. Lahir kapan dia? Mulai main musik tahun berapa? Apa nama grup musiknya? Genrenya? Ada banyak hal yang saya paksakan. Sebagian besar cocok saja. Karena ketidakpedulian. Sisanya menjadi hal yang terlupakan setelah berusaha mengaksesnya.

Seperti file-file buku digital yang terbengkalai setelah diunduh lebih dari tiga tahun yang lalu. Terlalu banyak buku digital yang belum pernah dibuka sejak diunduh ke sistem operasi. Atau bergiga album yang belum pernah didengar sejak dimiliki. Atau bergiga foto yang tidak pernah dikenang kembali setelah disimpan. Untuk apa kenangan jika tidak menjadi kenangan bersama? Untuk apa yang lama jika kita selalu hidup di kala yang sama; saat ini, sekarang ini?

Tidak ada yang harus dirayakan. Tidak sekarang atau besok, bahkan mungkin lusa. Tidak juga. Filsafat ditinggalkan manusia, sayang sekali. Diri dibawa kabur dari jiwa. Segalanya lebih nyata di luar pikiran manusia. Memang. Tapi tidak suka, meski kadang-kadang saja.

Memperbaiki hidup. Memperbaiki diri. Apa itu?

wordsflow

Temple Grandin


Saya ragu ketika pertama kali membuka file mengenai film tersebut mula-mula. Namun mengingat saya membuka film itu atas rekomendasi seorang teman, maka saya melanjutkan menonton tanpa berekspektasi terlebih dahulu di awal.

Temple sangat menarik sebagai perempuan di mata saya. Dia sangat membahagiakan untuk dilihat, demikian saya lebih suka menyebutnya dibanding mengistilahkannya dengan kata ‘ceria’. Ah sebelumnya, jika ada pembaca yang belum menonton filmnya, silakan menonton dulu kalau tidak ingin saya ganggu dengan review singkat ini, hehehe.

Ketika film baru dimulai, saya menduga-duga cerita macam apa yang akan dibawakan oleh film itu. Lalu apa yang membuatnya istimewa untuk menjadi sebuah film?

Saya jarang menonton film yang dibintangi manusia sungguhan dan lebih suka menghabiskan waktu menyelami dunia-dunia anime yang buat saya jauh lebih dalam dibandingkan film-film yang ada. Temple berbeda, film ini adalah sebuah biografi. Dan sejauh yang saya ingat pula, film yang berdasar pada kisah nyata selalu dan akan selalu memukau saya. A Beautiful Mind, The Theory of Everything, Silent of the Lamb, Snowden, ah dan banyak lainnya selalu bisa membuat saya terpukau. Kisah itu adalah kenyataan yang dinyatakan tanpa pernyataan. Hanya sebuah tampilan sebagaimana kita melihat manusia-manusia lain di keseharian kita. Mewujudkan kemanusiaan mereka sebagai manusia biasa yang berjuang dan melawan hidup.

Manusia-manusia seperti Temple hampir tidak pernah saya temui di dalam hidup. Semua orang yang saya kenal adalah mereka yang berada pada kondisi paling sempurnanya. Hanya dua orang yang seingat saya memiliki kekhususan dalam dirinya, dua-duanya saya kenal ketika masih sekolah dasar. Hingga sekarang saya tidak pernah tahu apa yang membedakan mereka dari kami semua yang menyatakan diri normal saja.

Temple Grandin sangat mengagumkan. Ia memahami bahwa dirinya autistic dan terus berproses sedemikian rupa untuk berdamai dengan kondisinya, tanpa kehilangan masa depannya. Hal semacam itu, adalah sesuatu yang sayangnya tidak saya akrabi selama ini.

Banyak kondisi-kondisi di masa lalu saya yang tidak saya gunakan dengan baik. Waktu yang saya buang untuk hal yang tidak seberapa berguna. Salah menentukan prioritas. Tidak tepat dalam menentukan pilihan-pilihan. Terlalu memikirkan banyak hal yang tidak sungguh layak dipikirkan. Dan akhirnya kehilangan mimpi-mimpi dan tidak mampu memilih di antara begitu banyak pilihan.

Seorang Temple tidak memiliki kekhawatiran semacam itu dalam hidupnya. Ia hanya berusaha terus melakukan hal-hal yang ia sukai, melakukan hal-hal yang menyenangkan, bersungguh-sungguh, dan terus memperjuangkan hal-hal itu sepenuh hati. Dibandingkan dengan begitu banyak manusia yang mengumbar pendapat mengenai hidup yang ideal, saya pikir idealitas mereka tidak sejujur apa yang terjadi pada Temple. Tipu daya saja semuanya. Palsu saja semuanya. Ketidakyakinan saja semuanya.

Tapi tentu saja, ada manusia-manusia yang hidup dengan kemanusiaan yang tulus, dengan keyakinan yang besar, dengan kesenangan yang utuh. Dan ada manusia lain yang tidak mempercayai bahwa ada hal-hal semacam itu di dunia ini. Lalu sebagian lain memilih berada di irisan keduanya, atau menyingkir sama sekali untuk tidak akan bersentuhan dengan kutub ekstrem itu.

Mungkin tulisan ini masih palsu saja. Mungkin saya sebenarnya tidak sungguh mengagumi hal-hal itu. Mungkin saya juga masih begitu ambisiusnya seperti sebelumnya. Mungkin saya hanya berpura-pura. Sering kali orang lebih merasa nyaman meyakini bahwa orang lain berpura-pura bersikap baik, atau sesungguhnya mereka memiliki maksud lain. Entahlah.

Ada banyak hal yang sederhana saja, sesederhana kehidupan Ernest dan Ethel yang ceria, kadang berlinang air mata, kadang penuh kekhawatiran, kadang penuh rasa syukur. Biasa saja.

Apakah hal yang biasa saja itu lantas tidak dalam dan tanpa makna? Saya kira berpikir demikian sama halnya menyatakan kesombongan. Anehnya, tidak ada determinasi tertentu yang dapat digunakan untuk menstandarisasi sebuah kehidupan. Proseslah yang paling nyata dibandingkan semuanya. Karena ia niscaya dan abadi keberadaannya. Terangkum kesemuanya dalam tiga hal saja; lahir, berproses, lalu mati. Sudah begitu saja mungkin.

Beberapa mencapai kemanusiaannya, beberapa bertahan menjadi pecundang, beberapa menolak untuk sekedar menjadi manusia, beberapa yang lain dibutakan hal-hal yang seharusnya hanya sebatas sarana, beberapa tidak tahu apa-apa, beberapa menerima saja segalanya, dan terus beberapa-beberapa yang lainnya. Dan sudahlah, malam telah semakin larut saja.

Untuk yang belum menonton, ini saya kasih linknya.

https://indoxxi.net/movie/temple-grandin-2010-subtitle-indonesia-pxe

wordsflow

days with no interests


Seorang perempuan berjalan cepat di trotoar. Tangannya menutup mulut menghalau debu dari kendaraan yang berlalu lalang.

Seorang tukang gojek berjongkok di samping motornya yang terparkir di luar gerbang yang terkunci. Jaket hijaunya tersampir lunglai di atas jeruji. Kepalanya tertunduk. Kedua tangan memegang tengkuk. Tidak bergerak. Layar ponsel berkedip di bawah motor yang diam.

Seorang pria dengan pakaian lusuh berdiri mematung di pinggir jalan.

Seorang lelaki muda sedang sibuk dengan ponselnya. Helm lekat di kepalanya. Motornya kaku tanpa suara mesin. Tak dipedulikannya sesiapa yang memenuhi jalan raya.

Seorang lainnya terburu-buru menyeberang jalan. Menggenggam erat perempuan kecil yang mungkin adalah darah dagingnya. Tas kresek hitamnya bergoyang-goyang oleh hentakan kaki terburu-buru.

Di dalam mobil seorang perempuan menginjak rem. Matanya tak lepas dari dua penyeberang jalan. Entah apa yang ada di balik bola mata itu. Kiranya.

Sejengkal jalan di dalam jeda. Menyediakan rupa manusia. Seperti aku di mata yang lainnya. Atau kita di mata sesiapa.

Still, there are days with no interests.

Detachment


Semester ini berat, sungguh.

Tidak saya bayangkan sebelumnya bahwa saya akan melalui berbagai hal berat di semester ini. Jangankan urusan pribadi, urusan lain pun sama beratnya. Ada banyak guncangan, ada banyak tangis, ada banyak tawa, ada banyak cerita, ada banyak pemahaman, ada banyak sekali tugas kuliah, ada berbagai campuran perasaan yang berubah menjadi kemuakan, dan ada begitu banyak hal yang tidak bisa saya rangkumkan di sini. Tapi tentu saja, masih ada kabar gembira karena ada semakin banyak teman dalam hidup saya.

Dalam enam bulan ke depan, akan banyak orang yang pergi. Sebagian untuk sementara, mungkin sebagian lain memutuskan untuk selamanya. Siapa yang tahu akan masa depan, hehe. This isn’t easy for sure. But realizing that people should never trap because of something, it’s getting easier to accept those things. People come and go, as I am once also.

Ada beban sebesar gunung? ah saya berlebihan, tidak, beban itu tidak sungguh seberat gunung saya kira. Hanya kadang kemunculannya membuat saya kesal luar biasa. Demikian, saya ceritakan beberapa hal sembari mencari sela atas tugas yang belum berakhir juga.

Saya mau membahas sebuah film yang saya tonton semalam, judulnya Detachment. Saya pikir saya orang yang sangat telat tertarik menonton film. Saya tidak mengenal nama-nama aktris atau aktor, saya tidak tahu judul film, saya tidak mengikuti Oscar, ah apapun lah tentang film, saya tidak paham. Tapi saya bertemu dengan orang-orang yang sangat peduli dengan film. Mereka membahas film lebih dalam dibandingkan semua orang yang pernah saya tahu. Pun demikian dua dosen saya membahas film dengan cara yang jauh berbeda dari cara orang lain membicarakan film.

Yang saya sadari ketika itu adalah, oke, saya ternyata melewatkan banyak hal dari film.

Dalam beberapa waktu belakangan, dan saya kira saya juga sempat merasakan hal yang sama, anak-anak milenial terjebak dalam kebingungan luar biasa, ketidakmengertian, keputusasaan, kecemasan, keterasingan, dan segala bentuk perasaan lain yang merusak jiwa dan psikis kita. Koe no Katachi misalnya, menceritakan pula kegamangan yang sama akan hidup, ketidakpercayaan terhadap manusia lain, penolakan terhadap pertemanan, dan seterusnya. Rasanya menyakitkan melihat hal-hal yang kita khawatirnya nyatanya merupakan sebuah kenyataan juga di dalam hidup orang lain.

Dua orang teman saya didiagnosa schizophrenia. Yang satu saya kenal setelah sembuh, yang seorang lagi saya kenal sebelum terdiagnosa. Hal yang mula-mula begitu jauh itu, ada begitu dekat dengan saya, tanpa saya pahami bagaimana ia sebenarnya.

Detachment mungkin tidak sepenuhnya memberikan pelajaran kepada saya, namun film itu mengingatkan saya untuk sekali lagi lebih peka. Pada dasarnya seorang manusia tidak bisa menghilangkan kemanusiaan di dalam dirinya kan. Bahkan sejauh-jauhnya kita memisahkan logika dan rasa, pada satu titik kita akan pula jatuh pada ketersesatan yang begitu mencekat, mungkin bahkan memporak-porandakan dan menghancurkan.

Ada banyak bentuk sakit di dunia ini. Baik saya atau Anda merasakannya, entah sebagian atau semuanya, entah sebentar atau selamanya. Tanpa cerita, yang semacam itu hanya akan merusak diri, saya kira. Demikian, setiap orang akan juga berusaha mencari seorang pelengkap. Bisa jadi orang itu selalu figur yang sama, bisa jadi kamu butuh lebih dari satu untuk melengkapi yang tidak kamu pahami.

Ketidakpedulian, keteracuhan, atau kelogisan kita bisa jadi menjadi begitu salah ketika berhubungan dengan orang yang tidak berpikir dengan cara yang sama. Dan hubungan interpersonal itu bisa begitu membahayakannya hingga membuat orang lain begitu sakit, begitu merasa terbuang, bahkan menemukan keberanian untuk mengakhiri hidup. Seolah-olah keinginan untuk memandang dunia dengan cara yang sederhana dan gembira terfalsifikasi oleh reaksi yang tidak saya duga. Keteracuhan yang menimbulkan perasaan terbuang, kegembirakan yang memicu kesedihan, semangat yang memicu rasa putus asa, logika yang menimbulkan rasa.

Kita tidak hidup seorang diri.

Dan begitu menyebalkan membayangkan begitu banyak hal bersilang sengkarut menjadi hal yang semakin rumit. Setiap hari ketika berada di jalan raya atau kerumunan manusia, saya selalu kembali pada pikiran lama. Sebegitu banyak manusia di dunia ini, mengapa saya hanya bisa terpaku pada satu wujud yang tak pernah berganti, memenjara diri dalam pikiran yang semakin tidak saya pahami dari waktu ke waktu. Sebegitu banyak manusia, mengapa tidak banyak yang saya pedulikan. Dan sungguh, manusia ada begitu banyaknya! Satu menjadi tidak sungguh bermakna, namun satu yang kita khususkan mampu merubah banyak hal dalam hidup kita.

Seorang teman tiba-tiba berkata bahwa playlist lagu saya sangat sedih, dan entah karena saya telah begitu terbiasa atau justru saya tidak sungguh mendengarkan, saya menganggap itu pertanyaan yang aneh.

Waktu pun tetap berjalan. Malam ini atau esok hari adalah hal yang sama misteriusnya seperti yang sungguh terjadi kemarin lalu. Yah, saya tidak mereview film juga akhirnya, biarkan saja, hehe. Diam-diam, saya masih berharap pada banyak hal, membagi diri menjadi banyak bagian, yang tidak pula dapat saya ceritakan karena hanya bisa dipraktikkan. Seolah tidak juga lelah, berusaha berpasrah namun tak mau berhenti mengupayakan. Paradoks sekali hidup ini. Dan semakin pecundang saja diri ini, dari hari ke hari.

Ini bukan cerita sedih, ini hanya cerita tentang hidup.

wordsflow

This gonna be tough


Tidak ada gairah. Tidak ada gemuruh. Tidak ada gejolak. Tidak ada apapun tiba-tiba.

Meski tawa masih di sana, tangan masih terus bekerja, kaki masih terus melangkah, mata masih menyapukan pandangannya, dan masih pula ada kupu-kupu yang menggelitik di dalam perutku. Apa lagi tapi?

Menangis dan membenci, dua hal yang jauh lebih dalam dari tertawa dan mencintai. Kupikir. Pada mula-mula.

Tapi tawa dan mencinta membunuh keduanya. Kejam, meski tanpa darah dan jasad. Bahkan waktu bekerja sama untuk menciptakan suasana yang tepat agar pembunuhan itu terjadi tanpa jejak, tanpa cacat.

Di mana rasa bersemayam kala itu?

Dia tergolek pasrah, mengizinkah diri mengatur segala hal yang dia pikir ia pahami.

Ada rasa tercekat di pangkal suaraku, mendesakkan berbagai hal untuk keluar menemukan udara bebasnya.

Tapi tak ada apapun di sana.

Hanya mata yang terus menatap, kaki yang terus melangkah, dan tangan yang terus bekerja.

wordsflow

nothing again


Well, saya sedang bimbang. Mari saya ceritakan alasannya.

Suatu hari, ada seseorang yang bertanya kepada saya, “mendingan ditinggal atau meninggalkan?”. Pertanyaan itu tidak jauh berbeda dengan pertanyaan mengenai mencintai atau dicintai. Sekian lama saya memperdebatkan dua hal itu, saya toh memilih untuk menjadi subjek, lebih memilih untuk bertindak dibandingkan menyerahkan diri menjadi objek sehingga terus bertanya-tanya tanpa mampu melogika dan memperhitungkan.

Meninggalkan tentu saja. Dan itu saya upayakan untuk akhirnya mampu saya praktikkan. Sayang sekali, rencana itu dua kali gagal saya penuhi. Saya tidak sedih, sungguh. Saya hanya bingung ketika kembali memperdebatkan dengan diri sendiri perihal hal yang sungguh saya inginkan dan apa yang selama ini saya akui. Mungkin dua hal itu tampak sederhana, tapi pada praktiknya keduanya berada pada sisi yang cenderung berseberangan.

Ketika rencana melarikan diri itu gagal misalnya, saya pikir saya akan sedih luar biasa, atau setidaknya menyalahkan diri sendiri karena gagal. Toh pada praktiknya hal itu tidak saya rasakan. Mungkin saya mencoba mengerti dengan mengatakan ke diri sendiri bahwa bisa jadi saya sudah tidak seemosional dulu dengan bermuram durja ketika ada hal yang tidak dapat saya capai dalam hidup saya. Tapi tidak, dalam beberapa hal, saya masih bisa terus membawa kesedihan saya sepanjang hari hanya karena percakapan yang hanya berlangsung 15 menit.

Hehehe, kadang saya harus juga menertawakan kebingungan ini, dan terus saja mengaduk-aduk ingatan untuk akhirnya bisa mengatakan dengan bangga bahwa ‘it’s how this life is working’.

Ada hal yang sungguh berubah dari saya, meski saya kira pernyataan ini hanya bisa dikonfirmasikan lewat orang-orang yang berhubungan dengan saya. Tapi saya kira yang saya rasakan tidaklah salah mengenai perubahan itu. Yang saya penasaran justru bagaimana orang-orang lain memandang perubahan itu, hehe.

Yasudahlah. Sekian saja.

Saya sedang sibuk menghitung mundur kapan kiranya hal-hal mengejutkan terjadi dalam hidup. Tapi sekarang, mari merencanakan.

wordsflow

through music we build hope


Di sela keinginan saya untuk bisa melakukan segalanya di dunia ini, saya akhirnya memutuskan untuk bercerita di sini kembali. Ini soal ketertarikan saya pada musik, namun tidak pada musisi, hehehe.

Waktu kecil, ayah saya sering memutar kaset dengan lagu yang itu-itu saja. Saya bahkan hingga kini tidak bisa membedakan mana yang lagunya Ebiet, Iwan Fals, Bimbo, atau sederet nama musisi lama. Saya hanya bisa turut bernyanyi kalau ada yang sudah memainkan intronya. Begitulah saya akrab dengan lagu-lagu dan musik. Tidak lebih dari permainan gitar ayah saya yang itu-itu saja, dan lagu kaset yang itu-itu aja juga.

Saat menginjak SMP saya berkenalan dengan beberapa alat musik, tapi menyerah karena saya buta nada sama sekali, hahaha. Ketertarikan saya pada musik juga masih dalam kadar yang sama. Untung sekali waktu itu ada MTV Bujang yang jadi tontonan saya selama libur sekolah. Kalau nggak salah ingat acara itu tanyang setiap jam 10 pagi setiap hari Kamis, entah, saya sudah lupa. Berkat chanel TV yang itu, saya menjadi cukup mengenal beberapa band beken luar negeri. Hemm, sebagaimana mungkin anak SMP lainnya di masa itu, saya tergila-gila sama Avril dan Linkin Park. Tapi masa SMP saya tidak menghasilkan kemampuan musik apapun, meski ketika itu saya berkeinginan sungguh untuk main musik. Apa daya, kemampuan tidak tumbuh dari keinginan, namun dari dipraktikkan.

Mungkin memang saya terlalu kompetitif sejak kecil, sehingga untuk bisa bermain musik pun harus dengan cara di-trigger oleh orang lain. Saya harus berterima kasih pada adik saya yang berhasil membuat saya mati-matian bermain musik waktu itu. Agaknya secara alami saya menganggap adik saya adalah saingan. Sehingga ketika ia bisa bermain gitar, saya mengharuskan diri saya untuk itu juga.

Saya rasa hidup saya memang penuh persaingan. Lebih karena saya menstimulasi diri sendiri untuk demikian ketimbang karena orang lain mengatakan hal tersebut ke diri saya. Kadang saya berpikir jauh mengapa saya melakukan hal tersebut, mengapa saya melihat orang lain dengan kacamata yang demikian. Padahal ya sudah sih, terima saja kalau kemampuan masing-masing orang berbeda. Tapi ternyata saya masih terus terpengaruh oleh orang lain. Meski bertanya-tanya, saya toh mengikutinya juga, hehehe.

Semakin lama, jauh setelah keinginan egois untuk tampak keren dan bisa memamerkan kemampuan diri, saya menemukan keteduhan yang dalam melalui musik. Banyak hal yang memang tidak bisa diraih dalam sekali waktu. Ketika saya sungguh ingin bisa memainkan gitar, yang saya dapat hanya sebuah kepuasan temporal, bukan kedalaman. Tapi belakangan saya menemukan ada hal lain yang menggantikan rasa bersaing itu. Sulit tapi didefinisikan. Karena yang begitu hanya bisa dinikmati dan dirasakan.

Saya banyak terkesan oleh film atau anime karena musiknya. Saya menemukan kedalaman puisi karena musikalisasinya. Yang paling mengesankan adalah saya begitu terharu dengan Red Turtle yang notabene adalah silent anime. Maka, peranan musik terasa sangat penting untuk membangun perasaan terhadap hal yang tampak oleh mata. Musik juga menyimpan banyak hal yang tidak mampu tersampaikan lewat kata. Bahkan ia bisa menciptakan suasana yang awalnya tidak ada. Dan kekaguman saya pada musik, pada manusia-manusia yang menekuni musik, pada alat yang menghasilkan musik, dan pada suara-suara semakin besar.

Voice is not merely a voice.

Saya bayangkan kemudian masa-masa ketika saya lebih sering bersedih dan bermuram durja diiringi lagu-lagu melankolis nan mendayu-dayu. Sembari kadang meng-iya-kan liriknya atau mengumpat atasnya. Hahaha. Menengok ke masa-masa itu, saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ternyata manusia bisa berubah begitu rupa. Bisa berproses begitu panjang, penuh lika-liku dan sangat dinamis. Dan semua orang merasakan hal yang sama!

Oh ya ampun, saya ngelantur.

Lalu malam ini saya tercengang ketika membayangkan rupa masa lalu, masa kini, dan masa depan. Pikiran saya telah mendekonstruksi segala hal hingga ke titik intinya, dan rekonstruksi yang dibentuk agaknya telah terlampau jauh dari yang saya duga. Ternyata ada gunanya juga menyimpan foto-foto lama dan mengasah ingatan melaluinya.

Well then, tulisan ini tidak indah, tidak jelas, dan tidak sesuai dengan judulnya. Tapi ini cukup, untuk membuat blog ini terisi dengan ceracauan saya.

wordsflow

Anime Vibes and Everything Behind


“Kok kamu bisa gambar sih?”

Pertanyaan itu beberapa kali disampaikan teman-teman saya ketika mendapati karya saya atau melihat saya sedang menggoreskan pensil di atas kertas. Tidak bisa disangkal, kehidupan perkomikan saya di masa SMP lah yang membawa saya menjadi diri saya hari ini. Mungkin hal itu juga yang membuat saya memberikan ruang tersendiri kepada pengarang-pengarang komik kesukaan saya, cerita-cerita kesukaan saya, hingga akhirnya saya mengenal anime.

Ada komik seri yang sangat saya sukai, dan tidak banyak saya kira yang mengikuti komik ini. Judul komiknya Q.E.D., dan dibandingkan Conan yang kala itu sangat populer, dia jauh lebih sedikit penggemarnya. Sebagai komik yang juga mengangkat tema detektif, maka ia tenggelam di bawah bayang-bayang popularitas Conan. Tapi, mari saya ceritakan mengapa saya katakan itu komik yang paling mempengaruhi hidup saya.

*Date by RADWIMPS is playing*

Saya suka hitung-menghitung sejak kecil. Saya agak lupa bagaimana bisa saya bertemu Q.E.D., tapi kalau tidak salah ingat saya melihat deretan komik itu di tempat peminjaman komik di depan SMP saya. Berbeda dengan Conan, Q.E.D. tidak sekedar menawarkan cerita detektif yang sulit dipecahkan, namun juga ilmu pengetahuan, terutama matematika dan astronomi. Saya mengenal rumus Euler dari sana, mampu menghafal bilangan phi juga dari sana, tahu lubang hitam bahkan dari sana, memahami geometri, dedekind cut, menghitung bilangan prima, atau berbagai urusan lainnya yang berhubungan dengan matematika, praktis saya pelajari dari komik itu. Pun, saya pernah meletakkan impian kuliah saya di MIT karena komik itu. Menelusuri tragedi penyihir Salem juga saya ketahui dari komik itu.

Secara keseluruhan, bisa dibilang komik itulah yang menjadi penunjuk jalan saya selama jenjang SMP hingga pertengahan SMA. Hingga akhirnya Motohiro Katou ini menulis komik yang juga bertema detektif dengan tokoh yang berbeda dan dengan latar penceritaan yang berbeda, C.M.B. Sekali lagi Motohiro Katou berhasil mengubah saya dengan manawarkan komik detektif berlatar arkeologi. Saya kurang tahu seberapa besar popularitas kedua komik ini, yang jelas keduanya mengubah hidup saya dan cara pandang saya.

Saya ingat pernah bertengkar dengan ibu saya karena membaca komik menjadi hal yang menyita waktu luang saya ketika SMP. Ibu saya kala itu menganggap bahwa komik tidak membawa pengaruh apapun dalam hidup, bahkan tidak memberi manfaat dan malah memberikan kerugian. Tentu saja saya marah dengan pernyataan itu, karena sungguh, saya belajar sangat banyak karena berteman akrab dengan dunia perkomikan di kala itu.

Pun begitu dengan menggambar. Saya mempelajari geometri dari komik, dan terdorong untuk mengembangkan kemampuan saya menggambar karena berharap bisa membuat komik sendiri. Bahkan, ke-Jepang-an itu muncul dan saya pegang teguh hingga masa akhir SMA saya ketika akhirnya saya memutuskan untuk mengambil kesempatan beasiswa ke Jepang. Sayang sekali dua kali mendaftar saya tidak diterima. Pun demikian dengan cita-cita saya masuk MIT menjadi hal yang begitu jauh ketika saya menyadari bahwa kampus impian saya itu mustahil sekali saya masuki. Lebih-lebih ketika saya tahu dari film A Beautiful Mind bagaimana MIT itu sebetulnya. Tetap saja, saya masih terkagum-kagum menyadari bahwa saya pernah sungguh bermimpi bisa masuk ke kampus itu.

Lebih dari itu, hingga hari ini saya masih menikmati berbagai judul komik yang saya ikuti sejak SMP. Banyak yang masih terus saya baca meskipun saya sudah hafal betul dengan dialog yang ada di dalamnya. Kadang ketika saya ingat bahwa saya ternyata belajar banyak dari komik, saya sadar bahwa mungkin pendidikan bukan hal yang sungguh-sungguh memacu saya untuk melakukan hal-hal di hidup saya. Bisa jadi motivasi itu memang sangat sederhana. Bahkan tidak pula datang dari keinginan untuk membahagiakan keluarga.

Lalu SMA, saya bertemu dengan Ghibli, yang juga mengubah hidup saya. Mungkin memang saya cenderung lebih suka film kartun atau anime dibandingkan dengan film-film Hollywood. Entah mengapa. Saya pun menghabiskan semua film Ghibli selama masa SMA saya dengan mengobrak-abrik tempat DVD bajakan setiap hari Minggu untuk mencari film-film itu. Saya ingat pernah juga berramai-ramai menghabiskan seri Code Geass dengan kerumitan politiknya.

Lalu, di pertengahan kelas 2 SMA, seorang senior cowok saya, tiba-tiba mempopulerkan anime 5 cm per Second. Sebuah anime yang berisi 3 cerita mengenai satu orang tokoh utama. Yang luar biasa adalah, judul itu tidak hanya dibuat anime-nya saja, namun juga ada komik dan novelnya. Sebagai seorang yang doyan anime, yang saya dan teman-teman kritisi waktu itu adalah kemampuan Makoto Shinkai dalam mengolah anime yang dia buat. Kabar-kabari dari senior-senior saya, itu adalah one man project-nya Makoto Shinkai. Saya tidak pernah mencari tahu soal ini, karena saya hanya peduli betapa keren yang ia kerjakan dengan anime itu.

Hayao Miyazaki dan Makoto Shinkai kemudian menjadi dua orang yang saya kagumi di dunia per-anime-an. Sementara anime seri lain yang populer bahkan tidak pernah saya tonton, meskipun sangat ingin memahami ceritanya, misalnya saja One Piece atau Samurai X. Yah, sejauh yang bisa saya ingat, hanya Code Geass dan Death Note yang saya tonton dari episode 1 hingga episode terakhirnya dengan khidmat.

Jepang, menjadi negara impian saya sejak SMP, dan saya pikir kegagalan saya mendapat beasiswa ke negara itu adalah akhir dari impian saya bertandang ke Jepang sebagai seorang mahasiswa. Bagaimanapun waktu tidak dapat diulang, saya akan terus bertambah tua kan. Demikian, angan-angan untuk datang ke Jepang tidak lagi membawa semangat menggebu-gebu seorang pelajar seperti saat saya masih SMP atau SMA dulu.

Meskipun demikian, entah karena alasan apa, suatu hari saya mencari secara iseng di Youtube tentang ‘8 Anime yang wajib kamu tonton’. Beruntung sekali karena daftar saya yang terakhir saya selesaikan kemarin ketika film Koe no Katachi bisa ditonton secara streaming. Meski setelah itu saya menambah daftar anime wajib lagi hingga jumlahnya menjadi 100, hehe.

Inti dari cerita ini apa?

Nggak ada, saya hanya mau cerita tentang hal lain yang sangat mempengaruhi hidup saya melebihi yang saya pikirkan sebelumnya. Ternyata saya pernah berpegangan pada impian-impian besar, bukan melulu pada perasaan terhadap seseorang. Mungkin tulisan ini juga efek saya maraton anime kemarin siang, mengulang Kimi no Na Wa. dan Hotarubi no Mori e. Padahal anime, tapi saya selalu berhasil tersentil dengan sangat dalam oleh mereka, sial.

*Nan Demonai Ya is playing in background*

Dan, lagi-lagi anime tidak bisa dipisahkan dari soundtracknya. Begitulah yang kemudian membuat saya berulang kali memutar lagu-lagu Joe Hisaishi, Cecile Corbel, dan akhirnya RADWIMPS. Anime vibes ini tidak juga berakhir. Jadi, mari tenggelam semakin dalam.

wordsflow

*

Akhirnya saya menulis lagi, hahahahaha. Sudah lama saya ingin mereview hal-hal yang saya suka. Anggap saja saya sedang memberi review Q.E.D. Sungguh, komik itu sangat layak untuk dikoleksi.

Sajak-Sajak Empat Seuntai


/1/
kukirim padamu beberapa patah kata
yang sudah langka –
jika suatu hari nanti mereka mencapaimu,
rahasiakan, sia-sia saja memahamiku

/2/
ruangan yang ada dalam sepatah kata
ternyata mirip rumah kita:
ada gambar, bunyi, dan gerak-gerik di sana –
hanya saja kita diharamkan menafsirkannya

/3/
bagi yang masih percaya pada kata:
diam pusat gejolaknya, padam inti kobarnya –
tapi kapan kita pernah memahami laut?
memahami api yang tak hendak surut?

/4/
apakah yang kita dapatkan di luar kata:
taman bunga? ruang angkasa?
di taman, begitu banyak yang tak tersampaikan
di angkasa, begitu hakiki makna kehampaan

/5/
apa lagi yang bisa ditahan? beberapa kata
bersikeras menerobos batas kenyataan –
setelah mencapai seberang, masihkah bermakna,
bagimu, segala yang ingin kusampaikan?

/6/
dalam setiap kata yang kaubaca selalu ada
huruf yang hilang –
kelak kau pasti akan kembali menemukannya
di sela-sela kenangan penuh ilalang

© 1989, Sapardi Djoko Damono

***

Sudah beberapa waktu lamanya saya tidak menulis, entah mengapa. Padahal saya kira, ketika mencoba menulis sesuatu, tetap akan ada yang tersampaikan. Sayang sekali, ada yang telah hilang, ada yang telah berubah, ada yang telah mati, dan sedang menunggu sesuatu bertumbuh kembali; apapun itu.

Mungkin, saya tidak akan menulis lagi. Barangkali saya akan berhenti berlari dan membangun tempat istirahat sendiri. Menangis sampai pagi, mungkin? Atau berdiam diri hingga petang menjelang. Setiap kali kubayangkan ada hari baru yang datang, tiada yang berbeda dari apapun yang telah lalu. Rumput bertumbuh yang sama, rumah yang sama, air mengalir yang sama, pepohonan yang sama. Tiada yang berubah, mereka hanya bergerak-berpindah.

Sudahlah.

wordsflow

 

mati, itu apa?


Ada kematian yang tiba-tiba mengada dari ketiadaan–ah bukan, sebetulnya kematian itu hanya istirahat sebentar.

Dua film bertema kehilangan sedang tayang di layar lebar. Saya pikir keduanya mengangkat hal yang sama, menyoal cinta dan rela, akan orang terkasihnya, akan masa lalunya, akan hal-hal yang tidak bisa mereka terima. Hanya saja, cara penceritaan keduanya jauh berbeda, yang satu mendekati soal kematian ini melalui ziarah, sedang yang satu lagi menyoal kematian ini dengan rasa bersalah.

Saya bukan kritikus film memang, dan tulisan ini tidak akan membahas film yang sedang tayang itu sama sekali. Tapi, sekali waktu dalam pusara simbah saya, saya menyadari bahwa apa yang bisa saya petik dari kematian? Kematian tidak menawarkan apapun kecuali kematian itu sendiri, saya kira. That’s all.

dead man tells no tale

Itu kalau Pirates of Carribean. Tapi apa sesungguhnya kematian itu, tidak begitu saja dapat dijawab dengan mudah. Orang mati nggak bisa hidup lagi untuk menjelaskan rahasia-rahasia kematian itu kaan.

Dalam sebuah berita, saya menemukan nama Julia Perez yang sedang kanker stadium 4, penyakit yang jaraknya sungguh tipis dari kematian. Saya sebetulnya bertanya-tanya sungguh tentang kesadaran manusia yang berada pada kondisi kritis harapan untuk hidup. Soal apa yang ada di dalam kesadaran dan mungkin ketidaksadarannya. Ada memang rahasia-rahasia yang tetap menjadi rahasia bagaimanapun inginnya kita berupaya mengungkapnya ke permukaan. Itupun, jika kita sama-sama sepakat soal permukaan ini.

Oke, kembali ke masalah kematian ini.

Lagi-lagi, kematian memunculkan romantisme mendalam. Sebuah kesadaran tipis mengenai kehilangan yang sesungguhnya, meski masih juga bertanya-tanya soal apa itu sesungguhnya, mati itu? Dalam kebingungan saya, selama keterombang-ambingan diri saya selama beberapa waktu ini, saya toh pada akhirnya sadar bahwa pada kematian saya menemukan pegangan yang paling nyata. Tidak ada yang pasti kecuali mati. Maka ia menjadi hal yang merangkum seluruh, atau kesemua ketakutan, kekhawatiran, kegelisahan, keresahan, kesedihan, atau apapun itu.

Begitu mesranya merasakan cinta yang begitu dalam pada diri ketika menyadari akan ada kehilangan terbesar dalam kematian. Ada akhir dari setiap penantian. Keseluruhan itu akan terhenti pada mati. Semuanya pun begitu.

Kadang kala ada imajinasi liar tentang kematian yang sewaktu-waktu menyisip di sela berbagai kesibukan, atau di dalam kekacauan pikiran. Ia sering berbisik-bisik meminta perhatian. Sewaktu-waktu ia seolah berdiri mematung di pinggir jalan meminta pertanyaan. Di waktu yang lain bahkan ia menghalangi jalan tanpa basa-basi meminta kita sejenak berhenti dan menyapa. Dekat sekali. Dan lekat sekali kita dengan diri dan mati ini.

Kematian selalu memancing mesra, selalu memancing cinta, selalu memancing rasa yang mendalam tentang hidup. Atau tentang apapun yang sedari awal kita abaikan.

Sekian saja soal mati ini, nanti saya tulis surat cinta lagi. Atau surat mati?

wordsflow